Anda di halaman 1dari 37

BUKU AJAR DASAR HORTIKULTURA FAPERTA UNS

BUKU AJAR

DASAR HORTIKULTURA

Oleh:
Ir. Pratignja Sunu, MP
Ir. Wartoyo SP., MS.

NIP. 130814565
NIP. 130786659

JURUSAN/PROGRAM STUDI AGRONOMI


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2006

http://pertanian.uns.ac.id/~agronomi/dashor.html[30-Jun-14 11:54:28 PM]

BUKU AJAR DASAR HORTIKULTURA FAPERTA UNS

KATA PENGANTAR

Buku Dasar Hortikultura ini disusun dalam rangka mengembangkan Buku Ajar di Fakultas Pertanian
khususnya Jurusan/Program Studi Agronomi untuk membantu mahasiswa dalam mengikuti kuliah agar lebih mudah
dalam memahami materi yang diberikan dalam tatap muka dikelas. Dengan penyediaan buku ajar ini diharapkan
selama tatap muka mahasiswa telah mempunyai bekal materi yang akan dibicarakan sehingga dalam kelas akan lebih
banyak diskusi atau tanya jawab.
Buku Ajar mata kuliah Dasar Hortikultura ini dapat tersusun atas biaya dari Program Hibah Kompetisi A3,
Jurusan Agronomi, Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret, Surakarta pada Tahun Anggaran 2006.
Mata kuliah Dasar Hortikultura diberikan pada mahasiswa Jurusan/Program Studi Agronomi Fakultas Pertanian
UNS sebagai mata kuliah wajib dengan bobot sks: 2-1, juga kepada jurusan/program studi lain yang mengambilnya
sebagai mata kuliah pilihan. Agar mahasiswa lebih mudah memahami materi kuliah ini, maka mahasiswa perlu
mengambil mata kuliah Dasar Agronomi, Fisiologi Tanaman dan Ekologi terlebih dahulu., sedangkan untuk
memperluas pengetahuannya mahasiswa perlu menelusuri buku/jurnal yang ditunjuk atau mengakses dari internet.
Setelah mempelajari buku ini diharapkan mahsiswa akan dapat memecahkan masalah umum yang terkait
dengan budidaya tanaman hortikultura sejak penyiapan lahan, bahan tanaman, panen sampai ke pengelolaan hasil
hortikultura, agar dapat sampai kekonsumen tetap pada kondisi yang prima.
Walau disadari bahwa buku ini masih jauh dari yang diharapkan karena keterbatasan penyusun, tetapi
diharapkan buku ini ada manfaatnya bagi yang membutuhkannya, dan tidak lupa kritik yang bersifat membangun
sangat diharapkan demi penyempurnaan buku ini.

Surakarta, Agustus 2006

Penulis

DAFTAR ISI

Halaman
...........................................................................................................
Kata
..........................................................................................................
http://pertanian.uns.ac.id/~agronomi/dashor.html[30-Jun-14 11:54:28 PM]

Judul

Pengantar

ii

BUKU AJAR DASAR HORTIKULTURA FAPERTA UNS

Daftar
Isi
....................................................................................................................
Pendahuluan ..........................................................................................
Bab I
A. Peranan
Pembangunan
Pertanian
di
Indonesia
...................................
B.
Kebijakan
Pembangunan
Pertanian
...................................................
Definisi
dan
Prospek
Bab II
Hortikultura .............................................................
A. Definisi
dan
Pengertian
Hortikultura
..................................................
B. Tantangan
dan
Peluang
.....................................................................
C. Pengelolaan
Hortikultura
yang
berkelanjutan
....................................
D. Peran Perguruan Tinggi dalam Pengembangan Hortikultura
................
Faktor
Lingkungan
pada
Tanaman
Hortikultura
Bab III
........................................
A.
Radiasi
Matahari ...............................................................................
B. Suhu ................................................................................................
C. Tanah ..............................................................................................
D. Peran
Unsur
Hara
bagi
tanaman
Hortikultura .....................................
Kemasakan
dan
Grading
Buah
dan
Bab IV
Sayuran ..............................................
A. Grade ..............................................................................................
B. Kemasakan .....................................................................................
Pekarangan ..............................................................................................
Bab V
A. Pengertian
Pekarangan ......................................................................
B. Fungsi
Pekarangan ...........................................................................
C. Faktor yang mempengaruhi bentuk, luas dan intensitas
pekarangan ..
D. Kemungkinan
Pengembangan
Pekarangan ......................................
E. Rangkuman .....................................................................................
Proses Pasca Panen ................................................................................
Bab VI
A. Perubahan Fisiologi produk Hortikultura setelah Panen
......................
B. Respirasi ..........................................................................................

http://pertanian.uns.ac.id/~agronomi/dashor.html[30-Jun-14 11:54:28 PM]

iii
1
1
2
4
4
5
7
10

14
15
20
25
30

38
39
41
43
44
44
46
50
51

55
56
57
59

BUKU AJAR DASAR HORTIKULTURA FAPERTA UNS

C.

Bab VII

Pengukuran
Respirasi ........................................................................
D.
Faktor
yang
mempengaruhi
laju
Respirasi
.........................................
Kerusakan
pada
Produk
Hortikultura .......................................................
A. Pendahuluan ....................................................................................
B. Jenis
Kerusakan
pada
Produk
Hortikultura ........................................
C.
Faktor
yang
mempengaruhi
Kerusakan
Produk
.................................
D. Usaha untuk mengurangi kerusakan Produk Hortikultura dalam
Simpanan
.........................................................................................

60

66
66
67
68
70

BAB I.
PENDAHULUAN

A. PERANAN PEMBANGUNAN PERTANIAN DI INDONESIA


Akibat krisis ekonomi sejak pertengahan tahun 1997, jerih payah yang telah dibangun dalam pembangunan
nasional selama lebih 30 tahun telah tersapu, sehingga memerosotkan kehidupan ekonomi. Hal ini telah
menimbulkan permasalahan ekonomi yang berlarut-larut dan keresahan sosial yang berlanjut, seakan-akan
menempatkan Indonesia ke awal pembangunan. Harapan untuk pulihnya perekonomian nasional di masa
mendatang masih terbuka lebar, karena Indonesia masih memiliki berbagai kekuatan fundamen ekonomi seperti
sumberdaya alam, manusia, infrastruktur, kelembagaan yang ada, pengalaman mengatasi kesulitan, akan menjadi
modal awal untuk membangun kembali perekonomian nasional. Salah satu strategi pembangunan ekonomi yang
diyakini dapat diandalkan adalah melalui pembangunan pertanian / agribisnis (Bungaran Saragih, 1999).
Pembangunan Pertanian merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Pembangunan Nasional, yang dalam
pelaksanaannya perlu adanya penyempurnaan atau reorientasi demi terwujudnya kemakmuran yang adil dan
beradab. Oleh karena merupakan sektor yang keragaannya sangat mempengaruhi peri kehidupan penduduk
Indonesia secara umum dan penduduk pedesaan secara khusus, maka reformasi di sektor pertanian harus dilakukan
secara bertahap namun berkelanjutan, sehingga dampaknya tidak terjadi secara mendadak dan dalam skala besar
yang justru dapat semakin memperburuk krisis ekonomi saat ini (Soleh Solahuddin, 1999).
Reorientasi arah pembangunan pertanian tersebut pada dasarnya adalah keinginan untuk dapat menjawab
tantangan-tantangan masa depan, yang pada hakekatnya dilandasi pada keinginan untuk menangkap signal-signal
positif dari adanya perubahan-perubahan dalam lingkungan strategis baik berupa globalisasi
(informasi,
teknologi) maupun kondisi-kondisi sumberdaya Nusantara, terutama di sektor pertanian (Dudung Abdul Adjid,
1994).

http://pertanian.uns.ac.id/~agronomi/dashor.html[30-Jun-14 11:54:28 PM]

BUKU AJAR DASAR HORTIKULTURA FAPERTA UNS

Perekonomian Indonesia tidak terlepas dari gejolak lingkungan strategis yang terus berkembang secara
dinamis. Awal dari PJPT II ini ditandai dengan terjadinya arus Globalisasi yang mengakibatkan Pembangunan
Nasional semakin terkait dengan perkembangnan dunia internasional antara lain dengan adanya persetujuan GATT
(General Agreement on Tarrif and Trade) pada putaran Uruguay di Marakesh, bulan April 1994 yang bertujuan
lebih meliberalisasikan perdagangan internasional dan pembentukan kawasan perdagangan bebas seperti PTE
(Pasar Tunggal Eropa), NAFTA (North American Free Trade Area) dan AFTA (Asean Free Trade Area) dengan
penerapan CEPT-nya akan melibatkan ekonomi Indonesia pada perdagangan global yang lebih kompetitif
(Dudung Abdul Adjid, 1994).
Akibat pengaruh globalisasi yang tidak mungkin dihindari ini makin lama produk pertanian khususnya produk
hortikultura yang masuk ke Indonesia akan semakin beragam jenisnya dan volumenya akan semakin banyak.
Menghadapi realitas ini mau tidak mau produk Hortikultura harus mampu bersaing dengan produk Hortikultura
dari negara lain.
B. KEBIJAKAN PEMBANGUNAN PERTANIAN DALAM ERA REFORMASI
Pada era reformasi ini paradigma pembangunan pertanian harus semakin nyata berorientasi pada manusia,
dimana petani diletakkan sebagai subyek, bukan semata-mata sebagai peserta dalam mencapai tujuan nasional.
Karena itu pengembangan kapasitas masyarakat guna mempercepat upaya memberdayakan ekonomi petani,
merupakan inti dari upaya pembangunan pertanian/pedesaan. Upaya tersebut dilakukan untuk mempersiapkan
masyarakat pertanian menjadi mandiri dan mampu memperbaiki kehidupannya sendiri. Peran Pemerintah adalah
sebagai stimulator dan fasilitator, sehingga kegiatan sosial ekonomi masyarakat petani dapat berjalan dengan
sebaik-baiknya.
Berdasarkan pada paradigma tersebut maka visi pertanian memasuki abad 21 adalah pertanian modern,
tangguh dan efisien. Selanjutnya dikemukakan oleh Soleh Solahudin (1999), bahwa untuk mewujudkan visi
pertanian tersebut, misi pembangunan pertanian adalah memberdayakan petani menuju suatu masyarakat tani yang
mandiri, maju, sejahtera dan berkeadilan. Hal ini akan dapat dicapai melalui pembangunan pertanian dengan
strategi
a) Optimasi pemanfaatan sumber daya domestik (lahan, air, plasma nutfah, tenaga kerja, modal dan teknologi)
b) Perluasan spektrum pembangunan pertanian melalui diversifikasi teknologi, sumber daya, produksi dan
konsumsi
c) Penerapan rekayasa teknologi pertanian spesifik lokasi secara dinamis, dan
d) Peningkatan efisiensi sistem agribisnis untuk meningkatkan produksi pertanian dengan kandungan IPTEK
dan berdaya saing tinggi, sehingga memberikan peningkatan kesejahteraan bagi petani dan masyarakat secara
berimbang.
Salah satu langkah operasional strategis yang dilakukan dalam rangka mencapai sasaran tersebut di atas
adalah Gerakan Mandiri (Gema) yang merupakan konsep langkah-langkah operasional pembangunan pertanian,
dengan sasaran untuk meningkatkan keberdayaan dan kemandirian petani dalam melaksanakan usaha taninya.
Mulai TA 1998/1999 telah diluncurkan berbagai Gema Mandiri termasuk Gema Hortina untuk peningkatan
produksi hortikultura.
Gerakan Mandiri Hortikultura Tropika Nusantara menuju ketahanan hortikultura (Gema Hortina),
dilaksanakan untuk mendorong laju peningkatan produksi hortikultura. Melalui gerakan ini komoditas hortikultura

http://pertanian.uns.ac.id/~agronomi/dashor.html[30-Jun-14 11:54:28 PM]

BUKU AJAR DASAR HORTIKULTURA FAPERTA UNS

yang dikembangkan adalah sayuran, buah-buahan, tanaman hias dan tanaman obat unggulan.
Komoditas yang diutamakan adalah yang bernilai ekonomi tinggi, mempunyai peluang pasar besar dan
mempunyai potensi produksi tinggi serta mempunyai peluang pengembangan teknologi. Adapun upaya yang
dilaksanakan untuk mendorong tumbuh dan berkembangnya hortikultura unggulan tersebut meliputi penumbuhan
sentra agribisnis hortikultura dan pemantapan sentra hortikultura yang sudah ada (Soleh Solahuddin, 1999).
Komoditas unggulan yang mendapat prioritas adalah :
Sayuran : kentang, cabe merah, kubis, bawang merah, tomat dan jamur
Buah-buahan : pisang, mangga, jeruk, nenas dan manggis
Tanaman hias : anggrek
Tanaman obat : jahe dan kunyit.
DAFTAR PUSTAKA
Bungaran Saragih, 1999. Sektor Agribisnis sebagai Tulang punggung Pembangunan Ekonomi Indonesia.
Gerakan Terpadu Peduli Pertanian, Undip Semarang. 14 pp.
Dudung Abdul Adjid, 1993. Kebijaksanaan Pengembangan Hortikultura di Indonesia dalam Pelita VI. Seminar
dan Konggres PERHORTI. Malang 20-21 Nopember 1993.
13 pp.
-------------------------, 1994. Pengembangan Agribisnis Hortikultura. Proc. Simp. Hort.
Nas., Malang. p.
11 21.
Soleh Solahuddin, 1999. Penajaman Strategi dan Kebijakan Pembangunan Pertanian Dalam Rangka
Memperkokoh Sistem Pertanian Nasional. Gerakan Terpadu Peduli Pertanian, Undip Semarang. 21 pp.

BAB II.
DEFINISI DAN PROSPEK HORTIKULTURA

A.

DEFINISI DAN PENGERTIAN HORTIKULTURA


Hortikultura berasal dari kata hortus (= garden atau kebun) dan colere (= to cultivate atau budidaya).
Secara harfiah istilah Hortikultura diartikan sebagai usaha membudidayakan tanaman buah-buahan, sayuran dan
tanaman hias (Janick, 1972 ; Edmond et al., 1975). Sehingga Hortikultura merupakan suatu cabang dari ilmu
pertanian yang mempelajari budidaya buah-buahan, sayuran dan tanaman hias. Sedangkan dalam GBHN 19931998 selain buah-buahan, sayuran dan tanaman hias, yang termasuk dalam kelompok hortikultura adalah
tanaman obat-obatan.
Ditinjau dari fungsinya tanaman hortikultura dapat memenuhi kebutuhan jasmani sebagai sumber vitamin,
mineral dan protein (dari buah dan sayur), serta memenuhi kebutuhan rohani karena dapat memberikan rasa
tenteram, ketenangan hidup dan estetika (dari tanaman hias/bunga).
Peranan hortikultura adalah : a). Memperbaiki gizi masyarakat, b) memperbesar devisa negara, c)
memperluas kesempatan kerja, d) meningkatkan pendapatan petani, dan e)pemenuhan kebutuhan keindahan dan
kelestarian lingkungan. Namun dalam kita membahas masalah hortikultura perlu diperhatikan pula mengenai sifat
khas dari hasil hortikultura, yaitu : a). Tidak dpat disimpan lama, b) perlu tempat lapang (voluminous), c) mudah
rusak (perishable) dalam pengangkutan, d) melimpah/meruah pada suatu musim dan langka pada musim yang

http://pertanian.uns.ac.id/~agronomi/dashor.html[30-Jun-14 11:54:28 PM]

BUKU AJAR DASAR HORTIKULTURA FAPERTA UNS

lain, dan e) fluktuasi harganya tajam (Notodimedjo, 1997). Dengan mengetahui manfaat serta sifat-sifatnya yang
khas, dalam pengembangan hortikultura agar dapat berhasil dengan baik maka diperlukan pengetahuan yang lebih
mendalam terhadap permasalahan hortikultura tersebut.
Hortikultura adalah komoditas yang akan memiliki masa depan sangat cerah menilik dari keunggulan
komparatif dan kompetitif yang dimilikinya dalam pemulihan perekonomian Indonesia waktu mendatang. Oleh
karenanya kita harus berani untuk memulai mengembangkannya pada saat ini. Seperti halnya negara-negara lain
yang mengandalkan devisanya dari hasil hortikultura, antara lain Thailand dengan berbagai komoditas
hortikultura yang serba Bangkok, Belanda dengan bunga tulipnya, Nikaragua dengan pisangnya, bahkan Israel
dari gurun pasirnya kini telah mengekspor apel, jeruk, anggur dan sebagainya.
Pengembangan hortikultura di Indonesia pada umumnya masih dalam skala perkebunan rakyat yang tumbuh
dan dipelihara secara alami dan tradisional, sedangkan jenis komoditas hortikultura yang diusahakan masih
terbatas. Apabila dilihat dari data selama Pelita V pengembangan hortikultura yang lebih ditekankan pada
peningkatan keragaman komoditas telah menunjukkan hasil yang cukup menggembirakan, yaitu pada periode
1988 1992 telah terjadi peningkatan produktivitas sayuran dari 3,3 ton/ha menjadi 7,7 ton/ha, dan buah-buahan
dari 7,5 ton/ha menjadi 9,9 ton/ha (Amrin Kahar, 1994).
Terjadinya peningkatan tersebut dapat dikatakan bahwa petani hortikultura merupakan petani yang
responsif terhadap inovasi teknologi berupa : penerapan teknologi budidaya, penggunaan sarana produksi dan
pemakaian benih/bibit yang bermutu. Tampak disini bahwa komoditas hortikultura memiliki potensi untuk
menjadi salah satu pertumbuhan baru di sektor pertanian. Oleh karena itu dimasa mendatang perlu ditingkatkan
lagi penanganannya terutama dalam menyongsong pasar bebas abad 21.
B.

TANTANGAN DAN PELUANG


Indonesia adalah negara tropis dengan wilayah cukup luas, dengan variasi agroklimat yang tinggi,
merupakan daerah yang potensial bagi pengembangan Hortikultura baik untuk tanaman dataran rendah maupun
dataran tinggi. Variasi agroklimat ini juga menguntungkan bagi Indonesia, karena musim buah, sayur dan bunga
dapat berlangsung sepanjang tahun.
Peluang pasar dalam negeri bagi komoditas hortikultura diharapkan akan semakin meningkat dengan
semakin meningkatnya jumlah penduduk dan pendapatan masyarakat, serta timbulnya kesadaran akan gizi di
kalangan masyarakat. Peningkatan kebutuhan komoditas hortikultura ini juga ditunjang oleh perkembangan
sektor industri pariwisata dan peningkatan ekspor. Apabila dilihat terhadap kebutuhan konsumsi buah dan
sayuran, nampak bahwa kebutuhan masing-masing adalah 32,6 kg/kapita/tahun dan 32 kg/kapita/tahun, ternyata
baru tercapai sekitar 21,1 kg/kapita/tahun dan 14 kg/kapita/tahun (Sunaryono, 1987, dalam Notodimedjo, 1997).
Dari kenyataan tersebut tercermin adanya peluang dan tantangan yang harus kita hadapi.
Di era globalisasi ini, kita dihadapkan pada persaingan yang semakin ketat, oleh karena itu kita harus
mampu memanfaatkan keunggulan yang kita miliki, baik keunggulan komparatif maupun keunggulan kompetitif
yang perlu ditingkatkan secara kualitatif. Globalisasi ini jelas akan menimbulkan peluang sekaligus ancaman bagi
pembangunan pertanian dan perdagangan nasional di masa mendatang. Sukses tidaknya Indonesia dalam
memanfaatkan peluang dan menghadapi ancaman akan ditentukan oleh kemampuan untuk mendayagunakan
kekuatan yang dimiliki dan mengatasi kelemahan yang ada secara efisien, produktif dan efektif dalam rangka
mewujudkan daya saing yang semakin meningkat dalam skala global atas barang dan jasa yang dihasilkan.

http://pertanian.uns.ac.id/~agronomi/dashor.html[30-Jun-14 11:54:28 PM]

BUKU AJAR DASAR HORTIKULTURA FAPERTA UNS

Menghadapi persaingan yang semakin tajam mutlak diperlukan daya saing yang tinggi. Oleh karena itu
seluruh lapisan masyarakat, pemerintah dan terlebih dunia usaha diharuskan mempersiapkan diri dengan langkahlangkah yang konkrit, sehingga mampu membangun suatu sistem ekonomi yang memiliki daya hidup dan
berkembang secara mandiri serta mengakar pada struktur ekonomi dan struktur masyarakat Indonesia.
Kita perlu menyadari bahwa kita dikelilingi oleh negara-negara yang memiliki daya saing yang kuat,
apabila kita tidak meningkatkan daya saing maka tidak akan mampu bersaing, bukan hanya di pasar luar negeri,
tetapi juga di pasar dalam negeri sendiri, yang telah nampak pada kasus sekarang ini, seperti : beras, gula, buahbuahan dan lainnya.
Rendahnya daya saing sektor pertanian kita disebabkan oleh : sempitnya penguasaan lahan, tidak efisiennya
usahatani, dan iklim usaha yang kurang kondusif serta ketergantungan pada alam masih tinggi. Untuk
meningkatkan daya saing sektor pertanian ini tidak ada jalan lain, selain kerja keras masyarakat dan pemerintah
untuk meningkatkan kualitas sumberdaya manusia pertanian, membuka areal pertanian baru yang dibagikan
kepada petani-petani gurem/buruh tani, memperluas pengusahaan lahan oleh setiap keluarga tani dan
menggunakan teknologi maju untuk meningkatkan produktivitas dan produksi pertanian (Siswono Yudohusodo,
1999).
Dengan adanya arus globalisasi, tidak mungkin dihindari semakin lama produk hortikultura yang masuk ke
Indonesia dari negara-negara lain akan semakin beragam jenisnya dan volumenya semakin banyak. Menghadapi
realitas ini mau tidak mau produk hortikultura harus bersaing dengan produk dari negara lain. Dalam upaya
pencapaian tujuan tersebut dengan tanpa mengesampingkan keberhasilan-keberhasilan yang telah dicapai
tentunya perlu dikaji berbagai permasalahan yang ada sehingga upaya pencapaian tujuan di atas dapat terlaksana
dengan baik.
Permasalahan yang menonjol dalam upaya pengembangan hortikultura ialah produktivitas yang masih
tergolong rendah, hal ini merupakan refleksi dari rangkaian berbagai faktor yang ada, antara lain : pola usahatani
yang kecil, mutu bibit yang rendah yang ditunjang oleh keragaman jenis/varietas, serta rendahnya penerapan
teknologi budidaya (Dudung Abdul Adjid, 1993).
Selanjutnya Dudung Abdul Adjid (1993) menyatakan bahwa pada Pelita VI yang merupakan awal PJPT II
ditandai dengan terjadinya arus globalisasi yang mengakibatkan pembangunan nasional semakin terkait dengan
perkembangan dunia internasional antara lain dengan adanya putaran Uruguay (GATT) sehingga pasar Indonesia
khususnya di bidang pertanian makin terbuka akan produk pertanian dari luar negeri. Kondisi ini selain
mengandung berbagai kendala juga membuka peluang pasar internasional yang besar bagi produk pertanian yang
sifatnya kompetitif.
Kondisi tersebut merupakan tantangan yang cukup berat bagi pengembangan hortikultura pada khususnya,
karena dalam pengusahaannya dituntut untuk efisien, mampu meningkatkan dan menganekaragamkan hasil,
meningkatkan mutu pengolahan hasil serta menunjang pembangunan wilayah. Oleh karena itu dalam
pengembangan hortikultura tidak lagi hanya memperhatikan aspek produksi, tetapi lebih menitik beratkan pada
pengembangan komoditi yang berorientasi pasar (agribisnis).
C.

PENGELOLAAN HORTIKULTURA YANG BERKELANJUTAN


Komoditas hortikultura selain menjadi salah satu komoditas andalan ekspor non migas, tanaman dan produk
yang dihasilkannya banyak memberikan keuntungan bagi manusia dan lingkungan hidup. Buah-buahan dan

http://pertanian.uns.ac.id/~agronomi/dashor.html[30-Jun-14 11:54:28 PM]

BUKU AJAR DASAR HORTIKULTURA FAPERTA UNS

sayuran yang dikonsumsi bermanfaat bagi kesehatan tubuh manusia; pohon buah-buahan, sayuran dan tanaman
hias dapat berfungsi sebagai penyejuk, penyerap air hujan, peneduh dan penyerap CO2 atau pencemar udara
lainnya; limbah tanamannya serta limbah buah atau sayuran dapat dipergunakan sebagai pupuk organik atau
kompos yang dapat menyuburkan tanah, sedang keindahannya dapat dinikmati dan berpengaruh baik bagi
kesehatan jiwa. Tetapi keuntungan-keuntungan tersebut menjadi berkurang manakala teknik budidaya yang
dilaksanakan malah menimbulkan pencemaran, baik terhadap lingkungan hidup maupun terhadap kesehatan
manusia.
Dalam GBHN 1993 pembangunan pertanian hortikultura yang meliputi tanaman sayuran, buah-buahan dan
tanaman hias ditumbuh kembangkan menjadi agribisnis dalam rangka memanfaatkan peluang dan keunggulan
komparatif berupa : iklim yang bervariasi, tanah yang subur, tenaga kerja yang banyak serta lahan yang tersedia.
Produksi hortikultura diarahkan agar mampu mencukupi kebutuhan pasar dalam negeri termasuk agroindustri
serta memenuhi kebutuhan pasar luar negeri.
Untuk mencapai tujuan tersebut perlu penerapan sistem budidaya hortikultura yang lebih baik serta
penggunaan teknologi yang tepat dan berwawasan lingkungan, yang sering dikenal dengan sistem GAP (Good
Agricultural Practice). Sebagaimana kita ketahui sektor hortikultura baru mendapat perhatian setelah usaha
swasembada beras tercapai, sehingga hasil-hasil penelitian yang dapat diterapkan untuk pengembangan
hortikultura di Indonesia masih terbatas.
Teknologi yang saat ini diterapkan merupakan teknologi yang berorientasi pada pencapaian target produksi
dengan menggunakan masukan produksi yang semakin meningkat, seperti bibit unggul, pupuk buatan, pestisida
dan zat pengatur tumbuh. Disamping hasil positif dengan peningkatan produksi, penggunaan masukan modern
juga mendatangkan dampak negatif bagi lingkungan hidup dan kesehatan masyarakat, antara lain adalah sebagai
berikut :
Penggunaan pupuk buatan mendatangkan pencemaran pada air permukaan dan air tanah dengan adanya

residu nitrat dan fosfat, dan tanah menjadi semakin berkurang kesuburannya karena penggunaan pupuk
berlebihan.
Penggunaan varietas unggul yang monogenik dan seragam secara spesial dan temporal mengurangi
keanekaragaman hayati, dan hilangnya berbagai jenis tanaman asli.
Penggunaan pestisida yang berlebihan akan mengakibatkan resistensi, resurjensi hama, timbulnya hama
sekunder, terbunuhnya binatang bukan sasaran dan residu racun pada buah dan sayuran serta lingkungan.
Selain itu kegiatan pertanian secara intensif juga berperan dalam proses pemanasan bumi atau efek rumah
kaca dan penipisan lapisan ozon antara lain melalui emisi gas metan dan N2 O akibat penggunaan pupuk

buatan ( Kasumbogo Untung, 1994).


Dengan demikian usaha pencapaian sasaran produksi untuk memenuhi permintaan dan target dikhawatirkan
akan semakin mengurangi sumber daya alam, mengurangi keaneka ragaman hayati dan meningkatkan
pencemaran lingkungan.
Dewasa ini lingkungan yang dikaitkan dengan produk pertanian sedemikian kuatnya diluncurkan terutama
di negara-negara maju, sehingga penduduknya menuntut agar produk pertanian bebas dari cemaran bahan kimia,
dan mereka mulai lebih suka mengkonsumsi produk yang dihasilkan melalui proses alami yang dikenal dengan
pertanian organik (organic farming).
Pertanian organik merupakan salah satu alternatif budidaya pertanian yang berwawasan lingkungan dan

http://pertanian.uns.ac.id/~agronomi/dashor.html[30-Jun-14 11:54:28 PM]

BUKU AJAR DASAR HORTIKULTURA FAPERTA UNS

berkelanjutan yang bebas dari segala bentuk bahan inorganik seperti pupuk buatan, pestisida dan zat pengatur
tumbuh. Pertanian organik memadukan berbagai cara seperti pergiliran tanaman, tumpangsari, penggunaan sisa
bahan organik sebagai pupuk, serta pengendalian hama secara terpadu dengan mengoptimalkan cara biologis
(Kasumbogo Untung, 1994). Kecenderungan seperti ini membuka suatu peluang baru dalam bisnis di bidang
pertanian terutama tanaman hortikultura yang produknya sering dikonsumsi secara langsung atau dalam keadaan
segar.
Selain itu ada alasan-alasan yang mendorong berkembangnya teknik bertani yang berwawasan lingkungan
yaitu ratifikasi hasil KTT Bumi di Rio de Janeiro pada tahun 1992 yang dicantumkan dalam agenda 21, chapter
14, yang meminta agar setiap negara meninjau kembali berbagai kebijaksanaan pembangunan pertanian sayuran
atau buah-buahan yang diproduksi secara konvensional. Dewasa ini banyak negara telah memberlakukan
persyaratan akan ecolabelling atau green product terhadap produk pertanian yang akan diimpornya
(Kasumbogo Untung, 1994), sehingga hal ini harus mulai direncanakan sejak dari sekarang apabila kita para
pelaku hortikultura ingin mengembangkan Hortikultura dalam menghadapi Pasar Bebas pada abad 21 mendatang.
Selanjutnya dikemukakan oleh Kasumbogo Untung (1994), bahwa berbagai bentuk dan konsep pertanian
berwawasan lingkungan banyak dihubungkan dengan perkembangan berbagai jenis praktek pertanian yang telah
mulai banyak dilakukan pada tingkat petani, antara lain dengan istilah pertanian ekologi, pertanian biologi,
ecofarming (Egger dan Martens, 1988), pertanian hemat energi, LISA (Low Input Sustainable Agriculture), serta
pertanian alternatif (Vogtmann, 1988; NAS, 1990).
D.

PERAN PERGURUAN TINGGI DALAM PENGEMBANGAN HORTIKULTURA


Peran Perguruan Tinggi untuk ikut mensukseskan pengembangan Hortikultura perlu ditingkatkan melalui
Tri Dharma Perguruan Tinggi, yaitu : Pendidikan, Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat.
Dalam pendidikan manusia yang bermutu, untuk memiliki sumber daya manusia yang berwatak
membangun, bukan hanya pengetahuan semata yang perlu diajarkan, tetapi juga sikap hidup yang baik.
Pendukung pembangunan masa depan dengan makin majunya pengetahuan dan teknologi (industri), namun
makin padatnya manusia Indonesia dan makin menciutnya sumber daya alam, menuntut kita makin peduli
lingkungan, berarti harus lebih beradab dan santun, serta akrab dengan lingkungan. Bukannya angka produksi
semata yang perlu kita raih, namun juga perlu diperhatikan mutu produknya.
Untuk mencapai hal tersebut, masyarakat Hortikultura dituntut untuk peduli pada kehidupan subsisten di
berbagai pelosok marginal, namun juga menyiapkan perkembangan ekonomi global yang menuntut sistem
produksi hortikultura yang canggih dan efisien untuk meraih devisa yang memiliki daya saing internal maupun
internasional. Untuk menjadi hortikulturis modern, pendidikan dasar secara konvensional dalam hal teknik
bercocok tanam intensif masih perlu diketahui, tetapi inovasi teknologi (bioteknologi dalam penciptaan varietas,
sistem hidroponik maupun organic farming dalam produksi, atmosfir terkendali dalam penanganan segar, caracara prosesing canggih) perlu diajarkan (Sri Setyati, 1994).
Melihat tantangan dan peluang di bidang hortikultura yang masih membentang luas, perlulah kiranya
dipikirkan mengenai pendidikan bagi para pelaku hortikultura nantinya dengan kurikulum yang diharapkan
mampu menjawab tantangan yang dihadapi sesuai dengan sumberdaya dan fasilitas yang dimiliki. Dalam hal ini
mencakup : level Sarjana S1; Diploma ataupun tingkat SLTA yang saling mendukung untuk mencapai
pengembangan hortikultura di Indonesia. Pendidikan hortikultura harusnya disertai dengan mengembangkan

http://pertanian.uns.ac.id/~agronomi/dashor.html[30-Jun-14 11:54:28 PM]

BUKU AJAR DASAR HORTIKULTURA FAPERTA UNS

inisiatif, serta menanamkan disiplin dan dedikasi yang tinggi.


Sri Setyati (1994) menyatakan bahwa perbaikan pendidikan hortikultura di level S1 diharapkan agar
lulusannya menjadi : 1) Pengantar teknologi atau penyuluh hortikultura. 2). Pendidik hortikultura di tingkat
Diploma atau SLTA. 3). Asisten Peneliti hortikultura yang tangguh.
Salah satu tujuan pengembangan hortikultura adalah peningkatan pendapatan petani yang dicapai melalui
peningkatan produksi dan produktivitas. Menurut Amrin Kahar (1994) upaya tersebut dapat dicapai antara lain
melalui pemanfaatan IPTEK yang mencakup kegiatan :
Menghasilkan teknologi tepat guna sesuai dengan kebutuhan oleh para peneliti
Penyampaian teknologi yaitu menyampaikan dan mengembangkan teknologi yang dihasilkan peneliti
melalui para penyuluh kepada para pengguna
Penggunaan teknologi, yaitu penerimaan dan adopsi teknologi oleh para petani.
Dari uraian di atas nampak jelas bahwa salah satu kunci keberhasilan dalam pengembangan hortikultura
ialah kualitas sumber daya manusia dari pelaku-pelaku yang berperan dalam pengembangan tersebut, yang erat
kaitannya dengan tingkat pendidikannya. Oleh karena itu salah satu faktor penting dalam upaya pengembangan
hortikultura adalah meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
Petani sebagai mata rantai akhir dari suatu proses alih teknologi dan sebagai pengguna teknologi tentunya
kualitasnya perlu ditingkatkan pula, sehingga mereka dapat responsif terhadap informasi teknologi yang
disampaikan. Mengingat keragaman karakteristik budaya, wilayah, sosial ekonomi dan komoditas yang
dikembangkan petani, maka pola peningkatan kualitasnya perlu mempertimbangkan kondisi-kondisi tersebut.
Pola pendidikan yang dianggap sesuai untuk diterapkan di tingkat petani adalah dalam bentuk Sekolah Lapang
dengan sasaran para kelompok tani. Dengan porsi lapangan lebih besar dari pada teori dan sebagai obyek
pembahasan adalah kondisi di wilayah mereka, maka pola ini dinilai sangat efektif dalam penyampaian informasi
teknologi kepada petani (Amrin Kahar, 1994).
Puslitbang Hortikultura menekankan kegiatan dari program penelitian hortikultura dewasa ini mencakup
beberapa bidang (Adhi Santika , 1994), yaitu :
1.
Bidang Penelitian Teknologi Pertanian meliputi :
a) Rekayasa genetik dan perbaikan mutu bebrapa tanaman hortikultura
b) Diversifikasi produk tanaman hortikultura
c) Peningkatan efisiensi produk dan standar mutu
d) Rekayasa, rancang bangun dan pengujian alat dan mesin pertanian termasuk konstruksi rumah kaca
(Green House) dan pengendalian suhu, penanganan produk segar dan pengemasan hasil.
2.
Bidang Penelitian Sarana dan Prasarana meliputi : Sistem produksi, penyimpanan dan distri- busi benih
dan bibit hortikultura.
3. Bidang Penelitian Sumberdaya Alam dan Lingkungan, meliputi :
a) Pemanfaatan lahan marginal untuk pengembangan hortikultura
b) Penggunaan pestisida secara bijaksana dalam pengendalian hama penyakit tanaman hortikultura.
c) Konservasi, karakteristik, evaluasi dan pemanfaatan plasma nutfah.
4.
Bidang Penelitian Sunber Daya Manusia, meliputi : Pengkajian perilaku dan kinerja petani serta pedagang
dalam menyelenggarakan usahatani hortikultura.
5.
Bidang Penelitian Kebijaksanaan dan Kelembagaan, meliputi :

http://pertanian.uns.ac.id/~agronomi/dashor.html[30-Jun-14 11:54:28 PM]

BUKU AJAR DASAR HORTIKULTURA FAPERTA UNS

a) Pengkajian sistem insentif, investasi usahatani hortikultura


b) Pengkajian masalah paten produk penelitian hortikultura
c) Pengkajian pembinaan, pengawasan dan sertifikasi benih dan bibit hortikultura.
Adapun hasil-hasil penelitian dari Perguruan Tinggi yang telah dilaksanakan baik oleh mahasiswa maupun
Staf Pengajarnya, dapat diterapkan pada petani hortikultura di daerah sekitarnya sesuai dengan sumberdaya dan
fasilitas yang dimiliki daerah tersebut untuk dikembangkan, sehingga nantinya mampu memberdayakan
masyarakat tani hortikultura menjadi mandiri, maju, sejahtera dan berkeadilan secara berkelanjutan.
DAFTAR PUSTAKA
Adhi Santika, 1994. Program Penelitian dan Pengembangan Hortikultura dalam Pelita VI. Proc. Simp. Hort.
Nas., Malang. P. 36 42.
Amrin Kahar, 1994. Pendidikan, Penelitian dan Pengembangan Hortikultura.
P. 54 -59.

Proc. Simp. Hort. Nas., Malang.

Dudung Abdul Adjid, 1993. Kebijaksanaan Pengembangan Hortikultura di Indonesia dalam Pelita VI. Seminar
dan Konggres PERHORTI. Malang 20-21 Nopember 1993. 13 pp.
Edmond, J.B., T.L. Senn, F.S. Andrew and R.G. Halfacre, 1975. Fundamentals of Horticulture. Tata McGraw Hill
Publ. Co. Ltd. New Delhi. 560 pp.
Janick, J., 1972. Horticultural Science. W.H. Freeman and Co. San Francisco. 586 pp.
Kasumbogo Untung, 1994. Peranan Hortikultura dalam Perbaikan Lingkungan Hidup. Proc. Simp. Hort. Nas.,
Malang. P 22 25.
Notodimedjo, Soewarno. 1997. Strategi Pengembangan Hortikultura Khususnya
Buah-buahan dalam
menyongsong Era Pasar Bebas. Pidato Pengukuhan Guru Besar dalam Ilmu Hortikultura, Fak.Pertanian
Unibraw, Malang. 74 pp.
Siswono Yudohusodo, 1999. Upaya Pemberdayaan Petani sebagai Faktor Utama Program Pembangunan
Nasional. Gerakan Terpadu Peduli Pertanian, Undip Semarang. 11 pp.
Sri Setyati Haryadi, 1994. Perbaikan Pendidikan di Bidang Hortikultura. Proc. Simp. Hort. Nas., Malang. P 27
29.

BAB III
FAKTOR LINGKUNGAN PADA TANAMAN HORTIKULTURA

Dalam budidaya tanaman hortikultura agar diperoleh hasil panenan yang memuaskan maka perlu
memperhatikan faktor lingkungan tumbuh tanaman. Hal ini identik dengan faktor luar dan faktor di sekitar tanaman,
dimana faktor dalam tanaman mempunyai peranan juga dalam produktivitas tanaman hortikultura. Faktor dalam pada
tanaman yang dikendalikan oleh gen (DNA) disebut sebagai faktor keturunan (genetik). Sifat yang menyusun tanaman
yang diturunkan dikenal sebagai genotype, sedangkan phenotype merupakan sifat atau perilaku dari kenampakan total
luar pada tanaman, dan biasanya diukur sebagai suatu hasil secara kuantitatif. Contohnya varietas kobis yang tidak
tahan terhadap udara panas krop-nya tidak dapat berkembang apabila ditanam di dataran rendah, sedangkan varietas
http://pertanian.uns.ac.id/~agronomi/dashor.html[30-Jun-14 11:54:28 PM]

BUKU AJAR DASAR HORTIKULTURA FAPERTA UNS

kobis yang tahan panas seperti KK dan KY Cross baik di dataran rendah maupun dataran tinggi, krop-nya dapat
berkembang.
Genotype suatu varietas tanaman menentukan kemampuan menghasilkan, adaptasi regional, ketahanan terhadap
hama/penyakit dan mutu. Sedangkan lingkungan dapat menyebabkan sifat-sifat yang beragam dari suatu tanaman
hortikultura. Contoh : suatu varietas yang mempunyai kemampuan menghasilkan tinggi tetapi jika kebutuhan air dan
hara tidak terpenuhi serta gulma tidak dikendalikan, maka varietas itu tidak dapat memberikan hasil yang tinggi.
Interaksi antara genotype dan lingkungan ( G x E ) dapat bersifat positif atau negatif. Dikatakan positif apabila
tanaman itu mampu menghasilkan denngan baik, dan sebaliknya apabila tidak dapat memberikan hasil baik adalah
interaksi negatif. Untuk menentukan interaksi tersebut (positif atau negatif), suatu varietas tanaman hortikultura
sebelum disebarkan ke petani hendaknya diadakan pengujian terlebih dahulu pada daerah setempat.
Pelaku hortikultura hendaknya mengetahui keadaan lingkungan setempat dimana mereka mengusahakan
tanaman hortikultura. Dalam hal ini petani harus mengetahui tentang hama/penyakit penting yang dapat menyerang,
gulma, kondisi tanah maupun iklim yang dapat membatasi pencapaian produksi maksimum dari tanaman yang
diusahakan. Beberapa komponen faktor lingkungan yang penting dalam menentukan pertumbuhan dan produksi
tanaman di antaranya adalah : radiasi matahari, suhu, tanah, air.
A.

Radiasi Matahari.
Radiasi matahari merupakan faktor utama diantara faktor iklim yang lain, tidak hanya sebagai sumber
energi primer tetapi karena pengaruhnya terhadap keadaan faktor-faktor yang lain seperti : suhu, kelembaban dan
angin.
Respon tanaman terhadap radiasi matahari pada dasarnya dapat dibagi menjadi tiga aspek, yaitu : intensitas,
kualitas dan fotoperiodisitas. Ketiga aspek ini mempunyai pengaruh yang berbeda satu dengan yang lainnya,
demikian juga keadaannya di alam, sehingga untuk jelasnya akan diuraikan secara terpisah.
1. Intensitas Cahaya.
Intensitas cahaya adalah banyaknya energi yang diterima oleh suatu tanaman per satuan luas dan per
satuan waktu (kal/cm2/hari). Pengertian intensitas disini sudah termasuk didalamnya lama penyinaran, yaitu
lama matahari bersinar dalam satu hari, karena satuan waktunya menggunakan hari.
Besarnya intensitas cahaya yang diterima oleh tanaman tidak sama utuk setiap tempat dan waktu,
karena tergantung :
a. Jarak antara matahari dan bumi, misalnya pada pagi dan sore hari intensitasnya lebih rendah dari pada
siang hari karena jarak matahari lebih jauh. Juga di daerah sub tropis, intensitasnya lebih rendah dibanding
daerah tropis. Demikian pula di puncak gunung intensitasnya (1,75 g.kal/cm2/menit) lebih tinggi dari
pada di dataran rendah (di atas permukaan laut = 1,50 g.kal /cm2/menit).
b. Tergantung pada musim, misalnya pada musim hujan intensitasnya lebih rendah karena radiasi matahari
yang jatuh sebagian diserap awan, sedangkan pada musim kemarau pada umumnya sedikit awan sehingga
intensitasnya lebih tinggi.
c. Letak geografis, sebagai contoh daerah di lereng gunung sebelah utara/selatan berbeda dengan lereng
sebelah timur/barat. Pada daerah tanaman menerima sinar matahari lebih sedikit dari pada sebelah
utara/selatan karena lama penyinarannya lebih pendek disebabkan terhalang oleh gunung. Bahkan lereng
sebelah barat dan timur itu sendiri juga sering terdapat perbedaan terutama pada musim hujan. Hal ini

http://pertanian.uns.ac.id/~agronomi/dashor.html[30-Jun-14 11:54:28 PM]

BUKU AJAR DASAR HORTIKULTURA FAPERTA UNS

disebabkan karena musim hujan biasanya banyak sore hari sehingga lebih banyak awan dibanding pagi
hari, akibatnya lereng sebelah barat yang baru meneroma sinar matahari sore hari akan mendapatkan
radiasi dengan intensitas yang sangat rendah.
Pengaruh intensitas cahaya terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman sejauh mana
berhubungan erat dengan proses fotosintesis.
Dalam proses ini energi cahaya diperlukan untuk
berlangsungnya penyatuan CO2 dan air untuk membentuk karbohidrat. Semakin besar juml;ah energi yang
tersedia akan memperbesar jumlah hasil fotosintesis sampai dengan optimum (maksimum). Untuk
menghasilkan berat kering yang maksimal, tanaman memerlukan intensitas cahaya penuh. Namun demikian
intensitas cahaya yang sampai pada permukaan kanopi tanaman sangat bervariasi, hal ini merupakan salah
satu sebab potensi produksi tanaman aktual belum diketahui. Besarnya kuat cahaya yang mengenai bidang
sasaran ada yang menyatakan dengan satuan foot candle (ft-c) dari Inggris. Ft-c menggambarkan kuat
penyinaran yang dipancarkan oleh satu lilin standar yang mengenai permukaan bidang sasaran seluas 1
square foot (= 928,088 cm2) pada radius penyinaran 12 inchi (= 30,48 cm). Dalam praktik sehari-hari cahaya
bulan diperkirakan mempunyai kuat cahaya 0,05 ft-c, sinar untuk membaca besarnya 20 ft-c, sedangkan
untuk proses fotosintesis minimal antara 100-200 ft-c.
Penelitian pada tanaman tomat di Michigan, USA menunjukkan bahwa persentase berat basah, berat
kering dan produksinya mempunyai korelasi yang erat dengan intensitas radiasi matahari. Hasil
percobaannya tertera pada tabel di bawah ini.
Tabel 1 : Pengaruh Intensitas Cahaya pada Tanaman Tomat.
Rata2
Produksi
Jumlah cahaya
intensitas
Kandungan
buah
Perlakuan
yg diterima
Efisiensi
harian (foot
hijau daun
(Pound)
(%)
candle)
Tanaman menerima
100
1140
65
Tinggi
Tinggi
cahaya MH penuh
Tanaman yg dilindungi
50
583
51
Agak tinggi
Cukup tinggi
satu lapis kain tipis
Tanaman di bawah 2
25
261
32
Rendah
Rendah
lapis kain tipis
Penelitian lain tentang hubungan antara intensitas cahaya dengan keaktifan fotosintesa, leaf area dan
pertumbuhan tanaman dilukiskan dalam gambar 1 sebagai berikut.
Dalam menyesuaikan berkurangnya intensitas cahaya (tanaman terlindung), tanaman Mung bean
(kacang hijau) menunjukkan menurunnya keaktifan fotosintesis (NAR) tetapi tanaman ini tumbuh denngan
menghasilkan daun yang lebih baik, sehingga menaikkan leaf area (LAR). Bertambahnya permukaan daun ini
mengimbangi menurunnya NAR pada cahaya yang rendah, sehingga RGR dalam kenyataannya tidak
terpengaruh (Monsai et al., 1962). Karena pengaruhnya terhadap berkurangnya fotosintesis, imntensitas
cahaya pada umumnya menjadi faktor pembatas pada pertumbuhan tanaman di rumah kaca dan hot bed
selama musim dingin.

http://pertanian.uns.ac.id/~agronomi/dashor.html[30-Jun-14 11:54:28 PM]

BUKU AJAR DASAR HORTIKULTURA FAPERTA UNS

Gambar 1: Hubungan antara intensitas cahaya dengan keaktifan fotosintesa, leaf area dan pertumbuhan
tanaman Mung bean.
2. Kualitas Cahaya
Cahaya matahari yang sampai pada tajuk atau kanopi tanaman tidak semuanya dapat dimanfaatkan,
sebagian dari cahaya tersebut diserap, sebagian ditransmisikan, atau bahkan dipantulkan kembali. Kualitas
cahaya matahari ditentukan oleh proporsi relatif panjang gelombangnya, selain itu kualitas cahaya tidak selalu
konstan namun bervariasi dari musim ke musim, lokasi geografis serta perubahan komposisi udara di
atmosfer.
Pengertian cahaya berkaitan dengan radiasi yang terlihat (visible) oleh mata, dan hanya sebagian kecil
saja yang diterima dari radiasi total matahari. Radiasi matahari terbagi dua, yaitu yang bergelombang panjang
(long wave radiation) dan yang bergelombang pendek (short wave radiation). Batas terakhir dari radiasi
gelombang pendek adalah radiasi ultraviolet, sedangkan batas akhir radiasi gelombang panjang adalah sinar
inframerah. Radiasi dengan panjang gelombang antara 400 hingga 700 um adalah yang digunakan untuk
proses fotosintesis.Ukuran panjang gelombang masing-masing radian tersebut terdapat pada gambar 2.

http://pertanian.uns.ac.id/~agronomi/dashor.html[30-Jun-14 11:54:28 PM]

BUKU AJAR DASAR HORTIKULTURA FAPERTA UNS

Gambar 2. Panjang gelombang radiasi matahari


Cahaya matahari yang sampai ke bumi hanya sebagian saja, selebihnya cahaya tersebut tersaring oleh
beberapa komponen atmosfer atau dipantulkan kembali ke angkasa luar. Cahaya matahari gelombang pendek
tersaring dan diserap oleh lapisan ozon (O3 ) di atmosfer, sedangkan cahaya gelombang panjang tersaring oleh
uap air di udara, cahaya gelombang panjang lainnya dipecahkan/dipencarkan dan dipantulkan oleh awan dan
lapisan debu di atas permukaan bumi.
Pengaruh kualitas cahaya terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman telah banyak diselidiki,
dimana diketahui bahwa spektrum yang nampak (visible) diperlukan untuk pertumbuhan tanaman. Apabila
tanaman ditumbuhkan pada cahaya biru saja daunnya akan berkembang secara normal, namun batangnya
akan menunjukkan tanda-tanda terhambat pertumbuhannya. Apabila tanaman ditumbuhkan pada cahaya
kuning saja, cabang-cabangnya akan berkembang tinggi dan kurus dengan buku (internode) yang panjang
dan daunnya kecil-kecil. Dari penelitian tersebut telah membuktikan bahwa cahaya biru dan merah
memegang peranan penting untuk berlangsungnya proses fotosintesis.
3. Fotoperiodisitas
Fotoperiodisitas atau panjang hari didefinisikan sebagai panjang atau lamanya siang hari dihitung mulai
dari matahari terbit sampai terbenam ditambah lamanya keadaan remang-remang (selang waktu sebelum
matahari terbit atau setelah matahari terbenam pada saat matahari berada pada posisi 60 di bawah cakrawala).
Panjang hari tidak terpengaruh oleh keadaan awan seperti pada lama penyinaran yang bisa berkurang bila
matahari tertutup awan, sedang panjang hari tetap.
Panjang hari berubah beraturan sepanjang tahun sesuai dengan deklinasi matahari dan berbeda pada
setiap tempat menurut garis lintang. Pada daerah equator panjang hari sekitar 12 jam per harinya, semakin
jauh dari equator panjang hari dapat lebih atau kurang sesuai dengan pergerakan matahari. Secara umum
dapat dikatakan bahwa semakin lama tanaman mendapatkan pencahayaan matahari, semakin intensif proses
fotosintesis, sehingga hasil akan tinggi. Akan tetapi fenomena ini tidak sepenuhnya benar karena beberapa
tanaman memerlukan lama penyinaran yang berbeda untuk mendorong fase pembungaan. Fotoperiodisitas
tidak hanya berpengaruh terhadap jumlah makanan yang dihasilkan oleh suatu tanaman, tetapi juga
menentukan waktu pembungaan pada banyak tanaman.

http://pertanian.uns.ac.id/~agronomi/dashor.html[30-Jun-14 11:54:28 PM]

BUKU AJAR DASAR HORTIKULTURA FAPERTA UNS

Berdasarkan respon tanaman terhadap panjang hari (fotoperiodisme) maka tanaman dapat digolongkan
menjadi tiga kelompok : a) Golongan tanaman hari panjang (long day plants), b) Tanaman hari pendek (short
day plants) dan c). Tanaman hari netral (neutral day plants).
Disamping itu dikenal pula panjang hari kritis yaitu panjang hari maksimum (untuk tanaman hari
pendek) dan minimum (untuk tanaman hari panjang) dimana inisiasi pembungaan masih terjadi. Panjang hari
kritis berbeda-beda menurut jenis tanaman dan bahkan varietas.
Apabila tanaman hari pendek ditumbuhkan pada hari panjang, akan menghasilkan banyak karbohidrat
dan protein yang digunakan untuk perkembangan batang dan daun. Oleh karenanya tanaman hari pendek
yang ditumbuhkan pada hari panjang secara ekstrim akan tumbuh vegetatif, tidak mampu membentuk bunga
dan buah. Sebaliknya apabila tanaman hari panjang ditumbuhkan pada hari pendek akan menghasilkan
sedikit karbohidrat dan protein sehingga pertumbuhan vegetatifnya lemah dan tidak berbunga.
Respon tanaman terhadap panjang hari sering dihubungkan dengan pembungaan, namun sebenarnya
banyak aspek pertumbuhan tanaman yang dipengaruhinya, antara lain : (a) Inisiasi bunga, (b) Produksi dan
kesuburan putik dan tepungsari, misalnya pada jagung dan kedelai, ( c ) Pembentukan umbi pada tanaman
kentang, bawang putih dan ubi-ubian yang lain, (d) Dormansi benih, terutama biji gulma dan perkecambahan
biji pada tanaman bunga, dan (e) Pertumbuhan tanaman secara keseluruhan, seperti pembentukan anakan,
percabangan dan pertumbuhan memanjang.
Beberapa contoh tanaman hari panjang, hari pendek dan hari netral dapat dilihat pada tabel berikut ini :
Tabel 2 : Tanaman hari panjang, hari pendek dan hari netral
Kelompok
Tnm hari pendek
Tnm hari panjang
Tnm hari netral
Sayuran
kentang, ketela rambat
bayam, lobak, selada
tomat, lombok, okra
kacang-kacangan
Buah
strawberry
strawberry
China aster, gardenia,
Carnation, dianthus,
Bunga
chrysanthemum,
Cosmos bouvardia,
delphinium
Violet cyclamon
Stevia poinsetia
Di Indonesia panjang hari tidak banyak berbeda dari bulan ke bulan selama satu tahun, perbedaan hari
terpanjang dan terpendek hanya 50 menit. Semakin jauh dari equator perbedaan panjang hari akan semakin
besar. Dengan demikian pengaruh panjang hari terhadap tanaman juga jarang ditemui di daerah tropika.
Pengetahuan tentang panjang hari ini sangant penting bila akan mengadakan introduksi suatu varietas
baru dari luar negeri, atau pemilihan varietas yang cocok untuk suatu daerah, dan bagi pemulia tanaman
dalam upaya mendapatklan varietas baru yang tahan terhadap panjang hari (tanaman hari netral).
B.

Suhu.
Sumber panas di bumi adalah dari matahari yang suhunya pada permukaannya diperkirakan sebesar
6.000o C, dan energi yang dikeluarkan dari sinar matahari dipancarkan ke seluruh arah dengan kekuatan yang
konstan. Jumlah panas yang diterima oleh bumi dan atmosfer hanya sekitar 4 per sepuluh juta dari total energi
yang dipancarkan. Sebagian energi sinar matahari berupa gelombang pendek. Sinar matahari yang mengenai
atmosfer bumi sebanyak 10% adalah gelombang sinar ultra violet, 40% gelombang sinar yang dapat dilihat
(visible), sedangkan sisanya 50% berupa gelombang sinar infra merah.
Energi yang dipancarkan oleh sinar matahari tidak langsung diterima oleh permukaan bumi, tetapi beberapa

http://pertanian.uns.ac.id/~agronomi/dashor.html[30-Jun-14 11:54:28 PM]

BUKU AJAR DASAR HORTIKULTURA FAPERTA UNS

di antaranya dipantulkan atau dialihkan melalui beberapa media serapan. Pada lapisan atmosfer yang menyerap
gelombang sinar ultra violet adalah laipsan ozon dan gas oksigen. Dua jenis lapisan gas tersebut sangat berguna
bagi tanaman, hewan dan manusia karena melindungi kehidupan di bumi yang tidak kuat terhadap penyinaran
sinar ultra violet.
Pengertian suhu mencakup dua aspek, yaitu : derajat dan insolasi. Insolasi menunjukkan energi panas dari
matahari dengan satuan gram/kalori/cm2 /jam, mirip dengan pengertian intensitas pada radiasi matahari. Satu
gram kalori adalah sejumlah energi yang dibutuhkan untuk menaikkan suhu satu gram air sebesar 10 C.
Jumlah insolasi atau suhu suatu daerah tergantung pada : a). Letak lintang (Latitude) suatu daerah. Di
katulistiwa insolasi lebih besar dan sedikit bervariasi dibandingkan dengan sub-tropis dan daerah sedang.
Dengan semakin bertambahnya latitude insolasi semakin kecil, karena sudut jatuh radiasi matahri semakin besar
atau jarak antara matahari dan permukaan bumi semakin jauh. Akan tetapi insolasi total untuk satu musim
pertumbuhan tanaman hampir sama karena panjang hari yang lebih lama; b) Altitude (tinggi tempat dari
permukaan laut) : semakin tinggi altitude insolasi semakin rendah, setiap naik 100 m suhu turun 0,60 C ; c).
Musim berpengaruh terhadap insolasi dalam kaitannya dengan kelembaban udara dan keadaan awan; d). Angin
juga sering berpengaruh terhadap insolasi, apalagi bila angin tersebut membawa uap panas.
Selain keragaman atar daerah, suhu juga bervariasi berdasarkan waktu, baik suhu udara maupun suhu tanah
(pagi-siang-sore).
Pengaruh suhu terhadap pertumbuhan tanaman dikenal sebagi suhu kardinal yaitu meliputi suhu optimum
(pada kondisi ini tanaman dapat tumbuh baik), suhu minimum (pada suhu di bawahnya tanaman tidak dapat
tumbuh), serta suhu maksimum (pada suhu yang lebih tinggi tanaman tidak dapat tumbuh). Suhu kardinal untuk
setiap jenis tanaman memang bervariasi satu dengan lainnya.
Pengaruh suhu terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman dibedakan sebagai berikut : (1) Batas
suhu yang membantu pertumbuhan dan perkembangan tanaman, dan (2) Batas suhu yang tidak membantu
pertumbuhan dan perkembangan tanaman.
Ad. (1). Batas suhu yang membantu pertumbuhan dan perkembangan tanaman diketahui sebagai batas suhu
optimum. Pada batas ini semua proses dasar seperti : fotosintesis, respirasi, penyerapan air, transpirasi,
pembelahan sel, perpanjangan sel dan perubahan fungsi sel akan berlangsung baik dan tentu saja akan diperoleh
produksi tanaman yang tertinggi. Batas suhu optimum tidak sama untuk semua tanaman, sebagai contoh : apel,
kentang, sugar-beet menghendaki suhu yang lebih rendah dibandingkan : tanaman jeruk, ketela rambat atau
gardenia.
Berdasarkan hal ini tanaman hortikultura dikelompokkan sebagai berikut :
a. Tanaman yang menghendaki batas suhu optimum yang rendah (tanaman musim dingin), yaitu tanaman
yang tumbuh baik pada suhu antara : 450 - 600 F.
b. Tanaman yang menghendaki batas suhu optimum yang tinggi (tanaman musim panas), yaitu tanaman yang
tumbuh baik pada suhu antara : 600 - 750 F.
Dari type tanaman tersebut di atas maka dapat dilihat contoh-contoh tanamannya pada tabel berikut :
Tabel 3 : Klasifikasi tanaman hortikultura berdasarkan suhu yang dikehendaki.
Tanaman musim dingin (Optimum suhu : 450 -600 F)
Tanaman Buah-buahan
Tanaman Sayuran
Tanaman Bunga & Hias
Apel, pear, cherry, plum,
Asparagus, spinach, lectuce,
Carnation, geranium, petunia,
http://pertanian.uns.ac.id/~agronomi/dashor.html[30-Jun-14 11:54:28 PM]

BUKU AJAR DASAR HORTIKULTURA FAPERTA UNS

strawberry, grape, blackberry,


raspberry

kobis, beet, wortel, arcis (pea),


kentang

zennia, pansy

Tanaman musim panas (Optimum suhu : 60 0 - 750 F)


Peach, apricot, citrus, olive, fig, Tomat, lombok, terong,
Rose, poinsettia, gardenia,
persimon, grape
ketimun, semangka, waluh,
euphorbia, amaryllis, orchid
cantaloupe, beans (kacangkacangan)
Ad (2). Batas suhu yang tidak menguntungkan dikelompokkan sebagai berikut :
a.

Suhu di atas optimum : tanaman yang tumbuh pada kondisi ini pada akhir pertumbuhannya biasanya
menghasilkan produksi yang rendah. Hal ini disebabkan kurang adanya keseimbangan antara besarnya
fotosintesis yang dihasilkan dan berkurangnya karbohidrat karena adanya respirasi. Bertambahnya suhu
akan mempercepat kedua proses ini, tetapi di atmosfer di atas batas optimum, proses respirasi akan
berlangsug lebih besar dari pada fotosintesis, sehingga bertambah tingginya suhu tersebut akan
mengakibatkan berkurangnya produksi.
b. Suhu di bawah batas optimum : tanaman yang tumbuh pada kondisi ini akan menghasilkan pertumbuhan
yang kurang baik dan produksinya akan lebih rendah. Hal ini disebabkan pada suhu yang rendah besarnya
fotosintesis yang dihasilkan dan protein yang dibentuk dalam keadaan minimum, akibatnya pertumbuhan
dan perkembangan lambat dan produksi rendah.
Kerusakan tanaman terhadap suhu ekstrim.
Di Indonesia kerusakan tanaman terhadap suhu ekstrim jarang sekali terjadi, karena pada umumnya di
daerah tropika variasi suhu tidak terlalu besar. Namun di daerah beriklim sedang kerusakan tanaman akibat
suhu rendah sering terjadi, demikian pula di daerah gurun pasir kerusakan akibat suhu tinggi.
Ada beberapa terminologi untuk kerusakan tanaman sebagai akibat suhu rendah, antara lain :
a. Sufokasi (suffocation) : adalah lambatnya pertumbuhan tanaman karena permukaan tanah tertutup
lapisan salju, misalnya kekurangan oksigen dalam tanah.
b. Desikasi (desiccation) : disebut dengan istilah kekeringan fisiologis, bukan karena tidak ada air dalam
tanah melainkan absorpsi air oleh akar terhambat karena berkurangnya permeabilitas selaput akar atau
karena naiknya viskositas air dalam tanah dan bahkan membeku.
c. Heaving : adalah kerusakan tanaman karena hubungan akar dan bagian atas tanaman terputus disebabkan
adanya kristal es pada permukaan tanah.
Chilling : adalah kerusakan akibat suhu rendah di atas titik beku ( 40 C). Gejalanya : garis-garis
khlorosis pada daun.
e. Freezing Injury : adalah pembekuan dalam jaringan tanaman yang berupa kristal es didalam atau di
antara sel sehingga tanaman rusak secara mekanis, akibatnya bagian tanaman atau seluruh tanaman mati.
Selain kerusakan karena suhu rendah, suhu tinggipun juga merusak tanaman bila berada pada tingkat
ekstrim. Beberapa kerusakan tanaman akibat suhu tinggi antara lain : timbulnya kanker batang, rusaknya
protoplasma sehingga sel menjadi rusak dan tanaman mati, dan respirasi meningkat secara cepat sehingga
cadangan makanan (KH) hasil fotosintesis cepat habis.
Masih dalam kaitannya dengan respon tanaman terhadap suhu, proses pembungaan tanaman dapat
d.

http://pertanian.uns.ac.id/~agronomi/dashor.html[30-Jun-14 11:54:28 PM]

BUKU AJAR DASAR HORTIKULTURA FAPERTA UNS

dipercepat dengan Chilling (yaitu suhu rendah 40 C). Cara ini yang sering disebut dengan Vernalisasi, yang
keberhasilannya ditentukan oleh : a) Air yang cukup tersedia bagi benih untuk proses imbibisi tetapi tidak
boleh terlalu banyak yang dapat menyebabkan benih berkecambah, b). Adanya periode pre-chilling selama
10-24 jam pada suhu 15-180 C setelah pembasahan benih; c). Oksigen cukup tersedia , dan d). Suhu chilling
sebesar 1-60 C selama 48 jam.
Dalam bidang pertanian dikenal istilah satuan panas (heat unit) , yaitu jumlah panas yang dibutuhkan
tanaman selama siklus hidupnya. Satuan panas tidak sama untuk setiap jenis tanaman. Pada tanaman yang
sama umur panen akan lebih panjang bila ditanam pada daerah bersuhu rendah karena untuk mendapatkan
sejumlah satuan panas tertentu dibutuhkan waktu lebih lama. Sehingga kegunaan praktis dari satuan panas ini
adalah untuk meramal saat panen yang tepat setelah mengetahui secara umum berdasarkan deskripsi yang ada.
Walaupun demikian perlu diingat bahwa satuan panas bukan merupakan satu-satunya faktor yang
menentukan umur panen. Masih banyak faktor lain yang perlu diperhatikan karena pengaruhnya cukup besar
terhadap umur panen, antara lain : (a) Kesuburan tanah, dimana tanah yang terlalu subur terutama kandungan
unsur N tinggi akan mempercepat panen; (b) Kandungan air dalam tanah dan kelembaban udara, tanaman yang
tumbuh pada kondisi basah akan terpacu dominasi pertumbuhan vegetatifnya dari pada yang tumbuh pada
kondisi kering; ( c) Radiasi matahari, kaitannya dengan panjang hari akan berpengaruh pada inisiasi
pembungaan yang pada akhirnya mempengaruhi umur panen.
Suhu udara dan atau suhu tanah berpengaruh terhadap tanaman melalui proses metabolisme dalam tubuh
tanaman, yang tercermin dalam berbagai karakter seperti : laju pertumbuhan, dormansi benih dan kuncup serta
perkecambahannya, pembungan, pertumbuhan buah dan pendewasaan/pematangan jaringan atau organ
tanaman.
Respon tanaman terhadap suhu dan suhu optimum tanaman berbeda-beda tergantung kepada : jenis
tanaman, varietas, tahap pertumbuhan tanaman dan macam organ atau jaringan.

Gambar 3. Respon berbagai kelompok tanaman terhadap suhu

http://pertanian.uns.ac.id/~agronomi/dashor.html[30-Jun-14 11:54:28 PM]

BUKU AJAR DASAR HORTIKULTURA FAPERTA UNS

C.

Tanah
Pokok-pokok dari faktor tanah meliputi : 1) Sejumlah air yang tersedia didalam tanah, 2) Jarak yang
ditempuh pergerakan air yang tersedia, 3) Kecepatan pergerakan air yang tersedia 4) Oksigen yang tersedia
didalam tanah.
1) Air yang tersedia dalam tanah.
Air tanah terdapat pada pori-pori kapiler dan non kapiler dan selaput pada permukaan butir-butir tanah.
Keadaan air tanah dibedakan menjadi :
a) Keadaan kapasitas menahan air maksimum, seluruh pori baik pori mikro maupun makro terisi penuh air.
b) Keadaan kapasitas lapang, bila air telah mencapai keadaan maksimum selama beberapa waktu terjadi
pergerakan air ke bawah sampai akhirnya gerakan terhenti, keadaan demikian disebut kapasitas lapang (
Field capasity). Disini pori makro sebagian diisi udara, sedang pori mikro penuh dengan air.
c) Keadaan titik layu, yaitu keadaan air tanah sudah sangat berkurang, dimana ruang pori makro dan mikro
tidak berisi air, dan
d) Keadaan air higroskopis, yaitu air sudah habis sama sekali, kecuali pada permukaan partikel-partikel
tanah sebagai air adsorbsi yang amat sulit dilepaskan.
Pada prinsipnya ada dua tipe air yang terdapat dalam tanah, yakni : (1) air tersedia, dan (2) air yang
tidak tersedia. Air tersedia kadang disebut air kapiler dan dipegang oleh daya kapileritet, sedang kapasitas
lapang sama dengan jumlah air tak tersedia dan air tersedia. Air yang tidak tersedia disebut juga dengan air
higroskopis dan terikat secara mantap oleh koloid tanah.
Tabel 4. Ketersediaan air pada tanah yang berbeda.
Kapasitas
Air tak Tersedia
Air Tersedia
Jenis Tanah (Top Soil)
Lapang (%)
(Higroskopis)%
(Kapiler) %
Tanah berpasir (Sandy soil)
19,6
3,3
16,3
Tanah lempung berdebu (Silt loam)

31,3

10,1

21,2

Tanah berbatu bata hitam (black adobe)

47,6

12,9

34,7

Dari tabel di atas nampak bahwa kapasitas lapang pada tanah lempung berdebu lebih besar dari pada tanah
berpasir, dan air yang tersedia pada tanah pasir lebih kecil dari pada tanah lempung. Dengan bertambah besarnya
kapasitas lapang tanah lempung mempunyai persediaan air tersedia lebih besar untuk tanaman.
2) Jarak yang ditempuh oleh pergerakan air yang tersedia.
Beberapa peneliti telah menunjukkan bahwa air tersedia bergerak dalam tanah pada jarak pendek saja,
yaitu tidak lebih dari 2 atau 3 feet (60 - 90 cm) saja. Jarak pendek yang dilalui pergerakan air ini mempunyai
hubungan yang penting dengan: kedalaman dan rapatnya permukaan absorpsi sistem akar dan jarak letak air
di bawah permukaan tanah (dengan kenaikan kapiler dan absorpsi oleh akar).
Dikarenakan bahwa pergerakan air yang jarak pendek ini, tanaman dengan sistem perakaran dangkal tidak
dapat mencapai air pada level yang lebih rendah. Oleh karenanya tanaman dengan sistem perakaran yang
dalam dan rapat dapat bertahan kekeringan pada tingkat yang lebih besar daripada tanaman yang sistem
perakarannya dangkal dan tidak rapat. Pada umumnya akar-akar sebagian besar tanaman yang sistem
perakarannya berkembang meluas menembus sedalam 12-18 inch atau 30-40 cm ( 1 inch = 2,34 cm ) dari
permukaan air di bawah permukaan tanah. Di dalam daerah 12-18 inch ini ruangan antara partikel tanah berisi
air penuh (berlebih-lebihan) dan menderita kekurangan oksigen untuk perkembangan akar. Sehingga suatu
http://pertanian.uns.ac.id/~agronomi/dashor.html[30-Jun-14 11:54:28 PM]

BUKU AJAR DASAR HORTIKULTURA FAPERTA UNS

permukaan air di bawah permukaan tanah (water table) yang dekat dengan permukaan tanah menjadi
pembatas penembusan akar.
Banyak penelitian telah menunjukkan bahwa tinggi dari water table ( air tersedia di tanah) benar-benar
berpengaruh terhadap pertumbuhan, vigor ( kekokohan/ketahanan ) dan kemampuan berproduksi tanaman
yang mempunyai nilai ekonomis. Sebagai contoh, dengan faktor-faktor lain menguntungkan, raspberry
menghendaki permukaan air tanah 18-36 inch ( 45-90 cm ) di bawah permukaan tanah. Contoh ; daerah Jawa
Timur : tomat, kobis, selada, wortel, bit, bawang merah kurang dalam ; singkong, pohon buah mangga, jambu
mete dalam ; jeruk, rambutan, salak kurang dalam.
3) Besarnya pergerakan air yang tersedia.
Besarnya pergerakan air tanah yang dipergunakan tanaman tergantung pada (a) tipe tanah, (b) suhu, (c)
konsentrasi larutan tanah & d) Oksigen yang tersedia di tanah
a.
Tipe tanah
Disebabkan kandungan koloid yang lebih besar, pergerakan air pada tanah liat (clay) kurang cepat
dibandingkan pada tanah pasir. Oleh karenanya untuk menjamin kelestarian pertumbuhan dan
perkembangan tanaman, tanah-tanah pasir harus mendapat air hujan atau air irigasi.
b. Temperatur suhu tanah
Suhu berpebgaruh terhadap pergerakan air dalam 2 cara, yakni berpengaruh terhadap energi kinetic
(daya gerak) dan viskositas (kekentalan) molekul.
Suhu bertambah akan menambah tenaga gerak dan mengurangi viskositas, sebaliknya berkurangnya
suhu akan mengurangi daya gerak dan menambah viskositas. Oleh karena itu air bergerak kurang cepat
pada tanah-tanah yang lebih tinggi dari suhunya. Pengaruh suhu ini dalam praktek misalnya dijumpai
pada penanam-penanam yang mempergunakan pemanas pada dasar bedengan perbanyakan tanaman di
rumah-rumah kaca. Suhu terutama mempengaruhi kecepatan pertumbuhan.
c.
Konsentrasi dari larutan tanah
Makin besar jumlah partikel-partikel yang terlarut pada suatu volume larutan, penghambatan pergerakan
molekul-molekul air akan makin besar. Biasanya air tanah mengandung suatu konsentrasi larutan yang
rendah dan molekul-molekul air bergerak bebas dari permukaan partikel tanah ke rambut-rambut akar.
Namun kadang-kadang konsentrasi larutan tersebut menjadi begitu besar sehingga menghambat
pergerakan air, sehingga tidak sampai pada daerah-daerah rambut akar.
d.
Oksigen yang tersedia di tanah
Akar-akar sebagian besar tanaman yang mempunyai nilai ekonomis membutuhkan oksigen untuk
melangsungkan proses pengisapan air. Percobaan telah menunjukkan bahwa jika oksigen di tanah
diganti dengan nitrogen atau karbondioksida, penyerapan air akan berkurang atau berhenti sama sekali.
Kebutuhan oksigen untuk absorbsi air ini dititik beratkan kepentingannya untuk memperoleh drainase
(pengaliran air) yang baik. Jika ruang pori-pori tanah diisi dengan air, oksigen untuk kelangsungan
absorbsi air akan tidak ada (absen).
Agar udara dapat mengambil bagian di tanah, air tanah yang berlebih-lebihan harus dihindarkan dengan
mengalirkan air. Hampir sebagian besar tanaman buah-buahan, sayur-sayuran dan tanaman-tanaman
hias menghendaki tanah-tanah yang drainasenya baik.

http://pertanian.uns.ac.id/~agronomi/dashor.html[30-Jun-14 11:54:28 PM]

BUKU AJAR DASAR HORTIKULTURA FAPERTA UNS

FAKTOR TANAMAN
Pokok-pokok faktor tanaman yang mempengaruhi absorbsi air adalah : (1) tenaga mengisap air dari rambutrambut akar dan (2) dalam dan rapatnya daerah rambut akar.
Tenaga mengisap air dari rambut-rambut akar.
Daerah absorbsi air tanaman terdapat pada titik-titik pertumbuhan dari sistem akar. Di daerah ini sel-sel
epidermis tertentu memanjang, dan daerah permukaan absorbsi air bertambah. Sel-sel ini disebut rambut-rambut akar.
Fungsinya adalah mengisap air dan zat-zat makanan. Tenaga mengisap air dari akar-akar rambut ini ditentukan oleh
tekanan osmose dan tekanan turgor dari akar-akar rambut tersebut.
Tekanan osmose ditentukan oleh konsentrasi air yang berbeda-beda pada masing-masing membran sitoplasma.
Membran (selaput) hidup ini adalah semi permeable, dalam beberapa zat/ bahan akan selalu dapat melaluinya dan
beberapa tidak.
Biasanya membran ini dapat ditembus ( dilalui ) larutan-larutan mineral dan air tidak dapat ditembus ( dilalui )
bahan-bahan organik, seperti gula dan larutan protein. Gula dan protein ini dalam larutan yang terlarut dengan air
dalam rambut-rambut akar dan biasanya dengan air di tana. Disebabkan kadar air yang lebih rendah di rambut akar, air
meresap masuk dari tanah ke akar. Lebih rendahnya konsentrasi air di rambut-rambut akar sejauh mana disebabkan
oleh kandungan gulanya. Fotosintesa membuat gula. Sebagai akibatnya, tanaman yang fotosintesanya tinggi dan sistem
perakarannya berkembang dengan cepat dapat mengisap air lebih banyak pada suatu kesatuan waktu daripada
tanaman-tan0aman dengan nilai fotosintesa rendah dan sistem perakarannya berkembang lambat.
Dalam dan rapatnya permukaan absorbsi
Dalam permukaan absorbsi menunjukkan tentang dalamnya akar-akar menembus (memasuki tanah). Pada
umumnya, dalamnya penembusan berubah-ubah tergantung jenis tanaman dan tipe dari tanah.
Beberapa tanaman mempunyai sistem perakaran yang agak dangkal dan yang lain mempunyai sistem perakaran
yang dalam. Tanaman dengan sistem perakaran yang dalam dapat memperoleh lebih banyak air daripada tanaman
dengan sistem perakaran dangkal. Hal ini terutama jelas pada keadaan transpirasi yang tinggi.
Dalam- dangkalnya sistem perakaran suatu tanaman sangat dipengaruhi oleh prosentase kandungan oksigen
pada bermacam-macam tanah. Jenis tanaman yang sama yang tumbuh pada tanah lempung berliat akan mempunyai
sistem perakaran yang lebih dangkal dari tanaman yang tumbuh di pasir atau lempung berpasir.
Pada kenyataan, banyak tanaman yang tumbuh di tanah yang sangat berpasir akar-akarnya mampu menembus
sekitar 20-25 fost (6-7,5 m) dan di tanah liat hanya mampu menembus sekitar 3-4 fost (0,9-1,2 m).
Kecepatan permukaan absorbsi menunjukkan jumlah rambut-rambut akar dan akar-akar yang tumbuh baik
yang menempati masing-masing satu kesatuan volume tanah. Dengan mengambil dua tanaman A dan B, sistem
perakaran tanaman A mempunyai satu juta akar-akar rambut untuk setiap cubic foot (0,027 m 3 ) tanah dan panjangnya
10 foot (3 m) dan akar-akar tanaman B hanya mempunyai 10.000 akar-akar rambut untuk setiap cubic foot (0,027 m3
) tanah yang dicapai oleh akar-akar. Dikarenakan air bergerak hanya jarak pendek saja dan disebabkan kerapatan akar
tanaman A lebih besar, akan memperoleh jumlah air yang lebih besar daripada tanaman B.
Jadi baik dalamnya penembusan akar dan derajat bercabang-cabangnya akar memegang peranan penting,
terutama selama periode-periode transpirasi tinggi. Ciri-ciri khas tanaman tahan kekeringan adalah tanaman-tanaman
yang sistem perakarannya dalam dan meluas.

http://pertanian.uns.ac.id/~agronomi/dashor.html[30-Jun-14 11:54:28 PM]

BUKU AJAR DASAR HORTIKULTURA FAPERTA UNS

D.

PERANAN UNSUR HARA BAGI TANAMAN


Unsur hara atau nutrisi merupakan faktor penting bagi pertumbuhan tanaman yang dapat diibaratkan
sebagai zat makanan bagi tanaman. Sesuai dengan jumlah yang dibutuhkan tanaman, unsur hara dapat
dikelompokkan ke dalam dua bagian, yaitu unsur hara makro dan unsur hara mikro. Unsur hara makro adalah
unsur hara yang dibutuhkan tanaman dalam jumlah banyak, seperti : nitrogen (N), fosfor (P), kalium (K),
belerang (S), kalsium (Ca) dan magnesium (Mg). Unsur hara makro sering dibagi menjadi dua bagian, yakni
unsur hara primer (N, P dan K) dan unsur hara sekunder (S, Ca dan Mg). Selain unsur hara tersebut, tanaman
juga mambutuhkan unsur lain yang juga dalam jumlah besar, yaitu : karbon , hidrogen (H) dan oksigen (O).
Namun unsur-unsur ini (C, H dan O) jarang dibicarakan, bukan karena peranannya kecil akan tetapi karena
ketersediaannya dialam yang berlimpah serta peranannya dalam proses metabolisme tidak berdiri sendiri.
Kekurangan unsur ini juga tidak dapat dilihat secara terpisah. Unsur C diserap tanaman dalam bentuk CO 2 dalam
proses fotosintetis, unsur H diserap dalam bentuk H2 O dan unsur O diserap dalam bentuk O2 pada proses
respirasi. Sedangkan yang tergolong unsur hara mikro (dibutuhkan dalam jumlah kecil), antara lain besi (Fe),
borron (B), mangan (Mn), seng (Zn), tembaga (Cu) dan molibdenum (Mo).
Jumlah energi yang dibutuhkan bagi penyerapan aktif unsur hara tanaman diperoleh dari respirasi
karbohidrat yang terbentuk sebagai hasil dari fotosintesis tanaman. Oleh karenanya sejumlah faktor yang
mengurangi laju fotosintesis, akan mengurangi suplai energi di dalam tanaman dalam waktu lama dan akibatnya
mengurangi laju penyerapan unsur hara.
Setiap unsur hara memiliki peran spesifik dalam tanaman, namun demikian ada beberapa unsur yang
berperan ganda. Karena setiap unsur memainkan peran khusus, maka suatu keadaan defisit atau berlebihan
umumnya akan mengakibatkan gejala khas. Bila sejenis unsur memiliki lebih dari satu peran khusus, maka akan
timbul berbagai macam efek defisiensi bergantung pada proses dalam tanaman yang dipengaruhi.
Agar tanaman tumbuh sempurna, maka sebaiknya semua unsur esensial harus tersedia dalam jumlah cukup.
Jika lebih dari sejenis hara yang kurang dalam suatu tanaman, maka akan kecil respon tanaman tersebut bila yang
diberikan hanya satu unsur hara diantaran0ya. Beberapa faktor lain, seperti : hama, penyakit, gulma dan faktor
pembatas yang lain juga akan menurunkan respon tanaman terhadap pemupukan. Diagram berikut ini
menunjukkan peran yang dimainkan sejumlah unsur hara dalam proses fotosintesis dan sintesis karbohidrat.

Fungsi Nitrogen dalam Tanaman


Tanaman non legume biasanya menyerap N dari dalam tanah dalam bentuk NO3 - atau NH 4 + . Pada
kebanyakan tanah pertanian NO 3 - merupakan bentuk senyawa N yang paling banyak diserap tanaman. Tanaman
legume mampu mengambil N2 dari atmosfir dengan bantuan Rhizobia sp. Hanya sedikit N tanah yang digunakan oleh
tanaman legume.
N-anorganik dalam lingkungan normal segera diubah menjadi asam-asam amino dan akhirnya dirangkai
menjadi protein tanaman. Protein sel-sel vegetatif sebagian besar lebih bersifat fungsional daripada struktural dan
bentuknya tidak stabil sehingga selalu mengalami pemecahan dan reformasi.
Sebagai pelengkap bagi peranannya dalam sintesa protein, Nmerupakan bagian tak terpisahkan dari molekul
klorofil dan karenanya suatu pemberian N dalam jumlah cukup akan mengakibatkan pertumbuhan vegetatif yang vigor

http://pertanian.uns.ac.id/~agronomi/dashor.html[30-Jun-14 11:54:28 PM]

BUKU AJAR DASAR HORTIKULTURA FAPERTA UNS

dan warna hijau segar. Pemberian N yang berlebihan dalam lingkungan tertentu dapat menunda pendewasaan tanaman.
Secara fungsional nitrogen juga penting sebagai penyusun enzim yang sangat besar peranannya dalam proses
metabolisme tanaman, karena enzim tersusun dari protein. Nitrogen merupakan unsur amat mobil dalam tanaman yang
berarti bahwa protein fungsional yang mengandung N, dapat terurai pada bagian tanaman yang lebih tua, kemudian
diangkut menuju jaringan muda yang tumbuh aktif.
Gejala Defisiensi
Bila tanah kurang mengandung N tersedia, maka seluruh tanaman bisa berwarna hijau pucat atau kuning
(klorosis). Hal ini bisa terjadi karena rendahnya produksi klorofil dalam tanaman. Daun tertua lebih dulu menguning
karena N dipindahkan dari bagian tanaman ini menuju ke daerah ujung pertumbuhan, dimana ia digunakan kembali
guna menunjang pertumbuhan baru. Daun bawah tanaman yang defisien mula-mula menguning di bagian ujung dan
gejala klorosis cepat merambat melalui tulang tengah daun menuju batang. Daun tepi dapet tetap hijau untuk beberapa
saat. Bila defisiensi menjadi semakin berat, daun tertua kedua dan ketiga mengalami pola defisiensi serupa dan daun
tertua pada saat itu akan menjadi coklat sempurna.
Bila defisiensi N dapat dilacak pada tahap awal pertumbuhan , maka defisiensi dapat dipulihkan dengan suatu
penambahan pupuk yang mengandung N dengan sedikit pengaruh pada hasil panen.
Fungsi Fosfor dalam Tanaman
Fosfor dalam bentuk senyawa fosfat organik, bertanggung jawab pada salah satu atau beberapa cara perubahan
energi dalam bahan hidup. Sejumlah senyawa fosfat telah terbukti bersifat esensial bagi fotosintesis, sintesis
karbohidrat dan senyawa lain yang sejenis, glikolisis, asam amino, metabolisme lemak dan S, serta oksidasi biologis.
Karena peranannya sebagai energi tanaman, P merupakan unsur yang segera mobil dan dipusatkan dibagian
pertumbuhan aktif.
Tanaman menyerap sebagian besar kebutuhan fosfornya dalam bentuk ortofosfat primer H2 PO 4 - . Sejumlah
kecil bentuk H2 PO 4 -- juga diserap dan bentuk P yang terdapat dalam tanah dikendalikan oleh pH larutan tanah.
Imobilitas P dalam tanah mengisyaratkan cara penempatan pupuk yang baik karena mempengaruhi penggunaan
P secara efisien. Suplai P yang mencukupi adalah penting pada awal pertumbuhan tanaman, karena pada masa ini
tanaman mengalami masa primordia reproduktif dan oleh karenanya menentukan hasil biji yang maksimum.
Gejala Defisiensi
Tanaman jagung muda yang defisien P biasanya menunjukkan pertumbuhan terhambat dan berwarna hijau
gelap. Pengerdilan menyeluruh terjadi karena kurangnya P tersedia bagi beberapa reaksi biokimia tanaman yang
memerlukan energi. Produksi klorofil bisa berkurang dan jika hal ini terjadi terbentuklah pigmen merah, yakni
antosianin, yang mendominasi dan memeberikan warna keunguan pada daun. Perubahan warna merah atau ungu
dimulai pada ujung daun dan berlanjut di sepanjang tepi daun.
Fungsi Kalium
Peranan K dalam tanaman nampaknya sebagai katalis dalam seluruh kisaran reaksi termasuk : (a) Metabolisme
karbohidrat ; (b) Metabolisme nitrogen ; Aktivasi enzim ; (d) Memacu pertumbuhan di jaringan meristem ; dan (e)
Mengatur pergerakan stomata dan kebutuhan air.
http://pertanian.uns.ac.id/~agronomi/dashor.html[30-Jun-14 11:54:28 PM]

BUKU AJAR DASAR HORTIKULTURA FAPERTA UNS

K diserap tanaman dalam bentuk ion K+ dari kompleks pertukaran dan segera mobil dalam tubuh tanaman.
Gejala Defisiensi
Empat penampakan penting pada tanaman yang defisien K yaitu :
i).
Sintesis protein. Dalam penelitian dengan tanaman tebu membuktikan bahwa pada tanaman yang
kekurangan hara K, tidak terjadi akumulasi N-protein di daun karena adanya penurunan dalam sintesis
protein.
ii).
Ketahanan terhadap penyakit. Tanaman yang kekurangan unsur K lebih peka terhadap penyakit
dibanding tanaman yang diberi pupuk cukup .
iii).
Ketahanan terhadap kekeringan. Berkat peranan unsur K dalam mengatur pembukaan stomata, maak K
berperan penting dalam kadar air internal tanaman. Tanaman yang miskin K kehilangan kendali dalam
laju transpirasinya dan menderita kekeringan internal.
iv).
Kekuatan batang. Tanaman yang kekurangan K pada umumnya berbatang lemah dan suatu keadaan
defisiensi K dapat menunjukkan gejala kerebahan (roboh) pada tanaman berbiji kecil serta pematahan
batang pada jagung dan shorgum (Tabel 5).
Tanaman yang kekurangan K mungkin tidak memperlihatkan suatu gejala defisiensi, tetapi hasil tanaman akan
sangat menurun. Jika terjadi gejala pada daun, maka hal ini terjadi pada jaringan yang lebih tua karena adanya
mobilitas K. Biasanya tanaman mengerdil dengan ruas-ruas yang memendek.
Gejala pada daun ditandai dengan suatu proses penguningan yang dimulai pada ujung daun yang lebih tua dan
berjalan di sepanjang tepian hingga pangkal daun. Seringkali tepi daun menjadi coklat dan kering (nekrosis).
Fungsi Belerang
Sulfur hampir seluruhnya diserap dalam bentuk ion SO42- , direduksi dalam tanaman dan digabungkan ke
dalam senyawa organik. S merupakan konstituen dari asam-asam amino : sistin, sistein dan methionin dan karenanya
protein mengandung jenis asam amino tersebut.
Gejala Defisiensi
Karena terjadinya penurunan fotosintesis dan pembentukan protein bila kekurangan S, maka terdapat kadar pati
rendah serta suatu akumulasi fraksi-fraksi N yang dapat larut.
Defisiensi S pada jagung menunjukkan gejala penguningan menyeluruh terutama pada daun yang lebih muda
karena adanya imobilitas S dibawah kondisi kekurangan. Seringkali dedaunan menunjukkan gejala klorosis interveinal
mirip dengan defisiensi Zn. Defisiensi S paling sering terjadi pada tanah-tanah alkalis.
Fungsi Kalsium
Fungsi Ca pada umumnya merupakan kation utama dari lamela tengah suatu dinding sel, dimana kalsium pektat
merupakan penyusun utamanya. Selain itu Ca memiliki andil penting dalam pengaturan membran sel dengan jalan
memelihara selektuvitas terhadap berbagai jenis ion.
Gejala Defisiensi
Karena peranan Ca sebagai bahan struktural dalam tubuh dalam tubuh tanaman adalah amat imobil, maka
http://pertanian.uns.ac.id/~agronomi/dashor.html[30-Jun-14 11:54:28 PM]

BUKU AJAR DASAR HORTIKULTURA FAPERTA UNS

gejala defisiensi semakin jelas pada saat pertumbuhan baru. Dalam beberapa hal, jaringan tanaman yang lebih tua bisa
mengandung sejumlah Ca yang berlebihan sedangkan daerah pertumbuhan baru kekurangan. Walaupun semua titik
tumbuh peka terhadap defisiensi Ca
tetapi bagian akarlah yang lebih parah. Bagian itu akan berhenti tumbuh, menjadi tidak teratur, terlihat bagai membelit
dan pada defisiensi berat akan mati.
Pada jagung, gejala foliar pertama nampak berwarna kuning menyebar hingga putih dengan luas sekitar 1/3
jarak dari ujung daun yang termuda. Daun berikutnya yang terbentuk dapat mengalami klorosis dan menggulung.
Akhirnya pucuk tanaman terhenti pertumbuhannya.
Fungsi Magnesium
Mg diserap dari tanah dalam bentuk ion Mg2+. Mg menyusun lokus pusat dari molekul klorofil dan juga
merupakan aktivator berbagai jenis enzim yang mempengaruhi hampir setiap proses metabolisme tanaman.
Mg diperlukan bagi pengaktifan sejumlah enzim yang terlibat dalam metabolisme karbohidrat dan teristimewa
dalam siklus asam sitrat yang penting dalam proses respirasi.
Gejala Defisiensi
Mg merupakan unsur mobil dalam tanaman dan segera ditranslokasikan ke bagian yang lebih muda dari bagian
tanaman yang lebih tua. Pada beberapa spesies defisiensi muncul berupa klorosis internal daun, sedangkan pembuluh
angkut daun tetap hijau. Pada saat defisiensi semakin parah, jaringan daun menjadi pucat merata, kemudian coklat dan
nekrosis.
Sebagai akibat dari klorosis, tanaman yang kekurangan Mg memiliki laju fotosintesis yang lebih rendah,
lintasan biosintetis kacau sebagai hasil dari penghambatan sejumlah proses transfosforilasi enzimatis dan senyawa N
terlarut tredapat dalam kadar yang lebih tinggi di atas normal.
DIAGNOSIS DEFISIENSI
Terdapat banyak resiko dalam melakukan diagnosis secara terpisah terhadap sejumlah gejala yang ada, karena
hasilnya mudah dikacaukan satu sama lain dan juga oleh pengaruh bahan kimia, kekeringan maupun penyakit.
Namun demikian menurut pengalaman dan pengetahuan tentang keadaan tanah yang berkaitan dengan
beberapa gejala, maka kesemuanya dapat merupakan alat diagnostik yang berguna. Kunci pedoman yang diuraikan di
bawah ini dapat bermanfaat dalam tujuan diagnosis itu :
A.
Pengaruh lokal, terjadi sebagai pembecakan atau klorosis dengan atau
tanpa becak nekrosis pada daun yang lebih bawah, sedikit atau tanpa
pengeringan pada daun bawah.
1). Daun bawah melekuk atau mengangkup ke bawah dengan becak
kekuningan di ujung dan tepi. Becak nekrosis di ujung dan tepi. . . . . . .
(Kalium)
2). Daun bawah klorosis diantara pembuluh utama pada ujung dan tepi
dengan warna hijau pucat hingga putih. Biasanya tanpa becak nekrosis . . (Magnesium)
B.

Pengaruh umum, terjadi penguningan dan pengeringan atau kebakaran


pada daun-daun sebelah bawah.
1).Tanaman berwarna hijau pucat, daun bawah kuning, kering dan
berwarna coklat terang. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
(Nitrogen)
2).Tanaman berwarna hijau gelap, lebar daun menyempit dibanding

http://pertanian.uns.ac.id/~agronomi/dashor.html[30-Jun-14 11:54:28 PM]

BUKU AJAR DASAR HORTIKULTURA FAPERTA UNS

C.

D.

F.

panjangnya tanaman tak mencapai dewasa . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .


Mati pucuk pada tunas terminal, yang didahului oleh nekrosis pada ujung
atau pangkal daun muda yang mengalami stagnasi pertumbuhan
1). Daun muda membentuk tunas terminal, berwarna hijau terang, diikuti
dengan pelengkungan ke bawah yang khas di bagian ujung, kemudian
nekrosis, sehingga bila terjadi pertumbuhan yang kedua maka bagian
ujung dan tepi daun akan menghilang. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
2). Pertumbuhan daun muda terhambat dan bagian pangkal berwarna hijau
terang, diikuti dengan dekomposis di pangkal daun, dan jika terjadi
pertumbuhan yang terakhir maka daun akan terpilin ; daun patah dan
memperlihatkan penghitaman pada jaringan pembuluh . . . . . . . . . .. . . .
Tunas terminal tetap hidup, terjadi klorosis daun pucuk atau bagian atas,
dengan atau tanpa becak nekrosis, pembuluh berwarna cerah atau hijau
gelap
1). Daun muda dengan becak nekrosis menyebar di seluruh daun yang
klorosis, cabang pembuluh terkecil cenderung tetap hijau, menimbulkan
pengaruh yang bisa diamati . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
2). Daun muda tanpa becak nekrosis, klorosis bisa atau tidak melibatkan
pembuluh sehingga mengakibatkan daun berwarna hijau terang .. . . . . . .
Daun muda dengan pembuluh atau warna hijau cerah atau kegelapan yang
sama seperti jaringan interveinal.
Berwarna hijau terang, tidak pernah putih atau kuning, daun bawah tidak
mengering. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
Daun muda mengalami klorosis, pembuluh utama berwarna hijau yang
lebih gelap dari pada jaringan yang terletak diantara pembuluh angkut
daun.
1). Keseluruhan daun menjadi berwarna kuning pucat/ putih. . . . . . . . .
2). Terjadi klorosis interveinal
(a). Pertumbuhan terminal terhambat dan membentuk roseta . . . . . . .
(b). Mati bujang di bagian pucuk dan di sepanjang tepi daun . . . . . . .

(Fosfor)

(Kalsium)

(Boron)

(Mangan)
(Copper)

(Sulfur)

( Fe )
(Zn)
(Cu)

DAFTAR PUSTAKA
Edmond, J.B., T.L. Senn, F.S. Andrew and R.G. Halfacre, 1975. Fundamentals of Horticulture. Tata McGraw Hill
Publ. Co. Ltd. New Delhi. 560 pp.
Fordham, R., and A.G. Biggs, 1985. Principles of Vegetable Crop Production. William Collins & Co. Ltd.,
London. 215 pp
Hartmann, T.H., A.M. Kofranek, V.E. Rubatzky, W.J. Flocker, 1988. Plant Science, Growth Development and
Utilization of Cultivated Plants. Prentice Hall International, Inc., Englewood Cliffs, New Jersey. 674 pp
Janick, J., 1972. Horticultural Science. W.H. Freeman and Co. San Francisco. 586 pp.
Sumeru Ashari, 1995. Hortikultura, Aspek Budidaya. UI Press, Jakarta. 485 hal.
Yogi Sugito, 1996. Ekologi Tanaman. Diktat Kuliah. Program Pasca Sarjana, Unibraw, Malang. 101 hal.

BAB. IV
PEKARANGAN
http://pertanian.uns.ac.id/~agronomi/dashor.html[30-Jun-14 11:54:28 PM]

BUKU AJAR DASAR HORTIKULTURA FAPERTA UNS

Pengembangan pertanian yang sudah dilaksanakan sekarang ini masih terbatas pada penanganan lahan sawah,
sedangkan untuk pekarangan belum banyak mendapatkan perhatian. Mengenai pekarangan kalau kita lihat hampir
semua tempat di Indonesia ini dapat kita jumpai adanya pekarangan, kecuali di daerah Banten selatan, dan pekarangan
merupakan agroekosistem yang sangat baik serta mempunyai potensi yang tidak kecil dalam mencukupi kebutuhan
hidup petani atau pemiliknya, bahkan kalau dikembangkan secara baik akan dapat bermanfaat lebih jauh lagi, seperti
kesejahteraan masyarakat sekitar, pemenuhan kebutuhan pasar bahkan mungkin memenuhi kebutuhan nasional.
Di Pulau Jawa terdapat pekarangan seluas kurang lebih sekitar satu setengah juta ha (1,5 ha), atau hampir
mencapai luas sebesar dua puluh (20) persennya dari seluruh luas
tanah pertanian, dan di sekitar daerah Jawa Barat rata-rata luas pemilikan tanah pekarangan sebesar sekitar 208,12 m 2 .
Luas pekarangan seluruh Indonesia mencapai sekitar dua ribu dua ratus limapuluh enam dua ratus enam puluh
enam ha (2.256.266 ha) atau sekitar enam belas koma delapan puluh delapan persen (16,88 %) dari seluruh luas tanah
pertanian rakyat. Pekarangan yang berada disekitar rumah tersebut dapat memberi tambahan hasil berupa bahan
makanan seperti palawija, buah-buahan dan sayur-sayuran, kayu-kayuan baik untuk bahan kayu bakar maupun untuk
kayu bahan bangunan. Maka untuk merubah penghasilan petani dan pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat perlu
memperhatikan arti penting lahan pekarangan.
1. Pengertian Pekarangan.
Setiap orang akan dengan mudah menunjukkan apabila ditanya mana pekarangannya atau mana yang
disebut pekarangan maka orang segera menunjuk tanah disekitar rumah seseorang atau yang dilihat atau
dimilikinya, tetapi walau demikian mudah untuk menunjukkannya secara nyata tetapi kalau untuk memberi
pengertian atau batasan tentang apa yang dimaksudkan dengan pekarangan sering orang mengalami kesulitan.
Banyak orang berusaha untuk membuat definisi atau pengertian pekarangan tetapi dari banyak pengertian atau
definisi tersebut yang umum digunakan adalah yang dirumuskan oleh Terra (1948), selanjutnya definisi tersebut
diperluas oleh Soemarwoto (1975).
2. Fungsi Pekarangan
Fungsi sosial dari pekarangan adalah untuk memberi rasa nyaman bagi lingkungan tempat tinggal, tempat
anak-anak bermain-main juga untuk melepaskan lelah serta bersantai ria pada waktu senggang maupun untuk
melepaskan binatang kesayangannya. Fungsi ekonomi dari pekarangan menurut penelitian yang dilakukan oleh
Terra (1948) diungkapkan oleh Danoesastro 1976, serta dari hasil penyelidikan yang dilakukan oleh Dinas
Perkebunan Rakyat diperoleh hasil bahwa pekarangan mempunyai banyak fungsi (Manfaat pekarangan)
yaitu : Sumber Karbohidrat, Menghasilkan bahan setiap hari, Sumber bahan bangunan rumah atau keperluan
lain, Penghasil bumbu masak yang diperlukan, Penghasil kayu bakar, Penghasil bahan dasar untuk kerajinan
rumah tangga , dan Penghasil Protein hewani.
3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Bentuk, Luas dan Intensitas Pekarangan
Apabila dilakukan pengamatan pada pekarangan yang ada baik itu di Jawa maupun di luar Jawa, maka
akan nampak bahwa bentuk, luas dan intensitas pekarangannya berbeda-beda. Pada dataran rendah berbeda
dengan di pegunungan, daerah dengan iklim basah berbeda dengan daerah yang mempunyai iklim kering, serta
letak suatu daerah dengan perkotaan, tempat yang jauh dari kota dengan yang dekat dengan kota akan ada
perbedaan pengembangannya.
Terra (1953) mengemukakan bahwa penyebaran, luas dan intensitas serta bentuk pekarangan dipengaruhi
oleh faktor ethnologis, iklim, tanah dan tergantung pada seberapa besar kepadatan penduduk, serta imbangan
dengan pemilikan tanah yang lain.
4. Pengaturan Pekarangan.
Seperti yang telah diuraikan tedahulu bahwa pekarangan dapat memberikan bermacam-macam hasil
seperti : Palawija, Buah-buahan, Sayur-sayuran Bunga-bungaan, Rempah-rempah, Obat-obatan, Kayu-kayuan,
Bahan kerajinan, Ikan, Pupuk kandang, Hewan ternak, dan Madu tawon/lebah.
Pekarangan sering memberikan kesan pada yang melihatnya sebagai hutan rimba yang produktif

http://pertanian.uns.ac.id/~agronomi/dashor.html[30-Jun-14 11:54:28 PM]

BUKU AJAR DASAR HORTIKULTURA FAPERTA UNS

(Agroforestry) atau sebagai kebun yang terlantar karena pekarangan tersebut ditumbuhi oleh bermacammacam tanaman. Pengaturan pekarangan yang kurang baik akan memberikan pandangan yang kurang baik
pula. Dengan pengaturan tanaman dalam pekarangan secara baik akan menciptakan keindahan alam lingkungan
terbuka di pekarangan. Keindahan pekarangan tidak saja memberi kegembiraan pada pemiliknya tetapi juga
memberi kesenangan pada siapa saja yang lewat dan memandangnya.
5. Kemungkinan Pengembangan Pekarangan
Pengembangan pekarangan yang terarah, tidak cukup hanya dengan melakukan perlombaan-perlombaan
yang bersifat seremonial belaka seperti lumbung hidup, apotik hidup atau warung hidup yang bersiaft sementara
selagi ada kegiatan lomba yang dahulu sering dilakukan untuk sekedar menyenangkan pejabat belaka tetapi
tanpa ada pembinaan lebih lanjut. Sebenarnya hal tersebut juga dapat mendorong pengembangan pengusahaan
pekarangan asalkan dilakukan dengan perencanaan yang baik dari pejabat yaitu dengan usaha peningkatan
pengetahuan pemilik pekarangan, dilakukan pembinaan dan pendidikan yang menyeluruh serta diikuti
penyediaan sarana maupun penampungan hasilnya atau paling tidak arahan kemungkinan pemasaran produk
yang nantinya akan dihasilkan kalau pekarangan benar-benar telah berkembang nantinya.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 1975. Dunia Ekonomi Kita. Yayasan Kanisius, Yogyakarta. 276 hal.
Anonim. 1981. Usaha Meningkatkan Potensi Pekarangan Di Desa Sekitar Hutan. Impormasi Pertanian,
DEPTAN. Balai Informasi Kayuambon, Lembang, Jabar.. (5):3-6
Atjung. 1976. Tumbuh-tumbuhan Perhiasan di Pekarangan. NV> Masa Baru, Bandung, Jakarta. 147 hal.
Danoesastro, H. 1973. Kemungkinan Peningkatan Pertanaman Pekarangan. Penataran Purna Sarjana Penyuluhan
Pertanian UGM ke II, Yogyakarta. 11 hal.
------------------. 1976a. Pekarangan. Yayasan Pembina Fakultas Pertanian UGM> Yogyakarta. 49 hal.
-------------------. 1976b.Pohon Buah-buahan. Yayasan Pembina Fakultas Pertanian UGM. Yogyakarta. 98 hal.
-------------------. 1977. Peranan Pekarangan dalam Rangka Meningkatkan Ketahanan Nasional Rakyat
Pedesaan. Gadjah Mada Univercity Press. Yogyakarta. 16 hal.
Garnadi, A. 1972. Tanaman Pekarangan Membawa Keuntungan. Majalah Pertanian (12);1-42.
Karyno. 1980. Struktur Pekarangan Pedesaan Daerah Aliran Sungai Citarum, Jabar. Desertasi Fak. Ilmu
Pengetahuan Alam UNPAD. Bandung. 232 hal.
Mubyarto. 1973. Pengantar Ekonomi Pertanian. Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan
Sosial. Jakarta. 274 hal.
Naniek Siti Murdjati. 1978. Peranan Pekarangan Dalam Mencukupi Kebutuhan Sehari-hari Masyarakat
Pedesaan. Makalah Seminar Mahasiswa Agronomi UGM. 11 hal.
Setadiredja Soeparmo. 1969. Hortikultura I. Pekarangan dan Buah-buahan. CV Yasa Guna. 160 hal.
Setijadi Haryadi, S. 1975. Potensial Contribution Of Home Gardening To Nutrition Invervention Program In
Indonesia. Seminar Food and Nutrition. Yogyakarta. 20 hal.
Soemarwoto, O. 1980. Interrelation Among Population, Resources, Environment and Development In The Escap
Region With Special Reference to Indonesia. Ekologi dan Pembangunan, The Institute of Ecology
Padjadjaran University. Bandung (7) : 1-76.
Suwarno, R. 1975. Peranan Pekarangan dalam Kehidupan Sehari-hari. Majalah Pertanian (1) : 1-45.

http://pertanian.uns.ac.id/~agronomi/dashor.html[30-Jun-14 11:54:28 PM]

BUKU AJAR DASAR HORTIKULTURA FAPERTA UNS

BAB. V
KEMASAKAN DAN GRADING
BUAH-BUAHAN DAN SAYUR-SAYURAN

Buah dan sayuran perkembangan dimulai dengan pembentukan suatu bagian yang dapat dimakan, pembentukan
buah, kemunculan bibit, perkembangan umbi, atau perkembangan tangkai bah dan diakhiri dengan kehilangan karakter
bagian yang dapat dimakan, melalui kemunduran fisiologi, perkembangan karakter serat-seratan atau kerusakan
(spoilage) melalui intervensi mikrobiological (Ryall and Lipton,1972; Reid, 1992). Kondisi kemasakan dari komoditas
hortikultura segar adalah merupakan kontinum sepanjang waktu perkembangannya (Gambar 1). Scala waktu
berhubungan dengan perkembangannya, tetapi secara pasti lamanya waktu tersebut sangatlah bervariasi dan sangat
uniq untuk setiap komoditas. Istilah matang (Mature) berkaitan dengan titik dalam scala waktu perkembangan sewaktu
komoditi hortikultura dalam suatu keadaan yang siap untuk dipergunakan (proses, simpan) atau dimakan.
Kualitas disisi lain berhubungan dengan derajat kepuasan dari konsumen atau pengguna seperti ditetapkan
berdasarkan pengunaan dari komoditas yang masak tersebut. Kenyataannya kepuasan dapat berkurang karena produk
lewat atau kurang masak, dengan demikian produk tersebut dikatakan berkualitas kalau mempunyai kemasakan
optimal. Sehubungan dengan hal tersebut penentuan saat panen sangat penting agar produk yang dihasilkan
mempunyai nilai tinggi sesuai kebutuhan pasar Karena dari persamaan keduanya antara masak dan kualitas saling
berhubungan dan dengan dugaan atau kebutuhan pasar.
Dugaan atau kebutuhan pasar diwujudkan melalui peraturan atau pedoman yang dikeluarkan oleh kelompok
penanam, melalui rencana kontrak, atau melalui autoritas pemegang kebijakan yang diwujudkan sebagai standar
kualitas atau grade dan didukung oleh badan yang berwenang mendukung pelaksanaan regulasi tersebut. Di Indonesia
standar kualitas ditentukan oleh badan yang berwenang untuk mengeluarkan tersebut dan produknya diberi label
dengan SNI.
GRADE
Di Canada baik buah-buahan maupun sayur-sayuran standar grade meliputi tiga hal atau parameter yang
meliputi nama komoditas, suatu seri klas grade kualitasna dan suatu seri atribut yang pergunakan dalam penetapan
standar grade tersebut seperti: warna, ukuran, kemasakan, tekstur dan bebas tidaknya dari kerusakan seperti
kebusukan, penyakit dan kerusakan akibat benturan fisik. Semua itu dapat dilakukan dilapang dengan menggunakan
peralatan yang seminimum mungkin tidak harus menggunakan peralatan yang canggih ini sangat perlu karena demi
kemudahan dalam melaksanakan tugas serta kelancaran maupun kecepatan dalam melakukan grading atau inspeksi di
lapang. Walau kadang-kadang juga diperlukan alat bantu agar dalam memberikan hasil yang akurat seperti alat
pengukur warna atau ukuran buah apel ada alat bantunya kalau memang diperlukan.
Standart grade di Canada nampak konsisten pada buah-buahan maupun sayur-sayuran kriteria standartnya
meliputi nama komoditas, suatu seri klas gradenya sesuai dengan standart kualitas yang dapat dipenuhinya, dan suatu
seri atribute kriteria standart yang dipergunakan untuk menentukan grade setiap komoditas.
Atribute parameter kriteria seperti warna dan ukuran komoditas kadang-kadang sering di kuantitaskan dengan
menggunakan alat sebagai pembanding atau alat koreksi kebenaran dari inspector dalam melakukan tugasnya.
Kemampuan inspektor melakukan tugasnya dengan baik dan benar dalam menentukan grade suatu produk atau sistem
grading secara umum dengan bantuan alat yang sesedikit-dikitnya atau minimal sangat penting karena akan
menentukan kecepatan dalam melaksanakan tugas.
KEMASAKAN
Salah satu hal yang penting sebagai parameter dalam menentukan standar grade suatu komoditas adalah ekpresi
dari tingkat kemasakannya. Secara umum dikatakan bahwa kemasakan suatu produk adalah didefinisikan sebagai
keadaan suatu produk dapat digunakan ini dilihat dari sudut pandang pengguna/customer. Dalam beberapa produk
seperti buah-buahan, suatu proses pemasakan mungkin sangat diperlukan untuk mencapai kondisi suatu produk buah
secara optimal untuk dapat dikonsumsi. Proses pemasakan ini umumnya ditunjukkan oleh perubahan dalam warna,
tekstur (umumnya pelunakan), dan flavor dan memberikan suatu perubahan yang ideal untuk kemasakan. Arti penting
dari indikator kemasakan ini adalah dalam menentukan atau memperkirakan kualitas atau kualitas gradenya dari suatu

http://pertanian.uns.ac.id/~agronomi/dashor.html[30-Jun-14 11:54:28 PM]

BUKU AJAR DASAR HORTIKULTURA FAPERTA UNS

komoditas yang akan dibutuhkan oleh pembeli.


PUSTAKA
Beveridge, T. H. J. (2003). Maturity and Quality Grades for Fruits and Vegetables. In Handbook of Postharvest
Technology, cereals, fuits, vegetables, tea and spices. Ed. A. Chakraverty, .. Mujumdar, G.S.V. Raghavan and
H. S. Ramaswamy. Marcel Dekker, Inc. New York.

BAB. VI
PROSES-PROSES PASCA PANEN

Produk Hortikultura seperti sayur-sayuran dan buah-buahan yang telah dipanen masih merupakan benda hidup,
seperti kalau belum dipanen atau masih di pohon. Benda hidup disini dalam pengertian masih mengalami prosesproses yang menunjukkan kehidupanya yaitu proses metablisme. Karena masih terjadi proses metabolisme tersebut
maka produk buah-buahan dan sayur-sayuran yang telah dipanen akan mengalami prubahan-perubahan yang akan
menyebabkan terjadinya perubahan komposisi kimiawinya serta mutu dari roduk tersebut.
Perubahan tersebut disebabkan oleh beberapa hal seperti terjadinya respirasi yang berhubungan dengan
pengambilan unsur oksigen dan pengeluaran cabon dioksida, serta penguapan uap air dari dalam produk tersebut, yang
petama kita kenal dengan istilah respirai sedangkan yang kedua dikenal sebagai transpirasi.
Kehilangan air dari produk hortikultura kalau masih di pohon tidak masalah karena masih dapat digantikan atau
diimbangi oleh laju pengambilan air oleh tanaman. Berbeda dengan produk yang telah dipanen kehilangan air tersebut
tidak dapat digantikan, karena produk tidak dapat mengambil air dari lingkungnnya. Demikian juga kehilangan substrat
juga tidak dapat digantikan sehinga menyebabkan perubahan kualitas dari produk yang telah dipanen atau dikenal
sebagai kemunduran kualitas dari produk, tetapi pada suatu keadaan perubahan tersebut justru meningkatkan kualitas
produk tersebut.
Kemunduran kualitas dari suatu produk hortikultura yang telah dipanen biasanya diikuti dengan meningkatnya
kepekaan produk tersebut terhadap infeksi mikroorganisme sehingga akan semakin mempercepat kerusakan atau
menjadi busuk, sehingga mutu serta nilai jualnya menjadi rendah bahkan tidak bernilai sama sekali.
Pada dasarnya mutu suatu produk hortikultura setelah panen tidak dapat diperbaiki, tetapi yang dapat dilakukan
adalah hanya usaha untuk mencegah laju kemundurannya atau mencegah proses kerusakan tersebut berjalan lambat.
Berarti bahwa mutu yang baik dari suatu produk hortikultura yang telah dipanen hanya dapat dicapai apabila produk
tersebut dipanen pada kondisi tepat mencapai kemasakan fisiologis sesuai dengan yang dibutuhkan oleh penggunanya.
Produk yang dipanen sebelum atau kelewat tingkat kemasakannya maka produk tersebut mempunyai nilai atau mutu
yang tidak sesuai dengan keinginan pengguna/SNI (Standart Nasional Indonesia).
PERUBAHAN FISIOLOGIS PRODUK HORTIKULTURA SETELAH PANEN
Kalau produk hortikultura masih di pohon maka produk tersebut masih medapatkan pasokan / suplai apa saja
yang diperlukan dari dalam tanah seperti air, udara serta unsur hara dan mineral-mineral yang diperlukan untuk
sintesis maupun perombak tetapi kalau produk tersebut sudah lepas dengan tanamannya/dipanen maka pasokan
tersebut sudah tidak terjadi lagi/tidak berlangsung lagi. Kegiatan sintesis yang utama dalam organ yang masih melekat
pada tanaman adalah pada aktifitas proses fotosintesis tetapi kalau sudah lepas proses fotosintesis ini sudah tidak terjadi
lagi, tetapi proses metabolisme tetap berlangsung baik sintesis maupun perombakan. Proses metabolisme pada buahbuahan maupun sayur-sayuran yang telah lepas dari pohonnya pada dasarnya adalah transpormasi metabolis pada
bahan-bahan organis yang telah ada atau telah dibentuk selama bagian tersebut masih dalam pohon yang bersumber
dari aktifitas proses fotosintesis. Selain itu juga terjadi pegurangan kadar air dari dalam produk hortikultura tersebut
http://pertanian.uns.ac.id/~agronomi/dashor.html[30-Jun-14 11:54:28 PM]

BUKU AJAR DASAR HORTIKULTURA FAPERTA UNS

baik karena proses pengeluaran lewat permukaan produk maupun oleh proses metabolisme oksidatif termasuk proses
respirasi dari produk yang tetap terus berlangsung.
RESPIRASI
Laju dari proses respirasi dalam produk hortikultura akan menentukan daya tahan dari produk tersebut baik buahbuahan maupun sayur-sayuran yang telah dipanen, sehingga sering dijumpai ada produk yang tahan disimpan lama
setelah dipanen seperti pada biji-bijian, umbi-umbian tetapi banyak pula setelah produk tersebut dipanen tidak tahan
lama untuk disimpan, seperti pada produk buah-buahan yang berdaging maupun produk hortikultura yang lunak-lunak
seperti sayur-sayuran daun.
Agar proses metabolisme dalam suatu material hidup tersebut dapat belangsung terus maka diperlukan persediaan
energi yang cukup atau terus menerus pula, dimana suplai energi tersebut diperoleh dari proses respirasi. Respirasi
terjadi pada setiap makhluk hidup termasuk buah-buahan dan sayur-sayuran yang telah dipanen, yang merupakan
proses konversi exothermis dari energi potensial menjadi energi konetis.
Secara umum proses respirasi dalam produk dapat dibedakan menjadi tiga tingkat yaitu: pertama pemecahan
polisakarida menjadi gula sederhana; kedua oksidasi gula menjadi asam piruvat; serta yang ketiga adalah transformasi
piruvat dan asam-asam organik lainnya menjadi CO 2 , air, dan energi yang berlangsung secara aerobik. Masingmasing proses tersebut dapat dilihat kembali pada Fisiologi Tumbuhan apa namanya ? Substrat dalam proses respirasi
tidak hanya berasal dari polisakarida dan asam-asam organis tetapi juga dapat dari protein maupun lemak walaupun
dari kedua terakhir sebagai sumber energi kurang dominan, kalau kita lihat berbagai interaksi antara substrat dengan
hasil-hasil antara respirasi dan antara hasil antara yang satu dengan lainnya.
PENGUKURAN RESPIRASI
Secara umum dapat dikatakan bahwa laju proses respirasi merupakan penanda atau sebagai ciri dari cepat
tidaknya perubahan komposisi kimiawi dalam produk, dan hal tersebut behubungan dengan daya simpan produk
hortikultura setelah panen.
Laju atau besar kecilnya respirasi yang terjadi dalam produk hortikultura dapat diukur karena seperti kita ketahui
bahwa respirasi secara umum terjadi kalau ada oksigen dengan hasil dikeluakannya carbon doiksida dari produk yang
mengalami respirasi maka respirasi dapat diketahui dengan mengukur atau menentukan jumlah substrat yang hilang,
O2 yang diserap, CO 2 yang dikeluarkan, panas yang dihasilkan, serta energi yang ditimbulkannya. Respirasi juga
menghasilkan air (H2 O) tetapi dalam hal ini tidak diamati dalam prakteknya karena reaksi berlangsung dalam air
sebagai medium, dan jumlah air yang dihasilkan reaksi yang sedikit tersebut seperti setetes dalam air satu ember.
Energi yang dikeluarkan juga tidak ditenukan oleh karena berbagai bentuk energi yang dihasilkan tidak dapat diukur
dengan hanya satu alat saja. Proses oksidasi biologis juga diikuti dengan terjadinya kenaikan suhu dan hal ini
sebenarnya juga dapat dipergunakan sebagai penanda seberapa besar laju respirasi yang terjadi/bejalan. Tetapi karena
antara keduanya tidak ada hubungan stoikiometrik maka perubahan suhu tidak dipergunakan sebagai penanda laju
respirasi dalam produk hortikultura. Pengukuran kehilangan substrat, seperti yang terjadi adanya respirasi akan
menyebabkan penurunan berat kering dari produk, tetapi ini mungkin sulit untuk dilakukan pengukuran karena adanya
variasi dalam perubahan berat kering secara absolut; untuk itu diperlukan analisis kimia secara langsung.
Ternyata laju respirasi dari produk hortikultura yang telah dipanen mempunyai pola yang berbeda-beda dan dari
variasi pola laju respirasi ersebut dapat dikelompokkan menjadi dua bentuk laju respirasi yaitu kelompok yang
mempunyai pola laju respirasi yang teratur, dan kelompok lain kebanyakan produk hortikultura yang berdaging
memperlihatkan penyimpangan dari pola respirasi yang terdahulu.
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI LAJU RESPIRASI
Kecepatan respirasi dari suatu produk hortikultura ternyata tidak selalu tetap tetapi bervariasi, dan variasi tersebut
dapat dsebabkan oleh banyak faktor diantaranya adalah:
a. Faktor dalam
Tingkat Perkembangan,
Susunan Kimiawi Jaringan,
Besar-kecilnya Komoditas.,
http://pertanian.uns.ac.id/~agronomi/dashor.html[30-Jun-14 11:54:28 PM]

BUKU AJAR DASAR HORTIKULTURA FAPERTA UNS

Kulit Penutup Alamiah / Pelapis Alami.


Type / Jenis dari Jaringan.

b. Faktor Luar.
Laju respirasi selain dipengaruhi oleh faktor dari dalam juga sangat dipengaruhi oleh faktor yang ada di luar
produk tersebut dimana kedua faktor tesebut saling berineraksi apakah saling mendukung atau sebaliknya.
Faktor-faktor dari luar tersebut adalah meliputi:
Suhu.
Konsentrasi 02 dan C0 2 .
Zat Pengatur Pertumbuhan.
Salah satu zat pengatur pertumbuhan yang mempunyai peranan dalam pematangan produk hortikultura
adalah Ethylene.
Kerusakan Produk.

DAFTAR PUSTAKA
Apandi, M. 1984. Teknologi Buah dan Sayur. Alumni. Bandung.
Pantastico, E.B. 1975. Postharvest Phyisiology, Handling and Utilization of Tropical and Subtropical Fruits and
Vegetables. The Avi Publishing Company, Inc. Westport, Conecticut.

BAB. VII
KERUSAKAN PADA PRODUK HORTIKULTURA

I. PENDAHULUAN
Masalah penanganan produk hortikultura setelah dipanen (pasca panen) sampai saat ini masih mejadi masalah
yang perlu mendapat perhatian yang serius baik dikalangan petani, pedagang, maupun dikalangan konsumen
sekalipun. Walau hasil yang diperoleh petani mencapai hasil yang maksimal tetapi apabila penanganan setelah
dipanen tidak mendapat perhatian maka hasil tersebut segera akan mengalami penurunan mutu atau kualitasnya.
Seperti diketahui bahwa produk hortikultura relatif tidak tahan disimpan lama dibandingkan dengan produk
pertanian yang lain.
Hal tersebutlah yang menjadi perhatian kita semua, bagaimana agar produk hortikultura yang telah dengan
susah payah diupayakan agar hasil yang dapat panen mencapai jumlah yang setinggi-tingginya dengan kualitas
yang sebaik-baiknya dapat dipertahankan kesegarannya atau kualitasnya selama mungkin. Sehubungan dengan hal
tersebut maka sangatlah perlu diketahui terlebih dahulu tentang macam-macam penyebab kerusakan pada produk
hortikultura tersebut, serta faktor-faktor yang mempengaruhinya terhadap penyebab kerusakannya. Selanjutnya
perlu pula diketahui bagaimana atau upaya-upaya apa saja yang mungkin dapat dilakukan untuk mengurangi atau
meniadakan terjadinya kerusakan tersebut sehingga kalaupun tejadi kerusakan terjadinya sekecil mungkin.
II. JENIS KERUSAKAN PADA PRODUK HORTIKULTURA
2.1. Kehilangan Berat dan Kualitas
http://pertanian.uns.ac.id/~agronomi/dashor.html[30-Jun-14 11:54:28 PM]

BUKU AJAR DASAR HORTIKULTURA FAPERTA UNS

Secara umum produk hortikultura yang telah dipanen sebelum sampai ke konsumen atau dalam simpanan
penyebab kerusakan yang utama adalah terjadinya kehilangan air dari produk tersebut. Kalau kehilangan air
dari dalam produk yang telah dipanen jumlahnya relatif masih kecil mungkin tidak akan menyebabkan
kerugian atau dapat ditolelir, tetapi apabila kehilangan air tersebut jumlahnya banyak akan menyebabkan hasil
panen yang diperoleh menjadi layu dan bahkan dapat menyebabkan produk hortikultura menjadi mengkerut.
2.2. Mikroorganisme
Agar produk hortikultura tidak lekas layu maka dalam penyimpanannya diusahakan kelembaban
lingkungan simpannya tinggi, tetapi kondisi kelembaban tinggi dipenyimpanan sering menyebabkan
munculnya jamur pada permukaan produk hortikultura yang disimpan. Munculnya jamur pada permukaan
produk hortikultura yang disimpan akan menyebabkan kenampakan produknya menjadi kurang menarik atau
jelek sehingga akan menurunkan nilai kualitas dari produk tersebut.
Agar produk hortikultura yang disimpan tidak cepat mengalami proses kerusakan oleh mikroorganisme,
diantaranya diupayakan dengan:
Menjaga kebersihan pada seluruh ruang penyimpanan
Menjaga sirkulasi uara pada ruang
Mengurangi terjadinya proses pegembunan pada produk yang dikemas
Mengurangi / menghindari menjalarnya perkembangan spora dari jamur.
Menggunakan bahan pencegah jamur, misalnya: dengan uap yang sangat panas selama kurang lebih dua
(2) menit pada ruang simpan atau kalau sangat terpaksa dipergunakan bahan kimia seperti: Sodium
Hypochlorit / trisodium Phosphat, larutan Calsium Hypochlorit.
III. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KERUSAKAN PRODUK
3.1. Relatif Humidity (Kelembaban Relatif)
Relatif humidity (RH) ruangan di mana produk hortikultura disimpan akan mempengaruhi kualitas
produknya. Apabila RH ruang simpan produk hortikulura terlalu rendah maka akan menyebabkan produk
hortikulura yang disimpan akan mengalami kelayuan dan pengkerutan yang lebih cepat. Tetapi sebaliknya
apabila RH ruang simpan produk hortikultura terlalu tinggi juga akan mempercepat proses kerusakan
produk simpanan, karena akan memacu munculnya jamur-jamur pada produk simpanan. Pada RH
mendekati 100 % akan memberikan kondisi yang cukup baik bagi pertumbuhan jamur atau pertumbuhan
jamur akan sangat hebat sehingga sampai pada bagian dinding ruang simpan juga bagian atapnyapun akan
ditumbuhi jamur.
3.2. Sirkulasi Udara
Pergeseran atau sikulasi udara diruang penyimpanan yang cepat selama proses precooling produk
simpanan dimaksudkan untuk menghilangkan panas dari produk hortikultura yang dibawa dari lapang,
setelah panas dari lapang tersebut dipindahkan maka selanjutnya kecepatan sirkulasi udaranya dikurangi. Di
dalam ruang penyimpanan sirkulasi udara diperlukan dengan tujuan agar panas yang terjadi selama
berlangsungnya proses respirasi dari produk dapat diturunkan atau dihilangkan juga dengan maksud untuk
menyeragamkan kondisi / suhu ruang simpan dari ujung satu dengan ujung yang lainnya.
3.3. Respirasi
Produk hortikultura yang disimpan dalam bentuk segar baik itu sayur-sayuran ataupun buah-buahan
proses yang terjadi dalam produk adalah respirasi. Dalam proses respirasi ini akan terjadi perombakan gula
menjadi CO 2 dan air (H2 O).

IV.

USAHA UNTUK MENGURANGI KERUSAKAN PRODUK HORTIKULTURA DALAM SIMPANAN


4.1. Sanitasi
Ruang penyimpanan produk hortikultura perlu dipelihara dalam kondisi yang bersih dan sehat hal ini
sangat penting dilakukan untuk menjaga agar produk hortikultura yang disimpan tetap dapat terjaga dalam

http://pertanian.uns.ac.id/~agronomi/dashor.html[30-Jun-14 11:54:28 PM]

BUKU AJAR DASAR HORTIKULTURA FAPERTA UNS

kondisi segar. Ruang penyimpanan yang dijaga tetap dalam kondisi bersih dan sehat akan memperkecil
serangan jamur dan organisme lainnya.
Dalam sanitasi sering dipergunakan senyawa kimiawi yang bersifat racun seperti insektisida, untuk
penggunaannya perlu memperhatikan konsep keamanan pangan/HACCP.
4.2. Refrigeration
Tujuan dari refrigerasi dalam ruang penyimpanan produk hortikultura terutama adalah untuk menekan
aktivitas enzym respirasi, agar aktivitasnya menjadi serendah mungkin sehingga laju respirasinya
sekecil/selambat mungkin produk hortikultura yang disimpan tetap terjaga kesegarannya.
4.3. Pelilinan (Waxing)
Perlakuan dengan menggunakan lilin atau emulsi lilin buatan pada produk hortikultura yang mudah
busuk yang disimpan telah banyak dilakukan. Maksud dari pelilinan pada produk yang disimpan ini
terutama adalah untuk mengambat sirkulasi udara dan menghambat kelayuan (menjadi layunya produk
simpanan), sehingga produk yang disimpan tidak cepat kehilangan berat karena adanya proses transpirasi.
4.4. Irradiasi
Pengendalian proses pembusukan produk hortikultura yang disimpan serta perpanjangan umur
simpannya baik itu produk buah-buahan maupun sayur-sayuran segar dapat dilakukan dengan perlakuan
penyinaran dengan mempergunakan sinar Gamma.
4.5. Perlakuan Kimiawi dan Fumigasi
Perlakuan dengan menggunakan senyawa kimiawi telah banyak dipergunakan dalam usaha
memperpanjang lama penyimpanan produk-produk pertanian termasuk produk hortikultura baik buahbuahan maupun sayur-sayuran, dan dapat dikatakan sebagai cara yang umum dilakukan atau biasa
dilakukan. Yang harus diperhatikan dalam pemakaian senyawa kimia adalah penggunaan tetap menjaga
keamanan pangan sehingga tidak memberikan dampak yang merugikan bagi keselamatan manusia
mengingat produk hortikulura merupakan produk yang dikonsumsi dan sering dokonsumsi dalam bentuk
mentah / bukan olahan.
4.6. Pengemasan.
Upaya lain untuk memperpanjang waktu simpan produk hortikultura adalah dengan pewadahan /
pengemasan yang baik. Dengan pewadahan ini diharapkan paling tidak dapat mengurangi terjadinya
kerusakan karena terjadinya benturan sesama produk selama proses penyimpanan, selain juga dapat
mengendalikan kelembaban dari produk sehingga produk dapat tetap segar.

DAFTAR PUSTAKA
Beveridge, T. H. J. (2003). Maturity and Quality Grades for Fruits and Vegetables. In Handbook of Postharvest
Technology, cereals, fuits, vegetables, tea and spices. Ed. A. Chakraverty, .. Mujumdar, G.S.V. Raghavan
and H. S. Ramaswamy. Marcel Dekker, Inc. New York.
Pantastico, E.B. 1975. Postharvest Phyisiology, Handling and Utilization of Tropical and Subtropical Fruits and
Vegetables. The Avi Publishing Company, Inc. Westport, Conecticut

<< kembali ke atas

http://pertanian.uns.ac.id/~agronomi/dashor.html[30-Jun-14 11:54:28 PM]

BUKU AJAR DASAR HORTIKULTURA FAPERTA UNS

http://pertanian.uns.ac.id/~agronomi/dashor.html[30-Jun-14 11:54:28 PM]

Anda mungkin juga menyukai