Anda di halaman 1dari 39

2014

Referat Asma Pada Kehamilan

Ferdy Erawan (406127017)


Ines Anandia
Agnes (406127106)
Nancy (406127107)

Dokter Pembimbing
dr. Luluk Adipratikto, Sp.P

Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara


Bagian Ilmu Penyakit Dalam
RSUD Kudus

Referat Asma Pada Kehamilan 2014

Daftar Isi
Daftar Isi.................................................................................................................. 2
BAB I ...................................................................................................................... 4
PENDAHULUAN .................................................................................................. 4
BAB II ..................................................................................................................... 6
ASMA BRONKIALE ............................................................................................. 6
1.

DEFINISI ..................................................................................................... 6

2.

EPIDEMIOLOGI7 ........................................................................................ 6

3.

ETIOLOGI7 .................................................................................................. 6

4.

PATOFISIOLOGI4 ...................................................................................... 7

5.

6.

A.

Efek Asma terhadap Kehamilan ........................................................... 8

B.

Efek Kehamilan terhadap Asma ........................................................... 9

DIAGNOSIS 3 ............................................................................................ 10
A.

Anamnesa............................................................................................ 10

B.

Pemeriksaan Faal Paru ........................................................................ 11

C.

Spirometri ........................................................................................... 11

D.

Arus Puncak Ekspirasi (PEF) ............................................................. 12

E.

Peran Pemeriksaan Lain Untuk Diagnosis.......................................... 14

PENATALAKSANAAN ASMA DALAM KEHAMILAN8,9 .................. 16

Bagian Ilmu Penyakit Dalam


RSUD Kudus

Page 2

Referat Asma Pada Kehamilan 2014


A.

Tujuan Penatalaksanaan Asma Dalam Kehamilan : ........................... 16

B.

Rute pemberian medikasi.................................................................... 18

C.

Medikasi Asma5 .................................................................................. 19

7.

DIAGNOSIS BANDING7 ......................................................................... 38

8.

Komplikasi 1,9 ............................................................................................. 38

9.

Prognosis7................................................................................................... 38

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 39

Bagian Ilmu Penyakit Dalam


RSUD Kudus

Page 3

Referat Asma Pada Kehamilan 2014


BAB I
PENDAHULUAN

Asma merupakan salah satu dari beberapa penyakit yang sering menjadi
penyulit dalam kehamilan. Beberapa penelitian terakhir menyebutkan bahwa asma
bronkiale menjadi penyulit pada sekitar 4% kehamilan. Prevalensi yang
sebenarnya

bisa

lebih

tinggi

karena

sekitar

10%

populasi

memiliki

hiperreaktivitas saluran nafas nonspesifik yang merupakan stigma asma. Lebih


lanjut, dalam dekade 80-an, prevalensi, morbiditas, dan mortalitas asma
meningkat sampai 60%.
Asma yang tidak terkontrol dapat menyebabkan komplikasi ibu dan janin
yang serius. Asma yang tidak terkontrol meningkatkan risiko kematian perinatal,
prematuritas, dan atau bayi berat badan lahir rendah serta preeklamsi. Asma dapat
terjadi pertama kali atau tereksaserbasi selama kehamilan, dan kehamilan dapat
memberikan efek samping untuk perjalanan penyakit asma sendiri pada sekitar
sepertiga wanita hamil dengan penyulit asma.
Di lain pihak, sebagian besar wanita hamil dengan asma dapat mengontrol
asmanya dengan baik dan memiliki bayi yang sehat. Kontrol asma yang baik
memberi kesempatan bagi seorang wanita dengan asma untuk mempertahankan
kehamilan normal dengan sedikit atau tanpa adanya risiko untuk wanita tersebut
atau janinnya.
Pasien-pasien dengan asma yang hamil memerlukan penanganan terhadap
asmanya. Oleh sebab itu, wanita hamil dan wanita yang ingin hamil seharusnya

Bagian Ilmu Penyakit Dalam


RSUD Kudus

Page 4

Referat Asma Pada Kehamilan 2014


mendapatkan penanganan farmakologik dan non-farmakologik untuk menangani
asmanya dan menyejahterakan wanita-wanita tersebut dan bayinya.
Penderita selama kehamilan perlu mendapat pengawasaan yang baik.
Penatalaksanaan dari asma pada kehamilan yaitu menghindari faktor pencetus
seperti zat-zat alergan, infeksi saluran napas, udara dingin dan factor psikis.
Untuk pengobatan yang diberikan secara maintenance tetap diberikan sampai
kelahiran

Bagian Ilmu Penyakit Dalam


RSUD Kudus

Page 5

Referat Asma Pada Kehamilan 2014


BAB II
ASMA PADA KEHAMILAN
1. DEFINISI
Asma adalah gangguan inflamasi kronik saluran napas yang melibatkan
banyak sel dan elemennya. Inflamasi kronik menyebabkan peningkatan
hiperesponsif jalan napas yang menimbulkan gejala episodik berulang berupa
mengi, sesak napas, dada terasa berat dan batuk-batuk terutama malam atau dini
hari. 5
Asma merupakan penyakit inflamasi kronik pada saluran napas dengan
karakteristik peningkatan responsivitas pada saluran trakeobronkial terhadap
berbagai stimulus. Itulah kondisi umum yang terjadi pada kehamilan. 7

2. EPIDEMIOLOGI7
Di Indonesia, prevalensi asma sekitar 5-6% dari populasi. Prevalensi asma
dalam kehamilan sekitar 3.7-4%. Hal tersebut membuat asma menjadi salah
satu masalah yang biasa ditemukan dalam kehamilan.

3. ETIOLOGI7

Alergen, termasuk serbuk bunga,debu rumah tangga, antigen kecoa,


sengatan himenoptera

Iritan, termasuk rokok cigarette, polusi udara, bau menyengat, debu di


tempat kerja, dan bahan kimia

Kondisi medis, termasuk ISPA, sinusitis, esophageal reflux, dan


infestasi ascaris

Bagian Ilmu Penyakit Dalam


RSUD Kudus

Page 6

Referat Asma Pada Kehamilan 2014

Obat-obatan dan kimia, termasuk aspirin, OAINS, beta blockers,


media radiokontras

Latihan pencetus asma

Udara dingin

Stress emosional

4. PATOFISIOLOGI4
Hiperventilasi relatif selama kehamilan mulai terlihat pada trimester
pertama. Perubahan ini dikarenakan adanya peningkatan volume tidal sedangkan
frekuensi pernafasan relatif tidak mengalami perubahan selama kehamilan. Maka
dari itu, takipneu pada kehamilan (frekuensi > 20x/menit) merupakan
abnormalitas yang harus dicari penyebabnya. Peningkatan volume tidal prinsipnya
disebabkan oleh peningkatan produksi progesteron plasenta yang juga
menyebabkan sensasi nafas pendek (dispneu kehamilan) yang biasa terjadi pada
kehamilan. Hiperventilasi kehamilan berhubungan dengan perubahan penting
pada gas darah arteri dengan tekanan karbon dioksida arteri istirahat (PCO2) di
bawah 35 mmHg. Alkalosis respiratoar kronis ini sebagian dikompensasi oleh
peningkatan ekskresi bikarbonat ginjal. Konsumsi oksigen total dan rasio
metabolik basal juga meningkat sampai 20% dan 15% sesuai dengan peningkatan
tekanan oksigen ibu yang juga biasa terjadi pada kehamilan normal. Nilai normal
PO2 bervariasi dari 106 sampai 108 mmHg selama trimester pertama dan sedikit
menurun pada trimester ketiga. Oksigenisasi banyak dipengaruhi oleh posisi
tubuh. 25% wanita hamil memiliki tekanan oksigen arteri kurang dari 90 mmHg

Bagian Ilmu Penyakit Dalam


RSUD Kudus

Page 7

Referat Asma Pada Kehamilan 2014


pada posisi berbaring dan ada kecenderungan mengalami peningkatan gradien
oksigen arterial-alveolar pada posisi berbaring daripada posisi berdiri 4.
Parameter-parameter yang dilihat pada tes fungsi paru adalah sebagai
berikut: penurunan volume residu, kapasitas residu fungsional, volume cadangan
ekspiratoar, dan kapasitas total paru, adanya peningkatan kapasitas inspiratoar,
dan tidak ada perubahan pada kapasitas vital atau forced expiratory volume in 1
second

(FEV1).

Semua

perubahan

yang

telah

dibicarakan

berpotensi

mempengaruhi interpretasi klinis tes fungsi paru dan pengukuran gas darah pada
wanita hamil dengan asma dan harus diingat saat interpretasi klinis data-data
tersebut. Namun secara umum, parameter fungsi paru pada penggunaan klinis
umum seperti frekuensi pernafasan atau FEV1 tidak berubah dengan adanya
kehamilan sehingga setiap perubahan pada parameter ini harus dianggap dan
diperlakukan sebagai abnormalitas .
A. Efek Asma terhadap Kehamilan
Asma khususnya jika berat pada kenyataannya dapat berpengaruh pada
kehamilan. Menurut Clark, dkk (1993) dua penelitian besar epidemiologi
mengatakan bahwa asma berpotensi memberikan efek yang merugikan, diikuti
dengan peningkatan insidensi lahir premature, BBLR, kematian perinatal, dan
preeklamsi, gangguan tekanan darah ini disertai dengan bocornya protein pada
urine ibu dan sangat potensial untuk terjadinya kerusakan ginjal, otak, hepar, dan
mata. Lehrer, dkk (1993) melaporkan bahwa wanita asma memiliki insidensi dua
koma lima kali lipat dari kehamilan menimbulkan hipertensi.6

Bagian Ilmu Penyakit Dalam


RSUD Kudus

Page 8

Referat Asma Pada Kehamilan 2014


Komplikasi

yang

dapat

mengancam

hidup

yaitu

pnemothorax,

pnemomediatinum, akut cor pulmonale, cardiac aritmia, kelelahan otot dengan


respiratory arest6
B. Efek Kehamilan terhadap Asma
Pengaruh kehamilan terhadap perjalanan klinis asma, bervariasi dan tidak
dapat diduga. Dispnea simtomatik yang terjadi selama kehamilan, yang mengenai
60%-70% wanita hamil, bisa memberi kesan memperberat keadaan asma2
Wanita yang memulai kehamilan dengan asma yang berat, tampaknya
akan mengalami asma yang lebih berat selama masa kehamilannya dibandingkan
dengan mereka yang dengan asma yang lebih ringan. Sekitar 60% wanita hamil
dengan asma akan mengalami perjalanan asma yang sama pada kehamilankehamilan berikutnya2
Gluck& Gluck menyimpulkan bahwa peningkatan kadar IgE diperkirakan
akan memperburuk keadaan asma selama kehamilan, sebaliknya penderita dengan
kadar IgE yang menurun akan membaik keadaannya selama kehamilan(1).
Eksaserbasi serangan asma tampaknya sering terjadi pada trimester III atau
pada saat persalinan, hal ini menimbulkan pendapat adanya pengaruh perubahan
faktor hormonal, yaitu penurunan progesteron dan peningkatan prostaglandin,
sebagai faktor yang memberikan pengaruh2
Pada persalinan dengan seksio sesarea resiko timbulnya eksaserbasi
serangan asma mencapai 18 kali lipat dibandingkan jika persalinan berlangsung
pervaginam2

Bagian Ilmu Penyakit Dalam


RSUD Kudus

Page 9

Referat Asma Pada Kehamilan 2014


5. DIAGNOSIS 3
A. Anamnesa
a) Pada anamnesa tanyakan apakah ada riwayat berikut ini :

Batuk yang memburuk di malam hari

Mengi berulang

Kesulitan bernafas berulang

Perasaan sesak berulang

b) Gejala semakin buruk di malam hari sehingga membangunkan pasien


c) Gejala muncul pada musim-musim tertentu
d) Pasien juga memiliki riwayat eksim, alergi serbuk bunga, atau riwayat
keluarga dengan asma atau penyakit atopic
e) Gejala semakin buruk dengan adanya :

Hewan berbulu

Zat-zat kimia dalam partikel udara

Perubahaan temperature

Kutu debu

Obat obatan (Aspirin dan -Blocker)

Olah raga

Serbuk bunga

Infeksi saluran nafas

Merokok

Emosi

f) Gejala mereda dengan terapi asma

Bagian Ilmu Penyakit Dalam


RSUD Kudus

Page 10

Referat Asma Pada Kehamilan 2014


g) Gejala flu pasien butuh lebih dari 10 hari untuk sembuh

Pemeriksaan Fisik 5
Gejala asma bervariasi sepanjang hari sehingga pemeriksaan fisik dapat
normal. Kelainan yang paling sering ditemukan pada pemeriksaan fisik adalah
suara wheezing pada auskultasi. Pada keadaan serangan, kontraksi otot polos
saluran nafas, edema dan hipersekresi dapat menyumbat jalan nafas; maka sebagai
kompensasi penderita bernafas pada volume paru yang lebih besar untuk
mengatasi menutupnya saluran nafas. Hal itu meningkatkan kerja pernafasan dan
menimbulkan tanda klinis berupa sesak nafas, mengi, dan hiperinflasi.
Pada serangan ringan, mengi terdengar saat ekspirasi paksa. Walupun
demikian mengi dapat tidak terdengar (silent chest) pada serangan yang sangat
berat, tetapi biasanya disertai gejala lain seperti sianosis, gelisah, sukar bicara,
takikardi, hiperinflasi dan penggunaan otot bantu nafas

B. Pemeriksaan Faal Paru


Pemeriksaan faal paru digunakan untuk menilai :
1. Obstruksi jalan nafas
2. Reversibiliti kelainan faal paru
3. Variability

faal

paru,

sebagai

penilaian

tidak

langsung

hiperesponsif jalan nafas

C. Spirometri

Bagian Ilmu Penyakit Dalam


RSUD Kudus

Page 11

Referat Asma Pada Kehamilan 2014


Pengukuran volume ekspirasi paksa detik pertama (VEP1) dan
kapasitas vital paksa (KVP) dilakukan dengan maneuver ekspirasi paksa
melalui prosedur yang standar. Untuk mendapatkan nilai yang akurat,
diambil nilai tertinggi dari 2-3 nilai yang reproducible dan acceptable.
Tujuan pemeriksaan spirometri dalam diagnosis asma :
1. Obstruksi jalan nafas diketahui bila nilai rasio VEP1/KVP <75%
atau VEP<80% nilai prediksi. Spirometri adalah metode yang
dipilih untuk mengukur hambatan aliran udara dan menentukan
apakah hambatan tersebut reversibel atau tidak.
2. Revesibiliti, yaitu perbaikan VEP115% secara spontan, atau
setelah inhalasi bronkodilator (uji bronkodilator), atau setelah
pemberian bronkodilator oral 10-14 hari, atau setelah pemberian
kortikosteroid inhalasi/oral selama 2 minggu.
3. Menilai derajat berat asma

Keparahan

abnormalitas

dari

pengukuran

spirometri

dievaluasi

dengan

membandingkan hasil pasien dengan nilai refrensi berdasarkan usia, tinggi badan,
jenis kelamin, dan ras. 8,9

D. Arus Puncak Ekspirasi (PEF)


Nilai APE dapat diperoleh melalui pemeriksaan spirometri atau
pemeriksaan yang lebih sederhana yaitu dengan alat peak expiratory flow meter
(PEF meter). Alat PEF meter relatif mudah digunakan/dipahami oleh dokter dan

Bagian Ilmu Penyakit Dalam


RSUD Kudus

Page 12

Referat Asma Pada Kehamilan 2014


pasien sehingga baik untuk digunakan memantau kondisi penderita asma sehari
hari di rumah.
Manfaat APE dalam diagnosis asma :
1. Reversibility, yaitu perbaikan nilai APE 15% setelah inhalasi
bronkodilator, atau bronkodilator oral 10-14 hari, atau terapi
kortikosteroid oral 10-14 hari
2. Variability, menilai variasi diurnal APE yang dikenal dengan
variability APE harian selama 1-2 minggu. Variability juga dapat
digunakan untuk menilai derajat berat penyakit.
Nilai APE tidak selalu berkorelasi dengan parameter pengukuran faal paru dan
tidak selalu berkorelasi dengan beratnya derajat obstruksi sehingga pengukuran
nilai APE harus dibandingkan dengan nilai terbaik sebelumnya, bukan nilai
prediksi normal, kecuali bila tidak diketahui nilai terbaik penderita.

Cara pemeriksaan variability APE harian


Diukur pagi hari untuk mendapatkan nilai terendah dan malam hari untuk
mendapatkan nilai tertinggi Rata rata APE harian dapat diperoleh dengan 2 cara
:

Bila

sedang

menggunakan

bronkodilator,

diambil

variasi/

perbedaan nilai APE pagi hari sebelum bronkodilator dan APE


malam hari sesudah penggunaan bronkodilator. Perbedaan nilai
pagi hari sebelum bronkodilator dan malam hari sesudah

Bagian Ilmu Penyakit Dalam


RSUD Kudus

Page 13

Referat Asma Pada Kehamilan 2014


bronkodilator menunjukkan persentase rata rata nilai APE harian.
Nilai >20% dipertimbangkan sebagai asma.

Metode lain untuk menetapkan variability APE adalah nilai


terendah APE pagi sebelum bronkodilator selama pengamatan 2
minggu, dinyatakan dengan persentase dari nilai terbaik (nilai
tertinggi APE malam hari)
Contoh :

Selama 1 minggu setiap hari diukur APE pagi dan malam, misalkan didapatkan
APE pagi terendah 300 dan APE malam tertinggi 400; maka persentasi dari nilai
terbaik (%of the recent best) adalah 300/400 = 75%. Metode tersebut paling
mudah dan mungkindilakukan untuk menilai variability.
E. Peran Pemeriksaan Lain Untuk Diagnosis

Uji Provokasi Bronkus

Uji provokasi bronkus membantu menegakkan diagnosis asma. Pada


penderita dengan gejala asma dan faal mparu normal sebaiknya dilakukan
uji provokasi bronkus. Pemeriksaan uji provokasi bronkus mempunyai
sensitivitas yang tinggi tetapi spesifitas yang rendah, artinya hasil negative
dapat menyingkirkan diagnosis asma persisten, tetapi hasil positif tidak
selalu berarti penderita tersebut asma. Hasil positif dapat ditemukan pada
penderita rhinitis alergik, berbagai gangguan penyempitan jalan nafas
seperti PPOK, bronkiektasis, dan fibrosis kistik.

Bagian Ilmu Penyakit Dalam


RSUD Kudus

Page 14

Referat Asma Pada Kehamilan 2014

Pengukuran status alergi


Komponen alergi pada asma dapat diidentifikasi melalui
pemeriksaan uji kulit atau pengukuran IgEn spesifik serum. Uji
tersebut mempunyai nilai kecil untuk mendiagnosis asma, tetapi
membantu mengidentifikasi faktor resiko / pencetus sehingga dapat
dilaksanakan kontrol lingkungan dalam penatalaksanaan.
Uji kulit adalah cara utama untuk mendiagnosis status
alergi / atopi, meskipun sapat menghasilkan positif maupun
negative palsu sehingga konfirmasi terhadap pajanan alergen yang
relevan dan hubungannya dengan gejala harus selalu dilakukan .
Pemeriksaan kadar IgE total tidak mempunya arti dalam
diagnosis alergi/atopi.

Bagian Ilmu Penyakit Dalam


RSUD Kudus

Page 15

Referat Asma Pada Kehamilan 2014


6. PENATALAKSANAAN ASMA DALAM KEHAMILAN8,9
A. Tujuan Penatalaksanaan Asma Dalam Kehamilan :
Tujuan terapi asma pada pasien hamil adalah memberikan terapi
manajemen asma yang untuk mempertahankan kualitas hidup dan
kesehatan ibu yang baik dan juga untuk pematangan janin. Asma
dikatakan terkontrol bila8,9:
1. Gejala minimal (sebaiknya tidak ada), termasuk gejala malam
2. Tidak ada eksaserbasi/minimal
3. Tidak ada keterbatasan aktivitas termasuk berolahraga
4. Kebutuhan bronkodilator (agonis beta2 kerja singkat) minimal
(idealnya tidak diperlukan)
5. Menjaga fungsi paru mendekati normal
6. Efek samping obat minimal (tidak ada)
Diperlukan pengawasan dan penyesuaian terapi yang tepat untuk
mempertahankan fungsi paru-paru karena berpengaruh terhadap pasokan
oksigen ke janin. Kontrol asma yang tepat harus memungkinkan seorang
wanita dengan asma untuk mempertahankan kehamilan normal dengan
resiko seminimal mungkin bagi dirinya dan janinya.

Pengobatan Asma memiliki empat komponen:


1. Penilaian dan pemantauan asthma, termasuk pengukuran objektif
fungsi paru

Bagian Ilmu Penyakit Dalam


RSUD Kudus

Page 16

Referat Asma Pada Kehamilan 2014


Karena kejadian asma berubah pada sekitar dua dari tiga pasien
perempuan selama kehamilan maka disarankan untuk melakukan
evaluasi bulanan riwayat asma dan fungsi paru. Tes spirometri
disarankan untuk pemeriksaan awal. Untuk pemantauan rutin pada
pasien rawat jalan, penggunaan spirometri lebih disukai tetapi
pengukuran PEF dengan PEF meter biasanya sudah cukup.
Pasien harus diinstruksikan untuk memperhatikan aktivitas janin.
USG serial yang dimulai pada usia kehamilan 32 minggu harus
dipertimbangkan untuk pasien yang mendapatkan terapi asma
suboptimal dan untuk perempuan dengan asma sedang hingga berat
2. Pengendalian faktor yang berpengaruh terhadap keparahan asma
Mengidentifikasi dan mengontrol atau menghindari faktor alergen
dan iritan yang berpengaruh terhadao keparahan asma dapat
meningkatkan kesehatan ibu dengan penggunaan obat yang lebih
sedikit
3. Edukasi pasien
Kontrol asma ditingkatkan dengan mengedukasi pasien mengenai
asma dan beberapa keterampilan yang berhubungan, seperti melakukan
pemantauan terhadap diri sendiri, penggunaan inhaler yang tepat, dan
mengedukasi pasien untuk mengikuti rencana terapi jangka panjang dan
menangani segera tanda-tanda asma yang memburuk.
4. Pendekatan bertahap untuk terapi farmakologis

Bagian Ilmu Penyakit Dalam


RSUD Kudus

Page 17

Referat Asma Pada Kehamilan 2014


Pada terapi yang bertahan untuk mencapai dan mempertahankan
asma yang terkontrol, dosis dan jumlah obat dan frekuens pemberian
obat ditingkatkan sesuai dengan kebutuhan berdasarkan dari keparahan
asma yang diderita oleh pasien, dan dosis obat diturunkan ketika
keadaan sudah memungkinkan.

B. Rute pemberian medikasi


Medikasi asma dapat diberikan melalui berbagai cara yaitu
inhalasi, oral dan parenteral (subkutan, intramuskular, intravena).
Kelebihan pemberian medikasi langsung ke jalan napas (inhalasi) adalah :

lebih efektif untuk dapat mencapai konsentrasi tinggi di jalan napas

efek sistemik minimal atau dihindarkan


beberapa obat hanya dapat diberikan melalui inhalasi, karena tidak

terabsorpsi pada pemberian oral (antikolinergik dan kromolin). Waktu


kerja bronkodilator lebih cepat bila diberikan inhalasi daripada oral.
Macam-macam cara pemberian obat inhalasi
1. Inhalasi dosis terukur (IDT)/ metered-dose inhaler (MDI) yang
memiliki Kekurangan sulit mengkoordinasikan dua kegiatan (menekan
inhaler dan menarik napas) dalam satu waktu, sehingga harus
dilakukan latihan berulang-ulang agar penderita trampil
2. IDT dengan alat Bantu (spacer) : Penggunaan alat Bantu (spacer) dapat
mengatasi kesulitan yang terjadi dengan penggunaan IDT dan
memperbaiki penghantaran obat melalui IDT. Selain itu spacer juga

Bagian Ilmu Penyakit Dalam


RSUD Kudus

Page 18

Referat Asma Pada Kehamilan 2014


mengurangi deposit obat di mulut dan orofaring,mengurangi batuk
akibat IDT, serta mengurangi bioavailibiliti sistemik dan risiko efek
samping sistemik
3. Breath-actuated MDI
4. Dry powder inhaler (DPI) memiliki Kelebihan tidak menggunakan
campuran yaitu propelan freon, dan relatif lebih mudah digunakan
dibandingkan IDT. Saat inhalasi hanya dibutuhkan kecepatan aliran
udara inspirasi minimal, oleh sebab itu DPI sulit digunakan saat
eksaserbasi, sehingga dosis harus disesuaikan. Sebagian DPI terdiri
atas obat murni, dan sebagian lagi mengandung campuran laktosa,
tetapi DPI tidak mengandung klorofluorokarbon sehingga lebih baik
untuk ekologi tetapi lebih sulit pada udara dengan kelembaban tinggi
5. Turbuhaler
6. Nebuliser

C. Medikasi Asma5
Medikasi asma ditujukan untuk mengatasi dan mencegah gejala obstruksi
jalan napas, terdiri atas pengontrol dan pelega.
1. Pengontrol (Controllers)
Pengontrol
mengontrol

adalah

asma,

medikasi

diberikan

setiap

asma

jangka

hari

untuk

panjang

untuk

mencapai

dan

mempertahankan keadaan asma terkontrol pada asma persisten. Pengontrol


sering disebut pencegah, yang termasuk obat pengontrol :

Bagian Ilmu Penyakit Dalam


RSUD Kudus

Page 19

Referat Asma Pada Kehamilan 2014

Kortikosteroid inhalasi
Kortikosteroid inhalasi adalah medikasi jangka panjang yang
paling efektif untuk mengontrol asma. Berbagai penelitian menunjukkan
penggunaan

steroid

inhalasi

menghasilkan

perbaikan

faal

paru,

menurunkan hiperesponsif jalan napas, mengurangi gejala, mengurangi


frekuensi dan berat serangan dan memperbaiki kualitas hidup. Steroid
inhalasi adalah pilihan bagi pengobatan asma persisten (ringan sampai
berat). Steroid inhalasi ditoleransi dengan baik dan aman pada dosis yang
direkomendasikan. (Konsensus)

apabila dengan steroid inhalasi tidak

dapat mencapai asma terkontrol (walau dosis sudah sesuai dengan derajat
berat asma) maka dianjurkan untuk menambahkan obat pengontrol lainnya
daripada meningkatkan dosis steroid inhalasi tersebut
Efek samping steroid inhalasi adalah efek samping lokal seperti
kandidiasis orofaring, disfonia dan batuk karena iritasi saluran napas atas.
Semua efek samping tersebut dapat dicegah dengan penggunaan spacer,
atau mencuci mulut dengan berkumur-kumur dan membuang keluar
setelah inhalasi.

Kortikosteroid sistemik
Kortikosteroid sistemik dapat diberikan melalui oral atau parenteral.
Kemungkinan digunakan sebagai pengontrol pada keadaan asma persisten
berat (setiap hari atau selang sehari), tetapi penggunaannya terbatas
mengingat risiko efek sistemik. steroid inhalasi jangka panjang lebih baik
daripada steroid oral jangka panjang. Jika steroid oral terpaksa harus

Bagian Ilmu Penyakit Dalam


RSUD Kudus

Page 20

Referat Asma Pada Kehamilan 2014


diberikan misalnya pada keadaan asma persisten berat yang dalam terapi
maksimal belum terkontrol (walau telah menggunakan paduan pengoabatn
sesuai berat asma), maka dibutuhkan steroid oral selama jangka waktu
tertentu.
Di Indonesia, steroid oral jangka panjang terpaksa diberikan
apabila penderita asma persisten sedang-berat tetapi tidak mampu untuk
membeli

steroid

inhalasi,

maka

dianjurkan

pemberiannya

mempertimbangkan berbagai hal di bawah ini untuk mengurangi efek


samping sistemik. Beberapa hal yang harus dipertimbangkan saat memberi
steroid oral :

gunakan prednison, prednisolon, atau metilprednisolon karena mempunyai


efek mineralokortikoid minimal, waktu paruh pendek dan efek striae pada
otot minimal

bentuk oral, bukan parenteral

penggunaan selang sehari atau sekali sehari pagi hari


Efek samping sistemik penggunaan glukokortikosteroid oral/
parenteral jangka panjang adalah osteoporosis, hipertensi, diabetes, supresi
aksis adrenal pituitari hipotalamus, katarak, glaukoma, obesiti, penipisan
kulit, striae dan kelemahan otot

Kromolin (sodium kromoglikat dan nedokromil sodium)


Kromolin merupakan antiinflamasi nonsteroid, menghambat
penglepasan mediator dari sel mast melalui reaksi yang diperantarai IgE
yang bergantung kepada dosis dan seleksi serta supresi sel inflamasi

Bagian Ilmu Penyakit Dalam


RSUD Kudus

Page 21

Referat Asma Pada Kehamilan 2014


tertentu (makrofag, eosinofil, monosit) Pemberiannya secara inhalasi.
Digunakan sebagai pengontrol pada asma persisten ringan. Studi klinis
menunjukkan pemberian sodium kromoglikat dapat memperbaiki faal paru
dan gejala, menurunkan hiperesponsif jalan napas walau tidak seefektif
glukokortikosteroid inhalasi. Dibutuhkan waktu 4-6 minggu pengobatan
untuk menetapkan apakah obat ini bermanfaat atau tidak. Efek samping
umumnya minimal seperti batuk atau rasa obat tidak enak saat melakukan
inhalasi .

Metilsantin
Teofilin adalah bronkodilator yang juga mempunyai efek
ekstrapulmoner seperti antiinflamasi. Efek bronkodilatasi berhubungan
dengan hambatan fosfodiesterase yang dapat terjadi pada konsentrasi
tinggi (>10 mg/dl), sedangkan efek antiinflamasi melalui mekanisme yang
belum jelas terjadi pada konsentrasi rendah (5-10 mg/dl). Teofilin juga
digunakan sebagai bronkodilator tambahan pada serangan asma berat.
Sebagai pelega, teofilin/aminofilin oral diberikan bersama/kombinasi
dengan agonis beta-2 kerja singkat, sebagai alternatif bronkodilator jika
dibutuhkan. Efek samping berpotensi terjadi pada dosis tinggi ( >10
mg/kgBB/ hari atau lebih); hal itu dapat dicegah dengan pemberian dosis
yang tepat dengan monitor ketat. Gejala gastrointestinal nausea, muntah
adalah efek samping yang paling dulu dan sering terjadi. Efek
kardiopulmoner kardiopulmoner seperti takikardia, aritmia dan kadangkala
merangsang pusat napas. Intoksikasi teofilin dapat menyebabkan kejang

Bagian Ilmu Penyakit Dalam


RSUD Kudus

Page 22

Referat Asma Pada Kehamilan 2014


bahkan kematian. Dianjurkan memonitor kadar teofilin/aminofilin serum
penderita dalam pengobatan jangka panjang. Umumnya efek toksik serius
tidak terjadi bila kadar dalam serum < 15 ug/ml, walau terdapat variasi
individual tetapi umumnya dalam pengobatan jangka panjang kadar teoflin
serum 5-15 ug/ml (28-85uM) adalah efektif dan tidak menimbulkan efek
samping. Perhatikan berbagai keadaan yang dapat mengubah metabolisme
teofilin antara lain. demam, hamil, penyakit hati, gagal jantung, merokok
yang menyebabkan perubahan dosis pemberian teofilin/aminofilin. Selain
itu perlu diketahui seringnya interaksi dengan obat lain yang
mempengaruhi dosis pemberian obat lain tersebut misalnya simetidin,
kuinolon dan makrolid.

Agonis beta-2 kerja lama


Termasuk di dalam agonis beta-2 kerja lama inhalasi adalah
salmeterol dan formoterol yang mempunyai waktu kerja lama (> 12 jam).
Seperti lazimnya agonis beta-2 mempunyai efek relaksasi otot polos,
meningkatkan

pembersihan

mukosilier,

menurunkan

permeabiliti

pembuluh darah dan memodulasi penglepasan mediator dari sel mast dan
basofil. Kenyataannya pada pemberian jangka lama, mempunyai efek
antiinflamasi walau kecil. Inhalasi agonis beta-2 kerja lama yang diberikan
jangka

lama

mempunyai

efek

protektif

terhadap

rangsang

bronkokonstriktor. Pemberian inhalasi agonis beta-2 kerja lama,


menghasilkan efek bronkodilatasi lebih baik dibandingkan preparat oral.
inhalasi agonis beta-2 kerja lama sebaiknya diberikan ketika dosis standar

Bagian Ilmu Penyakit Dalam


RSUD Kudus

Page 23

Referat Asma Pada Kehamilan 2014


glukokortikosteroid inhalasi gagal mengontrol dan, sebelum meningkatkan
dosis glukokortikosteroid inhalasi tersebut. Agonis beta-2 kerja lama
inhalasi

dapat

memberikan

efek

samping

sistemik

(rangsangan

kardiovaskular, tremor otot rangka dan hipokalemia) yang lebih sedikit


atau jarang daripada pemberian oral. Bentuk oral juga dapat mengontrol
asma, yang beredar di Indonesia adalah salbutamol lepas lambat,
prokaterol dan bambuterol. Mekanisme kerja dan perannya dalam terapi
sama saja dengan bentuk inhalasi agonis beta-2 kerja lama, hanya efek
sampingnya

lebih

banyak.

Efek

samping

berupa

rangsangan

kardiovaskular, ansieti dan tremor otot rangka.

Leukotrien modifiers
Obat ini merupakan antiasma yang relatif baru dan pemberiannya
melalui oral. Mekanisme kerjanya menghambat 5-lipoksigenase sehingga
memblok sintesis semua leukotrin (contohnya zileuton) atau memblok
reseptor-reseptor
montelukas,
menghasilkan

leukotrien

pranlukas,
efek

sisteinil

zafirlukas).

bronkodilator

pada

sel

target

Mekanisme
minimal

(contohnya

kerja

dan

tersebut

menurunkan

bronkokonstriksi akibat alergen, sulfurdioksida dan exercise. Selain


bersifat bronkodilator, juga mempunyai efek antiinflamasi. Kelebihan obat
ini adalah preparatnya dalam bentuk tablet (oral) sehingga mudah
diberikan. Penderita dengan aspirin induced asthma menunjukkan respons
yang baik dengan pengobatan leukotriene modifiers. Efek samping jarang

Bagian Ilmu Penyakit Dalam


RSUD Kudus

Page 24

Referat Asma Pada Kehamilan 2014


ditemukan. Zileuton dihubungkan dengan toksik hati, sehingga monitor
fungsi hati dianjurkan apabila diberikan terapi zileuton.

Antihistamin generasi ke dua (antagonis -H1)

Lain-lain

2. Pelega (Reliever)
Prinsipnya untuk dilatasi jalan napas melalui relaksasi otot polos, memperbaiki
dan atau menghambat bronkostriksi yang berkaitan dengan gejala akut seperti
mengi, rasa berat di dada dan batuk, tidak memperbaiki inflamasi jalan napas atau
menurunkan hiperesponsif jalan napas.
Termasuk pelega adalah :

Agonis beta2 kerja singkat

Termasuk golongan ini adalah salbutamol, terbutalin, fenoterol, dan


prokaterol yang telah beredar di Indonesia. Mempunyai waktu mulai kerja
(onset) yang cepat. Formoterol mempunyai onset cepat dan durasi yang
lama. Pemberian dapat secara inhalasi atau oral, pemberian inhalasi
mempunyai onset yang lebih cepat dan efek samping minimal/ tidak ada.
Mekanisme kerja sebagaimana agonis beta-2 yaitu relaksasi otot polos
saluran

napas,

meningkatkan

bersihan

mukosilier,

menurunkan

permeabiliti pembuluh darah dan modulasi penglepasan mediator dari sel


mast. Merupakan terapi pilihan pada serangan akut dan sangat bermanfaat
sebagai praterapi pada exercise-induced asthma (bukti A). Penggunaan
agonis beta-2 kerja singkat direkomendasikan bila diperlukan untuk
mengatasi gejala. Kebutuhan yang meningkat atau bahkan setiap hari

Bagian Ilmu Penyakit Dalam


RSUD Kudus

Page 25

Referat Asma Pada Kehamilan 2014


adalah petanda perburukan asma dan menunjukkan perlunya terapi
antiinflamasi. Demikian pula, gagal melegakan jalan napas segera atau
respons tidak memuaskan dengan agonis beta-2 kerja singkat saat
serangan asma adalah petanda dibutuhkannya glukokortikosteroid oral..
Efek sampingnya adalah rangsangan kardiovaskular, tremor otot
rangka dan hipokalemia. Pemberian secara inhalasi jauh lebih sedikit
menimbulkan efek samping daripada oral. Dianjurkan pemberian inhalasi,
kecuali pada penderita yang tidak dapat/mungkin menggunakan terapi
inhalasi.

Metilsantin
Termasuk dalam bronkodilator walau efek bronkodilatasinya lebih
lemah dibandingkan agonis beta-2 kerja singkat. Aminofillin kerja
singkat dapat dipertimbangkan untuk mengatasi gejala walau disadari
onsetnya lebih lama daripada agonis beta-2 kerja singkat. Teofilin
kerja singkat tidak menambah efek bronkodilatasi agonis beta-2 kerja
singkat dosis adekuat, tetapi mempunyai manfaat untuk respiratory
drive, memperkuat fungsi otot pernapasan dan mempertahankan
respons terhadap agonis beta-2 kerja singkat di antara pemberian satu
dengan berikutnya. Teofilin berpotensi menimbulkan efek samping
sebagaimana metilsantin, tetapi dapat dicegah dengan dosis yang
sesuai dan dilakukan pemantauan. Teofilin kerja singkat sebaiknya
tidak diberikan pada penderita yang sedang dalam terapi teofilin lepas

Bagian Ilmu Penyakit Dalam


RSUD Kudus

Page 26

Referat Asma Pada Kehamilan 2014


lambat kecuali diketahui dan dipantau ketat kadar teofilin dalam serum
.

Kortikosteroid sistemik. (Steroid sistemik digunakan sebagai obat


pelega bila penggunaan bronkodilator yang lain sudah optimal tetapi
hasil

belum

tercapai,

penggunaannya

dikombinasikan

dengan

bronkodilator lain).

Antikolinergik (ipratropium bromide dan tiotropium bromide)


Pemberiannya secara inhalasi. Mekanisme kerjanya memblok efek
penglepasan asetilkolin dari saraf kolinergik pada jalan napas.
Menimbulkan bronkodilatasi dengan menurunkan tonus kolinergik
vagal intrinsik, selain itu juga menghambat refleks bronkokostriksi
yang disebabkan iritan. Efek bronkodilatasi tidak seefektif agonis beta2 kerja singkat, onsetnya lama dan dibutuhkan 30-60 menit untuk
mencapai efek maksimum. Tidak mempengaruhi reaksi alergi tipe
cepat ataupun tipe lambat dan juga tidak berpengaruh terhadap
inflamasi.
Metaanalisis menunjukkan ipratropium bromide mempunyai efek
meningkatkan bronkodilatasi agonis beta-2 kerja singkat pada
serangan asma, memperbaiki faal paru dan menurunkan risiko
perawatan rumah sakit secara bermakna oleh karena disarankan
menggunakan kombinasi inhalasi antikolinergik dan agnonis beta-2
kerja singkat sebagai bronkodilator pada terapi awal serangan asma

Bagian Ilmu Penyakit Dalam


RSUD Kudus

Page 27

Referat Asma Pada Kehamilan 2014


berat atau pada serangan asma yang kurang respons dengan agonis
beta-2 saja, sehingga dicapai efek bronkodilatasi maksimal.
Tidak bermanfaat diberikan jangka panjang, dianjurkan sebagai
alternatif pelega pada penderita yang menunjukkan efek samping
dengan agonis beta-2 kerja singkat inhalasi seperti takikardia, aritmia
dan tremor. Efek samping berupa rasa kering di mulut dan rasa pahit.
Tidak ada bukti mengenai efeknya pada sekresi mukus.

Adrenalin
Dapat sebagai pilihan pada asma eksaserbasi sedang sampai berat, bila
tidak tersedia agonis beta-2, atau tidak respons dengan agonis beta-2
kerja singkat. Pemberian secara subkutan harus dilakukan hati-hati
pada penderita usia lanjut atau dengan gangguan kardiovaskular.
Pemberian intravena dapat diberikan bila dibutuhkan, tetapi harus
dengan pengawasan ketat (bedside monitoring).

Pengobatan asma dalam Kehamilan


Selama kehamilan berat penyakit asma dapat berubah sehingga penderita
memerlukan pengaturan jenis dan dosis obat asma yang dipakai. Pada umumnya
semua obat asma dapat dipakai saat kehamilan kecuali komponen adrenergik,
bromfeniramin dan epinefrin.. Kortikosteroid inhalasi sangat bermanfaat untuk
mengontrol asma dan mencegah serangan akut terutama saat kehamilan. Bila
terjadi serangan, harus segera ditanggulangi secara agresif yaitu pemberian
inhalasi agonis beta-2, oksigen dan kortikosteroid sistemik.

Bagian Ilmu Penyakit Dalam


RSUD Kudus

Page 28

Referat Asma Pada Kehamilan 2014


Pemilihan obat pada penderita hamil, dianjurkan :
1. Obat inhalasi
2. Memakai obat-obat lama yang pernah dipakai pada kehamilan sebelumnya
yang sudah terdokumentasi dan terbukti aman
Klasifikasi Asma Berdasarkan Gambaran Klinis Sebelum Pengobatan 9
Derajat asma

Gejala

Intermiten

Bulanan

Gejala malam

Faal paru
APE80%
VEP

80%

nilai

Tanpa gejala di luar serangan

prediksi

APE

80%

Serangan singkat

nilai terbaik

Gejala <1x/minggu

2 kali sebulan

Variabiliti APE <20%


Persisten ringan

Mingguan

APE > 80%

Gejala > 1 x/minggu tetapi <1

>2kali sebulan

VEP180%

x/ hari

prediksi

Serangan dapat mengganggu

APE

aktivitas dan tidur

terbaik

nilai

80%

Variabiliti

APE

nilai

20-

30%
Persisten sedang

Harian

APE 60-80%

Gejala setiap hari


Serangan

Persisten Berat

> 1x / seminggu

mengganggu

VEP1

60-80%

nilai

60-80%

nilai

prediksi

aktivitas dan tidur

APE

Membutuhkan bronkodilator

terbaik

setiap hari

Variabiliti APE > 30%

Kontinyu

APE 60%

Gejala terus menerus

Sering

VEP1

60%

Sering kambuh

prediksi

Aktivitas fisik terbatas

APE

60%

nilai
nilai

terbaik
* Variabiliti APE >
30%

Bagian Ilmu Penyakit Dalam


RSUD Kudus

Page 29

Referat Asma Pada Kehamilan 2014

Langkah 1: Asma Intermiten Ringan


Bronchodilator kerja singkat, terutama inhalasi beta2- agonis kerja singkat,
direkomendasikan sebagai obat pelega kerja cepat untuk mengobati gejala pada
pasien dengan asma intermiten. Albuterol adalah beta2-agonis inhalasi kerja
singkat yang dipilih karena memiliki data paling banyak untuk penggunaannya
pada pasien hamil. Pengalaman penggunaan obat ini sangat banyak dan tidak ada
bukti yang menyatakan adanya cedera janin akibat penggunaan inhalasi beta2agonis

kerja

singkat,

atau

bukti

yang

menyatakan

bahwa

obat

ini

dikontraindikasikan selama laktasi.


Langkah 2: Asma Persisten Ringan
Terapi yang dipilih untuk pengobatan jangka panjang dalam Langkah ke-2 adalah
inhalasi harian kortikosteroid dosis rendah.jenis kortikosteroid inhalasi yang
dipilih adalah Budesonide karena lebih banyak data yang tersedia mengenai
keamanan penggunaan Budesonide pada perempuan hamil. Penting untuk
diketahui bahwa tidak ada data yang menyatakan bahwa inhalasi kortikosteroid
lain tidak aman untuk kehamilan. Sehingga, kortikosteroid inhalasi

selain

BUdesonide dapat dilanjutkan pada pasien yang sudah terkontrol dengan baik
dengan sediaan lain tersebut sebelum kehamilan, terutama jika ada pemikiran
bahwa mengganti sediaan tersebut akan merusak kontrol asma.

Langkah 3 : Asma Persisten Sedang

Bagian Ilmu Penyakit Dalam


RSUD Kudus

Page 30

Referat Asma Pada Kehamilan 2014


Terdapat dua terapi pilihan, yaitu :
1. Kombinasi kortikosteroid inhalasi dosis rendah dan Beta2-agonis kerja
panjang;
2. Meningkatkan dosis kortikosteroid inhalasi dari rendah menjadi
rentang dosis medium.
Langkah 4 : Asma Persisten Berat
JIka obat tambahan dibutuhkan sesudah menilai teknik dan kepatuhan pasien
dengan teliti dengan menggunakan obat pada Langkah ke-3, maka dosis
kortikosteroid inhalasi harus ditingkatkan menjadi rentang dosis tinggi, dan
penggunaan Budesonide lebih disukai. Jika penambahan ini masih tidak cukup
untuk menangani gejala asma, maka diberikan kortikosteroid sistemik; meskipun
data mengenai keamanan penggunaan kortikosteroid sistemik dalam kehamilan
tidak meyakinkan tetapi pengobatan ini tetapi lebih dipilih karena asma berat yang
tidak terkontrol dapat membahayakan ibu dan janin

Bagian Ilmu Penyakit Dalam


RSUD Kudus

Page 31

Referat Asma Pada Kehamilan 2014

Bagian Ilmu Penyakit Dalam


RSUD Kudus

Page 32

Referat Asma Pada Kehamilan 2014

Bagian Ilmu Penyakit Dalam


RSUD Kudus

Page 33

Referat Asma Pada Kehamilan 2014

Bagian Ilmu Penyakit Dalam


RSUD Kudus

Page 34

Referat Asma Pada Kehamilan 2014


Klasifikasi Berat Serangan Asma Akut 5

Bagian Ilmu Penyakit Dalam


RSUD Kudus

Page 35

Referat Asma Pada Kehamilan 2014


Tata Laksana Asma di RS

Bagian Ilmu Penyakit Dalam


RSUD Kudus

Page 36

Referat Asma Pada Kehamilan 2014


Tata Laksana Eksaserbasi Asma di Rumah

Bagian Ilmu Penyakit Dalam


RSUD Kudus

Page 37

Referat Asma Pada Kehamilan 2014


7. DIAGNOSIS BANDING7
Penyakit yang menyerupai asma pada pasien dengan kehamilan antara lain :

Obstruksi saluran nafas

Emboli cairan amnion

Dispneu yang fisiologis pada kehamilan

8. Komplikasi 1,9
Asma yang tidak terkontrol dapat berpengaruh pada kesehatan ibu, antara lain :

Tekanan darah tinggi selama kehamilan.

Preeklamsia, suatu kondisi yang menyebabkan tekanan darah tinggi dan


dapat berpengaruh ke plasenta, ginjal, hati, dan otak.

Risiko pada janin adalah:

IUGR (intrauterine growth retardation) adalah kurangnya pertumbuhan


janin selama masih di dalam kandungan.

Lahir prematur (kelahiran sebelum usia kehamilan 37minggu)

Berat badan lahir rendah.

Kematian perinatal (kematian segera sebelum atau setelah lahir)

Asma yang semakin terkontrol, semakin kecil risiko yang terjadi

9. Prognosis7
Asma dapat menyebabkan morbiditas pada wanita hamil, sebagai berikut :

Gagal nafas dan membutuhkan ventilasi mekanik

Barotrauma

Komplikasi dari penggunaan steroid (secara parenteral)

Bagian Ilmu Penyakit Dalam


RSUD Kudus

Page 38

Referat Asma Pada Kehamilan 2014


DAFTAR PUSTAKA

1. American College of Obstetricians and Gynecologists . 2008 Asthma in


pregnancy. ACOG Practice Bulletin No. 90. Obstetrics and Gynecology,
111(2): 457464.
2. Cunningham,F.Gary, dkk. 2005. Maternal Physiology dalam Williams
Obstetrics. Edisi ke-22. McGraw-Hills Companies
3. GINA. 2010. Pocket Guide For Asthma Management And Prevention For
Adults and Children Older Than 5 Years.
4. Kazzi,Amin Antoine dan Marachelian,Araz. 2004. Pregnancy, Asthma.
www.emedicine.com/emerg/topic476.htm
5. PDPI. 2003. Pedoman Diagnosis & Penatalaksanaan Asma di Indonesia
halaman 20-39.
6. Sundaru,Heru. 2001. Asma Bronkial dalam Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam.
Jilid II. Edisi ke-3. Jakarta:FKUI
7. Marcus L, Sinert R H. 2002. Astma in Pregnancy.
http://emedicine.medscape.com/article/796274-overview
8. NHLBI. 2007. Guidelines for the Diagnosis and Management of Asthma
9. NHLBI. 2004. Managing Asthma During Pregnancy: Recommendations for
Pharmacologic Treatment, National Asthma Education And Prevention
Program

Bagian Ilmu Penyakit Dalam


RSUD Kudus

Page 39

Anda mungkin juga menyukai