Anda di halaman 1dari 12

Fraktur pada Tulang Femur

Anggraini Hertanti
102012440
Fakultas Kedokteran Umum
Universitas Kristen Krida Wacana
Jl. Terusan Arjuna No.6 Kebon Jeruk, Jakarta Barat
Email: Anggrainy_eny@yahoo.co.id

Pendahuluan
Dengan semakin pesatnya kemajuan lalu lintas di Indonesia baik dari segi jumlah
pemakai jalan, jumlah kendaraan, jumlah pemakai jaga angkutan dan bertambahnya jaringan
jalan dan kecepatan kendaraan maka mayoritas kemungkinan terjadinya fraktur adalah
akibat kecelakaan lalu lintas. Kecelakaan lalu lintas sering mengakibatkan trauma kecepatan
tinggidan kita harus waspada terhadap kemungkinan polytrauma yang dapat mengakibatkan
trauma organ organ lain. Trauma trauma lain adalah jatuh dari ketinggian, kecelakaan
kerja, cedera olah raga.Kita harus dapat membayangkan rekonstruksi terjadinya kecelakaan
agar dapat mendugafraktur yang dapat terjadi. Setiap trauma yang dapat mengakibatkan
fraktur juga dapatsekaligus merusak jaringan lunak disekitar fraktur mulai dari otot, fascia,
kulit, tulang,sampai struktur neurovaskuler atau organorgan penting lainnya.Trauma dapat
terjadi secara langsung maupun tidak langsung, trauma secara langsung berarti benturan
pada tulang dan mengakibatkan fraktur di tempat itu sedangkan trauma tidak langsung
terjadi bilamana titik tumpu benturan dengan terjadinya fraktur berjauhan.Fraktur itu sendiri
adalah terputusnya keutuhan tulang, umumnya akibat trauma.Patah tulang tertutup adalah
patah tulang dimana tidak terdapat hubungan antara fragmentulang dengan dunia luar.
Pendapat lain menyatakan bahwa patah tulang tertutup adalah suatu fraktur yang bersih
(karena kulit masih utuh atau tidak robek) tanpa komplikasi. Lalu fraktur femur adalah
terputusnya kontinuitas batang femur yang bisa terjadi akibat trauma langsung(kecelakaan
lalu lintas, jatuh dari ketinggian), dan biasanya lebih banyak dialami oleh laki-laki dewasa.
Patah pada daerah ini dapat menimbulkan perdarahan yang cukup banyak,mengakibatkan
pendertia jatuh dalam syok. Batang femur juga dapat mengalami fraktur olehkarena trauma
langsung,

puntiran

(twisting ),

atau

pukulan

pada

bagian

depan

lutut

yang berada dalam posisi fleksi pada kecelakaan jalan raya. Femur merupakan tulang terbes
ar dalam tubuh dan batang femur pada orang dewasa sangat kuat. Dengan demikian,
traumalangsung yang keras, seperti yang dapat dialami pada kecelakaan automobil,
diperlukanuntuk menimbulkan fraktur batang femur. Perdarahan interna yang masif dapat
menimbulkanrenjatan berat.
Anamnesis
Anamesis adalah pemeriksaan yang dilakukan dengan wawancara. Anamesis dapat
dilakukan langsung kepada pasien, yang disebut autoanamnesis, atau dilakukan
terhadaporang tua, wali, orang yang dekat dengan pasien, atau sumber lain, disebut
sebagaialoanamnesis. Termasuk didalam aloanamnesis adalah semua keterangan dokter
yangmerujuk, catatan rekam medik, dan semua keterangan yang diperoleh selain dari
pasiennya sendiri. Yang perlu dilakukan pada anamnesis adalah sebagai berikut:
1. Identitas : Laki-laki berusia 18 tahun
2. Keluhan utama : nyeri pada paha kanan setelah mengalami kecelakaan
3. Keluhan penyerta : mengalami kesakitan pada tungkai bawah kanan diatas sendi lutut,
tidak dapat berdiri dan merasa kesakitan saat berusaha mengangkat pahanya.
4. Riwayat penyakit terdahulu : ditanyakan pada pasien apakah pernah mengalami patah
tulang, tumor, atau gangguan pada tulangnya.
5. Riwayat penyakit sekarang : ditanyakan apakah saat ini pasien menderita gangguan lain
pada tulangnya, atau penyakit yang sedang diderita.
6. Riwayat penyakit keluarga : ditanyakan apakah dikeluarga ada yang mengalami patah
tulang atau gangguan pada tulang.
7. Riwayat obat : ditanyakan pada pasien obat apa saja yang sudah dikonsumsi.
8. Riwayat sosial : bertanya tentang gaya hidup sehari-hari dilingkungan rumah, sekolah
atau tempat kerja.
Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan

fisik

biasanya

dilakukang

setelah

riwayat

kesehatan

dikumpulkan,

pemeriksaan fisik yang lengkap biasanya dimulai secara berurutan dari kepala sampai jari
kaki. Dimuali dari pemeriksaan tekanan darah, nadi,frekuensi pernapasan, suhu dan tingkat
kesadaran.

Look atau yang biasanya disebut inspeksi adalah dengan melakukan pengamatan
terhadap

lokasi

pembengkakan,

memar

dan

deformitas

(penonjolan

yang

abnormal,angulasi, rotasi, pemendekan) mungkin terlihat jelas, tetapi hal yang penting

adalahapakah kulit itu utuh; kalau kulit robek dan luka memiliki hubungan dengan

fraktur,cedera terbuka.
Feel atau yang sering kita sebut palpasi yaitu pemeriksaan dengan cara perabaan,apakah
terdapat nyeri tekan setempat, tetapi perlu juga memeriksa bagian distal darifraktur untuk
merasakan nadi dan untuk menguji sensasi. Cedera pembuluh darah adalah keadaan

darurat yang memerlukan pembedahan.


Movement :Krepitus dan gerakan abnormal dapat ditemukan, tetapi lebih penting
untuk menanyakan apakah pasien dapat menggerakan sendi sendi dibagian distal
cedera.

Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan radiologis menggunakan foto Roentgen. Film foto polos merupakan
metode penilaian awal utama pada pasien dengan kecurigaan trauma skeletal. Setiap tulang
dapat mengalami fraktur walaupun beberapa diantaranya sangat rentan.
Pada penderita fraktur dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan radiologik untuk
melihat posisi, letak dari fraktur yang dialaminya. Secara klinis ada atau diduga ada fraktur,
maka harus dibuat 2 foto tulang yang bersangkutan. Sebaiknya dibuat foto anteroposterior
(AP) dan lateral. Bila kedua proyeksi ini tidak dapat dibuat karena keadaan pasien yang
tidak mengizinkan, maka dibuat 2 proyeksi yang saling tegak lurus satu sama lain. Perlu
diingat bahwa bila hanya 1 proyeksi yang dibuat, ada kemungkinan fraktur tidak dapat
dilihat jelas dan pasti. Adakalanya diperlukan proyeksi khusus, misalnya proyeksi aksial,
bila ada fraktur pada femur proksimal atau humerus proksimal.1
Scan tulang, tomogram, scan CT / MRI : memperlihatkan fraktur, juga dapatdigunakan
untuk mengidentifikasi kerusakan jaringan lunak. Arteriogram dapat dilakukan bila
kerusakan vaskuler dicurigai. X-Ray dapat dilihat gambaran fraktur, deformitas dan
metalikment. Enogram/anterogram menggambarkan arus vaskularisasi. CT scan untuk
mendeteksi struktur fraktur yang kompleks.1
Working Diagnosis
Fraktur femur tertutup 1/3 distal dextraFraktur (patah tulang) adalah terputusnya
kontinuitas struktur tulang danditentukan sesuai jenis dan luasnya. Agar lebih sistematis,
jenis fraktur dapat dibagi berdasarkan :

Lokasi Fraktur dapat terjadi pada tulang di mana saja seperti pada diafisis,
metafisis,epifisis, atau intraartikuler. Jika fraktur didapatkan bersamaan dengan

dislokasisendi, maka dinamakan fraktur dislokasi.


Luas Terbagi menjadi fraktur lengkap (komplit) dan tidak lengkap (inkomplit).
Fraktur tidak lengkap contohnya adalah retak.
Konfigurasi
Dilihat dari garis frakturnya, dapat dibagi menjadi transversal (mendatar), oblik (miring),
atau spiral (berpilin/ memuntir seputar batang tulang). Jika terdapat lebihdari satu garis
fraktur, maka dinamakan kominutif, jika satu bagian patahsedangkan sisi lainnya
membengkok disebut greenstick. Fractur dengan fragmen patahan terdorong kedalam
(sering terjadi padatulang tengkorak dan wajah) disebut depresi, fraktur dimana tulang

mengalami kompresi ( terjadi pada tulang belakang ) disebut kompresi.2


Hubungan antar bagian yang fraktur Antar bagian yang fraktur dapat masih berhubungan

(undisplaced) atau terpisah jauh (displaced).


Hubungan antara fraktur dengan jaringan sekitar.
Fraktur dapat dibagi menjadi fraktur terbuka (jika terdapat hubungan antara tulangdengan
dunia luar) atau fraktur tertutup (jika tidak terdapat hubungan antara fraktur dengan dunia
luar).

Beberapa tipe fraktur yang menjelaskan keadaan fraktur, antara lain


a. Fraktur Komplit, bila garis patah melalui seluruh penampang tulang atau melalui
kedua kortek tulang.
b. Fraktur Tidak Komplit, bila garis patah tidak melalui seluruh penampang tulang, seperti
Hairline fracture (patah retak rambut), Buckle fracture atau Torus fracture, bila terjadi
lipatan dari satu kortek dengan kompresi tulang spongiosa di bawahnya, biasanya pada
distal radius anak-anak, dan Greenstick fracture, mengenai satu korteks dengan angulasi
korteks lainnya yang terjadi pada tulang panjang anak.3
1. Bentuk garis patah dan hubungannya dengan mekanisme trauma
Garis patah melintang : trauma angulasi atau langsung
Garis patah oblique : trauma angulasi
Garis patah spiral : trauma rotasi
Fraktur kompresi : trauma aksial/ fleksi pada tulang spongiosa atau garis pada vertebra
Fraktur impresi : biasa terjadi pada tengkorak
Fraktur avulsi : trauma tarikan/ traksi otot pada insersinya di tulang, misalnya fraktur

patella
Fraktur Greenstick pada anak-anak
Fraktur epifisis dengan separasi.3

2. Jumlah garis patah


Fraktur kominutif : garis patah lebih dari satu dan saling berhubungan
Fraktur segmental : garis patah lebih dari satu tetapi tidak berhubungan bila dua garis

patah disebut pula fraktur bifokal


Fraktur multiple : garis patah lebih dari satu tetapi pada tulang berlainan tempatnya,
misalnya fraktur femur, fraktur cruris, dan fraktur tulang belakang.

3. Bergeser/ tidak bergeser


a. Fraktur undisplacet (tidak bergeser), garis patah komplit tetapi tidak bergeser,
periosteumnya masih utuh.
b. Fraktur displacet (bergeser), terjadi pergeseran fragmen-fragmen fraktur yang juga
disebut lokasi fragmen, terbagi :
Dislokasi adlongitudinam cum contrasetionum (pergeseran searah sumbu dan

overlapping).
Dislokasi adaxim (pergeseran yang membentuk sudut).
Dislokasi adLatus (pergeseran dimana kedua fragmen saling menjauhi). 4

4. Terbuka/ tertutup
Fraktur Tertutup (closed), bila tidak terdapat hubungan antara fragmen tulang dengan

dunia luar.
Fraktur Terbuka (open/ compound), bila terdapat hubungan antara fragmen tulang dengan
dunia luar karena adanya perlukaan dikulit yang terbagi atas tiga derajat (menurut R.
Gustillo), yaitu :
Derajat I, luka < 1 cm, kerusakan jaringan lunak sedikit tak ada tanda luka remuk,
fraktur sederhana, transversal, oblique, atau kominutif ringan, dan kontaminasi minimal
Derajat II, laserasi > 1 cm, kerusakan jaringan lunak, tidak luas, flap/ avulsi, fraktur
kominutif sedang, dan kontaminasi sedang
Derajat III, terjadi kerusakan jaringan lunak yang luas, meliputi struktur kulit, otot, dan
neurovaskular serta kontaminasi derajat tinggi. Fraktur derajat III terbagi atas.3
Jaringan lunak yang menutupi fraktur tulang adekuat, meskipun terdapat laserasi luas/
flap/ avulsi; atau fraktur segmental/ sangat kominutif yang disebabkan oleh trauma
berenergi tinggi tanpa melihat besarnya ukuran luka.
Kehilangan jaringan lunak dengan fraktur tulang yang terpapar atau kontaminasi
masif.
Luka pada pembuluh arteri/ saraf perifer yang harus diperbaiki tanpa harus melihat
kerusakan jaringan lunak.

Komplikasi atau tanpa komplikasi, bila ada harus disebut. Komplikasi dapat berupa
komplikasi dini atau lambat, lokal atau sistemik, oleh trauma atau akibat pengobatan.

Differential Diagnosis (DD)


Dislokasi adalah keluarnya bongkol sendi dari mangkok sendi, keadaan dimana tulangtulang yang membentuk sendi tidak lagi berhubungan secara anatomis (tulang lepas dari
sendi). Dislokasi terjadi saat ligamen memberikan jalan sedemikian rupa sehingga tulang
berpindah dari posisinya yang normnal di dalam sendi. Dislokasi dapat disebabkan oleh
faktor penyakit atau trauma karena dapatan (acquired) atau karena sejak lahir (kongenital).
Patah tulang di dekat sendi atau mengenai sendi dapat menyebabkan patah tulang disertai
luksasi sendi yang disebut fraktur dislokasi.5
Dislokasi terasa sangat menyakitkan dan rasa nyeri bertambah jika sendi digerakkan.
Biasanya terjadi kelainan bentuk dan bengkak di sekitar sendi. Rontgen dapat dilakukan
untuk memeriksa tanda-tanda patah tulang. Apabila tidak terjadi patah, tulang yang
bermasalah biasanya digeser kembali ke posisi semula. Obat penghilang rasa sakit dan obat
penenang dapat diberikan selama proses ini dilakukan. Sendi tersebut kemudian tidak boleh
digerakkan

selama

beberapa

minggu

dan

memerlukan

fisioterapi

saat

mulai

menggerakkannya. Dislokasi dapat melemahkan sendi sehingga rentan terhadap gangguan


lain. Kadang-kadang operasi dilakukan untuk membantu menstabilkan sendi.5
Manisfestasi klinis
Manifestasi klinis fraktur adalah nyeri,hilangnya fungsi, deformitas, pemendekan
ekstremitas, krepituis, pembengkakan lokal, dan perubahan warna.
a. Nyeri terus menerus dan bertambah berat sampai fragmen tulang imobilisasi.
Spasme otot yang menyertai fraktur merupakan bentuk badai alamiah yang
dirancang untuk menimbulan gerakan antar fragmen.
b. Setalah terjadi fraktur, bagian-bagian yang tidak dapat digunakan dan cenderung
bergerak secara tidak alamiah (gerakan luar biasa) bukannya tetap rigid seperti
normalnya. Pergeseran fragmen pada fraktur lengan atau tungkai menyebabkan
deformitas (terlihat maupun teraba) ekstremitas yang bisa diketahui dengan baik
karena fungsi normal otot bergantung pasa integritas tulang tempat melengketnya
otot.
c. Pada fraktur tulang panjang, terjadi pemendekan tulang yang sebenarnya karena
kontraksi otot yang melekat diatas dan bawah tempat fraktur. Fragmen sering saling
lingkupi satu sama lain sampai 2,5-5cn.

d. Saat ekstremitas diperiksa dengan tangan, teraba adanya derik tulang dinamakan
krepitus yang teraba akibat gesekan antara fragmen satu dengan yang lainnya. Uji
krepitus dapat mengakibatkan kerusakan jairngan lunak yang lebih berat.
e. Pembengkakan dan perubahan warna lokal pada kulit terjadi sebagai akibat trauma
dan pendarahan yang mengikut fraktur. Tanda ini bisa baru terjadi setelah beberapa
jam atau hari setelah cidera.6
Etiologi
Fraktur femur dapat disebabkan oleh :

Fraktur terjadi ketika tekanan yang menimpa tulang lebih besar dati pada daya tahan

tulang akibat trauma.


Fraktur terjadi karena penyakit tulang seperti tumor tulang, osteoporosis yang disebut

fraktur patologis
Fraktur stress atau fatigue, fraktur fatigue biasanya sebagai akaibat dari penggunaan
tulang secara berlebihan yang berulang-ulang.3

Epidemiologi
Untuk fraktur femur yang terbagi dalam beberapa klasifikasi misalnya saja pada fraktur
collum, fraktur subtrochanter femur ini banyak terjadi pada wanita tua dengan usia lebih
dari 60 tahun dimana tulang sudah mengalami osteoporotik, trauma yang dialami oleh
wanita tua ini biasanya ringan (jatuh terpeleset di kamar mandi) sedangkan pada penderita
muda ditemukan riwayat mengalami kecelakaan.
Sedangkan fraktur batang femur, fraktur supracondyler, fraktur intercondyler, fraktur
condyler femur banyak terjadi pada penderita laki-laki dewasa karena kecelakaan ataupun
jatuh dari ketinggian. Sedangkan fraktur batang femur pada anak terjadi karena jatuh waktu
bermain dirumah atau disekolah. Fraktur femur distal relative tidak umum terjadi dan,
bersamaan dengan fraktur diafisis femur, fraktur ini sekarang lebih banyak ditemukan pada
pasien yang lebih tua. Deskripsi ketergantungan-usia ini mengindikasikan kesamaan dengan
fraktur proksimal humerus, dan oleh sebab itu fraktur femur distal dimasukkan kedalam
kategori fraktur osteopenia. 50% insidens terjadi pada usiatua, dan 50% sisanya terjadi
disebabkan karena jatuh. Namun, pada pasien yang lebih muda,fraktur banyak terjadi akibat
kecelakaan sepeda motor dan cedera olahraga.7
Patofisiologi

Penyebab fraktur adalah trauma Fraktur patologis; fraktur yang diakibatkan oleh
traumaminimal atau tanpa trauma berupa yang disebabkan oleh suatu proses., yaitu :
Osteoporosis Imperfekta
Osteoporosis
Penyakit metabolik
Trauma Dibagi menjadi dua, yaitu :
Trauma langsung, yaitu benturan pada tulang. Biasanya penderita terjatuh dengan posisi
miring dimana daerah trochanter mayor langsung terbentur dengan benda keras (jalanan).
Trauma tak langsung, yaitu titik tumpuan benturan dan fraktur berjauhan, misalnya
jatuh terpeleset di kamar mandi pada orangtua.
Tanda dan Gejala
Nyeri hebat di tempat fraktur Tak mampu menggerakkan ekstremitas bawah Rotasi
luar dari kaki lebih pendek
Diikuti tanda gejala fraktur secara umum, seperti : fungsi berubah, bengkak,
kripitasi,sepsis pada fraktur terbuka, deformitas.7
Proses penyembuhan luka terdiri dari beberapa fase yaitu :

Fase hematum, dalam waktu 24 jam timbul perdarahan, edema, hematume disekitar

fraktur dan setelah 24 jam suplai darah di sekitar fraktur meningkat.


Fase proliferasi, terdapat reaksi radang akut disertai proliferasi sel di bawah periosteum
dan di dalam canalis medullaris yang terkoyak. Ujung fragmen dikelilingi oleh jaringan
yang kaya sel, yang menghubungkan ujung fragmen fraktur. Hematoma yang membeku

perlahan-lahan diabsorbsi dan kapiler baru yang halus berkembang ke dalam daerah itu.
Fase formasi callus, terjadi 6 10 hari setelah injuri. Granulasi terjadi perubahan
berbentuk callus. callus bervaskular masih lunak, penuh dengan sel berbentuk kumparan
yang aktif. Tulang spongiosa membentuk callus bila kedua ujung fragmen berdekatan,
sedangkan tulang kortikal dapat membentuk callus walaupun kedua ujung fragmen tidak
berdekatan. Pergerakan yang lembut dapat merangsang pembentukan callus pada fraktur
tulang panjang. Callus yang mengalami kalsifikasi ini secara lambat diubah menjadi
anyaman tulang longgar terbuka yang membuat ujung tulang menjadi melekat dan

mencegah pergerakan ke samping satu sama lain.


Fase consolidasi, dalam waktu lebih 10 minggu yang tepat berbentuk callus terbentuk
dengan oksifitas osteoblast dan osteuctas tulang baru akan berubah menjadi tulang
lamellar (berlapis-lapis). Sistem itu sekarang cukup kaku untuk memungkinkan

osteoklast menerobos melalui reruntuhan pada garis fraktur dan dekat di belakangnya

osteoblast mengisi celah-celah yang tersisa di antara fragmen dengan tulang yang baru.7
Remodelling
Selama beberapa bulan atau bahkan beberapa tahun, pengelasan kasar ini dibentuk ulang
oleh proses reabsorpsi dan pembentukan tulang yang terus menerus. Lamella yang lebih
tebal diletakkan pada tempat yang tekanannya tinggi, dinding-dinding yang tidak
dikehendaki dibuang, rongga sumsum dibentuk akhirnya tulang akan memperoleh bentuk
yang mirip dengan bentuk normalnya.

Penatalaksanaan
Dengan diagnosis yang tepat pada fratur kita dapat menentukan prognosis trauma yang
dialami sehingga dapat dipilih metode pengobatan yang tepat. Faktor yang penting dalam
penyembuhan fraktur yaitu umur penderita, lokalisasi dan konfogurasi, pergeseran awal
serta askularisasi dari fragmen fraktur. Perlu ditetapkan apakah fraktur ini memerlukan
reduksi dan beersifat fraktur tertutup atau terbuka.
1. Medika mentosa
Menghilangkan nyeri, nyeri timbul karena trauma pada jaringan lunak termasuk
periosteum dan endosteum. Nyeri bertambah bila ada gerakan pada daerah fraktur disertai
spasme otot serta pembengkakan yang progresif dalam ruang yang tertutup. Nyeri dapat
atasi imobilisasi fraktur dan pemberian analgesik. analgesik yang digunakan adalah
analgesik opoid.
Morfin dan opoid lain terutama diindikasi untuk meredakan atau menghilangkan nyeri
heat yang tidak dapat diobati dengan analgesik non-opoid. Lebih hebat nyerinya makin
besar dosis yang perlukan. Untunglahpada nyeri hebat depresi pernapasan oleh morfin
jarang terjadi, sebab nyeri merupakan antidotum fisiologik bagi depresi napas morfin.
Morfin sering diperlukan untuk nyeri yang menyertai, infrak miocard, neoplasma, kolik
renal atau kolik empedu, oklusio akut pembuluh darah perifer, pulmonal, atau koroner,
perikarditis akut, pleuritis dan pneumotoraks spontan, dan nyeri akibat trauma misalnya luka
bakar, fraktur,dan nyeri pascabedah. Sebagai medikasi preanastetik, morfin sebaliknya
hanya diberikan pada pasien yang sedang menderita nyeri. Bila tidak ada nyeri dan obat
peraanastetik hanya dimaksudkan untuk menimbulkan ketenangan atau tidur, lebih baik
digunakan pentobarbital atau diazepham.

2. Non-Medika Mentosa
Traksi Penyembuhan fraktur bertujuan mengembalikan fungsi tulang yang patahdalam
jangka waktu sesingkat mungkin. Traksi adalah tahanan yang dipakai dengan berat atau alat
lain untuk menangani kerusakan atau gangguan pada tulang dan otot. Traksi adalah
pemasangan gaya tarikan ke bagian tubuh. Traksi digunakan untuk meminimalkan spame
otot, untuk mereduksi, mensjajarkan, dan mengimubilisasi fraktur; untuk mengurangi
deformitas, dan untuk menambah ruangan di antara kedua permukaan patahan tulang. Traksi
harus diberikan dengan arah dan besaran yang diinginkan untuk mendapatkan efek
terapeutik. Faktor-faktor yang mengganggu keefektifan tarikan traksi harus dihilangkan.
Kadang, traksi harus dipasang dengan arah yang lebih dari satu untuk mendapatkan
garis

tarikan

yang

diinginkan.

Dengan

cara

ini,

bagian

garis

tarikan

yang

pertama berkontraksi terhadap garis tarikan lainnya. Garis-garis tarikan tersebut dikenal
sebagai vektor gaya. Resultanta gaya tarikan yang sebenarnya terletak di tempat di antar
kedua garis tarikan tersebut. Efek traksi yang dipasang harus dievaluasi dengan sinar-X, dan
mungkin diperlukan penyesuaian. Bila otot dan jaringan lunak sudah rileks, berat yang
digunakan harus diganti untuk memperoleh gaya tarikan yang diinginkan.

Komplikasi
1. Kompikasi Umum
Syok hipovolemia (karena perdarahan yang banyak), syok neurogenik (karenanyeri yang
hebat), koagulopati diffus, gangguan fungsi pernafasan. Komplikasi inidapat terjadi dalam
waktu 24 jam pertama pasca trauma, dan setelah beberapa hariatau minggu dapat terjadi
gangguan metabolisme yaitu peningkatan katabolisme,emboli lemak, tetanus, gas ganggren,
trombosit vena dalam (DVT).9
2. Komplikasi Lokal
Jika komplikasi yang terjadi sebelum satu minggu pasca trauma disebut komplikasi
dini, jika komplikasi terjadi setelah satu minggu pasca trauma disebut komplikasi lanjut.
Ada beberapa komplikasi yang terjadi yaitu :

Osteomielitis, terutama pada fraktur terbuka atau tindakan operasi pada fraktur tertutup
seehingga dapat menimbulakn delayed union sampai non-union.

Necrosis avaskular, hilangnya/ terputusnya supply darah pada suatu bagian tulang
sehingga menyebabkan kematian tulang tersebut. Sesuai dengan anatomi vaskular, maka
necrosis avaskular pascatrauma sering terjadi pada kaput femoris, yaitu pada fraktur

collum femoris, pada naviculare manus, dan talus.


Non-union, biasanya karena imobilisasi tidak sempurna. Juga bila ada interposisi
jaringan diantara fragmen-fragmen tulang radiologis terlihat adanya sklerosis pada ujungujung fragmen sekitar fraktur dan garis patah menetap. Pembentukan kalus dapat terjadi

sekitar fraktur, tetapi garis patah menetap.


Delay-union, umumnya terjadi pada:
Orang-orang tua karena aktifitas osteoblas menurun
Distraksi fragmen-fragmen tulang karena reposisi kurang baik, misalnya traksi terlalu

kuat atau fiksasi internal kurang baik


Defisiensi vitamin C dan D
Fraktur patologik
Adanya infeksi
Mal-union, disebabkan oleh reposisi fraktur yang kurang baik, timbul deformitas tulang.
Atrofi Sudeck, suatu komplikasi yang relatif jarang pada fraktur ekstremitas, yaitu
adanya disuse osteoporosis yang berat pada tulang distal dari fraktur disertai
pembengkakan jaringan lunak dan rasa nyeri.9

Prognosis
Prognosis fraktur femur adalah dubia ad bonam, tergantung seberapa cepat fraktur
tersebut ditangani, adanya infeksia tau tidak serta seberapa parah fraktur yang dialami, dan
apakah adanya penyakit sekunder yang mengikuti seperti adanya penyakit penyerta lainnya.
Kesimpulan
Fraktur adalah terputusnya keutuhan tulang, umumnya akibat trauma. Fraktur femur adalah
terputusnya kontinuitas batang femur yang bisa terjadi akibat trauma langsung(kecelakaan
lalu lintas, jatuh dari ketinggian), dan biasanya lebih banyak dialami oleh laki-laki dewasa.
Patah pada daerah ini dapat menimbulkan perdarahan yang cukup banyak,mengakibatkan
pendertia jatuh dalam syok. Prognosis fraktur tergantung seberapa cepatfraktur tersebut
ditangani, adanya infeksi atau tidak serta seberapa parah fraktur yang dialami,dan apakah
adanya penyakit sekunder yang mengikuti seperti adanya penyakit penyertalainnya.
Daftar Pustaka

1. Subbagian Radiodiagnostik, Bagian Radiologi FKUI. Radiologi diagnostik. Jakarta:


Balai Penerbit FKUI; 2010.h. 31-3, 46
2. Mansjoer A, Suprohaita, Wardhani WI, Setiowulan W. Kapita Selekta Kedokteran.
Edisi 3 jilid 2. Jakarta: Media Aesculapius Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia; 2005.h. 354-6
3. Schwartz SI. Intisari Prinsip-Prinsip Ilmu Bedah. Edisi 6. Jakarta: EGC; 2003.h. 657
4. Reksoprodjo S. Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah. Jakarta: Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia Bagian Ilmu Bedah Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia/ Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo; 2002.h. 537-43
5. Greenberg. Teks Atlas Kedokteran Kedaruratan. Penerbit Erlangga. Jakarta, 2008.h.
516-7
6. Corwin EJ. Buku Saku Patofisiologi. Ed 3. Jakarta : EGC, 2009.h. 336-9
7. Welsby PD. Pemeriksaan Fisik dan Anamnesis Klinis. Jakarta : EGC, 2009.h. 175-7
8. Farmako dan Terapi. Jakarta : Departemen farmakologi dan terapeutik fakultas
kedokteran UI, 2007.h. 211-2.
9. Patel PR. Lecture Notes : Radiologi. Penerbit Erlangga. Jakarta, 2007.h. 192-4