Anda di halaman 1dari 19

KARYA TULIS ILMIAH

PERAN SERTA TAMAN BACAAN MASYARAKAT


SEBAGAI MODAL DASAR TERWUJUDNYA SURABAYA
SEBAGAI KOTA BACA DALAM MEMASUKI ERA
GLOBALISASI

Disusun untuk memenuhi tugas bimbingan teknis / diklat tenaga perpustakaan


kota Surabaya

DISUSUN OLEH :
CORINNA RESMITA DEWI

PERPUSTAKAAN UMUM KOTA SURABAYA


2010

KATA PENGANTAR

Dengan mengucap syukur Alhamdulillah kehadirat Allah Yang Maha Esa, yang
telah memberikan Rahmat dan Hidayah-Nya, sehingga penulisan Karya Tulis Ilmiah
dengan judul Peran Serta Taman Bacaan Masyarakat Sebagai Modal Dasar
Terwujudnya Surabaya Sebagai Kota Baca Dalam Memasuki Era Globalisasi ini dapat
terselesaikan dengan tepat waktu.
Karya Tulis Ilmiah disusun sebagai salah satu tugas bimbingan teknis / diklat
tenaga perpustakaan kota Surabaya.
Pada kesempatan ini, penulis ingin menyampaikan ungkapan terima kasih yang
sebesar besarnya bahwa keberhasilan penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini tidak lepas
dari bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak :
1. Ibu Arini Pakistyaningsih, SH,MM selaku Kepala Badan Arsip dan Perpustakaan
Kota Surabaya.
2. Bapak Sutopo, S.Sos,MM selaku Sekretaris Badan Arsip dan Perpustakaan Kota
Surabaya.
3. Bapak Drs. Basuki Suranto, M.Si selaku pembimbing yang dengan sabar
membimbing dan mendukung kegiatan bimbingan teknis / diklat tenaga perpustakaan
Kota Surabaya ini.
4. Bapak dan Ibu pembimbing Bimbingan Teknis / Diklat tenaga perpustakaan yang
selalu bersabar dalam memberikan materi.
5. Ibunda dan Bapak yang selalu memberikan dukungan moril maupun material, serta
atas doa dan restunya selama ini.
6. Suami dan putri kecil tercinta Karena Dia Dewi Artmelody yang merelakan
waktunya tersita oleh pembuatan Karya Tulis Ilmiah ini sehingga dapat terselesaikan
dengan baik.
7. Teman teman peserta bimbingan teknis / diklat yang selalu rela membantu
kelancaran pembuatan Karya Tulis Ilmiah ini dan memberikan inspirasi bagi penulis.

Akhir kata dengan segala keterbatasannya, penulis menyadari di dalam


penyusunan tugas akhir ini tentunya tidak terlepas dari segala kekurangan, hal ini
dikarenakan kemampuan, dan waktu yang tersedia bagi penulis. Oleh karena itu penulis
berharap Karya Tulis Ilmiah ini dapat memberikan manfaat bagi siapa saja yang
membacanya.

Surabaya,

Penulis,

Oktober 2010

DAFTAR ISI

Halaman
KATA PENGANTAR .

DAFTAR ISI .

iii

BAB I : PENDAHULUAN .

1.1

Latar Belakang Masalah .

1.2

Rumusan Masalah.

1.3

Tujuan Penulisan...

1.4

Manfaat Penulisan.

1.5

Gagasan Kreatif.

BAB II : PEMBAHASAN ...

2.1

Tinjauan Pustaka .

2.2

Landasan Teori

2.3

Pembahasan Masalah ..

11

BAB III : PENUTUP ..

14

3.1

Simpulan ..

14

3.2

Saran

14

Daftar Pustaka

15

BAB I
PENDAHULUAN

2.1

Latar Belakang Masalah

Bangsa Indonesia telah memasuki era globalisasi yang erat kaitannya dengan
modernisasi dan selalu membutuhkan teknologi dan informasi dalam pelaksanaannya.
Era globalisasi dapat diartikan sebagai jaman persaingan bebas yakni persaingan baik
dari segi perekonomian, pertahanan nasional, perkembangan teknologi dan sebagainya
dengan negara negara lain seperti RRT, Korea, Jepang, Malaysia, Amerika Serikat
dan Negara-negara maju lainnya.
Bangsa

Indonesia

dalam

hal

ini

dituntut

untuk

selalu

meningkatkan

perkembangan teknologi dan informasi dari segala aspek tanpa meninggalkan adat
ketimuran yang selalu dianut oleh Bangsa Indonesia sejak jaman sebelum kemerdekaan.
Salah satu penyelesaian yang paling efektif untuk Bangsa Indonesia dalam
memasuki era globalisasi adalah peningkatan mutu sumber daya manusia sehingga
Bangsa Indonesia dapat disejajarkan dengan Negara-negara maju, dari segi ilmu
pengetahuan.
Upaya yang ditempuh oleh pemerintah kota Surabaya pada khususnya untuk
meningkatkan mutu atau kualitas sumber daya manusia dari segi ilmu pengetahuan
yaitu dengan memperluas pengetahuan sumber daya manusia dari hal yang paling kecil
dan sederhana yakni membaca. Membaca adalah jembatan dunia. Membaca membuka
cakrawala akan informasi yang belum didapatkan sebelumnya dan dengan membaca
akan mengantarkan Bangsa Indonesia selangkah lebih maju dengan Negara berkembang
lainnya.
Namun dalam pelaksanaannya upaya pemerintah, untuk meningkatkan minat baca
masyarakat belum bisa dikatakan berhasil, pemerintah kota Surabaya khususnya.
Karena menurut survey yang pernah dilakukan oleh BARPUS (Badan Arsip dan
Perpustakaan) Kota Surabaya yang membuktikan bahwa minat baca warga kota
Surabaya hanya sekitar 26% saja sedangkan sisanya adalah warga yang tidak suka

membaca. Banyak hal yang dapat membuat warga kurang menyadari akan pentingnya
budaya membaca diantarannya adalah kemiskinan yang memungkinkan seseorang tidak
dapat menjangkau pembelian buku, atau masalah kurangnya informasi bahwa
perpustakaan yang dimiliki pemerintah selalu ada untuk dikunjungi, atau jarak antara
perpustakaan dengan domisili warga yang kurang memungkinkan untuk dikunjungi.
Atau dapat juga karena belum ada pihak yang memberikan semangat baca untuk warga
kota.
Terobosan demi terobosan dilakukan oleh Pemerintah Kota Surabaya dalam
meningkatkan minat baca warga kota. Puncaknya pada akhir tahun 2008 melalui
BARPUS (Badan Arsip dan Perpustakaan) Kota Surabaya dibuatlah perpustakaan kecil
yang selanjutnya dinamakan TBM atau Taman Bacaaan Masyarakat

yang

penempatannya ada di Balai RW, Kelurahan, Rusun-rusun, Mal, tempat rekreasi dan
taman-taman kota. Sehingga diharapkan kehadiran Taman Bacaan Masyarakat ini
mampu menjangkau masyarakat kelas ekonomi menengah kebawah maupun ekonomi
menengah keatas dari, segi lokasi dan fasilitas peminjaman gratis yang ditawarkan.
Kehadiran TBM disambut hangat oleh warga Kota Surabaya, TBM TBM di
tempat umum seperti taman taman kota diserbu pengunjung setiap harinya. Para
kepala RW yang belum tersedia taman bacaan mengharapkan adanya TBM di
lingkungan domisili mereka. Karena membaca adalah hal positif bermanfaat yang
sangat perlu dibiasakan sejak usia dini. Badan Arsip dan Perpustakaan Kota Surabaya
menargetkan adanya 1000 taman bacaan pada tahun 2015.
Dari sinilah penulis ingin membahas peran serta TBM sebagai modal dasar
terwujudnya Surabaya sebagai kota baca dalam memasuki Era Globalisasi. Sehingga
keberadaan TBM mampu menjadikan warga Kota Surabaya yang kaya ilmu
pengetahuan

1.2

Rumusan Masalah

Dengan Latar belakang tersebut diatas, maka permasalahan yang akan


penulis bahas adalah :
1. Apakah TBM memiliki peran penting dalam mewujudkan Surabaya
sebagai Kota Baca dalam memasuki Era Globalisasi.

2. Kendala apa yang dimiliki TBM dalam mewujudkan Surabaya


sebagai Kota Baca dalam memasuki Era Globalisasi.

1.3

Tujuan Penulisan
Tujuan Penulisan Karya Tulis Ilmiah ini adalah sebagai berikut:
1. Sebagai tugas bimbingan teknis / diklat tenaga perpustakaan Kota
Surabaya tahun 2010
2. Mengetahui manfaat TBM dan Perpustakaan
3. Menumbuhkan minat dan budaya baca bagi siapa saja yang
membacanya.

1.4

Manfaat Penulisan
Manfaat Penulisan Karya Tulis Ilmiah ini antara lain adalah sebagai berikut:
a. Bagi Penulis, antara lain :
1. Dapat menyajikan suatu bahan untuk dijadikan wacana keilmuan dan acuan
bagi pihak yang berkepentingan dengan penulisan penelitian ini.
2. Menambah wawasan penulis dalam dunia perpustakaan.
3. Menambah pengalaman dalam penulisan Karya Tulis Ilmiah
4. Menambah bekal dalam bertugas di tempat yang telah ditentukan oleh
BARPUS (Badan Arsip dan Perpustakaan) Kota Surabaya.
b. Bagi BARPUS Kota Surabaya, antara lain:
1. Memberikan manfaat berupa tambahan referensi di bidang taman bacaan
bagi ruang referensi.
2. Memberikan literature yang bermanfaat bagi staf dan pegawai BARPUS
Kota Surabaya.

c. Bagi masyarakat umum, antara lain:


1. Menambah pengetahuan akan pentingnya membaca
2. Menumbuhkan semangat membaca setelah mengetahui kegiatan kegiatan
yang dilaksanakan oleh BARPUS Kota Surabaya demi terwujudnya
Surabaya sebagai Kota Baca.

1.5

Gagasan Kreatif

1. Membuat iklan layanan masyarakat yang berisi tentang pentingnya membaca


seperti yang pernah dilakukan oleh Dinas Lalu Lintas dalam menjalankan
misinya menertibkan helm di televisi swasta nasional. Iklan ini harus
sekreatif dan seatraktif mungkin dan dapat juga memakai ikon yang paling
digemari masyarakat. Artis sinetron, band-band anak muda atau Putri
Indonesia misalnya. Tentunya iklan ini akan menunjukkan tanggung jawab
perpustakaan untuk bergerak jemput bola kepada masyarakat.
2. Sebelum beralih ke TBM, ada kalanya perlu membenahi fasilitas di
Perpustakaan Kota Surabaya terlebih dahulu, yaitu sistem penerangan
ruangan yang saat ini penulis rasakan masih kurang dan fasilitas pendingin
ruangan yang kurang memadai, sehingga terkesan Perpustakaan Kota
Surabaya redup, panas dan kurang nyaman. Bila dibandingkan dengan Tokotoko buku yang tampilan visualnya menarik, nyaman dan sangat
menyenangkan bagi pengunjungnya. Jadi untuk membuat seseorang tertarik
untuk berkunjung ke perpustakaan adalah bagaimana cara membuat tampilan
perpustakaan lebih menyenangkan bagi pengunjung, lebih ceria dan tidak
terkesan seperti bangunan yang kaku, yang hanya dikunjungi oleh orangorang kutu buku.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1

Tinjauan Pustaka
1 Taman Bacaan Masyarakat Berpotensi Besar
(**) Dikronik dari Jawa Pos, 19 April 2010
Di Surabaya, setidaknya sudah ada 12 titik perpustakaan independen
atau taman bacaan. Baik taman bacaan yang dinaungi lembaga selevel LSM
maupun berdiri berdasar inisiatif pribadi masyarakat. Itu masih yang tergabung
dalam jaringan pengelola perpustakaan independen, Insan Baca. Belum lagi
taman bacaan masyarakat di bawah binaan Yayasan Pengembangan
Perpustakaan Indonesia (YPPI). Juga 200 titik sudut baca yang dikelola
Baperpus Surabaya.
Fenomena itu tak bisa dianggap remeh, tanpa dampak apa-apa.
Kenyataannya, peran taman bacaan masyarakat (TBM) sangat berpengaruh bagi
peningkatan pengetahuan masyarakat sekitar. Dari situ, potensi masyarakat yang
selama ini tidak terlihat karena ketiadaan fasilitator pengetahuan (baca:
pengelola TBM) mulai tampak
Oleh : Prita Hendriana W

(*)Koordinator Insan Baca dan wakil koordinator Jawa Membaca-Forum TBM


Indonesia.

2 Tingkatkan Minat Baca Tingkatkan Pengetahuan


(**) Majalah Gapura Edisi Oktober 2010
Buku adalah jendela ilmu. Dari buku kualitas suatu bangsa akan ditentukan.
Suatu bangsa yang minat membacanya cukup tinggi, akan memiliki unggulan
komparatif untuk bersaing dengan Negara-negara lain. Selain itu ada realitas
tentang rendahnya minat baca masyarakat kita pada khususnya.
Secara teoritis ada hubungan yang positif antara minat baca (reading interest)
dengan kebiasaan membaca (reading habit) dan kemampuan membaca (reading
ability). Rendahnya minat baca masyarakat menjadikan kebiasaan membaca yang
rendah dan rendahnya kebiasaan membaca ini juga menjadikan kemampuan
membaca juga rendah. Itulah yang terjadi pada masyarakat kita sekarang ini

3 Menggaungkan Surabaya Membaca


(**) Dikronik dari Jawa Pos, 05 Maret 2010
Bila latar belakang ekonomi menjadi salah satu faktor vital rendahnya
minat baca, tentu tak salah bila berdasar hasil riset minat baca anak-anak
Indonesia tergolong rendah dan paling bontot jika dibanding negara Asia lain.
Karena itu, pemerintah dan golongan masyarakat yang lebih berdaya harus
bersinergi dalam hal ini.
Kontribusi masyarakat yang lebih berdaya itu tampak pada tumbuh
suburnya berbagai komunitas literasi. Mulai menyuarakan isu literasi melalui
media online sampai sekumpulan anak muda pencinta dunia sastra dan tulismenulis seperti Esok (Emperan Sastra Cok -Cepetan Ojo Keri) dan Forum
Lingkar Pena Jatim.
Ada pula Insan Baca yang membangun sebuah jaringan pengelola
perpustakaan independen, sehingga para anggotanya bisa saling berbagi
informasi. Ditambah, taman baca masyarakat yang tumbuh pesat, baik yang
didorong atas inisiatif pribadi maupun di bawah lembaga independen, serta di pospos pendidikan anak usia dini (PAUD)

Oleh : Prita Hendriana Wijayanti


*) Koordinator Insan Baca dan pendiri Pondok Baca Bocah Surabaya
2.2 Landasan Teori
2.2.2 Undang-Undang Republik Indonesia No. 43 Tahun 2007 Tentang
Perpustakaan (Pasal 1)
a) Perpustakaan adalah institusi pengelola koleksi karya tulis, karya cetak,
dan/atau karya rekam secara profesional dengan sistem yang baku guna
memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan
rekreasi para pemustaka.

b) Koleksi perpustakaan adalah semua informasi dalam bentuk karya tulis, karya
cetak, dan/atau karya rekam dalam berbagai media yang mempunyai nilai
pendidikan, yang dihimpun, diolah, dan dilayankan.

c) Koleksi nasional adalah semua karya tulis, karya cetak, dan/atau karya rekam
dalam berbagai media yang diterbitkan ataupun tidak diterbitkan, baik yang
berada di dalam maupun di luar negeri yang dimiliki oleh perpustakaan di
wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

d) Naskah kuno adalah semua dokumen tertulis yang tidak dicetak atau tidak
diperbanyak dengan cara lain, baik yang berada di dalam negeri maupun di luar
negeri yang berumur sekurang-kurangnya 50 (lima puluh) tahun, dan yang
mempunyai nilai penting bagi kebudayaan nasional, sejarah, dan ilmu
pengetahuan.

e) Perpustakaan Nasional adalah lembaga pemerintah non departemen (LPND)


yang melaksanakan tugas pemerintahan dalam bidang perpustakaan yang
berfungsi sebagai perpustakaan pembina, perpustakaan rujukan, perpustakaan
deposit, perpustakaan penelitian, perpustakaan pelestarian, dan pusat jejaring
perpustakaan, serta berkedudukan di ibukota negara.

f) Perpustakaan umum adalah perpustakaan yang diperuntukkan bagi masyarakat


luas sebagai sarana pembelajaran sepanjang hayat tanpa membedakan umur,
jenis kelamin, suku, ras, agama, dan status sosial-ekonomi.

g) Perpustakaan khusus adalah perpustakaan yang diperuntukkan secara terbatas


bagi pemustaka di lingkungan lembaga pemerintah, lembaga masyarakat,
lembaga pendidikan keagamaan, rumah ibadah, atau organisasi lain.

h) Pustakawan adalah seseorang yang memiliki kompetensi yang diperoleh


melalui pendidikan dan/atau pelatihan kepustakawanan serta mempunyai tugas
dan tanggung jawab untuk melaksanakan pengelolaan dan pelayanan
perpustakaan.

i) Pemustaka adalah pengguna perpustakaan, yaitu perseorangan, kelompok orang,


masyarakat, atau lembaga yang memanfaatkan fasilitas layanan perpustakaan.

j) Bahan perpustakaan adalah semua hasil karya tulis, karya cetak, dan/atau karya
rekam.

k) Masyarakat adalah setiap orang, kelompok orang, atau lembaga yang


berdomisili pada suatu wilayah yang mempunyai perhatian dan peranan dalam
bidang perpustakaan.

l) Organisasi profesi pustakawan adalah perkumpulan yang berbadan hukum yang


didirikan

oleh

pustakawan

untuk

mengembangkan

profesionalitas

kepustakawanan.
m) Pemerintah pusat yang selanjutnya disebut Pemerintah adalah Presiden
Republik Indonesia yang memegang kekuasaan pemerintahan negara Republik
Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945.

n) Pemerintah daerah adalah gubernur, bupati, atau walikota, dan perangkat


daerah sebagai unsure penyelenggara pemerintahan daerah.

o) Sumber daya perpustakaan adalah semua tenaga, sarana dan prasarana, serta
dana yang dimiliki dan/atau dikuasai oleh perpustakaan.

p) Menteri adalah menteri yang menangani urusan pemerintahan dalam bidang


pendidikan nasional.

2.2.3 Peraturan Daerah Kota Surabaya No. 5 Tahun 2009 Tentang


Penyelenggaraan dan Pengelolaan Perpustakaan
Pasal 1
9) Taman bacaan masyarakat yang selanjutnya disebut taman bacaan adalah suatu
tempat yang mengelola bahan kepustakaan yang dibutuhkan oleh masyarakat,
sebagai tempat penyelenggaraan program pembinaan kemampuan membaca
dan belajar serta sebagai tempat untuk mendapatkan informasi bagi masyarakat
yang memiliki koleksi di atas 300 (tiga ratus) sampai dengan 1000 (seribu)
judul bahan pustaka atau sekitar 2000 (dua ribu) sampai dengan 3000 (tiga
ribu) eksemplar.

10) Sudut baca adalah suatu tempat yang mengelola bahan kepustakaan yang
dibutuhkan oleh masyarakat, sebagai tempat penyelenggaraan program
pembinaan kemampuan membaca dan belajar serta sebagai tempat untuk
mendapatkan informasi bagi masyarakat yang memiliki koleksi paling banyak
300 (tiga ratus) judul bahan pustaka atau paling banyak 1000 (seribu)
eksemplar.

11)Perpustakaan Daerah adalah Perpustakaan yang dimiliki oleh Pemerintah


Daerah.

14)Perpustakaan sekolah/madrasah adalah perpustakaan yang diselenggarakan


oleh satuan pendidikan yang layanannya diperuntukkan bagi peserta didik,
tenaga pendidik dan pihak-pihak yang berkepentingan dengan satuan
pendidikan yang bersangkutan.

15)Perpustakaan keliling adalah perpustakaan yang menggunakan sarana


angkutan dalam melayani pengguna.

2.3 Pembahasan Masalah

Di era globalisasi dengan kemajuan teknologi, kebanyakan orang cenderung


mendengar dan berbicara ketimbang melihat diikuti membaca. Di lembagalembaga pendidikan pun tradisi lisan mendominasi proses belajar mengajar
sehingga minat baca dan ingin memiliki buku-buku ilmu pengetahuan bukanlah
prioritas utama atau sama sekali tidak difungsikan secara efisien. Kenyataan
menunjukkan adanya dua alternativ pilihan yakni ketika orang dihadapkan dengan
buku-buku ilmu pengetahuan dan tayangan film menarik, orang akan cenderung
melelahkan indra penglihatan (mata) untuk menonton film berjam - jam daripada
membaca buku-buku ilmu pengetahuan.
Berdasarkan hasil riset di Indonesia menujukkan, anak-anak menonton
televise rata-rata 35 jam seminggu. Anak-anak meluangkan lebih banyak waktu
untuk menonton televisi daripada untuk kegiatan apapun lainnya, kecuali tidur
( Guntarto, 2004)
Upaya demi upaya telah dilakukan oleh Pemerintah Kota Surabaya dalam
mengatasi kurangnya minat baca. Tetapi yang terpenting adalah adanya kesadaran
warga itu sendiri. Untuk itulah supaya lebih menjangkau masyarakat, dibangunlah
Taman-taman bacaan masyarakat yang hingga tahun 2010 tercatat ada kurang
lebih sekitar 200 Taman Bacaaan Masyarakat (sumber: BARPUS). Hasil yang
didapat adalah respon positif yang luar biasa. Taman Bacaan Masyarakat yang
sering kita sebut sebagai TBM adalah wadah atau tempat dimana kita dapat
menggali bakat dan potensi kita yang terpendam dalam diri kita karena TBM itu

sendiri memiliki beberapa fasilitas yang dapat membantu masyarakat luas untuk
mengembangkan potensi yang dimiliki masyarakat.
Sebut saja Yayasan Himmatun Ayat cabang Gembong. Mereka punya sudut
baca rintisan. Dengan bahan bacaan ala kadarnya, anak-anak yatim piatu belajar
mengembangkan imajinasi. Bahkan, anak dengan kecerdasan mental minim juga
difasilitasi.
TB Anak Sholeh Fadhli dan Perpustakaan Ummi Fadhilah di belakang Pasar
Genteng lain lagi. Dengan program pembinaan anak yang terintegrasi dengan
pendidikan akhlak islami, anak-anak pasar tak lagi liar dan lambat laun
memiliki sopan santun yang memadai. Pondok Baca Bocah di Rusun Penjaringan
Sari pun mampu mewarnai aktivitas keseharian anak-anak yang rata-rata
menghabiskan waktu bermain tanpa pengawasan ekstra dari orang tua. Masih di
kawasan Rungkut, Perpustakaan Pelangi Pusdakota Ubaya juga memberikan
warna lewat pendekatan kreatif melalui program seperti kancil (pustakawan cilik)
dan poling (polisi lingkungan). Selain itu, mereka merintis teras-teras baca yang
memanfaatkan rumah warga, yang kebanyakan buruh dari daerah.
Begitu juga Sanggar Anak Lengger di setren kali Barata Jaya. Meski
frekuensi buka hanya seminggu sekali, aktivitas bermain dan belajar yang
beraneka mampu menghindarkan anak-anak untuk berpikir tentang nasib
rumahnya yang mau tidak mau akan tergusur suatu saat. Ada pula Perpustakaan
Medayu Agung di Medokan Ayu, Rungkut. Perpustakaan yang memiliki koleksi
khas bidang sosial dan sejarah tersebut bersinergi dengan warga dalam
memberikan informasi tentang sejarah perjuangan bangsa lewat pameran dan
pemutaran film. Selain itu, TB Kawan Kami di tengah lokalisasi Dolly sangat
berpengaruh dalam mengedukasi anak-anak yang tumbuh di lingkungan yang
tidak biasa tersebut. Dengan begitu, mereka bisa memiliki rasa percaya diri dan
menemukan karakter masing-masing.
Selain dari contoh TBM-TBM diatas, masih banyak lagi kegiatan-kegiatan
positif yang dikhususkan untuk masyarakat. Misalnya menjadikan TBM sebagai
ruang pamer karya yang dapat menghasilkan dana segar untuk mendukung
kegiatan operasionalnya.

Kesuksesan perintisan Taman Bacaan Masyarakat Kota Surabaya tidak


terlepas dari kendala yang dimilikinya. Kendala yang dimaksud adalah masih
banyak warga atau pengurus dari RW yang kurang setuju TBM ditempatkan di
Balai RW, karena tempat tersebut digabungkan dengan kegiatan PAUD, TK dan
sebagainya. Menurut mereka TBM adalah fasilitas gratis non-profit sedangkan
kegiatan PAUD dan TK adalah berbayar.(Sumber: BARPUS) Tapi kembali lagi
kepada kesadaran kita sebagai warga yang peduli akan nasib anak-anak bangsa
yang harus mengejar ketinggalan dengan anak-anak dari bangsa lain. Mereka
memerlukan banyak asupan ilmu daripada hanya sekedar mementingkan
keuntungan semata.
Dengan demikian dari uraian tersebut diatas Kota Surabaya telah memiliki
modal dasar yang dapat digunakan untuk mewujudkan Kota Surabaya sebagai
Kota Baca dan Kota Surabaya siap untuk memasuki Era Globalisasi.

BAB III
PENUTUP

3.1

Simpulan
Taman Bacaan Masyarakat adalah sumber informasi bagi masyarakat, baik

masyarakat menengah keatas maupun masyarakat menengah kebawah. Penempatannya


pun beragam mulai dari Balai RW, Kelurahan, Tempat rekreasi, Taman-taman Kota
hingga rusun-rusun. Sangat efektif, efisien dan dapat dijangkau oleh seluruh kalangan
masyarakat. Tidak sedikit manfaat yang diperoleh masyarakat akan adanya TBM,
karena TBM tidak hanya menyajikan buku-buku yang bebas dibaca melainkan
menyajikan segala sesuatu yang bersifat edukatif. Bahkan tidak sedikit tenaga
perpustakaan yang ikhlas membagikan ilmunya untuk membantu siswa-siswa SD untuk
mengerjakan pekerjaan rumah dari sekolahnya. Hal-hal seperti inilah yang menjadikan
modal dasar masyarakat untuk menjadikan ikon Surabaya Kota Baca yang siap
mengantarkan masyarakat Kota Surabaya untuk siap bersaing di Era Globalisasi.

3.2

Saran

Tentunya untuk meraih kesuksesan, TBM juga harus mempersiapkan SDM-SDM yang
berkualitas dan kompeten. Salah satunya adalah keramahan dan kesopanan yang
ditujukkan pada pengunjung. Hal lain yang perlu dipersiapkan adalah ketersediaan buku
yang menunjang pemberdayaan masyarakat. Akan lain ceritanya apabila masyarakat
daerah Pantai Kenjeran disediakan buku-buku pertanian. Dan yang terakhir adalah tidak
henti-hentinya melakukan sosialisai kepada masyarakat akan pentingnya membaca.

DAFTAR PUSTAKA

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 2007 Tentang Perpustakaan

Peraturan Daerah Nomor 5 Tahun 2009 Tentang Penyelenggaraan dan Pengelolaan


Perpustakaan

Sunarto.2009.Televisi, Kekerasan, dan Perempuan. Jakarta: Penerbit Buku Kompas

Website : www.suryaonline.com
www.jawaposonline.com