Anda di halaman 1dari 23

LAPORAN KASUS

A Identifikasi
Name

: Rizky Ibrahim Saleh

Gender

: Male

Age

: 5 month (14-5-2014)

RM

: 684878

Admitted

: 18/10/2014

B Anamnesis
Keluhan Utama:
Celah pada bibir atas
Anamnesis Terpimpin
Dialami sejak lahir. Pasien lahir dengan cara cesar, cukup bulan, segera
menangis, berat lahir 5kg. Sewaktu mengandung, ibunya sering mengambil
obat-obatan dari dokter kerna sering sakit. Riwayat keluarga yang mempunyai
penyakit kongenital yang sama ada.
C. Pemeriksaan Fisik
Status Generalis
Sakit sedang/Gizi Baik/Compos Mentis
Status Vitalis
BP

: 90/60 mmHg

Pulse

: 102x/min

RR

: 26x/min

Temp

: 36,50 C

Status Lokalis
Regio lip superior
Inspeksi:
Terdapat celah pada bibir. Edema (-), Haematom (-).

Palpation :
Nyeri tekan (-).
D.Hasil Pemeriksaan
Examinations

Results

WBC

10.700/mm3

RBC

4,86 x 106/mm3

Hb

13,8 gr/dl

HCT

39 %

PLT

238.000/mm3

SGOT

43 U/l

SGPT

37 U/l

Ureum

20 mg/dl

Creatinin

0,40 mg/dl

CT

BT

HBsAg

Non reactive

E. Diagnosis Sementara
Labioschizis Inkomplit
F. Penatalaksanaan
Rencana Labioplasty

TINJAUAN PUSTAKA
CLEFT LIP ATAU PALATE (CLP)
I. Pendahuluan
Cleft lip atau labioschisis adalah suatu kelainan bawaan berupa celah pada
bibir atas diantara

mulut dan hidung. Kelainan ini dapat komplit dan

inkomplit.Celah pada satu sisi disebut labioschisis unilateral dan jika celah
terdapat pada kedua sisi disebut labioschisis bilateral. Kelainan ini terjadi karena
adanya gangguan pada kehamilan trimester pertama yang menyebabkan
tergangguanya proses tumbuh kembang janin. 1,2
Permasalahan pada penderita celah pada bibir dan langit-langit sudah
muncul sejak penderita lahir. Derita psikis yang dialami pula oleh penderita
setelah menyadari dirinya berbeda dengan yang lain. Secara fisik adanya celah
akan membuat kesukaran minum karena adanya daya hisap yang kurang. Se1ain
itu terjadi permasalahan dalam segi estetik/kosmetik, perkembangan gigi yang
tidak sempurna serta gangguan pertumbuhan rahang dan gangguan bicara berupa
suara sengau. Penyulit yang juga mungkin terjadi pada penderita celah bibir
adalah infeksi pada telinga tengah hingga gangguan pendengaran.1
Pada orang kulit putih, cleft lip dengan atau tanpa cleft palate ditemukan
sekitar 1 dari 1000 kelahiran hidup, dua kali lebih banyak di banding populasi di
Asia dan setengah dari populasi di Amerika. Kelainan ini lebih sering ditemukan
pada laki-laki daripada wanita, juga dikatakan bahwa kelainan ini lebih banyak
ditemukan pada sisi wajah sebelah kiri daripada sebelah kanan.3,4,5,6
Secara umum, kelainan ini disebabkan oleh kombinasi faktor genetik dan
lingkungan. Sekitar 33- 36 % dari kasus yang ditemukan menunjukkan riwayat
keluarga yang menderita celah pada bibir berisiko menderita kelainan yang sama.
Cleft lip dengan atau palate dikaitkan dengan lebih dari 150 sindrom, sindrom
yang paling umum adalah Van der Woude. Sedangkan faktor lingkungan antara

lain infeksi virus misalnya Rubella, penggunaan obat-obat teratogenik selama


trimester pertama kehamilan seperti steroid dan antikonvulsan, penyalahgunaan
alkohol, kebiasaaan merokok saat hamil, serta kekurangan nutrisi saat hamil
khususnya asam folat. 3,4,5,6
II. Anatomi
Anatomi bibir dan hidung merupakan hal yang penting dalam memahami
kelainan yang disebabkan oleh celah facial. Elemen yang terdapat pada bibir
normal terdiri dari philtrum sentral, sebelah lateral dibatasi oleh collum philtral
dan sebelah inferior dibatasi oleh tuberkel dan cupid bow. Cupid bow merupakan
bagian tengah dari bibir atas yang dibentuk oleh philtrum groove dan collum
philtral yang kedalamannya berbeda untuk tiap individu, sedangkan tuberkel
adalah bagian tengah vermillion yang menonjol. Pertemuan antara vermillion dan
kulit merupakan jembatan mukokutaneus yang biasa disebut white roll. Dua
cuping hidung dipisahkan oleh kolumella pada bagian luar dan septum pada
bagian dalam.4,5

Gambar 1. Anatomi Bibir


Bibir bagian bawah memiliki satu unit kosmetik yaitu pada bagian mental
crease yang memisahkan bibir dengan dagu.Vermilion merupakan bagian bibir

yang paling penting dari sisi kosmetik.Lapisan sagital bibir dari luar ke dalam
yaitu epidermis, dermis, jaringan subkutaneus, m. orbicularis oris, submukosa dan
mukosa. Bibir atas yang normal mempunyai otot orbicularis oris utuh, 2 buah
philthrum ridge yang sejajar dan sama panjang dengan di tengahnya terbentuk
philthrum collum. Disamping itu mempunyai cupid bow, dibagian permukaan
mempunyai vermilion yang simetris.7
Otot primer pada bibir adalah orbicularis oris, yang memiliki dua
komponen yaitu komponen eksternal dan internal. Serabut otot internal berjalan
horizontal atau sirkumferensial yang berperan dalam proses makan. Sedangkan
serabut otot eksternal berjalan obliq dan berfungsi untuk membentuk ekspresi dan
pergerakan bibir saat berbicara. 4,5
Kompetensi oris dikendalikan oleh m. orbicularis oris, dengan musculus
ekspresi wajah lainnya daerah otot ini dikenal dengan istilah modiolus.
1. Muskulus elevator terdiri dari m. levator labii superior alaeque nasi, m. levator
labii superior, m. zygomaticum major, m. zygomaticum minor dan m. levator
anguli oris.
2. Muskulus retraktor bibir atas disusun oleh m. zygomaticum major, m.
zygomaticum minor dan m. levator anguli oris.
3. Muskulus depresor meliputi m. depresor anguli oris danm. depresor labii
inferior. Muskulus retraktor bibir bawah terdiri dari m. depresor anguli oris
dan m. platysma, sedangkan m. mentalis berfungsi untuk protrusi bibir.8
Serabut superficial dari orbicularis menembus garis tengah dan masuk ke
lateral kulit yang berlawanan dengan philtral groove forming dari philtrum
collum. Hasilnya bagian sentral philtral collum tertekan akibat tidak adanya
serabut otot yang

secara langsung masuk

ke dermis pada garis tengahnya.

Tuberkel bibir terbentuk oleh pars marginalis, pembagian orbicularis sepanjang


vermillion membentuk tuberkel bibir dengan terjadinya eversi dari otot,
vermillion cutaneous junction.5,6
Pada bibir atas, levator labii superioris berperan dalam pembentukan bibir.
Serabutnya berjalan dari arah medial lingkaran infraorbita, melingkupi kebawah
masuk ke daerah dekat vermillion cutaneus junction. Hampir semua dari serabut

medial elevator labii superioris ke bawah untuk masuk ke sudut ipsilateral dari
collum philtrum dan vermillion junction, membantu untuk mempertahankan
daerah terbawah collum philtrum dan puncak dari cupid bow. 4,5

Gambar 2. Otot pada bibir


(A m. levator labii superioris,B m. zygomaticus minor, C - m. zygomaticus
major, D - m. risorius, E - m. depressor anguli oris, F - m. labii inferioris, G m. orbicularis oris)
Begitu halnya dengan otot-otot nasal juga memegang peranan penting.
Levator superioris alaeque berjalan dari arah processus frontralis maxillaris dan
masuk pada permukaan mukosa pada bibir dan ala nasalis transverse berjalan
sepanjang dorsum nasal dan melingkupi sekeliling ala untuk masuk sepanjang
ambang nasi dari lateral ke medial menuju tulang nasal anterior dan puncak
incisal. Kemudian seratnya bergabung dengan serabut obliq dari orbicularis dan
depressi septi, dimana berjalan dari alveolus diantara sentral dan lateral incisors
kemudian masuk ke kulit culomella selanjutnya ke puncak nasi dan lantai dasar
dari crura media.4,5
Celah

unilateral demikian mengganggu perjalaran akhir yang normal

serabut otot yang menyilang embryologic fault line dari processus nasalis dan
maxillaris. Hasilnya simetris tetapi terjadi pembentukan otot yang abnormal
diantara equilibrium normal yang ada dengan kelompok otot oral dan nasolabial.
6

Dengan adanya premaksila yang tidak terkendali, terbentuk deformitas dengan


perbedaan pertumbuhan dari masing-masing elemen. Alar cartilages merenggang
keluar dan berputar ke arah caudal, dimana terjadi subluksasi dari posisi yang
normal. Konsekuensinya puncak nasi melebar, columella memendek serta dasar
ala nasi berputar menjauhi kepala.4,5
Vaskularisasi berasal dari a. labialis superior dan inferior, cabang dari a.
facialis.Arteri labialis terletak antara m. orbicularis oris dan submukosa sampai
zona transisi vemlilion-mukosa.8
Inervasi
Inervasi sensoris bibir atas berasal dari cabang n. cranialis V (n.
trigeminus) dan n. infraorbitalis.Bibir bawah mendapat inervasi sensoris dari n.
mentalis. Pengetahuan inervasi sensoris ini penting untuk melakukan tindakan
blok anestesi. Inervasi motorik bibir berasal dari n. cranialis VII (n.
facialis).Ramus buccalis n.facialis menginervasi m. orbicularis oris dan m.
elevator labii. Ramus mandibularis n. facialis menginervasi m. orbicularis oris dan
m. depressor labii.8
III. Embriologi
Secara embriologik rangka dan jaringan ikat pada wajah (kecuali kulit dan
otot), termasuk palatum, berasal dari sel-sel neural crest di cranial, sel-sel inilah
yang memberikan

pola pada pertumbuhan dan

perkembangan wajah.

Pertumbuhan facial sendiri dimulai sejak penutupan neuropore (neural tube)pada


minggu ke-4 masa kehamilan yang kemudian dilanjutkan dengan rangkaian
proses kompleks berupa migrasi, kematian sel terprogram, adhesi dan proliferasi
sel-sel neural crest.8
Ada 3 pusat pertumbuhan facial, yaitu :
1. Sentra prosensefalik,
Bertanggung jawab atas pertumbuhan danperkembangan lobus frontal otak,
tulang frontal.dorsum nasal dan bagian tengah bibir atas, premaksila dan
septum nasal (regio fronto-nasal).
2.

Rombensefalik

Membentuk bagian posterior kepala, lateral muka dan sepertiga muka bagian
bawah (regio latero posterior). Ada bagian-bagian yang mengalami tumpang
tindih akibat impuls-impuls pertumbuhan yang terjadi, disebut diacephalic
borders.
3. Diasefalik
Diacephalik borders pertama yaitu sela tursika, orbita dan ala nasi, selanjutnya
ke arah filtrum; dan filtrum merupakan penanada(landmark) satu-satunya dari
diacephalic borders yang bertahan seumur hidup. Diacephalic borders kedua
adalah regio spino-kaudal dan leher.9

Gambar 3. Embrio berusia 2 minggu dengan sentra pertumbuhan


Pembentukan bibir atas melalui rangkaian proses sebagaimana berikut.
Sisi lateral bibir atas, dibentuk oleh prominensi maksila kiri dan kanan; sisi
medial (filtrum) dibentuk oleh fusi premaksila dengan prominensi nasal. Ketiga
prominensi inikemudian mengalami kontak membentuk seluruh bibir atas yang
utuh. Gangguan yang terjadi pada rangkaian proses sebagaimana diuraikan diatas
akan menyebabkan adanya celah baik pada bibir (jaringan lunak) maupun gnatum,
palatum, nasal, frontal bahkan maksila dan orbita (rangka tulang). Berdasarkan
teori ini, dikatakan bahwa bibir sumbing dan langit-langit, merupakan suatu
bentuk malformasi (aplasi-hipoplasi) yang paling ringan dari facial cleft, yang
mencerminkan gangguan pertumbuhan pada sentra prosensefalik, rombensefalik
dan diasefalik.8

Beberapa teori yang menggambarkan terjadinya celah bibir :


1.

Teori Fusi
Disebut teori klasik. Pada akhir minggu keenam dan awal minggu ketujuh
masa kehamilan, prosesus maksilaris berkembang ke arah depan menuju garis
median, mendekati prosesus nasomedialis dan kemudian bersatu. Bila terjadi
kegagalan fusi antara prosesus maksilaris dengan prosesus medialis maka
celah bibir akan terjadi.8

2.

Teori Mesodermal sebagai kerangka membran brankhial


Pada minggu kedua kehamilan, membran brankhial memerlukan jaringan
mesodermal yang bermigrasi melalui puncak kepala dan kedua sisi ke arah
wajah. Bila mesodermal tidak ada maka dalam pertumbuhan embrio membran
brankhial akan pecah sehingga akan terbentuk celah bibir.4

3.

Gabungan teori fusi dan penyusupan mesodermal.


Patten pada tahun 1971, pertama kali menggabungkan kemungkinan
terjadinya

celah

bibir, yaitu

adanya

fusi

prosesus

maksilaris

dan

penggabungan kedua prosesus naso medialis yang kelak akan membentuk


bibir bagian tengah.9,10
IV. Patofisiologi
Ketika proses perkembangan embriologi dari kepala dan leher terjadi, akan
diikuti dengan proses pembentukan celah pada wajah.6,11Selama minggu ketiga
dan kedelapan, lima prominences pada wajah digabungkan. Bibir kemudian
berkembang antara minggu ketiga dan ketujuh yang diikuti dengan langit-langit
antara minggu kelima dan kedua belas minggu. Karena proses ini sangat rumit,
beberapa faktor-faktor genetik dan lingkungan dapat mempengaruhi jenis dan
tingkat keparahan celah bibir dan langit-langit dan mengakibatkan kerusakan
jaringan berbagai yang terlibat.1

Gambar 5. Embrio pada minggu ke 5


Terjadi fusi antara prominensia maxillaris, nasal media dan lateral melalui
apoptosis, diferensiasi epithelial, dan subepitelial mesenkim. Celah bibir dan
celah palatum terjadi jika terdapat kegagalan fusi dari jaringan ini.Beberapa
penelitian menunjukkan kelainan ini merupakan akibat sekunder dari defek
pertumbuhan mesenkim atau differensiasi epitel.Selain itu kesalahan dari
pemprograman genetic juga dapat mengganggu fusi prominensia maxillaries dan
nasal medial. Akibatnya, suplai darah dan otot terganggu dan mengakibatkan
terjadinya cacat pada bibir dan palatum.11
V. Klasifikasi
Celah pada bibir dapat dibedakan menjadi unilateral dan bilateral. Selain
itu, dapat pula dibagi menjadi komplit, inkomplit, dan mikroform. Microform
merupakan bentuk yang paling ringan. Mikrofrom tampak sebagai defek kecil
pada bagian atas dari vermilion sehingga batas dari mukokutan hilang.12

Gambar 6. Cleft Mikroform


Pembagian berdasarkan International Classification of the Diseases
(ICD), mencakup celah anatomis organ terlibat, lengkap atau tidaknya celah,
unilateral atau bilateral yang digunakan untuk sistem pencatatan dan pelaporan
yang dilakukan oleh World Health Organization (WHO).8
Selain itu, celah pada bibir dapat dikelompokkan menjadi 2 kategori:
unilateral komplit atau inkomplit dan bilateral komplit atau inkomplit.11
1. Unilateral komplit. Jika celah bibir yang terjadi hanya di salah satu sisibibir

10

dan memanjang hingga ke hidung atau dengan kata lain unilateral komplit
memberikan gambaran keadaan dimana te1ah terjadi pemisahan pada salah
satu sisi bibir, cuping hidung dan gusi. Unilateral komplit memiliki dasar dari
palatum durum yang merupakan daerah bawah daripada kartilago hidung.

Gambar 7. Tipe unilateral komplit


2. Unilateral Inkomplit. Jika celah bibir terjadi hanya disalah satu sisi bibir dan
tidak memanjang hingga ke hidung atau dengan kata lain bahwa unilateral
inkomplit memberikan gambaran keadaan dimana terjadi pemisahan pada salah
satu sisi bibir, namun pada hidung tidak mengalami kelainan.

Gambar 8. Tipe unilateral inkomplit


3. Bilateral Komplit. Jika celah bibir terjadi di kedua sisi bibir dan memanjang
hingga ke hidung. Dapat terlihat adanya penonjolan pada daerah premaxilla,
yang disebabkan tidak adanya hubungan dengan daerah lateral dari palatum
durum.

11

Gambar 9. Tipe bilateral komplit


4. Bilateral Inkomplit. Jika celah ini terjadi secara inkomplit dimana kedua
hidung dan daerah kedua premaxilla tidak mengalarni pemisahan dan hanya
menyertakan dua sisi bibir.

Gambar 10. Tipe bilateral inkomplit


VI. Sistem Kode Lokasi Celah
Ada cara penulisan lokasi celah bibir dan langit-langit yang diperkenalkan
oleh Otto Kriens, yaitu sistem LAHSHAL yang sangat sederhana dapat
menjelaskan setiap lokasi celah pada bibir, alveolar, hard palate dan soft palate.
Kelainan komplit, inkomplit, microform, unilateral atau bilateral.1
Bibir disingkat sebagai L (lips), gusi disingkat sebagai A (alveolar), langitIangit dibagi menjadi dua bagian yaitu H (hard palate) dan S (soft palate). Bila
norrnal (tidak ada celah) maka urutannya dicoret, celah komplit (lengkap) dengan
huruf besar, celah inkomplit (tidak lengkap) dengan huruf kecil dan huruf kecil
dalam kurung untuk kelainan microform.Pemakaian sistem LAHSHAL ini juga
sesuai dengan ICD(International Code Of Diagnosis).1
LAHSAL SYSTEM
L=Lip; A=Alveolus; H=Hard Palate; S=Soft Palate

S selalu di tengah

12

Yang mendahului S adalah bagian kanan dan sesudah S adalah bagian kiri

Huruf besar menunjukkan bentuk ce1ah total

Huruf kecil menunjukkan bentuk partial

Di dalam kurung adalah bentuk microform

Strip berarti normal atau intak.1

Gambar 11. Sistem LAHSHAL


Contoh :
1. CLP/L-----L
Cleft Lip and Palate lokasi celah berada di bibir kanan dan kiri, celah komplit
2. CLP/-----SHAL
CLP dengan lokasi celah komplit pada soft palate, alveolus dan bibir bagian
kiri.
3. CLP/ i----CLP celah bibir sebelah kanan inkomplit.1
VII. Diagnosis
Diagnosis Cleft lip and palate ditegakkan berdasarkan hasil anamnesis,
pemeriksaan fisis dan pemeriksaan penunjang.
1.

Anamnesis
Pada anamnesis adanya keluhan yang diderita sejak lahir berupa celah pada

bibir yang menyebabkan kesulitan menyusui, makan, berbicara, dan kesulitan

13

mendengar. Riwayat keluarga dengan keluhan serupa, adanya riwayat defisiensi


nutrisi/vitamin pada ibu dan penggunaan obat-obatan teratogenik selama trimester
pertama kehamilan, serta adanya riwayat penyalahgunaan alcohol dan kebiasaan
merokok saat hamil.2,5,8
2.

Pemeriksaan Fisis
Pada pemeriksaan Fisis di daerah wajah diagnosis CLP dapat di tegakkan.

Pembagian berdasarkan International Classification of the Diseases (ICD),


mencakup celah anatomis organ terlibat, lengkap atau tidaknya celah, unilateral
atau bilateral; digunakan untuk sistem pencatatan dan pelaporan yang dilakukan
oleh World Health Organization (WHO).8
3.

Pemeriksaan Penunjang
Pada saat dalam kehamilan, pemeriksaan celah dini pada janin dapat kita

lihat dengan menggunakan transvagina ultrasonografi pada minggu ke-l1 masa


kehamilan dan bisa juga dideteksi dengan menggunakan transabdominal
ultrasonografi pada usia kehamilan minggu ke-16.

Gambar 12. Cleft lip bilateral pada fetus usia 18 minggu


Namun,

dalam

mendiagnosis

deformitas

bibir

atau

langit-langit

ultrasonographer harus dapat melihat wajah janin.Hal ini sering tidak mudah dan
tes mungkin harus diulangi beberapa kali.Salah satu studi besar melaporkan
bahwa kurang dari sepertiga dari deformitas (celah) bibir dan langit-langit kasus
sebelumnya didiagnosis dengan USG. Tingkat deteksi bervariasi tergantung pada

14

keahlian sonographer, kehamilan usia, kehadiran anomali lain, dan keterampilan


radiolog membaca film. 10,13
Jika celah pada bibir dapat dideteksi, maka janin kemungkinan mengalami
malformasi, gangguan kromosom atau kedua-duanya. Bagaimanapun seorang
dokter ahli dapat mendiagnosa sekitar 80% dari pemeriksaan prenatal jika mereka
menggunakan 3-dimensi ultrasonografi. Untuk mendeteksi celah pada langitlangit sepertinya agak sulit jika menggunakan ultrasonografi.MRI lebih memiliki
ketelitian lebih baik dibandingkan ultrasonografi. 10,13

(a)
(b)
Gambar 13. USG 3-dimensi memperlihatkan adanya facial cleft pada fetus usia
22 minggu(a) dan facial cleft pada usia kehamilan 32 minggu
VIII. Penatalaksanaan
Penderita CLP mengalami berbagai permasalahan yang ditimbulkan akibat
cacat ini adalah psikis, fungsi, dan estetik dimana ketiganya saling
berhubungan.Untuk fungsi dan nilai estetik baik untuk bibir, hidung dan
rahangnya diperlukan pembedahan. Disamping jasa seorang spesialis Bedah
Plastikjuga dibutuhkan sebuah tim dokter lain yang terdiri dati dokter THT,
dokter gigi spesialis ortodentis, dokter anak, tim terapi bicara dan pekerja sosial.2,3
Bayi yang baru lahir dengan CLP segera dipertemukan dengan pekerja
sosial untuk diberi penerangan (edukasi) agar keluarga penderita tidak mengalami
stress dan menerangkan harapan yang bisa didapatkan dengan perawatan yang
menyeluruh bagi anaknya. Selain itu dijelaskan juga masalah yang akan dihadapi
kelak pada anak. Menerangkan bagaimana memberi minum bayi agar tidak

15

banyak yang tumpah. Pekerja sosial membuatkan suatu record psicososialpasien


dari sini diambil sebagai bagian record CLP pada umumnya. Pekerja sosial akan
mengikuti perkembangan psikososial anak serta keadaan keluarga dan
lingkungannya. Ahli THT untuk mencegah dan menangani timbulnya otitis media
dan kontrol pendengaran.1
IX. Preoperasi
Sebeum dilakukan observasi pada penderita kondisi bayi harus sehat,
tindakan pembedahan mengikuti tata cara ""rule of ten": bayi berumur lebih 10
minggu, berat 10 pon atau 5 kg, dan memiliki hemoglobin lebih dari 10 gr% dan
tak ada infeksi lekosit di bawah 10.000.1,10
Memberikan penerangan terhadap keluarga penderita sehingga tidak stress
dan menerangkan harapan nyata yang bisa didapat dengan perawatan menyeluruh
bagi anaknya. Selanjutnya menginstruksikan kepada keluarga penderita untuk
konsisten

memperhatikan

penderita

sejak

lahir

hingga

dewasa

tanpa

memperlihatkan empati yang berlebih.5


Dalam penanganan penderita CLP dipedukan kerjasama para spesialis
dalam suatu tim yang akan diatur dalam sebuah protokol CLP, yaitu:1
1. Pasien umur 3 bulan (the over tens)
a. Operasi bibir dan hidung
b. Pencetakan model gigi
c. Evaluasi telinga
d Pemasangan grommets bila perlu
2. Pasien umur 10 - 12bulan
a. Operasi palatum
b.Evaluasi pendengarann dan telinga
3. Pasien umur 1 - 4 tahun
a.Evaluasi bicara, dimulai3 bulan pasca operasi, follow up dilakukan oleh
speech pathologist.
b.Evaluasi pendengaran dan telinga
4. Pasien umur 4 tahun

16

Kalau bicara tetap jelek dipertimbangkan repalatografy atau pharyngoplasty.


5. Pasien umur 6 tahun
a. Evaluasi gigi dan rahang, pembuatan model
b.Melakukan nasoendoskopibagi yang memerlukan
c.Evaluasi pendengaran
6. Pasien umur 9-10 tahun
Alveolar bone graft
7. Pasien umur 12 -13 tahun
Final touch untuk operasi-operasi yang dulu pemah dilakukan, bila masih ada
kekurangannya.
8. Pasien umur 17 tahun
a. Evaluasi tulang-tulang muka
b. Operasi advancement osteotomy Le Fort I
X. Intraoperesi (Teknik Pembedahan Celah Bibir)
1. Teknik untuk Mikroform Cleft Lip
Hal penting yang perlu di perhatikan dalam mengevaluasi celah tipe
mikroform adalah ketinggian vertical bibir.Jika ketinggian vertical bibir
mendekati normal maka ketidakseimbangan ini dapat dihilangkan dengan elips
eksisi. Flap triangular

dariwhite roll dan vermillon dapat digunakan untuk

menyeimbangkan penutupan celah yang dikenal dengan teknik double unilimb ZPlasty dimana didapatkan skar luka hanya teratas pada bagian bawah bibir.4,1

17

Gambar 14.Titik-titik anatomi Cornu-vermilion-mukosa (Kiri). Desain dua


segitiga isosceles lateral (Cornu dan vermilion) (kanan)
2. Teknik untuk unilateral cleft lip
Beberapa prosedur bedah untuk memperbaiki unilateral cleft lip telah
dikemukakan dengan variasi yang beragam antara lain "Rose-Thompson Straight
Line Closure, Randall-Tennison triangular flap repair, Millard rotationadvancement repair, LeMesurier quadrilateral flap repair, Lip adhesion, and
Skoog dan Kernahan-Bauer upper dan lower lip Z-plasty repair.Dan masih
banyak lagi teknik-teknik yang lainseperti teknik Delaire danteknik Poole.Setiap
teknik tersebut bertujuan untuk mengembalikan kontuinitas dan fungsi dari
musculus orbicularis dan menghasilkan anatomis yang simetris. Kesemuanya
mencoba untuk memperpanjang pemendekan philtrum pada bagian bercelah
dengan melekatkan jaringan dari elemen bibir lateral ke elemen bibir medial,
dengan menggunakan berbagai kombinasi antara lain merotasi, memajukan. dan
mentransposisikan penutup.3,5
Teknik Rose Thompsonn straight line closure merupakan teknik untuk
penyambungan linear defek minimal dari lengkung bibir dengan pertimbangan
megenai titik anatomis yang ada. Teknik Hagedorn-LeMesurier, dimana unsur
medialis bibir diperpanjang dengan memperkenalkan sebuah lipatan quadrilateral
yang dikembangkan dari unsur bibir lateral. Sedangkan teknik Skoog, unsur
medialis bibir diperpanjang dengan memperkenalkan dua lipatan segitiga kecil
yang dikembangkan dari unsur bibir lateral. Dua teknik yang sering digunakan
yaitu teknik triangular (Tennison Randall) dan teknik rotasi Millard.. 3,5
Tennison Randall menggunakan flap triangular dari sisi lateral, dimasukkan
ke sudut di sisi medial dari celah tepat di atas batas vermillion, melintasi collum
philtral sampai ke puncak cupid. Triangle ini menambah

panjang di sisi

terpendek dari bibir. Teknik ini menghasilkan panjang bibir yang baik tetapi
jaringan parut yang terbentuk tidak terlihat alami. 3,5

18

Gambar 16. Teknik Tennison Randall


Teknik Milliard Rotation Advancement adalah teknik yang dikembangkan
oleh Milliard dengan perbaikan bertahap cocok untuk memperbaiki baik cleft lip
komplit maupun inkomplit. Teknik ini sederhana, tapi diperlukan mata yang baik
dan tangan yang bebas karena merupakan teknik-teknik 'cut as you go' bagian
nasal rekonstruksi harus didudukkan pada posisi anatomi sphincter oral, rotasi
seluruh crus lateral + medial dari kartilago lateral, rekonstruksi dasar hidung (baik
lebar dan tingginya) dengan koreksi asimetris maksila yang hipoplastik untuk
meninggikan ala bawah yang mengalami deformitas dan penempatan kolumella
dan septum nasi ke midline untuk memperoleh nostril yang simetris. Keuntungan
dari teknik rotasi Millardadalah jaringan parut yang terbentuk berada pada jalur
anatomi normal dari collum philtral dan batas hidung.3,5

Gambar 17. Teknik Millar

19

Teknik Millardmembuat dua flap yang berlawanan di mana pada sisi medial
dirotasi ke bawah dari kolumella untuk menurunkan titik puncak ke posisi normal
dan sisi lateral dimasukkan ke arah garis tengah untuk menutupi defek pada dasar
kolumella.3
Bagian bibir yang normal disiapkan untuk menerima bagian sisi yang
sumbing pada teknik Miliard, untuk itu maka sisi yang sehat dengan cupids bow
harus diiris sepanjang bawah kolumella dan dibebaskan ke bawah, ke arah estetika
normal. Bagian bibir yang sumbing harus diiris sedemikian rupa untuk mengisi
gap celah yang telah disiapkan pada bibir yang sehat.3,5
3. Teknik untuk Bilateral Cleft Lip
Sebuah prosedur bedah yang dengan banyak variasi untuk perbaikan dari
bilateral cleft lip telah banyak dijelaskan oleh para ahli. Diantaranya adalah teknik
yang diperkenalkan Veau III, Tennison , Manchester , Millard , dan lain-lain. Dua
metode umum yang digunakan untuk membangun pusat bibir vermilion
.Pertama.melibatkan mukosa terlihat pada aspek yang lebih rendah dari prolabial
kulit untuk membentuk pusat vermilion , seperti yang digunakan Manchester.
Manchester tidak mengembalikan kontinuitas orbicularis oris. Teknik ini tidak
memberikan hasil yang memuaskan karena mengakibatkan penampilan abnormal
pada bibir atas. Sebaliknya, Millard memperbaiki ketinggian lengkap terlibat
prolabium dan reconstitution orbicularis di premaxilla. Selain itu, Millard
membelok segmen lateral prolabium yang dimaksudkan untuk menambahkan
tinggi columellar pada tahap berikutnya.3,5

20

Gambar 18. Teknik Millard pada bilateral cleft lip

XI. Postoperasi
Makanan oral: untuk anak yang masih menyusui, setelah operasi boleh
langsung disusui. Namun ada beberapa center yang masih menganjurkan untuk
memberikan makanan lewat NGT sampai 10 hari postoperatif kemudian baru bisa
makan sebagaimana biasa.5
Aktifitas: menginstruksikan kepada kedua orang tua untuk tidak
memberikan mainan atau dot yang memiliki permukaan yang tajam selama 2
minggu setelah operasi. Beberapa center menganjurkan untuk memakai Velcro
elbow immobilizers pada pasien selama 10 hari untuk meminimalisir resiko
cedera pada bibir yang telah direkonstruksi. Secara periodik diganti beberapa kali
sehari dibawah supervisi.5
Perawatan Bibir: garis jahitan luka yang terbuka pada dasar dari bibir dan
hidung dapat dibersihkan menggunakan cotton swabs yang dicelupkan ke
hidrogen peroksida serta antibiotik topikal dapat diberikan beberapa kali sehari.
Pengangkatan jahitan luka yang permanen pada 5 sampai 7 hari postoperatif jika
menggunakan cyanoacrylate adhesive, tidak ada penatalaksanaan tambahan
selama periode pertengahan postoperatif dan secara bertahap mulai meningkat 612 bulan setelah rekonstruksi. Kedua orang tua juga diinstruksikan untuk memijat
bibir atas selama fase ini dan mencegah untuk menempatkan anak pada daerah
yang terkena cahaya matahari langsung sampai scarnya sembuh.5
XII. Prognosis
Tindakan operasi yang berhati-hati dan rekonstruksi yang mendetail pada
umumnya menghasilkan perbaikan yang lebih baik, sehingga terlihat sebagai bibir
yang normal. Pada kenyataannya banyak faktor yang berpengaruh di luar dari
teknik perbaikan itu sendiri. Pada akhirnya, hasil yang dicapai tergantung dari
komplikasi yang terjadi, keadaan tulang tengkorak dimana terjadi celah, dan efek
pertumbuhan dan perkembangan jaringan dari masing-masing individu.5

21

DAFTAR PUSTAKA
1. Marzoeki J. Teknik pembedahan celah bibir dan langit-langit. Jakarta: Sagung
Seto; 2001; Hal. 1-8
2. Anonim. Cleft lip and Palate. Available from: www.childrenshealth-CleftLip-and-Palate.html
3. Hopper RA, Cutting C, Grayson B. Cleft Lip and Palate. In : Thorne CH,
Beasley RW, Aston SJ, Bartlett SP, Gurtner GC, Spear SL, editors. Grabb and
Smiths Plastic surgery. 6th edition. Philadelphia: Lippincott Williams &
Wilkins, 2007; p. 201-14
4. Margulis A. Cleft Lip. In Kryger ZB, Mark Sisco. Practical Plastic Surgery.
Austin,Texas: Landes Biosciencep. 2007; p. 348-54
5. Patel PK. Craniofacial, Unilateral Cleft Lip Repair. Available at :
www.emedicine1279641-overview,craniofacial.htm

22

6. Dixon MJ, Mary L, Terri H, Jefferey CM. Cleft lip and palate Synthesizing
genetic and environmental influences. NIH public Access. 2011.
7. Sandberg DJ, Michael DJ. Neonatal Cleft Lip and Cleft Palate Repair. 2002.
Available from : http://goliath.ecnext.com/coms2/gi_0199-1510181/Neonatalcleft-lip-and-cleft.html
8. Al Fatih M. Labio Gnato Palatoschisis. Available at:
http://www.scribd.com/doc/55885689/labio-gnato-palatoschisis
9. Patel PK. Craniofacial, Bilateral Cleft Lip Repair. 13 April, 2009. Available
at: http://emedicine.medscape.com/article/1279040-overview
10. Egan T and Gregory A. Clef Lip and palate. In Dolan RW. Facial Plastic,
Reconstructive, and Trauma Surgery. New York: Marcel Dekker. p.358-70
11. Anonim. Cleft Lip and Cleft Palate. UNSW Embriology. Available at:
http://php.med.unsw.edu.au/embryology/index.php?
title=2011_Group_Project_11
12. Anonim. Cleft Lip and Palate. Wikipedia. Available at:
http://en.wikipedia.org/wiki/Cleft_lip_and_palate
13. Mulliken JB. The Changing Faces of Children with Cleft Lip and Palate.
NEJM. Available at: http://www.operationrestorehope.org/images/pdfs/CleftsNEJM-2004.pdf
14. Mulliken JB. Double Unilimb Z-Plastic Repair of Microform Cleft Lip.
Boston Mass. Available at:.http://medpro.smiletrain.org/library/images/pdf

23