Anda di halaman 1dari 20

BAB I

Pendahuluan
Latar Belakang
Banyak orang dewasa mengalami insomnia atau gangguan tidur pada satu waktu atau
lain dalam kehidupan mereka. Diperkirakan 30% - 50% dari populasi umum dipengaruhi oleh
insomnia, dan 10% menderita insomnia kronis.
Insomnia adalah gejala bukan merupakan diagnosis penyakit tunggal. Menurut definisi,
insomnia adalah "kesulitan memulai atau mempertahankan tidur, atau keduanya" atau
persepsi kualitas tidur yang buruk. Insomnia itu mungkin karena mutu yang tidak memadai
atau kuantitas tidur. Insomnia tidak didefinisikan oleh sejumlah tertentu dari jam tidur yang
sseseorang dapatkan, karena individu sangat bervariasi dalam kebutuhan tidur mereka dan
praktek.
Insomnia mempengaruhi semua kelompok umur. Di antara orang dewasa, insomnia
mempengaruhi perempuan lebih sering daripada pria. Insiden cenderung meningkat dengan
usia. Hal ini biasanya lebih umum pada orang pada kelompok sosial ekonomi (pendapatan)
rendah, alkoholik kronis, dan pasien kesehatan mental. Stres yang paling sering memicu
insomnia jangka pendek atau akut. Jika tidak cepat didiagnosis, insomnia dapat berkembang
menjadi insomnia kronis.
Beberapa survei menunjukkan bahwa 30% sampai 35% orang Amerika melaporkan
kesulitan jatuh tertidur selama tahun sebelumnya dan sekitar 10% melaporkan masalah
dengan insomnia yang berlangsung lama. Ada juga tampaknya menjadi hubungan antara
depresi, gelisah, dan insomnia. Meskipun sifat dasar ini tidak diketahui, orang dengan depresi
atau kecemasan secara bermakna lebih mungkin mengembangkan insomnia.

PBL Blok 22 Neuroscience 2 1

BAB II
Pembahasan
2.1 Tidur
Kira-kira sepertiga bagian dan kehidupan manusia dilewatkan dengan tidur, tetapi tidur
jarang sekali dipersoalkan dan baru dirasakan kepentingannya oleh orang-orang yang
mengalami gangguan tidur. Pengetahuan mengenai tidur baru berkembang dalam tiga puluh
tahun terakhir sebagai hasil berbagai penelitian yang dilakukan para ahli. Dahulu tidur
dianggap sebagai keadaan yang mirip sekali dengan kematian; dalam keadaan tidur tidak
terjadi apa-apa, manusia kehilangan kesadarannya, juga kehilangan segala kemampuannya;
bahkan dalam mitologi dikisahkan bahwa Dewa Tidur bersaudara dengan Dewa Kematian.
Anggapan serupa itu belakangan dibantah. Banyak fenomena terjadi dalam tidur. Memang
ada fase tidur tenang akan tetapi ada pula fase tidur aktif. Akhir-akhir ini dicoba dibuat
definisi tentang tidur sebagai berikut : tidur adalah suatu keadaan organisme yang regular,
recurrent, reversible, dalam keadaan mana ambang rangsang terhadap stimuli dan luar lebih
tinggi jika dibandingkan dengan pada keadaan jaga. Mengapa manusia membutuhkan tidur?
Dahulu, jawabnya antara lain untuk menghindarkan diri dari musuh (manusia purba
mempunyai banyak musuh malam hari sedangkan panca indranya relatif buruk fungsinya
waktu malam). Dengan perkataan lain, siang hari manusia dapat berfungsi lebih efektif. Itu
menurut teori evolusi. Jawaban lain, tidur diperlukan untuk penghematan energi; tak ada satu
pun mahluk hidup yang dapat bertahan dalam keadaan stres terus menerus, dan tidur
merupakan periode tanpa aktivitas sehingga tubuh terhindar dari tuntutan sehari-hari. Selain
periode istirahat, selanjutnya tidur pun merupakan periode pemulihan. Penelitian-penelitian
yang dilakukan kemudian, turut menunjang teori tensebut
Tidur ditandai oleh menurunnya kesadaran secara reversibel, biasanya disertai posisi
berbaring dan tak bergerak. Aserinsky dan Kleitmen (1953) di University of Chicago
menemukan bahwa biasanya pada orang yang sedang tidur bola matanya bergerak perlahanlahan, tetapi kadang-kadang bola matanya bergerak dengan cepat pula. Keadaan tidur ini
berturut-turut dinamakan tidur tanpa gerak mata cepat (NREM sleep atau non-rapid eye
movement sleep) dan tidur dengan gerak mata cepat (REM sleep atau rapid eye
movement sleep).

PBL Blok 22 Neuroscience 2 2

Sekurang-kurangnya ada 4 tingkat pada tidur itu, yaitu mulai dari tidur ringan sampai tidur
nyenyak yang semuanya dapat diamati dengan baik pada elektroensefalografi (EEG) dan
hubungannya dengan tidur REM dapat dilihat bila pada waktu yang sama ditempelkan pula
elektrode di samping mata.
Fase awal tidur didahului oleh fase NREM yang terdiri dari 4 stadium, lalu diikuti oleh fase
REM. Keadaan tidur normal antara fase NREM dan REM terjadi secara bergantian antara 4-7
kali siklus semalam. Bayi baru lahir total tidur 16- 20 jam/hari, anak-anak 10-12 jam/hari,
kemudian menurun 9-10 jam/hari pada umur diatas 10 tahun dan kira-kira 7-7,5 jam/hari pada
orang dewasa.
Tipe NREM dibagi dalam 4 stadium yaitu:
1. Tidur stadium Satu.
Fase ini merupakan antara fase terjaga dan fase awal tidur. Fase ini didapatkan kelopak mata
tertutup, tonus otot berkurang dan tampak gerakan bola mata kekanan dan kekiri. Fase ini
hanya berlangsung 3-5 menit dan mudah sekali dibangunkan. Gambaran EEG biasanya terdiri
dari gelombang campuran alfa, betha dan kadang gelombang theta dengan amplitudo yang
rendah. Tidak didapatkan adanya gelombang sleep spindle dan kompleks K
2. Tidur stadium dua
Pada fase ini didapatkan bola mata berhenti bergerak, tonus otot masih berkurang, tidur lebih
dalam dari pada fase pertama. Gambaran EEG terdiri dari gelombang theta simetris. Terlihat
adanya gelombang sleep spindle, gelombang verteks dan komplek K
3. Tidur stadium tiga
Fase ini tidur lebih dalam dari fase sebelumnya. Gambaran EEG terdapat lebih banyak
gelombang delta simetris antara 25%-50% serta tampak gelombang sleep spindle.
4. Tidur stadium empat
Merupakan tidur yang dalam serta sukar dibangunkan. Gambaran EEG didominasi oleh
gelombang delta sampai 50% tampak gelombang sleep spindle.
Fase tidur NREM, ini biasanya berlangsung antara 70 menit sampai 100 menit, setelah
itu akan masuk ke fase REM. Pada waktu REM jam pertama prosesnya berlangsung lebih
cepat dan menjadi lebih insten dan panjang saat menjelang pagi atau bangun. Pola tidur REM
ditandai adanya gerakan bola mata yang cepat, tonus otot yang sangat rendah, apabila
dibangunkan hampir semua organ akan dapat menceritakan mimpinya, denyut nadi
bertambah dan pada laki-laki terjadi eraksi penis, tonus otot menunjukkan relaksasi yang
dalam. Pola tidur REM berubah sepanjang kehidupan seseorang seperti periode neonatal
bahwa tidur REM mewakili 50% dari waktu total tidur. Periode neonatal ini pada EEG-nya
PBL Blok 22 Neuroscience 2 3

masuk ke fase REM tanpa melalui stadium 1 sampai 4. Pada usia 4 bulan pola berubah
sehingga persentasi total tidur REM berkurang sampai 40% hal ini sesuai dengan kematangan
sel-sel otak, kemudian akan masuk keperiode awall tidur yang didahului oleh fase NREM
kemudian fase REM pada dewasa muda dengan distribusi fase tidur sebagai berikut:
- NREM (75%) yaitu stadium 1: 5%; stadium 2 : 45%; stadium 3 : 12%;
stadium 4 : 13%
- REM; 25 %.
Tidur REM, yang lamanya 20-25% dari lamanya tidur semalam orang dewasa muda,
ada hubungannya dengan mimpi. Ada sarjana yang menganggap bahwa tidur REM itu
merupakan bentuk kesadaran tersendiri. Jumlah tidur NREM sebagian besar dapat dikurangi
tanpa kerugian pada organisme. Akan tetapi sejumlah tidur REM harus ada setiap malam.
PERANAN NEUROTRANSMITER
Keadaan jaga atau bangun sangat dipengaruhi oleh sistim ARAS (Ascending
Reticulary Activity System). Bila aktifitas ARAS ini meningkat orang tersebut dalam
keadaan tidur. Aktifitas ARAS menurun, orang tersebut akan dalam keadaan tidur. Aktifitas
ARAS ini sangat dipengaruhi oleh aktifitas neurotransmiter seperti sistem serotoninergik,
noradrenergik, kholonergik, histaminergik.
Sistem serotonergik
Hasil serotonergik sangat dipengaruhi oleh hasil metabolisma asam amino trypthopan.
Dengan bertambahnya jumlah tryptopan, maka jumlah serotonin yang terbentuk juga
meningkat akan menyebabkan keadaan mengantuk/tidur. Bila serotonin dari tryptopan
terhambat pembentukannya, maka terjadikeadaan tidak bisa tidur/jaga. Menurut beberapa
peneliti lokasi yang terbanyak sistem serotogenik ini terletak pada nukleus raphe dorsalis di
batang otak, yang mana terdapat hubungan aktifitas serotonis dinukleus raphe dorsalis dengan
tidur REM.
Sistem Adrenergik
Neuron-neuron yang terbanyak mengandung norepineprin terletak di badan selnukleus
cereleus di batang otak. Kerusakan sel neuron pada lokus cereleus sangat mempengaruhi
penurunan atau hilangnya REM tidur. Obat-obatan yang mempengaruhi peningkatan aktifitas
neuron noradrenergic akan menyebabkan penurunan yang jelas pada tidur REM dan
peningkatan keadaan jaga.

PBL Blok 22 Neuroscience 2 4

Sistem Kholinergik
Sitaram et al (1976) membuktikan dengan pemberian prostigimin intra vena dapat
mempengaruhi episode tidur REM. Stimulasi jalur kholihergik ini, mengakibatkan aktifitas
gambaran EEG seperti dalam keadaan jaga. Gangguan aktifitas kholinergik sentral yang
berhubungan dengan perubahan tidur ini terlihat pada orang depresi, sehingga terjadi
pemendekan latensi tidur REM. Pada obat antikolinergik (scopolamine) yang menghambat
pengeluaran kholinergik dari lokus sereleus maka tamapk gangguan pada fase awal dan
penurunan REM.
Sistem histaminergik
Pengaruh histamin sangat sedikit mempengaruhi tidur
Sistem hormon
Pengaruh hormon terhadap siklus tidur dipengaruhi oleh beberapa hormone seperti
ACTH, GH, TSH, dan LH. Hormon hormon ini masing-masing disekresi secara teratur oleh
kelenjar pituitary anterior melalui hipotalamus patway. Sistem ini secara teratur
mempengaruhi pengeluaran neurotransmitter norepinefrin, dopamin, serotonin yang bertugas
menagtur mekanisme tidur dan bangun.
Gangguan tidur itu dapat berupa: insomnia (sukar tidur, biasanya karena sebab
psikologi); berjalan sewaktu tidur (somnambulisme); mimpi buruk (nightmare) atau pavor
nocturnus, sering pada anak-anak dan biasanya hilang dengan sendirinya; dan narkolepsi
(serangan tidur bersamaan dengan kataplexi, kelumpuhan tidur atau halusinasi hipnagogik).1

2.2 Anamnesis
Anamnesis merupakan sejarah lengkap yang teringat dan diceritakan oleh pasien.
Diagnosis dapat ditegakkan dengan mengumpulkan riwayat medis, riwayat tidur,
pemeriksaan fisik, dan sebuah studi tidur (jika penyebab insomnia tidak jelas).
Riwayat medis Sebuah riwayat medis digunakan untuk menilai risiko mengembangkan
insomnia dan untuk mengidentifikasi kemungkinan penyebab. Sejarah ini mempertimbangkan
banyak faktor:
-

Masalah kesehatan yang baru atau sedang berlangsung (termasuk penyakit seperti
arthritis)

Nyeri luka

Penggunaan suplemen, dan obat-obatan, termasuk kafein, tembakau, dan alkohol


PBL Blok 22 Neuroscience 2 5

Perubahan kebiasaan kerja atau rekreasi (misalnya, perjalanan, rutinitas latihan,


perubahan shift di tempat kerja)

Stres atau tekanan emosional lainnya

Riwayat tidur Riwayat tidur yang membantu menilai kebiasaan tidur. Sebuah diary tidur
atau sleep log sering digunakan untuk merekam kebiasaan tidur. Riwayat tidur juga biasanya
mencakup pertanyaan tentang gejala-gejala yang mungkin terkait dengan insomnia. Dokter
mungkin bertanya tentang berfungsi siang hari, kelelahan, gangguan konsentrasi dan
perhatian, tidur siang, dan gejala umum lain insomnia.2 Kebiasaan dievaluasi dalam sejarah
tidur adalah sebagai berikut:
-

Frekuensi dan durasi insomnia.

Tidur dan waktu terbangun selama seminggu dan akhir pekan.

Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk tertidur, seberapa sering terbangun di
malam hari terjadi, dan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk tidur kembali.

Apakah mendengkur dan sebagaimana keras dan apakah sering.

Setiap gejala bangun terengah-engah atau merasa kehabisan napas.

Kelelahan sepanjang hari

Seberapa sering "tertidur" atau mengalami kesulitan untuk tetap terjaga selama tugastugas rutin, terutama mengemudi.

Khawatir tentang jatuh tertidur, tinggal tidur, atau mendapatkan cukup tidur

Diet (cair dan padat)

Obat-obatan yang dikonsumsi sebelum tidur

Rutinitas menjelang saat tidur

Tingkat kebisingan, pencahayaan, dan suhu

Gangguan (misalnya, televisi)

Sebuah Sleep Log dapat membantu untuk diagnosa gangguan tidur. Cara tersbut adalah
cara yang paling efisien bagi pasien dan dokter untuk mengevaluasi pasien yang sulit tidur.
Setiap pasien yang mengalami gangguan medis gangguan tidur, diharapkan mempunya sleep
log. Kemungkinan besar, dokter akan meminta pasien untuk mengisi sleep log untuk jangka
waktu beberapa minggu; sudah menyelesaikannya log ini dapat mempercepat diagnosis dan
pengobatan. Kebanyakan ahli merekomendasikan untuk mempertahankan sleep log selama 2-

PBL Blok 22 Neuroscience 2 6

4 minggu berturut-turut. Sleep log tersebut diharapkan untuk dibawa ke dokter atau spesialis
tidur pada saat konsultasi.
Gambar 1. Sleep Log

Selama riwayat, kondisi dapat diidentifikasi yang dapat menyebabkan atau memperburuk
insomnia:

2.3 Pemeriksaan
2.3.1

Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan fisik yang dapat dilakukan meliputi, inspeksi, palpasi, perkusi, dan
auskultasi.

PBL Blok 22 Neuroscience 2 7

2.3.2
-

Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan Laboratorium
Tes darah digunakan untuk mendeteksi masalah tiroid atau kondisi lain yang dapat

menyebabkan masalah tidur.


-

Pemeriksaan Imaging3
Tes diagnostik lainnya dapat dilakukan sebagai bagian dari evaluasi untuk insomnia,

meskipun mungkin tidak diperlukan pada semua pasien dengan insomnia.


Polysomnography adalah pengujian yang dilakukan di pusat-pusat tidur jika kondisi
seperti sleep apnea yang diduga. Pada tes ini, orang akan diminta untuk menghabiskan malam
penuh di pusat tidur sambil di monitor denyut jantung, gelombang otak, respirations, gerakan,
kadar oksigen, dan parameter lain saat mereka sedang tidur. Data tersebut kemudian dianalisa
oleh dokter khusus terlatih untuk mendiagnosa atau mengesampingkan apnea tidur.
Actigraphy adalah tes lain yang lebih objektif yang mungkin dilakukan dalam situasi
tertentu tetapi tidak secara rutin bagian dari evaluasi untuk insomnia. Actigraph adalah
sebuah detektor gerakan gerakan indera seseorang saat tidur dan terjaga. Hal ini dipakai mirip
dengan jam tangan selama berhari-hari ke minggu, dan data pergerakan dicatat dan dianalisa
untuk menentukan pola tidur dan gerakan. Tes ini mungkin berguna dalam kasus gangguan
insomnia primer, gangguan irama sirkadian, atau kesalahpahaman tidur negara.

2.4 Diagnosis
2.4.1

Diagnosis Kerja

Definisi insomnia adalah suatu kondisi tidur yang tidak memuaskan secara kuantitas
dan/atau kualitas, yang berlangsung untuk satu kurun waktu tertentu. Taraf penyimpanagan
yang sesungguhnya dari apa yang lazim dianggap sebagai tidur nrmal secara umum sebaiknya
tidak secara primer dianggap sebagai diagnosis insomnia, oleh karena beberapa individu
(yang disebut juga sebagai penidur singkat (short sleeper)) membutuhkan tidur hanya sedikit
dan tidak mengaggap dirinya menderita insomnia. Sebaliknya terdapat sejumlah orang yang

PBL Blok 22 Neuroscience 2 8

sering menderita insomnia karena kualitas tidur yang buruk, sedangkan kuantitas tidurnya
seara subjektif dan/atau objektif berada dalam batas-batas normal.
Diantara penderita insomnia, kesulitan masuk tidur adalah keluhan yang paling umum,
kemudian diikuti oleh sulit mempertahankan tidur dan bangun terlalu dini. Namun demikian,
biasanya pasien melaporkan kombinasi dari ketiga keluhan ini. Yang khas, insomnia
berkembang pada waktu terjadi peningkatan stres kehidupan dan cenderung lebih umum
terdapat pada wanita, orang yang lebih tua dan pada orang yang secara psikologis terganggu
dan orang yang sosioekonominya kurang beruntung. Jika insomnia dialami berulang-ulang,
dapat menigkatkan kekhawatiran tidak bisa tidur dan suatu preokupasi dengan segala
konsekuensinya, hal ini menimbulkan lingkaran kemelut yang tidak terselesaikan.
Individu dengan insomnia, mengatakan dirinya merasa tegang, cemas, khawatir, atau
depresif pad asaat tidur, dan merasa seolah-olah pikirannya melayang-layang. Mereka
biasanya mengeluh tak cukup tidur, banyak masalah pribadi, gangguan kesehatan dan bahkan
khawatir menyebabkan kematian. Sering mereka mengatasinya dengan minum obat atau
alkohol. Pada waktu pagi mereka mengeluh lelah fisik dan mental, pada siang hari mereka
secara khas merasa depresif, cemas, tegang mudah tersinggung dan ada peokupasi dengan diri
sendiri.
Pada anak sering terasa adanya kesulitan tidur, padahal ia hanya mengalami kesulitan
dalam rutinitas tidur (jadi bukan pada gangguan tidur yangsebenarnya).
Pedoman diagnostik. Berikut adalah gambaran klinis esensial untuk diagnosis pasti:
-

Keluhan sulit masuk tidur, mempertahankan tidur atau kualitas tidur yang buruk;

Gangguan tidur terjadi minimal 3 kali dalam seminggu selama minimal sebulan;

Adanya preokupasi akan tidak bisa tidur dan kekhawatiran berlebihan parihal
akibatnya pada malam dan sepanjang hari;

Tidak puas secara kuantitas dan kualitas dari tidurnya, yang keduanya menyebabkan
berbagai gangguan dalam fungsi sosial atau pekerjaan.4

PBL Blok 22 Neuroscience 2 9

2.4.2
-

Diagnosis Diferensial
Depresi

Penampilan
Kebanyakan pasien dengan gangguan depresi utama konsultasi ke dokter mereka dengan
penampilan yang normal.
Pada pasien dengan gejala lebih parah, penurunan perawatan dan kebersihan dapat diamati,
serta perubahan berat badan. Pasien mungkin menunjukkan retardasi psikomotor, yang nyata
sebagai memperlambat atau hilangnya gerakan spontan dan reaktivitas. Bersama dengan ini,
penyakit depresi sering mengakibatkan menurunnya atau menghilangnya reaktivitas dalam
respon pasien (yaitu, ekspresi emosional).
Psikomotor agitasi atau gelisah juga dapat diamati pada beberapa pasien dengan gangguan
depresi besar.
Mood dan proses pemikiran
Pasien melaporkan keadaan mood dysphoric, yang dapat dinyatakan sebagai kesedihan,
berat, mati rasa, atau kadang-kadang lekas marah dan suasana hati. Mereka sering
melaporkan kehilangan minat atau kesenangan dalam aktivitas yang biasa mereka, kesulitan
berkonsentrasi, atau kehilangan energi dan motivasi. mereka sering berpikir negatif,
seringkali dengan perasaan tidak berharga, putus asa, atau ketidakberdayaan. Meskipun tidak
jarang untuk pasien dengan gangguan depresi utama untuk menunjukkan berpikir ruminative,
penting untuk mengevaluasi setiap pasien untuk bukti gejala psikotik karena ini
mempengaruhi manajemen awal.
Psikosis, ketika itu terjadi dalam konteks depresi unipolar, biasanya adalah sama dan
sebangun dalam konten dengan negara suasana hati pasien, misalnya, pasien mungkin
mengalami khayalan tidak berharga atau penurunan fisik progresif. Gejala psikosis harus
meminta sejarah evaluasi yang hati-hati untuk menyingkirkan sejarah gangguan bipolar,
skizofrenia atau gangguan schizoaffective, penyalahgunaan zat, atau sindrom otak organik. 5

PBL Blok 22 Neuroscience 2 10

Ansietas

Ansietas (kecemasan) adalah suatu keadaan emosional yang tidak menyenangkan,


sumber yang kurang mudah diidentifikasi. Hal ini sering menyertai dengan gejala fisiologis
yang dapat menyebabkan kelelahan atau bahkan keletihan. Intensitas kecemasan memiliki
banyak gradasi mulai dari keraguan kecil untuk terlihat gemetar dan bahkan panik lengkap,
bentuk paling ekstrim dari kecemasan. Perjalanan timbulnya kecemasan juga bervariasi,
dengan tingkat keparahan puncak tercapai dalam beberapa detik atau lebih secara bertahap
menit, jam atau hari. Jangka waktu juga bervariasi dari beberapa detik untuk jam atau bahkan
berhari-hari atau bulan, meskipun episode panik biasanya mereda dalam waktu 10 menit dan
jarang berlangsung lebih dari 30 menit.6
Kecemasan biasanya terjadi sebagai wujud kepedulian yang tepat tentang kelainan
medis dan kejiwaan. Masalah medis yang melibatkan sistem tubuh dapat menghasilkan
kecemasan sebagai gejala. Obat dan faktor diet-khususnya kafein dan alkohol juga dapat
menimbulkan kecemasan.
Panic disorder ditandai dengan serangan panik berulang (yaitu, periode ketakutan intens
onset mendadak memuncak dalam intensitas dalam waktu 10 menit). Empat hal berikut harus
hadir untuk serangan panik:
-

Palpitasi, jantung berdebar, atau detak jantung dipercepat

Berkeringat

gemetar atau gemetar

sesak napas atau dispnea

Sensasi tersedak

Nyeri dada atau ketidaknyamanan

Mual atau tekanan perut

Merasa pusing, goyah, pusing, atau pingsan

Derealization atau depersonalisasi

Takut kehilangan kontrol atau gila

Takut mati

Parestesia

Kedinginan atau hot flashes

Meskipun bukan fitur diagnostik, keinginan bunuh diri dan bunuh diri selesai telah
dikaitkan dengan gangguan panik.
PBL Blok 22 Neuroscience 2 11

2.5 Etiologi
Insomnia dapat disebabkan oleh berbagai penyebab yang berbeda. Penyebab dapat
dibagi menjadi faktor situasional, kondisi medis atau psikiatris, atau gangguan tidur primer.
Insomnia juga dapat diklasifikasikan berdasarkan lama gejala yaitu, transient, jangka pendek
atau kronis. Insomnia transient biasanya berlangsung kurang dari tujuh hari, insomnia jangka
pendek biasanya berlangsung selama sekitar satu sampai tiga minggu, dan insomnia kronis
berlangsung selama lebih dari tiga minggu.

Banyak penyebab insomnia transien dan jangka pendek adalah sama dan beberapa
termasuk:
-

Jet lag

Perubahan shift kerja

Bisingan berlebihan atau tidak menyenangkan

Suhu kamar yang kurang nyaman (terlalu panas atau terlalu dingin)

Situasi Stres dalam kehidupan (persiapan ujian, kehilangan yang dicintai, perceraian,
pengangguran, atau perpisahan dengan seseorang)

Adanya penyakit medis atau bedah akut; atau rawat inap

Penarikan dari obat, alkohol, obat penenang, atau obat perangsang


Gejala fisik yang tidak terkendali (sakit, demam, masalah pernapasan, hidung

tersumbat, batuk, diare, dll) juga dapat menyebabkan seseorang untuk menderita insomnia.
Mengontrol gejala ini dan penyebab mereka dapat menghasilkan resolusi insomnia.
Penyebab Insomnia kronis atau Jangka Panjang Mayoritas penyebab insomnia kronis
atau jangka panjang biasanya dikaitkan dengan kondisi jiwa atau fisiologis yang mendasari
(medis).
Penyebab Psikologi Insomnia Masalah yang paling umum yang dapat menyebabkan
insomnia meliputi:
-

Cemas

Depresi

Stres (mental, emosional, situasional, dll)

Skizofrenia, dan / atau

Mania (gangguan bipolar)


PBL Blok 22 Neuroscience 2 12

Insomnia dapat merupakan indikator depresi. Banyak orang akan menderita insomnia selama
fase akut dari penyakit mental. Seperti yang disebutkan sebelumnya, depresi dan kecemasan
yang berkaitan erat dengan insomnia. Dari semua penyebab medis dan psikologis sekunder
insomnia lain, kecemasan dan depresi adalah yang paling umum.
Penyebab Fisiologis Insomnia Penyebab fisiologis mulai dari gangguan ritme sirkadian
(gangguan jam biologis), ketidakseimbangan tidur-bangun, ke berbagai kondisi medis.
Berikut ini adalah kondisi medis yang paling umum yang memicu insomnia:
-

Sindrom sakit kronis

Sindrom kelelahan kronis

Gagal jantung kongestif

Angina pada malam hari (nyeri dada) dari penyakit jantung

Penyakit refluks asam (GERD)

Penyakit paru obstruktif kronis (COPD)

Nocturnal asma (asma dengan gejala pernapasan malam waktu)

Obstructive sleep apnea

Penyakit degeneratif, seperti penyakit Parkinson dan penyakit Alzheimer (Sering,


insomnia merupakan faktor penentu untuk penempatan panti jompo.)

Tumor otak, stroke, atau trauma ke otak

2.6 Faktor Resiko8


Faktor-faktor berikut ini dapat meningkatkan risiko individu untuk insomnia:
-

Usia - orang tua lebih rentan terhadap insomnia

Gender - wanita lebih cenderung memiliki insomnia daripada pria

Stres atau peristiwa traumatik

Pergeseran atau perubahan jadwal kerja kerja malam

Perjalanan melintasi zona waktu

Penyalahgunaan zat

Asma - bronkodilator kadang-kadang menyebabkan insomnia

Bekerja berlebihan komputer

Depresi

Gaya hidup yang kurang olah raga

PBL Blok 22 Neuroscience 2 13

2.7 Patofisiologi
Insomnia adalah dianggap sebagai gangguan hyperarousal gairah yang tinggi dialami
sepanjang hari. Keadaan bergairah tinggi ini dapat menunjukkan dirinya sebagai keadaan
waspada berlebih pada siang hari dan kesulitan memulai dan mempertahankan tidur pada saat
malam hari. Gairah tersebut, dihubungkan dengan keadaan kognitif dan fisiologis insomnia.
Model kognitif menunjukkan bahwa kekhawatiran dan renungan mengenai tekanan hidup
mengganggu tidur, menciptakan episode akut insomnia, khususnya dalam memulai tidur dan
kembali tidur setelah terbangun. Kemudian, setelah seorang individu mulai mengalami
kesulitan tidur, cemas dan renungan mengenai kehidupan beralih kepada peristiwa
kekhawatiran tentang tidur itu sendiri dan tentang konsekuensi pada siang hari yang
merupakan tidak cukup tidur. Pemikiran negatif seperti ini akan terus diperkuat jika
terdapatnya keadaan yang dapat mengganggu tidur.

Sejalan dengan model kognitif, model lain dari evolusi insomnia mengusulkan gairah
tinggi yang terutama karena faktor fisiologis atau neurofisiologis. Rangsangan fisiologis telah
dievaluasi melalui pengukuran tingkat metabolisme seluruh tubuh, variabilitas detak jantung,
pengukuran neuroendokrin, dan neuroimaging fungsional. Seluruh tingkat metabolisme tubuh
dapat diukur melalui konsumsi oksigen (VO2). Studi terbaru dibandingkan tidur yang baik
dengan pasien yang didiagnosis dengan insomnia. Para pasien insomnia menunjukkan tingkat
metabolisme secara signifikan lebih tinggi (diukur pada interval di hari 24-jam) dibandingkan
dengan control, yaitu orang yang sehat. Tingkat variabilitas detak jantung dapat merupakan
rangsangan yang diatur oleh kegiatan sistem saraf simpatis dan parasimpatis. Dalam study 36jam menemukan bahwa tingkat rata-rata detak jantung meningkat dan variabilitas menurun
pada semua tahapan tidur pada pasien insomnia dibandingkan dengan orang sehat dan dengan
pola tidur normal.

2.8 Penatalaksanaan
Non-medikamentosa. Semua pasien dengan insomnia, baik sementara atau kronis,
harus dididik tentang tidur dan unsur-unsur kebersihan tidur yang baik. Kebersihan Tidur
sleep hygiene adalah kegiatan sehari-hari dan kebiasaan yang konsisten dengan dan / atau
PBL Blok 22 Neuroscience 2 14

mempromosikan pemeliharaan kualitas tidur yang baik dan kewaspadaan di siang hari penuh.
Unsur-unsur kebersihan tidur yang baik adalah sebagai berikut:9
-

Mengembangkan kebiasaan tidur yang teratur. Ini berarti menjaga waktu tidur yang
teratur dan waktu bangun. Waktu tidur harus berlangsung selama yang diperlukan untuk
merasa segar pada hari berikutnya, dan waktu ekstra di tempat tidur di luar apa yang
dibutuhkan harus dihindari.

Lambat bawah dan bersantai sebelum tidur (dimulai setidaknya 30 menit sebelum
tidur). Sebuah makanan ringan dapat membantu.

Jauhkan gelap kamar tidur, tenang, dan pada suhu yang nyaman.

Latihan harian. Hal ini sebaiknya dilakukan pada sore hari atau sore hari (tetapi tidak
lebih dari 7-8 pm).

Jangan memaksa diri untuk tidur. Jika tidak dapat jatuh tertidur dalam waktu 15-30
menit, meninggalkan tempat tidur dan lakukan sesuatu yang rileks sampai mengantuk,
seperti mendengarkan musik atau membaca bacaan ringan.

Jangan mengkonsumsi alkohol selama 4-6 jam sebelum tidur. Kafein dan penggunaan
tembakau juga harus dihindari sebelum tidur.

Tidur pada siang hari biasanya harus dihindari.

Jangan terlibat dalam kegiatan mental atau fisik yang berat sesaat sebelum tidur.

Jangan mengambil masalah seseorang untuk tidur.

Medikamentosa. Pada umumnya, bila insomnia singkat (kurang dari 3 minggu) coba
dengan hipnotika mungkin menolong. Bila insomnia kronik, jangan gunakan hipnotika
termasuk juga merokok yang berat, tanda lain adanya apnea tidur, dan kemungkinan
ketergantungan, toleransi, atau penyalahgunaan hipnotika-sedatif. Bila terdapat psikosis,
rencanakan penggunaan antipsikotika. Bila tidak, benzodiazepin biasanya merupakan pilihan,
sebab mereka mempunyai indeks terapeutik yang merentang lebar, kurang induksi enzimnya,
dan kurang adiktif dibandingkan dengan barbiturat.10
Pilihan benzodiazepin bergantung pada jalur metabolisme dan waktu eliminasi
tengahnya. Obati insomnia fase awal tanpa cemas di siang hari dengan benzodiazepin yang
berdaya-kerja-pendek, contoh, triazolam 0,125 mg, temazepam (Restoril) 15mg, dan
estazolam (Prosom, Esilgan) 1mg. Insomnia fase tengah, atau fase akhir (dini hari) mungkin
akan membutuhkan benzodiazepin yang berdaya-kerja panjang, seperti yang digunakan untuk
mengobati insomnia dengan ansietas pada siang haricontoh, diazepam (Valium) 5mg,
flurazepam (Dalmane, Dalmadorm) 15mg, dan quazepam 9Doral) 7,5mg.
PBL Blok 22 Neuroscience 2 15

Mulai dengan dosis yang terendah dan naikkan sampai ada efeknya. Kebanyakan pasien
memberi respons terhadap benzodiazepin bila dosis dinaikkan sampai cukup. Bila dosis
efektif telah tercapai, jangan toleransi dan membutuhkan pengurasan obat dari tubuh.
Beritahu pasien bahwa setelah menghentikan obat, mereka akan dapat mendapat insomnia
efek balik (rebound insomnia), yang tidak merupakan indikasi untuk emberikan terapi terus.
Frekuensi panggunaan hipnotika tidak boleh melebihi 3 dari empat malam yang dilalui,
dan penggunaannya tidak boleh melampaui beberapa bulan.11
Pengobatan insomnia, pada gangguan psikosomatik baik yang didasari adanya ansietas
ataupun depresi memerlukan pengenalan pasien secara tepat. Pasien insomnia oleh karena
depresi tidak dapat diobati dengan obat anti ansietas, karena ia akan menderita depresi yang
semakin mendalam dan dapat menyebabkan bunuh diri. Sebaliknya pasien insomnia oleh
karena ansietas tidak dapat diobati dengan obat antidepresan, karena ia akan mengalami
banyak efek samping obat yang akan menyebabkan gejala ansietasnya bertambah berat
dengan konsentrasi yang semakin berkurang dan efektivitas serta produktivitas yang semakin
menurun. Pemberian hipnotika pada pasien insomnia tanpa mengetahui penyebabnya akan
menyebabkan pasien jatuh ke penyalahgunaan atau penggunaan yang salah terhadap obat
hipnotik tersebut.
Obat pilihan untuk pasien insomnia oleh karena ansietas adalah benzodiazepin, atau
derivatnya, jika diberikan sesuai indikasi dan dosis optimalnya akan memperlihatkan hasilnya
sesudah 2-7 hari pemberian. Obat pilihan untuk pasien insomnia oleh karena depresi adalah
obat antidepresan golongan generasi pertama (imipramin, amitriptilin) atau golongan generasi
kedua (nomifensin, mianserin dan maprotilin). Hanya perlu diingat bahwa antidepresan
golongan generasi pertama mempunyai efek samping berupa gangguan fungsi saraf
autonomik dan gangguan pada fungsi jantung. Pemberian obat antidepresan akan
memperlihatkan hasilnya sesudah 5-14 hari pemberian. Insomnia yang tidak disebabkan oleh
ansietas ataupun depresi dapat diberi hipnotika sesuai indikasi dosis yang diperlukan.
Terapi insomnia pada gangguan psikosomatik, memerlukan terapi holistik, seperti
lazimnya terapi pada gangguan psikosomatik, yaitu membutuhkan terapi psikologik, terapi
sosio-budaya serta terapi lainnya sesuai denga hasil evaluasi pendekatan yang dilakukan.12

PBL Blok 22 Neuroscience 2 16

2.9 Pencegahan
Saran berikut ini untuk membantu mengantisipasi dan memodifikasi situasi mungkin terkait
dengan insomnia. Mereka tidak sangat mudah, tidak akan mereka menjaga pasien dari
konsekuensi kurang tidur setelah telah terjadi.
Insomnia dari Jet Lag : (1) Perilaku dan terapi obat jangka pendek telah digunakan. (2)
Bergeser tidur bertepatan dengan jadwal waktu di tempat tujuan. (3) Short-acting obat
penenang (benzodiazepin) telah terbukti berguna.

Insomnia dari perubahan jadwal kerja : (1) Terapi perilaku. (2) Cahaya terang merupakan
stimulus ampuh untuk ritme sirkadian. Cahaya terang sedang diperiksa sebagai sinkronisasi
irama. (3) Shift pekerja harus menekankan pentingnya kebiasaan tidur yang baik dengan
tidur dan bangun yang teratur. (4) Tidur tambahan mungkin diperlukan untuk memastikan
kewaspadaan waktu kerja. (5) Beberapa orang mempromosikan dengan menggunakan obat
penenang short-acting dalam beberapa hari pertama setelah perubahan pergeseran, tetapi tidak
semua orang setuju.

Insomnia dari Stress : (1) Stres bisa positif atau negatif, dan kekhawatiran tentang tidur
mungkin bervariasi. Banyak stres akan hilang dengan dukungan dan jaminan. (2) Pendidikan
tentang pentingnya kebiasaan tidur yang baik juga sangat membantu. (3) Beberapa orang
mungkin memerlukan pengobatan jangka pendek dengan obat-obatan. Seorang dokter akan
sering bekerja terhadap dosis efektif terendah dengan obat penenang short-acting untuk
mencapai tidur yang tepat. (4)

Rekomendasi umum untuk mencegah insomnia meliputi:


-

Bekerja untuk meningkatkan kebiasaan tidur.

Belajar untuk bersantai. Self-hypnosis, biofeedback dan relaksasi pernapasan sering


membantu.

Kontrol lingkungan. Hindari cahaya, kebisingan, dan suhu yang berlebihan. Gunakan
tempat tidur hanya untuk tidur dan menghindari menggunakannya untuk membaca dan
menonton TV. Aktivitas seksual adalah pengecualian.

Menetapkan waktu tidur rutin. Perbaiki waktu bangun.

Hindari makan besar, asupan cairan yang berlebihan, dan latihan berat sebelum tidur dan
mengurangi penggunaan stimulan termasuk kafein dan nikotin.
PBL Blok 22 Neuroscience 2 17

Jika tidak tertidur dalam waktu 20 sampai 30 menit, coba kegiatan yang santai seperti
mendengarkan musik yang menenangkan atau membaca.

Batasi tidur siang sampai kurang dari 15 menit, kecuali diarahkan oleh dokter.

Hal ini umumnya lebih baik untuk menghindari tidur siang bila memungkinkan untuk
membantu mengkonsolidasikan tidur malam.

Ada gangguan tidur tertentu, bagaimanapun, bahwa akan manfaat dari tidur siang.
Diskusikan masalah ini dengan dokter.

2.10 Prognosis
Kebanyakan orang yang menderita insomnia tanpa kondisi medis yang mendasari
sembuh dalam beberapa minggu. Bagi mereka yang mengalami insomnia dari peristiwa
traumatis (seperti orang dengan gangguan stres pasca trauma), gangguan tidur dapat berlanjut
tanpa henti. Orang yang menjadi tergantung pada pil tidur dan obat resep untuk tidur sering
memiliki kesulitan yang paling mengatasi insomnia. Insomnia kronis dapat mendorong
perkembangan kondisi medis, gangguan mental, dan jalan, bekerja, dan kecelakaan rumah
tangga.

PBL Blok 22 Neuroscience 2 18

BAB III
Kesimpulan
Insomnia primer ditandai dengan kesulitan jatuh tertidur dan beberapa kali terbangun
sepanjang malam. Individu dengan gangguan ini sering sibuk dengan fokus untuk
mendapatkan cukup tidur dan menjadi lebih dan lebih frustrasi setiap malam, yang
selanjutnya menghambat kemampuan mereka untuk tidur. Insomnia primer adalah diagnosis
pengecualian dari gangguan campuran dari gangguan fisik dan mental yang semua harus
disingkirkan sebelum diagnosis dapat dibuat. Hal ini dapat diobati dalam jangka pendek
(untuk memutus siklus insomnia dan mengkhawatirkan itu) dengan benzodiazepin atau
hipnotik lainnya. Melatonin dan L-trypthophan tidak memiliki manfaat terbukti. Perubahan
lingkungan, waktu relaksasi, dan sleep hygiene dapat berguna dalam membantu pasien
dengan tidur insomnia primer.

PBL Blok 22 Neuroscience 2 19

Daftar Pustaka

1. Maramis WF. Gangguan tidur. Dalam: Ilmu Kedokteran Jiwa. Surabaya: Airlangga
University Press; 1994; hal. 102-3.
2. Anonim. Insomnia. January 2011. [26 Jan, 2011] Diunduh dari:
http://www.medicinenet.com/insomnia/page3.htm.
3. Sateia M, Carskadon MA. Insomnia. Dalam: Sleep Medicine. Philadelphia: Hanley &
Belfus Inc.;2002. Hal 153-9.
4. Anonim. Gangguan tidur nonorganik. Dalam: Pedoman Penggolongan dan Diagnosis
Gangguan Jiwa di Indonesia III. Jakarta: Departemen Kesehatan; 1993; hal. 2365. Bhalla RN. Depression. Aug 11, 2010 [25 Jan, 2011] Diunduh dari:
http://emedicine.medscape.com/article/286759-overview.
6. Goldman HH. Anxiety. Dalam: General Psychiatry. Connecticut: Lange Medical
Publication; 1992. Hal 55, 233-4, 242-3.
7. Anonim. Insomnia. January 25, 2011 [25 Jan, 2011] Diunduh dari:
http://www.emedicinehealth.com/insomnia/article_em.htm.
8. Roth T. Insomnia: definition, prevalence, etiology, and consequences. August 15,
2007 [25 Jan, 2011] Diunduh dari:
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC1978319/.
9. Toy EC. Approach to primary insomnia. Dalam: Psychiatry. Edisi 2. New York:
Lange Medical Books/McGraw Hill; 2007; hal. 150-3.
10. Ebert M, Loosen P, Nurcombe B. Current diagnosis and treatment in psychiatry. New
York: McGraw-Hill; 2005; hal. 437-40.
11. Kaplan HI, Sadock BJ. Insomnia. Dalam: Ilmu Kedokteran Jiwa Darurat. Widya
Medika; 2002; hal. 315-20.

PBL Blok 22 Neuroscience 2 20

Beri Nilai