Anda di halaman 1dari 8

ASUHAN KEPERAWATAN LANSIA DENGAN DEPRESI

OLEH
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

RETNO LISA Y
RINDA INTAN S
SETYO BAYU A
SELVIA CANDRA W
SUCI AMALIA F
SUSANA AGUSTINA
TIYAS TITIK

(1.11.074)
(1.11.076)
(1.11.078)

PRODI S1 ILMU KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN TELOGOREJO
SEMARANG
2014

ASUHAN KEPERAWATAN LANSIA DENGAN DEPRESI

A. Pengertian
Depresi adalah gangguan alam perasaan (mood) yang ditandai dengan kemurungan
dan kesedihan yang mendalam dan berkelanjutan sehingga hilangnya kegairahan
hidup, tidak mengalami gangguan dalam menilai realitas (Reality Testing Ability,
masih baik), kepribadian tetap utuh atau tidak mengalami keretakan kepribadian
(Splitting of personality), prilaku dapat terganggu tetapi dalam batas-batas normal
(Dadang, 2001).

B. Etiologi
Etiologi diajukan para ahli mengenai depresi pada usia lanjut menurut Damping
(2003) adalah:
1. Polifarmasi
Terdapat beberapa golongan obat yang dapat menimbulkan depresi, antara lain:
analgetika, obat antiinflamasi nonsteroid, antihipertensi, antipsikotik, antikanker,
ansiolitika, dan lain-lain.
2. Kondisi medis umum
Beberapa kondisi medis yang berhubungan dengan depresi adalah gangguan
endokrin, neoplasma, gangguan neurologis, dll.
3. Teori neurobiologi
Para ahli sepakat bahwa faktor genetik berperan pada depresi lansia. Pada beberapa
penelitian juga ditemukan adanya perubahan neurotransmiter pada depresi lansia,
seperti menurunnya konsentrasi serotonin, norepinefrin, dopamin, asetilkolin, serta
meningkatnya konsentrasi monoamin oksidase otak akibat proses penuaan. Atrofi
otak juga diperkirakan berperan pada depresi lansia.
4. Teori psikodinamik
Elaborasi Freud pada teori Karl Abraham tentang proses berkabung menghasilkan
pendapat bahwa hilangnya objek cinta diintrojeksikan ke dalam individu tersebut
sehingga menyatu atau merupakan bagian dari individu itu. Kemarahan terhadap
objek yang hilang tersebut ditujukan kepada diri sendiri. Akibatnya terjadi perasaan
bersalah atau menyalahkan diri sendiri, merasa diri tidak berguna, dan sebagainya.

5. Teori kognitif dan perilaku


Konsep Seligman tentang learned helplessness menyatakan bahwa terdapat
hubungan antara kehilangan yang tidak dapat dihindari akibat proses penuaan
seperti keadaan tubuh, fungsi seksual, dan sebagainya dengan sensasi passive
helplessness pada pasien usia lanjut.
6. Teori psikoedukatif
Hal-hal yang dipelajari atau diamati individu pada orang tua usia lanjut misalnya
ketidakberdayaan mereka, pengisolasian oleh keluarga, tiadanya sanak saudara
ataupun perubahan-perubahan fisik yang diakibatkan oleh proses penuaan dapat
memicu terjadinya depresi pada usia lanjut.

C. Gejala Depresi
Gejala depresi menurut Maryam, et al (2011) adalah:
1.

Sering mengalami gangguan tidur atau sering terbangun sangat pagi yang bukan
merupakan kebiasaannya sehari-hari.

2.

Sering kelelahan, lemas, dan kurang dapat menikmati kehidupan sehari- hari.

3.

Kebersihan dan kerapihan diri sering diabaikan

4.

Cepat sekali menjadi marah atau tersinggung

5.

Daya konsentrasi berkurang.

6.

Pada pembicaraan sering disertai topik yang berhubungan dengan rasa pesimis
atau perasaan putus asa.

7.

Berkurang atau hilangnya napsu makan sehingga berat badan menurun secara
cepat

8.

Kadang- kadang dalam pembicaraannya ada kecenderungan untuk bunuh diri

D. Dampak Depresi Pada Lansia


Pada usia lanjut depresi yang berdiri sendiri maupun yang bersamaan dengan penyakit
lain hendaknya ditangani dengan sungguh-sungguh karena bila tidak diobati dapat
memperburuk perjalanan penyakit dan memperburuk prognosis.

Menurut Mudjaddid (2003), pada depresi dapat dijumpai hal-hal seperti di bawah ini:
1.

Depresi dapat meningkatkan angka kematian pada pasien dengan penyakit


kardiovaskuler

2.

Pada depresi timbul ketidakseimbangan hormonal yang dapat memperburuk


penyakit kardiovaskular (Misal: peningkatan hormon adrenokortikotropin akan
meningkatkan kadar kortisol).

3.

Metabolisme serotonin yang terganggu pada depresi akan menimbulkan efek


trombogenesis.

4.

Perubahan suasana hati (mood) berhubungan dengan gangguan respons imunitas


termasuk perubahan fungsi limfosit dan penurunan jumlah limfosit.

5.

Pada depresi berat terdapat penurunan aktivitas sel natural killer.

6.

Pasien depresi menunjukkan kepatuhan yang buruk pada program pengobatan


maupun rehabilitasi.

Depresi pada lansia yang tidak ditangani dapat berlangsung bertahun-tahun dan
dihubungkan dengan kualitas hidup yang jelek, kesulitan dalam fungsi sosial dan fisik,
kepatuhan yang jelek terhadap terapi, dan meningkatnya morbiditas dan mortalitas akibat
bunuh diri dan penyebab lainnya (Untzer, 2007).

E. Fokus Pengkajian
1.

Riwayat
a.

Kaji ulang riwayat klien dan pemeriksaan fisik untuk adanya tanda dan gejala
karakteristik yang berkaitan dengan gangguan tertentu yang didiagnosis.

b.

Singkirkan kemungkinan adanya depresi dengan scrining yang tepat, seperti


geriatric depresion scale

c.

Ajukan pertanyaan-pertanyaan pengkajian keperawatan

d.

Wawancarai klien, pemberi asuhan atau keluarga. Lakukan observasi


langsung terhadap:
1)

Perilaku. Bagaimana kemampuan klien mengurus diri sendiri dan


melakukan aktivitas hidup sehari-hari? Apakah klien menunjukkan
perilaku yang tidak dapat diterima secara sosial? Apakah klien sering
mengluyur dan mondar-mandir? Apakah ia menunjukkan sundown
sindrom atau perseveration phenomena?

2)

Afek. Apakah kilen menunjukkan ansietas? Labilitas emosi? Depresi


atau apatis? lritabilitas? Curiga? Tidak berdaya? Frustasi?

3)

Respon kognitif. Bagaimana tingakat orientasi klien? Apakah klien


mengalami kehilangan ingatan tentang halhal yang baru saja atau

yang sudah lama terjadi? Sulit mengatasi masalah, mengorganisasikan


atau mengabstrakan? Kurang mampu membuat penilaian? Terbukti
mengalami afasia, agnosia, atau, apraksia?
e. Luangkan waktu bersama pemberi asuhan atau keluarga.
1)

Identifikasi pemberian asuhan primer dan tentukan berapa lama ia


sudah menjadi pemberi asuhan dikeluarga tersebut.

2)

ldentifikasi sistem pendukung yang ada bagi pemberi asuhan dan


anggota keluarga yang lain.

3)

Identifikasi pengetahuan dasar tentang perawatan klien dan sumber


daya komunitas (catat hal-hal yang perlu diajarkan).

4)

Identifikasi sistem pendukung spiritual bagi keluarga.

5)

Identilikasi kekhawatiran tertentu tentang klien dan kekhawatiran


pemberi asuhan tentang dirinya sendiri.

F. Diagnosa Keperawatan

G. Intervensi
1. Mobilitas fisik, hambatan b.d gangguan konsep diri, depresi, ansietas berat
Tujuan:
KH:
a.

Pasien mampu berpartisipasi dalam memutuskan perawatan dirinya

b.

Pasien mampu melakukan kegiatan dalam menyelesaikan masalahnya

Intervensi:
a.

Bicara secara langsung dengan klien; hargai individu dan ruang


pribadinya jika tepat

b.

Beri kesempatan terstruktur bagi klien untuk membuat pilihan perawatan

c.

Beri kesempatan bagi pasien untuk bertanggung jawab terhadap perawatan


dirinya

d.

Beri kesempatan menetapkan tujuan perawatan dirinya. Contoh : minta


pasien memilih apakah mau mandi, sikat gigi atau gunting kuku.

e.

Beri kesempatan untuk menetapkan aktifitas perawatan diri untuk mencapai


tujuan. Contoh : Jika pasien memilih mandi, bantu pasien untuk
menetapkan aktifitas untuk mandi (bawa sabun, handuk, pakaian bersih)

f.

Berikan pujian jika pasien dapat melakukan kegiatannya.

g.

Tanyakan perasaan pasien jika mampu melakukan kegiatannya.

h.

Sepakati jadwal pelaksanaan kegiatan tersebut secara teratur.

i.

Bersama keluarga memilih kemampuan yang bisa dilakukan pasien saat ini

j.

Anjurkan keluarga untuk memberikan pujian terhadap kemampuan yang


masih dimiliki pasien.
Anjurkan keluarga untuk membantu pasien melakukan kegiatan sesuai

k.

kemampuan yang dimiliki.


Anjurkan keluarga memberikan pujian jika pasien melakukan kegiatan sesuai

l.

dengan jadwal kegiatan yang sudah dibuat.

2. Gangguan pola tidur b.d ansietas


Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan klien memiliki pola tidur yang
teratur.
KH:
a. Klien mampu memahami faktor penyebab gangguan pola tidur
b. Klien mampu menciptakan pola tidur yang adekuat dengan penurunan
terhadap pikiran yang melayang-layang (melamun)
c. Klien tampak atau melaporkan dapat beristirahat yang cukup
Intervensi:
a.

Identifikasi gangguan dan variasi tidur yang dialami dari pola yang biasanya

b.

Anjurkan latihan relaksasi, seperti musik lembut sebelum tidur

c.

Diskusikan cara-cara utuk memenuhi kebutuhan tidur

d.

Kurangi asupan kafein pada sore dan malam hari

e.

Kurangi tidur pada siang hari

f.

Minum air hangat/susu hangat sebelum tidur

g.

Anjurkan pasien untuk memilih cara yang sesuai dengan kebutuhannya

h.

Berikan pujian jika pasien memilih cara yang tepat untuk memenuhi
kebutuhan tidurnya

i.

Anjurkan

keluarga

untuk

menciptakan

lingkungan

yang

tenanguntuk memfasilitasi agar pasien dapat tidur

3. Membahayakan diri, resiko b.d perasaan tidak berharga dan putus asa
Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan resiko membahayakan diri tidak
terjadi

KH:
a.

Pasien tidak membahayakan dirinya sendiri

b.

Pasien mampu memilih alternatif penyelesaian masalah yang konstruktif

Intervensi:
a.

Identifikasi derajat resiko / potensi untuk bunuh diri

b.

Bantu pasien mengenali perasaan yang menjadi penyebab timbulnya ide


bunuh diri.

c.

Ajarkan beberapa alternatif cara penyelesaian masalah yang konstruktif.

d.

Bantu pasien untuk memilih cara yang paling tepat untuk menyelesaikan
masalah secara konstruktif.

e.

Beri pujian terhadap pilihan yang telah dibuat pasien dengan tepat.

f.

Anjurkan pasien mengikuti kegiatan kemasyarakatan yang ada di


lingkungannya

g.

Lakukan tindakan pencegahan bunuh diri

h.

Mendiskusikan dengan keluarga koping positif yang pernah dimiliki klien


dalam menyelesaikan masalah

DAFTAR PUSTAKA

Carpenito, L. (2000). Diagnosa Keperawatan Aplikasi Pada Praktek Klinis. Edisi


6. Jakarta: EGC
Dadang, Hawari. (2001). Manajemen Stres, Cemas dan Depresi. Jakarta: EGC
Damping, C.E., 2003. Depresi pada Geriatri: Apa Kekhususannya. Dalam: Supartondo,
Setiati, S., dan Soejono, C.H., (eds). 2003. Prosiding Temu Ilmiah Geriatri 2003
Penatalaksanaan Pasien Geriatri dengan Pendekatan Interdisiplin. Pusat
Informasi dan Penerbitan Bagian Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia, Jakarta: 107-112
Maryam, et al. (2011). Mengenal Usia Lanjut dan Perawatannya. Jakarta: Salemba
Medika
Mudjaddid, E., 2003. Depresi dan Komorbiditasnya pada Pasien Geriatri. Dalam:
Supartondo, Setiati, S., dan Soejono, C.H., (eds). 2003. Prosiding Temu Ilmiah
Geriatri 2003 Penatalaksanaan Pasien Geriatri dengan Pendekatan
Interdisiplin. Pusat Informasi dan Penerbitan Bagian Ilmu Penyakit Dalam
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta: 113-121
Nugroho, Wahjudi. (2000). Keperawatan Gerontik. Edisi 2. Jakarta: EGC
Watson, Roger. (2003). Perawatan Lansia. Edisi 3. Jakarta: EGC