Anda di halaman 1dari 50

ANALISIS PRODUK

1. Deskripsi Produk
Berikut adalah diskripsi produk yang akan diproduksi :
Nama Produk : Roti Sisir
Roti sisir merupakan salah satu jenis roti tradisional yang bentuknya persegi
panjang dengan salah satu sisinya agak melingkar dan juga tipis. Biasanya berlapis
tiga dengan lapisan mentega margarine di setiap lapisnya, ada yang kering dan ada
juga yang basah. Sedangkan untuk jenisnya sendiri ada dua, yang pertama roti sisir
biasa dan yang satunya lagi roti sisir roombutter (butter)

Gambar Roti Sisir


Produk: Roti Sobek
Roti sobek merupakan salah satu jenis roti yang cukup sering dijumpai sengarai.
Roti sobek sangat banyak macam bentuknya. Untuk roti sobek, bentuk atau
tampilan rotinya tidak terlalu diperhatikan, karena untuk roti sobek yang
membuatnya berbeda dengan roti-roti yang lainnya adalah isi yang diberikan di
dalam roti. Roti sobek dapat diisi berbagai mcama rasa, seperti rasa coklat, rasa
kopi, rasa vanilla, dan lainnya.

Gambar Roti Sobek


2. Spesifikasi Produk
Berikut adalah spesifikasi produk dari roti sisir dan roti sobek :
1

a. Roti Sisir
Bahan : tepung terigu, telur, gula, graman, margarin, susu, ragi
Bentuk : oval memanjang dan persegi
Rasa : original
Jenis : 1 jenis
b. Roti Sobek
Bahan : tepung terigu, telur, gula, graman, margarin, susu, ragi
Bentuk : bulat dalam satu kesatuan bentuk memanjang
Rasa : coklat dan keju
Jenis : 2 jenis
3. Bill of Material (BOM) Tree
Berikut ini adalah BOM Tree dari produk untuk roti sobek :

Gambar BOM Tree Roti Sobek


Bill of Material (BOM) Tree untuk produk roti sobek terdiri dari 2 level. Untuk level
0 merupakan produk jadi yaitu produk roti sobek. Pada level 1 merupakan
komponen yang nantinya dirakit atau assembly untuk menghasilkan produk

roti

sobek yaitu roti, isi dan kemasan, kemudian untuk level 2 merupakan komponen
dari level 1. Misal untuk isi roti sobek terdiri dari cokelat dan keju.
BOM Table untuk produk roti sobek yang menjelaskan tentang kuantitas perakitan
dari tiap-tiap material. Pada BOM Table juga berisikan informasi tentang jumlah dari
masing-masing material yang dibutuhkan. Berikut adalah BOM Table untuk produk
roti sobek.
No

Table BOM Table Roti Sobek


Keterangan
Quantity of
Assembly (1

1
1.1

Roti
Tepung

terigu

protein

batch)
1 buah
450 gram

1.2

tinggi
Tepung

terigu

protein

150 gram

1.3
1.4
1.5
1.6
1.7
1.8
2
2.1
2.2
3
3.1
3.2

rendah
Ragi Instan
Gula Pasir
Telur
Air es
Garam
Margarin
Isi
Cokelat
Keju
Kemasan
Plastik LDPE
Kertas Label

1 bungkus
125 gram
2 butir
275 ml
1 sdt
75 gram
50 gram
50 gram
50 gram
1 buah
1 buah
1 buah

Beriikut adalah BOM Tree untuk produk roti sisir :

Gambar BOM Tree Roti Sisir

Bill of Material (BOM) Tree untuk produk roti sisir terdiri dari 2 level. Untuk level 0
merupakan produk jadi yaitu produk roti sisir. Pada level 1 merupakan komponen
yang nantinya dirakit atau assembly untuk menghasilkan produk roti sisir yaitu roti,
olesan dan kemasan, kemudian untuk level 2 merupakan komponen dari level 1.
Misal untuk olesan roti sisir terdiri dari margarin, mentega, gula halus, susu kental
manis
BOM Table untuk produk roti sisir yang menjelaskan tentang kuantitas perakitan
dari tiap-tiap material. Pada BOM Table juga berisikan informasi tentang jumlah dari
masing-masing material yang dibutuhkan. Berikut adalah BOM Table untuk produk
roti sisir.
Tabel BOM Table Roti Sisir
3

No

Keterangan

1
1.1

Roti
Tepung

1.2
1.3
1.4
1.5
1.6
1.7
1.8
1.9
2
2.1
2.2
2.3
2.4
3
3.1
3.2

tinggi
Ragi Instan
Gula Pasir
Telur
Susu Bubuk
Air es
Garam
Mentega
Susu Evaporated
Olesan
Margarin
Mentega tawar
Gula halus
Susu kental
Kemasan
Plastik LDPE
Kertas Label

terigu

protein

Quantity of Assembly (1 batch)


1 buah
1 kg
15 gram
150 gram
6 butir
100 gram
500 ml
2 sdt
180 gram
Secukupnya
Secukupnya
50 gram
50 gram
50 gram
25 ml
1 buah
1 buah
1 buah

ANALISIS PROSES
1. Identifikasi Kebutuhan Proses
Berikut ini adalah identifikasi proses yang dilakukan pada pembuatan roti sisir
dan juga roti sobek, terkait pada proses pengadaan rotinya itu sendiri, olesan untuk
roti sisir, isian rasa cokelat dan keju untuk roti sobek, dan pembungkus roti.

Berdasarkan analisa Buat-Beli, untuk roti sebaiknya perusahaan membuat


sendiri karena dapat menghemat biaya produksi dan memungkinkan untuk dibuat
sendiri dengan menggunakan mesin-mesin yang dimiliki perusahaan. Perusahaan
juga dapat mengontrol kualitas dari rotinya dengan baik.

Menurut Analisa Buat-Beli tersebut, sama halnya dengan roti, perusahaan


harus membuat sendiri baik olesa untuk roti sisir da nisi baik cokelat atau keju
untuk roti sobek . Karena, selain dapat menekan biaya produksi dengan
memproduksi sendiri olesan rotinya, perusahaan juga dapat mengontrol kualitas
dari olesan yang dapat mempengaruhi kualitas rasa dari roti sisir.

Berdasarkan

analisa

buat-beli

pembungkus sebaiknya dibeli

diatas

dapat

daripada perusahaan

diketahui

bahwa

plastik

harus membuat plastik

pembungkus sendiri. Karena, beda dengan olesan dan roti yang memiliki mesin
yang sama, untuk membuat plastik pembungkus, perusahaan memerlukan mesin
yang berbeda dan pembelian mesin yang baru dan berbeda akan menaikkan biaya
produksi roti sisir karena biaya beli baru dan biaya maintenance dari mesin
tersebut.
7

Setelah melakukan analis produk yang akan diproduksi kemudian dilakukan


analisis proses untuk pembuatan produk tersebut. Analisis proses terdiri dari
identifikasi kebutuhan proses, assembly chart, operation process chart dan process
flowchart.
Roti Sisir
Berikut merupakan kebutuhan proses pada Roti Sisir.
1. Kebutuhan Proses Roti Sisir
Tabel x.x Kebutuhan Proses Roti Sisir
PROSES PRODUKSI ROTI SISIR
Nama: Roti Sisir
No.
Operasi
kerja
01

Operasi Kerja

05

Pengayakan
Tepung
Proses
Pencampuran
Proses Fermentasi
Pemotongan
adonan
Pemipihan Adonan

06
07

Proses Fermentasi
Pemanggangan

08

Pendinginan

09
10
11

Pemotongan Roti
Pengolesan Roti
Pengemasan

02
03
04

Mesin yang
dipakai
Flour Sifter
Dough Mixer
Machine
Luxury Proffer
Mesin Pemotong
Adonan
Toast Moulder
Machine
Luxury Proffer
Convection Oven

Waktu
standar
(menit/un
it)
0.1

Kapasitas
Mesin
600kg

0.1

600kg

0.03
0.03

2000pcs/hour
30pcs/min

0.03

30pcs/min

0.03
0.05

2000pcs/hour
1200 roti
/proses
1200 roti/
proses
30pcs/min
30pcs/min
30pcs/min

Rak Pendingin

0.05

Bread Slicer
Mesin pengolesan
packaging machine

0.03
0.03
0.03

2. Penetapan Jumlah Mesin Yang Dibutuhkan Dalam Masing-Masing Tahapan Proses


Roti sisir
Tabel x.x Penetapan Jumlah Mesin Yang Dibutuhkan Dalam Masing-Masing Tahapan
Proses Roti sisir
Taha Tipe Mesin
Jam kerja
Waktu
Downti
Set-up
%
p
yang
per
Pengerja me per
time per
defe
Pros
digunakan
periode(ja an per
hari
hari(men ct
es
m)
unit
(menit)
it)
(menit)
1.
Flour Sifter
8
0.1
10
15
1
2.
Dough Mixer
8
0.1
20
15
1
Machine
8

3.
4.

Luxury Proffer
Mesin Pemotong
Adonan
Toast Moulder
Machine
Luxury Proffer
Convection Oven
Rak Pendingin
Bread Slicer
Pengolesan selai
packaging
machine

5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.

8
8

0.03
0.03

20
30

20
15

1
1

0.03

20

15

8
8
8
8
8
8

0.03
0.05
0.05
0.03
0.03
0.03

20
30
30
30
30
15

20
15
15
20
10
12

1
1
1
1
1
1

3. Penetapan efisiensi dari seluruh tahapan proses


Rumus umum

E=1

E=

Waktu yg terbuang per periode


Jam operasi kerja per periode
DT +ST
D

Contoh untuk proses 1 persiapan dan penakaran, Flour shiter :


E1=

DT +ST
10+15
1
=
D
60 X 24 = 0,98%
Tabel x.x Perhitungan Efisiensi Mesin Roti Sisir

Tahap
Prose
s
1.

Tipe Mesin
yang
digunakan
Flour Sifter

4.
Jumlah

2.

yang

3.

Luxury Proffer

4.

Mesin
Pemotong
Adonan
Toast Moulder
Machine
Luxury Proffer

Dibuat
Masing
Rumus
diketahui
hari
50.000

5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.

Pi=

Mixer Machine

Convection
Oven
Rak Pendingin
Bread Slicer
Mesin
pengolesan
packaging
machine

Proses

Pengayakan
Tepung
Proses
Pencampuran
Proses
Fermentasi
Pemotongan
adonan

Efisien
si
(E)
98%
98%
97%

Pendinginan
Pemotongan Roti
Pengolesan Roti

Produk
Harus
oleh MasingTahap Proses

97%
Pemipihan
Adonan
Proses
Fermentasi
Pemanggangan

Penetapan

98%

umum :
output per
produksi
roti

97%
97%
97%
97%
97%

Pengemasan
98%

Pg , i
; i=1, 2, , n
1 pi

Tabel Data Jumlah Produk Proses Produksi roti sisir


Produk yang
Output
Tipe Mesin
Defect(
masuk
Produk per
yang
Proses
p)%
dalam
proses (P.g.i)
digunakan
Proses (P.i)
(keping)
Pengayakan
Flour Sifter
1
56437
55789
Tepung
Dough Mixer
Proses
1
55789
55236
Machine
Pencampuran
Proses
Luxury Proffer
1
55236
54689
Fermentasi
Mesin Pemotong
Pemotongan
1
54689
54147
Adonan
adonan
Toast Moulder
Pemipihan
1
54147
53610
10

Machine
Luxury Proffer
Convection Oven
Rak Pendingin
Bread Slicer
Mesin
pengolesan
Packaging
machine

Adonan
Proses
Fermentasi
Pemanggangan
Pendinginan
Pemotongan
Roti

53610

53079

1
1

52553
52032

52032
51516

51516

51005

Pengolesan Roti

51005

50500

Pengemasan

50500

50000

5. Penetapan Jumlah Mesin Tiap Tahapan Proses


Rumus umum

Ti
Pi
x
; i=1,2, n
60 D . Ei

Mesin

Flour
Sifter
Dough
Mixer
Machine
Luxury
Proffer
Mesin
Pemoton
g
Adonan
Toast
Moulder
Machine
Luxury
Proffer
Convecti
on Oven
Rak
Pendingi
n
Bread

Tabel Data Waktu Proses Produksi Roti Sisir


Jumla
Jam
Wakt
h
Kerja
u
Outp
per
Efisie
Jumlah Mesin
Pros
ut
Perio
nsi (E)
(Ni)
es
Prod
de
(Ti)
uk
(D)
(P)
3.953302
24
0.1
55789
98%
4
15
24

0.1

55236

98%

3.914115
65

24

0.03

54689

97%

1.174591
92

24

0.03

54147

97%

1.162951
03

24

0.03

53610

98%

1.139668
37

24

0.03

53079

97%

24

0.05

52032

97%

24

0.05

51516

97%

1.844072
16

24

0.03

51005

97%

1.095468

11

1.140012
89
1.862542
96

2
2

Slicer
Mesin
pengoles
an
Packagi
ng
machine

21
24

0.03

50500

97%

1.084621
99

24

0.03

50000

98%

1.062925
17

Roti Sobek
Berikut merupakan kebutuhan proses roti sobek.
Tabel x.x Kebutuhan Proses Roti Sobek
PROSES PRODUKSI ROTI SOBEK

Nama: Roti Sobek


No. Operasi
kerja
1

Operasi Kerja

Mesin yang dipakai

Waktu
standar
(menit/batch)
0.1
0.1

Pengayakan Tepung
Proses Pencampuran

3
4

Proses Fermentasi
Pemotongan adonan

Pembentukan Adonan

Pengisian Adonan

7
8

Proses Fermentasi
Pemanggangan

Pendinginan

Rak Pendingin

0.05

10

Pengemasan

Mesin Packaging

0.03

Flour Sifter
Dough Mixer
Machine
Luxury Proffer
Mesin Pemotong
Adonan
Toast Moulder
Machine
Mesin pengisi
adonan
Luxury Proffer
Convection Oven

12

Kapasitas Mesin
(kg/jam)
600kg
600kg

0.03
0.03

2000pcs/hour
30 pcs/min

0.03

30pcs/min

0.03

30pcs/min

0.03
0.05

2000pcs/hour
1200 roti /
proses
1200 roti /
proses
30pcs/min

1. Penetapan Jumlah Mesin Yang Dibutuhkan Dalam Masing-Masing Tahapan


Proses
Roti sobek
Tabel x.x Penetapan Jumlah Mesin Yang Dibutuhkan Dalam Masing-Masing Tahapan Proses
Roti sobek

Taha
p
Pros
es

Tipe Mesin
yang
digunakan

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8
9
10

Pengayakan Tepung
Proses Pencampuran
Proses Fermentasi
Pemotongan adonan
Pembentukan Adonan
Pengisian Adonan
Proses Fermentasi
Pemanggangan
Pendinginan
Pengemasan

Jam kerja
per
periode(ja
m)
24
24
24
24
24
24
24
24
24
24

Waktu
Pengerja
an per
unit
(menit)
0.1
0.1
0.03
0.03
0.03
0.03
0.03
0.05
0.05
0.03

Downti
me per
hari
(menit)

Set-up
time per
hari(men
it)

%
defe
ct

10
20
20
30
20
20
20
30
30
15

15
15
20
15
15
15
20
15
15
12

1
1
1
1
1
1
1
1
1
1

2. Penetapan efisiensi dari seluruh tahapan proses


Rumus umum

E=1

E=

Waktu yg terbuang per periode


Jam operasi kerja per periode
DT +ST
D

Contoh untuk proses 1 persiapan dan penakaran, Flour shiter :


E1=

10+15
1
=
60 X 24
Tabel x.x
Efisiensi Mesin

Tahap
Prose
s
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.

Tipe Mesin
yang
digunakan

Proses

Flour Sifter

Pengayakan
Tepung
Proses
Pencampuran
Proses Fermentasi
Pemotongan
adonan
Pembentukan
Adonan
Pengisian Adonan

Dough Mixer
Machine
Luxury Proffer
Mesin Pemotong
Adonan
Toast Moulder
Machine
Mesin pengisi
adonan
13
Luxury Proffer
Proses Fermentasi
Convection Oven Pemanggangan
Rak Pendingin
Pendinginan
Mesin Packaging Pengemasan

Efisien
si
(E)
98%

DT +ST
D

= 0,94
98%
97%
97%
98%
98%
97%
97%
97%
98%

Perhitungan
Roti Sobek

3. Penetapan Jumlah Produk yang Harus Dibuat oleh Masing-Masing Tahap Proses
Rumus umum

Pi=

; diketahui output per hari produksi 50.000 roti

Pg , i
; i=1, 2, , n
1 pi
Tabel Data Jumlah Produk Proses Produksi roti sobek

Tipe Mesin
yang
digunakan

Produk yang
masuk
dalam
Proses (P.i)

Output
Produk per
proses (P.g.i)
(keping)

Proses

Defect(
p)%

Flour Sifter

Pengayakan Tepung

55789

55236

Dough Mixer
Machine

Proses
Pencampuran

55236

54689

Luxury Proffer

Proses Fermentasi

54689

54147

54147

53610

Pembentukan
Adonan

53610

53079

Mesin pengisi adonan

Pengisian Adonan

52553

52032

Luxury Proffer

Proses Fermentasi

52032

51516

Pemanggangan

51516

51005

Rak Pendingin

Pendinginan

51005

50500

Mesin Packaging

Pengemasan

50500

50000

Mesin Pemotong
Adonan
Toast Moulder
Machine

Convection Oven

Pemotongan adonan

4. Penetapan Jumlah Mesin Tiap Tahapan Proses


Rumus umum

Ti
Pi
x
; i=1,2, n
60 D . Ei

Tabel Data Waktu Proses Produksi Roti Sobek

mesin

Jam
Kerja

Wakt
u

Jumla
h
14

Efisien
si (E)

Jumlah Mesin (Ni)

per
Perio
de (D)

Pros
es
(Ti)

Outp
ut
Produ
k (P)

Flour Sifter

24

0.1

55236

98%

Dough Mixer
Machine

24

0.1

54689

98%

Luxury Proffer

24

0.03

54147

97%

24

0.03

53610

97%

24

0.03

53079

98%

24

0.03

52032

98%

Luxury Proffer

24

0.03

51516

97%

Convection Oven

24

0.05

51005

97%

Rak Pendingin

24

0.05

50500

97%

Mesin Packaging

24

0.03

50000

98%

Mesin Pemotong
Adonan
Toast Moulder
Machine
Mesin pengisi
adonan

15

3.9141156
46
3.8753543
08
1.1629510
31
1.1514175
26
1.1283801
02
1.1061224
49
1.1064432
99
1.8257803
55
1.8077033
22
1.0629251
7

4
4
2
2
2
2
2
2
2
2

5. Assembly Chart
Assembly Chart adalah bagan yang menunjukkan komponen-komponen dari
suatu produk yang harus disusun. Assembly chart dari roti sisir dan roti sobek dapat
diketahui dari BOM Tree roti sisir.
a. Roti Sisir
Diketahui roti sisir memiliki 3 komponen penyusun utama, yakni roti, olesan dan
pembungkus. Berikut merupakan Assembly Chart dari Roti Sisir.
Roti

Olesa

Plastik
Pembungk
us

b. Roti Sobek
Diketahui roti sisir memiliki 3 komponen penyusun utama, yakni roti, rasa (isi), dan
pembungkus. Untuk rasa roti sobek dibagi menjadi dua yait rasa cokelat dan rasa
keju. Berikut merupakan Assembly Chart dari Roti Sobek.
Roti

Isian

Plastik
Pembungk
us

16

6. Operation Process Chart


Berikut adalah Oeration Proces Chart (OPC) yang menunjukkan langkah dalam proses produksi untuk produk roti
sisir :

17

Gambar Operation Process Chart Roti Sisir


18

Berikut adalah Oeration Proces Chart (OPC) yang menunjukkan langkah dalam proses produksi untuk produk roti
sisir :

19

20

Gambar Operation Process Chart Roti Sobek

21

4. Process Flowchart
Berikut adalah process flowchart yang menggambarkan tentang alur proses produksi untuk produk roti sisir :

Gambar Process Flowchart Roti Sisir

22

Berikut process flowchart yang menggambarkan tentang alur proses produksi untuk produk roti sobek :

Gambar Process Flowchart Roti Sobek

23

PENENTUAN JENIS DAN JUMLAH MESIN


1. Jenis Mesin
Berikut ini adalah jenis mesing yang digunakan untuk memproduksi roti sisir dan
roti sobek :
MESIN

SPESIFIKASI MESIN
Kapasitas : 600kg

Mesin Mixer
Lama 8 menit
Kapasitas : 600 kg

Dough mixer
Kapasitas 30 pcs/menit

Mesin Pemotong Adonan


Kapasitas: 1200 pcs

Lemari pendingin

24

Mengembangkan adonan roti


sebelum
dipanggang
lebih
cepat dan lebih maksimal
Lama 1 jam
Suhu 42 derajat
Kapasitas : 2000 pcs

Luxury proffer/mesin pengembang adonan


roti
30 pcs per /menit

Bread slicer machine


Kapasitas: 1200 roti

oven
Kapasitas : 30 pcs/menit

25

toast moulding machine

Mesin pengolesan
Mesin pengisian adonan

30pcs/min
30pcs/min
Mesin ini merupakan mesin
pemotong roti otomatis
berikut dengan pengemas
otomatis

Kapasitas: 30/min

Packaging machine
2. Jumlah Mesin yang Dibutuhkan di Tiap Prosesnya

26

PENENTUAN JUMLAH STASIUN KERJA


Dalam tata letak pabrik produksi roti, layout yang akan digunakan
berdasarkan produk yang akan diproduksi (Product Layout) dimana pengaturan
dan penempatan semua fasilitas produski yang diperlukan ke dalam satu
departemen khusus. Misalnya untuk bagian produksi ini dibuat 3 departemen
produksi yang berbeda, yaitu departemen produksi yang membuat roti sisir,
departemen produksi yang membuat roti sobek, dan packaging.
Pertimbangan dalam dalam penetapan tata letak pabrik berdasarkan aliran
produksi (Product Layout) adalah sebagai berikut:
1. Product yang diproduksi memiliki variasi yang sedikit dan volume yang tinggi
(mass production).
2. Memungkinkan produksi secara massal dan dalam waktu yang lama.
3. Tiap mesin yang digunakan hanya untuk satu macam operasi kerja dalam
departemen yang memproduksi tiap komponen. Misalnya pada produksi roti
sobek yang menggunakan mesin pembentuk adonan yang hanya untuk 1
proses saja.
4. Pemindahan bahan dari tiap stasiun kerja dilakukan secara mekanis dengan
menggunakan conveyor.
Berdasarkan pertimbangan yang dilakukan dan data proses produksi serta
jenis produk yang ada sebelumnya, jenis pola aliran produksi dalam tata letak
fasilitas yang dimiliki adalah berdasarkan aliran produksi (product layout).
Setelah mengetahui masalah tipe layout yang dipilih dipilih menjadi 3 stasiun
kerja yaitu menjadi 3 stasiun kerja yaitu produksi roti sisir, produksi roti sobek,
dan packaging.
Untuk penentuan jumlah stastiun kerja untuk produksi kedua produk, roti
sisir dan roti sobek akan digambarkan pada diagram berikut:

27

Gambar Product Layout Proses Produksi Roti Sisir dan Roti Sobek

PENENTUAN POLA ALIRAN BAHAN


Pola aliran bahan pada umumnya dapat dibedakan menjadi dua tipe yaitu
pola aliran bahan untuk proses produksi dan pola aliran bahan untuk perakitan.
Dalam proses produksi pembuatan produk roti sobek dan roti sisir ini, untuk pola
aliran bahan untuk proses produksi (fabrikasi) menggunakan pola aliran
serpentine atau zig-zag (S-Shaped). Berikut gambaran pola aliran bahan untuk
proses produksi zig-zag yang digunakan :

Gambar Pola Aliran Produksi Serpentine atau Zig-zag


Alasan mengapa pola aliran produksi zig-zag yang dipilih adalah :
1. Banyaknya proses yang dibutuhkan untuk pembuatan kedua produk baik
roti sisir dan roti sobek.
2. Penggunaan jumlah mesin yang banyak untuk tiap proses produksi baik
roti sisir dan roti sobek.
3. Mengurangi keterbatasan area dan ukuran bangunan (lantai produksi)
dengan panjangnya aliran produksi untuk pembuatan roti sisir dan roti
sobek.
28

Untuk pola aliran bahan untuk proses perakitan (assembly) pada proses
produksi pembuatan roti sisir dan roti sobek digunakan pola aliran combination
assembly line pattern. Berikut adalah gambaran pola proses assembly untuk
combination assembly line pattern.

Gambar Pola Aliran Perakitan Main Assembly Line


Disini main assembly line akan disuplai dari sejumlah sub-assembly line
atau part-line. Sub-assembly line ini berada pada sisi-sisi yang sama. Dimana
dari pembuatan roti, olesan atau isian (cokelat dan keju) dan pembungkus yang
merupakan sub-assembly line nantinya akan dilakukan proses perakitan dari
ketiga sub-assembly line, yang nantinya akan menjadi produk yaitu roti sisir dan
roti sobek
PENENTUAN MATERIAL HANDLING
Material handling merupakan pemindahan material yang terjadi dalam
proses produksi pada suatu pabrik. Pada umumnya, banyak alat yang bisa
digunakan dalam melakukan material handling. Contohnya Conveyor, ForkLift,
dll.
Proses pemindahan material adalah proses yang penting dalam suatu proses
produksi. Karena pemindahan material ini menghubungkan antara proses satu
dengan proses yang lain agar dapat menghasilkan suatu output yang optimal.
Dalam penentuan material handling, ada satu factor yang diperhatikan yaitu
bentuk layout suatu pabrik. Layout pabrik ini adalah termasuk pada tipe layout
produksi atau product layout. Maka dari itu, proses material handling yang sesuai
dengan layout ini adalah dengan menggunakan conveyor dan manual transport

29

Gambar Conveyor Produksi Roti

Gambar Manual Transport oleh Operator

PENENTUAN KEBIJAKAN PENYIMPANAN MATERIAL


Dalam produksi pembuatan roti sisir dan roti sobek, tentunya terdapat proses
dari input bahan baku hingga terdapat output berupa roti sisir dan roti sobek
tersebut.
N
o
1.

Jenis Material

Bahan Baku
Tepung
Margarin
Garam
Gula
Susu
Ragi
Telur
2.

Roti Sisir dan Roti Sobek


siap kemas

Kebijakan Penyimpanan
Kebijakan Penyimpanan untuk bahan baku
pembuatan roti sisir dan roti sobek
menggunakan metode FIFO (First-InFirstOut), dengan bahan baku yang pertama kali
datang yang nantinya akan langsung
digunakan. Alasan mengapa memilih metode
FIFO, agar bahan baku tidak mudah cepat
rusak atau kadaluwarsa jika yang awal masuk
ke gudang tidak langsung digunakan untuk
proses produksi.
Kebijakan Penyimpanan untuk roti sisir dan
roti sobek siap kemas menggunakan metode
FIFO (First-InFirst-Out), dengan roti yang
sudah selesai diproses itu yang langsung
disiapkan untuk ke proses packaging. Alasan
mengapa metode FIFO ini tepat digunakan
karena agar kondisi roti yang pertama selesai
30

tidak mengalami perubahan (rasa,tekstur,dll)


karena terlalu lama menunggu untuk proses
pengemasan

10.

Penentuan jumlah tenaga kerja


Pada bagian ini akan dijabarkan mengenai jumlah tenaga kerja pada lantai

produksi, gudang dan kantor yang ada pada pabrik roti.

a. Lantai produksi
31

Pada bagian ini dijabarkan jumlah tenaga kerja pada lantai produksi
yang dipengaruhi oleh jumlah mesin yang ada pada lantai produksi itu
sendiri
Tabel Jumlah Tenaga kerja Lantai Produksi Roti Sisir dan Roti Sobek

No

Jenis Mesin

Jumlah

Jumlah

mesin

tenaga

Keterangan

kerja

Flour sifter

Sebagai

operator

Flour

sifter

ketentuan

machine

dapat

Unit

operator

dough

Dough Mixer

dengan

orang

mengoperasikan
mesin
Sebagai

mesin

Mixer

mesin
machine

dengan ketentuan 1 orang


dapat

mengoperasikan

unit mesin
TOTAL

Tabel Jumlah Tenaga kerja Lantai Produksi Roti Sisir

No

Jenis Mesin

Jumlah

Jumlah

mesin

tenaga

Keterangan

kerja
Sebagai

operator

Luxury

proffer

ketentuan
1

Luxury proffer

dan

kebutuhan
Mesin pemotong

32

proffer.
Sebagai

dengan

orang

mengoperasikan
mesin

mesin
dapat
2

unit

mengendalikan
untuk

operator

Luxury
mesin

Mesin

pemotong

adonan

dengan ketentuan 1 orang

adonan

dapat

mengoperasikan

unit mesin
Sebagai
operator
3

Toast moulder
machine

Toast
2

moulder

mesin
machine

dengan ketentuan 1 orang


dapat

mengoperasikan

unit mesin
Sebagai
operator
Luxury
Luxury proffer

dan

proffer.
Sebagai

mesin

oven
1

dengan

orang

mengoperasikan
mesin

unit

Luxury

operator

ketentuan
2

dapat
2

untuk

Convection
oven

orang

mengendalikan

kebutuhan

dengan

mengoperasikan
mesin

mesin

proffer

ketentuan
4

dan

dapat
2

unit

mengendalikan

kebutuhan untuk Convection


oven.
Sebagai

operator

mesin

pendingin dengan ketentuan


1
6

mesin pendingin

orang

mengoperasikan
mesin

dan

mesin

pendingin.
Sebagai
operator

mesin

slicer

ketentuan

Mesin pengolesan

mesin
Sebagai

dengan

orang

mengoperasikan
8

operator

pengolesan
ketentuan
33

unit

untuk

Bread
Bread slicer

mengendalikan

kebutuhan

dapat

dapat
unit
mesin
dengan

orang

dapat

mengoperasikan

unit

mesin
Sebagai operator packaging
machine dengan ketentuan 1
9

packaging machine

orang

dapat

mengoperasikan

unit

mesin
TOTAL

Tabel Jumlah Tenaga kerja Lantai Produksi Roti Sobek

No

Jenis Mesin

Jumlah

Jumlah

mesin

tenaga

Keterangan

kerja

Luxury Proffer

Sebagai

operator

Luxury

proffer

ketentuan

mesin
dengan

orang

mengoperasikan
mesin
Sebagai
Mesin
2

Mesin Pemotong Adonan

dapat
2

operator

mesin

pemotong

adonan

dengan ketentuan 1 orang


dapat

mengoperasikan

unit mesin
Sebagai
operator
Toast
3

Toast Moulder Machine

moulder

mesin
machine

mengoperasikan

unit mesin
Sebagai
operator
pengisi
Mesin pengisi adonan

ketentuan

Luxury Proffer

operator

Luxury

proffer

ketentuan

Oven

1
34

mesin.
Sebagai

dapat

unit
mesin
dengan

orang

mengoperasikan
6

dengan

orang

mesin
Sebagai

operator

mesin

adonan

mengoperasikan

dengan ketentuan 1 orang


dapat

unit

dapat
2

unit
mesin

oven dengan ketentuan 1


orang

dapat

mengoperasikan
mesin.
Sebagai

unit

operator

mesin

pendingin dengan ketentuan


2
7

mesin Pendingin

orang

dapat

mengoperasikan
mesin

dan

kebutuhan

unit

mengendalikan
untuk

Rak

pendingin.
Sebagai operator packaging
machine dengan ketentuan 1
8

packaging machine

orang

dapat

mengoperasikan

unit

mesin
TOTAL

b. Gudang
Pada bagian ini akan dijabarkan mengenai jumlah tenaga kerja pada
bagian gudang.
No

Gudang

Jumlah

Keterangan

tenaga
1

Area penyimpanan

kerja
3

bahan baku

Terdapat 1 orang sebagai kepala


gudang, 2 orang bertugas sebagai
administrasi gudang, pengangkatan
material,
pengecekan

Area penyimpanan

roti sisir

pemeliharaan
material

di

dan
dalam

gudang
Terdapat 1 orang sebagai kepala
gudang, 2 orang bertugas sebagai
administrasi gudang, pengangkatan
material,
pengecekan

Area penyimpanan

roti sobek

pemeliharaan
material

di

dan
dalam

gudang
Terdapat 1 orang sebagai kepala
gudang, 2 orang bertugas sebagai

35

administrasi gudang, pengangkatan


material,
pengecekan

pemeliharaan
material

di

dan
dalam

gudang
TOTAL

c. Kantor
Pada bagian ini akan dijabarkan mengenai jumlah tenaga kerja pada
bagian kantor.
N
o
1
2

Kantor

Jumlah tenaga kerja

Head of production department


Production supervisor

1
1

11.Penentuan Kebutuhan Fasilitas dan Ruang


a. Penentuan kebutuhan fasilitas tiap workstations
No
1.

Fasilitas
Workstation pencampuran (WS
1)

2.

Workstation Pengolahan Awal

Kebutuhan
Flour shifter (8)
Dough Mixer Machine

(8)
Mesin pemotong

adonan (4)
Toast Moulder machine

(4)
Mesin pengolesan (2)
Mesin pengisi adonan

(2)
Conveyor (1)
Luxury proffer (4)
Conveyor (1)

(WS 2)

3.

Workstation fermentasi (WS 3)

4.

Workstation pemasakan (WS 4)

Oven (4)
Conveyor (1)

5.

Workstation pendinginan (WS 5)

Mesin pendingin (4)


Conveyor (1)

6.

Workstation finishing (WS 6)

7.

Workstation packaging (WS 7)

Bread slicer (2)


Conveyor (1)
Packaging machine (4)
Conveyor (1)

36

b. Penentuan kebutuhan fasilitas gudang


N
o
1
2
3
4
5
6
7
8
9

Fasilitas

Jumlah

Rak (@2m2)
Kursi
Forklift
Meja
Lampu penerangan
Hydrant
Tempat sampah
Sensor Asap
CCTV

1000
9
6
9
50
4
10
4
8

c. Penentuan fasilitas kantor


N
o
1
2
3
4
5
6
9
11
12
13
14

Fasilitas

Jumlah

Meja
Kursi
Komputer
LCD
Lemari
AC
Telepon
Printer
Scanner
Tempat sampah
Lampu penerangan

2
6
2
1
2
2
2
1
1
20
81

d. Penentuan kebutuhan ruang


N
o
1
2
3
4
5

Fasilitas

Jumlah

Ruang kepala produksi


Ruang supervisor
Ruang rapat
Toilet
Musholla

1
1
1
4
1

12.Penentuan luas area


Pada bagian ini akan dijabarkan mengenai luas area dari fasilitas-fasilitas
yang ada pada pabrik roti. Dimana untuk luas dari lantai produksi dipengaruhi
oleh luas dari tiap-tiap work station yang ada dalam lantai produksi tersebut.
a. Kantor
Luas area kantor yang dibutuhkan diperkirakan sebesar 10m 2
N
o

Kantor

Jumlah
tenaga kerja
37

Dimensi

Luas Kantor

Head of production

2mx3m

6m2

department
Production supervisor
TOTAL

2mx2m

4m2
10m2

b. Area Penyimpanan
Area penyimpanan dari pabrik roti ini terdiri dari area penyimpanan bahan
baku roti, area penyimpanan roti sisir, dan area penyimpanan roti sobek.
Tabel menyajikan rincian luas area yang dibutuhkan untuk masing-masing
area penyimpanan.
Tabel Rincian luas area penyimpanan
Jenis Area
N
Kebutuhan luas
penyimpana
Penjelasan
o
area
n
1
Area
Pada area ini barang-barang yang 10m x 6m =60m2

penyimpana

disimpan berupabahan baku yang

digunakan dalam pembuatan roti

bahan

baku roti
Area

seperti tepung, gula dll


Pada
area
penyimpanan

penyimpana

terdapat

n roti sisir

dikemas

roti

sisir

dan

didistribusikan
3

siap

untuk

kepada

retailer.

Dengan kapasitas 50000 pcs


Pada
area
penyimpanan

penyimpana

terdapat roti sobek yang sudah

n roti sobek

dikemas

dan

ini

siap

untuk

kepada

retailer.

Area

Dengan kapasitas 50000 pcs


Pada
area
penyimpanan

penyimpana

terdapat produk cacat yang tidak

layak jual

produk

10m x 6m =60m2

sudah

Area

didistribusikan
4

yang

ini

ini

10m x 6m = 60m2

4mx5m = 20m2

cacat
c. Area Produksi
Dalam penentuan luas area lantai produksi ini mempertimbangkan luas dari
masing-masing workstation yang ada dalam proses produksi roti sisir
maupun roti sobek. Tabel menyajikan rincian penentuan luas area produksi
berdasarkan workstation.
Tabel . Rincian Penetuan Luas Area Produksi Roti sisir

38

N
o

Workstation

Flour sifter

Dough Mixer
machine

Dimensi
mesin

32

Luas
dengan
allowance
50%
(m2)
32 + 16 =

18

48
18 + 9 =

Jumlah
mesin

2m x 2m
1m x 2m

Luas
workstation
(m2)

27
75 m2

Total luas

N
o

Workstation

1
2

Luxury proffer
Mesin pemotong

adonan
Toast moulder

4
5
6
7
8
9
10

machine
Luxury proffer
Oven
mesin pendingin
Bread slicer
Mesin pengolesan

Dimensi
mesin

Jumlah
mesin

5m x 2m

1,5m x 1m

2
2

2m x 1m

Luas
workstation
(m2)
20
3

5mx 2m
4m x 2m
4mx 2m
1,5mx1m
2mx1m

2
2
2
2
2

20
16
16
3
4

packaging machine

3mx1,5m

conveyor

10mx1m
Total luas

10

Luas dengan
allowance
(m2)
20 + 10 = 30
3 + 1.5 = 4.5
4+2=6
20 + 10 = 30
16 + 8 = 24
16 + 8 = 24
3 + 1.5 = 4.5
4+2=6
9 + 4.5 =
13.5
10 + 5 = 15
127.5 m2

Tabel . Rincian Penetuan Luas Area Produksi Roti sobek

N
o
1
2

Workstation

Dimensi
mesin

Luxury Proffer

5m x 2m

Jumlah
mesin
2

Mesin Pemotong Adonan

1,5m x 1m

3
4
5

Toast Moulder Machine


Mesin pengisi adonan

2m x 1m
2m x 1m

2
2

Luxury Proffer

5mx2m

6
7

Oven
mesin Pendingin

4m x 2m
4m x 2m

2
2
39

Dimensi
workstation
dengan
allowance
20

Luas
workstation
20 + 10 =

30
3 + 1.5 =

4
4
20

4.5
4+2=6
4+2=6
20 + 10 =

16
16

30
16 + 8 = 24
16 + 8 = 24

packaging machine

10 conveyor
Total luas
d. Mushola
Luas area

yang

3mx 1.5m

10mx1m

akan

digunakan

untuk

9 + 4.5 =

10

13.5
10 + 5 = 15
153 m2

mushola

adalah

sebesar

4mx5m=20m2
e. Toilet
Toilet yang disediakan sebagai fasilitas pendukung pada pabrik roti berjumlah
4 toilet, 2 untuk toilet laki-laki dan 2 untuk toilet perempuan. Masing-masing
toilet memiliki ukuran 2mx1m, sehingga luas untuk masing-masing toilet
adalah 2m2 dan luas total untuk 4 toilet dengan allowance adalah 12m2.
2.11 Activity Relationship Chart (ARC)

Activity Relationship Chart atau peta hubungan kerja kegiatan adalah aktifitas atau
kegiatan antara masing-masing bagian yang menggambarkan penting tidaknya kedekatan
ruangan. Dalam suatu organisasi pabrik harus ada hubungan yang terikat antara suatu
kegiatan dengan kegiatan lainnya yang dianggap penting dan selalu berdekatan demi
kelancaran aktifitasnya. Oleh karena itu dibuatlah suatu peta hubungan aktifitas, dimana akan
dapat diketahui bagaimana hunbungan yang terjadi dan harus dipenuhi sesuai dengan tugastugas dan hubungan yang mendukung.
Berikut adalah ARC untuk lantai produksi PT.. Adapun keterangan untuk
derajat kedekatan dan alasan yang digunakan adalah sebagai berikut:
Derajat (nilai)
Kedekatan
A
E
I
O
U
X

No
.
1.
2.
3.
4.

Deskripsi
Mutlak
Sangat Penting
Penting
Cukup/Biasa
Tidak Penting
Tidak Dikehendaki

Alasan Kedekatan
Urutan aliran proses produksi
Keterkaitan aliran proses
Kemudahan aktivitas pekerja
Aktifitas yang tidak berkaitan

2.12 Activity Relationship Diagram (ARD)


40

Sebagai hasil dari ARC maka data yang didapat selanjutnya akan dimanfaatkan
untuk

penentuan

menggunakan

letak

Activity

masing-masing

Relationship

work

Diagram

station

(ARD).

tersebut,

Activity

yaitu

Relationship

Diagram adalah diagram hubungan antar aktivitas (departemen/workstation)


berdasarkan tingkat prioritas kedekatan. Area pada

Activity Relationship

Diagram digambarkan dalam bentuk persegi empat yang sama (disini untuk
sementara luas area dari tiap-tiap work station diabaikan). Kotak-kotak persegi
empat ini kemudian dihubungkan dengan garis berwarna yang memiliki arti
derajat hubungan yang dikehendaki.

Sandi
A
E
I
O
U
X

1.

Keterangan
Mutlak
Sangat penting
Penting
Cukup/biasa
Tidak penting
Tidak dikehendaki

Kode Garis

Tidak ada kode garis

ARD fasilitas perusahaan

41

Kode Wana
Merah
Orange
Hijau
Biru
Tidak ada kode warna
Coklat

3. ARD fasilitas perusahaanSRD

Berikut merupakan rancangan SRD dari perusahaan roti PT. X

42

Gambar Space Relationship Diagram

Keterangan:
1. Gudang Bahan Baku, Gudang Produk Jadi
2. Lantai Produksi
3. Poliklinik
4. Pantry
5. Security
6. Ruang Rapat
7. Kantin
8. Musholla
9. Toilet
10. Area Parkir
11. Kantor
12. Rest Area
2.14 Rancangan Layout Awal
Berikut merupakan rancangan layout awal dari perusahaan roti PT. X

43

Gambar Rancangan Layout Awal

Keterangan:
1 Gudang Bahan baku, Gudang Produk Jadi
2 Lantai Produksi
3 Poliklinik
4 Pantry
5 Security
6 Ruang Rapat
7 Kantin
8 Musholla
9 Toilet
10 Area Parkir
11 Kantor
12 Rest Area
2.15 Alternatif Layout dan Evaluasi
a. Penentuan kriteria pemilihan layout
b. Penetapan metode
c. Pemilihan layout terbaik
2.16 Analisa Layout Terbaik
a) Kriteria Pemilihan Layout

44

Algoritma

BLOCPLAN

merupakan

model

perancangan

fasilitas

yang

dikembangkan oleh Charles E. Donaghey dan Vanina F. Pire pada tahun 1991 di
Universitas Houston (Heragu, 1997). Metode BLOCPLAN merupakan metode
hybrid yang menggabungkan metode pembentukan dengan metode perbaikandi mana
tata letak awal dibuat dengan metode pembentukan dan untuk perbaikannya dilakukan
dengan menggunakan metode perbaikan. Selain menggunakan From-To Chart,
BLOCPLAN dapat pula menggunakan data kualitatif yang diperoleh dari ARC (Activity
Relationship Chart) dan ukuran bangunan yang akan ditempati oleh fasilitas sebagai
masukan.
Bila dibandingkan dengan metode CRAFT dan MULTIPLE, ada beberapa
kelebihan dan kekurangan dari algoritma BLOCPLAN ini, yaitu:
BLOCPLAN

CRAFT

MULTIPLE

Hanya
memungkinkan
untuk
aliran
material
forward/ maju saja
Blocplan
tidak
dapat
menangkap initial layout
yang sesungguhnya karena
input yang dimasukkan
hanya luas departemen

Dapat
digunakan
pada
aliran material forward dan
bacward
Kemampuan
untuk
menangkap intial layout
dengan
sebaik-baiknya
sesuai dengan layout yang
sesungguhnya
karena
matriks untuk inital layout
sudah tersedia

Kurang cocok digunakan


bila sifatnya relayout atau
lebih cocok untuk membuat
sebuah layout baru
Bila jumlah departemen
sedikit atau luasan area
yang hampira sama akan
menghasilkan solusi yang
lebih optimal
Kemampuan
menangkap
intial layout kurang baik
untuk menghitung biaya
initial
layout
yang
sesungguhnya

Lebih
cocok
digunakan bila
relayout

Dapat
digunakan
pada
aliran material forward dan
backward
Peletakkan
posisi
departemen dan pertukaran
antar departemen sangat
tergantung pada SFC yang
digunakan.
SFC
yang
berbeda akan menghasilkan
bentuk dan biaya final
layout yang berbeda
untuk Lebih
cocok
untuk
sifatnya digunakan bila sifatnya
relayout

Bila jumlah departemen Bila jumlah departemen


sedikit atau luasan area semakin banyak maka akan
yang hampira sama akan lebih
baik
untuk
menghasilkan solusi yang mendapatkan solusi yang
lebih optimal
lebih optimal
Kemampuan
menangkap Kemampuan
menangkap
intial layout yang baik intial layout kurang baik
untuk menghitung biaya untuk menghitung biaya
initial
layout
yang initial
layout
yang
sesungguhnya karena sudah sesungguhnya
tersedia menu matriks initial
layout
Sumber: http://pft.lab.ittelkom.ac.id/2013/05/algoritma-blocplan-2/

b) Penetapan Metode Alternatif (CRAF,blocplan corelap dan atau simulasi)


PT. melakukan pembuatan layout baru dengan aliran material maju (forward pass)
serta jumlah station yang sedikit, maka penggunaan algoritma BLOCPLAN dianggap lebih

45

sesuai bila dibandingkan dengan metode CRAFT maupun MULTIPLE yang lebih baik
digunakan untuk melakukan relayout.
Adapun keterangan yang dimasukkan pada software algoritma BLOCPLAN adalah
jumlah departemen, nama masing-masing departemen, dan luas dari masing-masing
departmen. Adapun keterangan lebih lengkap dapat dilihat dibawah:
Jumlah Departement: 13
a. Gudang Bahan Baku ( 60 m2)
b. Gudang Produk Jadi (140 m2)
c. WS 1 (75 m2)
d. WS 2 (48 m2)
e. WS 3 (75 m2)
f. WS 4 (63 m2)
g. WS 5 (63 m2)
h. WS 6 (20 m2)
i. WS 7 (42 m2)
j. Musholla (20 m2)
k. Toilet ( 12 m2)
l. Kantor (10 m2)
Setelah memasukkan nama dan luas department, maka selanjutnya adalah memasukkan
relationship chart dari layout keseluruhan, setelah menginputkan relationship chart maka
diperoleh score seperti gambar dibawah.

Kemudian masukkan informasi produk serta urutan alir produk dari departemen ke
departemen. Setelah itu pilih single-story layout menu karena lantai produksi PT. hanya
memiliki satu level. Kemudian setelah itu pilih automatic search agar software
46

melakukan pencarian alternatif rancangan layout secara otomatis. Selanjutnya pilih


jumlah layout yang ingin dihasilkan, (maksimal sebesar 20), maka ketik 10.

Setelah itu software BLOCPLAN akan menanyakan apakah terdapat layout yang ingin
ditentukan secara manual, pilih Ya karena akan menentukan gudang bahan baku dan
gudang produk jadi secara manual. Setelah itu software akan secara otomatis
mengkomputasi hasil rancangan layout. Apabila sudah selesai software akan
menampilkan adjacency score dari keduapuluh layout yang telah dirancang dengan
algoritma BLOCPLAN, layout terbaik adalah layout yang memiliki adjacency score
mendekati satu. Total luasan layout keseluruhan adalah 46 x 26m2. Berikut adalah
tampilah adjacency score:

47

Adjacency score terbaik ada pada alternatif layout 4 (0,49).


1. Layout 4

48

Luas total pada layout 4 = 627,5


c) Pemilihan Layout terbaik
Berdasarkan nilai Adjacency score terbaik ada pada alternatif layout 4 (0,49).
2.17 Pemilihan Lokasi
a.
b.
c.
d.

Penentuan kriteria pemilihan


Penentuan alternative lokasi
Penentuan metode pemilihan lokasi
Pemilihan lokasi

49

50