Anda di halaman 1dari 7

LAPORAN PENDAHULUAN

KEBUTUHAN DASAR MANUSIA


ACTIVITY AND EXERCISE DI RUANG DAHLIA
RSUD AMBARAWA
I. Konsep Dasar
Mobilisasi adalah kemampuan individu untuk bergerak bebas. Tirah baring adalah
intervensi dimana klien dibatasi untuk tetap berada pada tempat tidur. Imobilisasi
didefinisikan sebagai suatu keadaan dimana individu berisiko mengalami keterbatasan
gerak fisik(Kims et al,1995).
Menurut Alimul. A (2006), mobilitas atau mobilisasi adalah kemampuan individu
untuk bergerak secara bebas, mudah dan teratur dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan
aktivitasnya guna mempertahankan kesehatannya.
Menurut Fish dan Nielsen (1995), Rentang gerak adalah jumlah maksimum gerakan
yang mungkin dilakukan sendi pada salah satu dari tiga potongan tubuh; Sagital/Frontal
Tranversal. Gaya berjalan /mekanika gaya berjalan manusia mengikuti kesesuaian sistem
muskuloskeletal, saraf dan otot tubuh manusia. Latihan aktifitas yaitu aktifitas fisik tubuh
dalam rangka meningkatkan dan memperthankan jasmani.
Mobilisasi klien dirumah sakit merupakan hambatan mobilisasi. Hambatan mobilisasi
yakni kondisi dimana ketika individu menunjukan keterbatasan kemampuan gerak fisik
secara bebas (Kims et al,1995).
Imobilisasi merupakan keadaan dimana seseorang tidak dapat bergerak secara bebas
karena kondisi yang menggangu pergerakan (activitas), misalnya mengalami trauma
tulang belakang, cedera otak berat disertai fraktur pada ekstermitas (Alimul. A . 2006).
Mekanika tubuh dan ambulasi merupakan hal yang berkaitan erat dengan mobilisasi.
Body mekanik merupakan koordinasi antara sistem muskuloskletal dengan sistem saraf
untuk mempertahankan keseimbangan, postur dan body aligment selama mengangkat,
membungkuk dan melakukan aktifitas sehari-hari.
Beberapa gerakan dasar dalam mekanika tubuh diantara gerakan (ambulating),
menahan (squatting), menarik (pulling), mengangkat (lifting), memutar (pivoting). Jika
mekaika tubuh dan ambulasi salah maka akan terjadi ketegangan sehingga memudahka
timbulnya kelelahan dan gangguan sistem muskuloskletal serta resiko terjadinya
kecelakaan pada sistem muskuloskletal.
II. Jenis Mobilitas dan Imobilitas
a. Jenis mobilitas

Mobilitas penuh; merupakan kemampuan seseorang untuk bergerak secara penuh


dan bebas sehingga dapat melakukan interaksi sosial dan menjalankan peran
sehari-hari. Mobilitas penuh ini merupakan fungsi saraf motorik volunter dan
sensorik untuk dapat mengontrol seluruh area tubuh seseorang.
Mobilitas sebagian; merupakan kemampuan seseorang untuk bergerak dengan
batasan jelas dan tidak mampu bergerak secara bebas karena dipengaruhi oleh
gangguan saraf motorik dan sensorik pada area tubuhnya. Hal ini dapat dijumpai
pada kasus cedera atau patah tulang dengan pemasangan traksi. Pasien paraplegi
dapat mengalami mobilitas sebagian pada ekstermitas bawah karena kehilangan
kontrol motorik dan sensorik. Mobilitas sebagian ini dibagi menjadi dua jenis,
yakni: Mobilitas Sebagian Temporer;

merupakan kemampuan individu untuk

bergerak dengan batasan yang sifatnya sementara. Hal tersebut dapat disebabkan
oleh trauma reversibel pada sistem muskuloskeletal, contohnya adalah adanya
dislokasi sendi dan tulang. Mobilitas sebagian permaen; merupakan kemampuan
individu untuk bergerak dengan batasan yang sifatnya menetap. Hal tersebut
disebabkan oleh rusaknya sistem saraf yang reversibel, contohnya terjadinya
hemiplegia karena stroke, paraplegi karena cedera tulag belakang, poliomielitis
karena tergaggunya sistem saraf motorik dan sensorik.
b. Kemampuan mobilitas
Tabel cara mengukur kemampuan mobilitas /tingkat mobilitas.
TINGKAT
KATEGORI
MOBILITAS
0
Mampu merawat diri sendiri secara penuh
1
Memerlukan alat
2
Memerlukan bantuan orang lain dan pengawasan
3
Memerlukan bantuan, pengawasan dan alat
4
Sangat tergantung dan tidak dapat berpartisipasi dalam
perawatan
Tabel cara mengukur kekuatan otot dan gangguan koordinasi.
SKALA
KARAKTERISTIK
0
Paralisis sempurna
1
Tidak ada gerakan, kontraksi otot dapat dipalpasi/dilihat
2
Gerakan penuh melawan gravitasi dengan topangan
3
Gerakan normal melawan gravitasi
4
Dapat melawan tahanan minimal
5
Kekuatan normal melawan tahanan penuh
Tabel latiha rentang gerak/range of motion.

EKSTERMITAS
Leher
Bahu
Siku
Pergelangan tangan
Jari tangan
Lutut
Pergelangan kaki
Jari-jari kaki

JENIS GERAKAN
Fleksi, ekstensi, hiperekstensi, fleksi lateral, rotasi
Fleksi, ekstensi, abduksi, adduksi, rotasi
Fleksi, ekstensi, pronasi, supinasi
Fleksi, ekstensi, hiperekstensi, abduksi, adduksi
Fleksi, ekstensi, hiperekstensi, abduksi, adduksi, rotasi
interna, rotasi eksterna
Fleksi dan ekstensi
Dorsofleksi dan plantar fleksi
Fleksi, ekstensi, abduksi dan adduksi

c. Jenis imobilitas
Imobilitas fisik; merupakan pembatasan untuk bergerak secara fisik dengan tujuan
mencegah terjadinya gangguan komplikasi pergerakan, seperti pada pasien dengan
hemiplegia yang tidak mampu mempertahakan tekanan didaerah paralisis sehingga
tidak dapat mengubah posisi tubuhnya untuk mengurangi tekanan.
Imobilitas intelektual; merupakan keadaan ketika seseorang

mengalami

keterbatasan daya fikir, seperti pada pasien yang mengalami kerusakan otak akibat
suatu penyakit.
Imobilitas emosional; keadaan ketika seseorang mengalami pembatasan secara
emosional karena adanya perubahan secara tiba-tiba dalam menyesuaikan diri.
Sebagai contoh; keadaan stress berat dapat disebabkan karena bedah amputasi
ketika seseorang mengalami kehilangan bagian anggota tubuh atau kehilangan
sesuatu yang paling dicintai.
Imobilitas sosial; keadaan individu yang mengalami hambatan dalam melakukan
interaksi sosial karena keadaan penyakitnya sehingga dapat mempengaruhi
perannya dalam kehidupan sosial.
III. Faktor yang mempengaruhi mobilitas
1. Gaya hidup; perubahan gaya hidup dapat mempengaruhi kemampuan mobilitas
seseorang karena gaya hidup berdampak pada perilaku atau kebiasaan sehari-hari.
2. Proses penyakit atau cedera; proses penyakit dapat mempengaruhi mobilitas karena
dapat mempengaruhi sistem tubuh. Sebagai contoh, orang yang menderita fraktur
femur akan mengalami keterbatasan pergerakan dalam ekstermitas bagian bawah.
3. Kebudayaan; kemampuan melakuka mobilitas dapat juga dipengaruhi kebudayaan.
Sebagai contoh orang yang mempunyai budaya sering berjalan jauh sering memiliki
mobilitas kuat, sebaliknya ada orang yang mengalami gangguan mobilitas (sakit)
karena adat dan budaya tertentu dilarang untuk beraktifitas.
4. Tingkat energi; energi adalah sumber untuk melakukan mobilitas. Agar seseorang
dapat melakukan mobilitas dengan baik, dibutuhkan energi yang cukup.

5. Usia dan status perkembagan; terdapat perbedaan kemampuan mobilitas pada tingkat
usia yang berbeda. Hal ini dikarenakan kemampuan atau kematangan fungsi alat
gerak sejalan dengan perkembangan usia.
IV. Perubahan sistem tubuh akibat imobilitas
Dampak dari imobilitas dalam tubuh dapat mempengaruhi sistem tubuh, seperti
perubahan pada sistem metabolisme tubuh, ketidkseimbangan cairan dan elektrolit,
gangguan dalam kebutuhan nutrisi, gangguan fungsi gastrointestinal, perubahan sistem
pernafasan, perubahan sistem kardiovaskuler, perubahan sistem muskuloskletal, perubahan
kulit, perubahan eliminasi, (buang air besar dan kecil), dan perubahan perilaku.
1. Perubahan metabolisme
Secara umum imobilitas dapat mengganggu metabolisme secara normal, mengingat
imobilitas dapat menyebabkan turunnya kecepatan metabolisme dalam tubuh. Hal
tersebut dapat dijumpai pada menurunnya basal metabolisme rate (BMR) yang
menyebabkan berkurangnya energi untuk perbaiakn sel-sel tubuh, sehingga dapat
mempengaruhi gangguan oksigenasi sel. Perubahan metabolisme imobilitas dapat
mengakibatkan proses anabolisme menurun dan katabolisme meningkat. Keadaan ini
dapat beresiko meningkatkan gangguan metabolisme. Proses imobilitas dapat juga
menyebabkan penurunan ekskresi urine dan peningkatan nitrogen. Hal tersebut dapat
ditemukan pada pasien yang mengalami imobilitas pada hari kelima dan keenam.
Beberapa dampak perubahan metabolisme, diantaranya adanya pengurangan jumlah
metabolisme, atrofi kelenjar dan katabolisme protein, ketidakseimbangan cairan dan
elektrolit, demineralisai tulang, gangguan dalam mengubah zat gizi dan gangguan
gastrointestinal.
2. Ketidakseimbangan cairan dan elektrolit
Terjadinya ketidakseimbangan cairan dan elektrolit sebagai dampak dari imobilitas
akan mengakibatkan persediaan protein menurun dan konsentrasi protein serum
berkurang sehingga dapat mengganggu kebutuhan cairan tubuh. Disamping itu,
berkurangnya perpindahan cairan dari intravaskuler keinterstisial dapat menyebabkan
edema sehingga terjadi ketidakseimbangan cairan dan elektrolit. Imobilitas juga dapat
menyebabkan demineralisasi tulang akibat menurunnya aktivitas otot, sedangkan
meningkatnya demineralisasi tulang dapat mengakibatkan reabsorbsi kalium.
3. Gangguan perubahan zat gizi
Terjadinya gangguan zat gizi yang disebabkan oleh menurunnya pemasukan protein
dan kalori dapat mengakibatkan pengubahan zat-zat makanan pada tingkat sel

menurun, dimana sel tiak lagi menerima glukosa, asam amino, lemak, dan oksigen
dalam jumlah yang cukup untuk melaksanakan aktifitas metabolisme.
4. Gangguan fungsi gastrointestinal.
Imobilitas dapat menyebabkan gangguan fungsi gastrointestinal. Hal ini disebabkan
karena imobilitas dapat menurunkan hasil makanan yang dicerna, sehingga penurunan
jumlah masukan yang cukup dapat menyebabkan keluhan , seperti perut kembung,
mual dan nyeri lambung yang dapat menyebabkan gangguan proses eliminasi.
5. Perubahan sistem pernafasan
Imobilitas menyebabkan terjadinya perubaha sistem pernafasan. Akibat imobilitas,
kadar hemoglobin menurun dan terjadinya lemah otot yang dapat menyebabkan proses
metabolisme terganggu. Terjadinya penurunan kadar hemoglobin dapat menyebabkan
penurunan aliran oksigen dari alveoli ke jaringan, sehingga mengakibatkan anemia.
Penurunan ekspansi paru dapat terjadi karena tekanan yang meningkat oleh permukaan
paru.
6. Perubahan kardiovaskuler
Perubahan sistem kardiovaskuler akibat imobilitas antara lain dapat berupa hipotensi
orthostatik, meningkatkan kerja jantung

dan terjadinya pembentukan trombus.

Terjadinya hipotensi orthostatik dapat disebabkan oleh menurunnya kemampuan saraf


otonom. Pda posisi yang tetap dan lama, refleks neurovaskuler akan menurun dan
menyebabkan vasokonstriksi, kemudian darah terkumpul pada vena bagian bawah
sehingga aliran darah ke sistem sirkulasi pusat terhambat. Meningkatnya kerja jantung
dapat disebabkan karena imobilitas dengan posisi horizontal. Dalam keadaan normal,
darah yang terkumpul pada ekstermitas bawah bergerak dan meningkatkan aliran vena
kembali ke jantung dan akhirnya jantung akan meningkatkan kerjanya. Terjadinya
trombus juga disebabkan meningkatnya vena statis yang merupakan hasl penurunan
kontraksi muskuler sehingga meningkatnya arus balik vena.
7. Perubahan sistem muskuloskletal
Perubahan yang terjadi pada sistem muskuloskletal sebagai dampak dari imobilitas
adalah sebagai beikut:
Gangguan muskuler; menurunnya masa otot sebagai dampak imobilitas dapat
menyebabkan turunnya kekuatan otot secara langsung. Menurunnya fungsi
kapasitas otot ditandai dengan menurunnya stabilitas. Kondisi berkurangnya masa
otot dapat menyebabkan atrofi pada otot. Sebagai contoh, otot betis orang yang
telah dirawat lebih dari enam minggu ukurannya aka lebih kecil selain
menunjukkan tanda lemah atau lesu.

Gagguan skletal; adanya imobilitas juga dapat menyebabkan gangguan skeletal,


misalnya akan mudah terjadinya kontraktur sendi dan osteoporosis. Kontraktur
merupakan kondisi yang abnormal dengan kriteria adanya fleksi dan fiksasi yang
disebabkan atrofi dan memendeknya otot. Terjadinya kontraktur dapat
menyebabkan sendi dalam kedududkan yang tidak berfungsi. Osteoporosis terjadi
karena reabsorbsi tulang semakin besar, sehingga yang menyebabkan jumlah
kalsim kedalam darah menurun dan jumlah kalsium yang dikeluarkan melalui
urine semakin besar.
8. Perubahan sstem integumen
Perubahan sistem integument yang terjadi berupa penurunan elastisitas kulit karena
menurunnya sirkulasi darah akibat imobilitas dan terjadinya iskemia serta nekrosis
jaringan superfisial dengan adanya luka dekubitus sebagai akibat tekanan kulityang
kuat dan sirkulasi yang menurun ke jaringa.
9. Perubahan eliminasi
Perubahan dalam eliminasi misalnya penurunan jumlah urin yang mungkin disebabkan
oleh kurangnya asupan dan penurunan curah jantung sehingga aliran darah renal dan
urin berkurang.
10. Perubahan perilaku
Perubahan perilaku sebagai akaibat imobilitas, antara lain timbulnya rasa bermusuhan,
bingung, cemas, emosional tinggi, depresi, perubahan siklus tidur, dan penurunan
mekanisme koping. Terjadinya perubahan perilaku tersebut merupakan dampak
imolitas karena selama proses imobilitas seseorag akan mengalami perubahan peran,
konsep diri, kecemasan dan lain-lain
V. Proses Keperawatan
1. Pengkajian
Kaji penyebab gangguan misalnya nyeri, kelemahan otot atau kelelahan. Kaji
riwayat kesehatan klien meliputi penyakit neurologis, kardiovaskuler, muskuloskletal,
pernafasan dan pemakaian obat sedatif. Kaji kemampuan fungsi motorik pada
ekstermitas untuk menilai ada tidaknya kelemahan, kekuatan atau spastis.
2. Diagnosa / masalah keperawatan
Gangguan mobilitas fisik b.d trauma, kelemahan akibat spasme muskuloskletal.
Resiko cedera b.d adanya paralisis
Kurangnya perawatan diri b.d kelemahan fisik secara umum
Gangguan penurunan curah jantung b.d imobilitas.
Intoleransi activitas b.d menurunnya tonus dan kekuatan otot.
Gangguan eliminasi b.d imobilisasi.

Penurunan nutrisi menurunnya nafsu makan (anoreksia) b.d sekresi lambung


menurun dan penurunan peristaltik usus.
3. Perencanaan keperawatan
Tujuan:
Meningkatkan kekuatan, ketahanan otot dan fleksibilitas sendi
Meningkatkan fungsi kardiovaskuler
Meningkatkan fungsi respirasi
Meningkatkan fungsi gastrointestinal
Meningkatkan fungsi sistem perkemihan
Memperbaiki gagguan psikologis.
4. Implementasi
Pengaturan posisi tubuh sesuai kebutuhan klien
Latihan ROM (Range Of Motion) pasif dan aktif
5. Evaluasi
Evaluasi yang diharapkan dari hasil tindakan keperawatan untuk mengatasi gangguan
mobilitas adalah sebagai berikut:
Peningkatan fungsi sistem tubuh
Peningkatan kekuatan dan ketahanan otot
Peningkatan fleksibilitas sendi
Peningkatan fungsi motorik, perasaan nyaman pada pasien dan ekspresi pasien
menunjukkan keceriaan.
Daftar Pustaka
Aziz, Alimul. (2006). Pengantar Pemenuhan Kebutuhan Manusia. Erlangga.
Barbara Kozier, Fundamental Of Nursing Concept, Process and Practice, Fifth Edition,
Addison Wsley Nursing, California, 1995
Dolores F. Saxton, Comprehensive Review Of Nursing For NCLEKRN, Sixteenth Edition,
Mosby, St. louis, Missouri, 1999.
Budi Santosa (Alih Bahasa), Panduan Diagnosa Keperawatan NANDA 2005-2006, Prima
Medika.
Sylvia Anderson Price, Alih : Peter Anugerah, Pathofisiologi Konsep Klinis Proses-proses
Penyakit, Edisi kedua, EGC, Jakarta, 1995.
Penanganan nyeri. www.medicastore.com