Anda di halaman 1dari 14

MAKALAH MANAJEMEN AGRIPEMASARAN

(Agroindustri Komoditas Mangga Gincu)

Oleh :
Anggota

: 1. Anditya Husnul H (240110110086)


2. Billy Abadinur

(240110110109)

3. Gilang Arinda

(240110100

4. Idham Ali

(24011010

5. Tommy
Kelas

: TMIP-A

Hari/Tanggal

: Senin, 25 Maret 2013

Dosen

: Dr. Tomy Perdana

JURUSAN TEKNIK DAN MANAGEMEN INDUSTRI PERTANIAN


FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN
UNIVERSITAS PADJADJARAN
2013

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Buah buahan tropis seperti pisang, papaya, mangga, manggis dan rambutan
merupakan komoditas yang banyak di budidayakan masyarakan di berbagai
daerah di Indonesia baik sebagai tanaman pekarangan maupun tanaman
perkebunan.
Tanaman yang berbuah dua kali dalam setahun ini memiliki tingkat
produktivitas yang cukup tinggi. Volume ekspor buah mangga menempati urutan
ke tiga setelah buah manggis dan nanas. Berbeda dengan produksi buah mangga
yang cenderung konstan, volume ekspor buah mangga berfluktuasi tiap tahunnya.
Hal ini terlihat dari volume ekspor tahun 2001(1.879 ton) yang mengalami
peningkatan 300 persen di banding tahun 2003 (559 ton).
Salah satu varietas mangga unggulan untuk tujuan ekspor ialah Mangga
Gedong Gincu yang mulai diperkenalkan pada pertengahan tahun 1990. Mangga
ini berbeda dengan Mangga Gedong biasa yang lebih dahulu beredar di pasaran.
Tampilan Mangga Gedong Gincu yang lebih memikat dengan bentuk buah bulat,
kulit buah berwarna oranye kemerhan, serat daging buahnya halus dan aromanya
harum menyengat serta rasa buah manis segar. Keunggulan tersebut menjadikan
Mangga Gedong Gincu memiliki harga jual cukup mahal.
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana peran

pemerintah

Kabupaten

Cirebon

dalam

proses

dalam

proses

pengembangan komoditas mangga gedong gincu ?


2. Daya saing Mangga Gincu dalam peluang ekspor?
1.3 Tujuan
1. Mengetahui

peran

pemerintah

Kabupaten

pengembangan Mangga Gincu.


2. Mengetahui daya saing ekspor Mangga Gincu
BAB II
DASAR TEORI

Cirebon

Pertanian merupakan sektor yang sangat penting dalam perekonomian


nasional. Oleh karena itu, pembangunan ekonomi nasional masih akan tetap
berbasisagribisnis. Agribisnis dapat menjadi sumber pertumbuhan ekonomi,
penyediaan lapangan pekerjaan, mengembangkan pembangunan daerah serta
sebagai sumber devisa negara.
Mangga (Magifera Indica L.) merupakan buah daerah tropis dan subtropis
yang terkenal dengan aroma eksotis dan biasanya disebut sebagai raja buah
(Sivakumar, 2010). Mangga juga dikenal sebagai The Best Loved Tropical Fruit
yaitu buah khas daerah tropis yang mahal harganya dan banyak peminatnya di
pasaran luar negeri selain manggis dan pisang (Deptan RI, 2007). Sebagai salah
satu buah musiman yang mempunyai prospek baik sebagai komoditas ekspor,
mangga diproduksi secara komersial oleh lebih dari 87 negara, diantaranya yang
paling menonjol adalah : India, Cina, Thailand, Indonesia,Filipina, Pakistan, dan
Meksiko (Tharanathan et al, 2006). Menurut Lebrun et al (2008), terdapat 49 jenis
dan ribuan kultivar mangga. Buah mangga populer di pasar internasional karena
rasa yang khas, aroma yang menarik, warna yang indah, dan kandungan gizinya
(Arauz, 2000).
Mangga gedong gincu mempunyai keunggulan dibandingkan mangga lainnya
karena memiliki aroma lebih tajam, rasa manis segar, dan kulit buah berwarna
merah menyala sehingga diminati oleh kelompok konsumen ekonomi menengah
ke atas dan konsumen luar negeri. Disebut gedong gincu karena warna kulitnya
yang merah-oranye hampir menyerupai gincu pemerah bibir wanita atau lipstik,
serta bentuk buahnya bulat. Masyarakat Majalengka menyebut mangga gedong
gincu sebagai mangga seraton atau mangga selera keraton karena tampilan yang
memikat dan harganya yang cukup mahal, sehingga mangga gedong gincu
dicitrakan sebagai mangga untuk konsumsi kalangan elit. Mangga gedong gincu
merupakan kelompok dari mangga gedong. Hal yang membedakan sebutan
mangga gedong dengan mangga gedong gincu adalah waktu panennya. Mangga
gedong dipanen pada tingkat kematangan mencapai 60%-70%, sedangkan mangga
gedong gincu dipanen saat buahnya mencapai tingkat kematangan 80-85% yaitu
saat warna kulit buah masih berwarna hijau tua pada bagian atas ujung dan
berwarna merah pada pangkal buah.
Secara umum, Codex Stand 184-1993 dan SNI 3164-2009 telah mengatur
ketentuan kriteria mutu minimum untuk semua kelas mutu dan pembagian kelas
mutu mangga yang dapat dilihat pada Tabel 1 dan Tabel 2.
Tabel 1. Kelas Mutu Mangga Berdasarkan SNI 3164-2009
Kelas mutu
Semua kelas mutu
(Super, A, dan B)

Kriteria
Syarat minimum : utuh, padat,
penampilan segar, layak konsumsi,
bersih/bebas dari benda asing yang
tampak, bebas dari memar, bebas dari
hama dan penyakit, bebas dari
kerusakan akibat temperatur rendah dan
atau tinggi, bebas dari kelembapan
eksternal yang abnormal kecuali
pengembunan
sesaat
setelah
pemindahan dari tempat penyimpanan

dingin, bebas dari aroma dan rasa asing,


memiliki kematangan yang cukup, serta
panjang tangkai buah tidak boleh lebih
dari 1 cm.
Kelas Mutu Super
Mangga berkualitas super yaitu bebas
dari segala jenis cacat
Kelas Mutu A
Mangga berkualitas baik. Cacat yang
diperkenankan : sedikit penyimpangan
bentuk, cacat sedikit pada kulit akibat
tergores atau terbakar matahari, noda
akibat getah dan bekas lecet maks 2cm2
(mangga < 250 g) dan 3 cm2 (mangga
250-350 g), serta cacat tidak boleh
mempengaruhi daging buah.
Kelas Mutu B
Mangga berkualitas baik. Cacat yang
diperkenankan : sedikit penyimpangan
bentuk, cacat sedikit pada kulit akibat
tergores atau terbakar matahari, noda
akibat getah dan bekas lecet maks 4
cm2(mangga < 250 g) dan 5
cm2(mangga 250-350 g), serta cacat
tidak boleh mempengaruhi daging
buah.
Sumber: http://sisni.bsn.go.id/index.php?/sni_main/sni/detail_sni/9481. Diunduh 2
Februari 2012
Tabel 2. Kelas Mutu Mangga Berdasarkan Codex Stand 184-1993
Kelas mutu
Kriteria
Semua kelas mutu (Ekstra, I, dan Syarat minimum : utuh, padat, penampilan
II)
segar, layak konsumsi, bersih/bebas dari
benda asing yang tampak, bebas dari
memar, bebas dari hama dan penyakit, bebas
dari kerusakan akibat temperatur rendah dan
atau tinggi, bebas dari kelembapan eksternal
yang abnormal kecuali pengembunan sesaat
setelah
pemindahan
dari
tempat
penyimpanan dingin, bebas dari aroma dan
rasa asing, memiliki kematangan yang
cukup, serta panjang tangkai buah tidak
boleh lebih dari 1 cm.
Kelas Mutu Ekstra
Mangga berkualitas unggul yaitu bebas dari
segala jenis cacat. Diperkenankan cacat
sangat
kecil,
asalkan
ini
tidak
mempengaruhi penampilan produk secara
keseluruhan.
Kelas Mutu I
Mangga berkualitas baik. Cacat yang
diperkenankan : cacat sedikit pada kulit
akibat tergores atau terbakar matahari, noda

akibat getah dan bekas lecet maks 3cm2


(mangga 200-350 g) dan 4 cm2 (mangga
300-550 g), serta cacat tidak boleh
mempengaruhi daging buah.
Kelas Mutu II
Mangga yang tidak memenuhi syarat untuk
dimasukkan dalam kelas lebih tinggi, tetapi
masih memenuhi persyaratan minimum
untuk semua mangga. Cacat yang
diperkenankan : cacat bentuk, cacat sedikit
pada kulit akibat tergores atau terbakar
matahari, noda akibat getah dan bekas lecet
maks 5 cm2(mangga < 250 g) dan 6
Cm2(mangga 250-350 g), serta cacat tidak
boleh mempengaruhi daging buah.
Sumber : http://www.codexalimentarius.org/standards/list-of-standards/en/CSX
184e.pdf. Diunduh 2 Februari 2012.
2.2. Pascapanen Mangga Gedong Gincu
Sesaat setelah dipanen, buah mangga gedong gincu masih melakukan
kegiatan metaboliknya (respirasi dan transpirasi) yang berpengaruh terhadap mutu
buah. Karena itu, diperlukan penanganan pascapanen untuk mempertahankan
mutu buah mangga gedong gincu yang dilakukan mulai dari tingkat petani,
pengumpul, pedagang, sampai sesaat sebelum ke tangan konsumen akhir. Menurut
Setyadjid dan Syaifullah (1992), kerusakan pascapanen buah mangga dapat
mencapai 30% yang disebabkan oleh perlakuan pascapanen yang tidak tepat dan
adanya serangan hama penyakit.
Kerusakan dan penurunan mutu adalah masalah pascapanen utama pada
rantai ekspor buah segar. Dalam konsep Standard Operational Procedure (SOP)
penanganan pascapanen mangga gedong untuk tujuan ekspor yang disusun oleh
Dewandari et al (2009), dijelaskan bahwa diagram alir proses penanganan
pascapanen mangga gedong untuk ekspor seperti pada Gambar 2.
Panen

Sortasi dan pencucian


Grading
Mutu I/Grade A
Pelilinan
Adaptasi

Tidak layak jual


Mutu II dan III/
Grade B dan C

Labeling dan pengemasan


Penyimpanan
Pengakngutan
Gambar 2. Diagram alir penanganan pascapanen mangga gedong untuk ekspor
(Dewandari et al, 2009)
2.4. Pemodelan Sistem
Elemen aktifitas pembuatan model disebut Eriyatno (1999) sebagai
pemodelan.
Menurut Marquez (2010), pemodelan
adalah
proses
menghasilkanmodel sebagai representasi abstrak dari beberapa entitas dunia
nyata, proses atau sistem. Jadi pemodelan sistem dapat diartikan sebagai proses
menghasilkan model sebagai gambaran atau representasi dari suatu sistem.
Klasifikasi pemodelan sistem dapat dilihat pada Gambar 3.
Sistem

Eksperimen
dengan sistem
nyata

Eksperimen
dengan model
sistem

Model fisik

Model matematika

Penyelesaian analitis

Simulasi

Gambar 3. Klasifikasi Pemodelan Sistem (Law and Kelton, 1991 dalam Manona
dan Soetopo, 2008)
Potensi pengembangan agribisnis mangga gedong gincu di Kecamatan
Panyingkiran cukup baik. Jenis tanah di Kecamatan Panyingkiran yaitu aluvial
dan lempung berdebu dengan pH berkisar antara 5-7. Tekstur tanah liat berpasir
dan lempung berdebu. Struktur tanah cukup remah/gembur. Topografi antara 210%. Tingkat kesuburan tanah cukup subur sampai dengan subur. Solum tanah
50-200 cm. Ketinggian tempat 100-700 m dpl. suhu udara rata-rata 30 o C dengan
RH 70%. Curah hujan rata-rata 2000-2500 m/tahun dan tipe iklim menurut
Oldeman adalah tipe iklim C. Kondisi angin yang bertiup cukup kencang sampai

dengan kencang. Kondisi tersebut cocok bagi pertumbuhan tanaman mangga


gedong gincu secara optimal.
Karakteristik dan Komoditas Mangga Gedong Gincu
Tanaman mangga tumbuh dengan baik di
daerah

dataran

rendah

sampai

dengan

ketinggian 500 m di atas permukaan laut dan


kemiringan tanahnya tidak lebih dari 15 derajat.
Tipe iklim yang sesuai adalah iklim kering
dengan bulan kering 4-8 bulan, curah hujan
1000-2000

mm

pertahun

dengan

tingkat

penyinaran 50-80 persen. Budidaya mangga


dilakukan di tanah lempeng berpasir karena tanaman ini tahan terhadap
kekeringan. Keasaman (pH) tanah yang ideal adalah 5,5-6 dan suhu udara yang
optimum berkisar 25-27C. bunga akan muncul 1,5-2 bulan sesudah kemarau dan
buah matag 3-4 bulan kemudian. Hasil produksi akan lebih baik apabila musim
kemaraunya lebih kering. Tetapi ada pula mangga yang tahan terhadap kondisi
bahan seperti Mangga Gedong.
Terdapat dua jenis Mangga Gedong yaitu Mangga Gedong biasa dan Mangga
Gedong Gincu yang berasal dari Kabupaten Majalengka. Pada perkembangannya,
buah ini banyak dibudidayakan di kabupaten sekitarnya yaitu kabupaten Cirebon
dan Indramayu.
Mangga Varietas Gedong Gincu merupakan varietas mangga yang cukup
menjanjikan untuk pasar modern maupun pasar internasional. Sebab, warna kulit
buahnya yang berwarna kuning jingga dan kemerahan dan rasanya manis
keasaman dengan aroma yang harum.
Provinsi Jawa Barat merupakan sentra poduksi Mangga terbesar setelah Jawa
Timur dengan sentra utama di Kabupaten Cirebon, Majalengka dan Indramayu.
Kawasan/Belt Mangga ini merupakan kawasan laboratorium/percontohan, kata
Dirjen Hortikultura Departemen Pertanian, Acmad Dimyati.
Kabupaten Cirebon sudah mencanangkan sejak tahun 2001 dengan Gerakan
Sejuk Pohon, dengan tanaman Mangga Gedong Gincu. Dipilihnya mangga

varietas Gedong Gincu didasarkan pada sejarah yang menyatakan asal- muasal
Gedong Gincu adalah Cirebon.
Kabupaten Cirebon merupakan salah satu kabupaten yang melaksanakan
Pengembangan Kebun Buah-buahan yang didanai oleh Proyek PAH/IHDUA,
JBIC IP-477. Daerah ini sangat potensial untuk pengembangan tanaman mangga,
sehingga kegiatan proyek diutamakan pada pembangunan kebun mangga varietas
Gedong Gincu seluas 1.000 Ha dengan populasi awal 100 pohon per hektar, mulai
TA. 1997/1998 sampai dengan TA. 2002.
Pembangunan kebun dilaksanakan secara bertahap yaitu TA. 1997/1998
seluas 100 Ha; TA. 1998/1999 seluas 450 Ha; TA. 1999/2000 seluas 365 Ha. Dan
TA.2000 seluas 85 Ha. Dengan rata-rata umur mangga mulai berproduksi 6 tahun,
diperkirakan pada tahun 2003 mangga gedong gincu di Kabupaten Cirebon sudah
mulai berproduksi.
Sisi pemasok yang direpresentasikan oleh Gabungan Kelompok Tani
(Gapoktan) serta sisi agroindustri yang direpresentasikan oleh eksportir yang
menyalurkan buah mangga gedong gincu dari Kabupaten Cirebon ke negara
tujuan konsumen. Pada sisi eksportir, hal yang perlu dikaji adalah berkaitan
dengan pengendalian persediaan buah mangga gedong gincu di tingkat eksportir.
Produksi buah mangga adalah musiman (Oktober-Desember). Sebagai buah
dengan pola respirasi klimakterik, mangga gedong gincu akan terus mengalami
penurunan mutu sehingga mempunyai umur simpan terbatas. Karena itu,
diperlukan teknologi penanganan pascapanen untuk menunda penurunan mutu
mangga. Dengan adanya teknologi penyimpanan, mangga gedong gincu
diharapkan dapat disimpan lebih lama. Pada tahap ini keputusan yang diperlukan
meliputi : jumlah mangga gedong gincu yang dapat disimpan jika digunakan input
teknologi penyimpanan dengan objektif minimasi total biaya
Strategi Pemasaran Agroindustri Komoditas Mangga Gedong Gincu
Prakiraan penjualan ekspor mangga gedong gincu menggunakan teknik
Autoregressive Integrated Moving Average (ARIMA). Hasil prakiraan permintaan
eskpor mangga gedong gincu akan menjadi masukan pada pengendalian
persediaan. Pengendalian persediaan mangga gedong gincu untuk ekspor

dimodelkan secara matematik sebagai abstraksi sistem persediaan dengan


mempertimbangkan aspek penurunan mutu dan susut bobot buah.
KERAGAAN KEBUN
Kebun mangga yang dibangun melalui Proyek PAH/IHDUA terletak di 5
Kecamatan : Kecamatan Beber meliputi 4 desa : Desa Beber, Kondangsari,
Durajaya dan Greged; Kecamatan Sedong meliputi 8 desa yaitu Desa Putat,
Panambangan, Karangwuni, Sedong Lor Panongan, Windu Haji, Kertawangun
dan Sedong Kidul; Kecamatan Cirebon meliputi 3 desa : Pejambon, Cempaka dan
Sampiran.
Luas kebun mangga 1.000 hektar ditanam bertahap sejak

TA. 1997/1998

sampai dengan TA. 1999/2000. varietas yang ditanam adalah Gedong Gincu.
Populasi tanaman yang hidup 88,1 % atau 88.118 pohon. Jumlah tanaman yang
tumbuh sedang baik mencapai 98 %. Tanaman belum berproduksi, tetapi sebagian
tanaman pada tahun 2002 telah mulai berbunga. Permasalahan yang dihadapi
petani adalah tidak tersedianya pengairan pada musim kemarau dan tidak
memiliki pupuk kandang
TARGET PEMASARAN
A. Jepang Minati Gedong Gincu dari Cirebon
Mangga gedong gincu yang dibudidayakan petani di Cirebon, Indramayu,
Majalengka tidak hanya disukai dalam negeri. Sejumlah negera di Timur Tengah,
Eropa, dan Asia juga menyukai manga gedong gincu. Bahkan tahun ini
permintaan ekspor ke Jepang pun cukup tinggi.
Petani manga yang juga ketua kelompok tani manga di Sedong, Kabupaten
Cirebon, Haerudin, mengatakan sebelumnya pengiriman ke Jepang berada pada
tahap pengujian. Namun tahun ini, Negeri Sakura sudah memulai permintaan
ekspor manga gedong gincu.
Katanya harga di Jepang bisa sampai Rp. 400.000 per kilogram. Mangga ini
memang jadi primadona karena rasanya yang khas dan juga dipercaya memiliki
khasiat, kata Haerudin.
Haerudin mengatakan sudah menandatangani kontrak ekspor tahun ini
sebanyak 1.000 ton. Mangga itu dikirim ke Timur Tengah, Singapura, Hongkong,

Eropa dan Jepang. Haerudin menjalani bisnis ekspor mangga gedong gincu sejak
2009.
Mangga gedong gincu dijual ke sejumlah kota di Indonesia. Selain di jual di
pasar pasar tradisional, mangga gedong gincu juga dipasarkan di supermarket.
Menurut Haerudin, tahun ini dia mulai memanen gedong gincu sejak Mei lalu.
Mangga tersebut sengaja dipanen pada Mei Juni agar hasilnya maksimal.
kebetulan bulan ini bertepatan dengan kemarau. Dimusim kemarau, hasil panen
maksimal baik dari segi kuantitas mauoun kualitas. Saya pernah mencoba anen
pada

februari

ternyata

bertepatan

dengan musim hujan

dan hasilnya

mengecewakan. Ujar Haerudin.


Selain hasil hasil panen memuaskan, harga jual mangga gedong gincu saat ini
tengah mahal. Satu kilogram dihargai Rp.25000 di tingkat petani. Musim panen
mangga gincu ini terjadi pada bulan September dan Oktober. Ada beberapa yang
bisa dipanen sampai Desember. Dengan bantuan teknologi, pemanenan dapat di
atur pada bulan Mei Juni. Setiap kali panen raya yang terjadi bulan Oktober,
harga jual mangga akan anjlok. Harga gedong gincu bisa mencapai Rp.10.000 per
kilogram.
Mangga gedong gincu dibudidayakan petani Cirebon, Indramayu dan
Majalengka. Di kabupaten Cirebon, luas areal tanaman mangga gedong gincu
mencapai 1.000 hektar. Namun yang sudah panen bulan ini baru 25%. Sisanya
akan panen September hingga akhir tahun. Diperkirakan panen gedong gincu
tahun ini akan lebih bagus ketimbang tahun kemarin. Hal ini dikarenakan musim
hujan lebih pendek, sehingg tidak banyak bunga mangga yang berguguran dan
banyak para petani yang memanfaatkan teknologi agar bisa mengatur panen agar
tidak bertepatan dengan musim hujan. Di Cirebon, petani dapat memanen mangga
gedong gincu dua kali dalam setahun. Itu terjadi berkat adanya teknologi yang
bisa merangsang mangga agar dapat dipanen dua kali dalam setahun. Panen
pertama terjadi pada bulan Mei Juni. Setelah itu mangga akan berbunga kembali
dan siap di panen September Oktober. Sehingga pohon mangga tidak pernah
berhenti berbunga dan buahnya bisa dipanen dua kali dalam setahun.
B. Petani Cirebon berambisi jual gedong gincu ke Jepang

Asosiasi Petani Mangga Kabupaten Cirebon tengah mengincar pangsa pasar


Jepang yang dinilai sangat menguntungkan meskipun peraturan ekspor ke negera
itu ketat.
Haerudin, Ketua Asiosiasi Petani Mangga (AMP) Kabupaten Cirebon
mengatakan pangsa pasar Jepang berani menerima mangga gedong gincu dengan
harga Rp.400.000 per kg.
Untuk masuk pangsa pasar Jepang syarat yang mesti dipenuhi ketat. Mangga
yang dikirim mesti lulus uji laborotarium di Jatisari, Kabupaten Karawang
terlebih dahulu, katanya kepada bisnis-jabar.com.
Selain itu, lanjut dia, petani yang mengirim mangga gedong gincu ke Jepang
mesti sudah mendapatkan sertifikasi lahan pertanian dan pohon mangga gedong
gincunya.
Laborotarium pengujian mangga sudah berdiri sejak satu tahun lalu dan kini
orang Jepang sedang melakukan uji mangga yang dikirimkan dari petani
Cirebon, kata dia.
Soal perkembangan uji laborotarium, lanjut dia, belum tahu sejauh mana
perkembangannya soal buah mangga seperti apa dan berusia berapa hari yang
diperbolehkan diekspor ke Jepang.(Roberto Purba)
C. Kebijakan Pemerintah
Kebijakan diartikan sebagai tujuan dan metode yang digunakan pemerintah
untuk mempengaruhi variable ekonomi seperti harga, penerimaan nasional,, nilai
tukar dan sebagainya. Kebijakan pertanian merupakan metode yang digunakan
pemerintah untuk melakukan perubahan terhadap lingkungan produksi pertanian
melalui perubahan harga input dan output, kelembagaan dalam pasar input dan
output serta pengenalan teknologi baru di bidang pertanian. Kebijakan yang paling
berpengaruh terhadap daya saing dan efisiensi usaha tani adalah harga komoditas
meliputi kebijakan terhadap input dan output yang dinyatakan dalam bentuk
subsidi ataupun pajak.
Pemerintah Kabupaten Cirebon tahun ini tengah menyalurkan dana Rp1 miliar
untuk bantuan penyediaan benih mangga Gedong Gincu. Rencananya, dana
tersebut akan dibagikan kepada para petani dan masyarakat, untuk program

perluasan produksi mangga yang menjadi komoditas unggulan ekspor dari Jawa
Barat.
Kepala Dinas Pertanian Perkebunan Peternakan dan Kehutanan Kabupaten
Cirebon, Ali Efendi mengatakan bantuan penyediaan benih mangga Gedong
Gincu senilai Rp1 miliar atau sebanyak 50.000 benih merupakan bantuan yang
bersumber dari APBD Kabupaten Cirebon 2012.
Pemberian bantuan [benih mangga Gedong Gincu] merupakan program
perluasan areal perkebunan, karena penanamannya pun bisa dilakukan di
pekarangan rumah penduduk, katanya, Rabu (25/7).
Luas areal produksi mangga Gedong Gincu tutur Ali, hingga 2011 mencapai
10.000 hektare yang tersebar di sejumlah kecamatan di Kabupaten Cirebon.
Bagusnya performa bentuk, aroma dan rasa mangga Gedong Gincu tambah Ali
menjadikan Mangga jenis ini begitu digemari konsumen dalam dan luar negeri.
Karena besarnya potensi pasar dan potensi produksi yang bisa dilakukan di
tiap wilayah di Kabupaten Cirebon, membuat kami terus mengupayakan perluasan
produksi dengan melakukan berbagai program, tuturnya.
Ali menambahkan selain penyaluran benih, program pelatihan, pemberian
bantuan alat semprot lalat (hama) mangga Gedong Gincu telah kami berikan
selama beberapa tahun terakhir.
Rencana ke depannya, kami akan menjadikan perkebunan mangga Gedong
Gincu dilakukan tidak hanya oleh petani di areal yang luas, namun juga dilakukan
seluruh lapisan masyarakat yang memiliki lahan kososng di sekitar rumah
mereka, ujarnya. (K3/ajz)

BAB III
KESIMPULAN
Mangga Gedong Gincu merupakan varietas mangga yang banyak
dibudidayakan petani Cirebon, Indramayu dan Majalengka. Warna kulit buahnya
yang berwarna kuning jingga dan kemerahan serta rasanya yang manis keasaman
dengan aroma yang harum menjadikan Mangga Gedong Gincu ini banyak
diminati masyarakat luas baik dalam negeri maupun luar negeri.
Oleh karena itu pemerintah daerah setempat mengeluarkan kebijakannya
untuk membudidayakan secara luas Mangga varietas Gedong Gincu yang
merupakan varietas mangga yang cukup menjanjikan untuk pasar modern maupun
pasar internasional.

DAFTAR PUSTAKA
Agung Shilvia. 2008. Jurnal Analisis Daya Saing Usaha Tani Mangga Gedong
Gincu. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Anonim. Dapat diakses di http://cni-sidoarjo.blogspot.com/2012/01/manggagedong-gincu-siap-tembus-pasar.html
Mangun Wijaya. Dapat diakses di http://bisnis-jabar.com/index.php/berita/petanicirebon-berambisi-jual-gedong-gincu-ke-jepang
Ida Romlah. Dapat diakses di http://m.tribunnews.com/2012/06/22/jepang-minatigedong-gincu-dari-cirebon
IPB. Dapat diakses:
http://repository.ipb.ac.id/bitstream/handle/123456789/54866/BAB%20III.
%20METODOLOGI%20PENELITAN.pdf?sequence=7