Anda di halaman 1dari 7

makalah hipertiroid

BAB I
PENDAHULUAN
A. LATARBELAKANG
Kelainan tiroid merupakan kelainan endokrin tersering kedua yang ditemukan selama kehamilan.
Berbagai perubahan hormonal dan metabolik terjadi selama kehamilan, menyebabkan perubahan
kompleks pada fungsi tiroid maternal. Hipertiroid adalah kelainan yang terjadi ketika kelenjar tiroid
menghasilkan hormon tiroid yang berlebihan dari kebutuhan tubuh. Wanita hamil dengan eutiroid
memunculkan beberapa tanda tidak spesifik yang mirip dengan disfungsi tiroid sehingga diagnosis klinis
sulit ditegakkan. Sebagai contoh, wanita hamil dengan eutiroid dapat menunjukkan keadaan hiperdinamik
seperti peningkatan curah jantung, takikardi ringan, dan tekanan nadi yang melebar, suatu tanda-tanda
yang dapat dihubungkan dengan keadaan hipertiroid.
Disfungsi tiroid autoimun umumnya menyebabkan hipertiroidisme dan hipotiroidisme pada wanita hamil.
Kelainan endokrin ini sering terjadi pada wanita muda dan dapat mempersulit kehamilan, demikian pula
sebaliknya. Penyakit Graves terjadi sekitar lebih dari 85 % dari semua kasus hipertiroid, dimana Tiroiditis
Hashimoto adalah yang paling sering untuk kasus hipotiroidisme. Tiroiditis postpartum adalah penyakit
tiroid autoimun yang terjadi selama tahun pertama setelah melahirkan. Penyakit ini memberikan gejala
tirotoksikosis transien yang diikuti dengan hipotiroidisme yang biasanya terjadi pada 8-10% wanita
setelah bersalin.

B. RUMUSAN MASALAH
Dari latar belekang diatas ada beberapa hal yang harus kita ketahui yaitu:
A. Anatomi dan fisiologi dari kelenjar tiroid?
B. Hipertiroidisme?
C. Hipotiroidisme?
BAB II
PEMBAHASAN
A. ANATOMI DAN FISIOLOGI TIROID
1. Anatomi
Kelenjar tiroid terdiri dari lobus kanan dan kiri dimana kedua lobus tersebut dihubungkan oleh istmus.
Kelenjar ini terdapat pada bagian inferior trakea dan beratnya diperkirakan 15-20 gram. Lobus kanan
bisasanya lebih besar dan lebih vascular dibandingkan lobus kiri. Kelenjar ini kaya akan pembuluh darah
dengan aliran darah 4-6 ml/menit/gram. Pada keadaaan hipertiroid, aliran darah dapat meningkat sampai
1 liter/menit/gram sehingga dapat didengar menggunakan stetoskop yang disebut bruit.Kelenjar tiroid
mendapatkan persarafan adrenergik dan kolinergik yang berasal dari ganglia servikal dan saraf vagus.
Kedua system saraf ini mempengaruhi aliran darah pada kelenjar tiroid yang akan mempengaruhi fungsi
kelenjar tiroid seperti TSH dan iodid.
Selain itu, serabut saraf adrenergik mencapai daerah folikel sehingga persarafan adrenergik diduga
mempengaruhi fungsi kelenjar tiroid secara langsung. Folikel atau acini yang berisi koloid merupakan unit
fungsional kelenjar tiroid. Dinding folikel dilapisi oleh sel kuboid yang merupakan sel tiroid dengan ukuran
bervariasi tergantung dari tingkat stimulasi pada kelenjar. Sel akan berbentuk kolumner bila dalam
keadaaan aktif, dan berbentuk kuboid bila dalam keadaan tidak aktif. Setiap 20-40 folikel dibatasi oleh
jaringan ikat yang disebut septa yang akan membentuk lobulus. Di sekitar folikel terdapat sel parafolikuler
atau sel C yang menghasilkan hormon kalsitonin. Di dalam lumen folikel, terdapat koloid dimana
tiroglobulin yang merupakan suatu glikoprotein yang dihasilkan oleh sel tiroid yang akan disimpan.

Kelenjar tiroid memelihara tingkat metabolisme dari sebagian besar sel dalam tubuh dengan
menghasilkan dua hormon tiroid di dalam sel folikelnya, yaitu triiodothyronin (T3) dan tetraiodohyronin
(T4) atau tirosin. Iodin (I2) memilki berat atom sebesar 127 dan berat molekulnya 254. T4 memilki berat
molekul sebesar 777 Dalton yang 508 didalamya merupakan iodida. Hormon tiroid sangat penting dalam
perkembangan saraf normal, pertumbuhan tulang, dan pematangan seksual. Sel parafolikel yang disebut
sel C berada di dekat sel folikuler yang menghasilkan suatu hormon polipeptida, kalsitonin.
2. Fisiologi
Hormon tiroid adalah hormon amina yang disintesis dan dilepaaskan dari kelenjar tiroid. Hormon ini
dibentuk ketika satu atau dua molekul iodin disatukan dengan glikoprotein besar yang disebut
tiroglobulin, yang disintesis di kelenjar tiroid dan mengandung asam amino tirosin. Kompleks yang
mengandung iodin ini disebut iodotirosin. Dua iodotirosin kemudian menyatu untuk membentuk dua jenis
TH yang bersirkulasi, disebut T3 dan T4. T3 dan T4 berbeda dalam jumlah total molekul iodin yang
dikandungnya (3 untuk T3 dan 4 untuk T4). Sebagian besar (90%) HT yang dilepaskan dalam aliran
darah adalah T4, tetapi T3 secara fisiologis lebih poten. Melalui hati dan ginjal, kebanyakan T4 diubah
menjadi T3. T3 dan T4 dibawa kesel targetnya dalam darah yang berikatan dengan protein plasma,
namun masuk kesel sebagai hormon bebas. T3 dan T4 secara kolektif disebut sebagai TH.
Sel target untuk TH adalah hampir semua sel tubuh. Efek primer TH adalah menstimulasi laju
metabolisme semua sel target dengan meningkatkan metabolisme protein, lemak dan kerbohidrat. TH
juga tampak menstimulasi kecepatan pompa natrium-kalium disel targetnya. Kedua fungsi bertujuan
meningkatkan penggunaan energi oleh sel sehingga meningkatkan laju metabolisme basal (BMR),
membakar kalori, meningkatkan panas oleh setiap sel.
Hormon tiroid juga meningkatkan sensitivitas sel target terhadap katekolamin sehingga meningkatkan
frekuensi jantung dan meningkatkan keresponsifan emosi. TH meningkatkan kecepatan depolarisasi otot
rangka, yang meningkatkan kecepatan kontaraksi otot rangka sehingga sering menyebabkan tremor
halus. TH sangat penting untuk pertumbuhan dan perkembangan normal semua sel tubuh dan
dibutuhkan untuk fungsi hormon pertumbuhan.
Ada 4 macam kontrol faal kelenjar tiroid :
TRH (Thyrotrophin relasing hormon) : Hormon ini disintesa dan dibuat di hipotalamus. TRH ini
dikeluarkan lewat sistem hipotalamohipofiseal ke sel tirotrop hipofisis.
TSH (Thyroid Stimulating Hormone): Suatu glikoprotein yang terbentuk oleh sub unit (alfa dan beta). Sub
unit alfa sama seperti hormon glikoprotein (TSH, LH, FSH, dan human chronic gonadotropin/hCG) dan
penting untuk kerja hormon secara aktif. Tetapi sub unit beta adalah khusus untuk setiap hormon. TSH
yang masuk dalam sirkulasi akan mengikat reseptor dipermukaan sel tiroid TSH-receptor (TSH-r) dan
terjadilah efek hormonal sebagai kenaikan trapping, peningkatan yodinasi, coupling, proteolisis sehingga
hasilnya adalah produksi hormon meningkat.
Umpan balik sekresi hormon. Kedua ini merupakan efek umpan balik ditingkat hipofisis. Khususnya
hormon bebaslah yang berperan dan bukannya hormon yang terikat. T3 disamping berefek pada
hipofisis juga pada tingkat hipotalamus. Sedangkan T4 akan mengurangi kepekaan hipofisis terhadap
rangsangan TRH.
Pengaturan di tingkat kelenjar tiroid sendiri. Gangguan yodinasi tirosin dengan pemberian yodium
banyak disebut fenomena Wolf-Chaikoff escape, yang terjadi karena mengurangnya afinitas trap yodium
sehingga kadar intratiroid akan mengurang. Escape ini terganggu pada penyakit tiroid autoimun.
Efek metabolik hormon tiroid adalah:
Kalorigenik.
Termoregulasi.
Metabolisme protein: Dalam dosis fisiologis kerjanya bersifat anabolik.
Metabolisme karbohidrat: Bersifat diabetogenik, karena resorpsi intestinal meningkat, cadangan glikogen
hati menipis, demikian pula glikogen otot menipis pada dosis farmakologis tinggi, dan degradasi insulin
meningkat.
Metabolisme lipid: T4 mempercepat sintesis kolesterol,tetapi proses degradasi kolesterol dan eksresinya
lewat empedu ternyata jauh lebih cepat, sehingga pada hiperfungsi tiroid, kadar kolesterol rendah.
Sebaliknya pada hipotiroidisme kolesterol total, kolesterol ester dan fosfolipid meningkat.

Vitamin A: Konversi provitamin A menjadi vitamin A di hati memerlukan hormon tiroid.


Hormon ini penting untuk pertumbuhan saraf otak dan perifer, khususnya 3 tahun pertama kehidupan.
Lain-lain : Pengaruh hormon tiroid yang meninggi menyebabkan tonus traktus gastrointestinal meninggi,
hiperperistaltik, sehingga sering terjadi diare.
Efek pada perkembangan janin: Sistem TSH dan hipofisis anterior mulai berfungsi pada janin manusia di
dalam 11 minggu.Sebagian T3 dan T4 maternal diinaktivasi pada plasenta. Dan sangat sedikit hormon
bebas mencapai sirkulasi janin. Dengan demikian, janin sebagian besar tergantung pada sekresi
tiroidnya sendiri.
Efek pada konsumsi oksigen dan produksi panas,
T3 meningkatkan konsumsi O2 dan produksi panas sebagian melalui stimulasi Na+ K+ ATPase dalam
semua jaringan kecuali otak, lien dan testis. Hal ini berperan pada peningkatan percepatan metabolisme
basal dan peningkatan kepekaan terhadap panas pada hipertiroidisme
Efek Skeletal: Hormon tiroid merangsang peningkatan penggantian tulang, meningkatkan resorbsi tulang
dan hingga tingkat yang lebih kecil pembentukan tulang.
B. HIPERTIROID
1. Pengertian
Hipertiroid adalah suatu kondisi dimana suatu kelenjar tiroid yang terlalu aktif menghasilkan suatu jumlah
yang berlebihan dari hormon-hormon tiroid yang beredar dalam darah. Gangguana ini dapat terjadi akibat
disfungsi kelenjar tiroid, hippofisis atau hipotalamus.
Hipertiroid pada kehamilan ( morbus basodowi ) adalah hiperfungsi kelenjar tiroid ditandai dengan
naiknya metabolism basal15-20 %, kadang kala diserta pembesaran ringan kelenjar tiroid. Kejadian
penyakit ini diperkirakan 1:1000 dan dalam kehamilan umunya disebabkan oleh adenoma tunggal,
Pengaruh kehamilan terhadap penyakit
Kehamilan dapat membuat strua tambah besar dan keluhan penderita tambah berat.
Sejak mulai kehamilan terjadi perubahan-perubahan pada fungsi kelenjar tiroid ibu, sedang pada janin
kelenjar tiroid baru mulai berfungsi pada umur kehamilan gestasi ke 12-16. TSH agaknya tidak dapat
melalui barier plasenta. Dengan demikian baik TSH ibu maupun TSH janin tidak saling mempengaruhi.
Baik T4 maupun T3 dapat melewati plasenta dalam jumlah yang sangat sedikit, sehingga dapat dianggap
tidak saling mempengaruhi.
Telah kita ketahui bahwa terdapat kehamilan dimana kelenjar tiroid mengalami hiperfungsi yang ditandai
dengan naiknya metabolisme basal sampai 15-25% dan kadang kala disertai pembesaran ringan.
Keadaan ini adalah dalam batas-batas normal.
2. Etiologi
Penyakit garaves, penyebab tersering penyakit hipertiroidisme, adalah gangguan auto imun yang
biasanya ditandai dengan produksi autoantibodi yang mirip kerja TSH pada kelenjar tiroid. Autoantibodi
IgG ini, yang disebut tyriod stimilating immunoglobulin, menstimulasi porduksi TH, namun tidak dihambat
oleh kadar TH yang meningkat. Kadar TSH dan TRH rendah karena keduanya dihambat oleh kadar TH
yang tinggi. Penyebab penyakit graves tidak diketahui; akan tetapi, tampak terdapat predisposisi genetik
pada penyakit autoimun. Wanita yang berusia 20-an dan 30-an palingsering terdiagnosa penyakit ini
walaopun penyakit ini mulai terjadi selama usia belasan tahun.
Goiter nodular adalah peningkatan ukuran kelenjar tiroid akibat peningkatan kebutuhan akan hormon
tiroid. Peningkatan kebutuhan akan hormon tiroid terjadi selama peride pertumbuhan atau kebutuhan
metabolik yang tinggi misalnya pubertas atau kehamilan. Dalam kasus ini, peningkatan TH disebabbkan
oleh aktifitas hipotalamus yang didorong oleh proses metabolisme sehingga diserrtai oleh peningkatan
TRH dan TSH. Apabila kebutuhan akan hormon tiroid berkurang, ukuran kelenjar tiroid biasanya kembali
keukuran sebelumnya. Kadang-kadang terjadi perubahan yang ierversibel dan kelenjar tidak mengalami
regresi. Tiroid yang membesar dapat terus memproduksi TH dalam jumlah yang berlebihan. Apabila
indifidu tetap mengalami hipertiroid, keadaan ini disebut goiter noduler tosik. Adenoma hipofisis pada selsel penghasil TSH atau penyakit hipotalamus jarang terjadi.
Tabel penyebab hipertiroidisme
Biasa Penyakit garaves
Nodul tiroid toksid : multi/ mononoduler toksik
Toroiditis:de Quervains dan silent

Tidak biasa Hipertiroidisme faktisius


Sekresi TSH yang tidak tepat oleh hipofisis
Yodium eksogen
Jarang Metastasis kelenjar tiroid
Karsinoma dan molahidatidosa
Struma ovari
Karsinoma testikular embrional
3. Manifestasi klinik
Manifestasi klinak yang dapat timbul yaitu:
Peningkatan frekuensi jantung
Kecemasan,ansietas,insomnia,dan tremor halus
Penurunan berat badan walaupun nafsu makan baik
Intoleransi panas dan banyak keringat
Papitasi,takikardi,aritmia jantung,dan gagal jantung,yang dapat terjadi akibat efek tiroksin pada sel-sel
miokardium
Amenorea dan infertilitas
Kelemahan otot,terutama pada lingkar anggota gerak ( miopati proksimal)
Osteoporosis disertai nyeri tulang.
Tremor pada jari tangan
Bising tiroid
Kulit hangat dan basah
4. Perangkat diagnostik
Riwayat dan pemeriksaan fisik yang baik akan membantu mendiagnosa hipertiroidisme
Periksaan darah yang mengukur kadar TH (T3 dan T4), TSH, dan TRH akan memungkinkan diagnosis
kondisi dan lokalisasi masalah ditingkat SSP atau kelenjar tiroid.
5. Komplikasi
Aritmia biasa terjadi pada pasien yang mengalami hipertiroidisme dan emrupakan gejala yang terjadi
pada gangguan tersebut. Setiap indifidu yang mengeluhkan aritmia harus dievaluasi untuk mengetahui
terjadinya gangguan tiroid.
Komplikasi hipertiroidisme yang mengancam jiwa adalah krisis tirotoksis (badai tiroid), yang dapat terjadi
secara spontan pada pasien hipertiroidisme yang menjalani terapi atau selama pembedahan kelenjar
tiroid. Akibatnya adalah pelepasan TH dalam jumlah yang sangat besar yang menyebabkan takikardia,
agitasi, tremor, hipertermia, dan kematian bila tidak diobati.
Pada pria dapat mengalami penurunan libido, impotensi, berkurangnya jumlah sperma, dan
ginekomasita.
6. Penatalaksanaan
Penata laksanan yang dapat diberikan adalah:
Apabila masalahnya terdapat ditingkat kelenjar tiroid, terapi yang biasanya diberikan adalah obat-obatan
antitiroid yang menghambat produksi TH atau obat-obatan penyekat beta untuk menurunkan
hiperresponsifitas simpatis. Obat-obatan yang nerusak jaringan tiroid juga dapat digunakan. Misalnya,
iodin radioaktif (I131) yang diberikan dalam sediaan oral, diserap secara aktif oleh sel tiroid yang
hiperaktif. Setelah masuk I131 merusak sel tersebut. Terapi ini adalah terapi permanen untuk
hipertiroidisme dan sering menyebabkan inndividu menjadi hipotiroid dan memerlukan penggantian TH
seumur hidup.
Tiroidektomi parsial atau total dapat menjadi pilihan terapi. Tiroidektomi total maupun parsial dapat
menyebabkan hipotiroidisme.
Injeksi tiroid etanol perkutan digunakan pada pasien yang memiliki nodula tiroid benigna dan pasien
yang mengalami peningkatan resiko pembedahan akibat penyakit jantung atau paru, usia lanjut,
multimorbiditas atau dialisis.
C. HIPOTIROID

1. Pengertian
Hipotiroidisme adalah satu keadaan penyakit disebabkan oleh kurang penghasilan hormon tiroid oleh
kelenjar tiroid.
Hipotiroidisme adalah suatu keadaan dimana kelenjar tirod kurang aktif dan menghasilkan terlalu sedikit
hormone tiroid. Hipotiroid yang sangat berat disebut miksedema. Hipotiroidism terjadi akibat penurunan
kadar hormon tiroid dalam darah. Kelainan ini kadang-kadang disebut miksedema.
Hipotiroidisme terjadi akibat penurunan kadar hormon tiroid yang bersorkulasi. Hipotiroidisme ditandai
dengan miksedema, edema non-pitting dan boggy yang terjadi disekitar mata, kaki dan tangan dan juga
menginfiltrasi jaringan lain. Hipotiroidisme dapat terjadi akibat malfungsi kelenjar tiroid, hipofisis atau
hipotalamus.
Kekurangan yodium pada janin akibat Ibunya kekurangan yodium. Keadaan ini akan menyebabkan
besarnya angka kejadian lahir mati, abortus, dan cacat bawaan, yang semuanya dapat dikurangi dengan
pemberian yodium. Akibat lain yang lebih berat pada janin yang kekurangan yodium adalah kretin
endemik.
Kretin endemik ada dua tipe, yang banyak didapatkan adalah tipe nervosa, ditandai dengan retardasi
mental, bisu tuli, dan kelumpuhan spastik pada kedua tungkai. Sebaliknya yang agak jarang terjadi
adalah tipe hipotiroidisme yang ditandai dengan kekurangan hormon tiroid dan kerdil.
Penelitian terakhir menunjukkan, transfer T4 dari ibu ke janin pada awal kehamilan sangat penting untuk
perkembangan otak janin. Bilamana ibu kekurangan yodium sejak awal kehamilannya maka transfer T4
ke janin akan berkurang sebelum kelenjar tiroid janin berfungsi.
Jadi perkembangan otak janin sangat tergantung pada hormon tiroid ibu pada trimester pertama
kehamilan, bilamana ibu kekurangan yodium maka akan berakibat pada rendahnya kadar hormon tiroid
pada ibu dan janin. Dalam trimester kedua dan ketiga kehamilan, janin sudah dapat membuat hormon
tiroid sendiri, namun karena kekurangan yodium dalam masa ini maka juga akan berakibat pada
kurangnya pembentukan hormon tiroid, sehingga berakibat hipotiroidisme pada janin.
Deteksi dini hipotiroidisme pada kehamilan untuk mencegah komplikasi pada ibu dan bayi.
Gangguan tiroid (kel.gondok) 4-5 kali lebih banyak terjadi pada wanita dibandingkan pada pria.Sebagian
besar terjadi pada saat wanita hamil karena adanya perubahan hormonal dan metabolisme.
Fungsi tiroid yang baik sangat penting untuk ibu dan janin yang dikandungnya.Khususnya selama tiga
bulan pertama kehamilan, pada saat itu hanya ibu yang menjadi sumber hormon tiroid bagi janin.
Gangguan tiroid pada ibu hamil yang paling sering terjadi adalah kekurangan hormon
tiroid.(Hipotiroidisme)
2. Etiologi
Hipotiroidisme dapat digolongkan kedalam tiga bentuk:
Primer: kelenjar tiroid tidak berfungsi normal (hormon tiroid tidak cukup)
Sekunder : kelainan pada hipofisis anterior (TSH tdk cukup)
Tersier : kelainan pada hipotalamus (TRH tdk cukup)
Sekitar 90% dari hipotiroid yang diumpai di klinik adalah bentuk primer.
Penyakit hipotiroidisme:
Penyakit hashimoto, yang juga disebut tiroiditis otoimun, terjadi akibat destruksi autoantibodi jaringan
kelenjar tiroid. Hal ini menyebabkan penurunan TH, disertai peningkatan kadar TSH dan TRH akibat
umpan balik negatif yang minimal. Penyebab tiroiditis otoimun tidak diketahui, namun tampak terdapat
kecenderungan genetik untuk terjadinya penyakit ini.
Goiter endemik adalah hipotiroidisme akibat defisiensi iododa dalam makanan. Goiter adalah
pembesaran kelenjar tiroid. Goiter terjadi pada defisiensi iodida kerana sel tiroid menjadi oferaktif
berlebihan dan hipertrofik (membesar) dalam usaha untuk memisahkan semua iodida yang mungkin ada
dari aliran darah. Kadar TH yang rendah disertai kadar TSH dan TRH yang tinggi karena umpan balik
negatif yang minimal.
Karsinoma tiroid dapat menyebabkan hpotiroidisme atau hipertiroidisme. Terapi pada hipertiroid
(tiroidektomi, obat supresi TSH, terapi iodin radioaktif untuk menghancurkan jaringan tiroid) dapat
menyebabkan hipotiroid.
3. Manifestasi klinik

Manifestasi klinik yang dapat muncul yaitu:


Kelambanan, perlambatan daya pikir, dan gerakan yang canggung lambat
Penurunan frekuensi denyut jantung, pembesaran jantung (jantung miksedema), dan penurunan curah
jantung
Pembengkakkan dan edema kulit, terutama di bawah mata dan di pergelangan kaki
Penurunan kecepatan metabolisme, penurunan kebutuhan kalori, penurunan nafsu makan dan
penyerapan zat gizi dari saluran cema
Konstipasi
Perubahan-perubahan dalam fungsi reproduksi
Kulit kering dan bersisik serta rambut kepala dan tubuh yang tipis dan rapuh
4. Perangkat diagnostik
Riwayat dan pemeriksaan fisik yang baik akan membantu mendiagnosa hipotiroidisme
Periksaan darah yang mengukur kadar TH (T3 dan T4), TSH, dan TRH akan memungkinkan diagnosis
kondisi dan lokalisasi masalah ditingkat SSP atau kelenjar tiroid.
5. Komplikasi
Koma miksidema adalah situasi yang mengancam jiwa yang ditandai dengan eksaserbasi (perburukan)
semua gejala hipotiroidisme, termasuk hipotermia tanpa menggigil, hipotensi, hipoglikemia, hipoventilasi,
dan penurunan kesadaran yang menyebabkan koma.
Kematian dapat terjadi tanpa penggantian TH dan stabilisasi gejala.
Ada juga resiko yang berkaitan dengan terapi defisiensi tiroid. Resiko ini mencakup penggantian hormon
yang berlebihan, ansietas, atrofi otot, osteoporosis, dan fibrilasi atrium.
6. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan yang diberikan adalah:
Terapi selalu mencakup penggantian hormon tiroid dengan tiroksin sintetik
Untuk goiter endemik, penggantian iodida dapat mengurangi gejala
Apabila penyebab hipotiroidisme berkaitan dengan tumor sistem saraf pusat, hipotiroidisme dapat diobati
dengan kemoterapi, radiasi, atau pembedahan.

BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Hipertiroid adalah suatu kondisi dimana suatu kelenjar tiroid yang terlalu aktif menghasilkan suatu jumlah
yang berlebihan dari hormon-hormon tiroid yang beredar dalam darah. Gangguana ini dapat terjadi akibat
disfungsi kelenjar tiroid, hippofisis atau hipotalamus.
Hipertiroid pada kehamilan ( morbus basodowi ) adalah hiperfungsi kelenjar tiroid ditandai dengan
naiknya metabolism basal15-20 %, kadang kala diserta pembesaran ringan kelenjar tiroid. Kejadian
penyakit ini diperkirakan 1:1000 dan dalam kehamilan umunya disebabkan oleh adenoma tunggal,
Pengaruh kehamilan terhadap penyakit
Kehamilan dapat membuat strua tambah besar dan keluhan penderita tambah berat.
Sejak mulai kehamilan terjadi perubahan-perubahan pada fungsi kelenjar tiroid ibu, sedang pada janin
kelenjar tiroid baru mulai berfungsi pada umur kehamilan gestasi ke 12-16. TSH agaknya tidak dapat
melalui barier plasenta. Dengan demikian baik TSH ibu maupun TSH janin tidak saling mempengaruhi.
Baik T4 maupun T3 dapat melewati plasenta dalam jumlah yang sangat sedikit, sehingga dapat dianggap
tidak saling mempengaruhi.
Manifestasi klinak yang dapat timbul yaitu:
Peningkatan frekuensi jantung
Kecemasan,ansietas,insomnia,dan tremor halus
Penurunan berat badan walaupun nafsu makan baik
Intoleransi panas dan banyak keringat

Papitasi,takikardi,aritmia jantung,dan gagal jantung,yang dapat terjadi akibat efek tiroksin pada sel-sel
miokardium
Amenorea dan infertilitas
Kelemahan otot,terutama pada lingkar anggota gerak ( miopati proksimal)
Osteoporosis disertai nyeri tulang.
Tremor pada jari tangan
Bising tiroid
Kulit hangat dan basah
Hipotiroidisme terjadi akibat penurunan kadar hormon tiroid yang bersorkulasi. Hipotiroidisme ditandai
dengan miksedema, edema non-pitting dan boggy yang terjadi disekitar mata, kaki dan tangan dan juga
menginfiltrasi jaringan lain. Hipotiroidisme dapat terjadi akibat malfungsi kelenjar tiroid, hipofisis atau
hipotalamus.
Kekurangan yodium pada janin akibat Ibunya kekurangan yodium. Keadaan ini akan menyebabkan
besarnya angka kejadian lahir mati, abortus, dan cacat bawaan, yang semuanya dapat dikurangi dengan
pemberian yodium. Akibat lain yang lebih berat pada janin yang kekurangan yodium adalah kretin
endemik.
Kretin endemik ada dua tipe, yang banyak didapatkan adalah tipe nervosa, ditandai dengan retardasi
mental, bisu tuli, dan kelumpuhan spastik pada kedua tungkai. Sebaliknya yang agak jarang terjadi
adalah tipe hipotiroidisme yang ditandai dengan kekurangan hormon tiroid dan kerdil.
Penelitian terakhir menunjukkan, transfer T4 dari ibu ke janin pada awal kehamilan sangat penting untuk
perkembangan otak janin. Bilamana ibu kekurangan yodium sejak awal kehamilannya maka transfer T4
ke janin akan berkurang sebelum kelenjar tiroid janin berfungsi.
Jadi perkembangan otak janin sangat tergantung pada hormon tiroid ibu pada trimester pertama
kehamilan, bilamana ibu kekurangan yodium maka akan berakibat pada rendahnya kadar hormon tiroid
pada ibu dan janin. Dalam trimester kedua dan ketiga kehamilan, janin sudah dapat membuat hormon
tiroid sendiri, namun karena kekurangan yodium dalam masa ini maka juga akan berakibat pada
kurangnya pembentukan hormon tiroid, sehingga berakibat hipotiroidisme pada janin.
Deteksi dini hipotiroidisme pada kehamilan untuk mencegah komplikasi pada ibu dan bayi.
Manifestasi klinik yang dapat muncul yaitu:
Kelambanan, perlambatan daya pikir, dan gerakan yang canggung lambat
Penurunan frekuensi denyut jantung, pembesaran jantung (jantung miksedema), dan penurunan curah
jantung
Pembengkakkan dan edema kulit, terutama di bawah mata dan di pergelangan kaki
Penurunan kecepatan metabolisme, penurunan kebutuhan kalori, penurunan nafsu makan dan
penyerapan zat gizi dari saluran cema
Konstipasi
Perubahan-perubahan dalam fungsi reproduksi
Kulit kering dan bersisik serta rambut kepala dan tubuh yang tipis dan rapuh
B. SARAN
..........................................................
DAFTAR PUSTAKA
J.Corwin, Elizabet. 2009.Buku saku patofisiologi edisi 3.EGC;jakarta.
Arif, Mansjoer, et al. 2000.kapita selekta kedokteran edisi 3 jilid 1. Media Aesculapius; jakarta.
http://www.medicastore.com/med/detail_pyk.php?idktg=11&judul=Hipertiroidisme&iddtl=124&UID=20071
121172513125.163.255.129.
www.wrongdiagnosis.comhttp://www.wrongdiagnosis.com/h/hyperthyroidism/treatments.ht