Anda di halaman 1dari 30

BAB II

TINGKAT PENDIDIKAN, TINGKAT PENDAPATAN DAN


MINAT MENYEKOLAHKAN ANAK
A. Deskripsi Teori
1. Tingkat Pendidikan
a. Pengertian Pendidikan
Batasan pengertian pendidikan yang dikemukakan oleh para
ahli tergantung dari sudut pandang yang dipergunakan dalam
memberi arti pendidikan. Sudut pandang ini dapat bersumber dari
aliran falsafah, pandangan hidup ataupun ilmu-ilmu pengetahuan
yang berkaitan dengan tingkah laku manusia. Dalam UU RI No. 20
Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional, pendidikan adalah
usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan
proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan
potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan,
pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta
ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.1
Crow and Crow, mendefinisikan pendidikan adalah proses
yang berisi berbagai macam kegiatan yang sesuai dengan kegiatan
seseorang untuk kehidupan sosialnya dan membantunya meneruskan
kebiasaan dan kebudayaan, serta kelembagaan sosial dari generasi ke
generasi.2
Sedangkan menurut Frederick J. Mc. Donald disebutkan
education is the sense used here, in a process or an activity
which

is

directed at producing desirable changes in the behavior of


human

UU RI NO.
20 Tahun 2003, Sistem Pendidikan Nasional dan Penjelasannya,
(Semarang: Aneka Ilmu, 2003), hlm. 3.
2
H. Zahara Idris dan H. Lisma Jamal, Pengantar Pendidikan, (Jakarta: Grasindo, 1995),
hlm. 2.
1

8
beings.3 Artinya pendidikan yang dimaksudkan di sini adalah proses atau
aktivitas yang mengarah pada perubahan perilaku manusia.
Ahmad D. Marimba mendefinisikan pendidikan adalah
bimbingan atau pimpinan secara sadar oleh si pendidik terhadap
perkembangan jasmani dan rohani si terdidik menuju terbentuknya
kepribadian yang utama atau insan kamil.4
Senada dengan pendapat di atas, pengertian yang
diungkapkan oleh Syeh Musthofa al-Gulayani dalam kitab Idhatun
Nasyi`in adalah

Artinya: Pendidikan adalah menanamkan akhlak yang mulia dalam


jiwa murid serta menyiraminya dengan petunjuk dan
nasehat, sehingga menjadi kecenderungan jiwa yang
membuahkan keutamaan, kebaikan serta cinta bekerja yang
berguna bagi tanah air.
Demikian beberapa pendapat tentang pendidikan, dari
beberapa definisi di atas dapat penulis simpulkan bahwa pendidikan
adalah:
1) Suatu pengarahan atau bimbingan yang diberikan kepada anak
dalam pertumbuhannya.
2) Suatu usaha sadar untuk menciptakan suatu keadaan atau situasi
tentang yang dikehendaki oleh masyarakat.
3) Suatu pembentukan kepribadian dan kemampuan anak menuju
kedewasaan.
4) Suatu bimbingan yang berperan untuk membentuk insan kamil.

3
Frederick J. Mc. Donald, Educational Psychology, (Tokyo: Wadsworth Publishing
Company, Inc. San Fransisco, 1959), hlm. 4.
4
Ahmad D. Marimba, Pengantar Filsafat Pendidikan Islam, (Bandung: al-Maarif,
1984), hlm. 20.
5
Musthafa al-Ghulayani, Idhah al-Nasihin, (Pekalongan: Rajamurah, 1953), hlm. 189.

9
b. Hakekat Pendidikan
Setelah kita mengetahui beberapa definisi pendidikan di atas,
maka kita akan mengetahui apa sebenarnya hakekat pendidikan itu.
Hakekat pendidikan adalah usaha orang dewasa secara sadar untuk
membimbing dan mengembangkan kepribadian serta kemampuan
dasar anak didik baik dalam bentuk pendidikan formil dan non
formil.6
Menurut T. Raka Soni, hakekat pendidikan adalah:
1) Pendidikan merupakan proses interaksi manusia yang ditandai
oleh keseimbangan kedaulatan subjek didik dengan kewibawaan
pendidik.
2) Pendidikan merupakan usaha penyiapan subjek didik menghadapi
lingkungan hidup yang mengalami perubahan yang semakin pesat.
3) Pendidikan meningkatkan kualitas kehidupan pribadi yang
semakin pesat.
4) Pendidikan berlangsung seumur hidup.
5) Pendidikan merupakan kiat dalam menerapkan prinsip IPTEK
bagi pembentukan manusia seutuhnya.7
Jadi, pendidikan pada hakekatnya merupakan suatu proses
interaksi antara pendidik dan peserta didik dalam rangka untuk
mencapai

suatu

tujuan

yaitu

pembentukan kepribadian dan

kedewasaan yang berlangsung seumur hidup.


c. Fungsi Pendidikan
Berbicara tentang fungsi pendidikan memang banyak pendapat yang
berbeda dalam merumuskannya, di antaranya adalah Achmadi, yang
merumuskan fungsi pendidikan sebagai berikut:
1) Mengembangkan wawasan subjek didik mengenai dirinya dan
alam sekitarnya sehingga dengannya akan timbul kreatifitasnya.

H.M. Arifin, Hubungan Timbal Balik Pendidikan Agama di Lingkungan Sekolah


dan Keluarga, (Jakarta: Bulan Bintang, 1978), hlm. 14.
7
H. Zahara Idris dan H. Lisma Jamal, op. cit., hlm. 1.
6

10
2) Melestarikan nilai-nilai insani yang akan menuntun jalan
kehidupannnya sehingga keberadaannya baik secara individual
maupun sosial lebih bermakna.
3) Membuka pintu ilmu pengetahuan dan ketrampilan yang sangat
bermanfaat bagi kelangsungan dan kemajuan hidup individual
maupun sosial.8
Selain itu, seorang ahli sosiologi pendidikan, Ballantine
menekankan bahwa fungsi pendidikan adalah identik dan sejalan
dengan proses perubahan melalui proses sosialisasi, seleksi, latihan,
penempatan individu dalam posisi tertentu dalam masyarakat, inovasi serta
pengembangan personal dan sosial.9
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pendidikan di
samping dapat memberikan wawasan tentang pengetahuan kepada
peserta didik juga dapat menentukan atau meningkatkan status sosial
ekonomi peserta didik. Artinya, bahwa seseorang yang mendapatkan
pendidikan lebih tinggi, akan lebih tinggi pula status sosial
ekonominya dalam kehidupan masyarakat. Karena dengan bekal yang
telah diperoleh seseorang dari lembaga pendidikan yang pernah
dimasuki secara tidak langsung dapat membuka pintu ilmu
pengetahuan dan ketrampilan yang sangat bermanfaat bagi
kelangsungan

hidup

individual

maupun

sosial

sebagaimana

ditegaskan dalam QS. Al-Mujadilah ayat 11:

(11 : )

Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu:


"Berlapang-lapanglah dalam majelis", maka lapangkanlah,
niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila
dikatakan: "Berdirilah kamu, maka berdirilah, niscaya Allah akan
meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang8

Achmadi, Islam sebagai Paradigma Ilmu Pengetahuan, (Semarang: Aditya Media,


1992), hlm. 23.
9
Suyanto dan Djihad Hisyam, Refleksi dan Reformasi Pendidikan di Indonesia
Memasuki Milenium III, (Yogyakarta: Adicita Karya Nusa, 2000), hlm. 212.

11
orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah
Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Mujadilah:
11)10
Dari ayat di atas menunjukkan betapa sangat mulianya orangorang yang mempunyai ilmu pengetahuan di sisi Allah. Sedangkan
waktu di dunia saja dapat dirasakan kemuliaan itu. Jadi orang-orang
yang mempunyai ilmu pengetahuan dan dapat memanfaatkannya,
maka Allah akan memberikan kemudahan baik di dunia maupun di
akhirat.
d. Tujuan Pendidikan
Pendidikan

adalah suatu

kegiatan yang dilaksanakan

untuk

mencapai tujuan tertentu.11 Secara umum, tujuan pendidikan dapat


dikatakan membawa anak ke arah tingkat kedewasaan. Artinya,
membawa anak didik agar dapat berdiri sendiri (mandiri) di dalam
hidupnya di tengah-tengah masyarakat.12
Sedangkan tujuan pendidikan yang berlangsung di Indonesia
mengacu kepada potensi perserta didik agar menjadi manusia yang
beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia,
sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang
demokratis serta bertanggung jawab.13
Al-Ghazali merumuskan tujuan pendidikan sebagai berikut:
a. Aspek keilmuan, yang mengantarkan manusia agar senang
berpikir, menggalakkan penelitian dan mengembangkan ilmu
pengetahuan menjadi manusia yang cerdas dan terampil.
b. Aspek kerohaniaan, yang mengantarkan manusia agar berakhlak
mulia, berbudi luhur dan berkepribadian kuat.

Soenarjo, dkk., Al-Quran dan Terjemahnya, (Semarang: Toha Putra, 1989), hlm. 910.
Suryosubroto, Beberapa Aspek Dasar-dasar Kependidikan, (Jakarta: Rineka Cipta,
1990), hlm. 24.
12
Ibid. Hlm. 18.
13
UU RI. No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, (Semarang: Aneka
Ilmu, 2003), hlm. 6.
10
11

12
c. Aspek ketuhanan, yang mengantarkan manusia beragama agar
dapat mencapai kebahagiaan di dunia dan di akhirat.14
Selain itu, Iqbal menekankan bahwa tujuan pokok pendidikan
adalah penanaman agama dan ideologi. Pelajar harus diajarkan makna
dan tujuan hidup, kedudukan manusia di dunia, ajaran tauhid,
kenabiaan dan tentang akhirat. Mereka harus diajar untuk bertanggung
jawab terhadap kehidupan individu dan sosial, nilaai moral Islam, ciri
dan isi kebudayaan Islam, kewajiban dan misi orang Islam.15
Dari beberapa pendapat di atas, tentang tujuan pendidikan dapat
penulis simpulkan, bahwa pada hakikatnya tujuan pendidikan adalah
pemindahan pengetahuan dan nilai demi terbentuknya kepribadian
yang akhirnya dapat mewujudkan tujuan hidup, yaitu mengabdi agar
menjadi manusia yang sempurna, yang berhasil di dunia dan di akhirat.
Hal ini secara tegas telah dijelaskan dalam surat Adz-Dzaariyaat ayat
56 sebagai berikut:

(56 : )
Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya
mereka menyembah-Ku. (QS. ad-Dzariyah: 56)16
Dari ayat di atas, dapat dikatakan bahwa Allah SWT.
Menciptakan manusia itu tidak semata-mata karena kekuasaannya, akan
tetapi juga ada tanggung jawab yang harus dikerjakan oleh manusia,
yaitu mengabdi. Dalam hal ini tidak hanya beribadah seperti shalat, zakat,
puasa dan lain sebagainya, akan tetapi juga termasuk mencari ilmu, yaitu
lewat pendidikan.

14

Zainudin, Seluk Beluk Pendidikan Dari al-Ghazali, (Jakarta: Bumi Aksara, 1991), hlm.

48-49.
15
Khursyid Ahmad, Prinsip-prinsip Pendidikan Islam, (Surabaya: Pustaka Progressif,
1992), hlm. 30.
16
Soenarjo dkk., op. cit., hlm. 862.

13
e. Tingkat Pendidikan
Tingkat pendidikan atau sering disebut dengan jenjang
pendidkan adalah tahapan pendidikan yang ditetapkan berdasarkan
tingkat perkembangan peserta didik, tujuan yang akan dicapai dan
kemampuan yang dikembangkan.17 Jenjang pendidikan formal terdiri
dari pendidikan dasar, pendidikan menengah dan pendidikan tinggi. 18
1) Pendidikan Dasar
Pendidikan dasar adalah pendidikan umum yang lamanya
sembilan tahun, diselenggarakan selama enam tahun di sekolah
dasar dan tiga tahun di sekolah lanjutan tingkat pertama atau satuan
pendidikan yang sederajat.19 Pendidikan dasar merupakan jenjang
pendidikan yang melandasi jenjang pendidikan menengah.
Pendidikan dasar berbentuk Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah
Ibtidaiyah (MI) atau bentuk lain yang sederajat serta Sekolah
Menengah Pertama (SMP) dan Madrasah Tsanawiyah (MTs.) atau
bentuk lain yang sederajat.20
2) Pendidikan Menengah
Pendidikan

menengah

diselenggarakan bagi lulusan

adalah

pendidikan

yang

pendidikan dasar yang

mengutamakan perluasan dan peningkatan ketrampilan siswa. 21


Pengembangan pendidikan menengah sebagai lanjutan pendidikan
dasar di sekolah ditingkatkan agar mampu membentuk pribadi
manusia yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha
Esa dan berbudi pekerti luhur serta untuk memenuhi kebutuhan
pembangunan yang memerlukan tenaga berkemampuan dan
berketrampilan. Perlu diadakan penyesuaian kurikulum dan isi
17

UU RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, (Semarang: Aneka Ilmu,
2003), hlm. 3.
18
Ibid., hlm. 10.
19
Hadari Nawawi dan Mimi Martini, Kebijakan Pendidikan di Indonesia Ditinjau
dari Sudut Hukum, (Yogyakarta: Gajahmada University Press, 1994), hlm. 107.
20
UU RI no. 20 Tahun 2003, op. cit., hlm. 10-11.
21
Hadari Nawawi dan Mimi Martini, Kebijakan Pendidikan Di Indonesia Ditinjau
Dari Sudut Hukum, (Yogyakarta: Gajahmada University Press, 1994), hlm. 136.

14
pendidikannya serta penataan kelembagaan pendidikan menengah,
termasuk pendidikan kejuruan yang merupakan pembekalan untuk
pendidikan tinggi atau bekal hidup dalam masyarakat. 22 Pendidikan
menengah terdiri dari pendidikan menengah umum, pendidikan
menengah kejuruan. Pendidikan menengah berbentuk sekolah atas
(SMA), Madrasah Aliyah (MA) Sekolah Menengah Kejuruan
(SMK) dan Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK) atau bentuk lain yang
sederajat.23
Dalam penyelenggaraan pendidikan menengah, tentu ada
maksud dan tujuan yang akan dicapai. Tujuan pendidikan
menengah tersebut adalah sebagai berikut:
a) Meningkatkan pengetahuan siswa untuk melanjutkan
pendidikan pada jenjang yang lebih tinggi dan untuk
mengembangkan diri sejalan dengan perkembangan ilmu
pengetahuan, teknologi dan kesenian.
b) Meningkatkan kemampuan siswa sebagai anggota masyarakat
dalam mengadakan hubungan timbal balik dengan lingkungan
sosial, budaya dan alam sekitarnya.24
Dengan demikian, nantinya anak

(lulusan) pendidikan

menengah diharapkan mampu untuk meningkatkan pengetahuan


sebagai jembatan dalam melanjutkan pada pendidikan tinggi. Akan
tetapi, keterbatasannya adalah dalam biaya pendidikan, maka
lulusan pendidikan menengah diharapkan mampu mengembangkan
kemampuan dan ketrampilan di masyarakat sebagai bekal dalam
menjalani hidup.
3) Pendidikan Tinggi
Pendidikan tinggi merupakan jenjang pendidikan setelah
pendidikan menengah yang mencakup program pendidikan
diploma, sarjana, Magister, Spesialis dan Doktor yang
Ibid., hlm. 134.
UU RI, op. cit., hlm. 11.
24
Hadari Nawawi dan Mimi Martini, op. cit., hlm. 137.
22
23

15
diselenggarakan oleh Perguruan Tinggi. Perguruan tinggi di sini
dapat berbentuk akademi, politeknik, sekolah tinggi, institut atau
universitas, pendidikan tinggi diselenggarakan dengan sistem
terbuka.25
Penyelenggaraan

pendidikan

tinggi

mempunyai

tujuan

sebagai berikut:
a) Menyiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang
memiliki kemampuan akademik atau profesional yang dapat
menerapkan, mengembangkan dan menciptakan ilmu
pengetahuan, teknologi dan kesenian.
b) Mengembangkan dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan dan
teknologi atau kesenian serta mengupayakan penggunaannya
untuk meningkatkan taraf kehidupan masyarakat dan
memperkaya kebudayaan nasional.26
Selain itu, Presiden John Hopkins University, Isaiah
Bowman merumuskan tujuan pendidikan tinggi sebagai berikut:
a) Menguasai pengertian-pengertian tentang kenyataan yang
selalu berubah-ubah.
b) Memberi pengalaman cara bekerja yang kritis.
c) Mengikuti perkembangan dunia dan kemajuan-kemajuannya.
d) Mengusai pedoman hidup yang mendukung pengertianpengertian kemanusiaan dalam berbagai lingkungan lapangan
pekerjaan dan kebudayaan.
e) Menghargai dan mempergunakan arti lingkungan.27
Dari tujuan pendidikan tinggi di atas, maka diharapkan
nantinya lulusan dari perguruan tinggi dapat mengembangkan dan
menyebarluaskan ilmu pengetahuan yang telah diperoleh kepada

UU RI, op. cit., hlm. 11.


Hadari Nawawi dan Mimi Martini, op. cit., hlm. 180.
27
Siti Meichati, Pengantar Ilmu Pendidikan, (Yogyakarta: Yayasan Penerbitan FIP,
1979), hlm. 26.
25
26

16
masyarakat sebagai bagian dari pengabdiannya yang sesuai dengan
sifat pengetahuan dan tujuan pendidikan tinggi yang bersangkutan.
2. Tingkat Pendapatan Orang Tua
Dalam kehidupan ini, selain diperintahkan untuk beribadah manusia
juga diwajibkan bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari.
Manusia tidak bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup, maka mereka
juga tidak dapat beribadah kepada Allah dengan sebagaimana mestinya.
Sebagaimana Firman Allah dalam surat al-Jumuah ayat 10 sebagai
berikut:

(10 : )
Apabila telah ditunaikan sembahyang, maka bertebaranlah kamu di muka
bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyakbanyak supaya
kamu beruntung. (QS. al-Jumuah: 10)28
Senada dengan hal itu, Allah juga memerintahkan agar umat
manusia dapat menyeimbangkan antara kehidupan dunia dan akhirat.
Sebgaimana Firman Allah dalam surat al-Qashas ayat 77 sebagai berikut:


(77 : )

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu


(kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan
bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada
orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan
janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya
Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. (QS. alQashash: 77)29

Soenarjo, dkk., Al-Quran dan Terjemahnya, (Semarang: Toha Putra, 1989), hlm. 933.
Ibid., hlm. 623.
28

29

17
Jadi, Allah memerintahkan kepada manusia agar senantiasa bekerja
untuk memenuhi kebutuhan hidup itu agar nantinya manusia dapat
beribadah kepada Allah. Selain itu, agar manusia dapat memberikan
kehidupan yang layak bagi anak-anaknya termasuk dalam hal pendidikan.
Karena anak merupakan amanat dari Allah yang harus selalu dijaga dan
dipelihara agar nantinya anak mempunyai masa depan yang lebih baik, salah
satunya adalah dengan cara menyekolahkan anak.
a. Pengertian Pendapatan
Dalam Kamus Ekonomi, pendapatan (income) adalah uang
yang diterima seseorang dalam perusahaan dalam bentuk gaji, upah,
sewa, bunga, laba dan lain sebagainya, bersama dengan tunjangan
pengangguran, uang pensiun dan lain sebagainya.30
Senada dengan definisi di atas, dalam Websters juga
disebutkan bahwa Earning is money gained by labor, services
or
performance, wages, salary, etc.31 Artinya, pendapatan adalah
uang
yang diperoleh dari hasil bekerja, pelayanan diri, gaji, upah dan lainlain.
Menurut

Kadariyah,

pendapatan

seseorang

terdiri

dari

penghasilan berupa upah/gaji, bunga sewa, dividend, keuntungan, dan


merupakan suatu arus uang yang diukur dalam suatu jangka waktu,
umpamanya seminggu, sebulan atau setahun32
Selain itu, pendapatan atau income dari seseorang adalah hasil
penjualannya dari faktor-faktor produksi yang dimilikinya kepada sektor
produksi.33

Christpher Pass dan Bryan Lowes, Kamus Lengkap Ekonomi, (Jakarta: Erlangga,
1994), hlm. 287.
31
Jean L. Mc. Kechnie, Websters New Twentieth Century Dictionary, (Amerika:
New World Dictionary, 1979), hlm. 569.
32
Kadariyah, Analisa Pendapatan Nasional, (Jakarta: Bina Aksara, 1981), hlm. 26. 33
Boediono, Ekonomi Mikro, (Yogyakarta: BPFE, 1996), hlm. 170.
30

18
Sedangkan orang tua di sini adalah setiap orang yang
bertanggung jawab dalam suatu keluarga atau rumah tangga, biasanya
disebut ayah dan ibu.34
Jadi yang dimaksud dengan pendapatan orang tua adalah
penghasilan yang diperoleh orang tua, yang berasal dari pekerjaannya atau
modal yang lainnya.
b. Sumber Pendapatan
Sumber pendapatan orang tua dalam hal ini, tidak hanya hasil kerja
atau modal lain yang diperoleh oleh orang tua, akan tetapi dapat berasal dari
saudara atau anggota keluarga yang lain yang bertanggung jawab terhadap
kebutuhan keluarganya.
Menurut Sistem Neraca Sosial Ekonomi (SNSE) Indonesia,
pola pendapatan rumah tangga terdiri dari upah dan gaji, keuntungan
usaha rumah tangga yang tidak berbadan hukum dan penerimaan
transfer.35
Selain itu menurut biro pusat statistik, pendapatan terdiri dari
sebagai berikut:
1) Pendapatan berupa uang
Yaitu segala penghasilan berupa uang yang sifatnya
reguler dan yang diterima biasanya sebagai balas jasa atau kontra
prestasi. Sumber-sumber pendapatannya adalah:
a) Gaji dan upah yang diperoleh dari:
(1) Kerja pokok
(2) Kerja sampingan
(3) Kerja lembur
(4) Kerja kadang-kadang

Thamrin Nasution dan Nur Halijah Nasution, Peranan Orang Tua dalam
Meningkatkan Prestasi Belajar Anak, (Yogyakarta: Gunung Mulia, 1989), hlm. 1.
35
Hg. Suseno Triyanto Widodo, Indikator Ekonomi Dasar Perekonomian
Indonesia,
(Yogyakarta: Kanisius, 1990), hlm. 32.
34

19
b) Usaha sendiri, yang meliputi:
(1) Hasil bersih dari usaha sendiri
(2) Komisi
(3) Penjualan dari kerajinan rumah
c) Hasil investasi, yakni pendapatan yang diperoleh dari hak milik
tanah
d) Keuntungan sosial, yakni pendapatan yang idperoleh dari kerja
sosial
2) Pendapatan berupa barang
Yaitu segala penghasilan yang sifatnya reguler dan biasa akan
tetapi tidak selalu berbentuk balas jasa dan diterimakan dalam bentuk
barang atau jasa. Pendapatan berupa barang yaitu pendapatan
berupa:
a) Bagian pembayaran upah dan gaji yang dibentukan dalam:
(1) Beras
(2) Pengobatan
(3) Transportasi
(4) Perumahan
(5) Rekreasi
b) Barang yang diproduksi dan dikonsumsi di rumah, antara lain:
(1) Pemakaian barang yang diproduksi di rumah
(2) Sewa yang seharusnya dikeluarkan terhadap rumah sendiri
yang ditempati.
3) Penerimaan yang bukan merupakan pendapatan, yaitu penerimaan
yang berupa:
a) Pengambilan tabungan
b) Penjualan barang-barang yang dipakai
c) Penagihan piutang
d) Pinjaman uang
e) Kiriman uang
f) Hadiah/pemberian

20
g) Warisan
h) Menang judi.36
Menurut Michael P. Todaro, distribusi pendapatan seseorang dapat
ditentukan melalui:
1) Cara memperolehnya, baik itu melalui gaji, uang, tabungan,
hadiah, dan warisan.
2) Sumber penghasilan atau bidang kegiatannya biasa berupa
pertanian, industri, perdagangan dan jasa.
3) Lokasi sumber penghasilan, baik di kota atau di desa.37
c. Fungsi Pendapatan Orang Tua
Sebagaimana kita ketahui bahwa fungsi pendapatan bagi
kehidupan sehari-hari adalah untuk memenuhi semua kebutuhan hidup
sehari-hari. Dalam hal ini penulis hanya akan membahas fungsi
pendapatan tersebut ke dalam tiga bidang yaitu bidang ekonomi, sosial
dan pendidikan. Untuk lebih jelasnya akan penulis jelaskan sebagai
berikut:
1) Bidang ekonomi
Berbicara masalah ekonomi tidak lepas dengan masalah
bagaimana mansuia dapat memenuhi kebutuhan hidupnya.
Masalah tersebut dihadapi semua manusia, semua masyarakat dan
semua negara. Dengan berkembangnya zaman, kebutuhan manusia
semakin banyak jumlah, ragam dan variasinya. Akan tetapi dengan
keterbatasan penghasilan, maka mereka lebih mengutamakan pada
pemenuhan kebutuhan pokok.
Kebutuhan pokok adalah kebutuhan esensial yang sedapat
mungkin harus dipenuhi oleh suatu rumah tangga agar mereka bisa

Mulyanto Sumardi dan Hans Dieter-Evers, Kemiskinan dan Kebutuhan Pokok,


(Jakarta: Rajawali, 1982), hlm. 92-94.
37
Michael P. Todaro, Pembangunan Ekonomi di Dunia ke-3, terj. Haris Munandar,
(Jakarta: erlangga, 1999), hlm. 168.
36

21
hidup secara wajar.38 Kebutuhan pokok manusia ini dapat
dibedakan atas dua jenis yaitu kebutuhan primer dan kebutuhan
sekunder.
Kebutuhan primer adalah kebutuhan yang paling utama
untuk mempertahankan hidup, seperti makanan, minuman, pakaian
dan perumahan. Sedangkan kebutuhan sekunder adalah kebutuhan
yang diperlukan untuk melengkapi kebutuhan primer.39 Kebutuhan
sekunder ini muncul karena manusia adalah makhluk yang
berbudaya, sesuai kodrat manusia yang selalu merasa kekurangan,
maka setelah makan, minum, pakaian dan mempunyai rumah
sebagai tempat tinggal, selanjutnya mungkin mereka butuh kipas,
kulkas, televisi, meja, kursi dan peralatan rumah tangga lainnya
yang berfungsi meningkatkan kenyamanan serta kelancaran
beraktivitas.
Kebutuhan manusia selalu berkembang pada umumnya
seseorang masih merasa belum cukup meskipun ia telah dapat
memenuhi kebutuhan primer dan kebutuhan sekundernya. Mereka
masih tetap memerlukan hal lain yang tingkatannya lebih tinggi,
seperti ia membutuhkan rumah yang lebih bagus, mobil, kapal
pesiar serta barang mewah yang lainnya. Jenis kebutuhan ini
digolongkan ke dalam kebutuhan mewah atau yang sering disebut
dengan kebutuhan tersier.40.
Untuk memenuhi kebutuhan hidup yang begitu banyak, maka
manusia diharuskan bekerja, sebagaimana firman Allah dalam surat
al-Isra ayat 29 yang melarang kita untuk meminta kepada orang lain:

(29 : )
Mulyanto Sumadi dan Hans Dieter-Evers, op. cit., hlm. 81. 39
Ibid., hlm. 300.
40
Alam S., Ekonomi Jilid 1, (Jakarta: erlangga, 2001), hlm. 3-4.
38

22
Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada
lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya karena
itu kamu menjadi tercela dan menyesal. (QS. al-Isra: 29)41
2) Sosial
Dalam masalah sosial, fungsi pendapatan untuk memenuhi
kebutuhan sosial dalam masyarakat. Sebagai contoh di masyarakat
tempat tinggal kita, sekarang ini terdapat pembangunan masjid atau
tempat ibadah, maka sebagai makhluk sosial yang tinggal di
lingkungan tersebut, mau tidak mau kita harus ikut membantu
memberikan sumbangan demi suksesnya pembangunan tersebut.
Selain itu fungsi pendapatan juga dapat menaikan status sosial
dalam masyarakat. Karena dalam masyarakat kita pada umumnya
secara tidak disadari terdapat penggolongan status sosial, di mana
mereka yang berpendapatan tinggi atau kaya mempunyai status
sosial yang lebih tinggi dalam masyarakat, begitu pula sebaliknya
mereka yang berpandapatan rendah mempunyai status sosial yang
rendah pula.
Selain itu pada umumnya mereka yang berpendapatan tinggi
cenderung lebih dihormati dan disegani dalam masyarakat daripada
mereka yang berpendapatan rendah.
Oleh karena itu, maka umat manusia harus mampu dan mau
bekerja keras agar status sosial dalam masyarakat lebih baik.
Karena Allah telah berfirman bahwa sesungguhnya Allah tidak akan
merubah keadaan suatu kaum jika mereka tidak berusaha untuk
merubah diri mereka sendiri.

:... (


(11

Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum


sehingga mereka tidak berusaha untuk merubah diri mereka
sendiri. (QS. Ar-Rad: 11)42
41

Soenarjo, dkk., op. cit., hlm. 428.

23
3) Pendidikan
Kita telah mengetahui bahwa belajar itu suatu kewajiban bagi
setiap makhluk hidup dalam rangka mempertahankan hidup dan
belajar dapat diupayakan di sekolah. Di sekolah tidak hanya
membutuhkan kepandaian saja, akan tetapi harus memiliki biaya
untuk membiayai biaya pendidikan dan sarana prasarana
pendidikan yang cukup mahal.
Sebagaimana Firman Allah dalam QS. An-Nisa ayat 9 yang
menjelaskan bahwa Allah melarang orang tua menelantarkan anakanaknya dalam keadaan lemah, dengan kata lain orang tua
berkewajiban mendidik anak-anaknya agar tidak berada dalam
keadaan lemah di masa depannya nantinya.



(9 :)

Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya


meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang
mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab
itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah
mereka mengucapkan perkataan yang benar. (QS. an-Nisa: 9)43
Di mana-mana di dunia ini dapat dibuktikan bahwa mereka
yang berpendapatan tinggi mempunyai kesempatan yang lebih
besar untuk memperoleh pendidikan yang lebih tinggi, memang
tidak selalu bahwa yang berpendapatan tinggi saja yang
mempunyai kesempatan untuk melanjutkan pendidikan ke
pendidikan, akan tetapi kalau kita bandingkan mereka yang
brrpendapatan tinggi dan yang berpendapatan rendah, maka kita
akan mendapatkan bahwa mereka yang berpendapatan tinggi,
umumnya lebih mempunyai kesempatan untuk melanjutkan

42
43

Ibid., hlm. 370.


Ibid., hlm. 116.

24
pendidikannya ke pendidikan tinggi daripada mereka yang
berpendapatan rendah.
Akan tetapi dalam masalah pendidikan ke Madrasah
Diniyah tidak hanya orang yang berpendapatan tinggi saja yang
mempunyai banyak kesempatan dalam menyekolahkan anaknya ke
Madrasah Diniyah. Karena masih terjangkaunya masalah biaya
pendidikan, maka orang tua yang mempunyai pendapatan rendah
akan memanfaatkan kesempatan ini untuk memberikan pendidikan
agama kepada anak dengan menyekolahkan ke Madrasah Diniyah.
d. Tingkat Pendapatan
Para perintis ilmu ekonomi, membagi masyarakat atas tiga
kategori, yaitu kaum pekerja (dan petani), para pengusaha atau
kapitalis (kelas menengah) dan para tuan tanah.44
Sedangkan menurut Valerie J. Hull yang dikutip oleh Masri
Singarimbun, bahwa jumlah seluruh pendapatan dan kekayaan
keluarga termasuk barang dan hewan peliharaan dipakai untuk
membagi keluarga ke dalam tiga kelompok pendapatan yaitu
pendapatan tinggi, pendapatan menengah dan pendapatan rendah. 45
Yang dimaksud dengan golongan berpenghasilan rendah adalah
golongan yang memperoleh pendapatan atau penerimaan sebagai
imbalan terhadap kerja mereka yang jumlahnya jauh lebih sedikit
apabila dibandingkan dengan kebutuhan pokok.46
Dilihat dari ekonomi dalam masyarakat terdiri dari tiga lapis
yiatu:
1) Lapisan ekonomi mampu atau kaya, terdiri dari para pejabat,
pemerintah setempat, para dokter, insinyur dan kelompok
profesional lainnya.
T. Bilarso, Pengantar Ilmu Ekonomi Bagian Mikro Jilid 2, (Yogyakarta: Kanisius,
1994), hlm. 78.
45
Masri Singarimbun, et.al., Metode Penelitian Survei, (Jakarta: LP3ES, 1985), hlm. 24. 46
Mulyanto Sumardi dan Hans Dieter-Evers, op. cit., hlm. 80-81.
44

25
2) Lapisan ekonomi menengah, yang terdiri dari alim ulama dan
pegawai.
3) Lapisan ekonomi miskin, yang terdiri dari buruh, para petani,
buruh bangunan, buruh pabrik, dan buruh-buruh sejenis yang tidak
tetap.47
3. Minat Menyekolahkan Anak
Menuntut ilmu, lebih-lebih ilmu agama adalah kewajiban bagi
setiap muslim, dan menyekolahkan anak ke Madrasah Diniyah merupakan
salah satu alternatif dalam mendidik anak, khususnya pendidikan agama
Islam.
a. Pengertian Minat
Setiap aktivitas manusia yang timbul disebabkan adanya minat
yang terdapat dalam dirinya. Minat merupakan sifat yang relatif
menetap pada diri seseorang. Minat besar sekali pengaruhnya terhadap
kegiatan seseorang, sebab dengan minat ia akan melakukan sesuatu
yang diminatinya. Sebaliknya tanpa minat seseorang tidak mungkin
melakukan sesuatu.
Secara etimologi, minat diartikan sebagai perhatian, kesukaan
(kecenderungan

hati)

pada

suatu

keinginan. 48

Secara

istilah

pengertian minat menurut Andi Mappiare adalah suatu perangkat


mental yang terdiri dari suatu campuran perasaan, harapan, pendirian,
prasangka, rasa takut atau kecenderungan lain yang mengarahkan
individu kepada suatu pilihan tertentu.49

Soleman B. Toneko, Struktur dan Proses Suatu Pengantar Sosiologi


Pembangunan, (Jakarta: Rajawali, t.th.), hlm. 99-101.
48
W.J.S. Poerwadarminta, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Blaai Pustaka,
1985), hlm. 979.
49
Andi Mappiare, Psikologi Remaja, (Surabaya: Usaha Nasional, t.th.), hlm. 62.
47

26
Menurut W.S. Winkel, minat adalah kecenderungan yang agak
menetap dalam subjek merasa tertarik pada bidang tertentu, dan
merasa berkecimpung dalam bidang itu.50
Seorang ahli lain, Sholeh Abdul Aziz dan Aziz Abdul Majid,
memberikan definisi minat sebagai berikut:

51

Minat adalah kecenderungan pada suatu fenomena yang dilakukan.


Menurut John Dewey, The wold interest, in its
ordinary
usage,

expresses,

1)

development,

The
2)

wehole

state

of

active

The

objective result that are foressen and wanted, and 3) The


personal
emotional incination.52 Artinya kata minat dalam penggunaannya
secara umum mengekspersikan 1) Keadaan pengembangan aktif
menyeluruh, 2) Hasil objektif yang belum terjadi dan diinginkan, 3)
Kecenderungan emosi seseorang.
Sedangkan menurut Slameto, minat adalah suatu rasa lebih
suka dan rasa ketertarikan pada suatu hal atau aktivitas, tanpa ada yang
menyuruh. Jadi di sini bahwa yang dimaksud dengan minat adalah
kecenderungan seseorang yang berhubungan dengan perasaan senang,
perasaan tertarik yang di dalamnya terdapat perhatian, motif, tujuan
dan harapan terhadap suatu objek yang timbul dari dalam diri sendiri
tanpa adanya suatu paksaan.
Dengan demikian minat mempunyai peran penting di dalam
semua aktivitas manusia, tidak terkecuali aktivitas masyarakat dalam
menyekolahkan anak ke suatu madrasah. Sebab di sini akan muncul
perasaan senang atau tidak senang, perasaan tertarik atau tidak tertarik
pada sesuatu yang pada akhirnya akan mempengaruhi seseorang untuk
berbuat atau tidak berbuat sehingga dengan demikian dapat dikatakan
50

W.S. Winkel, Psikologi Pendidikan dan Evaluasi Belajar, (Jakarta: Gramedia, 1983),

hlm. 30.
Sholeh Abdul Aziz dan Abdul Aziz Abdul majid, At-Tarbiyah wa Turuq at Tadris,
(Mekah: Darul Maarif, 1978), hlm. 206.
52
John Dewey, Democracy and Education, (New York: The Macmilan Company, 1964),
hlm. 126.
51

27
bahwa minat akan mempengaruhi kegiatan seseorang dalam
menyekolahkan anak ke Madrasah Diniyah.
b. Unsur-unsur Minat
Bertitik tolak dari pengertian minat sebagaimana diuraikan di atas,
maka unsur-unsur minat meliputi:
1) Perasaan senang
Perasaan senang merupakan aktifitas psikis yang di
dalamnya subjek menghayati nilai-nilai dari suatu objek.53
Minat dengan perasaan senang terdapat hubungan yang
timbal balik sehingga tidak mengherankan kalau seseorang yang
berperasaan tidak senang, dia juga akan kurang berminat dan
sebaliknya.
Perasaan senang ini merupakan faktor psikis non intelektual,
yang berpengaruh terhadap semangat menyekolahkan anak ke
madrasah, sehingga melalui semangat, perasaan seseorang akan
melakukan penilaian-penilaian positif yang terungkap dalam
perasaan senang. Dan apabila orang tua senang untuk
menyekolahkan anak ke madrasah maka segala usaha akan
dilakukan agar anaknya bisa masuk di madrasah diniyah. 2)
Perasaan tertarik
Seseorang akan merasa tertarik pada sesuatu, bila sesuai
dengan pengalaman-pengalaman yang didapatkan sebelumnya dan
mempunyai sangkut paut dengan nilainya.
Seseorang yang mempunyai perasaan tertarik pada ilmu
agama, ia akan melakukan pendekatan agar memperoleh
pengetahuan agama tersebut dan sebaliknya bila ia tidak
mempunyai rasa tertarik, maka ia akan berusaha menghindar.
Pengalaman-pengalaman masa lalu orang tua yang tidak baik tentu
tidak ingin kembali terulang pada anaknya. Oleh karena itu dia
ingin memberikan bekal yang cukup kepada anaknya, khususnya
53

W. S Winkel, op. cit., hlm. 30.

28
dalam masalah agama. Yang salah satunya adalah dengan
menyekolahkan anaknya ke madrasah diniyah.
3) Perhatian
Perhatian diartikan sebagai pemusatan tenaga atau kekuatan jiwa
tertentu kepada suatu objek dan pendayagunaan kesadaran untuk
mengerti suatu aktivitas.54
Perhatian bersifat lebih sementara dan ada hubungan dengan
minat, perhatian adakalanya menghilang. Sedangkan minat bersifat lebih
menetap.55
4) Motif dan Tujuan
Motif diartikan sebagai daya upaya yang mendorong
seseorang untuk melakukan aktivitas-aktivitas

tertentu demi

mencapai suatu tujuan.56


Menurut W.A. Gerungan, motif merupakan dorongan,
keinginan, hasrat dan tenaga penggerak lainnya yang berasal dari
dalam dirinya untuk melakukan sesuatu.57
Jika seseorang mempunyai tujuan tertentu, maka orang itu
cenderung berusaha keras agar tujuan yang ia inginkan dapat
tercapai.
Jika orang tua mempunyai minat menyekolahkan anak ke
madrasah biasanya mereka melaksanakan aktivitas yang dapat
mendorong tercapainya tujuan tersebut.

54
55

Wasty Soemanto, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: Rineka Cipta, 1990), hlm. 2.


Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan, (Bandung: Remaja Rosdakaya, 1990), hlm.

60.
Sardiman A.M., Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, (Jakarta: Raja
Grafindo Persada, 2000), hlm. 83.
57
W. A. Gerungan, Psikologi Sosial, (Bandung: Eresco, 1996), hlm. 141.
56

29
c. Fungsi Minat
Minat merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi usaha yang
dilakukan orang. Minat yang kuat akan menimbulkan usaha yang gigih,
serius, dan tidak mudah putus asa.
Minat berbeda dengan kesenangan, ia berbeda dari minat bukan
dalam kualitas melainkan dalam ketetapan (persistence). Kesenangan
merupakan minat yang sementara, selama kesenangan itu ada,
mungkin intensitas dan motivasi yang menyertainya sama tinggi
dengan minat. Namun ia segera mulai berkurang karena kegiatan yang
ditimbulkannya hanya memberi kepuasan yang sementara. Minat lebih
tetap (persistence) karena minat memuaskan kebutuhan yang penting
dalam kehidupan seseorang. Minat merupakan sumber motivasi yang
mendorong orang untuk melakukan apa yang mereka inginkan bila
mereka bebas memilih.58
Dengan demikian fungsi minat tidak berbeda dengan fungsi
motivasi. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Ngalim Purwanto
bahwa ada 3 fungsi minat, yaitu:
1) Mendorong manusia untuk berbuat, jadi sebagai penggerak atau
motor yang melepaskan energi.
2) Menentukan arah perbuatan, yakni ke arah perwujudan suatu
tujuan atau cita-cita yang hendak dicapai.
3) Menyeleksi perbuatan, yakni menentukan perbuatan apa yang
harus dikerjakan yang serasi, guna mencapai tujuan dengan
menyisihkan perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat bagi
tujuan tersebut.59
Menurut Nuckols dan Banducci dikutip oleh Elizabeth B
Hurlock menulis tentang fungsi minat sebagai berikut:

Elizabeth B. Hurlock, Perkembangan Anak, (Jakarta: Erlangga, 1978), hlm. 114.


Ngalim Purwanto, op. cit., hlm. 70-71.
58

59

30
1) Minat mempengaruhi bentuk intensitas cita-cita
Sebagai suatu contoh adalah ketika anak berminat pada olah raga,
maka cita-citanya adalah menajdi olahragawan yang berprestasi.
2) Minat sebagai pendorong yang kuat
Minat anak untuk menguasai pelajaran bisa mendorongnya untuk
belajar kelompok di tempat temannya meskipun suasana sedang
hujan.
3) Prestasi selalu dipengaruhi oleh jenis dan intensitas minat
seseorang
Meskipun diajar oleh guru yang sama dan diberi pelajaran yang
sama, tapi antara anak satu dan yang lain mendapat jumlah
pengetahuan yang berbeda. Hal ini karena berbedanya daya serap
mereka dan daya serap dipengaruhi oleh intensitas minat mereka. 4)
Minat yang terbentuk sejak masa kanak-kanak sering terbawa
seumur hidup karena minat membawa kepuasan
Minat untuk menjadi guru yang telah terbentuk sejak kecil, sebagai
misal akan terus terbawa sampai hal ini menjadi kenyataan. Dan
apabila minat ini tidak terwujud maka bisa menjadi.obsesi yang akan
dibawa sampai mati.60
Dari pendapat tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa fungsi
minat sebagai berikut:
1) Dapat mendorong seseorang untuk berbuat.
2) Minat dapat memberikan arah dan kegiatan yang harus dikerjakan
sesuai dengan tujuan yang diinginkan.
3) Dapat menyeleksi perbuataan, apabila di waktu kecil sudah
menaruh minat yang besar maka ia akan menentukan perbuatanperbuatan yang harus dikerjakan sesuai dengan tujuannya.

60

107-108.

M. Chabib Thoha, dkk., PBM - PAI di Sekolah, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1998), hlm.

31
4) Minat dapat melahirkan perhatian yang serta merta, semakin besar
minat seseorang akan semakin besar derajat spontanitas
perhatiannya.
4. Pengaruh Tingkat Pendidikan dan Pendapatan Orang Tua
Terhadap
Minat Menyekolahkan Anak ke Madrasah
Islam sebagai agama dan sekaligus sebagai sistem peradaban
mengisyaratkan pentingnya pendidikan. Ruang lingkup pendidikan di
dalam pandangan Islam tidak sempit, tidak saja terbatas pada pendidikan
agama dan tidak pula terbatas pada pendidikan duniawi semata-mata, 61
akan tetapi Islam mewajibkan kepada umatnya supaya bekerja untuk agama
dan dunia sekaligus.
Sebagaimana firman Allah dalam surat al- Qhasas ayat 77:


(77 : )

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu


(kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan
bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada
orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan
janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya
Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. (QS. alQashash: 77)62
Dari

ayat

di

atas,

dijelaskan

bahwa

kita

harus

bisa

menyeimbangkan antara pendidikan umum dan pendidikan agama. Dimana


pendidikan umum sebagai bekal dalam kehidupan di dunia dan pendidikan
akhirat sebagai bekal dalam kehidupan akhirat.

61
62

Soenarjo dkk, Opcit., hlm. 623.


Ibid., hlm. 264.

32
Mengingat pentingnya pendidikan, sudah menjadi kewajiban bagi
orang tua untuk memberikan pendidikan bagi anak-anaknya. Karena anak
adalah harta bagi orang tua sekaligus sebagai ujian orang tua.
Sebagaimana firman Allah dalam surat al-Anfal ayat 28:

:(


(28

Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai


cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar. (QS. alAnfal: 28)63
Jadi anak merupakan amanah dari Allah kepada orang tuanya, dan
kewajiban bagi orang tua untuk mendidik anak-anak mereka agar menjadi anak
yang berguna bagi bangasa, negara dan agama.
Latar belakang pendidikan yang diperoleh orang tua dapat
menentukan arah pendidikan anak. Orang tua yang pernah memperoleh
pendidikan tinggi akan lebih memperhatikan pendidikan anak. Karena
mereka berfikir bahwa seseorang yang berilmu itu akan lebih di hormati oleh
masyarakat, khususnya ilmu agama.
Sebagai mana firman Allah dalam surat al-Mujadalah ayat 11:

(11 : )

Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu, maka berdirilah, niscaya


Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan
orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan
Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. AlMujadilah: 11)64
Tidak jauh berbeda dengan orang tua yang pernah memperoleh
pendidikan tinggi, orang tua yang hanya mengenyam pendidikan dasar
(pendidikan rendah) juga berpandangan bahwa pendidikan sangat penting
lebih-lebih pendidikan agama. Oleh karena itu orang tua akan berusaha
Soenarjo, dkk, op. cit., hlm. 264.
Ibid., hlm. 910.

63
64

33
sekuat tenaga agar anak-anaknya bisa mendapatkan pendidikan, khususnya
pendidikan agama. Salah satunya adalah dengan menyekolahkan anak ke
madrasah.
Selain latar belakang pendidikan, pendapatan orang tua juga dapat
mempengaruhi pendidikan anak-anaknya. Karena pendidikan itu tidak
hanya butuh kepintaran dan kecerdaan saja, akan tetapi biaya juga menjadi
pendorong bagi orang tua dalam menyekolahkan anak. Jadi tingkat
pendapatan orang tua mempunyai pengaruh terhadap minat orang tua dala
menyekolahkan anak ke madrasah, yaitu:
1. Pendapatan tinggi
Kebanyakan dari orang tua yang berpendapatan tinggi mereka
lebih mempunyai kesempatan untuk menyekolahkan anaknya. Apalagi
untuk menyekolahkan anak ke madrasah diniyah. Karena seperti kita
tahu bahwa madrasah diniyah merupakan bagian dari lembaga
pendidikan yang biayanya relatif murah dibanding dengan sekolah sekolah yang lain.
2. Pendapatan Menengah
Secara kodrati, dalam kehidupan sosial ada keluarga sosial yang
kehidupan ekonominya telah mapan namun belum mencapai ketaraf
kehidupan kelas ekonomi tinggi.
Dalam strata ekonomi menengah orang tua cenderung memberikan
perhatian yang lebih besar terhadap pendidikan anak-anaknya. Karena
mereka sadar bahwa pendidikan merupakan bagian terpenting bagi masa
depan anak-anaknya.
Karena pendapatan orang tua menengah dalam arti cukup, maka
orang tua

cenderung ingin lebih memperhatikan masa

depan

anakanaknya agar nantinya anak lebih baik dari dirinya. Salah satunya
dengan menyekolahkan anak
Demikian halnya dalam masalah pendidikan agama, orang tua
cenderung akan memasukkan anaknya ke madrasah diniyah. Karena
Madrasah Diniyah biayanya lebih murah.

34
3. Pendapatan Rendah
Pendapatan rendah adalah golongan yang memperoleh pendapatan
atau penerimaan sebagai imbalan terhadap kerja mereka yang jumlahnya
jauh lebih sedikit apabila dibandingkan dengan kebutuhan pokoknya65
Dengan melihat keadaan ekonomi yang seperti ini, secara materi
orang tua yang mempunyai pendapatan rendah tidah mungkin
membiayai pendidikan anak-anak mereka. Karena kita tahu bahwa
sekarang ini biaya pendidikan sangatlah mahal. Akan tetapi, tidak
menutup kemungkinan kalau orang tua tetap menyekolahkan anaknya.
Apalagi menyekolahkan anak ke madrasah, karena di madrasah biayanya
relatif murah. Selain itu juga karena pandangan mereka bahwa
pendidikan itu sangat penting, lebih-lebih pendidikan agama.
B. Kajian Penelitian yang Relevan
Untuk menghindari adanya temuan-temuan yang sama, penulis akan
memaparkan beberapa penelitian yang membahas tentang keberagamaan orang
tua, di antaranya adalah:
1. Skripsi saudara Mukhrodin yang berjudul Pengaruh Sosial Ekonomi Guru
Agama Islam terhadap Pelaksanaan Kependidikan Agama di SDN seKecamatan Alian Kabupaten Kebumen. Di mana skripsi ini difokuskan
pada kekayaan guru yang ada pada suatu tempat untuk memenuhi
kebutuhan hidup sehari-hari dan pengaruhnya terhadap tugas dalam
mengajar saja. Dari hasil penelitiannya menunjukkan, bahwa semakin
tinggi kekayaan yang didapat guru, maka semakin baik dalam
melaksanakan tugas mengajarnya.
2. Saudari Jasni (2005), Pengaruh Ekonomi Guru Agama Islam terhadap
Pelaksanaan Tugas Kependidikannya di SDN se-Kecamatan Trangkil
Kabupaten Pati Dari hasi penelitiannya menunjukkan, bahwa ada
pengaruh positif antara variabel ekonomi guru agama Islam dengan
pelaksanaan tugas kependidikannya di SDN se-Kecamatan Trangkil
65

Mulyanto Sumardi dan Hans Dieter Evers, op. cit., hlm. 80.

35
Kabupaten Pati ini berarti semakin tinggi ekonomi guru agama Islam,
maka semakin tinggi pula pelaksanaan tugas kependidikannya. Namun
sebaliknya, semakin rendah ekonomi guru agama Islam, maka semakin
buruk pula pelaksanaan tugas kependidikannya.
3. Penelitian Saudari Ulwiyah

(2002) yang berjudul

Pengaruh Tingkat

Pemahaman Agama Orang Tua Terhadap Moralitas Pergaulan Remaja di Desa


Tambak Rejo Gayamsari Semarang.66 Dari penelitian ini, ingin diketahui
apakah

tingkat pemahaman

agama

orang

tua

mempunyai pengaruh

terhadap moralitas pergaulan remaja yang ada di Desa Tambak Rejo, Gayamsari,
Semarang
4. Penelitian Saudari Hindun (2005) yang berjudul Korelasi Antara Tingkat
Keberagamaan Orang Tua Dengan Motivasi Menyekolahkan Anak Ke
Madrasah Diniyah Hidayah Mubtadiin Desa Jetis Kec. Kendal Kab.
Kendal.67 Dalam hal ini, penulis membahas tentang hubungan antara
tingkat keberagamaan orang tua dengan motivasi menyekolahkan anak ke
Madrasah Diniyah Mubtadiin di Desa Jetis Kec. Kendal Kab. Kendal.
5. Penelitian Saudari Imah Mauludiyah (2005) yang berjudul Pengaruh
Pengetahuan Agama dan Perilaku Keagamaan Orang Tua Terhadap Minat
Menyekolahkan Anak Ke Madrasah Diniyah Taslihul Atfal Dusun.
Tanggolangin Desa Margosari Kec. Limbangan Kec. Kendal. 68 Dari
penelitian ini, ingin diketahui apakah pengetahuan agama dan perilaku
keagamaan

orang

tua

mempunyai

pengaruh

terhadap

minat

menyekolahkan anak ke Madrasah Taslihul Atfal di Desa Tanggolangin


Kec. Limbangan Kab. Kendal.
Dari penelitian tersebut di atas, yang ingin peneliti capai dalam
penelitian ini, tentulah berbeda. Dalam hal ini penulis ingin mengetahui
Ulwiyah, Pengaruh Tingkat Pemahaman Orang Tua Terhadap Moralitas
Pergaulan Remaja di Desa Tambak Rejo Gayamsari Semarang, (Semarang: Fakultas
Tarbiyah, 2002),
67
Hindun, Korelasi Antara Tingkat Keberagamaan Orang Tua Dengan
Motivasi
Menyekolahkan Anak Ke Madrasah Diniyah Hidayah Mubtadiin Desa Jetis Kec.
Kendal Kab. Kendal, (Semarang: Fakultas Tarbiyah, 2005).
68
Imah Mauludiyah, Pengaruh Pengetahuan Agama dan Perilaku Keagamaan
Orang Tua Terhadap
Minat Menyekolahkan Anak Ke Madrasah Diniyah Taslihul
Atfal, (Semarang: Fakultas Tarbiyah, 2005).
66

36
apakah ada pengaruh antara tingkat pendidikan orang tua dan tingkat
pendapatan orang tua terhadap minat menyekolahkan anak ke Madrasah
Diniyah al-Ikhlas Dusun Kalikidang Desa Kliris Kec. Boja Kab. Kendal.
C. Pengajuan Hipotesis
Hipotesis merupakan jawaban sementara atau permasalahan yang
dipahami, jawaban dapat benar atau salah tergantung pembuktian nanti di
lapangan sebagaimana diungkapkan oleh Sutrisno Hadi, hipotesis adalah dugaan
yang mungkin benar, mungkin salah atau palsu, dan akan diterima jika ada faktorfaktor yang membenarkannya.69
Adapun hipotesis yang penulis ajukan dalam penelitian ini adalah
sebagai berikut:
1. Ada pengaruh yang positif antara tingkat pendidikan orang tua terhadap
minat menyekolahkan anak ke Madrasah Diniyah al-Ikhlas Dusun
Kalikidang Desa Kliris Kec. Boja Kab. Kendal.
2. Ada pengaruh yang positif pendapatan orang tua terhadap minat
menyekolahkan anak ke Madrasah Diniyah al-Ikhlas Dusun Kalikidang
Desa Kliris Kec. Boja Kab. Kendal.
3. Ada pengaruh yang positif antara tingkat pendidikan dan pendapatan
orang tua terhadap minat menyekolahkan anak ke Madrasah Diniyah alIkhlas Dusun Kalikidang Desa Kliris Kec. Boja Kab. Kendal.

69

Sutrisna Hadi, Metodologi Research I, (Yogyakarta: Andi Offsett, 2000), hlm. 6.