Anda di halaman 1dari 58

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Persalinan pervaginal pasca seksio sesarea (Vaginal Birth After CSection/VBAC) merupakan salah satu alternatif persalinan bagi maternal. Walau
bagaimanapun, tahap keberhasilannya masih lagi diragui hingga sekarang.
Laporan WHO tahun 2007 menunjukkan hanya 4 % maternal yang melakukan
VBAC. Menurut NICE tahun 2004, tingkat keberhasilan VBAC adalah 72-76 %.
Terdapat berbagai faktor yang dapat menyumbang kepada keberhasilan metode
persalinan ini.

VBAC belum banyak diterima sampai akhir tahun 1970an.

Melihat peningkatan angka kejadian seksio sesarea oleh United States Public
Health Service, melalui Consensus Development Conference on Cesarean Child
Birth pada tahun 1980 menyatakan bahwa VBAC dengan insisi uterus
transversal pada segmen bawah rahim adalah tindakan yang aman dan dapat
diterima dalam rangka menurunkan angka kejadian seksio sesarea pada tahun
2000 menjadi 15% (Cunningham, 2001).
Pendapat yang paling sering muncul adalah orang yang pernah melakukan
seksio harus seksio untuk selanjutnya. Juga banyak para ahli yang berpendapat
bahwa melahirkan normal setelah pernah melakukan seksio sesarea sangat
berbahaya bagi keselamatan ibu dan section adalah pilihan terbaik bagi ibu dan
anak. Akhir-akhir ini Angka kejadian intervensi pada proses persalinan semakin
tinggi. Angka Operasi Sesar yang harusnya kurang dari 15% (sesuai aturan
WHO) ternyata tidak bisa di penuhi. Apalagi di Rumah Sakit-Rumah Sakit di
kota besar atau kota metropolis. Salah satu RS di Jakarta saja angka operasi

Sesar bisa mencapai 75% bahkan 98%. Sungguh sangat disayangkan. Ketika kita
bermain logika rasanya tidaklah mungkin sebuah persalinan selalu berakhir
dengan Operasi Sesar. Bukankah Tuhan tidak menciptakan jendela di perut
seorang wanita? Dia hanya menciptakan vagina dan itupun hanya satu saja.
Artinya tubuh seorang wanita memang dirancang sempurna oleh-Nya untuk
melahirkan secara normal alami bukan, karena ketidaktahuan para ibu di
Indonesia maka mereka akhirnya dengan sukarela menerima intervensiintervensi yang diberikan oleh pihak provider. Padahal mungkin bisa saja
intervensi tersebut tidak perlu dialami oleh mereka jika mereka mau
memberdayakan diri. Mau membuka wawasan dan mau lebih peduli akan
bayinya (Wiknjosastro, 2002).
AKI dan AKB yang sangat tinggi di Indonesia ini diakibatkan oleh adanya
komplikasi-komplikasi dalam persalinan, termasuk seksio sesarea. Menurut
Bensons dan Pernolls, angka kematian ibu yang menjalani persalinan seksio
sesarea adalah 40-80 tiap 100.000 kelahiran hidup dan memiliki risiko kematian
25 kali lebih besar dibanding persalinan pervaginam
Pada tahun 2000 National Institute of Health dan American College of
Obstetricans and Gynecologists mengeluarkan statemen, yang menganjurkan
para ahli obstetri untuk mendukung "trial of labor" pada pasien-pasien yang
telah mengalami seksio sesarea sebelumnya, dimana VBAC merupakan tindakan
yang aman sebagai pengganti seksio sesarea ulangan (O'Grady JP, 1995,
Caughey AB, Mann S, 2001).
Walau bagaimanapun, mulai tahun 2001 jumlah percobaan partus pervaginal
telah berkurang dan menyumbang kepada peningkatan jumlah partus secara
seksio sesarea ulang. Seiring dengan meningkatnya pengetahuan para ibu hamil,

disertai berbagai pertimbangan dan diikuti pemeriksaan sebelum melahirkan,


kini melahirkan normal setelah caesar (vaginal birth after caesar/VBAC) sudah
banyak ditempuh para ibu. Bila hasil pemeriksaan menunjukkan prasyarat
melahirkan normal yang aman terpenuhi, misalnya jahitan sudah bagus, berat
badan bayi bagus, letak plasenta normal dan posisi kepala bayi sudah di
bawah/masuk panggul, hampir bisa dipastikan ibu bisa melahirkan VBAC
(Handon Hestiantoro SpOG, 2010).
Berdasarkan Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) terakhir
tahun 2007 AKI Indonesia menurun menjadi 228 per 100.000 kelahiran hidup,
meskipun demikian angka tersebut masih tertinggi di Asia. Sedangkan Angka
Kematian Bayi (AKB) di Indonesia, diperoleh estimasi sebesar 34 per 1000
kelahiran hidup.
Di Indonesia angka persalinan dengan secsio sesarea di dua belas rumah sakit
pendidikan berkisar antara 2,1 % - 11,8 %. Di RS Sanglah Denpasar inseden
seksio sesrea selama 10 tahun yaitu 8,60 % - 20,23 %, rata-rata per tahun 13,6%.
Resiko terhadap bayi dilakukan seksio sesarea yaitu kematian dan gagal asi,
gangguan paru, gangguan system pencernaan dan kekebalan tubuh, sedangkan
resiko terhadap ibu yaitu infeksi nosokomial, troemboemboli, peritonitis dan
sebagainya. Beberapa indikasi seksio sesarea dapat diuraikan sebagai berikut,
cepalo pelvik disproportion (CPD), preeklamsia, ketuban pecah dini, janin besar,
kelainan letak janin dan letak sungsang.
Rumah Sakit Umum Zainoel Abidin adalah rumah sakit rujukan terbesar di
provinsi Aceh, dengan penduduk mencapai 4.486.570 jiwa. Kota Banda Aceh
dan sekitarnya terdapat rumah sakit pemerintah dan swasta sebanyak 11 unit
rumah sakit, serta 11 unit puskesmas. Karena angka persalinan perabdominal

yang diijinkan di rumah sakit pendidikan adalah seperti yang diungkapkan


diatas. Pada perslinan pevaginam di Rumah Sakit Zainoel Abidin di dapatkan
persalinan normal merupakan insidensi terbanyak yaitu dengan presentase
84,95%, sedangkan VBAC hanya 2,25 % (Profil Kesehatan Rumah Sakit
Zainoel Abidin).
Tahun lalu, setelah orang bersalin melalui SC maka pupus sudah harapan
mereka untuk dapat melahirkan lagi dengan normal melalui vagina. Namun hari
ini, hal tersebut berubah dan perubahan besar tersebut terjadi berkat perubahan
dalam teknik bedah, sehingga VBAC sangatlah mungkin dilakukan dalam
banyak kasus. Bahkan, 60-80% diperkirakan perempuan yang mencoba VBAC
berakhir dengan sukses. Namun demikian, banyak rumah sakit yang tidak
menawarkan bahkan tidak melayani VBAC karena mereka tidak memiliki staf
atau sumber daya untuk menangani SC darurat. VBAC menjadi isu yang sangat
penting dalam ilmu kedokteran khususnya dalam bidang obstetrik karena pro
dan kontra akan tindakan ini. Baik dalam kalangan medis ataupun masyarakat
umum selalu muncul pertanyaan, apakah VBAC aman bagi keselamatan ibu
(Wiknjosastro, 2002).
VBAC atau melahirkan melalui vagina setelah mengalami operasi Sesar di
persalinan sebelumnya, memang lebih ditekankan pada kasus-kasus operasi
Sesar yang dilakukan atas indikasi yang sebenarnya tidak perlu artinya operasi
SC yang dilasssskukan sebelumnya bukan karena alasan-alasan mutlak fisiologis
seperti kelainan pangul (panggul sempit murni). Banyak wanita yang akhirnya
memilih untuk mencoba melahirkan normal saat ini dan literatur serta
penelitianpun sudah banyak yang sangat mendukung keputusan ini. Kebanyakan
penelitian dan fasilitas kesehatan menemukan bahwa lebih dari 80% ibu yang

pernah mengalami kelahiran sesar sebelumnya adalah aman dan berhasil


melahirkan secara normal di kehamilan berikutnya (Toth P.P, Jothivijayarani A,
2008).
Pada satu sisi mencatat lebih dari 80% kelahiran dengan VBAC berlangsung
dengan lancar aman, dengan akhir yang membahagiakan. Malah ada yang
memberikan testimoni, melahirkan lancar dengan VBAC dengan posisi bayi
sungsang. Ada pula yang VBAC-nya lancar bahkan setelah mengalami 2 kali
melahirkan secara caesar. Jarak antara kelahiran caesar dan VBAC pun
beragam. Pada umumnya DSOG memberikan batasan 3 tahun bagi ibu yang
melahirkan caesar baru bisa melahirkan lagi (itupun dengan kembali caesar).
Namun kenyataannya sebagaimana testimoni dalam sebuah komunitas untuk
memberdayakan ibu hamil, Gentle Birth untuk semua, tak jarang para pelaku
VBAC ini begitu pendek jarak kelahirannya dengan kelahiran sebelumnya.
Bahkan ada yang jarak antara anak caesar dengan adiknya yang normal hanya
18 bulan (Obstet Gynecol 2001).
Bagi ibu yang melahirkan dengan VBAC memiliki beberapa syarat,
diantaranya indikasi operasi sebelumnya bukan karena panggul sempit, letak
bayi kepala, proses penyembuhan luka operasi baik, perkiraan berat badan bayi
tidak boleh lebih dari 4 Kg, bukan kehamilan kembar, dan belahan operasi cesar
sebelumnya tidak tegak lurus (vertikal). Proses mengejan saat pembukaan
lengkap hanya boleh 2x15 menit. Elastisitas otot perut dan bekas luka operasi
cesar yang telah merapat juga menjadi hal yang dipertimbangkan. Melalui senam
hamil yang rutin dilakukan ibu hamil maka dapat membantu ibu untuk mengejan
dan mengatur napas lebih optimal, dan mempertahankan elastisitas otot perut
saat kontraksi, sehingga ibu dapat melahirkan dengan VBAC (Santoso, 2010).

Di Puskesmas Kuta Baro Aceh Besar Tahun 2013 terdapat 57 bidan


diantaranya 34 orang bidan PNS dan 23 orang bidan PTT. Pendidikan bidan
tersebut adalah 19 orang tamatan PPBA/DI, 32 orang tamatan D-III, dan 6 orang
tamatan D-IV. Dari pendataan awal yang dilakukan di Puskesmas Kuta Baro
Aceh Besar yang menjadi hasil wawancara kepada bidan yang berjumlah 10
orang, yaitu 6 orang bidan PTT dengan pengalaman kerja selama 6 tahun yang
berpendidikan DIII, dan 4 orang bidan PNS dengan pengalaman kerja 12 tahun
yang berpendidikan D1,dan informasi yang di dapatkan bidan tersebut rata-rata
hanya pada saat mengikuti pelatihan, dan hanya 3 orang bidan yang mengetahui
atau mengerti tentang VBAC, 3 orang tersebut tamatan D-III, sedangkan 7 orang
bidan yang masih kurang mengetahui atau mengerti tentang VBAC, 3 orang
tamatan PPBA dan 4 orang tamatan D-III yang dikarenakan oleh kurangnya
informasi yang di dapat atau diterima oleh bidan.
Berdasarkan permasalahan di atas maka peneliti ingin mengetahui apakah
faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan bidan tentang VBAC di wilayah
kerja Puskesmas. Dengan demikian yang diperoleh dari hasil survey, maka
peneliti berkeinginan melakukan penelitian yang berjudul Faktor-Faktor
Yang Mempengaruhi Pengetahuan Bidan

Tentang VBAC Di Wilayah

Kerja Puskesmas Kuta Baro Aceh Besar Tahun 2013


B. Rumusan Masalah
Dari uraian masalah dan data yang diperoleh, peneliti merumuskan masalah
yang diteliti adalah Apakah Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pengetahuan
Bidan Tentang VBAC di Wilayah Kerja Puskesmas Kuta Baro Aceh Besar
Tahun 2013.

C. Tujuan Penulisan
1. Tujuan umum
Untuk mengetahui Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pengetahuan
Bidan Tentang VBAC di Wilayah Kerja Puskesmas Kuta Baro Aceh Besar
Tahun 2013.
2. Tujuan khusus
a)

Untuk mengetahui informasi terhadap pengetahuan bidan tentang


VBAC di Wilayah Kerja Puskesmas.

b) Untuk mengetahui pengalaman kerja terhadap pengetahuan bidan


tentang VBAC di Wilayah Kerja Puskesmas.
c)

Untuk mengetahui pendidikan terhadap pengetahuan bidan tentang


VBAC di Wilayah Kerja Puskesmas.

D. Manfaat Penelitian
Manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Peneliti
Agar Bisa melakukan supervise kepada petugas kesehatan supaya berperan
aktif dalam memberikan informasi yang benar seluas-luasnya kepada
masyarakat mengenai persalinan VBAC.
2. Tempat Penelitian
Di harapkan penelitian ini dapat memberikan informasi pada istansi terkait
mengenai persalinan VBAC.
3. Responden
Untuk lebih meningkatkan kinerja dalam mengupayakan tentang bagaimana
mengenai persalinan VBAC.

4. Institusi Pendidikan
Sebagai informasi dan menambah perbendaharaan perpustakaan dan
dijadikan pedoman bagi pengembangan proses belajar mengajar khususnya
ketika mahasiswa berada di lapangan.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian VBAC
VBAC (Vaginal Birth After C-Section) ialah proses persalinan per vaginam
yang dilakukan terhadap pasien yang pernah mengalami seksio sesaria ada
kehamilan sebelumnya atau pernah mengalami operasi pada dinding rahim (misalnya
satu ataupun lebih miomektomi intramural). VBAC atau melahirkan melalui vagina
setelah mengalami operasi Sesar di persalinan sebelumnya, memang lebih
ditekankan pada kasus-kasus operasi Sesar yang dilakukan atas indikasi yang
sebenarnya tidak perlu artinya operasi SC yang dilakukan sebelumnya bukan karena
alasan-alasan mutlak fisiologis seperti kelainan pangul yaitu panggul sempit murni
(Winkjosastro 2005).
VBAC menjadi isu yang sangat penting dalam ilmu kedokteran khususnya
dalam bidang obstetrik karena pro dan kontra akan tindakan ini. Baik dalam kalangan
medis ataupun masyarakat umum selalu m uncul pertanyaan, apakah VBAC aman
bagi keselamatan ibu. Pendapat yang paling sering muncul adalah Orang yang
pernah melakukan seksio harus seksio untuk selanjutnya. Juga banyak para ahli yang
berpendapat bahawa melahirkan normal setelah pernah melakukan seksio sesarea
sangat berbahaya bagi keselamatan ibu dan section adalah pilihan terbaik bagi ibu
dan anak. Tahun lalu,setelah orang bersalin melalui SC maka pupus sudah harapan

10

mereka untuk dapat melahirkan lagi dengan normal melalui vagina (Winkjosastro
2005).
Namun hari ini, hal tersebut berubah dan perubahan besar tersebut terjadi
berkat perubahan dalam teknik bedah, sehingga VBAC sangatlah mungkin dilakukan
dalam banyak kasus. Bahkan, 60 sampai 80 persen diperkirakan perempuan yang
mencoba VBAC berakhir dengan sukses. Namun demikian, banyak rumah sakit yang
tidak menawarkan bahkan tidak melayani VBAC karena mereka tidak memiliki staf
atau sumber daya untuk menangani SC darurat (OGrady, 1995, Caughey, Mann ,
2001).
VBAC belum banyak diterima sampai akhir tahun 1970an. Melihat
peningkatan angka kejadian seksio sesarea oleh United States Public Health Service,
melalui Consensus Development Conference on Cesarean Child Birth pada tahun
1980 menyatakan bahwa VBAC dengan insisi uterus transversal pada segmen bawah
rahim adalah tindakan yang aman dan dapat diterima dalam rangka menurunkan
angka kejadian seksio sesarea pada tahun 2000 menjadi 15% (Cunningham , 2001).
Pada tahun 1989 National Institute of Health dan American College of
Obstetricans and Gynecologists mengeluarkan statemen, yang menganjurkan para
ahli obstetri untuk mendukung "trial of labor" pada pasien-pasien yang telah
mengalami seksio sesarea sebelumnya, dimana VBAC merupakan tindakan yang
aman sebagai pengganti seksio sesarea ulangan (O'Grady , 1995, Caughey , Mann,
2001).
Walau bagaimanapun, mulai tahun 1996 jumlah percobaan partus pervaginal
telah berkurang dan menyumbang kepada peningkatan jumlah partus secara seksio

11

sesarea ulang. Berbagai faktor medis dan nonmedis diperkirakan menjadi


penumbang kepada penurunan jumlah percobaan partus pevaginam ini. Faktor-faktor
ini sebenarnya masih belum difahami dengan jelas. Salah satu faktor yang paling
sering dikemukan para ahli adalah resiko ruptur uteri. Pada tindakan percobaan
partus pervaginal yang gagal, yaitu pada maternal yang harus melakukan seksio
sesarea ulang didapati resiko komplikasi lebih tinggi berbanding VBAC dan partus
secara seksio sesarea elektif (Cunningham,Gary dkk. 2006).
1. Indikasi VBAC
American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG) pada tahun
1999 dan 2004 memberikan rekomendasi untuk menyeleksi pasien yang
direncanakan untuk persalinan pervaginal pada bekas seksio sesarea.
Menurut Cunningham (2001) kriteria seleksinya adalah berikut :
a)

Riwayat 1 atau 2 kali seksio sesarea dengan insisi segmen bawah rahim

b)

Secara klinis panggul adekuat atau imbang fetopelvik baik

c)

Tidak ada bekas ruptur uteri atau bekas operasi lain pada uterus

d) Tersedianya tenaga yang mampu untuk melaksanakan monitoring, persalinan


dan seksio sesarea emergensi
e)

Sarana dan personil anastesi siap untuk menangani seksio sesarea darurat

Menurut Cunningham (2001) kriteria yang masih kontroversi adalah:


a) Parut uterus yang tidak diketahui
b) Parut uterus pada segmen bawah rahim vertical
c) Kehamilan kembar
d) Letak sungsang

12

e) Kehamilan lewat waktu


f) Taksiran berat janin lebih dari 4000 gram
Indikasi seksio sesarea sebelumnya akan mempengaruhi keberhasilan
VBAC. Maternal dengan penyakit CPD memberikan keberhasilan persalinan
pervaginal sebesar 60 65 % manakala fetal distress memberikan keberhasilan
sebesar 69 73% (Caughey, Mann, 2001). Keberhasilan VBAC ditentukan juga
oleh keadaan dilatasi serviks pada waktu dilakukan seksio sesarea yang lalu.
VBAC berhasil 67 % apabila seksio sesarea yang lalu dilakukan pada saat
pembukaan serviks kecil dari 5 cm, dan 73 % pada pembukaan 6 sampai 9 cm.
Keberhasilan persalinan pervaginal menurun sampai 13 % apabila seksio sesarea
yang lalu dilakukan pada keadaan distosia pada kala II (Cunningham, 2001).
Keberhasilan VBAC ditentukan juga oleh keadaan dilatasi serviks pada
waktu dilakukan seksio sesarea yang lalu. VBAC berhasil 67 % apabila seksio
sesarea yang lalu dilakukan pada saat pembukaan serviks kecil dari 5 cm, dan 73
% pada pembukaan 6 sampai 9 cm. Keberhasilan persalinan pervaginal menurun
sampai 13 % apabila seksio sesarea yang lalu dilakukan pada keadaan distosia
pada kala II (Cunningham, 2001).

2. Kontraindikasi VBAC
Menurut (Caughey, Mann, 2001) kontra indikasi mutlak melakukan
VBAC adalah :
a) Bekas seksio sesarea klasik

13

b) Bekas seksio sesarea dengan insisi T


c) Bekas ruptur uteri
d) Bekas komplikasi operasi seksio sesarea dengan laserasi serviks yang luas
e) Bekas sayatan uterus lainnya di fundus uteri contohnya miomektomi
f) Disproporsi sefalopelvik yang jelas
g) Pasien menolak persalinan pervaginal
h) Panggul sempit
i) Ada komplikasi medis dan obstetrik yang merupakan kontra indikasi
persalinan pervaginal
3. Prasyarat VBAC
Panduan dari American College of Obstetricians and Gynecologists pada
tahun 1999 dan 2004 tentang VBAC atau yang juga dikenal dengan trial of scar
memerlukan kehadiran seorang dokter ahli kebidanan, seorang ahli anastesi dan
staf yang mempunyai keahlian dalam hal persalinan dengan seksio sesarea
emergensi. Sebagai penunjangnya kamar operasi dan staf disiagakan, darah yang
telah di-crossmatch disiapkan dan alat monitor denyut jantung janin manual
ataupun elektronik harus tersedia (Caughey, Mann, 2001).
Pada kebanyakan senter merekomendasikan pada setiap unit persalinan
yang melakukan VBAC harus tersedia tim yang siap untuk melakukan seksio
sesarea emergensi dalam waktu 20 sampai 30 menit untuk antisipasi apabila
terjadi fetal distress atau ruptur uteri (Jukelevics, 2000).
Faktor medis dan nonmedis diperkirakan menjadi penumbang kepada
penurunan jumlah percobaan partus pevaginam ini. Faktor-faktor ini sebenarnya

14

masih belum difahami dengan jelas. Salah satu faktor yang paling sering
dikemukan para ahli adalah resiko ruptur uteri. Pada tindakan percobaan partus
pervaginal yang gagal, yaitu pada maternal yang harus melakukan seksio sesarea
ulang didapati resiko komplikasi lebih tinggi berbanding VBAC dan partus
secara seksio sesarea elektif. Faktor nonmedis termasuklah restriksi terhadap
akses percobaan partus pervaginal. (Consensus Development Conference
Statement, 2010).
4. Teknik Operasi Sebelumnya
Pasien bekas seksio sesarea dengan insisi segmen bawah rahim transversal
merupakan salah satu syarat dalam melakukan VBAC, dimana pasien dengan tipe
insisi ini mempunyai resiko ruptur yang lebih rendah dari pada tipe insisi lainnya.
Bekas seksio sesarae klasik, insisi T pada uterus dan komplikasi yang terjadi pada
seksio sesarea yang lalu misalnya laserasi serviks yang luas merupakan
kontraindikasi melakukan VBAC. (Toth, Jothivijayani, 1996, Cunningham, 2001).
Menurut American College of Obstetricians and Gynecologists (2004), tiada
perbedaan dalam mortalitas maternal dan perinatal pada insisi seksio sesarea
transversalis atau longitudinalis.
5. Jumlah Seksio Sesarea Sebelumnya
VBAC tidak dilakukan pada pasien dengan insisi korporal sebelumnya
maupun pada kasus yang pernah seksio sesarea dua kali berurutan atau lebih,
sebab pada kasus tersebut diatas seksio sesarea elektif adalah lebih baik
dibandingkan persalinan pervaginal (Flamm, 2000).

15

Menurut Spaan (2002) mendapatkan bahwa riwayat resikoseksio saserea


yang lebih satu kali mempunyairesiko untuk seksio sesarea ulang lebih tinggi.
Menurut Jamelle (2001) menyatakan diktum sekali seksio sesarea selalu seksio
sesarea tidaklah selalu benar, tetapi beliau setuju dengan pernyataan bahwa
setelah dua kali seksio sesarea selalu seksio sesarea pada kehamilan berikutnya,
dimana diyakini bahwa komplikasi pada ibu dan anak lebih tinggi.
Resiko ruptur uteri

meningkat dengan meningkatnya jumlah seksio

sesarea sebelumnya. Pasien dengan seksio

sesarea lebih dari satu kali

mempunyai resiko yang lebih tinggi untuk terjadinya ruptur uteri. Ruptur uteri
pada bekas seksio sesarea 2 kali adalah sebesar 1.8 3.7 %. Pasien dengan bekas
seksio sesarea 2 kali mempunyai resiko ruptur uteri lima kali lebih besar dari
bekas seksio sesarea satu kali (Caughey 1999, Cunningham, 2001).
Menurut Farmakides (2010) dalam Miller (2011) melaporkan 77 % dari
pasien yang pernah seksio sesarea dua kali atau lebih yang diperbolehkan
persalinan pervaginal dan berhasil dengan luaran bayi yang baik. Menurut
Cunningham (2010), American College of Obstetricians and Gynecologists pada
tahun 2005 telah memutuskan bahwa pasien dengan bekas seksio dua kali boleh
menjalani persalinan pervaginal dengan pengawasan yang ketat.
Menurut Miller (2007) melaporkan bahwa insiden ruptur uteri terjadi 2
kali lebih sering pada VBAC dengan riwayat seksio sesarea 2 kali atau lebih.
Pada penelitian ini, jumlah VBAC dengan riwayat seksio sesarea 1 kali adalah
83% manakala 2 kali atau lebih adalah 17 %.
6. Penyembuhan Luka Pada Seksio Sesarea Sebelumnya

16

Pada seksio sesarea insisi kulit pada dinding abdomen biasanya melalui
sayatan horizontal, kadang-kadang pemotongan atas bawah yang disebut insisi
kulit vertikal. Kemudian pemotongan dilanjutkan sampai ke uterus. Daerah
uterus yang ditutupi oleh kandung kencing disebut segmen bawah rahim, hampir
90 % insisi uterus dilakukan di tempat ini berupa sayatan horizontal (seperti
potongan bikini). Cara pemotongan uterus seperti ini disebut "Low Transverse
Cesarean Section". Insisi uterus ini ditutup/jahit akan sembuh dalam 2 6 hari.
Insisi uterus dapat juga dibuat dengan potongan vertikal yang dikenal dengan
seksio sesarea klasik, irisan ini dilakukan pada otot uterus. Luka pada uterus
dengan cara ini mungkin tidak dapat pulih seperti semula dan dapat terbuka lagi
sepanjang kehamilan atau persalinan berikutnya (Hill, 2002).
Pemeriksaan USG trans abdominal pada kehamilan 37 minggu dapat
mengetahui ketebalan segmen bawah rahim. Ketebalan segmen bawah rahim
(SBR) 4,5 mm pada usia kehamilan 37 minggu adalah petanda parut yang
sembuh sempurna. Parut yang tidak sembuh sempurna didapat jika ketebalan
SBR < 3,5 mm. Oleh sebab itu pemeriksaan USG pada kehamilan 37 minggu
dapat sebagai alat skrining dalam memilih cara persalinan bekas seksio sesarea.
(Cheung, 2004).
Menurut Cunningham (2004) menyatakan bahwa penyembuhan luka
seksio sesarea adalah suatu generasi dari fibromuskuler dan bukan pembentukan
jaringan sikatrik.

17

Menurut Cunningham (2010), dasar dari keyakinan ini adalah dari hasil
pemeriksaan histologi dari jaringan di daerah bekas sayatan seksio sesarea dan
dari 2 tahap observasi yang pada prinsipnya :
a) Tidak tampaknya atau hampir tidak tampak adanya jaringan sikatrik pada
uterus pada waktu dilakukan seksio sesarea ulangan.
b) Pada uterus yang diangkat, sering tidak kelihatan garis sikatrik atau hanya
ditemukan suatu garis tipis pada permukaan luar dan dalam uterus tanpa
ditemukannya sikatrik diantaranya.
Menurut Schmitz (2010) dalam Srinivas (2011) menyatakan bahwa
kekuatan sikatrik pada uterus pada penyembuhan luka yang baik adalah lebih
kuat dari miometrium itu sendiri. Hal ini telah dibuktikannya dengan
memberikan regangan yang ditingkatkan dengan penambahan beban pada uterus
bekas seksio sesarea (hewan percobaan).
Dari laporan-laporan klinis pada uterus gravid bekas seksio sesarea yang
mengalami ruptura selalu terjadi pada jaringan otot miometrium sedangkan
sikatriknya utuh. Yang mana hal ini menandakan bahwa jaringan sikatrik yang
terbentuk relatif lebih kuat dari jaringan miometrium itu sendiri (Srinivas, 2007).
Dua hal yang utama penyebab dari gangguan pembentukan jaringan
sehingga menyebabkan lemahnya jaringan parut tersebut adalah :
a) Infeksi, bila terjadi infeksi akan mengganggu proses penyembuhan luka.
b) Kesalahan teknik operasi (technical errors) seperti tidak tepatnya pertemuan
kedua sisi luka, jahitan luka yang terlalu kencang, spasing jahitan yang tidak
beraturan, penyimpulan yang tidak tepat, dan lain-lain.

18

Menurut Schmitz (2001) dalam Srinivas (2007) menyatakan jahitan luka


yang terlalu kencang dapat menyebabkan nekrosis jaringan sehingga merupakan
penyebab timbulnya gangguan kekuatan sikatrik, hal ini lebih dominan dari pada
infeksi ataupun technical error sebagai penyebab lemahnya sikatrik.
Pengetahuan tentang penyembuhan luka operasi, kekuatan jaringan
sikatrik pada penyembuhan luka operasi yang baik dan pengetahuan tentang
penyebab-penyebab yang dapat mengurangi kekuatan jaringan sikatrik pada
bekas seksio sesarea, menjadi panduan apakah persalinan pervaginal pada bekas
seksio sesarea dapat dilaksanakan atau tidak (Srinivas, 2007).
Pada sikatrik uterus yang tidak mempengaruhi aktivitas selama kontraksi
uterus. Aktivitas uterus pada multipara dengan bekas seksio sesarea sama
dengan multipara tanpa seksio sesarea yang menjalani persalinan pervaginal
(Chua, Arulkumaran, 2010).

7. Indikasi Operasi Pada Seksio Sesarea Yang Lalu


Indikasi seksio sesarea sebelumnya akan mempengaruhi keberhasilan
VBAC. Maternal dengan penyakit CPD memberikan keberhasilan persalinan
pervaginal sebesar 60 65 % manakala fetal distress memberikan keberhasilan
sebesar 69 73% (Caughey, Mann, 2001).
Keberhasilan VBAC ditentukan juga oleh keadaan dilatasi serviks pada
waktu dilakukan seksio sesarea yang lalu. VBAC berhasil 67 % apabila seksio
sesarea yang lalu dilakukan pada saat pembukaan serviks kecil dari 5 cm, dan 73
% pada pembukaan 6 sampai 9 cm. Keberhasilan persalinan pervaginal menurun

19

sampai 13 % apabila seksio sesarea yang lalu dilakukan pada keadaan distosia
pada kala II (Cunningham, 2001).
Menurut Troyer (2002) pada penelitiannya mendapatkan keberhasilan
penanganan VBAC boleh dihubungkan dengan indikasi seksio sesarea yang lalu.
Hubungan indikasi seksio sesarea lalu dengan keberhasilan penangananVBAC
yaitu :
a) Usia maternal
Usia ibu yang aman untuk melahirkan adalah sekitar 20 tahun
sampai 35 tahun. Usia melahirkan dibawah 20 tahun dan di atas 35 tahun
digolongkan resiko tinggi. Dari penelitian di dapatkan wanita yang berumur
lebih dari 35 mempunyai angka resiko seksio sesarea yang lebih tinggi.
Wanita yang berumur lebih dari 40 tahun dengan bekas seksio sesarea
mempunyai resiko kegagalan untuk persalinan pervagianl lebih besar tiga
kali dari pada wanita yang berumur kecil dari 40 tahun (Caughey, Man,
2001).
Menurut Weinstein (2001) dan Landon (2004) mendapatkan pada
penelitian mereka bahwa faktor umur tidak bermakna secara statistik dalam
mempengaruhi keberhasilan persalinan pervaginal pada bekas seksio
sesarea.
b) Usia kehamilan saat seksio sesarea sebelumnya
Pada usia kehamilan < 37 minggu dan belum inpartu misalnya pada
plesenta previa dimana segmen bawah rahim belum terbentuk sempurna
kemungkinan insisi uterus tidak pada segen bawah rahim dan dapat

20

mengenai bagian korpus eteri yang mana keadaannya sama dengan insisi
pada seksio sesarea klasik (Salzmann 2003).
c) Riwayat persalinan pervaginal
Riwayat persalinan pervaginal baik sebelum ataupun sesudah seksio
sesarea mempengaruhi prognosis keberhasilan VBAC (Cunningham ,2001).
Pasien dengan bekas seksio sesarea yang pernah menjalani persalinan
pervaginal memiliki angka keberhasilan persalinan pervagianl yang lebih
tinggi dibandingkan dengan pasien tanpa persalinan pervaginal (Caughey,
Man, 2001).
Menurut Benedetti (2000) dalam Toth (2002), pada pasien bekas
seksio sesarea yang sesudahnya pernah berhasil dengan persalinan
pervaginal, makin berkurang kemungkinan ruptur uteri pada kehamilan dan
persalinan yang akan datang. Walaupun demikian ancaman ruptur uteri tetap
ada pada masa kehamilan maupun persalinan, oleh sebab itu pada setiap
kasus bekas seksio sesarea harus juga diperhitungkan ruptur uteri pada
kehamilan trimester ketiga terutama saat menjalani persalinan pervaginal.
(Toth, 2002)
d) Keadaan serviks pada saat partus
Menurut Guleria dan Dhall (2004) menyatakan bahwa laju dilatasi
serviks mempengaruhi keberhasilan penanganan VABC. Dari 100 pasien
bekas seksio sesarea segmen bawah rahim di dapat 84% berhasil persalinan
pervaginal sedangakn sisanya adalah seksio sesarea darurat. Gambaran laju

21

dilatasi serviks pada bekas seksio sesarea yang berhasil pervaginal pada fase
laten rata-rata 0,88 cm/jam mana kala fase aktif 1,25 cm/jam.
Sebaliknya laju dilatasi serviks pada bekas seksio sesarea yang gagal
pervaginal pada fase laten rata-rata 0,44 cm/jam dan fase aktif adalah 0,42
cm/jam. Induksi persalinan dengan misoprostol akan meningkatkan resiko
ruptur uteri pada maternal dengan bekas seksio sesarea (Plaut, 2000).
Dijumpai adanya 1 kasus ruptur uteri bekas seksio sesarea segmen bawah
rahim tranversal selama dilakukan pematangan serviks dengan transvaginal
misoprostol sebelum tindakan indukdi persalinan (Scott, 2002).
e) Keadaan selaput ketuban
Menurut Carrol (2001) dan Miller (2004) melaporkan pasien dengan
pasien ketuban pacah dini pada usia kehamilan diatas 37 minggu dengan
bekas seksio sesarea (56 kasus) proses persalinannya dapat pervaginal
dengan menunggu terjadinya inpartu spontan dan di dapat angka
keberhasilan yang tinggi yaitu 91 % dengan menghindari pemberian induksi
persalinan dengan oksitosin, dengan rata-rata lama waktu antara ketuban
pecah dini sampai terjadinya persalianan adalah 42,6 jam dengan keadaan
ibu dan bayi baik.
8.

Induksi VBAC
Penelitian untuk induksi persalinan dengan oksitosin pada pasien bekas
seksio sesarea satu kali member kesimpulan bahwa persalinan dengan oksitosin
meningkatkan kejadian rupture uteri pada wanita hamil dengan bekas seksio
sesarea satu kali dibandingkan dengan partus spontan tanpa induksi. Secara

22

statistik tidak di dapatkan peningkatan yang bermakna kejadian ruptur uteri pada
pasien yang melakukan akselerasi persalinan dengan oksitosin. Namun
pemakain oksitosin untuk drip akselerasi pada pasien bekas seksio sesarea harus
diawasi secara ketat (Zelop, 2002). Menurut Scott (2001) tingkat keberhasilan
pemberian oksitosin pada persalinan bekas seksio sesarea cukup tinggi yaitu
70% pada induksi persalinan dan 100% pada akselerasi persalinan.
a) Resiko terhadap maternal
Menurut Kirt (2004) dan Goldberg (2002) menyatakan resiko
terhadap ibu yang melakukan persalinan pervaginal dibandingkan dengan
seksio sesarea ulangan elektif pada bekas seksio sesarea adlah seperti
berikut:
(1) Insiden demam lebih kecil secara bermakna pada persalinan pervaginal
yang berhasil dibanding dengan seksio sesarea ulangan elektif.
(2) Pada persalinan pervaginal yang gagal yang dilanjutkan dengan seksio
sesarea insiden demam lebih tinggi.
(3) Tidak banyak perbedaan insiden dehisensi uterus pada persalinan
pervaginal disbanding dengan seksio sesarea elektif.
(4) Dehisensi atau rupture uteri setelah gaal persalinan pervaginal adalah
2,8 kali dari seksio sesarea elektif.
(5) Mortalitas ibu pada seksio sesarea ulangan elektif dan persalinan
pervaginal sangat rendah.
(6) Kelompok persalinan pervaginal mempunyai rawat inap yang lebih
singkat, penurunan insiden tranfusi darah pada pasca persalinan dan

23

penurunan insiden demam pasca persliana disbanding dengan seksio


sesarea elektif
b) Resiko terhadap anak
Angka kematian perinatal dari hasil penelitian terhadap lebih dari
4,500 persalinan pervaginal adalah 1,4 % serta resiko kematian perinatal
pada persalinan percobaan adalah 2,1 kali lebih besar dibanding seksio
sesarea elektif namun jika berat badan janin <750 gram dan kelainan
congenital berat tidak diperhitungkan maka angka kematian perinatal dari
persalinan prvaginal tidak berbeda secara bermakna dari seksio sesarea
ulangan elektif (Kirk, 2003).
Menurut Flamm (2002) melaporkan angka kematian perinatal adalah
7 per 1.000 kelahiran hidup pada persalinan pervaginal,angka ini tidak
berbeda secara bermakna dari angka kematian perinatal dari rumah sakit
yang ditelitinya yaitu 10 per 1.000 kelahiran hidup.
Menurut Caughey (2001) melaporkan 463 dari 478 (97%) dari bayi
yang lahir pervaginal mempunyai skor Apgar pada 5 menit pertama adalah 8
atau lebih. Menurut McMohan (2002) bahwa skor Apgar bayi yang lahir
tidak berbeda bermakna pada VBAC dibanding seksio sesarea ulangan
elektif.
Menurut Flamm (2003) juga melaporkan morbiditas bayi yang lahir
dengan seksio sesarea ulangan setelah gagal VBAC lebih tinggi
dibandingkan dengan yang berhasil VBAC dan morbiditas bayi yang
berhasil VBAC tidak berbeda bermakna dengan bayi yang lahir normal.

24

9. Komplikasi VBAC
Komplikasi paling berat yang dapat tejadi dalam melakukan persalinan
pervagianal adalah ruptur uteri. Ruptur jaringan perut bekas seksio sesarea
sering tersembunyi dan tidak menimbulkan gejala yang khas (Miller, 2003).
Dilaporkan bahwa kejadian ruptur uteri pada bekas seksio sesarea insisi segmen
bawah rahim lebih kecil dari 1 % (0,2 0,8 %).
Kejadian ruptur uteri pada persalinan pervaginal dengan riwayat insisi
seksio sesarea korposal dilaporkan oleh Scott (2002) dan American College of
Obstetricans and Gynecologist (2000) adalah sebesar 4 - 9%. Kejadian ruptur
uteri selama partus percobaan pada bekas seksio sasarea sebanyak 0,8 % dan
dehisensi 0,7 % (Martel,2005).
Apabila terjadi ruptur ete ri maka jania, tali pusat, plasenta atau bayi akan
keluar dari robekan rahim dan masuk ke rongga abdomen. Hal ini akan
menyebabkan perdarahan pada ibu, gawat janin dan kematian jani serta ibu.
Kadang-kadang ahrus dilakukan histerektomi emergensi. Kasus ruptur uteri ini
lebih sering terjadi pada seksio sesarea klasik dibandingkan dengan seksio
sesarea pada segmen bawah rahim ( Hill, 2002).
Tanda yang paling sering di jumpai pada ruptur uteri adalah denyut
jantung janin tak normal dengan deselerasi variabel yang lambat laun manjadi
deselerasi lambat, bradiakardia, dan denyut jantung janin tidak terdeteksi. Gejala
klinis tambahan adalah perdarahan pervaginal, nyeri abdomen, presentasi janin
berubah dan terjadi hipovolemik pada ibu ( Miller,2005).

25

Menurut Caughey (2001) Tanda- tanda

ruptur uteri adalah sebagai

berikut :
a) Nyeri akut abdomen
b) Sensasi poping ( seperti akn pecah )
c) Teraba bagian-bagian janin diluar uterus pada pemeriksaan Leopold
d) Deselerasi dan bradikardi pada denyut jantung janin
e) Presenting perutnya tinggi pada pemeriksaan pervaginal
f) Perdarahan pervaginal
Pada wanita dengan bekas seksio sesarea klasik sebaiknya tidak
dilakukan persalinan pervaginal karena resiko ruptur 2-10 kai dan kematian
maternal dan perinatal 5-10 kali lebih tinggi dibandingkan dengan seksio sesarea
pada segmen bawah rahim (Chua, Arunkumaran, 2004).
Menurut Landon (2004) komplikasi terhadap maternal termasuklah
ruptur

uteri,

histerektomi,

gangguan

sistem

tromboembolik,

transfusi,

endometritis, kematian maternal dan gangguan-gangguan lain.

B. Persalinan
Proses persalinan adalah proses alami yang seharusnya menjadi pengalaman
yang positif bagi ibu dan keluarga. Tetapi ada kalanya proses kelahiran tidak dapat
dilakukan secara normal atau melalui jalan lahir ibu karena beberapa hal. Salah satu
cara yang semakin umum dilakukan jika proses persalinan secara normal tidak
memungkinkan adalah dengan bedah caesar (caesarean-section atau C-section) yaitu
dengan membuat insisi pada abdomen ibu untuk mengeluarkan bayi.

26

Asuhan persalinan normal adalah asuhan yang bersih dan aman selama
persalinan dan setelah bayi lahir, serta upaya pencegahan komplikasi terutama
perdarahan paska persalinan, hipotermia, dan asfiksia bayi baru lahir. Hal ini
merupakan suatu pergeseran paradigma dari sikap menunggu dan menangani
komplikasi , mencegah komplikasi yang mungkin terjadi.
Pencegahan komplikasi selama persalinan dan setelah bayi lahir akan
mengurangi kesakitan dan kematian ibu serta bayi baru lahir. Penyesuaian ini sangat
penting dalam upaya menurunkan angka kematian ibu dan bayi baru lahir. Sebagian
besar persalinan di Indonesia masih terjadi tingkat pelayanan kesehatan primer
dengan penguasaan keterampilan dan pengetahuan petugas kesehtan di fasilitas
pelayanan tersebut masih belum memadai.
Tujuan asuhan persalinan normal adalah mengupayakan kelangsungan hidup
dan mencapai derajat kesehatan yang tinggi bagi ibu dan bayinya, melalui berbagai
upaya yang terintegrasi dan lengkap serta intervensi minimal sehingga prinsip
keamanan dan kualitas pelayanan dapat terjaga pada tinggkat yang optimal (Sarwono
Prawihardjo 2008).
C. Pengetahuan
1. Definisi Pengetahuan
Pengetahuan adalah merupakan hasil dari tahu dan ini setelah orang
melakukan penginderaan terhadap obyek tertentu. Penginderaan terjadi melalui
panca indera manusia, yakni indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rsa dan
raba. Sebagaian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telingan

27

(Notoatmodjo 2007). Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat


penting untuk terbentuknya tindakan seseorang (Overt Behaviour).
Pengetahuan merupakan hasil tahu dan ini terjadi setelah seseorang
melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi
melalui panca indra manusia yaitu indera penglihatan, pendengaran, penciuman,
rasa, dan raba. Sebagian pengetahuan manusia melalui telinga dan mata
(Notoatmodjo, 2005).
Menurut pendekatan kontruktivistis, pengetahuan bukanlah fakta dari
suatu kenyataan yang sedang dipelajari, melainkan sebagai konstruksi kognitif
seseorang terhadap obyek, pengalaman, maupun lingkungannya. Pengetahuan
bukanlah sesuatu yang sudah ada dan tersedia dan sementara orang lain tinggal
menerimanya. Pengetahuan adalah sebagai suatu pembentukan yang terus
menerus oleh seseorang yang setiap saat mengalami reorganisasi karena adanya
pemahaman-pemahaman baru.
Menurut Notoatmodjo, (2003) pengetahuan diperoleh dari pengalaman
sendiri atau pengalaman orang lain. Jadi pengetahuan adalah hasil dari tahu.
Dengan demikian pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat
penting dalam membentuk tindakan seseorang (overt behavior). Dari pengalaman
dan penelitian terbukti bahwa perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan lebih
langgeng dari pada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan.
2. Tahapan Pengetahuan

28

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Rogers dalam buku


notoatmodjo (2003) mengungkapkan bahwa sebelum orang mengadopsi tahapan
pengetahuan dalam diri orang tersebut terjadi adalah sebagai berikut :
a)

Knowledge (pengetahuan), yakni orang tersebut mengetahui dan memahami


akan adanya sesuatu perubahan baru.

b) Persuasion (kepercayaan), yakni orang mulai percaya dan membentuk sikap


terhadap perubahan tersebut.
c)

Decision (keputusan), yakni orang mulai membuat suatu pilihan untuk


mengadopsi atau menolak perubahan tersebut.

d) Implementation (pelaksanaan), yakni orang mulai menerapkan perubahan


tersebut dalam dirinya.
e)

Confirmation (penegasan), yakni orang tersebut mencari penegasan kembali


terhadap perubahan yang telah

diterapkannya, dan boleh

merubah

keputusannya apabila perubahan tersebut berlawanan dengan hal yang


diinginkannya.
3. Tingkat Pengetahuan
Pengetahuan mempunyai enam tingkatan menurut Notoatmodjo (2005),
yaitu:
a)

Tahu
Tahu adalah suatu keadaan dimana seseorang dapat mengingat sesuatu
yang telah dipelajari sebelumnya. Tahu ini merupakan tingkat pengetahuan
yang paling rendah.

b) Paham

29

Paham diartikan sebagai suatu keadaan dimana seseorang mampu


menjelaskan dengan benar tentang objek yang diketahui dan dapat
menginterpretasikan materi tersebut secara benar.
c)

Aplikasi
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi
yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi yang sebenarnya.

d) Analisis
Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan suatu objek ke
dalam komponen-komponen yang masih dalam satu struktur organisasi dan
masih ada kaitannya satu sama lain, misalnya mengelompokkan dan
membedakan.
e)

Sintesis
Sintesis

adalah

suatu

kemampuan

untuk

meletakkan

atau

menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru.


f)

Evaluasi
Evaluasi adalah suatu kemampuan untuk melakukan justifikasi atau
penilaian terhadap suatu materi atau objek. Penilaian-penilaian tersebut
berdasarkan suatu kriteria yang di tentukan sendiri atau menggunakan
kriteria-kriteria yang telah ada.
Menurut (Notoadmodjo, 2005) pengukuran pengetahuan dapat dilakukan

dengan wawancara atau angket yang menanyakan tentangisi materi yang ingin di
ukur dari subjek atau responden. Kedalaman pengetahuan yang ingin kita ketahui
atau kita ukur sesuai dengan tingkat-tingkat tersebut, seperti orang yang

30

pengetahuannya tinggi lebih sering memanfaatkan tenaga kesehatan sedangkan


orang pengetahuannya rendah lebih sedikit yang memanfaatkan tenaga kesehatan.
Pengetahuan baik : Bila > 75% jika jawaban benar
Pengetahuan cukup : Bila 60-75% jika jawaban benar
Pengetahuan rendah: Bila <60% jika jawaban benar

4.

Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Pengetahuan Bidan Tentang VBAC


a) Informasi
Menurut Notoatmodjo (2008) informasi merupakan fungsi penting
untuk membantu mengurangi rasa cemas seseorang, bahwa semakin banyak
informasi dapat memengaruhi atau menambah pengetahuan seseorang dan
dengan pengetahuan menimbulkan kesadaran yang akhirnya seseorang akan
berperilaku sesuai dengan pengetahuan yang dimilikinya.
Menurut Raymond Mc.leod (2004) Informasi adalah data yang diolah
dan dibentuk menjadi lebih berguna dan lebih berarti bagi yang menerimanya.
Informasi merupakan pengumpulan dan pengolahan data untuk memberikan
keterangan atau pengetahuan. Maka dengan demikian sumber informasi adalah
data. Data adalah kesatuan yang menggambarkan suatu kejadian atau kesatuan
nyata.
b) Pengalaman Kerja

31

Pengalaman kerja adalah pengetahuan atau keterampilan yang telah


diketahui dan dikuasai seseorang yang akibat dari perbuatan atau pekerjaan
yang telah dilakukan selama beberapa waktu tertentu (Trijoko, 2003).
Pengalaman seseorang dalam bekerja seharusnya dipandang sebagai
sumberdaya potensial dalam mengelola perubahan dirinya. Secara rasional,
pengalaman kerja pasti dapat dirasakan seseorang. Dari pengalamannya,
seharusnya seseorang memperoleh modal atau bekal dalam melihat unsurunsur penyebab keberhasilan dan kekurang-berhasilan dalam bekerja.
Semakin bertambahnya usia seseorang maka pengetahuan tentang pekerjaan
semakin meningkat dan cara memandang sesuatu juga semakin bijak.
Memang selayaknya dan seharusnya sebuah pengalaman kerja
dibutuhkan sebagai salah satu syarat penting di dalam perekrutan tenaga kerja
apalagi di perusahaan bonavite yang selalu dan harus mempertimbangkan
kualitas hasil kerja seluruh karyawannya. Kadang saja dengan pengalaman
kerja yang dimiliki minimal 2 (dua) tahun saja belum dapat menjadi ukuran
kualitas pekerjaan seseorang, apalagi mereka yang belum pernah memiliki
pengalaman kerja, belum pernah masuk dunia kerja, baru saja lulus kuliah
(S1), tentu pengalaman mereka masih dangkal, dan tentunya juga mereka
belum dapat melakukan pekerjaan-pekerjaan sesuai di syaratkan pada sebuah
lowongan kerja (Suryadi 2008)
Menurut Handoko (2005) ada beberapa faktor lain mungkin juga
berpengaruh dalam kondisi kondisi tertentu, tetapi adalah tidak mungkin

32

untuk menyatakan secara tepat semua faktor yang dicari dalam diri karyawan
potensial . beberapa faktor tersebut adalah :
1) Latar belakang pribadi, mencakup pendidikan, kursus, latihan, bekerja.
Untuk menunjukkan apa yang telah dilakukan seseorang di waktu yang
lalu.
2) Bakat dan minat, untuk memperkirakan minat dan kapasitas atau
kemampuan seseorang.
3) Sikap dan kebutuhan (attitudes and needs) untuk meramalkan tanggung
jawab dan wewenang seseorang.
4) Kemampuan kemampuan analitis dan manipulatif untuk mempelajari
kemampuan penilaian dan penganalisaan.
5) Keterampilan dan kemampuan tehnik, untuk menilai kemampuan dalam
pelaksanaan aspek aspek tehnik pekerjaan.
Menurut Foster (2001) ada beberapa hal juga untuk menentukan
berpengalaman

tidaknya

seorang

yang

sekaligus

sebagai

indikator

pengalaman kerja yaitu:


1) Lama waktu/ masa kerja yang dikatakan lama di atas 10 tahun. Ukuran
tentang lama waktu atau masa kerja yang telah ditempuh seseorang dapat
memahami tugas tugas suatu pekerjaan dan telah melaksanakan dengan
baik.
2) Tingkat pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki. Pengetahuan
merujuk pada konsep, prinsip, prosedur, kebijakan atau informasi lain
yang

dibutuhkan

oleh

karyawan.

Pengetahuan

juga

mencakup

33

kemampuan untuk memahami dan menerapkan informasi pada tanggung


jawab pekerjaan. Sedangkan keterampilan merujuk pada kemampuan
fisik yang dibutuhkan untuk mencapai atau menjalankan suatu tugas atau
pekerjaan.
3) Penguasaan terhadap pekerjaan dan peralatan. Tingkat penguasaan
seseorang dalam pelaksanaan aspek aspek tehnik peralatan dan tehnik
pekerjaan.
c) Pendidikan
Pendidikan secara umum adalah segala upaya yang direncanakan
untuk mempengaruhi orang lain baik individu, kelompok, atau masyarakat
sehingga mereka melakukan apa yang diharapkan oleh pelaku pendidikan
(Soekidjo Notoatmodjo, 2003)
Pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tatalaku seseorang
atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya
pengajaran dan pelatihan, proses, cara, perbuatan mendidik (Pusat Bahasa
Departemen Pendidikan Nasional, 2002 )
Perkembangan pendidikan kebidanan di indonesia mengalami
dinamika pasang surut sejalan dengan pekembangan kebijakan dalam
pembangunan kesehatan. Pendidikan kebidanan pernah ditutup selama 9
tahun, yaitu dari tahun 1976 1986. dan kemudian dibuka lagi dengan
program bidan dan lulusan SPK. Pendidikan bidan yang pada awalnya
dipersiapkan untuk menolong persalinan , kemudian berkembang sejalan
dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan tehnologi, serta permasalahan

34

di bidang kesehatan. Hal ini mendorong untuk peningkatan pendidikan bidan


ke arah pendidikan profesional sesuai dengan tuntutan pembangunan
dibidang kesehatan dan tuntutan profesi.
Hampir semua bidan tingkat pendidikannya belum profesional. Bidan
yang bekerja di rumah sakit dan puskesmas lebih kurang 40-60% merasa
tidak adekwat dalam melaksanakan keterampilan tehnik kebidanan.
Pelatihan-pelatihan yang diterima bidan dirasa sangat kurang. Hal itu dilatar
belakangi oleh tingkat pendidikan yang berbeda, yaitu dari lulusan SPK
ditambah pendidikan Bidan selama 1 tahun (PPB A), Lulusan SLTP diambah
pendidikan bidan selama 3 tahun (PPB C), dari lulusan akper ditambah
pendidikan bidan selama 1 tahun yang dilanjutkan dengan post graduate
training dan pendidikan akta IV masing masing selama 3 bulan (PPB B).
Yang terkhir dimaksudkan untuk menjadi tenaga pengajar pada institusi
pendidikan penyelenggara PPB A dan C.
Mulai tahun 1996 mulai dibuka program pendidikan DIII kebidanan
yang merupakan jalur profesional. Program ini terdiri dari 2 jalur yaitu jalur
umum dari SMU (6 semester) dan jalur khusus dari tenaga bidan A, B, C (5
semester). Proses pendidikan di Indonesia masih belum adekwat. Hal ini
disebabkan antara lain :
1. kurikulum yang dalam pelaksanaannya masih perlu disesuaikan dengan
perkembangan dalam pembangunan kesehatan khususnya kebidanan.
2. tenaga pengajar. Dosen yang mengajar harus memiliki pendidikan
minimal 1 tingkat diatasnya.

35

3. sarana dan pra sarana yang perlu ditingkatkan adalah laboratorium,


simulasi kebidanan, perpustakaan dengan pengelolaan yang profesional serta
laboratorium bahasa dan komputer.
4. lahan praktik, harus mampu memberikan kesempatan seluas luasnya dan
dapat memberikan bimbingan seoptimal mungkin dengan tenaga instruktur
yang profesional dan role model yang dapat membantu pencapaian
kompetensi (Depkes RI, (2003), Dasar dasar asuhan kebidanan, Jakarta).
Faktor yang mempengaruhi pendidikan menurut Hasbullah (2001) adalah
sebagai berikut :
1) Ideologi
Semua manusia dilahirkan ke dunia mempunyai hak yang sama
khususnya hak untuk mendapatkan pendidikan dan peningkatan
pengetahuan dan pendidikan.
2) Sosial Ekonomi
Semakin tinggi tingkat sosial ekonomi memungkinkan seseorang
mencapai tingkat pendidikan yang lebih tinggi.
3) Sosial Budaya
Masih banyak orang tua yang kurang menyadari akan
pentingnya pendidikan formal bagi anak-anaknya.
4) Perkembangan IPTEK
Perkembangan IPTEK menuntut untuk selalu memperbaharui
pengetahuan dan keterampilan agar tidak kalah dengan negara maju.
5) Psikologi

36

Konseptual

pendidikan

merupakan

alat

untuk

mengembangkan

kepribadian individu agar lebih bernilai.

5.

Kerangka Teoritis
Berdasarkan teori yang telah diuraikan maka dapat dijabarkan kerangka
teori tentang Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pengetahuan Bidan Tentang
VBAC adalah sebagai berikut :

Menurut Notoatmodjo
(2008)
-Informasi

Menurut Trijoko (2001)


-Pengalaman kerja

Faktor-Faktor Yang
Mempengaruhi
Pengetahuan Bidan
Tentang VBAC

Menurut Soekidjo
Notoatmodjo (2001)
-Pendidikan
Gambar 2.1 Kerangka Teoritis

37

BAB III
KERANGKA KONSEP

A. Kerangka Konsep Penelitian


Berdasarkan konsep penelitian pada dasarnya adalah hubungan antara
konsep-konsep yang ingin diamati atau diukur melalui penelitian-penelitian yang
akan dilakukan (Notoatmojo,2005). Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan
idan tentang VBAC adalah Informasi, pengalaman kerja dan pendidikan.
Berdasarkan konsep pemikiran diatas,maka variabel penelitian dapat
digambarkan sebagai berikut :

Variabel Independen

Variabel Dependen

Informasi

Pengalaman kerja

Pengetahuan Bidan
Tentang VBAC

Pendidikan

Gamabar 3. 1. Kerangka Konsep Penelitian

38

B . Definisi Operasional
Tabel 3.1 Definisi Operasional
Variabel

Definisi
Operasional

No

Cara
Ukur

Alat
Ukur

Hasil
Ukur

Skala
Ukur

-Baik
-Cukup
-Kurang

Ordinal

Membagikan Kuesioner
kuesioner
Dengan
kriteria :
-Sering jika
>50%
-Jarang
jika,< 50%

-Sering
-Jarang

Ordinal

Membagikan Kusioner
kuesioner
Dengan
kriteria :
-Lama jika, >
10 tahun
-Sedang jika,
5-10 tahun
-Baru jika, <
5 tahun

-Lama
-Baru

Ordinal

Variabel Dependen
1.

Pengetahuan Pengetahuan
bidan tentang adalah segala
VBAC
sesuatu yang
diketahui bidan
tentang VBAC.

Membagikan Kuesioner
kuesioner
dengan
kriteria :
-Baik, jika >
75%

-Cukup, jika
60-75%

-Rendah jika,
<60%

Variabel Independen
1.

Informasi

2.

Pengalaman
kerja

Informasi
merupakan
berita yang
didapatkan
bidan
tentang
segala sesuatu
yang
berhubungan
tentang VBAC.
Pengalaman
kerja
adalah
lamanya waktu
bidan
setelah
menyelesaikan
pendidikan
kebidanan.

39

3.

Pendidikan

Pendidikan
adalah
seseorang yang
telah lulus
mengikuti studi
kebidanan.

Membagikan Kuesioner
kuesioner
Dengan
kriteria :
-Tinggi bila
tamatan DIV
-Sedang bila
tamatan, DIII
-Kurang bila
tamatan, DI/PPBA

-Tinggi
-Sedang
-Rendah

C. Hipotesa Penelitian
1. Ha

: Ada pengaruh antara informasi terhadap Pengetahuan Bidan


tentang VBAC di Wilayah Kerja Puskesmas Kuta Baro Aceh Besar
Tahun 2013.

2. Ha

: Ada pengaruh antara pengalaman kerja terhadap Pengetahuan


Bidan tentang VBAC Di Wilayah Kerja Puskesmas Kuta Baro Aceh
Besar Tahun 2013.

3. Ha

: Ada pengaruh antara pendidikan terhadap Pengetahuan Bidan


tentang VBAC Di Wilayah Kerja Puskesmas Kuta Baro Aceh Besar
Tahun 2013.

Ordinal

40

BAB IV
METODOLOGI PENELITIAN

A. Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian yang bersifat Analitik dimana variabel
penelitian berhubungan dengan hasil penelitian, yang di lakukan dengan desain
crossectional, dimana variabel independen dan variabel dependen di teliti secara
berhubungan.
B. Populasi dan Sampel
1. Populasi
Populasi adalah jumlah seluruh responden yang ada pada tempat
penelitian. Dalam penelitian ini populasinya adalah Bidan Puskesmas Kuta Baro
Aceh Besar Tahun 2013 yang jumlah keseluruhannya adalah 57 orang bidan (28
Januari- 12 Juli Tahun 2013)
2. Sampel
Menurut Notoatmodjo (2002) sampel adalah bagian yang diambil dari
keseluruhan objek yang diteliti dan dianggap mewakili seluruh populasi. Yang
akan menjadi sampel dalam penelitian ini adalah total populasi yaitu seluruh
populasi dijadikan sampel yaitu 57 orang bidan.
C. Tempat dan Waktu Penelitian
1.

Tempat Penelitian
Penelitian dilaksanakan di Puskesmas Kuta Baro Aceh Besar Tahun 2013

41

2.

Waktu Penelitian
Penelitian telah di laksanakan pada tanggal 8 juli 2013 sampai dengan 12

juli 2013.

D. Teknik Pengumpulan Data


1. Data Primer
Data primer yaitu data yang diperoleh langsung dari responden melalui
penyebaran kuesioner penelitian yang berhubungan dengan pengetahuan bidan
terhadap VBAC dan penatalaksana.
2. Data Sekunder
Data sekunder diperoleh dari Puskesmas Kuta Baro Aceh Besar Tahun
2013 dan berbagai revisi yang berhubungan dengan penelitian ini .

E. Pengolahan Data
1. Pengolahan data
Dalam proses pengolahan data terdapat langkah langkah yang harus
ditempuh, diantaranya (Hidayat, 2009).
a) Editing
Adalah upaya untuk memeriksa kembali kebenaran data yang
diperoleh atau dikumpulkan.
b) Coding
Adalah merupakan kegiatan pemberian kode numerik(angka)terhadap
data yang terdiri atas beberapa kategori.

42

c) Transfering
Dimana data yang diberi kode disusun secara berturut turut dari
responden pertama sampai responden terakhir untuk dimasukkan kedalam
tabel.
d) Tabulating
Yaitu data yang diperoleh dari hasil kuesioner yang telah diolah dan
dipindahkan kedalam tabel untuk masing masing tabel dan untuk masing
masing variabel.

F. Analisis Data
1. Analisis Univariat
Univariat dilakukan terhadap tiap variabel dari hasil penelitian.
Umumnya dalam analisis ini hanya menghasilkan distribusi dan persentase dari
setiap variabel (Notoadmodjo 2005). Pengkatagorian masing-masing variabel
dependen dan independen dilakukan dengan menetukan mean / rata-rata (x)
dengan menggunakan rumus yaitu:
=
Ket:

: nilai rata-rata
x

: jumlah nilai responden


: jumlah responden

43

Setelah diolah, selanjutnya data yang telah dimasukkan kedalam table


distribusi frekuensi ditentukan presentasi perolehan ( p ) untuk tiap-tiap kategori
dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
P=
Keterangan:
P

: Persentase

fi

: frekuensi yang teramati

: Populasi

2. Analisa Bivariat
Analisa bivariat merupakan analisa hasil dari variabel bebas diduga
mempunyai hubungan dengan variabel terikat. Analisa yang digunakan adalah
hasil tabulasi silang. Untuk menguji hipotesa dilakukan analisa statistik dengan
uji Chi square test (x) pada tingkat kemaknaan 95% ( p. Value < 0,05).
Sehingga dapat diketahui perbedaan tidaknya yang bermakna secara statistik,
dengan menggunakan program khusus SPSS for windows. Melalui perhitungan
Chis Square selanjutnya ditarik suatu kesimpulan, bila nilai P lebih kecil dari
nilai (0,05), maka Ho ditolak dan Ha diterima, yang menunjukkan ada
hubungan bermakna antara variabel terikat dengan variabel bebas.
Perhitungan yang digunakan pada uji Chi Square untuk Program
komputerisasi seperti program SPSS adalah sebagai berikut(Hartono, 2005) :
a) Bila pada tabel contingensy 2x2 dijumpai nilai e (harapan) kurang dari
5,maka uji yang digunakan adalah fisher axact tes.

44

b) Bila pada tabel contigency 2x2 dan tidak dijumpai nilai e(harapan)kurang
dari 5, maka hasil uji yang digunakan adalah contiuty correction.
c) Bila pada tabel 2x2 masih juga terdapat frekuensi(harapan) e kurang dari 5,
maka dilakukan koreksi dengan menggunakan rumus yates correction
continu.
d) Pada uji chi-square hanya digunakan untuk mengetahui ada tidaknya
hubungan tiga variabel.

45

BAB V
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian


Kecamatan Kuta Baro Merupakan salah satu daerah dengan ibu kota lambaro
bileu yang terletak di kabupaten Aceh Besar dengan jumlah 47 Desa dan jumlah
penduduk 4130 jiwa, yang dibagi kedalam 5 Mukim dengan luas 83.81Km2 (8,381
Ha).
Batasan Wilayah Kecamatan Kota Baro adalah sebagai berikut :
1. Sebelah Utara berbatasan dengan kecamatan Darussalam
2. Sebelah Barat berbatasan dengan kecamatan Krung Barona Jaya
3. Sebelah Timur berbatasan dengan kecamatan Blang Bintang dan kecamatan
Mesjid Raya
4. Sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Ingin Jaya dan Blang Bintang.
B. Hasil Penelitian
Berdasarkan hasil penelitian yang peneliti lakukan mulai dari tanggal 7
sampai dengan 18 Juli 2013 pada Puskesmas Kuta Baro Aceh Besar sebagai
berikut :

46

1. Analisa Univariat
a. Pengetahuan
Tabel 5.1
Distribusi Frekuensi Faktor Faktor Yang Mempengaruhi
Pengetahuan Bidan Tentang VBAC di Wilayah
Kerja Puskesmas Kuta Baro Aceh Besar
No
1
2
3

Pengetahuan
Baik
Cukup
Kurang
Total

Frekuensi
15
17
25
57

%
26,3
29,8
43,9
100

Sumber Data Primer diolah Tahun 2013

Berdasarkan tabel 5.1 diatas diketahui bahwa dari 57 responden


yang pengetahuannya berada dalam kategori kurang sebanyak 25 orang
(43,9%).
b. Informasi
Tabel 5.2
Distribusi Frekuensi Faktor Faktor Yang Mempengaruhi
Informasi Bidan Tentang VBAC di Wilayah
Kerja Puskesmas Kuta Baro Aceh Besar
No

1
2

Informasi
Sering
Jarang
Total

Frekuensi
21
36
57

%
36,8
63,2
100

Sumber Data Primer diolah Tahun 2013

Berdasarkan tabel 5.2 diatas diketahui bahwa dari 57


responden yang Informasinya berada dalam kategori jarang
sebanyak 36 orang (63,2%).

47

c. Pengalaman Kerja
Tabel 5.3
Distribusi Frekuensi Faktor Faktor Yang Mempengaruhi
Pengalaman Kerja Bidan Tentang VBAC di Wilayah
Kerja Puskesmas Kuta Baro Aceh Besar
No

Pengalaman Kerja

Frekuensi

Lama

36

63,2

Baru

21

36,8

Total

57

100

Sumber Data Primer diolah Tahun 2013

Berdasarkan tabel 5.3 diatas diketahui bahwa dari 57


responden pengalaman kerjanya berada dalam kategori lama
sebanyak 36 orang (63,2%) .
d. Pendidikan
Tabel 5.4
Distribusi Frekuensi Faktor Faktor Yang Mempengaruhi
Pendidikan Bidan Tentang VBAC di Wilayah
Kerja Puskesmas Kuta Baro Aceh Besar
No
1
2
3

Pendidikan
Tinggi
Sedang
Rendah
Total

Frekuensi
11
25
21
57

%
19,3
43,9
36,8
100

Sumber Data Primer diolah Tahun 2013

Berdasarkan 5.4 tabel diatas diketahui bahwa dari 57 responde


n yang pendidikannya berada dalam kategori sedang sebanyak 25
orang (43,9%).

48

2. Analisa Bivariat
a. Hubungan Informasi dengan Pengetahuan VBAC
Tabel 5.5
Hubungan Informasi Mempengaruhi Pengetahuan Bidan Tentang VBAC di
Wilayah Kerja Puskesmas Kuta Baro Aceh Besar
Informasi

Sering
Jarang
Total

Kurang
f
%
4
19.0

Pengetahuan
Cukup
Baik
f
%
f
%
6 28.6 11 52,4

21
25

11
17

58,3
43,9

Total
F
%
21
100

30,6

11,1

36

100

29,8

15

26,3

57

100

pvalue

0,001

Sumber Data Primer diolah Tahun 2013

Berdasarkan tabel 5.5 diatas diketahui bahwa dari 36 responden yang


informasinya sering ternyata pengetahuan berada dalam kategori kurang
sebanyak

21

orang

(58,3%),

yang

Informasinya

jarang

ternyata

pengetahuannya berada dalam kategori kurang sebanyak 21 orang (58,3%).


Hasil uji statistik didapatkan nilai pvalue 0,001 berarti ada pengaruh
antara informasi terhadap pengetahuan tentang VBAC di Puskesmas Kuta
Baro Aceh Besar.
b. Hubungan Pengalaman Kerja dengan Pengetahuan VBAC
Tabel 5.6
Hubungan Pegelaman Kerja Mempengaruhi Pengetahuan Bidan Tentang
VBAC di Wilayah Kerja Puskesmas Kuta Baro Aceh Besar
Pengalaman
kerja
Baru
Lama
Total

Kurang
f
%
16 76,2

Pengetahuan
Cukup
Baik
f
%
f
%
4
19,0
1
4,8

25,0

13

36,1

25

43,9

17

29,8

14
15

38,9
26,3

Total
F
%
21
100
36
57

100

Pvalue

0,001

100

Sumber Data Primer diolah Tahun 2013

Berdasarkan tabel diatas diketahui bahwa dari 36 responden yang Pengalaman


kerjanya dalam katergori baru ternyata pengetahuannya berada dalam kategori

49

kurang sebanyak 14 orang (38,9%), dari 21 responden yang pengalaman kerjanya


lama ternyata 16 orang (76,2%) pengetahuannya kurang.
Hasil uji statistik didapatkan nilai pvalue 0,001 berarti ada pengaruh antara
pengalaman kerja terhadap pengetahuan tentang VBAC di Puskesmas Kuta Baro
Aceh Besar.
c. Hubungan Pendidikan dengan Pengetahuan VBAC
Tabel 5.7
Hubungan Pendidikan Mempengaruhi Pengetahuan Bidan Tentang VBAC di
Wilayah Kerja Puskesmas Kuta Baro Aceh Besar
Pendidikan

Tinggi
Sedang

Kurang
f
%
2
18,2
9
36,0

Pengetahuan
Cukup
Baik
f
%
f
%
2
18,2
7
63,6
10 40,0
6
24,0

Total
F
%
11
100
25
100

Rendah

14

66,7

23,8

9,5

21

100

Total

25

43,9

17

29,8

15

26,3

57

100

pvalue

0,019

Sumber Data Sekunder diolah Tahun 2013

Berdasarkan tabel 5.7 diatas diketahui bahwa dari 25 responden yang


pendidikan berada pada kategori sedang ternyata pengetahuannya juga rendah
sebanyak 9 orang (36,0%), dari 21 responden yang pendidikannya sedang
ternyata pengetahuannya berada dalam katergori kurang sebanyaak 14 orang
(66,7).
Hasil uji statistik didapatkan nilai pvalue 0,019 berarti ada pengaruh antara
pendidikan terhadap pengetahuan tentang VBAC.

C. Pembahasan
1.

Pengaruh informasi terhadap pengetahuan VBAC

50

Berdasarkan tabel 5.5 diatas diketahui bahwa dari 36 responden yang


informasinya sering ternyata pengetahuan berada dalam kategori kurang
sebanyak

21

orang

(58,3%),

yang

Informasinya

jarang

ternyata

pengetahuannya berada dalam kategori kurang sebanyak 21 orang (58,3%).


Hasil uji statistik didapatkan nilai pvalue 0,001 berarti ada pengaruh
antara informasi terhadap pengetahuan tentang VBAC di Puskesmas Kuta
Baro Aceh Besar.
Penelitian ini sesuai dengan teori likehood (2005), Informasi mempunyai
manfaat

dan

peranan

yang

sangat

dominan

dalam

suatu

organisasi/perusahaan. Tanpa adanya suatu informasi dalam suatu organisasi,


para manajer tidak dapat bekerja dengan efisien dan efektif. Tanpa
tersedianya informasi pun para manajer tidak dapat mengambil keputusan
dengan cepat dan mencapai tujuan dengan efektif dan efisien. Sehingga bisa
dibilang bahwa informasi merupakan sebuah keterangan yang bermanfaat
untuk para pengambil keputusan dalam rangka mencapai tujuan organisasi
yang sudah ditetapkan sebelumnya.
Menurut hasil penelitian Ningsing (2006), faktor faktor yang
mempengaruhi perkembangan kinerja tenaga kesehatan di Rumah Sakit
Bunda Kasih jawa timur, mengatakan ada pengaruh antara informasi dengan
perkembangan kinerja tenaga kesehatan dengan p value 0,000. Peneliti
berasumsi bahwa pendapat yang dikemukakan di atas sesuai dengan
kenyataan

karena

pada

saat

peneliti

melakukan

penelitian,peneliti

menemukan bahwa ada pengaruh informasi terhadap pengetahuan tentang

51

VBAC dimana banyak informasi yang di dapatkan dari pelatihan, internet,


buku, koran, majalah dll oleh bidan di puskesmas kuta baro aceh besar..
2. Pengaruh Pengalaman kerja terhadap pengetahuan VBAC
Berdasarkan tabel diatas diketahui bahwa dari 36 responden yang
Pengalaman kerjanya dalam katergori baru ternyata pengetahuannya berada
dalam kategori kurang sebanyak 14 orang (38,9%), dari 13 responden yang
pengalaman kerjanya lama ternyata 16 orang (76,2%) pengetahuannya kurang.
Hasil uji statistik didapatkan nilai pvalue 0,001 berarti ada pengaruh antara
pengalaman kerja terhadap pengetahuan tentang VBAC di Puskesmas Kuta Baro
Aceh Besar.
Penelitian ini sesuai dengan teori Nugroho (2008). Pengalaman kerja adalah
suatu kejadian yang didasari oleh aktivitas yang menjadi rutinitas sehari hari
dalam melaksanakan tugas
Menurut penelitian setiobudi (2011), faktor kinerja dalam skiil tenaga
kesehatan di puskesmas malang, mengatakan bahwa pengelaman kerja dapat
mempengaruhi skiil seseorang dalam berorganisasi maupun pelayanan dengan p
value 0,03.
Peneliti berasumsi bahwa pendapat yang dikemukakan di atas sesuai dengan
kenyataan karena pada saat peneliti melakukan penelitian,peneliti menemukan
bahwa ada pengaruh pengalaman kerja terhadap pengetahuan tentang VBAC
karena banyak tenaga kesehatan yang sudah lama bekerja di puskesmas kuta
baro aceh besar mengetahui tentang persalinan VBAC itu sendiri yaitu

52

pengalaman dari menangani kasus persalinan yang di dapatkan dari dilahan


tempat mereka bekerja.

3. Hubungan pendidikan dengan pengetahuan VBAC


Berdasarkan tabel 5.7 diatas diketahui bahwa dari 25 responden yang
pendidikan berada pada kategori sedang ternyata pengetahuannya juga rendah
sebanyak 9 orang (36,0%), dari 21 responden yang pendidikannya sedang
ternyata pengetahuannya berada dalam katergori kurang sebanyaak 14 orang
(66,7).
Hasil uji statistik didapatkan nilai pvalue 0,019 berarti ada pengaruh antara
pendidikan terhadap pengetahuan tentang VBAC.
Penelitian ini sesuai dengan teori H. Horne (2011), pendidikan adalah proses
yang terus menerus (abadi) dari penyesuaian yang lebih tinggi bagi makhluk
manusia yang telah berkembang secara fisik dan mental, yang bebas dan sadar
kepada tuhan, seperti termanifestasi dalam alam sekitar intelektual, emosional
dan kemanusiaan dari manusia. Dan akan memiliki rasa ingin tahu dan
mengikuti perkembangan perkembangan ilmu dunia.
Menurut hasil penelitian james hold (2005), dalam judul Vaginal Birth After
ceasear section for women with three or more, menjelaskan bahwa pendidikan
sangat berhubungan dengan pengetahuan VBAC, karena dengan kurangnya
pendidikan maka pengetahuan yang diterima juga kurang dengan p value 0,02.
Peneliti berasumsi bahwa pendapat yang dikemukakan di atas sesuai dengan
kenyataan karena pada saat peneliti melakukan penelitian,peneliti menemukan

53

bahwa ada pengaruh pendidikan terhadap pengetahuan tentang VBAC kerena


pada dasarnya pendidikan sangat erat hubungannya dengan pengetahuan dimana
seseorang yang berpendidikan lebih tinggi maka pengetahuan yang ia miliki
lebih banyak dan dilihat dari bidan yang ada di puskesmas kuta baro aceh besar
banyak yang mengetahui tentang VBAC.

54

BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
1. Ada pengaruh antara informasi terhadap pengetahuan VABC dengan nilai p
value 0,001
2. Ada pengaruh antara pengalaman kerja terhadap pengetahuan VBAC
dengan nilai p value 0,001
3. Ada pengaruh antara pendidikan terhadap pengetahuan VBAC dengan nilai
p value 0,019
B. Saran
1. Peneliti
Diharapkan dapat melakukan supervise kepada petugas kesehatan supaya
berperan aktif dalam memberikan informasi yang benar seluas-luasnya
kepada masyarakat mengenai persalinan VBAC.
2. Tempat Penelitian
Di harapkan penelitian ini dapat memberikan informasi pada istansi terkait
mengenai persalinan VBAC.
3. Responden
Diharapkan dapat meningkatkan kinerja dalam pengupayakan tentang
bagaimana mengenai persalinan VBAC.
4. Institusi Pendidikan

55

Diharapkan dapat menjadi informasi dan menambah perbendaharaan


perpustakaan dan dijadikan pedoman bagi pengembangan proses belajar
mengajar khususnya ketika mahasiswa berada di lapangan.

56

DAFTAR PUSTAKA

American College, (1999) dan (2004), Obstetrics and Gynecology Vaginal Birth
after Previous Sesarean Delivery, diakses tanggal 15 januari 2013,
http://www. Obstetrics and Gynecology.com
Carrol, (2001), anaesthesia technique for caesarea section, diakses tanggal 15
januari 2013, http://www. anaesthesia technique for caesarea
section.com
Caughey, (2001), Vaginal Birth after caesarean delivery, diakses tanggal 15 januari
2013, http ://emedicine.medscape.com/article/272187-overview.
,(2011), Predictive Score for vaginal birth after cesarean section,
diakses
tanggal
15
januari
2013,
http
://emedicine.medscape.com/article/272187-overview.
Chueng, (2004), Anatomi Tubuh Manusia. Jakarta : Graha Ilmu.
Cunningham, (2004), Vaginal Birth after cesarian delivery, diakses tanggal 15
januari 2013, http: //www.emedicine.com/med/topic/3434.htm.
Flamm, (2007), Vaginal birth after cesarean delivery, diakses tanggal l5 januari
2013, http://emedicine.medscape.com/article/272187-overview.
, (2003), Vaginal birth after cesarean delivery, diakses tanggal 15
februari 2013, http: // admission scoring system. Obstet Gynecol.com
Farmakides, (2003), Caesarean section rates skyrocket in Brazil. Many women are
opting for Caesareans in the belief that it is a practical solution,
diakses tanggal 15 januari 2013, http://www.obgyn.net.com.
GoldberG, (2000), Vaginal Birth after Cesarean, diakses tanggal 15 januari 2013,
http://obgyn.net/displayarticle.asp?page=/pb/articles/vbac.
, (2000), Vaginal Birth after Cesarean, diakses tanggal 15 februari
2013, http:// Obstetrics & Gynecologist.com

Hill, (2002), Issues and Procedures in Women's Health Vaginal Birth After
Cesarean,
diakses
tanggal
15
januari
2013,
http://emedicine.medscape.com/article/272187-overview.
, (2002), Women's Health Vaginal Birth After Cesarean, diakses
tanggal 15 januari 2013, http://www.obgyn.net.com

57

Jamelle, ( 2001), Uterine rupture during VBAC trial of labor, risk factor and fetal
response. Journal of midwifery and womens health, diakses tanggal
15 januari 2013, http://www.kompas.com.
Jukelevis, (2000), Caesarean sections at Queen Alia Military Hospital, Jordan,
diakses
tanggal
15
januari
2013,
http://consensus.nih.gov/2000/vbac.html
Kirk, (2003), Induksi VBAC, Resiko terhadap maternal, diakses pada tanggal 15
januari 2013, http://www.induksi vbac.com
Landon, (2004), Maternal and Perinatal Outcomes Associated with a Trial of Labor
after Prior Cesarean Delivery, diakses tanggal 15 januari 2013,
http://emedicine.medscape.com/article/272187-overview.
NIH Consensus Development Conference Statement, (2010), Vaginal delivery after
previous cesarean delivery, diakses tanggal 15 februari 2013,
http://www.Clinical obstetric and gynecology.com
Notoatmodjo, (2003), ilmu kesehatan masyarakat, Jakarta, Rineka Cipta
Raymond, (2004), factor-faktor yang berhubungan dengan vbac,diakses tanggal 15
januari 2013,http://www.obstetry.net.com
Robins,

(2000), interpersonal skill, diakses


http://www.pengertian skill.com

tanggal

15

februari

2013,

Salzmann, (2003), indikasi operasi pada seksio sesarea yang lalu, diakses tanggal 15
februari
2013,
http://www.nice.org.uk/nicemedia/pdf/CG013NICEguideline
Sarwono Prawirohardjo. 2010. Ilmu Kebidanan. Edisi 4. Jakarta : P.T Bina
Schmitz, (2001), ginekology obstetry seksio sesarea, diakses tanggal 15 januari 2013,
http://www.ginekologi.co.com
,(2004),Obstetrics and Gynecology (ACOG) Practice Bulletin,
diakses tanggal 5 februari 2013,http://www. Obstetrics and
Gynecology.com
Soekidjo (2001), pengertian pendidikan, diakses tanggal 27 maret 2013, http://www.
Pengertian pendidikan menuryt para ahli. com
Srinivas, (2007), Manajemen Seksio Sesarea Emergens,diakses tanggal 15 februari
2013, http//www.Obstetrics & Gynecologist.com
Trijoko, (2001), pengalaman kerja, diakses
http://www.pengartian pengalaman kerja.com

tanggal

27

maret

2013,

58

WHO, (2010), The Millennium Development Goals for Health: A Review of the
Indicators, Jakarta, disadur oleh Pusat Data Depertemen Kesehatan RI
Wiknjosastro, (2002), teori vbac, diakses tanggal 15 februari 2013, http://Obstet
Gynecol.com
(2005), teori vbac,diakses tanggal 15 februari 2013,http:// Obstet
Gynecol.com