Anda di halaman 1dari 29

MUSIK MENURUT ALKITAB DAN FUNGSINYA

DALAM IBADAH GEREJA


Ibelala Gea1
ABSTRAK
Artikel ini bertujuan untuk memaparkan jenis musik dan fungsinya dalam
ibadah menurut Alkitab. Kajian ini menggunakan analisis pustaka dengan sumber
utama Alkitab. Hasil penelitian menjelaskan bahwa musik adalah karunia Tuhan
yang sangat indah yang diciptakan untuk kemuliaan nama-Nya. Musik berfungsi
mengiringi nyanyian pujian yang bertujuan sebagai edukasi yang dapat membuat
jiwa bergembira, tersanjung atau sedih. Musik dalam Alkitab dikenal dengan
berbagai nama seperti: kecapi, gambus, seruling, sangkakala atau nafiri, kentung,
giring giring, ceracap, rebana dan lain lain.
Fungsi alat alat musik dalam kehidupan umat Allah membuat mereka
hidup dan bersemangat dalam kegiatan ibadah. Demikian juga musik dalam
kehidupan gereja mula mula sampai sekarang telah turut menghidupkan dan
mewarnai kualitas ibadah warga gereja bahkan tanpa musik ibadah tidak
sempurna. Harus diakui ada perbedaan pemahaman dan penekanan penggunaan
musik dari denominasi gereja dari masa ke masa. Misalnya gereja barat dan gereja
timur dengan Himne by Zantine, demikian juga pemahaman penggunaan musik di
kalangan gereja Katholik dengan Protestan. Namun perbedaannya adalah sebagai
gambaran pemahaman Teologis dan budaya yang berbeda beda, tetapi yang
terpenting bahwa fungsi musik dan nyanyian pujian dalam gereja adalah bersifat
kembar yakni sebagai bentuk cara warga jemaat memuji Tuhan sekaligus sebagai
cara untuk mewartakan Firman Tuhan. Sangat diharapkan bahwa gereja masa kini
dan perguruan tinggi terutama penyelenggara pendidikan musik perlu menggali
sumber musik yang diwariskan di zaman Alkitab, baik pada Perjanjian Lama dan
Perjanjian Baru.
Demikian juga musik yang digunakan pada zaman gereja mula mula
sampai sekarang. Tradisi musik dalam perjanjian lama yang dapat di pelajari dari
kitab Mazmur, dimana menurut tradisi Mazmur itu dinyanyikan dengan iringan
alat alat musik sesuai dengan jenisnya. Hal itu sangat membantu para
mahasiswa dalam memperkarya pengetahuan mereka tentang musik dan Alkitab
sebagai sumber musik gereja.
Kata Kunci: Musik, Alkitab, IbadahGereja

Dosen Tetap STAKPN Tarutung

MUSIC ACCORDING TO THE BIBLEAND FUNCTIONS


IN CHURCH WORSHIP
ABSTRACT
This article aims to describe the type and function of music in worship according
to the Bible. This study uses analysis of the main sources of biblical literature.
The results explain that the music is very beautiful gift God created for His glory.
Music to accompany hymn serves as the education that aims to make life happy,
flattered or upset. Music in the Bible is known by various names such as: harp,
lute, flute, trumpet or trumpets, Kentung, bells - bells, cymbals, tambourines, and
others - others.
The function of musical instrumentin the life of people ofGod's
makethemelive and full of joy in doing the worshipactivities. Its similarly in the
musicChurch in the older Church up to now has contribution to color to give a
quality to the worship, even now a days worship without a music instruments its
look like uncomplete. But we have to admit there is a different idea and
understanding about the music uses from time to time. For example the western
church and the easrtern church with hymnsbyZantine, as well as
theunderstanding ofthe music function in Catholic andProtestants Church. The
difference of this understanding is caused by the different theology and culture,
but the most important is the function of the music and hymns in the Curch look
like a coin, one side is the way of the people in the Church to glorify God and the
other side is the way to preach or proclame the words of God. So we have the big
expectation to the church and expecially the college who has a music Church
Department need to explore the sources of music which was in heritage in the
Bible era, both in Old Testament and New Testament.
Music tradition in old Testament can be learned from Psalms, because
according to the tradition the Psalms is Sung with the musical instrument
according to its types. Its very helpfull to the students to enrich their knowledge
about music and the Bible as the source of church music.
Key Words

: Music, Bible, Functions in Church Worship

PENDAHULUAN
Musik mampu mempengaruhi kehidupan manusia. Musik dapat membuat
manusia bergembira, bersedih, tersanjung dan sebagainya. Karena itu dapat
dikatakan musik tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia, baik musik itu
dihayati sebagai hiburan ataupun perasaan hati, namun yang jelas bahwa musik

mempengaruhi kehidupan manusia. Tanpa musik kehidupan manusia tidak


lengkap.
Di berbagai gereja musik telah mendapat tempat dalam ibadah, bahkan
tanpa musik, nyanyian ibadah tidak sempurna. Di kota kota besar secara khusus
denominasi gereja Injili, Pentakosta dan Karismatik, musik dipandang sebagai
urat nadi ibadah. Alat musik itu tidak hanya organ sebagaimana yang dikenal di
gereja protestan, malahan mereka telah menggunakan berbagai jenis musik,
seperti organ, keyboard, gitar, drum, tambore dan lain lain. Ibadah di gereja
Karismatik dan sejenisnya bila diamati bahwa lebih banyak dihadiri oleh kawula
muda dimana salah satu daya tariknya adalah musik.
Seharusnya gereja memikirkan ulang alat musik dan nyanyian yang ada
dalam Alkitab sebagai sumber azasi ibadah orang orang percaya. Secara khusus
kepada STAKPN Tarutung yang mengelola program studi musik gerejawi,
manakala para mahasiswa dan para dosen sudah bergeser dari sumber dan dasar
musik gereja yaitu Alkitab. Musik dalam Alkitab seharusnya dijadikan sebagai
inspirasi untuk menciptakan nyanyian atau lagu sehingga para mahasiswa tidak
hanya mengarang lagu gereja dengan mencontoh karangan karangan sekuler.
Perlu mengakar secara teologis dan berbudaya didaktis pembelajaran musik pada
Program Studi Pendidikan Musik Gerejawi.
Sekalipun demikian bukan berarti pada pencipta lagu atau nyanyian musik
gerejawi hanya menggali Alkitab melulu, melainkan perlu berkontekstualisasi
pada budaya atau bahasa setempat. Sampai sekarang masih ada gereja juga yang
enggan menggunakan musik pada acara acara ibadah, bahkan di beberapa gereja

aliran pentakosta seperti Gereja Sidang Roh Kudus Indonesia enggan


menggunakan musik dalam ibadah, bukan karena tidak mampu memiliki musik,
tetapi karena menurut mereka mengganggu konsentrasi penyembahan mereka
kepada Allah. Lain juga permasalahan yang dijumpai dibeberapa gereja misalnya
musik tidak digunakan dalam acara ibadah, bukan karena bertentangan dengan
doktrin tetapi karena tidak ada yang mampu memainkan musik dengan baik.
Melihat begitu pentingnya musik dalam mengiring nyanyian dalam ibadah gereja
dan berbagai masalah yang menghambatnya baik karena faktor doktrin,
pengetahuan, minimnya skill sumber daya manusia, maka seharusnya apapun
alasan atau dalil, maka musik perlu digunakan di dalam ibadah, karena musik
tidak bertentangan dengan kehendak Allah, malahan musik adalah salah satu alat
untuk memuliakan Tuhan (Mazmur 150:1-6).
Perkataan musik berasal dari bahasa Yunani (mousike). Dalam
kamus umum Bahasa Indonesia (Poerwadarminta, 1984:664) menuliskan
pengetian Musik adalah bunyi bunyian (terutama bunyi bunyian Barat).
Bunyi bunyian disusun sedemikian rupa sehingga mengandung irama, lagu dan
keharmonisan, terutama menggunakan alat alat yang dapat menghasilkan bunyi
bunyian musik yang dapat mengatur dan mendukung sesuatu lagu atau
nyanyian. Dalam bahasa Yunani musik dikatakan (Symphonia)
adalah Simponi atau harmoni atau kesatuan suara (Mike&Hibbert Viv, 1988:17).
Musik berarti seni menuju suri nada atau suara dalam kombinasi dan hubungan
temporal yang dapat menghasilkan komposisi yang mempunyai suatu kesatuan.

Gereja sebagai tubuh kristus yang juga biasa disebut dengan persekutuan
orang orang percaya kepada Yesus Kristus, bukanlah hanya terdiri dari gedung
atau organisasi, tetapi juga orang yang berkumpul atau bersekutu didalamnya.
Gereja juga sering disebut dengan orang orang yang dipanggil keluar dari
kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib (1 Petrus 2:9). Orang orang Percaya
membutuhkan musik dan nyanyian. Pada dasarnya musik dapat dibagi dua, yaitu
musik gerejawi dan musik sekuler (profan). Musik gereja adalah musik yang ada
di dalam gereja, dimana musik gereja dapat lagi dibagi dua bagian yaitu musik
liturgi/ibadah dan musik rohani/nyanyian.
Musik liturgi adalah musik yang merupakan suatu bagian fungsional
dalam liturgi atau ibadah, misalnya bernyanyi bersama sama oleh jemaat atau
pada gereja katolik lama oleh pemimpin nyanyian dan paduan suara. Sedangkan
musik nyanyian rohani adalah merupakan yang berhubungan dengan orang
orang Kristen, namun diciptakan dan diperuntukkan bagi keperluan keperluan
keagamaan di luar ibadah. Kedua musik ini memiliki tujuan yang berbeda sesuai
dengan pemaparan pengertian kedua musik tersebut (A. Heuken SJ., 1993:40)
Berdasarkanuraian di atas,

penulisakan mengkaji jenis Musik dan

Fungsinya DalamIbadahGereja menurut Alkitab baik pada Perjanjian Lama


maupun Perjanjian Baru, dengan rumusan masalah bagaimanakah penggunaan
dan fungsi musik dalam ibadah gereja menurut Alkitab?

METODOLOGI
Penelitian ini menggunakan kajian pustaka (library research) dengan
sumber utama adalah Alkitab baik pada kitab Perjanjian Lama (PL) maupun

perjanjian Baru (PB). Kajian didasarkan pada jenis alat musik, cara penggunaan
dan fungsinya dalam ibadah gereja.

HASIL PENELITIAN
1.

Musik Pada Zaman Perjanjian Lama


Bila diamati bahwa seluruh ciptaan Tuhan mengandung bunyi bunyian

atau musik. Tujuan dan maksud Allah menciptakan segala sesuatu bukan hanya
secara kebetulan, melainkan Ia ingin menerima pujian pujian dari ciptaanNya.Menurut tradisi bahwa Yubal anak Lamekh, yang menjadi bapak semua
orang yang memainkan kecapi dan seruling (Kejadian 4:21). Tentu saja pada
mulanya penggunaan musik itu terbatas pada kehidupan ibadah kepada Allah.
Menurut penulis Ensiklopedi Alkitab masa kini (1996:109) bahwa Acuan
pertama kepada musik sesudah air bah adalah pada peristiwa Laban menemplak
Yakkub karena ia pergi diam diam dan tidak memberi kesempatan kepada
Laban untuk memeriahkan dengan rebana dan kecapi (Kejadian 31:27). Musik
sering diperdengarkan dalam keadaan bergembira dan biasanya dibarengi tarian.
Ada nyanyian nyanyian sorak - sorai kemenangansesudah berjaya dalam
pertempuran (Keluaran 15:1 dsb; Hak 5:1 dsb). Miryam dan kaum perempuan
memukul rebana serta menari nari merayakan kehancuran Firaun dan tentara
berkudanya (Keluaran 15:20-21), dan yang safat kembali dalam kemenangan ke
Yerusalem dengan gambus, kecapi dan nafiri (2 Tawarikh 20:28).
Musik tarian dan nyanyian berkaitan erat dengan ibadah Israel. Hampir
seluruh kegiatan keagamaan Israel dilakukan dengan iringan musik dan nyanyian.
Segala lapisan masyarakat Yahudi hidup dengan musik, tarian dan nyanyian. Para

raja mempunyai pemusik dan penyanyi di Istana (2 Raj Raja 19:35;


Pengkhotbah 2:8). Para gembala memiliki musik seperti kecapi (1 Samuel 16:18).
Para teruna bermain musik di pintu gerbang (Ratapan 5:14), demikian juga
perempuan perempuan sundal menggoda dengan musik dan nyanyian (Yesaya
23:16).
Musik digunakan baik pada saat berkabung maupun pada saat bergembira.
Contoh nyata ratapan Raja Daud karena kematian raja Saul dan Yonatan (2
Samuel 1:18-27). Sebagaimana murid mendapat tempat yang sangat penting
dalam kehidupan sosial budaya Israel, demikian juga musik mempunyai peranana
penting dalam kehidupan keagamaan. Di dalam Kitab (1 Tawarikh 15:16-24)
diberitakan susunan para pemusik, penyanyi dari suku Lewi dan alat alat musik
mereka. Indikator pentingnya musik pada zaman Perjanjian Lama, khususnya
dalam acara ibadah umat Israel, H.H. Rowley (1983:159-150) Menjelaskan bahwa
hal itu nampak pada Penetapan Allah akan orang Lewi sebagai pelayan dalam
Ibadah, sebagai penyanyi profesional pada hari hari raya, yang diiringi dengan
lagu lagu girang yang mengagungkan kebesaran Yakweh, kuasa dan anugerahNya, nyanyian yang lain di dalam perkembangannya juga diciptakan oleh
perorangan yang dinyanyikan pada saat pembebasan seseorang dari penyakit, dari
bahaya atau mala petaka. Mazmur mazmur ratapan perorangan dipakai oleh
penyembah perorangan sebagai iringan atas korban perdamaian yang dia sajikan
berkenaan dengan sengsara pribadi.
Musik dan nyanyian ada yang bersifat kelompok (Paduan Suara/Koor)
juga yang bersifat pribadi: contoh nyata dari 150 pasal Kitab Mazmur ada 73

pasal diantaranya berasal dari raja Daud (Pasal 3-9;11-32;34-41;51-65;6870;86;86;103;108-110;122;124;131;133;138-145). Kemudian walaupun tidak
dijumpai musik instrumental pada bait suci Yerusalem, namun ditemukan
sekarang ini pada bentuk bentuk mazmur, bahwa: Mazmur

-Mazmur itu

dinyanyikan secara bergantian (antifonis) atau oleh dua paduan suara (mazmur
13;20;27) atau oleh satu paduan suara beserta dengan jemaat (Mazmur 136;118:14) (Ensiklopedi Alkitab Masa Kini Jilid II, 1996:109).
Musik, tarian dan nyanyian nyanyian ini dikemudian hari diajarkan
secara turun temurun, terutama mengungkapkan keagungan Allah yang maha
dahsyat yang telah membawa bangsa Israel Keluar dari tanah Mesir (exodus).
Pendapat ini didukung oleh Milee dan Hibbertviv (1988:20) di mana dalam
penelitiannya mengatakan: pada zaman Nabi Samuel ada sebuah sekolah para
nabi yang didirikan di Israel, para muridnya diajar tentang mazmur, musik,
sejarah dan sebagainya (1 Samuel 10:5-6). Melalui pembelajaran musik dan
mazmur secara lisan atau tulisan telah menjadi strategi penyampaian Firman Allah
bagi umat Israel dengan cara menyanyikan Firman Allah tersebut yang diiringi
dengan musik atau bunyi bunyian.
Penggunaan musik yang sifatnya sekuler telah dialihkan sebagi pujian
kepada Allah dalam peribadatan umat Israel. Karena itu segala bunyi bunyian
(musik) dan yang bernafas tidak selayaknya lagi mengagungkan kuasa kuasa
dari unsur unsur alam yang selalu menentang kehendak Allah, terutama setelah
kejatuhan manusia di dalam dosa (Kejadian 3:1-24). Sungai sungai bertepuk
tangan dan gunung gunung bersorak- sorai bersama (Mazmur 98:8). Bersorak

sorailah hai langit, sebab Tuhan telah bertindak, bertempik soraklah hai rahim
bumi. Bergembiralah dengan sorak sorai hai gunung gunung, hai hutan serta
segala pohon di dalamnya sebab Tuhan telah tebus Yakub dan ia telah
memperlihatkan keagungann-Nya dalam hal Israel (Yesaya 44:23). Inspirasi dan
pencipta musik dan nyanyian di Israel : Bertumbuhlah dari jiwa orang orang
yang kehidupannya sehari hari diatur oleh agama (Milee dan Herbbertviv,
1988:3). Dengan kata lain musik, tarian, nyanyian sebagai ungkapan iman orang
percaya kepada ke Maha Kuasaan Allah. Hal itu bermakna bahwa musik, pujian
dan sebagainya, sebagai proklamasi kemenangan Allah atas segala unsur unsur
alam terhadap roh jahat, bahwa: Dunia ini sudah ditaklukkan (Tafsiran Alkitab
Masa Kini II, Ayub sampai Maleakhi 1985:294) dibawah kekuasaan-Nya. Karena
itu musik bukan lagi diperuntukkan bagi para dewa atau patung sebagaimana
kebiasaan orang kafir (Daniel 3:4-5)
2.

Alat Alat Musik Di Dalam Perjanjian Lama


Kendatipun bentuk dan konstruksi alat alat musik dalam Perjanjian Lama

sangat minim, namun melalui nama nama musik yang disebutkan dalam Alkitab
dapat membantu pemahaman terhadap musik tersebut. Penulis Ensiklopedi
Alkitab Masa Kini (1996:111) menyatakan bahwa: Alat alat musik yang
disebut dalam Alkitab dapat dibagi menjadi tiga golongan yakni: alat musik
bertali, alat musik tiup dan alat musik pukul. :
1.

Alat Musik Bertali


Musik bertali adalah alat musik yang dibunyikan ndengan memetik, baik

dengan jari maupun dengan alat petik. Alat alat musik ini antara lain :

a.

Kecapi
Dalam kitab (Kejadian4:21) kecapi adalah alat musik yang pertama

dimainkan oleh Yubal, dimana dia sebagai penawan kecapi kecapi muda
yang dibawa, kemana mana dan sering dipakai oleh para Nabi (1 Samuel
10:5). WN. MCEL. Rath dan Billy Mathias (1978:64) menjelaskan bahwa
Kecapi alat musik kuno yang penting pada zaman Alkitab (1 Samuel
16:23), lain sekali dengan kecapi di Indonesia. Kecapi yang dipakai oleh
Daud sangat sederhana dan mungkin hanya memilki tiga atau empat senar.
Ada kecapi yang memiliki sampai 12 senar. Sembilan kecapi atau lebih
bisa dimainkan di Baith Allah. Suatu alat musik yang mirip dengan gitar
modern. Kecapi suatu alat musik yang dipetik atau yang dimainkan
dengan tangan (1 samuel 16:23).
b. Gambus
Gambus adalah musik yang dipetik dengan jari. Penulis Ensiklopedi
Alkitab Masa Kini (1996:III) menjelaskan bahwa Gambus alat musik
(Yunani Psalterion, Ibrani Nevel) asalnya dari Fenesia, sebab masa
sebelum 1 Samuel 10:5 hanya sedikit hubungan erat antara Israel dan
Fenesia. Karena diusahakan menggambarkan kembali ke bentuk nevel
dengan menetapkan berasal dari suatu akar kata yang berarti botal kulit,
kendi tempayan, digambarkan ada bagian bentuk bulat pada ujung yang di
bawah. Sedangkan WN. MCEL Rath dan Billy Mathias (1978:43) lebih
memperjelaskan bahwa : Gambus adalah alat musik yang memiliki senar,

mirip dengan kecapi, tetapi lebih besar (mazmur 81:3), beberapa gambus
dimainkan di Bait Allah.
c.

Rebab (Daniel 3:5)


Suatu alat musik yang digunakan di masa Perjanjian Lama, terutama

memuliakan para dewa atau patung, dan memuliakan Tuhan sebagai


pencipta alam semesta. Rebab sejenis kecapi kecil, talinya empat dan dapat
menghasilkan nada suara yang tinggi.
2.

Alat Musik Tiup


a.

Seruling ( 1 Raja Raja 1:40;Yesaya 30:29; Kejadian 4:21)


Seruling adalah merupakanalat musik tertua, sudah dikenal di zaman

kitab Pentateuch. Seruling dipakai pada saat upacara sukacita, misalnya


pada pelantikan raja, waktu arak arakan memasuki rumah Allah. Namun
seruling juga dipakai pada saat pertemuan rakyat biasa. Seruling dapat
memperdengarkan nada atau suara yang mengharukan atau merdu
(Yeremia 48:36).
b.

Sangkakala (Yosua 6:1-14)


Musik ini terbuat dari tanduk bintang, namun ada juga yang dari

logam, sangkakala sama dengan nafiri (WN.MCEL Rath dan Billy


Mahtias, 1978:127). Sangkakala adalah musik yang digunakan oleh umat
Israel merebut kota Yerikho sesuai dengan perintah Tuhan kepada Yosua.
Musik ini sebagai tanda memulai peperangan dan mengumpulkan umat
Allah dalam kemah pertemuan. Sangkakala adalah suatu musik tiup yang
besar suaranya, dalam Perjanjian Baru sangkakala digambarkan sebagai

suara yang diperdengarkan para malaikat mendahului kedatangan Tuhan


yang ke dua kali (1 Tesalonika 4:13-18)
c.

Kelentung (2 Samuel 6:5)


Musik ini digunakan mengatur tari tarian, nyanyian di hadapan

Tuhan ketika Daud dan Seluruh kaum Israel bersukacita karena sudah
kembali tabut Allah di kota Yerusalem. Kelentung ini mirip dengan
gemerincing di zaman Mesir Kuno, Yang berhasil diselamatkan dan
masih tersimpan, berbentuk lonjong pada suatu pegangan disitu dipasang
tongkat tongkat kecil dengan cincin yang lepas, yang berdering dering
bersama sama jika alat itu digerakkan (Ensiklopedi Alkitab Masa Kini,
1996:112)
3.

Alat Musik Pukul


a.

Giring Giring (Keluaran 28:33-35)


Penulis Ensiklopedi Alkitab Masa Kini (1996:112) kembali

menjelaskan bahwa: Giring giring yang mengacu kepada giring giring


pada pakaian Harun, Imam besar, Bahasa Ibrani paamon akar katanya
berarti memukul. Selanjutnya WN. McERath dan Billy Mathias
(1978:46) mempertegas bahwa: Giring Giring adalah bel bel kecil
terbuat dari emas yang dijepit pada puncak jubah Imam besar, berselang
selang dengan perhiasan tiruan buah delima
b.

Kerincing Kerincing Kuda (Zakaria 14 :20)


Dalam bahasa Ibrani musik ini disebut Mestilla sejenis lonceng kecil

yang digantungkan pada tali kakang kuda, yang terdiri dari cakram logam

atau genta genta kecil, dimana bila disentuh atau dipukulkan akan
mengeluarkan bunyi bunyian.
c.

Ceracap (Mazmur 150:5)


Ceracap dikenal ada dua macam pada zaman kuno yakni, terdiri dari

dua belahan logam yang bentuknya sejenis piringan atau tempurung,


memiliki pegangan tangan, cara memakainya dipukulkan satu dengan yang
lain. Sedangkan bentuknya yang lain adalah sejenis cawan, teknis
penggunaanya cawan yang satu diam ditempat dan yang satu lagi
dipukulkan kepada yang lain sehingga menghasilkan suara atau bunyi
bunyian.
d.

Rebana (Kel. 15:20; Yesaya 5:12; I Samuel 18:6)


Alat musik ini orang Ibrani menyebutnya tof, sejenis tambur. Alat

musik ini dapat juga berbentuk: Gendang kecil yang digoyang


goyangkan dan dipukul oleh tangan (WN. McElrat dan Billy Mahtias,
1978:119). Suara yang dikeluarkan olehnya menggesek, biasanya pada
waktu kegembiraan atau membuat situasi riang. Secara umum telah
disebutkan alat alat musik yang tiga golongan tersebut, namun masih
banyak jenis jenis musik di zaman Alkitab, hal itulah yang akan diteliti
kemudian juga termasuk teknis penggunaanya.
3.

Musik pada Perjanjian Baru dan Gereja Mula - Mula


Penggunaan musik dan nyanyian Mazmur kelihatan di zaman

Perjanjian Baru dan gereja mula mula diaktifkan penggunaanya (Kolose


3:16: Efesus 5:19) artinya musik dan nyanyian di zaman Perjanjian Lama

digunakan oleh jemaat pada zaman Perjanjian Baru untuk memuji Tuhan
(Matius 26:30; I Korintus 14:26; Roma 15:9). Perkembangan musik dan
pemakaian mazmur mulai merosot menjelang kehancuran Yerusalem oleh
panglima Romawi Jenderal Titus (tahun 70 sesudah masehi). Dimana
orang orang Kristen Yahudi pindah ke daerah sebelah timur Yordan,
mereka kurang berhubungan dengan gereja di Yerusalem. Mereka sering
disebut ebinoit artinya orang orang miskin. Pada akhirnya mereka
dipandang pemberontak dan penyesat karena mereka menolak ajaran
paulus bahkan tidak mengakui bahwa Yesus dilahirkan oleh perawan
Maria. Menurut H. Berkhof fan I.H. Enklaar (1992:9) bahwa :Disamping
Perjanjian Lama, mereka memakai Injil orang Ibrani suatu Kitab Apokrif,
lama kelamaan orang eboinit dilupakan dan sejak palestina di duduki
oleh orang Arab pada abad ke VII tidak ada kedengaran lagi golongan
Kristen bekas Yahudi itu.
Setelah runtuhnya Bait Allah, maka penyembahan berkembang
sedemikian rupa, terlihat pada penataan liturgi yang amat formal.
Perbedaan pemahaman terhadap eukaristi sangat berpengaruh terhadap tata
ibadah, termasuk pemakaian musik dan nyanyian yang tidak semarak
seperti di zaman Perjanjian Lama. Berkaitan dengan perkembangan
nyanyian dan musik di zaman Perjanjian Baru dan jemaat mula mula
Mike dan Hibbertviv (1988:22) kembali menjelaskan :
Pada jemaat mula mula jenis musik lain yang digunakan adalah :
Himne, orang Yunani menyebutnya (Humnos). Hal ini merupakan

lagu lagu gubahan zaman Perjanjian Baru, yang mengandung pesan


Kristus dan prinsip prinsip hidup orang Kristen. Jenis lainnya adalah
Pneumatikos ode yaitu nyanyian rohani, suatu nyanyian yang mengisahkan
peristiwa pentakosta atau turunnya Roh Kudus. Dalam acara tertentu
seperti mendoakan orang orang sakit, maka nyanyian juga mendapat
tempat untuk menguatkan imam sipenderita (Yakobus 5:13) dan
sebagainya.
Peranan musik, nyanyian dan pujian (Humnos) kepada Allah
diperlihatkan oleh Yesus sebelum Ia menghadapi kematian-Nya (Matius
20:30-35). Nampaknya bahwa musik dan nyanyian mempunyai pengaruh
yang besar pada pelayanan Yesus selama di dunia ini dan hal itu yang
diketahui oleh para Murid-Nya di kemudian hari pada pelayanan mereka.
4.

Musik Gereja (Abad ke II Pecahnya Gereja Timur Barat)


Keadaan Gereja Kristen pada zaman sesudah segala godaan yang

mengancam kehidupan gereja pada abad ke II hingga pecahnya Gereja Timur dan
Barat (Tahun 1054). Musik gereja di zaman ini adalah dikenal jenis musik
Gregorius dan selanjutnya lebih berkembang lagi pada masa Sri Paus Leo ke IV.
Sifat musik ini adalah monofon, yang mengandung pengertian monos artinya
tunggal, phooneoo artinya berbunyi. Musik ini terdiri dari satu suara saja, tanpa
diiringi apapun. Jemaat menggunakannya dalam kehidupan sehari hari pada
waktu ibadah.
Psalmodi adalah salah satu musik yang digunakan terutama dalam ibadah
harian. Musik ini merupakan perkembangan musik psalmodi (Mazmur) Yahudi.

Pada prakteknya jemaat pada refren setiap pembacaan mazmur menjawab


(responsoria) misalnya Alleluia. Musik ini dimainkan dengan penuh hikmat pada
saat berlangsung ibadah dalam gereja. Untuk memperjelas manfaat musik ini,
Karl-Edmund Prier SJ, (1991:101) menuliskan bahwa : Pada saat ibadah dan
musik gregorian ini dimainkan maka ia mampu mencerminkan perasaan
ketenangan dan renungan. Perpecahan gereja atas perselisihan mengenai kedua
tabiat Kristus, menimbulkan kedua gereja tersebut mengambil jalan masing
masing dan membuat suatu tradisi yang saling berbeda. Dimana :
Di Gereja timur terdapat suatu jenis musik yang terkenal yaitu Himne By
Zantine. Mereka berusaha merenungkan Allah yang mistik dan merenungkan
kebenaran-Nya di dalam setiap ibadah yang syairnya dikarang sendiri.
Diantaranya yang terkenal adalah Troparia yakni suatu kalimat pendek bernada
doa dan disisipkan di antara mazmur. Kebanyakan Himne by Zantine dinyanyikan
untuk paduan suara biara. Musik Himne by Zantine dikatakan oleh Suh Kwang
Jong (1996:12) Mempunyai kekuatan yang luar biasa sebagai pertahanan bagi
iman ortodoks.
Sedangkan Gereja Barat menganggap bahwa Himne By Zantine
mengandung nilai mistik yang tidak sesuai dengan dogma Gereja Barat. Namun
Gereja Barat membuat Himne yang berbahasa latin. Bahkan Ambrosius mengakui
adanya kuasa dalam musik dan nyanyian Himne By Zantine. Karena itu dia
perintahkan agar yang dibuat dalam bahasa latin mengandung

dogma dasar

Kristen seperti ajaran dasar ke-Kristenan dan Trinitas. Hanya bedanya dengan

Gereja Timur menyadur syairnya dari mazmur dalam Alkitab. Himne Ambrosius
ini dikemudian hari menjadi dasar Himne gereja protestan Jerman.
Setelah Gregorius Agung (tahun 590-604) menduduki kepausan, maka ia
merasa perlu ada usaha untuk mengabarkan Injil keseluruh negeri, dan musikpun
diikutkan di dalamnya. Ia berusaha menciptakan suatu musik monofon yaitu
musik Gregorius yang musiknya berpengaruh dalam nyanyian Gereja Katolik.
Berkaitan dengan musik ini dan pengaruhnya terhadap pertumbuhan gereja
dikatakan oleh Mc. Neil (1998:28) bahwa Penulisan notasi musiknya baru
dilakukan pada abad ke 9. Hal ini dilakukan agar lagu lagu bisa dikembangkan
dan ditransmisikan dengan tepat pada setiap wilayah. Demikianlah betapa
pentingnya musik dalam ibadah perayaan dan ibadah harian para jemaat katolik.
Perkembangan musiknya mulai dari monofon, hingga akhirnya menjadi koor yang
terdiri dari empat suara (polifon). Musik polifon pertam tama sering juga
disebut dengan organum (organ pipa), dan musik ini berkembang pada masa 1150
1300.
Perkembangan musikGereja Barat pada abad ke 13, ada suatu penemuan
baru berupa pertunjukan yaitu, jenis drama liturgi, dimana pada hari Paskah dan
Natal dibuat suatu dialog dialog yang dinyanyikan dan diperagakan di dalam
ibadah, namun pada selanjutnya drama liturgi ini tidak lagi dipakai di dalam
ibadah tetapi diluar ibadah dan dramanya biasanya menceritakan tentang
kehidupan dan pelayanan Yesus di dunia, (Karl Edmund Prier SJ, 1991:96)

5.

Musik Zaman Gereja Katolik


Musik Gereja Katolik sejak konsili Trente (1545 1563) memutuskan

untuk membaharui nyanyian Gregorian. Maka pada tahun 1614 diterbitkan


Edition Medicea. Nyanyian Gregorian dibawakan secara khusus oleh paduan
suara dan diiringi musik instrumental

atau organ. Sejak itu musik instrumental

bisa digunakandi dalam ibadah gereja. Tetapi pada abad ke 19 tradisi musik
mengalami kemunduran, lebih lebih setelah munculnya cara berfikir idealisme
dan rasionalisme. Dimana iman warga gereja mulai terganggu, musik gereja mulai
membuka

diri pada hal hal sekuler keterbukaan pada hal hal duniawi,

sehingga kemerosotan otoritas musik gerejawi mulai menurun.


Peraturan peraturan Gereja Katolik yang mendasar pada missi dan
doktrin lainnya mengakibatkan liturgis gereja yang mononton termasuk nyanyian
dan musik yang selalu diseleksi harus tunduk pada doktrin gereja Katolik.
Sehingga nyanyian lebih difokuskan pada paduan suara, akhirnya musik tersingkir
dan terbatas penggunaanya.
6.

Musik pada Zaman Reformasi


Gerakan reformasi yang mulai muncul pada awal abad ke 16, timbul atas

dasar beberapa hal, diantaranya karena Paus menyeleweng dari ajaran Alkitab
yang terkesan membodohi jemaat terutama pada aspek keselamatan yang
ditawarkan Paus, sekaligus jabatan kepausan yang dianggap otoriter. Setelah
terjadinya pembaharuan oleh para reformator dan berdirinya gereja protestan,
maka selain Teologia, Struktur organisasi, doktrin, juga terjadi pembaharuan di
bidang musik dan nyanyian gerejawi.

Luther adalah seorang yang sangat tabah dalam menghadapi reformasi,


dimana pada puncak gerakan ini tepat pada tanggal 31 Oktober 1517 di kota
Wittenberg Jerman yang sampai hari ini diakui sebagai awal sejarah Gereja
Protestan. Marthin Luther yang sudah lebih dari sepuluh tahun belajar di biara
Ordo Agustini dan memperoleh segudang ilmu pengetahuan Teologi Katolik
Roma. Namun ia bukan hanya seorang teolog dan perumus doktrin iman Kristen
Protestan yang terkenal dengan 3 S (Sola Vide, Sola Gratia dan Sola Scriptura)
melainkan Luther juga seorang pencipta musik, penyanyi dan komponis.
Luther pengarang tata suara musik politon yang lumayan, nyanyian
jemaat semakin dirasakan penting untuk ibadah. Luther mengubah 36 nyanyian
jemaat (HA. Pandopo, 1983:8). Musik atau nyanyian mendapat tempat yang
sangat penting bagi Luther, Luther sarankan, seorang rohanian yang tidak dapat
menyanyi, bukanlah rohaniawan yang baik dan lengkap, para calon pendeta
jangan diteguhkan dalam jabatannya, kecuali kalau sudah terlihat betul dalam
jurusan musik.
Salah satu kutipan mengenai musik, tulisan Luther pada tahun 1530 untuk
menentang kaum spiritual yang menganggap seni suara kurang rohani antara lain
Aku mencintai musik dan aku tidak senang dengan kaum spiritualis yang
mengutuknya. Karena musik itu merupakan karunia Allah, dan bukan pemberian
manusia, membuat jiwa bergembira, menguir iblis, menimbulkan kesukaan tak
bernada, sedangkan kemarahan, nafsu dan kepenatan lenyap. Aku memberi musik
sesudah Teologia. Lihat saja contoh Daud dan semua Nabi, karena mereka

mewariskan seluruh maksud mereka dalam syair dan nyanyian. Sebab musik
berkembang pada masa damai (HA. Pandopo, 1983:9).
Pada akhir abad ke 4 Uskup Ambrosius mengembangkan bentuk nyanyian
jemaat yang disebut Hymne artinya nyanyian pujian dari suatu kebudayaan
Yunani Romawi. Karena pada zaman itu umat Kristen telah diakui sebagai
agam yang sah, rumah rumah ibadah penuh, tetapi mereka kurang mampu
menyanyikan lagu lagu mazmur yang sulit. Maka ketika Ambrosius membuat
nyanyian bentuk strife, ciri cirinya adalah setiap bait tersusun dari empat
kalimat dan setiap kalimat terdiri atas delapan suku kata. Nyanyian Hymne
Ambrosisus kemudian menjadi tradisi dalam gereja, disamping nyanyian
Gregorian : Luther sangat menyetujui cara Ambrosius itu dan menterjemahkan
beberapa Hymen dari TradisiAmbrosius ke dalam bahasa Jerman. Selain itu,
Luther juga menyenangi nyanyian nyanyian lain yang pada abad pertengahan
dikembangkan khusus untuk jemaat, seperti nyanyian sekwansia dan nyanyian
Leis. Akhirnya Luther sendiri mengubah syair dengan lagu lagu yang sesuai
dengan perkembangan kebudayaan Renaissance yang berbeda pada zaman itu
(H.A. Pandopo, 1983:13).
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Luther tidak hanya mengubah
syair nyanyian jemaat tetapi juga mengubah lagu lagu yang banyak mewarnai
gereja protestan sekarang ini. Ia tidak hanya pandai menyanyi dan memainkan
gambus, tetapi juga menciptakan musik yang baik. Nyanyian Luther sangat
berbobot secara Teologis dan didaktis kata kata syairnya sangat ekspresif,
dimana sangat mencerminkan kedahsyatan dan pada sisi lain menunjukkan

kelemah-lembutan, yang berfungsi membangun dan meneguhkan Iman warga


gereja.
Marthin Luther mulai memperbaharui nyanyian Gereja dan mencobanya
dengan hati hati dengan kembali kepada Alkitab. Hal itu dilakukannya
mengingat orang orang yang lemah dalam Iman dan mengisi semangat yang
baru dan iman

yang hidup. Firman Allah harus berada di tengah tengah

kehidupan, sebab arti kebaktian bukanlah karena Allah memerlukan pelayanan


kita, atau kita dengan pujian - pujian keselamatan kita, melainkan bahwa Allah
mau melayani kita dengan Injil Kasih Karunia dalam Kristus, maka seluruh pujian
kita merupakan pemberian Injil.
Pada Gereja Protestan nyanyian di nyanyikan oleh seluruh warga jemaat
secara bersama sama, berbeda dengan nyanyian dalam Gereja Katolik Roma
yang hanya dinyanyikan oleh Imam dan Paduan Suara. Jemaat menyanyikan
sekali nyanyian yang sangat singkat, misalnya pada acara ekasistis (Missa). Musik
dan nyanyian gagasan Marthin Luther ini diwariskan pada Gereja Protestan, yang
dapat diikuti oleh seluruh jemaat pada umumnya memahami bentuk :Storfik
yaitu setiap ayat disusun dengan melodi yang sama. Dengan demikian anggota
jemaat bisa ikut serta menyanyikan lagu lagu pujian dalam ibadah umum, jenis
lagu ini disebut Karl :Lagu Gereja (Mc Neil Rhoderich, 1997:101).
Lain halnya dengan Calvin (1504 1509) dan Ylrich Zwingli (1484
1531) dua tokoh reformasi ini sangat berhati hati sekali terhadap musik dan
liturgis gereja, dimana mereka menolak tradisi musik yang mengandung unsur

Katolik, kurang terbuka terhadap peranan musik dalam ibadah. Hal itu terlihat di
gereja gereja Protestan di Perancis, Belanda dan Swiss.
Zwingli berbangsa Swiss adalah seorang pecinta musik, tetapi pada
akhirnya ia menelah musik dalam ibadah, hal itu nampak pada para pengikutnya,
dimana pada tahun 1524, pemakaian organ dalam ibadah dilarang, bahkan hampir
350 tahun di gereja grossmunster di kota Zurich musik tidak diperdengarkan.
Alasan penolakan ini adalah selain

musik mengandung unsur sekuler, juga

mengganggu konsentrasi pada saat ibadah, berdoa dan mendengar Firman, hal itu
berkaitan bahwa mutu musik di Zurich kurang berkembang (McNEil Rhoderich,
1998:103). Lain halnya dengan Johanes Calvin selangkah lebih maju pola
pikirannya di banding Zwingli tentang musik. Sebenarnya Calvin bukan pecinta
musik, namun ia mengenal dan mengetahui ide ide dari Yunani Kuno mengenai
musik. Karena itu Calvin percaya bahwa musik mempunyai kekuatan
mempengaruhi kehidupan manusia. Disamping itu ia percaya bahwa musik
bersumber dari Tuhan dan perlu digunakan memuliakan nama-Nya, namun ia
hanya Membatasi pada penggunaan musik vocal monofonik, tidak mengizinkan
musik instrumental dan hanya memakai nyanyian yang bersumber dari Alkitab.
Menyanyikan mazmur metis dalam polifonik tidak diperbolehkan di gereja, tetapi
hanya untuk dipakai dirumah (McNeil Rhoderich, 1987 :105).
Dikemudian hari khusus pada abad ke 18, seorang musisi protestan yang
bernama Johann Sebastian Bach, berusaha mencerminkan iman manusia melalui
musik gereja dengan dunia sekitarnya yang berdasarkan pandangan humanisme
yang dikaitkan dengan filsafat di masa itu (Hegel, Kant, dsb).Ia berusaha

mensejajarkan musik rohani atau liturgi dengan kebutuhan manusia. Akibatnya


musik gereja hanya dipandang berfungsi sebagai sarana saja, ia bukan bagian
yang sangat penting dari ibadah sebagaimana pandangan Luther. Musik hanya
dipahami sebatas membuat suasana hikmat, sejak saat itulah ibadahpun dapat
berjalan tanpa musik dan dirasakan syair nyanyianpun mulai dangkal.
7.

Musik Pada Gereja di Indonesia


Pekabaran Injil ke Indonesia oleh Gereja dan zending Eropa yang

membawa kesan baru baik oleh Missi Roma Katolik (Portugis dan Spanyol),
maupun Missi protestan seperti Belanda, Jerman, Inggris dan sebagainya.
Kedatangan Missioner ini dibonceng oleh kepentingan jajahan, dimana disamping
menguasai sendi sendi perdagangan, mengembangkan pendidikan dan sambil
memberitakan Injil. Sering gereja dijadikan sebagai alat untuk memenangkan
masyarakat agar tidak menentang penjajah. Hal itu yang sering mempersulit Missi
Gereja dan dianggap sebagai perpanjangan tangan kolonialisme.
Secara khusus mengenai musik adalah merupakan barang import dari
Eropa atau Barat ke Indonesia. Melalui musik dan nyanyian gereja ini secara tidak
langsung budaya Barat telah menguasai budaya pribumi, khususnya musik dan
nyanyian rohani di Indonesia. Hal itu hingga sekarang masih diwariskan, bahkan
terkadang ada persepsi bahwa musik dan nyanyian Barat tersebut sebagai musik
dan nyanyian yang sudah lebih benar. Pada hal sebenarnya gereja gereja di
Indonesia sendiri, terutama gereja gereja suku mempunyai ciri khas menurut
daerah masing masing. Sayangnya gereja belum mempergunakan musik

daerahsebagai pemberian Allah yang cukup indah untuk mengungkapkan iman


dan kesaksian melalui musik atau nyanyian menurut ciri khas daerah (suku).
Persoalan yang dihadapi selama ini adalah karena adanya kesan terutama
Missioner Eropa memandang musik pribumi mengandung kepercayaan lama
(occultisme). Lebih dari itu missioner Barat memandang bahwa kualitas musik
dan nyanyian pribumi adalah rendah, perlu dijauhi atau disingkirkan. Kebijakan
para missioner tentang musik yang menggantikannya dengan peradaban mereka
(Civilisatie). Akibat dari pemberlakuan ini, selain juga mengabsolutkan budaya
Barat khususnya dibidangi musik dan nyanyian bagi gereja gereja pribumi juga
mematikan penggunaan musik dan nyanyian tradisional. Perlu disyukuri sekitar
30 tahun belakangan ini musik dan kesenian daerah mulai dipergunakan di gereja
gereja di antaranya di pulau Jawa dan ada juga beberapa gereja suku yang
menggunakan wayang dan angklung untuk mengungkapkan kesaksian dan iman,
menceritakan Firman Tuhan pada perayaan perayaan tertentu. Namun menurut
laporan Dewan Gereja Gereja di Indonesia (DGI) tahun 1979 bahwa hal hal
tersebut dipakai: hanya sebatas pada perayaan tertentu di dalam gereja. Bahkan
masih ada beberapa gereja betul betul menolak untuk memakai kesenian atau
musik daerah di dalam gereja (F.Ukur dan Cooky FL. 1979:120)

II. Fungsi Musik Dalam Ibadah Gereja


Hampir seluruh denominasi gereja menyadari bahwa musik berfungsi
menumbuhkan iman warga Gereja, kendatipun masih ada sebagian denominasi
yang belum terbuka terhadap peranan musik dalam ibadah. Namun fakta
menunjukkan bahwa pada umumnya gereja telah menggunakan musik pada saat

berlangsungnya ibadah. Sebagai contoh pada ibadah yang berlangsung pada


kebaktian Minggu, dimana nyanyian rohani yang dikumandangkan selalu diiringi
dengan musik misalnya organ. Kelihatannya bahwa tanpa musik dalam ibadah
hampa dan kurang sempurna. Musik sangat besar peranannya pada liturgis gereja.
Dengan bantuan alat musik, maka tinggi rendah nada dapat ditentukan dengan
benar. Keteraturan bernyanyi, keharmonisan suara serta keindahannya dapat
menimbulkan semangat dan ketaatan memuliakan Tuhan.
Pada hakekatnya nyanyian jemaat atau lagu lagu rohani oleh para
penciptanya mengarang syairnya berdasarkan Firman Allah (Alkitab). Ratusan
lagu yang disatukan dalam sebuah buku nyanyian dan digunakan oleh gereja,
merupakan pergumulan yang tidak mudah. Melalui syair lagu lagu nyanyian
rohani merupakan pengungkapan iman untuk memuliakan Allah.
Tentang fungsi musik dan nyanyian, Abineno (1966:111) menjelaskan
bahwa: nyanyian jemaat mempunyai fungsi kembar yaitu bahwa ia merupakan
cara untuk memberitakan Firman Tuhan dan bahwa ia juga adalah suatu jawaban
terhadap Firman Tuhan yang diberitakan. Nyanyian yang dikumandangkan oleh
jemaat ketika berlangsung ibadah dan dikendalikan oleh musik, tidak hanya
sekedar nyanyian rutin sebagaimana pada pemahaman dunia sekuler tanpa fungsi
dan makna ganda.Mawene (2004) menjelaskan

bahwa fungsi

musik dalam

ibadah gereja adalah untuk memuliakan Allah.Selain itu dampak baiknya dalah
memberikan pendidikan kepada warga jemaat dengan nyanyian, hal ini juga
mencerminkan jenis perkembangan teologis yang sedang berlangsung dalam
gereja tersebut, melalui musik yang terjadi dalam sebuah liturgi (ibadah), umat

mampu berefleksi dalam kehidupannya.Menurut Rachman (1999) fungsi musik di


dalam liturgi adalah melayankan ibadah secara sederhana, tetapi pantas dan
bermutu tinggi.Pada buku Panduan Musik dalam Ibadah, Sinode Gereja Kristen
Indonesia menuliskan bahwa makna musik dalam ibadah gereja adalah ungkapan
simbolis perayaan imanjemaat.

Perayaan iman yang dimaksud adalah

penghayatan terhadap misteri dalam agama Kristen dalam diriKristus sebagai


sosok penyelamat yang benar-benar menyentuh perasaan umat dalam nyanyian,
oleh karena itu hubungan musik dan liturgi (seharusnya) bersifat harmonis, yaitu
keseimbangan yang pas antara musik dan penghayatan iman menjadi tidak
terpisahkan.Unsur musik dalam gereja seharusnya memiliki keterkaitan dengan
gereja dalam hal pengembangan kehidupan spiritualitas, sumber daya, organisasi
gereja, mentalitas, keahlian, integritas keteladanan umat beriman yang harus
senantiasa dipikirkan oleh gereja sebagai organisasi.Dengan begitu musik menjadi
alat teologi dalam mendidik umat yang bertujuan mencerdaskan umat untuk
berperilaku yang baik sesuai ajaran gereja.
Musik bagaikan urat nadi pada nyanyian rohani jemaat. Karena itu musik
sangat dibutuhkan dalam pertumbuhan iman warga gereja. Kedudukan musik dan
nyanyian tidak boleh dianggap rendah, malahan ia sebagai salah satu bentuk
pemberitaan Firman Allah, disamping perwartaan Firman melalui khotbah, setiap
kali musik dan nyanyian dikumandangkan pada waktu ibadah berlangsung, maka
pada saat itu juga orang percaya sedang memberitakan Firman Allah kepada
seluruh pendengar, sebaliknya melalui nyanyian adalah sebagai salah satu bentuk
respon terhadap pemberitaan Firman Allah.

KESIMPULAN
Melalui uraian yang telah diketengahkan pada tulisan ini dapat diketahui
beberapa hal sebagai berikut:
1.

Di dalam Alkitab telah digunakan sejumlah alat musik untuk mengiringi


nyanyian pada acara ibadah orang prang percaya. Pada abad pertama,
musik telah berkembang di lingkungan gereja ketimbang di lingkungan
sekuler. Dengan adanya musik dalam mengiring nyanyian pada saat ibadah
berlangsung sangat membantu pertumbuhan missi gereja baik kedalam
maupun ke luar;

2.

Musik gereja dapat dibagi dua yakni, musik liturgis atau musik ibadah dan
musik rohani atau nyanyian rohani. Didalam perkembangannya keduanya
mempunyai tempat dan fungsi yang berbeda;

3.

Musik atau nyanyian diyakini sebagai Anugerah Tuhan yang harus dipakai
oleh

gereja

untuk

memuliakan

Tuhan,

musik

telah

membantu

pertumbuhan gereja baik secara kuantitas maupun kualitas;


4.

Musik dan nyanyian, dua hal yang tidak bisa dipisahkan sekalipun dapat
dibedakan, merupakan ungkapan syukur, ungkapan kepercayaan, bahkan
sebagai salah satu bentuk cara pemberitaan Firman Tuhan sekaligus
sebagai respon terhadapa pemberitaan Firman Allah;

5.

Secara realitas bahwa alat alat musik sebagai pengiring nyanyian pada
masa Alkitab Perjanjian Lama dan Perjan jian Baru cukup kaya, tetapi
sayang sekali kurang digali oleh gereja dan penyelenggara musik gereja
dewasa ini

6.

Musik pada ibadah gereja berfungsi

sebagai alat teologi yaitu media

memberitakan Firman Tuhan, jawaban terhadap Firman Tuhan, untuk


memuliakan Allah,

mencerminkan jenis perkembangan teologis yang

sedang berlangsung dalam gereja, melalui musik umat mampu berefleksi


dalam kehidupannya, melayankan ibadah secara sederhana, tetapi pantas
dan bermutu tinggi.Juga berfungsi sebagai ungkapan simbolis perayaan
iman jemaat,
7.

Agar musik dapat berfungsi dengan baik, maha hubungan musik dan
liturgi (seharusnya) bersifat harmonis, Unsur musik dalam gereja harus
memiliki keterkaitan pengembangan kehidupan spiritualitas, sumber daya,
organisasi gereja, mentalitas, keahlian, integritas keteladanan umat
beriman musik menjadi alat teologi dalam mendidik umat yang bertujuan
mencerdaskan umat untuk berperilaku yang baik sesuai ajaran gereja.

DAFTAR PUSTAKA

Abineno Jl. Ch., 1966. Unsur unsur Literatur. Jakarta : BPK Gunung Mulia.
Boland BJ, dan Nistich Van GC. 1990. Dogmatika Masa Kini. Jakarta : BPK
Gunung Mulia.
Enklaar I.H dan Berkhof H., 1992. Sejarah Gereja.Jakarta: BPK Gunung Mulia.
Ensiklopedi Alkitab Masa Kini Jilid 2. 1996.Yayasan Komunikasi Bina
Kasih/OFM. Jakarta

Jongkwang Sah, Hymne By Zantine. 1996. Majalah Tehillah. Semarang : CV.


Gloria, Indotama., J.Rhoderich McNeil. 1997. Sejarah Musik I. Jakarta :
BPK Gunung Mulia.
Kooiman WJ. 1989. Marthin Luther. Jakarta: BPK Gunung Mulia.
Mathias Billy dan Rath McEl. WN. 1978.Ensiklopedi Alkitab Praktis.Bandung
:LLB.
Mawene, Gereje yang Bernyanyi, Yogyakarta: Andi, 2004
Mike Hibbertviv. 1988.Pelayanan Musik .Jogjakarta :Yayasan Andi.
Pandopo A.H. 1989. Luther Sibulbul dari Wittenberg. Jakarta :BPK Gunung
Mulia.
Poerwadarminta WJS. 1984.Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai
Pustaka.
Rachman, Rasid. (1999) Nyanyian Jemaat dalam Liturgi, Tangerang: Bintang
Fajar.
Rowley H.H. 1983. Ibadah Israel Kuno. Jakarta :BPK Gunung Mulia.
SJ. Heuken A. 1993.Ensikolpedi Gereja. Jakarta :Binaloba Karya.
SJ. Prier Ed Mund Kalr. 1991.Sejarah Musik Jilid I & II Pusat Musik Liturgi.
Jogjakarta.
Tafsiran Alkitab Masa Kini 2.1979. Ayub Maleakhi. Jakarta: BPK Gunung
Mulia.
Wagner C. Peter, Gereja Saudara Dapat Bertumbuh, Gandum Mas, Malang, 1990.
Welkem F.D, Kamus Sejarah Gereja, BPK Gunung Mulia, Jakarta, 1994.