Anda di halaman 1dari 27

BAB I

STATUS PASIEN
1.1. IDENTITAS
Nama
Usia
Pekerjaan
Pendidikan
Alamat
Tgl MRS
Tgl Periksa

: Ny. Umi Kulsum


: 33 th
: Pedagang Keliling
: SMA
: Bangil-Pasuruan
: 2 November 2014
: 2 November 2014

1.2. ANAMNESIS
Keluhan Utama
: Nyeri pada panggul kanan
R. Penyakit Sekarang : Pasien mengeluh merasakan nyeri di panggul kanan post

kecelakaan lalu lintas kurang lebih 2 jam SMRS.


Riwayat Alergi Obat : disangakal

1.3. PRIMARY SURVEY


Airway :
Obstruksi jalan nafas (-), fraktur mandibula (-), fraktur maksila (-), fraktur laring atau

trakea (-).
Breathing :
Nafas spontan, frekuensi 23 x/menit, suara nafas vesikuler.
Hard tissue : fraktur costae (-).
Soft tissue : pneumothorax (-), hematothorax (-).
Circulation :
Nadi : frekuensi 82x/menit, reguler, kuat angkat, isi cukup.
Tekanan darah : 120/80 mmHg.
CRT : 1 detik
Disability :
Kesadaran composmentis, GCS 456.
Pupil isokor 2 mm/2 mm, reflek cahaya +/+.
Exposure :
Ekstremitas inferior dextra :
Regio gluteus dekstra : abrasio (+)

1.4. SECONDARY SURVEY


Keadaan Umum : Cukup, kesadaran composmentis, GCS 456
1

Vital Sign :
TD
: 120/80
Nadi
: 82 x/menit
RR
: 23 x/menit
Suhu
: 37C
Review of System (Head to Toe)
Kepala & leher : anemis (-/-), ikterik (-/-), sianosis (-), dyspneu (-)
Thorax : Cor : S1/S2 tunggal, reguler, murmur (-), gallop (-).
Pulmo : suara nafas vesikuler, rhonki (-), wheezing (-)
Abdomen : Soefl, flat, BU (+) Normal, meteorismus (-).
Ekstremitas :
Motorik
5 5
Keterangan : ekstremitas inferior
2 5
dekstra motorik 2/5 karena
tungkai kanan nyeri.
Sensorik
N N

Akral Dingin
Status

Lokalis

Ekstremitas Inferior Regio Gluteus

Dextra :
Look :
Warna kulit : normal
Edema : (-)
Bullae : (-)
Abrasio : (-)
Vulnus appertum : (-)
Deformitas : (+)
True leg legth dekstra/sinistra : 81 cm/83 cm
Apparent leg length dekstra/sinistra : 82 cm/85 cm
Feel :
Suhu kulit : normal
Nyeri tekan : (+)
Krepitasi : sulit dievaluasi
Pulsasi arteri dorsalis pedis : (+)
Move :
Aktif :
Ekstensi : (+)
Fleksi : (-)
Endorotasi : (+) minimal
2

Eksorotasi : (+) minimal


Pasif :
Ekstensi : (+)
Fleksi : (+) minimal
Endorotasi : (+) minimal
Eksorotasi : (+) minimal

Neurovascular Distal (NVD) :


Neurologis :
Reflek fisiologis : sulit dievaluasi
Reflek patologis : (-)
Motorik : 2/5 (karena tungkai kanan nyeri)
Sensorik : raba (+), nyeri (+), suhu (+)
Vaskular : CRT : 1 detik
1.5. WORKING DIAGNOSIS
Dislokasi posterior Hip dextra
1.6. PLANNING DIAGNOSIS
Foto rontgen regio cruris dekstra AP dan Lateral
Foto rontgen toraks AP
Pemeriksaan laboratorium DL, elektrolit.
1.6. PLANNING TERAPI
IVFD RL
Ranitidin
Ketorolak
Reposisi dengan metode Allis
Skin traksi

FOTO KLINIS

X-RAY PELVIS

HASIL LABORAT

BAB II
PENDAHULUAN
5

2.1 Latar Belakang


Dislokasi sangat penting dikuasai oleh tenaga medis terutama para profesional
yang berkecimpung dalam dunia kedokteran. Dislokasi adalah keadaan di mana tulangtulang yang membentuk sendi tidak lagi berhubungan secara anatomis (tulang lepas dari
sendi). Dislokasi ini dapat hanya komponen tulangnya saja yang bergeser atau
terlepasnya seluruh komponen tulang dari tempat yang seharusnya (dari mangkuk sendi).
Seseorang yang tidak dapat mengatupkan mulutnya kembali sehabis membuka mulutnya
adalah karena sendi rahangnya terlepas dari tempatnya. Dengan kata lain: sendi
rahangnya telah mengalami dislokasi.
Dislokasi terjadi saat ligamen memberikan jalan sedemikian rupa sehingga tulang
berpindah dari posisinya yang normal di dalam sendi. Dislokasi dapat disebabkan oleh
faktor penyakit atau trauma karena dapatan (acquired) atau karena sejak lahir
(kongenital). Dalam kehidupan sehari-hari, persendian dapat mengalami gangguan.
Gangguan sendi ini dapat berupa proses keradangan karena infeksi, imunologis, proses
degenerasi, maupun trauma. Trauma pada sendi sering disebabkan oleh beberapa hal,
yaitu :

Kontusio sendi, biasa terjadi karena suatu benturan.

Joint strain, terjadi karena trauma kecil yang terjadi berulang ulang.

Joint sprain/keseleo, terjadi karena adanya robekan mikroskopis dari ligament atau
kapsul sendi yang tidak menggangu kestabilan.

Ruptur ligamen

Dislokasi (1,2)

BAB III
TINJAUAN PUSTAKA
6

3.1

Definisi
Dislokasi adalah keadaan dimana tulang-tulang yang membentuk sendi tidak lagi
berhubungan secara anatomis (tulang lepas dari sendi). Atau dislokasi adalah suatu
keadaan keluarnya (bercerainya) kepala sendi dari mangkuknya. Dislokasi merupakan
suatu kedaruratan yang membutuhkan pertolongan segera. Bila terjadi patah tulang di
dekat sendi atau mengenai sendi disertai luksasi sendi yang disebut fraktur dislokasi.
Dislokasi adalah terlepasnya kompresi jaringan tulang dari kesatuan sendi. Dislokasi ini
dapat hanya komponen tulangnya saja yang bergeser atau terlepasnya seluruh komponen
tulang dari tempat yang seharusnya (dari mangkuk sendi). (2)

3.2

Anatomi Sendi
Sendi merupakan hubungan antar tulang sehingga tulang dapat digerakkan.
Dimana hubungan dua tulang disebut persendian (artikulasi).
Beberapa komponen penunjang sendi:

Kapsula sendi adalah lapisan berserabut yang melapisi sendi. Di bagian dalamnya
terdapat rongga.

Ligamen (ligamentum) adalah jaringan pengikat yang mengikat luar ujung tulang
yang saling membentuk persendian. Ligamentum juga berfungsi mencegah dislokasi.

Tulang rawan hialin (kartilago hialin) adalah jaringan tulang rawan yang menutupi
kedua ujung tulang. Berguna untuk menjaga benturan.

Cairan sinovial adalah cairan pelumas pada kapsula sendi.

Gambar 1. Persendian normal


Ada 5 macam sendi berdasarkan karakteristik masing-masing:
1.

Sindesmosis : adalah sendi dimana dua tulang ditutupi oleh jaringan fibrosa. Misalnya
sutura pada tulang tengkorak.

2.

Sinkondrosis : adalah sendi dimana kedua tulang ditutupi oleh tulang rawan.
Misalnya lempeng epifisis yang merupakan suatu sinkondrosis yang bersifat
sementara yang menghubungkan antara epifisis dan metafisis dan memberikan
kemungkinan pertumbuhan memanjang pada tulang.

3.

Sinostosis : adalah bila sendi mengalami obliterasi dan terjadi penyambungan antara
keduanya. Beberapa sindesmosis dan semua sinkondrosis bergabung, menjadi
sinostosis.

4.

Simfisis : adalah suatu jenis persendian dimana kedua permukaannya ditutupi oleh
tulang rawan hialin dan dihubungkan oleh fibrokartilago dan jaringan fibrosa yang
kuat. Misalnya pada simfisis pubis dan sendi intervertebra.

5.

Sendi sinovial : adalah sendi dimana permukaannya ditutupi oleh tulang rawan hialin
dan pinggirnya ditutupi oleh kapsul sendi berupa jaringan fibrosa dan di dalamnya
mengandung cairan sinovial. (3,4)
8

3.3 Penyebab dislokasi


Dislokasi disebabkan oleh :
1. Trauma: jika disertai fraktur, keadaan ini disebut fraktur dislokasi.
- Cedera olahraga
Olah raga yang biasanya menyebabkan dislokasi adalah sepak bola dan hoki, serta
olah raga yang beresiko jatuh misalnya : terperosok akibat bermain ski, senam,
volley. Pemain basket dan pemain sepak bola paling sering mengalami dislokasi pada
tangan dan jari-jari karena secara tidak sengaja menangkap bola dari pemain lain.
- Trauma yang tidak berhubungan dengan olah raga.
Benturan keras pada sendi saat kecelakaan motor biasanya menyebabkan dislokasi.
- Terjatuh
Terjatuh dari tangga atau terjatuh saat berdansa diatas lantai yang licin

2. Kongenital
Sebagian anak dilahirkan dengan dislokasi, misalnya dislokasi pangkal paha. Pada
keadaan ini anak dilahirkan dengan dislokasi sendi pangkal paha secara klinik tungkai
yang satu lebih pendek dibanding tungkai yang lainnya dan pantat bagian kiri serta kanan
tidak simetris. Dislokasi congenital ini dapat bilateral (dua sisi). Adanya kecurigaan yang
paling kecil pun terhadap kelainan congenital ini mengeluarkan pemeriksaan klinik yang
cermat dan sianak diperiksa dengan sinar X, karena tindakan dini memberikan hasil yang
sangat baik. Tindakan dengan reposisi dan pemasangan bidai selama beberapa bulan, jika
kelainan ini tidak ditemukan secara dini, tindakannya akan jauh sulit dan diperlukan
pembedahan.

3. Patologis
9

Akibatnya destruksi tulang, misalnya tuberkolosis tulang belakang. Dimana patologis:


terjadinya tear ligament dan kapsul articuler yang merupakan kompenen vital
penghubung tulang. (2,5)

3.4 Patofisiologi
Dislokasi biasanya disebabkan karena faktor fisik yang memaksa sendi untuk
bergerak lebih dari jangkauan normalnya, yang menyebabkan kegagalan tekanan, baik
pada komponen tulang sendi, ligamen dan kapsula fibrous, atau pada tulang maupun
jaringan lunak. Struktur-struktur tersebut lebih mudah terkena bila yang mengontrol sendi
tersebut kurang kuat. (3)
3.5 Klasifikasi
Dislokasi dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
1. Dislokasi kongenital : Terjadi sejak lahir akibat kesalahan pertumbuhan.
2. Dislokasi patologik : Akibat penyakit sendi dan atau jaringan sekitar sendi, misalnya
tumor, infeksi, atau osteoporosis tulang. Ini disebabkan oleh kekuatan tulang yang
berkurang.
3. Dislokasi traumatik : merupakan kedaruratan ortopedi (pasokan darah, susunan saraf
rusak dan mengalami stress berat, kematian jaringan akibat anoksia) akibat oedema
(karena mengalami pengerasan). Terjadi karena trauma yang kuat sehingga dapat
mengeluarkan tulang dari jaringan disekeilingnya dan mungkin juga merusak
struktur sendi, ligamen, syaraf, dan system vaskular. Kebanyakan terjadi pada orang
dewasa.

Berdasarkan tipe kliniknya dibagi:


1. Dislokasi Akut : Umumnya terjadi pada shoulder, elbow, dan hip. Disertai nyeri akut
dan pembengkakan di sekitar sendi.
2. Dislokasi Kronik
3. Dislokasi Berulang : Jika suatu trauma dislokasi pada sendi diikuti oleh frekuensi
dislokasi yang berlanjut dengan trauma yang minimal, maka disebut dislokasi berulang.
Umumnya terjadi pada shoulder joint dan patello femoral joint. (2,3)
10

3.6

Diagnosis
Anamnesis : perlu ditanyakan tentang :

Rasa nyeri

Adanya riwayat trauma

Mekanisme trauma

Ada rasa sendi yang keluar

Bila trauma minimal dan kejadian yang berulang, hal ini dapat terjadi pada
dislokasi rekurrens (6,7)

Pemeriksaan klinis
a. Deformitas

Hilangnya penonjolan tulang yang normal

Pemendekan

Kedudukan yang khas untuk dislokasi tertentu

b. Bengkak
c. Terbatasnya gerakan atau gerakan yang abnormal (6,7)
Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan radiologi untuk memastikan arah dislokasi dan apakah disertai
fraktur.Pemeriksaan diagnostik dengan cara pemeriksaan sinar X (pemeriksaan X-Rays).
(3,7)

11

3.7

Komplikasi

Komplikasi yang dapat menyertai dislokasi antara lain :.


Komplikasi Dini :
1) Cedera saraf : saraf aksila dapat cedera ; pasien tidak dapat mengkerutkan otot deltoid
dan mungkin terdapat daerah kecil yang mati rasa pada otot tesebut
2) Cedera pembuluh darah : Arteri aksilla dapat rusak
3) Fraktur disloksi
Komplikasi lanjut :
1) Kekakuan sendi bahu: Immobilisasi yang lama dapat mengakibatkan kekakuan sendi
bahu, terutama pada pasien yang berumur 40 tahun. Terjadinya kehilangan rotasi lateral,
yang secara otomatis membatasi abduksi
2) Dislokasi yang berulang: terjadi kalau labrum glenoid robek atau kapsul terlepas dari
bagian depan leher glenoid
3) Kelemahan otot (2,8)
3.8 Penatalaksanaan
Penatalaksanaan dislokasi sebagai berikut :
o

Lakukan reposisi segera.

Dislokasi sendi kecil dapat direposisi di tempat kejadian tanpa anestesi, misalnya :
dislokasi siku, dislokasi bahu, dislokasi jari pada fase syok), sislokasi bahu, siku atau
jari dapat direposisi dengan anestesi loca; dan obat penenang misalnya valium.

Dislokasi sendi besar, misalnya panggul memerlukan anestesi umum.

Dislokasi reduksi: dikembalikan ketempat semula dengan menggunakan anastesi jika


dislokasi berat.

Kaput tulang yang mengalami dislokasi dimanipulasi dan dikembalikan ke rongga


sendi.

12

Sendi kemudian diimobilisasi dengan pembalut, bidai, gips atau traksi dan dijaga agar
tetap dalam posisi stabil. Beberapa hari sampai minggu setelah reduksi dilakukan
mobilisasi halus 3-4x sehari yang berguna untuk mengembalikan kisaran sendi

Memberikan kenyamanan dan melindungi sendi selama masa penyembuhan. (9,10)

BAB IV
PEMBAHASAN
4.1.

Dislokasi Regio Panggul (Hip Dislocation)


Dislokasi panggul lebih jarang dijumpai daripada dislokasi bahu atau siku. Mekanisme
terjadinya dislokasi yaitu saat kaput yang terletak di belakang asetabulum, kemudian
segera berpindah ke dorsum illium. Biasanya juga mengalami cedera serius misalnya
trauma benturan depan mobil akibat tabrakan mobil frontal. Penderita mungkin mengalami
syok berat dan tidak dapat berdiri. Tungkainya terletak dalam posisi tinggi yang sesuai
dengan paha difleksikan, dan dirotasikan ke interna. Tungkai pada sisi yang cedera lebih
pendek daripada sisi yang normal. Lututnya bersandar pada paha yang berlawanan dan
trokantor mayor dan pantat menonjol secara abnormal.
Dislokasi hip joint adalah suatu kejadian/peristiwa menyakitkan di mana komponen
peluru/bola/caput humeri tulang paha keluar dari tempatnya/acetabulum. Sehingga
penderita mengalami rasa nyeri, karena caput humeri bergerak/bekerja bukan pada
tempatnya lagi.

4.2

Epidemiologi:
Ras bukan merupakan faktor risiko untuk dislokasi hip. Dislokasi Hip lebih sering
terjadi pada laki-laki muda dari pada orang yang karena cedera yang berhubungan dengan
perilaku berisiko. Hip dislokasi akibat cedera traumatik (terutama MVCs) lebih umum
pada mereka yang lebih muda dari 35 tahun dibandingkan orang tua. Hip dislokasi akibat
jatuh lebih umum pada mereka dari 65 tahun lebih tua.

4.3

Pemeriksaan fisik:
13

Seperti halnya korban trauma besar, penilaian jalan napas, pernapasan, dan sirkulasi sangat
penting primer. Selama survei sekunder, pemeriksaan dari korset panggul dan pinggul
adalah wajib. Pemeriksaan harus terdiri dari inspeksi, palpasi, aktif / pasif rentang gerak,
dan pemeriksaan neurovaskular.

- Inspeksi: Dalam prakteknya, ini penampilan dapat diubah dengan adanya dislokasi atau
fraktur-kelainan tulang lainnya

Posterior: hip adalah tertekuk, terputar ke dalam , dan adduksi.

Anterior: hip tertekuk minimal, terputar ke luar dan abduksi

- Palpasi: Meraba panggul dan ekstremitas bawah untuk cacat tulang-langkah kotor atau
off. Dalam sebuah dislokasi hip anterior, kadang-kadang pada femoralis teraba hematoma.
Hal ini menunjukkan cedera vaskular.
-

Range of motion: Pasien dengan dislokasi hip memiliki jangkauan sangat terbatas gerak.
Mengevaluasi apa pasien dapat dilakukan dengan nyaman. Jangan paksa melakukan berbagai
gerakan pada pasien yang tidak bisa mentolerir manipulasi normal,. Rentang nyeri gerak
hampir tidak termasuk dislokasi hip.

Pemeriksaan Neurovaskular: Tanda-tanda cedera nervus ischiadicus meliputi:

Hilangnya sensasi di kaki belakang dan kaki

Kehilangan dorsiflexion (cabang peroneal) atau fleksi plantar (cabang tibial)

Kehilangan refleks tendon dalam (DTRs) di pergelangan kaki

Tanda-tanda cedera saraf femoralis adalah sebagai berikut:

Hilangnya sensasi atas paha

Kelemahan dari paha depan

Kehilangan DTRs di lutut

Tanda-tanda cedera vaskuler meliputi:

Hematoma
14

Loss of pulses

Muka pucat

Gambar 13. Dislokasi panggul


Tanda-tanda klinis terjadinya dislokasi panggul:
Kaki pendek dibandingkan dengan kaki yang tidak mengalami dislokasi
Kaput femur dapat diraba pada panggul
Setiap usaha menggerakkan pinggul akan mendatangkan rasa nyeri
4.4

Anatomi Fisiologi:
Tulang pelvis adalah penghubung antara badan dan anggota bawah yaitu tulang

sakrum dan koksigeus bersendi antara satu dengan yang lainnya.


Pada simfasis pubis pelvis terbagi atas 2 bagian :
1.

Pelvis mayor atau rongga panggul besar.


15

2.

Pelvis minor atau rongga panggul kecil

Di antara ke 2 rongga tersebut dibatasi oleh garis tepi atau linea terminalis.
Sendi sendi pelvis antara lain : sendi sakro iliaka adalah sendi antara ilium yang disebut
aurikuler dan kedua sisi sakrum, gerakan ini sangat sedikit karena ligamennya sangat kuat
menyatukan permukaan sendi sehingga membatasi gerakan ke seluruh jurusan.
4.5

Patofisiologi :

Dislokasi panggul paling sering dialami oleh dewasa muda dan biasanya diakibatkan oleh
abdukasi, ekstensi dan ekstra traumatik yang berlebihan. Contohnya posisi melempar bola
berlebihan. Caput humeri biasanya bergeser ke anterior dan inferior melalui robekan
traumatik pada kapsul sendi panggul.
Faktor yang sering menyebabkan resiko dislocation hip joint adalah:
Pelvis yang mempunyai peluru/bola/caput yang kecil dengan diameter 22 mm, dan
peluru/bola/caput yang memiliki leher/collum yang tebal.
4.6

Pengobatan Hip Dislokasi

Pengobatan untuk dislokasi hip termasuk:

Penurunan dislokasi hip:


o

Penataan kembali tulang

Bedah untuk patah tulang panggul

Istirahat:

Terapi fisik untuk hip dislokasi

Nonsteroidal anti-inflammatory obat untuk sakit


o

Ibuprofen ( Motrin Advil )

Naproxen ( Anaprox, Naprosyn, Aleve )


16

Ketoprofen ( Orudis )

Anti nyeri narkotika

Hip dislokasi uji klinis


Dislokasi panggul ada 3 macam, yaitu dislokasi panggul posterior, dislokasi panggul

anterior, dan dislokasi panggul central.


a.

Dislokasi panggul posterior

Dislokasi posterior hip joint biasa disebabkan oleh trauma. Ini terjadi pada axis
longitudinal pada femur saat femur dala keadaan fleksi 90o dan sedikit adduksi.
Pemeriksaan pada penderita dislokasi posterior hip joint akan menunjukkan tanda yang
abnormal. Paha (pada bagian yang mengalami dislokasi) diposisikan sedikit fleksi, internal
rotasi dan adduksi. Ini merupakan posisi menyilang karena kaput femur terkunci pada
bagian posterior asetabulum. Salah satu bagian pemeriksaan adalah memeriksa
kemampuan sensorik dan motorik extremitas bawah dari bagian bawah hingga ke panggul
yang mengalami dislokasi, karena kurangnya kepekaan saraf pada panggul merupakan
suatu komplikasi masalah yang tidak lazim pada kasus dislokasi hip joint. Dislokasi
panggul posterior biasa disebabkan oleh trauma. Ini terjadi pada axis longitudinal pada
femur saat femur dalam keadaan fleksi 90o dan sedikit adduksi.
Gejala klinis
Pemeriksaan pada penderita dislokasi panggul posterior akan menunjukkan tanda yang
abnormal. Paha (pada bagian yang mengalami dislokasi) diposisikan sedikit fleksi, internal
rotasi dan adduksi. Ini merupakan posisi menyilang karena kaput femur terkunci pada
bagian posterior asetabulum.

17

Gambar 15. Dislokasi panggul posterior


Mekanisme trauma pada dislokasi posterior karena kaput femur dipaksa keluar ke belakang
asetabulum melalui suatu trauma yang dihantarkan pada diafisis femur dimana sendi panggul
dalam posisi fleksi atau semifleksi. Trauma biasanya tejadi karena kecelakaan lalu lintas dimana
lutut penumpang dalam keadaan fleksi dan menabrak dengan keras yang berada di bagian depan
lutut. Kelainan ini juga dapat juga terjadi sewaktu mengendarai motor. 50% persen dislokasi
disertai

fraktur

pada

pinggir

asetabulum

dengan

fragmen

kecil

atau

besar.3

Terdapat klasifikasi menurut Thompson Epstein (1973) yang penting untuk rencana pengobatan:
Tipe I : dislokasi tanpa fraktur atau dengan fragmen tulang yang kecil.
Tipe II : dislokasi dengan fragmen tulang yang besar pada bagian posterior asetabulum.
Tipe III : dislokasi dengan fraktur bibir asetabulum yang komunitif.
Tipe IV : dislokasi dengan fraktur dasar asetabulum.
Tipe V : dislokasi dengan fraktur kaput femur.

Pada kasus yang jelas, diagnosis mudah dilakukan : kaki pendek, adduksi, rotasi internal
dan sedikit fleksi. Tetapi kalau salah satu tulang panjang mengalami fraktur, biasanya femur,
cedera panggul dengan mudah dapat terlewat. Pedoman yang terbaik adalah memotret pelvis
dengan sinar X pada tiap kasus cedera yang berat, dan pada fraktur femur, pemeriksaan sinar X
harus mencakup panggul. Tungkai bawah harus diperiksa untuk mencari ada tidaknya tandatanda cedera saraf ischiadikus. Pada foto anteroposterior kaput femoris terlihat di luar
mangkuknya dan di atas asetabulum. Segmen atap asetabular atau kaput femoris mungkin telah
patah dan bergeser; foto oblik berguna untuk menunjukkan ukuran fragmen itu. Kalau fraktur
ditemukan, fragmen tulang yang lain (yang mungkin perlu dibuang) harus dicurigai. CT scan
adalah cara terbaik untuk menunjukkan fraktur asetabulum atau setiap fragmen tulang. Keadaan
dislokasi panggul merupakan tindakan darurat karena reposisi yang dilaksanakan segera
mungkin dapat mencegah nekrosis avaskuler kaput femur. Makin lambat reposisi dilaksanakan
makin tinggi kejadian nekrosis avaskuler. Reposisi tertutup dilakukan dengan pembiusan umum
menurut beberapa cara : metode Bigelow, metode Stimson, dan metode Allis. Metode Allis
merupakan metode yang lebih mudah.
18

Pemeriksaan
Salah satu bagian pemeriksaan adalah memeriksa kemampuan sensorik dan motorik
extremitas bawah dari bagian bawah hingga ke panggul yang mengalami dislokasi, karena
kurangnya kepekaan saraf pada panggul merupakan suatu komplikasi masalah yang tidak lazim
pada kasus dislokasi panggul. Pemeriksaan penunjang dengan pembuatan X ray foto,
umumnya dengan proyeksi AP.

Gambar 16. X ray foto dislokasi panggul posterior

Penatalaksanaan
Terapi untuk mengembalikan keadaan ini ada dua cara :
1. Metode Allis : penderita dalam posisi terlentang di lantai, pembantu menahan
panggul dan menekannya. Ahli bedah melakukan fleksi pada lutut sebesar 90 0
dan tungkai diadduksi ringan dan rotasi medial. Lengan bawah ditempatkan
dibawah lutut dan dilakukan traksi vertikal dan kaput femur diangkat dari
bagian posterior asetabulum. Panggul dan lutut diekstensikan secara hati-hati.
Syarat terpenting dalam melakukan reposisi adalah sesegera mungkin dan
dilakukan dengan pembiusan umum disertai relaksasi yang cukup. Pada tipe II
19

setelah reposisi maka fragmen yang besar difiksasi dengan screw secara
operasi. Pada tipe III biasanya dilakukan reduksi tertutup dan apabila ada
fragmen yang terjebak dalam asetabulum dikeluarkan melalui tindakan operasi.
Tipe IV dan V juga dilakukan reduksi secara tertutup dan apabila bagian
fragmen yang lepas tidak tereposisi maka harus direposisi dengan operasi.
Pasca reposisi dilakukan traksi kulit selama 4-6 minggu, setelah itu tidak
menginjakkan kaki dengan jalan mempergunakan tongkat selama 3 bulan.

2. The Bigelow Maneuver : Tempatkan penderita di lantai (telentang). Amati (dislokasi) secara
cermat dan suruh seorang asisten mendorongnya ke anterosuperior pada SIAS. Fleksikan
lutut penderita dan panggulnya, dan rotasikan tungkainya pada posisi netral. Tarik
tungkainya ke atas secara terus-menerus dengan lembut. Saat masih dilakukan traksi
(penarikan) sesuai arah femur, rendahkan tungkainya ke lantai. Reduksi biasanya jelas
dirasakan tetapi perlu didukung dengan sinar-X. Jika metode tersebut gagal mereduksi
dislokasi, minta asisten meneruskan penekanan secara kuat pada SIAS. Dengan lutut
sebagian difleksikan, tarik tungkai sesuai dengan deformitas. Fleksikan panggul perlahan
hingga 90o dan rotasikan secara lembut ke internal dan eksternal untuk melepaskan kaput
dari struktur-struktur yang menahannya. Kembalikan kaput pada tempatnya dengan rotasi
interna dan eksterna lebih lanjut, atau rotasi eksterna dan ekstensi. Bila masih terpengaruh
anestesi, periksa lutut, apakah terdapat ruptur ligamentum cruciatum posterior.
.

20

Gambar 17. The Bigelow Maneuver


2. Segera setelah penderita dianestesi, tempatkan ia dengan wajah menghadap ke meja, sehingga
paha yang cedera terkatung ke bawah dengan lututnya pada 90o dan kakinya bersandar pada
lutut anda. Suruh seorang asisten memegang paha yang normal secara horizontal, agar pelvis
tidak menjadi miring. Tekan terus menerus ke arah bawah pada lutut yang difleksikan hingga
otot-ototnya berelaksas dan kaput femoris dapat masuk ke asetabulum. Jika perlu goyangkan
lututnya.
Jika metode ini gagal, rujuk untuk dilakukan reduksi terbuka.
Uji stabilitas, saat penderita masih diberi anestesi, fleksikan panggulnya sampai 90 o dan
lakukan pemeriksaan apakah kaput femoris mudah keluar dari asetabulum dari arah posterior
ataukah tetap pada tempatnya. Jika dapat tergelincir dengan mudah, diduga ada fraktur pada
tepi posterior asetabulum.
Setelah

dilakukan

reduksi

diperlukan

perawatan

lebih

lanjut,

dengan:

1. Jika reduksi stabil, pelaksanaan bergantung pada pergerakannya, apakah menimbulkan sakit
atau tidak. Jika tidak menimbulkan rasa sakit, maka tidak diperlukan traksi, karena itu
lakukan pergerakan aktif di tempat tdur dan setelah 10 hari penderita diberi tongkat ketiak
dengan menahan beban berat parsial. Jika pergerakan menimbulkan nyeri, lakukan traksi
ekstensi hingga nyeri hilang, lalu berdirikan dengan tongkat ketiak, dilanjutkan dengan
menahan beban berat parsial sampai penuh.
2. Jika reduksi tidak stabil, sehingga kaput femur keluar dari asetabulum, maka lakukan
pemeriksaan sinar-X. Jika hasilnya menunjukkan satu potongan tulang besar patah dari
pinggir asetabulum, maka rujuk untuk perbaikan. Sebaliknya, lakukan traksi ekstensi dengan
pen tibia. Jika reduksi dapat dikontrol, lanjutkan untuk menggunakan sekurang-kurangnya 6
minggu.
Komplikasi
21

Komplikasi yang mungkin terjadi dislokasi panggul posterior, yaitu


Lesi n. Ischiadicus
Nekrosis avaskuler terjadi 1 -2 tahun pasca trauma
Artrosis degeneratif
Komplikasi dapat berupa komplikasi dini yaitu kerusakan nervus skiatik, kerusakan pada
kaput femur, kerusakan pada pembuluh darah, dan fraktur diafisis femur. Komplikasi lanjut
dapat berupa nekrosis avaskuler, miositis osifikans, osteoartritis.
b.

Dislokasi panggul anterior


Pada cedera ini pederita biasanya terjatuh dari suatu tempat tinggi dan menggeserkan kaput
femur di depan asetabulum. Pemeriksaan dislokasi anterior, kaki dibaringkan eksorotasi
dan seringkali agak fleksi. Dalam posisi adduksi tapi tidak dalam posisi menyilang.
Penderita tidak dapat bergerak fleksi secara aktif ketika dalam keadaan dislokasi. Kaput
femur jelas berada di depan triangle femur. (3,7)
Gejala klinis dan Pemeriksaan
Pemeriksaan dislokasi panggul anterior, kaki dibaringkan eksorotasi dan seringkali agak
fleksi. Dalam posisi adduksi tapi tidak dalam posisi menyilang. Penderita tidak dapat
bergerak fleksi secara aktif ketika dalam keadaan dislokasi. Kaput femur jelas berada di
depan triangle femur. (3,7)
Penatalaksanaan
Terapi dilakukan dengan membaringkan penderita di lantai, dan lakukan anestasi
seperti pada penanganan dislokasi panggul posterior. Dengan melakukan pengamatan secara
cermat, suruh seorang asisten menarik pelvisnya dengan kuat sepanjang manuver pada
SIAS. Pegang tungkai penderita dan bengkokkan panggul dan lutut sampai 90o. Rotasikan
tungkainya ke posisi netral. Hal ini akan mengubah dislokasi panggul anterior menjadi
posterior. Tarik tungkai penderita terus menerus ke atas agar dapat mengangkat kaput femur
ke dalam asetabulum. (3,7,8)
Jika panggul tidak dapat direduksi, turukan tungkainya ke lantai ketika sedang
mempertahankan reduksi. Jika panggul masih tidak dapat direduksi, maka gunakan traksi
22

sesuai dengan arah deformitas (fleksi dan adduksi). Saat mempertahankan traksi, angkat
tungkainya pada posisi vertikal agar dapat membawa kaput femur pada tepi anterior
asetabulum. Sekarang, dengan masih mempertahankan traksi, rotasikan tungkai ke internal
dan turunkan pahanya menjadi posisi yang diekstensikan. Jika panggul masih tidak dapat
direduksikan, suruh seorang asisten terus memegang pelvis dengan kuat. Suruh asisten
kedua berdiri di depannya dan menarik dengan kuat sesuai dengan arah femur. Abduksikan
panggul yang normal dan letakkan tumit anda tanpa sepatu pada tempat kaput femur yang
anda pikirkan. Kemudian tekan ke arah posterolateral hingga kaput masuk ke dalam socket
dengan bunyi debam. Jika gagal, rujuk untuk dilakukan reduksi terbuka. Setelah dilakukan
reduksi diperlukan perawatan lebih lanjut, pertahankan penderita di tempat tidur hingga ia
dapat mengontrol panggulnya kembali. Kemudian biarkan ia berdiri dan menahan beban
berat. Amati kaput femur terhadap nekrosis aseptik, sama seperti dislokasi panggul posterior.
(3,7,8)

c. Dislokasi panggul central / obturator


Dislokasi obturator ini sangat jarang ditemukan. Dislokasi obturator disebabkan
karena gerakan abduksi yang berlebih (hiper-abduksi) dari panggul yang normal yang
disebabkan karena trokantor mayor bergerak berlawanan dengan pelvis untuk mengungkit
kaput femur keluar dari asetabulum.
Gejala Klinis dan pemeriksaan
Panggul akan sangat terlihat dalam posisi abduksi dan tidak dapat dibawa ke posisi normal
tanpa penyesuaian dari pelvis. Kelainan saraf sangat jarang terlihat pada kasus seperti ini.(3,7)
Penatalaksanaan
Terapi pada dislokasi obturator, yang terjadi akibat sobeknya capsul inferior, adalah sangat
memungkinkan untuk mengubah dislokasi ini menjadi dislokasi panggul anterior maupun
posterior, dan kemudian dapat direduksi dengan cara yang tepat. Bagaimanapun juga traksi
abduksi pada tungkai dengan traksi yang berlawanan dengan pelvis sangat diperlukan.
Berikan tekanan kuat, lalu letakkan pada sisi medial kaput femur dengan melakukan sedikit
gerakan internal dan eksternal rotasi. Adduksikan ke posisi normal. Selama kaput femur yang
mengalami dislokasi tidak bergerak ke arah yang dapat mengganggu suplay darah, penderita
23

dapat mulai berjalan dengan tongkat ketiak tanpa beban pada tungkainya setelah beristirahat
di tempat tidur selama beberapa hari. Penderita harus berjalan dengan tongkat ketiak selama 6
minggu dan melakukan pemeriksaan dengan sinar-X dengan interval 2 sampai 3 bulan untuk
tahun pertama dan 6 bulan untuk tahun kedua. Kemungkinan terjadi avascular necrosis sangat
kecil karena arah dislokasi ini. (3,7)
Dislokasi Hip bawaan
Beberapa anak lahir dengan masalah yang disebut dislokasi pinggul bawaan pinggul
(displasia). Kondisi ini biasanya didiagnosis segera setelah bayi lahir. Sebagian besar waktu,
hal itu mempengaruhi hip kiri dalam kelahiran anak pertama, perempuan, dan bayi yang lahir
dalam posisi sungsang. (3,6)

Gambar 18. dislokasi hip kongenital


Anatomi
Dalam dislokasi pinggul, bola pada bagian atas tulang paha (femoralis kepala) tidak
duduk aman di soket (acetabulum) dari sendi pinggul. Sekitarnya ligamen juga dapat lepas dan
meregang. Bola dapat lepas dalam soket atau benar-benar luar itu. (3,6)
Penyebab
Penyebab masalah ini masih belum diketahui. (3,6)
24

Gejala
Pada dislokasi bawaan, tanda awal mungkin "mengklik" suara saat kaki bayi yang baru
lahir didorong terpisah. Jika kondisi itu terus terdeteksi pada tahap bayi, akhirnya kaki yang
terkena akan tampak lebih pendek dari yang lain, kulit di lipatan paha akan muncul tidak merata,
dan anak akan memiliki fleksibilitas lebih pada sisi yang terkena. Ketika ia mulai berjalan, ia
mungkin akan lemas, berjalan kaki, atau "goyangan" seperti bebek. (3,6)
Diagnosa
Pemeriksaan fisik dengan teliti bayi yang baru lahir biasanya mendeteksi dislokasi hip. Pada bayi
yang lebih tua dan anak-anak, hip-sinar x dapat mengkonfirmasikan diagnosis.(3,6)
Pengobatan
Pengobatan dislokasi tergantung pada usia anak. Dalam atau sangat muda bayi baru lahir,
misalnya, perangkat lunak disebut posisi memanfaatkan Pavlik akan menjaga tulang pinggul
dalam soket dan merangsang pengembangan pinggul normal. Jika metode tidak bekerja, tulang
pinggul sering dapat mendorong kembali ke tempatnya pada anak berumur 6 bulan sampai 2
tahun. Prosedur, disebut reduksi tertutup, dilakukan di bawah anestesi. Jika reduksi tertutup
gagal untuk memperbaiki masalah, operasi terbuka untuk reposisi hip mungkin diperlukan.
Setelah anak adalah lebih dari 2 tahun, ditutup. Mengikuti baik atau membuka prosedur tertutup,
anak akan memakai cor dan / atau kawat gigi selama beberapa bulan. Ini akan membantu
menjaga tulang pinggul di soket sementara menyembuhkan. Anak-anak sangat mungkin
mengalami penundaan sebelum berjalan karena para pemain. Meskipun perbedaan panjang kaki
mungkin tetap, pengobatan awal pinggul bawaan dislokasi hip joint dapat mempromosikan
fungsi normal dan akhirnya izin gaya hidup aktif. (3,6)

25

BAB V
KESIMPULAN

KESIMPULAN
Dislokasi HIP adalah keadaan dimana tulang-tulang yang membentuk sendi tidak lagi
berhubungan secara anatomis.
Diagnosa dislokasi dapat ditegakkan melalui anamnesa, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan
radiologis.
Dalam menghadapi kasus dislokasi, kita harus mengetahui macam dislokasi, komplikasi, dan
penanganannya.
Ada beberapa macam terapi untuk menangani kasus dislokasi HIP, hal ini disesuaikan
dengan indikasi dari terapinya.
SARAN
Sebagai tenaga medis, kita harus bisa memahami kasus dislokasi karena hal ini bisa terjadi.
Pemahaman yang dimaksud mulai dari macam dislokasi, cara mendiagnosa dislokasi,
komplikasi, serta terapi yang ada.

26

DAFTAR PUSTAKA

1. Mansjoer, A. dkk. 2000. Kapita Selekta Kedokteran jilid 2. Media Aesculapius. Jakarta
2. Cole, Warren H and Zollinger Robert M. Textbook of Surgery, Ninth Edition. New York:
Meredith Corporation.
3. Salter Robert bruce. 1999. Textbook of Disorder and Injuries of the Musculoskeletal
System, 3rd-ed. Baltimore: Williams & Wilkins.
4. Rasjad Chairuddin, 2007, Pengantar Ilmu Bedah Ortopedi edisi ketiga, Jakarta: PT.Yarsif
Watampone (Anggota IKAPI).
5. Reksoprojo, S.1995. Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah. Binarupa Aksara. Jakarta
6. Wim de Jong, Syamsuhidajat, R. 2003. Buku Ajar Ilmu Bedah, edisi dua. Penerbit Buku
Kedoktern EGC. Jakarta
7. Appley A Graham

& Salomon Louis, 1995. Orthopedi dan Fraktur Sistem, Edisi

ketujuh, cetakan pertama. Jakarta : Widya Medika.


8. Greene, Walter B, Netters Orthopaedics, North Carolina,
9. Weinsterin Stuart L, Tureks Orthopaedics, Lippincot Wililiams & Wilkins.
10. Shwartz Seymor I. Principles of Surgery, fifth edition. New York, McGraw-Hill,
Information Services Company.

27

Anda mungkin juga menyukai