Anda di halaman 1dari 6

Strategi Pelaksanaan pada Klien yang Mengalami Isolasi Sosial

(Lidia L.W Simatupang, 1006672636)


Mahasiswi Fakulta Ilmu Keperawatan

Seorang ibu X yang berusia 50 tahun merasa malu bila ingin bertemu atau
berkenalan dengan orang lain. Hal ini dikarenakan ibu tersebut merasa bahwa dia
sudah sangat tua , mengalami penurunan fungsi organ, gangguan kemampuan
berfikir dan mengingat sehingga ibu ini merasa tidak pantas bila dia berkenalan
atau bertemu dengan orang lain. Gangguan kemampuan berfikir dan mengingat
membuat ibu X takut kalau suatu saat temannya ngbrol tidak suka dengan ibu X
karena tidak nyambung topiknya. Oleh karena itu, Ibu X sering menjauhkan diri
dari orang-orang dan tidak mau berkenalan dengan orang lain. Bahkan terhadap
keluarganya sendiri, Ibu X tidak berani menampilkan diri. Dia hanya suka
mengurung diri di kamar. Oleh karena khawatir, anak Ibu X mengantarkan ibu X
ke rumah sakit. Bahkan sesampainya di rumah sakit, ketika perawat mengajak
berkenalan dengan ibu X, ibu X tidak mau dan menutup tubuhnya dengan selimut.
Kemudia perawat berusaha agar ibu X terbuka kepada perawat sampai akhirnya
Ibu X berkata Saya merasa tidak pantas punya banyak teman suster karena saya
merasa bahwa saya sudah tua. Sesuai dengan usia saya, tidak wajar juga bila
saya ikut bergabung berbicara dengan beberapa orang yang sedang berkumpul
karena saya merasa tidak nyaman dan sulit. Jadi saya merasa lebih bagus saya
menghindar saja dari orang lain.
Strategi Pelaksanaan Klien Isolasi Sosial
A. Proses Keperawatan (Pertemuan-1)
1. Kondisi klien
a. Data subjektif
-

Klien tidak mau berbicara dengan orang lain.

Klien tidak mau berkenalan dengan orang lain.

Klien tidak mau bergabung dengan teman satu kamar yang sedang
mengobrol.

Ketika ditanya, hanya menjawab ya, tidak,tidak tahu.

b. Data objektif
-

Wajah murung, apatis.

Tampak lemah.

Tidak ada kontak mata dan lebih sering menunduk.

Berdiam diri di kamar/menyendiri.

2. Diagnosa keperawatan
Kurangnya Interaksi social (isolasi social) berhubungan dengan system
pendukung yang tidak adekuat.
3. Tujuan Keperawatan
-

Tujuan umum
Klien dapat berinteraksi dengan orang lain.

Tujuan khusus

Klien mampu membina hubungan saling percaya dengan perawat.

Klien mampu mengenal penyebab menarik diri.

Klien mampu mengenal keuntungan berhubungan dan kerugian tidak


berhubungan dengan orang lain.

Klien mampu berkenalan dengan orang lain.

Klien mampu memasukkan ke dalam jadwal kegiatan hariannya.

4. Tindakan keperawatan
-

Membina hubungan saling percaya.

Membantu klien mengenal penyebab menarik diri.

Membantu klien mengenal keuntungan berhubungan dan kerugian tidak


berhubungan dengan orang lain.

Mengajarkan klien berkenalan dengan orang lain.

Menganjurkan klien memasukkan ke dalam jadwal kegiatan hariannya.

Strategi Komunikasi
Fase Orientasi
a. Salam terapeutik
Selamat pagi Ibu, perkenalkan nama saya Ners Lidia Simatupang. Ibu bisa
panggil saya Ners Lidia. Di sini saya yang bertugas merawat ibu dari jam
08.00-12.00 WIB. Ibu namanya siapa? Lebih senang dipanggil apa?
b. Evaluasi/validasi
Bagaimana keadaan Ibu hari ini? Apakah kemarin tidurnya nyenyak? Sudah
minum obat?
c. Kontrak
Bagaimana kalau pagi ini kita berbicara tentang keluarga dan teman-teman
ibu? Ibu maunya kita mengobrol dimana dan berapa lama? Baiklah kita
mengobrol selama 15 menit ya, Bu di taman.
Fase Kerja
Siapa saja yang tinggal serumah dengan ibu? Siapa yang paling dekat dengan
ibu? Siapa yang jarang berbicara dengan ibu? Apa yang menyebabkan ibu jarang
bebrbicara dengannya? Selama di rawat di rumah sakit ini apakah ibu merasa
kesepian? Siapa saja yang ibu kenal di ruangan ini? Kegaiatan apa saja yang ibu
lakukan dengan teman yang ibu kenal? Apa yang menghambat ibu dalam
berteman dan bercakap-cakap dengan klien lain? Menurut ibu apa saja
keuntungan kalau kita mempunyai teman? Wah benar, ada teman bercakap-cakap.
Apa lagi bu? Nah, kalau kerugiannya menurut ibu apa? Apa lagi bu? Jadi,
banyak juga ruginya tidak mempunyai teman ya? Kalau begiu, apakah ibu ingin
belajar unuk mengenal orang lain? Bagus, bagaimana kalau sekarang kita belajar
berkenalan dengan orang lain? Beini lho bu, untuk berkenalan dengan orang lain
kita sebutkan dulu nama kita, nama panggilan yang kita sukai, asal dan hobi kita.
Selanjutnya ibu menanyakan nama teman yang ibu ajak kenalan. Ayo kita coba.
Misalnya saya belum kenal ibu. Coba ibu berkenalan dengan saya. Ya bagus sekali
ibu.

Fase Terminasi
a. Evaluasi subjektif
Bagaimana perasaan ibu setelah kita latihan berkenalan?
b. Evaluasi objektif
Selanjutnya coba ibu katakan kembali cara berkenalan dengan orang lain
sesuai dengan yang sudah kita latih tadi.
c. Rencana tindak lanjut
Baik, bagaimana kalau pertemuan berikutnya kita memasukkan dalam jadwal
kegiatan harian ibu?
d. Kontrak yang akan datang
Baiklah karena waktunya sudah habis dan saya juga hendak menemukan
pasein yang lain, maka besok kita latihan berkenalan dengan perawat lain ya,
Bu. Ibu maunya dimana dan berapa menit? Nanti saya datang lagi ya bu, jika
ada yang kurang jelas ibu bisa menanyakannya lagi nanti.
Strategi Pelaksanaan Tindakan Keperawatan
A. Proses Keperawatan (Pertemuan-2)
1. Kondisi Klien
a. Data subjektif
Klien mulai senang bertemu dengan perawat.
b. Data objektif
-

Wajah ceria.

Ada kontak mata terhadap perawat.

2. Diagnosa Keperawatan
Isolasi social: Menarik diri
3. Tujuan Keperawatan
-

Tujuan Umum
Klien dapat berinteraksi dengan orang lain.

Tujuan Khusus

Klien mampu memperaktekkan cara berkenalan dengan orang lain


seperti yang sudah diajarkan.

Klien mampu berinteraksi secara bertahap dengan orang pertama


(seorang perawat).

Klien mampu memasukkan ke dalam jadwal kegiatan hariannya.

4. Tindakan Keperawatan
-

Mengevaluasi dan memvalidasi cara klie berkenalan dengan orang lain


seperti yang sudah diajarkan.

Mengajarkan klien berinteraksi secara bertahap dengan orang pertama


(seorang perawat).

Menganjurkan klien memasukkan ke dalam jadwal kegiatan hariannya.

Strategi Komunikasi
Fase orientasi
a. Salam terapeutik
Selamat pagi, Bu. Masih ingat dengan saya?
b. Evaluasi
Bagaimana perasaan ibu hari ini? Sudah diingat-ingat lagi pelajaran
kita tentang berkenalan? Coba praktekkan lagi sambil bersalaman
dengan suster.
c. Kontrak
Nah sesuai dengan janji saya tadi, saya akan mengajakIbu mencoba
berkenalan dengan dengan teman saya perawat lain. Sesuai dengan
janji kita berbicaranya 15 menit. Ibu maunya dimana? Baiklah kita
sekarang ke taman ya bu.
Fase Kerja
Selamat pagi perawat Y, ibu ini ingin berkenalan dengan perawat Y. Baiklah
ibu, ibu bisa berkenalan dengan perawat Y seperti yang kita peraktikkan tadi.
(Kemudian klien berkenalan dengan perawat Y: emberi salam, menyebutkan
nama, menanyakan nama perawat, dan seterusnya). Ada lagi yang ingin ibu
tanyakan pada perawat Y, coba tanyakan tentang keluarga perawat Y. Kalau
tidak ada lagi yang ingin dibicarakan, ibu bisa sudahi perkenalan ini. Lalu ibu
bisa buat janji untuk bertemu lagi dengan perawat Y, misalnya jam 1 siang

nanti. Baiklah perawat Y, karena ibu ini sudah selesai berkenalan, saya dan
ibu ini akan kembali ke ruangan. Selamat pagi.
Fase terminasi
a. Evaluasi subjektif
Bagaimana perasaan ibu setelah berkenalan dengan perawat Y? Ibu
tampak bagus sekali saat berkenalan.
b. Evaluasi objektif
Tadi ibu sudah kenalan dengan perawat Y. Sekarang coba ibu
sebutkan apa-apa saja jawaban perawat Y berdasarkan pertanyaan
ibu?
c. Rencana tindak lanjut
Mulai sekarang cobalah ibu untuk berkenalan dengan orang lain.
Mungkin bisa dimulai dengan orang yang seruangan dengan ibu.
d. Kontrak yang akan dating
Bagaimana kalau besok kia bertemu lagi untuk mengajak ibu
berkenalan dengan pasien lain. Kita akan mengobrol dimana? Kita
akan beremu besok, jam berapa? Baiklah besok kita akan bertemu lagi.
Kalau begitu saya permisi dulu ya bu.