Anda di halaman 1dari 23

KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrahim
Puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala nikmat Iman dan Islam yang
selalu tercurah dan segala keberkahan dan kemudahan yang selalu diberikan
kepada peneliti. Shalawat serta salam semoga selalu tercurah kepada Nabi
Muhammad SAW beserta keluarga, sahabat dan pengikutnya hingga akhir zaman.
Dalam kesempatan ini pula peneliti ingin mengucapkan terimakasih
kepada pembimbing dr. Ade Nurkacan, Sp. An, dr. H. Sabur Nugraha, Sp. An dan
dr. Ucu Nurhadiat, Sp. An serta semua pihak yang turut membantu dalam
penyelesaian tugas ini.
Akhir kata, peneliti memohon maaf atas segala kekurangan yang ada
dalam laporan kasus ini dan peneliti menerima masukan positif apapun demi
menjadikan laporan kasus ini lebih baik lagi.

Karawang, Oktober 2014

Penulis
Monica Olivine & Arini Damayanti

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.............................................................................................1
DAFTAR ISI...........................................................................................................2
BAB I PENDAHULUAN.......................................................................................3
BAB II LAPORAN KASUS...................................................................................4
BAB III LAPORAN ANASTESI............................................................................9
BAB IV TINJAUAN PUSTAKA..........................................................................12
BAB V ANALISA KASUS...................................................................................22
BAB VI KESIMPULAN.......................................................................................23
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................24

BAB I
PENDAHULUAN

Anestesi adalah istilah yang diturunkan dari dua kata yunani yaitu an
dan esthesia, dan bersama-sama berarti hilangnya rasa atau hilangnya sensasi,
ahli saraf memberi makna pada istilah tersebut sebagai kehilangan rasa secara
patologis pada baguan tubuh tertentu(1). Anestesiologi adalah ilmu kedokteran
yang pada awalnya berpotensi menghilangkan nyeri dan rumatan pasien sebelum,
selama, sesudah pembedahan.
Obat anestesi intravema adalah obat anestesi yang diberikan melalui jalur
intravena baik untuk tujuan hipnotik, analgetik, atau pelumpuh otot. Setelah
berada di dalam vena, obat obatan ini akan diedarkan ke seluruh jaringan tubuh
melalui sirkulasi darah (sistemik). Obat anestesi yang ideal memiliki sifat : 1)
Hipnotik dengan onset cepat serta mengembalikan kesadaran dengan cepat segera
sesudah diberi penyuntikan, 2) analgetik, 3) amnesia, 4) memiliki antagonis, 5)
cepat dieliminasi, 6) depresi kardiovaskular dan pernafasan tidak ada atau
minimal, 7) farmakokinetik tidak dipengaruhi atau minimal terhadap disfungsi
organ.
Obat anestesi intravena dapat digolongkan dalam 2 golongan : 1) Obat
yang terutama digunakan untuk induksi anestesi, contohnya golongan barbiturat,
eugenol dan steroid, 2) obat yang digunakan baik sendiri maupun kombinasi
untuk mendapat keadaan seperti pada neuroleptanalgesia, anestesi disosiasi
(contohnya : ketamine), sedative (contohnya : diazepam). Dari bermacam-macam
obat obat anestesi intravena, hanya beberapa saja yang sering digunakan yaitu :
barbiturate, ketamine dan diazepam.

BAB II
LAPORAN KASUS

1.1. Identitas

Nomor Rekam Medis

: 00.56.40.71

Nama lengkap

: Ny. Murni

Umur

: 18 tahun

Tanggal Lahir

: 10 November 1996

Jenis kelamin

: Perempuan

Pekerjaan

: Ibu Rumah Tangga

Pendidikan

: SLTA

Alamat

: Karangjati

Status pernikahan

: Menikah

Agama

: Islam

Ruang rawat/ Kelas

: Cilamaya lama / Kelas III

Bagian/ Unit

: Unit Instalasi Kesehatan Ibu dan Anak

Dokter DPJP

: dr. David Sp.OG

Tanggal operasi

: 11 November 2014

1.2. Anamnesis
Dilakukan autoanamnesis kepada pasien sendiri, Ny. Nuryati pada tanggal
11 November 2014 pukul 07:30 WIB.

Keluhan Utama
Perdarahan dari jalan lahir

Keluhan Tambahan
Mual (+), muntah (+), nyeri perut bagian bawah (+)

Riwayat Penyakit Sekarang

OS datang ke RSUD Karawang dengan keluahan keluar darah dari


kemaluan sejak jam 1 pagi SMRS. Darah bersifat cair dan sebanyak kira-kira 1
celana dalam. OS mengaku sedang hamil dengan usia kehamilan 2 bulan, OS
mengaku hamil anak pertama. OS juga mengeluh perut mules bersamaan dengan
keluarnya darah. OS mengeluh mual (+), muntah (+), nyeri ulu hati (+) namun
pusing, demam, sesak, penglihatan kabur disangkal. OS mengatakan tidak ada
keluahan BAB dan BAK.

Riwayat Menikah dan Kehamilan


OS mengaku sedang hamil anak pertama 2 bulan. OS juga mengaku saat

pertama kali haid umur 11 tahun teratur dan tidak terdapat nyeri saat haid. OS
juga mengatakan menikah umur 16 tahun baru pertama kali dengan laki-laki yang
yang juga belum pernah menikah.

Riwayat Penyakit Dahulu :


OS sebelumnya belum pernah menjalani operasi atau tindakan anestesi

apapun. Riwayat alergi obat-obatan atau makanan tertentu disangkal. OS


menyangkal mempunyai riwayat hipertensi, DM, penyakit jantung, asma, ginjal
maupun hati. Pasien mengaku tidak meminum obat-obatan tertentu secara rutin
dalam jangka panjang.

Riwayat Penyakit keluarga :


Riwayat diabetes melitus, hipertensi, asma, penyakit jantung dan paru,

alergi obat atau makanan tertentu, serta keganasan dalam keluarga disangkal oleh
OS. Riwayat kematian anggota keluarga di atas meja operasi juga disangkal.

Riwayat Kebiasaan :
Pasien mengaku tidak merokok, tidak mengonsumsi alkohol maupun obat-

obatan terlarang.

1.3. Pemeriksaan Fisik

Keadaan umum
Kesadaran
Status gizi

: Tampak sakit sedang


: Compos Mentis
: TB : 150 cm
BB

: 48 kg

BMI : 45/(1,5 x 1,5) = 21,3. Status gizi normal

Tanda vital
Tekanan darah

: 110/80 mmHg

Nadi

: 88 x/menit

Suhu

: 36,5 C

Pernapasan

: 20 x/menit

Status Generalis
Kepala

: Normocephal, rambut hitam, distribusi merata,


tidak mudah dicabut

Mata

: Konjungtiva anemis -/-, sklera ikterik -/-

Leher

: KGB tidak teraba membesar

Thorax
-Jantung

: BJ I-II regular, Murmur (-), Gallop (-)

-Paru

: Suara nafas vesikuler +/+, wheezing -/-, rhonki -/-

Abdomen

: Supel, hepar dan lien tidak teraba membesar, nyeri


tekan (+) pada kuadran bawah, teraba massa (-)
perkusi timpani di keempat kuadran abdomen,
bising usus (+) normal.

Ekstremitas

: Akral hangat pada keempat ekstremitas dan tidak


ada edema pada keempat ekstremitas.

Genitalia

: Vulva vagina tidak ada kelainan


Perdarahan aktif (-)

1.4. Pemeriksaan Penunjang


1)

Pemeriksaan laboratorium

dilakukan pada tanggal 10 November 2014


a. Hematologi
-

Hemoglobin

: 13 g/dL

(N= 12,0 - 16,0)

Leukosit

: 9,34 x 103/ul

(N= 3,80 - 10,60)

Trombosit

: 312 x 103/ul

(N= 150 - 440)

Hematokrit

: 35,5 %

(N= 35,0 47,0)

Masa pendarahan

: 2 menit

Masa pembekuan

: 11 menit

Golongan darah ABO : O

Rhesus

:+

b. Imunologi
-

HBsAg Rapid

: Non reaktif

Tes kehamilan

:+

c. Kimia
2)

Glukosa darah sewaktu : 91

(N= <140)

Pemeriksaan USG

Kesan : Terdapat sisa konsepsi didalam rahim

1.5. Diagnosis Kerja


Abortus Inkomplit pada G110 minggu
1.6

Kesimpulan

Status fisik pasien

: ASA I

Perencanaan anestesi : Pada pasien ini akan dilakukan tindakan kuretase dengan
teknik anestesi intravena.

BAB III
LAPORAN ANASTESI
a.

Status anestesi

Diagnosa pre operasi : Abortus Inkomplit pada G1 10 minggu


Jenis operasi
: Kuretase
Rencana teknik anestesi
: Anestesi Intravena
Status fisik
: ASA I

b. Keadaan selama pembedahan


Lama operasi : 15 menit (Jam 11.05 - 11.20 WIB)
Lama anestesi : 20 menit (Jam 11.00 11.20 WIB)
Jenis anestesi : Anestesi Intravena
Posisi

: Litotomi

Infus

: Ringer laktat pada tangan kanan

Premedikasi

: Miloz (Midazolam) 3 mg

Medikasi

: Propofol 130 mg, Ketamin 30 mg, Pospargin 0,2 mg, Oxcytocin 1


mg

Cairan Masuk : 500 cc Ringer Laktat


Perdarahan
c.

: + 300 cc

Persiapan Alat

Mesin anastesi

Monitor anastesi

Sfigmomanometer digital

Oksimeter atau saturasi

Spuit 5 cc dan 3cc

Kanul O2

d. Persiapan Obat

Pre medikasi: Miloz (midazolam)


Analgetik: Ketamin
Sedativa: Propofol
Obat emergency: Ephedrine
Obat uterotonik: Pospargin, Oxcytocin

e.

Monitoring Saat Operasi

Jam
(waktu)

Tindakan

11.00

- OS masuk ke kamar
operasi dan di
pindahkan ke meja
operasi
- Pemasangan
monitoring tekanan
darah, nadi, saturasi
oksigen.
- Infus Ringer Laktat
terpasang pada tangan
kanan

11.05

- Premedikasi dengan
Midazolam 3 mg
- Medikasi
Propofol 130 mg
Ketamin 30 mg
- Pemberian Oksigen 2
liter/menit

Tekanan
darah
(mmHg)
110/65

Nadi
(x/menit)
65
SPO2: 98 %

105/60

68
SPO2 : 98 %

10

11.10

Operasi dimulai

100/70

70
SPO2 : 98 %

11.15

11.20

- OS masih dalam
keadaan di operasi
- Medikasi pemberian
Pospargin 1 amp (0.2
mg)
Oxcytocin 1 mg

100/65

Operasi selesai

115/70

70
SPO2 : 98 %

68
SPO2 : 99 %

11.25

f.

- Operasi selesai
- Pemberian oksigen
dihentikan
- Pasien sadar dan
dipindahkan ke
Recovery Room

110/65

65
SPO2 : 99 %

Keadaan akhir pembedahan

Tekanan darah : 110/65 mmHg, Nadi : 65 x/m, Saturasi O2 : 100%


Penilaian Pemulihan Kesadaran (berdasarkan Skor Aldrete) :
Nilai
Kesadaran
Warna

2
Sadar, orientasi
baik
Merah muda
(pink) tanpa O2,
SaO2 > 92 %

Aktivitas

4 ekstremitas
bergerak

Respirasi

Dapat napas
dalam
Batuk
Tekanan darah
berubah 20 %

Kardiovaskular

1
Dapat
dibangunkan
Pucat atau
kehitaman perlu
O2 agar SaO2 >
90%
2 ekstremitas
bergerak

0
Tak dapat
dibangunkan
Sianosis dengan
O2 SaO2 tetap <
90%

Napas dangkal
Sesak napas

Tak ada
ekstremitas
bergerak
Apnu atau
obstruksi

Berubah 20-30 %

Berubah > 50 %

Total = 10 Pasien dapat dipindahkan ke ruangan rawat (bangsal)

11

BAB IV
TINJAUAN PUSTAKA

1.1.

Definisi TIVA
TIVA merupakan kepanjangan dari total anastesi intravena. Tiva merupakan

tekhnik anastesi umum dengan

hanya menggunakan obat-obat anastesi yang

dimasukkan lewat jalur intravena. TIVA digunakan untuk ketiga trias anastesi
yaitu hipnotik, analgetik, dan relaksasi otot.1
Kebanyakan obat-obat anastesi intravena hanya mencakup 2 komponen
anastesi, akan tetapi ketamin mempunyai ketiga trias anastesi sehingga ketamin
dianggap juga sebagai agen anastesi yang lengkap.1 Dalam perkembangan
selanjutnya terdapat beberapa jenis obat-obat anestesi dan yang digunakan di
Indonesia hanya beberapa jenis obat saja, seperti Tiopenton, Diazepam,
Dehidrobenzoperidol, Fentanil, Ketamin dan Propofol.
Kelebihan TIVA adalah :1
1. Dapat dikombinasikan atau terpisah dan dapat dititrasi dalam dosis
yang lebih akurat dalam pemakaiannya.
2. Tidak mengganggu jalan nafas pada pasien
3. Tidak membutuhkan alat-alat atau mesin khusus
4. Mudah dilakukan
1.2.

Indikasi Pemberian TIVA1


TIVA dalam prakteknya sehari-hari digunakan sebagai :

1.3.

1. Obat induksi anastesi umum


2. Obat tunggal untuk anastesi pembedahan singkat
3. Tambahan untuk obat inhalasi yang kurang kuat
4. Obat tambahan anastesi regional
5. Menghilangkan keadaan patologis akibat rangsangan SSP
Cara Pemberian1
Cara pemberian TIVA :
1. Suntikan tunggal, untuk operasi singkat
2. Suntikan berulang sesuai dengan kebutuhan

12

3. Diteteskan lewat infus


1.4.

1.

Jenis-jenis Anastesi Intravena


Golongan Barbiturat
(Pentothal/ Thiopenthal Sodium/ Penthio Barbital/ Thiopenton)
Obat ini tersedia dalam bentuk serbuk higroskopis, bersifat basa, berbau

belerang, larut dalam air dan alcohol.2


Penggunaannya sebagai obat induksi, suplementasi dari anastesi regional,
antikonvulsan,

pengurangan

dari

peningkatan

TIK,

proteksi

serebral.4

Metabolismenya di hepar dan di ekskresi lewat ginjal.2


Onset

: 20-30 detik

Durasi : 20-30 menit


Dosis

:4

Induksi iv : 305 mg/Kg BB, anak 5-6 mg/Kg BB, bayi 7-8 mg/kg BB
Suplementasi anastesi : iv 0,5-1 mg/kg BB
Induksi rectal : 25 mg/ kg BB
Antikonvulsan : iv 1-4 mg/kg BB

Efek samping obat :


Sistem kardiovaskuler
o
Depresi otot jantung
o
Vasodilatasi perifer
o
Turunnya curah jantung
o
Sistem pernapasan, menyebabkan depresi saluran pernapasan
o
o
o

konsentrasi otak mencapai puncak apnea


Dapat menembus barier plasenta dan sedikit terdapat dalam ASI
Sedikit mengurangi aliran darah ke hepar
Meningkatkan sekresi ADH (efek hilang setelah pemberian
dihentikan)
Pemulihan kesadaran pada orang tua lebih lama dibandingkan pada
dewasa muda2

13

o
o

Menyebabkan mual, muntah, dan salivasi


Menyebabkan trombophlebitis, nekrosis, dan gangren 4

Kontraindikasi :

2.

Alergi barbiturate
Status ashmatikus
Porphyria
Pericarditis constriktiva
Tidak adanya vena yang digunakan untuk menyuntik
Syok
Anak usia < 4 th (depresi saluran pernapasan) 2

Golongan Benzodiazepin
Obat ini dapat dipakai sebagai transqualiser, hipnotik, maupun sedative.

Selain itu obat ini mempunyai efek antikonvulsi dan efek amnesia.2
Obat-obat pada golongan ini sering digunakan sebagai :2
Obat induksi
Hipnotik pada balance anastesi
Untuk tindakan kardiovers
Antikonvulsi
Sebagai sedasi pada anastesi regional, local atau tindakan diagnostic
Mengurangi halusinasi pada pemakaian ketamine
Untuk premedikasi

a.

Diazepam

Karena tidak larut air, maka obat ini dilarutkan dalam pelarut organic
(propilen glikol dan sodium benzoate). Karena itu obat ini bersifat asam dan
menimbulkan rasa sakit ketika disuntikan, trombhosis, phlebitis apabila disuntikan
pada vena kecil. Obat ini dimetabolisme di hepar dan diekskresikan melalui
ginjal.2
Obat ini dapat menurunkan tekanan darah arteri. Karena itu, obat ini
digunakan untuk induksi dan supplement pada pasien dengan gangguan jantung
berat.2
Diazepam biasanya digunakan sebagai obat premedikasi, amnesia, sedative,
obat induksi, relaksan otot rangka, antikonvulsan, pengobatan penarikan alkohol
akut dan serangan panic.

14

Awitan aksi

: iv < 2 menit, rectal < 10 menit, oral 15 menit-1 jam

Lama aksi

: iv 15 menit- 1 jam, PO 2-6 jam4

Dosis4

Premedikasi : iv/im/po/rectal 2-10 mg


Sedasi : 0,04-0,2 mg/kg BB
Induksi : iv 0,3-0,6 mg/kg
Antikonvulsan : iv 0,05-0,2 mg/kg BB setiap 5-10 menit dosis maksimal 30
mg, PO/rectal 2-10 mg 2-4 kali sehari

Efek samping obat :


Menyebabkan bradikardi, hipotensi, depresi pernapasan, mengantuk, ataksia,
kebingungan, depresi, Inkontinensia, ruam kulit, DVT, phlebitis pada tempat
suntikan.4

b. Midazolam
Obat ini mempunyai efek ansiolitik, sedative, anti konvulsif, dan ante
retrogad amnesia. Durasi kerjanya lebih pendek dan kekuatannya 1,5-3x
diazepam.
Obat ini menembus plasenta, akan tetapi tidak didapatkan nilai APGAR
kurang dari 7 pada neonatus.2
Dosis :

Premedikasi : im 2,5-10 mg, Po 20-40 mg


Sedasi : iv 0,5-5 mg
Induksi : iv 50-350 g/kg 4

Efek samping obat :

Takikardi, episode vasovagal, komplek ventrikuler premature, hipotensi


Bronkospasme, laringospasme, apnea, hipoventilasi
Euphoria, agitasi, hiperaktivitas
Salvasi, muntah, rasa asam

15

Ruam, pruritus, hangat atau dingin pada tempat suntikan4

3.

Propofol
Merupakan cairan emulsi isotonic yang berwarna putih. Emulsi ini terdiri dari

gliserol, phospatid dari telur, sodium hidroksida, minyak kedelai dan air. Obat ini
sangat larut dalam lemak sehingga dapat dengan mudah menembus blood brain
barier dan didistribusikan di otak. Propofol dimetabolisme d hepar dan
ekskresikan lewat ginjal.2
Penggunaanya untuk obat induksi, pemeliharaan anastesi, pengobatan mual
muntah dari kemoterapi4
Dosis :

Sedasi : bolus, iv, 5-50 mg


Induksi : iv 2-2,5 mg/kg
Pemeliharaan : bolus iv 25-50 mg, infuse 100-200 g/kg/menit, antiemetic iv
10 mg4
Pada ibu hamil, propofol dapat menembus plasenta dan menyebabakan

depresi janin. Pada sistem kardiovaskuler, obat ini dapat menurunkan tekanan
darah dan sedikit menurunkan nadi. Obat ini tidak memiliki efek vagolitik,
sehingga pemberiannya bisa menyebabkan asystole. Oleh karena itu, sebelum
diberikan propofol seharusnya pasien diberikan obat-obatan antikolinergik. Pada
pasien epilepsi, obat ini dapat menyebabkan kejang.2
4.

Ketamin
Obat

ini

mempunyai

efek

trias

anastesi

sekaligus.

Pemberiannya

menyebabkan pasien mengalami katalepsi, analgesic kuat, dan amnesia, akan


tetapi efek sedasinya ringan. Pemberian ketamin dapat menyebakan mimpi
buruk.2
Dosis

16

Sedasi dan analgesia : iv 0,5-1 mg/kg BB, im/rectal 2,5-5 mg/kg BB, Po 5-6
mg/kg BB
Induksi : iv 1-2,5 mg/kg BB, im/ rectal 5-10 mg/kg BB4
Ketamin meningkatkan aliran darah ke otak, kerana itu pemberian ketamin

berbahaya bagi orang-orang dengan tekanan intracranial yang tinggi. Pada


kardiovaskuler, ketamin meningkatkan tekanan darah, laju jantung dan curah
jantung.2 Dosis tinggi menyebabkan depresi napas.
Kontraindikasi :

5.

Hipertensi tak terkontrol


Hipertroid
Eklampsia atau pre eklampsia
Gagal jantung
Unstable angina
Infark miokard
Aneurisma intracranial, thoraks dan abdomen
TIK dan TIO tinggi
Perdarahan intraserebral
Trauma mata terbuka 2
Opioid
Opioid (morfin, petidin, fentanil, sufentanil) untuk induksi diberikan dalam

dosis tinggi. Opioid tidak mengganggu kardiovaskuler, sehingga banyak


digunakan untuk induks pada pasien jantung.3
a.

Morfin
Penggunaanya untuk premedikasi, analgesic, anastesi, pengobatan nyeri yang

berjaitan dengan iskemia miokard, dan dipsnea yang berkaitan dengan kegagalan
ventrikel kiri dan edema paru.4
Dosis :

Analgesic : iv 2,5-15 mg, im 2,5-20 mg, Po 10-30 mg, rectal 10-20 mg setiap

4 jam
Induksi : iv 1 mg/kg

17

Awitan aksi

: iv < 1 menit, im 1-5 menit

Lama aksi

: 2-7 jam 4

Efek samping obat :

Hipotensi, hipertensi, bradikardia, aritmia


Bronkospasme, laringospasme
Penglihatan kabur, sinkop, euphoria, disforia
Retensi urin, spasme ureter
Spasme traktus biliaris, konstipasi, anoreksia, mual, muntah, penundaan

pengosongan lambung
Miosis4
b. Petidin

Penggunaannya untuk nyeri sedang sampai berat, sebagai suplemen sedasi


sebelum pembedahan, nyeri pada infark miokardium walaupun tidak seefektif
morfin sulfat, untuk menghilangkan ansietas pada pasien dengan dispnea karena
acute pulmonary edema dan acute left ventricular failure. Petidin dimetabolisme
terutama di hati. 5
Dosis

Dosis lazim 50150 mg setiap 3-4 jam jika perlu.

Injeksi intravena

lambat : dewasa 1535 mg/jam.

Anak-anak oral/IM/SK : 1.11.8 mg/kg setiap 34 jam jika perlu.

Untuk sebelum pembedahan : dosis dewasa 50 100 mg IM/SK

Kontraindikasi

Pasien yang menggunakan trisiklik antidepresan dan MAOi. 14 hari


sebelumnya (menyebabkan koma, depresi pernapasan yang parah, sianosis,
hipotensi, hipereksitabilitas, hipertensi, sakit kepala, kejang)

Hipersensitivitas.

18

Pasien dengan gagal ginjal lanjut6

Efek samping obat

Depresi pernapasan

Sistem saraf : sakit kepala, gangguan penglihatan, vertigo, depresi, rasa


mengantuk, koma, eforia, disforia, lemah, agitasi, ketegangan, kejang

Pencernaan : mual, muntah, konstipasi

Kardiovaskular : aritmia, hipotensi postural

Reproduksi, ekskresi & endokrin : retensi urin, oliguria.

Efek kolinergik : bradikardia, mulut kering, palpitasi, takikardia, tremor otot,


pergerakan yg tidak terkoordinasi, delirium atau disorintasi, halusinasi.

Lain-lain : berkeringat, muka merah, pruritus, urtikaria, ruam kulit


Hati-hati pada pasien dengan disfungsi hati & ginjal krn akan memperlama

kerja & efek akumulasi opiod, pasien usia lanjut, pada depresi sistem saraf pusat
yg parah, anoreksia, hiperkapnia, depresi pernapasan, aritmia, kejang, cedera
kepala, tumor otak, asma bronchial
c.

Fentanil
Digunakan sebagai analgesic dan anastesia
Dosis :

Analgesic : iv/im 25-100 g


Induksi : iv 5-40 g/ kg BB
Suplemen anastesi : iv 2-20 g/kg BB
Anastetik tunggal : iv 50-150 g/ kg BB 4

Awitan aksi

: iv dalam 30 detik, im < 8 menit

Lama aksi

: iv 30-60 menit, im 1-2 jam

Efek samping obat :

Bradikardi, hipotensi

19

Depresi saluran pernapasan, apnea


Pusing, penglihatan kabur, kejang
Mual, muntah, pengosongan lambung terlambat
Miosis 4

KURETASE
1.

Definisi
Kuretase adalah pembersihan daerah permukaan yang terkena penyakit

dengan menggunakan alat kuret. Tindakan kuretase kebanyakan dilakukan di


bidang obstetri dan ginekologi sehingga kuretase bisa didefmisikan sebagai
serangkaian proses pelepasan jaringan yang melekat pada dinding kavum uteri
dengan melakukan invasi dan memanipulasi instrumen (sendok kuret) ke dalam
kavum uteri. Tindakan kuretase harus didahului pemeriksaan dalam untuk
menentukan letak uterus, keadaan serviks dan besar uterus. Tujuan dilakukannya
pemeriksaan ini adalah untuk mengantisipasi terjadinya bahaya kecelakaan,
misalnya perforasi.
2. Indikasi
a)

Abortus incomplete
Abortus incomplete adalah keguguran ketika usia kehamilan < 20 minggu,

dengan didapatkan sisa-sisa kehamilan. Kuretase dalam kasus ini dilakukan untuk
menghentikan perdarahan yang terjadi karena masih adanya sisa jaringan dalam
rahim yang menghambat rahin untuk

berkontraksi dengan baik sehingga

pembuluh darah pada lapisan dalam rahim tidak dapat tertutup.


b) Sisa Plasenta
Retensi sisa plasenta adalah sisa plasenta dan selaput ketuban yang masih
tertinggal dalam rongga rahim yang dapat menyebabkan perdarahan postpartum
dini dan perdarahan postpartum lambat. Tertinggalnya sebagian plasenta sewaktu
suatu bagian dari plasenta (satu atau lebih lobus) tertinggal, maka uterus tidak
dapat berkontraksi secara efektif dan keadaan ini dapat menimbulkan perdarahan.
Tetapi mungkin saja pada beberapa keadaan tidak ada perdarahan dengan sisa
plasenta.

20

c)

Blighted ovum (ketiadaan janin, hanya plasenta yang berkembang )


Kuretase dilakukan untuk menghambat pertumbuhan plasenta yang akan

d)
e)

berkembang menjadi suatu keganasan.


Dead conceptus (janin mati pada usia kehamilan <20 minggu)
Abortus Mola (tidak ada janin, hanya ada plasenta yang bergelembung-

f)

gelembung)
Menometroraghia (perdarahan yang banyak dan memanjang diantara
siklus haid). Tindakan kuretase dilakukan untuk menghentikan perdarahan
dan mencari penyebab perdarahan, apakah terjadi karena gangguan hormonal

atau keganasan.
3. Komplikasi
Perdarahan, cerukan di dinding rahim, gangguan haid, infeksi, perforasi
uterus, mual, pusing, nyeri

BAB V
ANALISA KASUS
Seorang wanita berusia 18 tahun datang ke RSUD Karawang dengan
keluhan terdapat perdarahan pada jalan lahir sejak jam 1 pagi SMRS. OS
mengaku sedang hamil dengan usia kehamilan 10 minggu G1.
Saat diperiksa didapatkan kesadaran pasien kompos mentis, keadaan umum
tampak sakit sedang. Tekanan darah, nafas, suhu dan nadinya dalam batas normal.
Dari pemeriksaan fisik didapatkan nyeri tekan abdomen pada bagian bawah. Pada
pemeriksaan laboratorium menunjukan hasil dalam batas normal.
Pasien dianjurkan untuk menjalani operasi atas indikasi abortus inkomplit
dan harus dilakukan tindakan kuretase, ijin operasi didapatkan dari pasien beserta
saksi yaitu suami pasien dan disetujui oleh dokter spesialis anestesi. Dari
anamnesis, pemeriksaan fisik saat pre-operasi dan pemeriksaan penunjang,
disimpulkan bahwa pasien termasuk ASA I. Menjelang operasi keadaan umum
pasien normal, tekanan darah, nadi, pernapasan dan suhu dalam batas normal.
Operasi dilakukan pada tanggal 11 November 2014 pukul 11.05 sedangkan
anestesi diberikan pada pukul 11.00 di Instalasi Bedah Sentral RSUD Karawang.

21

Pada pasien dipilih anestesi intravena karena baik digunakan pada operasi dengan
durasi waktu yang singkat seperti pada tindakan kuretase.
Pada pasien diberikan premedikasi yaitu Midazolam (Miloz), merupakan
obat pre-medikasi dan mempunyai efek sedasi agar pasien tenang saat dilakukan
kuretase. Propofol diberikan pada pasien pada kasus ini karena memiliki durasi
yang singkat yaitu 5-10 menit dan juga sebagai induksi hipnotik dan sedatif
propofol memiliki onset kerja dalam waktu 15- 40 detik4. Ketamin diberikan pada
pasien ini untuk mengurangi rasa sakit saat dilakukan kuretase. Medikasi
pospargin dan oxcytocin diberikan agar kontraksi uterus pasien pasca kuretase
dapat maksimal.

BAB VI
KESIMPULAN
Abortus incomplete adalah keguguran ketika usia kehamilan < 20 minggu,
dengan didapatkan sisa-sisa kehamilan. Kuretase dalam kasus ini dilakukan untuk
menghentikan perdarahan yang terjadi karena masih adanya sisa jaringan dalam
rahim yang menghambat rahin untuk berkontraksi dengan baik sehingga
pembuluh darah pada lapisan dalam rahim tidak dapat tertutup.
Pada pasien dengan operasi yang singkat dan pemberian anestesi umum
pada pasien dengan napas yang spontan maka merupakan suatu indikasi untuk
diberikan anestesia melalui jalur vena, namun dalam pemberian anestesi melalui
jalur vena perlu diperhatikan onset dan durasi obat juga kondisi pasien dan
komplikasi obat itu sendiri.
Serta agar menjaga agar keadaan pasien perioperatif hingga post operatif
dalam keadaan baik maka perlu dilakukan monitoring terhadap kondisi pasien pre
operatif Selama periopratif pun sangat diperlukan pengawasan yang ketat terhadap
tekanan darah, nadi, pernapasan, suhu serta saturasi oksigen.

22

DAFTAR PUSTAKA

1. Soenarjo, Sp. An. Djatmiko, H, Sp. An. 2010. Anestesiologi. FK UNDIP


2. Latief SA, Suryadi KA, Dachlan MR. Petunjuk Praktis Anestesiologi Edisi

Kedua. Jakarta: Bagian Anestesiologi dan Terapi Intensif FKUI; 2010


3. Omoigui, S. 2010. Obat-obatan Anastesia. EGC : Jakarta
4. Soenarto

RF, Chandra S. Buku Ajar Anestesiologi. Departemen

Anestesiologi dan Intensive Care FKUI. Jakarta: 2012.


5. Mangku G, Senapathi Tjokorda GA. Buku Ajar Ilmu Anestesia dan
Reanimasi. Jakarta: 2010
6. Wirdjoatmodjo, K. Anestesiologi dan Reaminasi Modul Dasar untuk

Pendidikan S1 Kedokteran. Jakarta : Departemen Pendidikan Nasional.


2012 .

23