Anda di halaman 1dari 13

Laporan Pendahulan Dyspepsia

Oleh Rachel Satyawati Yusuf 1006666476


Mahasiswi Profesi Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia

A. Definisi
Dispepsia berasal dari bahasa Yunani (Dys) berarti sulit dan Pepse berarti
pencernaan. Dispepsia merupakan kumpulan keluhan/gejala klinisyang terdiri dari
rasa

tidak

enak/sakit

di

perut

bagian

atas

yang

menetap

atau

mengalamikekambuhan. Keluhan refluks gastroesofagus klasik berupa rasa panas


di dada (heartburn) dan regurgitasi asam lambung, kini tidak lagi termasuk
dispepsia (Mansjoer, 2000). Menurut Mansjoer (2000) pengertian dispepsia
terbagi dua, yaitu :
1. Dispepsia organik, bila telah diketahui adanya kelainan organik sebagai
penyebabnya. Sindroma dispepsi organik terdapat kelainan yang nyata
terhadap organ tubuh misalnya tukak (luka) lambung, usus dua belas jari,
radang pankreas, radang empedu, dan lain-lain.
2. Dispepsia nonorganik atau dispepsia fungsional, atau dispesia nonulkus
(DNU), bila tidak jelas penyebabnya. Dispepsi fungsional tanpa disertai
kelainan atau gangguan struktur organberdasarkan pemeriksaan klinis,
laboratorium, radiologi, dan endoskopi (teropong saluranpencernaan).
Dispepsia atau sakit maag adalah sekumpulan gejala (sindrom) yang
terdiri dari nyeri atau rasa tidak nyaman di epigastrium, mual, muntah, kembung,
rasa penuh atau cepat kenyang, dan sering bersendawa. Biasanya berhubungan
dengan pola makan yang tidak teratur, makanan yang pedas, asam, minuman
bersoda, kopi, obat-obatan tertentu, ataupun kondisi emosional tertentu misalnya
stress (Wibawa, 2006).

B. Etiologi
Beberapa perubahan dapat terjadi pada saluran cerna atas akibat proses
penuaan, terutama pada ketahanan mukosa lambung (Wibawa, 2006). Kadar asam
lambung lansia biasanya mengalami penuruna hingga 85%.
Dispepsia dapat disebabkan oleh kelainan organik, yaitu :
a. Gangguan penyakit dalam lumen saluran cerna: tukak gaster atau
duodenum, gastritis, tumor, infeksi bakteri Helicobacter pylori.

Gambar 1. Infeksi bakteri H. Pylori


b. Obat-obatan: anti inflamasi non steroid (OAINS), aspirin, beberapa jenis
antibiotik, digitalis, teofilin dan sebagainya.
c. Penyakit pada hati, pankreas, maupun pada sistem bilier seperti hepatitis,
pankreatitis, kolesistitis kronik.
d. Penyakit sistemik seperti diabetes melitus, penyakit tiroid, penyakit jantung
koroner.
Dispepsia fungsional dibagi 3, yaitu :
a. Dispepsia mirip ulkus bila gejala yang dominan adalah nyeri ulu hati.
b. Dispepsia mirip dismotilitas bila gejala dominan adalah kembung, mual,
cepat kenyang.
c. Dispepsia non-spesifik yaitu bila gejalanya tidak sesuai dengan dispepsia
mirip ulkus maupun dispepsia mirip dismotilitis.
Peranan pemakaian OAINS dan infeksi H. Pylori sangat besar pada
kasus-kasus dengan kelainan organik (Wibawa, 2006).

C. Faktor Predisposisi
Dispepsia dapat disebabkan oleh berbagai penyakit dan pola hidup. Menurut
Guyton (1997) berikut ini berbagai penyakit (kondisi medis) yang dapat
menyebabkan keluhan dispepsia :
a. Dispepsia fungsional (nonulcer dyspepsia). Dispepsia fungsional adalah rasa
tidak nyaman hingga nyeri di perut bagian atas yang setelah dilakukan
pemeriksaan menyeluruh tidak ditemukan penyebabnya secara pasti.
Dispepsia fungsional adalah penyebab maag yang paling sering.
b. Tukak lambung (stomach ulcers). Tukak lambung adalah adanya ulkus atau
luka di lambung. Gejala yang paling umum adalah rasa sakit yang dirasakan
terus menerus, bersifat kronik (lama) dan semakin lama semakin berat.
c. Refluks esofagitis (gastroesophageal reflux disease)
d. Pangkreatitis
e. Iritable bowel syndrome
f. Pemakaian obat penghilang nyeri secara terus menerus. Obat analgesik anti
inflamasi nonsteroid (AINS) seperti aspirin, ibuprofen dan naproxen dapat
menyebabkan peradangan pada lambung. Jika pemakaian obat obat
tersebut hanya sesekali maka kemungkinan terjadinya masalah lambung
akan kecil. Tapi jika pemakaiannya secara terus menerus atau pemakaian
yang berlebihan dapat mengakibatkan maag.
g. Stress fisik. Stress fisik akibat pembedahan besar, luka trauma, luka bakar
atau infeksi berat dapat menyebabkan gastritis serta pendarahan pada
lambung.
h. Malabsorbsi (gangguan penyerapan makanan)
i. Penyakit kandung empedu
j. Penyakit liver
k. Kanker lambung (jarang)
l. Kanker esofagus (kerongkongan)(jarang)
m. Penyakit lain (jarang)

D. Patofisiologi
Perubahan pola makan yang tidak teratur, obat-obatan yang tidak jelas,
zat-zat seperti nikotin dan alkohol serta adanya kondisi kejiwaan stres, pemasukan
makanan menjadi kurang sehingga lambung akan kosong, kekosongan lambung
dapat mengakibatkan erosi pada lambung akibat gesekan antara dinding-dinding
lambung, kondisi demikian dapat mengakibatkan peningkatan produksi HCL yang
akan merangsang terjadinya kondisi asam pada lambung, sehingga rangsangan di
medulla oblongata membawa impuls muntah sehingga intake tidak adekuat baik
makanan maupun cairan (Corwin,2001).
E. Manifestasi Klinis
a. Nyeri perut (abdominal discomfort),
b. Rasa perih di ulu hati,
c. Mual, kadang-kadang sampai muntah,
Erosi dan ulcerasi
d. Nafsu makan berkurang,
mukosa lambung
Timbulnya tanda dan
gejala klinik
e. Rasa lekas kenyang,
gangguan sistem
Peningkatan
f. Perut kembung,
cerna
produksi HCL
g. Rasa panas
di dada dan perut,
Pelepasan
mediator
kimia (bradikinin,
h. Regurgitasi (keluar cairan dari lambung secara tiba-tiba).
histamin,
prostaglandin)
Perubahan status
kesehatan
Impuls ke fleksus meissner
ke nervus vagus
Nosiceptor

Kurang informasi
Merangsang medulla
oblongata

Saraf afferen

Kurang pengetahuan
tentang penyakitnya

F. Pathway Dispepsia

Impuls kefleksus
miesenterikus
pada dinding
Perubahan pola makan, pengaruh obat-obatan
alkohol, nikotin, rokok,
lambung
tumor/kanker saluran
pencernaan, stres
Thalamus
Stressor

Corteks cerebri

Anoreksia, mual
4

Nyeri

Intake kurang

Cemas
muntah

Nutrisi Kurang

Perubahan
kesimbangan cairan
dan elektrolit

(Bare & Suzzane,2002)

G. Komplikasi
Penderita sindroma dispepsia selama bertahun-tahun dapat memicu adanya
komplikasi yang tidak ringan. Salah satunya komplikasi dispepsia yaitu luka di
dinding lambung yang dalam atau melebar tergantung berapa lama lambung

terpapar oleh asam lambung. Bila keadaan dispepsia ini terus terjadi luka akan
semakin dalam dan dapat menimbulkan komplikasi pendarahan saluran cerna
yang ditandai dengan terjadinya muntah darah, di mana merupakan pertanda yang
timbul belakangan. Awalnya penderita pasti akan mengalami buang air besar
berwarna hitam terlebih dulu yang artinya sudah ada perdarahan awal. Tapi
komplikasi yang paling dikuatirkan adalah terjadinya kanker lambung yang
mengharuskan penderitanya melakukan operasi (Wibawa, 2006).
H. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang harus bias menyingkirkan kelainan serius,
terutama kanker lambung, sekaligus menegakkan diagnosis bila mungkin.
Sebagian pasien memiliki resiko kanker yang rendah dan dianjurkan untuk terapi
empiris tanpa endoskopi. Menurut Schwartz, M William (2004) dan Wibawa
(2006) berikut merupakan pemeriksaan penunjang:
a. Tes Darah
Hitung darah lengkap dan LED normal membantu menyingkirkan
kelainan serius. Hasil tes serologi positif untuk Helicobacter pylori
menunjukkan ulkus peptikum namun belum menyingkirkan keganasan
saluran pencernaan.
b. Endoskopi (esofago-gastro-duodenoskopi)
Endoskopi adalah tes definitive untuk esofagitis, penyakit epitellium
Barret, dan ulkus peptikum. Biopsi antrum untuk tes ureumse untuk
H.pylori (tes CLO).
Endoskopi adalah

pemeriksaan

terbaik

masa

kini

untuk

menyingkirkan kausa organic pada pasien dispepsia. Namun, pemeriksaan


H. pylori merupakan pendekatan bermanfaat pada penanganan kasus
dispepsia baru. Pemeriksaan endoskopi diindikasikan terutama pada pasien
dengan keluhan yang muncul pertama kali pada usia tua atau pasien dengan
tanda alarm seperti penurunan berat badan, muntah, disfagia, atau
perdarahan yang diduga sangat mungkin terdapat penyakit struktural.
Pemeriksaan endoskopi adalah aman pada usia lanjut dengan
kemungkinan komplikasi serupa dengan pasien muda. Menurut Tytgat GNJ,
endoskopi direkomendasikan sebagai investigasi pertama pada evaluasi

penderita dispepsia dan sangat penting untuk dapat mengklasifikasikan


keadaan pasien apakah dispepsia organik atau fungsional. Dengan
endoskopi dapat dilakukan biopsy mukosa untuk mengetahui keadaan
patologis mukosa lambung.
c. DPL : Anemia mengarahkan keganasan
d. EGD : Tumor, PUD, penilaian esofagitis
e. Dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan laboratorium termasuk hitung
darah lengkap, laju endap darah, amylase, lipase, profil kimia, dan
pemeriksaan ovum dan parasit pada tinja. Jika terdapat emesis atau
pengeluaran darah lewat saluran cerna maka dianjurkan untuk melakukan
pemeriksaan barium pada saluran cerna bgian atas.
I. Pemeriksaan Fisik
Anamnesis dan pemeriksaan fisik pada pasien dyspepsia yang belum
diinvestigasi terutama hasrus ditujukan untuk mencari kemungkinan adanya
kelainan organik sebagai kausa dispepsia. Pasien dispepsia dengan alarm
symptoms kemungkinan besar didasari kelainan organik. Menurut Wibawa
(2006), yang termasuk keluhan alarm adalah:
1. Disfagia,
2. Penurunan Berat Badan (weight loss),
3. Bukti perdarahan saluran cerna (hematemesis, melena, hematochezia,
anemia defisiensi besi,atau fecal occult blood),
4. Tanda obstruksi saluran cerna atas (muntah, cepat penuh).
Pasien dengan alarm symptoms perlu dilakukan endoskopi segera untuk
menyingkirkan penyakit tukak peptic dengan komplikasinya,

GERD

(gastroesophageal reflux disease), atau keganasan.


J. Pencegahan
Pola makan yang normal, dan teratur, pilih makanan yang seimbang
dengan kebutuhan dan jadwal makan yang teratur, sebaiknya tidak mengkonsumsi
makanan yang berkadar asam tinggi, cabai, alkohol dan, pantang rokok, bila harus
makan obat karena sesuatu penyakit, misalnya sakit kepala, gunakan obat secara
wajar dan tidak mengganggu fungsi lambung (Wibawa, 2006).

K. Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
Pengkajian merupakan tahap awal dari proses dimana kegiatan yang
dilakukan yaitu : Mengumpulkan data, mengelompokkan data dan menganalisa
data. Data fokus yang berhubungan dengan dispepsia meliputi adanya nyeri perut,
rasa pedih di ulu hati, mual kadang-kadang muntah, nafsu makan berkurang, rasa
lekas kenyang, perut kembung, rasa panas di dada dan perut, regurgitasi (keluar
cairan dari lambung secar tiba-tiba). (Mansjoer, 2000).
a.

Biodata
1) Identitas Pasien : nama, umur, jenis kelamin, suku / bangsa, agama,
pekerjaan, pendidikan, alamat.
2) Identitas penanggung jawab : nama, umur, jenis kelamin, agama,
pekerjaan, hubungan dengan pasien, alamat.

b.

Keluhan Utama

c.

Riwayat Kesehatan
1) Riwayat kesehatan sekarang
2) Riwayat kesehatan yang lalu
3) Riwayat kesehatan keluarga

d.

Keadaan Umum
1)

Tingkat kecemasan

2)

Tanda-tanda vital : tekanan darah, suhu, nadi, dan respirasi.

3)

Penampilan umum : lemah atau tidak

e.

Pemeriksaan
1)

Kulit : warna kulit dan tekstur kulit.

2)

Kuku : keadaan kuku dan warna kuku.

3)

Kepala : bentuk kepala, kelainan, keadaan rambut dan kulit kepala.

4)

Mata : sklera, konjungtiva, reflek cahaya, pupil, dan kelainan.

5)

Hidung : fungsi penciuman, bentuk, serumen, kelainan.

6)

Telinga : fungsi pendengaran, bentuk dan keadaan telinga.

7)

Mulut : funsi pengecapan, kebersihan gigi dan kelainan bibir.

8)

Dada dan paru-paru : bentuk dan frekuensi napas.

9)

Abdomen : Nyeri tekanan

10) Genitalia : keadaan rectum


11) Kekuatan otot : reflek bisep, trisep, patella dan babyn sky.
f.

Aspek Psiko-Sosial-Spiritual
1)

Aspek Psikologis

2)

Aspek Sosial

3)

Aspek Spritual

2. Diagnosa Keperawatan
Menurut Doenges (2001) bahwa diagnosa keperawatan yang lazim timbul pada
klien dengan dispepsia.
a.

Nyeri epigastrium berhubungan dengan iritasi


pada mukosa lambung.

b.

Nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan


dengan rasa tidak enak setelah makan, anoreksia.

c.

Perubahan keseimbangan cairan dan elektrolit


berhubungan dengan adanya mual, muntah

d.

Kecemasan berhubungan dengan perubahan status


kesehatan
3. Rencana Keperawatan
Rencana keperawatan adalah tindakan keperawatan yang akan dilaksanakan untuk
menngulangi masalah keperawatan yang telah ditentukan dengan tujuan.
a. Nyeri epigastrium berhubungan dengan iritasi pada mukosa
lambung.
Tujuan : Terjadinya penurunan atau hilangnya rasa nyeri, dengan kriteria
klien melaporkan terjadinya penurunan atau hilangnya ras nyeri
INTERVENSI

RASIONAL

1. Kaji tingkat nyeri, beratnya


(skala 0 10)

1. Berguna

dalam

kefektifan

pengawasan

obat,

kemajuan

penyembuhan
2. Berikan istirahat dengan posisi
semifowler

2. Dengan posisi semi-fowler dapat


menghilangkan
abdomen

tegangan

yang

bertambah

dengan posisi telentang


3. Anjurkan
menghindari

klien

untuk

makanan

yang

dapat meningkatkan kerja asam

3. dapat

menghilangkan

akut/hebat

dan

nyeri

menurunkan

aktivitas peristaltik

lambung
4. Anjurkan klien untuk tetap
mengatur waktu makannya
5. Observasi TTV tiap 24 jam

4. mencegah terjadinya perih pada


ulu hati/epigastrium

5. sebagai

indikator

melanjutkan

untuk
intervensi

berikutnya
6. Diskusikan dan ajarkan teknik
relaksasi

6. Mengurangi rasa nyeri atau dapat


terkontrol

7. Kolaborasi dengan pemberian


obat analgesik

7. Menghilangkan rasa nyeri dan


mempermudah kerjasama dengan
intervensi terapi lain

b. Nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan rasa tidak enak


setelah makan, anoreksia.
Tujuan : Menunjukkan peningkatan berat badan mencapai rentang yang
diharapkan individu, dengan kriteria menyatakan pemahaman kebutuhan
nutrisi
INTERVENSI
1. Pantau dan dokumentasikan

10

RASIONAL
1. Untuk
mengidentifikasi

dan haluaran tiap jam secara

indikasi/perkembangan dari hasil

adekuat

yang diharapkan

2. Timbang BB klien

2. Membantu

menentukan

keseimbangan cairan yang tepat


3. Berikan makanan sedikit tapi
sering

mengurangi iritasi gaster

4. Catat status nutrisi paasien:


turgor kulit,
badan,

3. meminimalkan anoreksia, dan

timbang

integritas

berat

mukosa

4. Berguna dalam mendefinisikan


derajat masalah dan intervensi
yang

tepat

Berguna

dalam

kefektifan

obat,

mulut, kemampuan menelan,

pengawasan

adanya bising usus, riwayat

kemajuan penyembuhan

mual/rnuntah atau diare.


5. Kaji pola diet klien yang
disukai/tidak disukai.

5. Membantu intervensi kebutuhan


yang

spesifik,

meningkatkan

intake diet klien.


6. Monitor

intake

dan

output

secara periodik.

6. Mengukur keefektifan nutrisi dan


cairan

7. Catat adanya anoreksia, mual,

7. Dapat menentukan jenis diet dan

muntah, dan tetapkan jika ada

mengidentifikasi

hubungannya dengan medikasi.

masalah

Awasi frekuensi, volume (BAB)

intake nutrisi.

untuk

pemecahan
meningkatkan

c. Perubahan keseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan


adanya mual, muntah.
Tujuan : Menyatakan pemahaman faktor penyebab dan prilaku yang perlu
untuk

memperbaiki

defisit

cairan,

dengan

kriteria

mempertahankan/menunjukkan perubaan keseimbangan cairan, dibuktikan


stabil, membran mukosa lembab, turgor kulit baik.
INTERVENSI
1. Awasi tekanan darah dan nadi,

11

RASIONAL
1. Indikator keadekuatan volume

pengisian

kapiler,

status

membran mukosa, turgor kulit


2. Awasi jumlah dan tipe masukan
cairan,

ukur

haluaran

urine

dengan akurat

sirkulasi perifer dan hidrasi


seluler
2. Klien

tidak

cairan

mengkomsumsi
sama

sekali

mengakibatkan dehidrasi atau


mengganti

cairan

untuk

masukan

kalori

yang

berdampak pada keseimbangan


elektrolit
3. Diskusikan

strategi

menghentikan

untuk

muntah

dan

penggunaan laksatif/diuretik

3. Membantu

klien

menerima

perasaan bahwa akibat muntah


dan

atau

penggunaan

laksatif/diuretik

mencegah

kehilangan cairan lanjut


4. Identifikasi

rencana

untuk

4. Melibatkan klien dalam rencana

meningkatkan/mempertahankan

untuk

keseimbangan

keseimbangan untuk berhasil

misalnya

cairan
jadwal

optimal
masukan

cairan
5. Berikan/awasi

5. Tindakan
memperbaiki

hiperalimentasi

memperbaiki
daruat

untuk
ketidak

seimbangan cairan elektroli

IV

DAFTAR PUSTAKA
Bare & Suzanne, 2002, Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, Volume 2, (Edisi
8), EGC, Jakarta
Corwin,. J. Elizabeth, 2001, Patofisiologi, EGC, Jakarta
Doenges, E. Marilynn dan MF. Moorhouse, 2001, Rencana Asuhan Keperawatan,
(Edisi III), EGC, Jakarta.

12

Guyton dan Hall, 1997, Fisiologi Kedokteran, (Edisi 9), EGC, Jakarta
Mansyoer, Arif. 2000. Kapita Selekta Kedokteran Edisi Ketiga. Jilid I.
Jakarta:Media Acsulapius. FKUI.
Wibawa, I Dewa Nyoman. 2006. Penanganan Dispepsia Pada Lanjut
Usia Volume 7 Nomor 3 September 2006.

13