Anda di halaman 1dari 26

LAPORAN KASUS THT

OTITIS MEDIA AKUT STADIUM


HIPEREMIS AURIS DEXTRA

Pembimbing:
Dr. Anna Maria S, Sp.THT

Disusun Oleh :
Soraya Verina
03010259

KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT THT


RUMAH SAKIT DR. H. MARZOEKI MAHDI BOGOR
PERIODE 18 AGUSTUS 20 SEPTEMBER 2014
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI
JAKARTA
2014

LEMBAR PENGESAHAN

LAPORAN KASUS THT

OTITIS MEDIA AKUT STADIUM HIPEREMIS AURIS


DEXTRA

Diajukan untuk memenuhi syarat kepaniteraan klinik Ilmu Penyakit THT


periode 18 Agustus 20 September 2014
di Rumah Sakit Dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor

Disusun oleh:
Soraya Verina
030.10.259
Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti

Jakarta,

11 September 2014
Pembimbing

Dr. Anna Maria S, Sp. THT

DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN.......................................................................................
2
DAFTAR ISI..............................................................................................................
3
BAB I

PENDAHULUAN.....................................................................................
4

BAB II

LAPORAN KASUS
I

Identitas
5

II

Anamnesis
5

III

Pemeriksaan Fisik

Pasien

Status
6

Generalisata

Status
7

THT

IV Pemeriksaan
11
V

Penunjang

Resume
11

VI Diagnosis
11
VII Diagnosis
11

Banding

VIII

Penatalaksanaan
12

IX Rencana
12
X

Pemeriksaan

Lanjutan

Prognosis
12

BAB III ANALISA KASUS....................................................................................


13
BAB IV TINJAUAN PUSTAKA............................................................................
16

BAB V

KESIMPULAN.........................................................................................
24

DAFTAR PUSTAKA.................................................................................................
25

BAB I
PENDAHULUAN
Otitis Media Akut adalah suatu infeksi pada telinga tengah yang
disebabkan karena masuknya bakteri patogenik ke dalam telinga tengah. Otits
media akut (OMA) dapat terjadi karena beberapa faktor penyebab, seperti
sumbatan tuba eustachius (merupakan penyebab utama dari kejadian otitis media
yang menyebabkan pertahanan tubuh pada silia mukosa tuba eustachius
terganggu), ISPA (infeksi saluran pernafasan atas), dan bakteri (Streptococcus
peumoniae, Haemophylus influenza, Moraxella catarrhalis, dan bakteri piogenik
lain, seperti Streptococcus hemolyticus, Staphylococcus aureus, E. coli,
Pneumococcus vulgaris).
OMA lebih sering terjadi pada anak oleh karena infekasi saluran nafas
atas sangat sering terjadi pada anak anak dan bentuk anatomi tuba Eustachii
pada anak lebih pendek, lebar dan agak horisontal letaknya dibanding orang
dewasa. Dengan keadaan itu infeksi mudah menjalar melalui tuba Eustachii.
Menurut Klein dan Howie frekuwensi tertinggi di OMA terdapat pada bayi dan
anak berumur 0-2 tahun. Sedangkan menurut Moch. Zaman melaporkan 50 %
dari kasus OMA ditemukan pada anak berumur 0 5 tahun dan frekwensi
tertinggi pada umur 0-1 tahun.

BAB II
LAPORAN KASUS

I.

IDENTITAS PASIEN
Nama : Ny.A
Jenis Kelamin : Perempuan
Tempat lahir : Sukabumi
Tanggal lahir : 29 Maret 1990
Umur : 24 tahun
Alamat : Cilendek Timur RT 01/08. Bogor
Agama : Islam
Status perkawinan : kawin
Pekerjaan : Karyawan Swasta

II. ANAMNESIS
Dilakukan secara autoanamnesis dengan pasien pada hari Senin tanggal 8
September 2014 pukul 11.15 di poliklinik THT RS Dr. H. Marzoeki Mahdi
Bogor.
Keluhan Utama
Telinga kanan berdengung sejak 3 hari yang lalu.
Keluhan Tambahan
Telinga terasa penuh, Pilek, batuk, dan lemas.
Riwayat Penyakit Sekarang
Os datang ke poliklinik THT RS Dr.H Marzoeki Mahdi dengan keluhan
telinga kanan berdengung sejak 3 hari yang lalu. Telinga berdengung terjadi

terus menerus. Awalnya Os merasa telinga terasa penuh yang kemudian


diikuti rasa mendengung. Satu bulan sebelum datang ke poli Os batuk
berdahak dengan dahak yang sulit dikeluarkan. Dahak berwarna putih. Satu
minggu sebelum datang ke poli Os mengalami pilek. Cairan berwarna putih
dan tidak berbau. Os menyangkal adanya demam, keluar cairan dari
telinga,nyeri telinga, pendengaran berkurang, gatal pada telinga, pusing
berputar, mual, dan muntah.
Riwayat Penyakit Dahulu
Pasien belum pernah mengalami keluhan yang sama sebelumnya.
Riwayat Penyakit Keluarga
Pasien menyangkal adanya anggota keluarga yang mengalami gejala serupa.
Riwayat Kebiasaan
Pasien memiliki kebiasaan membersihkan telinga dengan cotton bud.
Riwayat Pengobatan
Pasien belum berobat ke dokter dan tidak ada riwayat pemakaian obat
ototoksik.
III. PEMERIKSAAN FISIK
STATUS GENERALISATA
Keadaan umum

: Tampak sakit ringan

Kesadaran

: Compos mentis

Kepala

: Tampak tidak ada kelainan

Mata

: Konjunctiva tidak anemis. Sklera tidak ikterik

Leher

: KBG leher tidak teraba membesar

Thorax

: Tidak dilakukan pemeriksaan

Abdomen

: Tidak dilakukan pemeriksaan

Ekstremitas

: Tidak dilakukan pemeriksaan

STATUS THT
1. Pemeriksaan Telinga
Kanan

Kiri

Normotia

Normotia

Bats ear (-)


Cauliflower ear (-)

Daun Telinga

Bats ear (-)


Cauliflower ear (-)

Nyeri tarik (-)

Nyeri tarik (-)

Hiperemis (-)

Hiperemis (-)

Edema (-)
Nyeri tekan mastoid (-)

Retroaurikuler

Edema (-)
Nyeri tekan mastoid (-)

Fistula (-)

Fistula (-)

Hiperemis (-)

Hiperemis (-)

Edema (-)

Edema (-)

Nyeri tekan tragus (-)

Preaurikuler

Nyeri tekan tragus (-)

Fistula (-)

Fistula (-)

Sikatriks (-)

Sikatriks (-)

Lapang
Tidak hiperemis

Liang Telinga

Lapang
Tidak hiperemis

Sekret

Serumen

Intak

Membran
Timpani

Intak

Refleks cahaya (-)

Refleks cahaya (+) jam 7

Retraksi (-)

Retraksi (-)

Buldging (-)

Buldging (-)
Hiperemis (-)

Hiperemis (+)

2. Pemeriksaan Fungsi Pendengaran


Kanan

Tes Penala 512 Hz

Kiri

Tidak dilakukan

Rinne

Tidak dilakukan

Tidak dilakukan

Weber

Tidak dilakukan

Tidak dilakukan

Swabach

Tidak dilakukan

3. Pemeriksaan Hidung dan Sinus Paranasal


Kanan

Kiri

Tidak ada

Deformitas

Tidak ada

Tidak ada

Nyeri Tekan SPN

Tidak ada

Tidak ada

Krepitasi

Tidak ada

Rhinoskopi Anterior

Vibrissae (+)
Sekret (-)
Krusta (-)

Vibrissae (+)
Vestibulum

Sekret (-)
Krusta (-)

Hipertrofi
Hiperemis (+)

Konka Inferior

Eutrofi
Hiperemis (-)

Tidak terlihat

Konka Media

Tidak terlihat

Tidak terlihat

Konka Superior

Tidak terlihat

Sulit dinilai

Meatus Nasi

Sulit dinilai

Lapang

Kavum Nasi

Lapang

Hiperemis (-)

Mukosa

Hiperemis (-)

Sekret

Deviasi (-)

Septum

Deviasi (-)

Normal

Dasar Hidung

Normal

Tidak terdapat massa

Massa

Tidak terdapat massa

Rhinoskopi Posterior

Tidak dilakukan

Koana

Tidak dilakukan

Tidak dilakukan

Mukosa konka

Tidak dilakukan

Tidak dilakukan

Sekret

Tidak dilakukan

Tidak dilakukan

Muara Tuba
Eustachii

Tidak dilakukan

Tidak dilakukan

Adenoid

Tidak dilakukan

Tidak dilakukan

Fossa
Rossenmuller

Tidak dilakukan

Tidak dilakukan

Atap Nasofaring

Tidak dilakukan

10

4. Pemeriksaan Faring
Arkus Faring

: Simetris kiri dan kanan, tidak hiperemis

Pilar Anterior

: Normal, tidak hiperemis

Palatum Molle

: Normal, tidak hiperemis

Mukosa Faring

: Tidak hiperemis

Dinding Faring

: Permukaan rata, tidak hiperemis

Uvula

: Di tengah, tidak hiperemis

Tonsil Palatina

: T1/T1, tenang, kripta tidak melebar, tidak terdapat

detritus
Pilar Posterior

: Normal

Gigi geligi

: Oral hygiene baik, tidak ada caries.

5. Hipofaring
Basis Lidah

: Tidak dilakukan

Valekula

: Tidak dilakukan

Plika glossoepiglotika

: Tidak dilakukan

6. Pemeriksaan Laring

Epiglotis

: Tidak dilakukan

Plika ariepiglotika : Tidak dilakukan

11

Aritenoid

: Tidak dilakukan

Sinus Piriformis

: Tidak dilakukan

Korda Vokalis

: Tidak dilakukan

Subglotik/trakea

: Tidak dilakukan

Rima Glotis

: Tidak dilakukan

7. Leher
Pemeriksaan kelenjar getah bening regional : tidak teraba membesar
8. Maksilofasial
Tidak didapatkan paralisis nervi kranialis
IV.

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Tidak dilakukan

V.

RESUME
Seorang wania berusia 24 tahun datang ke poliklinik THT RSMM dengan
keluhan telinga terasa berdengung sejak 3 hari yang lalu. Berdengung
terjadi terus menerus. Awalnya telinga terasa penuh kemudian diikuti
telinga berdengung. Keluhan lainnya batuk satu bulan yang lalu, dan
diikuti pilek satu minggu yang lalu. Dari pemeriksaan telinga didapatkan
pada telinga kanan membran timpani hiperemis dan refleks cahaya
menurun.

VI.

DIAGNOSIS KERJA
Otitis Media Akut stadium Hiperemis

VII. DIAGNOSIS BANDING


Otitis media akut stadium oklusi
Tubair Catarrh

12

VIII. PENATALAKSANAAN
Antibiotik Ciprofloksasin 2x 500 mg.
Rhinofed (pseudoefedrin HCl 30mg + terfenadine 40mg) 3x1
Mukolitik Ambroxol 30mg, 3 x 1.
Edukasi
a. Menjaga agar telinga tidak terkena air
b. Jangan mengorek-korek telinga
c. Kontrol teratur
IX.

RENCANA PEMERIKSAAN LANJUTAN


Tidak dilakukan

X.

PROGNOSIS
Ad vitam : ad bonam
Ad fungsionam : ad bonam
Ad sanationam : dubia ad bonam

13

BAB III
ANALISA KASUS
DIAGNOSIS
Diagnosis Otitis media akut stadium hiperemis ditegakkan berdasarkan hasil
anamnesis dan pemeriksaan fisik sebagai berikut:
1. Anamnesis
Dari hasil anamnesis yang mendukung ke arah otitis media akut stadium
hiperemis adalah telinga terasa berdengung 3 hari yang lalu yang diawali
oleh telinga terasa penuh. Kemudian pasien memiliki riwayat batuk satu
bulan yang lalu dan pilek satu minggu yang lalu. Ini merupakan tanda
dari ISPA dimana otitis media akut seringkali dicetuskan oleh ISPA.
2. Pemeriksaan Fisik
Dari pemeriksaan telinga yang menjurus ke arah otitis media akut
stadium hiperemis adalah terdapat hiperemis pada membarn timpani dan
refleks cahaya yang menurun.
DIAGNOSIS BANDING
Otitis Media Akut stadium oklusi
Otitis media akut stadium oklusi dijadikan diagnosis banding karena
gejala yang terdapat pada pasien yaitu pasien merasa telinga berdengung
dan telinga terasa penuh. Namun dari pemeriksaan fisik didapatkan
membran timpani hiperemis. Jadi diagnosis ini dapat disingkirkan.
Karena pada stadium oklusi pada pemeriksaan telinga didapatkan hasil
membran timpani berwarna keruh pucat dan retraksi membran timpani.
Tubair catarrh
Tubair catarrh dijadikan diagnosis banding dilihat dari anamnesis yaitu
pasien mengatakan terdapat suara berdenging dan rasa penuh pada
telinga. Ini merupakan gejala-gejala dari tubair catarrh. Pada tubair
catarrh juga biasanya didahului oleh ISPA seperti pada kasus.
PENATALAKSANAAN

14

1. Medikamentosa
a. Antibiotik Amoxycilin 3x500 mg
Pengobatan ini bertujuan untuk menghilangkan bakteri sebagai
penyebab dari infeksi telinga tengah. Amoksisilin merupakan obat
pilihan pertama pada kasus oma. Pemakaian antibiotik harus teratur
agar tidak menimbulkan resisten terhadap antibiotik tersebut.
b. Decongestant oral Pseudoefedrin 3x60 mg
Obat ini merupakan golongan alfa adrenergik yang berfungsi sebagai
vasokonstriktor mukosa hidung untuk mengurangi edema pada
mukosa hidung.
c. Mukolitik Ambroxol 30 mg, 3x1
Pengobatan ini sebagai pengobatan simptomatik. Tiap tablet
Ambroxol mengandung ambroksol hidroklorida 30 mg. Ambroxol
untuk menghilangi gejala batuk berdahak pada pasien.
d. Antihistamin cetirizine 1 x 10 mg
Antihistamin diberikan untuk mengatasi sekret hidung yang berlebih
serta mengurangi gejala sumbatan hidung.
e. Edukasi
a. Menjaga agar telinga tidak terkena air
b. Jangan mengorek-korek telinga
c. Kontrol teratur
RENCANA PEMERIKSAAN LANJUTAN
Tidak dilakukan
PROGNOSIS
Ad vitam : ad bonam
Ad fungsionam : ad bonam
Ad sanationam : dubia ad bonam

15

Otitis media akut stadium hiperemis merupakan penyakit yang tidak mengancam
nyawa seseorang. Setelah dapat teratasi, maka tidak akan terjadi gangguan fungsi
dari telinga. Rekurensi akan terjadi apabila faktor predisposisi dari otitis media
akut tidak ditangani.

16

BAB IV
TINJAUAN PUSTAKA
ANATOMI
Telinga adalah organ pendengaran. Syaraf yang melayani indera ini
adalah syaraf cranial ke delapan atau nervus auditorius. Telinga terdiri dari 3
bagian, yaitu: telinga luar, telinga tengah dan rongga telinga dalam. 1
1. Telinga Luar
Telinga luar, yang terdiri dari aurikula (pinna) dan kanalis auditorius
eksternus, dipisahkan dari telinga tengan oleh struktur seperti cakram yang
dinamakan membrana timpani (gendang telinga). Telinga terletak pada kedua sisi
kepala kurang lebih setinggi mata. Aurikulus melekat ke sisi kepala oleh kulit
dan tersusun terutama oleh kartilago, kecuali lemak dan jaringan bawah kulit
pada lobus telinga. Aurikulus membantu pengumpulan gelombang suara dan
perjalanannya sepanjang kanalis auditorius eksternus. Tepat di depan meatus
auditorius eksternus adalah sendi temporal mandibular. Kaput mandibula dapat
dirasakan dengan meletakkan ujung jari di meatus auditorius eksternus ketika
membuka dan menutup mulut. Kanalis auditorius eksternus panjangnya sekitar
2,5 sentimeter. Sepertiga lateral mempunyai kerangka kartilago dan fibrosa padat
di mana kulit terlekat. Dua pertiga medial tersusun atas tulang yang dilapisi kulit
tipis. Kanalis auditorius eksternus berakhir pada membrana timpani. Kulit dalam
kanal mengandung kelenjar khusus, glandula seruminosa, yang mensekresi
substansi seperti lilin yang disebut serumen. Mekanisme pembersihan diri telinga
mendorong sel kulit tua dan serumen ke bagian luar tetinga. Serumen nampaknya
mempunyai sifat antibakteri dan memberikan perlindungan bagi kulit. 2
2. Telinga Tengah
Telinga tengah mengandung tulang terkecil (osikuli) yaitu malleus, inkus
stapes. Osikuli dipertahankan pada tempatnya oleh sendian, otot, dan ligamen,
yang membantu hantaran suara. Ada dua jendela kecil (jendela oval dan dinding
medial telinga tengah, yang memisahkan telinga tengah dengan telinga dalam.
Bagian dataran kaki menjejak pada jendela oval, di mana suara dihantar telinga
tengah. Jendela bulat memberikan jalan ke getaran suara. Jendela bulat ditutupi

17

oleh membrana sangat tipis, dan dataran kaki stapes ditahan oleh yang agak tipis,
atau struktur berbentuk cincin. anulus jendela bulat maupun jendela oval mudah
mengalami robekan. Bila ini terjadi, cairan dari dalam dapat mengalami
kebocoran ke telinga tengah kondisi ini dinamakan fistula perilimfe.2
Tuba eustachii yang lebarnya sekitar 1mm panjangnya sekitar 35 mm,
menghubngkan telingah ke nasofaring. Normalnya, tuba eustachii tertutup,
namun dapat terbuka akibat kontraksi otot palatum ketika melakukan manuver
Valsalva atau menguap atau menelan. Tuba berfungsi sebagai drainase untuk
sekresi dan menyeimbangkan tekanan dalam telinga tengah dengan tekanan
atmosfer.
3. Telinga Dalam
Telinga dalam tertanam jauh di dalam bagian tulang temporal. Organ
untuk pendengaran (koklea) dan keseimbangan (kanalis semisirkularis), begitu
juga kranial VII (nervus fasialis) dan VIII (nervus koklea vestibularis) semuanya
merupakan bagian dari komplek anatomi. Koklea dan kanalis semisirkularis
bersama menyusun tulang labirint. Ketiga kanalis semisi posterior, superior dan
lateral erletak membentuk sudut 90 derajat satu sama lain dan mengandung organ
yang berhubungan dengan keseimbangan. Organ ahir reseptor ini distimulasi
oleh perubahan kecepatan dan arah gerakan seseorang.
Koklea berbentuk seperti rumah siput dengan panjang sekitar 3,5 cm
dengan dua setengah lingkaran spiral dan mengandung organ akhir untuk
pendengaran, dinamakan organ Corti. Di dalam lulang labirin, namun tidak sempurna mengisinya,Labirin membranosa terendam dalam cairan yang dinamakan
perilimfe, yang berhubungan langsung dengan cairan serebrospinal dalam otak
melalui aquaduktus koklearis. Labirin membranosa tersusun atas utrikulus,
akulus, dan kanalis semisirkularis, duktus koklearis, dan organan Corti. 2
OTITIS MEDIA AKUT
DEFINISI
Otitis Media adalah peradangan pada sebagian atau seluruh mukosa telinga
tengah, tuba Eustachius, antrum mastoid, dan sel-sel mastoid.3 Otitis media
berdasarkan gejalanya dibagi atas otitis media supuratif dan otitis media non
supuratif, di mana masing-masing memiliki bentuk yang akut dan kronis. Selain

18

itu, juga terdapat jenis otitis media spesifik, seperti otitis media tuberkulosa,
otitis media sifilitika. Otitis media yang lain adalah otitis media adhesiva.
Otitis media akut (OMA) adalah peradangan telinga tengah dengan gejala
dan tanda-tanda yang bersifat cepat dan singkat. Gejala dan tanda klinik lokal
atau sistemik dapat terjadi secara lengkap atau sebagian, baik berupa otalgia,
demam, gelisah, mual, muntah, diare, serta otore, apabila telah terjadi perforasi
membran timpani. Pada pemeriksaan otoskopik juga dijumpai efusi telinga
tengah. Terjadinya efusi telinga tengah atau inflamasi telinga tengah ditandai
dengan membengkak pada membran timpani atau bulging, mobilitas yang terhad
pada membran timpani, terdapat cairan di belakang membran timpani, dan otore.
ETIOLOGI
1. Disfungsi atau sumbatan tuba eustachius merupakan penyebab utama dari
otitis media yang menyebabkan pertahanan tubuh pada silia mukosa tuba
eustachius terganggu, sehingga pencegahan invasi kuman ke dalam telinga
tengah juga akan terganggu. 2
2. ISPA (infeksi saluran pernafasan atas), inflamasi jaringan di sekitarnya (misal :
sinusitis, hipertrofi adenoid), atau reaksi alergi (misalkan rhinitis alergika). Pada
anak-anak, makin sering terserang ISPA, makin besar kemungkinan terjadinya
otitis media akut (OMA). Pada bayi, OMA dipermudah karena tuba
eustachiusnya pendek, lebar, dan letaknya agak horisontal. 2
3. Bakteri yang umum ditemukan sebagai mikroorganisme penyebab adalah
Streptococcus peumoniae, Haemophylus influenza, Moraxella catarrhalis, dan
bakteri piogenik lain, seperti Streptococcus hemolyticus, Staphylococcus aureus,
E. coli, Pneumococcus vulgaris. 5
PATOFISIOLOGI
Otitis media sering diawali dengan infeksi pada saluran napas (ISPA)
yang disebabkan oleh bakteri, kemudian menyebar ke telinga tengah melewati
tuba eustachius. Ketika bakteri memasuki tuba eustachius maka dapat
menyebabkan infeksi dan terjadi pembengkakan, peradangan pada saluran
tersebut. Proses peradangan yang terjadi pada tuba eustachius menyebabkan
stimulasi kelenjar minyak untuk menghasilkan sekret yang terkumpul di

19

belakang membran timpani.

Jika sekret bertambah banyak maka akan

menyumbat saluran eustachius, sehingga pendengaran dapat terganggu karena


membran timpani dan tulang osikel (maleus, incus, stapes) yang menghubungkan
telinga bagian dalam tidak dapat bergerak bebas. Selain mengalami gangguan
pendengaran, klien juga akan mengalami nyeri pada telinga. 6,7
Otitis media akut (OMA) yang berlangsung selama lebih dari dua bulan
dapat berkembang menjadi otitis media supuratif kronis apabila faktor higiene
kurang diperhatikan, terapi yang terlambat, pengobatan tidak adekuat, dan
adanya daya tahan tubuh yang kurang baik.6,7
STADIUM
Stadium Otitis Media Akut dibagi menjadi : 2
1.

Stadium Oklusi Tuba Eustachius

Terdapat gambaran retraksi/penonjolan membran tympani akibat tekanan negatif


di dalam telinga tengah kadang berwarna normal atau keruh pucat. Efusi tidak
dapat dideteksi. Sukar dibedakan dengan otitis media serosa akibat virus atau
alergi.
2.

Stadium Hiperemis (Presupurasi)

Tampak pembuluh darah yang melebat di membran tympani atau seluruh


membran tympani tampak hiperemis serta edema. Sekret yang telah terbentuk
mungkin masih bersifat eksudat serosa sehingga sukar terlihat.
3.

Stadium Supurasi

Edem yang hebat pada mukosa telinga tengah dan hancurnya sel ephitel
superfisial. Serta terbentuknya eksudat yang purulen di kavum timpani,
menyebabkan membran tympani menonjol (bulging) ke arah liang telinga luar.

4.

Stadium Perforasi

20

Karena beberapa sebab seperti terlambatnya pemberian antibiotika atau virulensi


kuman yang tinggi, maka akan terjadi ruptur membran tympani dan nanah keluar
mengalir dari telinga tengah ke liang telinga luar.
5.

Stadium Resolusi

Bila membran tympani tetap utuh, maka keadaan membran tympani perlahanlahan akan normal kembali. Bila sudah terjadi perforasi, maka sekret akan
berkurang dan akhirnya kering. Bila daya tahan tubuh baik atau virulensi kuman
rendah, maka resolusi dapat terjadi walaupun tanpa pengobatan.
MANIFESTASI KLINIS
Manifestasi klinis dari OMA tergantung pada stadium penyakit dan umur pasien.
a.

Stadium Oklusi
Nyeri dan demam bertambah hebat
Pada anak : panas tinggi disertai muntah, kejang, dan meningismus
Pendengaran mulai berkurang

b.

Stadium Hiperemi
- Nyeri dan rasa penuh dalam telinga karena tertupnya tuba eustachius
yang mengalami hiperemi dan edema
Demam
Pendengaran biasanya masih normal

c.

Stadium Supurasi
Keluar sekret dari telinga
Nyeri berkurang karena terbentuk drainase akibat membran timpani
ruptur
- Demam berkurang

21

- Gangguan

pendengaran

bertambah

karena

terjadi

gangguan

mekanisme konduksi udara dalam telinga tengah


d.

Stadium Perforasi
- Nyeri tekan pada daerah mastoid, dan akan terasa berat pada malam
hari

e.

Stadium Resolusi
- Pendengaran membaik atau kembali normal.

TERAPI
Terapi tergantung pada stadium penyakitnya. Pengobatan pada stadium
awal ditujukan untuk mengobati infeksi-infeksi saluran nafas atas, dengan
pemberian antibiotik dekongestan lokal atau sistemik, dan antipiretik. 8
Stadium oklusi
Pada stadium ini pengobatan terutama bertujuan untuk membuka kembali
tuba Eustachius, sehingga tekanan negatif di telinga tengah hilang. Untuk ini
diberikan obat tetes hidung. HCl efedrin 0,5% dalam laruitan fisiologis (anak
12 tahun) atau HCl efedrin 1% dalam larutan fisiologik untuk yang berumur di
atas 12 tahun dan pada orang dewasa. Disamping itu sumber infeksi harus
diobati. Antibiotika diberikan apabila penyebab infeksi adalah kuman, bukan
oleh virus atau alergi.
Stadium Presupurasi
Pada stadium ini antibiotika, obat tetes hidunng dan analgetika perlu
diberikan. Bilamembran timpani sudah terlihat hiperemis difus, sebaiknya
dilakukan miringotomi.Antibiotika yang dianjurkan adalah dari golongan
penisilin atau ampisilin. Pemberian antibiotika dianjurkan minimal selama 7 hari.
Bila pasien alergi terhadap penisilin, maka diberikan eritromisin. Pada anak
ampisilin diberikan dengan dosis 50 100 mg/BB/hari, dibagi dalam 4 dosis,
atau eritromisin 40 mg/BB/hari.

Stadium Supurasi

22

Disamping diberikan antibiotika, idealnya harus disertai dengan


miringotomi, bila membran timpani masih utuh. Dengan miringotomi gejala
gejala klinis lebih cepat hilang dan ruptur dapat dihindari. Pada stadium ini bila
terjadi perforasi sering terlihat adanya sekret berupa purulen dan kadang terlihat
keluarnya sekret secara berdenyut (pulsasi). Pengobatan yang diberikan adalah
obat cuci telinga H2O2 selam 3 5 hari serta antibiotika yang adekuat. Biasanya
sekret akan hilang dan perforasi dapat menutup kembali dalam waktu 7 10 hari.
Stadium Perforasi
Pada stadium ini sering terlihat banyak sekret yang keluar dan kadang
terlihat sekret keluar secara berdenyut. Pengobatan yang dilakukan yaitu Obat
cuci telinga H2O2 3% selama 3-5 hari serta antibiotika yang adekuat.
Stadium Resolusi
Pada stadium ini jika terjadi resolusi maka membran timpani berangsur
normal kembali, sekret tidak ada lagi dan perforasi membran timpani menutup.
Tetapi bila tidak terjadi resolusi akan tampak sekret mengalir di liang telinga luar
melalui perforasi membran timpani. Keadaan ini dapat disebabkan karena
berlanjutnya edema mukosa telinga tengah. Pada keadaan demikian antibiotika
dapat dilanjutkan sampai 3 minggu bila 3 minggu setelah pengobatan sekret
masih tetap banyak, kemungkina telah terjadi mastoiditis.
Bila OMA berlanjut dengan keluarnya sekret dari telinga tengah lebih
dari 3 minggu,maka keadaan ini disebut otitis media supuratif subakut. Bila
perforasi menetap dan sekret masih tetap keluar lebih dari satu setengah bulan
atau dua bulan maka keadaan ini disebut otitis media supuratif kronik (OMSK).
KOMPLIKASI
Peradangan telinga tengah (otitis media) yang tidak diberi terapi secara
benar dan adekuat dapat menyebar ke jaringan sekitar telinga tengah termasuk ke
otak, namun ini jarang terjadi setelah adanya pemberian antibiotik. 2
1. Mastoiditis
2. Kehilangan pendengaran permanen bila OMA tetap tidak ditangani
3. Keseimbangan tubuh terganggu
4. Meningitis

23

5. Abses subperiosteal
6. OMSK (Otitis Media Supuratif Kronik)

BAB V

24

KESIMPULAN

Otitit Media Akut merupakan peradangan pada sebagaian atau seluruh telinga
tengah. Etiologi OMA yaitu gangguan saluran tuba eustachius, ISPA, dan alergi.
Pada anamnesis pasien didapatkan telinga berdengung dan terasa penuh. Pasien
juga memiliki riwayat batuk dan pilek yang merupakan salah sau pencetus dari
OMA. Pada pemeriksaan otoskop didapatkan gambaran membran timpani
hiperemis dan refleks cahaya menurun. Hal ini mendukung diagnosis otitis media
akt stadium hiperemis. Penatalaksanaan untuk oma stadium hiperemis yaitu
antibiotik, decongestant oral, dan mukolitik. Otitis media akut stadium hiperemis
merupakan penyakit yang tidak mengancam nyawa seseorang. Setelah dapat
teratasi, maka tidak akan terjadi gangguan fungsi dari telinga. Rekurensi akan
terjadi apabila faktor predisposisi dari otitis media akut tidak ditangani.

25

DAFTAR PUSTAKA
1. Gulya AJ. Anatomy of the ear and temporal bone. In: Glasscock III ME,
Gulya AJ, editors. Glasscokc-Shambaugh, surgery of the ear. Fifth edition.
Ontario:BC Decker Inc.,2003.p.44.
2. Djaafar ZA, Helmi, Restuti RD. Kelainan telinga tengah. Dalam: Buku ajar
ilmu kesehatan telinga hidung tenggorok kepala dan leher. Edisi keenam.
Jakarta: FKUI;2007.p.65-9.
3. Healy GB, Rosbe KW. Otitis media and middle ear effusions. In: Snow JB,
Ballenger JJ,eds. Ballengers otorhinolaryngology head and neck surgery. 16th
edition. New York: BC Decker;2003. p.249-59.
4. Donaldson JD. Acute Otitis Media. Updated Oct 28, 2011. Available from:
http://www.emedicine.medscape.com. Accessed September 8,2014
5. Titisari H. Prevalensi dan sensitivitas Haemophillus influenza pada otitis
media akut di RSCM dan RSAB Harapan Kita [Tesis]. Jakarta:FKUI;2005.
6. Linsk R, Blackwood A, Cooke J, Harrison V, Lesperance M, Hildebrandt M.
Otitis media. Guidelines for clinical care. UMHS otitis media guidelin May,
2002: 1-12
7. Darrow DH, Dash N, Derkay CS. Otitis media: concepts and controversies.
Curr Opin Otolaryngol Head Neck Surg 2003;11:416-423.
8. Adams GL, Bois LR,

Paparella MM. Boiess Fundamentals of

Otolaryngology. A textbook of era, nose, and throat diseases. Fifth ed.


Philladelphia,London, Toronto. WB Sounders Company, 1989: p.195-215

26