Anda di halaman 1dari 26

LABORATORIUM PRAKTEK

PENGOLAHAN SINYAL

LAPORAN JOB 5
INTEGRATOR
Dibuat untuk Memenuhi Tugas Praktek Pengolahan Sinyal
di Jurusan Teknik Elektro Program Studi Teknik Elektronika

Oleh :

Nama

: KM Chandra Bayu Saputra

NIM

: 0613 3032 0208

Kelas

: 3EA

Kelompok

:I

Dosen Pembimbing : Dewi Permata Sari. S.T., M.Kom.


NIP

: 19761213200032001

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA


PALEMBANG
TAHUN AKADEMIK 2014-2015

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulishaturkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas
berkat dan karunia-Nyalah penulis dapat menyelesaikan Laporan Praktek
Pengolahan Sinyal JOB V mengenai Integrator di laboratorium Elektonika ini
tepat pada waktunya.
Pada kesempatan yang baik ini penulis ucapkan terimah kasih kepada Ibu
Evelina selaku dosen pembimbing yang telah membimbing penulis dalam
penyusunan makalah ini.
Penulis menyadari sepenuhnya makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh
karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran dari rekan-rekan mahasiswa yang
bersifat membangun agar dalam penyusunan laporan selanjutnya dapat lebih baik
dari sekarang ini.

Hormat kami,

Penulis

ii

DAFTAR ISI
halaman
HALAMAN JUDUL ......................................................................................... i
KATA PENGANTAR ....................................................................................... ii
DAFTAR ISI ...................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN .................................................................................. 1
1.1 Tujuan ................................................................................................... 1
1.2 Teori Dasar............................................................................................ 1
BAB II PEMBAHASAN ................................................................................... 5
2.1 Alat dan Bahan ...................................................................................... 5
2.2 Gambar Rangkaian Percobaan .............................................................. 6
2.3 Langkah Percobaan ............................................................................... 7
2.4 Keselamatan Kerja ................................................................................ 8
2.5 Data Percobaan ..................................................................................... 8
2.5.1 Tabel Data Percobaan 1 ............................................................ 8
2.5.2 Tabel Data Percoabaan 2 ........................................................... 8
2.5.3 Tabel Data Percobaan 3 ............................................................ 9
2.6 Analisa Data .......................................................................................... 9
BAB III PENUTUP ........................................................................................... 21
3.1 Kesimpulan ........................................................................................... 21
3.2 Saran ..................................................................................................... 21
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................ 23

iii

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 TUJUAN
Setelah melakukan percobaan mahasiswa diharapkan dapat :
1. Mengetahui prinsip kerja rangkaian integrator
2. Mengetahui dan memahami perubahan sinyal masukan dan keluaran di
rangkaian integrator
3. Mengetahui prinsip kerja dipengosongan capasitor pada rangkaian
integrator

1.2 TEORI DASAR


Sebuah integrator adalah sebuah rangkaian yang melaksanakan operasi
matematik. Sebuah pemakaian yang lazim dari integrator adalah menggunakan
tegangan yang tetap untuk menghasilkan suatu lerengan pada tegangan keluaran.
(Sebuah lerengan adalah tegangan yang naik atau turun secara linier).
Gambar 1.1.a adalah sebuah Op-Amp integrator. Masukannya sebuah pulsa
segi empat seperti dalam gambar 1.1.b Vin menyatakan tegangan yang tetap selama
waktu pulsa T. Oleh karena bumi virtual, maka arus masukan tetap sama dengan
= =

Hampir seluruh arus memasuki kapasitor. Hukum dasar kapasitor menyatakan


bahwa :
=

Oleh karena arus yang mengalir tetap, maka muatan Q naik secara Linier.
Ini berarti tegangan kapasitor naik linier dengan polaritas ditunjukan dalam gambar
1.1.c. Oleh karena pembalikan fasa dari Op-Amp, maka tegangan keluaran adalah

sebuah lerengan negative, seperti diperlihatkan dalam gambar 1.1.c. Pada akhir dari
perioda pulsa tegangan masukan kembali ke nol dan arus pengisian berhenti. Oleh
karena kapasitor menahan keluarannya maka tegangan akan tetap pada suatu
tingkatan yang negative.
Untuk memperoleh rumus bagi tegangan keluaran, kedua sisi dari persamaan diatas
dibagi oleh T, memberikan :

Gambar 1.1.a. Rangkaian Integrator


Dari rangkaian diatas, didapatkan proses perhitungannya:

Sehingga persamaan menjadi :


=

1
+
1 0

1
. 1

= .
2
=

= .
1

1
=
2F
=

Gambar 1.1.b. Gelombang Sinyal Input (Vin)

Gambar 1.1.c. Gelombang Sinyal Output (Vout)

Oleh karena arus pengsian tetap, kita dapat menulis

Rangkaian dari gambar 1.2.a menghasilkan tegangan offset yang terlalu


besar suatu cara untuk memperkecil pengaruh offset yang terlalu besar suatu cara
untuk memperkecil pengaruh offset masukan adalah dengan menyisipkan tahanan
parallel dengan kapasitor, seperti diperlihatkan dalam gambar 1.2.a. Resistor ini
sekurang-kurangnya harus sepuluh kali besar dari tahanan masukan.

Gambar 1.2.a. Integrator R parallel dengan C

Gambar 1.2.b. Integrator R parallel dengan C tersaklar

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 ALAT DAN BAHAN


1. Multimeter

1 buah

2. Function Generator

1 buah

3. Resistor

: 1 M

1 buah

100 K

1 buah

10 K

1 buah

4K7

2 buah

1 K

1 buah

470

1 buah

4. Protoboard

1 buah

5. IC Op-Amp 741

1 buah

6. Kapasitor

: 10F

1 buah

1F

1 buah

0,1F (100nF)

1 buah

7. Jumper

secukupnya

8. Kabel banana

secukupnya

2.2 GAMBAR RANGKAIAN PERCOBAAN

Gambar 2.1 Rangkaian Percobaan 1

Gambar 2.2 Rangkaian Percobaan 2

2.3 LANGKAH PERCOBAAN


2.3.1

Percobaan 1

1. Buat rangkaian seperti gambar 2.1 dengan V1 = 1 Vp-p (Pulsa segi empat),
R1 = 470 , C = 1F, RL = 4K7 dengan frekuensi 500 Hz dan 1 KHz.
2. Ukur arus, tegangan kapasitor dan tegangan keluaran. Catat hasilnya.
3. Gambarkan bentuk sinyal keluarannya
4. Ganti kapasitor C1 dengan 0,1F dan 10F
5. Ulangi langkah 2 dan 3
2.3.2

Percobaan 2

1. Buat rangkaian seperti gambar 2.1 dengan V1 = 2 Vp-p (Pulsa segi empat),
R1 = 470 , C1 = 1F, RL = 4K7 dengan frekuensi 500 Hz dan 1 KHz.
2. Ukur arus, tegangan kapasitor dan tegangan keluaran. Catat hasilnya.
3. Gambarkan bentuk sinyal keluarannya
4. Ganti kapasitor C1 dengan 0,1F dan 10F
5. Ulangi langkah 2 dan 3

2.3.3

Percobaan 3

1. Buat rangkaian seperti gambar 2.2 dengan V1 = 5 Vp-p (Pulsa segi empat),
R1 = 4K7, R2 = 100K, R3 = 4K7, F = 500 Hz dan 1 KH, C1 = 1F.
2. Ukur arus, tegangan kapasitor, dan tegangan keluaran. Catat hasilnya
3. Gambarkan sinyal keluarannya
4. Ganti kapasitor C1 dengan 0,1F dan 10F
5. Ulangi langkah 2 dan 3

2.4 KESELAMATAN KERJA


1) Sebelum menggunakan Osiloskop, kalibrasikan Osiloskop terlebih dahulu.
2) Untuk mengukur tegangan DC pada Osiloskop, perhatikan batas ukur
Volt/Div
3) Matikan semua perlatan setelah menyelesaikan semua praktek.

2.5 DATA PERCOBAAN


2.5.1

Tabel Data Percobaan 1

V1
R1
C1
(Volt) () (F)
1
1
1
2.5.2

470
470
470

0,1
1
10

Frekuensi 500
Hz

Frekuensi 1
KHz

Vc
(Volt)

Vo
(Volt)

Vc
(Volt)

Vo
(Volt)

1
0,6
0,014

0,016
0,16
0,8

1
0,64
0,1

0,001
0,056
0,072

RL
()

I=Iin
(mA)

4K7
4K7
4K7

0,41
0,41
0,41

Tabel Data Percobaan 2


Frekuensi
Frekuensi 1
500 Hz
KHz
V1
R1
C1
Vc
Vo
Vc
Vo
(Volt) () (F)
(Volt) (Volt) (Volt) (Volt)
2
2
2

470
470
470

0,1
1
10

2
1,2
0,16

0,032
0,14
0,8

1,8
1,3
0,18

0,016
0,1
0,15

RL
()

I=Iin
(mA)

4K7
4K7
4K7

0,84
0,84
0,84

2.5.3

Tabel Data Percobaan 3

R1
()

R2
()

R3
()

C1
(F)

V1
(V)

4K7

100

4K7

0,1

4K7

100

4K7

4K7

100

4K7

Frekuensi 500
Hz

Frekuensi
1 KHz

Vc
(V)

Vo
(V)

Vc
(V)

Vo
(V)

0,1

0,056

0,1

0,096

0,056

0,1

10

0,034

0,056

0,09

0,05
6
0,05
6
0,05
6

I=Iin
(mA)
0,33
0,33
0,33

2.6 ANALISA DATA


Setelah dilakukannya percobaan didapatkan bahwa rangkaian penguat
integrator ini adalah suatu rangkaian penguat yang proses atau hasil penguatannya
didasarkan pada fungsi matematika, yaitu integral. Fungsi integral ini menggunakan
harga dari komponen

dan sumber masukan

yang digunakan

sebagai

perhitungannya. Pada percobaan, rangkaian ini dapat mengubah gelombang kotak


menjadi gelombang gergaji, karena dalam hal ini rangkaian akan mengubah
frekuensi masukan, tegangan dan Periodenya. Pada percobaan, saat menggunakan
osiloskop, input yang awalnya bergelombang kotak, akan berubah menjadi
gelombang kotak, namun nyatanya tegangan pun akan mengecil, namun gelombang
akan berubah menjadi setiga yang tak beraturan. Saat percobaan rangkaian pertama
pada Gambar 2.1, bahwa pada saat diberi gelombang input kotak dengan amplitude
1 Vp-p, gelombang output akan tidak berbentuk gelombang kotak lagi, akan tetapi
berbentuk segitiga yang tak beraturan, dengan menggunakan frekuensi masukan

10

sebesar 500Hz, R1 = 470, RL = 4K7 dan C1 = 1F ; didapatkan output sebesar


0,16V (160 mV) seperti Gambar 2.3 dibawah ini :

Gambar 2.3 Gelombang Vout pada (C = 1F) Osiloskop


Berarti hasil pada osiloskop ini sesuai dengan pernyatan berdasarkan teori
yang menyatakan bahwa rangkaian integrator ini difungsikan unutk mengubah
gelombang kotak menjadi gelombang segitiga dengan memanfaatkan fungsi
matematika layaknya integral. Pada saat percobaan selanjutnya, yaitu melakukan
pengukuran tegangan pada kapasitor (Vc), dengan menggunakan nilai input dan
komponen yang sama, tegangan yang tampak pada osiloskop pun masih tetap
berbentuk gelombang segitiga, hanya saja gelombang segitiga pada saat
pengukuran Vc sangat tampak jelas seperti berbentuk gigi gergaji dengan besar
tegangan yang sedikit lebih besar dari tegangan Vout, yakni sebesar 0,6V (600 mV)
yang terlihat pada Gambar 2.4. Jadi sudah sangat jelas bahwa besar tegangan Vc

11

dan Vout saling berlawanan, atau dengan kata lain saling berkebalikan, yaitu untuk
Vout, jika semakin besar nilai kapasitor yang digunakan, maka Vout yang
dihasilkan pun akan bertambah besar pula, sedangkan Vc, semakin besar nilai
kapasitor yang digunakan, maka tegangan Vc yang dihasilkan akan semakin kecil,
jadi tegangan Vc dan Vout saling berkebalikan.

Gambar 2.4 Gelombang Vc pada (C = 1F) Osiloskop


Lalu, pada saat disimulasikan menggunakan livewire, hasil yang didapatkan
sama-sama menghasilkan gelombang segitiga hanya saja nilai besaran tegangannya
sangat jauh berbeda dengan apa yang Nampak pada osiloskop, contohnya misalnya
pada percobaan sebelumnya dengan memberikan tegangan inputan sebesar 1Vp-p
berfrekuensi 500Hz dengan R1 = 470, RL = 4K7, dan C1 = 1F, yaitu pada Vout
dan Vc tegangan yang dihasilkan tidak gelombang peak to peak +-, melainkan
gelombang DC yang berbentuk segitiga, untuk Vo = tegangan yang dihasilkan naik

12

turun antara -8V sampai -15V, sedangkan Vc naik turun antara 8V sampai 15V
seperti yang tampak pada gambar dibawah ini :

Gambar 2.5 Gelombang Vout (C1 = 1F) pada simulasi software Livewire

Gambar 2.6 Gelombang Vc pada (C = 1F) pada simulasi software Livewire

13

Pada percobaan selanjutnya, frekuensi di perbesar menjadi 1KHz. Hal ini


akan mengubah sedikit pada tegangan, jadi tidak banyak mengalami perubahan,
hanya saja mengalami sedikit pergeseren pada tegangan yang mungkin membuat
tegangan yang dihasilkan menjadi kasar. Lalu percobaan selanjutnya dengan
memperbesar masukan tegangan sebesar 2 V, maka dengan demikian hasil output
akan bertambah besar pula. Bentuk gel yang dihasilkan pun masih tetap sama
dengan prinsipnya, yaitu akan mengubah gelombak segi empat menjadi gelombang
segitiga, hanya saja masih tetap sama pada livewire yang menampilkan hasil yang
sangat berbeda jauh, Hal ini mungkin terjadi karena input frekuensi yang digunakan
pada simulasi di software livewire adalah sebesar 1 Hz, sedangkan pada Osiloskop
digunakan frekuensi masukan sebesar 500 Hz dan 1 KHz. Pada livewire digunakan
1 Hz karena pada livewire seringkali jika menggunakan frekuensi yang sangat
tinggi, maka gelombang yang ditampilkan pada grafik tidak akan tampak, karena
semakin besar frekuensi maka semakin panjang pula gelombang yang dihasilkan,
sehingga gelombang yang tadinya naik turun +- akan terasa tidak mengalami
perubahan, missal pada percobaan di livewire didapatkan gelombang segitiga +15V dengan frekuensi 1 Hz, maka jika digunakan frekuensi sebesar 1 KHz hasilnya
akan tampak sebesar -15V dan akan mengalami perubahan dalam hal ini penaikan
dengan rentang waktu yang sangat lama utk mencapai +15V. Kenapa pada
osiloskop nilainya sangat kecil?. Hal ini mungkin yang terukur pada osiloskop
hanya gelombang ripplenya saja, sehingga nilai pun tampak kecil.
Pada percobaan selanjutnya, yakni percobaan rangkaian kedua pada
Gambar 2.2, terlihat bahwa rangkaian mengalami sedikit penambahan komponen
yaitu ditambahkannya yaitu ditambahkan Resistor 100 sebagai Resistor feedback
(Rf) yang dipasang paralel dengan kapasitor. Pada input non-inverting Op-Amp
juga diberi nilai resistor sebesar 4K7, karena nilai ROM hanya boleh berkisar dari
0 sampai sebesar nilai R1 yang digunakan (dalam hal ini R1 yang digunakan sebesar
4K7, maka jika ROM (R3 disini) sebesar 4K7, masih sesuai dengan ketentuan

14

yang seharusnya. Pada percobaan dengan input 5Vp-p berfrekuensi 500Hz serta
kapasitor C1 = 0,1F didapatkan Voutnya adalah sebesar 0,056V (56mV) yang
tampak terlihat pada gambar dibawah dengan gelombang berbentuk segitiga,
namun untuk Vout dengan kapasitor selanjutya, yaitu dengan menggunakan C1
sebesar 1F dan 10F, Vout masih tetap tidak berubah berubah, hal ini terjadi
karena setelah Rf dipasang parallel dengan Cf (bertindak sebagai C1 disini),
sehingga tegangan yang lolos pada C1 itu sendiri memiliki nilai yang sangat kecil
maka alat ukur pun hanya akan membaca tegangan yang lolos pada Rf saja, atau
dengan kata lain tegangan yang melewati C1 menjadi tidak dianggap karena
terhalang oleh tegangan yang melewati Rf. Jadi besar kecilnya Rf sangat
mempengaruhi besar kecilnya tegangan yang dihasilkan, sedangkan nilai C, tidak
akan mengubah tegangan output pada percobaan kali ini. Akan tetapi, C disini
sangat mempengaruhi frekuensinya dan amplitudonya sehingga bentuk gelombang
akan nampak jelas memiliki perbedaan seperti gambar dibawah ini.

Gambar 2.5.a Gelombang Vout rangkaian percobaan 2 C = 0,1F

15

Gambar 2.5.b Gelombang Vout rangkaian percobaan 2 C = 1F

Gambar 2.5.c Gelombang Vout rangkaian percobaan 2 C = 10F

16

Pada gambar diatas, tampak jelas output gelombang memiliki gelombang


yang semakin besar kapasitor yang digunakan maka gelombang pun akan semakin
mengerucut membentuk segitiga. Sedangkan pada livewire, gelombang juga akan
sama-sama mengerucut, hanya saja nilai tegangan sedikit berbeda, yaitu bernilai
negatif.

Gambar 2.6.a Gelombang Vout rangkaian percobaan 2 C = 0,1F (Livewire)

Gambar 2.6.b Gelombang Vout rangkaian percobaan 2 C = 1F (Livewire)

17

Gambar 2.6.c Gelombang Vout rangkaian percobaan 2 C = 10F


Untuk Vc, jika nilai C diubah ubah, maka tegangannya tidak akan
mengalami perubahan yang signifikan, jika pun ada mungkin hanya bergeser
bebeapa V saja. Seperti yang ditunjukan pada gambar berikut:

Gambar 2.7.a. Gelombang Vc rangkaian percobaan 2 C = 0,1F

18

Untuk gelombang Vc dengan kapasitor C1 = 1F, gelombang akan


mengalami perubahan ditandai dengan adanya kemiringan yang terjadi pada
gelombang Vc. Namun masih belum jelas atau masih sangat jauh dengan bentuk
gelombang segitiga, jadi gelombang baru mengalami perubahan atau menjadi
gelombang segitiga yang sangat tampak jelas pada saat menggunakan kapasitor
sebesar 10F.

Gambar 2.7.b. Gelombang Vc rangkaian percobaan 2 C = 1F

Akan tetapi untuk Vc pada simulasi livewire, proses perubahan pada saat
pergantian kapasitor, tegangan high masih tetap tidak akan berubah, hanya saja
pada puncak gelombang di bagian bawah yang mendekati sumbu 0 mengalami
kenaikan amplitude, sama seperti layaknya gelombang pada pengukuran Vout.

19

Gambar 2.8.a. Gelombang Vc rangkaian percobaan 2 C = 0,1F

Gambar 2.8.b. Gelombang Vc rangkaian percobaan 2 C = 1F

20

Gambar 2.8.c. Gelombang Vc rangkaian percobaan 2 C = 10F

BAB III
PENUTUP

3.1 KESIMPULAN
Setelah melakukan percobaan dan telah dilakukannya penganalisaan, dapat
disimpulkan bahwa rangkaian integrator ini adalah rangkaian penguat operasional
yang melakukan operasi matematika Integrasi yang dapat menyebabkan output
menanggapi perubahan tegangan input dari waktu ke waktu sebagai integrator op amp menghasilkan tegangan output yang sebanding dengan integral dari tegangan
input .Dengan kata lain besarnya sinyal output ditentukan oleh lamanya waktu
tegangan hadir pada input sebagai arus melalui besarnya umpan balik atau
pembuangan kapasitor sebagai umpan balik negatif yang terjadi melalui kapasitor.
Sehingga rangkaian ini berfungsi untuk mengubah gelombang persegi menjadi
gelombang segitiga dan gelombang segitiga menjadi gelombang sinus, dengan
pergeseran fasa 1800. Tegangan output yang dihasilkan akan bernilai negatif karena
mendapat umpan balik dari Cf. Jadi rangkaian integrator ini berfungsi untuk
mengubah gelombang input yang awalnya gelombang persegi (pulsa) menjadi
segitiga atau pulsa segitiga menjadi sinus, dengan pergeseran fasa berdasarkan
operasi matematika integral.

3.2 SARAN
Sebelum melakukan percobaan, ada baiknya untuk mengecek terlebih
dahulu alat dan komponen yang dipergunakan dalam masa praktikum. Contohnya
seperti power supply, baik itu power supply biasa maupun power supply simetris
(pascal), karena terkadang power supply yang digunakan tidak sesuai dengan
tegangan yang tertera pada penampilnya, jadi ada baiknya untuk diukur terlebih

21

22

dahulu outputnya dengan menggunakan multitester. Selain itu adalah resistor,


resistor sangat berpengaruh terhadap hasil dari tegangan keluaran yang akan
didapatkan nantinya, biasanya resistor memiliki toleransi, jadi ada baiknya
menggunakan resistor yang memiliki toleransi kecil, yaitu sekitar lebih kurang 1%
atau lebih kecil lagi. Multitester juga terkadang berbeda merk menentukan kualitas
dari akurasi pengukurannya. Jika pada merk bagus dan tentunya mahal, maka
akurasinya pun hanya memiliki toleransi dibawah 1 %, sedangkan untuk merk
dengan harga murah toleransi bisa diatas 3-5%. Jadi sebaiknya gunakan multitester
sesuai dengan kebutuhan dan tentunya dengan memperhitungkan costnya. Yang
terkahir, selalu berhati-hati dan selalu dalam ketelitian dalam melakukan segala hal
demi mencapai hasil yang lebih baik.

DAFTAR PUSTAKA
Alfarizal, Niksen. 2010. Praktek Pengolahan Sinyal Teknik Elektronika POLSRI.
Palembang. Politeknik Negri Sriwijaya.
Ahmad, Jayadin. 2007. Elektronika Dasar. Yogyakarta.
- http://www.electronics-tutorials.ws/opamp/opamp_6.html
- http://id.wikipedia.org/wiki/Integrator
- http://rangkaianelektronika2.blogspot.com/2013/10/op-amp-integrator.html
- http://www.rangkaianelektronika.org/rangkaian-integrator.htm
- http://elektronika-dasar.web.id/teori-elektronika/integrator-aktif/
- http://ilham-kn.blogspot.com/2013/12/rangkaian-diferensial-danintegrator.html
- http://basukidwiputranto.blogspot.com/2014/04/aplikasi-op-amp-ke-6integrator.html
- http://www.scribd.com/doc/97004937/Contoh-Soal-Dan-Presenasi-RangkaianIntegrator-Bakhtiyar-Sierad-PENS#force_seo
- http://www.scribd.com/doc/97023326/Contoh-Soal-IntegratotDiferensiator#force_seo

23