Anda di halaman 1dari 36

BAGIAN ILMU KESEHATAN MATA

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN

LAPORAN KASUS & REFERAT


Desember 2014

OS ULKUS KORNEA

OLEH :
Nurasyikin binti Alias
C 111 09 854
Pembimbing:
dr. Rahmat R. Pangeran
Supervisor:
dr. Hasnah, Sp. M, M. Kes

DIBAWAKAN DALAM RANGKA TUGAS KEPANITERAAN KLINIK


BAGIAN ILMU PENYAKIT MATA
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2014
i

LEMBAR PENGESAHAN

Yang bertanda tangan di bawah ini menyatakan bahwa :


Nama

: Nurasyikin binti Alias

NIM

: C 111 09 854

Kasus Baca

: OS Ulkus Kornea

Referat

: Ulkus Kornea

Telah menyelesaikan kasus baca dan referat dalam rangka kepaniteraan klinik
pada bagian Ilmu Penyakit Mata Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin.

Makassar, Februari 2014

Supervisor

Pembimbing

( dr. Hasnah, Sp. M, M. Kes )

( dr. Rahmat R. Pangeran )

ii

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ...................................................................................

LEMBAR PENGESAHAN............................................................................

ii

DAFTAR ISI........................................................................................ ..........

iii

LAPORAN KASUS..

REFERAT.....

I.

PENDAHULUAN.......

II.

ANATOMI DAN FISIOLOGI KORNEA.......

10

III.

DEFINISI.......

14

IV.

EPIDEMIOLOGI...........

14

V.

ETIOLOGI..

15

VI.

PATOFISIOLOGI....

19

VII.

KLASIFIKASI.....

23

VIII.

MANIFESTASI KLINIS....

25

IX.

DIAGNOSIS...

26

X.

DIAGNOSIS BANDING........

28

XI.

PENATALAKSANAAN....

28

XII.

KOMPLIKASI

31

PROGNOSIS

32

XIII.

DAFTAR PUSTAKA
iii

LAPORAN KASUS
I.

IDENTITAS PASIEN
Nama

: Tn. A

Umur

: 44 tahun

Jenis Kelamin

: Laki-laki

Agama

: Islam

Suku/Bangsa

: Bugis/Indonesia

Pekerjaan

: Pegawai Negeri Sipil

Alamat

: Jalan Sultan Hasanuddin

Tgl Pemeriksaan : 25 November 2014


Rumah Sakit

: Rumah Sakit Wahidin Sudirohusodo

II. ANAMNESIS
Keluhan Utama

: Mata merah pada mata kiri

Anamnesa Terpimpin : Dialami sejak 1 minggu sebelum ke Poliklinik


Mata Rumah Sakit Wahidin Sudirohusodo. Awalnya mata pasien
kemasukan debu. Setelah beberapa hari kemudian, mata tiba-tiba terasa
nyeri dan terdapat bintik putih pada mata yang makin lama makin melebar.
Keluhan ini disertai dengan rasa nyeri, air mata berlebih , kotoran mata
berlebih , penglihatan kabur, silau, rasa mengganjal tetapi tidak gatal..
Riwayat pernah berobat ke dokter mata sebelumnya ada. Keluhan pada mata
kanan tidak ada. Riwayat trauma dan riwayat alergi tidak ada. Riwayat
diabetes mellitus disangkal. Riwayat hipertensi disangkal. Riwayat keluarga
mengalami keluhan yang sama tidak ada.

III. PEMERIKSAAN FISIS

Status generalis : Sakit sedang, gizi baik, compos mentis (E4 M6 V5)

Status vitalis
Tekanan darah : 120/80 mmHg
1

Nadi

: 80 kali/menit

Pernapasan

: 20 kali/menit

Suhu

: 36,8 C

Gambar 1: Foto pasien (Okulus sinistra)


IV. PEMERIKSAAN OFTALMOLOGI
a. INSPEKSI
No

Pemeriksaan

OD

OS

Palpebra

Edema (-)

Edema (+)

Apparatus

Lakrimasi (-)

Lakrimasi (+)

Lakrimalis
3

Silia

Sekret (-)

Sekret (-)

Konjungtiva

Hiperemis (-)

Hiperemis (+), mixed


injection (+)

Kornea

Jernih

Keruh (+)

Bilik mata depan

Normal

Sulit dievaluasi

Iris

Coklat, kripte (+)

Sulit dievaluasi

Pupil

Bulat, sentral, refleks

Sulit dievaluasi

cahaya (+)
9

Lensa

Jernih

Sulit dievaluasi

10

Gerakan Bola

Ke segala arah

Sulit dievaluasi

Mata
2

b. PALPASI
No

Pemeriksaan

OD

OS

Tensi okuler

Tn

Tn

Nyeri tekan

(-)

(-)

Massa tumor

(-)

(-)

Glandula pre-

Tidak ada pembesaran

Tidak ada pembesaran

aurikuler

c. TONOMETRI

: Tidak dilakukan pemeriksaan

d. VISUS

: VOD = 6 / 6
VOS = 1 / 300

e. CAMPUS VISUAL

: Tidak dilakukan pemeriksaan.

f. COLOR SENSE

: Tidak dilakukan pemeriksaan.

g.

: Tidak dilakukan pemeriksaan.

LIGHT SENSE

h. PENYINARAN OBLIK

No

Pemeriksaan

OD

Konjungtiva

Hiperemis (-)

OS
Hiperemis
(+), mixed
injection (+)

Kornea

Jernih

Kesan keruh

Bilik Mata Depan

Normal

Sulit dievaluasi

Iris

Coklat, kripte (+)

Sulit dievaluasi

Pupil

Bulat, sentral, refleks

Sulit dievaluasi

cahaya (+)
6

Lensa

Jernih

Sulit dievaluasi

i. DIAFANOSKOPI

: Tidak dilakukan pemeriksaan

j. OFTALMOSKOPI

: Tidak dilakukan pemeriksaan

k. SLIT LAMP

SLOD : Konjungtiva hiperemis (-), kornea jernih, bilik mata depan kesan
normal, iris coklat kripte (+), pupil bulat, sentral, refleks cahaya (+), lensa
jernih.
SLOS : Konjungtiva hiperemis (+), mixed injection (+), kornea keruh (+),
bilik mata depan, iris, pupil, lensa sulit di evaluasi.
l. TES FLUORESCEIN

Interpretasi: Positif, tampak ulkus berwarna hijau berdiameter 9 x 10 mm


terletak di sentral dan para sentral.
m. USG B-SCAN

: Tidak dilakukan pemeriksaan

n. LABORATORIUM

: Tidak dilakukan pemeriksaan

o. GONIOSKOPI

: Tidak dilakukan pemeriksaan

V. RESUME
Seorang laki-laki berumur 44 tahun datang ke Poliklinik Mata Rumah Sakit
Wahidin Sudirohusodo dengan hiperemis konjungtiva pada okulus sinistra (OS)
yang dialami sejak 1 minggu sebelum ke Rumah Sakit Wahidin Sudirohusodo.
Awalnya okulus sinistra pasien kemasukan debu. Setelah beberapa hari
kemudian, nyeri dirasakan dan bintik putih pada okulus sinistra makin melebar.
Lakrimasi (+), sekret (+), visus menurun (+), fotofobia (+), rasa mengganjal (+)
dan pruritus (-). Riwayat pernah berobat ke dokter mata sebelumnya ada. Riwayat
diabetes mellitus dan hipertensi disangkal.
Pada pemeriksaan fisis, status generalis didapatkan sakit sedang, gizi baik,
compos mentis (E4 M6 V5). Status vitalis didapatkan tekanan darah 120/80
mmHg, nadi 80 kali/menit, pernapasan 20 kali/menit dan suhu 36,8C.
Pemeriksaan oftalmologi, inspeksi didapatkan OS palpebra edem (+), silia sekret
(-), konjungtiva hiperemis mixed injection (+), kornea kesan keruh, dan detail lain
sulit di evaluasi. Pada pemeriksaan visus didapatkan VOD 6 / 6 dan VOS 1 / 300.
Pada penyinaran oblik didapatkan OS konjungtiva hiperemis mixed injection (+),
4

kornea kesan keruh (+), dan detail lain sulit di evaluasi. Pada pemeriksaan slit
lamp OS, konjungtiva hiperemis mixed injection (+), kornea kesan keruh (+), dan
detail lain sulit dievaluasi. Pada pemeriksaaan penunjang, tes fluroscein
didapatkan positif yaitu tampak ulkus berwarna hijau berdiameter 9 x 10 mm
terletak di sentral dan para sentral.

VI.

DIAGNOSIS
OS ulkus kornea et causa suspek bakteri

VII.

TERAPI
Oral:

Ofloxacin 2 x 200 mg

Renadinac 2 x 50 mg

Vitamin C 1 x 1

Topikal:

Cravit ED 6 x 1 tetes OS

C. Hyalub EDMD 6 x 1 tetes OS

VIII. RENCANA TINDAKAN

IX.

Pemeriksaan KOH

Kultur

Tes sensitivitas

PROGNOSIS
Quo ad vitam

: Bonam

Quo ad sanationam

: Dubia

Quo ad visam

: Dubia

Quo ad kosmeticum

: Dubia

X.

DISKUSI
Ulkus kornea merupakan hilangnya sebagian permukaan kornea akibat

kematian jaringan kornea.


Pasien ini didiagnosis dengan OS ulkus kornea et causa suspek bakteri
berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisis. Dari anamnesis didapatkan
keluhan mata merah pada sebelah kiri (+), nyeri mata sebelah kiri (+), air mata
berlebih (+), penglihatan kabur (+),

silau (+), gatal pada mata (-), dan rasa

berpasir/mengganjal (+) , riwayat pemberian obat tetes dan obat minum (+),
riwayat penyakit DM (-), riwayat penyakit hipertensi (-).
Pada pemeriksaan fisis didapatkan:
Pemeriksaan visus:
VOD : 6 / 6
VOS : 1 / 300
Pemeriksaan slit lamp SLOS : Konjungtiva hiperemis mixed injection (+), kornea
keruh (+) dengan ukuran 9 x 10 mm, bilik mata depan, iris, pupil, lensa sulit di
evaluasi.
Pada pasien

adanya keluhan

nyeri dikarenakan pada kornea

terdapat banyak serabut saraf nyeri sehingga setiap lesi pada kornea baik
superficial maupun dalam akan memberikan rasa sakit, dan rasa sakit ini akan
diperberat oleh adanya gesekan palpebra pada kornea. Fotofobia yang terjadi
adalah akibat gangguan pembiasan cahaya pada retina tidak pada satu titik
dikarenakan adanya kekeruhan pada kornea sebagai media refrakta, hal ini juga
menyebabkan terjadinya penurunan visus pada pasien disebabkan oleh karena
adanya defek pada kornea sehingga menghalangi refleksi cahaya yang masuk ke
media refrakta, terutama jika letaknya disentral. Pada pasien ini terjadi lakrimasi
karena yang mempersarafi sama dengan yang mempersarafi kornea yaitu N.
Trigeminus cabang I sehingga apabila terjadi inflamasi dikornea maka
6

berpengaruh pada apparatus lakrimalis. Injeksi perikorneal yang merupakan


pelebaran pembuluh darah perikorneal

atau a. siliaris anterior serta injeksi

konjungtiva yang merupakan pelebaran a. konjungtiva posterior yang terjadi


akibat adanya infeksi.
Ulkus kornea terjadi akibat adanya reaksi radang pada epitel karena yang
kemudian dapat masuk kelapisan bawahnya, bisa juga intoksikasi dari bakteri
sehingga terjadi reaksi imun yang mengeluarkan sitokin. Edema pada kornea
dikarenakan infiltrat sel radang pada lapisan kornea, khususnya pada lapisan
epitel dan stroma.
Ulkus kornea akan memberikan kekeruhan berwarna putih pada kornea
dengan defek pada lapisan stroma yang bila diberi pewarna flourescein akan
berwarna hijau ditengahnya. Iris sukar terlihat karena akibat edema dan infiltrasi
sel radang pada kornea.
Pengobatan pada ulkus kornea bertujuan menghalangi hidupnya bakteri
dengan pemberian antibotika.
Kultur, tes sensitivitas dan KOH merupakan anjuran pada penderita ulkus
kornea dilakukan untuk menegakkan diagnosis mikroorganisme penyebab dari
ulkus kornea yaitu bakteri, jamur, ataupun virus. serta untuk mengetahui resistensi
obat-obat yang diberikan. Sehingga pengobatan yang diberikan tepat yang
nantinya akan memberikan hasil yang baik untuk penyembuhan pasien.
Pengobatan yang diberikan pada pasien ini adalah :
Topikal, diberikan :
1. Antibiotik spectrum luar golongan fluoroquinolon: Cravit ED 6 x 1 tts OD
2. Pelumas: C. Hyalub EDMD 6 x 1 tts OD
Cravit

merupakan antibiotik spektrum luas golongan fluoroquinolon

karena penyebab pasti belum diketahui. Diberikan tiap 2 jam (loading dose) untuk
mendapatkan efek maksimal dari obat.
7

Hyalub merupakan pelumas yang mengandung vitamin A. Diberikan untuk


mengurangi perforasi kornea. Hyalub mengandung Sodium Hydroluronate yang
bergabung dengan fibronektin yang bekerja secara langsung pada proses
penyembuhan dengan meningkatkan adhesi dan migrasi dari sel epitel serta
kemampuan menyimpan air yang baik karena tiap molekulnya dapat meningkat
sejumlah molekul air. Hyalub diberikan pada pasien ini sebagai air mata buatan
untuk meghilangkan rasa terbakar, iritasi dan ketidaknyamanan yang disebabkan
oleh kekeringan pada mata dan mempercepat perbaikan permukaan kornea yang
rusak.
Oral yang diberikan:
1. Ofloxacin 2 x 200 mg, diberikan antibiotik spektrum luas golongan
fluoroquinolon karena penyebab pasti dari ulkus kornea masih belum
diketahui.
2. Renadinac berisi natrium diklofenac yaitu untuk mengurangi reaksi radang.
3. Vitamin C diberikan untuk regenerasi epitel.
Gejala yang timbul pada ulkus kornea yang disebabkan oleh infeksi jamur
dan bakteri berbeda dengan gejala ulkus kornea yang disebabkan oleh infeksi
virus.
Kondisi

Infeksi bakteri / jamur

Infeksi virus

Sakit

Tidak ada sampai hebat

Rasa benda asing

Fotofobia

Bervariasi

Sedang

Visus

Biasanya

menurun Menurun ringan

mencolok
Infeksi okular

Difus

Ringan sedang

REFERAT: ULKUS KORNEA

I.

PENDAHULUAN
Ulkus kornea merupakan hilangnya sebagian permukaan kornea akibat

kematian jaringan kornea. Terbentuknya ulkus pada kornea mungkin banyak


ditemukan oleh adanya kolagenase yang dibentuk oleh sel epitel baru dan sel
radang. Dikenal dua bentuk ulkus pada kornea yaitu ulkus kornea sentral dan
ulkus kornea marginal atau perifer. (1,2)
Pembentukan parut akibat ulserasi kornea adalah penyebab utama
kebutaan dan gangguan penglihatan di seluruh dunia dan merupakan penyebab
kebutaan nomor dua di Indonesia. Kebanyakan gangguan penglihatan ini dapat
dicegah, namun hanya bila diagnosis penyebabnya ditetapkan secara dini dan
diobati secara memadai. Penyebab ulkus kornea adalah bakteri, jamur,
Akantamoeba dan Herpes simpleks. (1,2)
Ulkus kornea biasanya terjadi sesudah terdapatnya trauma yang merusak
epitel kornea. Riwayat trauma bisa saja hanya berupa trauma kecil seperti abrasi
oleh karena benda asing, atau akibat insufisiensi air mata, malnutrisi, ataupun oleh
karena penggunaan lensa kontak. Peningkatan penggunaan lensa kontak beberapa
tahun terakhir menunjukkan peningkatan yang dramatis terhadap angka kejadian
ulkus kornea, terutama oleh Pseudomonas aeroginosa. Sebagai tambahan,
penggunaan obat kortikosteroid topikal yang mula diperkenalkan dalam
pengobatan penyakit mata menyebabkan kasus ulkus kornea lebih sering
ditemukan. .Perjalanan penyakit ulkus kornea dapat progresif, regresi atau
membentuk jaringan parut. (1,2)
Ulkus kornea akan memberikan gejala mata merah, sakit mata ringan
hingga berat, fotofobia, penglihatan menurun dan kadang kotor. Diagnosis dapat
ditegakkan dengan pemeriksaan klinis yang baik dibantu slit lamp. Pemeriksaan
laboratorium seperti mikroskopik dan kultur sangat berguna untuk membantu

membuat diagnosis kausa. Pemeriksaan jamur dilakukan dengan sediaan hapus


yang memakai larutan KOH. (1,3)

II.

ANATOMI DAN FISIOLOGI KORNEA

Gambar 2: Anatomi mata (Dikutip dari kepustakaan 2)


Kornea (latin cornum

= seperti tanduk) adalah selaput bening mata,

bagian selaput mata yang tembus cahaya, merupakan lapisan jaringan yang
menutup bola mata sebelah depan. Kornea ini disisipkan ke sklera dilimbus, lekuk
melingkar pada persambungan ini disebut sulkus skleralis. Kornea merupakan
suatu jaringan yang transparan dan avaskuler, dengan ukuran diameter horizontal
11 12 mm dan berkurang ukuran diameter vertikal menjadi 10 11 mm oleh
adanya limbus. Kornea dewasa rata-rata mempunyai tebal 0,54 mm di tengah,
sekitar 0,65 mm di tepi. Kornea memiliki tiga fungsi utama yaitu; (1) sebagai
media refraksi cahaya terutama antara udara dengan lapisan air mata prekornea,
(2) transmisi cahaya dengan minimal distorsi, penghamburan dan absorbsi, (3)
sebagai struktur penyokong dan proteksi bola mata tanpa mengganggu
penampilan optikal.(1,3)
Dari anterior ke posterior, kornea terdiri dari 5 lapisan dari luar kedalam: (4)
a. Lapisan epitel: Lapisan ini tebalnya 50 m , terdiri atas 5 lapis sel epitel
tidak bertanduk yang saling tumpang tindih; satu lapis sel basal, sel
poligonal dan sel gepeng. Pada sel basal sering terlihat mitosis sel, dan sel
10

muda ini terdorong kedepan menjadi lapis sel sayap dan semakin maju
kedepan menjadi sel gepeng, sel basal berikatan erat dengan sel basal
disampingnya dan sel poligonal didepannya melalui desmosom dan
macula okluden; ikatan ini menghambat pengaliran air, elektrolit dan
glukosa yang merupakan barrier. Sel basal menghasilkan membran basal
yang melekat erat kepadanya. Bila terjadi gangguan akan menghasilkan
erosi rekuren. Epitel berasal dari ektoderm permukaan.
b. Membran Bowman: Lapisan ini terletak dibawah membran basal epitel
kornea yang merupakan kolagen yang tersusun tidak teratur seperti
stroma dan berasal dari bagian depan stroma. Ketebalan lapisan sekitar 810 m. Bila terjadi luka yang mengenai bagian ini maka akan digantikan
dengan jaringan parut kerana lapisan ini tidak mempunyai daya
regenerasi.
c. Jaringan Stroma: Lapisan ini terdiri atas lamel yang merupakan susunan
kolagen yang sejajar satu dengan yang lainnya, Pada permukaan terlihat
anyaman yang teratur sedang dibagian perifer serat kolagen ini
bercabang; terbentuknya kembali serat kolagen memakan waktu lama
yang kadang-kadang sampai 15 bulan. Keratosit merupakan sel stroma
kornea yang merupakan fibroblast terletak diantara serat kolagen stroma.
Diduga keratosit membentuk bahan dasar dan serat kolagen dalam
perkembangan embrio atau sesudah trauma. Jenis kolagen yang dibentuk
adalah tipe II, III dan VI. Transparansi kornea juga ditentukan dengan
menjaga air di stroma sebesar 78%.
d. Membran Descemet: Lapisan ini merupakan membran aselular dan
merupakan batas belakang stroma kornea dihasilkan sel endotel dan
merupakan membran basalnya. Lapisan ini bersifat sangat elastis dan
berkembang terus seumur hidup, mempunyai tebal 40 m.
e. Endotel: Lapisan ini berasal dari mesotelium, berlapis satu, bentuk
heksagonal, besar 20-40 m. Endotel melekat pada membran descemet
melalui hemidosom dan zonula okluden. Sel endotel mempunyai fungsi
11

transport aktif air dan ion yang menyebabkan stroma menjadi relatif
dehidrasi sehingga terus menjga kejernihan kornea.

Gambar 3: Lapisan kornea (Dikutip dari kepustakaan 4)


Para ilmuwan telah menemukan sebuah lapisan yang sebelumnya tidak
diketahui pada mata manusia. Lapisan tersebut disebut Duas layer, struktur tipis
tetapi kuat, ketebalannya hanya 15 mikron, dimana satu mikron sama dengan satu
juta meter dan lebih dari 25.000 mikron sama dengan satu inci. Lapisan ini berada
di belakang kornea, sensitif, jaringan transparan di bagian paling depan mata yang
membantu memfokuskan cahaya yang masuk. (5)
Lapisan ini dinamai penemunya, Harminder Dua, seorang profesor
optalmologi dan ilmu visual Universitas Nottingham. Dua mengatakan bahwa
temuan ini tidak hanya mengubah pengetahuan mengenai anatomi mata manusia,
tetapi juga akan membuat operasi lebih aman dan sederhana pada pasien dengan
cedera di lapisan ini. Duas layer menambahkan lima lapisan kornea sebelumnya.
(5)

Para ilmuwan mempercayai bahwa hidrops kornea, penonjolan kornea


disebabkan karena penumpukan cairan pada pasien dengan keratokonus
(deformitas kornea berbentuk kerucut), disebabkan oleh robekan pada Duas
layer, dimana air yang berasal dari dalam mata masuk dan menimbulkan
penumpukan.(5)

12

Gambar 4: Lapisan kornea (Dikutip dari kepustakaan 5)


Kornea dipersarafi oleh banyak saraf sensorik terutama berasal dari saraf
siliar longus, saraf nasosiliar, saraf V saraf siliar longus berjalan suprakoroid,
masuk ke dalam stroma kornea, menembus membran Bowman melepaskan
selubung Schwannya. Seluruh lapis epitel dipersarafi sampai pada kedua lapis
terdepan tanpa ada akhir saraf. Bulbus Krause untuk sensasi dingin ditemukan di
daerah limbus. Daya regenerasi saraf sesudah dipotong di daerah limbus terjadi
dalam waktu 3 bulan.(6)
Kornea bersifat avaskuler, mendapat nutrisi secara difus dari humour
aquous dan dari tepi kapiler. Bagian sentral dari kornea menerima oksigen secara
tidak langsung dari udara, melalui oksigen yang larut dalam lapisan air mata,
sedangkan bagian perifer menerima oksigen secara difus dari pembuluh darah
siliaris anterior. (1,6).
Trauma atau penyakit yang merusak endotel akan mengakibatkan sistem
pompa endotel terganggu sehingga dekompensasi endotel dan terjadi edema
kornea. Endotel tidak mempunyai daya regenerasi. (1,6)
Kornea merupakan bagian mata yang tembus cahaya dan menutup bola
mata di sebelah depan. Pembiasan sinar terkuat dilakukan oleh kornea, di mana 40
13

dioptri dari 50 dioptri pembiasan sinar masuk kornea dilakukan oleh kornea.
Transparansi kornea disebabkan oleh strukturnya yang seragam, avaskularitasnya
dan deturgensinya. Secara klinis, kornea dibagi dalam beberapa zona yang
mengelilingi dan menyatu satu dengan yang lain, seperti pada gambar di bawah
ini: (7)

Gambar 5: Topografi dari kornea (Dikutip dari kepustakaan 7)

III.

DEFINISI
Ulkus kornea adalah hilangnya sebagian permukaan kornea akibat

kematian jaringan kornea, yang ditandai dengan adanya infiltrat supuratif disertai
defek kornea bergaung, dan diskontinuitas jaringan kornea yang terjadi dari epitel
sampai ke stroma.(1)

IV.

EPIDEMIOLOGI
Insidensi ulkus kornea tahun 1993 adalah 5,3 per 100.000 penduduk di

Indonesia, sedangkan predisposisi terjadinya ulkus kornea antara lain terjadi


karena trauma, pemakaian lensa kontak terutama yang dipakai hingga keesokan
harinya, dan kadang-kadang tidak diketahui penyebabnya. (6,7)
Penelitian di United Kingdom melaporkan beberapa faktor yang berkaitan
dengan meningkatnya resiko terjadinya invasi pada kornea; penggunaan lensa
kontak yang lama, laki-laki, merokok dan akhir musim sejuk (Maret-Juli). Dari
penelitian juga didapatkan insidens terjadinya ulkus kornea meningkat sehingga 8
kali ganda pada mereka yang tidur sambil memakai lensa kontak berbanding
dengan mereka yang memakai lensa kontak ketika jaga. (6,7)
14

Ulkus kornea dapat mengenai semua umur. Kelompok dengan prevalensi


penyakit yang lebih tinggi adalah mereka dengan faktor resiko. Kelompok
pertama yang berusia di bawah 30 tahun adalah mereka yang memakai lensa
kontak dan/atau dengan trauma okuler, manakala kelompok kedua yang berusia di
atas 50 tahun adalah mereka yang mungkin menjalani operasi mata. (6,7)

V.

ETIOLOGI
Ulkus kornea terjadi akibat organisme yang memproduksi toksin yang

menyebabkan nekrosis dan pembentukan pus di jaringan kornea. Ulkus kornea


biasanya terbentuk akibat infeksi oleh bakteri (misalnya Staphylococcus,
Pseudomonas atau Pneumococcus), jamur, virus (misalnya Herpes) atau Protozoa
akantamoeba. Pengguna lensa kontak, terutamanya mereka yang memakainya
waktu tidur, bisa menyebabkan ulkus kornea. Keratitis herpes simpleks
merupakan infeksi viral yang serius. Ia bisa menyebabkan serangan berulang yang
dipicu oleh stres, paparan kepada sinar matahari, atau keadaan yang menurunkan
sistem imun. (4,8)
Keratitis jamur bisa terjadi setelah trauma kornea yang disebabkan oleh
tumbuh-tumbuhan

atau

pada

mereka

dengan

imunosuppressi.

Keratitis

acanthamoeba terjadi pada pengguna lensa kontak, terutama pada mereka yang
coba membuat solusi pembersih sendiri. (4,8)
Faktor resiko terjadinya ulkus kornea adalah mata kering, alergi berat,
riwayat kelainan inflamasi, penggunaan lensa kontak, immunosuppresi, trauma
dan infeksi umum. (4,8)
Penyebab dari ulkus kornea adalah:(7,9,10)
a. Infeksi
Infeksi Jamur: Ulkus kornea akibat jamur, yang pernah banyak dijumpai
pada para pekerja pertanian, kini makin banyak dijumpai di antara
penduduk perkotaan, dengan dipakainya obat kortikosteroid dalam
pengobatan mata. Kebanyakan ulkus jamur disebabkan organisme
oportunis

seperti

Candida,

Fusarium,

Aspergillus,

Penicillium,

Cephalosporium dan lain-lain. Tidak ada ciri khas yang membedakan


15

macam-macam ulkus jamur ini. Ulkus fungi ini indolen, dengan infiltrat
kelabu, sering dengan hipopion, peradangan nyata pada bola mata,
ulserasi superfisial dan lesi-lesi satelit (umumnya infiltrat di tempattempat yang lebih jauh dari daerah utama ulserasi). Lesi utama, dan
sering juga lesi satelit, merupakan plak endotel dengan tepian tidak
teratur di bawah lesi kornea utama, disertai reaksi kamera anterior yang
hebat dan abses kornea. Terdapat juga kongesti siliaris dan konjungtiva
yang nyata, tetapi gejala nyeri, mata berair dan fotofobia biasanya lebih
ringan dibandingkan dengan ulkus kornea akibat bakteri. Kerokan dari
ulkus kornea jamur, kecuali yang disebabkan Candida, mengandung
unsur-unsur hifa; kerokan dari ulkus Candida umumnya mengandung
pseudohifa atau bentuk ragi, yang menampakkan kuncup-kuncup khas.

Gambar 6: Ulkus kornea akibat jamur (Dikutip dari kepustakaan 8)


Infeksi bakteri: Bakteri merupakan penyebab paling banyak ulkus
kornea.

Organisme

aeroginosa,

yang

Staphylococcus

biasanya
aureus,

terlibat

yaitu

Staphylococcus

Pseudomonas
epidermidis,

Streptococcus pneumoniae, Haemophilus influenza dan Moraxella


catarrhalis. Neiseria species, Corynebacterium dhiptheriae, K. aegyptus
dan Listeria merupakan agen berbahaya oleh karena dapat berpenetrasi
ke dalam epitel kornea yang intak. Karakteritik klinik ulkus kornea oleh
karena bakteri sulit untuk menentukan jenis bakteri sebagai penyebabnya,
walaupun demikian sekret yang berwarna kehijauan dan bersifat
mukopurulen khas untuk infeksi oleh karena P. aerogenosa. Kebanyakan
ulkus kornea terletak di sentral, namun beberapa terjadi di perifer.
16

Meskipun awalmnya superficial, ulkus ini dapat mengenai seluruh kornea


terutama jenis Pseudomonas aeroginosa. Batas yang maju menampakkan
ulserasi aktif dan infiltrasi, sementara batas yang ditinggalkan mulai
sembuh. Biasanya kokus gram positif, Staphylococcus aureus, S.
epidermidis dan Streptococcus pneumonia akan memberikan gambaran
tukak yang terbatas, berbentuk bulat atau lonjong, berwarna putih abuabu pada anak tukak yang supuratif, daerah kornea yang tidak terkena
akan tetap berwarna jernih dan tidak terlihat infiltrasi sel radang. Bila
tukak disebabkan oleh Pseudomonas aeroginosa maka tukak akan
terlihat melebar secara cepat, bahan purulen berwarna kuning hijau
terlihat melekat pada permukaan tukak.
(a)

(b)

Gambar 7: Ulkus kornea bakteri. (Dikutip dari kepustakaan 7 dan 9)


KET:
(a) Ulkus Kornea Pneumococcus
(b) Ulkus kornea Pseudomonas aeroginosa
(c) Ulkus kornea yang kecil yang disebabkan oleh infeksi
Staphylococcus, akibat penggunaan kontak lensa.
(d) Ulkus kornea berat yang disebabkan oleh infeksi Pseudomonas
pyocyaneus
Infeksi virus: Ulkus kornea lebih sering disebabkan oleh virus Herpes
simplex, Herpes zoster dan Adenovirus. Virus Herpes menyebabkan
17

ulkus dendritik, yang bersifat rekuren pada tiap individu, akibat


reaktivasi virus laten di ganglion Gasserian, serta unilateral. Pada virus
Hepes simplex, biasanya gejala dini dimulai dengan injeksi siliar yang
kuat disertai terdapatnya suatu dataran sel di permukaan epitel kornea,
kemudian keadaan ini disusul dengan bentuk dendritik serta terjadi
penurunan sensitivitas dari kornea. Biasanya juga disertai dengan
pembesaran kelenjar preaurikuler.(1,2,9,10)

Gambar 8: Tukak kornea disebabkan oleh infeksi Herpes simplex. (Dikutip


dari kepustakaan 7 dan 8)
Infeksi Protozoa: Infeksi dengan Achanthamoeba berkaitan dengan
kebiasaan kebersihan lensa kontak yang buruk (menggunakan air yang
tidak steril), berenang atau berendam di air panas dengan menggunakan
lensa kontak. Organisme ini menyebabkan peradangan yang serius dan
seringkali di salah diagnosis dengan virus herpes simpleks. Pasien
umumnya mengeluh nyeri. Mulanya berupa keratopati pungtata atau
pseudodendrit. Tanda klasik berupa infiltrat cincin dan perineural timbul
kemudian.

Gambar 9: Infiltrat berbentuk cincin (ring) pada ulkus kornea oleh infeksi
Achanthamoeba. (Dikutip dari kepustakaan 7 dan 8)
18

b.

Non infeksi
Penyebab lain adalah abrasi atau benda asing akibat trauma,
penutupan kelopak mata yang tidak cukup, mata yang sangat kering,
defisiensi vitamin A, penyakit alergi mata yang berat atau pelbagai
kelainan inflamasi yang lain.

VI.

PATOFISIOLOGI
Kornea merupakan bagian anterior dari mata, yang harus dilalui cahaya,

dalam perjalanan pembentukan bayangan di retina, karena jernih, sebab susunan


sel dan seratnya tertentu dan tidak ada pembuluh darah. Biasan cahaya terutama
terjadi di permukaan anterior dari kornea. Perubahan dalam bentuk dan kejernihan
kornea, segera mengganggu pembentukan bayangan yang baik di retina. Oleh
karenanya kelainan sekecil apapun di kornea, dapat menimbulkan gangguan
penglihatan yang hebat terutama bila letaknya di daerah pupil. (9)
Karena kornea avaskuler, maka pertahanan pada waktu peradangan tidak
segera datang, seperti pada jaringan lain yang mengandung banyak vaskularisasi.
Maka badan kornea, wandering cell dan sel-sel lain yang terdapat dalam stroma
kornea, segera bekerja sebagai makrofag, baru kemudian disusul dengan dilatasi
pembuluh darah yang terdapat dilimbus dan tampak sebagai injeksi perikornea.
Sesudahnya baru terjadi infiltrasi dari sel-sel mononuklear, sel plasma, leukosit
polimorfonuklear (PMN), yang mengakibatkan timbulnya infiltrat, yang tampak
sebagai bercak berwarna kelabu, keruh dengan batas-batas tak jelas dan
permukaan tidak licin, kemudian dapat terjadi kerusakan epitel dan timbullah
ulkus kornea. (9)
Kornea mempunyai banyak serabut saraf maka kebanyakan lesi pada
kornea baik superfisial maupun profunda dapat menimbulkan rasa sakit dan
fotofobia. Rasa sakit juga diperberat dengan adanya gesekan palpebra (terutama
palpebra superior) pada kornea dan menetap sampai sembuh. Kontraksi bersifat
progresif, regresi iris, yang meradang dapat menimbulkan fotofobia, sedangkan

19

iritasi yang terjadi pada ujung saraf kornea merupakan fenomena reflek yang
berhubungan dengan timbulnya dilatasi pada pembuluh iris. (9)
Penyakit ini bersifat progresif, regresif atau membentuk jaringan parut.
Infiltrat sel leukosit dan limfosit dapat dilihat pada proses progresif. Ulkus ini
menyebar kedua arah yaitu melebar dan mendalam. Jika ulkus yang timbul kecil
dan superfisial maka akan lebih cepat sembuh dan daerah infiltrasi ini menjadi
bersih kembali, tetapi jika lesi sampai ke membran Bowman dan sebagian stroma
maka akan terbentuk jaringan ikat baru yang akan menyebabkan terjadinya
sikatrik. (9)
Bila ulkus kornea sudah mendalam mencapai membran Descemet, maka
akan timbul Descematocele. Namun apabila tekanan intraokuler atau pada pasien
dengan glaukoma, perforasi spontan akan terjadi. Cepat tidaknya perforasi juga
tergantung dari virulensi kuman dan daya tahan penderita. (9)
Reaksi homograt, Herpes
stroma dan auto imun
keratitis

Ag:Ab kompleks

Trauma kimia dan kalor,


infeksi bakteri

Denaturasi jaringan

Aktivasi Komplemen

Kemotaksit leukosit
Aktivasi
Epithelium dan
Keratosit

Perlepasan enzim lisosim


(kolegenase dan hidrolase lainya)

Hidrolase
Destruksi kolagen dan proteoglikan

Kerusakan jaringan
Ulkus kornea

Gambar 10: Patofisiologi ulkus kornea (Dikutip dari kepustakaan 9)


20

Ketika terjadi kerusakan pada epitel kornea yang terjadi oleh karena
adanya suatu agen dari luar yang menyebabkan terjadinya perubahan menjadi
patologi dimana proses terjadinya ulkus kornea dibagi dalam empat fase, yaitu:
infiltrasi, ulserasi aktif, regresi dan pembentukan sikatrik.(10)
a. Stadium infiltrasi progresif: Stadium ini mempunyai karakter pada
infiltrasinya dimana terdapat polimorfonuklear dan/atau limfosit di dalam
epitel yang berasal dari sirkulasi perifer yang dipacu oleh sel yang berasal
dari batas disekitar stroma ketika jaringan ini juga terkena efeknya.
b. Stadium ulserasi aktif: Ulserasi aktif membuat nekrosis dan penipisan dari
epitel, membran Bowman dan stroma. Dinding yang mengalami ulserasi
aktif membuat lamela menjadi bengkak oleh karena adanya imbibisi dari
cairan dan penumpukan leukosit diantara lapisan tersebut.
c. Stadium regresi: Regresi diinduksi oleh mekanisme pertahanan tubuh
alamiah dari tubuh dan pengobatan yang sesuai dengan respon tubuh.
Batas dermacation akan tumbuh disekitar ulkus, yang mana mengandung
leukosit dan fagosit serta debris seluler nekrosis. Proses ini dibentuk oleh
vaskularisasi superficial yang meningkat oleh respon imun dan humoral.
d. Stadium sikatrik: Pada stadium ini proses penyembuhan berlangsung oleh
progresifitas epitel yang akan membentuk penutup permanen. Derajat
parut dari proses penyembuhan bervariasi. Tergantung apabila hanya pada
daerah superfisial dan hanya pada epitel. Ketika ulkus mengenai membran
Bowman dan sedikit pada lamela stroma superfisial maka akan
menimbulkan terjadinya scar yang disebut dengan nebula, yang terlihat
apabila hanya menggunakan slit lamp, macula (terlihat apabila
menggunakan pen light dengan cara iluminasi obliq), sedangkan leukoma
yang dapat terlihat secara langsung tanpa menggunakan alat.

21

Gambar 11: Stadium ulkus. (A) infiltrasi progresif


(B) ulserasi aktif, (C) regresi, (D) sikatrik. (Dikutip dari kepustakaan 7)

VII.

KLASIFIKASI
Dikenal dua bentuk ulkus pada kornea, yaitu sentral dan perifer. Ulkus

biasanya disebabkan oleh reaksi toksik, alergi, autoimun, dan infeksi. Beratnya
penyakit juga ditentukan oleh keadaan fisik pasien, besar, dan virulensi inokulum.
Infeksi biasanya disebabkan oleh bakteri, jamur, amoeba dan virus. (1,2.3)
a.

Ulkus Kornea Tipe Sentral


Ulkus kornea tipe sentral biasanya merupakan ulkus infeksi akibat

kerusakan pada epitel. Lesi terletak di sentral, jauh dari limbus vaskuler. Jenisjenis ulkus kornea tipe sentral adalah ulkus kornea bakterialis, ulkus kornea
jamur, ulkus virus dan ulkus kornea Achanthamoeba. (1,2,3)
Mikroorganisme ini tidak mudah masuk ke dalam kornea dengan epitel
yang sehat. Terdapat faktor predisposisi untuk terjadinya ulkus kornea seperti
erosi pada kornea, keratitis neurotrofik, pemakaian kortikosteroid atau
imunosupresif, pemakaian obat anestetika lokal, pemakaian Idoxyuridine (IDU),
pasien diabetes melitus dan ketuaan. (1,2,3)
Hipopion biasanya tidak selalu menyertai ulkus. Hipopion adalah
penggumpalan sel-sel radang yang tampak sebagai lapisan pucat di bagian bawah
kamera anterior dan khas untuk ulkus kornea bakteri dan jamur. Meskipun
22

hipopion itu steril pada ulkus kornea bakteri, kecuali terjadi robekan pada
membrane Descemet, pada ulkus fungi lesi ini mungkin mengandung unsur
fungus. (1,2,3)

Gambar 12: Ulkus kornea sentral Pneumococcal dengan hipopion. (Dikutip dari
kepustakaan 7)

b.

Ulkus Kornea Tipe Perifer


Kornea perifer memilki karakteristik morfologi dan imunologi yang

berbeda yang memungkinkan terjadinya suatu reaksi inflamasi. Tidak seperti


bagian sentral kornea yang avaskuler, kornea perifer sangat dekat dengan
konjungtiva limbal sebagai sumber nutrisi melalui kapilernya, sumber sel
imunokompeten seperti makrofag, sel Langerhans, limfosit dan sel plasma.
Beberapa stimulus inflamasi pada kornea perifer yang disebabkan oleh invasi
organisme mikroba (bakteri, virus, jamur, parasit), deposit imun kompleks
(penyakit imun sistemik), trauma, keganasan, atau kondisi dermatologi yang
menghasilkan respon imun lokal maupun sistemik, mengakibatkan pengerahan
neutropil dan aktivasi komplemen (baik klasik maupun jalur alternatif) pada
jaringan maupun pembuluh darah. Aktivasi komponen komplemen dapat
meningkatkan permeabilitas vaskuler dan menggerakan faktor kemotaktik untuk
neutrofil (C3a, C5a). Neutrofil, menginfiltrasi kornea perifer dan melepaskan
enzim proteolitik dan kolagenolitik, metabolit oksigen reaktif, dan substansi
proinflamasi (platelet-activating-faktor, leukotrin, prostaglandin), menyebabkan
disolusi dan degradasi stroma kornea. Di samping itu, konjungtiva limbal yang
mengalami inflamasi memproduksi kolagenase yang memperberat terjadinya
degradasi stroma. Penyakit sistemik dapat menyebabkan deposit kompleks imun
23

terjadi oleh karena enzim degradatif yang dilepaskan terutama oleh neutrofil.
Jenis- jenis ulkus kornea perifer adalah: (1,2,3)
Ulkus Marginal: Kebanyakan ulkus kornea marginal bersifat jinak namun
sangat sakit. Ulkus ini timbul akibat konjungtivitis bakteri akut atau
menahun, khususnya blefarokonjungtivitis stafilokokus dan lebih jarang
konjungtivitis Koch-Weeks. Ulkus ini timbul akibat sensitisasi terhadap
produk bakteri; antibodi dari pembuluh limbus bereaksi dengan antigen
yang telah berdifusi melalui epitel kornea. Infiltrat dan ulkus marginal
mulai berupa infiltrat linear atau lonjong, terpisah dari limbus oleh interval
bening, dan hanya pada akhirnya menjadi ulkus dan mengalami
vaskularisasi. Proses ini sembuh sendiri umumnya setelah 7 sampai 10 hari
namun yang menyertai blefarokonjungtivitis stafilokokus umumnya
kambuh.
Ulkus Mooren: Penyebab ulkus Mooren belum diketahui namun diduga
autoimun. Paling sering terdapat pada usia tua namun tidak berhubungan
dengan penyakit sistemik yang sering diderita orang tua. Ulkus tidak
respon terhadap antibiotik atau kortikosteroid.
Ulkus cincin (Ring Ulcer): Terlihat injeksi perikorneal sekitar limbus. Di
kornea terdapat ulkus yang berbentuk melingkar dipinggir kornea, di
dalam limbus, bisa dangkal atau dalam, kadang-kadang timbul perforasi.
Ulkus marginal yang banyak kadang-kadang dapat menjadi satu
menyerupai ring ulcer. Perjalan penyakitnya menahun.

VIII. MANIFESTASI KLINIS


Gejala klinis pada pasien dengan ulkus kornea sangat bervariasi,
tergantung dari penyebab dari ulkus itu sendiri. Gejala dari ulkus kornea yaitu
nyeri yang ekstrim oleh karena paparan terhadap nervus, oleh karena kornea
memiliki banyak serabut nyeri, kebanyakan lesi kornea menimbulkan rasa sakit
dan fotopobia. Rasa sakit mi diperhebat oleh gesekan palpebra (terutama palpebra
superior) pada kornea dan menetap sampai sembuh. Karena kornea berfungsi
sebagai jendela bagi mata dan membiaskan berkas cahaya, lesi kornea umumnya
24

agak mengaburkan penglihatan terutama jika letaknya di pusat. Fotopobia pada


penyakit kornea adalah akibat kontraksi iris beradang yang sakit. Dilatasi
pembuluh darah adalah fenomena refleks yang disebabkan iritasi pada ujung saraf
kornea. Fotopobia yang berat pada kebanyakan penyakit kornea, minimal pada
keratitis herpes karena hipestesi terjadi pada penyakit ini, yang juga merupakan
tanda diagnostik berharga. Meskipun berair mata dan fotopobia umunnya
menyertai penyakit kornea, umumnya tidak ada tahi mata kecuali pada ulkus
bakteri purulen. (1,2,8,10)
Tanda penting ulkus kornea yaitu penipisan kornea dengan defek pada
epitel yang nampak pada pewarnaan fluorescein. Biasanya juga terdapat tandatanda uveitis anterior seperti miosis, aqueus flare (protein pada humor aqueus)
dan kemerahan pada mata. Refleks axon berperan terhadap pembentukan uveitis,
stimulasi reseptor nyeri pada kornea menyebabkan pelepasan mediator inflamasi
seperti prostaglandin, histamine dan asetilkolin. Pemeriksaan terhadap bola mata
biasanya eritema, dan tanda-tanda inflamasi pada kelopak mata dan konjungtiva,
injeksi siliaris biasanya juga ada. Eksudat purulen dapat terlihat pada sakus
konjungtiva dan pada permukaan ulkus, dan infiltrasi stroma dapat menunjukkan
opasitas kornea berwarna krem. Ulkus biasanya berbentuk bulat atau oval, dengan
batas yang tegas. Pemeriksaan dengan slit lamp dapat ditemukan tanda-tanda iritis
dan hipopion. (1,2,8,10)

IX.

DIAGNOSIS
Diagnosis ulkus kornea ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan

fisis, dan pemeriksaan penunjang. Keberhasilan penanganan ulkus kornea


tergantung pada ketepatan diagnosis, penyebab infeksi, dan besarnya kerusakan
yang terjadi. Adapun jenis pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk membantu
penegakan diagnosis adalah:(7,9,10)
a.

Anamnesis
Dari riwayat anamnesis, didapatkan adanya gejala subjektif yang

dikeluhkan oleh pasien, dapat berupa mata nyeri, kemerahan, penglihatan kabur,
silau jika melihat cahaya, kelopak terasa berat atau merasa mengganjal, bintik
25

putih pada kornea, mata berair dan bisa juga ada kotoran mata berlebih. Yang juga
harus digali ialah adanya riwayat trauma, kemasukan benda asing, pemakaian
lensa kontak, adanya penyakit vaskulitis atau autoimun, dan penggunaan
kortikosteroid jangka panjang.
b. Pemeriksaan fisis
Pemeriksaan fisis didapatkan gejala objektif berupa adanya injeksi siliar,
kornea edema , hilangnya jaringan kornea dan pada kasus berat dapat terjadi irtitis
disertai dengan hipopion. Pemeriksaan visus didapatkan adanya penurunan visus
pada mata yang mengalami infeksi oleh karena adanya defek pada kornea
sehingga menghalangi refleksi cahaya yang masuk ke dalam media refrakta.
Slit lamp seringkali iris, pupil, dan lensa sulit dinilai oleh karena adanya
kekeruhan pada kornea. Selain itu, didapatkan hiperemis didapatkan oleh karena
adanya injeksi konjungtiva ataupun perikornea.
c. Pemeriksaan penunjang / laboratorium
Tes fluorescein: Cara melakukan tes fluroscein adalah pertama kertas
fluorescein yang dibasahi terlebih dahulu dengan garam fisiologik diletakkan pada
sakus konjungtiva inferior. Kemudian, penderita diminta untuk menutup matanya
selama 20 detik, beberapa saat kemudian kertas diangkat. Ketiga, dilakukan
irigasi konjugtiva dengan garam fisiologik. Keempat, dilihat permukaan kornea
bila terlihat hijau dengan sinar biru berarti ada kerusakan epitel kornea misalnya
terdapat pada keratitis superfisial epithelial, ulkus kornea dan erosi kornea. Defek
kornea akan terlihat berwarna hijau, akibat pada setiap kornea, maka bagian
tersebut akan bersifat basa dan memberikan warna hijau pada kornea. Pada
keadaan ini disebut uji fluorescein positif. Pada ulkus kornea, didapatkan
hilangnya sebagian permukaan kornea. Untuk melihat adanya daerah yang defek
pada kornea, pada tes fluorescein dengan hasil warna hijau menunjukkan daerah
yang defek pada kornea, sedangkan warna biru menunjukkan daerah yang intak.
Pewarnaan gram dan KOH: Untuk menentukan mikroorganisme penyebab
ulkus, oleh jamur.
Kultur: Kadangkala dibutuhkan untuk mengisolasi organisme kausatif
pada beberapa kasus.
26

X.

DIAGNOSIS BANDING
Konjungtitivitis

Keratitis/ulkus Iritis akut Glaukoma


kornea

Sakit

Kesat

akut

Sedang

Sedang

Hebat

dan

sampai

menyebar

hebat

Kotoran

Sering purulen

Hanya

refleks Ringan

Tidak ada

epifora

Fotofobia

Ringan

Ringan hingga Hebat

Sedang

sedang

Kornea

Jernih

Flourescein

Presipitat

Edema

Muddy

Abu-abu

(+++)

Normal

Iris

Sulit dinilai

kehijauan

Penglihatan

Normal

< Normal

< Normal

< Normal

Sekret

(+)

(-)

(-)

(-)

Tekanan

Normal

Normal

< Normal

<N +++

Injeksi

Konjungtival

Siliar

Siliar

Episklera

Uji

Bakteri

Sensibilitas

Infeksi

Tonometri

local
Tabel 1: Diagnosis Banding ulkus kornea. (Dikutip dari kepustakaan 1)
27

XI.

PENATALAKSANAAN
Ulkus

kornea

merupakan

kegawatdaruratan

oftalmologik

karena

berpotensi menyebabkan penurunan penglihatan permanen dan perforasi pada


mata. Penatalaksanaan disesuaikan dengan organism penyebab. Oleh karena itu
kultur diperlukan untuk mengetahui organisme penyebab. Pada ulkus kornea yang
luas, sentral atau yang sukar disembuhkan, yang tidak mengalami perbaikan
setelah terapi medis yang lama, pasien yang malas memakai obat sesuai anjuran
perlu diindikasikan untuk rawat inap. (8,9,10)
Oleh karena ulkus biasannya timbul pada orang dengan keadaan
umum yang kurang dari normal, maka keadaan umumnya harus diperbaiki dengan
makanan yang bergizi, udara yang baik, lingkungan yang sehat, pemberian
roboransia yang mengandung vitamin A, vitamin B kompleks dan vitamin C.
Pada ulkus-ulkus yang disebabkan kuman yang virulen, yang tidak sembuh
dengan pengobatan biasa, dapat diberikan vaksin tifoid 0,1 cc atau 10 cc susu
steril yang disuntikkan intravena dan hasilnya cukup baik. Dengan penyuntikan
ini suhu badan akan naik, tetapi jangan sampai melebihi 39,5C. Akibat kenaikan
suhu tubuh ini diharapkan bertambahnya antibodi dalam badan dan menjadi lekas
sembuh. (8,9,10)
a. Pengobatan umum:
Benda asing dan bahan yang merangsang harus segera dihilangkan. Lesi
kornea sekecil apa pun harus diperhatikan dan diobati sebaik-baiknya.
Konjungtivitis, dakriosistitis harus diobati dengan baik. Infeksi lokal pada hidung,
telinga, tenggorok, gigi atau tempat lain harus segera dihilangkan. Infeksi pada
mata harus diberikan :

Sikloplegik: Sulfas atropin sebagai salep atau larutan. Kebanyakan


dipakai sulfas atropine karena bekerja lama 1-2 minggu. Efek kerja
sulfas atropin:
-

Sedatif, menghilangkan rasa sakit.

Dekongestif, menurunkan tanda-tanda radang.

28

Menyebabkan paralysis M. siliaris dan M. konstriktor pupil.


Dengan lumpuhnya M. siliaris mata tidak mempunyai daya
akomodasi sehingga mata dalan keadaan

istirahat. Dengan

lumpuhnya M. konstriktor pupil, terjadi midriasis sehinggga


sinekia posterior yang telah ada dapat dilepas dan mencegah
pembentukan sinekia posterior yang baru.

Skopolamin (anti-muskarinik) sebagai midriatika.

Analgetik

Antibiotik: Diberikan antibiotik yang sesuai dengan kausanya. Bila


penyebabnya belum diketahui dapat diberikan antibiotik spektrum
luas. Biasanya diberi lokal kecuali keadaan berat. Diberikan dalam
bentuk salep, tetes atau

injeksi subkonjungtiva. Pada pengobatan

ulkus

diberikan

sebaiknya

tidak

salep

mata

karena

dapat

memperlambat penyembuhan dan juga dapat menimbulkan erosi


kornea kembali.

Verband: Verband tidak seharusnya dilakukan pada lesi infeksi


supuratif karena dapat menghalangi pengaliran sekret infeksi tersebut
dan memberikan media yang baik terhadap perkembangbiakan kuman
penyebabnya. Verband memang diperlukan pada ulkus yang bersih
tanpa sekret guna mengurangi rangsangan.

b.

Dibersihkan: Sekret yang terbentuk dibersihkan 4 kali sehari.

Debridment: Debridement sangat membantu penyembuhan.

Pengobatan khusus:

Antibiotik: Topical basitrasin / sefalosporin & aminoglikosida


ditambah dengan subkonjuntiva metilisin atau gentamisin tiap 24 jam
selama 3 hari. Basil gram negatif diberikan suntikan subkonjungtiva
setiap 12 jam selama 3 hari.

Anti jamur: Terapi medikamentosa di Indonesia terhambat oleh


terbatasnya preparat komersial yang tersedia berdasarkan jenis
keratomitosis yang dihadapi bisa dibagi :
29

1. Jenis jamur yang belum diidentifikasi penyebabnya (stadium


awal): topikal amphotericin B, Thiomerosal, Natamycin dan golongan
Imidazole.
2. Jamur

berfilamen:

topikal

amphotericin

B,

thiomerosal,

Natamicin, Imidazolee.
3. Ragi (yeast): amphotericin B, Natamicin, Imidazol.
4. Actinomyces yang bukan jamur sejati: golongan sulfa, berbagai
jenis antibiotik.
Bila terapi tidak efektif, dihentikan 24 jam dan spesimen untuk
dilakukan kultur. Jika tidak merespon dengan obat anti-jamur
disebabkan infiltrasi kornea dan ulkus yang meluas dan timbul
descemetocele atau perforasi, maka dilakukan keratoplasti pada ulkus
kornea tersebut.

Anti Viral: Untuk Herpes zoster pengobatan bersifat simtomatik


diberikan streroid lokal untuk mengurangi gejala, sikloplegik,
antibiotik spektrum luas untuk infeksi sekunder analgetik bila terdapat
indikasi. Antivirus topikal yang biasa dipakai adalah idoxuridine,
trifluridine, vidarabin, dan acyclovir. Umumnya ulkus kornea virus
sembuh sendiri dan pembentukan parut minimal.

c.

Pembedahan :
Pembedahan dilakukan jika pengobatan tidak sembuh dan ada jaringan

parut yang menganggu penglihatan.


d.

Rawat inap:
Pasien dirawat inap jika terdapat ulkus sentral ukuran > 5 mm, ancaman

perforasi dan ulkus dengan hipopion.


Untuk menghindari penjalaran ulkus dapat dilakukan : (8,9,10)

Kauterisasi
1. Dengan zat kimia: Iodine, larutan murni asam karbolik, larutan
murni trikloralasetat.
2. Dengan panas (heat cauterisasion): memakai elektrokauter atau
termophore. Dengan instrumen ini dengan ujung alatnya yang
30

mengandung panas disentuhkan pada pinggir ulkus sampai berwarna


keputih-putihan.

Pengerokan epitel yang sakit.


Parasentesa dilakukan kalau pengobatan dengan obat-obat tidak
menunjukkan perbaikan dengan maksud mengganti cairan coA yang
lama dengan yang baru yang banyak mengandung antibodi dengan
harapan luka cepat sembuh. Penutupan ulkus dengan flap konjungtiva,
dengan melepaskan konjungtiva dari sekitar limbus yang kemudian
ditarik menutupi ulkus dengan tujuan memberi perlindungan dan nutrisi
pada ulkus untuk mempercepat penyembuhan. Kalau sudah sembuh flap
konjungtiva ini dapat dilepaskan kembali. Transplantasi kornea atau
keratoplasti dilakukan bila dengan pengobatan tidak sembuh dan terjadi
jaringan parut yang mengganggu penglihatan.
Bila seseorang dengan ulkus kornea mengalami perforasi spontan berikan

sulfas atropine, antibiotik dan balut yang kuat. Segera berbaring dan jangan
melakukan gerakan-gerakan. Bila perforasinya disertai prolaps iris dan terjadinya
baru saja, maka dapat dilakukan : (8,9,10)
-

Iridektomi dari iris yang prolaps

Iris reposisi

Kornea dijahit dan ditutup dengan flap konjungtiva

Beri sulfas atropin, antibiotik dan balut yang kuat

Bila terjadi perforasi dengan prolaps iris yang telah berlangsung lama, kita
obati seperti ulkus biasa tetapi prolas irisnya dibiarkan saja, sampai akhirnya
sembuh menjadi leukoma adherens. Antibiotik diberikan juga secara sistemik.
Tindakan eviserasi pada pasien dengan ulkus kornea yang sudah terjadi perforasi
spontan dengan visus yang tidak bias dipertahankan lagi. (8,9,10)

XII.

KOMPLIKASI
Ulkus kornea dapat berkomplikasi dengan terjadinya perforasi kornea dan

descematocele walaupun jarang. Hal ini dikarenakan lapisan kornea semakin tipis
31

dibanding dengan normal sehingga dapat mencetuskan terjadinya peningkatan


tekanan intraokuler. Pembentukan jaringan parut kornea menghasilkan kehilangan
penglihatan (buta) parsial maupun kompleks. Terjadinya neovaskularisasi dan
astigmatisme ireguler, penipisan kornea, sinekia anterior, sinekia posterior,
glaucoma sekunder dan katarak juga bisa terjadi.(2,8,10)

XIII. PROGNOSIS
Prognosis dari ulkus kornea tergantung dari cepat lambatnya pasien
mendapat pengobatan, jenis mikroorganisme penyebab, dan adanya penyulit
maupun komplikasi. Ulkus kornea biasanya mengalami perbaikan tiap hari dan
sembuh dengan terapi yang sesuai. Jika penyembuhan tidak terjadi atau ulkus
bertambah berat, disgnosis dan terapi alternatif harus dipertimbangkan. (3,10)

32

DAFTAR PUSTAKA

1.

Sidarta I.. Tukak kornea. Dalam Penuntun Ilmu penyakit mata. Edisi Kedua.
2002. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia: Jakarta. Hal :1-10,15966.

2.

Biswell R. Kornea. Dalam Oftalmologi Umum. Edisi 17. 2000. Widya


Medika:Jakarta:2000. Hal:126-139.

3.

Mills

T.J.. Corneal.

Ulceration and Ulcerative Keratitis.

Dalam:

http://www.emedicine.com/emerg/topic 115.htm.
4.

Medical

Encyclopedia:

Corneal

ulcers

and

infections.

Dalam:

http:/www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/article/001032.htm.
5.

Sergio Prostak. Scientists Discover Previously Undetected Layer in Human


Eye-Duas Layer. Sci-News Reference; 2011-2014 [updated 2013 June 12;
cited 2014 January 25].

6.

Ilyas S. Anatomi dan Fisiologi Mata. Dalam : Ilyas S. Ilmu Penyakit mata
Edisi ketiga. Jakarta: Balai Penerbit FKUI ; 2002. H.l-13.

7.

Khurana A. Disease of the cornea. In: Khurana A, editor. Comperhensive


ophtalmology. 4 ed. New Delhi: New Age International,. Ltd; 2007.p. 8996.

8.

Lang, G.K. Ophthalmology,A Short Textbook. New York: ThiemeStutgart.


2000.

9.

Khaw, P.Tet all. ABC of Eye. 4th edition. London: BMJ Publishing Group.
2007.

10.

Roat M.L. Corneal Ulcer : Corneal Disorders: Merck Manual Profesional [


online] 2008 Oct [cited 2011 March 1] Available from: www.merck.com

33