Anda di halaman 1dari 34

Pemeriksaan Luar Jenazah dan Aspek Medikolegalnya

Ratna Setia Wati


102011203
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jl. Terusan Arjuna No. 6, Jakarta 11510
e mail: kotaksuratnanaa@gmail.com

PENDAHULUAN
Salah satu aspek Pancasila menyinggung tentang adanya keadilan. Untuk mengatur dan
menjaga keadilan diperlukan adanya hukum atau undang-undang yang mengatur segala aspek
kehidupan tidak terkecuali. Untuk menjunjung tinggi hukum tentunya peradilan harus
berjalan dengan baik. Agar berjalan dengan baik, peradilan bisa dibantu oleh aspek-aspek lain
diluar hukum, salah satunya adalah bidang kedokteran.
Salah satu cabang ilmu kedokteran yang membantu peradilan dalam rangka penegakkan
hukum adalah ilmu kedokteran forensik.1 Pihak yang menengani suatu kasus peradilan
tentunya boleh meminta keterangan ahli dari para ahli forensik ini. Objeknya sendiri bisa
korban yang masih hidup maupun sudah meninggal. Dengan adanya kedokteran forensik ini,
nantinya akan para penegak hukum mampu mempertimbangkan dan menjunjung tinggi
keadilan
Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah agar kami sebagai mahasiswa kedokteran mampu
memahami berbagai aspek yang berhubungan dengan ilmu kedokteran forensik dan nantinya
mampu mempraktekan apa yang dipelajari, dan memiliki kesadaran akan pentingnya
penegakan keadilan mengingat keterangan ahli mampu menjadi alat yang kuat dalam
penegakkan peradilan. Dalam makalah ini akan dibahas mengenai tata laksana pemeriksaan
luar jenazah dan pencatatannya serta pengurusan jenazah selanjutnya pada kasus kematian
tidak wajar dengan disertai pembahasan skenario PBL Seorang laki-laki ditemukan di
sebuah sungai kering yang penuh batu-batuan dalam keadaan mati tertelungkup. Ia
mengenakan kaos dalam (oblong) dan celana panjang yang di bagian bawahnya digulung
hingga setengah tungkai bawahnya. Lehernya terikat lengan baju (yang kemudian diketahui
sebagai baju miliknya sendiri) dan ujung lengan baju lainnya terikat ke sebuah dahan pohon
perdu setinggi 60 cm. Posisi tubuh relatif mendatar, namun leher memang terjerat oleh baju
tersebut. Tubuh mayat tersebut telah membusuk, namun masih dijumpai adanya satu luka
terbuka di daerah ketiak kiri yang memperlihatkan pembuluh darah ketiak yang putus, dan
beberapa luka terbuka di daerah tungkai bawah kanan dan kiri yang memiliki ciri-ciri yang

sesuai dengan akibat kekerasan tajam. Perlu diketahui bahwa rumah terdekat dari TKP adalah
kira-kira 2 km. TKP adalah daerah perbukitan yang berhutan cukup lebat.
ASPEK HUKUM
Kejahatan terhadap Tubuh dan Jiwa Manusia
Pasal 89 KUHP
Membuat orang pingsan atau tidak berdaya disamakan dengan menggunakan kekerasan.2
Pasal 90 KUHP
Luka berat berarti :
1) Jatuh sakit atau mendapat luka yang tidak memberi harapan akan sembuh sama sekali,
atau yang menimbulkan bahaya maut;
2) Tidak mampu terus menerus untuk menjalankan tugas jabatan atau pekerjaan
3)
4)
5)
6)
7)

pencarian;
Kehilangan salah satu pancaindra;
Mendapat cacat berat;
Menderita sakit lumpuh;
Terganggunya daya pikir selama empat minggu lebih;
Gugur atau matinya andungan seorang perempuan.2

Pasal 338 KUHP


Barangsiapa dengan sengaja merampas nyawa orang lain, diancam karena pembunuhan,
dengan pidana penjara paling lama lima belas tahun.2
Pasal 339 KUHP
Pembunuhan yang diikuti, disertai atau didahului oleh suatu perbuatan pidana, yang
dilakukan dengan maksud untuk mempersiapkan atau mempermudah pelaksanaannya, atau
untuk melepaskan diri sendiri maupun peserta lainnya dari pidana dalam hal tertangkap
tangan, ataupun untuk memastikan penguasaan barang yang diperolehnya secara melawan
hukum, diancam dengan pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu, paling
lama dua puluh tahun.2
Pasal 340 KUHP

Barangsiapa dengan sengaja dan dengan rencana lebih dahulu merampas nyawa orang lain,
diancam, karena pembunuhan dengan rencana (moord), dengan pidana mati atau pidana
penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu, paling lama dua puluh lima tahun.2
Pasal 351 KUHP
1) Penganiyaan diancam dengan pidana penjara paling lama dua tahun delapan bulan
atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah.
2) Jika perbuatan mengakibatkan luka-luka berat, yang bersalah diancam dengan pidana
penjara paling lama 5 tahun.
3) Jika mengakibatkan mati, diancam dengan pidana penjara paling lama7 tahun.
4) Dengan penganiyaan disamakan sengaja merusak kesehatan.
5) Percobaan untuk melakukan kejahatan ini tidak dipidana.2
Pasal 353 KUHP
1) Penganiayaan dengan rencana terlebih dahulu, diancam dengan pidana penjara paling
lama 4 tahun.
2) Jika perbuatan mengakibatkan luka-luka berat, yang bersalah dikenakan pidana
penjara paling lama tujuh tahun.
3) Jika perbuatan mengakibatkan mati, dia dikenakan pidana penjara paling lama 9
tahun.2
Pasal 354 KUHP
1) Barangsiapa dengan sengaja melukai berat orang lain, diancam, karena melakukan
penganiayaan berat, dengan pidana penjara paling lama delapan tahun.
2) Jika perbuatan mengakibatkan mati, yang bersalah dikenakan pidana penjara paling
lama sepuluh tahun.2
Pasal 355 KUHP
1) Penganiayaan berat yang dilakukan dengan rencana lebih dahulu, diancam dengan
pidana penjara paling lama 12 tahun.
2) Jika perbuatan mengakibatkan mati, yang bersalah dikenakan pidana penjara paling
lama 15tahun.2
PROSEDUR MEDIKOLEGAL
I. Kewajiban Dokter Membantu Peradilan
Pasal 133 KUHAP
1) Dalam hal penyidik untuk kepentingan peradilan menangani seorang korban baik
luka,
2

keracunan ataupun mati yang diduga karena peristiwa yang merupakan tindak pidana,
ia berwenang mengajukan permintaan keterangan ahli kepada ahli kedokteran
kehakiman atau dokter dan atau ahli lainnya.
2) Permintaan keterangan ahli sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan secara
tertulis, yang dalam surat itu disebutkan dengan tegas untuk pemeriksaan luka atau
pemeriksaan mayat dan atau pemeriksaan bedah mayat.
3) Mayat yang dikirim kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter pada rumah sakit
harus diperlakukan secara baik dengan penuh penghormatan terhadap mayat tersebut
dan diberi label yang memuat identitas mayat, dilak dengan cap jabatan yang
dilekatkan pada ibu jari kaki atau bagian lain badan mayat
Penjelasan Pasal 133 KUHAP
2) Keterangan yang diberikan oleh ahli kedokteran kehakiman disebut keterangan ahli,
sedangkan keterangan yang diberikan oleh dokter bukan ahli kedokteran kehakiman
disebut keterangan.2
Pasal 179 KUHAP
1) Setiap orang yang diminta pendapatnya sebagai ahli kedokteran kehakiman atau
dokter atau ahli lainnya wajib memberikan keterangan ahli demi keadilan.
2) Semua ketentuan tersebut di atas untuk saksi berlaku juga bagi mereka yang
memberikan keterangan ahli, dengan ketentuan bahwa mereka mengucapkan sumpah
atau janji akan memberikan keterangan yang sebaik-baiknya dan sebenanr-benarnya
menurut pengetahuan dalam bidang keahliannya.2
II. Bentuk Bantuan Dokter Bagi Peradilan dan Manfaatnya
Pasal 183 KUHAP
Hakim tidak boleh menjatuhkan pidana kepada seorang kecuali apabila dengan sekurangkurangnya dua alat bukti yang sah ia memperoleh keyakinan bahwa suatu tindak pidana
benar-benar terjadi dan bahwa terdakwalah yang bersalah melakukannnya.2
Pasal 184 KUHAP
1) Alat bukti yang sah adalah:
Keterangan saksi
Keterangan ahli
Surat
Pertunjuk
Keterangan terdakwa
2) Hal yang secara umum sudah diketahui tidak perlu dibuktikan.2
Pasal 186 KUHAP
3

Keterangan ahli ialah apa yang seorang ahli nyatakan di sidang pengadilan.2
Pasal 180 KUHAP
1) Dalam hal diperlukan untuk menjernihkan duduknya persoalan yang timbul di sidang
pengadilan, Hakim ketua sidang dapat minta keterangan ahli dan dapat pula minta
agar diajukan bahan baru oleh yang berkepentingan.
2) Dalam hal timbul keberatan yang beralasan dari terdakwa atau penasihat hukum
terhadap hasil keterangan ahli sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), hakim
memerintahkan agar hal itu dilakukan penelitian ulang.
3) Hakim karena jabatannya dapat memerintahkan untuk dilakukan penelitian ulang
sebagaimana tersebut pada ayat (2)2
III. Sangsi Bagi Pelanggar Kewajiban Dokter
Pasal 216 KUHP
1) Barangsiapa dengan sengaja tidak menuruti perintah atau permintaan yang dilakukan
menurut undang-undang oleh pejabat yang tugasnya mengawasi sesuatu, atau oleh
pejabat berdasarkan tugasnya. Demikian pula yang diberi kuasa untuk mengusut atau
memeriksa tindak pidana; demikian pula barangsiapa dengan sengaja mencegah,
menghalang-halangi atau menggagalkan tindakan guna menjalankan ketentuan,
diancam dengan pidana penjara paling lama empat bulan dua minggu atau denda
paling banyak sembilan ribu rupiah.
2) Disamakan dengan pejabat tersebut di atas, setiap orang yang menurut ketentuan
undang-undang terus-menerus

atau untuk

sementara waktu diserahi tugas

menjalankan jabatan umum.


3) Jika pada waktu melakukan kejahatan belum lewat dua tahun sejak adanya
pemidanaan yang menjadi tetap karena kejahatan semacam itu juga, maka pidanya
dapat ditambah sepertiga.2
Pasal 222 KUHP
Barangsiapa dengan sengaja mencegah, menghalang-halangi atau menggagalkan pemeriksaan
mayat untuk pengadilan, diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan atau
pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah.2
Pasal 224 KUHP
Barangsiapa yang dipanggil menurut undang-undang untuk menjadi saksi, ahli atau juru
bahasa, dengan sengaja tidak melakukan suatu kewajiban yang menurut undangundang ia
harus melakukannnya:
1) Dalam perkara pidana dihukum dengan hukuman penjara selama-lamanya 9 bulan.
2) Dalam perkara lain, dihukum dengan hukuman penjara selama-lamanya 6 bulan.2
4

Pasal 522 KUHP


Barangsiapa menurut undang-undang dipanggil sebagai saksi, ahli atau juru bahasa, tidak
datang secara melawan hukum, diancam dengan pidana denda paling banyak sembilan ratus
rupiah.2
IV. Rahasian Jabatan dan Pembuatan SKA/VetR
Peraturan Pemerintah No 26 tahun 1960 tentang lafaz sumpah dokter
Saya bersumpah/ berjanji bahwa:
Saya akan membaktikan hidup saya guna kepentingan perikemanusiaan
Saya akan menjalankan tugas saya dengan cara yang terhormat dan bersusila,
sesuai dengan martabat pekerjaan saya.
Saya akan memelihara dengan sekuat tenaga martabat dan tradisi luhur jabatan
kedokteran.
Saya akan merahasiakan segala sesuatu yang saya ketahui karena pekerjaan saya
dan karena keilmuan saya sebagai dokter.dst.2
Peraturan Pemerintah no 10 tahun 1966 tentang wajib simpan rahasia Kedokteran.

Pasal 1 PP No 10/1966
Yang dimaksud dengan rahasia kedokteran ialah segala sesuatu yang diketahui oleh
orang-orang tersebut dalam pasal 3 pada waktu atau selama melakukan pekerjaannya
dalam lapangan kedokteran.

Pasal 2 PP No 10/1966
Pengetahuan tersebut pasal 1 harus dirahasiakan oleh orang-orang yang tersebut
dalam
pasal 3, kecuali apabila suatu peraturan lain yang sederajat atau lebih tinggi daripada
PP ini menentukan lain.

Pasal 3 PP No 10/1966
Yang diwajibkan menyimpan rahasia yang dimaksud dalam pasal 1 ialah:
a. Tenaga kesehatan menurut pasal 2 UU tentang tenaga kesehatan.
b. Mahasiswa kedokteran, murid yang bertugas dalam lapangan pemeriksaan,
pengobatan dan atau perawatan, dan orang lain yang ditetapkan oleh menteri
kesehatan.

Pasal 4 PP No 10/1966
Terhadap pelanggaran ketentuan mengenai wajib simpan rahasia kedokteran yang
tidak atau tidak dapat dipidana menurut pasal 322 atau pasal 112 KUHP, menteri
kesehatan dapat melakukan tindakan administrative berdasarkan pasal UU tentang
5

tenaga kesehatan.

Pasal 5 PP No 10/1966
Apabila pelanggaran yang dimaksud dalam pasal 4 dilakukan oleh mereka yang
disebut dalam pasal 3 huruf b, maka menteri kesehatan dapat mengambil tindakan
tindakan berdasarkan wewenang dan kebijaksanaannya.2

Pasal 322 KUHP


1) Barangsiapa dengan sengaja membuka rahasia yang wajib disimpannya karena
jabatan
atau pencariannya baik yang sekarang maupun yang dahulu, diancam dengan pidana
penjara paling lama sembilan bulan atau pidana denda paling banyak sembilan ribu
rupiah.
2) Jika kejahatan dilakukan terhadap seorang tertentu, maka perbuatan itu hanya dapat
dituntut atas pengaduan orang itu.2
Pasal 48 KUHP
Barangsiapa melakukan perbuatan karena pengaruh daya paksa tidak dipidana.2
V. Bedah Mayat Klinis, Anatomis dan Transplantasi
Peraturan Pemerintah No 18 tahun 1981 tentang Bedah Mayat Klinis dan Bedah
Mayat Anatomis serta Transplantasi Alat dan atau Jaringan Tubuh Manusia.

Pasal 2 PP No 18/1981

Bedah mayat klinis hanya boleh dilakukan dalam keadaan sebagai berikut:
a. Dengan persetujuan tertulis penderita dan atau keluarganya yang terdekat setelah
penderita meninggal dunia, apabila sebab kematiannya belum dapat ditentukan
dengan pasti;
b. Tanpa persetujuan penderita atau keluarganya yang terdekat, apabila diduga
penderita menderita penyakit yang dapat membahayakan orang lain atau
masyarakat sekitarnya.
c. Tanpa persetujuan penderita atau keluarganya terdekat, apabila dalam jangka
waktu 2 x 24 jam tidak ada keluarga terdekat dari yang meninggal dunia dating ke

rumah sakit.
Pasal 14 PP No 18/1981
Pengambilan alat atau jaringan tubuh manusia untuk keperluan transplantasi atau bank
mata dari korban kecelakaan yang meninggal dunia, dilakukan dengan persetujuan
tertulis keluarga yang terdekat.
6

Pasal 17 PP No 18/1981
Dilarang memperjual belikan alat dan atau jaringan tubuh manusia.

Pasal 18 PP No 18/1981
Dilarang mengirim dan menerima alat dan atau jaringan tubuh manusia dalam semua
bentuk ke dan dari luar negeri.

Pasal 19 PP No 18/1981
Larangan sebagaimana dimaksud dalam pasal 17 dan pasal 18 tidak berlaku untuk
keperluan penelitian ilmiah dan keperluan lain yang ditetapkan oleh Menteri
Kesehatan.2

Pasal 70 UU Kesehatan
2) Bedah mayat hanya dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian
dan kewenangan untuk itu dan dengan memperhatikan norma yang berlaku dalam
masyarakat.2

TUGAS DOKTER SEBAGAI PEMERIKSA JENAZAH


Peraturan daerah (Perda) nomor 2 tahun 1992 tentang Pemakaman Umum dalam wilayah
DKI Jakarta mengatur tentang kewajiban warga dalam penanganan jenazah yang akan
dimakamkan di DKI Jakarta (pasal 8). Dalam peraturan yang sama, pada Pasal 9 dikatakan
bahwa petugas Puskesmas setempat wajib melakukan pemeriksaan atas jenazah sehubungan
dengan adanya laporan warga mengenai adanya kematian.3
Pemeriksaan jenazah seyogyanya dilakukan sendiri oleh dokter karena pada prinsipnya hanya
dokterlah yang memiliki cukup pengetahuan untuk membedakan apakah suatu kematian itu
wajar atau tidak wajar. Begitu seorang dokter Puskesmas mendapatkan laporan mengenai
adanya kematian salah seorang warganya, maka dokter tersebut wajib melakukan
pemeriksaan luar atas jenazah tersebut.3
Dalam pelaporan kematian tersebut, ada kemungkinan dokter Puskesmas merupakan orang
yang pertama dilapori oleh kerabat almarhum (ah), tetapi bisa juga keluarga melapor ke
Puskesmas dengan membawa surat keterangan mati dari dokter praktek atau surat
pernyataan Death on Arrival (DOA) dari Rumah Sakit. Kasus-kasus ini tidak boleh ditolak
oleh dokter Puskesmas, karena hal ini merupakan salah satu kewajiban yasng dibebankan
kepada dokter sebagai petugas Puskesmas.3
Pemeriksaan jenazah oleh dokter dapat dilakukan di Puskesmas, jika di Puskesmas tersebut
ada fasilitas untuk pemeriksaan tersebut. Akan tetapi, dalam keadaan tertentu, jika
7

pemeriksaan di Puskesmas tak mungkin dilakukan, pemeriksaan dapat dilakukan di tempat


lain, baik di rumah almarhum ataupun di tempat lain yang memenuhi syarat.3
Pemeriksaan jenazah harus dilakukan pada suatu tempat yang penerangannya baik. Sebelum
dokter melakukan pemeriksaan, ia sebaiknya melakukan allo-anamnesis terhadap keluarga
korban, khususnya untuk mencari data mengenai riwayat kematian, adanya gejala yang
dikeluhkan atau diketahui diderita almarhum menjelang kematiannya, adanya penyakit yang
diderita baik yang baru maupun yang lama serta adanya riwayat pengobatan atau minum obat
sebelumnya. Dengan pengetahuan dan pengalaman klinisnya, berdasarkan keterangan
tersebut diatas, dokter dapat meyakini kemungkinan adanya penyakit tertentu sebagai
penyebab kematian orang tersebut. Kesimpulan dokter ini merupakan titik awal untuk
pencarian penyebab kematian yang lebih pasti berdasarkan hasil-hasil temuan pada
pemeriksaan jenazah.3
Pada setiap kasus kematian, dokter harus melakukan pemeriksaan luar jenazah secara
seksama, lengkap dan teliti. Jika pada pemeriksaan tersebut dokter tidak menemukan adanya
luka atau tanda kekerasan lainnya, tidak menemukan tanda-tanda keracunan dan
anamnesisnya mengarah pada kematian akibat penyakit, maka dokter dapat langsung
memberikan surat kematian (Formulir A) dan jenazahnya kepada keluarga korban. Dalam
Formulir A, dokter Puskesmas harus mencantumkan nomor penyakit yang diduganya
merupakan penyebab kematian, sesuai dengan klasifikasi penyakit dalam International
Classification of Diseases (ICD) sebagaimana tercantum pada bagian belakang Formulir A
tersebut. Formulir A diperlukan oleh keluarga korban untuk berbagai keperluan administrasi
kependudukan, seperti untuk administrasi dalam rangka penyimpanan jenazah, pengangkutan
jenazah keluar kota/negeri serta pembuatan Akte Kematian (yang diperlukan untuk
pengurusan pembagian warisan, asuransi, izin kawin lagi dsb).3
Jika oleh suatu alasan tertentu, keluarga ingin menyimpan jenazah lebih dari 24 jam sebelum
dikubur atau dikremasi, maka demi keamanan lingkungan terhadap jenazah selayaknya
dilakukan pengawetan. Pada kasus kematian wajar akibat penyakit, pengawetan jenazah
dapat langsung dilakukan setelah pemeriksaan luar jenazah selesai dilakukan. Pengawetan
jenazah pada kasus ini terutama dilakukan untuk mencegah atau menghambat proses
pembusukan, membunuh kuman serta mempertahankan bentuk mayat seperti pada keadaan
awalnya.3

IDENTIFIKASI FORENSIK
Identifikasi forensik merupakan upaya yang dilakukan dengan tujuan membantu penyidik
untuk menentukan identitas seseorang. Identifikasi personal sering merupakan suatu masalah
dalam kasus pidana maupun perdata. Menentukan identitas personal dengan tepat amat
penting dalam penyidikan karena adanya kekeliruan dapat berakibat fatal dalam proses
peradilan.1
Peran ilmu kedokteran forensik dalam identifikasi terutama pada jenazah tidak dikenal,
jenazah yang rusak , membusuk, hangus terbakar dan kecelakaan masal, bencana alam, huru
hara yang mengakibatkan banyak korban meninggal, serta potongan tubuh manusia atau
kerangka.Selain itu identifikasi forensik juga berperan dalam berbagai kasus lain seperti
penculikan anak, bayi tertukar, atau diragukan orangtua nya.1
Identitas seseorang dipastikan bila paling sedikit 2 metode yang digunakan memberikan hasil
positip (tidak meragukan). Penentuan identitas personal dapat menggunakan metode
identifikasi sidik jari, visual, dokumen, pakaian dan perhiasan, medik, gigi, serologic, dan
secara eksklusi. Akhir-akhir ini dikembangkan pula metode identifikasi DNA.1
Pemeriksaan sidik jari
Metode ini membandingkan sidik jari jenazah dengan data sidik jari antemortem. Sampai saat
ini, pemeriksaan sidik jari merupakan pemeriksaan yang diakui paling tinggi ketepatannya
untuk menentukan identitas seseorang.1
Dengan demikian harus dilakukan penanganan yang sebaik-baiknya terhadap jari tangan
jenazah untuk pemeriksaan sidik jari, misalnya dengan melakukan pembungkusan kedua
tangan jenazah dengan kantong plastik.1
Metode Visual
Metode ini dilakukan dengan memperlihatkan jenazah pada orang-orang yang merasa
kehilangan anggota keluarga atau temannya. Cara ini hanya efektif pada jenazah yang belum
membusuk, sehingga masih mungkin dikenali wajah dan bentuk tubuhnya oleh lebih dari satu
orang. Hal ini perlu diperhatikan mengingat adanya kemungkinan faktor emosi yang turut
berperan untuk membenarkan atau sebaliknya menyangkal identitas jenazah tersebut.1
9

Pemeriksan Dokumen
Dokumen seperti kartu identitas (KTP, SIM, Paspor) dan sejenisnya yang kebetulan
ditemukan dalam dalam saku pakaian yang dikenakan akan sangat membantu mengenali
jenazah tersebut. Perlu diingat pada kecelakaan masal, dokumen yang terdapat dalam tas atau
dompet yang berada dekat jenazah belum tentu adalah milik jenazah yang bersangkutan.1
Pemeriksaan Pakaian dan Perhiasan
Dari pakaian dan perhiasan yang dikenakan jenazah, mungkin dapat diketahui merek atau
nama pembuat, ukuran, inisial nama pemilik, badge yang semuanya dapat membantu proses
identifikasi walaupun telah terjadi pembusukan pada jenazah tersebut. Khusus anggota ABRI,
identifikasi dipermudah oleh adanya nama serta NRP yang tertera pada kalung logam yang
dipakainya.1
Identifikasi Medik
Metode ini menggunakan data umum dan data khusus. Data umum meliputi tinggi badan,
berat badan, rambut, mata, hidung, gigi dan sejenisnya. Data khusus meliputi tatto, tahi lalat,
jaringan parut, cacat kongenital, patah tulang dan sejenisnya.1
Metode ini mempunyai nilai tinggi karena selain dilakukan oleh seorang ahli dengan
menggunakan berbagai cara/modifikasi (termasuk pemeriksaan dengan sinar-X) sehingga
ketepatan nya cukup tingi.Bahkan pada tengkorak/kerangka pun masih dapat dilakukan
metode identifikasi ini.1
Melalui identifikasi medik diperoleh data tentang jenis kelamin, ras, prkiraan umur dan tingi
badan, kelainan pada tulang dan sebagainya.1
Pemeriksaan Gigi
Pemeriksaan ini meliputi pencatatan data gigi (Odontogram) dan rahang yang dapat
dilakukan dengan menggunakan pemeriksaan manual, sinar-X dan pencetakan gigi dan
rahang. Odontogram memuat data tentang jumlah,bentuk, susunan, tambalan, protesa gigi
dan sebagainya.1

10

Seperti hal nya dengan sidik jari, maka setiap individu memiliki susunan gigi yang
khas.Dengan demikian dapat dilakukan indentifikasi dengan cara membandingkan data
temuan dengan data pembanding antemortem.1
Pemeriksaan Serologik
Pemeriksaan serologik betujuan untuk menentukan golongan darah jenazah. Penentuan
golongan darah pada jenazah yang telah membusuk dapat dilakukan dengan memeriksa
rambut, kuku dan tulang. Saat ini telah dapat dilakukan pemeriksaan sidik DNA yang akurasi
nya sangat tinggi.1
Metode Eksklusi
Metode ini digunakan pada kecelakaan masal yang melibatkan sejumlah orang yang dapat
diketahui identitasnya, misalnya penumpang pesawat udara, kapal laut dan sebagainya.1
Bila sebagian besar korban telah dapat dipastikan identitasnya dengan menggunakan metode
indentifikasi yang lain, sedangkan identitas sisa korban tidak dapat ditentukan dengan
metode-metode tersebut diatas, maka sisa korban diindentifikasi menurut daftar penumpang.1
Identifikasi Potongan Tubuh Manusia (Kasus Mutilasi)
Pemeriksaan bertujuan untuk menentukan apakah potongan jaringan berasal dari manusia
atau hewan. Bilamana berasal dari manusia, ditentukan apakah potongan-potongan tersebut
dari satu tubuh. Penentuan juga meliputi jenis kelamin, ras, umur, tinggi badan, dan
keterangan lain seperti cacat tubuh, penyakit yang pernah diderita, serta cara pemotongan
tubuh yang mengalami mutilasi. Untuk memastikan bahwa potongan tubuh berasal dari
manusia dapat digunakan beberapa pemeriksaan seperti pengamatan jaringan secara
makroskopik, mikroskopik dan pemeriksaan serologik berupa reaksi antigen-antibodi (reaksi
presipitin).1
Penentuan jenis kelamin ditentukan dengan pemriksaan makroskopik dan harus diperkuat
dengan pemeriksaan mikroskopik yang bertujuan menemukan kromatin seks wanita, seperti
Drumstick pada leukosit dan badan Barr pada sel epitel serta jaringan otot.1
Identifikasi Kerangka
11

Upaya identifikasi pada kerangka bertujuan untuk membuktikan bahwa kerangka tersebut
adalah kerangka manusia, ras, jenis kelamin, perkiraan umur dan tinggi badan, ciri-ciri
khusus dan deformitas serta bila memungkinkan dilakukan rekonstruksi wajah. Dicari pula
tanda-tanda kekerasan pada tulang dan memperkirakan sebab kematian. Perkiraan saat
kematian dilakukan dengan memeperhatikan kekeringan tulang.1
Bila terdapat dugaan berasal dari seseorang tertentu, maka dilakukan identifikasi dengan
membandingkan data antemortem.Bila terdapat foto terakhir wajah orang tersebut semasa
hidup, dapat dilaksanakan metode superimposisi, yaitu dengan jalan menumpukkan foto
Rontgen tulang tengkorak diatas foto wajah orang tersebut yang dibuat berukuran sama dan
diambil dari sudut pengambilan yang sama. Dengan demikian dapat dicari adanya titik-titik
persamaan.1
Pemeriksaan Anatomik
Dapat memastikan bahwa kerangka adalah kerangka manusia.Kesalahan penafsiran dapat
timbul bila hanya terdapat sepotong tulang saja, dalam hal ini perlu dilakukan pemeriksaan
serologik/ reaksi presipitin dan histologi (jumlah dan diameter kanal-kanal Havers).1
Penentuan Ras
Penentuan ras dapat dilakukan dengan pemeriksaan antropologik pada tengkorak, gigi geligi,
tulang panggul atau lainnya. Arkus zigomatikus dan gigi insisivus atas pertama yang
berbentuk seperti sekop memberi petunjuk ke arah ras Mongoloid.1
Jenis kelamin ditentukan berdasarkan pemeriksaan tulang panggul, tulang tengkorak,
sternum, tulang panjang serta skapula dan metakarpal.Sedangkan tinggi badan dapat
diperkirakan dari panjang tulang tertentu, dengan menggunakan rumus yang dibuat oleh
banyak ahli.1
Rata-rata tinggi laki-laki lebih besar dari wanita, maka perlu ada rumus yang terpisah antara
laki-laki dan wanita.Apabila tidak dibedakan, maka diperhitungkan ratio laki-laki banding
wanita adalah 100:90. Selain itu penggunaan lebih dari satu tulang sangat dianjurkan.(Khusus
untuk rumus Djaja SA, panjang tulang yang digunakan adalah panjang tulang yang diukur
dari luar tubuh berikut kulit luarnya).1

12

Ukuran pada tengkorak, tulang dada, dan telapak kaki juga dapat digunakan untuk menilai
tinggi badan.Bila tidak diupayakan rekonstruksi wajah pada tengkorak dengan jalan
menambal tulang tengkorak tersebut dengan menggunakan data ketebalan jaringan lunak
pada berbagai titik di wajah, yang kemudian diberitakan kepada masyarakat untuk
memperoleh masukan mengenai kemungkinan identitas kerangka tersebut.1

PEMERIKSAAN MEDIS PADA BIDANG TANATOLOGI


Ilmu yang mempelajari tentang kematian dan perubahan yang terjadi setelah kematian serta
faktor yang mempengaruhi perubahan tersebut adalah tanatologi. Tanatologi berasal dari kata
thanatos (yang berhubungan dengan kematian) dan logos ilmu. Tanatologi adalah bagian dari
ilmu kedokteran Forensik yang mempelajari kematian dan perubahan yang terjadi setelah
kematian serta faktor yang mempengaruhi perubahan tersebut. Dalam tanatologi dikenal
beberapa istilah tentang mati, yaitu mati somatis (mati klinis), mati suri, mati seluler, mati
serebral dan mati otak (mati batang otak).1
1. Mati somatis (mati klinis)
Terjadi akibat terhentinya fungsi ketiga sistem penunjang kehidupan, yaitu susunan
saraf pusat, sistem kardiovaskular dan sistem pernapasan, yang menetap (irreversible). Secara klinis tidak ditemukan refleksrefleks, EEG menda-tar, nadi tidak
teraba, denyut
jantung tidak terdengar, tidak ada gerak pernapasan dan suara nafas tidak terdengar
pada auskultasi.
2. Mati suri (suspended animation apparent death)
Adalah terhentinya ketiga sistim kehidupan di atas yang ditentukan dengan alat
kedokteran sederhana. Dengan peralatan kedokteran canggih masih dapat dibuktikan
bahwa ketiga sistem tersebut masih berfungsi. Mati suri sering ditemukan pada kasus
keracunan obat tidur, tersengat aliran listrik dan tenggelam.
3. Mati seluler (mati molekuler)
Adalah kematian organ atau ja-ringan tubuh yang timbul beberapa saat setelah
kematian
somatis. Daya tahan hidup masing-masing organ atau jaringan berbeda-beda, sehingga
terjadinya kematian seluler pada tiap organ atau jaringan tidak bersamaan.
Pengetahuan

13

ini penting dalam transplantasi organ.


4. Mati serebral
Adalah kerusakan kedua hemisfer otak yang ireversibel kecuali batang otak dan
serebelum, sedangkan kedua sistem lainnya yaitu sistem pernapasan dan
kardiovaskular masih berfungsi dengan bantuan alat.1
Kematian adalah suatu proses yang dapat dikenal secara klinis pada seseorang berupa tanda
kematian, yaitu perubahan yang terjadi pada tubuh mayat. Perubahan tersebut dapat timbul
dini pada saat meninggal atau beberapa menit kemudian, misalnya kerja jantung dan
peredaran darah berhenti, pernapasan berhenti, refleks cahaya dan refleks kornea mata hilang,
kulit pucat dan relaksasi otot. Setelah beberapa waktu timbul perubahan pascamati yang jelas
yang memungkinkan diagnosis kematian lebih pasti.1
Tanda Pasti Kematian
Dahulu kematian ditandai dengan tidak berfungsinya lagi jantung. Konsep baru sekarang
ini mengenai kematian mencakup berhentinya fungsi pernafasan, jantung dan otak. Dimana
saat kematian ditentukan berdasarkan saat otak berhenti berfungsi. Pada saat itulah jika
diperiksa dengan elektro-ensefalo-grafi (EEG) diperoleh garis yang datar. Berdasarkan
waktunya tanda kematian dibagi menjadi 3, yaitu: 1
1. Tanda yang segera dikenali setelah kematian.
Berhentinya sirkulasi darah.
Berhentinya pernafasan.
2. Tanda-tanda kematian setelah beberapa saat kemudian:
Penurunan Temperatur Tubuh (algor Mortis)
Suhu tubuh pada orang yang sudah meninggal perlahan-lahan akan sama dengan
suhu lingkungannya karena mayat tersebut akan melepaskan panas dan suhunya
menurun. Kecepatan penurunan suhu pada mayat bergantung kepada suhu
lingkungan dan suhu mayat Itu sendiri. Pada iklim yang dingin maka penurunan
suhu mayat berlangsung cepat.
Faktor Faktor yang Mempengaruhi Suhu Mayat :
a. Usia. Penurunan suhu lebih cepat pada anak-anak dan orang tua
dibandingkan orang dewasa.
b. Jenis kelamin. Wanita mengalami penurunan suhu tubuh yang lebih lambat
dibandingkan pria karena jaringan lemaknya lebih banyak.
c. Lingkungan sekitar mayat. Jika mayat berada pada ruangan kecil tertutup
tanpa ventilasi, kecepatan penurunan suhu mayat akan lebih lambat
dibandingkan jika mayat berada pada tempat terbuka dengan ventilasi yang
cukup.
14

d. Pakaian. Tergantung pakaian yang di pakai tebal atau nipis atau tidak
berpakaian.
e. Bentuk tubuh. Mayat yang berbadan kurus akan mengalami penurunan
suhu badan yang lebih cepat.
f. Posisi tubuh. Mayat dalam posisi terlentang mengalami penurunan suhu

yang lebih cepat.


Lebam Mayat (Livor Mortis)
Lebam mayat terjadi akibat terkumpulnya darah pada jaringan kulit dan subkutan
disertai pelebaran pembuluh kapiler pada bagian tubuh yang letaknya rendah atau
bagian tubuh yang tergantung. Keadaan ini memberi gambaran berupa warna ungu
kemerahan. Setelah seseorang meninggal, mayatnya menjadi suatu benda mati
sehingga darah akan berkumpul sesuai dengan hukum gravitasi. Lebam mayat
pada awalnya berupa barcak. Dalam waktu sekitar 6 jam, bercak ini semakin
meluas yang pada akhirnya akan membuat warna kulit menjadi gelap.
Pembekuan darah terjadi dalam waktu 6-10 jam setelah kematian. Lebam mayat
ini bisa berubah baik ukuran maupun letaknya tergantung dari perubahan posisi
mayat. Karena itu penting sekali untuk memastikan bahwa mayat belum disentuh
oleh orang lain. Posisi mayat ini juga penting untuk menentukan apakah kematian
disebabkan karena pembunuhan atau bunuh diri.
Ada 5 warna lebam mayat yang dapat kita gunakan untuk memperkirakan
penyebab kematian :

a. Merah kebiruan merupakan warna normal lebam


b. Merah terang menandakan keracunan CO, keracunan CN atau suhu dingin
c. Merah gelap menunjukkan asfiksia
d. Biru menunjukkan keracunan nitrit
e. Coklat menandakan keracunan aniline
Kaku Mayat (Rigor Mortis)
Perubahan otot yang terjadi setelah kematian bisa dibagi dalam 3 tahap :
a. Periode relaksasi primer (flaksiditas primer)
Hal ini terjadi segera setelah kematian. Biasanya berlangsung selama 2-3
jam. Seluruh otot tubuh mengalami relaksasi,dan bisa digerakkan ke segala
arah. Iritabilitas otot masih ada tetapi tonus otot menghilang. Pada kasus di
mana mayat letaknya berbaring rahang bawah akan jatuh dan kelopak mata
juga akan turun dan lemas.
b. Kaku Mayat

15

Kaku mayat akan terjadi setelah tahap relaksasi primer. Keadaan ini
berlangsung setelah terjadinya kematian tingkat sel, dimana aktivitas
listrik otot tidak ada lagi. Otot menjadi kaku. Fenomena kaku mayat ini
pertama sekali terjadi pada otot-otot mata, bagian belakang leher, rahang
bawah, wajah, bagian depan leher, dada, abdomen bagian atas dan terakhir
pada otot tungkai. Akibat kaku mayat ini seluruh mayat menjadi kaku, otot
memendek dan persendian pada mayat akan terlihat dalam posisi sedikit
fleksi. Keadaan ini berlangsung selama 24 - 48 jam pada musim dingin
dan 18 - 36 jam pada musim panas. Penyebabnya adalah otot tetap dalam
keadaan hidrasi oleh karena adanya ATP. Jika tidak ada oksigen, maka ATP
akan terurai dan akhirnya habis, sehingga menyebabkan penumpukan
asam laktat dan penggabungan aktinomiosin (protein otot).
c. Periode Relaksasi Sekunder
Otot menjadi relak (lemas) dan mudah digerakkan. Hal ini terjadi karena
pemecahan protein, dan tidak mengalami reaksi secara fisik maupun
kimia. Proses pembusukan juga mulai terjadi. Pada beberapa kasus, kaku
mayat sangat cepat berlangsung sehingga sulit membedakan antara
relaksasi primer dengan relaksasi sekunder.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kaku Mayat
a. Keadaan Lingkungan. Pada keadaan yang kering dan dingin, kaku mayat
lebih lambat terjadi dan berlangsung lebih lama dibandingkan pada
lingkungan yang panas dan lembab. Pada kasus di mana mayat
dimasukkan ke dalam air dingin, kaku mayat akan cepat terjadi dan
berlangsung lebih lama.
b. Usia. Pada anak-anak dan orangtua, kaku mayat lebih cepat terjadi dan
berlangsung tidak lama. Pada bayi prematur biasanya tidak ada kaku
mayat. Kaku mayat baru tampat pada bayi yang lahir mati tetapi cukup
usia (tidak prematur)
c. Cara kematian. Pada pasien dengan penyakit kronis, dan sangat kurus,
kaku mayat cepat terjadi dan berlangsung tidak lama. Pada pasien yang
mati mendadak, kaku mayat lambat terjadi dan berlangsung lebih lama.
d. Kondisi otot. Terjadi kaku mayat lebih lambat dan berlangsung lebih lama
pada kasus di mana otot dalam keadaan sehat sebelum meninggal,
dibandingkan jika sebelum meninggal keadaan otot sudah lemah.
3. Tanda-tanda kematian setelah selang waktu yang lama:
16

Proses Pembusukan
Perubahan warna. Perubahan ini pertama kali tampat pada fossa iliaka kanan dan
kiri berupa warna hijau kekuningan, disebabkan oleh perubahan hemoglobin
menjadi sulfmethemoglobin. Perubahan warna ini juga tampak pada seluruh
abdomen, bagian depan genitalia eksterna, dada, wajah dan leher. Dengan semakin
berlalunya waktu maka warnanya menjadi semakin ungu. Jangka waktu mulai
terjadinya perubahan warna ini adalah 6-12 jam pada musim panas dan 1-3 hari
pada musin dingin. Perubahan warna tersebut juga diikuti dengan pembengkakan
mayat. Otot sfingter mengalami relaksasi sehingga urin dan faeses keluar. Lidah
juga terjulur. Bibir menebal, mulut membuka dan busa kemerahan bisa terlihat
keluar dari rongga mulut. Mayat berbau tidak enak disebabkan oleh adanya gas
pembusukan. Gas ini bisa terkumpul pada suatu rongga sehingga mayat menjadi
tidak mirip dengan korban sewaktu masih hidup. Gas ini selanjutnya juga bisa
membentuk lepuhan kulit.
Lepuhan Kulit (blister)
Mulai tampak 36 jam setelah meninggal. Kulit ari dapat dengan cukup mudah
dikelupas. Di mana akan tampak cairan berwarna kemerahan yang sedikit
mengandung albumin. Jika pembusukan terus berlangsung, maka bau busuk yang
timbul akan menarik lalat untuk hinggap pada mayat. Lalat menempatkan telurnya
pada mayat, di mana dalam waktu 8- 24 jam telur akan menetas menghasilkan
larva-yang sering disebut belatung. Dalam waktu 4-5 hari, belatung ini lalu
menjadi pupa, dimana setelah 4-5 hari kemudian akan menjadi lalat dewasa. Pada
tahap ini bagian dari tulang tengkorak mulai tampak. Rektum dan uterus juga
tampak dan uterus gravid juga bisa mengeluarkan isinya Rambut dan kuku dengan
mudah dapat dicabut. Bagian perut dan dada bisa pecah berhubung besarnya
tekanan gas yang di kandungnya. Jika pembusukan terus berlangsung, maka
jaringan jaringan menjadi lunak, rapuh dan berwarna kecoklatan.
Organ Tubuh Bagian Dalam
Organ tubuh bagian dalam juga mengalami perubahan. Bentuk perubahan sama
seperti diatas, jaringan-jaringan menjadi berwarna kecoklatan. Ada yang cepat
membusuk dan ada yang lambat.
Jaringan yang cepat membusuk :
a. Laring
b. Trakea
c. Otak terutama pada anak-anak
d. Lambung
e. Usus halus
17

f. Hati
g. Limpa
Jaringan yang lambat membusuk :

a. Jantung
b. Paru-paru
c. Ginjal
d. Prostat
e. Uterus non gravid
Adiposera
Fenomena ini terjadi pada mayat yang tidak mengalami proses pembusukan yang
biasa. Melainkan mengalami pembentukan adiposera. Adiposera merupakan
subtansi yang mirip seperti lilin yang lunak, licin dan warnanya bervariasi mulai
dari putih keruh sampai coklat tua. Adiposera mengandung asam lemak bebas,
yang dibentuk melalui proses hidrolisa dan hidrogenasi setelah kematian. Adanya
enzim bakteri dan air sangat penting untuk berlangsungnya proses tersebut.
Dengan demikian, maka adiposera biasanya terbentuk pada mayat yang terbenam
dalam air atau rawa-rawa. Lama pembentukan adiposera ini juga bervariasi, mulai
dari 1 minggu sampai 10 minggu. Kepentingan medikolegal dari adiposere adalah
dapat menunjukkan tempat kematian (kering, panas atau tempat basah).

Mummifikasi
Mayat mengalami pengawetan akibat proses pengeringan dan penyusutan bagianbagian tubuh. Kulit menjadi kering, keras dan menempel pada tulang kerangka.
Mayat menjadi lebih tahan dari pembusukan sehingga masih jelas menunjukkan
ciri-ciri seseorang.
Fenomena ini terjadi pada daerah yang panas dan lembab, di mana mayat
dikuburkan tidak begitu dalam dan angin yang panas selalu bertiup sehingga
mempercepat penguapan cairan tubuh.
Lama terjadinya mummifikasi adalah antara 4 bulan sampai beberapa tahun.
Kepentingan medikolegal dari mummfikasi adalah dapat menunjukkan tempat
kematian (kering, panas atau tempat basah).

PEMERIKSAAN MEDIS
Pemeriksaan Luar Jenazah
1. Tutup dan bungkus mayat
18

Mayat dikirim kepada pemeriksa bisa dalam keadaan ditutup atau dibungkus. Penutup
atau pembungkus dicatat jenis bahan, warna, corak, serta adanya pengotoran dicatat
pula bahan dan letaknya.
2. Pakaian
Mencatat pakaian mayat dengan teliti mulai dari yang dikenakan di atas sampai di
bawah, dari yang terluar sampai terdalam. Pencatatan meliputi bahan, warna dasar,
warna dan corak tekstil, bentuk/model pakaian, ukuran, merk penjahit, cap binatu,
monogram/inisial, dan tambalan/tisikan bila ada. Catat juga letak dan ukuran pakaian
bila terdapat adanya bercak/pengotoran atau robekan. Saku diperiksa dan dicatat
isinya.
3. Perhiasan
Mencatat perhiasan yang dipakai olej mayat, meliputi jenis, bahan, warna, merek,
bentuk serta ukiran nama/inisial pada benda perhiasan tersebut.
4. Mencatat benda di samping mayat misalnya tas ataupun bungkusan. Biasanya benda
disekitar mayat akan disertakan pada saat membungkus mayat
5. Mencatat perubahan tanatologi :
a. Lebam mayat
Lebam mayat terjadi akibat terkumpulnya darah pada jaringan kulit dan subkutan
disertai pelebaran pembuluh kapiler pada bagian tubuh yang letaknya rendah atau
bagian tubuh yang tergantung. Keadaan ini memberi gambaran berupa warna ungu
kemerahan. Setelah seseorang meninggal, mayatnya menjadi suatu benda mati
sehingga darah akan berkumpul sesuai dengan hukum gravitasi. Lebam mayat
pada awalnya berupa barcak. Dalam waktu sekitar 6 jam, bercak ini semakin
meluas yang pada akhirnya akan membuat warna kulit menjadi gelap. Pembekuan
darah terjadi dalam waktu 6-10 jam setelah kematian. Lebam mayat ini bisa
berubah baik ukuran maupun letaknya tergantung dari perubahan posisi mayat.
Karena itu penting sekali untuk memastikan bahwa mayat belum disentuh oleh
orang lain. Posisi mayat ini juga penting untuk menentukan apakah kematian
disebabkan karena pembunuhan atau bunuh diri. Ada 5 warna lebam mayat yang
dapat kita gunakan untuk memperkirakan penyebab kematian :
-

Merah kebiruan merupakan warna normal lebam

Merah terang menandakan keracunan CO, keracunan CN atau suhu dingin

Merah gelap menunjukkan asfiksia


19

Biru menunjukkan keracunan nitrit

Coklat menandakan keracunan aniline

Pada penemuan lebam mayat, dicatat letak/distribusi, warna, dan intensitas lebam.
b. Kaku mayat
Perubahan otot yang terjadi setelah kematian bisa dibagi dalam 3 tahap:
-

Periode relaksasi primer (flaksiditas primer)


Hal ini terjadi segera setelah kematian. Biasanya berlangsung selama 2-3 jam.
Seluruh otot tubuh mengalami relaksasi,dan bisa digerakkan ke segala arah.
Iritabilitas otot masih ada tetapi tonus otot menghilang. Pada kasus di mana
mayat letaknya berbaring rahang bawah akan jatuh dan kelopak mata juga
akan turun dan lemas.

Kaku Mayat
Kaku mayat akan terjadi setelah tahap relaksasi primer. Keadaan ini
berlangsung setelah terjadinya kematian tingkat sel, dimana aktivitas listrik
otot tidak ada lagi. Otot menjadi kaku. Fenomena kaku mayat ini pertama
sekali terjadi pada otot-otot mata, bagian belakang leher, rahang bawah,
wajah, bagian depan leher, dada, abdomen bagian atas dan terakhir pada otot
tungkai. Akibat kaku mayat ini seluruh mayat menjadi kaku, otot memendek
dan persendian pada mayat akan terlihat dalam posisi sedikit fleksi. Keadaan
ini berlangsung selama 24 - 48 jam pada musim dingin dan 18 - 36 jam pada
musim panas. Penyebabnya adalah otot tetap dalam keadaan hidrasi oleh
karena adanya ATP. Jika tidak ada oksigen, maka ATP akan terurai dan
akhirnya habis, sehingga menyebabkan penumpukan asam laktat dan
penggabungan aktinomiosin (protein otot).

Periode Relaksasi Sekunder


Otot menjadi relak (lemas) dan mudah digerakkan. Hal ini terjadi karena
pemecahan protein, dan tidak mengalami reaksi secara fisik maupun kimia.
Proses pembusukan juga mulai terjadi. Pada beberapa kasus, kaku mayat
sangat cepat berlangsung sehingga sulit membedakan antara relaksasi primer
dengan relaksasi sekunder.

Pada penemuan kaku mayat dicatat distribusi, derajat kekakuan pada beberapa sendi,
dan ada tidaknya spasme kadaverik.
c. Suhu tubuh mayat
20

Suhu tubuh pada orang yang sudah meninggal perlahan-lahan akan sama dengan
suhu lingkungannya karena mayat tersebut akan melepaskan panas dan suhunya
menurun. Kecepatan penurunan suhu pada mayat bergantung kepada suhu
lingkungan dan suhu mayat itu sendiri. Pada iklim yang dingin maka penurunan
suhu mayat berlangsung cepat. Pengukuran dilakukan memakai termometer rektal
dam dicatat juga suhu ruangan pada saat tersebut.
d. Pembusukan
Perubahan warna. Perubahan ini pertama kali tampat pada fossa iliaka kanan dan
kiri berupa warna hijau kekuningan, disebabkan oleh perubahan hemoglobin
menjadi sulfmethemoglobin. Perubahan warna ini juga tampak pada seluruh
abdomen, bagian depan genitalia eksterna, dada, wajah dan leher. Dengan semakin
berlalunya waktu maka warnanya menjadi semakin ungu. Jangka waktu mulai
terjadinya perubahan warna ini adalah 6-12 jam pada musim panas dan 1-3 hari
pada musin dingin. Perubahan warna tersebut juga diikuti dengan pembengkakan
mayat. Otot sfingter mengalami relaksasi sehingga urin dan faeses keluar. Lidah
juga terjulur. Bibir menebal, mulut membuka dan busa kemerahan bisa terlihat
keluar dari rongga mulut. Mayat berbau tidak enak disebabkan oleh adanya gas
pembusukan. Gas ini bisa terkumpul pada suatu rongga sehingga mayat menjadi
tidak mirip dengan korban sewaktu masih hidup. Gas ini selanjutnya juga bisa
membentuk lepuhan kulit.
Lepuhan kulit mulai tampak 36 jam setelah meninggal. Kulit ari dapat dengan
cukup mudah dikelupas. Di mana akan tampak cairan berwarna kemerahan yang
sedikit mengandung albumin. Jika pembusukan terus berlangsung, maka bau
busuk yang timbul akan menarik lalat untuk hinggap pada mayat.
Lalat menempatkan telurnya pada mayat, di mana dalam waktu 8-24 jam telur
akan menetas menghasilkan larva-yang sering disebut belatung. Dalam waktu 4-5
hari, belatung ini lalu menjadi pupa, dimana setelah 4-5 hari kemudian akan
menjadi lalat dewasa.
Pada tahap ini bagian dari tulang tengkorak mulai tampak. Rektum dan uterus
juga tampak dan uterus gravid juga bisa mengeluarkan isinya Rambut dan kuku
dengan mudah dapat dicabut. Bagian perut dan dada bisa pecah berhubung
besarnya tekanan gas yang di kandungnya. Jika pembusukan terus berlangsung,
maka jaringan jaringan menjadi lunak, rapuh dan berwarna kecoklatan.
e. Lain-lain; misalnya mumifikasi atau adiposera.
21

6. Mencatat identitas mayat, seperti jenis kelamin, bangsa/ras, perkiraan umur, warna
kulit, status gizi, tinggi badan, berat badan, disirkumsisi/tidak, striae albicantes pada
dinding perut.
7. Mencatat segala sesuatu yang dapat dipakai untuk penentuan identitas khusus,
meliputi rajah/tatoo, jaringan parut, kapalan, kelainan kulit, anomali dan cacat pada
tubuh, kalau perlu di foto.
8. Pemeriksaan rambut
Memeriksa distribusi, warna, keadaan tumbuh, dan sifat dari rambut. Jika pada mayat
terdapat rambut yang mempunyai sifat berlainan, perlu untuk disimpan jika suatu saat
perlu.
9. Pemeriksaan mata
Memeriksa mata, seperti apakah kelopak terbuka atau tertutup, tanda kekerasan,
kelainan. Periksa selaput lendir kelopak mata dan bola mata, warna, cari pembuluh
darah yang melebar, bintik perdarahan, atau bercak perdarahan. Kornea jernih/tidak,
adanya kelainan fisiologik atau patologik. Catat keadaan dan warna iris serta kelainan
lensa mata. Catat ukuran pupil, bandingkan kiri dan kanan.
10. Pemeriksaan daun telinga dan hidung
Mencatat bentuk dan kelainan/anomali pada daun telinga dan hidung.
11. Pemeriksaan mulut dan rongga mulut
12. Memeriksa bibir, lidah, rongga mulut, dan gigi geligi. Catat gigi geligi dengan
lengkap, termasuk jumlah, hilang/patah/tambalan, gigi palsu, kelainan letak,
pewarnaan, dan sebagainya.
13. Pemeriksaan leher
Bagian leher diperiksa jika ada memar, bekas pencekikan atau pelebaran pembuluh
darah. Kelenjar tiroid dan getah bening juga diperiksa secara menyeluruh.
14. Pemeriksaan alat kelamin dan lubang pelepasan.
Pada pria dicatat kelainan bawaan yang ditemukan, keluarnya cairan, kelainan
lainnya. Perhatikan bentuk lubang pelepasan, perhatikan adanya luka, benda asing,
darah dan lain-lain
15. Perlu diperhatikan kemungkinan terdapatnya tanda perbendungan, ikterus, sianosis,
edema, bekas pengobatan, bercak lumpur atau pengotoran lain pada tubuh.
22

16. Bila terdapat tanda-tanda kekerasan/luka harus dicatat lengkap. Setiap luka pada
tubuh harus diperinci dengan lengkap, yaitu jenis luka, lokasi bentuk, ara, tepi, sudut,
dasar, ukuran, dan lain-lain. Dalam luka diukur dan panjang luka diukur setelah kedua
tepi ditautkan. Lokalisasi luka dilukis dengan mengambil beberapa patokan, antara
lain garis tengah melalui tulang dada, garis tengah melalui tulang belakang, garis
mendatar melalui kedua puting susu, dan garis mendatar melalui pusat.
17. Pemeriksaan ada tidaknya patah tulang, serta jenis/sifatnya.1,4
INTERPRETASI HASIL
Penjeratan
Perjeratan adalah penekanan benda asing berupa tali,ikat pinggang, rantai, stagen, kawat,
kabel, kaos kaki dan sebagainya melingkari atau mengikat leher yang makin lama makin kuat
sehingga saluran pernafasan tertutup. Berbeda dengan gantung diri yang biasanya ,merupakan
suicide maka penjeratan adalah pembunuhan.
Mekanisme kematian pada penjeratan adalah akibat asfiksia atau refleks vaso vagal. Pada
gantung diri, semua arteri di leher mungkin tertekan sedangkan pada penjeratan arteri
vertebralis biasanya tetap paten. Hal ini disebabkan oleh kerana kekuatan atau beban yang
menekan pada penjeratan biasanya tidak besar.
Bila jerat masih ditemukan melingkari leher,maka jerat tersebut harus disimpan dengan baik
sebab merupakan benda bukti dan dapat diserahkan kepada penyidik bersama dengan visum
et repertum.
Terdapat 2 jenis jerat yaitu simpul hidup (melingkari jerat dapat diperbesar atau diperkecil)
dan simpul mati (lingkar jerat tidak dapat diubah).
Jejas jerat pada leher biasanya mendatar, melingkari leher dan terapat lebih rendah dari jejas
jerat pada kasus gantung.
Keadaan jejas jerat sangat bevariasi. Bila jerat lunak dan lebar seperti handuk atau selendang
sutera,maka jejas mungkin tidak ditemukan dan pada otot leher sebelah dalam dapat
ditemukan adanya sedikit resapan darah. Tali yang tipis seperti kaos kaki nylon akan
meniggalkan jejas dengan lebar tidak lebih dari 2-3 mm.
Pola jejas dapat dilihat dengan menempelkan transparant scrotch tape pada daerah jejas di
leher,kemudian ditempelkan pada kaca objek dan dilihat dengan mikroskop atau dengan sinar
ultra violet.5
Bila jejas kasar seperti tali,maka bila tali bergesekkan pada saat korban melawan akan
menyebabkan luka lecet di sekitar jejas jerat yang nampak jelas berupa kulit yang mencekung
23

berwarna coklat dengan perabaan kaku seperti kertas perkamen.Pada otot sebelah dalam
tampak banyak resapan darah.
Cara kematian dapat berupa :
1. Bunuh diri
Hal ini jarang menyilutkan diagnosis.Pengikatan dilakukan sendiri oleh korban
dengan simpul hidup atau bahan hanya dililitkan seja,dengan jumlah lilitan lebih dari
satu.
2. Pembunuhan
Pengikatan biasanya dengan simpul mati dan sering trlihat bekas luka pada leher
3. Kecelakaan.
Dapat terjadi pada orang yang sedang bekerja
Tabel 1. Perbedaan kasus gantung dan kasus jerat1
Kasus Gantung
(bunuh diri)
Simpul hidup

Simpul

Simpul

dapat

Kasus Jerat
(pembunuhan)
Simpul mati

dikeluarkan Simpul sulit dikeluarkan melalui

melalui kepala(tidak terikat kepala (terikat kuat)


kuat)
Jumlah lilitan penjerat

Bisa lebih dari 1 lilitan

Biasanya 1 buah lilitan

Arah

Serong ke atas

Mendatar/horizontal

Jarak

titik

tumpu- Jauh

Dekat

simpul

Berbentuk

Lokasi jejas

terputus)
Lebih tinggi

Lebih rendah

Jejas jerat

Meninggi ke arah simpul

Mendatar

Luka perlawanan

Luka lain-lain

Biasanya

Karakteristik simpul

terdapat luka percobaan lain


Jejas simpul jarang terlihat

Terlihat jejas simpul

Simpul hidup

Simpul

Simpul

ada,

dapat

(lingkaran Berbentuk lingkaran penuh

mungkin Ada, sering di daerah leher

dikeluarkan Simpul sulit dikeluarkan melalui

melalui kepala(tidak terikat kepala (terikat kuat)


kuat)
Lebam mayat

Pada bagian bawah tubuh

Tergantung posisi tubuh korban


24

Lokasi

Tersembunyi

Bervariasi

Kondisi

Teratur

Tidak teratur

Pakaian

Rapi dan baik

Tidak teratur, robek

Ruangan

Terkunci dari dalam

Tidak teratur, terkunci dari luar

Luka terbuka
Luka terbuka biasa terjadi akibat adanya perlukaan oleh benda-benda tajam yang mampu
menembus kulit sehingga bagian dalam tubuh terhubung dengan dunia luar. Benda yang
dapat mengakibatkan luka seperti ini memiliki sisi tajam baik berupa garis maupun runcing,
yang

bervariasi

dari

alat

seperti

pisau,golok

dan

sebagainya

hingga

keping

kaca,gelas,logam,sembilu bahkan tepi kertas atau rumput.1


Gambaran luka adalah tepi dan dinding luka yang rata,berbentuk garis,tidak terdapat
jembatan jaringan dan dasar luka berbentuk garis atau titik. Luka akibat benda tajam dapat
berupa luka iris atau sayat,luka tusuk dan luka bacok.1
Luka tusuk adalah luka yang dimana kedalaman luka lebih panjang daripada luka itu sendiri
dan biasa terjadi akibat gerakan yang tegak lurus. Pada luka tusuk, sudut luka dapat
menunjukkan perkiraan benda penyebabnya,apakah berupa pisau bermata satu atau bermata
dua. Bila satu sudut luka lancip dan yang lain tumpul,bererti benda penyebabnya adalah
benda tajam bermata satu. Bila kedua sudut luka lancip,luka tersebut dapat diakibatkan oleh
benda tajam bermata dua.Benda tajam bermata satu dapat menimbulkan luka tusuk dengan
kedua luka lancip apabila hanya bagian ujung benda saja yang menyentuh kulit, sehingga
sudut luka dibentuk oleh ujung dan sisi tajamnya.1
Kulit di sekitar luka akibat kekerasan benda tajam biasanya tidak menunjukkan adanya luka
lecet atau memar kecuali bila bagian gagang turut membentur kulit.1
Pada kematian akibat kekerasan, pemeriksaan terhadap luka harus mengungkapkan hal-hal
seperti:
a) Penyebab luka
Memeperhatikan morfologi luka yang seringkali memberi petunjuk tentang benda
yang mengenai tubuh
b) Arah kekerasan

25

Luka lecet dan luka robek dapat menentukan arah kekerasan sehingga penting untuk
rekonstruksi terjadinya perkara. Pada luka yang menembus kedalam tubuh, perlu
ditentukan arah serta jalannya saluran luka dalam tubuh mayat.
c) Cara terjadinya luka
Dilihat apakah luka akibat dari pembunuhan, kecelakaan atau bunuh diri. Luka akibat
pembunuhan biasanya tersebar di seluruh tubuh sama ada daerah terbuka atau daerah
tertutup seperti leher, ketiak, lipat siku dan sebagainya. Seringkali juga ditemukan
luka tangkis pada korban pembunuhan. Pada kecelakaan luka lebih ditemukan di
daerah yang terbuka disbanding daerah tertutup. Pada korban bunuh diri pula, luka
menunjukkan sifat luka percobaan atau tentative wounds yang mengelompok dan
berjalan kurang lebih sejajar.
d) Hubungan antara luka yang ditemukan dengan sebab mati
Pada korban kekerasan harus dibuktikan bahwa kematian terjadi semata-mata akibat
kekerasan yang menyebabkan luka. Harus juga dipastikan luka yang ditemukan
adalah luka intravital yaitu yang terjadi sewaktu korban masih hidup. Tanda
intravitalitas luka berupa reaksi jaringan terhadap luka seperti resapan darah, proses
penyembuhan luka, sebukan sel radang dan lain-lain perlu diperhatikan.
e) Pemeriksaan intravital (perlukaan yang terjadi saat korban masih hidup atau sesudah
mati)
Pada bagian luka, sedikit jaringan diambil kemudian dibuat preparat supaya dapat
dilihat dengan mikroskop. Dengan menggunakan mikroskopik, akan terlihat :

Perlukaan intravital positif : adanya reaksi radang pada luka

Perlukaan intravital negatif : tidak adannya reaksi radang pada luka.

Reaksi radang itu adalah apabila sel darah merah didapati menyebar, sebukan sel
radang akut atau polimonuclear terdapat pada jaringan. Selain itu didapati jugak
migrasi sel perisit dari dinding kapiler ke jaringan sekitar/parenkim dengan
perwarnaan Toludine Blue.
26

Pada kasus PBL 1 ini ditemukan adanya perlukaan intravital positif yang berarti
perlukaan terjadi saat korban masih hidup.
Pada kasus pembunuhan dengan menggunakan kekerasan tajam, luka harus dilukis dengan
baik dan diperhatikan bentuk luka, tepi luk, sudut luka, keadaan sekitar luka dan lokasi luka.
Dilihat juga kemungkinan terdapatnya luka tangkis di daerah ekstensor lengan bawah serta
telapak tangan. Biasanya terdapat beberapa buah luka yang distribusinya tidak teratur pada
kasus pembunuhan dengan kekerasan tajam. Pembunuhan dengan menggunakan kekerasan
tumpul dapat menimbulkan luka berbentuk luka memar, luka lecet maupun luka robek. Perlu
juga diperhatikan adanya atau luka tangkis. Pada pembunuhan dengan senjata api pula dapat
ditemukan luka tembak masuk jarak dekat, sangat dekat atau luka tembak masuk jarak jauh
dan luka tembak tempel.
Seseorang yang bunuh diri dengan benda tajam seringkali ditemukan luka bunuh diri yang
mengelompok pada tempat tertentu seperti pergelangan tangan, leher atau daerah prekordial.
Luka-luka sering berupa beberapa buah luka percobaan dengan satu luka yang mematikan.
TRAUMATOLOGI
Traumatologi (kecederaan) adalah putusnya atau rusaknya kontinyuitas jaringan akibat
trauma / injury.1
Ada 3 pembagian traumatologi (kecederaan), yaitu :
1. Mekanik
Kekerasan oleh benda tajam, kekerasan oleh benda tumpul, tembakan senjata api
2. Fisik
Suhu, listrik dan petir, perubahan tekanan udara, akustik, radiasi
3. Kimia
Asam, basa kuat
Ada 4 penyebab mekanik terjadinya trauma (kecederaan), yaitu :
1.
2.
3.
4.

Kekerasan benda tumpul (blunt force injury).


Kekerasan benda tajam.
Senjata api.
Bahan peledak / bom

Trauma Tajam
Benda tajam seperti pisau, pemecah es, kapak, pemotong, dan bayonet menyebabkan luka
yang dapa dikenali oleh pemeriksa. Tipe lukanya akan dibahas di bawah ini :
1. Luka insisi
27

Luka insisi disebabkan gerakan menyayat dengan benda tajam seperti pisau atau silet.
Karena gerakan dari benda tajam tersebut, luka biasanya panjang, bukan dalam.
Panjang dan kedalaman luka dipengaruhi oleh gerakan benda tajam, kekuatannya,
ketajaman, dan keadaan jaringan yang terkena. Karakteristik luka ini yang
membedakan dengan laserasi adalah tepinya yang rata.
2. Luka tusuk
Luka tusuk disebabkan oleh benda tajam dengan posisi menusuk atau korban yang
terjatuh di atas benda tajam. Bila pisau yang digunakan bermata satu, maka salah satu
sudut akan tajam, sedangkan sisi lainnya tumpul atau hancur. Jika pisau bermata dua,
maka kedua sudutnya tajam.
Penampakan luar luka tusuk tidak sepenuhnya tergantung dari bentuk senjata.
Jaringan elastis dermis, bagian kulit yang lebih dalam, mempunyai efek yang sesuai
dengan bentuk senjata. Harus dipahami bahwa jaringan elastis terbentuk dari garis
lengkung pada seluruh area tubuh. Jika tusukan terjadi tegak lurus garis tersebut,
maka lukanya akan lebar dan pendek. Sedangkan bila tusukan terjadi paralel dengan
garis tersebut, luka yang terjadi sempit dan panjang.
Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi bentuk luka tusuk, salah satunya adalah
reaksi korban saat ditusuk atau saat pisau keluar, hal tersebut dapat menyebabkan
lukanya menjadi tidak begitu khas. Atau manipulasi yang dilakukan pada saat
penusukan juga akan mempengaruhi. Beberapa pola luka yang dapat ditemukan :
a. Tusukan masuk, yang kemudian dikeluarkan sebagian, dan kemudian ditusukkan
kembali melalui saluran yang berbeda. Pada keadaan tersebut luka tidak sesuai
dengan gambaran biasanya dan lebih dari satu saluran dapat ditemui pada jaringan
yang lebih dalam maupun pada organ.
b. Tusukan masuk kemudian dikeluarkan dengan mengarahkan ke salah satu sudut,
sehingga luka yang terbentuk lebih lebar dan memberikan luka pada permukaan
kulit seperti ekor.
c. Tusukan masuk kemuadian saat masih di dalam ditusukkan ke arah lain, sehingga
saluran luka menjadi lebih luas. Luka luar yang terlihat juga lebih luas
dibandingkan dengan lebar senjata yang digunakan.
d. Tusukan masuk yang kemudian dikeluarkan dengan mengggunakan titik terdalam
sebagai landasan, sehingga saluran luka sempit pada titik terdalam dan terlebar
pada bagian superfisial. Sehingga luka luar lebih besar dibandingkan lebar senjata
yang digunakan.

28

e. Tusukan diputar saat masuk, keluar, maupun keduanya. Sudut luka berbentuk
ireguler dan besar.1
KESIMPULAN
Sesuai dengan kasus 1 problem based learning yaitu mayat laki-laki berusia kurang lebih 30
tahun ditemukan luka terbuka pada ketiak kiri yang memperlihatkan pembuluh darah ketiak
putus, luka lecet pada leher akibat jeratan dan beberapa luka terbuka pada daerah tungkai
bawah kanan dan kiri akibat kekerasan tajam. Luka pada ketiak kiri menunjukkan ciri-ciri
yang sesuai dengan tusukan benda tajam bermata satu. Sebab mati orang ini belum dapat
ditentukan karena perlu dilakukan pemeriksaan dalam (bedah jenazah). Perkiraan mati lebih
dari dua puluh empat jam.

29

LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN


RS UKRIDA
Jln. Hj. Lebar No. 100A, Tanjung Duren, Jakarta Barat

Jakarta, 17 Desember 2014


Nomor: 1234-SK III/5678/9-10.
Lamp.: satu sampul tersegel
Perihal: Hasil Pemeriksaan Pembedahan --------------------------------------------------------------Atas jenazah bernama Mr. X ----------------------------------------------------------------------------PROJUSTITIA
Visum Et Repertum
No 10/TU. RSUKRIDA/XII/2014

Yang bertandatangan di bawah ini, dr. Ratna Setia Wati, dokter ahli kedokteran
forensik pada RS UKRIDA, menerangkan bahawa atas permintaan dari kepolisian Resort
Metropolitan Jakarta Barat Sektor Tanjung Duren dengan suratnya nomor
VER/30/XII/2014/SekTj.Duren tertanggal 1 Desember 2014 maka dengan ini menerangkan
bahwa pada tanggal 15 Desember 2014 pukul 14.20 bertempat di ruang jenazah RS
UKRIDA, telah melakukan pemeriksaan atas jenazah yang menurut surat permintaan tersebut
adalah:---------------------------------------------Nama

: Mr. X-----------------------------------------------------------------------------

Umur

: 30 tahun--------------------------------------------------------------------------

Jenis Kelamin : Laki-laki------------------------------------------------------------------------Warga negara : Indonesia------------------------------------------------------------------------Pekerjaan

: ------------------------------------------------------------------------------------

Agama

: -----------------------------------------------------------------------------------30

Alamat

: ------------------------------------------------------------------------------------

Mayat telah diidentifikasi dengan sehelai label bewarna merah muda, dengan
materai lak merah, terikat pada ibu jari kaki kanan.
Hasil Pemeriksaan---------------------------------------------------------------------------------------Pemeriksaan luar-----------------------------------------------------------------------------------------1. Mayat tidak terbungkus.--------------------------------------------------------------------2. Mayat berpakai sebagai berikut:-----------------------------------------------------------(a) Pakaian dalam oblong polos berwarna putih dengan merek GT man,
berukuran M dengan lumuran darah pada daerah di sekitar bagian kiri
pakaian
dalam
tersebut----------------------------------------------------------------------------------(b) Kemeja lengan panjang........

Lanjutan Ver No 10/TU. RSUKRIDA/XII/2014


Halaman ke 2 dari 3 halaman
(b) Kemeja lengan panjang berwarna abu-abu polos merek Globe berukuran M.
terdapat robekan pada bagian lengan kiri kemeja dengan ukuran 10
sentimeter kali 2 milimeter dan robekan di daerah kerah kemeja. terdapat
rembesan
darah
sekitar
bagian
kiri
kemeja.------------------------------------------------------------(c) Celana panjang bahan berwarna hitam merek Sutra Emas berukuran L,
dengan saku masing-masing satu pada kanan dan kiri celana, dan masingmasing 1 di bagian belakang celanan kanan dan kiri. Celana digulung bagian
bawah dua-duanya setingi 5 sentimeter dari bagian bawah
celana.---------------------------(d) Celana dalam polos berwarna biru tua.---------------------------------------------3. Tidak tampak adanya kaku mayat, tampak adanya pembusukan pada seluruh
perut
dan
dada.
---------------------------------------------------------------------------4. Mayat adalah seorang laki-laki bangsa Indonesia, umur kurang lebih tiga
puluh tahun, kulit sawo matang, gizi sedang, panjang badan seratus enam
puluh delapan sentimeter dan berat badan enam puluh lima kilogram dari
zakar
disunat.
-----------------------------------------------------------------------------------5. Rambut kepala berwarna hitam, tumbuh lebat lurus, panjang sepuluh
sentimeter. Alis berwarna hitam, tumbuh lebat. Bulu mata berwarna hitam,
tumbuh lurus, panjang lima milimeter. Kumis berwarna hitam, tumbuh jarang
dengan panjang sepuluh milimeter. --------------------------------------------------6. Kedua mata terbuka masing-masing lima milimeter. Selaput bening mata
jernih, kedua teleng mata bundar dengan garis tengah lima milimeter. Tirai
mata berwarna hitam. Selaput bola mata dan selaput kelopak mata kanan dan
kiri berwarna putih, tidak tampak perdarahan maupun pelebaran pembuluh
darah.
7. Hidung berbentuk biasa. Kedua daun telinga berbentuk biasa. -------------------31

8. Mulut terbuka lima milimeter. Kedua bibir tampak tebal. Gigi geligi lengkap.

9. Dari lubang hidung, telinga, mulut dan lubang tubuh lainnya tidak keluar apaapa. ----------------------------------------------------------------------------------------10. Alat kelamin berbentuk biasa tidak menunjukkan adanya kelainan. Lubang
dubur
berbentuk
biasa
tidak
menunjukkan
kelainan.
-------------------------------11. Pada tubuh terdapat luka-luka sebagai berikut:--------------------------------------a) Pada seluruh leher di bawah rawan gondok terdapat luka lecet tekan
----------b) Pada daerah ketiak kiri tiga puluh sentimeter dari garis pertengahan depan,
dua belas sentimeter dari puncak bahu, seratus dua puluh delapan sentimeter
dari tumit, terdapat sebuah luka terbuka membujur, tepi luka rata, sudut atas
lancip dan sudut bawah tumpul, dasar luka adalah tulang bahu, luka bila
dirapatkan berbentuk garis lurus sepanjang lima sentimeter.
---------------------------------c) Pada tungkai bawah kanan, delapan sentimeter dari lutut terdapat luka
terbuka berukuran 3 sentimeter kali 2 milimeter akibat kekerasan benda
tajam. -------d) Pada tungkai bawah kiri, dua belas sentimeter dari lutut terdapat luka terbuka
berukuran 2 sentimeter kali 2 milimeter akibat kekerasan benda tajam. -------e) Tulang tidak terdapat tanda-tanda patah tulang------------------------------------Kesimpulan
Pada mayat laki-laki.........
Lanjutan Ver No 10/TU. RSUKRIDA/XII/2014
Halaman ke 3 dari 3 halaman
Pada mayat laki-laki ini ditemukan luka terbuka pada ketiak kiri yang
memperlihatkan pembuluh darah ketiak putus, luka lecet pada leher akibat jeratan dan
beberapa luka terbuka pada daerah tungkai bawah kanan dan kiri akibat kekerasan tajam.
-------------------------------Luka pada ketiak kiri menunjukkan ciri-ciri yang sesuai dengan tusukan benda tajam
bermata satu. -----------------------------------------------------------------------------------------------Demikianlah visum et repertum ini saya buat dengan sesungguhnya berdasarkan
keilmuan saya dan dengan mengingat sumpah sesuai dengan Kitab Undang-undang Hukum
Acara Pidana. -----------------------------------------------------------------------------------------------

Dokter yang memeriksa,

Dr. Ratna Setia Wati


NIM 102011203
32

DAFTAR PUSTAKA
1. Budiyanto A, Widiatmaka W, Sudiono S, et al. Ilmu kedokteran forensik. Bagian
Kedokteran Forensik FKUI: Jakarta;1997. h.1,25-33,42-4
2. Bagian

Kedokteran

Forensik

FKUI.Peraturan

perundang-undangan

bidang

kedokteran. Bagian Kedokteran Forensik FKUI: Jakarta;1994. h.11-20,37-9


3. Atmadja DS. Prosedur pemeriksaan luar jenazah dan aspek medikolegalnya. 17
Oktober 2004. Diunduh dari :
http://pemeriksaanluarjenazah.blogspot.com/. 17 Desember 2014.
4. Tanda pasti kematian mayat. 11 November 2011. Diunduh dari :
http://medicine.uii.ac.id/upload/23-SAP-blok-medikolegal-kedokteran-uii.pdf.

17

Desember 2014.
5. Mansjoer A, Suprohaita, Wardhani WI. Kapita selekta kedokteran jilid 2. Media
Aesculapius: Jakarta; 2007. h.220-1.

33