Anda di halaman 1dari 34

[Type the document subtitle] | Ummu Hammam

OLEH:
ANGGA SRI ADHITYA WISHNU/04
EVY ARISKA NOVELIA/07
WAHYU BAGUS NUR CAHYO/23
YANSENTLEY YUDHISTIRA/24

KELAS 8D
SEKOLAH TINGGI AKUTANSI
NEGARA
PROGRAM DIPLOMA IV

PENERAPAN SISTEM
PENGENDALIAN MANAJEMEN:
STUDI KASUS PT GARUDA
INDONESIA,TBK

STUDI KASUS:
1. GARUDA DIMINTA BERBENAH DAN MENAMBAH AWAK PESAWAT
SENIN, 22 NOVEMBER 2010 | 10:49 WIB
Garuda Diminta Berbenah dan Menambah Awak Pesawat

Antrean penumpang pesawat Garuda Indonesia di loket check in Terminal 2 F


Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, Senin (22/11). TEMPO/Subekti.
TEMPO Interaktif, Jakarta Maskapai
Garuda
Indonesia
diminta
membenahi sistem pengawasan dan menambah jumlah awak pesawatnya.
Rasio jumlah pesawat dengan awak Garuda saat ini dinilai tak sebanding.
"Harusnya
perencanaan
pengadaan
pesawat
penambahan crew," kata Presiden Asosiasi Pilot
Gerrardus, saat dihubungi, Senin (22/11).

diimbangi
dengan
Garuda, Stephanus

Sebelumnya, Kepala Humas Garuda, Pujobroto, mengatakan sejumlah rute


layanan penerbangan maskapai Garuda Indonesia dari Jakarta mengalami
keterlambatan (delay) pada Minggu (21/11). Sejumlah penerbangan Garuda
ke kota besar di Sumatera, Jawa, dan Bali mengalami penundaan. Rute yang
mengalami keterlambatan di antaranya, Medan, Banda Aceh, Padang,
Batam, Semarang, dan Denpasar.
Stephanus membantah keterlambatan itu akibat pilot Garuda mogok tugas.
"Keterlambatan itu tak ada kaitannya dengan aksi mogok pilot. Kami, para
pilot, babak belur terbang untuk Garuda kok diisukan penyebab
keterlambatan," ujarnya.

Sistem Pengendalian Manajemen PT Garuda Indonesia, Tbk.

Masalah itu, kata dia, disebabkan tidak sinkronnya data pada transisi sistem
lama ke sistem baru sehingga tak terintegrasi. Terdapat perbedaan data
yang berakibat pada keterlambatan penerbangan.
Stephanus mengatakan data seluruh awak harus dimonitor dengan teliti.
Sehingga, manajemen mengetahui awak yang tengah terbang maupun lepas
tugas.
Saat ini, manajemen tak mengetahui persis data keberadaan awak Garuda
secara detail. Selain itu, awak pesawat harus diberi waktu istirahat setelah
bertugas. "Jangan dadakan ditugaskan. Itu melanggar undang-undang dan
membahayakan keselamatan penerbangan," ujarnya
Menurut dia, Garuda saat ini memiliki jumlah pesawat yang berlebih.
Mestinya, sejak tiga tahun lalu Garuda menambah jumlah awaknya.
Penambahan rute penerbangan pun berakibat kekacauan jadwal. "Dalam
keadaan normal, penambahan rute menyebabkan kekacauan. Ditutupnya
operasi Bandara Adisutjipto Jogjakarta sebenarnya membantu kelancaran
operasi Garuda," katanya. (KURNIASIH BUDI)

2. Emirsyah Satar: Garuda Terbang karena Berbenah


Posted on September 3, 2011 by Ario Fajar
http://swa.co.id/listed-articles/emirsyah-satar-garuda-terbang-karenaberbenah

Kesuksesan PT Garuda Indonesia Tbk sebagai maskapai penerbangan


unggulan bukan karena plat merah, tetapi performa layanan dan kualitas
sumber daya manusia yang tidak diragukan. Namun, berita bagus ini
tidaklah turun dari langit. Perlu pembenahan yang maksimal di tubuh
manajemen Garuda.
Pernyataan tersebut diungkapkan Direktur Utama PT. Garuda Indonesia
Tbk, Emirsyah Satar. Ini bukan hanya keberhasilan satu dua orang tapi
juga
keberhasilan
managemen
yang
mau
berbenah
dan
berubah. MilestoneGaruda Indonesia dimulai pada tahun 2005-2006. Saat
itu, Garuda berusaha untuk survive dari keterpurukan. Tahun 2007-2009
proses dimana turnaround dilakukan. Tahun 2010 hingga sekarang adalah

Sistem Pengendalian Manajemen PT Garuda Indonesia, Tbk.

masa pertumbuhan Garuda Indonesia yakni dengan mencipatakan inovasi


dan membenahi sistem.
Keberhasilan itu ditunjang dari dua aspek. Pertama layanan dan kedua
SDM. Untuk layanan misalnya, Garuda Indonesia sudah sejak empat-lima
tahun silam melakukan pembenahan. Mulai dari branding hingga mencari
identitas/karakter pesawat ditengah banyaknya maskapai lokal dan asing.
Emir mengatakan salah satu cara mengembangkan perusahaan adalah
dengan menjadi unik. Saat maskapai penerbangan lain menerapkan low
cost carrrier, Garuda Indonesia justru semakin meningkatkan pelayanan.
Layanan Garuda Indonesia tersebut dengan sebutan Garuda Indonesia
Experience yang diluncurkan sebagai salah satu bentuk penyajian kualitas
layaan khas Indonesia yang digali dari akar kebudayaan Indonesia. Garuda
Indonesia Experience diluncurkan diakhir tahun 2009.
Nuansa yang disajikan kental akan budaya Indonesia. Mulai dari senyum
yang ramah para pramugari, seragam batik khas Indonesia, makanan cita
rasa Indonesia, hingga wangi-wangian aromaterapi yang sangat Indonesia.
Kami rancang se-Indonesia mungkin agar identitas ke-Indonesia-annya
keluar dan mengena dibanyak orang, terang Emir.
Layanan khas Indonesia tersebut mencakup unsur lima indera, mulai dari
apa yang dilihat, dirasa, dihirup, didengar dan diraba. Kekayaan budaya
Indonesia menjadi hal utama dalam pelayanan Garuda Indonesia.
Pertama, penglihatan. Misalnya dinding di kantor atau di executive
lounge yang dibuat seperti anyaman gedek bambu, begitu juga partisi
dipesawat pun bermotif anyaman gedek bambu. Kedua adalah rasa.
Garuda Indonesia menyajikan makanan-makanan khas Indonesia seperti
pudding lidah buaya, nasi uduk, dan sate padang. Ketiga, pendengaran.
Garuda Indonesia menyiapkan musik khas Indonesia yang diarrasemen
secara modern oleh musikus terkenal Addie MS. Untuk hal yang berkaitan
dengan indera penciuman, Garuda Indonesia ingin memperkenalkan
arometrapi khas Indonesia. Inilah yang tidak dipunya maskapai lain, ujar
Emir bangga .
Unsur-unsur tersebut ada dalam layanan Garuda Indonesia Experience. Hal
ini merupakan konsep layanan baru Garuda Indonesia yang memadukan
keramahtamahan Indonesia yang khas dengan aspek keselamatan dan
kenyamanan yang dipersembahkan secara efisien dan efektif oleh SDM
yang profesional.

Sistem Pengendalian Manajemen PT Garuda Indonesia, Tbk.

Maskapai penerbangan kebanggaan masyarakat Indonesia ini pun telah


mempercantik diri dan semua detail pelayanan ditingkatkan.Tujuan
pembenahan dan inovasi tersebut adalah ketika penumpang asing mau ke
Indonesia akan merasa sudah berada di Indonesia ketika masuk pesawat
Garuda Indonesia, sementara bagi orang Indonesia yang mau keluar
negeri, mereka akan merasa seperti di rumah sendiri sampai saat
meninggalkan pesawat.
Sebagai bagian dari program peningkatan kepada penumpang, Garuda
Indonesia memetakan setidaknya 28 touch point pelayanan, mulai dari pre
journey hingga post journey untuk kenyamanan para penumpang. Mulai
dari saat pemesanan tiket, boarding, check-in, di atas pesawat, hingga
sampai tempat tujuan. Untuk menjaga kualitas ke 28touch point pelayanan
tersebut, setiap sebulan sekali dilakukan evaluasi dan kontrol sesuai unit
masing-masing.
Selain itu, Garuda Indonesia juga memiliki layanan yang tidak dimiliki
maskapai penerbangan lokal ataupun asing. Layanan tersebut
bernama Immigration on Board. Immigration on Board adalah pemberian
visa diatas pesawat bagi para penumpang yang menggunakan jasa
penerbangan Garuda Indonesia. Dengan demikian, para penumpang
mendapatkan kenyamanan karena tidak harus antre pada counter imigrasi
pada saat kedatangan. Visa on board ini merupakan pelayanan pertama di
duniadan hanya satu-satunya pelayanan pemberian visa bagi wisatawan.
Untuk
pengembangan kualitas SDM, Garuda
Indonesia secara
berkesinambungan melakukan training dan pembekalan pengetahuan
serta keterampilan kepada seluruh karyawan. Baik level atas hingga level
bawah. Emir menegaskan, citra perusahaan bukan hanya dilihat dari
aktivitas promosi dan pemasaran yang besar saja, tapi juga dari perilaku
sumber daya manusia yang bekerja diperusahaan tersebut. (Acha)

Sistem Pengendalian Manajemen PT Garuda Indonesia, Tbk.

OVERVIEW PERUSAHAAN
1. SEJARAH PENDIRIAN
Nama Garuda diberikan oleh Presiden Soekarno di mana nama
tersebut diambil dari sajak Belanda yang ditulis oleh penyair terkenal pada
masa itu, Noto Soeroto; "Ik ben Garuda, Vishnoe's vogel, die zijn vleugels
uitslaat hoog bovine uw einladen", yang artinya, Saya Garuda, burung
Vishnu yang melebarkan sayapnya tinggi di atas kepulauan Anda.
Penerbangan komersial pertama dari Calcutta ke Rangoon dilakukan
pada 26 Januari 1949, dengan pesawat Douglas DC-3 Dakota bernomor RI
001 yang bernama Indonesian Airways. Di tahun yang sama, pada 28
Desember 1949, pesawat DC-3 lain yang terdaftar sebagai PK-DPD
dengan logo Garuda Indonesian Airways terbang dari Jakarta ke
Yogyakarta untuk menjemput Presiden Soekarno. Ini adalah penerbangan
pertama yang dilakukan atas nama Garuda Indonesian Airways.
Setahun kemudian, pada 1950, Garuda Indonesia resmi terdaftar
sebagai Perusahaan Negara. Selama tahun 80-an, Garuda Indonesia
melakukan restrukturisasi berskala besar untuk operasi dan armadanya.
Pada masa inilah perusahaan ini mulai mengembangkan program
pelatihan yang komprehensif untuk staf serta awak kabinnya, sekaligus
mendirikan fasilitas pelatihan di Jakarta Barat yang dinamai Garuda
Indonesia Training Center (GITC). Perusahaan ini juga membangun sebuah
Pusat Pemeliharaan Pesawat di Bandara Internasional Soekarno-Hatta.
Di awal era 90-an, Garuda Indonesia mengembangkan strategi jangka
panjang yang diaplikasikan hingga tahun 2000. Perusahaan ini terus
mengembangkan armadanya dan Garuda Indonesia pun masuk dalam
jajaran 30 maskapai terbesar di dunia.
Di samping inisiatif di pengembangan bisnis, tim manajemen baru
mengelola perusahaan ini pada awal 2005, dan rencana-rencana baru
diformulasikan untuk masa depan Garuda Indonesia. Manajemen baru
Garuda Indonesia melakukan evaluasi ulang yang komprehensif dan
restrukturisasi keseluruhan di perusahaan ini. Tujuannya adalah
meningkatkan efisiensi operasional, mendapatkan stabilitias keuangan
yang melibatkan usaha-usaha di restrukturisasi utang termasuk kewajiban
penyewaan (leasing liabilities) dari European Export Credit Agency (ECA),
peningkatan kesadaran di antara karyawan tentang pentingnya pelayanan
bagi para penumpang, dan, yang paling penting, menghidupkan kembali
dan merevitalisasi semangat Garuda Indonesia.
Kesuksesan program restrukturisasi utang dalam perusahaan ini
membuka jalan bagi Garuda Indonesia untuk menawarkan sahamnya ke
publik (go public) pad bulan Februari 2011.
Sistem Pengendalian Manajemen PT Garuda Indonesia, Tbk.

2. VISI MISI PERUSAHAAN


a. Visi Perusahaan
Perusahaan Penerbangan Pilihan Utama di Indonesia dan Berdaya
Saing Internasional
Menjadi perusahaan penerbangan yang handal dengan menawarkan
layanan yang berkualitas kepada masyarakat dunia menggunakan
keramahan Indonesia.
b. Misi Perusahaan
Sebagai perusahan penerbangan pembawa bendera bangsa Indonesia
yang mempromosikan Indonesia kepada dunia guna menunjang
pembangunan ekonomi nasional dengan memberikan pelayanan yang
profesional.
- Melaksanakan usaha jasa angkutan udara yang memberikan kepuasan
kepada pengguna jasa yang terpadu dengan industri lainnya melalui
pengelolaan secara profesional dan didukung oleh sumber daya
manusia yang mempunyai kompetensi tinggi.
- Menghasilkan keuntungan dengan jaringan domestik yang kuat untuk
terus meningkatkan pangsa pasar domestik dan internasional bagi
usahawan, perorangan, wisatawan dan kargo termasuk penerbangan
borongan.
- Memiliki bisnis unit yang mendukung produk inti untuk meningkatkan
keuntungan serta menghasilkan pendapatan tambahan dari usaha
unit pendukung tersebut.
3. STRUKTUR ORGANISASI
Struktur organisasi adalah suatu susunan dan hubungan antara tiap
bagian serta posisi yang ada pada suatu organisasi atau perusahaan
dalam menjalankan kegiatan operasional guna mencapai tujuan yang
diharapkan dan diinginkan. Struktur organisasi menggambarkan dengan
jelas pemisahan kegiatan pekerjaan antara yang satu dengan yang lain
dan bagaimana hubungan aktivitas dan fungsi dibatasi.
Struktur organisasi di PT Garuda Indonesia, adalah sebagai berikut:

Sistem Pengendalian Manajemen PT Garuda Indonesia, Tbk.

a. Profil Dewan Komite


Dewan Komisaris dapat membentuk komite-komite dalam rangka
membantu tugas-tugasnya dan untuk memenuhi ketentuan
perundang-undangan yang berlaku. Berdasarkan Surat Keputusan
Dewan Komisaris No.JKTDW/SKEP/037/2012 tanggal 25 Juli 2012
tentang Pembentukan Organ Pendukung Dewan Komisaris, Komite
yang berada di bawah Dewan Komisaris yang telah dibentuk adalah:
- Komite Audit;
- Komite lainnya, antara lain: Komite Nominasi, Remunerasi dan
Tata Kelola Perusahaan /GCG; Komite Pengembangan Usaha dan
Pemantauan Resiko
Komite-komite ini akan memberikan laporan dan bertanggungjawab
kepada Dewan Komisaris. Atas dasar laporan dari komite-komite yang
dibentuknya, Dewan Komisaris akan membuat rekomendasi perbaikan
atau saran dan menyampaikannya kepada seluruh anggota Direksi.
Dalam melaksanakan tugasnya, komite yang berada di bawah Dewan
Komisaris dapat melakukan komunikasi langsung dengan Dewan
Komisaris atau anggota-anggotanya dan mengadakan rapat secara
berkala atau insidentil dengan Dewan Komisaris.
b. Profil Dewan Komisaris

Sistem Pengendalian Manajemen PT Garuda Indonesia, Tbk.

Dewan Komisaris adalah organ perseroan yang bertugas untuk


melaksanakan pengawasan atas kebijakan kepengurusan Perseroan
dan kegiatan usaha Perseroan serta untuk memberikan nasihat
kepada Direksi sebagaimana diminta atau ketika diperlukan dalam
rangka memastikan Perseroan dikelola sesuai dengan maksud dan
tujuan usahanya, dan tidak dimaksudkan untuk kepentingan pihak
atau golongan tertentu. Dewan Komisaris wajib, dengan itikad baik
dan tanggung jawab penuh, melaksanakan tugasnya untuk
kepentingan Perseroan (Pasal 108 UUPT, Pasal 31 UU BUMN, Pasal 15
AD, Pasal 12 Permen BUMN No. 01/2011).Dewan Komisaris terdiri dari
1 Komisaris Utama, dibantu 3 Komisaris Independen, dan 2 Komisaris.
c. Dewan Direksi
Direksi sebagai organ Perusahaan bertugas dan bertanggung jawab
secara kolegial dalam mengelola Perusahaan. Masing-masing anggota
Direksi dapat melaksanakan tugas dan mengambil keputusan sesuai
dengan pembagian tugas dan wewenangnya. Namun, pelaksanaan
tugas oleh masing-masing anggota Direksi tetap merupakan
tanggung jawab bersama. Kedudukan masing-masing anggota Direksi
termasuk Direktur Utama adalah setara. Tugas Direktur Utama adalah
mengkoordinasikan kegiatan Direksi. Dewan direksi dijabat oleh 1
orang direktur utama, dan direktur bagian dibawahnya, yaitu: Direktur
Pemasaran dan penjualan, Direktur Teknik dan Pengelolaan Armada,
Direktur Layanan, Direktur Keuangan, Direktur Sumber Daya Manusia
dan Umum, Direktur Operasi, Direktur Strategi, Pengembangan Bisnis
dan Manajemen Resiko

Sistem Pengendalian Manajemen PT Garuda Indonesia, Tbk.

STRATEGI PERUSAHAAN
Sebagai upaya berbenah, PT Garuda Indonesia menerapkan pembaruan strategi
pada tahun 2011 guna melakukan transformasi dan restrukturisasi dalam
manajemen perusahaan. Strategi yang diusung perusahaan adalah Quantum Leap
yang akan diterapkan pada tahun 2011-2015. Dengan program lompatan besar
yang merupakan rencana jangka panjang Garuda selama 5 tahun, Garuda ingin
menjadi maskapai dengan predikat bintang lima yang sejajar dengan maskapai
pesaing-pesaingnya.
Guna mempermudah pemahaman sekaligus pencapaiannya, telah ditetapkan
Milestones untuk program Quantum Leap yang menunjukkan pertumbuhan setiap
tahunnya secara terus menerus dan secara lengkap dapat dilihat pada gambar
dibawah ini:

Guna mencapai Milestones sampai tahun 2015 seperti digambarkan diatas, Garuda
Indonesia telah menetapkan tujuh pendorong pertumbuhan utama yang penjelasan
selengkapnya adalah sebagai berikut:

Sistem Pengendalian Manajemen PT Garuda Indonesia, Tbk.

1. Domestic.
Garuda mencanangkan untuk terus tumbuh dan mendominasi pasar full services
carrier diIndonesia. Saat ini Garuda merupakan satu-satunya maskapai
penerbangan kelas premium domestik. Segmen ini setiap tahun mengalami
pertumbuhan sebesar 5-7%.
2. International.
Perusahaan
akan
kembali
memperkuat
pasar
internasional
dengan
merestrukturisasi rute. Restrukturisasi yang paling signifikan dilakukan dengan
menerapkan penerbangan langsung Dalam waktu dekat garuda akan membuka
rute Hongkong, Shanghai, dan Beijing serta beberapa kota di Eropa dan Amerika
Serikat yang direncanakan dapat terealisasi pada tahun 2012-2014. Potensi ini
diperkuat dengan bergabungnya Garuda ke aliansi global SkyTeam.
3. LCC. Perusahaan akan mengisi pasar Low Cost Carrier melalui Citilink.
Perusahaan akan terus mengembangkan Citilink sehingga bisa mandiri dan
menguntungkan.
4. Fleet.
Garuda akan melakukan pengembangan armada berdasarkan pertumbuhan dan
potensi pasarnya, sekaligus meremajakan dan menyederhanakan tipe pesawat
terbang yang digunakan serta modernisasi armada, dimana perusahaan akan
mempercepat masuknya pesawatpesawat baru dan mengeluarkan yang tua
dengan tujuan peningkatan efisiensi konsumsi bahan bakar dan biaya perawatan.
5. Brand.
Perusahaan akan memperkuat brand Garuda Indonesia, serta terus meningkatkan
kualitas produk dan pelayanan melalui konsep Garuda Indonesia Experience.

Sistem Pengendalian Manajemen PT Garuda Indonesia, Tbk.

Ditambah lagi dengan terobosan menjadi maspakai pertama dan merupakan satusatunya layanan di dunia. Dengan pelayanan immigration on board.
6. Cost Discipline.
Garuda akan fokus kepada upaya efisiensi biaya secara terus menerus sehingga
keseluruhan biaya yang terjadi, berada pada tingkat yang lebih kompetitif
dibandingkan maskapai-maskapai lainnya.
7. Human Capital.
Garuda akan terus berupaya untuk memiliki jumlah dan kualitas sumber daya
manusia yang tepat, semakin memahami budaya Fly-Hi serta menghargai setiap
karyawannya. Garuda juga akan terus melaksanakan pengembangan human
capital sebagai resources yang akan menentukan keberhasilan Quantum Leap
Perusahaan ke depan.

Sistem Pengendalian Manajemen PT Garuda Indonesia, Tbk.

SISTEM PENGENDALIAN MANAJEMEN


Sistem Pengendalian Manajemen merupakan proses atau cara manajemen
menjamin bahwa karyawan dalam perusahaan melakukan tindakan sesuai
dengan tujuan dan strategi organisasi. Sistem pengendalian manajemen
dilakukan sebagai bentuk kendali manajemen agar implemnetasi strategi
sesuai dengan strategi yang telah diformulasikan sebelumnya. Untuk
mengetahui langkah-langkah yang diambil oleh PT Garuda Indonesia,Tbk
sebagai bentuk pengendalian manajemen, terlebih dahulu akan dianalisis
penyebab atau masalah yang yang dihadapai oleh Manajemen.
Tiga isu utama yang menjadi penyebab dalam kegagalan pencapaian tujuan
organisasi adalah:
a. Kurangnya pengarahan (Lack of Direction)
- kurangnya pengarahan menyebabkan karyawan tidak memahami
tujuan organisasi dan bagaimana kontribusi untuk mencapainya. Salah
satu fungsi pengendalian manajemen melibtkan pemberian informasi
pada karyawan bagaimna cara mereka berkontribusi pada organisasi.
b. Masalah Motivasi
- walaupun mereka memahami apa yang harus dilakukan, namun
banyak pegawai yang tidak berkinerja baik karena masalah motivasi.
Masalah ini biasa terjadi, karena tujuan individu dan tujuan organisasi
tidak selamanya selaras.
a. Keterbatasan Personil
- masalah lainnya menyangkut keterbatasan pribadi pegawai. Mereka
tahu apa yang diinginkan organisasi, mereka sangat termotivasi untuk
bekerja dengan baik, tetapi karena keterbatasan pribadi secara
spesifik, seperti kurangnya pengalaman, pengetahuan, tingkat
kecerdasan, training, dan stamina, akan menimbulkan masalah bagi
management control
Menurut artikel di atas, masalah yang dihadapai manajemen adalah
Keterbatasan Personil. Alasannya, rasio jumlah pesawat dengan awak
yang mengoperasikan dinilai tak sebanding. Jumlah penambahan pesawat
baru tidak diikuti dengan perekrutan karyawan baru untuk mengoperasikan
pesawat-pesawat tersebut. Dalam hal ini, karyawan mengetahui bagaimana
cara berkontribusi untuk perusahaan dan termotivasi untuk mencapai tujuan
perusahaan. Namun, karena keterbatasan yang dimiliki karyawan tidak
seimbang dengan kebutuhan awak yang harus mengoperasikan pesawat. Hal

Sistem Pengendalian Manajemen PT Garuda Indonesia, Tbk.

ini didukung oleh pernyataan Presiden Asosiasi Pilot Garuda, Stephanus


Gerrardus:
Stephanus membantah keterlambatan itu akibat pilot Garuda mogok
tugas. "Keterlambatan itu tak ada kaitannya dengan aksi mogok pilot.
Kami, para pilot, babak belur terbang untuk Garuda kok diisukan
penyebab keterlambatan," ujarnya.

Kurangnya pengarahan dari pihak manajemen pada awak pesawat


menjadi penyebab lain tidak sinkronnya informasi pada transisi sistem lama
pada sistem baru sehingga menyebabkan perbedaan data yang berdampak
pada keterlambatan penerbangan.
Menurut Merchant ,untuk mengatasi masalah pengendalian diatas,
manajemen dapat menghindari (problem avoidance) atau menghadapi
masalah-masalah tersebut dengan menerapkan jenis pengendalian yang
sesuai, yaitu:

Masalah kurangnya pengarahan dan keterbatasan persnil yang dihadapi oleh


manajemen PT Garuda, Tbk. dapat diatasi dengan menerapkan jenis
pengendalian sebagai berikut:
-

Result
Control:
dengan
menerapkan
akuntabilitas
hasil
atau
pertanggungjawaban pada hasil kerja karyawan dengan memberikan
reward dan punishment.

Sistem Pengendalian Manajemen PT Garuda Indonesia, Tbk.

Action
Control:
dengan
menerapkan
preaction
review
,action
accountability, serta redundancy. (akan dijelaskan pada bab berikutnya)
Personel/Cultural Control: dengan menerapkan selection and placement,
training, provision or necessary resouces, creation of a strong
Organizational Culture, dan Group Based Reward.

1. PERSONEL/CULTURAL CONTROL
Pengendalian terhadap karyawan atau People Control dilakukan perusahaan
untuk menjamin bahwa pegawai:
a. Akan mengendalikan perilaku mereka sendiri (Personel control)
Personnel controls adalah pengendalian yang berisi segala tindakan yang
dilakukan oleh para manajer untuk menjadikan para pegawainya
melaksanakan tugas secara sendiri dengan memuaskan, karena para
pegawainya melaksanakan tugasnya dengan jujur, bekerja keras dan
memiliki pengalaman.
Implementasi dari personnel controls ini dapat dilakukan melalui 3
metode:
(1)

Selection and placement. Memperoleh pegawai yang tepat


dalam melakukan pekerjaan tertentu, dengan diberikannya
lingkungan kerja yang baik serta alat-alat yang dibutuhkan, akan
meningkatkan kemungkinan bahwa pekerjaan tersebut akan
dikerjakan dengan baik pula. Banyak perusahaan yang menyiapkan
waktu dan upayanya untuk menyeleksi dan menempatkan pegawai.

(2)

Training. Training merupakan metode yang umum untuk


membuat para pegawai melakukan pekerjaannya dengan baik, karena
training menyediakan berbagai informasi yang bermanfaat mengenai
hasil (results) dan tindakan yang diharapkan serta bagaimana tugas
yang dibebankan dapat dilakukan sebaik-baiknya..

(3)

Job design and provision of necessary resources. Cara lain


agar para pegawai bertindak secara layak adalah adanya jaminan
bahwa pekerjaan dirancang sedemikian rupa sehingga para pegawai
yang memiliki kualifikasi tinggi serta termotivasi, kemungkinan besar
dapat meraih sukses.

b. Akan mengendalikan perilaku antar pegawai (cultural Control)


Cultural controls dirancang untuk mendorong pemantauan timbal-balik
(mutual monitoring), yaitu bentuk tekanan kelompok (group pressure)
Sistem Pengendalian Manajemen PT Garuda Indonesia, Tbk.

yang sangat kuat terhadap individu yang menyimpang dari norma dan
nilai kelompok. Para manajer dapat berupaya untuk menciptakan dan
mengarahkan budaya organisasi (organizational cultures) melalui
berbagai cara, antara lain:
(1)Codes of conduct. Banyak perusahaan yang mengarahkan budaya
organisasinya melalui apa yang disebut dengan codes of conduct,
codes of ethics, corporate credos, atau statement of mission, vision,
atau management philosophy.
(2)Group-based rewards. Pemberian rewads didasarkan kepada
pencapaian kolektif juga mendorong cultural controls. Perencanaan
rewards berdasarkan pencapaian kolektif ini bisa dalam berbagai
bentuk seperti bonus, profit-sharing yang menyediakan kompensasi
berdasarkan kinerja perusahaan atau divisi.
(3)Intraorganizational transfers. Pemindahan (transfer) cenderung
untuk memperbaiki pergaulan di dalam organisasi, dan dengan
demikian, dapat mencegah ketidaksesuaian perspektif dan tujuan
(4)Physical and social arrangements. Pengaturan-pengaturan fisik
seperti office plans, architecture, dan interior decor, serta
pengaturan-pengaturan yang bersifa sosial seperti seragam,
perbandaharaan bahasa, dapat juga mengarahkan budaya
organisasi. Beberapa organisasi seperti technology firms in silicon
valley, telah menciptakan budaya informal, dengan cara
pengaturan ruang kantor terbuka dan seragam dalam bentuk
casual, yang memberikan pesan tentang pentingnya inovasi dan
persamaan hak pegawai.
(5)Tone at the top. Akhirnya, para manajer dapat mengarahkan
budaya melalui pengaturan tone at the top.
Untuk menganalisis pengendalian personil/budaya tak dapat
dilepaskan pada manajemen sumber daya manusia pada perusahaan.
Dalam artikel lain disebutkan, bahwa PT Garuda Indonesia
meningkatkan performa perusahaannya dengan mengelola sumber
daya manusia. Pengelolaan sumber daya manusia di PT Garuda
Indonesia dianggap berhasil menciptkan peningkatan pelayanan dan
performa keuangan di perusahaan.
Dalam Laporan Tahunan (Annual Report) Garuda Indonesia tahun 2012,
kunci peningkatan performa perusahaan pada tahun 2012 sebagai The

Sistem Pengendalian Manajemen PT Garuda Indonesia, Tbk.

Leading Flight Company di Indonesia terletak pada pengelolaan


sumber daya manusia. Hal yang dilakukan oleh PT Garuda Indonesia
adalah:
a. Right People Selection and Placement
Right people in right place merupakan salah satu kiat PT Garuda
Indonesia untuk menempatkan orang-orang atau pegawai yang
mempunyai kualitas dan potensi di posisi yang sesuai. Sistem
pemilihan dan penempatan dilakukan dengan rekrutmen yang ketat.
PT Garuda Indonesia, Tbk memiliki serangkaian pengujian dan
pelatihan terhadapa calon karyawan dan karyawan perusahaan.
Perusahaan merekrut tidak hanya pilot dan pramugari saja, akan tetapi
dari kalangan teknis ataupun ekonomi yang nantinya dibutuhnkan oleh
perusahaan. Setidaknya sejak tahun 2010, perusahaan telah
bertambah dari 5,975 orang, 2011 6708 orang, dan pada tahun 2012
menjadi 7,008 orang. Sampai saat ini, proses rekruitmen dilakukan
dengan menetapkan kriteria yang dibutuhkan, kemudian akan
dilakukan uji oleh perusahaan.
Contoh:

b. Pengelolaan Talent- (Training&Job design and provision of


necessary resources)
Sebagai input dari Pengelolaan Talent adalah proses talent acquisition
baik dari dalam

Sistem Pengendalian Manajemen PT Garuda Indonesia, Tbk.

perusahaan (juga meliputi anak perusahaan) maupun dari luar untuk


menjamin kesinambungan kepemimpinan jangka panjang sesuai dengan
perkembangan bisnis dan untuk mengantisipasi kebutuhan bisnis ke
depan. Penyusunan strategi perusahaan dalam mengelola talent dimulai
dari klarifikasi strategi bisnis dan area-area kritikal dalam mencapai
target perusahaan. Proses pengelolaan talent berlanjut dengan
pencarian kader potensial dengan talenta yang mampu bersaing, tidak
hanya di regional namun juga global (talent acquisition), demi menjamin
competitiveness dan agresivitas perusahaan dalam menghadapi
tantangan industri saat ini dan di masa yang akan datang, Dilakukan
dengan meningkatkan kompetensi dengan training yang dilakukan
untuk menyiapkan pegawai-pegawainya sebagai future leader.
Proses yang dilaksanakan diantaranya mencakup:
- Penetapan critical/key posisi dari area yang ada di perusahaan.
Identifikasi kebutuhan Talent yang selaras dengan strategi
Perusahaan.
- Seleksi Talent dengan mempertimbanakan aspek kinerja dan
potensi critical.
- Pengembangan talent (assignment, mentoring, dan excecutive
management)
- Mempertahankan talent dengan metode dan mekanisme penilaian
karyawan
Dalam hal pelatihan para karyawannya, PT. Garuda Indonesia
membentuk sebuah lembaga yang disebut Garuda Indonesia Training
Center. Lembaga pelatihan ini ditujukan untuk semua karyawan
PT.Garuda Indonesia
Misal:
- bagi pilot, GITC ini melakukan serangkain pelatihan mulai dari
pelatihan bahasa Inggris, kelayakan penerbangan, keselamatan
penerbangan, dan lain sebagainya. Untuk pelatihan bahasa
Inggris saja, para pilot harus melewati beberapa tingkatan level
ujian, mulai dari level 1 hingga level 6. Hal tersebut untuk
memenuhi tuntutan standar bahasa Internasional yang
besertifikasi ICAO
- dalam hal penanganan keselamatan Garuda Indonesia Training
Center mengadakan symposium
kelayakan keselamatan
penerbangan (Flight Operation Safety). Acara tersebut diadakan
bersama-sama dengan Boeing, ICAO dan Direktorat Sertifikasi &
Kelayakan Udara (DSKU). Simposium yang diikuti sebanyak 43
captain pilot yang berasal dari 20 perusahaan penerbangan
nasional
tersebut,
membahas
materi
mengenai
Safety
Management System(SMS), Approach and Landing Accident
Reduction (ALAR) dan Threat and Error Management (TEM)
Sistem Pengendalian Manajemen PT Garuda Indonesia, Tbk.

c. People Manager-Tone at the Top


Pengelolaan pegawai diberikan kepada masing-masing manajer unit
untuk men-drive pegawainya untuk berperilaku sesuai dengan tujuan
organisasi.
Di dalam organisasi hal ini perlu dipicu oleh masing-masing pimpinan
dimana pimpinan di organisasi ini merupakan kepala unit dan saat ini
Kepala unit tersebut adalah people manager yang mempunyai
kewajiban untuk memantau dan memastikan bahwa kinerja unit yang
dipimpinnya sejalan dengan kinerja perusahaan.
d. Budaya Perusahaan
Budaya perusahaan yang diimplementasikan oleh PT Garuda Indonesia,
Tbk antaralain:
a. Etika bisnis dan Etika Kerja Code Of Conduct
Nilai-nilai perusahaan diberlakukan untuk memberikan kesadaran
bahwa karyawan PT Garuda Indonesia,Tbk harus memiliki setidaknya
5 nilai perusahaan, yaitu:
Gagasan

Artinya

efficient &
effective
Loyality

-> 1. Cepat, tepat dan akurat


-> 2. Hemat
-> 3. Disiplin
-> 4. Bekerja kras, cerdas & tuntas
Costumer
-> 5. Ramah, hangat dan bersahabat
Centricity
-> 6. Tanggap & Produktif
-> 7. Kreatif & Inovatif
Honesty &
-> 8. Jujur, tulus & terbuka
openness
-> 9. Menjaga kerahasiaan perusahaan
Integrity
-> 10. Konsisten & patuh pada aturan
Garuda
Kelima nilai ini disingkat menjadi FLY HI. Perumusan nilai-nilai
perusahaan dilakukan sejak tahun 2007. Pada tahun 2008,
Perusahaan merumuskan dan meluncurkan code of conduct (kode
etik).
Pada tahun 2011, Perusahaan menetapkan etika bisnis & etika kerja
perusahaan melalui Surat Keputusan Direktur Utama PT Garuda
Indonesia (Persero) Tbk No. JKTDZ/SKEP/50023/11 tanggal 11 Maret
2011.
Etika
bisnis
dan etika kerja
tersebut merupakan hasil
penyempurnaan dari pedoman perilaku (code of conduct) yang
diterbitkan melalui Surat Keputusan Direktur Utama PT Garuda
Indonesia (Persero) Tbk No.JKTDZ/SKEP/50002/08 tanggal 14 Januari

Sistem Pengendalian Manajemen PT Garuda Indonesia, Tbk.

2008 tentang Nilai-nilai Perusahan dan Pedoman Perilaku (code of


conduct) Insan Garuda Indonesia. Penyempurnaan dilakukan
berdasarkan umpan balik dari hasil proses implementasi internalisasi
serta rekomendasi hasil GCG assessment tahun 2009. Etika Bisnis
dan Etika Kerja Perusahaan merupakan himpunan perilaku-perilaku
yang harus ditampilkan dan perilakuperilaku yang harus dihindari
oleh
setiap
Insan
Garuda
Indonesia.
Internalisasi nilai-nilai dan etika Perusahaan dilakukan secara intensif
melalui berbagai saluran komunikasi, pelatihan dan terintegrasi
dengan sistem penilaian pegawai.
Perusahaan mengimplementasikan whistleblowing system sebagai
alat manajemen untuk membantu Penegakan etika perusahaan.
Melalui sistem ini diharapkan semua pemangku kepentingan mau
melaporkan dugaan pelanggaran etika yang dilakukan oleh oknum
pegawai Garuda.
.
Tata nilai "FLY HI" dan etika Perusahaan merupakan soft structure
untuk membangun Budaya Perusahaan sebagai pendekatan yang
digunakan Garuda untuk mewujudkan tata kelola perusahaan yang
baik (Good Corporate Governance).
b. Physical and Social arrangement
Hal ini tampak pada pada penggunaan seragam pada karyawan
terutama pramugari dengan seragam batik dan pilot dengan jas.
Pengaturan ruang kerja diatur sedemikian rupa supaya membawa
cita rasa khas Indonesia sebagaimana tercantum dalam visi untuk
menggunakan keramahan khas Indonesia. Dalam artikel disebutkan
bahwa pengaturan Layanan khas Indonesia mencakup unsur lima
indera, mulai dari apa yang dilihat, dirasa, dihirup, didengar dan
diraba.
o Pertama, penglihatan. Misalnya dinding di kantor atau
di executive lounge yang dibuat seperti anyaman gedek bambu,
begitu juga partisi dipesawat pun bermotif anyaman gedek
bambu.
Di dalam pesawat, kabin didesain dengan memberikan layanan
visual dan audio dalam tiap seat.
o Kedua adalah rasa. Garuda Indonesia menyajikan makananmakanan khas Indonesia seperti pudding lidah buaya, nasi uduk,
dan sate padang.
o Ketiga, pendengaran. Garuda Indonesia menyiapkan musik khas
Indonesia yang diarrasemen secara modern oleh musikus
terkenal Addie MS.

Sistem Pengendalian Manajemen PT Garuda Indonesia, Tbk.

o Untuk hal yang berkaitan dengan indera penciuman, Garuda


Indonesia ingin memperkenalkan arometrapi khas Indonesia.

2. ACTION CONTROL
Action control, yakni menyangkut jaminan bahwa para pegawai
melaksanakan (atau tidak melaksanakan) tindakan tertentu untuk manfaat
(atau membahayakan) organisasi. Implementasi Action controls
a. Behavioral constraints:
Behavioral constraints merupakan bentuk negatif dari action control.
Behavioral controls dimaksudkan agar sesuatu menjadi tidak mungkin,
atau lebih sulit bagi pegawai untuk melakukan sesuatu yang tidak boleh
dilakukan. Behavioral constraints dapat diterapkan secara fisik
(physically) atau administratif (administratively)
b. Preaction reviews

Preaction reviews adalah meneliti rencana tidakan (action plans) dari


para pegawai yang dikendalikan. Peneliti akan menyetujui atau tidak
menyetujui rencana tindakan yang diajukan, kemudian meminta untuk
disesuaikan atau meminta rencana yang lebih cermat lagi sebelum
persetujuan akhir diberikan.
c. Action accountability

Action accountability menyangkut pembebanan kepada para pegawai


suatu tanggung jawab atas tindakan-tindakan yang mereka ambil.
Penerapan action accountability controls memerlukan langkah-langkah :
(1) mendefinisikan tindakan-tindakan apa yang diterima (acceptable)
atau yang tidak diterima (unacceptable),
(2) mengkomunikasikan definisi dimaksud kepada para pegawai,
(3) melakukan observasi atau penyelidikan tentang apa yang terjadi, dan
(4) memberikan penghargaan untuk tindakan-tindakan yang baik atau
menjatuhkam hukuman kepada mereka yang melakukan penyimpangan.
d. Redundancy,

Meliputi penunjukan lebih banyak pegawai (atau, atau paling tidak


menyiapkan tambahan pegawai (atau mesin), untuk pelaksanaan tugas
yang sangat perlu. Redundancy umumnya diterapkan pada computer
facilities, security functions dan critical operations lainnya. Namun bentuk
control ini tdk diterapkan di area lainnya karena sangat mahal.
Penerapan Pada PT Garuda Indonesia, Tbk.
Sesuai dengan masalah yang dihadapi dalam artikel pertama, untuk
mengatasi masalah kurangnya pengarahan dan keterbatasan personil, jenis
action control yang dapat diterapkan oleh PT Garuda Indonesia, Tbk adalah:

Sistem Pengendalian Manajemen PT Garuda Indonesia, Tbk.

a. Action accountability
Untuk memastikan kebijakan pokok Perusahaan diimplementasikan
dengan efektif, Perusahaan menyusun sistem manajemen yang
didokumentasikan dalam manual fungsional, yang memuat kebijakan
fungsional, prosedur operasi baku (standard operating procedures),
instruksi kerja (work instructions) dan catatan mutu (records).
Salah satu bentuk penerapan action accountability pada PT Garuda
Indonesia, Tbk adalah Sistem pengendalian gratifikasi ini ditetapkan
dalam rangka mendukung internalisasi budaya kerja yang bersih,
transparan dan profesional, sejalan dengan perkembangan perusahaan
yang telah melaksanakan Go Public. Selain itu perusahaan juga dituntut
untuk semakin meningkatkan kinerjanya terlebih ketika Garuda harus
mengemban kepercayaan para pemegang saham (stake holder) yang
telah mendukung penuh perusahaan.
c. Mendefinisikan tindakan apa yg diterima dan tidak diterima
untuk menjaga hubungan dengan pelanggan, para insan Garuda
juga ditekankan untuk melakukan, dan tidak melakukan hal-hal
sebagai berikut:
1. Memenuhi semua komitmen yang telah dipublikasikan kepada
pelanggan.
2. Memberikan layanan optimal dengan tidak membedakan suku,
agama, ras, warna kulit dan status sosial.
3. Memberikan kemudahan akses pemesanan dan transaksi
layanan penerbangan perusahaan.
4. Memberikan kemudahan dan kenyamanan bagi pelanggan dalam
layanan pelaporan kesiapan untuk terbang.
5. Memenuhi ketepatan jadwal penerbangan pelanggan.
6. Melindungi
keselamatan,
keamanan
dan
kenyamanan
penumpang selama berada di dalam pesawat.
7. Memastikan penumpang beserta bagasinya dalam keadaan
aman.
8. Memastikan ketepatan dan kelengkapan layanan jasa angkutan
barang pelanggan.
9. Menjaga kerahasiaan informasi mengenai pelanggan.
10.
Memberikan informasi yang relevan dan akurat kepada
pelanggan mengenai layanan Perusahaan.
11.
Menangani keluhan pelanggan dengan memberikan solusi
terbaik.
12.
Berterima kasih terhadap saran dan kritik pelanggan.
13.
Membina hubungan baik dengan pelanggan.

Sistem Pengendalian Manajemen PT Garuda Indonesia, Tbk.

Selain itu, Insan Garuda juga tidak diperkenankan untuk melakukan


hal-hal sebagai berikut:
1. Memanfaatkan informasi penting tentang pelanggan untuk
mendapatkan keuntungan pribadi.
2. Membuat pelanggan tanpa adanya informasi yang jelas dan
akurat.
3. Tidak memberikan respon terhadap kendala yang sedang
dihadapi pelanggan.
4. Tidak melaporkan penerimaan gratifikasi baik langsung maupun
tidak langsung dari pelanggan.
5. Menerima gratifikasi dari pelanggan melebihi dari batasan yang
ditetapkan perusahaan.
- mengkomunikasikan definisi dimaksud kepada para pegawai,
komunikasi yang dilakukan manajemen pada karyawan dilakukan
dalam bentuk perumusan kebijakan dan manual.
- melakukan observasi atau penyelidikan tentang apa yang terjadi,
Observasi dan penyelidikan dilakukan ketika adanya laporan
bahwa gratifikasi telah dilakukan oleh karyawan perusahaan.
Penyampaian informasi dapat dilakukan dengan whistleblowing
system yang diterpakan oleh perusahaan.
b. Penambahan Pegawai dan Armada-Redundancy
Untuk menyeimbangkan antara kebutuhan awak dengan jumlah
maskapai yang akan dilayani, PT Garuda Indonesia melakukan
rekrutmen pegawai untuk menambah kebutuhan sumber daya manusia
pada divisi-divisi yang belum terpenuhi. Hal ini dilakukan untuk
meningkatkan kinerja perusahaan dan pelayanan pada customer hingga
pada akhirnya meningkatkan pendapatan perusahaan.
PT Garuda Indonesia juga melakukan pembelian pesawat baru berjenis
Air Bus dan Boeing.

3. RESULT CONTROL
Result Control merupakan kontrol yang berfokus pada hasil yang dicapai
dari tindakan-tindakan yang diambil. Result control mempengaruhi tindakan
karyawan karena hal ini menyebabkan karyawan menjadi fokus akan
konsekuensi dari tindakan yang diambil. Yang dimaksud dari konsekuensi
dari tindakan yang diambil adalah pemberian reward untuk karyawan atas
kinerja yang baik atau punishment jika kinerja karyawan buruk. Dengan
adanya reward dan punishment ini, result control sangat efektif untuk
meningkatkan motivasi karyawan untuk bekerja semaksimal mungkin sesuai

Sistem Pengendalian Manajemen PT Garuda Indonesia, Tbk.

dengan
bersifat
dimana
perilaku

tujuan organisasi. Result control merupakan sistem kontrol yang


preventif yang efektif karena langsung mengarah pada masalah
pengendalian dibutuhkan dan dapat digunakan untuk mengontrol
karyawan dalam berbagai level organisasi.

Untuk mengimplementasikan result controls diperlukan 4 (empat)


tahapan :
Defining performance dimension.
Tujuan yang ditetapkan dgn baik dan diikuti oleh pengukuran, dapat
membentuk cara pandang para pegawai tentang apa yang penting, what
you measure is what you get,what we measure affect what we do Apabila
dimensi kinerja ini tidak didefinisikan dengan tepat, (artinya tidak selaras
dengan tujuan organisasi atau tidak sesuai dengan strategi), result controls
akan mendorong para pegawai untuk melakukan hal-hal yang keliru.

Measuring performance.
Pengukuran (measurement), yang pada hakekatnya merupakan
penetapan angka-angka kepada obyek tertentu, merupakan elemen result
controls yang penting. Obyek tertentu tersebut adalah kinerja (performance)
dari pegawai (atau kelompok dari para pegawai) dalam periode waktu
tertentu. Berbagai hasil pengukuran yang berbeda kemudian dapat
dihubungkan dengan penghargaan (rewards), baik yang bersifat finansial
maupun non-finansial.

Setting performance targets.


Dalam result control system, target harus dirinci untuk setiap aspek
dimensi kinerja yang diukur. Performance targets dapat mempengaruhi
perilaku melalui 2 cara : (1) performance targets mendorong tindakan dan
meningkatkan motivasi, melalui pemberian tujuan jelas yang harus dicapai
oleh pegawai, dan bukan pernyataan yang kabur. (2) performance targets
menyediakan para pegawai untuk mengartikan kinerja mereka sendiri.
Setiap orang pada dasarnya tidak akan merespon umpan balik, kecuali
mereka mampu untuk memahami artinya. you cant manage, what you cant
measure

Providing rewards (or punishment).


Penghargaan umumnya berupa kenaikan gaji, bonus, promosi, jaminan
pekerjaan, penugasan pekerjaan, kesempatan training, kebebasan,
pengakuan dan kekuasaan. Dalam banyak case nonfinnacial reward justru
paling memotivasi. Hukuman (punishment) adalah kebalikan dari
penghargaan, seperti demosi, tidak adanya approval dari atasan, public

Sistem Pengendalian Manajemen PT Garuda Indonesia, Tbk.

embarrassment, kegagalan untuk memperoleh penghargaan atau kehilangan


pekerjaan.
Sebagai salah satu BUMN, PT Garuda Indonesia Tbk pernah melewati
masa kelam karena terlanjur nyaman dengan semua fasilitas dari
pemerintah, terutama karena adanya dukungan finansial. Bahkan pada
tahun 1997 media Daily Telegraph sempat menyebut Garuda sebagai
armada penerbangan BUMN dengan layanan dan keamanan terburuk.
Namun, menyadari bahwa perusahaan diambang merugi besar-besaran,
Garuda memutuskan untuk berbenah. Salah satu cara yang diambil oleh
manajemen perusahaan untuk melakukan perbaikan adalah penggunaan
Pengendalian Hasil (Result Control) agar Garuda Indonesia Tbk dapat survive.

Penetapan On-Time Performance.


Untuk mencapai Bintang Lima dari lembaga pemeringkat maskapai
independen asal Inggris, Skytrax, Garuda Indonesia Tbk harus meningkatkan
pelayanannya. Permasalahan yang sering dikeluhkan oleh pelanggan adalah
ketepatan waktu pemberangkatan dan kedatangan pesawat. Untuk
mengatasi permasalahan tersebut, perusahaan menerapkan On-Time
Performance. Dalam program ketepatan waktu setiap pesawat yang
terlambat pergi selalu diawasi dan dievaluasi. Bahkan bagi pihak yang
menghambat keberangkatan pesawat akan diberikan teguran. Kebiasaankebiasaan yang dapat menimbulkan keterlambatan pemberangkatan, seperti
kebiasaan para pejabat tinggi yang sering meminta agar pesawat menunggu
hingga mereka sampai di bandara, dihapuskan. Kebiasaan tersebut
dihapuskan dengan mengubah sikap mental seluruh petugas dan kepada
mereka diberikan bonus atas ketepatan waktu.
Reward berupa bonus yang diberikan ternyata mampu meningkatkan
kinerja para pegawai. Hal ini bisa dilihat bahwa Garuda Indonesia Tbk pernah
mendapatkan penghargaan The Most Punctual Airlines selama 2 tahun
berturut-turut dari bandara Schiphol, Amsterdam. Penghargaan tersebut
diberikan kepada maskapai penerbangan yang memiliki ketepatan terbaik
dalam waktu kedatangan dan waktu keberangkatan dari bandara Sciphol,
Amsterdam.

Higher Seat Load Factor


Garuda Indonesia adalah maskapai penerbangan yang berkonsep full
service carrier (maskapai dengan pelayanan penuh). Dengan konsep yang
digunakan, maka bisa dilihat bahwa usaha yang digunakan oleh perusahaan
untuk meningkatkan penumpang tidaklah dengan menekan harga tiket,
tetapi melalui peningkatan kualitas layanan. Seperti yang disampaiakan oleh
ex-CEO Garuda Indonesia Tbk, Emisrsyah Satar Garuda tidak berkompetisi
Sistem Pengendalian Manajemen PT Garuda Indonesia, Tbk.

pada lingkup harga, akan tetapi Garuda menawarkan kenyamanan dan


keamanan (ditulis pada situs swa.co.id, 19 November 2011).
Dengan peningkatan kualitas layanan, diharapakan dapat meningkatkan
kepuasan pengguna jasa Garuda IndonesiaTbk. Hal ini terbukti dengan
meningkatnya pengguna layanan Garuda Indonesia Tbk pada Q1 2014, yaitu
meningkat 15,6 % jika dibandingkan dengan penumpang pada periode yang
sama pada tahun 2013. Peningkatan jumlah penumpang ini akan
meningkatkan pendapatan perusahaan. Atas peningkatan pendapatan ini
akan diberikan bonus kepada pegawai.

Performance Management.
Peran sistem Performance Management (PM) dalam hal ini performance
appraisal demikian penting di dalam organisasi dan merupakan salah-satu
alat utama dari perusahaan untuk mencapai tujuannya. PM dapat dilihat
sebagai kompas maupun rapor perusahaan, beserta proses pengelolaannya.
Rapor yang efektif akan memperlihatkan dengan jelas apa yang perlu
dicapai oleh pegawainya. Rapor yang dikelola dengan baik juga akan
membantu pegawai untuk fokus melakukan pekerjaan yang berhubungan
dengan tujuan utama organisasi.
Pada Garuda Indonesia Tbk, grade system dilihat dari task performance
pegawai berkenaan. Penilaian berdasarkan tugas yang telah diberikan,
evaluasi atas tugas tersebut dan setiap pencapaian akan berpengaruh pada
grade yang diberikan. Grade sistem akan berpengaruh pada besaran insentif
dan bonus yang akan diberikan.
Selain reward berupa bonus, pegawai juga mendapatkan reward berupa
promosi jabatan, sedangkan kepada pegawai dengan task performance yang
rendah dapat dicopot dari jabatannya tersebut, atau bahkan dilakukan
pemutusan hubungan kerja. Tujuan dari sistem promosi-degradasi ini adalah
untuk mempertahankan pegawai dengan kinerja bagus, mendukung
perubahan,
mengembangkan tim unggulan terbaik, memperoleh calon
pengganti untuk key position, memenuhi persyaratan keahlian di masa
depan, memastikan adanya peluang bai pegawai dengan potensi tinggi serta
untuk mendorong pencapaian kinerja yang maksimal.
Dapat disimpulkan bahwa Result control merupakan salah satu alat
pengendalian manajemen yang berfokus pada hasil atau output dari
tindakan yang ingin dicapai oleh perusahaan (Merchant dan Van der Stede,
2007). Pada Garuda IndonesiaTbk, result control yang diterapkan oleh
perusahaan tersebut terlihat dari adanya target jumlah kursi yang terjual
(higher seat load) , adanya bonus yang diberikan kepada pegawai atas

Sistem Pengendalian Manajemen PT Garuda Indonesia, Tbk.

ketepatan waktu pemberangkatan dan kedatangan pesawat serta pemberian


grade, promosi jabatan serta pemberian punishment berupa penurunan
jabatan atau down grade kepada pegawai berdasarkan task performance
pegawai.
Melihat dari result control yang diberlakukan oleh perusahaan dan hasil
yang diperoleh, result control mampu mengatasi masalah dalam
perusahaan. Bahkan dengan peningkatan kinerja pegawainya, Garuda
mampu memperoleh penghargaan Five Stars Airline dari Skytrax, yang
merupakan penghargaan tertinggi di bidang layanan jasa penerbangan
internasional, pada tahun 2014.

Sistem Pengendalian Manajemen PT Garuda Indonesia, Tbk.

PERFORMA LAPORAN KEUANGAN (20112013)


Sukses tidaknya penerapan sistem pengendalian manajemen dan
pengendalian strategi oleh PT Garuda Indonesia, secara umum dapat dilihat
pada pencapaian tujuan perusahaan serta peningkatan performa laporan
keuangan selama sistem pengendalian berlangsung, yaitu tahun 20112013.Tujuan perusahaan secara umum adalah untuk memperoleh laba yang
sebesar besarnya dan untuk meningkatkan kekayaan bersih para pemegang
saham. Tujuan lain perusahaan adalah untuk menciptakan lingkungan kerja
yang baik,aman dan sejahtera bagi semua karyawan perusahaan dengan
memberikan gaji yang layak dan kesejahteraan yang terbaik sehingga
perusahaan dapat menghasilkan produk (barang dan jasa) yang
mengungguli para pesaingnya dalam pemenuhan keinginan dan kebutuhan
konsumen, yang pada gilirannya perusahaan meningkatkan pangsa pasar.
Tujuan lain tersebut dilakukan dengan mengaplikasikan sisem pengendalian
manajamen yang efektif dan efisien. Oleh sebab itu, perlu dilakukan analisis
hubungan antara laporan keuangan dengan sistem pengendalian
manajemen yang dilakukan perusahaan.
PT Garuda Indonesia adalah perusahaan yang bergerak di bidang
usaha utama jasa angkutan udara niaga. Bidang usaha jasa sangat erat
kaitannya dengan sistem pengendalian manajemen di mana jasa yang
diberikan merupakan berasal dari kontribusi manusia, yaitu karyawan.
Sehingga jika sistem pengendalian manajemen yang dijalankan kurang
efektif dan efisien maka kinerja perusahaan juga menjadi tidak efektif dan
efisien yang berdampak pada penurunan pendapatan.
Analisis Neraca
Tabel Neraca

Sistem Pengendalian Manajemen PT Garuda Indonesia, Tbk.

Pada neraca terdapat aset, hutang, dan ekuitas. Aset mengalami


pertumbuhan setiap tahun, yaitu pertumbuhan aset 2012 dari aset 2011
sebesar 35,20% dan aset 2013 dari aset 2012 sebesar 48,85%. Sedangkan
pada hutang juga mengalami peningkatan, yaitu sebesar 29,67% pada tahun
2012 dan 66,10% pada tahun 2013. Untuk ekuitas juga mengalami
peningkatan, yaitu sebesar 42,86% pada tahun 2012 dan 27,14% pada
tahun 2013. Secara grafik dapat digambarkan sebagai berikut:

Sehingga secara berkelanjutan dari tahun 2011 sampai 2013 PT


Garuda Indonesia pada Neraca menunjukkan pertumbuhan yang positif, baik
pada aset, hutang, dan ekuitas.
Analisis Laporan Laba Rugi
Tabel Laporan Laba Rugi

Sistem Pengendalian Manajemen PT Garuda Indonesia, Tbk.

Laporan Laba Rugi PT Garuda Indonesia total pendapatan mengalami


pertumbuhan positif, yaitu sebesar 23,61% pada tahun 2012 dan 35,79%
pada tahun 2013. Namun, laba yang diperoleh mengalami penurunan yang
signifikan pada tahun tahun 2013. Rinciannya sebesar 60,64% merupakan
kenaikan laba pada tahun 2012 dan sebesar 87,18 merupakan penurunan
laba pada tahun 2013. Secara grafik dapat digambarkan sebagai berikut:

Penurunan pada tahun 2013 sebesar 87,18%, dari laba sebesar 1,072
triliun menjadi 137 triliun, disebabkan karena beban operasional
penerbangan meningkat. Peningkatan beban tersebut disebabkan salah
satunya karena pada tahun 2013 pemerintah mengeluarkan kebijakan
kenaikan harga BBM.
Analisis Rasio

Sistem Pengendalian Manajemen PT Garuda Indonesia, Tbk.

1. ROA, Return on Asset menunjukkan apa yang dapat dilakukan perusahaan


dengan apa yang mereka miliki dan berguna untuk membandingkan
dengan perusahaan pesaing pada indusri yang sama. ROA PT Garuda
Indonesia dari tahun 2011 s.d. 2013 menunjukkan penurunan, yaitu 4,49
pada tahun 2011, 4,40 pada tahun 2012, dan 0,38 pada tahun 2013.
Penurunan tersebut disebabkan salah satunya penambahan investasi
pada PT Garuda Indonesia dalam usaha meningkatkan pelayanan kepada
konsumen. Hal tersebut menunjukkan bahwa terdapat potensi bahwa
pangsa pasar dalam kompetisi jasa penerbangan PT Garuda Indonesia
meningkat.
2. ROE, Return on Equity yang tinggi menunjukkan bahwa perusahaan
mengalami pertumbuhan yang tinggi. Tiga hal pokok yang berada di
dalam ROE, yaitu kemampuan perusahaan menghasilkan laba
(profitability), efisiensi perusahaan dalam mengelola aset (assets
management), dan hutang yang dipakai dalam melakukan usaha
(financial leverage). PT Garuda Indonesia memiliki ROE 10,71% pada
tahun 2011, 9,94% pada tahun 2012, dan 1,00% pada tahun 2013.
Penurunan ROE tersebut disebabkan karena adanya peningkatan ekuitas
pada tahun 2012 dan penurunan laba pada tahun 2013.

Sistem Pengendalian Manajemen PT Garuda Indonesia, Tbk.

KESIMPULAN DAN SARAN


KESIMPULAN
a. PT Garuda Indonesia seperti disebutkan pada overview perusahaan
merupakan perusahaan di bidang utama jasa penerbangan.
Pendapatan yang diperoleh bergantung sepenuhnya kepada jasa yang
diberikan, jika jasa yang diberikan efektif dan optimal maka
pendapatan yang akan diterima akan optimal juga.
b. Pada uraian analisis laporan laba rugi disebutkan bahwa pendapatan
PT Garuda Indonesia dari tahun 2011 sampai dengan 2013
mengalami peningkatan sehingga dapat dikatakan bahwa jasa yang
diberikan oleh PT Garuda Indonesia efektif dan optimal.
c. Pada Laporan Laba Rugi disebutkan bahwa laba/profit PT Garuda
Indonesia mengalami penurunan seperti diuraikan pada analisis
sebelumnya. Terdapat faktor-faktor diluar kemampuan perusahaan
yang menyebabkan penurunan tersebut. Faktor eksternal yang
berperan adalah pemerintah, yaitu adanya kebijakan kenaikan harga
BBM yang menyebabkan biaya operasional menjadi membengkak.
d. Secara umum sistem pengendalian manajemen PT Garuda Indonesia
telah berjalan efektif dan efisien. Pendapatan yang meningkat dari
tahun 2011 sampai dengan 2013 merupakan salah satu wujud
keberhasilan sistem pengendalian manajemen tersebut. Lingkungan
kerja yang baik, aman dan mendukung bagi semua karyawan
perusahaan, karyawan yang kompeten, termotivasi, dan paham akan
keinginan pimpinan, serta komitmen akan sistem pengendalian
manajemen yang berjalan membuat PT Garuda Indonesia dapat
mencapai tujuan utama yaitu, pendapatan optimal. Namun demikian,
faktor eksternal yaitu, pemerintah yang merupakan salah satu
hambatan dan peluang bagi perusahaan juga turut andil di dalam
mempengaruhi pendapatan bersih/laba yang tidak bisa dikelola
dengan sistem pengendalian manajemen yang efektif dan efisien.
Oleh sebab itu, hubungan kinerja laporan keuangan dengan sistem
pengendalian manajemen adalah saling berkaitan di dalam
meningkatkan penanganan terhadap resiko-resiko internal tetapi tidak
untuk resiko-resiko eksternal.

SARAN
Dengan penurunan profit pada tahun 2013 secara tajam menunjukkan
bahwa implementasi strategi tidak mampu menahan penurunan kinerja
keuangan. Hal ini menjadi tamparan bagi PT Garuda Indonesia untuk
Sistem Pengendalian Manajemen PT Garuda Indonesia, Tbk.

terus berbenah, walaupun telah mendapta beragam pernghargaan .


Implementasi Quantum Leap harus dilaksanakan lebih ketat lagi, dan
merombak manajemen yang tidak efektif dan efisien menjadi alternatif
pilihan perusahaan.

Sistem Pengendalian Manajemen PT Garuda Indonesia, Tbk.

DAFTAR REFERENSI
https://www.garuda-indonesia.com
Merchant and Van der Stede: Management Control Systems Pearson
Education Limited 2014
Annual Report Garuda Indonesia Tahun 2011-2013
http://yudistiray.wordpress.com/2010/04/12/garuda-indonesia-maskapaidengan-penerapan-customer-value-added/

Sistem Pengendalian Manajemen PT Garuda Indonesia, Tbk.