Anda di halaman 1dari 14

HIV/AIDS DAN

CRYPTOSPORIDIOSIS

MEGETAHUI
PEMBIMBING/CI/KA. RUANGAN

Vica Lasulika, Amd. Kep

MENGETAHUI
PEMBIMBING/ CT

Juanda H. Yeno, S.Pd, S.Kep. Ns.

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES


GORONTALO
T.A 2013 / 2014
KEPERAWATAN MEDICAL BEDAH

Page 1

LAPORAN PENDAHULUAN
HIV AIDS Dan CRYPTOSPORIDIOSIS
A. PEMBAHASAN HIV - AIDS
1. Definisi
Acquired Immunodeficiency Syndrome atau Acquired Immune Deficiency
Syndrome (disingkat AIDS) adalah sekumpulan gejala dan infeksi (atau: sindrom)
yang timbul karena rusaknya sistem kekebalan tubuh manusia akibat infeksi virus
HIV atau infeksi virus-virus lain yang mirip yang menyerang spesies lainnya
(SIV, FIV, dan lain-lain).

Virusnya sendiri bernama Human Immunodeficiency Virus (atau disingkat


HIV) yaitu virus yang memperlemah kekebalan pada tubuh manusia. Orang yang
terkena virus ini akan menjadi rentan terhadap infeksi oportunistik ataupun mudah
terkena tumor. Meskipun penanganan yang telah ada dapat memperlambat laju
perkembangan virus, namun penyakit ini belum benar-benar bisa disembuhkan.
HIV juga merupakan virus yang menyerang sel darah putih ( Limfosit ) di
dalam tubuh. Limfosit berfungsi membantu melawan bibit penyakit yang masuk
ke dalam tubuh.

KEPERAWATAN MEDICAL BEDAH

Page 2

2. Etiologi
Menurut Hudak dan Gallo (1996), penyebab dari AIDS adalah suatu
agen viral (HIV) dari kelompok virus yang dikenal dengan retrovirus yang
ditularkan oleh darah melalui hubungan seksual dan mempunyai aktivitas
yang kuat terhadap limfosit T yang berperan dalam mekanisme pertahanan
tubuh manusia. HIV merupakan Retrovirus yang menggunakan RNA sebagai
genom. HIV mempunyai kemampuan mengcopy cetakan materi genetic
dirinya ke dalam materi genetic sel-sel yang ditumpanginya.
Sedangkan menurut Long (1996) penyebab AIDS adalah Retrovirus
yang telah terisolasi cairan tubuh orang yang sudah terinfeksi yaitu darah
semen, sekresi vagina, ludah, air mata, air susu ibu (ASI), cairan otak
(cerebrospinal fluid), cairan amnion, dan urin. Darah, semen, sekresi vagina
dan ASI merupakan sarana transmisi HIV yang menimbulkan AIDS. Cairan
transmisi HIV yaitu melalui hubungan darah (transfusi darah/komponen darah
jarum suntik yang di pakai bersama sama tusuk jarum) seksual (homo
bisek/heteroseksual) perinatal (intra plasenta dan dari ASI).
3. Patofisiologi
Sel T dan makrofag serta sel dendritik/langerhans (sel imun) adalah sel-sel
yang terinfeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan terkonsentrasi
dikelenjar limfe, limpa dan sumsum tulang. Human Immunodeficiency Virus
(HIV) menginfeksi sel lewat pengikatan dengan protein perifer CD 4, dengan
bagian virus yang bersesuaian yaitu antigen grup120. Pada saat sel T4
terinfeksi dan ikut dalam respon imun, maka Human Immunodeficiency Virus
(HIV) menginfeksi sel lain dengan meningkatkan reproduksi dan banyaknya
kematian sel T4 yang juga dipengaruhi respon imun sel killer penjamu, dalam
usaha mengeliminasi virus dan sel yang terinfeksi. Dengan menurunnya
jumlah sel T4, maka system imun seluler makin lemah secara progresif.
Diikuti berkurangnya fungsi sel B dan makrofag serta menurunnya fungsi sel
T penolong. Seseorang yang terinfeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV)
dapat tetap tidak memperlihatkan gejala (asimptomatik) selama bertahuntahun. Selama waktu ini, jumlah sel T4 dapat berkurang dari sekitar 1000 sel
perml darah sebelum infeksi mencapai sekitar 200-300 per ml darah, 2-3 tahun
setelah infeksi. Sewaktu sel T4 mencapai kadar ini, gejala-gejala infeksi
(herpeszoster dan jamur oportunistik) muncul. Jumlah T4 kemudian menurun
akibat timbulnya penyakit baru akan menyebabkan virus berproliferasi.
Akhirnya terjadi infeksi yang parah. Seorang didiagnosis mengidap AIDS
apabila jumlah sel T4 jatuh dibawah 200 sel per ml darah, atau apabila terjadi
infeksi opurtunistik, kanker atau dimensia AIDS. (Yayasan Spiritia, 2006).
4. Manifestasi Klinik
# Terdiri dari 4 Fase
KEPERAWATAN MEDICAL BEDAH

Page 3

a. Tahap Serokonversi ( 1 6 Bulan )


- Terinfeksi HIV
- Ciri terinfeksi Belum terlihat meskipun di lakukan Tes Darah
- Sudah Dapat Menular Ke orang Lain
b. Tahap Asimtomatik ( 2 10 Tahun )
- HIV ( + )
- Belum menunjukkan gejala sakit
- Dapat menularkan pada orang lain
c. Tahap gejala awal HIV, Tetapi Gejala AIDS ( - )
- Keringat Pada malam hari
- Diare terus menerus
- Pembengkakan kelenjar getah bening
- Flu tidak sembuh sembuh
- Nafsu makan berkurang dan lemah
- Penurunan BB
Ket : Pada fase ketiga ini system kekebalan tubuh mulai berkurang
d. Tahap AIDS
Timbul penyakit tertentu yang disebut infeksi oportunistik, yaitu :
- Kanker, Khususnya Kanker Kulit
- Infeksi Paru paru, yang menyebabkan radang paru paru dan kesulitan
bernafas.
- Infeksi usus yang menyebabkan diare parah selama berminggu-minggu
- Infeksi otak yang menyebabkan kekacauan mental, sakit kepala dan
sariawan.
5. Komplikasi
1. Oral Lesi
Karena kandidia, herpes simplek, sarcoma kaposi, HPV oral, gingivitis,
peridonitis Human Immunodeficiency Virus (HIV), leukoplakia
oral,nutrisi,dehidrasi,penurunan berat badan, keletihan dan cacat.
2. Neurologik
a. Kompleks dimensia AIDS karena serangan langsung Human
Immunodeficiency Virus (HIV) pada sel saraf, berefek perubahan
kepribadian, kerusakan kemampuan motorik, kelemahan, disfasia, dan
isolasi sosial.
b. Enselophaty akut, karena reaksi terapeutik, hipoksia, hipoglikemia,
ketidakseimbangan elektrolit, meningitis / ensefalitis. Dengan efek : sakit
kepala, malaise, demam, paralise, total / parsial.
c. Infark serebral kornea sifilis meningovaskuler,hipotensi sistemik, dan
maranik endokarditis.
d. Neuropati karena imflamasi demielinasi oleh serangan Human
Immunodeficienci Virus (HIV).
KEPERAWATAN MEDICAL BEDAH

Page 4

3. Gastrointestinal
a. Diare karena bakteri dan virus, pertumbuhan cepat flora normal, limpoma,
dan sarcoma kaposi. Dengan efek, penurunan berat badan, anoreksia,
demam, malabsorbsi, dan dehidrasi.
b. Hepatitis karena bakteri dan virus, limpoma,sarcoma kaposi, obat illegal,
alkoholik. Dengan anoreksia, mual muntah, nyeri abdomen, ikterik,demam
atritis.
c. Penyakit Anorektal karena abses dan fistula, ulkus dan inflamasi perianal
yang sebagai akibat infeksi, dengan efek inflamasi sulit dan sakit, nyeri
rectal, gatal-gatal dan diare.
4. Respirasi
a. Pneumonia Pneumocystis (PCP)
Pada umumnya 85% infeksi opportunistik pada AIDS merupakan
infeksi paru-paru PCP dengan gejala sesak nafas, batuk kering, sakit
bernafas dalam dan demam.
b. Cytomegalo Virus (CMV)
Pada manusia virus ini 50% hidup sebagai komensial pada paru-paru
tetapi dapat menyebabkan pneumocystis. CMV merupakan penyebab
kematian pada 30% penderita AIDS.
c. Mycobacterium Avilum
Menimbulkan pneumoni difus, timbul pada stadium akhir dan sulit
disembuhkan.
d. Mycobacterium Tuberculosis
Biasanya timbul lebih dini, penyakit cepat menjadi miliar dan cepat
menyebar ke organ lain diluar paru.
5. Dermatologik
Lesi kulit stafilokokus : virus herpes simpleks dan zoster, dermatitis
karena xerosis, reaksi otot, lesi scabies, dan dekubitus dengan efek
nyeri,gatal,rasa terbakar,infeksi skunder dan sepsis.
6. Sensorik
Pandangan : Sarkoma Kaposi pada konjungtiva berefek kebutaan
Pendengaran : otitis eksternal akut & otitis media, kehilangan pendengaran
dengan efek nyeri.
6. Pemeriksaan Penunjang
a. Tes Laboratorium
Tes dan pemeriksaan laboratorium digunakan untuk mendiagnosis
Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan memantau perkembangan
penyakit serta responnya terhadap terapi Human Immunodeficiency Virus
(HIV), terdiri dari:
- Serologis
KEPERAWATAN MEDICAL BEDAH

Page 5

Tes antibody serum Skrining Human Immunodeficiency Virus (HIV)


dan ELISA. Hasil tes positif, tapi bukan merupakan diagnosa
- Tes blot western
Mengkonfirmasi diagnosa Human Immunodeficiency Virus(HIV)
Sel T limfosit, penurunan jumlah total
Sel T4 helper Indikator system imun
P24 (Protein pembungkus Human Immunodeficiency Virus (HIV)
Peningkatan nilai kuantitatif protein mengidentifikasi progresi infeksi
Kadar Ig meningkat, terutama Ig A, Ig G, Ig M yang normal atau
mendekati normal
Reaksi rantai polimerase, mendeteksi DNA virus dalam jumlah sedikit
pada infeksisel perifer monoseluler.
Tes PHS, pembungkus hepatitis B dan antibody, sifilis, CMV mungkin
Positif
b. Pemeriksaan sitologis urine, darah, feces, cairan spina, luka, sputum, dan
sekresi, untuk mengidentifikasiadanya infeksi : parasit, protozoa, jamur,
bakteri, viral.
c. Tes Lainnya
- Sinar X dada
Menyatakan perkembangan filtrasi interstisial dari PCP tahap lanjut atau
adanya komplikasi lain
- Tes Fungsi Pulmonal
Deteksi awal pneumonia interstisial
- Skan Gallium Ambilan difusi pulmonal terjadi pada PCP dan bentuk
pneumonia lainnya.
- Biopsis Diagnosa lain dari sarcoma kaposi
- Brankoskopi/pencucian trakeobronkial Dilakukan dengan biopsy pada waktu
PCP ataupun dugaan kerusakan paru-paru
d. Tes Antibodi
- Tes Enzym Linked Immunosorbent Assay (ELISA)
Mengidentifikasi antibody yang secara spesifik ditujukan kepada virus
Human Immunodeficiency Virus (HIV). ELISA tidak menegakan diagnosa
AIDS tapi hanya menunjukkan bahwa seseorang terinfeksi atau pernah
terinfeksi HumanImmunodeficiency Virus (HIV). Orang yang dalam
darahnya terdapat antibody Human Immunodeficiency Virus (HIV) disebut
seropositif.
- Western Blot Assay
Mengenali antibody Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan
memastikan seropositifitas Human ImmunodeficiencyVirus (HIV)
- Indirect Immunoflouresence
Pengganti pemeriksaan western blot untuk memastikan seropositifitas.
- Radio Immuno Precipitation Assay (RIPA)
KEPERAWATAN MEDICAL BEDAH

Page 6

Mendeteksi protein dari pada antibody.


e. Pelacakan Human Immunodeficiency Virus (HIV)
Penentuan langsung ada dan aktivitasnya Human Immunodeficiency Virus
(HIV) untuk melacak perjalanan penyakit dan responnya. Protein tersebut
disebut protein virus p24, pemerikasaan p24 antigen capture assay sangat
spesifik untuk HIV 1. tapi kadar p24 pada penderita infeksi Human
Immunodeficiency Virus (HIV) sangat rendah, pasien dengantiter p24 punya
kemungkinan lebih lanjut lebih besar dari menjadiAIDS.Pemeriksaan ini
digunakan dengan tes lainnya untuk mengevaluasi efek anti virus.
f. Pemeriksaan kultur Human Immunodeficiency Virus (HIV) atau kultur plasma
kuantitatif dan viremia plasma merupakan tes tambahan yang mengukur beban
virus (viral burden)
7. Cara Penularan
HIV berada terutama dalam cairan tubuh manusia. Cairan yang berpotensial
mengandung HIV adalah darah, cairan sperma, cairan vagina dan air susu ibu
(KPA, 2007).
Penularan HIV dapat terjadi melalui berbagai cara, yaitu : kontak seksual,
kontak dengan darah atau sekret yang infeksius, ibu ke anak selama masa
kehamilan, persalinan dan pemberian ASI (Air Susu Ibu). (Zein, 2006)
1. Seksual
Penularan melalui hubungan heteroseksual adalah yang paling dominan dari
semua cara penularan. Penularan melalui hubungan seksual dapat terjadi
selama senggama laki-laki dengan perempuan atau laki-laki dengan laki-laki.
Senggama berarti kontak seksual dengan penetrasi vaginal, anal (anus), oral
(mulut) antara dua individu. Resiko tertinggi adalah penetrasi vaginal atau
anal yang tak terlindung dari individu yang terinfeksi HIV.
2. Melalui transfusi darah atau produk darah yang sudah tercemar dengan virus
HIV.
3. Melalui jarum suntik atau alat kesehatan lain yang ditusukkan atau tertusuk ke
dalam tubuh yang terkontaminasi dengan virus HIV, seperti jarum tato atau
pada pengguna narkotik suntik secara bergantian. Bisa juga terjadi ketika
melakukan prosedur tindakan medik ataupun terjadi sebagai kecelakaan kerja
(tidak sengaja) bagi petugas kesehatan.
4. Melalui silet atau pisau, pencukur jenggot secara bergantian hendaknya
dihindarkan karena dapat menularkan virus HIV kecuali benda-benda tersebut
disterilkan sepenuhnya sebelum digunakan.
5. Melalui transplantasi organ pengidap HIV
6. Penularan dari ibu ke anak
7. Kebanyakan infeksi HIV pada anak didapat dari ibunya saat ia dikandung,
dilahirkan dan sesudah lahir melalui ASI.
8. Penularan HIV melalui pekerjaan: Pekerja kesehatan dan petugas laboratorium.
KEPERAWATAN MEDICAL BEDAH

Page 7

Terdapat resiko penularan melalui pekerjaaan yang kecil namun defenitif,


yaitu pekerja kesehatan, petugas laboratorium, dan orang lain yang bekerja dengan
spesimen/bahan terinfeksi HIV, terutama bila menggunakan benda tajam (Fauci,
2000).
Tidak terdapat bukti yang meyakinkan bahwa air liur dapat menularkan infeksi
baik melalui ciuman maupun pajanan lain misalnya sewaktu bekerja pada pekerja
kesehatan. Selain itu air liur terdapat inhibitor terhadap aktivitas HIV (Fauci,
2000). Menurut WHO (1996), terdapat beberapa cara dimana HIV tidak dapat
ditularkan antara lain:
1. Kontak fisik
Orang yang berada dalam satu rumah dengan penderita HIV/AIDS,
bernapas dengan udara yang sama, bekerja maupun berada dalam suatu
ruangan dengan pasien tidak akan tertular. Bersalaman, berpelukan
maupun mencium pipi, tangan dan kening penderita HIV/AIDS tidak akan
menyebabkan seseorang tertular.
hal-hal sehari-hari seperti berbagi makanan, tidak akan menyebabkan
seseorang tertular.
2. Memakai milik penderita
Menggunakan tempat duduk toilet, handuk, peralatan makan maupun
peralatan kerja penderita HIV/AIDS tidak akan menular.
3. Digigit nyamuk maupun serangga dan binatang lainnya.
4. Mendonorkan darah bagi orang yang sehat tidak dapat tertular HIV.
8. Pencegahan
Untuk mencegah penularan HIV/AIDS, dapat diingat menggunakan ABCDE,
yang terdiri dari:
1. Abstinence, tidak melakukan hubungan seksual di luar pernikahan
(abstinansia).
2. Be faithful, yaitu tetap setia pada pasangannya, untuk yang sudah menikah.
3. Condom, gunakan kondom saat melakukan hubungan seksual (melindungi diri).
4. Don't do drugs, tidak melakukan penyalahgunaan Napza sama sekali.
5. Equipment, berhati-hati terhadap peralatan yang beresiko membuat luka dan
digunakan secara bergantian (bersamaan), misalnya jarum suntik, pisau cukur,
dll.
9. Penatalaksanaan
Sampai saat ini belum ada obat-obatan yang dapat menghilangkan HIV dari
dalam tubuh individu. Ada beberapa kasus yang menyatakan bahwa HIV/AIDS
dapat disembuhkan. Setelah diteliti lebih lanjut, pengobatannya tidak dilakukan
dengan standar medis, tetapi dengan pengobatan alternatif atau pengobatan
lainnya. Obat-obat yang digunakan adalah untuk menahan penyebaran HIV dalam
tubuh tetapi tidak menghilangkan HIV dari dalam tubuh.
KEPERAWATAN MEDICAL BEDAH

Page 8

Untuk menahan lajunya tahap perkembangan virus beberapa obat yang ada
adalah antiretroviral dan infeksi opportunistik.
a. Obat antiretroviral untuk retrovirus seperti HIV guna menghambat
perkembangbiakan virus. Penatalaksanaan HIV/AIDS termasuk terapi ARV
dimaksudkan untuk mengham bat replikasi virus. Prinsip pengobatan
antiretroviral adalah sebagai berikut:
1. Menurunkan angka kesakitan dan kematian yang berhubungan dengan HIV.
2. Memperbaiki kualitas hidup orang yang hidup dengan HIV/AIDS.
3. Memulihkan dan/atau memelihara fungsi kekebalan tubuh.
4. Menekan replikasi secara maksimal dan selama mungkin.
@ Obat-obat antiretrovirus yang digunakan adalah:
1) Golongan obat anti-HIV pertama adalah nucleoside reverse transcriptase
inhibitor atau NRTI, juga disebut analog nukleosida. Obat golongan ini
menghambat bahan genetik HIV dipakai untuk membuat DNA dari
RNA. Obat dalam golongan ini yang disetujui di AS dan masih dibuat
adalah:
- 3TC (lamivudine)
- Abacavir (ABC)
- AZT (ZDV, Zidovudine)
- d4T (Stavudine)
- Tenofovir (TDF, analog nukleutida) - dd1(didanosine),
2) Golongan obat lain menghambat langkah yang sama dalam siklus hidup
HIV, tetapi dengan cara lain. Obat ini disebut non-nucleoside reverse
transcriptase inhibitor atau NNRTI. Empat NNRTI disetujui di AS:
- Delavirdine (DLV)
- Etravirine (ETV)
- Efavirenz (EFV)
- Nevirapine (NVP)
3) Golongan ketiga ARV adalah protease inhibitor (PI). Obat golongan ini
menghambat langkah kesepuluh, yaitu virus baru dipotong menjadi
potongan khusus. Sembilan PI disetujui dan masih dibuat di AS:
- Atanavir (ATV)
- Lopinavir (LPV)
- Darunavir (DRV)
- Nelfinavir (NFV)
- Fosamprenafir (FPV)
- Ritonavir (RTV)
- Indinavir (IDV)
- saquinavir (SQV)
4) Golongan ARV keempat adalah entry inhibitor. Obat golongan ini
mencegah pemasukan HIV ke dalam sel dengan menghambat langkah
kedua dari siklus hidupnya. Dua obat golongan ini sudah disetujui di AS:
- Enfuvirtide (T-20)
- Maraviroc (MVC)
5) Golongan ARV terbaru adalah integrase inhibitor (INI). Obat golongan
ini mencegah pemaduan kode genetik HIV dengan kode genetik sel
dengan menghambat langkah kelima dari siklus hidupnya. Obat INI
pertama adalah:
KEPERAWATAN MEDICAL BEDAH

Page 9

- Raltegravir (RGV)
6) Obat infeksi opportunistik adalah obat yang digunakan untuk penyakit
yang mungkin didapat karena sistem kekebalan tubuh sudah rusak atau
lemah. Sedangkan obat yang bersifat infeksi opportunistik adalah
Aerosol Pentamidine, Ganciclovir, Foscamet.
B. PEMBAHASAN CRYPTOSPORIDIOSIS
1. Definisi
Cryptosporidiosis (kriptosporidiosis), juga dikenal sebagai crypto, adalah
penyakit yang disebabkan oleh parasit Cryptosporidium, yang merupakan
protozoa parasit dalam divisi Apicomplexa. Ia akan mempengaruhi usus mamalia
dan biasanya berupa infeksi akut jangka pendek. Hal ini menyebar melalui rute
fecal-oral (kotoran-mulut), sering juga dari air yang terkontaminasi.

Kriptosporidiosis (kripto) adalah infeksi yang disebabkan parasit


Cryptosporidium parvum. Parasit mengambil nutrisinya dari organisme hidup lain,
yang disebut induk. Tubuh kita adalah induk tersebut bila kita terinfeksi kripto.
Kripto sebagian besar mempengaruhi usus dan menyebabkan diare.
Kripto mudah menular melalui makanan atau air yang tercemar, atau hubungan
langsung dengan orang atau hewan yang terinfeksi. Di AS, kurang lebih 15-20%
Odha terinfeksi kripto; angka untuk Indonesia belum diketahui. Hanya sebagian
infeksi ini mengembangkan penyakit berat.
2. Etiologi
Parasit cryptosporidium menginfeksi orang dan berbagai jenis binatang di
seluruh dunia. Infeksi ini diperoleh dengan mencerna parasit di dalam air atau
makanan yang terkontaminasi oleh kotoran manusia atau hewan dengan
bersentuhan dengan tanah, seseorang, atau benda yang telah terkontaminasi
dengan parasit.

KEPERAWATAN MEDICAL BEDAH

Page 10

Cryptosporidiosis adalah penyebab yang paling umum pada diare di antara


anak-anak yang tinggal di daerah berkembang dimana sanitasinya buruk. Hal ini
kadangkala terjadi diantara wisatawan ke beberapa daerah. Orang dengan sistem
kekebalan tubuh lemah, terutama mereka yang mengidapAIDS, mudah terkena
cryptosporidiosis dan seringkali penyakitnya parah, berlangsung lama.

Telur (oocysts) pada cryptosporidium sangat kuat dan seringkala terdapat pada
permukaan air di Amerika Serikat. Parasit tersebut tidak bisa dibunuh dengan
pembekuan atau dengan kadar klorin yang biasa di dalam kolam renang atau air
minum.
3. Manifestasi Klinik
Gejala bisa terjadi dengan tiba-tiba 7 sampai 10 hari setelah infeksi dan
terutama terdiri dari kram perut dan sering, mencret. Mual, muntah, kehilangan
nafsu makan, demam, dan kelemahan bisa terjadi.
Pada orang yang sistem kekebalannya lemah, gejala bisa mulai secara
bertahap, dan diare bisa berbagai macam dari ringan sampai berat (hingga 3
sampai 4 galon pada tinja encer setiap hari pada orang dengan AIDS).
4. Pencegahan
Pencegahan meliputi sanitasi dan mencuci tangan yang cukup, terutama sekali
pada fasilitas perawatan kesehatan dan pusat perawatan harian dan setelah
bersentuhan dengan tanah, binatang, atau orang yang terinfeksi. Ketika
departemen kesehatan menemukan suatu daerah endemik, mereka biasanya
menyarankan orang untuk merebus air minum (termasuk air untuk gosok gigi dan
mencuci makanan), makan hanya makanan yang dimasak, dan menghindari susu
dan jus yang tidak dipasteurisasi.
KEPERAWATAN MEDICAL BEDAH

Page 11

Saringan air ledeng yang menggunakan reverse osmosis atau memiliki


saringan absolut 1 mikron atau dites dan sertifikasi oleh NSF standar 53 untuk
pemusnahan/pengurangan kista adalah efektif. Jenis lain saringan tidak
dianjurkan.
5. Pengobatan
Orang dengan sistem kekebalan yang sehat biasanya sembuh dengan
sendirinya. Nitazoxanide diberikan kepada anak untuk cepat sembuh dan
kemungkinan bermanfaat untuk orang dewasa yang sehat. Meskpun begitu, hal ini
biasanya tidak efektif pada orang dengan AIDS yang memiliki sistem kekebalan
yang lemah.
Jika mungkin, masalah sistem kekebalan harus diobati. Jika orang
menggunakan obat-obatan yang menekan sistem kekebalan (immunosupressants),
obat-obatan tersebut harus dihentikan, atau dosisnya dikurangi. Sampai sistem
kekebalan diperbaiki, diare bisa berlanjut sepanjang hidup.
Pada orang dengan AIDS, obat-obatan antiretroviral bisa meningkatkan fungsi
kekebalan dan menghilangkan diare yang disebabkan oleh cryptosporidium
parvum, tetapi beberapa orang bisa tetap terinfeksi secara permanen. Orang
dengan diare berat biasanya membutuhkan pengobatan dengan cairan oral atau
infus dan obat-obatan anti diare seperti loperamide. Meskipun, loperamide tidak
bisa menolong orang yang menderita AIDS.
C. PATOLOGIS ANTARA HIV/AIDS DAN CRYPTOSPORIDIOSIS
AIDS merupakan singkatan dari Acquired Immune Deficiency Syndrome.
Penyakit AIDS yaitu suatu penyakit yang ditimbulkan sebagai dampak
berkembangbiaknya virus HIV (Human Immunodeficiency Virus) didalam tubuh
manusia, yang mana virus ini menyerang sel darah putih (sel CD4) sehingga
mengakibatkan rusaknya sistem kekebalan tubuh. Hilangnya atau berkurangnya daya
tahan tubuh membuat si penderita mudah sekali terjangkit berbagai macam penyakit
termasuk penyakit ringan sekalipun.
Virus HIV menyerang sel CD4 dan menjadikannya tempat berkembang biak Virus
HIV baru, kemudian merusaknya sehingga tidak dapat digunakan lagi. Sebagaimana
kita ketahui bahwa sel darah putih sangat diperlukan untuk sistem kekebalan tubuh.
Tanpa kekebalan tubuh maka ketika tubuh kita diserang penyakit, Tubuh kita lemah
dan tidak berupaya melawan jangkitan penyakit dan akibatnya kita dapat meninggal
dunia oleh parasit yang biasa hidup dalam tubuh. parasit tersebut tidak dapat
diberantas. Cara terbaik untuk menghindari terjadinya Cryptosporidiosis adalah
dengan memperkuat sistem kekebalan tubuh.
Orang dengan sistem kekebalan tubuh yang baik mungkin tidak menunjukkan
gejala, atau infeksi ini akan sembuh dengan sendirinya; tidak diketahui dengan jelas
apakah dapat terjadi reinfeksi atau infeksi laten dengan reaktivasi. Orang-orang
KEPERAWATAN MEDICAL BEDAH

Page 12

dengan gangguan imunitas kekebalannya segera dapat pulih kembali pada saat
penyebab imunosupresi (seperti malnutrisi atau infeksi oleh virus yang berulang
terjadi seperti campak) telah disembuhkan. Pada penderita AIDS dengan gambaran
klinis yang bervariasi dan dapat terjadi masa tanpa gejala; infeksi cryptosporidium
parvum biasanya bertahan seumur hidup; kira-kira 2 % dari penderita AIDS yang
dilaporkan CDC Atlanta mengalami infeksi dengan Kriptosporidiosis pada saat
didiagnosa AIDS; pengalaman dari rumah sakit yang merawat penderita AIDS
menunjukkan bahwa 10 - 20 % dari penderita AIDS mendapatkan infeksi
kriptosporidiosis beberapa saat setelah menderita AIDS.
Ketika Cryptosporidium menyebar ke luar usus karena penyakit ini dapat
menjadi dominan akibat tubuh kekurangan imun pada pasien AIDS mereka dapat
mencapai paru-paru, telinga, pankreas, dan bagian perut lainnya. Parasit dapat
menulari biliary tract (sekitar lever), menyebabkan biliary cryptosporidiosis. Hal ini
menyebabkan cholecystitis dan cholangitis.
Pada manusia crytosporidium ditemukan di faring, esofagus, lambung,duodenum,
yeyunum, ileum, apendiks, olon, rektum, kandung empedu dan saluran pankreas.
Infeksi paling berat di temukan di yeyunum. Pada pemeriksaan histologik ditemukan
atrfi vilus dan ukuran kript yang membesar, serta infiltrasi sel mononuklear di lamina
propria. Cryptosporidium hanya ditemukan pada permukaan selepitel.
Pada hewan kriptosporidiosis merupakan penyakit yang akut disertai diare dengan
tinja cair, anokresia dan turunnya berat badan. Penyakit pada hewan merupakan
penyakit yang sembuh sendiri atau fatal, tidak pernah menjadi menahun. Pada
manusia beatnya penyakit ditentukan oleh status imunnya. Pada penderita
imunokompeten basanya infeksi asimtomatik atau sembuh sendiri (self-limited),
sedangkan penderita imonokompromais sering menderita diare menahun yang
berlanjut sampai meninggal.
Kriptosporidiosis pada manusia biasanya disertai diare dengan tinja cair yang
sering, tanpa adanya darah, kehilangan cairan dalam jumlah besar (3 liter sampai 17
liter) dapat dijumpai pada pasien imonokompromais, yang mungkin disebabkan toksin
yang mirip toksin kolera. Gejala bisa terjadi dengan tiba-tiba 7 sampai 10 hari setelah
infeksi dan terutama terdiri dari kram perut dan sering, mencret. Mual, muntah,
kehilangan nafsu makan, demam, dan kelemahan bisa terjadi. Pada orang yang sistem
kekebalannya lemah, gejala bisa mulai secara bertahap, dan diare bisa berbagai
macam dari ringan sampai berat (hingga 3 sampai 4 galon pada tinja encer setiap hari
pada orang dengan AIDS).
Diare pada pasien imonokompromais diare mungkin selama 4 bulan atau lebih,
pernah dilaporkan sampai 3 tahun. Gejala klinis lainnya adalah nyeri di ulu hati, mual,
muntah, anoreksia dan demam ringan. Kematian tidak langsung disebabkan oleh
cryptosporidium, tetapi diare dan malnutrisi merupakan faktor penting.

KEPERAWATAN MEDICAL BEDAH

Page 13

DAFTAR PUSTAKA
-

Widoyono.

2005.

Penyakit

Tropis:

Epidomologi,

penularan,

pencegahan,

dan

pemberantasannya.Jakarta: Erlangga Medical Series.


-

Handoko AV. 2012. Hubungan Antara Hitung Sel CD4 dengan Kejadian Retinitis pada
Pasien HIV di RSUP Dr. Kariadi Semarang. Skripsi. Program Pendidikan Sarjana
Kedokteran. Universitas Dipenogoro.

Kristina. 2005. Pengaruh Pendidikan Kesehatan Tentang Penularan HIV/AIDS Terhadap


Pengetahuan dan Stigma Masyarakat Pada ODHA Di SMU IMANUEL Samarinda.
Surabaya: UNAIR

Sugiyanto. 2010. Pengaruh Pendidikan Kesehatan Tentang Penularan HIV/AIDS Terhadap


Pengetahuan dan Stigma Masyarakat Pada ODHA Di SMA Kristen Palopo. Palopo:
STIKES Bhakti Pertiwi

Sudoyo AW, dkk. 2006. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Edisi IV. Jakart: Pusat Penerbitan
Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Hhttp://spiritia.or.id/
http://www.odhaindonesia.org
Reeves, J. D. and Doms, R. W (2002). "Human Immunodeficiency Virus
Type 2".
www.medicastore.com

KEPERAWATAN MEDICAL BEDAH

Page 14