Anda di halaman 1dari 30

BAB I

PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Antibiotik berasal dari semua senyawa kimia yang dapat dihasilkan
oleh organisme hidup atau diperoleh melalui sintesis yang memiliki indeks
kemoterapi yang tinggi. Antibiotik terdiri atas antibiotik alami dan sintesis.
Antibiotik

sintesis

memiliki

efek

buruk

jika

digunakan

secara

sembarangan. Sedangkan antibiotik alami pada umumnya berasal dari


metabolit sekunder yang diperoleh dari ekstrak suatu tanaman tertentu,
yang

diduga

memiliki

khasiat

untuk

obat.

Tingginya

tingkat

keanekaragaman hayati flora di Indonesia, banyak diantaranya yang


dimanfaatkan sebagai tanaman obat. Pengetahuan masyarakat tentang
obat tradisional sudah merupakan budaya bangsa Indonesia secara turuntemurun. Hal ini disebabkan masyarakat Indonesia sejak zaman dahulu
telah mengenal dan menggunakan tanaman obat sebagai salah satu
upaya penanggulangan terhadap suatu penyakit. Bahkan sampai saat ini,
masih banyak masyarakat yang menggunakan tanaman obat asli
Indonesia untuk mengobati berbagai macam penyakit, termasuk tanaman
Miana (Solenostemon scotellasiodes L.).
Miana (Solenostemon scotellasiodes L.) merupakan salah satu
tanaman yang tumbuh di Indonesia, dan biasanya dimanfaatkan oleh
masyarakat sebagai tanaman obat, untuk berbagai penyakit misalnya
diare, demam, pengobatan pascamelahirkan, bisul, obat ambeien,

diabetes mellitus, dan berbagai penyakit lainnya. Beberapa penelitian


menyebutkan, bahwa daun miana mengandung karvakrol yang bersifat
antibakteri atau antibiotik. Berdasarkan penelitian yang pernah dilakukan,
membuktikan bahwa ekstrak daun miana (Solenostemon scotellasiodes
L.) dapat menghambat pertumbuhan bakteri gram positif (Bacillus subtilis
dan Staphylococcus aureus) dan bakteri gram negatif (Escherihia coli dan
Pseudomonas aeruginosa). Selain itu, uji fitokimia yang telah dilakukan
menunjukkan ekstrak aseton daun Miana (Solenostemon scotellasiodes
L.) mengandung alkaloid dan steroid. Sehingga dapat dikatakan bahwa
tanaman Miana (Solenostemon scotellasiodes L.) memiliki potensi untuk
digunakan sebagai obat antibiotik. Penggunaan miana sebagai antibiotik
dikarenakan adanya mikroba endofit, salah satunya. Mikroba endofit
merupakan mikroba yang hidup di dalam jaringan tanaman pada periode
tertentu, dan mampu hidup membentuk koloni dalam inangnya. Sehingga
untuk mendapatkan mikroba endofit tersebut tidak perlu dilakukan
penebangan atau pengambilan tanaman miana dalam jumlah banyak,
karena hasil mikroba endofit yang berhasil diisolasi diduga akan
menghasilkan metabolit sekunder yang sama dengan inangnya, serta
setelah dimurnikan dan diproses lebih lanjut, maka akan menghasilkan
antibiotik tertentu.

I.2 Maksud dan Tujuan


I.2.1 Maksud Percobaan
Mengetahui dan memahami cara mengolah mikroba endofit dan
pengujian anti mikrobanya.
I.2.2 Tujuan Percobaan
Menentukan daya hambat antimikroba yang dihasilkan dari sampel
tumbuhan Miana (Solenostemon scotellasiodes L.) terhadap bakteri
Bacillus subtilis, Staphylococcus aureus, Escherichia coli dan Salmonella
thyposa.
I.3 Prinsip Percobaan
1. Pengambilan

dan

pengolahan

sampel

dengan

cara

sampel

dibersihkan, di potong kecil-kecil, disterilkan, direndam dalam etanol


70 % 1 menit, dalam NaCl 1% 5 menit, dalam etanol 70% 30 detik,
kemudian di bilas dengan air steril beberapa kali, haluskan sampel
dan timbang sebanyak 1 gram yang kemudian dilarutkan dalam 10 ml
air steril lain. Buat pengenceran hingga pengenceran 10.
2. Pengisolasian

dan

pemurnian

mikroba

endofit

dengan

cara

mengisolasi sampel dari setiap tingkat pengenceran ke dalam medium


Potato Dextrosa Agar (PDA) dan diinkubasi pada suhu ruangan
selama 3 x 24 jam kemudian diamati zona beningnya, setelah itu
dimurnikan mikrobanya dengan jalan mengisolasikannya ke dalam
Potato Dextrosa Agar (PDA) yang baru dan inkubasi pada suhu ruang
selama 3 x 24 jam kemudian diamati zona beningnya. Pindahkan ke

medium Potato Dextrosa Agar (PDA ) baru dan inkubasi selama 3 x 24


jam dan amati perubahannya.
3. Peremajaan dan pembentukan mikroba endofit dilarutkan dengan cara
mikroba yang berada pada medium Potato Dextrosa Agar (PDA)
dipindahkan ke Potato Dextrosa Agar (PDY) dan yang berasal dari
medium dipindahkan ke medium; diinkubasi dalam sheker selama 24
jam. Diinokulasi dan amati perubahan-perubahan; pisahkan filtrate
dan endapannya.
4. Pengujian aktivitas antimikroba dengan cara menginokulasikan
suspense mikroba uji ke dalam medium Potato Dextrosa Agar (PDA)
untuk jamur dan medium Glukosa Nutrien Agar (GNA) untuk bakteri
dan homogenkan kemudian tambahkan pencadang dan filtrat,
inkubasi selama 1 x 24 jam, amati perubahan yang terjadi.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II.1 Teori Umum
Tanaman Miana (Solenostemon scotellasiodes L.) merupakan
tumbuhan herba atau semak yang berasal dari Asia Tenggara, yang pada
umumnya ditanam di pekarangan rumah sebagai tanaman hias. Namun,
beberapa masyarakat juga sudah menggunakan tanaman ini sebagai
tanaman obat. Pertama kali tanaman ini ditemukan tumbuh liar pada
tempat tempat yang lembab dan terbuka seperti di pinggir selokan,
pematang sawah, dan di tepian jalan pedesaan pada ketinggian 1-1.300
dpl. Corak, bentuk, dan warna dari daun ini beraneka ragam, tetapi yang
berkhasiat sebagai

obat

adalah

daunnya

yang

berwarna

merah

kecoklatan (6)
Tanaman Miana (Solenostemon scotellasiodes L.) berkhasiat untuk
obat sakit demam nifas, obat datang haid, dan akarnya berkhasiat sebagai
obat sakit mulas (Depkes 2000). Daun dan batang miana mangandung
polifenol, sedangkan batang dan akarnya mengandung flavonoid, serta
daunnya mengandung minyak atsiri. Selain itu, daun miana juga
mengandung

karvakrol

yang

bersifat

antibiotik,

eugenol

bersifat

menghilangkan nyeri, etil salisilat menghambat iritasi, alkaloid, mineral,


sedikit lendir. Menurut Praptiwi (1999) daun miana (Solenostemon
scotellasiodes L.) ini juga mengandung thymol, yang memiliki sifat
antiseptik (dapat membunuh atau melawan bakteri), dan antelmintik

(dapat

mematikan

cacing).

Hasil

penapisan

fitokimia

simplista

menunjukkan adanya senyawa flavonoid, steroid, dan tannin (3).


Mikroba Endofit
Mikroba endofit adaah mikroba yang hidup di dalam jaringan
tanaman pada periode tertentu dan mampu hidup di dalam jaringan
tanaman tanpa membahayakan tanaman inangnya. Mikroba endofit juga
dapat diartikan sebagai organisme hidup yang berukuran mikroskopis
(baik bakteri maupun jamur) yang hidup dalam jaringan tanaman (pada
xilem dan floem), daun, akar, batang, dan batang. Mikroba endofit dapat
bersimbiosis

dengan

makhluk

hidup

lain,

dengan

dasar

saling

menguntungkan. Dalam hal ini, mikroba endofit mendapatkan nutrisi dari


hasil

metabolisme

tanaman

dan

memproteksi

tanaman

melawan

herbivora, serangga, atau jaringan yang patogen. Sedangkan tanaman


mendapatkan derivat nutrisi dan senyawa aktif yang diperlukan selama
hidupnya. Mikroba endofit tersebut dapat menghasilkan metabolit
sekunder yang sesuai dengan senyawa bioaktif dari tanaman inangnya.
(7)
Bakteri Patogen
Bakteri tergolong ke dalam protista prokariot atau sel prokariot yang
khas, uniseluler, dan tidak mengandung struktur yang dibatasi membran di
dalam sitoplasmanya. Pelczar (1986), dalam bukunya juga disebutkan
bahwa bakteri dapat menimbulkan perubahan pada substansi yang
ditumbuhinya. Bakteri juga dapat menimbulkan kerugian, baik bagi

manusia maupun bagi makhluk hidup lain. Beberapa dari spesies bakteri
dapat menimbulkan penyakit baik pada hewan, tumbuhan, manusia,
bahkan protista lainnya. Bakteri patogen adalah bakteri yang dapat
menimbulkan penyakit, terutama pada manusia. Hal ini dikarenakan pada
bakteri mempunyai sistem yang dapat mengeluarkan toksin atau racun
yang dapat menimbulkan reaksi terhadap organisme lain. Salah satu jenis
bakteri yakni bakteri gram positif maupun negatif, sama-sama mempunyai
potensi sebagai bakteri patogen. Dari segi sensitivitas terhadap komponen
antibakteri, bakteri gram positif akan cenderung lebih sensitif terhadap
komponen antibakteri dibandingkan dengan bakteri gram negatif. Hal ini
disebabkan oleh struktur dinding sel gram positif lebih sederhana,
sehingga memudahkan senyawa antibakteri masuk ke dalam sel dan
menemukan sasaran untuk bekerja (5).
Di bawah ini adalah bakteri-bakteri patogen yang dapat dihambat
aktivitasnya

menggunakan

scotellasiodes

L.)

Pseudomonas

aeruginosa,

ekstrak

diantaranya

daun

adalah

Escherichia

Miana

(Solenostemon

Staphylococcus

coli,

dan

Bacillus

aureus,
subtilis.

Staphylococcus aureus merupakan salah satu bakteri patogen, yang


merupakan penyebab berbagai infeksi yang bernanah dan bersifat toksik
pada manusia. Bacillus subtilis merupakan bakteri patogen yang dapat
menyebabkan penyakit pada manusia seperti fungsi imun terganggu,
misalnya radang selaput otak dan saraf tunjang, radang perut dan usus.
Escherichia coli termasuk salah satu bakteri patogen, yang dapat

menyebabkan gastroentritis pada manusia. Selain itu, bakteri ini juga


dapat menyebabkan infeksi pada salurang urin, dan diare. Pseudomonas
aeruginosa merupakan bakteri patogen yang mampu memproduksi enzim
yang dapat memecah komponen lemak dan protein dari bahan pangan
(3).
Resistensi Bakteri
Penggunaan antibiotika yang berulang pada beberapa strain
bakteri tertentu dapat menyebabkan terjadinya resistensi, karena pada
bakteri terjadi mekanisme pertahanan diri agar tetap survive di alam.
Salah satu dampak dari resistensi bakteri ini adalah semakin terbatasnya
pilihan antibiotika untuk mengatasi infeksi-infeksi yang berat.
Antibiotik
Antibiotik adalah semua senyawa kimia yang dihasilkan oleh
organisme hidup atau yang diperoleh melalui sntesis yang memiliki
indeks kemoterapi tinggi (Republika 2009). Antibiotik juga dapat diartikan
sebagai senyawa kimia yang khas dihasilkan atau diturunkan oleh
organisme hidup termasuk struktur analognya dibuat secara sintetik, jika
dalam kadar rendah maka mampu menghambat proses penting dalam
kehidupan satu spesies atau lebih mikroorganisme(8).

Mekanisme kerja antibiotik yaitu:


a. Penginaktifan enzim tertentu
Enzim diinaktifkan oleh antimikroba atau antibiotika seperti turunan
aldehida, amida, etilen oksida, halogen, senyawa-senyawa merkuri
dan senyawa amonium kuartener.
b. Denaturasi protein
Turunan alkohol dan halogenator, halogen senyawa merkuri,
peroksida, denaturasi dan konjugasi protein sel bakteri.
c. Mengubah permeabilitas membran sitoplasma bakteri
Model kerja dari turunan amin dan guanidin, turunan fenol dan
senyawa

amonium kuartener dengan

mengubah

permeabilitas

mmembran sitoplasma bakteri, senyawa tersebut dapat menyebabkan


bocornya konstituen sel yang esensial sehingga bakteri mengalami
kematian.
d. Mekanisme kedalam DNA
Mengikat secara kuat asam nukleat menghambat sintesis DNA dan
menyebabkan perubahan kerangka mutasi pada sintesis protein.
e. Pembentukan khelat
Pembentukan khelat dengan ion Fe dan Cu kemudian bentuk
khelat tersebut masuk kedalam sel bakteri. Jika ada yang tinggi dari
ion-ion logam di dalam sel menyebabkan gangguan fungsi enzimenzim sehingga mikroorganisme mengalami kematian.

f.

Bersifat sebagai anti metabolik


Bekerja memblok tahap metabolik spesifik mikroba seperti pada
sulfonamida dan trimetoprin, menghambat pertumbuhan sel dengan
menghambat sintesis asam folat oleh bakteri.

g. Penghambatan terhadap sintesa dinding sel


Menghambat sintesis atau menghambat aktifitas enzim yang dapat
merusak dinding sel mikroorganisme.contoh: penisilin,sefalosporin,
vaskomisin.
h. Penghambatan terhadap sintesa membran sel
Bekerja

langsung

pada

membran

sel

yang

mempengaruhi

permeabilitas dan menyebabkan keluarnya senyawa intraseluler


mikroorganisme. Berinteraksi dengan sterol membran sitoplasma
pada sel jamur seperti amfoterisin dan nistatin, merusak membran sel
bakteri gram negatif, misalnya: polimitsin dan kolistin.
i.

Penghambatan sintesis protein


Mempengaruhi

fungsi

ribosom

pada

mikroorganisme

yang

menyebabkan sintesa protein terhambat. Antimikroba berinteraksi


dengan ribosom 305. Termasuk kelompok ini adalah aminogllukosida,
tetrasiklin, dan lain-lain yang menyebabkan akumulasi sintesis protein
awal yang kompleks salah dalam menterjemahkan tanda mRNA dan
menghasilkan polipeptida abnormal.

j.

Penghambatan asam nukleat


Mempengaruhi metabolisme asam nukleat. Contoh: rifampisin
untuk mengikat atau menghambat DNA dependent RNA polimerase
yang ada pada bakteri.
Endofit merupakan mikroorganisme yang sebagian atau seluruh

hidupnya berada di dalam jaringan hidup tanaman inang. Mikrorganisme


tersebut memiliki peranan penting di dalam jaringan tanaman inang yang
memperlihatkan interaksi mutualistik, yaitu interaksi positif dengan
tanaman inangnya dan interaksi negatif terhadap hama serangga dan
penyakit tanaman. Ketahanan patogen terhadap beberapa antimikroba
telah memicu suatu usaha untuk menemukan antimikroba baru yang
efektif. Mikroba endofit dapat menghasilkan senyawa-senyawa bioaktif
yang dapat berperan sebagai antimikroba, anti malaria, antikanker, dan
juga dapat digunakan dalam dunia pertanian dan industri. Mikroba endofit
memiliki prospek yang baik dalam penemuan sumber-sumber senyawa
bioaktif yang dalam perkembangan lebih lanjut dapat dijadikan sebagai
sumber penemuan obat untuk berbagai macam penyakit.

II.2 Uraian Bahan


1. Air suling (1 ; 69)
Nama resmi

: Aqua destillata

Sinonim

: Air suling

RM/BM

: H2O / 18,02

Pemerian

: Cairan jernih, tidak berwarna, tidak mempunyai


rasa, tidak berbau.

Penyimpanan

: Dalam wadah tertutup baik.

2. Alkohol (1 ; 65)
Nama sediaan

Aethanolum

Sinonim

Etanol, alcohol

RK/BM

Pemerian

C2H6O / 46,07
Cairan tak berwarna, jernih, mudah bergerak, bau
khas, rasa panas, mudah terbakar dengan
memberikan nyala biru yang tidak berasap.

Penyimpanan

: Dalam wadah tertutup baik

3. Pepton (1 ; 720)
Pemerian

: Serbuk; kuning kemerahan sampai coklat; bau


khas tidak busuk.

Kelarutan

: Larut dalam air; memberikan larutan berwarna


coklat kekuningan yang bereaksi agak asam;
praktis tidak larut dalam etanol (95%) P dan
dalam eter P.

Kegunaan

: Sebagai komposisi medium.

4. Agar (1 : 74)
Nama resmi

: Agar

Nama lain

: Agar-agar

Pemerian

: Berkas potongan memanjang, tipis seperti selaput


dan berlekatan, atau berbentuk keeping, serpih
atau butiran; jingga lemah kekuningan, abu-abu
kekuningan sampai kuning pucat atau tidak
berwarna; tidak berbau atau berbau lemah; rasa
berlendir; jika lembab liat; jika kering rapuh.

Kelarutan

: Praktis tidak larut dalam air; larut dalam air


mendidih.

Penyimpanan

: Dalam wadah tertutup baik.

Kegunaan

: Sebagai komposisi medium.

II.2 Uraian Mikroba


II.2.1 Klasifikasi Mikroba
1. Escherichia coli (4)
Kingdom

Protista

Divisio

Protophyta

Classis

Schizomycetes

Ordo

Enterobacteriales

Familia

Enterobacteriaceae

Genus

Escherichia

Spesies

Escherichia coli

2. Staphylococcus aureus (4)


Kingdom

Protista

Divisio

Protophyta

Classis

Schizomycetes

Ordo

Enterobacteriales

Familia

Micrococcaceae

Genus

Staphylococcus

Spesies

Staphylococcus aureus

3. Salmonella thyposa (4)


Kingdom

Protista

Divisio

Protophyta

Classis

Schizomycetes

Ordo

Enterobacteriales

Familia

Enterobacteriaceae

Genus

Salmonella

Spesies

Salmonella thyposa

4. Bacillus subtilis (4)


Dunia

Protista

Divisio

Schizophyta

Kelas

Bacteria

Ordo

Eubacteriales

Suku

Bacillaceae

Genus

Bacillus

Spesies

Bacillus subtilis

II.2.2 Morfologi Mikroba


a. Escherichia coli (4)
Batang lurus, 1,1 1,5 m x 2,0 6,0 m, motil dengan flagelum
peritritikus

atau non motil. Gram negatif. Tumbuh dengan mudah

pada medium nutrien sederhana. Laktose difermentasi oleh sebagian


besar galur dengan produksi asam dan gas. Koloninya utamanya pada
nutrien gelatin, buram tidak tembus cahaya sampai sebagian
translusent, smooth dan seragam konsistensinya. Jika ditumbuhkan
pada medium Eosin Metilen Biru Agar, koloninya tampak seperti logam
kemilau.
b. Salmonella thyposa (4)
Batang, biasanya motil dengan flagelum peritrikus, catalse positif.
Kebanyakan galur akan tumbuh pada medium sintesis tanpa faktor
tumbuh khusus, dan dapat menggunakan sitrat sebagai sumber karbon.
Fakultatif anaerob.
c. Staphylococcus aureus (4)
Sel-sel berbentuk bola, berdiameter 0,5 sampai 1,5 m terdapat tunggal
dan berpasangan, dan secara khas membelah diri pada lebih dari satu
bidang sehingga membentuk gerombol yang tidak teratur. Non motil.
Tidak diketahui adanya stadium istirahat. Gram positif. Dinding sel
mengandung dua komponen utama : peptidoglikan serta asam tekoat

yang berkaitan dengannya. Kemoorganotrof. Metabolisme dengan


respirasi dan fermentatif. Anaerob fakultatif, tumbuh lebih cepat dan
lebih banyak dalam keadaan aerobik. Suhu optimum 35 400C.
Terutama berasosiasi dengan kulit, dan selaput lendir hewan berdarah
panas. Pertumbuhan pada medium agar abundant, dan koloninya
buram dan tidak tembus cahaya, smooth, dan berkilauan dalam
penampakannya. Beberapa staphylococcus bentuk lipochrome pigmen
yang memberikan koloni kuning emas atau kuning lemon dimana yang
lainnya tidak dan putih.
d. Bacillus subtilis (4)
Sel berbentuk batang dengan sebagian motil, flagel khas lateral.
Membentuk

endospora,

tidak

lebih

dari

satu

sel

dalam

sel

sporangiumnya, gram positif, kemoorganotrof dengan metabolisme


respirasi sejati, fermentasi sejati atau keduanya. Aerobik sejati atau
anaerobik fakultatif. Umumnya terdapat dalam tanah.
II.3 Uraian Sampel
II.3.1 klasifikasi sampel
a.

Miana (Solenostemon scotellasiodes L.)(9)


Kingdom

: Plantae

Devisi

: Spermatophyta

Class

: Dicotylendonae

Ordo

: Solanales

Family

: Lamiaceae

Genus

: solenostemon

Spesies

: Solenostemon scotellasiodes L.

II.3.2 Morfologi sampel


a.

Miana (Solenostemon scotellasiodes L.)


Tumbuhan miana memiliki batang herba, tegak atau berbaring
pada pangkalnya dan merayap tinggi berkisar 30-150 cm, dan
termasuk kategori tumbuhan basah yang batangnya mudah patah.
Daun tunggal, helaian daun berbentuk hati, pangkal membulat atau
melekuk menyerupai benuk jantung dan setiap tepiannya dihiasi oleh
lekuk-lekuk tipis yang bersambungan dan didukung tangkai daun
dengan panjang tangkai 3-4 cm yang memiliki warna beraneka
ragam dan ujung meruncing dan tulang daun menyirip berupa alur.
Batang bersegi empat dengan alur yang agak dalam pada masingmasing sisinya, berambut, percabangan banyak, berwarna ungu
kemerahan. Permukaan daun agak mengkilap dan berambut halus
panjang dengan panjang 7-11 cm, lebar 3-6 cm berwarna ungu
kecoklatan sampai ungu kehitaman. Bunga berbentuk untaian bunga
bersusun, muncul pada pucuk tangkai batang berwarna putih, merah
dan ungu. Tumbuhan miana memiliki aroma bau yang khas dan rasa
yang agak pahit, sifatnya dingin. Jika seluruh bagian diremas akan
mengeluarkan bau yang harum. Untuk memperbanyak tanaman ini
dilakukan dengan cara setek batang dan biji (9).

BAB III
METODE KERJA
III.1 Alat dan Bahan
III.1.1 Alat
Alat yang digunakan adalah cawan petri, lampu spiritus, spoit, botol
vial, timbangan analitik, dan silet.
III.1.2 Bahan
Bahan yang digunakan adalah medium Potato Dextrosa Agar
(PDA), Potato Dextrosa Yeast (PDY), Nutrien Agar (NA), alkohol, NaOCl
1%, aquadest, kapas, aluminium foil, sampel tumbuhan miana, bakteri
Staphylococcus aureus, bakteri Escherichia coli.
III.2 Cara Kerja
1. Pengambilan dan pengoalahan sampel
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.

Disiapkan alat dan bahan


Dipotong-potong kecil sampel miana
Dicelupkan selama 1 menit ke etanol 70 %
Dicelupkan NaOCl 1 % selama 5 menit
Dicelupkan di etanol 70 % selama 30 menit
Dihaluskan sampel
Diambil sebanyak 1 gram dan dilarutkan 10 ml air steril

2. Isolasi dan pemurnian mikroorganisme Endofit


a.

Diambil sampel yang sudah dilarutkan dalam 10 ml air steril

b.

Dibuat pengenceran sebanyak 10-5

c.

Dipipet 10 ml ke dalam cawan petri pengenceran


10, 10, dan 10- 4

d.

Dituang medium PDA

e.

Diinkubasi selama 2-5 hari

f.

Diambil 1 ose koloni terpisah

g.

Digoreskan ke medium PDA (Potato Dextrosa Agar) agar miring

h.

Diinkubasi selama 1-3 hari

3. peremajaan dan pembenihan


a. Diambil 2 ose kultur murni dan medium PDA (Potato Dextrosa Agar)
b. Dimasukkan kedalam medium PDY (Potato Dextrosa Yeast)
c. Diinkubasi selama 3 x 24 jam
d. Dipipet 1 ml PDY dan di masukkan kedalam medium produksi
e. Dishaker selama 7 hari

BAB IV
HASIL PENGAMATAN
IV.1 Data Pengamatan

S. aureus

E. coli

Sampel
Kontrol

residu

filtrat

kontrol

residu

filtrat

Miana

2,18

0,88

1,35

4,19

1,32

0,85

Miana

2,38

0,85

1,2

5,27

1,19

0,93

Miana

2,29

0,885

1,24

3,94

1,45

1,10

Miana

2,28

0,87

1,26

4,46

1,32

0,96

BAB V
PEMBAHASAN
Pada percobaan uji mikroba endofit, dilakukan pengambilan sampel
dan diolah. Dalam hal ini, yang digunakan adalah tumbuhan Miana

(Solenostemon scotellasiodes L.). Daun miana di potong-potong kecil,


setelah itu direndam dalam etanol 70% selama 1 menit lalu direndam
dalam NaOCl 1% selam 5 menit dan rendam lagi dalam etanol 70%
selama 30 detik. perendaman bertujuan untuk mensterilkan sampel dari
kotoran-kotoran. Setelah itu sampel dibilas dengan air steril lalu kembali
dihaluskan. Ambil 1 gram dari sampel dan dilarutkan dalam 10 ml air steril
dan dibuat pengencerannya sampai 10 -5. Pada pengenceran 10-1, 10-3, dan
10-4 dipipet sebanyak

10 ml dan masing-masing dimasukkan kedalam

cawan petri, lalu dimasukkan medium PDA (Potato Dextrosa Agar) dan
diinkubasi selam 2-5 hari.
Tumbuhan miana mengandung lendir, minyak atsiri, alkaloid,
flavonoid, seponin, yang berkhasiat sebagai anti bengkak dan emenagok.
Minyak atsirinya antara lain karrakrol yang bersifat antibiotik, eugenol
bersifat menghilangkan nyeri, etil salisilat menghambat iritasi.
Tanaman-tanaman

tertentu

kadang-kadang

memiliki

khasiat

antimikroba sehingga sering digunakan dalam pengobatan infeksi.


Pengolahan pun secara sederhana atau langsung saja di tempelkan pada
daerah yang sakit (kena infeksi).
Kebersihan antimikroba yang menakjubkan dalam pengobatan
penyakit manusia segera mengalami perkembangan penggunaanya
dalam sejumlah bidang sejenis. Dengan demikian, antimikroba menjadi
salah satu produk penting obat. Sehubungan dengan itu, maka perlu
dilakukan

pengujian

terhadap

pertumbuhan

khususnya

miana

(Solenostemon scotellasiodes L.). Daya hambat mikroorganisme dari


tanaman obat diketahui berdasarkan kemampuannya untuk menghambat
pertumbuhan dari suatu mikroorganisme.
Kandungan kimia yang dimiliki oleh daun miana (Solenostemon
scotellasiodes L.) utamanya adalah timol. Timol ternyata berfungsi
sebagai antimikroba karena mampu membunuh jamur dan bakteri. Di
bidang farmasi, timol digunakan sebagai antiseptik lokal. Salah satu
kegunaan daun miana (Solenostemon scotellasiodes L.) adalah dapat
digunakan untuk mengobati luka borok. Borok merupakan penyakit infeksi
yang dapat diobati dengan zat antimikroba.
Setelah diinkubasi selama 3 x 24 jam, medium Potato Dextrosa
Agar (PDA) akan menunjukkan zona bening yang ditimbulkan dari koloni
khamir sehingga dilanjutkan pada medium Potato Dextrosa Agar (PDA)
miring. Kemudian diinkubasi selama 3 x 24 jam dan dipindahkan ke
medium PDY (Potato Dextrosa Yeast) di shaker selama 3 x 24 jam lalu
dilakukan uji lanjutan pada medium produksi. Medium ini dibuat sekitar
100 ml dan di sterilkan lalu dimasukkan 50% dari medium Potato Dextrosa
Yeast (PDY) kedalam medium produksi. Medium produksi mengandung
glukosa, pati, NaCl, yeast yang berguna merangsang produksi eksoenzim.
Eksoenzim berguna sebagai kofaktor agar mempercepat pembelahan sel
mikroorganisme.
Dishaker selama

1 minggu, setelah itu dimasukkan kedalam

tabung sentrifuse dan di sentrifuse selama 15 menit, dipisahkan filtrat dan

residu kemudian dimasukkan medium Nutrien Agar (NA) kedalam cawan


petri yang telah dihomogenkan sebelumnya didalam botol coklat dengan
suspensi bakteri S. Aureus dan E. Coli, di celupkan paper disk kedalam
masing-masing filtrat, residu, dan kontrol. (kloramfenikol untuk E. Coli,
tetrasiklin untuk S. aureus) sehingga dihasilkan zona hambat pada bakteri
E.coli, residu; 1,32 cm. Filtrat 0,96 cm, kontrol 4,46 cm dan pada S.
Aureus ; residu ; 0,87, filtrat 1,26 cm dan kontrol 2,28 cm.
Shaker bertujuan untuk mengidentifikasi atau menghomogenkan
medium dan mikroba dengan bertujuan memberikan oksigen yang cukup
untuk pertumbuhan mikroba dan agar pertumbuhan mikroba merata.
Adapun metode isolasi endofit yaitu :
1. Pengujian in vitro, bertujuan untuk melihat pengaruh kultur filtrat
bakteri endofit
2. Pengujian in vivo, bertujuan untuk melihat pengaruh sel bakteri yang
diinokulasikan pada tanaman terhadap pertumbuhan tanaman

Metode-metode uji daya hambat antara lain :


1. Metode difusi
Metode ini adalah metode yang mengalami proses perpindahan
molekul secara acak dari satu posisi ke posisi lain. Pada perpindahan
posisi ini, dosis kecepatan dan energi kinetik perlu diperhatikan.
2. Metode turbidimetri
Pada metode ini media yang digunakan adalah media cair yang
diinokulasikan dengan mikroorganisme uji yang sensitif dalam tabung
reaksi steril.

Medium MYB merupakan medium perbanyakan kultur yang dapat


digunakan untuk bakteri aerob maupun bakteri anaerob. Perbanyakan
kultur bertujuan agar ketika dimasukkan ke dalam medium produksi
jumlah sel bakteri menjadi banyak, semakin banyak sel bakteri semakin
banyak pula hasil metabolitnya ketika dipindahkan ke medium produksi.
Sedangkan medium produksi umumnya medium yang memiliki polimer
rantai panjang (pati kedelai) yang dapat merangsang produksi eksoenzim.
Eksoenzim berguna sebagai kofaktor agar mempercepat pembelahan sel
mikroorganisme.
Yang terkandung dalam filtrat dan residu adalah hasil dari
sentrifuge mikroba yang telah diisolasi. Dilakukan uji keduanya karena
akan dilihat zona bening yang terbentuk, akan dibandingkan keduanya
yang mana yang memberikan zona bening lebih besar. Dan berdasarkan
hasil pengamatan, ternyata sesuai dengan literatur bahwa zona bening
yang terdapat pada cawan petri bagian filtrat lebih besar dibandingkan
zona bening pada residu.
Ada dua metode yang digunakan dalam isolasi mikroba endofit
yaitu metode langsung dan metode pengenceran. Pada metode langsung
tumbuhan yang akan diisolasi mikrobanya dipotong kecil-kecil lalu
disterilkan dan ditempelkan diatas medium. Sedangkan pada metode
pengenceran, tumbuhan yang akan diisolasi dipotong kecil-kecil lalu
disterilkan

dan

diencerkan

menggunakan

aquadest,

lalu

hasil

pengencerannya dimasukkan kedalam medium.


Sterilisasi permukaan dimaksudkan untuk mensterilkan permukaan
tumbuhan yang akan diisolasi mikroba endofitnya agar pada saat

pengujian tidak terbentuk zona bening dari mikroorganisme kontaminan


selain mikroba endofit.

BAB VI
PENUTUP
VI. 1 Kesimpulan
Diameter zona hambat pada bakteri E. Coli adalah:
a) Residu : 1,32 cm
b) Filtrat : 0,96 cm
c) Kontrol : 4,46 cm
Diameter zona hambat pada bakteri S. Aureus adalah
a) Residu : 0,87 cm
b) Filtrat : 1,76 cm
c) Kontrol : 2,28 cm

VI. 2 Saran
Asisten lebih menjelaskan lagi agar praktikan lebih mudah
mengerti.

DAFTAR PUSTAKA
1. Ditjen POM. 1979. Farmakope Indonesia Edisi III. Jakarta: depkes RI
2. Dwijoseputro,D. 1980, Dasar-Dasar Mikrobiologi. Jakarta: Penerbit
Djambatan
3. Fardiaz,S. 1992. Mikrobiologi Pangan Pangan dan Gizi IPP. Jakarta.
4. Dwijdosoeputra,D. 1992. Dasar-dasar Mikrobiologi Cetakan IV. Malang:
Penerbit Djambatan
5. Pelczar Michael, J. dan E.C.S. Chan.1986. Dasar-dasar Mikrobiologi I
Jakarta :UI Press
6. Dalimartha S. 2000. Atlas Tumbuhan Indonesia. Jilid ke-2. Jakarta:
Trubus Agriwidya.

7. Yuningsih R. 2007. Aktivitas Antibakteri Ekstrak Daun Jawer Kotok


(Coleus

scutellarioides

[L.]

Benth.)

[skripsi].

Bogor

Fakultas

Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Pertanian Bogor.


8. Siswandono, Soekardjo B. 1995. Kimia Medisinal. Surabaya: Erlangga
9. www.plantamor.com/klasifikasi-miana. diakses pada tanggal 15
Nopember 2011.

LABORATORIUM MIKROBIOLOGI FARMASI


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS HASANUDDIN

LAPORAN LENGKAP
ISOLASI MIKROBA ENDOFIT

OLEH :
ANISSA DWIRIZKY A.

N111 10 296

AURIDHA ISMI

N111 10 271

ELVIRA HARDIANA

N111 10 104

NORMANCE BOBONGLANGI N111 10 292


SURYA NENGSIH

N111 10 268

NURHAMIDAH

N111 05 678

FITRI JUMIATISYAM

N111 07 633

KELOMPOK IV
GOLONGAN KAMIS
ASISTEN : NANA JUNIARTI

MAKASSAR
2011
Lampiran:
1.

Skema Kerja
a. Pengambilan dan Pengolahan Sampel
Bersihkan

Sterilkan

Sampel tumbuhan
1%

NaOCl
Potong-potong kecil

Celup etanol 70%

5menit
1 menit
Bilas air steril
b. Isolasi dan Pemurnian Mikroorganisme Endofit
Sampel

1 ml PDA

Inkubasi 3x24 jam


Koloni dengan zona

ambil 1 ose

Gores diPDA
Inkubasi 3x24 jam
Suhu 25C

1 ose koloni terpisah

PDA miring
Inkubasi 3x24 jam
Suhu 25C
Koloni murni stock

c. Peremajaan dan Pembenihan


1 ose koloni murni

PDA

1-2 ose

Ink. 1x24 jam


Dalam shaker

PDY

Sentrifuge
Filtrat

Inkubasi 1-3 hari

Shaker 7 hari

Pipet 1 ml
100 ml
Med. produksi

Endapan

d. Pengujian Aktivitas
Pipet 2 ml
(seed layer)

Suspensi m.o
uji

5 ml PDA

(base layer)

10 ml PDA

Pencadang/paper disk + fermentat


( filtrat endapan )
Ink. 1x24 jam
Ukur zona hambat

2.

Komposisi Medium
a. Medium Nutrient Agar (NA)
Beef ekstrak

: 3 gr

Pepton

: 5 gr

Agar

: 15 gr

Aquadest

ad

1000 ml

b. Medium Potato Dekstrosa Agar (PDA)


Kentang
: 200 gr
Dekstrosa
: 10 gr
Agar
: 20 gr
Aquades ad
1000 ml
c. Medium Potato Dekstrosa Yeast (PDY)
Ekstrak Yeast : 4 gr, untuk 1000 mL aquades
PDB
: 26,5 gr
d. Medium Produksi
Glukosa
: 20 gr
Pati terlarut
: 10 gr
Ekstrak yeast
: 1 gr
NaCl
: 2 gr
Tepung kedelai : 25 gr
Dekstrosa
: 1 gr
Aquadest
ad 1000 mL