Anda di halaman 1dari 9

LAPORAN PENDAHULUAN SEPSIS NEONATORUM

DI RUANG PBRT RSUP Dr.KARIADI

Disusun oleh:
ADITYA KRISNA
22020113210041

PROGRAM PROFESI NERS ANGKATAN XXII


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2014

BAB I LAPORAN PENDAHULUAN


A. LATAR BELAKANG
B. TUJUAN

BAB II
TINJAUAN TEORI
A. DEFINISI
Sepsis adalah infeksi bakteri umum generalisata yang biasanya terjadi pada
bulan pertama kehidupan. (Muscari, Mary E. 2005. ).
Sepsis neonatorum adalah infeksi bakteri pada aliran darah bayi selama
empat minggu pertama kehidupan.(Bobak, 2005)
Sepsis adalah infeksi berat dengan gejala sistemik dan terdapat bakteri
dalam darah.(Surasmi, Asrining. 2003, hal 92).
B. PROSES PATOFISIOLOGI
Sepsis dimulai dengan invasi bakteri dan kontaminasi sistemik. Pelepasan
endotoksin oleh bakteri menyebabkan perubahan fungsi miokardium,

perubahan ambilan dan penggunaan oksigen, terhambatnya fungsi


mitokondria, dan kekacauan metabolik yang progresif. Pada sepsis yang
tiba-tiba dan berat, complment cascade menimbulkan banyak kematian dan
kerusakan sel. Akibatnya adalah penurunan perfusi jaringan, asidosis
metabolik, dan syok, yang mengakibatkan disseminated intravaskuler
coagulation (DIC) dan kematian (Bobak, 2005)
Patogenesis juga dapat terjadi antenatal, intranatal, dan paskanatal yaitu;
1. Antenatal
Terjadi karena adanya faktor resiko, pada saat antenatal kuman dari ibu
setelah melewati plasenta dan umbilikus masuk ke dalam tubuh melalui
sirkulasi darah janin. Kuman penyebab infeksi adalah kuman yang
menebus plasenta, antara lain: virus rubella, herpes, influeza, dan masih
banyak yang lain.
2. Intra natal
Infeksi saat persalinan terjadi karena kuman ada pada vagina dan serviks
naik mencapai korion dan amnion.akibatnya terjadilah amnionitis dan
korionitis, selanjutnya kuman melalui umbilikus masuk ketubuh bayi.
Cara lain saat persalinan, cairan amnion yang sudah terinfeksi oleh bayi
sehingga menyebabkan infeksi pada lokasi yang terjadi pada janin
melalui kulit bayi saat bayi melewati jalan lahir yang terkontaminasi
oleh kuman.
3. Pasca natal
Infeksi yang terjadi sesudah persalinan, umumnya terjadi akibat infeksi
nasokomial dari lingkungan di luar rahim,( misal : melallui alat-alat,
penghisap lendir, selang endotrakea, infus, dan lain-lain). Dan infeksi
dapat juga terjadi melalui luka umbillikus (Wong, L. Donna. 2009).
Selain dari faktor patofisiologi ada beberapa faktor yan menyebabkan yaitu :
1. Faktor predisposisi
Terdapar berbagai faktor predisposisi terjadinya sepsis, baik dari ibu
maupun bayi sehingga dapat dilakukan tindakan antisipasi terhadap
kemungkinan terjadinya sepsis. Faktor tersebut adalah :
a) Penyakit infeksi yang diderita ibu selama kehamilan
b) Perawatan antenatal yang tidak memadai
c) Ibu menderita eklampsia, diabetes mellitus

d) Pertolongan persalinan yang tidak higiene, partus lama, partus dengan


tindakan.
e) Kelahiran kurang bulan, BBLR, dan cacat bawaan.
f) Adanya trauma lahir, asfiksia neonatus, tindakan invasif pada
neonatus.
g) Sarana perawatan yang tidak baik, bangsal yang penuh sesak
h) Ketuban pecah dini
C. PATHWAY
Invasi Bakteri dan kontaminasi sistemik

Pelepasan endotoksi oleh bakteri

Perubahan fungsi miokaridum hipotalamus

Gangguan proses pernapasan pusat termuregulator

Gangguan fungsi mitokondria ketidakstabilan suhu

Kekacauan metabolic yang progresif

Kerusakan dan kematian sel

Penurunan perfusi jaringan

Asidosis metabolik

Syok septik insufisiensi

Disseminated Intravasculer coagulation

Sepsis neonatorum
( Bobak : 2005 )
D. MANIFESTASI KLINIS
Pada bayi baru lahir, infeksi harus dipertimbangkan pada diagnosis banding
tanda-tanda fisik. Semua ini mungkin mempunyai penjelasan noninfeksi.
Bila

banyak

sistem

terlibat

atau

bila

tanda-tanda

kardiorespirasi

menunjukkan sakit berat, maka sepsis harus dipikirkan. Gejalanya


tergantung kepada sumber infeksi dan penyebarannya :
1. Infeksi pada tali pusar (omfalitis) bisa menyebabkan keluarnya nanah
atau darah dari pusar.

2. Infeksi pada selaput otak (meningitis) atau abses otak bisa menyebabkan
koma, kejang, opistotonus (posisi tubuh melengkung ke depan) atau
penonjolan pada ubun-ubun
3. Infeksi pada tulang (osteomielitis) menyebabkan terbatasnya pergerakan
pada lengan atau tungkai yang terkena
4. Infeksi pada persendian bisa menyebabkan pembengkakan, kemerahan,
nyeri tekan dan sendi yang terkena teraba hangat
5. Infeksi pada selaput perut (peritonitis) bisa menyebabkan pembengkakan
perut dan diare berdarah.
Tanda awal mungkin terbatas pada hanya satu sistem, seperti apnea,
takipnea

dengan

retraksi,

atau

takikardia,

namun

pemeriksaan

laboratorium dan klinis secara menyeluruh biasanya akan mengungkapkan


kelainan lainnya. Bayi yang tersangka sepsis seharusnya diperiksa untuk
mengetahui penyakit sistem multiorgan. Asidosis metabolik sering terjadi.
Hipoksemia dan retensi karbondioksida dapat dikaitkan dengan sindrom
disters pernapasan kongenital dan dewasa (RDS) atau penumonia.
Banyak bayi baru lahir yang terinfeksi tidak memiliki kelainan fisiologi
sistemik yang serius. Banyak bayi dengan pneumonia dan bayi dengan
NEC stadium II tidak menderita sepsis. Sebaliknya, NEC stadium III
biasanya disertai oleh gejala sistemik sepsis, dan infeksi saluran kencing
(UTI) akibat uropati obstruktif, dapat mempunyai kelainan hematologis
dan hepatis yang serupa dengan sepsis. Setiap bayi harus dievaluasi
kembali sepanjang waktu untuk menentukan apakah perubahan fisiologis
akibat infeksi telah mencapai tingkat sedang hingga berat yang konsisten
dengan sepsis.
Manifestasi akhir sepsis meliputi tanda-tanda edema serebral dan/atau
trombosis, gagal napas sebagai akibat sindrom disters respirasi didapat
(ARDS), hipertensi pulmonal, gagal jantung, gagal ginjal, penyakit
hepatoseluler dengan hiperbilirubinemia dan peningkatan enzim, waktu
protrombin [prothrombin time (PT)] dan waktu tromboplastin parsial

(partial thromboplastin time [PTT] yang memanjang, syok septik,


perdarahan adrenal disertai insufisiensi adrenal, kegagalan sumsum tulang
(trombositopenia, netropenia, anemia), dan koagulasi intravaskular
diseminata (diseminated intravascular coagulation [DIC]). (Prawirohardjo,
Sarwono. 2007).
E. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan penunjang atau laboraturium pada bayi-bayi sepsis sebagai
berikut:
1. Skrining sepsis yang rutin
a) Hitung jenis darah lengkap
b) Kultur darah.
c) Apusan bahan dari bagian yang mengalami inflamasi.
d) Apusan dari telinga dan tenggorokan (pada early -onset infeksi).
e) Urine secara mikroskopis dan kultur.
f) Rontgen thoraks.
g) reaktif protein.
2. Tes rutin tambahan,dari indikasi klinis yang didapatkan.
a) Lumbal pungsi,
b) Kultur dan gram dari aspirasi lambung
c) Kultur dan gram dari apusan vagina yang lebih tinggi dari ibu.
d) Kultur dari endotrakeal tube atau aspirasi dari trakeal.
e) Kultur dari drainase dada.
f) Kultur dari kateter vaskular.
g) Kultur darah kwantitatif atau kultur darah multipel.
h) IgG konsentrasi serial untuk spesifik organisme.
i) IgM konsentrasi untuk organisme spesifik.
j) Buffy coat secara mikroskopik.
c.

Tes tidak rutin atau tes baru

- Lateks aglutinasi tes.


- Serum interleukin dan TNFa.
- Immunoelektroforesis.
- Acridin orange leukosit cystopin test.
F. PENGKAJIAN KEPERAWATAN
Pemeriksaan

Hasil

Kepala
Muka
Mata
Telinga

Simetris atau tidak adanya masa di belakang atas akan


menyebabkan kepala tampak lebih panjang.
Simetris atau tidak, bayi tampakekspresi.
Diperhatikan adanya tanda-tanda perdarahan bercak
merah, yang akan menghilang setelah enam minggu,
mata yang menonjol, katarak dan lain-lain.
Ada kelainan pada bentuk telinga atau tidak.

Mulut

Saturasi tidak terdapat pada bayi normal, bila


terdapat sekretyang berlebihan, ada kemungkinan
kelainan bawaan. Melihat adanya labio skisis,labio
gronotopatoskisis, coothbuas.
Leher,
dada, Melihat
adanya
cedera
akibat
persalinan
danabdomen
adanyahematomasernokleidomastidens,
dukus
tiroglosus, higromakoli,
retraksidinding
dada,
pernafasancuping hidung, bunyi paru-paru (sonor,
vesikuler, bronkial, dan lain-lain).
Punggung
Melihat adanya benjolan (tumor atau tulang punggung
dengan lekukan yang tidak sempurna atau spina bifida).
Ekstremitas
Perlu
diperhatikan
bentuk,
gerakannya
teratur,piesis,polidakli, sindaktili dan lain-lain.
Kulit dan kuku
Kulit dalam keadaan normal, berwarna kemerahan,dan
ada yang mengelupas ringan, waspada timbulnya eutis
marmorata.
G. INTERVENSI KEPERAWATAN
1. Hipertermi b/d efek endotoksin, perubahan regulasi temperatur,
dihidrasi, peningkatan metabolisme
Tujuan
: Suhu tubuh dalam keadaan normal ( 36,5-37 )
Intervensi :
a. Pantau suhu pasien
Rasional : suhu 38,9 -41,1 derajad celcius menunjukkkan proses
penyakit infeksius akut
b. Pantau suhu lingkungan, batasi/tambahkan linen sesuai indikasi
Rasional : suhu ruangan harus di ubah untuk mempertahankan suhu
mendekati normal
c. Berikan kompres hangat, hindari penggunaan alcohol
Rasional : membantu mengurangi demam
d. Kolaborasi dalam pemberian antipiretik, misalnya

aspirin,

asetaminofen
Rasional : mengurangi demem dengan aksi sentral pada hipotalamus

2. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan sekunder


akibat demam
Tujuan
:Setelah

dilakukan

tindakan

1x24

jam

diharapkan

kebutuhan akan cairan terpenuhi dan TTV dalm batas normal


Intervensi

a. Monitoring tanda-tanda vital setiap dua jam dan pantau warna kulit
Rasional : Perubahan tanda-tanda vital yang signifikan akan
mempengaruhi proses regulasi ataupun metabolisme
dalam tubuh
b. Observasi adanya hipertermi, kejang dan dehidrasi.
Rasional : Hipertermi sangat potensial untuk menyebabkan kejang
yang akan semakin memperburuk kondisi pasien serta
dapat menyebabkan pasien kehilangan banyak cairan
secara evaporasi yang tidak diketahui jumlahnya dan
dapat menyebabkan pasien masuk ke dalam kondisi
dehidrasi.
c. Berikan kompres hangat jika terjadi hipertermi, dan pertimbangkan
untuk langkah kolaborasi dengan memberikan antipiretik.
Rasional: Kompres air hangat lebih cocok digunakan pada anak
dibawah usia 1 tahun, untuk menjaga tubuh agar tidak
terjadi hipotermi secara tiba-tiba. Hipertermi yang terlalu
lama tidak baik untuk tubuh bayi oleh karena itu
pemberian antipiretik diperlukan untuk segera menurunkan
panas, misal dengan asetaminofen.
d. Berikan ASI/PASI sesuai jadwal dengan jumlah pemberian yang
telah ditentukan
Rasional: Pemberian ASI/PASI sesuai jadwal diperlukan untuk
mencegah bayi dari kondisi lapar dan haus yang berlebih.
H. DAFTAR PUSTAKA
Bobak. Buku ajar keperawatn maternitas. Jakarta: EGC. 2005.
Behrman. Nelson ilmu kesehatan anak. Jakarta: EGC. 2000.
Wong, L. Donna. Buku Ajar Keperawatan Pediatrik Vol. 1. Jakarta: EGC,
2009

Prawirohardjo, Sarwono. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan


Maternal Dan Neonatal. Jakarta : Bina Pustaka. 2007.
Muscari E. Mary,. Keperawatan Pediatrik. Jakarta: EGC. 2005.

Anda mungkin juga menyukai