Anda di halaman 1dari 22

ANC DAN SKRINING IBU HAMIL RESIKO TINGGI DI WILAYAH KOTO

BESAR KABUPATEN DHARMASRAYA


BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Setiap tiga menit, di manapun di Indonesia, satu anak balita meninggal dunia. Selain itu,
setiap jam, satu perempuan meninggal dunia ketika melahirkan atau karena sebab-sebab
yang berhubungan dengan kehamilan. Tingginya AKI dan AKB antara lain disebabkan
karena ketidakberdayaan seorang ibu dalam memutuskan untuk mendapatkan
pertolongan medis apabila terjadi permasalahan pada kehamilan dan bayinya. Hal ini
antara lain disebabkan oleh rendahnya pengetahuan mengenai kesehatan ibu serta
pengenalan tanda-tanda bahaya obstetri dan neonatal, sehingga akan menghambat suatu
keputusan yang harus diambil.
Peningkatan kesehatan ibu di Indonesia, yang merupakan tujuan Pembangunan
Milenium (MDG) kelima, berjalan lambat dalam beberapa tahun terakhir. Rasio kematian
ibu, yang diperkirakan sekitar 228 per 100.000 kelahiran hidup, tetap tinggi di atas 200
selama dekade terakhir, meskipun telah dilakukan upaya-upaya untuk meningkatkan
pelayanan kesehatan ibu. Hal ini bertentangan dengan negara-negara lain di sekitar
Indonesia yang menunjukkan peningkatan lebih besar pada MDG kelima (Gambar 1).

perkemba
kematian
anak leb
angka
kematian
balita,
bersama-sama
dengan
komponen228 per 100.000 kelahiran hidup, tetap tinggidi atas 200
kematian bayi bar
komponennya,
angka kematian
bayi dan
angka
kematian
selama
dekade terakhir,
meskipun
telah
dilakukan
FGambar
i g u r e 22
bayi baru lahir. Akan tetapi, dalam beberapa tahun
kekayaandal
in te n -y e a
Baik di9 0daerah pe
untuk 8seluruh
ku
U
0
ASEAN
FGambar
iGambar
g u r e 1 .1.M1.Tren
aTren
te r nkematian
akematian
l m o r ta libu,
i Ibu,
ty trbeberapa
ebeberapa
n d s , s e lnegara
enegara
c te d AASEAN
S E A N c o u n tr i e s
SSumber:
o Sumber:
u r c e : UUN
N UN
MMaternal
a Maternal
te r n a l Mortality
M o Mortality
r t a l i ty Estimation
E s Estimation
tim a tio n Group:
G rGroup:
o u p WHO,
: W WHO,
H O UNICEF,
, U UNICEF,
N IC E FUNFPA,
, U UNFPA,
N F P AWorld
, W World
o r Bank
ld B Bank
ank
mengurangi
angk
70
M a te r n a l d e a t h s
dalam6beberapa
t
0
p e r 1 0 0 ,0 0 0 li v e
700
b ir th s
Kesehatan
2007 (
50
600
baik angka
kemat
40
bayi baru
lahir2 0tel
03
30
500
tertinggi,
tetapi al
20
400
Meskipun
rumah
10
kematian
balita se
0
300
L o w e s t Sp
e
kematian balita
1
In d o n e s ia 's M D G
200
sebuah studi men
ta r g e t = 1 0 2
P h i l i p p in e s
perdesaan menga
100
angkabayi
kematian
barud
0
perkotaan
bahkan
terakhir.
S
1990
1995
2000
2005
2010
2015
masa2007)
neonatal.
Tr
men
Pelayanan kesehatan ibu dan bayi baru lahir yang berkualitas dapat mencegah
tingginya
angka kematian.
Di Indonesia,
angka kematian
bayi baru lahir
pada anak-anak
upaya-upaya
untuk
meningkatkan
pelayanan
kesehatan

Negara-negara
miskin antenatal
di wilayah
yangibu.
ibunya
mendapatkan pelayanan
dan tersebut
pertolongan persalinan oleh
menunjukkan
peningkatan
yangkematian
lebih besar
dalamyang
hal ibunya
profesional
medis adalah
seperlima dari angka
pada anak-anak

unite for children

(Gambarpelayanan
1).
tidakinimendapatkan
ini. Walaupun demikian, Indonesia telah menunjukkan

angka peningkatan proporsi persalinan yang dibantu oleh tenaga kesehatan yang terlatih,

Indonesia telah melakukan upaya-upaya jauh lebih


baik dalam menurunkan kematian bayi dan balita,
Dari data didapatkan sekitar 61 persen perempuan usia 10-59 tahun melakukan
MDG
keempat. Tahun 1990-an menunjukkan
empat
kunjungan
pelayanan
antenatal
yang
disyaratkan selama
kehamilan mereka.
perkembangan
tetap
dalam
menurunkan
angka
Kebanyakan
perempuan
(72 persen) di Indonesia
melakukan
kunjungan pertama,
kematian
balita,hamil
bersama-sama
dengan
komponentetapi
putus sebelum empat
kunjungan
yang direkomendasikan
Kementerian Kesehatan.
komponennya,
angka
kematian
bayi dan angka
kematian
bayi perempuan
baru lahir.
tetapi,
dalam
Kurang
lebih 16 persen
(25 Akan
persen dari
perdesaan
dan beberapa
8 persen perempuan
tahuntidak
terakhir,
kematian
bayiselama
barukehamilan
lahir mereka.
perkotaan)
pernah penurunan
mendapatkan pelayanan
antenatal
tampaknya
terhenti.
Jika
tren iniantenatal
berlanjut,
Kualitas
pelayanan telah
yang diterima
selama
kunjungan
juga tidak memadai.
Indonesia
tidak
mungkin
mencapai
target
MDG
untuk
Kementerian Kesehatan Indonesia merekomendasikan komponen-komponen pelayanan
penurunan kematian anak pada tahun 2015, meskipun
antenatal yang berkualitas sebagai berikut: (i) pengukuran tinggi dan berat badan, (ii)
nampaknya berada dalamarah yang tepat pada tahunpengukuran tekanan darah, (iii) tablet zat besi, (iv) imunisasi tetanus toksoid, (v)
tahun sebelumnya.
dari 41 persen pada tahun 1992 menjadi 82 persen pada tahun 2010.

maupun a
pada kelom
tidak jelas
perdesaan
sepertiga l
pada ruma
menunjukk
mengalam
kematian d
perkotaan
periode ne
urbanisasi
kepadatan
yang buruk
diperburuk
telah meny
tradisional
daerah-da
penyebab.

pemeriksaan perut, (vi) pengetesan sampel darah dan urin dan (vii) informasi tentang

Pola kematian anak


Sebagian besar kematian anak di Indonesia saat ini

Angka ke
Anak-anak
memiliki a
setinggi an

tanda-tanda komplikasi kehamilan. Sekitar 86 dan 45 persen perempuan hamil masingmasing telah diambil sampel darah mereka serta mengetahui tanda-tanda komplikasi
kehamilan. Akan tetapi, hanya 20 persen perempuan hamil mendapatkan lima intervensi
pertama secara lengkap.
Kira-kira 31 persen ibu nifas mendapatkan pelayanan antenatal 'tepat waktu'. Ini
berarti pelayanan dalam waktu 6 sampai 48 jam setelah melahirkan, seperti yang
ditentukan Kementerian Kesehatan. Pelayanan pasca persalinan yang baik sangat penting,
karena sebagian besar kematian ibu dan bayi baru lahir terjadi pada dua hari pertama dan
pelayanan pasca persalinan diperlukan untuk menangani komplikasi setelah persalinan.
Sekitar 26 persen dari semua ibu nifas pernah mendapatkan pelayanan pascapersalinan.
Dari data-data diatas, dapat diambil kesimpulan bahwa buruknya kualitas
pelayanan kesehatan antenatal, persalinan, dan pascapersalinan merupakan hambatan
utama untuk menurunkan angka kematian ibu dan anak. Oleh karena itu, diproritaskan
mini project ini pada upaya peningkatan derajat kesehatan kelompok paling rentan
kesehatan, yaitu ibu hamil, ibu bersalin dan nifas serta bayi pada masa perinatal melalui
pengadaan kelas ibu hamil serta skrining untuk mendeteksi secara dini ibu-ibu yang
memiliki risiko dalam kehamilannya agar dapat dicarikan solusi untuk permasalahan ibu
hamil tersebut. (Depkes, 2009)
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian di atas maka yang menjadi rumusan masalah adalah bagaimana
pengetahuan ibu hamil tentang kehamilan, persalinan, nifas dan perawatan bayi baru lahir
serta ada atau tidaknya risiko pada kehamilan ibu-ibu di wilayah kerja Puskesmas Koto
Baru.
1.3 Tujuan Kegiatan
1.3.1 Tujuan Umum
Meningkatkan pengetahuan, merubah sikap dan perilaku ibu agar memahami tentang
pemeriksaan kehamilan, persalinan aman, nifas nyaman, pencegahan penyakit fisik dan
jiwa, gangguan gizi dan komplikasi kehamilan, persalinan dan nifas, perawatan bayi baru
lahir agar tumbuh kembang optimal serta aktivitas fisik ibu saat hamil.

1.3.2 Tujuan Khusus

Menemukan berbagai kelainan/penyulit pada saat kehamilan, persalinan dan nifas


secara dini.

Melakukan persiapan, perencanaan persalinan, dan penolong persalinan sesuai


kondisi ibu/janin.

Menemukan

ibu

risiko

tinggi

dengan

kemungkinan

terjadinya

risiko

kematian/kesakitan pada ibu dan atau bayi dengan menggunakan kartu skor.

Membantu untuk memecahkan permasalahan yang ada dengan cara memberi


informasi pada ibu hamil sehingga dapat menentukan pengambilan keputusan
oleh ibu hamil dan keluarganya.

1.4 Manfaat Kegiatan

Memahami dan menganalisa masalah dari kematian ibu dan bayi berdasarkan
skrining risiko ibu hamil.

Sebagai bahan masukan untuk program ibu dan anak Puskesmas Koto Baru.

Memberikan informasi pada petugas kesehatan tentang cara mendeteksi dini


risiko pada ibu hamil.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.2 Kehamilan Risiko Tinggi
Kehamilan risiko tinggi adalah kehamilan patologi yang dapat mempengaruhi
keadaan ibu dan janin. Untuk menghadapi kehamilan risiko harus diambil sikap proaktif,
berencana dengan upaya promotif dan preventif sampai dengan waktunya harus diambil
sikap tegas dan cepat untuk menyelamatkan ibu dan janinnya (Manuaba, 2008).
Penyebab dari kejadian kehamilan risiko pada ibu hamil adalah karena kurangnya
pengetahuan ibu tentang kesehatan reproduksi, status sosial ekonomi dan pendidikan
yang rendah. Dengan adanya pengetahuan ibu tentang tujuan atau manfaat pemeriksaan
kehamilan dapat memotivasinya untuk memeriksakan kehamilan secara rutin.
Pengetahuan tentang cara pemeliharaan kesehatan dan hidup sehat meliputi jenis
makanan bergizi, menjaga kebersihan diri, serta pentingnya istirahat cukup sehingga
dapat mencegah timbulnya komplikasi dan tetap mempertahankan derajat kesehatan yang
sudah ada. Umur seseorang dapat mempengaruhi keadaan kehamilannya. Bila wanita
tersebut hamil pada masa reproduksi, kecil kemungkinan untuk mengalami komplikasi di

bandingkan wanita yang hamil dibawah usia reproduksi ataupun diatas usia reproduksi
(Saifudin, 2010).
Jarak kehamilan yang terlalu pendek kurang dari 2 tahun dan di atas 5 tahun,
hamil dibawah usia 20 tahun dan lebih dari 35 tahun berisiko melahirkan bayi dengan
kelainan genetik. Begitu juga dengan ibu hamil yang pernah menjalani operasi. Faktor
lainnya adalah kondisi fisik atau menetap bagi sang ibu (seperti tinggi badan di bawah
145 cm, biasanya panggul sempit dan akan kesulitan melahirkan secara normal) juga
harus diwaspadai. Selain itu, ibu hamil penderita obesitas dan darah tinggi pada
kehamilan atau mengalami penyakit lain yang cukup membahayakan sebelum atau saat
hamil meruakan faktor-faktor yang dapat menyebabkan kehamilannya berisiko tinggi
(Saifudin, 2010).
Usia reproduksi sehat untuk hamil berkisar antara 25-30 tahun. Jika kurang atau
melebihi usia tersebut, maka mempengarui faktor kesuburan reproduksi yang juga
berpengaruh terhadap risiko kehamilan. Banyak cara untuk mengatasi masalah kehamilan
berisiko tinggi. Salah satu caranya adalah mempersiapkan mental saat menjalani
kehamilan tersebut, ibu hamil juga harus rajin melakukan pemeriksaan rutin untuk
mendeteksi kondisi ibu dan janin. Biasanya ibu hamil yang rajin memeriksakan
kehamilan secara rutin merasa lebih sehat. Dengan memeriksakan kehamilan secara
teratur, komplikasi serta ganguan kehamilan dapat teratasi dibandingkan ibu hamil yang
tidak melakukan pemeriksaan kehamilan. Ibu hamil juga perlu mengkosumsi gizi yang
baik, tepat dan seimbang, salah satunya asam folat, guna mengoptimalkan perkembangan
janin dan kesehatan ibu sendiri. (Saifudin, 2010).
Anak lebih dari 4 dapat menimbulkan gangguan pertumbuhan janin dan
perdarahan saat persalinan karena keadaan rahim biasanya sudah lemah. Paritas 2-3
merupakan paritas paling aman ditinjau dari sudut kematian maternal. Paritas 1 dan
paritas tinggi (lebih dari 3) mempunyai angka kematian maternal lebih tinggi. Lebih
tinggi paritas, lebih tinggi kematian maternal. Risiko pada paritas 1 dapat ditangani
dengan asuhan obstetrik lebih baik, sedangkan risiko pada paritas tinggi dapat dikurangi
atau dicegah dengan keluarga berencana. Sebagian kehamilan pada paritas tinggi adalah
tidak direncanakan. (Saifudin, 2010)

2.2.1 Pengertian Kehamilan Risiko Tinggi


a. Risiko tinggi adalah suatu kehamilan patologi yang dapat mempengaruhi keadaan ibu
dan janin (Manuaba, 2008)
b. Risiko tinggi adalah suatu kehamilan yang memiliki risiko tinggi lebih besar dari
biasanya (baik bagi ibu maupun bayinya), akan terjadinya penyakit atau kematian
sebelum maupun sesudah persalinan (Cunningham, 2005)
2.2.2 Jenis Kehamilan Risiko Tinggi

Faktor Ibu:

a. Kehamilan pada usia di atas 35 tahun atau di bawah 18 tahun.


Usia ibu merupakan salah satu faktor risiko yang berhubungan dengan kualitas
kehamilan. Usia yang paling aman atau bisa dikatakan waktu reproduksi sehat
adalah antara umur 20 tahun sampai umur 30 tahun. Penyulit pada kehamilan
remaja salah satunya pre-eklamsi lebih tinggi dibandingkan waktu reproduksi
sehat. Keadaan ini disebabkan belum matangnya alat reproduksi untuk hamil,
sehingga

dapat

merugikan

kesehatan

ibu

maupun

perkembangan

dan

pertumbuhan janin (Manuaba, 2008).


b. Kehamilan pertama setelah 3 tahun atau lebih pernikahan
c. Kehamilan kelima atau lebih
Menurut Manuaba (2008) paritas atau para adalah wanita yang pernah melahirkan
dan di bagi menjadi beberapa istilah :
-

Primipara yaitu wanita yang telah melahirkan sebanyak satu kali

Multipara yaitu wanita yang telah pernah melahirkan anak hidup beberapa
kali, di mana persalinan tersebut tidak lebih dari lima kali

Grandemultipara yaitu wanita yang telah melahirkan janin aterm lebih dari
lima kali.

d. Kehamilan dengan jarak antara di atas 5 tahun atau kurang dari 2 tahun.
Pada kehamilan dengan jarak < 3 tahun, keadaan endometrium mengalami
perubahan, perubahan ini berkaitan dengan persalinan sebelumnya yaitu
timbulnya trombosis, degenerasi dan nekrosis di tempat implantasi plasenta.

Adanya kemunduran fungsi dan berkurangnya vaskularisasi pada daerah


endometrium pada bagian korpus uteri mengakibatkan daerah tersebut kurang
subur sehingga kehamilan dengan jarak < 3 tahun dapat menimbulkan kelainan
yang berhubungan dengan letak dan keadaan plasenta.
e. Tinggi badan ibu kurang dari 145 cm dan ibu belum pernah melahirkan bayi
cukup bulan dan berat normal.
Wanita hamil yang mempunyai tinggi badan kurang dari 145 cm, memiliki resiko
tinggi mengalami persalinan secara prematur, karena lebih mungkin memiliki
panggul yang sempit.
f. Kehamilan dengan penyakit (hipertensi, diabetes, tiroid, jantung, paru, ginjal, dan
penyakit sistemik lainnya).
Kondisi sebelum hamil seperti hipertensi kronis, diabetes, penyakit ginjal atau
lupus, akan meningkatkan risiko terkena preeklamsia. Kehamilan dengan
hipertensi esensial atau hipertensi yang telah ada sebelum kehamilan dapat
berlangsung sampai aterm tanpa gejala mejadi pre-eklamsi tidak murni. Penyakit
diabetes mellitus dapat menimbulkan pre-eklamsi dan eklamsi begitu pula
penyakit ginjal karena dapat meingkatkan tekanan darah sehingga dapat
menyebabkan pre-eklamsi.
g. Kehamilan dengan keadaan tertentu (mioma uteri, kista ovarium)
Mioma uteri dapat mengganggu kehamilan dengan dampak berupa kelainan letak
bayi dan plasenta, terhalangnya jalan lahir, kelemahan pada saat kontraksi rahim,
pendarahan yang banyak setelah melahirkan dan gangguan pelepasan plasenta,
bahkan bisa menyebabkan keguguran. Sebaliknya, kehamilan juga bisa
berdampak memperparah mioma uteri. Saat hamil, mioma uteri cenderung
membesar, dan sering juga terjadi perubahan dari tumor yang menyebabkan
perdarahan dalam tumor sehingga menimbulkan nyeri. Selain itu, selama
kehamilan, tangkai tumor bisa terputar.
h. Kehamilan dengan anemia (Hb kurang dari 10,5 gr %)
Wanita hamil biasanya sering mengeluh sering letih, kepala pusing, sesak nafas,
wajah pucat dan berbagai macam keluhan lainnya. Semua keluhan tersebut
merupakan indikasi bahwa wanita hamil tersebut sedang menderita anemia pada

masa kehamilan. Penyakit terjadi akibat rendahnya kandungan hemoglobin dalam


tubuh semasa mengandung. Faktor yang mempengaruhi terjadinya anemia pada
ibu hamil adalah kekurangan zat besi, infeksi, kekurangan asam folat dan kelainan
haemoglobin. Anemia dalam kehamilan adalah suatu kondisi ibu dengan kadar
nilai hemoglobin di bawah 11 gr% pada trimester satu dan tiga, atau kadar nilai
hemoglobin kurang dari 10,5 gr% pada trimester dua. Perbedaan nilai batas diatas
dihubungkan dengan kejadian hemodilusi.
i. Kehamilan dengan riwayat bedah sesar sebelumnya.

Faktor Janin:

a. Kelainan letak janin (sungsang, lintang, oblique/diagonal, presentasi muka)


b. Janin besar (taksiran lebih dari 4000 gram)
c. Janin ganda (kembar)
d. Janin dengan pertumbuhan yang terhambat
e. Janin kurang bulan (prematur)
f. Janin dengan cacat bawaan/kelainan kongenital
g. Janin meninggal dalam rahim. (Manuaba, 2008)
2.2.3 Dampak Kehamilan Risiko Tinggi
a. Keguguran
Keguguran dapat terjadi secara tidak disengaja. misalnya : karena terkejut, cemas,
stres. Tetapi ada juga keguguran yang sengaja dilakukan oleh tenaga non
profesional sehingga dapat menimbulkan akibat efek samping yang serius seperti
tingginya angka kematian dan infeksi alat reproduksi yang pada akhirnya dapat
menimbulkan kemandulan.
b. Persalinan prematur, berat badan lahir rendah (BBLR) dan kelainan bawaan.
Prematuritas terjadi karena kurang matangnya alat reproduksi terutama rahim
yang belum siap dalam suatu proses kehamilan, berat badan lahir rendah (BBLR)
juga dipengaruhi oleh kurangnya gizi saat hamil dan juga umur ibu yang belum
20 tahun. Cacat bawaan dipengaruhi oleh kurangnya pengetahuan ibu tentang
kehamilan, pengetahuan akan asupan gizi sangat rendah, pemeriksaan kehamilan

(ANC) yang kurang, keadaan psikologi ibu kurang stabil. Selain itu cacat bawaan
juga di sebabkan karena keturunan (genetik) proses pengguguran sendiri yang
gagal, seperti dengan minum obat-obatan (gynecosit sytotec) atau dengan loncatloncat dan memijat perutnya sendiri.
c. Mudah terjadi infeksi.
Keadaan gizi buruk, tingkat sosial ekonomi rendah, dan stress memudahkan
terjadi infeksi saat hamil terlebih pada kala nifas.
d. Anemia kehamilan / kekurangan zat besi.
Penyebab anemia pada saat hamil disebabkan kurang pengetahuan akan
pentingnya gizi pada saat hamil karena pada saat hamil mayoritas seorang ibu
mengalami anemia. Tambahan zat besi dalam tubuh fungsinya untuk
meningkatkan jumlah sel darah merah, membentuk sel darah merah janin dan
plasenta. Lama kelamaan seorang yang kehilangan sel darah merah akan menjadi
anemis.
e. Keracunan Kehamilan (Gestosis).
Kombinasi keadaan alat reproduksi yang belum siap hamil dan anemia makin
meningkatkan terjadinya keracunan hamil dalam bentuk pre-eklampsia atau
eklampsia. Pre-eklampsia dan eklampsia memerlukan perhatian serius karena
dapat menyebabkan kematian.
f. Kematian ibu yang tinggi
Kematian ibu pada saat melahirkan banyak disebabkan karena perdarahan dan
infeksi. Selain itu angka kematian ibu karena keguguran juga cukup tinggi yang
kebanyakan dilakukan oleh tenaga non profesional (dukun) (Manuaba, 2008).
2.3 Skor Poedji Rochjati
Skor Poedji Rochjati adalah suatu cara untuk mendeteksi dini kehamilan yang memiliki
risiko lebih besar dari biasanya baik bagi ibu maupun bayinya, serta memperkirakan jika
adanya kemungkinan untuk terjadi penyakit atau kematian sebelum maupun sesudah
persalinan. Ukuran risiko dituangkan dalam bentuk angka. Skor merupakan bobot
perkiraan dari berat atau ringannya risiko atau bahaya. Jumlah skor memberikan

10

pengertian tingkat risiko yang dihadapi oleh ibu hamil. Berdasarkan jumlah skor,
kehamilan dibagi menjadi tiga kelompok:

Kehamilan risiko rendah (KRR): jumlah skor 2

Kehamilan risiko tinggi (KRT): jumlah skor 6-10

Kehamilan risiko sangat tinggi (KRST): jumlah skor 12

2.3.1 Tujuan Sistem Skor

Membuat pengelompokkan dari ibu hamil (KRR, KRT, KRST) agar berkembang
perilaku sesuai dengan kondisi dari ibu hamil.

Melakukan pemberdayaan ibu hamil, suami, keluarga dan masyarakat agar peduli
dan memberikan dukungan dan bantuan untuk kesiapan mental, biaya dan
transportasi untuk melakukan rujukan terencana.

2.3.2 Fungsi Skor

Alat komunikasi, informasi dan edukasi bagi ibu hamil, suami, keluarga dan
masyarakat karena mudah diterima, diingat dan dimengerti sebagai ukuran
kegawatan kondisi ibu hamil dan menunjukkan adanya kebutuhan pertolongan
untuk rujukan. Dengan demikian akan berkembang perilaku untuk kesiapan
mental, biaya dan transportasi ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan
yang adekuat.

Sebagai alat peringatan bagi petugas kesehatan agar lebih waspada karena jika
lebih tinggi jumlah skor, maka dibutuhkan penilaian/pertimbangan klinis yang
lebih intensif pada ibu risiko tinggi.

2.3.3 Cara Pemberian Skor


Tiap kondisi ibu hamil (usia ibu dan paritas) serta faktor risiko diberi nilai 2, 4 dan 8.
Usia ibu dan paritas pada semua ibu hamil diberi skor 2 sebagai skor awal. Tiap faktor
risiko adalah 4 kecuali bekas sesar, letak sungsang/lintang, perdarahan ante partum dan

11

preeklamsi berat/eklamsi diberi skor 8. Tiap faktor risiko dapat dilihat pada gambar yang
ada pada Kartu Skor Poedji Rochjati (KSPR) yang telah disusun dengan format
sederhana agar mudah dicatat dan diisi.

Gambar 2: Kartu Skor Poedji Rochjati

12

Keterangan:

Ibu hamil dengan skor 6 atau lebih dianjurkan untuk bersalin ditolong oleh tenaga
kesehatan.

Bila skor 12 atau lebih, dianjurkan bersalin di RS/dengan spesialis kebidanan.

KRR: tempat persalinan dapat dilakukan di rumah maupun di polindes, tetapi


penolong persalinan harus bidan, dukun membantu perawatan nifas bagi ibu dan
bayinya.

13

KRT: ibu hamil diberi penyuluhan agar pertolongan persalinan oleh bidan atau
dokter puskesmas (di polindes/puskesmas) atau langsung dirujuk ke rumah sakit
misalnya pada letak lintang dan ibu primi dengan tinggi badan rendah.

KRST: ibu hamil diberi penyuluhan untuk melahiran di rumah sakit dengan alat
yang lengkap dan dibawah pengawasan dokter spesialis.

14

BAB III
METODE MINI PROJECT
3.1 Sasaran Kegiatan
Kegiatan diikuti oleh ibu-ibu hamil di 6 jorong (Nagari Sialang Gaung, Nagari Koto
Padang, Jorong Tarantang, Jorong Padang Bintungan, Jorong Seberang Piruko Timur,
Jorong Koto Koto Baru) yang berada di wilayah kerja Puskesmas Koto Baru. Kegiatan
juga diikuti oleh ibu-ibu kader kesehatan serta bidan desa setempat.
3.2 Bentuk Kegiatan
Sarana untuk belajar bersama secara berkelompok, diskusi dan tukar pengalaman tentang
kesehatan ibu hamil, dalam bentuk tatap muka yang bertujuan untuk meningkatkan
pengetahuan dan keterampilan ibu-ibu mengenai kehamilan, persalinan, nifas, KB
pascapersalinan, pencegahan komplikasi, perawatan bayi baru lahir dan aktivitas
fisik/senam ibu hamil. Selain itu, dilakukan juga skrining risiko kehamilan pada ibu-ibu
hamil yang mengikuti kegiatan ini dengan menggunakan kartu skor Poedji Rochjati
(KSPR). Materi-materi yang disampaikan pada kelas ibu hamil adalah:
3.3 Pelaksanaan Kegiatan

No. Hari/Tanggal
1.
Sabtu, 11 Mei
2013
2.
Jumat, 17 Mei
2013

Tempat
Puskesmas Koto
Baru
Nagari Sialang
Gaung

Kegiatan
Pelaksana
Perencanaan Kegiatan dengan Bidan
dr. Yurnisa Fauziah
Koordinator KIA
Hj. Indrawati
Pengenalan Kelas Ibu Hamil dan Materi I dr. Sari Dewi
Hj. Indrawati
Mira Deswita
Hj. Khairiyetti

3.

Nagari Koto
Padang

Pengenalan Kelas Ibu Hamil, Materi I


dan Penyuluhan Gizi Ibu Hamil

Rabu, 22 Mei
2013

dr. Yurnisa Fauziah


Hj. Indrawati
Mira Deswita
Bidan Ria Okta Zolla

15

4.

Jumat, 24 Mei
2013

Nagari Sialang
Gaung

Materi II dan Pemeriksaan Darah (Hb,


Golongan Darah)

5.

Senin, 27 Mei
2013

Jorong Tarantang Pengenalan Kelas Ibu Hamil dan Materi I dr. Yurnisa Fauziah
Hj. Indrawati
Bidan Oma Wanides

6.

Jumat, 31 Mei
2013

Puskesmas Koto
Baru

7.

Senin, 3 Juni
2013

Jorong Tarantang Materi II dan Pemeriksaan Darah (Hb,


Golongan Darah)

dr. Yurnisa Fauziah


Ria Anggraini
Bidan Oma Wanides

8.

Senin, 10 Juni
2013

Nagari Sialang
Gaung

dr. Yurnisa Fauziah


Hj. Khairiyetti

9.

Jumat, 14 Juni
2013

Jorong Tarantang Materi III, IV dan Senam Ibu Hamil

10.

Senin, 17 Juni
2013

Nagari Koto
Padang

Materi II, Penyuluhan IMD, Senam Ibu


Hamil dan Skrining Ibu Hamil Risti

11.

Sabtu, 22 Juni
2013

Jorong Koto
Koto Baru

Pengenalan Kelas Ibu Hamil, Materi I, II


dan Senam Ibu Hamil

dr. Yurnisa Fauziah


Hj. Indrawati
Bidan Desi Hernita

12.

Senin, 24 Juni
2013

Nagari Koto
Padang

Materi III, IV dan Pemeriksaan Darah


(Hb, Golongan Darah)

dr. Yurnisa Fauziah


Hj. Indrawati
Ria Anggraini
Bidan Ria Okta Zolla

13.

Jumat, 12 Juli
2013

Jorong Padang
Bintungan

Pengenalan Kelas Ibu Hamil, Materi I


dan Skrining Ibu Hamil Risti

dr. Yurnisa Fauziah


Hj. Indrawati

14.

Senin, 15 Juli
2013

Jorong Seberang
Piruko Timur

Pengenalan Kelas Ibu Hamil, Materi I


dan Skrining Ibu Hamil Risti

dr. Yurnisa Fauziah


Hj. Indrawati
Bidan Wirna Puspita S

Diskusi Kegiatan Miniproject dan

Materi III, IV dan Skrining Ibu Hamil


Risti

dr. Yurnisa Fauziah


Sri Suharlina
Hj. Khairiyetti

Kepala Puskesmas
Pendamping Dokter I
Dokter Internship

dr. Yurnisa Fauziah


Hj. Indrawati
Bidan Oma Wanides
dr. Yurnisa Fauziah
Hj. Indrawati
Bidan Ria Okta Zolla

16

15.

Senin, 22 Juli
2013

Jorong Seberang
Piruko Timur

Materi II, III dan Senam Ibu Hamil

dr. Yurnisa Fauziah


Hj. Indrawati
Bidan Wirna Puspita S

BAB IV
HASIL MINI PROJECT
Nagari Sialang Gaung
No.
Nama Ibu Hamil
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.

Umur

Usia Kehamilan
minggu
minggu
minggu
minggu
minggu
minggu
minggu
minggu
minggu
minggu

Hb (gr/dl)

Skor Skrining

Nagari Koto Padang


No. Nama Ibu Hamil
1.
Diana
2.
Meta
3.
Yarna
4.
Pita
5.
Feni
6.
Upik
7.
Yulinda
8.
Sawi
9.
Linda
10. Erga

Usia Kehamilan
24 minggu
27 minggu
12 minggu
14 minggu
24 minggu
12 minggu
13 minggu
11 minggu
17 minggu
18 minggu

Hb (gr/dl)
11.8
10.6
12
9.6
9.4
10.4
8
8
8
11.7

Skor Skrining
2
2
2
6
6
6
18
6
10
2

Jorong Tarantang
No. Nama Ibu Hamil
1.
Betria
2.
Susi
3.
Wanti
4.
Hesti
5.
Aina
6.
Ririn

Usia Kehamilan
20 minggu
24 minggu
24 minggu
28 minggu
14 minggu
28 minggu

Hb (gr/dl)
8.8
9.0
9.0
9.0
8.4
9.2

Skor Skrining
6
6
6
6
6
6

17

Jorong Padang Bintungan


No. Nama Ibu Hamil
1.
Sariyati
2.
Nita Anggriani
3.
Dwi Rahmawati
4.
Endang Siti
5.
Sri Rahayu
6.
Heru Rahmawati
7.
Melan Afriani
8.
Sri Winarni

Usia Kehamilan
24 minggu
24 minggu
32 minggu
28 minggu
16 minggu
12 minggu
12 minggu
16 minggu

Skor Skrining
22
6
6
14
10
2
2
10

Jorong Seberang Piruko Timur


No. Nama Ibu Hamil
Usia Kehamilan
1.
Susri Novita
20 minggu
2.
Replita
8 minggu
3.
Wisna
20 minggu
4.
Eli
16 minggu
5.
Rina Prima
32 minggu
6.
Siska Mega
34 minggu
7.
Aziza
24 minggu
8.
Rini
14 minggu
9.
Susri
16 minggu
10. Leni
20 minggu
11. Imel
8 minggu
12. Wiwi
6 minggu

Skor Skrining
6
2
2
6
2
2
2
2
2
2
2
2

Grafik Skor Risiko Ibu Hamil di Wilayah Kerja Puskesmas Koto Baru
120

100

90

100

83.3

80
60
40
20
0

50

4040
0

10

Sialang
Gaung

2525

20
0
Koto
Padang

Tarantang

P.
Bintungan

KRR
16.7
0

KRT
KRST

S. Piruko

Nagari

BAB V
DISKUSI
18

Dari hasil diskusi bersama pengelola KIA Puskesmas Koto Baru diperoleh bahwa
kegiatan kelas ibu hamil dan skrining risiko kehamilan ini bermanfaat bagi masyarakat di
wilayah kerja Puskesmas Koto Baru, terutama ibu-ibu hamil. Materi-materi yang
disampaikan secara menyeluruh dan terencana sesuai dengan pedoman kelas ibu hamil
yang memuat mengenai (1) pemeriksaan kehamilan, (2) persalinan aman, (3) pencegahan
penyakit, komplikasi kehamilan, persalinan, dan nifas, (4) perawatan bayi baru lahir,
serta (5) aktivitas fisik ibu hamil.
Dewasa ini penyuluhan kesehatan Ibu dan Anak pada umumnya masih banyak
dilakukan melalui konsultasi perorangan atau kasus per kasus yang diberikan pada waktu
ibu memeriksakan kandungan ke bidan atau petugas lain atau pada kegiatan posyandu.
Kegiatan penyuluhan semacam ini bermanfaat untuk menangani kasus per kasus namun
memiliki kelemahan antara lain:

Pengetahuan yang diperoleh hanya terbatas pada masalah kesehatan yang dialami
saat konsultasi.

Penyuluhan yang diberikan tidak terkoordinir sehingga ilmu yang diberikan


kepada ibu hanyalah pengetahuan yang dimiliki oleh petugas saja.

Pelaksanaan penyuluhan tidak terjadwal dan tidak berkesinambungan.


Deteksi dini ibu hamil risiko tinggi melalui kartu skor Poedji Rochjati pada semua

ibu hamil yang mengikuti kelas ibu hamil dapat memberikan gambaran tentang kondisi
kehamilan ibu-ibu di wilayah kerja Puskesmas Koto Baru. Deteksi dini ini mempunyai
manfaat yang besar terhadap penurunan angka kematian ibu dan bayi karena ibu hamil
tersebut telah mengetahui keadaan kehamilannya sehingga dapat mengantisipasi
kemungkinan yang akan terjadi selain dapat mengambil keputusan mengenai tempat dan
penolong persalinan yang sesuai dengan kondisi ibu hamil tersebut.
Oleh itu, jelas sekali ada banyak manfaat yang bisa diperoleh melalui kelas ibu
hamil ini. Sangat diharapkan program kelas ibu hamil dan skrining risiko pada kehamilan
ini dapat dilanjutkan dengan perbaikan-perbaikannya sesuai dengan evaluasi yang
dilakukan.
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN
19

Dari kelas ibu hamil yang diadakan di 6 jorong di wilayah kerja Puskesmas Koto Baru
didapatkan bahwa sebagian besar ibu hamil memiliki risiko dalam kehamilan mereka.
Sebagai contoh, di jorong Sialang Gaung, dari 10 orang ibu hamil yang menjadi peserta,
semua ibu hamil yang menjadi peserta memiliki risiko dengan kehamilan mereka karena
dari penghitungan skor skrining didapatkan nilai sebanyak 6-10. Kebanyakan ibu hamil
yang termasuk dalam kategori risiko tinggi adalah ibu dengan usia terlalu muda (< 16
tahun) atau terlalu tua (> 35 tahun). Selain itu juga ada beberapa ibu yang memiliki
riwayat obstetri yang jelek yaitu pernah mengalami retensio plasenta dan abortus
sehingga menyebabkan angka skor mereka lebih tinggi. Anemia juga merupakan masalah
besar pada ibu hamil di wilayah kerja Puskesmas Koto Baru. Didapatkan 9 daripada 10
ibu di Nagari Sialang Gaung menderita anemia karena setelah pemeriksaan Hb
didapatkan nilai dibawah 11 gr/dl. Hal ini merupakan suatu masalah yang baru ditemukan
yang harus dicarikan solusinya.
Berikutnya didapatkan masih banyak masyarakat di Koto Baru yang mempercayai
mitos-mitos yang diajarkan oleh nenek moyang mereka contohnya, tidak boleh berdiri
lama di pintu rumah karena dikawatiri akan menyebabkan proses persalinan berlangsung
lama. Selain itu juga terdapat larangan untuk memakan kerupuk kulit karena dapat
menyebabkan kulit plasenta tebal selain larangan untuk makan cabai setelah melahirkan.
Ada juga ibu hamil yang menyebutkan larangan tentang makan sayur-sayuran berkuah
karena dapat menyebabkan proses nifas berlangsung lama yang jelas sekali bertentangan
dengan teori medis yang telah dipelajari dan dapat memberi efek buruk kepada ibu dan
bayi. Hal ini merupakan tantangan bagi tenaga kesehatan untuk mengubah pola pikir ibuibu hamil beserta keluarganya agar kehamilan, persalinan, dan masa nifas ibu-ibu di Koto
Baru berjalan aman dan nyaman.
Saran bagi kegiatan ini adalah semoga kegiatan ini dapat dilanjutkan dengan
tambahan monitoring dan evaluasi dalam rangka melihat perkembangan dan pencapaian,
serta masalah dalam pelaksanaan kelas ibu hamil yang mana hasil monitoring dapat
dijadikan bahan acuan untuk perbaikan dan pengembangan kelas ibu hamil selanjutnya.
Hal-hal yang perlu di monitor adalah:

20

Peserta: keadaan dan minat peserta, kehadiran peserta dan keaktifan dalam
bertanya

Sarana/prasarana: tempat dan fasilitas belajar

Fasilitator: persiapan, penyampaian materi, penggunaan alat bantu, membangun


suasana belajar aktif

Waktu: mulai tepat waktu, efektif


Evaluasi pula dilakukan setiap selesai pertemuan kelas ibu hamil oleh bidan

setempat/bidan koordinator. Sebelum penyajian materi pada setiap pertemuan sebaiknya


dimulai dengan melakukan penjajakan pengetahuan awal peserta dengan cara
memberikan pertanyaan kepada peserta yang diminta menjawab secara bergilir. Setelah
selesai penyampaian semua materi pertemuan dilakukan evaluasi akhir untuk melihat
peningkatan pengetahuan peserta pada akhir pertemuan kelas ibu hamil. Oleh itu,
diharapkan dapat dibentuk sebuah tim pelaksana kelas ibu hamil sehingga tidak hanya
menjadi tanggungjawab bidan koordinator. Sebaiknya seluruh bidan desa di wilayah kerja
Puskesmas Koto Baru dapat dilatih untuk menjadi fasilitator kelas ibu hamil.
Selain itu juga diharapkan pada kelas ibu hamil periode berikutnya dapat juga
melibatkan suami/keluarga dari ibu hamil, serta dukun beranak setempat untuk
menambah pengetahuan mereka. Kelas ibu hamil ini dapat disosialisasikan dengan tokoh
agama dan tokoh masyarakat, sebelum dilaksanakan. Melalui kegiatan sosialisasi ini
diharapkan semua unsur masyarakat dapat memberikan respon dan dukungan sehingga
kelas ibu hamil dapat dikembangkan dan berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Tokoh
masyarakat dan tokoh agama ini berperan memotivasi ibu hamil dan keluarganya agar
mau mengikuti kelas ibu hamil dan memberikan informasi tentang kelas ibu hamil pada
masyarakat khususnya keluarga ibu hamil atau memberikan dukungan fasilitas bagi kelas
ibu hamil dan lain-lain.

DAFTAR PUSTAKA

21

1. Depkes RI. Pegangan Fasilitator Kelas Ibu Hamil. Jakarta: Departemen Kesehatan
RI, 2009.
2. Depkes RI. Pedoman Pelaksanaan Kelas Ibu Hamil. Jakarta: Departemen
Kesehatan RI, 2009.
3. Depkes RI. Pelatihan Kelas Ibu Hamil. Jakarta: Departemen Kesehatan RI, 2009.
4. Depkes RI. Pedoman Umum Manajemen Kelas Ibu Hamil. Jakarta: Departemen
Kesehatan RI, 2009.
5. Statistik Indonesia, Susenas 2010: National Socio-Economic Survey. Jakarta:
BPS, 2012.
6. Manuaba, IBG, LA, Chandranita Manuaba dan IBG Fajar Manuaba. Pengantar
Kuliah Obstetri. Jakarta: Buku Kedokteran EGC, 2008.
7. Saifudin A. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal.
Jakarta: Yayasan Bina Pustaka. 2010.
8. Cunningham F, Norman F, Kenneth J dkk. Obstetri Williams. Jakarta: Penerbit
Buku Kedokteran EGC. 2005.

22