Anda di halaman 1dari 4

PENELUSURAN BANJIR PADA SUNGAI

Suatu hidrograf banjir dapat dimodifikasi dengan dua cara sebagaimana air hujan mengalir
menuruni jaringan pengaliran air (drainage network). Pertama waktu berkumpulnya aliran-aliran untuk
terjadinya aliran dan puncaknya pada suatu titik di daerah hilir. Ini disebut sebagai translasi. Kedua,
besarnya laju aliran puncak yang bergerak menuju titik di aliran bawah, serta lama waktu aliran mencapai
titik bawah. Modifikasi hidrograf ini disebut attenuation.
Penelusuran Banjir adalah suatu metode di mana variasi debit terhadap waktu pada suatu titik pengamatan
ditentukan. Tujuan Penelusuran Banjir adalah
- Prakiraan banjir jangka pendek
- Perhitungan hidrograf satuan untuk berbagai titik di sungai dari hidrograf satuan di suatu titik di sungai
tersebut
- Prakiraan kelakuan sungai setelah melewati palung
- Derivasi hidrograf sintetik.
Penelusuran banjir adalah merupakan prakiraan hidrograf di suatu ttik pada suatu aliran atau bagian
sungai yang didasarkan atas pengamatan hidrograf di titik lain. Hidrograf banjir dapat ditelusuri lewat
palung sungai atau lewat waduk.
Pada dasarnya penelusuran banjir lewat palung sungai merupakan aliran tidak lunak (non steady flow),
maka dapat dicari penyelesaiannya. Karena pengaruh gesekan tidak dapat diabaikan, maka penyelesaian
persamaan dasar alirannya akan sulit. Dengan menggunakan karakteristik atau finite difference akan
dapat diperoleh penyelesaian yang memadai, tetapi masih memerlukan usaha yang sangat besar.
Cara penelusuran banjir lewat palung sungai yang pertama adalah yang tidak didasarkan atas hukumhukum hidrolika, sedangkan yang kedua merupakan penyelesaian yang didasarkan atas hukum-hukum
hidrolika. Pada cara pertama, yang ditinjau hanyalah hukum kontinuitas, sedangkan persamaan keduanya
didapatkan secara empiric dari pengamatan banjir. Oleh karena berlakunya cara ini sangat tidak terbatas
maka harus diperiksa untuk setiap kasus khusus. Pada cara kedua, merupakan aliran tidak lunak yang

berubah secara ruang (spatially varied unsteady flow), yang penelusurannya dilaksanakan secara simultan
dari ekspresi-ekspresi kontinuitas dan momentum. Penelusuran lewat waduk, yang penampungannya
merupakan fungsi langsung dari aliran keluar (outflow), cara penyelesaiannya dapat ditempuh dengan
cara yang lebih eksak.
Kedua cara tersebut adalah seebagai berikut ;
Penulusuran banjir dengan Metode Muskingum
Penulusuran banjir merupakan hitungan hidrograf banjir di suatu lokasi sungai yang didasarkan dengan
hidrograf banjir di lokasi lain. Hidrograf banjir dapat ditelusuri dengan tujuan :
a)

Mengetahui hidrograf banjir suatu lokasi yang tidak mempunyai pengamatan muka air,

b)

Peramalan banjir jangka pendek,

c)

Perhitungan hidrograf banjir hilir berdasarkan hidrograf hulu.


Salah satu metode penulusuran banjir secara hidrologi adalah dengan metode muskingum, yang

dikembangkan pertama kali oleh US Army Corp Of Engineer dan Mc. Carthy, 1935 (dalam chow, 1964)
untuk penulusuran banjir di sungai muskingum di negara bagian Ohio, Amerika Serikat. Metode ini
menerapkan parameter tampungan (K) dan faktor pembobot X dengan cara konvensional, baru kemudian
menetapkan parameter penulusuran (Ci), dalam penulusuran ini di anggap tidak ada aliran lateral yang
masuk.
Penelusuran Banjir adalah suatu metode di mana variasi debit terhadap waktu pada suatu titik
pengamatan ditentukan. Tujuan Penelusuran Banjir adalah
a)

Prakiraan banjir jangka pendek

b)

Perhitungan hidrograf satuan untuk berbagai titik di sungai dari hidrograf satuan di suatu titik di

sungai tersebut
c)

Prakiraan kelakuan sungai setelah melewati palung

d)

Derivasi hidrograf sintetik.


Penelusuran banjir adalah merupakan prakiraan hidrograf di suatu ttik pada suatu aliran atau bagian

sungai yang didasarkan atas pengamatan hidrograf di titik lain. Hidrograf banjir dapat ditelusuri lewat
palung sungai atau lewat waduk.
Pada dasarnya penelusuran banjir lewat palung sungai merupakan aliran tidak lunak (non steady
flow), maka dapat dicari penyelesaiannya. Karena pengaruh gesekan tidak dapat diabaikan, maka
penyelesaian persamaan dasar alirannya akan sulit. Dengan menggunakan karakteristik atau finite

difference akan dapat diperoleh penyelesaian yang memadai, tetapi masih memerlukan usaha yang sangat
besar.
Analisis Data Debit Banjir
Dalam analisis untuk merumuskan persamaan kontinuitas, waktu t harus dibagi menjadi periode
periode delta t yang lebih kecil, yang di namakan periode pelacakan (routing periode), periode pelacakan
ini harus dibuat lebih kecil dari waktu tempuh dalam bagian memanjang sungai tersebut, sehingga selama
periode pelacakan delta t tersebut, puncak banjirnya tidak dapat menutup bagian memanjang sungai
secara menyeluruh, persamaan kuantitas yang umum digunakan dalam pelacakan aliran atau banjir adalah
I = D = dS/dt . . . . . . . . .
Dimana :
I : Debit yang masuk kedalam permulaan bagian memanjang sungai (debit inflow).
D

: Debit yang keluar dari akhir bagian memanjang sungai (debit outflow)

dS : besarnya tampungan (stroage) dalam bagian memanjang sungai


dt

: periode pelacakan (debit, jam dan hari)

kalau periode pelacakan diubah dari dt menjadi Delta, maka :


I

(I1 + I2) / 2

(D1 + D2) / 2

dS =

S1 S2

dan rumus sebelumnya dapat diubah menjadi


(I1 + I2) / 2 + (D1 + D2) / 2 = S2 S3 . . . . . .
Dalam mana indeks indeks 1 merupakan keadaan pada saat permulaan periode pelacakan, dan indeks
indeks 2 merupakan keadaan pada akhir periode pelacakan, dalam persamaan tersebut :
I1 dan I2 dapat diketahui dari hidrograf debit masuk.
D1 dan S1 dapat diketahui dari periode sebelumnya.
D2 dan S2 tidak diketahui.
Ini berarti diperlukan persamaan kedua, kesulitan tersebut dalam pelacakan banjir lewat bagian sungai
ini terletak pada mendapatkan persamaan kedua ini. Pada pelacakan aliran melalui waduk, persamaan
tersebut lebih sederhana yaitu D2 = f (S2), tetapi pada pelacakan melalui bagian sungai besarnya tampung
tergantung dari debit masuk dan debit keluar. Persamaan yang menyangkut hubungan S dan D pada
bagian sungai hanya berlaku untuk hal hal yang khusus yang bentuknya yaitu :
S = K [x1 + (1 x ) D ] ...........
K dan x di tentukan oleh hidrograf debit masuk dan debit keluar yang masing masing di amati pada saat
yang bersamaan, sehingga hanya berlaku untuk bagian memanjang sungai yang terpilih.

Faktor x merupakan faktor penimbang yang besarnya berkisar antara 0 1, biasanya lebih kecil dari
0,5 dan dalam banyak hal besarnya kira-kira sama dengan 0,3. Karena x mempunyai dimensi volume,
sedangkan I dan D berdimensi debit, maka K harus dinyatakan dengan dimensi waktu (jam atau hari).
[(I1 + I2) / 2] t [(D1 + D2) / 2] t = S2 S1
Dan
K [(I2 I1) + ( 1 x ) (D2 D1) = S2 S1
Dapat disederhanakan menjadi persamaan :
D2 = C0I2 + C1I1 + C2D1 . . . . .
Dengan :
C0

= - ( Kx 0, 5t ) / ( K Kx + 0, 5t )

C1

= ( Kx + 0, 5t ) / ( K Kx + 0, 5t )

C2

= ( K Kx 0,5t ) / ( K Kx + 0,5t)
Data yang diperoleh adalah data debit banjir dengan metode Automatic Water Level Recorder

(AWLR) yang diperoleh dari stasiun hujan. Konsep penelusuran banjir dengan metode Muskingum
adalah konsep tampungan. Ada 2 bagian tampungan yang akan terjadi akibat masukan (inflow) dan
keluaran (outflow) pada sungai yaitu :
a)

Tampungan prismatik (Sp), dan

b)

Tampungan Baji (Sw

penelusuran metode hidrolik


Dalam penelusuran hidrolik digunakan persamaan kontinuitas dan persamaan gerak. Penyelesaian
dalam bentuk tertutup (closed form solution) terhadap persamaan-persamaan penelusuran hidrolik yang
lengkap tidak ada. Jadi, penerapan teknisnya memerlukan opersai computer. Telah ada berbagai
pendekatan untuk pengintegralan numeric terhadap persamaan-persamaan tersebut.