Anda di halaman 1dari 9

DYSBARISM

(dr. Sukardji, Sp.KP)


UMUM
Perubahahan atau menurun/menaiknya tekanan sekitar tubuh banyak
mempengaruhi faal tubuh, bahkan dapat berakibat fatal. Banyak penelitian yang
dilakukan orang sehingga banyak nama dipakai orang untuk kelainan ini.
DEFINISI
Dysbarism adalah semua kelainan faal tubuh akibat perubahan tekanan
sekitar tubuh, kecuali hypoxia dan keracunan oxygen.
SEJARAH

ROBERT BOYLE meneliti viper yang dimasukkan dalam ruangan yang


tekanan udaranya diperkecil. Ditemukan adanya gelembung udara di

selaput mata viper ini. (th 1670)


TRIGER membuat caisson untuk pekerjaan dibawah air laut. Akibatnya
banyak pekerja yang sakit, bahkan ada yang fatal, setelah selesai tugas.
(th 1850)
Poll dan watelle menyebut kelainan ini dengan Compress air ilness atau
Caisson Disease.

DE MERIOURT menemukan Caisson Disease ini pada penyelam bunga


karang. Dia mengatakan bahwa Caisson Disease bukan hanya perubahan
tekanan

udara

sekitar

tubuh,

tetapi

dapat

juga

disebabkan

oleh

perubahan tekanan air di sekitar tubuh.(th 1869)


PAUL BERT menulis buku La Pression Barometrique yang mengupas
tentang penyebab terjadinya Caisson Disease adalah pelepasan udara

dari dalam tubuh.(th 1878)


Sampai abad ke XX masih banyak peneliti tentang dysbarism ini.

NAMA LAIN
Banyak nama diberikan oleh orang untuk kelainan akibat perubahan
tekanan sekitar tubuh ini. Antara lain :

Poll dan watelle menyebut kelainan ini dengan Compress air ilness atau

Caisson Disease.
Para pakar kesehatan penerbangan yang tua-tua menyebutnya Penyakit

Dekompresi.
H.F Adler menyebutnya Dysbarism.

Aero Embolism.
Aero Emhysema.
Pompholy Embolism.

PEMBAGIAN
1.

2.

H.F Adler membagi Dysbarism menjadi dua, yaitu :


Hyperbarism, bila tekanan sekitar tubuh membesar.
Hypobarism, bila tekanan sekitar tubuh mengecil.
H.G Amstrong membagi penyakit dekompresi ini menjadi dua, yaitu :
Akibat pengembangan gas yang terperangkap dalam tubuh.
Akibat penguapan gas yang larut dalam tubuh.

Jenis kelainan atau penyakit akibat pengembangan gas :

Aerotitis
Aerisinusitis
Gangguan pada traktus digastivus.
Aerodontologi

Jenis kelainan atau penyakit akibat penguapan gas :

Bends
Chokes
Kelainan kulit
Kelainan syaraf

AEROTITIS
Rasa nyeri di telinga akibat perubahan tekana udara sekitar tubuh. Rasa
nyeri ini akibat perbedaan tekanan antara cavum tympani dan telinga luar, yang
menyebabkan membrana tympani terdorong ke dalam atau keluar. Rata-rata
membrana tympani akan pecah bila selisih tekanan lebih dari 100 mmHg.
Oleh karena bentuk anatomi tuba eustachii maka pada waktu tekanan
udara bertambah lebih sering terjadinya kelainan ini dan juga lebih berat rasa
sakitnya.
AEROSINUSITIS
Prosesnya sama seperti aerotitis, hanya tempatnya pada sinus nasalis.
Aerosinusitis nasalis lebih sering terjadi. Aerosinusitis frontalis sangat jarang
terjadi, namun bila terjadi maka rasa sakitnya hebat sekali. Sedang aerosinusitis
ethmoidalis tidak pernah dijumpai orang.
GANGGUAN PADA TRAKTUS DIGESTIVUS
Gangguan rasa nyeri ini hanya dirasakan pada lambung. Sesuai dengan
hukum boyle, gas yang berada dalam lambung akan mengembang bila tekanan

udara di luar tubuh mengecil. Jadi rasa sakit ini hanya terasa bila kita menuju ke
ketinggian dan tidak terasa pada waktu turun.
AERODONTOLOGI
Rasa sakit pada gigi akibat adanya gas yang terperangkap di dalam gigi
sebagai akibat penambalan gigi yang tidak sempurna.
BENDS
Rasa nyeri di sendi, tulang,dan otot sebagai akibat penguapan gas yang
terlarut dalam tubuh. Terjadinya hanya pada extremitas termasuk bahu dan
pinggul.

Dinamakan

bends

karena

penderitanya

selalu

membongkokkan

sendinya untuk mengurangi sakitnya. Bends ini paling sering terjadi bila
dibandingkan dengan chokes, kelainan kulit atau kelaian syaraf. Rasa sakit ini
sebenarnya sukar dilokalisir oleh penderitanya. H.F Adler menemukan pada
penderita

bends

akibat

terbang

pada

ketinggian

38.000

ft

dengan

decompression chamber yang jumlahnya 158 orang, yang mengatakan rasa


sakitnya di sendi 54%, yang merasakan sakitnya di otot 26% dan yang
menyatakan rasa sakitnya di tulang 20%.
CHOKES
Rasa sakit di leher seperti tercekik dan batuk-batuk kering. Chokes ini
terjadi pada penyakit dekompresi yang berat dan mengancam jiwa. Oleh karena
itu bila penerbang mengalani chokes harus segera turun dan diterapi dengan
hyperbaric chamber.
Rasa sakit seperti tercekik dan batuk kering ini bisa juga terjadi pada
penerbang yang terbang tinggi dan bernafas dengan 100% oxygen bertekanan
tambahan. Kejadian ini disebut chokes palsu.
KELAINAN PADA KULIT
Kelainan pada kulit ini bisa disebabkan oleh perubahan pada kulit itu atau oleh
syaraf yang melayani kulit.
Bentuk kelainan pada kulit adalah :

Rasa panas seperti terbakar.

Krepitasi di kulit dan oedema.

Perubahan warna kulit atau skin rash.

Bintil-bintil atau mottling pada kulit.

Parastesia.

KELAINAN SYARAF

Kelainan pada syaraf ini praktis tidak pernah tunggal, tetapi selalu dibarengi
dengan kelainan yang lain seperti bends, chokes atau kelainan kulit. D.E Flinn
dan

G.J

Womank

menemukan

scotoma

pada

penerbangan

tinggi,

yang

disangkanya sebagai akibat hypoglycaemia, tetapi setelah diteliti ternyata


adalah manifestasi dari kelainan akibat dysbarism.
Keays menemukan dari 10.000 orang pekerja caisson yang mengalami kelainan
dysbarism ada 3.692 orang (36,9%). Dari kelompok ini yang mengalami kelainan
syaraf hanya 8%.
D.E Flinn dan G.J Womack menemukan 17 orang dari 155 kasus dysbarism yang
mengalami kelainan scotoma.(10%)
C.A Berry mengajukan angka 37% yang mengalami kelainan syaraf dari 125
penderita dysbarism.

G.A Brown mengelompokkan kelainan syaraf akibat dysbarism sebagai


berikut :
1. Gangguan pada keseimbangan dan koordinasi.

Ataxia

Dysmetria

Vertigo

Unsteadiness

2. Gangguan pada tractus sensoris dan motoris.

Hyperesthemia dan hypoesthemia

Hyperalgesia dan hypoalgesia

Lemah pada kaki dan tangan

Kekakuan

Gatal-gatal

Parese

Paralyse

Adanya reflek patologis

Kelaianan penglihatan : hemianopsia, nystagmus, diplopia, scotoma,dsb.

3. Gangguan kesadaran dan fungsi cortex

Amnesia

Aphasia

Halusinasi

Acute maniac behavier

Disorientasi.

4. Gangguan yang diduga berasal dari phenomena iritasi selaput otak, kenaiakn
tekanan intracranial dan kelainan seperti migrain.

Central vomiting

Sakit kepala

Pening

Photophobia

Migrain

Rasa sakit waktu menggerakkan mata.

5. Gangguan

pada

mekanisme

sub

cortex,

yang

dihubungkan

dengan

phenomena dyskinesia, hyperkinesia dan aphasia.

Gelisah

Dyskinesia

Hyperkinesia

Tremor

Blepharospasm.

6. Gangguan sistem syaraf yang terbesar

Urticaria

Nyeri

Pandangan kabur

Sakit kepala

Syncope

Mual, dsb.

Tingkatan Gejala Dysbarism :


1. Tingkat I

: ringan dan sembuh sendiri

2. Tingkat II

: rasa sakitnya berjalan terus, namun masih dapat ditahan.

3. Tingkat III

: rasa sakitnya tidak tertahankan lagi.

4. Tingkat IV

: rasa sakitnya hebat sekali dan disertai oleh gejala gejala

lain seperti pucat, pusing, mual bahkan sampai hilangnya kesadaran.


Pencegahan

1. Bagi penyakit dekompresi akibat pengembangan gas.

Mengurangi kecepatan naik atau turun

Mencegah memakan makanan yang dapat menimbulkan gas di lambung


seperti ubi jalar, minuman bergas dsb.

Menelan ludah waktu naik atau turun.

2. Bagi penyakit dekompresi akibat penguapan gas.

Menghindari terbang tinggi secara fisik dengan menggunakan kabin


bertekanan.

Seleksi awak pesawat yang teliti.

Menjaga kesamaptaan jasmani.

Mencegah terjadinya obesitas.

Tidak melakukan scuba diving

Melakukan denitrogenasi yang adekuat sebelum terbang tinggi.

DENITROGENISASI
Denitrogenisasi adalah usaha mengeluarkan nitrogen yang berada dalam
tubuh. Pada orang sehat dan normal, tidak gemuk (lemak tubuhnya hanya 1520% dari berat badan), jumlah nitrogen dalam tubuhnya kira-kira 1200 cc.
Secara teori nitrogen inidapat dikeluarkan dari tubuh secara total bila bernafas
dengan 100% oksigen dalam waktu 6-8 jam. Sedang untuk mengeluarkan 50%nya saja diperlukan waktu 30 menit. Bila setelah melakukan denitrogenisasi
didarat (sea level) kemudian langsung bernafas dengan udara biasa, maka
nitrogen itu akan kembali larut dalam tubuh dalam waktu 5 menit.
PENGOBATAN
Pengobatan paling ideal bagi penyakit dekompresi akibat penguapan gas adalah
menggunakan hyperbaric chamber. Tergantung dari berat ringannya penyakit ,
kita dapat menyelam sedalam 30-40 ft (tekanan udaranya 3-4 atmosfer).
FAKTOR FAKTOR YANG DAPAT MEMPENGARUHI FREKUENSI DAN BERAT
RINGANNYA BENDS
1. Kecepatan naik. Makin cepat makin sering terjadinya bends dan berat.
2. Ketinggian. Makin tinggi makin besar kemungkinan terjadinya bends dan
makin berat.
3. Lamanya berada di ketinggian. Makin lama makin besar kemungkinan
terjadinya bends dan makin berat.

4. Keadaan sekitar tubuh. R.A Anthony et al menemukan terbang pada


ketinggian 38.000 ft dengan suho 100 0F yang terkenabends berat hanya
35.5% sedang dengan suhu 55 0F yang terkena bends berat menjadi
47,3%.
5. Umur. Makin tua makin besar dan berat kemungkinan terkena bends.
6. Obesitas. Makin gemuk makin besar dan berat kemungkinan terkena
bends.
7. Exercise di ketinggian. Makin banyak gerak makin besar.
8. Kelainan atau gangguan pada sendi sebelumnya. Yang pernah mengalami
gangguan sendi atau kelainan makin besar kemungkinan terkena bends.
9. Kesamaptaan jasmani. Makin fit makin kecil kemungkinan terkena bends.
10.Hypoxia. Hypoxia memperkecil terjadinya bends.
11.Diet dan fluit intake. Burkhardt et.al menemukan High Protein Diet
meningkatkan kemungkinan terkena bends sedang High Fat Protein tidak
mempengaruhi kemungkinan terkena bends.
12.Penempatan ulang memperbesar kemungkinan terkena bends.
13.Ketahanan indifidual.ada orang yang peka terhadap bends dan ada yang
tidak.
14.Kebangsaan (Ras). Motley et.al menemukan pada penerbangan 38.000 ft
yang terkena bends :

Kadet penerbang Perancis

: 5.8%

Kadet penerbang Negro Amerika

: 10.4%

Kadet Amerika berkulit putih

: 13,7%

TEORI PATHOGENESIS TERJADINYA PENYAKIT DEKOMPRESI :


1. Pada

tahun

1670

Robert

Boyle

menganggap

terjadinya

penyakit

dekompresi karena mendidihnya dan menguapnya darah.


2. Pada tahun 1842 Liddell menganggap terjadinya penyakit dekompresi
sama dengan terjadinya rheumatism.
3. Pada tahun 1854 Pol dan Watelle menganggap terjadinya penyakit
dekompresi karena bendungan aliran darah.
4. Pada tahun 1846 Blavier menganggap terjadinya penyakit dekompresi
karena suhu yang rendah.
5. Pada tahun 1866 Littleton menganggap terjadinya penyakit dekompresi
karena ada gangguan pada otak sebagai akibat gerakan naik atau turun
secara vertikal.

6. Pada tahun 1869 Jaminet menganggap terjadinya penyakit dekompresi


karena tertimbunnya sampah metabolisme di dalam tubuh.
7. Pada tahun 1945 Swindle

menganggap terjadinya penyakit dekompresi

karena terjadinya coagulum yang rapuh dan terdiri dari flokulasi plasma
dalam vascular oleh karena itu dia menyebutkan teorinya dengan nama
teori aglutinasi intravascular. Teori ini dibantah oleh knisely dengan alasan
dia tidak pernah menemukan adanya aglutinasi intra vascular. Jacobs dan
stewart juga membantah teori aglutinasi ini karena yang ditemukan bukan
aglutinasi melainkan terjadinya gelembung udara. Pada tahun 1946 Cersn
dan

Catchpole

mengadakan

penelitian

pada

hewan-hewan

yang

mengalami penyakit dekompresi, ternyata tidak pernah menemukan


aglutinasi ini.
8. Teori Angiospasm. Teori ini dikemukakan oleh Knisely berdasarkan pada
penemuan-penemuannya pada orang yang diterbangkan pada ketinggian
30.000 ft adanya arterispasm

pada pembuluh darah

sclera yang

menghilang waktu turun. Dia juga menemukan adanya kelambatan waktu


pengisian darah kuku (Nail Bed Filling Time) pada penderita bends. Dia
juga menemukan bahwa dengan penyuntikan aminophyline intra venous
dapat mengurangi kejadian bends pada penerbangan ulang penderita
bends. Teori angospasm ini banyak pendukungnya :

Evelyn. Suhu sendi yang terkena bends lebih rendah dari sendi yang
lain.

Stuart et.al menemukan bahwa suhu kulit orang yang diterbangkan ke


ketinggian 38.000 ft menurun perlahan-lahan, tetapi bila terkena
bends penurunan suhu ini lebih cepat.

Kaufman melakukan pengukuran blood flow digital diterbangkan


tinggi.

Lasarow menekan adanya vasokonstriksi pada katak yang ditempatkan


pada ketinggian.

Chryssanthou et.al menemukan adanya SMAF (Smooth Muscle Acting


Factor) pada hewan yang mengalami penyakit dekompresi.

9. Electrolit shift theory.Larkin dan wato memberikan tambahan calcium


lactat, vitamin A, vitamin D dan garam NaCl sebanyak 7,5 gr. Pada menu
normal orang yang akan diterbangkan tinggi ternyata daya tahannya
terhadap penyakit dekompresinya meningkat. Dia juga mencatat pada
orang-orang yang tiap harinya minum susu daya tahannya terhadap

penyakit meningkat. Warwickmenemukan kenyataan bahwa orang-orang


yang peka terhadap penyakit dekompresi dapat ditingkatkan daya
tahannya setelah tiap harinyadiberi minumair yang banyak.
10.Teori gelembung atau teori penguapan gas yang larut dalam tubuh. Teori
ini banyak penganutnya karena dapat menjelaskan semua kejadian pada
penyakit dekompresi. Kelemahannya hanya satu yaitu tidak dapat
menjelaskan mengapa orang yang menyelam pada kedalaman 10 m,
dimana tekanannya 2 atmosfer bergerak ke permukaan laut yang
tekanannya 1 atmosfer tidak pernah mengalami penyakit dekompresi.
Sedangkan penerbangan tinggi dapat menyebabkan penyakit dekompresi,
padahal perubahan tekanan yang dialaminya kurang dari 1 atmosfer.