Anda di halaman 1dari 42

Asuhan Keperawatan Pada Ny.

W
Dengan Sistitis
Disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Sistem Urinary

Disusun oleh :
Eva Herfianti

220110090128

Nissa Fadillah S

220110090132

Nuryani S

220110090123

Pepi Pratiwi

220110090129

Pratiwi Ayu P

220110090122

Rafika Tasya

220110090124

Suci Amalya F

220110090130

Sylvia Farmasya

220110090125

Vidy Octavianty

220110090133

Alfi Noviani

220110090140

Yuke Fathurohmah

220110090134

FAKULAS ILMU KEPERAWATAN


UNIVERSITAS PADJAJARAN
2012

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa Yang Maha Esa yang
telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan
penyusunan makalah ini dengan baik.Makalah ini berjudul Makalah Kasus 1
Sistitis.Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas dan diajukan untuk memenuhi standart
proses pembelajaran oada mata kuliah Sistem Urinary.
Dalam penyusunan makalah ini,penulis ingin menyampaikan terima kasih kepada
pihak-pihak yang senantias memberi dukungan dan materil dalam proses penyusunan
makalah ini.
Meskipun telah berusaha segenap kemampuan,namun penulis menyadari bahwa
makalah ini masih belum sempurna.Oleh karena itu,penulis sangat mengharapkan saran dan
kritik dari semua pihak demi di hari kemudian.
Akhir kata,penulis mengharapkan makalah ini dapat bermanfaat dalam proses
pembelajaran dan bagi siapapun yang membacanya.

Jatinangor ,

Penulis

Mei 2012

IDENTIFIKASI KASUS

Ny. W 25 tahun.status ,enikah 1 minggu yang lalu.datang ke Rumah Sakit X,dengan


keluhan sakit saat berkemih,berkemih keluar sedikit-sedikit disertai rasa nyeri.
Saat dikaji lebih lanjut oleh perawat,dari hasil wawancara didapakan : klien mengeluh
urgency,frequency,dyuria dan diare.
T : 120/80 , P : 90x/menit, R:24x/menit, S:390 C.
Setelah melakukan pemeriksaan fisik didapatkan dari hasil palpasi area supra pubik
terasa tegang,tenderness.perawat menganjurkan kepada ny.w supaya banyak minum minimal
3 liter/hari.
Hasil pemeriksaan urine:warna keruh, wbc (+++), culture + bakteri, pyuria, eritrosit +.
Ny. W mendapat terapi : bachtrim 3x1 tab 400 mg Po,dan phenazopyridine 3x1 tab
Po.

Hasil SGD Kasus I Sistem Urinari (Sistitis)


Hari/Tanggal: Senin, 20 Februari 2012
Chair: Eva H
Scraiber I: Pepi P.R.
Scraiber II: Sylvia F.A. F. A.
STEP I
1
2
3

Dysuria (Pepi P.R.)


Urgency (Sylvia F.A.)
Tenderness (Eva H.)

Phenazopyridine (Nissa F.)


5 Therapy Bachtrim (Alfi)
6 Supra Pubic (Yuke.)
7 WBC (Pratiwi P.)
8 Pyuria (Rafika)
9 Kultur + Bakteri (Suci)
10 Frequency (Nuryani S.)
4

Jawaban:

WBC: White Blood Cell/ Sel Darah Putih (Rafika T.)


Tenderness:
; Benjolan (Suci A.)
; Teraba Keras (Nuryani)
; Penumpukan Cairan (Eva H)
Phenazopyridine: Analgetik untuk infeksi kemih, biasanya diminum bersama
antibiotic. (Pepi P.R.)
Bachtrim: Salah satu jenis antibiotic (Pratiwi P.)
Urgency:
; Perasaan terdesak untuk melakukan perkemihan (Eva H.)
; Tidak dapat menahan BAK, namun keluarnya sedikit-sedikit. (Pepi.)
Kultur + Bakteri: Tes untuk mengetahui adanya bakteri atau tidak, jika hasilnya positif
berarti ada bakteri. (Nissa F.)
Supra Pubic: Di depan tulang kemaluan (Pratiwi)
Dysuria:
; Sedikit Urine (Nuryani S.)

Tidak ada urine (Eva H.)


; Nyeri ketika berkemih (Vidia))
Frequency: Rentang waktu dalam berkemih dekat/sering berkemih (Nissa F.)
Pyuria: Urine bernanah, mengandung bakteri (Eva H.)
;

STEP II
Diagnosa Medis? (Semua)
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18

Hubungan TTV dengan penyakit ini? (Rafika T.)


Hubungan gejala diare dengan penyakit ini? (Suci A.)
Apakah penyakit ini ada hubungannya dengan menikah atau tidak? (Nuryani S.)
Mengapa ketika di palpasi pubik teraba tegang? (Sylvia)
Gejala lain yang mungkin timbul?(Alfi)
Mengapa klien ini mengeluarkan urine sedikit-sedikit dan nyeri?(Yuke)
Apa faktor resiko bisa terkena radang?(Nuryani)
Bagaimana prognosis dari penyakit ini?(Nissa F.)
Organ apa yang terkena inflamasi?Anfis? (Eva H.)
Apakah jumlah cairan dalam tubuh dapat mempengaruhi penyakit ini? (Sylvia F.A.)
Apakah penyebab pyuria? (Pepi P.R.)
Komplikasi lanjut jika tidak tertangani? (Pratiwi P.)
Faktor Pencetus dan Predisposisi? (Nuryani S.)
Lama Therapy diberikan?(Nissa F.)
Etiologi?(Eva)
Pemeriksaan Diagnostik? (Nissa F)
Diagnosa Banding?(Suci A.)
Obat Herbal yang dapat diberikan?(Vidia O.)

STEP III
1
2

3
4

Inflamasi menyebabkan suhu meningkat, sehingga RR dan HR pun meningkat


(Sylvia)
Jawab:
; Diare disebabkan cairan yang masuk terus menerus, yaitu 3 liter air (Yuke F.)
; Imun Tubuh yang menurun, menyebabkan diare.(Alfi)
Kemungkinan ada hubungannya, karena bakteri bisa berasal dari pria (Yuke F.).
Jawab:
; Karena banyak cairan yang tertahan dan tidak keluar (Vidia O.)
; Tenderness terjadi karena penumpukan cairan (Rafika)

; Inflamasi menyebabkan turgor, sehingga timbul benjolan. (Eva H.)


5
6

10

11

12
13
14
15
16

17
18

Adanya nyeri di pinggang/nyeri menyebar (Vidia)


Jawab:
; Karena ada tenderness yang menghalangi keluarnya urine (Suci A.)
; Karena adanya inflamasi saluran kemih(Pratiwi)
Jawab:
; Kurang minum air (Pepi)
; Kurang bersih pada organ intim (Suci A.)
; Sering menahan pipis (Sylvia)
Jawab:
; Prognosis baik (Suci)
; Bisa terjadi kekambuhan (Eva H.)
Jawab:
; Saluran kemih, Ginjal kanan lebih besar dari ginjal kiri. Bentuknya seperti kacang,
beratnya 200 gram. (Rafika)
; Sistem: Ginjal Ureter Vesika Urinary Uretra
Filtrasi (terjadi di Vesika Urinari) Arbsorpsi (terjadi di tubulus kontraktur
proksimal) rearbsorpsi (terjadi di tubulus kontraktur distal)
(Eva H.)
Jawab:
; Hemositas terganggu, dianjurkan minum 3 liter air sehari agar menstimulasi kerja
ginjal dan menyababkan tekanan yang lebih tinggi di kandung kemih, sehingga
urine dapat keluar. (Nissa F.)
; Untuk mempercepat pengeluaran bakteri.(Yuke)
Jawab:
; Pyuria terjadi karena inflamasi, sehingga dari hasil test, urine mngandung bakteri
(Vidia)
; Pyuria merupakan bakteri mati yang dikeluarkan lewat urine (Eva H.)
Komplikasi lanjut yaitu penumpukan racun di kandung kemih, serta batu ginjal.
(Pepi)
LO
LO
Etiologi: Bakteri (Yuke F.)
Jawab:
; USG (Vidia O.)
; Pemeriksaan urine lengkap dan Kultur Bakteri (Eva H.)
Kencing Batu (Pratiwi)
LO

MIND MAP (PATOF MINI)

Bakteri

Pemdiag

Saluran Kemih

Komplikasi

Inflamasi

Antibiotik

penatalaksanaan

Anfis Sistem Urinari

Prognosis

Permeabilitas Kapiler Penumpukan Cairan

Pengeluaran Mediator Kimia

Demam
Asuhan Keperawatan
TTV Meningkat

Manifestasi Klinis

Diagnosa Keperawatan

Reporting Kasus I (Sistitis)


Hari/Tanggal: Senin, 27 Februari 2012

Anatomi Fisiologi
GINJAL
(Yuke) Berat Ginjal kurang dari 1% berat badan, kira-kira satu kepalan tangan. Bentuknya
seperti biji kacang. Ginjal kiri lebih besar dari kanan. Bagian luar ginjal dilapisi lemak untuk
meredam guncangan.
Secara mikroskopik, ginjal terdiri dari: Hilus (lengkungan), Renal Arteri, Renal Vena,
Selaput, Papila (piramida). Aliran urine dari papilla menuju kaliks minor kaliks mayor
pelvis ureter.
Fungsi ginjal diantaranya adalah: menyaring darah, mengaktifkan vitamin D, mengatur
keseimbangan cairan tubuh.
(Suci) Nefron terdiri dari: Glomerulus, Tubulus Distal (segmen terakhir nefron), lengkung
henle, tubulus proksimal (panjangnya 15 cm, terdapat sel epithelial yang kaya akan
mikrovirus), duktus pengumpul (mengalirkan urine ke kaliks minor, kemudian ke kaliks
mayor, menuju ureter, dan berakhir di kandung kemih).
(Nuryani) Nefron berjumlah satu juta di setiap ginjal.
(Eva) Pada glomerulus, terdapat pembuluh darah yang masuk yaitu aferen. Ginjal diperdarahi
oleh kapiler peritubulus. Darah yang masuk berjumlah 1300 ml yang terdiri dari plasma 700
ml dan cairan sel 600 ml. Setelah melewati aferen, zat-zat terfiltrasi dari sel-sel besar yaitu
glukosa dan protein. Zat-zat yang tidak terfiltrasi dikeluarkan melalui eferen. Cairan yang
terfiltrasi akan berjalan melalui kapsula bowman lalu berjalan menuju tubulus kontortus
proksimal dan disini terjadi rearbsorpsi. Setelah itu menuju ke lengkung henle dan terjadi
pemekatan urine. Kemudian urine disekresikan melalui duktus pengumpul. Pada duktus
pengumpul terjadi pertukaran urea yang masuk dan air yang keluar. Kemudian terakhir urine
berjalan melalui pelvis. Bagian ginjal yang menghasilkan rennin adalah Apartus
Jukstaglomerulus.
(Pratiwi) Pada kalpiler peritubulus, tekanan darah makin rendah. Di Aferen tekanan sekitar
100 mmHg, di glomerulus sekitar 60 mmHg, dan di aferen sekitar 47 mmHg. Struktur luar
ginjal terdiri dari fasial gerota dan lemak.

(Vidya) Ginjal kaya akan sumber darah, menghasilkan 25% dari curah jantung.
URETER
(Nissa) Ureter memiliki panjang 25 cm, dan lebar 5 mm. Terdapat dinding yang terdiri dari
otot polos untuk gerak peristaltis yang dipersarafi oleh saraf simpatis. Gerak peristaltic ini
akan mendorong urine ke dalam kandung kemih dengan waktu kira-kira 10-15 detik.
Terdapat jokuvental yang berfungsi agar urine tidak kembali ke ginjal.
(Alfi) Terdapat tiga saluran penyempit di ureter, batu ginjal menyumbat di saluran tersebut.
Dinding ureter terdiri dari fibrosa, mukosa longitudinal, dan epithelium.
(Pratiwi) Pemeriksaan ureter dibagi ke dalam tiga bagian. Pada bagian proksimal di bagian
pelvis renalis sampai ke sarkum, bagian medial dilakukan di sarkum, dan bagain distal
dilakukan di antara sarkum sampai kandung kemih.
KANDUNG KEMIH
(Nuryani) Kandung kemih berfungsi untuk menampung urine sementara. Dindingnya terdiri
dari otot polos yang disebut muskulus destrusor, yaitu otot untuk mendorong pengosongan
kandung kemih.
(Rafika) Pada pria, kandung kemih terletak di atas penis. Sedangkan apada wanita terletak di
bawah uterus di belakang vagina. Jika kandung kemih kosong, ukurannya hanya sebesar biji,
sedangkan jika kosong ukurannya sebesar buah pear dan dapat sampai ke umbilical. Pada
orang dewasa, urine yang keluar sekitar 300-500 ml.
(Suci) Kanudng kemih terdiri dari tiga lapisan yaitu lapisan paing luar yang bernama serosa,
otot detrusor yang terdiri dari otot polos, dan submukosa yang menghubungkan dengan
bagian muskularis. Terapat pula trigonium, yang terdiri area yang halus dan triangular.
(Pratiwi) Pada orang dewasa, kandung kemih dapat menampung 300-400 ml urine,
sedangkan untuk anak-anak dapat digunakan rumus koff, yaitu:
K= ( umur (tahun) + 2 ) x 30
(Eva) Ureter berbentuk melengkung agar tidak terjadi refluks. Pada uretra terdapat kelenjar
prostat, ketika terjadi penuaan dapat membesar dan menyebabkan kerusakan dan gangguan
fungsi berkemih. Pada kandung kemih terdapat sfingter detrusor yang jika berkontraksi maka
sfingter interna dan eksterna akan berelaksasi.
(Vidya) Pada kandung kemih terdapat membrane mucus yang berlipat yang bernama Rugae.
Uretra

(Pepi) Uretra terdiri dari uretra prostatis, membranosa, dan kervenous.


(Yuke) Lapisan pada uretra terdiri dari otot polos, submukosa (lapisan longgar), dan mukosa.
Berkemih
(Yuke) Ketika kandung kemih penuh, pusat saraf kortikal terangsang dan sinyal tersebut
memberikan informasi ke otak dan memberikan respon dengan relaksasi detrusor kemudian
terjadi keinginan berkemih, lalu terjadi fase pengosongan dan sfingter eksterna relaksasi, lalu
terjadilah miksi.
(Suci) Terjadi proses filtrasi, rearbsorpsi, dan berkemih. Hal tersebut dilakukan di tubulus dan
dengan bantuan hormone aldosteron yang melakukan penyerapan H2O dan meningkatkan
rearbsorpsi kalium.
(Eva) Karakteristik urine: jumlah 300-1100 moSm/kg, Berat Jenisnya 1.015-1.025 (bila
asupan cairannya normal).
(Sylvia) Komposisi Urine: Terdiri dari Air (400-500 ml ekskresi lewat urine), Elektrolit
(Natrium, Klorida, Kalium, Bikarbonat, Ion lainnya), Ureum, dan Asam Urat.

Konsep penyakit: Sistitis


Definisi:
(Nuryani) Biasanya terjadi oleh bakteri. Merupakan infeksi kandung kemih yang
frekuensinya lebih banyak pada wanita karena meatusnya lebih pendek.
(Pepi) Tidak bereaksi oleh antibiotic dan bias terjadi selain karena bakteri.
(Pratiwi) Bisa juga disebabkan oleh jamur, biasanya Kandida.
(Vidya) Disebabkan oleh inflamasi di uretra
(Nissa) Disebabkan oleh refluks urine di kandung kemih.
Klasifikasi
(Sylvia) Terdapat beberapa jenis sistitis, yaitu sistitis bakterialis akut, ditandai dengan
kongesti mukosa dan edema. Selain itu, terdapat pula sistitis interstisial/inflamasi kronik
kandung kemih, yang bukan disebabkan oleh bakteri dan tidak berespon terhadap antibiotic,
biasanya dialami oleh wanita berusia 40-50 tahun. Terdapat pula Melakoplasia, yaitu sistitis
bacterial kronis yang bercirikan plak mukosa yang lunak, berwarna kuning, sedikit menonjol
dengan diameter 3-4 cm. Lesi Metaplastik (Sistitis Glandularis dan Sistitis Sistika), Sistitis

Hemoragik akut yang disebabkan E.Coli dan dihubungkan juga dengan adenovirus tipe 11
dan 21. Ada juga sistitis Adenovirus dan Sistitits Eosinofilik.
(Alfi) Sistitis dibagi pula menjadi primer dan sekunder. Sistitis primer yaitu sistitis yang
berasal dari penyakit lain, misalnya batu ginjal di uretra. Sedangkan sistitis sekunder,
merupakan kelanjutan dari sistitis primer.
(Yuke) Sisititis Interstisial dibagi menjadi awal yaitu nonklasi dan ada perdarahan, sedangkan
sisititis lanjut berarti klasi yaitu terdapat ulserasi.
Cara Penularan dan Etiologi
(Rafika) Penyebab utama adalah Bakteri E.Coli, Pada wanita bias disebabkan karena
hubungan seksual yang bisa menyebabkan cedera, dan pemasangan kateter atau pembedahan.
(Nuryani) Bisa pula disebabkan oleh pemakaian kontrasepsi. Pada wanita lenbih sering
terkena karena uretra lebih pendek.
(Pratiwi) Karena kehamilan dapat menurunkan peristaltic. Untuk bakteri E.Coli, hanya
bakteri E.Coli dengan kode H yang dapat menyebabkan Sistitis.
(Nissa) karena penurunan imunitas.
(Yuke) Setelah koitus, wanita tidak Miksi, dan menyebabkan bakteri terkumpul di kandung
kemih dan akhirnya terjadi kerusakan mukosa.
(Eva) Ketika Miksi, urine tertahan sehingga dapat refluks ke kandung kemih. Selain itu,
pasien yang diare dan tidak bersih cebok juga meningkatkan resiko terkena sistitis.
(Vidya) Pada laki-laki, sisititis merupakan penyakit sekunder, biasanya karena gangguan pada
kelenjar prostat.
Manifestasi Klinis
(Rafika) Inflamasi, rasa nyeri di saluran urinary (perut bawah), BAK sedikit, hematuria.
(Alfi) Stranguria (kencing susah dan tegang otot pinggang), postatismus (kesulitan ketika
memulai BAK), jika terjadi infeksi di bagian atas akan terasa: nyeri kepala, sakit pinggang
dan terasa terbakar.
(Vidya) Nocturia.
Pemeriksaan Diagnostik
(Nissa) Kultur urine untuk melihat apakah ada bakteri.
(Nuryani) Test urine untuk melihat apakah ada leukosit, dan atau eritrosit pada urine; Test
Kimia, untuk melihat apakah ada protein atau mikroba pada urine.

(Pepi) Test plat celup, yaitu menampung urine dan dilakukan pemeriksaan kandungan urine
(misal mengandung bakteri)
(Pratiwi) Hasil pemeriksaan: Wanita dengan simtomatik, hasilnya terdapat bakteri lebih dari
105/ml urine, untuk laki-laki dengan simtomatik terdapat bakteri lebih dari 10 3/ml urine,
sedangkan untuk asimtomatik hasilnya lebih dari 105 tapi harus diuji lebih dari dua kali.
Penatalaksanaan
(Sylvia) Cairan yang adekuat, analgesic vesika urinaria, seperti fenazopiridin (pyridium) dan
terapi anti mikroba. Terapi dosis tunggal sering menyembuhkan wanita dewasa dengan gejala
traktus urinarius yang mula timbulnya akut tanpa tanda traktus urinarius atas. Pembedahan
dilakukan untuk mengatasi penyumbatan pada aliran kemih atau untuk memperbaiki kelainan
struktur.
(Nuryani) Prinsip pengobatannya adalah menurunkan jumlah bakteri dan mengoreksi
kelainan anatomis.
Untuk pengobatan non farmako yaitu: BAK teratur setiap 2-3 jam untuk mengosongkan
kandung kemih, menjaga kebersihan perineum setelah hubungan seks, BAK setelah koitus,
banyak minum, hindari kopi, teh, dan minuman bersoda.
(Suci) Pemberian antibiotic selama 3 hari, Atropin, Phenazopiridine.
(Alfi) Phenazopyridine memberikan efek analgesic local, diberikan bersama antibiotic selama
2 hari.
Pendidikan Kesehatan
(Yuke) Cari toilet jongkok, celana dalam dari bahan cotton, cuci area genitalia dari arah
depan ke belakang, obati jika ada keputihan berlebih.
(Nissa) Terapi bachtrim ditambah antibiotic mempercepat proses penyembuhan di saluran
kemih.
(Rafika) Jangan menggunakan air yang ditampung/harus dari air keran, tingkatkan antibody
dengan mengkonsumsi vitamin C.
(Pratiwi) Jangan putus obat, untuk pria sebelum berhubungan seks harus membersihkan
organ genitalianya.
Diagnosa Keperawatan
1

Nyeri berhubungan dengan Inflamasi

Tujuan: Mengurangi nyeri


(Suci) Intervensi:

Pantau karakteristik, skala, dan frekuensi


Rasional: untuk mengidentifikasi intervensi selanjutnya
Lakukan teknik relaksasi dan distraksi
Rasional: untuk mengalihkan fikiran dari rasa nyeri, sehingga nyeri dapat
terasa berkurang.
Kolaboratif dengan Analgesik

(Nissa) Tambahan Intervensi:

Jelaskan penyebab nyeri


Rasional: untuk mengurangi kecemasan
Kompres panas abdomen
Rasional: untuk mengontrol spasme otot.

Perubahan pola berkemih berhubungan dengan gangguan fungsi sfingter interna


ditandai dengan urine keluar sedikit-sedikit
Tujuan: Eliminasi kembali normal
(Yuke) Intervensi
Kaji pola, ukur urine
Rasional: memonitor keseimbangan output dan input
Anjurkan berkemih setiap 2 jam
Bantu klien untuk BAK
Minum 2-3 liter setiap hari.
Kurang pengetahuan klien tentang penyakit
Tujuan: menambah pengetahuan
Intervensi:
Anjurkan pipis setelah koitus
Anjurkan mandi di pancuran
Anjurkan membersihkan perineum
Ajarkan cara membersihkan organ genitalia yang baik.

PEMBAHASAN

Anatomi Ginjal
Masing-masing ginjal mempunyai panjang kira-kira 12 cm dan lebar 2,5 cm pada
bagian paling tebal. Berat satu ginjal pada orang dewasa kira-kira 150 gram dan kira-kira
sebesar kepalang tangan. Ginjal terletak retroperitoneal dibagian belakang abdomen.
Ginjal kanan terletak lebih rendah dari ginjal kiri karena ada hepar disisi kanan. Ginjal
berbentuk kacang, dan permukaan medialnya yang cekung disebut hilus renalis, yaitu
tempat masuk dan keluarnya sejumlah saluran, seperti pembuluh darah, pembuluh getah
bening, saraf, dan ureter.
Ginjal (Ren)

Lapisan-lapisan pembungkus ginjal :


1 Bagian dalam

: capsula renalis yang berlanjut dengan lapisan permukaan ureter.


2 Bagian tengah : capsula adiposa yang merupakan jaringan lemak untuk melindungi
ginjal dari trauma.
3 Bagian luar
: Fascia renalis (jaringan ikat) yang membungkus ginjal dan
menghubungkannya dg dinding abdomen posterior. Jaringan flexibel ini
memungkinkan ginjal bergerak dengan lembut saat diafragma bergerak waktu bernafas,
mencegah penyebab infeksi dari ginjal ke bagian tubuh lainnya.

Anatomi internal ginjal dari dalam keluar, renal pelvis, medulla dan korteks :
1 Renal pelvis merupakan ruang penampung yang besar yang menghubungkan medula
dengan ureter. Renal pelvis Memiliki percabangan yaitu kaliks mayor dan kaliks minor.
Masing-masing ginjal memiliki sekitar 2-3 kaliks mayor dan 8-18 kaliks minor

2 Medulla renalis merupakan bagian tengah ginjal, terdiri dari 8-18 piramida. Bagian

apeks dari piramida adalah papilla . Piramida terdiri dari tubulus dan duktus kolektifus
dari nefron. Tubulus pada piramida berperan dalam reabsorpsi zat-zat yang terfiltrasi.
Urin berjalan dari medulla ke kaliks minor, kaliks mayor dan renal pelvis. Dari renal
pelvis urin ke ureter dan masuk kandung kemih. Satu ginjal memiliki kurang lebih 1
juta nefron.
3. Cortex renalis : paling luar dari ginjal terdiri dari area kortikal dan area juxtamedullari.
Mempunyai kapiler-kapiler menembus medula melalui piramid membentuk renal
kolum. Kolum terdiri dari tubulus ginjal yang mengalirkan urin ke kalliks minor.

Setiap ginjal terbungkus oleh selaput tipis yang disebut kapsula fibrosa, terdapat
cortex renalis di bagian luar, yang berwarna cokelat gelap, dan medulla renalis di bagian
dalam yang berwarna cokelat lebih terang dibandingkan cortex. Bagian medulla berbentuk
kerucut yang disebut pyramides renalis, puncak kerucut tadi menghadap kaliks yang
terdiri dari lubang-lubang kecil disebut papilla renalis. (Syaifuddin, 2006).
Hilum adalah pinggir medial ginjal berbentuk konkaf sebagai pintu masuknya
pembuluh darah, pembuluh limfe, ureter dan nervus.. Pelvis renalis berbentuk corong yang
menerima urin yang diproduksi ginjal. Terbagi menjadi dua atau tiga calices renalis
majores yang masing-masing akan bercabang menjadi dua atau tiga calices renalis
minores.
Struktur halus ginjal terdiri dari banyak nefron yang merupakan unit fungsional
ginjal. Diperkirakan ada 1 juta nefron dalam setiap ginjal. Nefron terdiri dari :
Glomerulus, tubulus proximal, ansa henle, tubulus distal dan tubulus urinarius.
Perdarahan Ginjal
Ginjal mendapatkan darah dari aorta abdominalis yang mempunyai percabangan
arteria renalis, arteri ini berpasangan kiri dan kanan. Arteri renalis bercabang menjadi
arteria interlobularis kemudian menjadi arteri akuarta. Arteri interlobularis yang berada
di tepi ginjal bercabang menjadi arteriolae aferen glomerulus yang masuk ke gromerulus.
Kapiler darah yang meninggalkan gromerulus disebut arteriolae eferen gromerulus yang
kemudian menjadi vena renalis masuk ke vena cava inferior.
B

Persarafan Ginjal
Ginjal mendapatkan persarafan dari fleksus renalis(vasomotor). Saraf ini berfungsi
untuk mengatur jumlah darah yang masuk ke dalam ginjal, saraf ini berjalan bersamaan
dengan pembuluh darah yang masuk ke ginjal.

Fisiologi Ginjal
Sekitar 20 -25 % kardiak output lari ke
ginjal. Kegiatan filtrasi darah yang masuk ke
ginjal dalam tubuh 60x/hari dengan 1,2 liter
darah lewat ke ginjal/mnt. Ginjal memfiltrasi
1700 liter darah/ 24 jam.
Dari pleksus renalis susunan saraf
otonom masuk lewat hillus dan melakukan
inervasi pada otot polos di afferen & efferen
arteriol. Suplai vasomotor ini lebih untuk
vasokonstriktor. Pada umumnya afferen lebih
sering kontraksi daripada efferen. Perubahan
posisi

fisik,

stress

dapat

meningkatkan

vasomotor. Saraf vasomotor membantu untuk


kontrol fungsi ginjal dengan mengatur tekanan
darah di glomerolus. Pada laki-laki, saraf di
ginjal berhubungan atau berkomunikasi dengan
saraf di testis sehingga gangguan pada ginjal
dapat menyebabkan gangguan nyeri diatas testis.
Nefron merupakan unit fungsional pada
ginjal. Masing-masing ginjal memiliki sekitar 1
juta nefron. Secara garis besar dikatakan bahwa nefron terdiri atas dua komponen yaitu
komponen tubular yang terdiri dari glomerulus sampai dengan tubulus eksetori dan
komponen vaskular yang terdiri dari kapiler glomerulus & kapiler. Nefron terdiri lima
komponen:
1 Kapsula bowman dan glomerulus merupakan tempat terjadinya filtrasi

Filtrasi darah di renal melewati 3 lapis :


Lap 1 : lapisan endotel yang mengandung lubang-lubang tipis yang disebut jendela
Lap 2 : basemen membran seperti basemen kapiler merupakan fibrous protein
Lap 3 : lapisan viseral glomerulus kapsul & sel podocyte. Podocyte ukurannya besarbesar dan seperti tangan punya jari-jari, disebut foot processes atau pedicels
peritubular.

2 Tubulus proksimal, merupakan tempat reabsorpsi dan beberapa sekresi


3 Lengkung henle, merupakan tempat pengenceran dan pemekatan urin terjadi
4 Tubulus distal, reabsorpsi dan lebih banyak sekresi.
5 Duktus kolektifus, pemekatan urin dan menyalurkan urin ke renal pelvis.

Pembentukan urin dalam nefron melalui tiga proses, yaitu filtrasi Glomerulus,
reabsorpsi tubulus, dan sekresi tubulus.
1 Filtrasi Glomerulus

Di glomerulus terjadi penyerapan darah, yang tersaring adalah bagian cairan


darah kecuali protein. Cairan yang tersaring ditampung oleh simpai bowmen yang
terdiri dari glukosa, air, sodium, klorida, sulfat, bikarbonat dll, diteruskan ke tubulus
ginjal. cairan yang di saring disebut filtrate gromerulus
Filtrasi glomerulus merupakan proses yang pasif dan tidak selektif dimana
cairan dan zat-zat terlarutnya terdorong melalui membran semi permeabel melalui
tekanan hidrostatik. Sejumlah volume cairan yang terfiltrasi dari darah ke dalam
kapsula bowman dalam setiap menitnya disebut dengan glomerular filtration rate
(GFR). GFR dipengaruhi oleh tiga faktor:
1 Total permukaan yang memungkinkan untuk proses filtrasi
2 Permeabilitas membran filtrasi
3 Total tekanan filtrasi

Tekanan filtrasi ditentukan oleh kekuatan tekanan yaitu tekanan hidrostatik yang
mendorong dan tekanan osmotik yang menarik. Perbedaan kedua tekanan tersebut
yang menentukan tekanan total dari tekanan filtrasi.
GFR normal pada orang dewasa adalah 120-125 ml/menit. Keadaan tersebut
dipertahankan tetap oleh kontrol intrinsik yang disebut dengan autoregulasi renal.
Autoregulasi dicapai dengan beberapa mekanisme yaitu: mekanisme myogenik yang
mengontrol diameter arteriol afferen yang berespon terhadap perubahan tekanan pada
pembuluh darah. Tekanan darah yang meningkat menyebabkan pembuluh darah renal
kontriksi.
Kontrol intrinsik yang lain adalah mekanisme renin-angiotensin. Sel khusus
yang disebut dengan aparatus jukstaglomerullus yang berada di tubulus distal. Renin
dikeluarkan oleh sel jukstaglomerulus kebanyakan dipacu oleh adanya penurunan
tekanan dalam sistem sirkulasi.

Filtrasi glomerulus juga dikontrol oleh mekanisme ekstrinsik melalui sistem saraf
simpatis. Dalam keadaan gawat atau stress, sistem saraf simpatis menyebabkan
vasokonstriksi yang kuat pada arteriol afferen dan menghambat pembentukan filtrat.
Sistem saraf simpatis merangsang sel jukstaglomerulus untuk melepaskan renin yang
nantinya akan meningkatkan tekanan darah sistemik.
1 Reabsorpsi Tubulus

Pada ginjal yang sehat, nutrien organik seperti asam amino dan glukosa
direabsorpsi. Kecepatan dan banyaknya air yang direabsorpsi tergantung dari respon
ginjal terhadap hormon-hormon yang berperan. Proses reabsorpsi berbagai zat dapat
berlangsung secara aktif diantaranya adalah glukosa, asam amino, laktat, vitamin,
sebagian besar ion.
Pada proses ini terjadi penyerapan kembali sebagian besar dari glukosa,
sodium, klorida, fospat dan beberapa ion bikarbonat. Prosesnya terjadi secara pasif
(obligator reabsorbsi) di tubulus proximal. sedangkan pada tubulus distal terjadi
kembali penyerapan sodium dan ion bikarbonat bila diperlukan tubuh. Penyerapan
terjadi secara aktif (reabsorbsi fakultatif) dan sisanya dialirkan pada papilla
renalis.Sekresi Tubulus
Banyak zat seperti hidrogen, kalium kreatinin, amonia, dan asam organik
berpindah dari darah di kapiler peritubular kedalam tubulus sebagai filtrat. Zat lain
yang disekrsikan juga seperti obat-obatan dan zat-zat lain yang tidak dibutuhkan oleh
tubuh. Proses sekresi ini juga penting dalam mengatur keseimbangan asam basa.
Urin terdiri dari sekitar 95% air dan 5% zat
terlarutnya. Jumlah terbesar zat terlarut adalah urea. Zat
terlarut lainnya adalah natrium, kalium, fosfat, sulfat,
kreatinin, asam urat, kalsium, magnesium dan bikaarbonat.
Pada orang dewasa yang sehat, produksi urin dalam sehari
jumlahnya sangat bervariasi dari yang paling sedikitnya
300 ml saat tubuh tidak mendapatkan asupan air atau saat
tubuh kehilangan bnayak air sampai 23 liter pada keadaan banyak minum. Pada keadaan
sehat, volume urin tidak memungkinkan dibawah 300 ml karena volume ini merupakan
jumlah minimal yang dibutuhkan untuk urin dapat mengeluarkan zat-zat buangan yang
berbahaya.

Proses mempertahankan komposisi dan volume urin normal terjadi melalui tahaptahap sebagai berikut:
1

Bagian desenden lengkung henle lebih permeabel terhadap air, natrium, dan klorida
yang dapat masuk melalui proses difusi. Bagian interstisial yang hiperosmotik
menyebabkan air bergerak keluar dari bagian desenden sehingga filtrat menjadi lebih
pekat.
Lumen bagian asenden lengkung henle impermeabel terhadap air, tetapi dapat
dilewati oleh natrium dan klorida masuk ke interstisial di medula. Dengan demikian
filtrat di medula menjadi hipoosmotik dan interstisial menjadi hiperosmotik.
Saat filtrat melewati bagian asenden lengkung henle dan memasuki tubulus distal,
natrium dan klorida dikeluarkan/berpindah sedangkan air ditahan sehingga filtrat
menjadi lebih encer
Saat filtrat melewati ar kan air.
Ginjal mampu mengeluarkan produk buangan yang larut dalam air dan beberapa

zat kimia dari tubuh. Proses tersebut disebut dengan renal plasma clearance yaitu
kemampuan ginjal untuk membersihkan zat buangan dalam satu menit. Ginjal
membersihkan sekitar 25-30 gr urea (zat buangan nitrogen yang dibentuk di hati dari
pemecahan asam amino) sehari. Membersihkan kreatinin (produk akhir dari kreatinin
fosfat yang di temukan di otot rangka), membersihkan asam urat (sisa metabolik nucleic
acid), membuang amonia, toksin bakteri dan obat-obat yang larut dalam air.

Hormon dan Nutrien yang ada di ginjal


1

Vitamin D penting dalam proses reabsorpsi kalsium dan fosfat di usus halus. Vitamin
D memasuki tubuh dalam bentuk inaktif dari diet atau dari perubahan kolesterol
dengan bantuan sinar ultraviolet di kulit. Aktivasi vitamin ini terjadi melalui dua
tahap: yang pertama di hati dan yang kedua di ginjal. Pada tahapan yang terjadi di
ginjal distimulasi oleh hormon paratiroid sebagai respon dari penurunan kadar
kalsium plasma.
Eritropoietin yang merangsang sumsum tulang memproduksi sel darah merah sebagai
respon adanya hipoksia jaringan. Proses yang merangsang pengeluaran eritropoietin
di ginjal adalah penurunan kadar oksigen sel ginjal.

Anfis Saluran Kemih


Vesica urinaria

Vesica urinaria sering juga disebut kandung kemih atau buli-buli, merupakan tempat
untuk menampung urin yang berasal dari ginjal melalui ureter untuk selanjutnya diteruskan
ke uretra dan lingkungan eksternal tubuh melalui mekanisme relaksasi sphincter. Vesica
urinaria terletak di lantai pelvis (pelvic floor), bersama-sama dengan organ lain seperti
rektum, organ reproduksi, bagian usus halus, serta pembuluh-pembuluh darah, limfatik dan
saraf. Kandung kemih dapat mengembang dan mengempis seperti balon karet, bentuk
kandung kemih seperti kerucut yang dikelilingi oleh otot yang kuat, berhubungan dengan
ligamentum vesika umbikalis medius.
Bagian vesika urinaria terdiri dari :
1. Fundus, yaitu bagian yang mengahadap kearah belakang dan bawah, bagian ini terpisah
dari rektum oleh spatium rectosivikale yang terisi oleh jaringan ikat duktus deferent, vesika
seminalis dan prostate.
2. Korpus, yaitu bagian antara verteks dan fundus.
3. Verteks, bagian yang maju ke arah muka dan berhubungan dengan ligamentum vesika
umbilikalis.
Dinding kandung kemih terdiri dari beberapa lapisan yaitu, peritonium (lapisan sebelah luar),
tunika muskularis, tunika submukosa, dan lapisan mukosa (lapisan bagian dalam).

Uretra

Uretra merupakan saluran yang membawa urine keluar dari vesica urinaria menuju
lingkungan luar. Terdapat beberapa perbedaan uretra pada pria dan wanita.
Pada laki-laki, sperma berjalan melalui uretra waktu ejakulasi.
Uretra pada laki laki terdiri dari :
1. Uretra Prostaria
2. Uretra membranosa
3. Uretra kavernosa
Lapisan uretra laki laki terdiri dari lapisan mukosa (lapisan paling dalam), dan lapisan
submukosa.

Uretra pada wanita terletak dibelakang simfisis pubisberjalan miring sedikit kearah atas,
panjangnya 3 4 cm. Lapisan uretra pada wanita terdiri dari Tunika muskularis (sebelah
luar), lapisan spongeosa merupakan pleksus dari vena vena, dan lapisan mukosa (lapisan
sebelah dalam).Muara uretra pada wanita terletak di sebelah atas vagina (antara klitoris dan
vagina) dan uretra di sini hanya sebagai saluran ekskresi.

Proses Miksi (Rangsangan Berkemih).


Distensi kandung kemih, oleh air kemih akan merangsang stres reseptor yang terdapat
pada dinding kandung kemih dengan jumlah 250 cc sudah cukup untuk merangsang
berkemih (proses miksi). Akibatnya akan terjadi reflek kontraksi dinding kandung kemih, dan
pada saat yang sama terjadi relaksasi spinser internus, diikuti oleh relaksasi spinter eksternus,
dan pada akhirnya akan terjadi pengosongan kandung kemih. Rangsangan yang
menyebabkan kontraksi kandung kemih dan relaksasi spinter interus dihantarkan melalui
serabut serabut parasimpatis. Kontraksi sfinger eksternus secara volunter bertujuan untuk
mencegah atau menghentikan miksi. kontrol volunter ini hanya dapat terjadi bila saraf saraf
yang menangani kandung kemih uretra medula spinalis dan otak masih utuh.
Bila terjadi kerusakan pada saraf saraf tersebut maka akan terjadi inkontinensia urin
(kencing keluar terus menerus tanpa disadari) dan retensi urine (kencing tertahan).
Persarafan dan peredaran darah vesika urinaria, diatur oleh torako lumbar dan kranial dari
sistem persarafan otonom. Torako lumbar berfungsi untuk relaksasi lapisan otot dan kontraksi
sfingter interna. Peritonium melapis kandung kemih sampai kira kira perbatasan ureter
masuk kandung kemih. Peritoneum dapat digerakkan membentuk lapisan dan menjadi lurus
apabila kandung kemih terisi penuh. Pembuluh darah Arteri vesikalis superior berpangkal
dari umbilikalis bagian distal, vena membentuk anyaman dibawah kandung kemih. Pembuluh
limfe berjalan menuju duktus limfatilis sepanjang arteri umbilikalis.

KONSEP PENYAKIT

Infeksi Traktus Urinarius adalah infeksi yang terjadi pada saluran urinari. Infeksi Traktus
Urinarius umumnya dibagi dalam dua subkatagori besar.
1
2

UTI bagian bawah (uretritis, sistitis, prostatitis)


UTI bagian atas (pielonefritis akut)

Organisme penyebab infeksi pada saluran kemih yang tersering adalah Escherichia coli, yang
menjadi pada lebih dari 80% kasus. Organisme lain yang juga dapat menimbulkan infeksi
adalah golongan Proteus, Klebsiell, Enterobacter, dan Pseudomona. Organismegram positif
kurang berperan kecuali Staphylococcus Saprophyticus yang menyebabkan 10 % hingga
15% UTI pada perempuan muda . Vesika Urinari dan bagian atas uretra biasanya steril,
meskipun bakteri dapat ditemukan dibagian bawah uretra
.
Mekanisme Penyebaran UTI
1

Organisme dapat mencapai vesika urinary melalui uretra. Infeksi dimulai sebagai
sistitis, dapat terbatas di vesika urinary saja atau dapat pulamerambat ke atas melalui
ureter sampai ke ginjal
Organisme dapat juga sampai di ginjal melalui aliran darah atau aliran getah bening.

Definisi
Sistitis adalah inflamasi akut pada mukosa kandung kemih akibat infeksi oleh bakteri atau
inflamasi kandung kemih disebabkan oleh penyebaran infeksi dari uretra.
Etiologi
Mikroorganisme penyebab sistitis adalah E. Coli , Enterocoli, Proteus, Stafilokokus aureus
Mekanisme Penularan Mikroorganisme kedalam kandung kemih
1; Urin tertekan saat miksi atau berkemih sehingga terjadi refluks ke kandung kemih

sehingga mikroorganisme naik ke kandung kemih

2; Mikroorganisme dapat masuk memalui hubungan seksual melalui pijatan uretra dan
3;
4;
5;
6;
7;

gagal berkemih setelah berhubungan intim


Pemakaian kontrasepsi spermisid diafragma dapat menyebaabakan obstruksi parsial
Perubahan pH dan perubahan flora normal vagina
Kurangya kebersihan alat kelamin bagian luar
Adanya perubahan hormonal pada saat menstruasi
Hubungan Sex berganti ganti pasangan

Manifestasi Klinis
; Kemerahan pada kandung kemih
; Edema pada kandung kemih
; Kandung kemih hipersensitif jika berisi urin
; Inkotinensia
; Sering berkemih
; Nyeri di daerah suprapubik
; Eritema mukosa kandung kemih
; Hematuria
; Jarang disertai demam
; Mual
; Muntah
; Lemah
; Kondisi umum menurun
; Bakteriuria (10.000/ml: infeksi)

Pemeriksaan Diagnostik
Urinalisis
Untuk pengumpulan spesimen, dapat dipilih pengumpulan urin melalui urin porsi tengah,
pungsi suprapubik, dan kateter uretra. Secara umum, untuk anak laki-laki dan perempuan
yang sudah bisa berkemih sendiri, maka cara pengumpulan spesimen yang dapat dipilih
adalah dengan cara urin porsi tengah.Urin yang dipergunakan adalah urin porsi tengah
(midstream). Untuk bayi dan anak kecil, spesimen didapat dengan memasang kantong steril
pada genitalia eksterna. Cara terbaik dalam pengumpulan spesimen adalah dengan cara
pungsi suprapubik, walaupun tingkat kesulitannya paling tinggi dibanding cara yang lain
karena harus dibantu dengan alat USG untuk memvisualisasikan adanya urine dalam vesica
urinaria.

Pada urinalisis, yang dinilai adalah sebagai berikut:


a. Eritrosit
Ditemukannya eritrosit dalam urin (hematuria) dapat merupakan penanda bagi berbagai
penyakit glomeruler maupun non-gromeruler, seperti batu saluran kemih dan infeksi saluran
kemih.
b. Piuria
Piuria atau sedimen leukosit dalam urin yang didefinisikan oleh Stamm, bila ditemukan
paling sedikit 8000 leukosit per ml urin yang tidak disentrifus atau setara dengan 2-5 leukosit
per lapangan pandang besar pada urin yang di sentrifus. Infeksi saluran kemih dapat
dipastikan bila terdapat leukosit sebanyak > 10 per mikroliter urin atau > 10.000 per ml urin .
Piuria yang steril dapat ditemukan pada keadaan :
1. infeksi tuberkulosis;
2. urin terkontaminasi dengan antiseptik;
3. urin terkontaminasi dengan leukosit vagina;
4. nefritis intersisial kronik (nefropati analgetik);
5. nefrolitiasis;
6. tumor uroepitelial
c. Silinder
Silinder dalam urin dapat memiliki arti dalam diagnosis penyakit ginjal, antara lain:
1. silinder eritrosit, sangat diagnostik untuk glomerulonefritis atau vaskulitis ginjal;
2. silinder leukosit bersama dengan hanya piuria, diagnostik untuk pielonefritis;
3. silinder epitel, dapat ditemukan pada nekrosis tubuler akut atau pada gromerulonefritis
akut;
4. silinder lemak, merupakan penanda untuk sindroma nefrotik bila ditemukan bersamaan
dengan proteinuria nefrotik.

d. Kristal
Kristal dalam urin tidak diagnostik untuk penyakit ginjal.
e. Bakteri
Bakteri dalam urin yang ditemukan dalam urinalisis tidak identik dengan infeksi saluran
kemih, lebih sering hanya disebabkan oleh kontaminasi.
Bakteriologis
a. Mikroskopis, pada pemeriksaan mikroskopis dapat digunakan urin segar tanpa diputar
atau pewarnaan gram. Bakteri dinyatakan positif bila dijumpai satu bakteri lapangan pandang
minyak emersi.
b. Biakan bakteri, pembiakan bakteri sedimen urin dimaksudkan untuk memastikan
diagnosis ISK yaitu bila ditemukan bakteri dalam jumlah bermakna, yaitu:
Kriteria untuk diagnosis bakteriuria bermakna
Pengambilan spesimen
Aspirasi supra pubik

Jumlah koloni bakteri per ml urin


> 100 cfu/ml dari 1 atau lebih organisme

Kateter
Urine bag atau urin porsi tengah

patogen
> 20.000 cfu/ml dari 1 organisme patogen
> 100.000 cfu/ml

Dalam penelitian Zorc et al. menyatakan bahwa ISK pada anak-anak sudah dapat
ditegakkan bila ditemukan bakteri lebih besar dari 10.000 cfu per ml urin yang diambil
melalui kateter. Namun, Hoberman et al. menyatakan bahwa ditemukannya jumlah koloni
bakteri antara 10.000 hingga 49.000 cfu per ml urin masih diragukan, karena kemungkinan
terjadi kontaminasi dari luar, sehingga masih diperlukan biakan ulang, terutama bila anak
belum diobati atau tidak menunjukkan adanya gejala ISK.

Tes kimiawi
Beberapa tes kimiawi dapat dipakai untuk penyaring adanya bakteriuria, diantaranya yang
paling sering dipakai adalah tes reduksi griess nitrate. Dasarnya adalah sebagian besar
mikroba kecuali enterococci mereduksi nitrat4.
Tes plat-celup (dip slide)

Beberapa pabrik mengeluarkan biakan buatan yang berupa lempengan plastik bertangkai
dimana pada kedua sisi permukaannya dilapisi pembenihan padat khusus. Lempengan
tersebut dicelupkan ke dalam urin pasien atau dengan digenangi urin. Setelah itu lempengan
dimasukkan kembali kedalam tabung plastik tempat penyimpanan semula, lalu diletakkan
pada suhu 37oC selama satu malam. Penentuan jumlah kuman/mL dilakukan dengan
membandingkan pola pertumbuhan kuman yang terjadi dengan serangkaian gambar yang
memperlihatkan pola kepadatan koloni antara 1000 hingga 10.000.000 cfu per mL urin yang
diperiksa. Cara ini mudah dilakukan, murah dan cukup adekuat. Kekurangannya adalah jenis
kuman dan kepekaannya tidak dapat diketahui .
Klasifikasi ISK
Isk secara umum dapat di klasifikasikan menjadi 2 bagia, yaitu :
a

Infeksi saluran kemih atas


1 Ureteritis
Suatu peradangan pada ureter. Penyebab adanya infeksi pada ginjal maupun
kandung kemih. Aliran urin dari ginjal ke buli-buli dapat terganggu karena
timbulnya fibrosis pada dinding ureter menyebabkan strikutra dan hydroneprosis,
selanjutnya ginjal menjadi rusak, dan menganggu peristaltic ureter.
2

Pyelonephritis
Inflamasi pada pelvis ginjal dan parenkim ginjal yang disebabkan karena adanya
infeksi oleh bakteri. Infeksi bakteri pada jaringan ginjal yang dimulai dari saluran
kemih bagian bawah dan terus naik ke ginjal. Infeksi ini dapat mengenai parenkim
maupun renal pelvis dan bakteri menyebar melalui limfatik.

Infeksi saluran kemih bawah


1 Urethritis
Merupakan suatu inflamasipada uretra, kuman penyebab tersering adalah kuman
gonorhoe atau kuman lain yang biasanya terjadi karena infeksi asending
( Smeltzer & Bare, 2002, 1436 )
2

Sistitis dan prostatitis


Merupakan peradangan pada vesika urinaria. Pada wanita menginfeksi uretra
distal veriko urinaria dinamakan sistitis sedangkan pada pria menginfeksi bagian
prostat dan vesika urinaria disebut prostatitis ( Smeltzer & Bare, 2002, 1432 )

Klasifikasi sistitis
sistitis dapat dibagi menjadi dua bagian yaitu;
1

Sistitis primer:

merupakan radang yang mengenai kandung kemih radang ini dapat terjadi karena
penyakit lainseperti batu pada kandung kemih, divertikel, hipertropi prostat dan
striktura uretra
2

Sistitis sekunder:
merukan gejala yang timbul kemudian sebagai akibat dari penyakit primer misalnya
uretritis dan prostatitis.

Penatalaksanaan
Prinsip umum pengelolaan infeksi saluran kemih adalah :

Eradikasi bakteri penyebab dengan menggunakan antibiotik yang sesuai


Mengoreksi kelainan anatomis yang merupakan faktor predisposisi

Tujuan pengobatan ISK adalah :

Mencegah dan menghilangkan gejala


Mencegah dan mengobati bakteriemia dan bakteriuria,
Mencegah dan mengurangirisiko kerusakan ginjal yang mungkin timbul dengan
pemberian obat-obatan yang sensitif, murah, aman dengan efek samping yang
minimal.

Untuk itu pola pengobatan harus disesuaika dengan bentuk ISK, keadaan anatomi saluran air
kemih, serta faktor-faktor penyerta lainnya. Bermacam cara pengobatan yang dilakukan
untuk berbagai bentuk yang berbeda dari ISK antara lain :

Pengobatan dosis tunggal


Pengobatan jangka pendek (10-14 hari)
Pengobatan jangka panjang (4-6 minggu)
Pengobatan profilaksis dosis rendah
Pengobatan supresif

Pengobatan dapat memberikan hasil yang berbeda-beda antara lain dapat berupasembuk baik
klinis maupun bakteriologis, sembuh klinis dengan bakteriuria menetap, reinfeksi atau relaps.

Pengobatan pada sistitis


Selain pengobatan konvensional yang telah lama dijalankan (antara 3-10 hari), akhir-akhir ini
terbukti dengan pengobatan dosis tunggal antimikroba cukup efektif pada bentuk ISK ini,
yaitu dengan jangka kesembuhan yang dicapai menyammai angka kesembuhan dengan cara
pengobatan konvensional. Cara ini cukup aman, murah, dapat diterima oleh sebagian ahli,
efek samping minim, dan tidak mengganggu flora usus. Obat-obat yang biasa dipakai untuk
pengobatan dosis tunggal antara lain :

Amoksisislin 3 gram
Timetoprim-sulfametaksasol 320-1600 mg
Sulfisoksasol 2 gram
Trimetoprim 400 gram
Kanamisin 500 mg i.m

Gentamisin 120 mg i.m

Pengobatan dosis tunggal tidak dianjurkan pada :

Pasien yang diperkirakan sulit untuk kembali pemeriksaan ulang


Bila disertai pielonefritis akut
Bila disertai kelainan anatomi saluran kemih
Pasien pria
Sistitis pada penyandang DM

Unruk kasus-kasus diatas, dianjurkan agar langsung memberikan pengobatan konvensional.


Untuk pengobatan konvensional jangka pendek maupun jangka panjang, obat yang paling
tepat adalah yang sesuai dengan basil biakan bakteri dan tes kepekaan. Bilamana fasilitas
kultur tidak memungkinkan, dapat diberikan obat-obat sebagai berikut :

Trimetoprim-sulfametaksasol 160-800 mg dua kali sehari


Sefaleksin 500 mg empat kali sehari
Amoksisilin 500 mg empat kali sehari
Asam nadilistik 1 gram empat kali sehari
Asam pipemidik 1 gram dua kali sehari

Non Farmakologi

Wanita dan anak perempuan diajunrkan untuk sering minum juscranberry terbukti
menurunkan insiden sistitis
Pergi buang air kecil sesuai kebutuhan unuk membilas mikroorganisme yang mungkin
merayap naik ke uretra
Ank perempuan harus diberi tahu sedari dini agar membilas dari depan ke belakang
untuk menghindari kontaminasilubang uretra oleh bakteri feses
Wanita dianjurkan untuk berkemih sehabis berhubungan intim untuk membilas
mikroorganisme yang masuk
Mandi busa tidak dianjurkan bagi anak perempuan karena dapat terjadi iritasi pada
lubang uretra sehingga memberikan akses bagi bakteri untuk masuk ke uretra
Dianjurkan untuk banyak minum air putih minimal 2-3 liter perhari
Wanita dianjurkan untuk menggunakan celana dalam berbahan katun agar dapat
menyerap keringat
Ganti celana dalam minimal 2 kali sehari
Menjaga kebersihan daerah perineum setelah buang air besar
Apabila keputihan berlebih segera ditangai dengan yang ahli

Komplikasi

Pyelonefritis
: Infeksi bakteri pada salah satu atau kedua ginjal
Infeksi darah melalui penyebaran hematogen (sepsis)

Prognosis

Prognosis infeksi saluran kemih adalah baik bila dapat diatasi faktor pencetus dan
penyebab terjadinya infeksi tersebut.

ANALISA DATA
No
1

Data
Ds :
Klien mengatakan nyeri saat
berkemih.
Do :
-

Etiologi

Masalah

Aktifitas hubungan sexual Nyeri


berhubungan

dengan
inflamasi
Kontraksi dinding vagina
ditandai
dengan

mengeluh nyeri.
Menekan area periuretal dan
vesibula vaginalis

Manipulasi uretra

Flora e.coli masuk

Kolonisasi di uretra dan introitus


vagina


Adanya urine sisa miksi tidak
adekuat.

Tidak adanya era dikasi bakteri.

Bertambahnya daya lekat e.coli


pada sel epitel uretra.

Jumlah banyak

Refleks ke kandung kemih

Respon imun spesifik

Leukosit dan sel fagosit aktif

Pertahanan leukosit terhadap


bakteri

WBC +++

Proses inflamasi

Ulcer jaringan

Merangsang neurotransmitter

Nyeri
2

Ds :
Klien mengeluh urgency.
Do:
-Dysuria
-pem.urine berwarna keruh
-pyuria

Proses inflamasi

Perubahan
pola
berkemih berhubungan
Edema mukosa dan kandung dengan gangguan fungsi
kemih
springter interna ditandai

dengan urine keluar


Penumpukan urine
sedikit.

tek. Di kandung kemih

Stimulus reseptor tegang ke otak

Merangsang jar. Pusat vesikel

Saraf pelvis

Otot destrusor kontraksi

Sfingter relaksasi

Keinginan miksi


Urgency

Gang. Sfingter interna

Gang. Pola berkemih


3

Ds :
Do :
-

Kurang pengetahuan
tentang penyakit

RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN

I.PENGKAJIAN
A.Identitas Klien
Nama

: Ny. W

Usia

: 25 tahun

Alamat

Status

: Menikah, 1 minggu yang lalu

Jenis Kelamin

: Perempuan

Pekerjaan

:-

Agama

:-

Suku Bangsa

:-

Tanggal masuk RS

:-

Diagnosa Medis

: Sistitis

B. Riwayat Kesehatan
Keluhan Utama

Klien mengeluh sakit saat berkemih,berkemih keluar sedikit-sedikit disertai


rasa nyeri.
Riwayat kesehatan sekarang :
Klien didiagnosa Sistitis dengan keluhan sakit saat berkemih,berkemih
keluar sedikit-sedikit disertai rasa nyeri.
Riwayat kesehatan masa lalu :
Riwayat kesehatan keluarga :
Riwayat Psikologi

Riwayat Lingkungan

Riwayat Sosial budaya

Riwayat Spiritual

Pola Aktifitas

C.Pemeriksaan Fisik
Inspeksi

:-

Auskultasi

:-

Perkusi

:-

Palpasi

: -Area supra pubik terasa tegang.


-Tenderness di supra pubik.

D.Pemeriksaan TTV
-Nadi

: 90 x/menit

-Suhu

: 39 0 C

-Tek.Darah

: 120/80 mmHg

-RR

: 24 x/menit

E. Pemeriksaan Laboratium
-Pemeriksaan Urine

: Warna Keruh

-WBC

: +++

-Culture + bakteri
-Pyuria
-Eritrosit +

II. Diagnosa Keperawatan


1; Nyeri berhubungan dengan inflamasi ditandai dengan mengeluh nyeri.
2; Perubahan pola berkemih berhubungan dengan gangguan fungsi springter interna

ditandai dengan urine keluar sedikit.


3; Kurang pengetahuan tentang penyakit.

No
1.

Diagnosa
Keperawatan

Tujuan

Intervensi

Nyeri berhubunganTidak ada rasa danPantau urine


dengan
inflamasirasa terbakar saatterhadap perubahan
ditandai
denganberkemih.
warna,bau,dan pola
mengeluh nyeri.
berkemih.
Konsultasi ke dokter
bila :
Sebelumnya kuning
gading,urine jingga
gelap,berkabut atau
keruh.pola berkemih
berubah.

Berikan analgetic

Rasional
Untuk
mengidentifikasi
indikasi,kemajuan
atau penyimpanan
dari hasil yang
diharapkan.
Temuan nyeri
menetap atau
bertambah sakit
dapat memberi tanda
kerusakan jaringan
lanjut dan perlu
pemeriksaan lebih
luas,seperti
pem.radiology jika
sebelumnya tidak
dilakukan.

sesuai kebutuhan dan


evaluasi
Analgetic memblok
keberhasilannya.
lintasan
nyeri,sehingga
mengurangi nyeri.
Jika frequency
menjadi
Berkemih yang
masalah,jamin akses sering mengurangi
ke kamar
statis urine pada
mandi.pispot
kandung kemih dan
dibawah tempat
menghindari
tidur.Anjurkan klien pertumbuhan bakteri.
untuk berkemih
kapan saja ada
keinginan berkemih.

2.

Kolaborasi :
Buat berbagai variasi
sediaan
minuman,termasuk Pemberian air
air segar di samping sampai 2400/ml/hari
tempat tidur.
akibat dari
peningkatan haluan
urina memudahkan
sering berkemih dan
membantu membilas
kandung kemih.
Perubahan
polaPola
pemasukanmemberikan
eliminasiAwasi
berkemih
pengeluaraninformasi
tentang
membaik,ditandai dan
berhubungan dengandengan :
karakteristi urin.
fungsi ginjal dan
gangguan
fungsi tidak terjadi tandaadanya komplikasi.
springter
internatanda
gangguan
ditandai dengan urineberkemih (urgensi,
peningkatan hidrasi
keluar sedikit.
membilas bakteri.
Dorong
oliguri, disuria)
meningkatkan
pemasukan cairan.
retensi urin dapat
terjadi menyebabkan
jaringan
Kaji keluhan padadistensi
(kandung
kandung kemih.
kemih/ginjal).
akumulasi
sisa
uremik
dan
ketidakseimbangan
elektrolit
dapat
Observasi prubahan
menjadi toksik pada
tingkat kesadaran.
susunan saraf pusat.

pengawasan terhadap
disfungsi ginjal.
Kolaborasi:
Awasi pemeriksaan
laboratorium;
urin
elektrolit,
BUN,asam
menghalangi
kreatinin.
tumbuhnya kuman.
Lakukan
tindakanPeningkatan
untuk
memeliharamasukan sari buah
berpengaruh
asam urin: tingkatkandapt
dalm
pengobatan
masukan sari buah
saluran
berri dan berikaninfeksi
kemih.
obat-obat
untuk
meningkatkan aam
urin.
3.

Kurang pengetahuanMenyatakan
Berikan
waktuMengetahui sejauh
tentang penyakit.
mengerti
tentangkepada pasien untukmana ketidak tahuan
kondisi, pemeriksaanmenanyakan
apapasien
tentang
diagnostik, rencanayang tidak di ketahuipenyakitnya.
pengobatan,
dantentang penyakitnya.
tindakan perawatan
diri preventif
Kaji ulang prosesmemberikan
penyakit dan harapanpengetahuan dasar
yang akan datang. dimana pasien dapat
membuat
pilihan
berdasarkan
informasi.
apa
Berikan
informasipengetahuan
yang
diharapkan
tentang:
sumber
mengurangi
infeksi,
tindakandapat
dan
untuk
mencegahansietas
membantu
penyebaran, jelaskan
pemberian antibiotik,mengembankan
kepatuhan
klien
pemeriksaan
rencan
diagnostik:
tujuan,terhadap
terapetik.
gambaran
singkat,
persiapan
ynag
dibutuhkan sebelum
pemeriksaan,
perawatan sesudah
pemeriksaan.

Anjurkan
pasien
untuk menggunakan
sering
obat yang diberikan,Pasien
minum
sebanyakmenghentikan obat
kurang lebih delapanmereka, jika tandatanda
penyakit
gelas per hari.
mereda.
Cairan
Berikan kesempatanmenolong membilas
kepada pasien untukginjal.
mengekspresikan
perasaan dan masalah
mendeteksi
tentang
rencanaUntuk
isyarat
indikatif
pengobatan.
kemungkinan
ketidakpatuhan dan
membantu
mengembangkan
penerimaan rencana
terapeutik.
\\

DAFTAR PUSTAKA
http://sectiocadaveris.wordpress.com/artikel-kedokteran/anatomi-ginjal-dan-saluran-kemih/
http://www.scribd.com/doc/53494706/Anatomi-Sistem-Saluran-Kemih
http://nurad1k.blogspot.com/2010/02/anatomi-fisiologi-sistem-perkemihan.html
http://omzainul.wordpress.com/2010/03/29/isk-infeksi-saluran-kemih-dari-berbagai-sumbermoga-berguna/
Price, Sylvia A & Wilson M Lorraine. 2006.Patofisiologi Konsep Klinis Proses-proses
Penyakit.Jakarta: EGC
Nursalam & Fransiska.2006. Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Gangguan Sistem
Perkemihan. Jakarta: salemba Medika
http://harnawatiaj.wordpress.com/2008/04/28/askep-infeksi-saluran-kemih/
http://djibrilnursemind.blogspot.com/2008/12/anatomi-fisiologi-sistem-perkemihan.html
http://djibrilnursemind.blogspot.com/2008/12/anatomi-fisiologi-sistem-perkemihan.html
http://totonrofiunsri.wordpress.com/2009/01/28/anatomi-dan-fisiologi-sistem-perkemihan/
http://djibrilnursemind.blogspot.com/2008/12/anatomi-fisiologi-sistem-perkemihan.html

.http://totonrofiunsri.wordpress.com/2009/01/28/anatomi-dan-fisiologi-sistem-perkemihan/
http://djibrilnursemind.blogspot.com/2008/12/anatomi-fisiologi-sistem-perkemihan.html
http://djibrilnursemind.blogspot.com/2008/12/anatomi-fisiologi-sistem-perkemihan.html
http://totonrofiunsri.wordpress.com/2009/01/28/anatomi-dan-fisiologi-sistem-perkemihan/
http://djibrilnursemind.blogspot.com/2008/12/anatomi-fisiologi-sistem-perkemihan.html
http://djibrilnursemind.blogspot.com/2008/12/anatomi-fisiologi-sistem-perkemihan.html
http://djibrilnursemind.blogspot.com/2008/12/anatomi-fisiologi-sistem-perkemihan.html
http://djibrilnursemind.blogspot.com/2008/12/anatomi-fisiologi-sistem-perkemihan.html