Anda di halaman 1dari 13

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa,karena atas rahmat dan
hidayah-nya saya dapat menyelesaikan tugas makalah yang terdiri dari berbagai sumber yang
berisikan mengenai Apendisistis
Dengan dibuatnya tugas makalah ini saya berharap dapat bermanfaat untuk pembacanya
dan membantu dalam memahami masalah ini.
Saya menyadari dalam pembuatan makalah ini masih banyak terdapat kesalahan dan
kekurangan. Oleh karena itu, kritik dan saran dari pembaca akan kami terima dengan rasa
syukur. Selamat membaca.

Makassar, 1 Januari 2015

Wahyudi Kurniato

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR. i
DAFTAR ISI... ii
BAB I PENDAHULUAN......

1. Latar Belakang.... 1
2. Tujuan Penulisan.. 2
3. Metode Penulisan...

4. Manfaat Penulisan 2
BAB II PEMBAHASAN 4
1. Definisi...

2. Etiologi 4
3. Patofisiologi 5
4. Epidemiologi..

5. Manifestasi Klinik.

6. Klasifikasi Apendisitis..

7. Diagnose Banding..

8. Komplikasi.

9. Pemeriksaan Penunjang.

10. Penatalaksanaan.. 9
11. Prognosis. 10
12. Pencegahan.. 10
BAB III PENUTUP.11
Daftar Pustaka..11

ii

BAB I
PENDAHULUAN

1. Latar Belakang
Apendisitis adalah suatu radang yang timbul secara mendadak pada apendiks dan
merupakan salah satu kasus akut abdomen yang paling sering ditemui. Apendiks disebut juga
umbai cacing. Apendisitis sering disalah artikan dengan istilah usus buntu, karena usus buntu
sebenarnya adalah caecum. Apendisitis akut merupakan radang bakteri yang dicetuskan berbagai
faktor. Diantaranya hyperplasia jaringan limfe, fekalith, tumor apendiks dan cacing ascaris dapat
juga menimbulkan penyumbatan.

Insiden apendisitis akut lebih tinggi pada negara maju daripada Negara berkembang,
namun dalam tiga sampai empat dasawarsa terakhir menurun secara bermakna, yaitu 100 kasus
tiap 100.000 populasi mejadi 52 tiap 100.000 populasi. Kejadian ini mungkin disebabkan
perubahan pola makan, yaitu negara berkembang berubah menjadi makanan kurang serat.
Menurut data epidemiologi apendisitis akut jarang terjadi pada balita, meningkat pada pubertas,
dan mencapai puncaknya pada saat remaja dan awal 20-an, sedangkan angka ini menurun pada
menjelang dewasa. Insiden apendisitis sama banyaknya antara wanita dan laki-laki pada masa
prapuber, sedangkan pada masa remaja dan dewasa muda rationya menjadi 3:2, kemudian angka
yan tinggi ini menurun pada pria.

Dari berbagai penelitian yang telah dilakukan, obstruksi merupakan penyebab yang
dominan dan merupakan pencetus untuk terjadinya apendisitis. Kuman-kuman yang merupakan
flora normal pada usus dapat berubah menjadi patogen, menurut Schwartz kuman terbanyak
penyebab

apendisitis

akut

adalah

Bacteriodes

Fragilis

bersama

E.coli.

Beberapa gangguan lain pada sistem pencernaan antara lain sebagai berikut: Peritonitis;
merupakan peradangan pada selaput perut (peritonium). Gangguan lain adalah salah cerna akibat
makan makanan yang merangsang lambung, seperti alkohol dan cabe yang mengakibatkan rasa
nyeri yang disebut kolik. Sedangkan produksi HCl yang berlebihan dapat menyebabkan
terjadinya gesekan pada dinding lambung dan usus halus, sehingga timbul rasa nyeri yang
disebut tukak lambung. Gesekan akan lebih parah kalau lambung dalam keadaan kosong akibat
i

makan tidak teratur yang pada akhirnya akan mengakibatkan pendarahan pada lambung.
Gangguan lain pada lambung adalah gastritis atau peradangan pada lambung. Dapat pula
apendiks terinfeksi sehingga terjadi peradangan yang disebut apendisitis.

Di dalam makalah ini kami akan membahas seputar gangguan pencernaan pada apendiks
atau biasa dikenal dengan apendisitis yang meliputi pengertian, etiologi, patofisiologi,
manifestasi klinis, pemeriksaan, diagnosis, penatalaksanaan, dan komplikasinya.

2. Tujuan Penulisan
2.1. Tujuan Umum :
Tujuan umum dari penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas pembuatan
makalah mata kuliah Sistem Pencernaan II serta mempresentasikannya.
2.2. Tujuan Khusus :
Tujuan khusus penulisan makalah ini adalah :
1. Untuk mengetahui anatomi dan fisiologi apendisitis
2. Untuk memahami definisi dari apendisitis
3. Dapat mengetahui manifestasi klinik apendisitis
4. Memahami patofisiologi apendisitis
5. Mengetahui penatalaksanaan apendisitis
6. Mengetahui komplikasi apendisitis
7. Mengetahui dan mampu memberikan asuhan keperawatan pada pasien dengan
gangguan apendisitis

3. Metode Penulisan
Makalah ini disusun dengan melakukan studi pustaka dari berbagai buku referensi dan
internet.

4. Manfaat Penulisan
1. Mengetahui letak atau posisi anatomi dan fisiologi apendisitis
2. Mengetahui penyebab dan proses perjalanan penyakit apendisitis

ii

3. Memahami parameter pengkajian yang tepat untuk menentukan status fungsi


gastrointestinal
4. Mampu membuat asuhan keperawatan pada pasien dengan gangguan apendisitis

BAB II
PEMBAHASAN

1. Definisi
Apendisitis adalah peradangan dari apendiks vermiformis dan merupakan penyebab
penyakit abdomen akut yang sering terjadi di negara berkembang penyakit ini dapat mengenai
semua umur baik laki-laki maupun perempuan, tetapi lebih sering menyerang laki-laki berusia
antara 10 sampai 30 tahun.
Apendisitis dapat juga disebut sebagai radang usus buntu, bila peradangannya bertambah
parah dan terinfeksi, usus buntu bisa pecah dan mengakibatkan perforasi usus. Usus buntu
sendiri merupakan suatu saluran usus yang ujungnya buntu dan menonjol dari bagian awal usus
besar atau sekum (secum). Usus buntu besarnya sekitar kelingking tangan dan terletak diperut
kanan bawah bentuknya seperti bagian usus lainnya dan banyak mengandung kelenjar yang
selalu mengeluarkan lender.
Apendiks menghasilkan lendir 1 2 ml perhari. Lendir itu secara normal dicurahkan
kedalam lumen dan selanjutnya mengalir ke sekum. Hambatan aliran lendir dimuara apendiks
tampaknya berperan pada patogenesis apendisitis. Imunoglobulin sekretoar yang dihasilkan oleh
GALT (Gut Asosieted Lymphoid Tissue) yang terdapat sepanjang saluran cerna termasuk
apendiks, ialah IGA. Imunoglobulin itu sangat efektif sebagai pelindung terhadap infeksi.
Namun demikian pengangkatan apendiks tidak mempengaruhi system imun tubuh sebab jumlah
jaringan limfe disini kecil sekali jika dibandingkan dengan jumlah disaluran cerna dan seluruh
tubuh.

2. Etiologi
Penyebab penyakit apendisitis secara pasti belum diketahui tetapi terjadinya apendisitis ini
umumnya karena bakteri. Namun terdapat banyak sekali faktor pencetus terjadinya hal itu.
Diantaranya sumbatan dari lumen apendiks, adanya timbunan tinja yang keras (fekolit) , tumor
apendiks, namun juga dapat terjadi karena pengikisan mukosa apendiks akibat parasit seperti E.
Hystalitica. Makanan rendah serat juga akan menimbulkan kemungkinan terjadinya hal tersebut.
Tinja yang meningkatkan tekanan didalam sekum sehingga akan mempermudah timbulnya
penyakit itu.
ii

3. Patofisiologi
Apendisitis biasanya disebabkan oleh penyumbatan lumen apendiks oleh hiperplasia
folikel limfoid, fekalit, benda asing, struktur karena fibrosis akibat peradangan sebelumnya, atau
neoplasma. Obstruksi tersebut menyebabkan mukus yang diproduksi mukosa mengalami
bendungan. Makin lama mukus tersebut makin banyak, namun elastisitas dinding apendiks
mempunyai keterbatasan sehingga menyebabkan peningkatan tekanan intralumen. Tekanan yang
meningkat tersebut akan menghambat aliran limfe yang mengakibatkan edema, diapedesis
bakteri , dan ulserasi mukosa. Pada saat inilah terjadi apendisitis akut fokal yang ditandai oleh
nyeri epigastrium.
Bila sekresi mukus terus berlanjut, tekanan akan terus meningkat. Hal tersebut akan
menyebabkan obstruksi vena, edema bertambah, dan bakteri akan menembus dinding.
Peradangan yang timbul meluas dan mengenai peritoneum setempat sehingga menimbulkan
nyeri didaerah kanan bawah. Keadaan ini disebut dengan apendisitis supuratif akut. Bila
kemudian aliran arteri terganggu akan terjadi infark dinding apendiks diikuti dengan ganggren.
Stadium ini disebut dengan apendisitis gangrenosa. Bila dinding yang telah rapuh itu pecah, akan
terjadi apendisitis perforasi.
Bila semua proses diatas berjalan lambat, omentum dan usus yang berdekatan akan
bergerak kearah apendiks hingga timbul suatu massa lokal yang disebut infiltrat apendikularis.
Peradangan apendiks tersebut dapat menjadi abses atau menghilang. Pada anak-anak, karena
omentum lebih pendek dan apendiks lebih panjang, dinding apendiks lebih tipis. Keadaan
tersebut ditambah dengan daya tahan tubuh yang masih kurang memudahkan terjadinya
perforasi. Sedangkan pada orang tua perforasi mudah terjadi karena telah ada gangguan
pembuluh darah.

4. Epidemiologi
Insiden apendisitis dinegara maju lebih tinggi dari pada dinegara berkembang, namun
dalam tiga-empat dasawarsa terakhir kejadiannya menurun secara bermakna, hal ini diduga
disebabkan oleh meningkatnya penggunaan makanan berserat dalam menu sehari-hari.
Apendisitis dapat ditemukan pada semua umur, hanya pada anak-anak kurang dari satu tahun
jarang dilaporkan. Insiden tertinggi pada kelompok umur 20 - 30 tahun, setelah itu menurun.
i

Insiden pada lelaki dan perempuan umumnya sebanding, kecuali pada umur 20 - 30 tahun,
insiden pada lelaki lebih tinggi.

5. Manifestasi Klinis
Keluhan apendisitis biasanya bermula dari nyeri didaerah umbilikus atau periumbilikus
yang berhubungan dengan muntah. Dalam 2 12 jam nyeri akan beralih ke kuadran kanan
bawah yang akan menetap dan diperberat bila berjalan atau batuk. Terdapat juga keluhan
anoreksia, malaise dan demam yang tak terlalu tinggi. Biasanya juga terdapat konstipasi tetapi
kadang-kadang terjadi diare, mual dan muntah.
Pada permulaan timbulnya penyakit belum ada keluhan abdomen yang menetap namun
dalam beberapa jam nyeri abdomen kanan bawah akan semakin progresif dan dengan
pemeriksaan seksama akan dapat ditunjukkan satu titik dengan nyeri maksimal perkusi ringan
pada kuadran kanan bawah dapat membantu menentukan lokasi nyeri.

6. Klasifikasi Apendisitis

Apendisitis terdiri dari lima bagian antara lain :


a. Apendisitis Akut
Adalah peradangan apendiks yang timbul meluas dan mengenai peritoneum pariental
setempat sehingga menimbulkan rasa sakit di abdomen kanan bawah.
b. Apendisitis Infiltrat (Masa Periapendikuler)
Apendisitis infiltrat atau masa periapendikuler terjadi bila apendisitis ganggrenosa di tutupi
pendinginan oleh omentum.
c. Apendisitis Perforata
Ada fekalit didalam lumen, Umur (orang tua atau anak muda) dan keterlambatan diagnosa
merupakan faktor yang berperan dalam terjadinya perforasi apendiks.
d. Apendisitis Rekuren
Kelainan ini terjadi bila serangan apendisitis akut pertama kali sembuh spontan, namun
apendiks tidak pernah kembali ke bentuk aslinya karena terjadi fibrosis dan jaringan parut.
Resikonya untuk terjadinya serangan lagi sekitar 50%.
e. Apendisitis Kronis
ii

Fibrosis menyeluruh dinding apendiks, sumbatan parsial atau total lumen apendiks, adanya
jaringan parut dan ulkus lama di mukosa dan infiltrasi sel inflamasi kronik.

7. Diagnosa banding
Diagnosa banding pada Apendisitis dapat dibagi menjadi 9 macam taitu ;
a. Gastroenteritis
Pada gastroenteritis mual,muntah,dan diare didahului rasa sakit perut lebih ringan dan tidak
berbatas tegas.
b. Demam Dengue
Demam dengue dapat dimulai dengan sakit perut mirip peritonitis.
c. Limfadenitis Mesenterika
Limfaderitis mesenterika yang biasa didahului oleh enteritis atau gastroenteritis di tandai
dengan nyeri perut, terutama kanan disertai dengan perasaan mual nyeri tekan perut samar,
terutama kanan.
d. Kelainan Ovulasi
Folikel ovarium yang pecah (ovulasi) mungkin memberikan nyeri perut kanan bawah pada
pertengahan siklus menstruasi. Tidak ada tanda radang dan nyeri biasa hilang dalam waktu
24 jam, tetapi mungkin dapat mengganggu selama dua hari.
e. Infeksi Panggul
Suhu biasanya lebih tinggi dari pada apendisitis dan nyeri perut bagian bawah perut lebih
difus.
f. Kehamilan diluar kandungan
Jika ada ruptur tuba atau abortus kehamilan diluar rahim dengan perdarahan akan timbul
nyeri yang mendadak difus didaerah pelvis dan mungkin terjadi syok hipovolemik.
g. Kista ovarium terpuntir
Timbul nyeri mendadak dan tidak terdapat demam pemeriksaan Ultrasonografi menentukan
diagnosis menentukan diagnosis .
h. Endometriosis eksterna
Endometrium diluar rahim akan memberikan keluhan nyeri ditempat endometriosis berada
dan darah menstruasi terkumpul ditempat itu karena tidak ada jalan keluar.
i. Urolitiasis Pielum
i

Disertai dengan demam tinggi, menggigil, nyeri konstovertebral disebelah kanan, dan piuria.

8. Komplikasi
Komplikasi yang sering terjadi pada pasien apendisitis adalah :
a. Peritonitis
Peritonitis merupakan proses peradangan lokal atau umum pada peritoneum. Peritonitis
disertai rasa sakit yang semakin hebat, rasa nyeri, kembung, demam dan keracunan.
b. Perforasi
Karena dinding apendiks mengalami ganggren, rasa sakit yang bertambah, demam
tinggi, rasa nyeri yang menyebar dan jumlah leukosit yang tinggi merupakan tanda
kemungkinan terjadinya perforasi.
c. Pieloflebitis
Adalah tromboplebitis septik vena portal ditandai dengan demam yang tinggi, panas
dingin menggigil dan ikterus.
d. Abses apendiks
Terasa suatu massa lunak dikuadran kanan bawah atau didaerah pelvis. Massa ini mulamula berupa flegmen tetapi dapat berkembang menjadi rongga yang mengandung
nanah.

9. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan laboratorium yang diperlukan antara lain pemeriksaan darah, urin, dan feces.
Sedangkan pemeriksaan radiologis adalah foto polos dada, foto polos abdomen, angiografi
pemeriksaan dengan kontras, ultrasonografi, CT Scan, Endoskopi dan parasentesis.
Pada foto polos abdomen, ganbaran gas difus dengan udara mencapai ampula rekti
menunjukkan adanya ileusparalitik, khususnya bila bising usus menghilang. Distensi usus yang
berisi gas terjadi pada obstruksi usus. Airfluid level terjadi pada obstruksi usus halus bagian
distal. Distensi sekum dengan usus halus yang mengalami dilatasi terjadi pada obstruksi usus
besar.

ii

10. Penatalaksanaan
10.1. Tindakan medis
1. Observasi terhadap diagnosa
Dalam 8 12 jam pertama setelah timbul gejala dan tanda apendisitis, sering tidak terdiagnosa,
dalam hal ini sangat penting dilakukan observasi yang cermat. Penderita dibaringkan ditempat
tidur dan tidak diberi apapun melalui mulut. Bila diperlukan maka dapat diberikan cairan
aperviteral. Hindarkan pemberian narkotik jika memungkinkan, tetapi obat sedatif seperti
barbitural atau penenang tidak karena merupakan kontra indikasi. Pemeriksaan abdomen dan
rektum, sel darah putih dan hitung jenis di ulangi secara periodik. Perlu dilakukan foto abdomen
dan thorak posisi tegak pada semua kasus apendisitis, diagnosa dapat jadi jelas dari tanda
lokalisasi kuadran kanan bawah dalam waktu 24 jam setelah timbul gejala.
2. Intubasi
Dimasukkan pipa naso gastrik preoperatif jika terjadi peritonitis atau toksitas yang menandakan
bahwa ileus pasca operatif yang sangat menggangu. Pada penderita ini dilakukan aspirasi kubah
lambung jika diperlukan. Penderita dibawa kekamar operasi dengan pipa tetap terpasang.
3. Antibiotik
Pemberian antibiotik preoperatif dianjurkan pada reaksi sistematik dengan toksitas yang berat
dan demam yang tinggi .

10.2. Terapi Bedah


Pada apendisitis tanpa komplikasi, apendiktomi dilakukan segera setelah terkontrol
ketidakseimbangan cairan dalam tubuh dan gangguan sistematik lainnya. Biasanya hanya
diperlukan sedikit persiapan. Pembedahan yang direncanakan secara dini baik mempunyai
praksi mortalitas 1 % secara primer angka morbiditas dan mortalitas penyakit ini tampaknya
disebabkan oleh komplikasi ganggren dan perforasi yang terjadi akibat yang tertunda.
10.3. Terapi Pasca Operasi
Perlu dilakukan obstruksi tanda-tanda vital untuk mengetahui terjadinya perdarahan
didalam, syok hipertermia, atau gangguan pernapasan angket sonde lambung bila pasien telah
sadar, sehingga aspirasi cairan lambung dapat dicegah. Baringkan pasien dalam posisi fowler.
Pasien dikatakan baik bila dalam 12 jam tidak terjadi gangguan. Selama itu pasien dipuasakan.
Bila tindakan operasi lebih besar, misalnya pada perforasi atau peritonitis umum, puasa
i

diteruskan sampai fungsi usus kembali normal. Kemudian berikan minum mulai 15 ml/jam
selama 4-5 jam lalu naikkan menjadi 30 ml/jam. Keesokan harinya diberikan makan saring, dan
hari berikutnya diberikan makanan lunak. Satu hari pasca operasi pasien dianjurkan untuk duduk
tegak ditempat tidur selama 2 x 30 menit. Pada hari kedua pasien dapat berdiri dan duduk diluar
kamar. Hari ketujuh jahitan dapat diangkat dan pasien diperbolehkan pulang.

11. Prognosis
Dengan diagnosis yang akurat serta pembedahan, tingkat mortalitas dan morbiditas
penyakit ini sangat kecil. Keterlambatan diagnosis akan meningkatkan morbiditas dan mortalitas
bila terjadi komplikasi. Serangan berulang dapat terjadi bila apendiks tidak diangkat.
Terminologi apendisitis kronis sebenarnya tidak ada.

12. Pencegahan
Pencegahan penyakit apendisitis dapat dibagi menjadi dua, yaitu :
1. Diet tinggi serat akan sangat membantu melancarkan aliran pergerakan makanan dalam saluran
cerna sehingga tidak tertumpuk lama dan mengeras.
2. Minum air putih minimal 8 gelas sehari dan tidak menunda buang air besar juga akan membantu
kelancaran pergerakan saluran cerna secara keseluruhan.

ii

BAB III
PENUTUP

DAFTAR PUSTAKA

1. Arief Mansjoer, dkk. 2002. Askariasis. Dalam : Kapita Selekta Kedokteran. Jilid 1, Edisi 3.
Jakarta : Media Aesculapius FKU
2. Syamsuhidayat. R & De Jong W. 2004. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi 2 .Jakarta : EGC.
3. Price, Sylvia Anderson. 2005. PATOFISIOLOGI : konsep klinis proses-proses penyakit.
Jakarta : EGC
4. Chapter II. Universitas Sumatera Utara.
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/19162/4/Chapter%20II.pdf