Anda di halaman 1dari 39

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Laporan ini dibuat berdasarkan kasus yang diambil dari seseorang pasien
laki-laki yang datang ke instalasi gawat darurat Rumah Sakit Mardi Waluyo Blitar
dengan surat rujukan dari RS Wlingi. Pasien mengeluh nyeri dan luka pada lutut
setelah mengalami kecelakaan lalu lintas. Pasien laki-laki berusia 19 tahun. KLL
dialami pasien saat mengemudi sepeda motor dan menabrak mobil box dari arah
berlawanan 12 jam yang lalu, pasien menggunakn helm saat kejadian dan sempat
tidak sadarkan diri. Pasien mengalami luka robek pada lutut. Hasil x-ray
menunjukkan adanya diskontinuitas os patella.
Kecelakaan lalu lintas merupakan suatu keadaan yang tidak di inginkan
yang terjadi pada semua usia dan secara mendadak. Angka kejadian kecelakaan
lalu lintas di kota Semarang sepanjang tahun 2011 mencapai 217 kasus, dengan
korban meninggal 28 orang, luka berat 40 orang, dan luka ringan sejumlah 480
orang.
Fraktur adalah patah tulang, biasanya disebabkan oleh trauma atau tenaga
fisik.1 Berbagai penyebab fraktur diantaranya cidera atau benturan, faktor
patologik,dan yang lainnya karena faktor beban. Selain itu fraktur akan bertambah
dengan adanya komplikasi yang berlanjut diantaranya syok, sindrom emboli
lemak, sindrom kompartement, kerusakan arteri, infeksi, dan avaskuler nekrosis.
Komplikasi lain dalam waktu yang lama akan terjadi mal union, delayed union,
non union atau bahkan perdarahan.1 Berbagai tindakan bisa dilakukan di
antaranya rekognisi, reduksi, retensi, dan rehabilitasi. Meskipun demikian
masalah pasien fraktur tidak bisa berhenti sampai itu saja dan akan berlanjut
sampai tindakan setelah atau post operasi.
Fraktur patella cukup jarang terjadi, angka kejadiannya mencapai 1 % dari
semuafraktur yang ada. Kejadian tertinggi terutama ditemukan pada usia 20
sampai 50 tahundimana laki-laki 2 kali lebih sering mengalami fraktur patella
daripada perempuan. Lokasi ospatella yang berada pada daerah subkutan membuatnya
rentan terhadap cedera. Fraktur dapatterjadi akibat dari gaya tekan seperti pukulan
langsung, kekuatan dari tarikan mendadak seperti yang terjadi dengan hyperflexi

lutut, atau karena keduanya. Berbagai pola frakturyang terjadi, tergantung pada
mekanisme cederanya. Berdasarkan pola frakturnya, frakturpatella dibagi atas
fraktur

transversal,

apex,

basal,

comminuted,

vertikal,

dan

osteochondral.Sedangkan berdarakan pola penyimpangan tulangnya dibagi atas


displaced dan non-displaced
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimanakah penegakan diagnosis kasus Tn. S?
2. Apa terapi yang diberikan pada Tn. S dan bagaimana kerja obat tersebut?
1.3 Tujuan
Laporan kasus ini disusun untuk membantu penulis mengetahui dan
memahami tentang:
1. Penegakan diagnosis fraktur et causa trauma
2. Terapi fraktur
1.4 Manfaat
Laporan kasus ini bermanfaat sebagai resume dari beberapa referensi
tentang anatomi dan fisiologi tulang serta fraktur mulai dari definisi, etiologi,
patofisiologi, manifestasi klinis dan penatalaksanaannya.

BAB II
STATUS PENDERITA
2.1 Identitas Penderita
Nama
Umur
Jenis kelamin
Agama
Alamat
Status perkawinan
Suku
Bangsa
Tanggal pemeriksaan
DMK
No. Reg

: Tn. S
: 19 tahun
: Laki-laki
: Islam
: Dsn. Selorejo RT 2 RW 6 Blitar
: Belum menikah
: Jawa
: Indonesia
: 21 Desember 2014
: 589735
: 14.522

2.2 Anamnesis
Keluhan utama
: KLL
Riwayat penyakit sekarang : pasien Tn. S datang ke Instalasi gawat
Darurat (IGD) Rumah Sakit Mardi Waluyo Blitar pukul 04.00 WIB dengan
diantar keluarga pasien. Pasien mengalami kecelakaan lalu lintas ketika
mengendarai sepeda motor dan menabrak mobil box dari arah berlawanan.
Sempat tidak sadarkan diri. Terdapat luka pada daerah lutut kiri. Nyeri
dirasakan terus menerus pada kaki kiri. Pasien tidak mengeluh pusing,
mual maupun muntah.
Riwayat penyakit dahulu
- Riwayat penyakit serupa : disangkal
- Riwayat MRS
: disangkal
Riwayat penyakit keluarga

- Riwayat penyakit serupa : disangkal


- Riwayat hipertensi
: + ibu
- Riwayat jantung
: disangkal
- Riwayat kencing manis : disangkal
- Riwayat penyakit metabolik: disangkal
- Riwayat typhoid
: disangkal
- Riwayat batuk lama
: disangkal
Riwayat pengobatan
: disangkal
Riwayat kebiasaan
- Riwayat merokok
: disangkal
- Riwayat minum kopi
: disangkal
- Riwayat olahraga
: futsal
- Riwayat BAK
: 6X sehari, warna jenih
- Riwayat BAB
: teratur, 1 hari sekali
- Riwayat tidur
: 6-7 jam sehari
Riwayat gizi
: sayur, tempe, tahu, ikan dan telur.
Riwayat sosial ekonomi
Penghasilan keluarga bersumber dari orang tua pasien yang bekerja
sebagai wiraswasta dengan prakiraan penghasilan perbulan Rp 3.000.000.
Pasien berhubungan baik dengan tetangga.
2.3 Anamnesis Sistem
1. Kulit
Kulit warna cokelat, kulit kering ( - ), gatal ( - ), bentol merah (-), luka
(+)
2. Kepala
Sakit kepala ( - ), pusing ( - ), rambut putih ( - ), rambut mudah rontok
( - ), luka pada kepala ( - ), benjolan pada kepala ( - ).
3. Mata
Pandangan mata berkunang-kunang ( - ), penglihatan kabur ( - ), mata
cowong (-)
4. Hidung
Tersumbat ( - ), mimisan ( - )
5. Telinga
Pendengaran berkurang ( - ), berdengung ( - ), keluar cairan ( - )
6. Mulut
Sariawan ( - ), mulut kering ( - )
7. Tenggorokan
Sakit menelan ( - ), serak ( - )
8. Pernafasan
Sesak nafas ( - ), batuk ( - )
9. Kardiovaskuler
Berdebar debar ( - ), nyeri dada ( - )
10. Gastrointestinal
Mual ( - ), muntah ( - ), nyeri perut ( - ), diare ( - ), konstipasi ( - )
11. Perkemihan

Nyeri (-)
12. Neurologis
Kejang ( - ), lumpuh ( - ), kesemutan pada kedua kaki dan tangan ( - )
13. Psikiatri
Emosi stabil, mudah marah ( - )
14. Muskuloskeletal
Kaku sendi ( - ), nyeri tangan dan kaki ( - ), nyeri otot ( - ), lemas (+)
15. Ekstremitas
- Atas kanan
: bengkak ( - ), sakit ( - ), luka ( - )
- Atas kiri
: bengkak ( - ), sakit ( - ), luka ( - )
- Bawah kanan : bengkak ( - ), sakit ( - ), luka ( - )
- Bawah kiri
: bengkak ( + ), sakit ( + ), luka ( + )
2.4 Pemeriksaan Fisik
1. Keadaan umum
Tampak kesakitan, kesadaran composmentis, GCS 456.
2. Vital sign
BB
: 57
Kg
TB
: 162
cm
TD
: 120/90 mmHg
Nadi
: 95
kali/menit, regular
RR
: 22
kali/menit
T
: 36.5 C
3. Kulit
Warna coklat, sianosis ( - ), temperatur hangat, turgor menurun ( - ),
lesi: makula ( - ), papula ( - ), pustula ( - ), tumor ( - ), eritema (-),
vulnus ekskoriasi (+)
4. Kepala
Rambut : mudah dicabut ( - ) tumor ( - ), lesi ( - ), depresi cranium ( - )
5. Mata
Konjungtiva merah muda, sklera putih, pupil isokor ( + / + ), reflek
cahaya ( + / +), katarak ( - / - ), arkus senilis ( - / - ), eksoftalmus ( - /
- ), mata cekung (-)
6. Hidung
Nafas cuping hidung ( - ), sekret ( - / - ), epistaksis ( - / - ), deformitas
hidung ( - )
7. Mulut
Sianosis ( - ), kering (-)
8. Telinga
Sekret ( - )
9. Tenggorokan
Tonsil membesar (-), faring hiperemis (-)
10. Leher
Trakea ditengah (+), pembesaran KGB (-), pembesaran kelajar tiroid
(-), lesi (-) JVP tidak meningkat, trauma servikal (-), jejas leher (-)

11. Thoraks
Simetris ( + ), bentuk normochest, retraksi intercostal ( - ), retraksi
supraklavicular ( - ), gerakan difragma simetris,
Jantung : S1 S2 tunggal, regular, gallop (-), mur mur (-)
Paru
: simetris, vesikuler (+), wheezing (-), ronkhi (-),
12. Abdomen
Dinding perut distended (-), venektasi (-), BU (+) normal, timpani
seluruh lapang perut (+), supel, nyeri tekan (-), hepar dan lien tak
teraba, trouble space (-)
13. Sistem collumna vertebralis
deformitas (-), skoliosis (-), kiphosis (-), lordosis (-), nyeri tekan (-),
nyeri ketok collumna vertebralis (-/-).
14. Ekstremitas
palmar eritema (-/-), capilari refil time ( )
akral dingin
edema
vulnus
- - - - +
- - +
15. Psikiatri
Penampilan
: Sesuai umur, perawatan diri cukup
Kesadaran
: Tidak berubah (kualitatif), composmentis
(kuantitatif)
Afek
Psikomotor
Proses pikir

: Appropriate
: Normoaktif
: Bentuk : Realistik
Isi : Waham ( - ) , halusinasi ( - ) , ilusi ( - )
Arus : Koheren
: Baik

Insight
16. Patella sinistra
Look
: bengkak (+), vulnus appertum (+), diameter 2 cm,
darah(+)
Feel
: hiperemi, krepitasi (+), nyeri (+)
Movement: gerakan pasif (+)
Tabel 1: Follow up
Hari
tanggal
Minggu,
21-12-14

Sakit pada
luka lutut
kiri
(+)
akibat KLL
12 jam
yll

Tampak
kesakitan,
composmentis,
TD
120/90
mmHg
Nadi 95
kali/menit,

Open fracture
patella sinistra
kominutif
neglected

1) Debridem
ent NS 2
L
2) Inj
Cefoperaz
one 1X2 g
3) IVFD RL

Senin,
Sakit pada
22-12-14 luka lutut
kiri (+)

regular,
RR 22
kali/menit
T 36.5
C.
R/
Patella
sinistra:
bengkak (+),
vulnus
appertum (+),
diameter 2
cm, darah(+),
hiperemi,
krepitasi (+),
nyeri
(+),
gerakan pasif
(+).
Foto
x-ray
genue sinistra
didapatkan
fracture patella
sinistra
kominutif.
Hasil
pemeriksaan
laboratorium
dalam
batas
normal kecuali
peningkatan
WBC, LED,
bilirubin total
dan SGOT.
Tampak sakit
ringan,
composmentis,
TD
110/80
mmHg
Nadi 88
kali/menit,
regular,
RR 20
kali/menit
T 36.6
C.
R/
cruris
sinistra
terpasang
backslap,
rembesan
darah (-)

20 tpm
4) Inj
Remopain
5) Inj ATS
1500 IU
Pro ORIF

Open fracture PRO ORIF


patella sinistra
kominutif
neglected

Selasa,
Sakit pada
23-12-14 luka lutut
kiri (+)

Rabu,
Sakit pada
24-12-14 luka lutut
kiri (+)
berkurang

Tampak sakit
ringan,
composmentis,
TD
110/80
mmHg
Nadi 88
kali/menit,
regular,
RR 22
kali/menit
T 36.2C. R/
cruris sinistra
terpasang
backslap,
rembesan
darah (-)
Tampak sakit
ringan,
composmentis,
TD
120/80
mmHg
Nadi 78
kali/menit,
regular,
RR 18
kali/menit
T 37C. R/
cruris sinistra
terpasang
backslap,
rembesan
darah (-)

Open fracture Post ORIF


patella sinistra 1) Cefoperaz
kominutif
one 2X1g
neglected
2) Gentamisi
n 2X8g
3) Ketorolac
3X30gr
4) Ranitidin
2X1 amp

Open fracture 1) Cefoperaz


patella sinistra
one 2X1g
kominutif
2) Gentamisi
neglected
n 2X8g
3) Ranitidin
2X1 amp
4) Asam
tranexama
t 2X20g

Keterangan: S = subjektif, O = objektif, A = assessment, P = planning


2.5 Diagnosis Banding
- Open fraktur patella
- Vulnusappertum
2.6 Pemeriksaan Penunjang
1. Darah lengkap tanggal 24/10/2014, 15.25 WIB
Jumlah sel darah
Hb
14.0 g/dl
(Normal)
HCT
41.3 %
(Normal)
WBC
12.2 ribu/ul
(Meningkat)
Trombosit
188 ribu/ul
(Normal)
RBC
4710 ribu/ul
(Normal)

Index
MCV
MCH
MCHC
LED
PPT
INR
APTT
GDA
HBsAg (tes STRIP)
HIV (pack test)
Anti HCV
Faal Ginjal
Creatinin
BUN
Asam urat
Faal hepar
Bilirubin total
Bilirubin direk
Alkali fosfatase
SGOT
SGPT
Gamma GT
2.

87.7 fl
29.7 pg
33.9 %
18-30
11.5
1.01
33.5
109
non reaktif
non reaktif
non reaktif

(Normal)
(Normal)
(Normal)
(Meningkat)
(Normal)

1.21
15
6.0

(Normal)
(Normal)
(Normal)

2.17
0.14
122
44
27
12

(Meningkat)
(Normal)
(Normal)
(Meningkat)
(Normal)
(Normal)

(Normal)
(Normal)
(Normal)
(Normal)
(Normal)

X-ray genue sinistra

Gambar 2.1 X-Ray genue sinistra


2.7 Diagnosis
Open fracture patella sinistra kominutif neglected
2.8 Resume
17. Pasien Tn. S datang ke Instalasi gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit
Mardi Waluyo Blitar pukul 04.00 WIB dengan diantar keluarga pasien.
Pasien mengalami kecelakaan lalu lintas ketika mengendarai sepeda
motor dan menabrak mobil box dari arah berlawanan. Sempat tidak

sadarkan diri. Terdapat luka pada daerah lutut kiri. Nyeri dirasakan
terus menerus pada kaki kiri. Pasien tidak mengeluh pusing, mual
maupun muntah. Dari pemeriksaan fisik didapatkan Tn. S kesakitan,
kesadaran composmentis, GCS 456, kesan gizi cukup, BB 57 Kg, TB
162 cm, TD 120/90 mmHg, Nadi 95 kali/menit, regular, RR 22
kali/menit, T 36.5C. R/ Patella sinistra: bengkak (+), vulnus appertum
(+), diameter 2 cm, darah(+), hiperemi, krepitasi (+), nyeri (+),
gerakan pasif (+). Hasil pemeriksaan laboratorium dalam batas normal
kecuali peningkatan WBC, LED, bilirubin total dan SGOT. Foto x-ray
didapatkan fracture patella sinistra kominutif.
2.9 Penatalaksanaan
A. Non Medikamentosa
Debridement
Pasang Spalk
Operasi ORIF
B. Medikamentosa
- Inj Cefoperazone 1X2 g
- Inj Torasic 3X30 g
- Inj Remopain 3
- Onj ATS 1500 IU
- Infus RL 20 tpm
- Inj ketorolac 3X30 mg
- Inj ranitidine 2X50 mg
- Inj Gentamisin 2X8 g
- Inj Asam tranexamat 2X20 g

BAB III
TINJAUAN PUSTAKA
1.1 Patella
1.1.1 Anatomi
Patella yang merupakan jenis tulang sesamoid terletak pada segmen
inferior dari tendo m. quadriceps femoris pada permukaan ateroinferior.

10

Pinggir atas, lateral dan medial merupakan tempat perlekatan berbagai bagian
m.quadriceps femoris. Patella dicegah bergeser ke lateral selama kontraksi m.
quadriceps femoris oleh serabut-serabut horizontal bawah m. vastul medialis
dan oleh besarnya ukuran condylus lateralis femoris. Ukuran kira-kira 5 cm,
berbentuk segitiga, berada didalam tendo (bertumbuh di dalam tendo)
m.quadriceps femoris. Dalam keadaan ototrelaksasi, maka patella dapat
digerakkan ke samping, sedikit ke cranial dan ke caudal. Mempunyai
facies anterior dari facies articularis; facies articularis lateralis bentuknyalebih
besar daripada facies articularis medialis. Margo superior atau basis patellae
berada di bagian proximal dan apex patellae beradadi bagian distal. Margo
medialis dan margo lateralis bertemu membentuk apex patellae.

Gambar 3.1 Anatomi Patella 2


1.1.2 Fisiologi
3.2 Fraktur
3.2.1 Definisi
Ada beberapa pengertian fraktur menurut para ahli adalah:
1)

Fraktur adalah patah tulang, biasanya disebabkan oleh trauma atau tenaga
fisik.1

2)

Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis


dan luasnya, fraktur terjadi jika tulang dikenai stres yang lebih besar dari
yang dapat diabsorbsinya.3

11

3)

Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang, kebanyakan fraktur akibat


dari trauma, beberapa fraktur sekunder terhadap proses penyakit seperti
osteoporosis yang menyebabkan fraktur yang patologis.4

4)

Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang yang ditandai oleh rasa


nyeri, pembengkakan, deformitas, gangguan fungsi, pemendekan dan
krepitasi.5

2.2.2 Etiologi
Etiologi fraktur

yang

dimaksud

adalah peristiwa

yang

dapat

menyebabkan terjadinya fraktur diantaranya peristiwa trauma (kekerasan) dan


peristiwa patologis.
1. Peristiwa Trauma (kekerasan)
a) Kekerasan langsung
Kekerasan langsung dapat menyebabkan tulang patah pada titik
terjadinya kekerasan itu, misalnya tulang kaki terbentur bumper mobil,
maka tulang akan patah tepat di tempat terjadinya benturan. Patah tulang
demikian sering bersifat terbuka, dengan garis patah melintang atau
miring.
b) Kekerasan tidak langsung
Kekerasan tidak langsung menyebabkan patah tulang di tempat
yang jauh dari tempat terjadinya kekerasan. Yang patah biasanya adalah
bagian yang paling lemah dalam hantaran vektor kekerasan. Contoh
patah tulang karena kekerasan tidak langsung adalah bila seorang jatuh
dari ketinggian dengan tumit kaki terlebih dahulu. Yang patah selain
tulang tumit, terjadi pula patah tulang pada tibia dan kemungkinan pula
patah tulang paha dan tulang belakang. Demikian pula bila jatuh dengan
telapak tangan sebagai penyangga, dapat menyebabkan patah pada
pergelangan tangan dan tulang lengan bawah.
c) Kekerasan akibat tarikan otot
Kekerasan tarikan otot dapat menyebabkan dislokasi dan patah
tulang. Patah tulang akibat tarikan otot biasanya jarang terjadi.
Contohnya patah tulang akibat tarikan otot adalah patah tulang patella
dan olekranom, karena otot triseps dan biseps mendadak berkontraksi.

12

2. Peristiwa Patologis
a) Kelelahan atau stres fraktur
Fraktur ini terjadi pada orang yang yang melakukan aktivitas
berulang ulang pada suatu daerah tulang atau menambah tingkat
aktivitas yang lebih berat dari biasanya. Tulang akan mengalami
perubahan struktural akibat pengulangan tekanan pada tempat yang sama,
atau peningkatan beban secara tiba tiba pada suatu daerah tulang maka
akan terjadi retak tulang.
b) Kelemahan tulang
Fraktur dapat terjadi oleh tekanan yang normal karena lemahnya
suatu tulang akibat penyakit infeksi, penyakit metabolisme tulang
misalnya osteoporosis, dan tumor pada tulang. Sedikit saja tekanan pada
daerah tulang yang rapuh maka akan terjadi fraktur.
3.2.3 Patofisiologis
Sewaktu tulang patah perdarahan biasanya terjadi di sekitar tempat
patah ke dalam jaringan lunak sekitar tulang tersebut, jaringan lunak juga
biasanya mengalami kerusakan. Reaksi perdarahan biasanya timbul hebat
setelah fraktur. Sel- sel darah putih dan sel anast berakumulasi menyebabkan
peningkatan aliran darah ketempat tersebut aktivitas osteoblast terangsang dan
terbentuk

tulang

baru

imatur

yang

disebut

callus.

Bekuan

fibrin

direabsorbsidan sel- sel tulang baru mengalami remodeling untuk membentuk


tulang sejati. Insufisiensi pembuluh darah atau penekanan serabut syaraf yang
berkaitan dengan pembengkakan yang tidak ditangani dapat menurunkan
asupan darah ke ekstrimitas dan mengakibatkan kerusakan saraf perifer. Bila
tidak terkontrol pembengkakan akan mengakibatkan peningkatan tekanan
jaringan, oklusi darah total dan berakibat anoreksia mengakibatkan rusaknya
serabut syaraf maupun jaringan otot. Komplikasi ini di namakan sindrom
kompartemen.6
Trauma pada tulang dapat menyebabkan keterbatasan gerak dan ketidak
seimbangan, fraktur terjadi dapat berupa fraktur terbuka dan fraktur tertutup.
Fraktur tertutup tidak disertai kerusakan jaringan lunak seperti tendon, otot,

13

ligament dan pembuluh darah.2 Pasien yang harus imobilisasi setelah patah
tulang akan menderita komplikasi antara lain: nyeri, iritasi kulit karena
penekanan, hilangnya kekuatan otot. Kurang perawatan diri dapat terjadi bila
sebagian tubuh di imobilisasi, mengakibatkan berkurangnyan kemampuan
prawatan diri.7 Reduksi terbuka dan fiksasi interna (ORIF) fragmen-fragmen
tulang di pertahankan dengan pen, sekrup, plat, paku. Namun pembedahan
meningkatkan kemungkinan terjadinya infeksi. Pembedahan itu sendiri
merupakan trauma pada jaringan lunak dan struktur yang seluruhnya tidak
mengalami cedera mungkin akan terpotong atau mengalami kerusakan selama
tindakan operasi.1
3.2.4 Klasifikasi
Fraktur dapat dibedakan jenisnya berdasarkan hubungan tulang dengan
jaringan disekitar, bentuk patahan tulang, dan lokasi pada tulang fisis.
1.

Berdasarkan hubungan tulang dengan jaringan disekitar


-

Fraktur tertutup (closed)


Dikatakan tertutup bila tidak terdapat hubungan antara
fragmen tulang dengan dunia luar, disebut dengan fraktur bersih
(karena kulit masih utuh) tanpa komplikasi. Pada fraktur tertutup ada
klasifikasi tersendiri yang berdasarkan keadaan jaringan lunak
sekitar trauma, yaitu:
1) Tingkat 0: fraktur biasa dengan sedikit atau tanpa cedera
jaringan lunak sekitarnya.
2) Tingkat 1: fraktur dengan abrasi dangkal atau memar kulit
dan jaringan subkutan.
3) Tingkat 2: fraktur yang lebih berat dengan kontusio jaringan
lunak bagian dalam dan pembengkakan.
4) Tingkat 3: Cedera berat dengan kerusakan jaringan lunak
yang nyata dan ancaman sindroma kompartement.
-

Fraktur terbuka (open/compound)


Bila terdapat hubungan antara fragmen tulang dengan dunia
luar karena adanya perlukaan di kulit. Fraktur terbuka terbagi atas
tiga derajat (menurut R. Gustillo), yaitu:

14

1) Derajat I
- Luka <1 cm
- Kerusakan jaringan lunak sedikit, tak ada tanda luka
remuk
- Fraktur sederhana, transversal, oblik, atau kominutif
ringan
- Kontaminasi minimal
2) Derajat II
- Laserasi >1 cm
- Kerusakan jaringan lunak, tidak luas, flap/ avulsi
- Fraktur kominutif sedang
- Kontaminasi sedang
3) Derajat III
Terjadi kerusakan jaringan lunak yang luas, meliputi
struktur kulit, otot, dan neurovaskular serta kontaminasi
derajat tinggi. Fraktur terbuka derajat III terbagi atas:
- Jaringan lunak yang menutupi fraktur tulang adekuat,
meskipun terdapat laserasi luas/flap/avulsi atau fraktur
segmental/sangat kominutif yang disebabkan oleh
trauma berenergi tinggi tanpa melihat besarnya ukuran
luka.
- Kehilangan jaringan lunak dengan fraktur tulang yang
terpapar atau kontaminasi masif.
- Luka pada pembuluh arteri/saraf perifer yang harus
diperbaiki tanpa melihat kerusakan jaringan lunak.
2.

Berdasarkan bentuk patahan tulang


a) Transversal
Adalah fraktur yang garis patahnya tegak lurus terhadap sumbu panjang
tulang atau bentuknya melintang dari tulang. Fraktur semacam ini
biasanya mudah dikontrol dengan pembidaian gips.
b) Spiral

15

Adalah fraktur meluas yang mengelilingi tulang yang timbul akibat


torsi ekstremitas atau pada alat gerak. Fraktur jenis ini hanya
menimbulkan sedikit kerusakan jaringan lunak.

Gambar 3.2 Bentuk Patahan Tulang 8


c) Oblik
Adalah fraktur yang memiliki patahan arahnya miring dimana garis
patahnya membentuk sudut terhadap tulang.
d) Segmental
Adalah dua fraktur berdekatan pada satu tulang, ada segmen tulang
yang retak dan ada yang terlepas menyebabkan terpisahnya segmen
sentral dari suplai darah.
e) Kominuta
Adalah fraktur yang mencakup beberapa fragmen, atau terputusnya
keutuhan jaringan dengan lebih dari dua fragmen tulang.
f) Greenstick
Adalah fraktur tidak sempurna atau garis patahnya tidak lengkap
dimana korteks tulang sebagian masih utuh demikian juga periosterum.
Fraktur jenis ini sering terjadi pada anak anak.
g) Fraktur Impaksi
Adalah fraktur yang terjadi ketika dua tulang menumbuk tulang ketiga
yang berada diantaranya, seperti pada satu vertebra dengan dua vertebra
lainnya.

16

h) Fraktur Fissura
Adalah fraktur yang tidak disertai perubahan letak tulang yang berarti,
fragmen biasanya tetap di tempatnya setelah tindakan reduksi.
3.

Berdasarkan lokasi pada tulang fisis


Tulang fisis adalah bagian tulang yang merupakan lempeng

pertumbuhan, bagian ini relatif lemah sehingga strain pada sendi dapat
berakibat pemisahan fisis pada anak anak. Fraktur fisis dapat terjadi akibat
jatuh atau cedera traksi. Fraktur fisis juga kebanyakan terjadi karena
kecelakaan lalu lintas atau pada saat aktivitas olahraga. Klasifikasi yang paling
banyak digunakan untuk cedera atau fraktur fisis adalah klasifikasi fraktur
menurut Salter Harris:
1) Tipe I: fraktur transversal melalui sisi metafisis dari lempeng
pertumbuhan, prognosis sangat baik setelah dilakukan reduksi tertutup.
2) Tipe II: fraktur melalui sebagian lempeng pertumbuhan, timbul melalui
tulang metafisis , prognosis juga sangat baik denga reduksi tertutup.
3) Tipe III: fraktur longitudinal melalui permukaan artikularis dan epifisis
dan kemudian secara transversal melalui sisi metafisis dari lempeng
pertumbuhan. Prognosis cukup baik meskipun hanya dengan reduksi
anatomi.
4) Tipe IV: fraktur longitudinal melalui epifisis, lempeng pertumbuhan
dan terjadi melalui tulang metafisis. Reduksi terbuka biasanya penting
dan mempunyai resiko gangguan pertumbuhan lanjut yang lebih besar.
5) Tipe V: cedera remuk dari lempeng pertumbuhan, insidens dari
gangguan pertumbuhan lanjut adalah tinggi.
3.2.5 Manifestasi Klinik
Manifestasi klinis fraktur adalah nyeri, hilangnya fungsi, deformitas,
pemendekan ekstrimitas, krepitus, pembengkakan local, dan perubahan warna.
1. Nyeri terus menerus dan bertambah beratnya sampai fragmen tulang di
imobilisasi, spasme otot yang menyertai fraktur merupakan bentuk bidai
alamiah yang di rancang untuk meminimalkan gerakan antar fragmen
tulang.

17

2. Setelah terjadi fraktur, bagian-bagian tak dapat digunakan dan cenderung


bergerak tidak alamiah bukan seperti normalnya, pergeseran fraktur
menyebabkan deformitas, ekstrimitas yang bias di ketahui dengan
membandingkan dengan ekstrimitas yang normal. Ekstrimitas tidak dapat
berfungsi dengan baik karena fungsi normal otot bergantung pada
integritas tulang tempat melekatnya otot.
3. Pada fraktur panjang, terjadi pemendekan tulang yang sebenarnya karena
kontraksi otot yang melekat diatas dan dibawah tempat fraktur.
4. Saat ekstrimitas di periksa dengan tangan, teraba adanya derik tulang
yang dinamakan krepitus yang teraba akibat gesekan antara fragmen satu
dengan yang lainya.
5. Pembengkakan dan perubahan warna local pada kulit terjadi sebagai
akibat dari trauma dan perdarahan yang mengikuti fraktur. Tanda ini
biasanya baru terjadi setelah beberapa jam atau hari setelah cedera.3
3.2.6 Penatalaksanan
Menurut Mansjoer (2000) dan Muttaqin (2008) konsep dasar yang
harus dipertimbangkan pada waktu menangani fraktur yaitu: rekognisi, reduksi,
retensi, dan rehabilitasi.4,9
1.

Rekognisi
Riwayat kecelakaan, derajat keparahan, harus jelas untuk
menentukan diagnosa dan tindakan selanjutnya. Contoh, pada tempat
fraktur tungkai akan terasa nyeri sekali dan bengkak. Kelainan bentuk
yang nyata dapat menentukan diskontinuitas integritas rangka.

2. Reduksi (manipulasi/ reposisi)


Reduksi adalah usaha dan tindakan untuk memanipulasi fragmen
fragmen tulang yang patah sedapat mungkin kembali lagi seperti letak
asalnya. Upaya untuk memanipulasi fragmen tulang sehingga kembali
seperti semula secara optimal. Reduksi fraktur dapat dilakukan dengan
reduksi tertutup, traksi, atau reduksi terbuka. Reduksi fraktur dilakukan
sesegera

mungkin

untuk

mencegah

jaringan

lunak

kehilangan

elastisitasnya akibat infiltrasi karena edema dan perdarahan. Pada

18

kebanyakan kasus, reduksi fraktur menjadi semakin sulit bila cedera sudah
mulai mengalami penyembuhan.4
3. Retensi (Immobilisasi)
Upaya yang dilakukan untuk menahan fragmen tulang sehingga
kembali seperti semula secara optimal. Setelah fraktur direduksi, fragmen
tulang harus diimobilisasi, atau di pertahankan dalam posisi kesejajaran
yang benar sampai terjadi penyatuan. Imobilisasi dapat dilakukan dengan
fiksasi eksterna atau interna. Metode fiksasi eksterna meliputi pembalutan,
gips, bidai, traksi kontinu, pin, dan teknik gips, atau fiksator eksterna.
Implan logam dapat di gunakan untuk fiksasi intrerna yang brperan
sebagai bidai interna untuk mengimobilisasi fraktur. Fiksasi eksterna
adalah alat yang diletakkan diluar kulit untuk menstabilisasikan fragmen
tulang dengan memasukkan dua atau tiga pin metal perkutaneus
menembus tulang pada bagian proksimal dan distal dari tempat fraktur dan
pin tersebut dihubungkan satu sama lain dengan menggunakan eksternal
bars. Teknik ini terutama atau kebanyakan digunakan untuk fraktur pada
tulang tibia, tetapi juga dapat dilakukan pada tulang femur, humerus dan
pelvis.4
4. Rehabilitasi
Mengembalikan aktifitas fungsional semaksimal mungkin untuk
menghindari atropi atau kontraktur. Bila keadaan mmeungkinkan, harus
segera dimulai melakukan latihan-latihan untuk mempertahankan kekuatan
anggota tubuh dan mobilisasi.4
3.2.7 Stadium Penyembuhan Fraktur
Proses penyembuhan fraktur terdiri atas lima stadium yaitu :
-

Pembentukan hematom
Fraktur merobek pembuluh darah dalam medulla, korteks dan
periosteum sehingga timbul hematom.

Organisasi
Dalam 24 jam, kapiler dan fibroblas mulai tumbuh ke dalam
hematom disertai dengan infiltrasi sel sel peradangan. Dengan

19

demikian, daerah bekuan darah diubah menjadi jaringan granulasi


fibroblastik vaskular.
-

Kalus sementara
Pada sekitar hari ketujuh, timbul pulau pulau kartilago dan jaringan
osteoid dalam jaringan granulasi ini. Kartilago mungkin timbul dari
metaplasia fibroblas dan jaringan osteoid ditentukan oleh osteoblas
yang tumbuh ke dalam dari ujung tulang. Jaringan osteoid, dalam
bentuk spikula ireguler dan trabekula, mengalami mineralisasi
membentuk kalus sementara. Tulang baru yang tidak teratur ini
terbentuk dengan cepat dan kalus sementara sebagian besar lengkap
pada sekitar hari kedua puluh lima.

Kalus definitif
Kalus sementara yang tak teratur secara bertahap akan diganti oleh
tulang yang teratur dengan susunan havers kalus definitif.

Remodeling
Kontur normal dari tulang disusun kembali melalui proses
remodeling akibat pembentukan tulang osteoblastik maupun resorpsi
osteoklastik. Keadaaan terjadi secara relatif lambat dalam periode
waktu yang berbeda tetapi akhirnya semua kalus yang berlebihan
dipindahkan, dan gambaran serta struktur semula dari tulang
tersusun kembali.

20

Gambar 3.3 Stadium Penyembuhan Fraktur


3.2.8 Kelainan Penyembuhan Fraktur
Tulang memperlihatkan kemudahan penyembuhan yang besar tetapi
dapat terjadi sejumlah penyulit atau terdapat kelainan dalam proses
penyembuhan.
1) Malunion
Kelainan penyatuan tulang karena penyerasian yang buruk
menimbulkan deformitas, angulasi atau pergeseran.
2) Penyatuan tertunda
Keadaan ini umum terjadi dan disebabkan oleh banyak faktor, pada
umumnya banyak diantaranya mempunyai gambaran hiperemia dan
dekalsifikasi yang terus menerus. Faktor yang menyebabkan penyatuan
tulang tertunda antara lain karena infeksi, terdapat benda asing, fragmen
tulang mati, imobilisasi yang tidak adekuat, distraksi, avaskularitas, fraktur
patologik, gangguan gizi dan metabolik.
3) Non union (tak menyatu)
Penyatuan tulang tidak terjadi, cacat diisi oleh jaringan fibrosa.
Kadang kadang dapat terbentuk sendi palsu pada tempat ini. Faktor
faktor yang dapat menyebabkan non union adalah tidak adanya

21

imobilisasi, interposisi jaringan lunak, pemisahan lebar dari fragmen


contohnya patella dan fraktur yang bersifat patologis.
3.2.9 Komplikasi Fraktur
a. Sindrom Emboli Lemak
Merupakan keadaan pulmonari akut dan dapat menyebabkan
kondisi fatal. Hal ini terjadi ketika gelembung gelembung lemak
terlepas dari sumsum tulang dan mengelilingi jaringan yang rusak.
Gelombang lemak ini akan melewati sirkulasi dan dapat menyebabkan
oklusi pada pembuluh pembuluh darah pulmonary yang menyebabkan
sukar bernafas. Gejala dari sindrom emboli lemak mencakup dyspnea,
perubahan dalam status mental (gaduh, gelisah, marah, bingung, stupor),
tachycardia, demam, ruam kulit ptechie.
b. Sindrom Kompartemen
Komplikasi ini terjadi saat peningkatan tekanan jaringan dalam
ruang tertutup di otot, yang sering berhubungan dengan akumulasi cairan
sehingga menyebabkan hambatan aliran darah yang berat dan berikutnya
menyebabkan kerusakan pada otot. Gejala gejalanya mencakup rasa
sakit karena ketidakseimbangan pada luka, rasa sakit yang berhubungan
dengan tekanan yang berlebihan pada kompartemen, rasa sakit dengan
perenggangan pasif pada otot yang terlibat, dan paresthesia. Komplikasi
ini terjadi lebih sering pada fraktur tulang kering (tibia) dan tulang hasta
(radius atau ulna).
c. Nekrosis Avaskular (Nekrosis Aseptik)
Nekrosis avaskular dapat terjadi saat suplai darah ke tulang
kurang baik. Hal ini paling sering mengenai fraktur intrascapular femur
(yaitu kepala dan leher), saat kepala femur berputar atau keluar dari sendi
dan menghalangi suplai darah. Karena nekrosis avaskular mencakup
proses yang terjadi dalam periode waktu yang lama, pasien mungkin
tidak akan merasakan gejalanya sampai dia keluar dari rumah sakit. Oleh
karena itu, edukasi pada pasien merupakan hal yang penting. Perawat
harus menyuruh pasien supaya melaporkan nyeri yang bersifat intermiten
atau nyeri yang menetap pada saat menahan beban.

22

d. Osteomyelitis
Adalah infeksi dari jaringan tulang yang mencakup sumsum dan
korteks tulang dapat berupa exogenous (infeksi masuk dari luar tubuh)
atau hematogenous (infeksi yang berasal dari dalam tubuh). Patogen
dapat masuk melalui luka fraktur terbuka, luka tembus, atau selama
operasi. Luka tembak, fraktur tulang panjang, fraktur terbuka yang
terlihat tulangnya, luka amputasi karena trauma dan fraktur fraktur
dengan sindrom kompartemen atau luka vaskular memiliki risiko
osteomyelitis yang lebih besar.
e. Gangren Gas
Gas gangren berasal dari infeksi yang disebabkan oleh bakterium
saprophystik gram-positif anaerob yaitu antara lain Clostridium welchii
atau clostridium perfringens. Clostridium biasanya akan tumbuh pada
luka dalam yang mengalami penurunan suplai oksigen karena trauma
otot. Jika kondisi ini terus terjadi, maka akan terdapat edema, gelembung
gelembung gas pada tempat luka. Tanpa perawatan, infeksi toksin
tersebut dapat berakibat fatal.

3.2.10 Pencegahan Fraktur


Pencegahan fraktur dapat dilakukan berdasarkan penyebabnya. Pada
umumnya fraktur disebabkan oleh peristiwa trauma benturan atau terjatuh baik
ringan maupun berat. Pada dasarnya upaya pengendalian kecelakaan dan
trauma adalah suatu tindakan pencegahan terhadap peningkatan kasus
kecelakaan yang menyebabkan fraktur.
-

Pencegahan Primer
Pencegahan primer dapat dilakukan dengan upaya menghindari
terjadinya trauma benturan, terjatuh atau kecelakaan lainnya. Dalam
melakukan aktifitas yang berat atau mobilisasi yang cepat dilakukan
dengan cara hati hati, memperhatikan pedoman keselamatan dengan
memakai alat pelindung diri.

Pencegahan Sekunder

23

Pencegahan sekunder dilakukan untuk mengurangi akibat akibat


yang lebih serius dari terjadinya fraktur dengan memberikan pertolongan
pertama yang tepat dan terampil pada penderita. Mengangkat penderita
dengan posisi yang benar agar tidak memperparah bagian tubuh yang
terkena fraktur untuk selanjutnya dilakukan pengobatan. Pemeriksaan
klinis dilakukan untuk melihat bentuk dan keparahan tulang yang patah.
Pemeriksaan dengan foto radiologis sangat membantu untuk mengetahui
bagian tulang yang patah yang tidak terlihat dari luar. Pengobatan yang
dilakukan dapat berupa traksi, pembidaian dengan gips atau dengan fiksasi
internal maupun eksternal.
-

Pencegahan Tersier
Pencegahan tersier pada penderita fraktur yang bertujuan untuk
mengurangi terjadinya komplikasi yang lebih berat dan memberikan
tindakan pemulihan yang tepat untuk menghindari atau mengurangi
kecacatan. Pengobatan yang dilakukan disesuaikan dengan jenis dan
beratnya fraktur dengan tindakan operatif dan rehabilitasi. Rehabilitasi
medis diupayakan untuk mengembalikan fungsi tubuh untuk dapat kembali
melakukan mobilisasi seperti biasanya. Penderita fraktur yang telah
mendapat pengobatan atau tindakan operatif, memerlukan latihan
fungsional perlahan untuk mengembalikan fungsi gerakan dari tulang yang
patah. Upaya rehabilitasi dengan mempertahankan dan memperbaiki
fungsi dengan mempertahankan reduksi dan imobilisasi antara lain
meminimalkan bengkak, memantau status neurovaskuler, mengontrol
ansietas dan nyeri, latihan dan pengaturan otot, partisipasi dalam aktivitas
hidup sehari-hari, dan melakukan aktivitas ringan secara bertahap.

24

BAB IV
PEMBAHASAN

4.1 Penegakan Diagnosis Fraktur


1) Anamnesis
Keluhan utama berupa:
- Trauma: waktu terjadinya trauma, cara terjadinya trauma, lokasi
-

trauma
Nyeri: lokasi nyeri, sifat nyeri, intensitas nyeri, reffered pain
Kekakuan sendi
Pembengkakan
Deformitas
Ketidakstabilan sendi
Kelemahan otot
Gagguan sensibilitas

25

- Hilangnya fungsi
- Jalan pincang
2) Pemeriksaan fisik
a. Inspeksi (look)
- Kulit, meliputi warna kulit, tanda peradangan dan tekstur kulit
- Jaringan lunak, pembuluh darah, saraf, otot, tendon, ligament,
jaringan lemak, fasia dan kelenjar limfe
- Tulang dan sendi
- Sinus dan jaringan parut
b. Palpasi (feel)
- Suhu kulit, denyutan arteri
- Jaringan lunak: spasme otot, atrofi otot
- Nyeri tekan
- Tulang: bentuk, permukaan, ketebalan, penonjolan dari tulang
- Penilaian deformitas
3) Pemeriksaan penunjang
Dilakukan pemeriksaan rontgen, apabila fraktur pada tulang panjang
dilakukan posisi AP dan lateral.
4.2 Penatalaksanaan
Farmakologis 11
1. Infus RL 20 tpm
Komposisi: Na laktat 3.1 gram, NaCl 6 gram, KCl 0.33 gram, CaCl 2
0.2 gram, air 1000 ml.
Indikasi: mengembalikan keseimbangan cairan pada kasus dehidrasi
Kontraindikasi: hipernatremi, kelainan hati/ginjal dan laktat asidosis
Efek samping: panas, infeksi pada tempat injeksi, thrombosis vena
dan ekstravasasi.
Dosis: sesuai kondisi penderita
Kemasan: Larutan infus 500 ml.
Alasan pemberian cairan infus ringer laktat untuk memenuhi
kebutuhan cairan dalam tubuh selama an. D tidak makan/minum.
Selain itu juga berfungsi untuk memenuhi kebutuhan elektrolit yaitu
natrium, kalium dan klorida.
2. Ketorolac 30 mg
Ketorolac tromethamine merupakan suatu analgesik nonnarkotik. Obat ini merupakan obat anti-inflamasi nonsteroid yang
menunjukkan aktivitas antipiretik yang lemah dan anti-inflamasi.
Ketorolac tromethamine menghambat sintesis prostaglandin dan
dapat dianggap sebagai analgesik yang bekerja perifer karena tidak
mempunyai efek terhadap reseptor opiat.

26

Ketorolac tromethamine diserap dengan cepat dan lengkap


setelah pemberian intramuskular dengan konsentrasi puncak rata-rata
dalam plasma sebesar 2,2 mcg/ml setelah 50 menit pemberian dosis
tunggal 30 mg. Waktu paruh terminal plasma 5,3 jam pada dewasa
muda dan 7 jam pada orang lanjut usia (usia rata-rata 72 tahun).
Lebih dari 99% Ketorolac terikat pada konsentrasi yang beragam.
Farmakokinetik Ketorolac pada manusia setelah pemberian secara
intramuskular dosis tunggal atau multipel adalah linear. Kadar steady
state plasma dicapai setelah diberikan dosis tiap 6 jam dalam sehari.
Pada dosis jangka panjang tidak dijumpai perubahan bersihan.
Setelah pemberian dosis tunggal intravena, volume distribusinya ratarata 0,25 L/kg. Ketorolac dan metabolitnya (konjugat dan metabolit
para-hidroksi) ditemukan dalam urin (rata-rata 91,4%) dan sisanya
(rata-rata 6,1%) diekskresi dalam feses. Pemberian Ketorolac secara
parenteral tidak mengubah hemodinamik pasien.
Ketorolac diindikasikan untuk penatalaksanaan jangka pendek
terhadap nyeri akut sedang sampai berat setelah prosedur bedah.
Durasi total Ketorolac tidak boleh lebih dari lima hari. Ketorolac
secara parenteral dianjurkan diberikan segera setelah operasi. Harus
diganti ke analgesik alternatif sesegera mungkin, asalkan terapi
Ketorolac tidak melebihi 5 hari. Ketorolac tidak dianjurkan untuk
digunakan sebagai obat prabedah obstetri atau untuk analgesia
obstetri karena belum diadakan penelitian yang adekuat mengenai hal
ini dan karena diketahui mempunyai efek menghambat biosintesis
prostaglandin atau kontraksi rahim dan sirkulasi fetus.
Kontraindikasi:
-

Pasien yang sebelumnya pernah mengalami alergi dengan obat


ini, karena ada kemungkinan sensitivitas silang.

Pasien yang menunjukkan manifestasi alergi serius akibat


pemberian Asetosal atau obat anti-inflamasi nonsteroid lain.

Pasien yang menderita ulkus peptikum aktif.

Penyakit serebrovaskular yang dicurigai maupun yang sudah


pasti.

27

Diatesis hemoragik termasuk gangguan koagulasi.

Sindrom polip nasal lengkap atau parsial, angioedema atau


bronkospasme.

Terapi bersamaan dengan ASA dan NSAID lain.

Hipovolemia akibat dehidrasi atau sebab lain.

Gangguan ginjal derajat sedang sampai berat (kreatinin serum


>160 mmol/L).

Riwayat asma.

Pasien pasca operasi dengan risiko tinggi terjadi perdarahan


atau hemostasis inkomplit, pasien dengan antikoagulan
termasuk Heparin dosis rendah (2.5005.000 unit setiap 12
jam).

Terapi bersamaan dengan Ospentyfilline, Probenecid atau


garam lithium.

Selama kehamilan, persalinan, melahirkan atau laktasi.

Pasien yang mempunyai riwayat sindrom Steven-Johnson atau


ruam vesikulobulosa.

Pemberian neuraksial (epidural atau intratekal).

Pemberian profilaksis sebelum bedah mayor atau intra-operatif


jika hemostasis benar-benar dibutuhkan karena tingginya risiko
perdarahan.

Dosis: Ketorolac ampul ditujukan untuk pemberian injeksi


intramuskular atau bolus intravena. Dosis untuk bolus intravena
harus diberikan selama minimal 15 detik. Ketorolac ampul tidak
boleh diberikan secara epidural atau spinal. Mulai timbulnya efek
analgesia setelah pemberian IV maupun IM serupa, kira-kira 30
menit, dengan maksimum analgesia tercapai dalam 1 hingga 2 jam.
Durasi median analgesia umumnya 4 sampai 6 jam. Dosis sebaiknya
disesuaikan dengan keparahan nyeri dan respon pasien. Lamanya
terapi : Pemberian dosis harian multipel yang terus-menerus secara
intramuskular dan intravena tidak boleh lebih dari 2 hari karena efek
samping dapat meningkat pada penggunaan jangka panjang.

28

Selain mempunyai efek yang menguntungkan, Ketorolac


tromethamine juga mempunyai efek samping, diantaranya:
-

Efek pada gastrointestinal


Ketorolac tromethamine dapat menyebabkan ulcerasi peptic,
perdarahan dan perlubangan lambung. Sehingga Ketorolac
tromethamine dilarang untuk pasien yang sedang atau
mempunyai riwayat perdarahan lambung dan ulcerasi peptic.

Efek pada ginjal


Ketorolac

tromethamine

menyebabkan

gangguan

atau

kegagalan depresi volume pada ginjal, sehingga dilarang


diberikan pada pasien dengan riwayat gagal ginjal.
-

Resiko perdarahan
Ketorolac

tromethamine

menghambat

fungsi

trombosit,

sehingga terjadi gangguan hemostasis yang mengakibatkan


risiko perdarahan dan gangguan hemostasis.
-

Reaksi hipersensitivitas
Dalam pemberian Ketorolac tromethamine bias terjadi reaksi
hypersensitivitas dari hanya sekedar spasme bronkus hingga
shock anafilaktik, sehigga dalam pemberian Ketorolac
tromethamine harus diberikan dosis awal yang rendah.

3. Ranitidin 2X50 mg
Ranitidine adalah suatu histamin antagonis reseptor H2 yang
menghambat kerja histamin secara kompetitif pada reseptor H2 dan
mengurangi

sekresi

asam

lambung.

Pada pemberian i.m./i.v. kadar dalam serum yang diperlukan untuk


menghambat 50% perangsangan sekresi asam lambung adalah 3694
mg/mL.

Kadar

tersebut

bertahan

selama

68

jam.

Ranitidine diabsorpsi 50% setelah pemberian oral. Konsentrasi


puncak plasma dicapai 23 jam setelah pemberian dosis 150 mg.
Absorpsi tidak dipengaruhi secara nyata oleh makanan dan antasida.
Waktu paruh 2 3 jam pada pemberian oral, Ranitidine diekskresi
melalui urin
Indikasi:

29

Pengobatan jangka pendek tukak usus 12 jari aktif, tukak


lambung aktif, mengurangi gejala refluks esofagitis.

Terapi pemeliharaan setelah penyembuhan tukak usus 12 jari,


tukak lambung.

Pengobatan keadaan hipersekresi patologis (misal : sindroma


Zollinger Ellison dan mastositosis sistemik).

Ranitidine injeksi diindikasikan untuk pasien rawat inap di


rumah sakit dengan keadaan hipersekresi patologis atau ulkus
12 jari yang sulit diatasi atau sebagai pengobatan alternatif
jangka pendek pemberian oral pada pasien yang tidak bisa
diberi Ranitidine oral.

Dosis Ranitidine oral


-

150 mg 2 kali sehari (pagi dan malam) atau 300 mg sekali


sehari sesudah makan malam atau sebelum tidur, selama 4
8 minggu.

Tukak lambung aktif 150 mg 2 kali sehari (pagi dan malam)


selama 2 minggu.

Terapi pemeliharaan pada penyembuhan tukak 12 jari dan


tukak lambung Dewasa: 150 mg, malam hari sebelum tidur.

Keadaan hipersekresi patologis (Zollinger - Ellison,


mastositosis sistemik) Dewasa: 150 mg, 2 kali sehari
dengan

lama

berdasarkan

pengobatan

gejala

klinik

ditentukan
yang

ada.

oleh

dokter

Dosis

dapat

ditingkatkan sesuai dengan kebutuhan masing-masing


penderita. Dosis hingga 6 g sehari dapat diberikan pada
penyakit yang berat.
-

Refluks gastroesofagitis Dewasa: 150 mg, 2 kali sehari.

Esofagitis erosif Dewasa: 150 mg, 4 kali sehari.

Pemeliharaan dan penyembuhan esofagitis erosif Dewasa:


150 mg, 2 kali sehari.

Dosis pada penderita gangguan fungsi ginjal Bila bersihan


kreatinin < 50 mL / menit: 150 mg / 24 jam. Bila perlu dosis

30

dapat ditingkatkan secara hati-hati setiap 12 jam atau


kurang tergantung kondisi penderita.
-

Hemodialisis

menurunkan

kadar

Ranitidine

yang

terdistribusi.
Efek samping:
- Sakit kepala
- Susunan saraf pusat, jarang terjadi: malaise, pusing,
mengantuk, insomnia, vertigo, agitasi, depresi, halusinasi.
- Kardiovaskular,

jarang

dilaporkan:

aritmia

seperti

takikardia, bradikardia, atrioventricular block, premature


ventricular beats.
- Gastrointestinal: konstipasi, diare, mual, muntah, nyeri
perut. Jarang dilaporkan: pankreatitis.
- Muskuloskeletal, jarang dilaporkan : artralgia dan mialgia.
- Hematologik: leukopenia, granulositopenia, pansitopenia,
trombositopenia (pada beberapa penderita). Kasus jarang
terjadi seperti agranulositopenia, trombositopenia, anemia
aplastik pernah dilaporkan.
- Lain-lain, kasus hipersensitivitas yang jarang (contoh:
bronkospasme, demam, eosinofilia), anafilaksis, edema
angioneurotik, sedikit peningkatan kadar dalam kreatinin
serum.
4. Torasic 3X30 mg
Komposisi: Ketorolac tromethamine
Bentuk Sediaan:
- Tablet salut selaput 10 mg
- Ampul 10 mg dan 30 mg
Farmakologi:
Ketorolac tromethamine merupakan suatu analgesik nonnarkotik. Obat ini merupakan obat anti-inflamasi nonsteroid yang
menunjukkan aktivitas antipiretik yang lemah dan anti-inflamasi.

31

Ketorolac tromethamine menghambat sintesis prostaglandin dan


dapat dianggap sebagai analgesik yang bekerja perifer karena tidak
mempunyai efek terhadap reseptor opiat. Farmakokinetik (oral)
ketorolac tromethamine diabsorpsi dengan cepat dan lengkap setelah
pemberian oral dengan konsentrasi puncak rata-rata dalam plasma
sebesar 0,87 mcg/mL setelah 50 menit pemberian dosis tunggal 10
mg. Waktu paruh plasma terminal 5,4 jam pada dewasa muda dan
6,2 jam pada orang lanjut usia. Total bersihan pada orang usia lanjut
sedikit lebih rendah daripada dewasa muda. Ketorolac tromethamine
diserap dengan cepat dan lengkap setelah pemberian intramuskular
dengan konsentrasi puncak rata-rata dalam plasma sebesar 2,2
mcg/mL setelah 50 menit pemberian dosis tunggal 30 mg. Waktu
paruh terminal plasma 5,3 jam pada dewasa muda dan 7 jam pada
orang lanjut usia. Lebih dari 99% ketorolac terikat pada konsentrasi
yang beragam. Farmakokinetik Ketorolac pada manusia setelah
pemberian secara intramuskular dosis tunggal atau multipel adalah
linear. Kadar steady state plasma dicapai setelah diberikan dosis tiap
6 jam dalam sehari.
Indikasi: Untuk penatalaksanaan jangka pendek terhadap nyeri akut
sedang sampai berat setelah prosedur bedah.
Dosis:
Ketorolac ampul ditujukan untuk pemberian injeksi intramuskular
atau bolus intravena, dosis untuk bolus intravena harus diberikan
selama minimal 15 detik. Ketorolac ampul tidak boleh diberikan
secara epidural atau spinal. Mulai timbulnya efek analgesia setelah
pemberian IV maupun IM serupa, sekitar 30 menit, dengan
maksimum analgesia tercapai dalam 1 - 2 jam. Durasi median
analgesia umumnya 4 - 6 jam. Dosis sebaiknya disesuaikan dengan
keparahan nyeri dan respons pasien. Lamanya terapi, pemberian
dosis harian multipel yang terus-menerus secara intramuskular dan
intravena tidak boleh lebih dari 2 hari karena efek samping
dapat meningkat

pada

penggunaan

32

jangka

panjang.

Kontraindikasi: Pasien hipersensitif dengan obat ini, karena ada


kemungkinan sensitivitas silang.
Efek Samping: diare, dispepsia, nyeri ga strointestinal, nausea, sakit
kepala, pusing, mengantuk, berkeringat (nsiden 1% atau kurang),
depresi, mulut kering, euforia, haus berlebihan, parestesia, stimulasi,
vertigo, konstipasi, rasa penuh, kelainan fungsi hati, melena, ulkus
peptikum, perdarahan rektal, stomatitis, muntah, flatus, asma,
dyspnea, pruritus, urtikaria dan pucat.
5. Asam tranexamat
Farmakologi:
Aktivitas antiplasminik : menghambat aktivitas dari aktivator
plasminogen dan plasmin.
Aktivitas hemostatis: mencegah degradasi fibrin, pemecahan
trombosit, peningkatan kerapuhan vaskular dan pemecahan faktor
koagulasi.
Indikasi:
Fibrinolisis lokal seperti : epistaksis, prostatektomi, konisasi serviks.
Edema angioneurotik herediter.
Perdarahan abnormal sesudah operasi.
Perdarahan sesudah operasi gigi pada penderita hemofilia.
Dosis:
500-1000 mg (IV) dengan injeksi lambat (1mL/menit) 3 x sehari
Perdarahan abdominal setelah operasi :
1 gram 3 x sehari pada 3 hari pertama, kemudian dilanjutkan oral 1
gram 3-4 x sehari. Untuk mencegah perdarahan ulang dapat
diberikan per oral 1 gram 3-4 kali sehari selama 7 hari.
Khusus untuk perdarahan setelah operasi gigi pada penderita
hemofilia :Segera sebelum operasi : 10 mg/kg BB (IV), Setelah
operasi : 25 mg/kg BB (oral) 3-4 x sehari selama 6-8 hari.

33

Kontraindikasi:
Penderita perdarahan subaraknoid dan penderita dengan riwayat
tromboembolik.
Penderita dengan kelainan pada penglihatan warna.
Penderita yang hipersensitif terhadap asam traneksamat.
Peringatan dan Perhatian:
Bila diberikan secara intravena, dianjurkan untuk menyuntikkannya
perlahan-lahan.
Hati-hati digunakan pada penderita insufisiensi ginjal karena risiko
akumulasi.
Tidak diindikasikan pada hematuria yang disebabkan oleh parenkim
renal, pada kondisi ini sering terjadi presipitasi fibrin dan mungkin
memperburuk penyakit.
Digunakan pada wanita hamil hanya jika secara jelas diperlukan.
Hati-hati diberikan pada ibu menyusui untuk menghindari risiko
pada bayi.
Efek Samping:
Gangguan-gangguan

gastrointestinal

mual,

muntah-muntah,

anorexia, eksantema dan sakit kepala dapat timbul pada pemberian


secara oral.
Dengan injeksi intravena yang cepat dapat menyebabkan pusing dan
hipotensi. Untuk menghindari hal tersebut maka pemberian dapat
dilakukan dengan kecepatan tidak lebih dari 1 mL/menit.
6. Gentamisin
Sifat fisikokimia: Serbuk agak keputih-putihan. Larut baik dalam
air, tidak larut dalam alkohol, aseton, kloroform, eter dan benzen.
Farmakologi: Didistribusikan melalui plesenta;Volume distribusi
meningkat pada odem, asites dan menurun pada dehidrasi. ;Neonatus
: 0,4- 0,6 per kg BB,;Anak 0,3 -0,35 /kg BB.;Dewasa 0,2-0,3 /kg

34

BB;Protein binding : < 30 %;Waktu paruh eliminasi : ;Infant : umur


< 1 minggu 3-11,5 jam. 1 minggu -6 bulan 3-3,5 jam.;Dewasa ; 1,5-3
jam.;Pasien dengan gangguan ginjal 36-70 jam;Kadar puncak
serum : i.m 30-90 menit; i.v. 30 menit setelah pemberian dengan
infus;Ekskresi : Urin
Kontra

indikasi:

Hipersensitif

terhadap

Gentamisin

dan

Aminoglikosida lain
Efek samping: > 10%;- Susunan syaraf pusat : Neurotosisitas
(vertigo, ataxia) ;- Neuromuskuler dan skeletal : Gait instability;Otic : Ototoksisitas (auditory), Ototoksisitas (vestibular);- Ginjal :
Nefrotoksik

meningkatkan

klirens

kreatinin)

;1%-10%;-

Cardiovaskuler : Edeme;- Kulit : rash, gatal, kemerahan;< 1%;Agranulositosis ;- Reaksi alergi;- Dyspnea;- Granulocytopenia;Fotosensitif;- Pseudomotor Cerebral;- Trombositopeni
Interaksi makanan: Harus dipertimbangkan terhadap diet makanan
yang mengandung Calcium, magnesium , potassium
Interaksi obat: Penisilin, Sefalosporin, Amfoterisin B, Diuretik
dapat meningkatkan efek nefrotoksik, efek potensiasi dengan
neuromuscular blocking agent
Pengaruh kehamilan: Factor risiko : C
Pengaruh menyusui: Dieksresi melalui ASI dalam jumlah kecil
Parameter monitoring: Analisis urin, jumlah urin yang keluar
BUN, serum kreatinin, pemantauan pendengaran untuk pemakaian >
dari 2 minggu. Beberapa derivat Penisilin dapat mempercepat
degradasi aminoglikosida secara in-vitro
Bentuk sediaan: Krem, Topical Sebagai Sulfat 0,1 % (15 g, 30
g);Infus, Sebagai Sulfat (Premixed in NS) 40 mg (50 ml); 60 mg (50
ml, 100 ml); 70 mg (50 ml); 80 mg (50 ml, 100 ml);90 mg (100 ml);
100 mg (50 ml, 100 ml); 120 mg (100 ml);Larutan Injeksi, Sebagai
Sulfat 10 mg/ml (6 ml, 8 ml,10 ml) Vial;Larutan Injeksi, Sebagai
Sulfat 40 mg/ml (2 ml, 20 ml) (Dapat Mengandung Metabisulfit)
;Larutan Injeksi, Pediatrik Sebagai Sulfat 10 mg/ml (2 ml) (Dapat

35

mengandung Metabisulfit) ;Larutan Injeksi, Pediatrik Sebagai Sulfat


(Preservative Free) : 10 mg/ml (2 ml);Saleb Mata Sebagai Sulfat
0,3% (3 mg/g (3,5 g));Saleb Kulit Sebagai Sulfat 0,1% (15 g, 30
g);Tetes Mata Sebagai Sulfat 0,3% (5 ml, 15 ml) Mengandung
Benzalkonium Klorida
Peringatan: Jangan digunakan pada pengobatan yang lama karena
dapat berisiko toksik pemberian yang lama yaitu penurunan fungsi
ginjal, miastenia gravis, hipokalsemia, kondisi dengan depresi
neuromuskuler transmitens; Aminoglikosoda secara parenteral dapat
menimbulkan nefrotoksisitas dan ototoksisitas dapat secara langsung
secara proporsional dengan jumlah obat yang diberikan dan durasi
pengobatan; tinnitus atau vertigo adalah indikasi dari ;vestibular
injuri dan mengancam hilangnya pendengaran.
7. Anti tetanus serum
adalah antisera yang dibuat dari plasma kuda yang dikebalkan
terhadap tetanus, serta mengandung fenol sebagai pengawet, berupa
cairan bening kekuningan.
Indikasi: Untuk pencegahan tetanus pada luka yang terkontaminasi
dengan tanah, debu jalan atau bahan lain yang dapat menyebabkan
infeksi Clostridium tetani, pada seseorang yang tidak yakin sudah
diimunisasi atau yang belum diimunisasi lengkap dengan vaksin
tetanus. Serum Anti Tetanus 20.000 IU untuk pengobatan terhadap
tetanus
Cara kerja: Imunisasi pasif, pada penyuntikan dimasukkan serum
anti tetanus yang mampu untuk menetralisir toksin tetanus yang
beredar

dalam

darah

penderita.

Dosis:
-

Pencegahan tetanus 1 dosis profilaktik (1.500 IU) atau


lebih, diberikan secara intramuskular.

Pengobatan tetanus : 10.000 IU atau lebih, secara


intramuskular atau intravena tergan- tung keadaan penderita

36

Lakukan uji kepekaan terlebih dahulu, bila peka lakukan


desensitisasi.

Cara pemberian ada 2 yaitu intramuscular dan iv.


a) Intrramuskular
-

Hasil uji kepekaan harus negative

Penyuntikan harus dilakukan secara perlahan

Penderita harus diamati paling sedikit selama 30 menit

b) Intravena
-

Lakukan penyuntikan secara intra- muskular terlebih dahulu

Bila tidak ada gejala alergi, lakukan penyuntikan intravena

Penyuntikan harus dilakukan secara perlahan

Penderita harus diamati paling sedikit selama 1 (satu) jam

Non Farmakologis
Tujuan dari penatalaksanaan fraktur terbuka adalah:
1. Jangka pendek

: menghilangkan/menurunkan keluhan yang

dialami pasien
2. Jangka panjang

mencegah

tejadinya

deformitas

dan

kecacatan
3. Cara

: menurunkan faktor resiko, mengobati

keluhan pasien dengan obat-obatan dan rehabilitasi medic.


4. Kegiatan

: istirahat cukup dan imobilisasi.

37

BAB V
PENUTUP
1.1 Kesimpulan
Diagnosis holistik An. S adalah :
a. Diagnosa biologis
: open fracture kominutif patella sinistra
b. Diagnosis psikologis : Hubungan An. S dengan anggota keluarganya
cukup baik.
c. Diagnosis ekonomi : Status ekonomi menengah ke atas
d. Diagnosis sosial
: Hubungan dengan masyarakat sekitar baik.
1.2 Saran
1. Primer Healt Promotion : Memakai APD saat mengendarai sepeda
motor, memiliki SIM (usia>18 tahun)
2. Sekunder Prompt Treatment: rehidrasi, reduksi, retensi, recognisi dan
rehabilitasi
- Early Diagnosis: tanda, gejala, pemeriksaan fisik dan X-ray
region genue sinistra
- Disability Limitation: Operasi dan pasang back slap.
3. Tersier Rehabilitasi: istirahat, elevasi lengan 10 cm diatas jantung,
latihan ROM aktif dan pasif.

DAFTAR PUSTAKA

38

1. Price., et al. 2006. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-proses Penyakit. Ed


6. Jakarta: EGC
2. Ariana,
Sinta.
2011.
Anatomi
sistem
muskuloskeletal
http://sintadotners.wordpress.com/2011/10/17/anatomi-sistemmoskuleskeletal/ diunduh pada tanggal 28 oktober 2014
3. Smeltzer, Suzanne C. dan Bare, Brenda G. 2002. Buku Ajar Keperawatan
Medikal Bedah Brunner dan Suddarth. Ed.8, Vol. 1, 2, Alih bahasa oleh
Agung Waluyo(dkk). Jakarta: EGC
4. Mansjoer Arif. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Jilid 2. Media. Jakarta:
Aesculapius FKUI
5. Doengoes, Marlyn E, Moorhouse, Mary F dan Geissler, Alice C. 2000.
Rencana Keperawatan Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian
Perawatan Pasien. Edisi 3, Alih Bahasa I Made Kriasa, EGC, Jakarta
6. Brunner, L dan Suddarth, D. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medical
Bedah (H. Kuncara, A. Hartono, M. Ester, Y. Asih, Terjemahan). Ed.8. Vol
1. Jakarta : EGC
7. Carpenito, Lynda Juall. 2007. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Edisi
10. Alih Bahasa Yasmin Asih, S.Kp, Penerbit Buku Kedokteran. Jakarta:
EGC
8. Angela, Ika. 2012. Penyembuhan patah tulang. http://ichavens.blogspot.com/2012/05/tips-penyembuhan-patah-tulang.html diunduh
pada tanggal 27 oktober 2014
9. Muttaqin, Arif. 2008. Asuhan Keperawatan Klien Gangguan Sistem
Muskuloskeletal. Jakarta: EGC
10. Hanifah,
Aisyah.
2010.
Fracture
Healing.
http://aasiyahhaniifah.blogspot.com/2010/07/fraktur-healing.html diunduh
pada tanggal 27 Oktober 2014
11. Anonim. 2010. ISO (Informasi Spesialite Obat Indonesia). Volume 45.
Jakarta: Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia. Hal. 421-425.

39

Anda mungkin juga menyukai