Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN
A.

Latar Belakang
Lisosom merupakan organel pencerna yang ada dalam sel hewan. Pada sel tumbuhan
organel ini lebih dikenal sebagai vakuola, yang selain untuk mencerna, mempunyai fungsi
menyimpan senyawa organik yang dihasilkan tanaman.
Seperti halnya RE, aparatus Golgi, lisosom juga tersusun dari membran seperti halnya
membran sel, tetapi hanya terdiri dari satu lapis saja.Hasil pengamatan dari mikroskop
electron menunjukkan bahwa bentuk dan ukuran lisosom sangat bervariasi. Meski demikian
lisosom tetap dapat diidentifikasi sebagai salah satu organel sel.
Lisosom terbagi menjadi beberapa macam jika ditinjau darisegi fisiologis.
Didalamnya ada lebih dari 40 jenis enzim hidrolitik asam. Selain itu fungsi utama lisosom
adalah endositosis, fagositosis, dan autofagi.
Begitu banyak keunikan dan karakteristik dari lisosom yang membedakannya dari
organel sel lainnya. Macam, peranan, struktur serta fungsinya pun sangat kompleks.
Berdasarkan latar belakang di atas, maka kami mencoba membahas mengenai lisosom
dan semua hal yang berkaitan dengannya. Baik dari macam, fungsi, enzim-enzim di
dalamnya dan lain-lain, agar kita lebih mengetahui dan memahami mengenai organel sel
yang bernama lisosom.

B.

Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam penulisan makalah ini adalah:

1.

Jelaskan sejarah penemuan lisosom!

2.

Bagaimana struktur dari lisosom?

3.

Bagaimana proses pembentukan lisosom?

4.

Jelaskan fungsi dan peranan lisosom?

5.

Kelainan apa saja yang terjadi akibat lisosom?

C.

Tujuan Penulisan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah:

1.

Mampu menjelaskan mengenai sejarah penemuan lisosom

2.

Mampu mengetahui struktur lisosom

3.

Mampu mengetahui proses pembentukan lisosom

4.

Mampu menjelasakan mengenai fungsi dan peranan dari lisosom

5.

Mampu mengetahui kelainan akibat lisosom

BAB II
PEMBAHASAN

A.

Sejarah Penemuan Lisosom


Lisosom ditemukan pada tahun 1950 oleh Christian de Duve dan dipostulatkan
olehnya pada tahun 1955 dari data biokimia. Sebelumnya de Duve dan kawan-kawannya
mencoba meneliti kandungan enzim dari fraksi-fraksi yang dipisahkan dari homogenate sel
hati tikus melalui pemusingan atau sentrifugasi deferensial. Hal menarik perhatian mereka
adalah penelitian tentang enzim dan fraksi yang dikandung oleh mitokondria. Mereka
mencoba memperhalus prosedur pemusingan, dan mereka berhasil mendapat fraksi yang
kompleks, walau serupa dengan mitokondria dan sifat-sifat sedimentasinya, tetapi ada enzim
yang berbeda dengan apa yang ada pada mitokondria.
Dalam fraksi ini mereka secara tidak sengaja mendapat sejumlah enzim hidrolitik,
termasuk fosfatase asam. Mereka kemudian melakukan eksprimen biokimia yang
menghasilkan postulat bahwa enzim hidrolik akan tertampung dalam vasikel berukuran 0,4
m, dan bahwa setiap vesikel akan dibatasi membran yang mencegah enzim ini bereaksi
dengan substrat dalam sitoplasma. Menyadari bahwa badan-badan kecil dalam fraksi ini
bukan mitokondria tetapi,malahan sejenis organel sitoplasma baru. Akhirnya mereka pun
mengusulkan nama lisosom untuk organel sel ini.
Lisosom ditemukan setelah mempelajari distribusi beberapa jenis enzim yang terlibat
di dalam metabolisme karbohidrat. Salah satu enzim yang terlibat di dalam metabolisme

karbohidrat. Salah satu enzim yang dipelajari adalah fosfatase asam yang memecah gugus
fosfat pada beberapa fosfat yang mengandung ester fosfat (http://id.shvoong.com/exactsciences/biology/2184520-lisosom/).

B.

Struktur Lisosom
Lisosom adalah organel pencerna pada sel hewan dan di temukan disemua sel
eukariotik. Lisosom berasal dari bahasa Latin (kata lyso = pencernaan dan soma = tubuh).
Lisosom adalah organel yang termasuk dalam system endomembran, produk dari ER kasar
dan Golgi apparatus. Lisosom memiliki keanekaragaman morfologi. Berbentuk agak bulat
dan dikelilingi oleh membran tunggal bilayer yang digunakan untuk mencerna
makromolekul.
(http://teloanyar.blogspot.com/2012/05/struktur-dan-fungsi-lisosom.html).
Gambar 1. Struktur lisosom berbentuk agak bulat yang dikelilingi membran tunggal
dan berisi enzim hidrolitik.

Organel ini bermembran bulat, dengan diameter yang begitu kecil (hanya 0,2 m
sampai 0,4 m) sehingga sukar dilihat dalam mikroskop. Jumlah lisosom dalam sangat
bervariasi menurut jenis selnya. Namun, ciri paling mencolok pada organel khusus ini adalah
bahwa ia mengandung sejumlah besar enzim hidrolase asam yang aktivitas enzimnya aktif
pada keadaan pH kurang lebih 5.
Gambar 2. Struktur anatomi lisosom
1.

Membran lisosom
Lisosom dapat mempertahankan kondisi asam ini dengan cara membran lisosom
memompa ion hidrogen dengan menggunakan bantuan ATP sebagai sumber energi dari
sitosol ke dalam lumen lisosom. Proses masuknya ion hidrogen ini karena membran lisosom
mengandung protein integral yang kandungan glikosilatnya tinggi dan terdapat garis
pelindung dari karbohidrat yang mampu melindungi membran dari kerusakan.
Membran lisosom juga sangat terglikosilasi yang dikenal dengan lysosomalassociated membran proteins (LAMP). Sampai saat ini sudah terdeteksi LAMP-1, LAMP-2,
dan CD63 atau LAMP-3. LAMP berguna sebagai reseptor penerimaan kantong vesikel pada
lisosom

(http://teloanyar.blogspot.com/2012/05/struktur-dan-fungsi-lisosom.html).
Lisosom memiliki protein maker yang disebut sebagai Docking-marker acceptor.
Dengan demikian, lisosom akan dapat berfusi dengan vesikula-vesikula target dengan
tepat. Beberapa molekul sederhana dapat menembus membran lisosom, misalnya quinakrin.
Quinakrin dapat meningkatkan pH di dalam lisosom jika diberikan ke dalam sel. Quinakrin
digunakan di laboratorium sebagai inhibitor fungsi lisosom. Lisosom memiliki fungi
pencernaan intra sel yang sangat luas meliputi pencernaan bahan-bahan intra dan ekstra sel,
mikroorganisme yang telah difagositosis dan program kematian sel selama organogenesis
`
2.

(http://aniaminah.blogspot.com/2011/04/lisosom.html).

Enzim Lisosom
Ada banyak macam enzim yang terkandung dalam lisosom. Yang khas dari lisosom
adalah terdiri atas sekitar 50 enzim hidrolitik yang berbeda yang dihasilkan di dalam RE
kasar. Enzim ini disebut dengan lisozom. Enzim-enzim ini dapat menghidrolisis semua
bentuk makromolekul antara lain polisakarida, lipid, fosfolipid, asam nukleat, dan protein.
Enzim hidrolisis tersebut bekerja optimum pada pH asam (sekitar 4,6). Kondisi asam ini
dihasilkan dari pompa proton di membran organel
(http://teloanyar.blogspot.com/2012/05/struktur-dan-fungsi-lisosom.html).
Jika dikelompok-kelompokkan, maka ada kelompok enzim fosfatase, nuclease,
protease, dan enzim pemecah lipid. Dari semua kelompok enzim ini, enzim fosfatase asam
adalah yang terbanyak. Substratnya sebagian besar adalah ester dan lisosomnya sendiri
berasal dari jaringan-jaringan hewan, tumbuhan maupun protista. Enzim fosfatase yang lain
adalah monofosfat dan fosfodiesterase asam yang substratnya oligonukleotida dan diester
fosfat.
Berikut ini merupakan tabel pengelompokkan beberapa enzim yang terdapat pada
lisosom.
Tabel 1. Pengelompokkan enzim lisosom
Enzim

Substrat

Phosphatase:
Acid phosphatase

Phosphomonoesterus

Acid phosphodiesterase

Phosphodiesters

Nucleases:
Acid ribonuclease

RNA

Acid deoxyribinuclease

DNA

Proteases:
Cathepsin

Protein

Collagenase

Collagen

GAG-hydrolizing enzymes:
Iduronate Sulfatase

Dermatan sulfate

-galactosidase

Keratan sulfate

Heparan N-sulfatase

Heparan sulfate

-N- Acetylglucosaminidase

Heparan sulfate

Polysaccharidases dan Oligosaccharidases:


-glucosidase

Glycogen

Fucosidase

Fucosyloligosaccharides

-manosidase

Mannosyloligossacharides

Sialidase

Sialyloligosaccharides

Sphingolipid hydrolyzing enzymes:


Ceramidase

Ceramide

Glucocerebosidase

Glucosylceramide

-Hexosaminidase

GM2ganglioside

Arylsulfatase

Galactosylsulfatide

Lipid hidrolysing enzimes:


Acid lipase

Triacylglycerols

Phospholipase

Phospholipids

Enzim yang tergolong dalam nuclease adalah RNA ase substratnya RNA, dan DNA
ase substratnya DNA. Asal lisosom keduanya sama yaitu berasal dari jaringan hewan,
tumbuhan, dan protista.
Enzim hidrolase terdiri dari: -galaktosidase substratnya galaktosida asal lisosomnya
adalah jaringan hewan, tumbuhan, dan protista; -glukosidase substratnya glikogen; manosidase substratnya manosida; dan

-glukoronidase substratnya polisakarida

dan mukopolisakarida.
Enzim berikutnya adalah enzim yang termasuk ke dalam golongan enzim protease
yakni enzim katepsin substratnya protein, asal lisosomnya adalah sel hewan. Berikutnya
adalah enzim kolagenase, substratnya kolagen, asal lisosomnya adalah sel tulang. Enzim
terakhir dalam kelompok protease adalah peptidase, substratnya peptide, asal lisosomnya
adalah jaringan hewan, tumbuhan, dan protista.

Berikutnya adalah enzim-enzim perombak lipid yang terdiri dari esterase substratnya
ester asam lemak, asal lisosomnya adalah jaringan hewan, tumbuhan, dan protista. Enzim
fosfolipase dengan substratnya fosfolipid, lisosomnya juga berasal dari jaringan tumbuhan.
Jika ditinjau dari segi fisiologis, lisosom terdiri dari dua kategori yaitu:
1.

Lisosom primer yang berisi enzim-enzim hidrolase dan lisosom sekunder yang selain berisi
hidrolase juga terdapat substrat yang sedang dicerna.

2.

Vakuola pencernaan yang berasal dari fusi antara fagosoma atau endosoma dengan lisosom
primer pada beberapa macam sel hewan.
Ada dua macam lisosom, yaitu lisosom primer dan sekunder. Lisosom primer
memproduksi enzim-enzim yang belum aktif. Fungsinya adalah sebagai vakuola makanan.
Lisosom sekunder adalah lisosom yang terlibat dalam kegiatan mencerna. Ia berfungsi
sebagai autofagosom
(http://imaisfree.wordpress.com/struktur-dan-fungsi-organel-sel/).
Lisosom primer pada umumnya adalah vesikuli yang berbalutkan protein yang disebut
klatrin. Klatrin akan lepas begitu vesikuli juga lepas. Lisosom yang pertama dibentuk oleh sel
dan belum terlibat dalam aktivitas pencernaan sel disebut lisosom primer. Sedangkan lisosom
sekunder adalah lisosom yang merupakan hasil fusi berulang antara lisosom primer dengan
berbagai substrat yang berbatas membran (Albert et al., 1983). Dengan demikian, lisosom
sekunder telah terlibat dalam aktivitas pencernaan sel dan di dalam lumennya terdapat
substrat dan enzim-enzim hidrolitik.
Lisosom sekunder memiliki dua fungsi yang berbeda, yaitu:

1.

Heterolisosom,

yaitu

bila

substrat

yang

dicerna

berasal

dari

luar

sel.

Dengan demikian, heterolisosom dibentuk dari hasil fusi antara lisosom primer dengan
fagosom atau endosom. Heterolisosom sering disebut sebagai vakuola pencerna. Albert et al.
(1983) membagi heterolisosom menjadi dua tipe, yaitu:
a)

Vakuola pencerna, yaitu hasil fusi antara fagosom (partikel-partikel yang difagositosis
seperti bakteri) dengan lisosom primer.

b)

Badan-badan multivesikula, yaitu hasil fusi antara beberapaendosom (substrat yang masuk
secara endositosis dan bukan dalam bentuk partikel) dengan lisosom primer. Dengan
demikian, badan-badan multivesikula merupakan kantung-kantung berbatas membran dimana
di dalamnya mengandung banyak vesikula- vesikula kecil dengan diameter berkisar 50 nm.

2.

Vakuola autofagi atau autolisosom, yaitu lisosom yang mengandung dan mungkin
mencerna substrat-substrat intraseluler yang berbatas membran (sitosegresom), misalnya

organel-organel intraseluler seperti mitokondria. Autolisosom dibentuk dari hasil fusi antara
sitosegresom dengan lisosom primer.
Dalam sel, sesungguhnya terdapat kerjasama yang erat antara heterolisosom dengan
autolisosom. Selama heterofagi berlangsung, protein- protein ditempatkan di dalam vesikulavesikula endosom, kemudian berfusi dengan lisosom primer dan selanjutnya mengalami
hidrolisis. Selama auto- fagi, sitosegresom berfusi dengan lisosom primer membentuk
autolisosom dan memasuki siklus pencernaan intrasel.
Tergantung pada keadaan fisiologisnya, vakuola pencerna atau vakuola autofagi pada
akhirnya mengalami satu dari tiga kemungkinan yang terjadi, yaitu:
1.

Mengosongkan kandungannya dengan cara eksositosis atau defekasi seluler

2.

Menjadi bahan residu tanpa bahan hidrolase

3.

Menghidrolisis kandungannya secara sempurna untuk dapat berdifusi dan selanjutnya siap
untuk siklus aktivitas yang baru.
Tentang pembentukan sitosegresom, ada beberapa pandangan yang diusulkan, yaitu:

1.

Sitosegresom dibentuk dari suatu membran sisterna yang melingkupi mitokondria secara
sempurna dan selanjutnya diikuti dengan degenerasinya membran dalam

2.

Sitosegresom dibentuk dari suatu membran yang melingkupi mitokondria secara sempurna

3.

Sitosegresom dibentuk dari vesikula endosom yang melingkupi mitokondria secara


sempurna yang selanjutnya diikuti dengan berdegenerasinya membran dalam;

4.

Sitosegresom dibentuk dari vesikula endosom, dimana mitokondria memasuki vesikula


endosom melalui suatu celah
Bentuk akhir heteroslisosom dan autolisoson disebut telolisosom atau postlisosom
atau badan residu. Bahan-bahan yang terkandung di dalam telolisosom sewaktu-waktu dapat
dilepaskan. Proses pelepasannya dinamakan defekasi seluler. Bahan-bahan yang telah dicerna
di dalam lisosom dapat kembali dilepaskan ke dalam sitoplasma dan selanjutnya terlibat di
dalam proses katabolisme atau anabolisme
(http://aniaminah.blogspot.com/2011/04/lisosom.html).

C.

Proses Pembentukan Lisosom


Lisosom dibentuk dari protein yang dihasilkan oleh ribosom dan kemudian masuk ke
retikulum endoplasma (RE). Protein yang dimasukkan kedalam membran kemudian
dikeluarkan ke sitoplasma. Namun, ada juga yang masuk ke golgi terlebih dahulu baru
kemudian dilepas ke sitoplasma. Jadi proses pembentukan lisosom ada 2 macam: pertama
dibentuk secara langsung di RE dan kedua oleh Golgi.

Sumber: http://jurusanipa.blogspot.com/2011/08/organel-sel-part-2.html
Gambar 3. Proses pembentukan lisosom

Untuk prosesnya, enzim ini mempunyai molekul penanda unik, yaitu manosa 6-fosfat
(M6P) yang berikatan dengan oligosakarida terikat-N. Seluruh glikoprotein yang ditransfer
oleh retikulum endoplasma ke cis Golgi memiliki rantai oligosakarida terikat-N yang
identik, dengan manosa di ujung terminalnya. Untuk membentuk manosa 6-fosfat, cisGolgi
membutuhkan situs pengenalan, yang disebut signal patch, yang memiliki situs H3N+COO.
Pembentukan M6P ini memerlukan dua buah enzim, yaitu GlcNac fosfotransferase
yang berfungsi untuk mengikat enzim hidrolitik secara spesifik dan menambah GlcNac-fosfat
ke enzim. Kemudian terdapat enzim kedua yang memotong GlcNac sehingga membentuk
M6P. Satu enzim hidrolitik mengandung banyak oligosakarida sehingga dapat mengandung
banyak residu M6P. Setelah itu, dari cis Golgi, enzim hidrolitik ini akan ditransfer
ke trans Golgi.
M6P yang terikat pada enzim hidrolitik akan berikatan pada reseptor protein M6P
yang berada pada jaringan trans Golgi. Reseptor ini terikat pada membran dan berguna untuk
pemaketan enzim hidrolitik dengan memasukkan enzim tersebut ke vesikel clathrin coats,
dan nantinya vesikel tersebut dikirim ke endosom lanjut. Pemaketan ini terjadi pada pH 6,5
6,7, dan dikeluarkan pada pH 6.
Pada endosom, enzim hidrolitik akan terlepas dari reseptor M6P karena adanya
penurunan pH (menjadi 5). Setelah terlepas, reseptor M6P akan dibawa oleh vesikel transpor
dari endosom kembali ke membran trans Golgi untuk digunakan kembali. Transpor, baik
menuju endosom atau kebalikannya, membutuhkan peptida penanda (signal peptide) yang
terdapat pada ekor sitoplasmik dari reseptor M6P. Namun demikian, tidak semua molekul
dengan M6P dikirim ke lisosom; ada yang 'lolos' dari pengepakan dan ditransfer ke luar sel.
Reseptor M6P juga terdapat di membran plasma, yang berguna untuk menangkap enzim
hidrolitik

yang

lolos

tersebut

dan

membawanya

kembali

ke

endosom (http://id.wikipedia.org/wiki/Lisosom)
Ada dua pendapat yang berkenaan dengan asal dan pembentukan lisosom, yaitu:
1.

Berbagai bukti telah ditemukan bahwa protein-protein hidrolitik dibentuk oleh ribosom
yang terdapat pada retikulum endoplasma. Dari retikulum endoplasma kasar, selanjutnya
protein tersebut ditranslokasikan menuju permukaan pembentukan badan golgi untuk
diproses lebih lanjut. Setelah itu, protein-protein hidrolitik dikemas dan dibungkus dalam
bentuk vesikula-vesikula untuk selanjutnya dilepaskan sebagai lisosom primer.

2.

Protein-protein hidrolitik dibentuk pada ribosom yang terdapat pada retikulum endoplasma
kasar, selanjutnya ia dilepaskan dalam bentuk vesikula menuju daerah GERL (Golgi
associated Endoplasmic Reticulum giving rise to Lisosom) yang berdekatan dengan daerah
permukaan matang badan golgi. Dari GERL, selanjutnya dilepaskan vesiula-vesikula yang
disebut lisosom primer (http://jurusanipa.blogspot.com/2011/08/organel-sel-part-2.html).

D.

Fungsi dan Peranan Lisosom


Peranan fisiologi lisosom umumnya berhubungan dengan pencernaan intraseluler.
Misalnya pencernaan makanan yang berlangsung pada protozoa dimana bahan-bahan yang
berasal dari luar dicerna secara intraseluler atau heterofagi. Endositosis merupakan
persyaratan bagi pencernaan intraseluler bahan eksogen dengan molekul tinggi. Bukti
menunjukkan bahwa vakuola makanan dihasilkan dari fusi antara endosom dengan lisosom
primer.
Dalam darah, terdapat banyak sel-sel fagosit yang bekerja sebagai penghalang yang
efektif dari invasi mikroorganisme atau benda-benda asing lainnya. Ada empat tipe fagosit
darah, yaitu: Polymorpho Nuclear Neutrofic Leukocytes (PMNs), Eosinofil, Basofil, dan
Monosit. Meskipun keempat tipe tersebut bersirkulasi di dalam darah, neutrofil dan monosit
memiliki kemampuan untuk meninggalkan aliran darah dan mengembara di seluruh jaringan
untuk menghilangkan bahan-bahan asing dalam jaringan dengan cara memfagositosisnya.
Monosit di dalam jaringan akan berkembang menjadi dewasa dan menjadi sel-sel
makrofag. Berbagai jenis makrofag antara lain histiosit dalam jaringan pengikat, makrofag
alveolar di dalam paru-paru, sel-sel kuffer di dalam jaringan hati, makrofag pelural di dalam
peritoneal, osteoklas di dalam tulang, sel mikroglia di dalam sistim saraf pusat, sel schwann
di dalam serabut saraf perifer, sel sinvial tipe A di dalam ruang sendi, dan makrofag di dalam
jaringan limfoid dan jaringan ikat (Subowo, 1990).
Lisosom memainkan peranan yang sangat penting dalam resorbsi tulang yang
dilakukan oleh osteoklas. Selain itu, lisosom memegang peranan penting di dalam sekresi
kelenjar tiroid oleh sel-sel epitel dari folikel tiroid.
Lisosom memainkan peranan yang sangat penting selama berlangsungnya fertilisasi
pada berbagai jenis hewan termasuk manusia, terutama selama berlangsungnya reaksi
akrosom. Enzim-enzim yang dilepaskan dari vesikula akrosom melakukan pencernaan
terhadap selaput pelindung telur sehingga memungkinkan sel pronukleid jantan masuk
menembus membran telur untuk berfusi dengan pronuklei betina. Selain itu, fungsi dan
peranan lisosom meliputi endositosis, autofagi dan fagositosis.

1.

Endositosis
Endositosis ialah pemasukan makromolekul dari luar sel ke dalam sel melalui mekanisme
endositosis, yang kemudian materi-materi ini akan dibawa ke vesikel kecil dan tidak
beraturan, yang disebut endosom awal. Beberapa materi tersebut dipilah dan ada yang
digunakan kembali (dibuang ke sitoplasma), yang tidak dibawa ke endosom lanjut. Di
endosom lanjut, materi tersebut bertemu pertama kali dengan enzim hidrolitik. Di dalam
endosom awal, pH sekitar 6. Terjadi penurunan pH (5) pada endosom lanjut sehingga terjadi
pematangan dan membentuk lisosom
(http://aniaminah.blogspot.com/2011/04/lisosom.html).
Gambar 4. Mekanisme endositosis

Endositosis dapat dibedakan ke dalam 2 kategori: Bulk-phases endocytosis (dikenal juga


sebagai pinositosis) dan Receptor-mediated endocytosis.
a)

Bulk-phases endocytosis adalah pengambilan cairan dari bagian ekstraselular untuk dibawa
ke bagian dalam sel. Bulk-phases endosistosis juga dapat digunakan untuk memindahkan
bagian dari membran plasma ke organel lain yang membutuhkan dan mengembalikan
kembali bagian tersebut ke membran plasma.

b)

Receptor-mediated endocytosis adalah pengambilan makromolekul (ligand) yang spesifik


dari bagian luar. Makromolekul ini akan terikat pada reseptor yang terletak pada bagian luar
membran plasma.
Molekul yang diambil menuju sel dengan cara endositosis berjalan melewati endocytic
pathway. Ada dua tipe reseptor yang berperan dalam endositosis. Reseptor tersebut terletak
pada bagian luar membran plasma. Reseptor pertama adalah Houskeeping receptors, yang
bertanggung jawab dalam pengambilan materi yang akan digunakan oleh sel. Reseptor yang
kedua adalah Signaling receptors, yang bertanggung jawab dalam pengikatan ligan di
bagian ekstraseluler yang membawa pesan untuk mengubah aktivitas di dalam sel. Molekul
yang ditangkap oleh reseptor di membran plasma ditransportasikan ke endosom. Endosom
berperan sebagai pusat pendistribusian selama endositosis berlangsung. Cairan yang terdapat
di dalam endosom di jaga keasamannya dengan adanya sebuah H+-ATPase di membran
endosom. Endosom dapat dibagi menjadi dua, yaitu early endosom yang terletak di daerah
sekitar dalam sel, dan yang kedua adalah late endosom yang tereletak lebih dekat ke bagian
nukleus. Early endosom dan late endosom dapat dibedakan dari berat jenisnya, pH dan
komposisi protein.

Late endosom juga menerima enzim lisosom yang baru saja disintesis dari bagian trans Golgi
network. Enzim ini dibawa oleh manosa-6-fospat (M6P). M6P akan kembali lagi ke TGN
apabila enzim lisosom telah dimasukkan ke dalam late endosom. Materi yang sudah ada di
dalam late endosom akan dicerna oleh enzim lisosom
(http://teloanyar.blogspot.com/2012/05/struktur-dan-fungsi-lisosom.html).
2.

Autofagi
Autofagi merupakan proses yang digunakan untuk pembuangan dan degradasi bagian sel
sendiri, seperti organel yang tidak berfungsi lagi. Selama proses ini berlangsung, sebuah
organel seperti mitokondria akan diselubungi oleh membran ganda yang merupakan derivat
dari sisterna RE. Membran RE kemudian bergabung dengan lisosom untuk membentuk
autofagolisosom.
Mula-mula, bagian dari retikulum endoplasma kasar menyelubungi organel dan membentuk
autofagosom. Setelah itu, autofagosom berfusi dengan enzim hidrolitik dari trans Golgi dan
berkembang menjadi lisosom (atau endosom lanjut). Ketika proses autofagolisosom selesai,
organel yang dicerna dikeluarkan sebagai residual body. Berdasarkan tipe dari sel yang
bersangkutan, isi dari residual body dikeluarkan dari dalam sel secara eksositosis atau
disimpan di dalam sitoplasma disebut lipofuscin granule. Lipofuscin granule akan meningkat
jumlahnya seiring penambahan umur sel.
Proses ini berguna pada sel hati, transformasi berudu menjadi katak, dan embrio manusia
(http://aniaminah.blogspot.com/2011/04/lisosom.html).
Gambar 5. Mekanisme autofagi

Perusakan sel terprogram oleh enzim lisosomnya sendiri penting dalam perkembangan
organisme. Misal, pada waktu kecebong berubah menjadi katak, ekornya diserap secara
bertahap. Sel-sel ekor yang kaya akan lisosom mati dan hasil penghancuran digunakan di
dalam pertumbuhan sel-sel baru yang berkembang. Pada perkembangan tangan embrio
manusia yang semula berselaput hingga lisosom mencerna jaringan diantara jari- jari tangan
tersebut sehingga terbentuk jari yang terpisah seperti yang kita punyai sekarang.
Proses pencernaan yang terjadi secara enzimatis di lisosom terdiri dari berbagai macam
tergantung dari jenis dan asal bahan yang akan dicerna. Bila bahan yang dicerna berasal dari
luar sel proses pencernaanya disebut heterofagi, sedangkan bila bahannya berasal dari dalam
disebut autofagi. Kedua proses pencernaan ini banyak dijumpai misalnya pada mekanisme
pertahanan tubuh, nutrisi, dan pengaturan sekresi. Selain kedua proses pencernaan tersebut
yang sifatnya intraseluler, enzim lisosom dapat pula disekresikan ke luar dari sel atau disebut

pencernaan ekstra sel misalnya yang terjadi pada jaringan ikat hewan dan juga pada jenis
jamur.
Proses pencernaan ekstra seluler yang dilakukan oleh lisosom dilakukan dengan
mencurahkan isi lisosom ke dalam daerah ekstra seluler. Jadi pada proses ini yang dicerna
adalah substabsi antar sel, misalnya pencernaan ekstra sel yang mengakibatkan perubahan
tulang dan tulang rawan.
Sebagai contoh dalam sel hati, mitokondria rata-rata berumur 10 hari. Mitokondria yang telah
berumur 10 hari dan tidak berfungsi dilingkupi oleh sebuah organel yang berasal dari
membran retikulum endoplasma membentuk autofagosom. Kemudian autofagosom
bergabung dengan lisosom agar mitokondria dapat dihancurkan oleh enzim hidrolitik
(http://teloanyar.blogspot.com/2012/05/struktur-dan-fungsi-lisosom.html).
3.

Fagositosis
Fagositosis merupakan proses pemasukan partikel berukuran besar dan mikroorganisme
seperti bakteri dan virus ke dalam sel. Pertama, membran akan membungkus partikel atau
mikroorganisme dan membentuk fagosom. Kemudian, fagosom akan berfusi dengan enzim
hidrolitik dari trans Golgi dan berkembang menjadi lisosom (endosom lanjut)
(http://aniaminah.blogspot.com/2011/04/lisosom.html).
Gambar 6. Mekanisme fagositosis
Fagositosis dilakukan oleh beberapa tipe sel yang telah mengalami spesialisasi untuk
mendegradasi partikel besar (diameter > 0,5 m) atau mikroorganisme dari lingkungan.
Kebanyakan protista seperti amoeba dan siliata memenuhi kebutuhan makanan mereka
dengan cara menangkap partikel makanan atau organisme yang lebih kecil. Partikel makanan
yang ditangkap dimasukkan ke dalam organel yang disebut vakuola atau fagosom. Vakuola
atau fagosom ini berasal dari sebagian kecil (cubitan ke arah dalam) membran plasma.
Fagosom akan bergabung dengan lisosom, sehingga pertikel makanan yang ditangkap dicerna
di dalam fagolisosom.

E.

Kelainan Akibat Lisosom


Berbagai kelainan turunan yang disebut sebagai penyakit penyimpangan lisosom
(lysosomal storage disease) mempengaruhi metabolisme lisosom. Lysosomal storage diseases
terjadi karena mutasi di gen struktural sehingga kekurangan salah satu enzim hidrolitik aktif
yang secara normal ada dalam lisosom. Substrat yang tidak tercerna akan menumpuk dan
mengganggu fungsi seluler lainnya. Penyakit ini sangat jarang ditemukan, yaitu sekitar 1 dari
7700 kelahiran manusia. Salah satu contohnya adalah penyakit Pompe.

Penyakit Pompe adalah penyakit genetik neuromuskular yang dapat terjadi pada bayi,
anak-anak, dan manusia dewasa, yang membawa gen cacat dari orang tuanya. Gejala
penyakit ini adalah perkembangan otot lemah, terutama pada otot untuk bernafas dan
bergerak. Pada bayi, penyakit ini juga menyerang otot jantung. Penyebabnya adalah cacat
pada gen yang bertanggung jawab untuk membuat enzim acid alpha-glucosidase (GAA) yang
terletak pada kromosom 17. Enzim GAA ini hilang atau diproduksi dalam jumlah sedikit.
Fungsi enzim ini untuk memecah glikogen, bentuk gula yang disimpan pada otot, sehingga
terjadi penumpukan glikogen pada lisosom.
Pada penyakit Pompe misalnya, hati dirusak oleh akumulasi glikogen akibat ketiadaan
enzim lisosom yang dibutuhkan untuk memecah polisakarida. Pada penyakit Tay-Sachs,
enzim pencerna lipid hilang atau inaktif, dan otak dirusak oleh akumulasi lipid dalam sel.
Untunglah penyakit penyimpangan ini jarang ada pada populasi umum. Pada masa
mendatang mungkin penyakit penyimpangan ini dapat diobati dengan menyuntikkan enzim
yang hilang bersama dengan molekul adaptor yang menargetkan enzim-enzim untuk
penelanan oleh sel dan penggabungan dengan lisosom
(http://teguhjatiprasetyo.blogspot.com/2010/08/peranan-lisosom-sebagai-salah satu.html).

BAB III
PENUTUP
A.

Kesimpulan
Berdasarkan hasil pembahasan di atas, maka dapat diperoleh beberapa kesimpulan,
yaitu sebagai berikut:

1.

Lisosom ditemukan pada tahun 1950 oleh Christian de Duve dan dipostulatkan olehnya
pada tahun 1955 dari data biokimia. Sebelumnya de Duve dan kawan-kawannya mencoba

meneliti kandungan enzim dari fraksi-fraksi yang dipisahkan dari homogenate sel hati tikus
melalui pemusingan atau sentrifugasi deferensial.
2.

Lisosom adalah organel yang termasuk dalam system endomembran, produk dari ER kasar
dan Golgi apparatus, yang memiliki keanekaragaman morfologi yakniberbentuk agak bulat
dan dikelilingi oleh membran tunggal bilayer yang digunakan untuk mencerna
makromolekul. Lisosom terdiri dari dua macam, yaitu lisosom primer yang berisi enzimenzim hidrolase dan lisosom sekunder yang selain berisi hidrolase juga terdapat substrat yang
sedang dicerna.

3.

Lisosom dibentuk dari protein yang dihasilkan oleh ribosom dan kemudian masuk ke
retikulum endoplasma (RE). Protein yang dimasukkan kedalam membran kemudian
dikeluarkan ke sitoplasma. Namun, ada juga yang masuk ke golgi terlebih dahulu baru
kemudian dilepas ke sitoplasma.

4.

Beberapa fungsi dan peranan lisosom di antaranya: endositosis ialah pemasukan


makromolekul dari luar sel ke dalam sel melalui mekanisme endositosis, yang kemudian
materi-materi ini akan dibawa ke vesikel kecil dan tidak beraturan, yang disebut endosom
awal; autofagi merupakan proses yang digunakan untuk pembuangan dan degradasi bagian
sel sendiri, seperti organel yang tidak berfungsi lagi; dan fagositosis merupakan proses
pemasukan partikel berukuran besar dan mikroorganisme seperti bakteri dan virus ke dalam
sel.

5.

Lysosomal storage diseases adalah penyakit keturunan yang mempengaruhi metabolisme


lisosom, terjadi karena mutasi di gen struktural sehingga kekurangan salah satu enzim
hidrolitik aktif yang secara normal ada dalam lisosom.

B.

Saran
Saran yang dapat kami sampaikan semoga dengan adanya penulisan makalah ini, baik
penulis maupun pembaca dapat menjadikan sumber bacaan untuk menambah wawasan
pengetahuan yang berkaitan dengan organel-organel sel khususnya organel lisosom.
http://jasthyn.blogspot.com/2013/03/makalah-lisosom_3309.html

Anda mungkin juga menyukai