Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN
Solusio plasenta dimana terjadi pemisahan plasenta dari tempat implantasinya di
dalam uterus sebelum bayi dilahirkan. Solutio plasenta disebut juga abrupsio plasenta, ablasio
plasenta, dan separasi premature dari plasenta dengan implantasi normal. Pasien dengan
solusio plasenta biasanya diikuti dengan perdarahan, kontraksi uterus, dan fetal distress.
Sebagian perdarahan pada solusio plasenta biasanya merembes sendiri diantara selaput
ketuban dan uterus, kemudian mengalir lewat serviks dan terlihat dari luar sehingga terjadi
perdarahan eksternal. Yang lebih jarang lagi, darah tidak mengalir keluar tetapi tidak tetap
tertahan diantara bagian plasenta yang lepas dari uterus sehingga terjadi perdarahan
tersembunyi.
Solusio plasenta merupakan penyebab perdarahan trimester ketiga kehamilan yang
berarti pada mortalitas dan morbiditas ibu dan anak. Solusio plasenta harus dipikirkan
sebagai diagnosis bila terjadi perdarahan pada trimester ketiga. Frekuensi terjadinya solusio
plasenta di USA kira-kira sebanyak 1%, dan solusio yang berat sehingga menyebabkan
kematian dari janin kira-kira 0,12% dari kehamilan.
Angka kematian janin sebanyak 20-40%, Rata-rata disebabkan karena adanya riwayat
merokok. Sebesar 6% menyebabkan kematian pada ibunya. Yang menjadi komplikasi bagi
janin dan bayinya. Komplikasi pada ibu dan bayi berhubungan dengan terjadinya persalinan
seksio sesarea, perdarahan dan koagulopati serta prematuritas. Solusio plasenta banyak
ditemukan pada wanita kulit hitam, Afrika, dan Amerika daripada wanita kulit putih seperti
wanita Amerika Latin Namun apakah hal ini merupakan factor

sosioekonomi, genetic,

ataupun kombinasi masih belum jelas. Peningkatan risiko terjadinya solusio plasenta telah
diteliti terjadi pada pasien dengan usia kurang dari 20 tahun dan pada usia lebih dari 35 tahun
ANATOMI
VAGINA

Merupakan saluran muskulo-membranasea (ototselaput) yang menghubungkan


rahim dengan dunia luar.
Bagian ototnya berasal dari otot levator ani dan otot sfingter ani (otot dubur)
sehingga dapat dikendalikan dan dilatih.
Dinding vagina mempunyai lipatan sirkuler (berkerut) yang disebut rugae.
Ditengahnya ada bagian yg lebih keras disebut kolumna rugarum, memungkinkan
vagina pada persalinan melebar.
Dinding depan vagina berukuran 9cm dan dinding belakangnya 11cm.
Pada kehamilan terdapat hipervaskularisasi, vagina tampak kebiruan, disebut
LIVIDE
Disebelah depan dinding vagina depan bagian bawah terdapat uretra, sedangkan
bagian atasnya berbatasan dengan kandung kencing, sampai forniks anterior vagina

UTERUS
Fungsi Uterus
o Sebagai alat tempat terjadinya menstruasi
o Sebagai alat tumbuh dan berkembangnya hasil konsepsi
o Tempat pembuatan hormon misal HCG
Bentuk rahim seperti buah pir/Alpukat, dengan :
o Berat sekitar 30 gr.
o Ukuran panjang uterus 7-7,5cm
o Lebar 5,25cm
o Tebal 2,5cm
o Tebal dinding 1,25 cm

Terletak di panggul kecil diantara rektum dan di depannya terletak kandung kemih.
Hanya bagian bawahnya disangga oleh ligamen yang kuat, sehingga bebas untuk
tumbuh dan berkembang saat kehamilan.
Uterus terdiri atas :
o Fundus uteri
Bagian uterus proksimal, disitu kedua tuba falopii masuk uterus.
Didalam klinik penting untuk mengetahui sampai dimana fundus
uteri berada oleh karena tuanya kehamilan.
o Korpus uteri
Bagian uterus yg terbesar
Pada kehamilan bagian ini mempunyai fungsi utama sebagai tempat
janin berkembang
o Serviks uteri
Ostium Uteri Internum
Ostium Uteri Eksternum
Kanalis servikalis
Secara histologis uterus dibagi menjadi tiga bagian:
o Endometrium, yaitu lapisan uterus yang paling dalam yang tiap bulan lepas
sebagai darah menstruasi
o Miometrum, yaitu lapisan tengah lapisan ini terdiri dari otot polos
o Perimetrium, merupakan lapisan luar yang terdiri dari jaringan ikat

PLASENTA

Minggu pertama (hari 7-8), sel-sel trofoblas yang terletak di atas embrioblas yang
berimplantasi di endometrium dinding uterus, mengadakan proliferasi dan berdiferensiasi
menjadi dua lapis yang berbeda :
1. Sitotrofoblas : terdiri dari selapis sel kuboid, batas jelas, inti tunggal, di sebelah dalam
(dekat embrioblas).
2. Sinsitiotrofoblas : terdiri dari selapis sel tanpa batas jelas, di sebelah luar
(berhubungan dengan stroma endometrium).
Unit trofoblas ini akan berkembang menjadi Plasenta. Di antara massa embrioblas
dengan lapisan sitotrofoblas terbentuk suatu celah yang makin lama makin besar, yang
nantinya akan menjadi Rongga Amnion. Sel-sel embrioblas juga berdiferensiasi menjadi
dua lapis yang berbeda:
1. Epiblas : selapis sel kolumnar tinggi, di bagian dalam, berbatasan dengan bakal
rongga amnion.
2. Hipoblas : selapis sel kuboid kecil, di bagian luar, berbatasan dengan rongga
blastokista (bakal rongga kuning-telur).
Unit sel-sel blast ini akan berkembang menjadi Janin. Pada kutub embrional, sel-sel
dari hipoblas membentuk selaput tipis yang membatasi bagian dalam sitotrofoblas
(selaput Heuser). Selaput ini bersama dengan hipoblas membentuk dinding bakal yolk sac
(kandung kuning telur). Rongga yang terjadi disebut rongga eksoselom (exocoelomic
space) atau kandung kuning telur sederhana. Dari struktur-struktur tersebut kemudian
akan terbentuk Kandung Kuning Telur, Lempeng Korion dan Rongga Korion. Pada lokasi
bekas implantasi blastokista di permukaan dinding uterus terbentuk lapisan fibrin sebagai
bagian dari proses penyembuhan luka.
Jaringan endometrium di sekitar blastokista yang berimplantasi mengalami reaksi
desidua, berupa hipersekresi, peningkatan lemak dan glikogen, serta edema. Selanjutnya
endometrium yang berubah di daerah-daerah sekitar implantasi blastokista itu disebut
sebagai desidua. Perubahan ini kemudian meluas ke seluruh bagian endometrium dalam
kavum uteri (selanjutnya lihat bagian selaput janin). Pada stadium ini, zigot disebut
berada dalam stadium bilaminar (cakram berlapis dua).
Embriologi Plasenta

Pada hari 8-9, perkembangan trofoblas sangat cepat, dari selapis sel tumbuh menjadi
berlapis-lapis. Terbentuk rongga-rongga vakuola yang banyak pada lapisan sinsitiotrofoblas
(selanjutnya disebut sinsitium) yang akhirnya saling berhubungan. Stadium ini disebut
stadium berongga (lacunar stage). Pertumbuhan sinsitium ke dalam stroma endometrium
makin dalam kemudian terjadi perusakan endotel kapiler di sekitarnya, sehingga ronggarongga sinsitium (sistem lakuna) tersebut dialiri masuk oleh darah ibu, membentuk sinusoidsinusoid. Peristiwa ini menjadi awal terbentuknya sistem sirkulasi uteroplasenta / sistem
sirkulasi feto-maternal.
Sementara itu, di antara lapisan dalam sitotrofoblas dengan selapis sel selaput Heuser,
terbentuk sekelompok sel baru yang berasal dari trofoblas dan membentuk jaringan
penyambung yang lembut, yang disebut mesoderm ekstraembrional. Bagian yang berbatasan
dengan sitotrofoblas disebut mesoderm ekstraembrional somatopleural, kemudian akan
menjadi selaput korion (chorionic plate). Bagian yang berbatasan dengan selaput Heuser dan
menutupi bakal yolk sac disebut mesoderm ekstraembrional splanknopleural. Menjelang
akhir minggu kedua (hari 13-14), seluruh lingkaran blastokista telah terbenam dalam uterus
dan diliputi pertumbuhan trofoblas yang telah dialiri darah ibu. Meski demikian, hanya sistem
trofoblas di daerah dekat embrioblas saja yang berkembang lebih aktif dibandingkan daerah
lainnya. Di dalam lapisan mesoderm ekstraembrional juga terbentuk celah-celah yang makin
lama makin besar dan bersatu, sehingga terjadilah rongga yang memisahkan kandung kuning
telur makin jauh dari sitotrofoblas. Rongga ini disebut rongga selom ekstraembrional
(extraembryonal coelomic space) atau rongga korion (chorionic space). Di sisi embrioblas
(kutub embrional), tampak sel-sel kuboid lapisan sitotrofoblas mengadakan invasi ke arah
lapisan sinsitium, membentuk sekelompok sel yang dikelilingi sinsitium disebut jonjot-jonjot
primer (primary stem villi). Jonjot ini memanjang sampai bertemu dengan aliran darah ibu.
Pada awal minggu ketiga, mesoderm ekstraembrional somatopleural yang terdapat di bawah
jonjot-jonjot primer (bagian dari selaput korion di daerah kutub embrional), ikut menginvasi
ke dalam jonjot sehingga membentuk jonjot sekunder (secondary stem villi) yang terdiri dari
inti mesoderm dilapisi selapis sel sitotrofoblas dan sinsitiotrofoblas.
Menjelang akhir minggu ketiga, dengan karakteristik angiogenik yang dimilikinya,
mesoderm dalam jonjot tersebut berdiferensiasi menjadi sel darah dan pembuluh kapiler,
sehingga jonjot yang tadinya hanya selular kemudian menjadi suatu jaringan vaskular
(disebut jonjot tersier / tertiary stem villi) (selanjutnya lihat bagian selaput janin). Selom
ekstraembrional / rongga korion makin lama makin luas, sehingga jaringan embrional makin
5

terpisah dari sitotrofoblas / selaput korion, hanya dihubungkan oleh sedikit jaringan
mesoderm yang kemudian menjadi tangkai penghubung (connecting stalk). Mesoderm
connecting stalk yang juga memiliki kemampuan angiogenik, kemudian akan berkembang
menjadi pembuluh darah dan connecting stalk tersebut akan menjadi Tali Pusat.
Setelah infiltrasi pembuluh darah trofoblas ke dalam sirkulasi uterus, seiring dengan
perkembangan trofoblas menjadi plasenta dewasa, terbentuklah komponen sirkulasi uteroplasenta. Melalui pembuluh darah tali pusat, sirkulasi utero-plasenta dihubungkan dengan
sirkulasi janin. Meskipun demikian, darah ibu dan darah janin tetap tidak bercampur menjadi
satu (disebut sistem hemochorial), tetap terpisah oleh dinding pembuluh darah janin dan
lapisan korion. Dengan demikian, komponen sirkulasi dari ibu (maternal) berhubungan
dengan komponen sirkulasi dari janin (fetal) melalui plasenta dan tali pusat. Sistem tersebut
dinamakan sirkulasi feto-maternal.
Pertumbuhan plasenta makin lama makin besar dan luas, umumnya mencapai
pembentukan lengkap pada usia kehamilan sekitar 16 minggu. Plasenta dewasa / lengkap
yang normal : 1. Bentuk bundar / oval 2. Diameter 15-25 cm, tebal 3-5 cm. 3. Berat rata-rata
500-600 g 4. Insersi tali pusat (tempat berhubungan dengan plasenta) dapat di tengah /
sentralis, di samping / lateralis, atau di ujung tepi / marginalis. 5. Sisi ibu, tampak daerah2
yang agak menonjol (kotiledon) yang diliputi selaput tipis desidua basalis. 6. Sisi janin,
tampak sejumlah arteri dan vena besar (pembuluh korion) menuju tali pusat. Korion diliputi
oleh amnion. 7. Sirkulasi darah ibu di plasenta sekitar 300 cc/menit (20 minggu) meningkat
sampai 600-700 cc/menit (aterm).

DEFINISI
Solusio plasenta adalah lepasnya plasenta sebagian atau seluruh plasenta yang normal
implantasinya diatas 22 minggu dan sebelum lahirnya anak. Plasenta itu secara normal
terlepas setelah anak lahir. Nama lain yang sering dipergunakan dalam kepustakaan yaitu
abruption placentae, ablation placentae, accidental haemorrhage, premature separation of
the normally implanted placentae.
Ada beberapa jenis perdarahan akibat solusio plasenta yaitu perdarahan keluar
(revealed hemorrhage) dan perdarahan tersembunyi (concealed hemorrhage). Perdarahan
keluar atau perdarahan eksternal biasanya merembes diantara selaput ketuban dan uterus,
kemudian lolos keluar melalui serviks. Sedangkan perdarahan tersembunyi (internal) lebih
jarang yaitu darah tidak keluar dari tubuh, tetapi tertahan diantara plasenta yang terlepas dari
uterus.2

Terdapat 2 jenis perdarahan yang terjadi :


1. Jenis perdarahan tersembunyi (concealed) : 20%
2. Jenis perdarahan keluar (revealed) : 80%
Pada jenis tersembunyi, perdarahan terperangkap dalam cavum uteri [hematoma
retroplasenta] dan seluruh bagian plasenta dapat terlepas, komplikasi yang diakibatkan
biasanya sangat berat dan 10% disertai dengan Disseminated Intravascular Coagulation.
Pada jenis terbuka, darah keluar dari ostium uteri, umumnya hanya sebagian dari plasenta
yang terlepas dan komplikasi yang diakibatkan umumnya tidak berat.
Kadang-kadang, plasenta tidak lepas semua namun darah yang keluar terperangkap dibalik
selaput ketuban (relativelly concealed)
30% perdarahan antepartum disebabkan oleh solusio plasenta.
DERAJAT SOLUSIO PLASENTA
Solusio plasenta dapat dibagi menjadi tiga grade menurut Sher & Statland 1985)

Grade I tidak ditemukan pada gejala klinik sebelum persalinan dan biasanya didiagnosa
dengan retroplasental clot.
Grade II Gejala klasik pada solusio plasenta sudah ditemukan tetapi janin masih tetap
hidup.
Grade III - Janin telah meninggal. IIIa tanpa koagulopati, IIIb dengan koagulopati. Tetapi
ada juga yang membagi solusio plasenta menjadi :
1. Ringan:

2. Sedang:

3. Berat:

Perdarahan yang keluar kurang dari 100-200cc

Uterus tidak tegang

belum ada tanda renjatan

janin hidup

kadar fibrinogen plasma lebih dari 250 mg%

perdarahan lebih dari 200cc

uterus tegang

terdapat tanda renjatan

gawat janin atau janin mati

kadar fibrinogen plasma 120-150mg%

uterus tegang dan kontraksi tetanik

terdapat renjatan

janin biasanya sudah mati

EPIDEMIOLOGI
Kejadian solusio plasenta dari 1 diantara 75 sampai 830 persalinan dan merupakan
penyebab dari 20 35 % kematian perinatal.

Walaupun angka kejadiannya cenderung

menurun pada akhir-akhir ini, namun moriditas perinatal masih cukup tinggi, termasuk
gangguan neurologis pada tahun pertama kehidupan. Solusio plasenta sering berulang pada
kehamilan berikutnya . Kejadiannya tercatat sebesar 1 diantara 8 kehamilan.
9

ETIOLOGI
Penyebab utama dari solusio plasenta masih belum diketahui dengan jelas, meskipun
demikian beberapa hal yang tersebut dibawah ini diduga merupakan faktor-faktor yang
berpengaruh pada kejadiannya, antara lain:
1. hipertensi
2. Tali pusar yang pendek
3. trauma
4. tekanan oleh rahim yang membesar pada vena cava inferior
5. Uterus yang sangat mengecil ( hidramnion pada waktu ketuban pecah, kehamilan ganda
pada waktu anak pertama lahir).
Disamping itu ada juga pengaruh dari :
1. Umur lanjut
2. Multiparitas
3. Ketuban pecah dini
4. Defisiensi asam folat
5. Merokok, kokain, alcohol
6. Mioma uteri.
PATOFISIOLOGI
Solusio plasenta diawali dengan terjadinya perdarahan kedalam desidua basalis.
Desidua terkelupas dan tersisa sebuah lapisan tipis yang melekat pada miometrium.
Hematoma pada desidua akan menyebabkan separasi dan plasenta tertekan oleh hematoma
desidua yang terjadi.
Pada awalnya kejadian ini tak memberikan gejala apapun. Namun beberapa saat
kemudian, arteri spiralis desidua pecah sehingga menyebabkan terjadinya hematoma
retroplasenta yang menjadi semakin bertambah luas. Daerah plasenta yang terkelupas
menjadi semakin luas sampai mendekati tepi plasenta. Oleh karena didalam uterus masih
terdapat produk konsepsi maka uterus tak mampu berkontraksi untuk menekan pembuluh
yang pecah tersebut. Darah dapat merembes ke pinggiran membran dan keluar dari uterus
maka terjadilah perdarahan yang keluar ( revealed hemorrhage)
10

Perdarahan tersembunyi ( concealed hemorrhage)


1. Terjadi efusi darah dibelakang plasenta dengan tepi yang masih utuh
2. Plasenta dapat terlepas secara keseluruhan sementara selaput ketuban masih menempel
dengan baik pada dinding uterus
3. Darah dapat mencapai cavum uteri bila terdapat robekan selaput ketuban
4. Kepala janin umumnya sangat menekan SBR sehingga darah sulit keluar
5. Bekuan darah dapat masuk kedalam miometrium sehingga menyebabkan uterus couvellair

Hematoma Retroplasenta yang terlihat pasca persalinan


GEJALA KLINIS
Diagnosis solusio plasenta didasarkan atas Gejala-gejala seperti:
-

Perdarahan disertai yang nyeri, juga diluar his

Anemi dan syok ; beratnya anemi dan syok sering tidak sesuai dengan banyaknya
darah yang keluar

Rahim kerasa seperti papan dan nyeri dipegang karena isi rahim bertambah dengan
darah yang berkumpul dibelakang plasenta hingga rahim teregang ( uterus en bois ).

Palpasi sukar karena rahim keras


11

Fundus uteri makin lama makin naik

Bunyi jantung biasanya tidak ada

Pada toucher teraba ketuban yang tegang terus menerus ( karena isi rahim
bertambah )

Sering ada proteinuri karena disertai preeklamsi.

Pemeriksaan klinis
1. perdarahan dari jalan lahir dengan atau tanpa disertai rasa nyeri (tergantung derajat
solusio plasenta)
2. perabaan uterus pada umumnya tegang, palpasi bagian-bagian janin biasanya sulit.
3. janin dapat dalam keadaan baik, gawat janin atau mati ( tergantung derajat solusio
plasenta).
4. pada pemeriksan dalam bila ada pembukaan teraba ketuban yang tegang dan menonjol.
Pemeriksaan USG:
Pada pemeriksaan USG didapatkan implantasi plasenta normal dengan gambaran
hematom retroplasenter.
Pemeriksaan Laboratorium:
1. Bed side clotting test( clott retraction test), untuk menilai fungsi pembekuan darah atau
penilaian tidak langsung kadar fibrinogen.
2. Pemeriksaan darah untuk fibrinogen, trombosit, waktu perdarahan, waktu pembekuan.

Kadar haemoglobin [Hb] atau hematokrit [Ht] sangat bervariasi.

Penurunan Hb dan Ht umumnya terjadi setelah terjadi hemodilusi.

Hapusan

darah

tepi

menunjukkan

penurunan

trombosit,

adanya

schistosit

Menunjukkan sudah terjadinya proses koagulasi intravaskular.

Penurunan kadar fibrinogen dan pelepasan hasil degradasi fibrinogen.

Bila pengukuran fibrinogen tak dapat segera dilakukan, lakukan pemeriksaan clott
observation test. Sample darah vena ditempatkan dalam tabung dan dilihat proses
pembentukan bekuan (clot) dan lisis bekuan yang terjadi. Bila pembentukan clot
berlangsung > 5 10 menit atau bekuan darah segera mencair saat tabung dikocok

12

maka hal tersebut menunjukkan adanya penurunan kadar fibrinogen dan trombosit.
Pemeriksaan laboratorium khusus :
Prothrombine time
Partial thromboplastine time
Jumlah trombosit
Kadar fibrinogen
Kadar fibrinogen degradation product
Pemeriksaan ultrasonografi tak memberikan banyak manfaat oleh karena pada
sebagian besar kasus tak mampu memperlihatkan adanya hematoma retroplasenta
Diagnosis solusio plasenta didasarkan adanya perdarahan antepartum yang bersifat
nyeri, uterus yang tegang dan nyeri. Setelah plasenta lahir, ditemukan adanya impresi
(cekungan) pada permukaan maternal plasenta akibat tekanan dari hematom retroplasenta.
PENATALAKSANAAN
1. Perbaikan keadaan umum dan atasi gangguan perdarahan.dengan resusitasi cairan dapat
menggunakan darah lengkap segar atau plasma beku segar, PRC, kriopresipitat,
konsentrasi trombosit.
2. Lahirkan Janin bila terjadi gawat janin

lakukan Sectio Caesarea. Bila pembukaan

lengkap lakukan amniotomi, drip oksitosin dan lanjutkan dengan ekstraksi forsep.
3. Bila janin mati lakukan pervaginam dengan drip oksitosin cukup 1 labu. Lakukan sectio
caesarea bila dalam 6 jam janin belum lahir.

PENGELOLAAN
Umum:
-

pemberian darah yang cukup

pemberian O2

pemberian antibiotic

pada syok yang berat diberi kortikosteroid dalam dosis tinggi.

13

Khusus
a. terhadap hipofibrinogenemi: substitusi dengan human fibrinogen 10g atau darah segar
dan menghentikan fibrinolysis dengan trasylol (Proteinase inhibitor) 200.000 iu diberikan
IV, selanjutnya jika perlu 100.000 iu/jam dalam infuse.
b. Untuk merangsang diuresis: Manitol, diuresis yang baik lebih dari 30-40cc/jam.
c. Obstetri: pimpinan persalinan pada solusio plasenta bertujuan untuk mempercepat
persalinan sedapat-dapatnya kelahiran terjadi dalam 6 jam, hal ini supaya bagian plasenta
yang terlepas meluas, perdarahan bertambah, hipofibrinogenemi bertambah.
Tujuan ini dicapai dengan:
-

Pemecahan ketuban pada solusio plasenta tidak bermaksud untuk menghentikan


perdarahan dengan segera, tetapi untuk mengurangkan regangan dinding rahim dan
dengan demikian mempercepat persalinan.

Pemberian infuse oksitosin ialah 5iu dalam 500cc glukosa 5%

Seksio sesarea dilakukan bila serviks panjang dan tertutup, setelah pemecahan ketuban
dan pemberian oksitosin dalam 2 jam belum ada his, dan anak masih hidup.

Histerektomi dilakukan bila ada atonia uteri yang berat yang tidakdapat diatasi dengan
usaha-usaha yang lazim1

A. Tindakan gawat darurat


Bila keadaan umum pasien menurun secara progresif atau separasi plasenta bertambah luas
yang manifestasinya adalah :
Perdarahan bertambah banyak
Uterus tegang dan atau fundus uteri semakin meninggi
Gawat janin
maka hal tersebut menunjukkan keadaan gawat-darurat dan tindakan yang harus segera
diambil adalah memasang infus dan mempersiapkan tranfusi.
B. PERSALINAN PERVAGINAM
Indikasi persalinan pervaginam adalah bila derajat separasi tidak terlampau luas dan atau
kondisi ibu dan atau anak baik dan atau persalinan akan segera berakhir.
14

Setelah diagnosa solusio plasenta ditegakkan maka segera lakukan amniotomi dengan tujuan
untuk :
1. Segera menurunkan tekanan intrauterin untuk menghentikan perdarahan dan
mencegah komplikasi lebih lanjut (masuknya thromboplastin kedalam sirkukasi ibu
yang menyebabkan DIC)
2. Merangsang persalinan ( pada janin imature, tindakan ini tak terbukti dapat
merangsang persalinan oleh karena amnion yang utuh lebih efektif dalam membuka
servik)
Induksi persalinan dengan infuse oksitosin dilakukan bila amniotomi tidak segera diikuti
dengan tanda-tanda persalinan.
C. SEKSIO SESAR
Indikasi seksio sesar dapat dilihat dari sisi ibu dan atau anak. Tindakan seksio sesar dipilih
bila persalinan diperkirakan tak akan berakhir dalam waktu singkat, misalnya kejadian
solusio plasenta ditegakkan pada nulipara dengan dilatasi 3 4 cm. Atas indikasi ibu maka
janin mati bukan kontraindikasi untuk melakukan tindakan seksio sesar pada kasus solusio
plasenta.
KOMPLIKASI
1. Syok hipovolemik
Kehilangan darah pada solutio plasenta hampir tak dapat diperkirakan. Ini dikarenakan
perdarahan yang tidak terlihat di belakang plasenta dan myometrium, tapi juga karena
hypertensi yang cenderung mengaburkan gejala hipovolemia.
2. Coagulation disorder
Perdarahan yang berkepanjangan akan menghabiskan persediaan protein pembekuan pada
darah ibu. Baik karena kebutuhan untuk pembekuan darah itu sendiri maupun karena
hanyutnya faktor pembekuan karena perdarahan.
3. End Organ damage
Ginjal adalah organ yang paling rentan terhadap keadaan hypoperfusi, anoksia dan
pembekuan intravascular. Gejala awal dari kerusakan ginjal termasuk oliguria dan
peningkatan konsentrasi Nitrogen dan Kreatinin serum
15

4. Perdarahan post partum


Perdarahan post partum terdapat pada 25% kasus dan terjadi bersamaan dengan gangguan
pembekuan darah sehingga memungkinkan terjadinya kehilangan darah yang masif dari
tubuh ibu.
5.Asfiksia pada janin
Komplikasi pada janin berupa asfiksi, berat bayi lahir rendah, prematuritas dan infeksi.
Disamping itu bayi yang lahir hidup dengan riwayat solusio plasenta mempunyai risiko 7
kali lebih sering mengalami cerebral palsy yang mungkin dice babkan anoksia dan
komplikasi dan syok.
PROGNOSIS
Mortalitas maternal 0.5 5% dan sebagian besar disebabkan gagal ginjal atau gagal
kardiovaskular. Pada solusio plasenta berat, mortalitas janin mencapai 50 80% Janin yang
dilahirkan memiliki morbiditas tinggi yang disebabkan oleh hipoksia intra uterin, trauma
persalinan dan akibat prematuritas.

16

DAFTAR PUSTAKA

Bagian Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran UNPAD Bandung. Obstetri Patologi.
Bandung: Elstar offset, 1982; 110-27.
Cunningham, F.G., MacDonald, P.C., Gant, N.F., Obstetri Williams. Edisi 18. Jakrta :
Penerbit Buku Kedokteran EGC, 1995: 833-846
Mochtar R. Sinopsis Obstetri 1. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC, 1990; 296-322.
Heller L. Emergencies in Gynaecology and Obstetrics. diterjemahkan oleh Mochaznad
Martoprawiro dan Adji Dharma. Gawat Darurat Ginekologi dan Obstetri. Jakarta : Penerbit
Buku Kedokteran EGC, 1988; 25-9.
Prawirohardjo, Sarwono. Ilmu Kebidanan edisi 3. Jakarta : Penerbit Yayasan Bina Pustaka
Sarwono Prawihardjo, 2002.
Shad H Deering, MD, Abruptio Placentae . http://emedicine.medscape.com/article/252810overview Dec 22, 2008, retrieved September 24, 2009

17