Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN

PRAKTIKUM FISIKA EKSPERIMEN I


STATISTIK PENCACAHAN RADIOAKTIF

Disusun oleh :
Nama Praktikan
Asisten Praktikum
Hari/Tanggal Praktikum

: Ekalia Ardenti
(H1E012022)
Maskhiyatus Shokhib
(H1E012026)
: Reza Febiyanto
: Selasa, 11 November 2014

SEMESTER GANJIL
TAHUN AKADEMIK 2014/2015

LABORATORIUM EKSPERIMEN
PROGRAM STUDI FISIKA
JURUSAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS SAINS DAN TEKNIK
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
PURWOKERTO
2014

Pencacah Radioaktif
Oleh:Ekalia Ardenti (H1E012022) dan Maskiyatus Shokhib (H1E012026)
ABSTRAK
Eksperimen pencacahan radioaktif

telah dilakukan guna memperlihatkan

adanya sebaran partikel radiasi yang dihasilkan oleh sumber radiasi. Ekperimen ini
dilakukan dengan cara mengukur titik-titik yang berada di sekitar sumber radiasi
60

Co. Radiasi terbesar berada pada titik (-6,0) sebesar 48 cpm dan radiasi terkecil

berada pada titik (-3,0) sebesar 20 cpm. Sedangkan pada titik (3,0) radiasinya sebesar
44 cpm. Hasil ini sesuai dengan pustaka bahwa suatu sumber zat radioaktif dapat
memancarkan lebih dari satu jenis radiasi. Sehingga untuk mendapatkan hasil
pengukuran yang mendekati keadaan sebenarnya, maka perlu diperhatikan skema
peluruhannya.
Kata kunci; radioaktif, 60Co, peluruhan.

ABSTRACT
Experiments were conducted to show the distribution of particle radiation
produced by the radiation source . This experiment was done by measuring the points
that surround the 60Co radiation source . Is the largest radiation at a point ( -6.0 ) at
48 cpm and radiation is at its smallest ( -3.0 ) at 20 cpm . While at the point ( 3,0 )
radiation at 44 cpm . These results are consistent with the literature that a radioactive
source can transmit more than one type of radiation . So as to obtain measurement
results that are close to the actual situation, it is necessary to note the decay scheme.
Keywords ; radioactive, 60C, shedding.

I.

TUJUAN
Tujuan dari praktikum ini adalah menyelidiki sifat acak dari peluruhan
radioaktif dengan menggunakan statistik dan membandingkan model distribusi
Poisson dan distribusi Gauss untuk menjelaskan statistika peluruhan radioaktif.

II. TEORI DASAR


A. Detektor Radiasi
Hal yang paling mendasar untuk mengendalikan bahaya radiasi adalah
mengetahui besarnya radiasi yang dipancarkan oleh suatu sumber radiasi (zat
radioaktif atau mesin pemancar radiasi), baik melalui pengukuran maupun
perhitungan. Keberadaan radiasi tidak dapat dirasakan secara langsung oleh
sistem panca indera manusia. Radiasi tidak bisa dilihat, dicium, didengar, maupun
dirasakan. Oleh sebab itu, untuk keperluan mengetahui adanya dan mengukur
besarnya radiasi, manusia harus mengandalkan pada kemampuan suatu peralatan
khusus (Bapeten, 2010).
Pada prinsipnya, pendeteksian dan pengukuran radiasi dengan menggunakan
alat ukur radiasi memanfaatkan prinsip-prinsip kemampuan interaksi (salingtindak) antara radiasi dengan materi. Setiap alat ukur radiasi selalu dilengkapi
dengan detektor yang mampu mengenali adanya radiasi. Apabila radiasi melewati
bahan suatu detektor, maka akan terjadi interaksi antara radiasi dengan bahan
detektor tersebut (terjadi pemindahan energi dari radiasi yang datang ke bahan
detektor). Perpindahan energi ini menimbulkan berbagai jenis tanggapan
(response) yang berbeda-beda dari bahan detektor tersebut. Jenis tanggapan yang
ditunjukan oleh suatu detektor terhadap radiasi tergantung pada jenis radiasi dan
bahan detector yang digunakan. Pendeteksian keberadaan dan atau besarnya

radiasi dilakukan dengan mengamati tanggapan yang ditunjukan oleh suatu


detector (Bapeten, 2010).
Untuk mengukur besarnya tanggapan yang diberikan oleh bahan detektor,
maka detektor tersebut dihubungkan dengan peralatan khusus yang mampu
mengubah tanggapan-tanggapan tersebut menjadi sinyal-sinyal elektronik.
Selanjutnya, sinyal-sinyal elektronik tersebut diubah/dikonversikan ke dalam
besaran tertentu. Dengan menggunakan faktor konversi tertentu, besaran-besaran
tersebut dapat ditampilkan secara digital/analog sebagai hasil akhir berupa angkaangka yang menunjukan besarnya radiasi yang diterima oleh bahan detector
(Bapeten, 2010).
Ada sejumlah peralatan yang dapat digunakan untuk mendeteksi efek-efek
pada partikel dan foton (sinar gamma) yang dipancarkan ketika inti radioaktif
meluruh [1]. Untuk mengamati radioaktivitas diperlukan suatu peralatan yaitu
detektor. Alat ini dapat berinteraksi cukup efisien dengan sinar radioaktif. Pada
umumnya detektor radiasi dibagi dalam 3 golongan:
1. Detektor

Isian

Gas:

Geiger-Muller,

Kamar

pengionan,

detektor

proporsional
2. Detektor Sintilasi: NaI(Tl), LSC, Sintasi plastik
3. Detektor semikonduktor: GeLi, HPGe, SiLi (Azam, dkk. 2007)
B. Statistik Peluruhan Radioaktif
Radiasi dipancarkan secara acak (random) sehingga pengukuran radiasi
berulang meskipun dilakukan dengan kondisi yang sama akan memperoleh hasil
pengukuran yang berfluktuasi (berbeda-beda). Sifat acak suatu pengukuran selalu
mengikuti suatu distribusi tertentu, sebagai contoh eksperimen uang logam dan
dadu di atas mengikuti distribusi binomial. Bila distribusi binomial tersebut
mempunyai probabilitas sangat kecil maka akan berubah menjadi distribusi
Poisson, sedangkan bila distribusi Poisson tersebut menghasilkan nilai ukur yang
besar (beberapa literatur menuliskan > 40) maka berubah menjadi distribusi
Gauss (Normal). Zat radioaktif mempunyai konstanta peluruhan ( ) yang sangat
kecil, misalnya U-238 adalah 4.88 10-18 dan aktivitas sumber biasanya bernilai
sangat besar dalam orde Bq (peluruhan per detik), misalnya aktivitas 1 Ci

setara dengan 3.7 104 peluruhan per detik. Oleh karena itu pancaran radiasi
mengikuti distribusi Gauss (Normal) (Batan, 2000).

Gambar 1. Distribusi Gauss


Gambar di atas menunjukkan probabilitas nilai ukur yang mungkin dihasilkan
oleh pengukuran berulang terhadap suatu besaran yang mengikuti distribusi
Gauss. Terlihat bahwa nilai ukur yang dihasilkannya dapat bermacam-macam,
dengan probabilitas terbesar adalah terletak pada nilai rata-ratanya (Batan, 2000).

Gambar 2. Intensitas radiasi yang dipancarkan suatu sumber radiasi


Oleh karena aktivitas zat radioaktif bersifat acak mengikuti distribusi Gauss
(Normal) maka intensitas radiasi yang terukurpun akan bersifat acak sehingga
data hasil pengukurannya juga akan mengikuti distribusi Gauss. Pengukuran
intensitas radiasi yang dilakukan secara berulang pasti akan memperoleh hasil
pengukuran yang berbeda-beda. Yang menjadi pertanyaan adalah berapakah
nilai ukur yang sebenarnya. Dengan fenomena tersebut di atas maka pengukuran

intensitas radiasi harus dilakukan secara berulang, baik beberapa kali atau dalam
selang waktu cukup panjang, yang berarti akumulasi nilai dari pengulangan
waktu beberapa detik. Nilai ukur sebenarnya diduga berada di dalam rentang
nilai rata-rata nilai simpangannya. Sebagaimana perhitungan matematika biasa,
nilai rata-rata dapat dihitung dengan persamaan berikut

(1)
Sedangkan nilai simpangan ( ) dari pengukuran tunggal suatu besaran yang
mengikuti distribusi Gauss adalah akar dari nilai ukurnya

x
(2)
(Batan, 2000).

C. Radioaktivitas
Radioaktivitas adalah suatu gejala yang menunjukan adanya aktivitas inti
atom yang disebabkan karena inti atom tidak stabil. Zat radioaktif sendiri dibagi
ke dalam dua kelompok yaitu :
Zat radioaktif alamiah, merupakan zat radioaktif yang secara alamiah telah
terdapat di alam. Ciri cirinya zat tersebut memancarkan partikel , ,
dan .

Zat radioaktif buatan, merupakan zat radioaktif yang dibuat di


laboratorium untuk keperluan penelitian (isotop). Ciri-cirinya zat tersebut
memancarkan partikel selain , , dan .
Peluruhan radioaktif adalah peristiwa hilangnya energi dari inti atom yang
tidak stabil dengan memancarkan radiasi dan partikel-partikel pengion.
Peluruhan atau hilangnya energi ini akan menghasilkan jenis atom lain yang
stabil. Atom baru yang dihasilkan ini dinamakan inti anak (daughter nuclide),
sedangkan atom yang meluruh dinamakan inti ibu (parent nuclide). Peristiwa
peluruhan merupakan peristiwa acak ditingkat atom, sehingga sangat sulit
memperkirakan kapan suatu atom tertentu akan meluruh. Proses peluruhan
bersifat statistik eksponensial. Jumlah inti atom untuk meluruh setiap saat N
bergantung pada jumlah sampel mula-mula inti induk No, selang waktu peluruhan
t, dan tetapan desintegrasi () (Arthur, Baisner. 1990).

Peluruhan radioaktif merupakan kejadian statistik murni dan bersifat acak.


Hal ini sulit untuk memprediksi jumlah peluruhan sebuah atom yang akan
meluruh pada detik berikutnya.
N N 0e t

(3)
dengan:
N0 = banyaknya inti radioaktif mula-mula,
N = banyaknya inti radioaktif setelah meluruh selama t sekon,
e = bilangan natural = 2,718,
= konstanta peluruhan.
Persamaan (4) disebut hukum peluruhan radioaktivitas. Karena aktivitas
radioaktif sebanding dengan banyaknya inti radioaktif, maka berlaku
A A0e t

(4)
dengan A = aktivitas setelah waktu t
dan A0 = aktivitas awal.

Gambar 3. Grafik peluruhan zat radioaktif

III.

METODOLOGI PENELITIAN

A. Waktu dan Tempat


Praktikum statistik pencacah Radioaktif dilaksanakan pada hari Selasa, 11
November 2014. Praktikum ini dilaksanakan di Laboratorium Fisika Eksperimen
I, Program Studi Fisika, Jurusan MIPA, Universitas Jenderal Soedirman,
Purwokerto, Jawa Tengah.
B. Alat dan Bahan
Dalam praktikum ini menggunakan beberapa alat dan bahan. Peralatan
yang digunakan adalah:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Tabung detektor Geiger-Muller (GM)


Kotak pemegang tabung GM
Pencacah (counter) GM
Sumber radioaktif gamma Co-60 5,27 year
Pinset
Sarung tangan
Rak sampel
Stopwatch

Gambar 3: Skema rangkaian statistika pencacahan radioaktif


C. Cara Kerja
1. Menyiapkan peralatan dan bahan yang akan digunakan
2. Peralatan disusun seperti gambar 3
3. Dengan memakai sarung tangan dan menggunakan pinset sumber radiasi
( Co60) digantung diatas pusat koordinat kartesius (0,0)
4. Detektor Red Alert 50 diatur pada satuan cacah per menit (cpm)
5. Detektor Red Alert 50 dihidupkan kemudian diletakkan di bawah sumber
radiasi pada posisi yang ditentukan (posisi (0,0)) dan posisi sensor tegak
lurus dengan sumber radiasi
6. Angka yang tertera pada detektor dicacat sebagai nilai cacah
7. Detektor radiasi dimatikan
8. Langkah 5-6 diulang untuk letak detektor yang lain

SumberRadiasi(60Co)

Pelindung/
pembatas
Mulai
Nilai cacah per menit (dalambentuk digital)

D. Flowchart

Menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan


Detektor Red Alert 50
Peralatan disusun seperti gambar 3

Sumber radiasi Co-60 digantung di koordinat (0,0)

Detektor radiasi diatur pada satuan cpm

Detektor radiasi diletakan tepat di bawah sumber radiasi

Detektor radiasi dihisupkan

Nilai radiasi yang terbaca (cpm) dicatat

Detektor radiasi dimatikan

Nilai data pencacahan sudah diperoleh untuk semua titik?

Data dianalisis

Selesai

IV.
1

HASIL PENGAMATAN DAN PERHITUNGAN


Penyetelan Peralatan Geiger-Muller (GM)

No

Tegangan Operasi
GM

Cacah per menit (cpm)

1
2
3
4
2

17
13
18
21

Statistika Peluruhan
POSISI (x,y)
Utara

Selatan
Timur

Barat

V.

(0,3)
(0,6)
(0,9)
(0,12)
(0,-3)
(0,-6)
(0,-9)
(3,0)
(6,0)
(9,0)
(-3,0)
(-6,0)
(-9,0)
(-12,0)

Cpm
32
34
34
25
31
34
36
44
34
23
20
48
35
33

PEMBAHASAN
Detektor merupakan suatu bahan yang peka terhadap radiasi, yang bila
dikenai radiasi akan menghasilkan tanggapan mengikuti mekanisme yang
telah dibahas sebelumnya. Suatu bahan yang sensitif terhadap suatu jenis
radiasi belum tentu sensitif terhadap jenis radiasi yang lain. Sebagai contoh,

detektor radiasi gamma belum tentu dapat mendeteksi radiasi neutron.


Detektor radiasi bekerja dengan cara mengukur perubahan yang disebabkan
oleh penyerapan energi radiasi oleh medium penyerap. Sebenarnya terdapat
banyak mekanisme yang terjadi di dalam detektor tetapi yang sering
digunakan adalah proses ionisasi dan proses sintilasi.
Percobaan statistik pencacahan radioaktif yang telah dilakukan dengan
menggunakan sumber radioaktif Co-60 yang mempunyai waktu paro T1/2 5,27
tahun dan mempunyai aktivasi 1 Ci. Co-60 ini merupakan inti dari zarah
gamma. Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan diperoleh nilai cacah
dengan pola penyebaran sebagai berikut :

Gambar 4. Pola penyebaran radiasi 60Co

cpm

Sebaran cacah radiasi yang ditunjukkan pada kontur bersifat acak. Warna
merah tua hingga warna ungu menunjukkan besar kecilnya cacah radiasi yang
terdeteksi oleh surveymeter. Sumber warna merah tua artinya cacah radiasi yang
terdeteksi semakin besar. Sebaliknya, sumber warna ungu artinya cacah radiasi
yang terdeteksi semakin kecil. Rapat renggangnya garis berwarna merah
menunjukkan banyak sedikitnya titik pengukuran disekitar sumber radiasi Pola
distribusi cacah radiasi diatas tidak merata, dikarenakan partikel (udara) ruang
pengamatan yang tidak homogeny. Intensitas cacah radiasi dipengaruhi oleh
jarak dengan sumber radiasi dan rapat partikel (materi) ruang tersebut.

Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan, , terdapat salah satu nilai


dari radiasi latar yang menunjukkan ketidaksesuaian dengan yang lain. Yaitu
ketika jarak dari sumber radiasi menjauh, nilai yang diperoleh dari detektor lebih
besar dari jarak yang lebih dekat. Hal ini bisa terjadi karena beberapa faktor.
Salah satunya yaitu detektor yang digunakan. Karena setiap pengukuran selalu
mempunyai kesalahan (eror), oleh karena itu hasil pengukuran atau kalkulasi
yang berdasarkan hasil pengukuran harus ditampilkan dalam bentuk suatu
rentang nilai (bukan nilai tunggal). Rentang nilai tersebut adalah ketidak-pastian
suatu pengukuran. Nilai ukur sebenarnya yang diduga berada di dalam rentang
nilai tersebut.

VI.

KESIMPULAN

1. Setelah melakukan percobaan statistik pencacahan radioaktif dengan


menggunakan detektor radiasi dapat dipahami bahwa Sifat peluruhan
radioaktif terjadi secara acak. Hal ini terlihat dari nilai cacah permenit nya
yang nilainya tidak konstan baik pada titik yang berbeda maupun pada satu
titik saja. Pencacahan radioaktif merupakan proses eksponensial.
2. Radiasi tertinggi berada di titik (-6,0) sebesar 48 cpm dan tingkat radiasi
terendah di titik (-3,0) sebesar 20 cpm. Hasil tersebut mengindikasikan
bahwa suatu zat radioaktif dapat memancarkan lebih dari satu jenis radiasi.

VII.

Daftar Pustaka

Azam, M., dkk. 2007. Penentuan Efisiensi Beta Terhadap Gamma pada
Detektor Geiger Muller. Jurnal Sains dan Matematika (JSM) Volume
15, Nomor 2, April 2007 ISSN 0854-0675. Universitas Diponegoro :
Semarang.
Bapeten. 2010. Alat Ukur Radiasi.
http://ansn.bapeten.go.id/files/ins_Alat_Ukur_Radiasi.pdf. Diakses
pada tanggal 14 November 2014 pukul 20:09.
Batan, 2000. Pengukuran Radiasi.
http://www.batan.go.id/pusdiklat/elearning/Pengukuran_Radiasi/_priva
te/Statistik

%20Pencacahan.pdf. Diakses pada tanggal 14

November pukul 19:56.


Beiser, Arthur. 1990. Konsep Fisika Modern. Erlangga : Jakarta.