Anda di halaman 1dari 37

Ahmadiyah

www.hoirulblog.co.cc

II.1 Latar belakang Berdirinya Ahmadiyah

Ahmadiyyah (Urdu: ‫ هیاﺣﻤﺪ‬Ahmadiyyah) atau sering pula disebut

Ahmadiyah adalah Jamaah Muslim yang didirikan oleh Mirza Ghulam Ahmad

(1835-1908) pada tahun 1889 di satu desa kecil yang bernama Qadian, Punjab,

India. Ia mengaku sebagai Mujaddid, al Masih dan al Mahdi. Jemaat Ahmadiyah

Indonesia adalah bagian dari Jamaah Muslim Ahmadiyah Internasional. Di

Indonesia, organisasi ini telah berbadan hukum dari Menteri Kehakiman Republik

Indonesia sejak 1953 (SK Menteri Kehakiman RI No. JA 5/23/13 Tgl. 13-3-

1953).

Menurut pengikut Ahmadiyah pada tahun 1835, di sebuah desa bernama

Qadian, di daerah Punjab, India, lahir seorang anak laki-laki bernama Ghulam

Ahmad yang kemudian diagungkan sebagai seorang mujaddid dari zaman ini oleh

para pendukungnya. Orang tuanya Muslim dan ia tumbuh dewasa menjadi

seorang Muslim yang luar biasa. Sejak awal kehidupannya, Mirza Ghulam Ahmad

sudah amat tertarik pada telaah dan khidmat agama Islam. Ia sering bertemu

dengan individual Kristiani, Hindu ataupun Sikh dalam perdebatan publik, serta

menulis dan bicara tentang mereka. Hal ini menjadikan lingkungan keagamaan

menjadi tertarik kepadanya dan ia dikenal baik oleh para pimpinan komunitas.

Menyusul wafatnya Mirza Ghulam Ahmad pada tahun 1908, para Muslim

Ahmadi memilih seorang pengganti sebagai Khalifah. Sosok Khalifah merupakan

pimpinan keruhanian dan administratif dari Jemaat Islam Ahmadiyah. Pimpinan

tertinggi dari Jemaat Ahmadiyah di seluruh dunia pada saat ini (2007) adalah

www.hoirulblog.co.cc
Hadhrat Mirza Masroor Ahmad yang berkedudukan di London, dan terpilih

sebagai Khalifah kelima. Ia banyak berkunjung ke berbagai negara dan cermat

mengamati budaya dan masyarakat lainnya.

Dengan bimbingan seorang Khalifah, Jemaat Ahmadiyah berada di barisan

terdepan dalam khidmat dan kesejahteraan kemanusiaan. Banyak sekolah-sekolah,

klinik dan rumah sakit yang didirikan di berbagai negeri, dimana mereka yang

papa dan miskin dirawat secara gratis. Saat terjadi bencana alam, Jemaat

Ahmadiyah membantu secara sukarela secara finansial ataupun fisik tanpa

membedakan agama, warna kulit atau pun bangsa. Jemaat Ahmadiyah telah

memiliki jaringan televisi global yang bernama MTA (Muslim Television

Ahmadiyya) International, yang mengudara dua puluh empat jam sehari dalam

beberapa bahasa dunia. Layanan ini diberikan tanpa memungut biaya. Jemaat

Ahmadiyah telah menyebar ke lebih dari 170 negara di dunia dan populasinya

diperkirakan sudah mencapai 80 juta manusia yang telah berbai'at ke dalam

Jemaat pada tahun 2001.

Khalifah-khalifah Ahmadiyah Qadian

1. Hadhrat Hakim Maulana Nur-ud-Din, Khalifatul Masih I, 27 Mei 1908 -

13 Maret 1914

2. Hadhrat Alhaj Mirza Bashir-ud-Din Mahmood Ahmad, Khalifatul Masih

II, 14 Maret 1914 - 7 November 1965

3. Hadhrat Hafiz Mirza Nasir Ahmad, Khalifatul Masih III, 8 November

1965 - 9 Juni 1982

4. Hadhrat Mirza Tahir Ahmad, Khalifatul Masih IV, 10 Juni 1982 - 19 April

2003

www.hoirulblog.co.cc
5. Hadhrat Mirza Masroor Ahmad, Khalifatul Masih V, 22 April 2003 -

sekarang

Menurut pendirinya, Mirza Ghulam Ahmad, misi Ahmadiyah adalah untuk

menghidupkan Islam dan menegakkan Syariah Islam. Tujuan didirikan Jemaat

Ahmadiyah menurut pendirinya tersebut adalah untuk meremajakan moral Islam

dan nilai-nilai spiritual. Ahmadiyah bukanlah sebuah agama baru namun

merupakan bagian dari Islam. Para pengikut Ahmadiyah mengamalkan Rukun

Iman yang enam dan Rukun Islam yang lima. Gerakan Ahmadiyah mendorong

dialog antar agama dan senantiasa membela Islam serta berusaha untuk

memperbaiki kesalah-pahaman mengenai Islam di dunia Barat. Gerakan ini

menganjurkan perdamaian, toleransi, kasih dan saling pengertian diantara para

pengikut agama yang berbeda dan sebenar-benarnya percaya dan bertindak

berdasarkan ajaran al Qur’an serta menolak kekerasan dan teror dalam bentuk

apapun untuk alasan apapun.

Jemaat Muslim Ahmadiyah adalah satu organisasi keagamaan

Internasional yang telah tersebar ke lebih dari 185 negara di dunia. Pergerakan

Jemaat Ahmadiyah dalam Islam adalah suatu organisasi keagamaan dengan ruang

lingkup internasional yang memiliki cabang di 174 negara tersebar di Afrika,

Amerika Utara, Amerika Selatan, Asia, Australia dan Eropa. Saat ini jumlah

keanggotaannya di seluruh dunia lebih dari 150 juta orang. Jemaat Ahmadiyah

Internasional juga telah menerjemahkan al Qur’an kedalam bahasa-bahasa besar

di dunia dan sedang merampungkan penerjemahan al Qur’an ke dalam 100 bahasa

di dunia. Sedangkan Jemaat Ahmadiyah di Indonesia telah menerjemahkan al

Quran dalam bahasa Indonesia, Sunda, dan Jawa.

www.hoirulblog.co.cc
Dalam perjalanannya Ahmadiyah terbagi menjadi 2 yaitu Ahmadiyah

Qadian dan Lahore. Keduanya sama-sama mempercayai bahwa Mirza Ghulam

Ahmad adalah Isa al Masih yang telah dijanjikan Nabi Muhammad SAW. Akan

tetapi dua kelompok tersebut memiliki perbedaan prinsip:

1. Ahmadiyah Qadian, di Indonesia dikenal dengan Jemaat Ahmadiyah

Indonesia (berpusat di Bogor), yakni kelompok yang mempercayai bahwa

Mirza Ghulam Ahmad adalah seorang mujaddid (pembaharu) dan seorang

nabi.

2. Ahmadiyah Lahore, di Indonesia dikenal dengan Gerakan Ahmadiyah

Indonesia (berpusat di Yogyakarta). Secara umum kelompok ini tidak

menganggap Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi, melainkan hanya sekedar

mujaddid dari ajaran Islam.

Selengkapnya, Ahmadiyah Lahore mempunyai keyakinan bahwa mereka:

1. Percaya pada semua aqidah dan hukum-hukum yang tercantum dalam al

Qur’an dan Hadits, dan percaya pada semua perkara agama yang telah

disetujui oleh para ulama salaf dan ahlus-sunnah wal-jama'ah, dan yakin

bahwa Nabi Muhammad SAW adalah nabi yang terakhir.

2. Nabi Muhammad SAW adalah khatamun-nabiyyin. Sesudahnya tidak akan

datang nabi lagi, baik nabi lama maupun nabi baru.

3. Sesudah Nabi Muhammad SAW, malaikat Jibril tidak akan membawa wahyu

nubuwat kepada siapa pun.

4. Apabila malaikat Jibril membawa wahyu nubuwwat (wahyu risalat) satu kata

saja kepada seseorang, maka akan bertentangan dengan ayat:

www.hoirulblog.co.cc
walâkin rasûlillâhi wa khâtamun-nabiyyîn (QS 33:40), dan berarti membuka

pintu khatamun-nubuwwat.

5. Sesudah Nabi Muhammad SAW silsilah wahyu nubuwwat telah tertutup,

akan tetapi silsilah wahyu walayat tetap terbuka, agar iman dan akhlak umat

tetap cerah dan segar.

6. Sesuai dengan sabda Nabi Muhammad SAW, bahwa di dalam umat ini tetap

akan datang auliya Allah, para mujaddid dan para muhaddats, akan tetapi

tidak akan datang nabi.

7. Mirza Ghulam Ahmad adalah mujaddid abad 14 H. Dan menurut Hadits,

mujaddid akan tetap ada. Dan kepercayaan mereka bahwa Mirza Ghulam

Ahmad bukan nabi, tetapi berkedudukan sebagai mujaddid.

8. Percaya kepada Mirza Ghulam Ahmad bukan bagian dari Rukun Islam dan

Rukun Iman, maka dari itu orang yang tidak percaya kepada Mirza Ghulam

Ahmad tidak bisa disebut kafir.

9. Seorang muslim, apabila mengucapkan kalimah thayyibah, dia tidak boleh

disebut kafir. Mungkin dia bisa salah, akan tetapi seseorang dengan sebab

berbuat salah dan maksiat, tidak bisa disebut kafir.

10. Ahmadiyah Lahore berpendapat bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah pelayan

dan pengemban misi Nabi Muhammad SAW.

Ahmadiyah Qadian masuk ke Indonesia tahun 1925 oleh Maulana Rahmat

Ali Haot yang datang dari Qadian, India atas perintah dari Khalifatul Masih II,

Hadhrat Alhaj Mirza Bashir-ud-Din Mahmood Ahmad. Tahun 2000 yang lalu,

Khalifah Ahmadiyah Mirza Tahir Ahmad (alm) datang dari London menuju

www.hoirulblog.co.cc
Indonesia. Ketika itu ia sempat bertemu dengan Presiden Republik Indonesia,

Abdurahman Wahid dan Ketua MPR, Amin Rais.

Ahmadiyah Lahore masuk ke Indonesia pada tahun 1924 oleh Mirza Wali

Ahmad Baig dan Maulana Ahmad, datang ke Yogyakarta. Minhadjurrahman

Djojosoegito, seorang sekretaris di organisasi Muhammadiyah, mengundang

Mirza dan Maulana untuk berpidato dalam Muktamar ke-13 Muhammadiyah, dan

menyebut Ahmadiyah sebagai Organisasi Saudara Muhammadiyah. Pada tahun

1926, Haji Rasul mendebat Mirza Wali Ahmad Baig, dan selanjutnya pengajaran

paham Ahmadiyah dalam lingkup Muhammadiyah dilarang. Pada Muktamar

Muhammadiyah 18 di Solo tahun 1929, dikeluarkanlah pernyataan bahwa orang

yang percaya akan Nabi sesudah Muhammad adalah kafir. Djojosoegito yang

diberhentikan dari Muhammadiyah, lalu membentuk dan menjadi ketua pertama

dari Gerakan Ahmadiyah Indonesia, yang resmi berdiri 4 April 1930.

Perkembangan ahmadiyah diberbagai negara, seperti di Pakistan, parlemen

telah mendeklarasikan pengikut Ahmadiyah sebagai non-muslim. Pada tahun

1974, pemerintah Pakistan merevisi konstitusinya tentang definisi Muslim, yaitu

orang yang meyakini bahwa Nabi Muhammad adalah nabi terakhir. Penganut

Ahmadiyah, baik Qadian maupun Lahore, dibolehkah menjalankan

kepercayaannya di Pakistan, namun harus mengaku sebagai agama tersendiri di

luar Islam.

II.2. Ajaran Ahmadiyah yang Bertentangan dengan Islam

www.hoirulblog.co.cc
Di Indonesia, Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah menetapkan

Ahmadiyah sebagai aliran sesat semenjak tahun 1980, lalu ditegaskan kembali

pada fatwa MUI yang dikeluarkan tahun 2005. Di Malaysia dan Brunei

Darussalam Ahmadiyah telah lama dilarang.

Menurut sudut pandang umum umat Islam, ajaran Ahmadiyah (Qadian)

dianggap melenceng dari ajaran Islam sebenarnya karena mengakui Mirza

Ghulam Ahmad sebagai nabi yaitu Isa al Masih dan Imam Mahdi, hal yang

bertentangan dengan pandangan umumnya kaum muslim yang mempercayai Nabi

Muhammad SAW sebagai nabi terakhir walaupun masih menunggu kedatangan

Isa al Masih dan Imam Mahdi.

Perbedaan Ahmadiyah dengan kaum Muslim pada umumnya adalah

karena Ahmadiyah menganggap bahwa Isa al Masih dan Imam Mahdi telah

datang ke dunia ini seperti yang telah dinubuwwatkan Nabi Muhammad SAW.

Namun umat Islam pada umumnya mempercayai bahwa Isa al Masih dan Imam

Mahdi belum turun ke dunia. Sedangkan permasalahan-permasalahan selain itu

adalah perbedaan penafsiran ayat-ayat al Quran saja.

Ada pula yang menyebutkan bahwa Kota suci Jemaat Ahmadiyah adalah

Qadian dan Rabwah. Namun tidak demikian adanya, kota suci Jemaat Ahmadiyah

adalah sama dengan kota suci umat Islam lainnya, yakni Mekkah dan Madinah.

Sedangkan Ahmadiyah Lahore mengakui bahwa Mirza Ghulam Ahmad hanyalah

mujaddid dan tidak disetarakan dengan posisi nabi, sesuai keterangan Gerakan

Ahmadiyah Indonesia (Ahmadiyah Lahore) untuk Indonesia yang berpusat di

Yogyakarta.

www.hoirulblog.co.cc
Sejak awal Ahmadiyah memang meyakini Mirza Ghulam Ahmad sebagai

nabi dan menerima wahyu dari Allah. Dalam buku Syarif Ahmad Saitama Lubis,

Dari Ahmadiyah untuk Bangsa (2007) dijelaskan tentang kepercayaan kaum

Ahmadi, yaitu, Imam Mahdi dan Isa yang dijanjikan adalah seorang nabi, yang

merupakan seorang nabi pengikut atau nabi ikutan, dengan ketaatannya kepada

Rasulullah saw. yang akan datang dan mengubah masa kegelapan ini menjadi

masa yang terang benderang. Apabila Imam Mahdi itu sudah datang maka

diperintahkanlah umat Islam untuk menjumpainya, walaupun harus merangkak di

atas gunung salju.

Ditulis dalam buku tokoh Ahmadiyah tersebut, Dalam perkembangan

sejarah, pada tahun 1879 Mirza Ghulam Ahmad menulis buku Braheen

Ahmadiyya. Pada saat itu Mirza Ghulam Ahmad belum menyampaikan

pendakwahan. Namun, ketika menulis kitab itu, ia sebenarnya sudah menerima

wahyu. ‘Kamu itu nabi, kamu itu nabi! dan diperintahkan mengambil bai’at, tetapi

masih belum bersedia.”

Ahmadiyah memandang orang yang tidak mengimani kenabian Ghulam

Ahmad sebagai orang sesat. Berkata Mirza Ghulam Ahmad, “Barangsiapa yang

tidak percaya pada wahyu yang diterima Imam yang Dijanjikan (Ghulam Ahmad),

maka sungguh ia telah sesat, sesesat-sesatnya, dan ia akan mati dalam kematian

Jahiliah, dan ia mengutamakan keraguan atas keyakinan.” (Mawahib al-Rahman).

Oleh sebab itulah, dalam shalat orang Ahmadiyah tidak boleh

bermakmum kepada orang Islam lain, karena mereka dipandang belum beriman

kepada Mirza Ghulam Ahmad. Tentang masalah shalat ini dijelaskan dalam buku

Syarif Ahmad Saitama Lubis, Dari Ahmadiyah untuk Bangsa tersebut, Dasar

www.hoirulblog.co.cc
pemikiran mengapa kalangan mereka harus yang menjadi imam, yaitu bagaimana

mungkin bermakmum pada orang yang belum percaya kepada Imam Zaman,

utusan Allah.

Dengan keyakinan bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah nabi, maka

Ahmadiyah kemudian menafsirkan ayat-ayat al-Quran dan hadis-hadis Rasulullah

SAW. sesuai dengan keyakinan mereka. Bagi umat Islam sudah jelas kedudukan

kenabian Muhammad SAW. sebagai nabi terakhir. Tidak ada lagi nabi setelah itu.

Meskipun banyak sekali yang mengaku sebagai nabi, tetap saja, mereka tidak

diakui oleh umat Islam, bahkan mereka jelas-jelas sebagai pendusta. Di Tanah

Air, NU, misalnya, sebagaimana dinyatakan KH Makruf Amin, sudah

mengeluarkan fatwa sesat untuk Ahmadiyah pada tahun 1995, yang mana ia ikut

memutuskan waktu itu. Mantan Rais Aam PBNU (Alm.) KH Ahmad Siddiq juga

pernah menulis risalah tentang kesesatan Ahmadiyah. Dalam keputusan tahun

1937, Majelis Tarjih Muhammadiyah juga mengutip hadist Rasulullah saw., ‘‘Di

antara umatku akan ada pendusta-pendusta, semua mengaku dirinya nabi,

padahal aku ini penutup sekalian nabi.” (HR Ibn Mardawaih, dari Tsauban).

Ahmadiyah juga meyakini Tadzkirah sebagai kitab suci. Dalam 12 poin

penjelasannya pada rapat Bakorpakem tiga bulan lalu, Amir Pengurus Besar

Jemaat Ahmadiyah Indonesia (PB JAI), Abdul Basit, membantah Tadzkirah

sebagai kitab suci, melainkan catatan pengalaman ruhani Hadhrat Mirza Ghulam

Ahmad yang dikumpulkan dan dibukukan serta diberi nama Tadzkirah.

Nyatanya, dari hasil pemantauan Tim Bakorpakem di lapangan selama 3

bulan itu, Tadzkirah tetap diakui sebagai kitab suci. Pada lembar pertama

Tadzkirah memang tertulis, Tadzkirah Wahyun Muqaddas, yakni wahyu yang

www.hoirulblog.co.cc
suci. Dari hasil pantauan didapati juga bahwa mereka mengatakan tidak akan

mengubah atau memperbaiki hal-hal mendasar itu.

Dalam Tadzkirah ada ayat berbunyi, ”Katakanlah (wahai Mirza Ghulam

Ahmad) jika kamu benar-benar mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah

mencintaimu. Mudah-mudahan Tuhanmu melimpahkan rahmatnya kepadamu dan

sekiranya kamu kembali pada kedurhakaan niscaya Kami kembali (mengazabmu)

dan Kami jadikan neraka Jahanam bagi orang-orang kafir. Kami tidak

mengutusmu (wahai Mirza Ghulam Ahmad) melainkan menjadi rahmat bagi

seluruh alam. Katakanlah beramallah menurut kemampuanmu, sesungguhnya aku

juga beramal. Kelak kamu akan mengetahui.”

Umat Islam tentu tak asing dengan redaksi ayat di atas. Ayat tersebut

memang ada dalam QS Ali Imran ayat 31, QS al-Anbiya ayat 107, dan QS al-

An’am ayat 135. Oleh Mirza Ghulam Ahmad, ketiga ayat tersebut digabungkan,

dipotong sedikit, diotak-atik seperti memasukkan namanya dalam tanda kurung

kemudian diklaim sebagai wahyu. Ayat gabungan itu ditulisnya dalam kitab

Haqieqatul Wahyi halaman 82. Banyak ayat-ayat al-Qur’an yang diperlakukan

seperti ini.

Wahyu-wahyu palsu itu lalu dikumpulkan dalam Tadzkirah. Tadzkirah

yang lebih tebal daripada al-Qur’an itu dipenuhi ayat-ayat al-Qur’an yang dijiplak,

diklaim, dan diputarbalikkan. Lihat pula klaimnya, “Al-Quran itu kitab Allah dan

kalimah-kalimah yang keluar dari mulutku.” (Istisfa, hlm. 81).

Dalam konteks dunia Islam, Organisasi Konferensi Islam (OKI) yang

mengadakan pertemuan pada 6-10 April 1974 di Kota Suci Mekkah telah secara

resmi menyatakan Ahmadiyah sebagai ajaran sesat dan menyesatkan. Selain itu,

www.hoirulblog.co.cc
konferensi dalam kesimpulannya juga mengeluarkan pernyataan bahwa kelahiran

Ahmadiyah tidak lepas dari peran Inggris sebagai Negara kolonialis (penjajah),

menghianati persoalan-persoalan umat Islam, membantu imperialisme dan

zionisme, bekerjasama dengan kekuatan-kekuatan tertentu untuk memerangi

Islam, dan dijadikan tameng untuk menghancurkan aqidah Islam dari dalam.

Hasil konferensi ini disosialisasikan keseluruh negara dengan penduduk

mayoritas muslim, yang kemudian ditindaklanjuti dengan pernyataan secara resmi

tentang pelarangan ajaran ini. Pelarangan tersebut masih berlaku sampai sekarang.

Alhasil, anda tidak akan menemukan warga Ahmadiyah di Arab Saudi, Malaysia,

Brunei, dan Negara OKI lainnya.

Fakta tentang kesesatan Ahmadiyah sebenarnya sangat jelas dan nyata,

seterang matahari di siang hari. Dalam kitab suci Kaum Ahmadiyah, Tadzkirah,

diserukan bahwa yang harus diikuti adalah Mirza Ghulam Ahmad. Yang diutus

sebagai rasul dengan membawa agama kebenaran dan yang dimenangkan atas

semua agama adalah Mirza Ghulam Ahmad, yang menjadi al mukhattab (yang

diseru) dalam ayat-ayat Al Qur’an yang dimasukkan ke dalam Tadzkirah adalah

Mirza (Haqiqatul Wahyi, hlm.71 dan kandungan umum Tadzkirah).

Secara umum, banyak kandungan dari Tadzkirah, baik secara eksplisit

maupun maknawi, yang menyatakan kenabian Mirza. Sebab itu jugalah, sebelum

dikeluarkannya keputusan Bakorpakem yang memberikan kesempatan kepada

Ahmadiyah untuk melaksanakan 12 butir pernyataan, beberapa tokoh terkemuka

dan pimpinan ormas-ormas Islam tingkat pusat yang tergabung dalam Forum

Umat Islam (FUI) menyayangkan keputusan tersebut sekaligus meragukan itiqad

www.hoirulblog.co.cc
warga Ahmadiyah untuk bertobat. Dan terbukti, keraguan tersebut akhirnya

terwujud dalam kenyataan.

Ajaran Ahmadiyah juga telah memunculkan keresahan dalam tubuh umat.

Banyak pihak yang menyayangkan betapa lambannya pemerintah dalam

menyelesaikan masalah ini. Kekhawatiran akan terjadinya aksi anarkis pun

merebak. Para tokoh dari berbagai ormas keislaman menyerukan agar seluruh

elemen masyarakat tidak bertindak gegabah dan menahan diri. Persoalan

Ahmadiyah mesti diselesaikan secara cerdas agar tidak menambah rumit masalah.

Seluruh elemen umat Islam juga mesti waspada karena isu Ahmadiyah

sangat rentan dijadikan para islamophobia sebagai sarana adu domba. Ini misalnya

dapat disaksikan dengan adanya tokoh dan organisasi yang secara terbuka

mendukung eksistensi Ahmadiyah atas nama HAM dan kebebasan memeluk

keyakinan bagi setiap warga negara.

Penodaan terhadap ajaran dasar suatu agama merupakan pelanggaran

serius. Apa yang dilakukan para pengikut Ahmadiyah jelas merupakan penodaan

sekaligus penghinaan terhadap ajaran Islam yang mulia. Semua orang tidak

memiliki hak untuk menghina dan menistakan suatu keyakinan. Yang dimaksud

keyakinan di sini adalah bahwa Muhammad merupakan nabi sekaligus rasul

terakhir bagi umat Islam.

Posisi Nabi Muhammad sebagai khatamul anbiya (penutup para nabi)

adalah perkara keimanan yang secara eksplisit (qoth’i) disebutkan dalam kitab

suci Al Qur’an. Pernyataan yang keluar dari makna di atas adalah pemahaman

bathil dan menyimpang. Fakta menunjukkan bahwa pemuka Ahmadiyah banyak

www.hoirulblog.co.cc
melakukan penafsiran secara serampangan (memanipulasi) ayat Al qur’an untuk

mendukung keyakinan mereka.

Agar persoalan tidak berkepanjangan, maka seluruh elemen umat Islam

harus pro aktif dalam menyelesaikan masalah ini. Apa yang dilakukan oleh

beberapa tokoh dan ormas Islam (misalnya MUI, FUI, dan sebagainya) untuk

mengajak warga Ahmadiyah bertobat, sudah tepat. Kita berdo’a agar mereka

diberikan hidayah untuk kembali ke jalan yang benar.

Umat Islam akan sangat berterima kasih jika pemerintah telah melindungi

aqidah dan keyakinan mereka, serta menghilangkan keresahan akibat kemunculan

aliran keagamaan yang selama ini menjadi duri dalam daging bagi umat Islam.

Adanya sebagian masyarakat yang melakukan tindakan kekerasan kepada

pengikut Ahmadiyah, sehingga timbul tuntutan agar Fatwa MUI itu dicabut dan

MUI dibubarkan. Padahal sebenarnya antara Fatwa MUI yang menyatakan bahwa

ajaran Ahmadiyah adalah sesat tidak dapat dikaitkan dengan tindakan

pengrusakan sebagian masyarakat. Maka tuntutan pembubaran MUI adalah

sesuatu yang tidak relevan sama sekali, sebab walaupun Ahmadiyah dinyatakan

sesat, tetapi tindakan pengrusakan dan penganiayaan kepada pengikut mereka

adalah sesuatu yang tidak dibenarkan baik dari segi ajaran Islam dan juga dari sisi

undang-undang.

Fatwa MUI tentang ajaran Ahmadiyah itu tidak mungkin dicabut, sebab

ajaran Ahmadiyah itu merupakan ajaran yang datang dari negeri lain, dan bersifat

internasional, jadi tidak mungkin ajaran Ahmadiyah di Indonesia berubah dari

ajaran Ahmadiyah di dunia lain. Jika mereka telah berubah, maka pastilah itu

bukan Ahmadiyah lagi, dan selama mereka memakai nama Ahmadiyah, maka

www.hoirulblog.co.cc
ajaran mereka akan tetap sebagimana diyakini oleh pengikut mereka di Negara

yang lain. Oleh sebab itu Fatwa Ahmadiyah itu sesat merupakan Fatwa Ulama dan

Organisasi Dunia Islam, bukan milik MUI semata-mata.

Pada tanggal 14 sampai 18 rabiul Awwal, 1394 Hijriyah Rabithah Alam

Islami ( Persatuan Negara Islam non Pemerintah ) berkedudukan di Makkah al

Mukarramah telah mengeluarkan surat keputusan dan rekomendasi untuk

Organisasi Konperensi Islam ( Persatuan Pemerintahan Negara-negara Islam )

yang menyatakan sebagai berikut :

Rekomendasi Komisi Aliran Pemikiran, Qadiyani (di Indonesia dikenal

dengan nama Ahmadiyah) adalah satu sekte yang amat membahayakan, yang

menjadikan Islam sebagai semboyan untuk menutupi maksud-maksud jahat

mereka. Hal yang paling menonjol dalam perbedaan paham dengan Islam adalah :

a. Pemimpinnya mengaku sebagai nabi.

b. Teks Al Qur’an diubah-ubah.

c. Jihad itu tidak ada.

Qadiyani itu adalah anak emas imperalis, Penjajah Inggris dan ia tidak

akan muncul kecuali dengan proteksi imperalisme. Qadiyani mengkhianati

masalah-masalah umat Islam dan ia membantu imperalisme dan zionisme, ia

bekerja sama dengan kekuatan-kekuatan yang oposisi terhadap Islam, yang

berjuang untuk menghancurkan akidah Islam dan memutarbalikkan ajaran islam

dengan cara-cara sebagai berikut :

a. Mendirikan tempat-tempat ibadah dengan biaya dari kekuatan musuh, untuk

mengadakan penyesatan dengan konsepsi Qadiyani yang menyeleweng.

www.hoirulblog.co.cc
b. Membuka sekolah-sekolah , lembaga-lembaga pendidikan dan panti asuhan

anak yatim. Qadiyani menjadikan kegiatan destruktifnya dengan sarana-sarana

pendidikan tersebut untuk kepentingan kekuatan yang memusuhi islam.

Qadiyani menyiarkan terjemahan yang tidak benar dari Al Quran dalam

berbagai bahasa di dunia.

Untuk mengatasi bahaya Qadiyani (Ahmadiyah) tersebut maka Muktamar

memutuskan bahwa:

1. Setiap lembaga Islam melakukan inventarisasi kegiatan Qadiyani di tempat-

tempat ibadah mereka, di sekolah sekolah dan panti asuhan mereka, dan di

semua tempat kegiatan mereka yang merusakkan (akidah Islam). Disamping itu

umat Islam wajib untuk memaparkan serta memperkenalkan kepada Dunia

islam siapa-siapa yang termasuk orang-orang Ahmadiyah. Hal ini untuk

menjaga agar umat tidak terperangkap dalam jeratan mereka.

2. Menyatakan bahwa golongan Ahmadiyah itu adalah kafir dan keluar dari islam.

3. Tidak bergaul dengan orang-orang Qadiyani atau Ahmadiyah, dan memutuskan

hubungan ekonomi, sosial, dan budaya dengan mereka. Tidak menikahi mereka

serta tidak menguburkan mereka di tanah pekuburan kaum muslimin, dan

memperlakukan mereka sebagai orang kafir.

4. Meminta kepada pemerintah-pemerintah Islam untuk melarang setiap kegiatan

pengikut-pengikut Mirza Ghulam Ahmad, dan menganggap mereka sebagai

golongan minoritas non-muslim, dan melarang mereka untuk menduduki

jabatan yang strategis dalam negara.

5. Menyebarluaskan fotokopi penyelewengan Ahmadiyah dalam al Quran al

karim, disertai inventarisasi terjemahan-terjemahan Al Quran yang dibuat oleh

www.hoirulblog.co.cc
Ahmadiyah dan berhati-hati terhadap terjemahan itu dan melarang beredarnya

terjemahan tersebut.

6. Semua golongan yang menyeleweng dari Islam diperlakukan seperti

Ahmadiyah.

Pada tanggal 4 Maret 1984 Sidang paripurna Lengkap Rapat Kerja

Nasional Majelis Ulama Indonesia memutuskan :

1. Bahwa Jemaat Ahmadiyah di wilayah negara Republik Indonesia yang

berstatus sebagai badan hukum berdasarkan Surat Keputusan Menteri

Kehakiman R.I No.JA/23/13 tanggal 13-3-1953 (tambahan Berita Negara

tanggal 31-3-1953 No.26 ) bagi umat Islam menimbulkan :

a. Keresahan karena isi ajarannya bertentangan dengan ajaran agama Islam.

b. Perpecahan khususnya dalam hal ubudiyah (shalat), bidang Munakahat dan

lain-lain.

c. Bahaya bagi ketertiban dan keamanan Negara.

Maka dengan alasan-alasan tersebut dimohon kepada pihak yang berwenang

untuk meninjau kembali Surat Keputusan Menteri Kehakiman R.I. tersebut.

2. Menyerukan kepada ;

a. Agar Majelis Ulama Indonesia, majelis Ulama Daerah Tingkat I, Daerah

Tingkat II, para Ulama dan Dai’ diseluruh Indonesia menjelaskan kepada

masyarakat tentang sesatnya Jemaat Ahmadiyah Qadiyani yang berada di luar

Islam.

b. Bagi mereka yang terlanjur mengikuti Jemaat Ahmadiyah Qadiyani supaya

segera kembali kepada ajaran Islam yang benar.

www.hoirulblog.co.cc
c. Kepada seluruh umat Islam supaya mempertinggi kewaspadaannya, sehingga

tidak terpengaruh dengan faham yang sesat itu.

Majelis Ulama Indonesia dan Organisasi keagamaan telah melakukan

kajian tentang Ahmadiyah yang hasilnya antara lain dituangkan dalam bentuk

rekomendasi dan Fatwa sebagai berikut ;

1. Majelis Ulama Indonesia DATI I Propinsi Istimewa Aceh mengeluarkan fatwa

tahun 1984 bahwa Ahmadiyah Qadiyani adalah sesat dan menyesatkan (surat

MUI DATI DI Aceh No.24/I/FATWA/1984).

2. Ulama di Sumatera Timur mengeluarkan Keputusan Hasil Musyawarah tahun

1953 bahwa Ahmadiyah Qadiyani adalah kafir/murtad. (Surat No.

125/Rhs/DI/19/65).

3. Majelis Ulama Indonesia dalam MUNAS II tahun 1980 menyatakan bahwa

Ahmadiyah adalah jamaah di luar Islam, sesat dan menyesatkan ( Keputusan

MUNAS II MUI se Indonesia No.05/Kep/Munas/II/MUI/1980).

4. Majelis Ulama Indonesia DATI I Sumatera Utara mendukung Keputusan

MUNAS II MUI Pusat pada tahun 1980 (Surat MUI DATI I Sumatera Utara

No.356?MU-SU/VI/1984).

5. Muhammadiyah melalui keputusan Majelis Tarjih menetapkan bahwa tidak ada

nabi sesudah nabi Muhammad saw. Jika orang itu menerima dan tidak

mempercayai ayat dan hadist mengenai hal tersebut, maka dia telah

mendustakannya dan barangsiapa yang mendustakannya maka kafirlah ia ( PP.

Muhammadiyah, Himpunan Putusan Tarjih, t.th. : 280-281 ).

6. Majelis Ulama Indonesia DATI I RIAU tahun 1994 mengeluarkan fatwa bahwa

ajaran Ahmadiyah Qadiyani benar-benar berada di luar Islam, dan dapat

www.hoirulblog.co.cc
meresahkan masyarakat muslim (Komisi Fatwa MUI DATI RIAU, 7 Oktober

1994 ).

7. Dewan Syuriah PP Nahdatul Ulama mengeluarkan keputusan pada tahun 1995

bahwa Aliran Ahmadiyah yang ada di Indonesia menyimpang dari ajaran

Islam. Aliran Ahmadiyah yang memutarbalikkan al Quran itu agar dilarang .

8. Forum Ukhuwah Islamiyah Indonesia yang terdiri atas organisasi Islam, para

ulama, dan zuama, antara lain Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII),

Syarikat Islam (SI), Ittihadul Muballighin, Muhammadiyah, Persatuan Umat

Islam ( PUI), Al Irsyad al Islamiyah, Persatuan Islam ( PERSIS) beserta

sejumlah ulama menyatakan bahwa ajaran Ahmadiyah Qadiyan sudah keluar

dari akidah Islamiyah dan gerakan sesat dan menyesatkan, penodaan kepada

kitab suci Al Qur’an oleh Ahmadiyah memalui kitab sucinya tadzkirah wajib

dihentikan (Surat Pernyataan Permohonan Pelarangan secara nasional terhadap

Ahmadiyah di Indonesia tanggal 17 September 1994).

Demikianlah beberapa keputusan, fatwa dan rekomendasi organisasi Islam

terhadap keberadan Ahmadiyah, oleh sebab itu sebaiknya setiap umat Islam

menyadari bahwa Ahmadiyah adalah ajaran sesat, dan tidak terpengaruh dengan

ajakan dan propaganda mereka dengan dalih hak-asasi manusia. Selain itu kepada

seluruh umat diharapkan dapat mencegah tindakan anarkis kepada mereka, tetapi

mendahulukan cara dakwah dengan cara terbaik, sehingga mereka dapat sadar dan

segera bertobat kepada Allah. Kekafiran dan kesesatan suatu kaum tidak berarti

menghalalkan kekerasan kepada mereka kecuali jika mereka telah menyerang dan

memusuhi umat Islam.

www.hoirulblog.co.cc
" Ajaklah mereka kepada jalan Tuhanmu dengan penuh hikmah dan

nasehat yang baik dan berdialoglah dengan mereka dengan cara yang terbaik "

(QS. An Nahl : 132).

II.3. Kebijakan Pemerintah Terhadap Masalah Ahmadiyah

Akhirnya Jemaat Ahmadiyah Indonesia/JAI (Ahmadiyah) resmi

dinyatakan sebagai kelompok sesat. Kesimpulan ini disampaikan oleh

Bakorpakem 16 April lalu setelah melakukan pemantauan selama tiga bulan.

Ahmadiyah dinilai tidak melaksanakan 12 butir penjelasan yang disampaikan oleh

PB JAI pada 14 Januari 2008 secara konsisten dan bertanggung jawab.

Bakorpakem berpendapat, Ahmadiyah telah melakukan kegiatan dan penafsiran

keagamaan yang menyimpang dari pokok-pokok ajaran agama Islam yang dianut

Indonesia serta menimbulkan keresahan dan pertentangan di masyarakat sehingga

mengganggu ketenteraman dan ketertiban umum.

Menurut Kepala Badan Litbang dan Diklat Depag, Atho Mudzhar, yang

juga Ketua Tim Pemantau, selama tiga bulan Bakorpakem memantau 55 komunitas

Ahmadiyah di 33 kabupaten. Sebanyak 35 anggota tim pemantau bertemu 277

warga JAI. Ternyata, ajaran Ahmadiyah masih menyimpang. Di seluruh cabang,

Mirza Ghulam Ahmad (MGA) diakui sebagai nabi setelah Nabi Muhammad saw.

Selain itu, penganut Ahmadiyah juga meyakini bahwa Tadzkirah adalah penafsiran

MGA terhadap al-Quran yang sesuai dengan perkembangan zaman. Ketua

Bakorpakem, Whisnu Subroto, yang juga Jaksa Agung Muda Intelijen, memastikan

rekomendasi Bakorpakem bersifat final. Artinya, Ahmadiyah tidak diberi

kesempatan lagi bernegosiasi dan Bakorpakem tidak akan melakukan evaluasi

tambahan atas pelaksanaan 12 butir PB JAI.

www.hoirulblog.co.cc
Oleh karena itu, tepat sekali keputusan Bakorpakem yang menetapkan

Ahmadiyah sebagai aliran sesat. Apalagi keputusan itu dibuat dengan dasar yang

lebih kokoh. Ahmadiyah sudah diberi waktu 3 bulan untuk memperbaiki diri.

Namun nyatanya, itu tidak dilakukan. Kepala Litbang Depag Prof. Atho Mudzar

menilai pemantauan itu sendiri cukup serius. Satu pemantau rata-rata melakukan

pengamatan tujuh hari di satu titik. Ada yang sampai menginap di komunitas itu.

Oleh sebab itu, para tokoh umat harus mendukung keputusan Bakorpakem

ini. Jika tidak, diduga ada pihak-pihak yang justru mengadu-domba mereka dalam

kasus ini, termasuk asing. Nasarudin Umar (Dirjen Bimas Islam Depag) mengakui

bahwa ada 4 negara diantaranya AS, Inggris, dan Kanada yang menghimbau agar

Ahmadiyah tidak dibubarkan. Mereka mengirim surat kepada Menteri Agama yang

ditembuskan kepadanya (Republika, 26/2/2008).

Bakorpakem merekomendasikan agar warga Ahmadiyah diperintahkan dan

diberi peringatan keras untuk menghentikan perbuatannya dalam suatu keputusan

bersama Menteri Agama, Jaksa Agung, dan Menteri Dalam Negeri sesuai dengan

UU No 1/PNPS/1965. Apabila perintah dan peringatan keras sebagaimana tersebut

pada butir tiga di atas tidak diindahkan, Bakorpakem merekomendasikan

pembubaran organisasi Ahmadiyah dengan segala kegiatan dan ajarannya.

Keputusan ini selaras dengan Fatwa MUI tentang Ahmadiyah tahun 2005,

dan keputusan Majma’ al-Fiqih al-Islami Organisasi Konferensi Islam (OKI) tahun

1985. Jadi, jika Ahmadiyah tetap menolak kembali ke jalan yang benar (rujû’ ilâ

al-haq) dan meninggalkan semua keyakinan, paham dan ajaran Ahmadiyah, maka

keputusan yang tepat untuk Ahmadiyah tidak lain: Harus dilarang dan dibubarkan.

www.hoirulblog.co.cc
Akhirnya pemerintah lewat Menteri Agama, Jaksa Agung, dan Menteri

Dalam Negeri mengeluarkan Surat Keputusan Bersama (SKB) yang berlaku sejak

tanggal 9 Juni 2008 yang ditetapkan di Jakarta. SKB No 3/2008, KEP-

033/A/JA/6/2008, dan No 199/2008 tentang Peringatan dan Perintah kepada

Penganut, Anggota, dan/atau Anggota Pengurus Jemaat Ahmadiyah Indonesia

(JAI) dan Warga Masyarakat. Yang isinya:

1. Memberi peringatan dan memerintahkan warga masyarakat untuk tidak

menceritakan, menganjurkan, atau mengusahakan dukungan umum melakukan

penafsiran tentang suatu agama yang dianut di Indonesia atau melakukan

kegiatan keagamaan yang menyerupai kegiatan keagamaan dari agama itu yang

menyimpang dari pokok-pokok ajaran itu.

2. Memberi peringatan dan memerintahkan kepada penganut, anggota, dan/atau

anggota pengurus JAI sepanjang mengaku beragama Islam untuk menghentikan

penyebaran penafsiran dan kegiatan yang menyimpang dari pokok-pokok ajaran

Islam, yaitu penyebaran paham yang mengakui adanya nabi dengan segala

ajarannya setelah Nabi Muhammad SAW.

3. Penganut, anggota, dan/atau anggota pengurus JAI yang tidak mengindahkan

peringatan dan perintah sebagaimana dimaksud pada diktum kesatu dan diktum

kedua dapat dikenai sanksi sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan,

termasuk organisasi dan badan hukumnya.

4. Memberi peringatan dan memerintahkan warga masyarakat untuk menjaga dan

memelihara kerukunan umat beragama serta ketenteraman dan ketertiban

kehidupan bermasyarakat dengan tidak melakukan perbuatan dan/atau tindakan

melawan hukum terhadap penganut, anggota, dan/atau anggota pengurus JAI.

www.hoirulblog.co.cc
5. Warga masyarakat yang tidak mengindahkan peringatan dan perintah

sebagaimana dimaksud pada diktum kesatu dan diktum keempat dapat dikenai

sanksi sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.

6. Memerintahkan aparat pemerintah dan pemerintah daerah melakukan langkah-

langkah pembinaan dalam rangka pengamanan dan pengawasan pelaksanaan

keputusan bersama ini.

SKB ini diterbitkan begitu lamban karena pemerintah memikirkan sedalam-

dalamnya dan semasak-masaknya, mana yang terbaik. Menurut pemerintah,

keputusan inilah yang terbaik sesuai undang-undang yang berlaku. Pemerintah

lamban sekali mengambil keputusan, sementara gejolak terus berlanjut sampai

terjadi insiden kekerasan di Monas beberapa waktu yang lalu. Tindak kekerasan

memang patut kita sesalkan. Namun kelambatan mengambil sikap, turut

memberikan kontribusi terjadinya insiden kekerasan itu. Kalau pemerintah cepat

mengambil keputusan, maka insiden seperti itu tidak perlu terjadi. Segala tuntutan

dan penyampaian aspirasi, tetaplah harus menempuh cara-cara yang damai. Buntut

dari insiden kekerasan itu, wajah umat Islam di tanah air menjadi kian

memprihatinkan. Kita makin terpecah-belah karena perbedaan pendapat dan

perbedaan sikap menghadapi suatu masalah. Keadaan seperti ini, akan menjadi

bahan propaganda terus-menerus untuk memojokkan Islam dan umat Islam di

tanah air.

II.4. Pro Kontra SKB Ahmadiyah

Ada beragam reaksi atas terbitnya SKB itu sebagaimana muncul di berbagai

media cetak dan elektronik. Ada yang menentang dan ada pula yang tidak puas

dengan SKB. Kelompok yang menentang berencana untuk menggugat SKB ke

www.hoirulblog.co.cc
Mahkamah Konstitusi, bahkan berencana akan mengajukan permohonan uji

materil terhadap UU Nomor 1/PNPS/1965 yang mendasari penerbitan SKB itu.

Sementara kelompok yang tidak puas, menyatakan isi SKB itu tidak jelas dan multi

tafsir, sehingga sulit dilaksanakan di lapangan. Keberadaan SKB itu sendiri sangat

minimalis, karena yang diinginkan bukan sekedar perintah dan peringatan kepada

individu pengikut Ahmadiyah, tetapi juga pembubaran terhadap organisasi Jemaat

Ahmadiyah Indonesia. Pihak yang tidak puas beranggapan kata “diberi perintah

dan peringatan keras” sebagaimana diatur dalam Pasal 2 UU Nomor 1/PNPS/1965

telah dilunakkan menjadi “memberi peringatan dan memerintahkan”.

Dibalik diterbitkannya SKB, nampak sekali sikap ragu-ragu Presiden Susilo

Bambang Yudhoyono untuk membubarkan organisasi Jemaat Ahmadiyah

Indonesia. Padahal kegiatan Ahmadiyah di Indonesia bukan sekedar kegiatan

individu para penganutnya, tetapi suatu kegiatan yang terorganisasikan melalui

JAI. Organisasi ini terdaftar di Kementerian Kehakiman RI sebagai sebuah

vereneging atau perkumpulan berdasarkan Keputusan Menteri Kehakiman tanggal

13 Maret 1953. Berdasarkan ketentuan Pasal (2) UU Nomor 1/PNPS/1965, apabila

kegiatan kegiatan penodaan ajaran agama itu dilakukan oleh organisasi, maka

Presiden dapat membubarkan organisasi itu dan menyatakannya sebagai

organisasi/aliran terlarang, setelah Presiden mendapat pertimbangan dari Menteri

Agama, Menteri Dalam Negeri dan Jaksa Agung.

Ketentuan Pasal 2 UU Nomor 1/PNPS/1965 di atas berbeda dengan

penjelasan Jaksa Agung Hendarman Supanji. SKB, menurutnya, bukan

pembubaran atau pelarangan sebuah organisasi. Pemerintah tidak dapat langsung

membubarkan JAI, melainkan harus diperingatkan lebih dahulu. kalau kegiatan

www.hoirulblog.co.cc
penodaan agama itu dilakukan oleh individu, maka ketiga pejabat menerbitkan

SKB sebagaimana telah dilakukan. Namun jika penodaan itu dilakukan melalui

organisasi, maka Presidenlah yang harus membubarkan dan melarang organisasi

itu. Sebab bisa saja terjadi, kegiatan penodaan agama itu hanya dilakukan oleh

individu tanpa organisasi. Untuk kegiatan seperti ini, Presiden tidak perlu

menerbitkan keputusan pembubaran dan pelarangan, cukup dengan SKB tiga

pejabat tinggi itu saja.

Meskipun SKB telah diterbitkan, namun di dalam tubuh Pemerintah sendiri

terdapat silang pendapat yang cukup tajam. Dirjen Hak Asasi Manusia Departemen

Hukum dan HAM, Harkristuti Harkrisnowo menyesalkan diterbitkannya SKB itu.

Keputusan itu diambil, menurutnya, setelah adanya demonstrasi besar-besaran

yang dilakukan sejumlah ormas Islam di depan Istana Negara, yang meminta

pemerintah membubarkan Ahmadiyah. Pendapat Harkristuti sama saja dengan para

penentang SKB lainnya, yang menuduh pemerintah mengalah kepada tekanan

ormas-ormas Islam. SKB menurutnya, seharusnya tidak diterbitkan. Ahmadiyah

seharusnya tidak dilarang selama tidak menimbulkan konflik, tidak mengganggu

dan tidak menimbulkan reaksi. Harkristuti juga mengatakan bahwa di Iran,

Ahmadiyah diakui sebagai kelompok minoritas sehingga dibolehkan hidup dan

tidak dibubarkan. (Sinar Harapan, 10 Juni).

Sebagai birokrat, semestinya dia tidak mengomentari keputusan politik

pemerintah yang berisi sebuah kebijakan. Kalau dia mengatakan bahwa

Ahmadiyah tidak menimbulkan konflik, tidak mengganggu dan tidak menimbulkan

reaksi, sehingga tidak perlu dilarang, nampaknya Dirjen HAM ini tidak mengikuti

kontroversi seputar Ahmadiyah di negeri kita ini. Ahmadiyah dibenarkan untuk

www.hoirulblog.co.cc
diakui keberadaannya menurut hukum, sepanjang Ahmadiyah itu menyatakan

dirinya sebagai agama tersendiri. Dengan demikian, keberadaan mereka dianggap

sebagai minoritas non Muslim sebagaimana di Pakistan (bukan Iran). Keberadaan

dan aktivitas Ahmadiyah di negeri kita ini, sama sekali bukan persoalan

kemerdekaan beragama sebagaimana dijamin di dalam UUD 1945, tetapi persoalan

penodaan ajaran agama Islam yang dianut secara mayoritas oleh rakyat Indonesia.

Melalui paham yang dikembangkannya, serta kegiatan-kegiatan

keagamaannya, jelas bahwa Ahmadiyah telah menodai, mengganggu,

menimbulkan reaksi dan bahkan konflik di negeri kita ini. Kalau Pemerintah

bertindak tegas sesuai ketentuan-ketentuan dalam UU Nomor 1/PNPS/1965,

bukanlah berarti pemerintah mencampuri keyakinan warga negaranya. Bukan pula

berarti pemerintah membatasi kemerdekaan memeluk agama. Tindakan itu harus

dilakukan untuk melindungi mayoritas pemeluk agama Islam, yang merasa ajaran

agamanya dinodai oleh paham dan aktivitas Ahmadiyah. Negara harus bertindak

untuk melindungi warganegara yang merasa keyakinan keagamaan mereka dinodai

oleh seseorang, sekelompok orang atau sebuah organisasi. Sebab itu, keberadaan

penganut Ahmadiyah, termasuk organisasi Jemaat Ahmadiyah Indonesia tidak

akan dipermasalahkan, jika mereka menyebut diri mereka sebagai kelompok

agama sendiri, yang berada di luar Islam.

Surat Keputusan Bersama Menteri tentang Ahmadiyah ini bukan

merupakan perundang-undangan. Akibatnya, pihak yang berkeberatan tidak jelas

kemana memperkarakan SKB itu. Jika diperkarakan ke Mahakamah Agung (MA),

SKB itu bukan peraturan perundang-undangan. Jika ke Pengadilan Tata Usaha

Negara (PTUN), isi SKB itu mengandung pengaturan bukan penetapan, karena

www.hoirulblog.co.cc
muatannya bersifat umum. Kalau ke Mahkamah Konstitusi (MK), SKB itu bukan

UU. Dalam UU No 10/2004 tentang Pembentukan Perundang-undangan tidak

mengenal SKB atau surat keputusan lain. Pada pasal 7 ayat (1) menyebutkan jenis

peraturan perundang-undangan adalah UUD 1945, UU/Perppu, Peraturan

Pemerintah, Peraturan Presiden, dan Peraturan Daerah. SKB itu hanya merupakan

keputusan pejabat di bawah Presiden. Menteri itu bawahan Presiden, jadi Presiden

yang bisa membatalkannya. Kalau tadinya masalah Ahmadiyah diatur dalam

Peraturan Presiden, itu baru bisa diperkarakan.

UU yang bisa diuji MK adalah UU No 1 PNPS Tahun 1965 (jo UU No

5/1969) tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan/atau Penodaann Agama yang

digunakan sebagai dasar SKB. Kalau ada yang tidak setuju terhadap SKB, bisa

menggugatnya. Cara menggugat SKB itu tergantung isinya. Kalau isinya mengatur

berarti peraturan, kalau isinya bukan mengatur tapi misalnya memberi hak,

mencabut hak, atau membentuk sesuatu yang sifatnya penetapan, meski demikian

mengandung konsekuensi hak dan kewajiban, maka cara menggugatnya lain lagi.

Kalau menggugat peraturan itu judicial review, kalau UU, maka cara mengujinya

di MK, kalau peraturannya di bawah UU ke MA, dan kalau bukan peraturan

melainkan penetapan menggugatnya di PTUN.

SKB yang sudah diterbitkan oleh tiga pejabat negara itu, nampaknya akan

terus menuai kontroversi. Pro dan kontra masih akan terus berlanjut. Pemerintah

sendiri seperti mempersilahkan mereka yang menolak SKB untuk

memperkarakannya di Mahkamah Konstitusi. Tapi menurut mantan Mensesneg

Yusril Ihza Mahendra tentang tugas dan kewenangan MK, lembaga itu bukanlah

mahkamah yang dapat mengadili sebuah SKB yang diterbitkan oleh pejabat tinggi

www.hoirulblog.co.cc
negara, sepanjang ia tidak menimbulkan sengketa kewenangan. SKB itu bukan

pula obyek sengketa tata usaha negara yang dapat dibawa ke Pengadilan Tata

Usaha Negara, karena sifatnya bukanlah putusan pejabat tata usaha negara yang

bersifat individual, kongkrit dan final. Kalau mau dibawa ke Mahkamah Agung,

boleh saja untuk menguji apakah SKB itu kalau isinya bercorak pengaturan

bertentangan atau tidak dengan undang-undang (yakni UU Nomor 1/PNPS/1965).

Menurutnya walaupun isi SKB itu tidak memuaskan, namun SKB itu adalah

kebijakan (beleid) Pemerintah, yang oleh yurisprudensi Mahkamah Agung,

dinyatakan sebagai sesuatu yang tidak dapat diadili.

Suatu hal yang juga ingin dilakukan oleh para penentang SKB dan

pembubaran Ahmadiyah, ialah keinginan untuk memohon uji materil terhadap UU

Nomor 1/PNPS/1965 ke Mahkamah Konsitusi. Kalau itu dilakukan, maka MK

akan memanggil Presiden dan DPR selaku termohon untuk hadir di persidangan

MK. Disinilah adu argumentasi akan terjadi, untuk memutuskan apakah UU

Nomor 1/PNPS/1965 itu bertentangan dengan UUD 1945 atau tidak. Persoalan

Ahmadiyah kini bukan saja menjadi persoalan dalam negeri kita, tetapi telah

mendunia. Sidang Dewan HAM PBB di Jenewa mempertanyakan masalah ini.

Cukup banyak negara, yang melarang Ahmadiyah, termasuk Malaysia dan Brunei

Darussalam. Kita memang perlu memberikan penjelasan komprehensif mengenai

Ahmadiyah ini, baik dari perspektif hukum nasional kita, maupun dari perspektif

hukum internasional mengenai hak asasi manusia. Penjelasan itu tidak akan lari

dari prinsip yang dikemukakan, yakni persoalan Ahmadiyah akan selesai jika

mereka dianggap sebagai agama di luar Islam dan penganutnya bukan lagi

dianggap sebagai Muslim. Dengan demikian, hak-hak konstitusional mereka di

www.hoirulblog.co.cc
negeri ini akan dijamin sepenuhnya sebagaimana warganegara yang menganut

agama lainnya.

Para tokoh bangsa kita sebagian besar menanggapinya dengan emosional

dan seakan memaksakan kehendak hingga masalahnya tidak semakin jernih

melainkan semakin keruh dan kesannya sudah mulai melenceng dari permasalahan

pokok. Tapi malah aneh ada orang atau organisasi yang menghina agama orang

lain tapi dari kelompok agama yang dihina itu malah ada yang membelanya dengan

berbagai pendapat-pendapat agologis (dengan pendekatan HAM, kebebasan

beragamalah, kebebasan berfikirlah, dan sebagainya) yang sebenarnya tidak

berhubungan dengan masalah pokoknya, sedangkan kelompok itu terbilang orang-

orang pinter di agama. Akhirnya, harapan kita semua agar public pigure di negara

kita ini bisa lebih bijaksana, jangan menjadi penambah masalah saja tapi bisa

menjadi penyumbang ide untuk menyelesaikan masalah.

Keputusan seberapa baiknya pasti akan menimbulkan pro dan kontra. Yang

penting bagi kita adalah berupaya membentengi diri dari segala bentuk penistaan

agama yang kita yakini dengan terus belajar, menelaah dan meningkatkan

ketaqwaan kita kepada Allah SWT. Pemikiran Islam yang terlalu bebas tanpa

kendali kadang-kadang membuat kita terkejut, bahwa ada pemikiran yang terlalu

berani. Seperti mengaku menjadi rasul dan hal-hal yang menyangkut aqidah yang

kita yakini kebenarannya. Dan kewajiban kita untuk selalu meningkatkan

keimanan kita dan kepada yang kebetulan memiliki ilmu yang lebih agar

memberikan pemahaman islam dengan cara dakwah yang sesuai dengan era

sekarang ini. Ahmadiyah sebagai kumpulan orang yang mendalami agama punya

hak hidup dan berkembang seperti warga lain, tetapi tidak boleh menyebarkan

www.hoirulblog.co.cc
ajaran agama yang berbeda tafsir dengan ajaran yang berlaku umum di Indonesia.

Seharusnya pemerintah mengeluarkan keputusan yang lebih tegas lagi

sehingga jangan setengah-setengah dalam menegakkan agama ini. Murnikanlah

agama Allah hingga tidak ada lagi fitnah lagi terhadap agama-Nya. Seharusnya,

ketegasan yang dilakukan pemerintah ialah salah satu dari alternatif berikut :

1. Perintahkan Ahmadiyah untuk bertaubat, dengan mengakui bahwa Nabi

Muhammad adalah Rasul terakhir dan tak ada lagi Rasul setelahnya. Jika para

penganut Ahmadiyah sudah menyatakan hal ini, maka tentunya umat muslim

akan dengan senang hati menerima mereka.

2. Jikalau alternatif 1 tidak dipilih, maka alternatif kedua ialah : Perintahkan

Ahmadiyah untuk tidak membawa nama Islam pada agamanya. Jikalau

Ahmadiyah sudah mengaku keluar dari Islam, maka umat muslim pun tak akan

mengganggu mereka lagi, karena dengan begini mereka (JAI) sudah tidak

menodai agama ini.

3. Bubarkan Ahmadiyah, inilah alternatif terakhirnya. dengan begini segala

aktivitasnya sudah pasti dilarang. Juga sudah jelas bahwa Ahmadiyah tidak

boleh ada lagi, apalagi melakukan penyebaran agama dengan membawa-bawa

Islam.

Sebelum Nabi Muhammad SAW meninggal beliau telah berpesan tidak ada

lagi nabi setelah beliau, sangat jelas arti dan maknanya. Jadi silahkan ahmadiah

mendeklarasikan agama sendiri, itu lebih baik dari pada mengaku sebagai islam

tapi tidak mengganggap Nabi muhammad sebagai rasul terakir. Kaum ahmadiyah

harus berjiwa besar kenapa mau menjadi budak-budak kaum kapitalis yang telah

menyebarluaskan qauzul fikri, mereka mengaku islam tapi mereka menghancurkan

www.hoirulblog.co.cc
islam itu sendiri, atau mereka telah menjadi tumbal dibalik akal busuk oknum-

oknum yang berkepentingan dinegara ini.

II.5. Undang-Undang dan Islam Memandang kebebasan beragama dan

Berkeyakinan

Bedah Butir Pada Pancasila - Sila Pertama

 Ketuhanan Yang Maha Esa

 Bangsa Indonesia menyatakan kepercayaanya dan ketaqwaanya kepada

Tuhan Yang Maha Esa.

 Manusia Indonesia percaya dan taqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa,

sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing menurut dasar

kemanusiaan yang adil dan beradab.

 Mengembangkan sikap hormat menghormati dan bekerjasama antra

pemeluk agama dengan penganut kepercayaan yang berbeda-beda terhadap

Tuhan Yang Maha Esa.

 Membina kerukunan hidup di antara sesama umat beragama dan

kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa

 Agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa adalah masalah

yang

menyangkut hubungan pribadi manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa.

 Mengembangkan sikap saling menghormati kebebasan menjalankan ibadah

sesuai dengan agama dan kepercayaanya masing masing

 Tidak memaksakan suatu agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang

Maha Esa kepada orang lain.

www.hoirulblog.co.cc
Negara menjamin kebebasan beragama seperti yang tertuang dalam UUD 1945

Pasal 29:

(1) Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa.

(2) Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya

masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya

itu

Pancasila sebagai dasar dalam mengembangkan sistem kenegaraan di

Tanah Air sudah final dan ini merupakan yang terbaik. Pada pendiri negara ini

sudah berpikir jauh ke depan dengan memikirkan keberagaman dan kemajemukan

rakyat yang ada di berbagai pelosok, baik suku, agama, ras, dan golongan. Kini

kebijakan pemerintah harus mengakomodasi kemajemukan tersebut.

Republik ini dibentuk dari dan oleh berbagai golongan, kelompok, agama,

etnis, yang telah bersepakat bahwa keragaman itulah ruh bangsa ini. Keragaman

itulah yang justru mempersatukan kita, bukan menceraiberaikan. Keragaman itu

merupakan modal spirtitual untuk hidup dan berkembangnya bangsa Indonesia,

karena keragaman bukan alasan untuk bertentangan, melainkan untuk saling

melengkapi dan bertumbuh bersama.

Republik Indonesia menghormati agama-agama, tapi jelas bukan negara

agama. Negara ini tidak didasarkan pada suatu ideologi agama tertentu yang

membentuk teokrasi. Dalam negara majemuk ini, semua agama berhak hidup dan

mengembangkan dirinya. Dalam negara demokrasi konstitusional ini, semua warga

negara berkedudukan sama dan setara di depan hukum dan pemerintahan. Semua

warga negara memiliki kebebasan untuk menjalankan agama dan beribadah

menurut agama dan keyakinannya masing-masing.

www.hoirulblog.co.cc
Kebebasan beragama adalah prinsip yang sangat penting dalam negara

demokrasi, dan harus dipahami makna dan konsekuensinya, baik oleh negara

maupun masyarakat. Saat ini, kita dihadapkan pada ancaman disintegrasi yang

sangat membahayakan keutuhan kita sebagai bangsa dan proses demokratisasi

yang sedang dibangun bersama oleh segenap elemen bangsa. Maraknya fenomena

kekerasan atas nama agama, persekusi terhadap kelompok yang berbeda, menjadi

titik balik proses berbangsa yang sedari awal menyepakati Bhinneka Tunggal Ika

sebagai pegangan bersama.

Tapi pelarangan dan pembubaran Ahmadiyah tidak ada hubungannya sama

sekali dengan kebebasan beragama dan pelanggaran hak asasi manusia (HAM).

Islam memberikan kebebasan kepada siapa pun untuk memeluk agama apapun.

Kebebasan beragama adalah hak asasi setiap manusia. AllaH SWT berfirman:

ِ ‫إ ِﻛﻻ َْﺮ َ اه َ ﻓ ِﻲ اﻟﺪ ﱢﯾﻦ‬

Tidak ada paksaan dalam urusan agama.(QS. Al-Baqarah [2]: 256)

ِ ‫ﻟ َﻜ ُﻢ ْ د ِﯾﻨ ُﻜ ُﻢ ْ و َ ﻟ ِﻲ َ د ِﯾﻦ‬

Bagimu agamamu dan bagiku agamaku. (QS. Al-kâfirûn [109]: 6)

Semua itu termaktub dengan sangat jelas dalam al-Quran. Inilah makna kebebasan

beragama yang benar.

Sungguhpun menjadi kewajiban bagi umat Islam menyeru manusia ke jalan

Allah, jalan yang benar. umat Islam dilarang memaksa orang lain memeluk Islam,

Allah berfirman yang bermaksud: “Tidak ada paksaan dalam agama Islam (yakni

untuk memeluknya), sesungguhnya telah nyata kebenaran (Islam) daripada

kesesatan (kekufuran)”.(al-Qur’an s. al-Baqarah: 256)

Allah SWT. menyeru umat manusia yang berbilang kaum dan agama

www.hoirulblog.co.cc
supaya saling berkenal-kenalan satu dengan lainnya, Allah berfirman yang

bermaksud:

“Wahai Ummat manusia sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu

daripada lelaki dan perempuan, dan Kami telah menjadikan kamu pelbagai

bangsa dan puak, supaya kamu berkenal-kenalan (dan beramah mesra antara

satu dengan yang lain.) Sesungguhnya semulia-mulia kamu disisi Allah adalah

orang yang paling bertaqwa diantara kamu (bukan karena keturunan ataupun

bangsanya). Sesungguhnya Allah Maha mengetahui dan Maha mendalam

PengetahuanNya.” (al-Qur’an s.al Hujurat : 13)

Namun, kebebasan beragama tidak boleh diartikan sebagai kebebasan

merusak, menodai dan mengacak-acak agama orang lain. Ahmadiyah telah

melakukan itu sehingga harus dihentikan. Jadi, ini bukan masalah kebebasan

beragama, tetapi masalah penodaan dan pengacak-acakan agama Islam.

Adanya berbagai aksi anarkis terhadap jemaat Ahmadiyah membuat orang

beranggapan bahwa Islam itu identik dengan kekerasan seperti insiden MONAS

dan berbagai aksi kekerasan didaerah-daerah. Kita semua menyayangkan aksi

tersebut tapi kita tidak bisa hanya menyalahkan satu pihak saja, banyak faktor yang

menyebabkan itu semua terjadi. Dan itulah yang harus kita cari solusinya sehingga

tidak ada pihak yang merasa dirugikan.

Islam tidak identik dengan kekerasan sesuai dengan kehadirannya

sesungguhnya bertujuan untuk mensejahterakan umat manusia (tidak hanya umat

muslim). Secara gambalang Allah SWT dalam Q.S Al-Anbiya’ ayat 107 berfirman

bahwa kedatangan Islam tidak lain dan tidak bukan, kecuali menjadi rahmat bagi

seluruh alam termasuk di dalamnya adalah umat manusia. Maka, sesuatu yang

www.hoirulblog.co.cc
tidak masuk akal jika ada anggapan bahwa Al-Islam disamakan dengan kekerasan.

Sebab, bagaimana mungkin hal ini bisa terjadi kalau bukan semata-mata hanya

untuk mendiskreditkan Islam. Sudah dimaklumkan bahwa perseteruan dan

permusuhan (al’adawah) antara yang haq dengan bathil adalah sepanjang hayat

manusia. Sehingga, wajar kalau Allah mempertegas permusuhan itu dalam Q.S Al-

Baqoroh ayat 120 bahwa tidak akan pernah ridho orang yahudi dan nashrani

sebelum umat muslim sendiri mau tunduk mengikuti tata cara mereka (yahudi dan

nashrani). Dalam hubungannya dengan insiden MONAS umat muslim harus

bersikap tidak gegabah atau bahkan terpancing emosi (reaksioner) dengan stigma

yang mengatakan Islam itu agama yang menyukai kekerasan. Sesungguhnya

insiden itu jelas-jelas merupakan skenario besar musuh-musuh Islam untuk

memojokkan Islam. Tidak ada alasan bagi muslim untuk menjadikan insiden

tersebut sebagai dasar untuk meyakini Islam itu adalah kekerasan.

Sesungguhnya boleh jadi berbagai insiden yang terjadi di berbagai penjuru

tanah air ini termasuk insiden MONAS baru-baru ini adalah untuk menguji

loyalitas dan anti loyalitas umat muslim sendiri atau dalam bahasa sekularnya

untuk menguji kesolidan dan kekompakan di tubuh umat muslim sendiri.

Sebagaimana yang Allah katakan dalam QS Al-Ahzab ayat 23 dimana di antara

orang mukmin ada yang menepati janjinya kepada Allah dan ada pula orang

mukmin yang masih mengulur-ngulur atau menunggu-nunggu janjinya. Oleh

karena itu yang terpenting saat ini adalah bahwa umat muslim sudah seharusnya

bisa memahami kepada siapa ia harus loyal dan kepada siapa ia harusnya tidak

loyal. Hal ini bertujuan agar umat muslim tidak mudah terombang-ambing terbawa

arus provokasi atau untuk memperjelas antara pendukung kebenaran (alhaq) dan

www.hoirulblog.co.cc
pendukung kebatilan (albathil).

Dari pengertian secara tersebut, maka dapat pula dipahami bahwa loyalitas

dan anti loyalitas diberikan kepada Allah SWT. Sebagaimana yang Allah katakan

dalam Q.S Al-baqoroh ayat 257 bahwa orang-orang beriman menjadikan Allah

sebagai penolongnya. Adapun orang-orang kafi menjadikan taghut sebagai

pemimpin mereka. Hal ini jelas bahwa setiap muslim harus memberikan loyalitas

hanya kepada Alloh dan harus memberikan anti loyalitas kepada tahgut (sesuatu

yang diharahapkan, yang dicintai selain Alloh termasuk kafir dan pendukungnya).

Jadi, dapat dikatakan bahwa loyalitas hanya diberikan kepada Allah dan Rosul-Nya

serta kepada siapa saja yang dicintai-Nya. Sedangkan anti loyalitas diberikan

kepada orang-orang kafir atau thogut serta kepada siapa saja yang mendukungnya.

Sehingga, dengan singkat dapat dikatakan loyalitas seorang mukmin sudah

seharusnya diberikan kepada Allah, Rosul-Nya, orang-orang beriman serta para

pendukung atau pengikut yang haq (sesuai tuntunan alqur’an dan as-sunnah)

meskipun ia dizholimi, sebab kezholiman tidak bisa memutus perwalian (loyalitas,

persahabatan) iman sebagaimana yang dikatakan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.

Sedangkan ketidakloyalan atau anti loyalitas diberikan kepada para pendukung

kekufuran atau kebathilan (termasuk kepada kelompok pendukung aliran sesat).

Ada gelombang dahsyat yang menimpa umat islam , dimana gelombang ini

telah merusak tatanan kehidupan yang telah diwahyukan oleh Allah Azza Wa jalla.

Gelombang dahsyat itu adalah Faham Kesesatan, yang darinya umat ini

dibingungungkan, yang darinya umat ini dikacaukan dan yang darinya umat ini

dipelesetkan, sehingga umat ini membelok dari apa yang telah di firmankan oleh

Allah Subhanahu wa Ta’ala dan sunnah Rosulullah Shalallohu ’alaihi wa salam.

www.hoirulblog.co.cc
Seperti contoh yang paling hangat dibicarakan yaitu munculnya paham-paham

seperti ahmadiyah ataupun al qiyadah al islamiyah yang intinya memberikan

pilihan lain kepada umat ini untuk berkeyakinan. Padahal sudah sangat jelas sekali

bahwa Islam adalah sebaik-baik pilihan.

Berbagai ragam aliran kepercayaan, kebatinan maupun pergerakan yang

menamakan dirinya sebagai paham-paham baru dalam Islam, pikiran-pikiran baru

tentang Islam. Modernisasi Islam atau Neonisasi Islam, telah berada maupun

berkisar berputar di sekeliling tubuh Islam, melekat merapat mengisap tubuh itu

bahkan melukainya dalam goresan yang dalam. Mereka pada kenyataannya

memecah belah mayoritas, kemudian bagian-bagian dari mereka mengisolir diri

dan menyatakan bahwa mereka adalah pewaris-pewaris Islam serta pengikut-

pengikutnya adalah muslim-muslim sejati. Banyak kaum muslimin terjerat terbawa

jauh bahkan terpisah dari pedoman Al Qur’an dan Sunnah

Pada mulanya patokan-patokan yang dipakai untuk landasan berpikirnya

gerakan-gerakan itu tampahnya bersandarkan pada Kitab Suci Al Qur’an, namun

pada saat-saat mereka bergerak selangkah ke depan tampaklah isi maupun

hakikatnya bertujuan menyimpang bahkan meyesatkan. Mereka sebenarnya

merupakan tanda-tanda nyata kelemahan iman maupun kondisi umat Islam di satu

pihak dan keunggulan musuh-musuh Islam dilain pihak

Sungguh sangat menyedihkan bahkan Islam dilingkari dan diisap oleh

paham-paham yang seperti itu, yang pada lahirnya merupakan MERCUSUAR

ISLAM dengan pancaran sinar terang benderang, namun pada hakikatnya mercu

suar itu telah mengantar biduk-biduk iman serta pikiran manusia ke tempat labuh

yang sesat sehingga menimbulkan tubrukan-tubrukan keras dan kerusakan-

www.hoirulblog.co.cc
kerusakan fatal.

Akhirnya untuk umat ini mari kita bersama kembali kepada konsep Islam

yang menawan, yang akan membawa kita semua kepada hakikat kebahagiaan

dengan menjadi muslim yang kaffah.

"Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kamu semuanya kedalam Islam

secara kaffah, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaithan.

sesungguhnya dia itu musuh yang nyata bagimu." (Qs. al-Baqarah 2:208)

Artinya Ayat diatas merupakan seruan, perintah dan juga peringatan Allah yang

ditujukan khusus kepada orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang yang

mengakui Allah sebagai Tuhan satu-satunya dan juga mengakui Muhammad

selaku nabi-Nya agar masuk kedalam agama Islam secara kaffah atau secara

keseluruhan, benar-benar, sungguh-sungguh.

"Dan barangsiapa menyembah tuhan yang lain di samping Allah, padahal tidak

ada suatu dalilpun baginya tentang itu, maka sesungguhnya perhitungannya di

sisi Tuhannya. Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu tiada beruntung.”(QS.

23:117)

www.hoirulblog.co.cc