Anda di halaman 1dari 19

BARLEESE TULGREEN DAN DEKANTASI TANAH

LAPORAN KULIAH KERJA LAPANGAN

Untuk Memenuhi Tugas Matakuliah


Ekologi Tumbuhan
Yang Dibina oleh Bapak Agus Dharmawan

Oleh
Kelompok 13
Aulia Fitri Wardani
120342422492
Hikmatunisa Afit Riadi

120342422501

Lilik Hidayatul Mukminin

120342400174

Niken Eka Agustina

120342400170

Suci Ayu Maharani

120342410519

Virginia Zapta Dewi

120342422494

Wahidah Fitria Nur M

120342400171

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN BIOLOGI
April 2014

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Taman Nasional Alas Purwo merupakan suatu kawasan pelestarian alam
yang mempunyai ekosistem asli, dikelola dengan sistem zonasi yang
dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, menunjang
budidaya, pariwisata dan rekreasi. Geografi kawasan Taman Nasional Alas
Purwo terdiri dari daerah pantai (perairan, daratan dan rawa), daerah daratan
hingga daerah perbukitan dan pegunungan, dengan ketinggian mulai dari 0
322 m dpl. Secara geografis terletak di ujung timur pulau jawa wilayah pantai
selatan antara 8o25 - 8o47 LS, 114o20- 114o36 BT. Taman Nasional Model
itu sendiri dimaksudkan sebagai suatu kawasan konservasi yang dikelola
secara idel sesuai potensi yang dimilikinya, sehingga kawasan ini mampu
berfungsi secara optimal sebagai sistem penyangga kehidupan
Fauna tanah merupakan salah satu komponen ekosistem tanah yang
berperan dalam memperbaiki struktur tanah melalui penurunan berat jenis,
peningkatan ruang pori, aerasi, drainase, kapasitas penyimpanan air,
dekomposisi bahan organik, pencampuran partikel tanah, penyebaran mikroba,
dan perbaikan struktur agregat tanah (Witt, 2004). Walaupun pengaruh fauna
tanah terhadap pembentukan tanah dan dekomposisi bahan organik bersifat
tidak langsung, secara umum fauna tanah dapat dipandang sebagai pengatur
terjadinya proses fisik, kimia maupun biokimia dalam tanah (Hill, 2004).
Meso-mikrofauna memacu proses dekomposisi bahan organik dengan
memperkecil ukuran bahan dengan enzim selulase yang kemudian
dimanfaatkan oleh mikroba perombak lainnya. Dengan menggunakan BarlessTulgreen untuk mendekantasikan meso-mikrofauna kita dapat mengetahui
jenis spesies dan keanekaragaman jenis meso-fauna yang terdapat pada
kawasan Hutan Pantai Triangulasi Taman Nasional Alas Purwo Banyuwangi.

Berdasarkan uraian diatas

melatarbelakangi

kegiatan KKL

yang

dilaksanakan pada 28-31 Maret 2014 oleh Mahasiswa Universitas Negeri

Malang

Jurusan

Biologi

angkatan

2012

dalam

rangka

mengkaji

keanekaragaman mikrofauna pada kawasan hutan pantai Triangulasi Taman


Nasional Alas Purwo Banyuwangi

1.2 Tujuan
1. Mengetahui jenis spesies meso-mikrofauna yang terdapat di Hutan Pantai
Triangulasi Taman Nasional Alas Purwo
2. Mengetahui perbandingan keanekaragaman jenis mikrofauna tanah yang
dihasilkan dari menggunakan dekantasi basah dan barlese tullgreen di
Hutan Pantai Triangulasi Taman Nasional Alas Purwo
3. Mengetahui hubungan keanekaragaman meso-mikrofauna dengan
lingkungan abiotic di kawasan Hutan Pantai Triangulasi Taman Nasional
Alas Purwo.

BAB II
KAJIAN PUSTAKA
Taman Nasional Alas Purwo yang merupakan salah satu perwakilan ekosistem
hutan hujan dataran rendah di Pulau Jawa, secara umum memiliki kondisi
topografi yang bergelombang, berbukit dan bergunung-gunung dengan variasi
mulai dari dataran pantai sampai dengan ketinggian + 322 meter di atas
permukaan air laut (Gunung Linggamanis). Sedangkan iklimnya termasuk tipe B
dengan curah hujan antara 1000-1500 mm/tahun, temperatur udara 22 - 31 C
dan kelembaban udara 40-85%.

Gambar 1.1 Peta Wilayah Taman Nasional Alas Purwo,Banyuwangi

Fauna tanah menurut tempat hidupnya dibagi menjadi:


1. Treefauna, yaitu hewan yang hidup di pohon.
2. Epifauna, yaitu hewan yang hidup di permukaan tanah.
3. Infauna, yaitu hewan yang hidup didalam tanah (Ross, 1965).
Salah satu organisme penghuni tanah yang berperan sangat besar dalam perbaikan
kesuburan tanah adalah fauna tanah. Proses dekomposisi dalam tanah tidak akan
mampu berjalan dengan cepat bila tidak ditunjang oleh kegiatan makrofauna
tanah. Makrofauna tanah mempunyai peranan penting dalam dekomposisi bahan
organik tanah dalam penyediaan unsur hara. Makrofauna akan merombak
substansi nabati yang mati, kemudian bahan tersebut akan dikeluarkan dalam
bentuk kotoran.

Secara umum, keberadaan aneka macam fauna tanah pada tanah yang tidak
terganggu seperti padang rumput, karena siklus hara berlangsung secara kontinyu.
Arief (2001). Fauna tanah memainkan peranan yang sangat penting dalam
perombakan zat atau bahan-bahan organik dengan cara :
1. Menghancurkan jaringan secara fisik dan meningkatkan ketersediaan
daerah bagi aktifitas bakteri dan jamur,
2. Melakukan perombakan pada bahan pilihan seperti gula, sellulosa
dan sejenis lignin,
3. Merubah sisa-sisa tumbuhan menjadi humus,
4. Menggabungkan bahan yang membusuk pada lapisan tanah bagian
atas,
5. Membentuk bahan organik dan bahan mineral tanah (Barnes, 1997).
Menurut Setiadi (1989), Faktor-faktor yang mempengaruhi keberadaan fauna
tanah adalah:
1. Struktur tanah berpengaruh pada gerakan dan penetrasi fauna tanah;
2. Kelembaban tanah dan kandungan hara berpengaruh terhadap
perkembangan dalam daur hidup
3. Suhu tanah mempengaruhi peletakan telur;
4. Cahaya dan tata udara mempengaruhi kegiatannya(Rahmawati, 2006).
Untuk mendapatkan infauna dapat digunakan metode barlese tullgren
funnel dan dekantasi. Barlese Tullgren Funnel cara kerjanya tanah sampel yang
diambil ditaruh diatas saringan atau kasa nyamuk yang telah ada didalam corong.
Kemudian barlese tersebut ditempatkan dibawah sinar matahari dimulai saat
matahari hampir terbit. Prinsipnya hewan tanah tersebut akan jatuh kedalam
wadah penampung karenan hewan tersebut bersifat fototaksis negatif. Sedangkan
pada dekantasi menggunakan sarana saringan bertingkat atau saringan pipa yang
pada akhirnya hewan tersebut akan mengendap dibagian bawah.

BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Barleese Tulgreen
3.1.1 Alat dan Bahan
3.1.1.1 Alat
a. Corong
b. Botol Aqua/Toples
c. Neraca Pegas
3.1.1.2 Bahan
a. Alkohol 70%
b. Botol Plakon
c. Kassa
d. Kawat
e. Plastik/Kresek
3.1.2 Prosedur Kerja
Menyiapkan set Barleese Tulgreen, siap dengan botol plakon yang telah
berisi alkohol 70%

Menimbang dan mengambil 100 gram sampel tanah dengan tebal


maksimal 5 cm sebanyak 5 kali ulangan secara acak pada satu plot saja
untuk masing-masing kelompok.

Memasukkan sampel tanah dalam corong pada set Barleese Tulgreen

Keesokan harinya, menjemur Barleese Tulgreen di tepi pantai selama 1


hari

Mengambil plakon berisi hewan tanah untuk kemudian diidentifikasi dan


dianalisis

Data yang telah diperoleh dimasukkan ke dalam tabel sementara untuk


kemudian dilakukan kompilasi dengan semua plot
3.2 Dekantasi Tanah
3.2.1 Alat dan Bahan
3.2.1.1 Alat
a. Cetok
b. Gelas Aqua/Toples
c. Saringan dekantasi
d. Bak plastik
3.1.1.2 Bahan
a. Formalin 7%
b. Botol Plakon
c. Tanah
e. Plastik/Kresek
f. Kertas Label
3.2.2 Prosedur Kerja
3.2.2.1 Pengambilan sampel Tanah
Mengambil sampel tanah dari salah satu plot yang digunakan sewaktu
pembuatan pithfall trap. Kelompok kami mengambil sampel tanah di plot
ke-10.

Sampel tanah dimasukkan ke dalam gelas aqua hingga penuh.


Pengambilan tanah menggunakan cethok dan tidak terlalu mendapat
tekanan.

Sampel tanah disimpan dengan tidak menutup terlalu rapat. Diusahakan


masih ada Oksigen yang masuk, sehingga dimungkinkan hewan-hewan
yang terdapat di dalam tanah tidak mati.

Sampel tanah dibawa ke gedung Biologi untuk melalui langkah


identifikasi

3.2.2.2 Dekantasi dan identifikasi epifauna


Sampel tanah yang telah dibawa kemudian dimasukkan ke dalam bak
plastik diberi air.

Kotoran yang terlihat di permukaan air dibuang lalu tanah dan air diaduk
hingga dimungkinkan epifauna di dalam tanah terdapat di permukaan air

Air tanah tersebut disaring menggunakan saringan dekantasi dan


dimasukkan ke dalam botol plakon sebagai sampel

Sampel air tanah tersebut diberi formalin 7% supaya epifauna awet

Identifikasi menggunakan pengamatan di bawah mikroskop cahaya


langsung

Data yang telah diperoleh dimasukkan ke dalam tabel sementara untuk


kemudian dilakukan kompilasi dengan semua plot.

BAB IV
DATA DAN ANALISIS DATA
4.1 Data Pengamatan
4.1.1 Tabel Data Pengamatan Barelees Tullgreen Funnel
Taksa

0
2
0
0
0
0

1
0
0
0
0
1

ulangan 1
3
0
0
1
0
0
0

0
1
0

0
0
0

0
0
0

Myrmica sp
Ponera sp
Allocoma sp
Collophora delamase
Allacma sp
Hemisotoma sp
Collembola
celebensis
Seira sp
Isotomiella sp

Taksa
1
Myrmica sp
Ponera sp
Allocoma sp
Collophora delamase
Allacma sp
Hemisotoma sp
Collembola
celebensis
Seira sp
Isotomiella sp

2
0
0
0
5
0
0

1
0
0
0
0
0

0
0
0

0
0
0

Taksa
1
Myrmica sp
Ponera sp
Allocoma sp
Collophora delamase
Allacma sp
Hemisotoma sp
Collembola
celebensis
Seira sp

2
0
3
0
0
0
0

0
0
0
0
6
0

0
0

0
0

ulangan 2
3
4
1
0
0
0
4
0
0
0
0

ulangan 3
3
4
0
0
0
0
0
0
0
0

Jumlah

5
0
0
0
0
0
0

3
0
0
0
0
0

4
2
1
0
0
1

1
0
0

0
0
0

1
1
0
10

0
0
0
0
0
0

0
0
0
1
0
0

2
0
0
6
4
0

2
0
0

0
0
0

2
0
0
14

0
0
2
0
0
2

0
4
0
0
0
0

0
7
2
0
6
2

0
0

0
0

0
0

Isotomiella sp

Taksa
1
Myrmica sp
Ponera sp
Allocoma sp
Collophora delamase
Allacma sp
Hemisotoma sp
Collembola
celebensis
Seira sp
Isotomiella sp

ulangan 4
3
4
0
0
0
4
0
0

2
1
1
0
0
0
0

1
0
0
0
0
1

0
0
0

0
0
0

1
18

0
0
0
0
0
0

0
0
0
0
0
0

1
1
0
4
0
0

0
0
0

0
2
0

0
2
0
8

4.1.2 Tabel Data Pengamatan Dekantasi Tanah


No
1
2
3
4

Taksa
Hemisotoma sp
Isotomella sp
Hypogastruma sp
Sminthuridae sp

2
0
1
0
0
2

1
1
0
0
4

ulangan
3
0
0
0
2
5

jumlah

5
0
1
0
0
5

1
0
2
0
8

4.2 Analisis Data


4.2.1 Grafik Perbandingan Jumlah Spesies pada Barelees Tullgreen
Funnel dan Dekantasi Tanah

2
3
2
2
9

20
18
16
14
12
Bareless

10

Dekantasi

8
6
4
2
0
Ulangan 1

Ulangan 2

Ulangan 3

Ulangan 4

Ulangan 5

Berdasarkan grafik (4.) diketahui bahwa metode Barlesse Tullgreen


terdapat lebih banyak jenis dan individu infauna yang terperangkap dibandingkan
dengan metode Dekantasi Basah. Pada metode Barlesse Tullgreen terdapat
sembilan jenis (spesies) infauna dari seluruh ulangan yang terperangkap, meliputi
Myrmica sp, Ponera sp, Allocoma sp, Collophora delamase, Allacma sp,
Hemisotoma sp, Collembola celebensis, Seira sp, Isotomiella sp. Pada ulangan
pertama terdapat lima spesies yang terperangkap dengan total 10 individu,
ulangan kedua mendapatkan empat spesies dengan total 14 individu, ulangan
ketiga mendapatkan lima spesies dengan total 18 individu, dan ulangan keempat
mendapatkan empat spesies dengan total 8 individu. Adapun pada metode
Dekantasi Basah terdapat empat jenis infauna yang terperangkap yaitu
Hemisotoma sp, Isotomella sp, Hypogastruma sp, Sminthuridae sp. Pada ulangan
pertama terdapat satu spesies yang terperangkap dan hanya satu individu, ulangan
kedua mendapatkan 2 spesies dengan total 2 individu, ulangan ketiga
mendapatkan dua spesies dengan total dua individu, dan ulangan keempat
mendapatkan satu spesies dengan total satu individu, sedangkan ulangan kelima
terdapat dua spesies infauna yang terperangkap dengan jumlah total individu
sebanyak 3 ekor.

BAB V
PEMBAHASAN
Di alam atau di lingkungan banyak ditemui berbagai hewan yang berbagai
macam. Hewan-hewan tersebut dapat ditemukan pada tanah yang lembab,
perairan, udara, di semak belukar, dan lain-lain. Kehadiran suatu populasi hewan
pada suatu tempat dan distribusinya pada muka bumi selalu berkaitan dengan
masalah habitat dan relung ekologinya. Habitat merupakan lingkungan yang
cocok untuk ditempati suatu populasi hewan (Dharmawan, dkk, 2005). Dalam hal
ini tanah merupakan suatu habitat bagi hewan-hewan tanah, baik epifauna atau
infauna.
Tanah merupakan salah satu komponen penting dalam ekosistem
terutama bagi kelangsungan hidup fauna tanah. Menurut Sugiyarto (2003), tanah
merupakan suatu bagian dari ekosistem terrestrial yang di dalamnya dihuni oleh
banyak organisme yang disebut sebagai biodiversitas tanah. Biodiversitas tanah
merupakan diversitas alpha yang sangat berperan dalam mempertahankan
sekaligus meningkatkan fungsi tanah untuk menopang kehidupan di dalam dan di
atasnya.
Fauna tanah secara umum dapat dikelompokkan berdasarkan beberapa
hal, antara lain berdasarkan ukuran tubuh, kehadirannya di tanah, habitat yang di
pilihnya, dan kegiatan makannya. Berdasar ukuran tubuhnya hewan-hewan
tersebut dikelompokkan atas mikrofauna, mesofauna, dan makrofauna. Ukuran
mikrofauna berkisar antara 20 sampai 200 mikron, mesofauna berkisar 200
mikron sampai dengan satu sentimeter, dan makrofauna lebih dari satu sentimeter.
Berdasarkan kehadirannya, hewan tanah di bagi atas kelompok transien (hewan
yang seluruh daur hidupnya berlangsung di tanah, misalnya Kumbang), temporer
(golongan hewan yang memasuki tanah dengan tujuan bertelur, setelah menetas
dan berkembang menjadi dewasa, hewan akan keluar dari tanah, misalnya
Diptera), periodik (hewan yang seluruh daur hidupnya ada di dalam tanah, hanya
sesekali hewan dewasa keluar dari tanah untuk mencari makanan dan setelah itu
masuk kembali, misalnya Collembola dan Acarina), dan permanen (hewan yang
seluruh hidupnya selalu di tanah dan tidak pernah keluar dari dalam tanah,

misalnya Kumbang, Nematoda tanah dan Protozoa) (Isnan, Tuarita, &


Dharmawan, Tanpa Tahun).
Menurut Suin (1989), perkembangan hewan tanah tidak terlepas dari
pengaruh faktor biotik dan abiotik dari habitat tempat tinggalnya. Namun secara
garis besar faktor abiotik sangat banyak mempengaruhi perkembangan dan
kepadatan suatu populasi serangga. Disamping ukuran pori-pori tanah, distribusi
suhu, kelembaban dan faktor lingkungan lainnya juga ikut menentukan distribusi
vertikal hewan dalam tanah.
Kehidupan hewan tanah, selain ditentukan oleh struktur vegetasi, tetapi
juga ditentukan oleh faktor-faktor lain seperti zat kimia dalam tanah, pH tanah,
kandungan air tanah, iklim dan cahaya matahari sehingga dapat menentukan
kehadiran suatu jenis tertentu dari hewan tanah dan kepadatan populasi hewan
tanah. Faktor ketersediaan makanan juga menentukan kepadatan dan distribusi
hewan yang ada didalam tanah. Secara umum semakin besar kedalaman tanah
maka jumlah individu semakin sedikit disebabkan oleh berkurangnya oksigen
untuk pernapasan (Suwondo, 2007).
Faktor

lingkungan

yang

paling

esensial

bagi

kesuburan

dan

perkembangan hidup hewan tanah adalah temperatur, cahaya, kelembaban dan


jumlah makanan yang tersedia. Cahaya memiliki peranan yang sangat penting
dalam perkembangan hidup hewan tanah dan merupakan faktor yang sangat vital
berhubungan dengan perilaku untuk memberikan variasi morfologi dan fisiologi
pada hewan tanah (Suwondo, 2007).
Dalam pengambilan sampel suatu populasi dinamakan sampling.
Sampling merupakan salah satu cara yang digunakan dalam melakukan
pengambilan data pada suatu penelitian. Menurut Hartanto (2003), sampling
dilakukan untuk memperoleh kesimpulan umum pada suatu komunitas secara
relatif lebih mudah, murah, dan dapat dipertanggungjawabkan. Selain itu, tingkat
kesalahan pada kesimpulan umum dapat dipertimbangkan dengan sampling eror
dan validasi informasi atau pengukuran dapat ditingkatkan karena dapat dilakukan
control terhadap variabel tertentu sehingga hasilnya lebih teliti. Pada area
penelitian yang luas diperlukan adanya teknik sampling untuk mempermudah dan
mengefisienkan waktu penelitian. Menurut Santoso (Tanpa Tahun), terdapat

beberapa faktor yang harus dipertimbangkan dalam menentukan sampel penelitian


sebagai berikut.
1.

Derajat keseragaman (degree of homogeneity) populasi. Populasi yang


homogen cenderung memudahkan penarikan sampel dan semakin
homogen populasi maka memungkinkan penggunaan sampel penelitian
yang kecil. Sebaliknya jika populasi heterogen, maka terdapat
kecenderungan menggunakan sampel penelitian yang besar. Atau dengan
kata lain, semakin komplek derajat keberagaman maka semakin besar
pula sampel penelitiannya.

2.

Derajat kemampuan peneliti mengenal sifat-sifat populasi.

3.

Presisi (kesaksamaan) yang dikehendaki peneliti. Dalam populasi


penelitian yang amat besar, biasanya derajat kemampuan peneliti untuk
mengenali sifat-sifat populasi semakin kecil. Oleh karena itu, untuk
menghindari kebiasan sampel maka dilakukan jalan pintas, yaitu
memperbesar jumlah sampel penelitian. Artinya, apabila suatu penelitian
menghendaki derajat presisi yang tinggi maka merupakan keharusan
untuk menggunakan sampel penelitian yang besar. Yang perlu mendapat
pertimbangan di sini adalah presisi juga tergantung pada tenaga, waktu,
dan biaya yang cukup besar. Penggunaan teknik sampling yang tepat.
Untuk mendapatkan sampel yang representatif, penggunaan teknik
sampling haruslah tepat. Apabila salah dalam menggunakan

teknik

sampling maka akan salah pula dalam memperoleh sampel dan akhirnya
sampel tidak dapat representatif.

Penelitian yang dilakukan di Taman Nasional Alas Purwo, pengambilan


sampel infauna tanah dilakukan melalui dua metode yaitu menggunakan dekantasi
basah dan barlese tullgreen. Kedua metode ini digunakan untuk mengetahui
metode pengambilan sampel yang lebih baik dengan melihat benyaknya spesies
hewan tanah yang diperoleh. Berdasarkan analisis data, diketahui bahwa dengan
metode barlese tullgreen diperoleh spesies hewan tanah yang lebih banyak. Hal ini
dapat menunjukkan bahwa pengambilan sampel hewan tanah menggunakan

barlese tullgreen lebih efektif digunakan apabila dibandingkan dengan dekantasi


basah.
Menurut Edwards dan Fletcher (1972) dalam Bremner (1990) barlese
tullgreen merupakan suatu metode yang telah digunakan untuk mengekstraksi
atau mengisolasi arthropoda dari tanah dan rumput selama beberapa tahun, dan
pada umumnya metode ini dianggap terlalu lambat. Penggunaan metode ini
dibantu dengan adanya cahaya yang menghasilkan panas dan menyebabkan
hewan pada sampel tanah akan terjebak kebawah. Dalam penggunaan barlese
tullgreen, sumber panas yang didapatkan dari cahaya matahari langsung. Menurut
Arias, dkk (2003), cahaya memiliki efek ganda karena cahaya tersebut memaksa
organisme fotofobik untuk menjauh dari sumber cahaya dan dapat memanaskan
sampel agar sampel kering. Ketika sampel mengering, gradien suhu dan
kelembaban terbuat antara permukaan atas dan bawah sampel (Haarlov 1947,
Block 1966 dalam Arias, dkk, 2003). Gradien ini akan bergerak ke
bawah, sehingga hewan masuk ke dalam cairan pengumpul (botol sampel)
(Coleman et al., 2004 dalam Arias, dkk, 2003). Adanya peningkatan suhu pada
corong (alat barlese) akan membakar hewan sebelum terkoleksi sehingga dalam
kondisi lapangan terpencil, ekstraksi tanpa cahaya logistik lebih terjangkau dan
layak, dalam hal pembentukan gradien dan pengeringan dari sampel tergantung
pada suhu kamar di mana ekstraksi dilakukan (Krell et al. 2005 dalam Arias, dkk,
2003). Kedua, ekstraksi dengan dan tanpa cahaya, menciptakan kondisi yang
berbeda dalam sampel, sebagai konsekuensinya, penggunaan, atau tidak
menggunakan, cahaya selama ekstraksi, dapat mengakibatkan perbedaan sampel
yang didapatkan (Arias, dkk, 2003).
Perbedaan pada hasil yang didapatkan antara kedua metode adalah pada cara
bagaimana metode atau alat tersebut bekerja. Pada metode barlese menggunakan
bantuan cahaya yang akan menghasilkan panas sehingga hewan-hewan yang ada
pada sampel tanah akan menghindar dari sinar cahaya dan jatuh dalam botol
pengumpul sampel. Kebanyakan hewan infauna adalah hewan hidup ditanah yang
artinya membenamkan diri untuk menghindari sinar matahari. Sedangkan metode
dekantasi basah merupakan isolasi basah untuk memisahkan hewan-hewan pada
sampel tanah dengan tanah menggunakan air dan disaring. Dalam hal ini ada

kemungkinan bahwa hewan infauna yang ukurannya kecil tidak dapat ikut
tersaring atau menempel pada tanah sehingga ikut terbuang. Selain itu pada
metode dekantasi basah yang telah dilakukan, hanya menggunakan 5 ulangan
dengan satu sampel tanah sehingga hewan infauna yang didapatkan sedikit yaitu
Hemisotoma sp, Isotomella sp, Hypogastruma sp, Sminthuridae sp. dari pada
metode barlese tullgreen yang menggunkan 4 ulangan dengan 5 sampel tanah.

BAB VI
PENUTUP
6.1 Kesimpulan
1. Hewan infauna yang didapatkan di kawasan Hutan Pantai Tanaman
Nasional Alas Purwo yang menggunakan metode dekantasi yaitu
Hemisotoma sp, Isotomella sp, Hypogastruma sp, Sminthuridae sp.
Sedangkan untuk metode barlese mendapatkan spesies Myrmica sp,
Ponera sp, Allocoma sp, Collophora delamase, Allacma sp, Hemisotoma
sp, Collembola celebensis, Seira sp, Isotomiella sp.
2. Pada metode barlese menggunakan bantuan cahaya yang akan
menghasilkan panas sehingga hewan-hewan yang ada pada sampel tanah
akan menghindar dari sinar cahaya dan jatuh dalam botol pengumpul
sampel sedangkan metode dekantasi basah merupakan isolasi basah untuk
memisahkan hewan-hewan pada sampel tanah dengan tanah menggunakan
air dan disaring. Tetapi, hewan meso-mikrofauna yang banyak didapatkan
berasal dari metode barlese
3. Faktor abiotik sangat banyak mempengaruhi perkembangan dan kepadatan
suatu populasi serangga. Disamping ukuran pori-pori tanah, distribusi
suhu, kelembaban dan faktor lingkungan lainnya juga ikut menentukan
distribusi vertikal hewan dalam tanah. Kehidupan hewan tanah, selain
ditentukan oleh struktur vegetasi, tetapi juga ditentukan oleh faktor-faktor
lain seperti zat kimia dalam tanah, pH tanah, kandungan air tanah, iklim
dan cahaya matahari sehingga dapat menentukan kehadiran suatu jenis
tertentu dari hewan tanah dan kepadatan populasi hewan tanah

6.2 Saran
1. Untuk melakukan penelitian tentang meso-mikrofauna sebaiknya
menggunakan metode barlese agar didapatkan hasil yang maksimal.
2. Alat-alat pengamatan sebaiknya dipersiapkan secara maksimal agar
pengamatan di lapangan tidak terganggu.

Daftar Rujukan
Arief, A. 2001. Hutan dan Kehutanan. Jakarta:Kanisius.
Arias, Mara Fernanda Barberena, Grizelle Gonzlez, dan Elvira Cuevas. 2003.
Quantifying Variation of Soil Arthropods Using Different Sampling
Protocols: Is Diversity Affected?. Tropical Forest, (Online), 51-70,
(http://www.fs.fed.us), diakses 24 April 2014.
Barnes, B. V., Donald R. Z., Shirley R. D. and Stephen H. S. 1997. Forest
Ecology. 4th Edition. New York. John Wiley and Sons Inc.
Bremne, Graeme. 1990. A Berlese funnel for the rapid extraction of grassland
surface macro-arthropods. New Zealand Entomologist, (Online), 13:7680, (http://www.ento.org.nz), diakses 24 April 2014.
Darmawan, Agus, dkk. 2005. Ekologi Hewan. Malang: FMIPA UM
Hill. B.S. 2004. Soil fauna and agriculture : Past findings and future
priorities. EAP Pub. 25. 8pgs. http://eap.megill.ca/Publications/eaphead.htm
Hartanto,

Rudi.

2003.

Modul

Metodologi

Penelitian,

(Online),

(http://eprints.undip.ac.id/21248/1/879-ki-fp-05.pdf), diakses 24 April


2014.
Isnan, W. F., Tuarita, H., Dharmawan, A.. Tanpa Tahun. Studi Keanekaragaman
Hewan Tanah (Epifauna) di Perkebunan Kubis (Brassica Oleracea L)
dengan Sistem Terasering di Cangar Kecamatan Bumiaji Kota Batu,
(Online),(http://jurnalonline.um.ac.id/data/artikel/artikel6DB4594912BA954F4E846FFB36BC2
E21.doc), diakses 24 April 2014.
Rahmawati. 2006. Study Keanekaragaman Mesofauna Tanah Di Kawasan Hutan
Wisata Alam Sibolangit. www. Journal Fauna. Com
Ross, H.H. 1965. A Text Book of Entomology. 3th Edition. Ney York : John
Wiley & Sons
Santoso. Tanpa Tahun. Metode Pengumpulan Sampel dan Pengambilan Data,
(Online),

(http://ssantoso.umpo.ac.id/wp-content/uploads/2012/03/BAB-

III.-METODE-PENGAMBILAN-SAMPEL-DAN-PENGUMPULANDATA.pdf), diakses 24 April 2014.

Santoso, Edi. 2007. Metode Analisis Biologi Tanah. Bogor : Balai Besar
Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian
Sugiyarto. 2003. Konservasi Makrofauna Tanah dalam Sistem Agroforestri,
(Online),

(http://pasca.uns.ac.id/wp-content/uploads/2009/02/sugiyarto-

konservasi-makrofauna-tanah.pdf), diakses 24 April 2014.


Suin, N. N.. 1989. Ekologi Hewan Tanah. Bumi Aksara. ITB. Bandung.
Suwondo. 2007. Dinamika Kepadatan dan Distribusi Vertikal Arthropoda Tanah
pada Kawasan Hutan

Tanaman Industri. Jurnal Pilar Sains, 6 (2).

(Online),
(http://download.portalgaruda.org/article.php?article=106208&val=5125),
diakses 24 April 2014.
Witt, B. 2004. Using soil fauna to improve soil health. http://www.hort.agri.
umn.edu/ h5015/97papers/witt.html