Anda di halaman 1dari 6

ISTILAH - ISTILAH DAN PENGERTIAN DALAM ILMU HUKUM

BAB II
ISTILAH - ISTILAH DAN PENGERTIAN DALAM ILMU HUKUM
A. MASYARAKAT HUKUM

Manusia itu hakekatnya adalah makhluk sosial, mempunyai keinginan


untuk hidup bermasyarakat dengan manusia-manusia lain. Kumpulan atau
persatuan manusia-manusia yang saling mengadakan hubungan satu sama
lain itu dinamakan masyarakat.
Bagaimana pun sederhananya dan bagaimanapun modernnya masyarakat
manusia, norma tetap sebagai suatu yang mutlak harus ada pada masyarakat.
Bagaimana corak dan warna norma hukum yang dikehendaki untuk mengatur
seluk-beluk
kehidupan
masayarakat
, masyarakat yang bersangkutanlah yang menentukan sendiri.
Suatu masyarakat yang menetapkan tata hukumnya bagi masyarakat itu
sendiri dan oleh sebab itu turut serta dalam berlakunya tata hukum itu,
disebut masyarakat hukum.

B. SUBJEK HUKUM

1.
2.

1.
2.
3.
4.
5.

Secara umum subjek hukum diartikan sebagai pendukung hak dan


kewajiban, menurut ketentuan hukum dikenal dua macam subjek hukum
yaitu manusia dan badan hukum.
Manusia sebagai subjek hukum, menurut hukum modern setiap manusia
diakui sebagai manusia pribadi. Karena itu setiap manusia diakui sebagai
subjek hukum yaitu pendukung hak dan kewajiban.
Badan Hukum menurut Salim HS adalah kumpulan orang-orang yang
mempunyai tujuan (arah yang ingin dicapai) tertentu, harta kekayaan, serta
hak dan kewajiban.
Unsur-unsur badan hukum :
Mempunyai perkumpulan
Mempunyai tujuan tertentu
Mempunyai harta kekayaan
Mempunyai hak dan kewajiban, dan
Mempunyai hak untuk menggugat dan digugat.
Badan-badan dan perkumpulan-perkumpulan itu dapat memiliki kekayaan
sendiri, ikut serta dalam lalu-lintas hukum dengan perantaraan pengurusnya,
dapat digugat dan menggugat dimuka hakim serta dapat pula mengadakan
hubungan-hubungan hukum baik antara sesama badan hukum maupun
dengan orang seperti perjanjian jual-beli, tukar-menukar, dan sewa menyewa,

Dengan demikian badan hukum tersebut


sepenuhnya layaknya sebagai seorang manusia.

singkatnya

diperlakukan

C. OBJEK HUKUM

Objek hukum ialah segala sesuatu yang berguna bagi subjek


hukum(manusia atau badan hukum) dan yang dapat menjadi pokok (objek)
suatu hubungan hukum, karena sesuatu itu dapat dikuaasai oleh subjek
hukum.
Objek hukum biasanya disebut juga dengan benda (zaak) atau segala
sesuatu yang dibendakan. Pengertian benda (zaak) secara yuridis adalah
segala sesuatu yang dapat dihaki atau menjadi objek hak milik. Maka segala
sesuatu yang tidak dapat dimiliki orang bukanlah termasuk pengertian benda
menurut undang-undang.

D. LEMBAGA HUKUM

Lembaga hukum (rechtsinstituut) adalah himpunan peraturan-peraturan


hukum yang mengandung beberapa persamaan atau bertujuan mencapai
suatu objek yang sama. Oleh karena itu ada himpunan peraturan-peraturan
hukum yang mengatur mengenai perkawinan dinamakan lembaga hukum
perkawinan, himpunan peraturan-peraturan hukum yang mengatur tentang
perceraian dinamakan lembaga hukum perceraian, demikian seterusnya.
Dengan demikian dalam hukum positif terdapat banyak sekali lembagalembaga hukum itu, seperti lembaga hukum jual-beli, tukar-menukar dan lain
sebagainya, yang tidak hanya diatur dalam hukum perdata Barat melainkan
juga terdapat dalam hukum adat maupun hukum Islam.

E. ASAS HUKUM

Untuk membentuk suatu peraturan perundang-undangan diperlukan asas


hukum, karena asas hukum ini memberikan pengarahan terhadap perilaku
manusia didalam masyarakat. Asas hukum merupakan pokok pikiran yang
bersifat umum yang konkret (hukum positif).
Dalam setiap asas hukum melihat suatu cita-cita yang hendak dicapai, oleh
karena itu asas hukum merupakan jembatan antara peraturan-peraturan
hukum dengan cita-cita sosial dan pandangan etis masyaraktanya.

F. SISTEM HUKUM

Dalam suatu sistem terdapat ciri-ciri tertentu yaitu terdiri dari komponenkomponen yang satu sama lain berhubungan ketergantungan dan dalam
keutuhan organisasi yang teratur serta terintegrasi.
Dapatlah disimpulkan bahwa yang dimaksud sistem hukum adalah suatu
kesatuan peraturan-peraturan hukum, yang terdiri atas bagian-bagian
(hukum) yang mempunyai kaitan (interaksi) satu sama lain, tersusun
sedemikian rupa menurut asas-asasnya, yang berfungsi untuk mencapai
suatu tujuan.

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Namun hukum barulah dapat dikatakan sebagai sistem, menurut Fuller


jika memenuhi delapan asas yang dinamakannya principles of legality, yaitu :
Suatu sistem hukum harus mengandung peraturan-peraturan tidak boleh
mengandung sekadar keputusan ad hoc.
Peraturan-peraturan yang telah dibuat harus di umumkan
Peraturan-peraturan tidak ada yang boleh berlaku surut
Peraturan-peraturan harus disusun dalam rumusan yang dapat dimengerti
Suatu sistem tidak boleh mengandung peraturan yang bertentangan satu
sama lain
Peraturan-peraturan tidak boleh mengandung tuntutan yang melebihi apa
yang dapat dilakukan;
Tidak boleh ada kebiasaan untuk sering mengubah-ubah peraturan sehingga
menyebabkan orang kehilangan orientasi (tujuan);
Harus ada kecocokan antara peraturan yang di undangkan dengan
pelaksanaannya sehari-hari.

MACAM-MACAM SISTEM HUKUM


1. Sistem Hukum Eropa Kontinental
Sistem hukum ini berkembang di negara-negara Eropa daratan yang sering
disebut sebagai Civil Law. Berasal dari kodifikasi hukum yang berlaku di
kekaisaran Romawi pada masa pemerintahan Kaisar Justianus abad VI
sebelum masehi. Peraturan hukumnya merupakan kumpulan kumpulan dari
pelbagai kaidah hukum yang ada sebelum masa Justianus yang disebut
Corpus Juris Civilis. Prinsip-prinsip hukum yang yang terdapat pada Corpus
Juris Civilis dijadikan dasar perumusan dan kodifikasi hukum di negaranegaraEropa daratan seperti Jerman, Belanda, Prancis dan Italia,juga Amerika
Latin dan Asia termasuk Indonesia pada masa penjajahan pemerintah
Belanda.
Prinsip utama yang menjadi dasar sistem hukum Eropa Kontinental itu
ialah hukum memperoleh kekuatan mengikat mengingat nilai utama yang
merupakan tujuan hukum adalah kepastian hukum. Kepastian hukum
dapat diwujudkan kalau tindakan manusia dalam pergaulan hidup diatur
dengan peraturan hukum yang tertulis.
Dengan tujuan hukum yang dianut hakim tidak dapat leluasa menciptakan
hukum yang mempunyai kekuatan mengikat umum. Hakim hanya berfungsi
menetapkan dan menafsirkan peraturan-peraturan dalam batas-batas
wewenangnya. Sejalan dengan pertumbuhan Negara-negara nasional di eropa
yang bertitik tolak pada unsur kedaulatan nasional termasuk kedaulatan
menetapkan hukum, maka yang menjadi sumber hukum eropa kontinental
adalah undang-undang.
Berdasarkan sumber-sumber hukum, maka sistem hukum Eropa
Kontinental penggolongannya ada dua yaitu penggolongan kedalam bidang
hukum publik dan hukum privat

a.

Hukum publik mencakup peraturan-peraturan hukum yang mengatur


kekuasaan dan wewenang penguasa/negara serta hubungan-hubungan
antara masyrakat dan Negara.
Termasuk dalam hukum publik antara lain : HTN, HAN, dan Hukum Pidana.
b. Hukum privat mencakup peraturan-peraturan hukum yang mengatur tentang
hubungan antara individu-individu dalam memenuhi kebutuhan hidup demi
hidupnya.
Termasuk dalam hukum publik antara lain : Hukum Sipil dan Hukum
Dagang.

2. Sistem Hukum Anglo Saxon (Anglo Amerika)

Sistem hukum ini mulai berkembang di Inggris pada abad XI yang sering
disebut sebagi sistem Common Law dan sistem Unwritten Law (tidak
tertulis). Walaupun disebut sebagai written law, hal ini tidak sepenuhnya
benar karena didalam sistem ini dikenal pula adanya sumber-sumber hukum
yang tertulis (statues).
Sistem hukum Anglo Amerika ini dalam perkembangannya melandasi pula
hukum positif di negara-negara Amerika Utara, seperti Kanada dan beberapa
negara Asia yang termasuk negara persemakmuran Inggris dan Australia,
selain di Amerika Serikat sendiri.
Sumber hukum dalam sistem hukum Anglo Amerika ialah putusanputusan hakim/pengadilan(Judicial decisions). Hakim mempunyai wewenang
yang sangat luas untuk menfsirkan peraturan hukum yang berlaku. Selain
itu, menciptakan prinsip-prinsip hukum baru yang akan menjadi pegangan
bagi hakim-hakim lain untuk memutuskan perkara yang sejenis.
Sistem hukum Anglo Amerika menganut suatu doktrin yang dikenal dengan
nama the doctrine of precedent/Stare Decisis. Pada hakikatnya doktrin ini
menyatakan bahwa dalam memutuskan suatu perkara, seorang hakim harus
mendasarkan putusannya pada prinsip hukum yang sudah ada dalam
putusan hakim yang lain dari perkara atau putusan hakim yang telah ada
sebelumnya(preseden). Kalau itu dianggap tidak sesuai lagi dengan
perkembangan zaman, hakim dapat menetapkan putusan baru berdasarkan
nilai-nilai keadilan, kebenaran, dan akal sehat (common sense) yang
dimilikinya.

3. Sistem Hukum Adat

Sistem hukum ini hanya terdapat dalam lingkungan kehidupan sosial di


Indonesia dan negara-negara Asia lainnya, seperti Cina, India, Jepang, dan
negara lain. Istilahnya berasal dari bahasa Belanda Adatrecht yang untuk
pertama kali dikemukakan oleh Snouck Hurkgronje.
Sistem hukum adat bersumber pada peraturan-peraturan hukum tidak
tertulis yang tumbuh berkembang dan dipertahankan dengan kesadaran
hukum masyarakatnya. Hukum adat itu mempunyai tipe yang bersifat
tradisional dengan berpangkal kepada kehendak nenek moyang. Peraturanperaturan hukum adat juga dapat berubah tergantung dari pengaruh

kejadian-kejadian dan keadaan hidup yang silih berganti. Perubahannya


sering tidak diketahui, bahkan kadang-kadang tidak disadari masyarakat, hal
itu karena terjadi pada situasi sosial tertentu dalam kehidupan sehari-hari.
Yang berperan dalam melaksanakan sistem hukum adat ialah pengemuka
adat, hukum adat merupakan pencerminan kehidupan masyarakat Indonesia.
Sejak penjajahan Belanda banyak mengalami perubahan sebagai akibat dari
politik hukum yang ditanamkan oleh pemerintah penjajah itu. Perubahan
secara formal terjadi dalam penghapusan berlakunya hukum adat mengenai
delik (hukum pidana) dan diberlakukannya hukum pidana tertulis,
diperkenalkannya peraturan hukum perdata bidang perikatan lambat laun
menghapuskan dengan sendirinya sebagian besar hukum perutangan adat.
Dalam perkembangannya untuk hukum tanah ditanamkan kesadaran hukum
tentang kegunaan tanah seperti yang dituangkan dalam Undang-Undang
Pokok Agraria. Mengenai hukum pertalian sanak, dalam segi tertentu
dikembangkan melalui yurisprudensi.

4. Sistem Hukum Islam

Sistem hukum ini semula dianut oleh masyarakat Arab sebagai awal dari
timbulnya penyebaran Agama Islam . kemudian berkembang ke negara-negara
lain di Asia, Afrika, Eropa, dan Amerika secara individual atau kelompok.
Sementara itu untuk beberapa Negara di Afrika dan Asia perkembangannya
sesuai dengan pembentukan negara yang berasaskan ajaran Islam. Bagi
negara Indonesia, walaupun mayoritas warga negaranya beragama Islam,
pengaruh agama itu tidak besar dalam negara. Hal itu karena asas
pembentukan negara bukanlah menganut ajaran Islam.

1.
2.
3.
4.

Sumber-sumber hukum dalam sistem hukum Islam :


Quran, yaitu kitab suci dari kaum muslimin yang diwahyukan oleh Allah
kepada Nabi Muhammad Rasul Allah SWT, dengan perantaraan malaikat
Jibril.
Hadits (Sunnah Nabi), ialah cara hidup Nabi Muhammad atau pesan-pesan
dalam hadits.
Ijma, ialah kesepakatan para ulama besar tentang suatu hal.
Qiyas, ialah analogi dalam mencari sebanyak mungkin persamaan antara dua
kejadian.

Sistem hukum Islam dalam Hukum Fiqih terdiri dari dua hukum pokok.
1. Hukum Rohaniah, lazim disebut ibadat, yaitu cara-cara menjalankan ibadah
terhadap Allah SWT yang dimulai dengan ikrar syahadat, shalat, puasa, zakat,
dan menjalankan haji.
2. Hukum duniawi, terdiri dari :
a. muamalat, yaitu tata tertib hukum dan peraturan mengenai antar manusia
dalam bidang jual beli, sewa-menyewa, perburuhan, hukum tanah, hukum
perikatan, hak milik, hak kebendaan, dan hubungan ekonomi pada umumnya.

b. nikah, yaitu perkawinan dalam arti membentuk sebuah keluarga yang terdiri
dari syarat-syarat dan rukun-rukunnya, hak dan kewajiban, dasar-dasar
perkawinan poligami dan akibat-akibat hukum perkawinan.
c. Jinayat, yaitu hukum pidana yang meliputi ancaman hukuman terhadap
hukum Allah dan tindak pidana kejahatan.
Dalam hukum Islam adapula cabang hukum lainnya yaitu :
1. Aqdiyah, ialah, ialah peraturan hukum pengadilan, meliputi kesopanan hakim,
saksi, beberapa hak peradilan, dan cara-cara memerdekakan budak (kalau
masih ada)
2. Al-Khilafah, ialah mengatur mengenai kehidupan bernegara, meliputi bentuk
Negara dan dasar-dasar pemerintahan, hak dan kewajiban warga negara,
kepemimpinan, dan pandangan Islam terhadap pemeluk agama lain.
Sistem hukum Islam ini menganut suatu keyakinan dari ajaran agama
Islam dengan keimanan lahir batin secara individual. Negara-negara yang
menganut asas hukum Islam, dalam bernegara melaksanakan hukum
peraturan-peraturan hukumnya secara taat. Hal itu berdasarkan peraturan
perundang-undanagan negara yang dibuat dan tidak bertentangan dengan
ajaran Islam.

G. PERISTIWA HUKUM

Peristiwa hukum atau kejadian hukum (rechtsfert) hakekatnya adalah


peristiwa-peristiwa dalam masyarakat yang membawa akibat yang diatur oleh
hukum. dengan demikian yang menjadi tolak ukur apakah suatu peristiwa
adalah peristiwa hukum atau tidak ialah norma hukum. Hanya peristiwaperistiwa yang diatur norma hukumlah yang menimbulkan akibat hukum
yang dinamakan peristiwa hukum.

H. HUBUNGAN HUKUM DAN HAK

Hubungan hukum adalah hubungan yang terjadi dalam masyarakat baik


antara subjek dengan subjek hukum maupun antara subjek dengan objek
hukum, yang diatur oleh hukum dan menimbulkan akibat hukum yaitu hak
dan kewajiban.
\