Anda di halaman 1dari 2

Otonomi Daerah

1. Pengertian Otonomi Daerah


Otonomi daerah secara harafiah yaitu otonomi dan daerah. Otonomi berasal dari bahawa
Yunani, yaitu autos dan namos. Autos berarti sendiri dan namos berarti aturan atau undangundang. Sehingga dapat dikatakan bahwa otonomi daerah adalah kewenangan suatu daerah untuk
mengatur sendiri atau kewenangan untuk membuat aturan guna menggurus urusan daerahnya
sendiri.1 Berdasarkan UU No.23 tahun 2014, otonomi daerah adalah hak, wewenang, dan
kewajiban daerah otonom untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan
kepentingan masyarakat setempat dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia. 2
Berikut merupakan pengertian otonomi daerah menurut para ahli :
1. Otonomi Daerah menurut F. Sugeng Istianto
Hak dan wewenang untuk mengatur dan mengurus rumah tangga daerah
2. Otonomi Daerah menurut Syarif Saleh
Hak mengatur dan memerintah daerah sendiri dimana hak tersebut merupakan hak
yang diperoleh dari pemerintah pusat
3. Otonomi Daerah menurut Ateng Syarifuddin
Otonomi mempunyai makna kebebasan atau kemandirian tetapi bukan kemerdekaan
melainkan kebebasan yang terbatas atau kemandirian itu terwujud pemberian
kesempatan yang harus dapat dipertanggungjawabkan
4. Otonomi daerah menurut Benyamin Hoesein
Pemerintahan oleh dan untuk rakyat di bagian wilayah nasional suatu Negara secara
informal berada di luar pemerintah pusat
2. Tujuan Otonomi Daerah
Dalam menyelengarakan otonomi daerah, tentu setiap pemerintah daerah memiliki
kewenangan untuk mengatur seluas-luasnya atas aturan atau kebijakan didalam daerahnya.
Namun dalam pelaksanaannya pemerintah daerah tentu tidak boleh melupakan tujuan dari
otonomi daerah. Berdasarkan Undang-Undang No. 23 Tahun 2014, tujuan dari penyelenggaraan
otonomi daerah adalah untuk mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat melalui
peningkatan pelayanan, pemberdayaan, dan peran serta masyarakat, serta peningkatan daya saing
daerah dengan memperhatikan prinsip demokrasi, pemerataan, keadilan, dan kekhasan suatu
daerah dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia. Berdasarkan ketentuan tersebut dapat
disimpulkan bahwa terdapat tiga tujuan utama, yaitu meningkatkan kesejahteraan masyarakat,
pelayanan umum dan daya saing daerah.
3. Integrasi Nasional
Integrasi Nasional adalah usaha dan proses mempersatukan perbedaan-perbedaan yang ada
pada suatu negara, sehingga tercipta keserasian dan keselarasan nasional. Karena Indonesia
merupakan negara kepulauan, menyebabkan Indonesia memiliki berbagai macam
1 http://otonomidaerah.com/pengertian-otonomi-daerah/, diakses pada 18
Desember 2014.
2

keanakaragaman. Keanekaragaman tersebut dapat berupa budaya, sumber daya alam dan sumber
daya manusia. Jika dengan berbagai macam perbedaan tersebut dapat diintegrasikan dengan baik,
tentu akan menjadikan Indonesia semakin kuat. 3 Namun dengan berbagai macam karakter dan
budaya, dapat juga membuat terjadinya konflik. Berikut merupakan factor-faktor pendorong
terjadinya integritas nasional, yaitu :
1. Faktor sejarah yang menimbulkan rasa senasib dan seperjuangan.
2. Keinginan untuk bersatu di kalangan bangsa Indonesia sebagaimana dinyatakan dalam
Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober 1928.
3. Rasa cinta tanah air di kalangan bangsa Indonesia, sebagaimana dibuktikan perjuangan
merebut, menegakkan, dan mengisi kemerdekaan.
4. Rasa rela berkorban untuk kepentingan bangsa dan Negara, sebagaimana dibuktikan oleh
banyak pahlawan bangsa yang gugur di medan perjuangan.
5. Kesepakatan atau konsensus nasional dalam perwujudan Proklamasi Kemerdekaan,
Pancasila dan UUD 1945, bendera Merah Putih, lagu kebangsaan Indonesia Raya, bahasa
kesatuan bahasa Indonesia.
Suatu integrase nasional dapat diupayakan melalui assimilation ataupun cultural autonomy.
Asimilasi merupakan hasilakhir yang mampu menciptakan suatu keadaan bagi terciptanya a
cultural solidarity sufficient at least to sustain a national sustain a national existence. Untuk menuju
integrasi nasional yang kuat, diperlukan old habits are broken-up and a new coordination are made.
Karena asimilasi lebih merupakan suatu political policy, apakah didasarkan atas paham asimilasionis
ataukah pluralis, kesemuanya akan tergantung pada kesepakatan bersama di kalangan warga negara
suatu bangsa, demikian pula apakah berisfat sentripetal ataukah sentrifugal. 4
Akhirnya, suatuintegrasi nasional juga mengandung aspek psikologis, antara lain berkaitan
dengan tingkat kepuasan tertentu dari suatu suku-bangsa atau golongan yang terlibat dalam asimilasi.
Dalam upaya mewujudkan integrase nasional, apakah hasil dari suatu mufakat ataukah sekedar
persesuaian, terutama yang berkaitan apakah merupakan hasil dari kebijakan yang bersifat sentripetal
atau sentrifugal. Apabila terjadi ketidaksesuaian, berarti kelompok superiordinal yang menang atas
kebijakan yang bersifat sentripetal. Sementara kelompok subordinal lebih menghendaki yang bersifat
sentrifugal.5

3 http://putriwindu.wordpress.com/2012/04/29/integrasi-nasional/, diakses pada


18 Desember 2014.
4 Poerwanto, 1999, Asimilasi, Akulturasi, dan Integrasi Nasional, Jurnal Budaya,
Satra, dan Bahasa Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada. Hal. 35
5 Poerwanto, 1999, Asimilasi, Akulturasi, dan Integrasi Nasional, Jurnal Budaya,
Satra, dan Bahasa Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada. Hal. 36