Anda di halaman 1dari 20

VIII.

PEMBORAN AIR TANAH

8.1. Maksud dan Tujuan


Maksud kegiatan pemboran air tanah merupakan suatu hal yang sangat penting
untuk mendapatkan air tanah yang sesuai. Kegiatan pemboran air tanah dilakukan
dengan prosedur yang sesuai ketentuan.
Tujuan dari pemboran air tanah ini yaitu untuk mendapatkan air tanah dengan
kualitas yang sesuai diinginkandan dengan waktu yang efisien.
8.2. Landasan Teori
Air tanah adalah air yang bergerak dalam tanah yang terdapat di dalam ruangruang antara butir-butir tanah yang membentuk itu dan didalam retak-retak dari
batuan. Yang terdahulu disebut air lapisan dan yang terakhir disebut air celah
(fissure water) (Mori dkk., 1999).
Keberadaan air tanah sangat tergantung besarnya curah hujan dan besarnya air
yang dapat meresap kedalam tanah. Faktor lain yang mempengaruhi adalah
kondisi litologi (batuan) dan geologi setempat. Kondisi tanah yang berpasir lepas
atau batuan yang permeabilitasnya tinggi akan mempermudah infiltrasi air hujan
kedalam formasi batuan. Dan sebaliknya, batuan dengan sementasi kuat dan
kompak memiliki kemampuan untuk meresapkan air kecil. Dalam hal ini hampir
semua curah hujan akan mengalir sebagai limpasan (runoff) dan terus ke laut.
Faktor lainnya adalah perubahan lahan-lahan terbuka menjadi pemukiman dan
industri, serta penebangan hutan tanpa kontrol. Hal tersebut akan sangat
mempengaruhi infiltrasi terutama bila terjadi pada daerah resapan (recharge area)
(Usmar dkk., 2006).
8.2.1. Siklus Hidrologi

VIII - 1

Di bumi terdapat kira-kira sejumlah 1,3-1,4 milyard km3 air yang terdiri dari 97,5
% air laut, 1,75% berbentuk es, dan 0,73% berada di daratan sebagai air sungai,
air danau, air tanah dan sebagainya. Pemanfaatan air untuk berbagai macam
keperluan tidak akan mengurangi kuantitas air yang ada di muka bumi ini, tetapi
setelah dimanfaatkan maka kualitas air akan menurun. Air di bumi ini mengulangi
suatu sirkulasi yang terus menerus yakni penguapan, persipitasi dan pengaliran
keluar (outflow). Air yang ada di permukaan tanah, sungai, danau, dan laut selalu
mengalir dan dapat berubah wujud menjadi uap air sebagai akibat pemanasan oleh
sinar matahari dan tiupan angin yang kemudian menguap danmengumpul
membentuk awan. Pada tahap ini terjadi proses kondensasi yangkemudian turun
sebagai titik-titik hujan atau salju ke permukaan laut atau daratan.
Sebelum tiba ke permukaan bumi sebagaian langsung menguap ke udara dan
sebagian tiba ke permukaan bumi. Sebagian dari air yang jatuh ke bumi akan
tertahan oleh tumbuh-tumbuhan dimana sebagian akan menguap dan sebagian lagi
akan jatuh atau melalui dahandahan mengalir sebagai air permukaan yang
kemudian menguap kembali akibat sinar matahari. Sebagian lagi akan masuk ke
dalam tanah (infiltrasi), dimana bagian lain yang merupakan kelebihan akan
mengisi lekuk-lekuk permukaan tanah, kemudian mengalir ke daerah-daerah yang
rendah, masuk ke sungai-sungai dan akhirnya ke laut. Dalam perjalanan ke laut
sebagian akan menguap dan kembali ke udara. Sebagian air yang masuk ke dalam
tanah keluar kembali segera ke sungai-sungai (interflow).
Sebagian besar akan tersimpan sebagai air tanah (groundwater) dengan mengisi
tanah/bebatuan dekat permukaan bumi yang kemudian disebut akuifer dangkal,
dan sebagian lagi terus masuk ke dalam tanah untuk mengisi lapisan akuifer yang
lebih dalam. Proses ini berlangsung dalam waktu yang sangat lama. Lokasi
pengisian (recharge area) dapat jauh sekali dari lokasi pengambilan airnya
(discharge area).yang akan keluar sedikit demi sedikit dalam jangka waktu yang
lama ke permukaan tanah di daerah-daerah yang rendah (groundwater runoff)
limpasan air tanah. Sirkulasi antara air laut dan air darat yang berlangsung terus
menerus secara kontinu ini disebut siklus hidrologi (hydrologic cycle) (Mori dkk.,
1999).

VIII - 2

Gambar 8.1. Siklus hidrologi (Grigg, 1996 dengan modifikasi dalam Kodoatie dan
Sjarief, 2005)
Siklus ini menunjukan adanya keseimbangan air secara menyeluruh antara air
permukaan (sungai, danau, penguapan) dan air tanah dimana volume air yang ada
didalamnya tetap kuantitasnya dan dikendalikan oleh radiasi matahari baik yang
datang (incoming radiation) maupun yang pergi (outgoing radiation) sehingga
disebut siklus hidrologi yang tertutup (closed system diagran of the global
hydrological cycle)
8.2.2. Pergerakan Air Tanah
Air meresap ke dalam tanah dan mengalir mengikuti gaya garavitasi bumi. Akibat
adanya gaya adhesi butiran tanah pada zona tidak jenuh air, menyebabkan poripori tanah terisi air dan udara dalam jumlah yang berbeda-beda. Setelah hujan, air
bergerak kebawah melalui zona tidak jenuh air (zona aerasi). Sejumlah air
beredar didalam tanah dan ditahan oleh gaya-gaya kapiler pada pori-pori yang
kecil atau tarikan molekuler di sekeliling partikel-partikel tanah. Bila kapasitas
retensi dari tanah pada zona aerasi telah habis, air akan bergerak kebawah
kedalam daerah dimana pori-pori tanah atau batuan terisi air. Air di dalam zona
jenuh air ini disebut air tanah (Linsley dkk., 1989).

VIII - 3

Gambar 8.2. Pergerakan air tanah (Linsley dkk., 1989)


8.2.3. Aliran Air Tanah
Beberapa faktor yang berpengaruh terhadap gerakan air bawah permukaan tanah
antara lain adalah (Usmar dkk, 2006) :
Perbedaan kondisi energi di dalam air tanah itu sendiri
Kelulusan lapisan pembawa air (Permeabilty)
Keterusan (Transmissibility)
Kekentalan (viscosity) air tanah
Air tanah memerlukan energi untuk dapat bergerak mengalir melalui ruang antar
butir. Tenaga penggerak ini bersumber dari energi potensial. Energi potensial air
tanah dicerminkan dari tinggi muka airnya (pizometric) pada tempat yang
bersangkutan. Air tanah mengalir dari titik dengan energi potensial tinggi ke arah
titik dengan energi potensial rendah. Antara titik-titik dengan energi potensial
sama tidak terdapat pengaliran air tanah (Usmar dkk, 2006).

Garis khayal yang menghubungkan titik-titik yang sama energi potensialnya


disebut garis kontur muka air tanah atau garis isohypse. Sepanjang garis kontur
tersebut tidak terdapat aliran air tanah, karena arah aliran air tanah tegak lurus

VIII - 4

dengan garis kontur. Aliran air tanah tersebut secara umum bergerak dari daerah
imbuh (recharge area) ke daerah luah (discharge area) dan dapat muncul ke
permukaan secara alami maupun buatan (Usmar dkk, 2006).
Kemiringan permukaan
Air tanah normal

Gambar 8.3. Jaring-jaring aliran air tanah (Linsley dkk., 1989)


Keterangan :
-------Equipotential line (garis-garis dengan ketinggian yang sama)
Flow line (garis aliran)
Kelulusan suatu material batuan sangat tergantung pada ukuran besar butiran serta
sistem bukaan yang ada. Suatu lapisan batuan yang mempunyai angka kelulusan
(K) dan tebal (kedalaman) dari zona jenuh air (b), maka dapat dikatakan lapisan
batuan ini mempunyai angka keterusan/Transmissibility (T) yang dinyatakan
dengan persamaan (Linsley dkk., 1986):
T=K.b
dimana :
T = Transmibisibilitas (m2/hari)
K = Koefisien kelulusan (m/hari)
b = tebal / kedalaman akuifer (m)

VIII - 5

8.2.4. Munculan Air Tanah


Air tanah dapat muncul ke permukaan secara alami, seperti mata air, maupun
karena budidaya manusia, yaitu lewat sumur bor. Munculan air tanah ke
permukaan karena budidaya manusia lewat sumur bor dapat dilakukan dengan
menembus saluran tebal akuifer (fully penetrated) atau hanya menembus sebagian
tebal akuifer (partially penetrated) (Usmar dkk, 2006).
8.2.5. Lapisan Akuifer
Sebagai lapisan kulit bumi, maka akuifer membentang sangat luas, menjadi
semacam reservoir bawah tanah. Pengisian akuifer ini dilakukan oleh resapan air
hujan kedalam tanah. Sesuai dengan sifat dan lokasinya dalam siklus hidrologi,
maka lapisan akuifer mempunyai fungsi ganda sebagai media penampung
(storage fungtion) dan media aliran (conduit fungtion). Aliran air tanah dapat
dibedakan dalam aliran akuifer bebas (unconfined aquifer) atau akuifer terkekang
(confined aquifer) (Kodoatie dan Sjarief, 2005).
Akuifer tertekan (confined aquifer)
Merupakan lapisan rembesan air yang mengandung kandungan air tanah yang
bertekanan lebih besar dari tekanan udara bebas/tekanan atmosfir, karena bagian
bawah dan atas dari akuifer ini tersusun dari lapisan kedap air (biasanya tanah
liat). Muka air tanah dalam kedudukan ini disebut pisometri, yang dapat berada
diatas maupun dibawah muka tanah. Apabila tinggi pisometri ini berada diatas
muka tanah, maka air sumur yang menyadap akuifer jenis ini akan mengalir
secara bebas. Air tanah dalam kondisi demikian disebut artoisis atau artesis.
Dilihat dari kelulusan lapisan pengurunganya akuifer tertekan dapat dibedakan
menjadi akuifer setengah tertekan (semi-confined aquifer) atau tertekan penuh
(confined aquifer) dan dapat disebut pula dengan akuifer dalam (Kodoatie dan
Sjarief, 2005).

VIII - 6

Gambar 8.4. Confined aquifer dan unconfined aquifer (Todd, 1959 dalam
Kodoatie dan Sjarief, 2005)
Akuifer bebas/tak tertekan (unconfined aquifer)
Merupakan lapisan rembesan air yang mempunyai lapisan dasar kedap air, tetapi
bagian atas muka air tanah lapisan ini tidak kedap air, sehingga kandungan air
tanah yang bertekanan sama dengan tekanan udara bebas/tekanan atmosfir. Ciri
khusus dari akuifer bebas ini adalah muka air tanah yang sekaligus juga
merupakan batas atas dari zona jenuh akuifer tersebut, sering disebut pula dengan
akuifer dangkal.
Beberapa macam unconfined aquifer (Kodoatie dan Sjarief, 2005) :
1. Akuifer terangkat ( perched aquifer)
Merupakan kondisi khusus, dimana air tanah pada akuifer ini terpisah dari air
tanah utama oleh lapisan yang relatif kedap air dengan penyebaran tebatas, dan
terletak diatas muka air tanah utama

VIII - 7

Gambar 8.5. Akuifer terangkat (perched aquifer)


2. Akuifer lembah (valley aquifer)
Merupakan akuifer yang berada pada suatu lembah dengan sungai sebagai batas
(inlet atau outlet). Dapat dibedakan berdasarkan lokasinya yaitu di daerah yang
banyak curah hujannya (humid zone), dimana pengisian air sungai yang ada di
akuifer ini diisi melalui infiltrasi dari daerah-daerah yang sama tingginya dengan
ketinggian sungai. Dan juga di daerah gersang (arid zone), dimana pengisian
(infiltrasi) ke akuifer tidak ada akibat dari curah hujan. Pengisian air berasal dari
sungai ke akuifer dengan aliran pada akuifer searah aliran sungai.
8.3. Peralatan dan Fungsi
1. Mesin bor
Mesin bor merupakan komponen yang digerakkan oleh kompressor sebagai
sumber energi pada saat pemboran dilaksanakan. Mesin bor berfungsi sebagai
penggerak pipa kemudian di transfer ke mata bor, mesin bor juga berfungsi
sebagai tempat melekatnya pipa pada bagian atas pipa.
Beberapa hal penting yang harus diperhatikan dan dipertimbangkan dalam
pemilihan mesin bor yang digunakan, diantaranya meliputi:

Tipe/ model mesin bor


VIII - 8

Diameter lubang
Sliding stroke
Berat mesin bor
Power unit
Kemampuan rotasi/ tumbuk per satuan waktu
Hoisting capacity (kapasitas)

Dimensi (panjang x lebar x tinggi)


2. Pompa atau kompresor
Kompressor merupakan serangkaian alat yang berfungsi sebagai sunber energi
untuk menggerakkan mesin bor sehinga terlaksananya pemboran. Pada tahap
pemboran lumpur dan kompresor berfungsi sebagai sumber tenaga untuk
mensirkulasikan fluida bor. Jika fluida bor yang digunakan adalah lumpur, maka
sebagai sumber tenaga adalah pompa lumpur, dan jika fluida bor yang digunakan
adalah udara maka sumber tenaganya adalah kompresor
Beberapa hal penting yang perlu diperhatikan pada pompa diantaranya adalah:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Tipe acting piston


Diameter piston
Power
Dimensi
Berat
Volume/ pressure
Working pressure

Adapun hal hal yang penting diperhatikan pada kompresor adalah:


1. Tekanan udara yang dihasilkan
2. Volume udara yang dihasilkan per satuan waktu.

3. Stang bor
Stang bor merupakan pipa yang terbuat dari baja, dimana bagian pipa ujung
ujungnya terdapat ulir, dimana fungsinya sebagai penghubung antara dua buah
stang bor. Dalam kegiatan pemboran, stang bor berfungsi sebagai:

VIII - 9

1. Menstranmisikan putaran, tekanan, dan tumbukan yang dihasilkan oleh mesin


bor menuju mata bor.
2. jalan keluar masuknya fluida bor. Panjang stang bor yang umum digunakan
dalam operasi pemboran adalah 10 ft (3m) dan 30 ft (9m), tetapi hal ini bisa
berubah tergantung dengan tujuan dan efisiensi pemboran.
Kriteria yang harus diperhatiakan dalam pemilihan ukuran, meliputi:
a.
b.
c.
d.
e.

Tujuan pemboran
Kedalaman pemboran
Kekerasan batuan
Metode sirkulasi fluida
Diameter lubang bor

Adapun rangkaian stang bor yang digunakan dalam operasi pemboran tergantung
dari mekanisme pemboran yang diterapkan. Rangkaian Stang Bor pada Mesin Bor
Putar. Rangkaian stang bor pada pemboran putar hampir semuanya sama seperti
pada penyambungan pipa air. Stang bor yang dipakai pada pemboran mempuyai
banyak ukuran, hal ini berkaitan dengan diameter luar, diameter dalam , jenis ulir
dan sebagainya. Setiap pabrik biasanya memiliki klasifikasi yang berbeda.
4. Pipa casing
Didalam operasi pemboran pipa casing berfungsi untuk menjaga lubang bor dari
colaps (keruntuhan) dan peralatan pemboran lain dari gangguan gangguan.

5. Mata bor (Bit)


Mata bor merupakan salah satu komponen dalam pemboran yang digunakan
khususnya sebagai alat pembuat lubang (hole making tool). Mata bor yang
digunakan yaitu 3 cone roller rock bit

VIII - 10

Gambar 8.6. Jenis mata bor


6. Rig
Rig merupakan suatu menara, menara tersebut berdiri sesuai dengan kemiringan
yang di inginkan saat melaksanakan pemboran. Rig berfungsi untuk menjaga
kestabilan lubang bor saat pemboran supaya koordinat yang di tuju didapatkan,
rig juga berfungsi sebagai sarana dalam memasukkan pipa saat pemboran, tempat
mesin bor dan tempat pekerja saat kegiatan pemboran dilaksanakan.
8.4. Prosedur Percobaan
1. Tahap persiapan
Dalam pelaksanaan pekerjaan pemboran tahap pekerjaan persiapan meliputi :
a. Pekerjaan mobilisasi
Sebelum

pekerjaan

lapangan

dimulai,

dilakukan

mobilisasi

atau

mendatangkan peralatan dan bahan-bahan pemboran beserta personelnya ke


lokasi pemboran. Tahap mobilisasi ini dilakukan secara bertahap sesuai
dengan kebutuhan lapangan.
b. Pekerjaan persiapan lokasi
Pada tahap pekerjaan ini meliputi :
Pembersihan, perataan dan pengerasan lokasi untuk posisi tumpuan mesin
bor.
VIII - 11

Pembuatan bak Lumpur, bak control dan selokan untuk sirkulasi Lumpur
bor.
Penanaman casing pengaman sedalam 1-2 m pada posisi titik bor apabila
formasi lapisan tanah paling atas yang akan dibor merupakan lapisan
formasi yang mudah runtu.
Penyetelan (setting) mesin bor beserta menara (rig), penyetelan (setting)
pompa lumpur beserta selang-selangnya.
Penyedian air serta pengadukan lumpur bor untuk sirkulasi pemboran.
2. Tahap pemboran awal
Sistem pemboran yang diterangkan disini adalah menggunakan system bor putar
(rotary drilling) dan tekanan bawah (pull down pressure) yang dibarengi dengan
sirkulasi lumpur bor (mud flush) kedalam lubang bor.
Pemboran pilot hole adalah pekerjaan pemboran tahap awal dengan diameter
lobang kecil sampai kedalaman yang dikehendaki, diameter pilot hole biasanya
antara 4 sampai dengan 8 inci. Selain itu juga ditentukan dengan kemampuan atau
spesifikasi mesin bor yang digunakan.
Hal-hal yang perlu diamati dalam pekerjaan pemboran pilot hole adalah :
-

Kekentalan (viskositas) lumpur bor


Kecepatan mata bor dalam menebus formasi lapisan tanah setiap meternya

(penetrasi waktu permeter)


Contoh gerusan (pecahan) formasi lapisan dalam setiap meternya.

Contoh (sample) pecahan formasi lapisan tanah (cutting) dimasukkan dalam


plastik kecil atau kotak sample dan masing-masing diberi nomor sesuai dengan
kedalamanya. Adapun maksud pengambilan sample cutting adalah sebagai data
pendukung hasil electrical logging untuk menentukan posisi kedalaman sumber
air (akuifer).
3. Tahap electrical loging
Electrical Loging tujuannya adalah untuk mengetahui letak (posisi) akuifer air,
tahap pekerjaan ini sebagai penentu konstruksi saringan (screen). Electrical
Loging dilakukan dengan menggunakan suatu alat, dimana alat tersebut

VIII - 12

menggunakan konfigurasi titik tunggal dimana eletroda arus dimasukakan


kedalam lubang bor dan elektroda yang lain ditanam dipermukaan. Arus
dimasukkan kedalam lubang elektroda yng kemudian menyebar kedalam formasi
disekitar lubang bor. Sebagian arus kembali ke elektroda di permukaan dengan
arus yang telah mengalami penurunan. Penurunan inilah yang diukur.
4. Tahap pembersihan lubang bor (reaming hole)
Reaming adalah memperbesar lubang bor sesuai dengan diameter konstruksi pipa
casing dan saringan (screen) yang direncanakan. Hal-hal yang diamati dalam
tahap pekerjan reaming adalah sama seperti pada tahap pilot hole, hanya pada
pekerjaan reaming cutting (formasi lapisan tanah) tidak perlu diambil lagi. Ideal
selisih diameter lobang bor dengan pipa casing adalah 6 inci. Hal ini dimaksudkan
untuk mempermudah masuknya konstruksi pipa casing dan saringan (sreen) serta
masuknya penyetoran kerikil pembalut (gravel pack).
5. Tahap konstruksi pipa casing dan saringan (screen)
Pada tahap ini peletakan pipa casing dan saringan (screen) harus sesuai dengan
gambar konstruksi yang telah direncanakan. Terutama peletakan konstruksi
saringan (screen) harus didasarkan atas hasil electrical logging dan analisa
cutting.
Selain itu juga didasarkan atas kondisi hydrogeology daerah pemboran. Dari
pemahaman aspek-aspek hydrogeology diharapkan perencanaan sumur dalam
yang dihasilkan mampu memberikan sumur pemanfatan (life time) yang maksimal
dan kapasitas yang optimal dengan memperhatikan kelestarian lingkungan
didaerah sekitar pemboran.
6. Tahap penyetoran kerikil pembalut (gravel pack)
Maksud dan tujuan penyetoran kerikil pembalut (gravel pack) adalah untuk
menyaring masuknya air dari formasi lapisan akuifer kedalam saringan (screen)
dan mencegah masuknya partikel kecil seperti pasir ke dalam lubang saringan
(screen).

VIII - 13

Adapun cara penyetoran kerikil pembalut (gravel pack) adalah dibarengi dengan
sirkulasi (spulling) air yang encer supaya kerikil pembalut (gravel pack) dapat
tersusun dengan sempurna pada rongga antara konstruksi pipa casing dengan
dinding lubang bor.
7. Tahap pencucian dan pembersihan (well development)
Tahap pekerjaan pencucian dan pembersihan sumur dalam dilakukan dengan
maksud untuk dapat membersihkan dinding zona invasi akuifer serta kerikil
pembalut dari partikel halus, agar seluruh bukaan pori atau celah akuifer dapat
terbuka penuh sehinga ar tanah dapat mengalir kedalam lubang saringan (screen)
dengan sempurna.
Manfaat dari tahap Well Development ini adalah :
-

Menghilangkan atau mengurangi penyumbatan (clogging) akuifer pada

dinding lobang bor.


Meningkatkan porositas dan permeabilitas akuifer disekeliling sumur dalam.
Menstabilakan formasi lapisan pasir disekeliling saringan, sehingga
pemompaan bebas dari kandungan pasir.

Pelaksanaan tahap Well Development dilakukan dengan cara :


1. Water jetting
Peralatan yang digunakan disebut jetting tool, yaitu suatu alat dari pipa yang
mempunyai 4 lobang (dozzle). Alat ini dimasukkan kedalam sumur dalam pada
tiap-tiap interval saringan secara berurutan dari bawah keatas dengan penghantar
pipa bor yang dihubungkan dengan pompa yang dihubungkan dengan pompa
tekan yang memompakan air bersih kedalam sumur dalam.
Pada pengoperasiannya, alat ini digerakkan berputar-putar atau dengan memutarmutar pipa penghantarnya dan naik turun sepanjang saringan (screen).
2. Air lift

VIII - 14

Pada metode air lift ini dimulai dengan pelepasan tekanan udara kedalam sumur
dalam dari tekanan kecil kemudian perlahan-lahan diperbesar. Pekerjaan air lift
ini dilakukan mulai dari interval saringan paling atas ke bawah secara berurutan
hingga ke dasar sumur dalam.
8. Tahap pengecoran (grouting)
Maksud dan tujuan dari tahap grouting ini adalah :
-

Sebagai penguat (tumpuan) konstruksi pipa casing.

Untuk menutup (mencegah) masuknya air permukaan (air atas) kedalam pipa
casing melalui saringan (screen).

9. Tahap uji pemompaan (pumping test)


Maksud dan tujuan uji pemompaan (pumping test) ini adalah untuk mengetahui
kondisi akuifer dan kapasitas jenis sumur dalam, sehingga dapat untuk memilih
jenis serta kapasitas pompa ang sesuai yang akan dipasang disumur dalam
tersebut.
Data-data yang dicat dalam uji pemompaan adalah :
a.
b.
c.
d.
e.
f.

Muka air tanah awal (pizometrikawal)


Debit pemompa
Penurunan muka air tanah selama pemompaan (draw-down)
Waktu sejak dimulai pemompaan
Kenaikan muka air tanah setelah pompa dimatikan
Waktu setelah pompa dimatikan

Uji pemompaan dilakukan melalui 2 tahap :


1. Uji pemompaan bertahap (step draw-doen test)

VIII - 15

Uji pemompaan yang dilakukan 3 step, masing-masing selama 2 jam dengan


variasi debit yang berbeda.
2. Uji pemompaan panjang
Uji pemompaan ini umumnya dilakukan selama 2x 24 jam dengan debit tetap.
Pada uji pemompaan ini dimbil sample air 3 kali, yaitu pada awal
pemompaan, pertengahan dan akhir pemompaan. Maksud dan tujuan
pengambilan sample air adalah untuk pemeriksaan (analisa) kualitas air,
apakah air yang dihasilkan dari sumur dalam tersebut memenuhi standar air
minum yang diizinkan.
Kualitas air yang dianalisa adalah :
-

pH (keasaman atau kebasaan) air tersebut.

Kadar unsur-unsur kimia terkandung dalam air tersebut.

Jumlah zat pada terlarut (TDS).

10. Tahap finishing


Tahap finishing meliputi :
1. Pemasangan pompa submersible permanent, panel listrik serta instalasi kabelkabelnya.
2. Pembuatan bak control (manhole) apabila well head posisinya dibawah level
tanah, pembuatan apron apabila well head posisinya diatas level tanah.
3. Pembuatan instalasi perpipaan, serta well cover.
4. Pembersihan dan perapihan lokasi.

8.5. Data
Deskripsi Cutting
VIII - 16

Diameter cutting

: 8 cm

Panjang cutting

: 10 cm

Warna Batuan

: Kecoklatan

Tekstur Batuan
-

Ukuran butir

: <1/265 mm

Bentuk butir

: Sub rounded

Sortasi/Kemas

: well sorted /tertutup

Struktur Batuan

: Masiv

Komposisi Batuan
-

Fragmen : Pasir

Matriks

: Lempung

Semen

: Oksida besi

Deskripsi komposisi :
-

Lempung 90%, warna kecoklatan, penyebaran merata

Pasir 10%, Berwarna putih kecoklatan, penyebaran merata

Jenis Batuan

: Batuan Sedimen Klastik

Nama Batuan

: Batulempung (Lempung pasiran)


Lempung membentuk gumpalan keras saat kering dan lengket
apabila basah terkena air.

Genesa Batuan :Terbentuk melalui 4 proses yaitu kimiawi, tererosi, dan


tertransportasi menuju cekungan pengendapan, berbutir sangat halus dan
mempunyai ukuran butir yang seragam.
Lempung membentuk gumpalan keras saat kering dan lengket apabila basah
terkena air.Sifat

ini

ditentukan

oleh

jenis

mineral

lempung yang
VIII - 17

mendominasinya. Mineral lempung digolongkan berdasarkan susunan lapisan


oksida silikon dan oksida aluminium yang membentuk kristalnya.
Golongan 1 : 1 memiliki lapisan satu oksida silikon dan satu oksida aluminium,
sementara golongan 2:1 memiliki dua lapis golongan oksida silikon yang
mengapit satu lapis oksida aluminium. Mineral lempung golongan 2:1 memiliki
sifat elastis yang kuat, menyusut saat kering dan memuai saat basah. Karena
perilaku inilah beberapa jenis tanah dapat membentuk kerutan-kerutan atau
"pecah-pecah" bila kering. ( Laboratorium Petrologi , UPN )
8.6. Pembahasan
Dampak eksploitasi air tanah
Keberadaan air tanah sangat erat hubungannya dengan air permukaan. Bedasarkan
Hukum Darcy, dijelaskan jika tinggi muka air tanah mengalami penurunan yang
berkelanjutan,

akibat

dari

eksploitasi

air

tanah

yang

berlebihan maka

kemungkinan terjadinya rembesan air sungai ke akuifer sangat besar. Jika aliran
sungai cukup besar, maka rembesan tersebut tidak terlalu berpengaruh terhadap
debit sungai. Namun jika akuifer terbentuk dari tanah yang memiliki permiabilitas
besar dan pencemaran yang terjadi di sungai cukup tinggi, maka akan
berpengaruh terhadap adanya pencemaran airtanah (Asdak,2002).

Gambar 8.8. Siklus air tanah


Pada kenyataannya pemanfaatan air untuk memenuhi kebutuhan sektor industri
dan jasa masih mengandalkan air tanah secara berlebih menimbulkan dampak
negative terhadap sumberdaya air tanah maupun lingkungan, antara lain :
- Penurunan muka air tanah
- Intrusi air laut
VIII - 18

- Amblesan tanah

Penurunan muka air tanah


Pemanfaatan airtanah yang terus meningkat menyebabkan penurunan muka
airtanah. Hasil rekaman muka airtanah pada sumur-sumur pantau didaerah
pengambilan airtanah intensif seperti: Cekungan Jakarta, Bandung,
Semarang,

Pasuruan,

Mojokerto

menunjukkan

kecenderungan

muka

airtanahnya yang terus menurun. Demikian juga di daerah DIY.


Intrusi air laut
Apabila keseimbangan hidrostatik antara airtanah tawar dan airtanah asin di
daerah pantai terganggu, maka terjadi pergerakan airtanah asin/air dari laut
kearah darat. Intrusi air laut teramati di daerah pantai Jakarta, Semarang,

Denpasar, Medan.
Amblesan tanah
Permasalahan amblesan tanah timbul akibat pengambilan airtanah yang
berlebihan dari lapisan akuifer, khususnya akuifer tertekan. Amblesan tanah
tidak dapat dilihat seketika, namun dalam kurun waktu yang lama dan terjadi
pada daerah yang luas, sehingga dapat mengakibatkan dampak negatif yang
lain, antara lain :
Banjir dan masuknya air laut ke arah darat pada saat pasang naik, sehingga
menggenangi perumahan, jalan, atau bangunan lain yang lebih rendah.
Menyusutnya ruang lintas pada kolong jembatan, sehingga mengganggu
lalu lintas. Secara regional amblesan tanah mengakibatkan pondasi
jembatan menurun dan mempersempit kolong jembatan. Berkurangnya
kapasitas penyimpanan gudang dan terganggunya pelaksanaan arus
bongkar/muat barang.
Rusaknya bangunan fisik seperti pondasi jembatan/bangunan gedung
tinggi, sumur bor, dan retaknya pipa saluran air limbah dan jaringan yang
lain.

Pengeksploitasian airtanah yang terjadi saat ini mengakibatkan menurunnya muka


air tanah, hal tersebut dikarenakan, jumlah pertumbuhan penduduk yang
bertambah, sehingga memicu untuk dilakukannya pengeboran sumur di beberapa
titik yang memiliki potensi airtanah. Akan tetapi, dengan jumlah pengesploitasian
air tanah yang semakin bertambah tidak diiringi dengan jumlah masuknya air ke

VIII - 19

dalam tanah (inflow) sehingga mengakibatkan penyusutan butiran tanah dan


penurunan tanah.
8.7. Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan diatas maka kesimpulan yang didapat adalah Pemboran
dilakukan dengan sistem bor putar ( rotary drilling ) yang menggunakan tenaga
mesin. Tenaga mesin sumur bor di dapat dari gerak putar hosrisontal mesin diesel
yang dimodifikasi untuk menghasilkan tenaga putar tegak lurus yang akan
menjalankan stang bor dan mata bor. Dampak negatif terhadap sumberdaya air
tanah maupun lingkungan, antara lain :
- Penurunan muka air tanah
- Intrusi air laut
- Amblesan tanah

VIII - 20