Anda di halaman 1dari 11

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Permasalahan hidup yang berat dialami oleh semua kalangan
masyarakat mulai dari masalah rumah tangga, stress di tempat kerja, tingginya
tingkat pengangguran, sampai sulitnya mencari penghasilan, pekerjaan, dapat
menyebabkan gangguan jiwa seperti cemas, stres, depresi, bahkan kasus-kasus
bunuh diri. Gangguan jiwa adalah kumpulan dari keadaan-keadaan yang tidak
normal, baik yang berhubungan fisik maupun mental (Yosep, 2007).
Prevalensi gangguan jiwa di Indonesia tahun 2007 sebesar 4,6%,
sedangkan di Jawa Tengah 3,3% (Batitbangkes 2008). Data diatas
menunjukan prevalensi gangguan jiwa di Indonesia cenderung meningkat
secara bermakna. Data statistik gangguan jiwa di Kabupaten Banyumas belum
diketahui secara pasti, tetapi terjadi peningkatan jumlah klien gangguan jiwa
di RSUD Banyumas. RSUD Banyumas merupakan rumah sakit pendidikan
dan rujukan untuk kasus gangguan jiwa di Jawa Tengah bagian selatan yang
melayani klien umum dan tersedia poli jiwa serta rawat inap klien ganggun
jiwa. Jumlah klien ruang psikiatri selama empat bulan ditahun 2008 yaitu
Maret (99 orang), April (110 orang), Mei (83 orang) dan Juni (79 orang),
kondisi ini ruangan rawat inap 60 orang.
Dalam upaya menangani masalah kesehatan jiwa, hampir seluruh
Provinsi di Indonesia telah dibangun rumah sakit jiwa, namun kecenderungan
penderita dengan gangguan jiwa ternyata terus meningkat. Ini menunjukkan
bahwa tuntasnya penanganan kesehatan jiwa tidak hanya ditandai dengan
banyaknya rumah sakit tetapi masih ada faktor lainnya yang ikut
mempengaruhi.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana Kritik Penyusun Makalah Tentang Jurnal Keperawatan Jiwa
Dari Sumber yang Diambil?
2. Bagaimana Kebijakan dan Strategi yang Dilakukan Oleh Pemerintah
Sehubungan Dengan Kesehatan Jiwa?

C. Tujuan
1. Mengetahui Kritik Penyusun Makalah Tentang Jurnal Keperawatan Dari
Sumber yang Diambil.
2. Mengetahui Kebijakan dan Strategi yang Dilakukan Pemerintah
Sehubungan Dengan Kesehatan Jiwa.

BAB II
PEMBAHASAN

A. KRITIK DARI JURNAL KEPERAWATAN JIWA

1. Judul
Pengaruh Psikoedukasi Keluarga Terhadap Kemampuan Keluarga Dalam
Merawat Klien Isolasi Sosial

2. Peneliti
a. Ruti Wiyati
b. Dyah Wahyuningsih
c. Esti Dwi Widayanti
123

Prodi Keperawatan Purwokerto, Poltekkes Semarang

3. Metode Penelitian
metode kuantitatif dengan desain penelitian eksperimen semu (quasi
experimant pre dan post test with kontrol group).

4. Sumber
Jurnal Keperawatan Soedirman (The Soedirman Journal of Nursing), Volume
5, No.2, Juli 2010

5. Hasil Dan Bahasan Jurnal


Penelitian dilakukan di RSUD Banyumas ruang Samiaji dan Yudistira
terhadap 48 responden(keluarga dengan anggota keluarga isolasi sosial) yaitu
24 kelompok intervensi dan 24 kelompok kontrol. Hasil analisis penelitian ini

menunjukan bahwa kemampuan keluarga dalam merawat klien isolasi sosial


baik kognitif dan psikomotor sebelum pemberian terapi psikoedukasi keluarga
setara(p>0,05) (Tabel 1).

Hasil analisis penelitian menunjukan bahwa ada peningkatan kemampuan


kognitif dan psikomotor keluarga secara bermakna (p<0,05) sesudah
pemberian terapi psikoedukasi keluarga (Tabel 2).

Hasil penelitian ini menunjukan bahwa rerata kemampuan kognitif dan


psikomotor keluarga kelompok intervensi meningkat lebih tinggi secara
bermakna dibandingkan kelompok kontrol (p<0,05) (Tabel 3)

6. Kritik Dari Penelitian Dalam Jurnal


Kemampuan keluarga Dalam Merawat Klien Isolasi Sosial Sebelum
Dan Sesudah Terapi Psikoedukasi Keluarga Kelompok Intervensi dan Kontrol
Di RSUD Banyumas pada bulan Mei Juni 2009 menunjukkan peningkatan
kemampuan kognitif dan psikomotor pada kelompok intervensi dan kelompok
control.
Pada kelompok intervensi terjadi peningkatan kemampuan kognitif
dengan selisih 30 dan peningkatan kemampuan psikomotor sebesar 27,08
setelah dilakukan terapi psikoedukasi. Pada kelompok kontrol terjadi
peningkatan kemampuan kognitif dengan selisih 12,93

dan peningkatan

kemampuan psikomotor sebesar 12,5 setelah dilakukan terapi psikoedukasi.


Terapi Psikoedukasi keluarga ini berarti dapat meningkatkan
kemampuan kognitif karena sesuai dalam pembahasan bahwa dalam terapi
mengandung unsur untuk meningkatkan pengetahuan keluarga tentang
penyakit, mengajarkan tehnik yang dapat membantu keluarga untuk
mengetahui

gejalagejala

penyimpangan

perilaku,

serta

peningkatan

dukungan bagi anggota keluarga itu sendiri. Tujuan program pendidikan ini
adalah meningkatkan pencapaian pengetahuan keluarga tentang penyakit,
mengajarkan keluarga bagaimana tehnik pengajaran untuk keluarga dalam
upaya membantu mereka melindungi keluarganya dengan mengetahui gejalagejala perilaku dan mendukung kekuatan keluarga
Kenaikan

kemampuan

psikomotor

pada

kelompok

intervensi

dimungkinkan karena terapi psikoedukasi keluarga yang berkaitan dengan


adanya komponen ketrampilan latihan yang terdiri dari : komunikasi, latihan
menyelesaikan konflik, latihan asertif, latihan mengatasi perilaku dan
mengatasi stress. Sesuai dalam pembahasan jurnal bahwa komponen latihan
terdapat dalam sesi tiga yaitu demonstrasi keluarga cara berintreraksi dan
berkenalan dengan orang lain, meragakan cara beraktifitas dan meragakan
cara memberikan obat pada pasien.
5

Semakin banyak factor yang dapat mempengaruhi kondisi kejiwaan


seseorang, maka sangat diperlukan terapi seperti terapi psikoedukasi bagi
keluarga dengan anggota keluarga yang mempunyai gangguan jiwa karena
akan sangat membantu keluarga dalam meningkatkan kemampuan psikomotor
dan kognitif untuk merawat anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa.

B. KEBIJAKAN

DAN

STRATEGI

YANG

DILAKUKAN

OLEH

PEMERINTAH
1. KEBIJAKAN
a. Kebijakan dalam upaya mewujudkan kesehatan jiwa masyarakat berdasarkan
prinsip partisipatif

dengan ruang lingkup Primary Prevention (Health

Education & Specific Protection) dan memperhatikan siklus kehidupan (Life


Cycle) dan tatanan masyarakat (Social-Cultural Setting).
b. Sejalan dengan kebijakan desentralisasi perlu adanya advokasi terhadap
Provinsi dan Kabupaten/Kota dalam menyusun kebijakan dan program
kesehatan jiwa di Provinsi dan Kabupaten / Kota. Untuk keperluan ini harus
mengacu pada Kebijakan Kesehatan Jiwa Nasional sebagai subsistem
Kebijakan Kesehatan Nasional (Indonesia Sehat 2010) dan Kebijakan
Desentralisasi Pemerintahan.
c. Pemerintah Daerah Provinsi dan Kabupaten/Kota

harus disensitisasi dan

ditingkatkan perannya dalam menghadapi masalah kesehatan jiwa masyarakat


dan mengurangi dampaknya terhadap kesejahteraan masyarakat. Khususnya
dalam pembentukan TP- KJM sebagai salah satu lembaga perangkat daerah
dalam upaya Pengarahan dan Pelaksanaan Upaya Kesehatan Jiwa Masyarakat.
d. Upaya kesehatan jiwa masyarakat dilaksanakan secara konseptual dan melalui
pendekatan multidisipliner dengan kerjasama lintas sektoral yang mengacu
pada peningkatan kualitas sumber daya manusia dengan wadah koordinatif
TP-KJM.

e. Pengembangan dan pendayagunaan sarana dan prasarana pelayanan kesehatan


jiwa

masyarakat

yang

komprehensif

bagi

pemenuhan

kebutuhan

penanggulangan masalah yang menjadi prioritas.


f. Program Peningkatan Partisipasi Masyarakat dan Kemitraan Swasta diarahkan
untuk memberdayakan LSM atau Organisasi Swasta agar mampu mendorong
kemandirian masyarakat untuk mencapai jiwa yang sehat, khususnya dalam
hal membantu identifikasi masalah kesehatan jiwa dalam masyarakat dan
sumber daya yang ada dalam masyarakat (social supporting system),
melakukan standarisasi pelayanan yang dilakukan LSM, Swasta, dan
peningkatan pengetahuan masyarakat tentang kesehatan jiwa melalui media
kultural daerah / lokal.
g. Peningkatan kesadaran akan pentingnya kesehatan jiwa sehingga dapat
mewujudkan perilaku sehat jiwa dalam masyarakat memerlukan upaya
promotif dan preventif pada setiap strata masyarakat utamanya balita, anak,
remaja, wanita, orang tua, usia lanjut dan kelompok-kelompok masyarakat
dengan risiko tinggi dan rentan terhadap masalah kesehatan jiwa seperti
pengungsi konflik sosial, penduduk korban kekerasan (mental dan seksual),
anak jalanan, gelandangan psikotik, pekerja wanita yang rentan, remaja putus
sekolah, dll. Upaya promotif dan preventif ini dapat dilakukan melalui tatanan
perilaku hidup bersih yang telah ada di masyarakat. 8. Mempertajam skala
prioritas penanganan permasalahan kesehatan dan kesejahteraan sosial,
dengan mengacu kepada pertimbangan nilai manfaat dan strategis dalam
rangka mendukung dan mempercepat pembangunan kesehatan khususnya dan
pembangunan nasional pada umumnya.
h. Menetapkan kriteria keberhasilan dan cara pengukuran keberhasilan
pembangunan kesehatan jiwa secara baku dan konsisten untuk perencanaan,
pemantauan pelaksanaan dan penilaian penanggulangan masalah kesehatan
jiwa masyarakat.

i. Mempererat silaturahmi Lembaga-lembaga Departemen dan Lembagalembaga Non Departemen dalam rangka mewujudkan penyelenggaraan upaya
kesehatan jiwa masyarakat.

2. STRATEGI
a. Advokasi Kebijakan Publik yang memperhatikan aspek kesehatan jiwa.
Program pembangunan di segala bidang harus memberikan kontribusi yang
positif terhadap derajat kesehatan jiwa masyarakat. Hal ini dapat dicapai
dengan adanya dukungan kebijakan publik yang memenuhi asaS-asas
kesehatan jiwa, misalnya kebijakan pemukiman yang menyediakan fasilitas
sosial (tempat bermain anak, olahraga bagi remaja, kegiatan sosial bagi usia
lanjut, dan lain-lain), disetiap Kota/Kabupaten mempunyai Pusat Kegiatan
Sosial dan Budaya , disetiap sekolah tersedia kepustakaan, lapangan
olahraga yang memadai untuk menampung kreatifitas anak didik, dan lainlain. Dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan jiwa masyarakat ini secara
lebih efektif dan efisien, maka upaya promotif dan preventif terhadap
munculnya berbagai masalah kesehatan jiwa akan lebih diutamakan daripada
upaya kuratif dan rehabilitatif.
b. Pemantapan Kerjasama Lintas Sektor dan Kemitraan dengan Swasta .
Upaya kesehatan jiwa sangat terkait dengan berbagai kebijakan dari sektorsektor di luar kesehatan, sehingga kerjasama yang sudah terjalin selama ini
perlu terus ditingkatkan dengan cara-cara yang lebih efektif, khususnya
peningkatan pemberdayaan sektor swasta dalam upaya yang bersifat preventif
dan promotif.
c. Pemberdayaan Masyarakat

melalui pendidikan / penyuluhan / promosi

tentang kesehatan jiwa secara terintegrasi dengan program kesehatan dan


sektor pada umumnya. Metode dan materi pendidikan kesehatan jiwa harus
disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat setempat (relevant), menggunakan
tatanan yang sudah ada di masyarakat tersebut (social-cultural setting), dan
8

dapat dimengerti dengan mudah oleh masyarakat (contextual communication).


Menumbuhkembangkan pemberdayaan masyarakat untuk mengetahui potensi
yang ada dan memanfaatkannya menuju kemandirian. Menciptakan
pemberdayaan masyarakat melalui kegiatan institusi yang ada dalam
masyarakat itu sendiri, seperti tradisi, adat istiadat, budaya, pemerintahan
desa,

organisasi

kemasyarakatan

secara

gotong

royong

dan

berkesinambungan.
d. Mengoptimalkan fungsi-fungsi TP-KJM sesuai dengan tugas pokoknya,
dengan dukungan sarana dan prasarana yang memadai, serta mekanisme kerja
dan koordinasi program yang dilaksanakan secara sinkron dan sinergi.
e. Desentralisasi

program kesehatan jiwa pada Kabupaten/Kota.

Dalam

kaitan dengan desentralisasi penyelenggaraan pemerintahan pada tingkat


Kabupaten/Kota, dan adanya keragaman sumber daya yang dimiliki oleh
masing-masing Kabupaten/Kota, serta keunikan dari masalah kesehatan jiwa
yang ada. Maka perlu dikembangkan Program Kesehatan Jiwa di setiap
Kabupaten/Kota oleh Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dengan fasilitasi dan
pemberdayaan dari Provinsi/Pusat.
f. Sosialisasi upaya kesehatan jiwa masyarakat ini dengan adanya dukungan
bahan-bahan informasi yang lengkap dan memadai.
g. Meningkatkan komunikasi dan forum koordinasi dalam rangka pemberdayaan
dan peningkatan kualitas sumber daya manusia dalam upaya pencegahan dan
penanggulangan kesehatan jiwa masyarakat.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Karakteristik keluarga yang mempunyai klien isolasi sosial di RSUD
Banyumas pada umumnya pada rentang usia dewasa ,mempunyai tingkat
pendidikan dasar, berjenis kelamin perempuan. Terapi Psikoedukasi Kelurga
meningkatkan kemampuan kognitif dan psikomotor secara bermakna. Kualitas
sumber daya manusia keperawatan perlu ditingkatkan dalam melakukan
asuhan keperawatan pada klien isolasi sosial berdasarkan terapi generalis.

A. Saran
Direktur RS Jiwa atau Umum yang membuka bangsal jiwa
menetapkan suatu kebijakan untuk implementasi terapi keluarga pada
keperawatan jiwa yaitu terapi psikoedukasi keluarga dan terapi generalis
untuk keluarga. Perlu penelitian pada kasus lain untuk melengkapi informasi
tentang sejuah mana terapi psikoedukasi Keluarga dapat membantu klien
dengan masalah selain isolasi sosial dalam meningkatkan pengetahuan
kognitif.

10

DAFTAR PUSTAKA

1. Yosep, I. 2007. Keperawatan Jiwa. Bandung: PT Refika Aditama

2. Wiyati, Ruti. Wahyuningsih, Dyah. Widayanti D ,Esti. 2010. Jurnal


Keperawatan Soedirman (The Soedirman Journal of Nursing), Volume 5, No.2 :
Pengaruh Psikoedukasi Keluarga Terhadap Kemampuan Keluarga Dalam
Merawat Klien Isolasi Sosial. Purwokerto: Prodi Keperawatan Purwokerto,
Poltekkes Semarang
https://www.scribd.com/doc/238800178/jurnal-keperawatan-jiwa
( diakses tanggal 7 januari 2014 pukul 18.10 )

3. Menteri Kesehatan Republik Indonesia. 2002. Pedoman Umum Tim Pembina,


Tim Pengarah, Tim Pelaksana Kesehatan Jiwa Masyarakat ( TP KJM ).
http://www.hukor.depkes.go.id/up_prod_kepmenkes/KMK%20No.%20220%20t
tg%20Pedoman%20Umum%20Tim%20Pembina,%20Tim%20Pengarah,%20Ti
m%20Pelaksana%20Kesehatan%20Jiwa%20Masyarakat%20(%20TP%20%E2%
80%93%20KJM%20).pdf
( diakses tanggal 7 januari 2014 pukul 18.50 )

11