Anda di halaman 1dari 19

Pengembangan Hukum Teoritis Di Indonesia

Dimuat Oleh Yusa Dibrata

Pengembangan Hukum Teoretis di Indonesia


(Dalam Kajian Teori Dan Praktik Pengadilan)
Oleh H.Syarif Mappiasse,Hakim Tinggi PTA Jakarta

I.

Pendahuluan
Pengembangan hukum teoretis di Indonesia, baik melalui proses legislasi
maupun melalui praktik pengadilan, maka pembicaraan kita tidak lepas dari apa yang
disebut dengan hukum dan bagaimana memahami dan mengaplikasikan ke dalam
kasus konkrit secara intelektual, bermetode, logik, sistematik, rasional dan kritikal,
yang meliputi (1) Kajian ilmu-ilmu hukum; (2) Kajian teori hukum; dan (3) Kajian
filsafat hukum.
Kajian ilmu-ilmu hukum meliputi tatanan hukum normatif yang berlaku positif
di Indonesia maupun ilmu-ilmu hukum dalam tataran dogmatik hukum yang meliputi
pula interpretasi, dan konstruksi serta teori-teori tentang argumentasi hukum;
sedangkan kajian ilmu-ilmu hukum empirik, meliputi perbandingan hukum, sosiologi
hukum, sejarah hukum, antropologi hukum dan psikologi hukum.
Kajian teori hukum adalah juga tatanan hukum positif yang meliputi analisis
tentang pengertian hukum, asas-asas dan kaidah-kaidah hukum, analisis konsep
yuridis, hubungan antara hukum dan logika, teori argumentasi dan metode penemuan
hukum yang meliputi metode interpretasi dan metode konstruksi.
Kajian filsafat hukum adalah bagian dari dan dipengaruhi oleh filsafat umum
dan teori ilmu hukum yang bersifat ekstra yuridis dan kritis yang inti persoalannya
meliputi landasan daya ikat dari hukum serta landasan penilaian keadilannya.
Untuk membangun teori hukum melalui praktik pengadilan yang obyek
kajiannya meliputi ilmu hukum, teori hukum dan filsafat hukum yang merupakan satu
kesatuan yang holistik, secara bermetode membentuk suatu argumentasi hukum untuk
memecahkan kasus konkrit dan akhirnya membentuk suatu teori hukum melalui
yurisprudensi.

I.

Pembahasan

A. Beberapa Pengertian tentang hukum


1. Roscoe Pound telah memperkenalkan sebuah konsep bahwa hukum adalah as a
tool of social engineering (hukum sebagai sarana pembaharuan). Konsep ini
kemudian ditransformasikan oleh Prof. Mochtar Kusumaatmadja, menjadi dasar
dalam pengambilan kebijakan pembaharuan dan pembangunan hukum nasional
Indonesia ketika Beliau menjabat sebagai Menteri Kehakiman RI.
Konsep law dalam law as a tool of social engineering menurut Pound,
adalah berarti hukum yang dibuat oleh hakim (judge made law)[1] yang dalam hal
ini dapat diartikan peran hakim sebagai pembaharu masyarakat.
Dasar pemikiran Roscoe Pound dalam bukunya yang berjudul Interpretation
of legal history, memberi pengertian tentang engineering interpretation, adalah
usaha-usaha yang dilakukan oleh kalangan pemikir hukum untuk menemukan
nilai-nilai dan norma-norma yang ada dalam masyarakat yang selalu mengalami
perubahan seiring dengan perkembangan dan pertumbuhan masyarakat, untuk
selanjutnya nilai-nilai diadaptasikan oleh para legislator dan praktisi hukum dalam
menyelesaikan dan mengambil kebijakan terhadap konflik yang terjadi di tengahtengah masyarakat dengan mengacu kepada tercapainya cita-cita dan tujuan
hukum[2].
Pound selanjutnya memperlihatkan usahanya untuk mengungkapkan
mengapa hukum itu selalu dinamis dengan mendasari nilai-nilai dan normanorma yang ada dan berkembang dalam masyarakat yang selalu berubah-ubah itu
membuat Pound berasumsi bahwa hukum itu relatif, karena itu hukum memiliki
sifat universal karena memiliki satu ide yaitu keadilan (keseimbangan). [3]
Pound telah memperhatikan dua konsep hukum yang bertolak belakang
yaitu konsep hukum dari ajaran Hegel yang menyebabkan pesimistis dan stagnasi
bagi peradilan; sedangkan ajaran Kohler yang menhendaki interpretasi untuk
semua kasus sehingga akan menimbulkan ketidakpastian hukum. [4] Bertitik
tolak dari kedua ajaran yang berbeda tersebut, akhirnya Pound menawarkan
teori baru yang disebut terminisme logika. Pound mengemukakan bahwa
analogi baru dapat dilakukan oleh hakim jika telah terjadi perubahan sosial
sebelumnya. Tetapi hakim yang melakukan analogi dalam mengadili kasus-kasus

yang dihadapi, terlebih dahulu melakukan interpretasi terhadap kasus tersebut


sehingga hakim dapat memutus secara seimbang.[5]
Mochtar Kusumaatmadja berbeda pendapat dengan Pound, Mochtar
berpendapat bahwa sumber utama kaidah hukum di Indonesia yang terpengaruh
oleh tradisi civil law system adalah peraturan perundang-undangan, bukan putusan
hakim (judge made law) sebagaimana dalam tradisi common law system.[6]
2. Hukum menurut John Austin
John Austin lahir pada tahun 1790 di Sufflok, dari keluarga kaum pedagang,
pernah berdinas tentara dan ditugaskan di Sisilia dan Marta, namun ia juga belajar
hukum. Pada tahun 1818 bekerja sebagai advokat. Selanjutnya menjadi ilmuan
hukum sebagai guru besar bidang jurisprudence di London. Kemudian
mengundurkan diri sebagai Profesor lalu menjabat jabatan penting di lembaga
kerajaan yaitu pada Criminal Law Commission dan Royal Commission untuk Malta.
Walaupun ia seorang yuris Inggris, tetapi kuliahnya di Jerman (Born) telah
memberi bukti yang penting tentang pengaruh pemikiran politik dan hukum
Eropah Kontinental pada dirinya. Kumpulan kuliahnya diterbikan menjadi buku
berjul The province of jurisprudence determined pada tahun 1832. Karyanya yang
lain berjudul Lectures on jurisprudence yang diterbitkan oleh istrinya yang
bernama SARAH pasca Austin tutup usia tahun 1859. John Austin diakui sebagai
ahli hukum pertama yang memperkenalkan positivisme hukum sebagai sistem.
Positivisme hukum dalam definisinya yang paling tradisional tentang hakikat
hukum, memaknainya sebagai norma-norma positif dalam sistem perundangundangan. Berbeda dengan aliran hukum kodrat yang sibuk dengan uji validitas
hukum buatan manusia dimana standar regulasinya adalah kitab suci dari agama
samawi, sedangkan positivisme hukum yang walaupun melakukan juga uji
validitas hukum akan tetapi standar regulasinya adalah juga undang-undang yang
lebih tinggi yang disebut konstitusi. Hans Kelsen telah menjelaskan tentang adanya
sistem hierarki dari norma-norma positif. Yang disebut Grund norm (norma dasar)
yang kemudian diambil alih oleh Hans Nawiasky dengan Staats fundamental
norm.[7]
3. Beberapa konsep tentang hukum

Para teoritisi hukum telah mencatat sekurang-kurangnya 4 konsep yang


harus diperhatikan oleh setiap pengkaji di bidang hukum sebelum mereka
mengkomunikasikan tentang apakah yang disebut hukum itu.
Beberapa konsep hukum akan dipaparkan pada berikut ini:
a. Hukum dikonsepkan sebagai asas keadilan dalam sistem moral yang secara
kodrati berlaku universal. Dalam proses legislasi yang juga disebut proses
positivisasi, asas moral yang secara unversal merupakan kepribadian bangsa
disebut ius constituendum sebagai asas kebenaran moral yang kemudian dibentuk
menjadi hukum positif dalam bentuk ius constitutum (asas moral keadilan) yang
telah menjadi hukum (norma positif).
b. Hukum modern yang dikonsepkan sebagai hukum nasional (undang-undang
in abstrakto amar putusan hakim in conkreto). Hukum negara lebih
mengutamakan nilai kepastian.
c. Hukum dalam manifestasinya sebagai pola prilaku dalam kehidupan
bermasyarakat. Hukum dalam konsepnya sebagai asas-asas keadilan yang terpola
dalam prilaku kehidupan masyarakat sehari-hari, ditunjuk oleh undang-undang
untuk digali sebagai nilai-nilai hukum yang hidup tumbuh dan berkembang di
dalam masyarakat untuk kemudian dipahami dan diikuti sama seperti ketentuan
hukum positif dalam menyelesaikan kasus konkrit di pengadilan.
d. Hukum dikonsepkan sebagaimana dimaknakan oleh penegak hukum
(struktur hukum) khususnya oleh hakim dalam kegiatannya pada proses penemuan
hukum.
4. Hukum dalam pengertian mengadili menurut hukum. Tentang pengertian
hukum dalam mengadili menurut hukum, dapat diartikan sebagai berikut:
Pertama :

mengadili menurut hukum adalah berarti mengadili menurut


ketentuan hukum tertulis dan hukum tidak tertulis, termasuk pula
hukum yang lahir dari sebuah perjanjian yang mengikat para pihak
sebagai undang-undang (1338 BW); Kesusilaan dan ketertiban umum
(1337 BW); dan keharusan memperhatikan kepatutan (1339 BW);

Kedua

mengadili menurut hukum dapat pula berarti menurut perwujudan


asas legalitas dan asas non retroaktif, juga pembatasan sebagaimana

dalam pasal 178 HIR/189 RBG.


Ketiga

mengadili menurut hukum adalah berarti mengadili menurut


ketentuan normatif, dalam hal normatif tidak dapat memecahkan
permasalahan

fakta

hukum

maka

ilmu

hukum

atau

filsafat

hermeneutika dan konstruktifisme kritis tampil memecahkan kebekuan


normatif tersebut.
Keempat :

mengadili menurut hukum dalam keterkaitan normatif dan sosiologis;


maka teori hukum dan filsafat hukum akan memecahkan kebekuan
normatif, dengan bersandar pada ajaran positivisme seperti ajaran
Reine Rechtslehre atau The Pure Theory of Law atau teori murni
tentang hukum menurut Hans Kelsen, dan selanjutnya pandangan
sosiologis tentang hukum yang didukung oleh pandangan filsafat
hukum seperti sosiological jurisprudence, teori tentang sosiologi hukum
ini juga dipelopori oleh Eugen Ehrlich di Eropa yang memisahkan
antara law in books dan law in action, di Amerika Serikat dipelopori
oleh Roscoe Pound dengan teorinya law as a tool of social engineering.

B. PENGEMBANGAN HUKUM TEORETIS


1. Ilmu-ilmu hukum
Obyek kajian dalam paragraf ini adalah tatanan hukum positif yang
berorientasi pada penegakan hukum dan keadilan berdasarkan Pancasila dan
Undang-Undang

Dasar

Negara

Republik

Indonesia

Tahun

1945

demi

terselenggaranya Negara Hukum Republik Indonesia. Bernaard Arief Sidharta


menunjuk sedikitnya tiga ciri khas ilmu hukum nasional Indonesia yang harus
dikembangkan yaitu:
a.

Paradigma ilmu hukum Nasional Indonesia yang mengacu pada cita hukum
Pancasila, tujuan hukum pengayoman, konsepsi Negara Hukum Pancasila,
wawasan kebangsaan dan wawasan nusantara.

b.

Obyek pengolahan sistematisasinya adalah tatanan hukum nasional


Indonesia, tertulis maupun tidak tertulis.

c.

Kegunaan studi dan pengembangan ilmu hukum nasional Indonesia dewasa

ini adalah untuk pengembangan mutu penyelenggaraan hukum sehari-hari


dan pelaksanaan pembangunan tata hukum nasional Indonesia.[8]
Sedangkan pengembangan ilmu-ilmu hukum melalui praktik pengadilan
dalam hal fakta hukum tidak pas dengan aturan hukum yang mengaturnya
sehingga aturan hukum tersebut harus ditafsirkan terlebih dahulu, yang dalam
hal ini Edi Setiadi (Guru Besar Ilmu Hukum Pidana pada Universitas Islam
Bandung) memberi penjelasan bahwa:

Hakim bebas menafsirkan Undang-undang sesuai dengan social change and


economic condition. arah legal development of flexible

Melakukan penafsiran Undang-undang kearah legal development of flexible.

Mencari/menemukan kehendak pembuat Undang-undang.

Patokan dasar penafsiran adalah:

Memberi makna/menentukan arti Undang-undang.

Memberi isi konkrit ke dalam rumusan kaidah Undang-undang.

Mencipta hukum baru sesuai dengan kejadian konkrit.


Ada beberapa alasan mengapa penafsiran Undang-undang atau konstuksi

hukum diperlukan karena:


a.

Hakim tidak boleh menolak sesuatu perkara yang diajukan kepadanya


karena aturan hukum yang mengaturnya tidak jelas atau tidak ada,
melainkan hakim wajib menemukan hukumnya.

b.

Aturan hukum sudah ketinggalan sehingga tidak pas untuk memecahkan


kasus konkrit yang diajukan kepadanya.
Apa yang dimaksud dengan penemuan hukum atau pembentukan hukum,

oleh Edi Setiadi selanjutnya menjelaskan bahwa penemuan hukum adalah


pembentukan hukum; menurut Beliau Every time judge is confronted with a
legal problem should contruct a theory what the law
Penemuan hukum dalam hukum pidana dapat didefinisikan sebagai
berikut:

Penemuan hukum adalah proses pembentukan hukum oleh hakim atau

aparat hukum lainnya yang ditugaskan untuk menerapkan peraturan


hukum umum pada peristiwa konkrit.

Eikema Holmes, penemuan hukum adalah proses konkretisasi atau


individualisasi peraturan hukum yang bersifat umum dengan mengingat
peristiwa konkrit tertentu.

Penemuan hukum adalah sebuah reaksi terhadap situasi-situasi problematik


yang dipaparkan orang dalam peristilahan hukum.
Unsur-unsur terpenting dalam penemuan hukum adalah:

Hukum atau sumber hukum.

Fakta hukum.

Persoalan terbesar penemuan hukum dalam hukum pidana adalah cara


menemukan hukum tersebut, dengan jalan penafsiran dan larangan analogi.
Ada beberapa asas-asas umum yang harus dipahami terlebih dahulu
dalam melakukan penafsiran yaitu:
(1) Ada dua asas dalam prinsip regulasi yang saling terkait erat yaitu asas
proporsionalitas dan asas subsidiaritas.
(2)

Prinsip relevansi dalam

prinsip hukum pidana yaitu keberlakuan

hukum pidana yang hanya mempersoalkan penyimpangan


perilaku sosial

yang patut mendapat reaksi atau koreksi dari

sudut pandang hukum pidana.


Prinsip relevansi ini berpijak pada fungsi umum hukum pidana yang secara
tegas dinyatakan oleh Vos adalah bahwa hukum pidana adalah untuk
melawan kelakuan-kelakuan yang tidak normal.
(3)

Asas kepatutan dari Marten Luther bahwa kepatutanlah yang harus


menguji logika Juridis.

(4) Asas in dubio proreo, jika terdapat keraguan, kita harus memilih ketentuan
atau penjelasan yang paling menguntungkan terdakwa.
(5) Exeptio format regulan atau adagium exeptio frimat vim legis in casibus non
exceptis. Maksudnya: jika penyimpangan terhadap aturan umum dilakukan,
maka penyimpangan tersebut harus diartikan secara sempit.

(6) Prinsip titulus est lex dan rubrica est lex; judul perundang-undangan
yang menentukan dan rubrik atau bagian perundang-undanganlah yang
menentukan.
(7) Asas materil yang menyangkut aturan-aturan tidak tertulis yang mengacu
atau merujuk pada suatu nilai sosial etis penting. Asas ini mengandung
makna bahwa pada saat melakukan interpretasi terhadap suatu peraturan
perundang-undangan; Hakim harus memperhatikan asas tersebut selama
asas itu memang diakui dalam dunia hukum, sebagaimana dibuktikan dalam
doktrin atau yurisprudensi.
Asas materil ini berkaitan dengan sifat melawan hukum materil (SMHM).
sifat melawan hukum materil dalam fungsinya yang negatif dan SMHM dalam
fungsinya yang positif. SMHM dalam fungsinya yang negatif diartikan bahwa
meskipun suatu perbuatan memenuhi rumusan delik, jika menurut pandangan
yang hidup dalam masyarakat perbuatan itu bukan merupakan perbuatan yang
tercela berdasarkan asas-asas keadilan atau asas-asas hukum yang tidak tertulis
dan bersifat umum, maka perbuatan itu tidak dijatuhi pidana; SMHM dalam
fungsinya yang positif mengandung arti bahwa meskipun suatu perbuatan tidak
memenuhi rumusan delik, jika perbuatan tersebut dianggap bertentangan
dengan rasa keadilan dan nilai-nilai ketertiban dalam masyarakat, perbuatan
itu dapat dijatuhi pidana.
SMHM dalam fungsinya yang negatif merupakan alasan pemaaf dan telah
dianut dalam praktik pengadilan, sementara SMHM dalam fungsinya yang
positif pada dasarnya bertentangan dengan asas legalitas.
Interpretasi dalam hukum pidana menurut:

Code Penal Prancis, menetapkan La loi penale est dinterpretation stricte


yang berarti hukum pidana harus ditafsirkan secara sempit.

Jonkers berpendapat, prinsip-prinsip penafsiran dalam hukum perdata


sebagaimana termaktub dalam KUHPerdata juga dapat diterapkan dalam
hukum pidana.
Penemuan hukum yang dilakukan oleh ilmuan hukum disebut Doktrin;

sedangkan penemuan hukum yang dilakukan oleh Hakim yang berkaitan dengan
kasus konkrit yang ditanganinya disebut yurisprudensi.
Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi yurisprudensi:
(1) Judge decision in a particular case;
(2) The principles of law on which the decision in based;
(3) Putusan berhubungan dengan perkembangan hukum;
(4) Putusan tersebut belum diatur dalam undang-undang atau undang undang
kurang jelas.
Sedangkan fungsi yurisprudensi adalah untuk:
(1) Menegakkan terwujudnya law standard;
(2) Menciptakan unified legal framework dan unified legal opinion;
(3) Terciptanya kepastian penegakan hukum;
(4) Mencegah disparitas pidana
2. Teori Hukum
Menurut B. Arief Sidharta, teori hukum adalah disiplin hukum yang
secara kritis dalam persfektif interdisipliner menganalisis berbagai aspek dari
gejala hukum secara tersendiri dan dalam kaitan dengan keseluruhannya baik
dalam konsepsi teoretisnya maupun dalam pengolahan praktisnya, dengan
tujuan memperoleh pemahaman yang lebih baik dan penjelasan yang lebih
jernih atas bahan-bahan yuridis terberi.[9]
Pokok telaah teori hukum mencakup:
(1) Analisis tentang pengertian hukum, pengertian dan struktur sistem hukum,
sifat dan struktur norma hukum, pengertian dan fungsi asas-asas hukum,
pengertian serta interelasi konsep-konsep yuridis (misalnya: subyek hukum, hak,
kewajiban, hubungan hukum, peristiwa hukum, dan perikatan; (2) Ajaran
metode dari hukum yang mencakup teori argumentasi yuridis (teori penalaran
hukum), metode dari ilmu hukum dan metode penerapan hukum (metode
penemuan dan pembentukan hukum); (3) Ajaran ilmu (epistemologi) dari
hukum yang mempersoalkan keilmiahan dari ilmu hukum; dan (4) Kritik

ideologi yang mencakup kritik terhadap norma hukum positif dan menganalisis
norma hukum untuk mengungkapkan kepentingan dari ideologi yang melatar
belakanginya.[10]
Analisis tentang pengertian hukum telah dikemukakan di atas pada awal
pembahasan pada Bab ini, namun sekedar memperjelas, ditampilkan tentang
apa yang dimaksud hukum positif yaitu :

Hukum positif adalah hukum yang saat ini sedang berlaku dan mengikat secara
umum atau khusus dan ditegakkan oleh atau melalui pemerintah atau pengadilan
dalam Negara Indonesia.

Hukum positif (ius constitutum) termasuk di dalamnya hukum yang pernah


berlaku, dan ius contituendum atau hukum yang dicita-citakan yaitu hukum
yang didapati pada rumusan-rumusan hukum tetapi belum berlaku atau
peraturan perundang-undangan yang telah ditetapkan tetapi belum berlaku.

Terdapat beberapa unsur yang melekat pada hokum positif yaitu:

Hukum positif mengikat secara umum atau khusus. misalnya: Undangundang dan perjanjian, beschicking.

Hukum positif ditegakkan oleh atau melalui pemerintah dan pengadilan.


Asas penerapan hukum positif tidak boleh bertentangan dengan kepatutan,
keadilan, ketertiban umum dan kepentingan umum.

Hukum Positif berlaku dan ditegakkan di Indonesia.

Asas-asas penerapan hukum positif yaitu:


(1) Asas konstitusional;
(2) Asas non Retroaktif (tidak berlaku surut);
Secara prinsip, semua aturan berlaku ke depan, namun dalam hal tertentu
bisa saja aturan hukum itu berlaku surut dan menimbulkan keuntungan
misalnya dalam hal keringanan hukuman, kenaikan gaji yang berlaku surut.
Undang-undang bisa juga berlaku surut dengan tujuan memulihkan dan
menegakkan keadilan atas berbagai tindakan yang menusuk rasa keadilan
masyarakat seperti pelanggaran HAM berat. Akan tetapi pemberlakuan surut
itu harus didasarkan atas perintah undang-undang.

Asas pemberlakuan hukum yang lama yang disebut asas peralihan hukum
misalnya pemberlakuan Rv sebagai hukum acara dalam hal tidak diatur dalam
RBg/HIR karena dibutuhkan dalam praktek pengadilan, dalam hal ini terdapat
beberapa asas peralihan hukum yaitu:

Asas menerapkan hukum lama terhadap hubungan hukum dan peristiwa


hukum yang telah ada atau akan ada selama belum ada peraturan baru.

Aturan peralihan ini mengandung politik hukum dan politik seleksi.

Mengandung politik hukum yaitu untuk mengisi kekosongan hukum guna


kepastian hukum dan ketertiban hukum.

Sedangkan politik seleksi adalah untuk menyesuaikan penerapan hukum


lama dengan dasar-dasar, suasana dan tuntutan baru.
Demikian pula terdapat asas-asas yang dapat digunakan oleh hakim

dalam menyelesaikan konflik hukum yaitu:


a.

Lex superiori derogat legi inferiori

Hukum yang lebih tinggi diutamakan pelaksanaannya daripada hukum


yang lebih rendah.

Misalnya undang-undang lebih diutamakan daripada Peraturan


Pemerintah (PP).

b. Lex specialis derogat legi generalis


Ketentuan umum tetap berlaku kecuali yang diatur khusus dalam aturan
hukum khusus tersebut.
Ketentuan lex specialis harus sederajat dengan lex generalis.
Ketentuan lex spesialis harus berada dalam lingkungan hukum (Regim)
yang sama dengan lex generalis (KUHAD KUHPerdata)
c.

Lex posteriori derogat legi priori

Aturan yang baru mengesampingkan atau meniadakan aturan hukum


yang lama.

Prinsip pertama: aturan hukum yang baru sederajat atau lebih tinggi

dari aturan hukum yang lama.


Prinsip kedua: mengatur obyek yang sama.
d.

Asas mengutamakan hukum tertulis daripada hukum tidak tertulis

Apabila terjadi transformasi ketentuan hukum tidak tertulis menjadi


hokum tertulis atau ketentuan hukum tertulis merupakan pembaharuan
terhadap hukum tidak tertulis.

Boleh mengesampingkan hukum-hukum tertulis apabila hukum tidak


tertulis merupakan suatu yang tumbuh kemudian sebagai koreksi atau
penafsiran terhadap ketentuan hukum tertulis itu apabila diterapkan
akan bertentangan dengan kepatutan, keadilan, kesusilaan, ataupun
kepentingan umum atau ketertiban.

e.

Asas-asas hukum pidana

1. Asas Legalitas

Terdiri dari Nullum crimen sine lege (tiada kejahatan tanpa undangundang), Nulla poena sine lege (tiada pidana tanpa undang-undang),
nulla poena sine crimen (tiada pidana tanpa kejahatan).

Makna asas legalitas yaitu:


Nullum crimen sine lege praevia (tiada kejahatan tanpa undang-undang
sebelumnya).
Nullum crimen sine poena legali (tiada kejahatan tanpa pidana).

Ex post pacto criminal law tidak diperbolehkan (non retroactive


application of criminal law and criminal sanctions).

Quran Surat Al-Isra ayat 15 dan Kami tidak mengazab sebelum


kami mengutus seorang Rasul.

Tujuan Azas Legalitas adalah:


Memperkuat kepastian hukum.
Menciptakan keadilan dan kejujuran bagi terdakwa.
Mengefektifkan detterent function dari sanksi pidana.

Mencegah penyalahgunaan kekuasaan.


Memperkokoh penerapan rule of law.
Asas praduga tak bersalah:

Seseorang tidak boleh disebut bersalah sebelum dibuktikan


kesalahannya melalui putusan pengadilan yang berkekuatan hukum
tetap dengan bukti-bukti yang kuat dan sah.

Asas in dubio proreo

Dalam hukum Islam asas ini berbunyi hindarkan hudud dalam


keadaan ragu. Lebih baik salah dalam membebaskan daripada salah
dalam menghukum.

Keraguan ini muncul karena keraguan berkaitan tempat, keraguan


yang disebabkan oleh pelaku, dan keraguan karena unsur yuridis.

Asas equality before the law


Pada prinsipnya seseorang harus diperlakukan sama di depan hukum
kecuali orang-orang yang mempunyai hak-hak khusus.

Asas due process of law

Asas ini menghendaki proses peradilan pidana berjalan dengan baik


dan menghasilkan suatu putusan yang berdasarkan doktrin interest of
justice, bukan doktrin interest of judge.

Sepuluh asas dalam KUHAP


Persamaan di depan hukum.
Praduga tak bersalah.
Memperoleh kompensasi dan rehabilitasi

Memperoleh bantuan hukum


Hak kehadiran terdakwa di pengadilan
Peradilan yang bebas dan dilakukan dengan cepat,serta sederhana.
Peradilan yang terbuka untuk umum.

Pelanggaran atas hak warga negara yang harus dilakukan secara


tertulis dan berdasarkan undang-undang.

Hak diberitahu tentang persangkaan dan perndakwaan.


Kewajiban pengadilan untuk mengendalikan putusan.
2. Filsafat Hukum
Pengembangan hukum teoretis melalui studi tentang filsafat adalah suatu
kajian tentang kearifan, yaitu usaha manusia untuk menjadi arif untuk dirinya
atau untuk menemukan prinsip-prinsip kearifan itu, karena disanalah inti
kebenaran. Esensi filsafat adalah mencari hakekat kebenaran.
Apa yang ingin dicapai, diharapkan agar orang dapat berfikir secara
benar, berbuat dan bertindak secara benar. Bertindak secara wajar adalah hasil
berfikir menurut akal sehat (rasional).
Mengapa perlu mempelajari filsafat, harapannya adalah agar kita dapat
berbuat adil. Apa ukurannya bahwa kita itu adil atau tidak adil? Ukurannya
adalah Norma atau aturan. Adil itu berarti kita berada pada posisi relativitas.
Kebenaran filsafat adalah juga relatif, karena itu pengertian adil bisa berbedabeda.
Norma atau kaedah atau aturan yang menunjuk itu tidak selalu
menunjuk secara tepat apa yang harus kita lakukan. Contoh: Undang-undang
menunjuk batas waktu hukuman paling lama 5 (lima) tahun, artinya antara
satu hari sampai 5 (lima) tahun; tetapi mana petunjuk untuk menentukan
batas waktu diantara satu hari sampai lima tahun, tidaklah jelas. Karena itu
kembalinya ke filsafat tentang mana yang wajar atau tidak wajar. Hukum
yang diterapkan tidak memberi petunjuk apapun sebagaimana contoh tadi. Isi
norma itu sendiri tidak menyebut mana yang wajar sesuai kasusnya, karena

itu hakim harus berfikir ekstra yuridis.


Hukum itu dibuat untuk tujuan tertentu, tetapi setelah diundangkan,
sering menjadi tidak lengkap atau tertinggal karena kemajuan zaman. Hakimlah
yang melengkapi atau mengisi kekosongannya.
Jika tujuan hukum tidak tercapai disebabkan karena perbuatan hakim,
maka perbuatan hakim itu menjadi tidak wajar. Contoh hakim menghukum 12
hari penjara bagi pencuri kakao 3 biji, hakim itu seharusnya berfikir ekstra
yuridis agar penalarannya sesuai kewajaran. Hakim dalam penalarannya, selain
ia harus melakukan social control, ia juga harus melakukan social engineering
lewat putusannya, jadi ada kewajiban bagi hakim untuk berfikir ekstra yuridis
dan komprehensif. Hakim yang telah menjatuhkan hukuman itu apakah layak
atau tidak layak, adalah berarti bahwa hakim itu sudah berfikir ekstra yuridis.
Putusan hakim itu benar karena ada aturan hukumnya; bahwa hakim itu telah
berfikir ekstra yuridis karena ia telah keluar dari bunyi normatifnya.
Mengapa harus melakukan kajian filsafat hukum, karena undang-undang
itu dibuat atas pola fikir tertentu, setiap undang-undang yang dibuat, selalu ada
sebab musababnya tertentu. Karena itu hakim yang melakukan penemuan
hukum terhadap kasus konkrit, maka harus berfikir ekstra yuridis, kalau terjadi
pertentangan antara keadilan dan kepastian, pilihlah keadilan; tetapi harus
dipahami bahwa keadilan yang tertinggi adalah suatu ketidakpastian, karena
keadilan itu nilainya relatif harus pula dipahami bahwa mengadili menurut
hukum adalah jauh lebih baik daripada memutus tidak menurut hukum.
Suatu teori yang disebut Restorative justice yaitu sebuah teori tentang
keseimbangan perlindungan hukum antara pelaku dan korban; bahwa semakin
serius suatu kejahatan, semakin tinggi nilai keadilan yang ingin diwujudkan
maka semakin rendah nilai kepastian yang harus ditegakkan; sebaliknya,
semakin tinggi nilai kepastian yang ingin diwujudkan maka semakin rendah nilai
keadilan yang harus ditegakkan.
Menegakkan hukum dan menegakkan keadilan adalah dua pilihan, akan
tetapi dijembatani dan dihubungkan menjadi satu kesatuan yang holistik dalam
penerapan hukum sebab antara hukum dan keadilan haruslah berdasarkan

Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945,


demi terselenggaranya Negara Hukum Republik Indonesia (pasal 1 (1) UU
Nomor 48 Tahun 2009 Tentang Kekuasaan Kehakiman).
Kepastian hukum, ciri-cirinya adalah bahwa putusan itu predictable atau
hukumnya dapat diprediksi. Sangat tidak adil jika tidak ada kepastian hukum.
Kepastian hukum adalah suatu instrumen penting dalam penegakan hukum.
Mengapa hakim harus belajar filsafat hukum, karena penerapan hukum
itu dapat berbeda-beda karena perbedaan waktu dan tempat atau karena ada
perubahan masyarakat sehingga hukum harus mengikutinya.
Karena itu antara teori hukum dan filsafat hukum saling mempengaruhi
dalam praktik pengadilan. Betapapun teori hukum itu dibedakan dari filsafat
hukum, namun ia bertumpu pada filsafat hukum. Dalam pengembangan teori
hukum, selalu terdapat filsafat hukum tertentu yang melandasinya. Filsafat
hukum menyibukkan diri dengan pertanyaan sebagaimana yang diuraikan
Langemeijer tentang landasan dan daya mengikatnya suatu hukum; dan
pertanyaan tentang kriteria menilai kebenaran dan keadilan.
Pertanyaan pertama tentang bagaimana kita memberikan landasan bagi
daya mengikat dari hukum? Pertanyaan ini berkaitan dengan keberlakuan
hukum dan secara khusus keberlakuan moral.
Anerkennung Theorie (teori pengakuan), teori ini mengemukakan bahwa hukum
itu berlaku karena ia oleh mayoritas orang secara faktual diterima (diakui,
dipatuhi). Jadi disini keberlakuan moral dari hukum didasarkan pada
keberlakuan faktual, atau sama seperti keberlakuan yuridik. Dalam dua hal itu
satu faset dari keberlakuan hukum secara sepihak diabsolutkan. Pertanyaanya,
atas dasar apa hukum itu secara faktual (secara yuridikal) sudah berlaku juga
seharusnya dipatuhi? Terdapat banyak aturan hukum yang secara faktual
dipatuhi (diakui oleh mayoritas penduduk, tetapi apakah dengan begitu
legitimasi dari hukum sudah diberikan?
Teori

kekuasaan

(machts

theorie),

hukum

sesungguhnya

adalah

kekuasaan; hukum itu sendiri adalah suatu gejala kekuasaan dan ia sering
membutuhkan kekuasaan lain untuk dapat mewujudkan dirinya.

Menurut aliran hukum kodrat, daya mengikat dari hukum positif adalah
(lex humana) didasarkan pada hukum kodrat. Bahwa pada asasnya manusia
ingin hidup bersama / hidup bermasyarakat. Karena itu pengaturan-pengaturan
untuk hidup bersama, mutlak harus diatur.
Pertanyaan kedua Dengan kriteria apa kita menilai keadilan dari
hokum? Konflik antara hukum dan etika, pertanyaanya apakah hukum positif
yang isinya bertentnagan dengan etika harus dianggap tidak adil? Lalu masih
boleh diterima sebagai hukum positif yang berlaku? Para pengikut hukum
kodrat dan postitivisme akan memberi jawaban yang berbeda: Arti Keadilan
dalam lingkungan hukum kodrat, Aristoteles dan Thomas Aquinas memberi arti
keadilan itu sebagai ius titia distributiva dan ius titia commutativa yang
merupakan bagian dari asas persamaan yang dipandang sebagai inti dari
keadilan. Ketika di jaman kuno orang berbicara tentang Suum cuique tribeuer
(memberikan kepada setiap orang apa yang menjadi haknya).
Kelsen menerapkan kriteria formal. Kejadian-kejadian yang sama harus
diperlakukan sama, tetapi kita terlebih dahulu harus mengetahui kejadian mana
yang sama itu, dan mengapa hal itu dapat terjadi? Jawabannya adalah bahwa
pada peristiwa yang sama diterapkan asas similia similibus. Hukum kodrat tidak
memberikan aturan hukum yang langsung dapat diterapkan pada kasus konkrit
tetapi memuat asas-asas yang harus dijabarkan ke dalam tata hukum positif,
namun isi hukum positif secara substansial dapat bertentangan dengan asas-asas
itu. Dalam hal ini oleh Thomas Aquinas berpendirian bahwa hukum positif itu
tidak berlaku.
II. Kesimpulan
1.

Aturan hukum (Undang-undang) bukanlah poros sebuah putusan hakim yang


dinilai berbobot; aturan tidak bisa diandalkan menjawab dunia kehidupan yang
begitu kompleks, kebenaran dan keadilan bukan terletak di dalam Undang-undang,
inilah titik tolak pengembangan hukum teoretis, karenanya hakim harus selalu
berfikir ekstra yuridis dalam menerapkan hukum ke dalam kasus konkrit yang
dihadapinya.

2. Hakim sering berhadapan dua sisi yang berseberangan yaitu antara kebenaran
(keadilan) dan kepastian dalam konteks tertentu. Tidak jarang terjadi kebenaran
yang ditemukan oleh hakim lebih unggul daripada kebenaran yang ditawarkan oleh
aturan formal, dalam hal inilah seorang hakim mempertaruhkan kepekaan dan
kearifannya, ia harus memenangkan kebenaran keadilan meskipun mengalahkan
kepastian dari aturan formal (legisme),bilamana terjadi pertentangan antara
normative dengan rasa keadilan maka yang pertama-tama tumbang adalah
normatifnya , Contoh: KUHAP secara tegas menyatakan tidak ada upaya hukum
atas putusan bebas. Mahkamah Agung mengendorkan ketentuan itu dengan
membedakan putusan bebas murni (Vrijspraak) dengan putusan bebas tidak murni
(Onslag Van rechtsvervolging) yaitu putusan yang membebaskan. Atas dasar itu
jaksa dapat mengajukan kasasi. Adapula ketentuan dalam KUHAP bahwa yang
boleh mengajukan PK, hanyalah terpidana atau keluarganya. Dalam hal terdapat
kesalahan nyata di dalam putusan itu (alasan PK),tetapi di dalam putusan hakim
adalah putusan bebas, maka terpidana atau keluarganya tidak mempunyai
kepentingan mengajukan PK.
Penalaranya demikian (Sillogisme deduksi):
Premismayor: Hanya si terpidana atau keluarganya yang boleh mengajukan PK.
Premis minor : Jaksa, apakah boleh mengajukan PK.
Kesimpulan : Jaksa, bukan terpidana dan bukan keluarga terpidana, maka tidak
boleh mengajukan PK.
Jika demikian penalaran hakim dalam berfikir ekstra yuridis, maka kebenaran dan
keadilan akan terkalahkan oleh kepastian hukum padahal kebenaran dan keadilan
dalam konteks tersebut tidak ditemukan dalam bunyi Undang-undang, karena itu
Mahkamah Agung membuka kesempatan bolehnya Jaksa mengajukan PK.
Contoh lain:
Suatu fakta hukum tentang telah terjadi pelanggaran HAM berat, dan terpidana
terbukti bersalah, tetapi kesalahan terpidana tidak berdiri sendiri melainkan
terdapat andil kesalahan pihak korban. Ancaman hukuman bagi terpidana adalah

minimal 4 tahun penjara . Pengadilan menjatuhkan hukuman hanya satu tahun


penjara dan putusan itu dikuatkan di tingkat banding.
Pada tingkat kasasi menjadi problema hukum karena Hakim menjatuhkan
pidana satu tahun di bawah batas ancaman pidana minimal 4 tahun. Dua hakim
agung berpendapat pengadilan salah menerapkan hukum dan kasasi yang
diajukan oleh Jaksa harus dikabulkan; dalam dissenting opinion itu tiga hakim
berpendapat tidak salah menerapkan hukum dan permohonan kasasi oleh Jaksa
harus ditolak karena penjatuhan pidana satu tahun itu adalah cerminan rasa
keadilan masyarakat maupun oleh hakim (keluar dari bunyi Undang-undang
demi tujuan kebenaran dan keadilan).
3. Boleh bahkan wajib bagi hakim berpandangan bahwa isi aturan hukum (Undangundang) itu benar dan menjamin kepastian dan ketertiban umum; tetapi hakim
yang berfikiran modern, mengambil keputusan keluar dari skenario aturan
undang-undang terkadang menjamin kebenaran dan keadilan, tetapi tidak boleh
berfikiran subyektif, karena itu hakim tidak boleh lari dari aspek normatif yuridis.
Benyamin Cardoso mengingatkan bahwa kewibawaan seorang hakim adalah
terletak pada kesetiaannya menjunjung tujuan hukum itu, karenanya seorang
hakim, putusannya tidak boleh berkembang secara bebas tanpa batas.
4.

Ilmu-ilmu hukum, teori ilmu hukum dan filsafat hukum, semuanya mengkaji
tentang hukum, dan kajian bersama-sama secara holistik dalam memecahkan kasus
konkrit sebagaimana dicontohkan pada kesimpulan nomor 2 diatas adalah
merupakan salah satu bentuk pengembangan hukum teoretis.