Anda di halaman 1dari 37

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Masalah kesehatan dengan gangguan sistem pernapasan masih
menduduki peringkat yang tinggi sebagai penyebab utama morbiditas dan
mortalitas. Rongga pleura dalam keadaan normal mengandung sedikit cairan
berupa lapisan tipis antara kedua permukaan pleura. Cairan tipis yang rendah
protein berfungsi sebagai pelicin sehingga waktu bernapas paru dapat bergerak
leluasa. Cairan pleura dihasilkan oleh proses filtrasi pembuluh kapiler pleura
perietal dan diserap kembali oleh pembuluh kapiler viseral serta pembuluh
getah bening.
Efusi pleura adalah salah satu kelainan yang mengganggu sistem
pernapasan Efusi pleura sendiri sebenarnya bukanlah diagnosa dari suatu
penyakit melainkan hanya lebih merupakan symptom atau komplikasi dari
suatu penyakit. Efusi pleura adalah suatu keadaan dimana terdapat cairan
berlebihan di rongga pleura, dimana kondisi ini jika dibiarkan akan
membahayakan jiwa penderitanya (John Gibson, MD, 1995, Waspadji
Sarwono (1999, 786)
Efusi pleura dapat terjadi pada penyakit tumor ganas intra toraks,
organ ekstra toraks maupun keganasan sistemik. Penderita efusi pleura
dianggap mempunyai prognosis yang buruk, terutama bila ditemukan sel
tumor ganas dalam cairan pleura. Penyebab efusi pleura bisa bermacammacam seperti gagal jantung, adanya neoplasma (carcinoma bronchogenic dan
1

akibat metastasis tumor yang berasal dari organ lain), tuberculosis paru, infark
paru, trauma, pneumoni, syndroma nefrotik, hipoalbumin dan lain sebagainya.
(Allsagaaf H, Amin M Saleh, 1998, 68)
Tingkat kegawatan pada efusi pleura ditentukan oleh jumlah cairan,
kecepatan pembentukan cairan dan tingkat penekanan pada paru. Jika efusi
luas, expansi paru akan terganggu dan pasien akan mengalami sesak, nyeri
dada, batuk non produktif bahkan akan terjadi kolaps paru dan akibatnya akan
terjadilah gagal nafas. Kondisi-kondisi tersebut diatas tidak jarang
menyebabkan kematian pada penderita efusi pleura.
Berdasarkan data dari medical record di UPF ilmu penyakit paru
RSUD Dr. Soetomo

tahun 1998, didapatkan data bahwa effusi pleura

menduduki peringkat kedua setelah TB paru dengan jumlah kasus yang datang
sebanyak 364 orang dan angka mortalitasnya mencapai 26 orang. Sedangkan
tahun 1999 menduduki peringkat ke lima dengan angka mortalitasnya
mencapai 31 orang dan prosentase 8,0% dari 387 kasus efusi pleura yang ada,
sementara tahun 2000 mencapai 7,65% dari 366 kasus efusi pleura dan
menduduki peringkat kedua setelah TB paru atau angka mortalitasnya
mencapai 38 orang, (medical record RSUD Dr Soetomo tahun 2000).
Di Indonesia ahli paru Embran, Nirwan Arief, Sidharma, Budi
Swidarmoko, telah mengembangan torakoskopi medik kembali menjadi suatu
diagnostik infasif untuk berbagai kelainan di rongga pleura. Pemeriksaan
noninvasif dikembangkan pula pada kasus efusi pleura.
Berbagai permasalahan keperawatan yang timbul baik masalah aktual
maupun

potensial

akibat

adanya

efusi

pleura

antara

lain

adalah
2

ketidakefektifan pola nafas, gangguan rasa nyaman, gangguan pemenuhan


kebutuhan tidur dan istirahat, kurangnya pengetahuan tentang proses penyakit,
gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi yang menyebabkan penurunan berat
badan pasien serta masih banyak lagi permasalahan lain yang timbul.
Dari pembahasan diatas oleh karena itu, perlu dibuat suatu asuhan
keperawatan pada pasien dengan diagnosa medis efusi pleura.

1.2 Rumusan Masalah


1.2.1

Bagaimana pengkajian pada pasien dengan efusi pleura ?

1.2.2

Bagaimana menegakkan diagnosa pada pasien dengan efusi pleura ?

1.2.3

Bagaimana membuat rencana tindakan pada pasien dengan dengan


efusi pleura ?

1.2.4

Bagaimana melakukan tindakan pada pasien dengan efusi pleura ?

1.2.5

Bagaimana melakukan evaluasi pada pasien dengan efusi pleura ?

1.2.6

Bagaimana pendokumentasian asuhan keperawatan pada pasien


dengan efusi pleura ?

1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan Umum
Dapat memberikan asuhan keperawatan pada pasien dengan efusi pleura.
1.3.2 Tujuan Khusus
1. Mampu melakukan pengkajian pada pasien dengan efusi pleura.
2. Mampu membuat analisa data pada pasien dengan efusi pleura.
3. Mampu menegakkan diagnosa keperawatan pada pasien dengan
3

efusi pleura.
4. Mampu merencanakan asuhan keperawatan pada pasien dengan
efusi pleura.
5. Mampu melakukan tindakan keperawatan pada pasien dengan efusi
pleura.
6. Mampu membuat evaluasi pada pasien dengan efusi pleura.
7. Mampu melakukan pendokumentasian pada pasien dengan efusi
pleura.

1.4 Manfaat
1.4.1

Memberikan informasi dan pengetahuan kepada penulis dan pembaca di


bidang kesehatan khususnya tentang asuhan keperawatan pada pasien
dengan efusi pleura.

1.4.2

Meningkatkan keterampilan penulis dalam melakukan asuhan keperawatan


pada pasien dengan efusi pleura.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 KONSEP DASAR PENYAKIT


1. Anatomi Fisiologi

Pleura adalah membrane serosa yang licin, mengkilat, tipis, dan


transparan yang membungkus paru (pulmo). Membran ini terdiri dari 2 lapis:
a. Pleura viseralis: terletak disebelah dalam, langsung menutupi permukaan
paru.
b. Pleura parietalis: terletak disebelah luar, berhubungan dengan dinding
dada.
Pleura parietal berdasarkan letaknya terbagi atas :
Cupula Pleura (Pleura Cervicalis)
Merupakan pleura parietalis yg terletak di atas costa I namun tdk
melebihi dr collum costae nya. Cupula pleura terletak setinggi 11,5 inchi di atas 1/3 medial os. Clavicula
Pleura Parietalis pars Costalis

Pleura yg menghadap ke permukaan dalam costae, cartilage costae,


SIC/ ICS, pinggir corpus vertebrae, dan permukaan belakang os.
Sternum.
Pleura Parietalis pars Diaphragmatica
Pleura yg menghadap ke diaphragm permukaan thoracal yg
dipisakan oleh fascia endothoracica.
Pleura Parietalis pars Mediastinalis (Medialis)
Pleura yg menghadap ke mediastinum / terletak di bagian medial
dan membentuk bagian lateral dr mediastinum.
Pleura parietalis dan viseralis terdiri atas selapis mesotel

(yang

memproduksi cairan), membran basalis, jaringan elastik dan kolagen,


pembuluh darah dan limfe. Membran pleura bersifat semipermiabel. Sejumlah
cairan terus menerus merembes keluar dari pembuluh darah yang melalui
pleura parietal. Cairan ini diserap oleh pembuluh darah pleura viseralis,
dialirkan ke pembuluh limfe dan kembali kedarah.
Diantara kedua lapisan pleura ini terdapat sebuah rongga yg disebut dg
cavum pleura. Dimana di dalam cavum pleura ini terdapat sedikit cairan pleura
yg berfungsi agar tdk terjadi gesekan antar pleura ketika proses pernapasan.
Rongga pleura mempunyai ukuran tebal 10-20 mm, berisi sekitar 10 cc cairan
jernih yang tidak bewarna, mengandung protein < 1,5 gr/dl dan 1.500 sel/ml.
Sel cairan pleura didominasi oleh monosit, sejumlah kecil limfosit, makrofag
dan sel mesotel. Sel polimormonuklear dan sel darah merah dijumpai dalam
jumlah yang sangat kecil didalam cairan pleura. Keluar dan masuknya cairan
dari dan ke pleura harus berjalan seimbang agar nilai normal cairan pleura
dapat dipertahankan.

Fisiologi Pleura
Fungsi mekanis pleura adalah meneruskan tekanan negatif thoraks
kedalam paru-paru, sehingga paru-paru yang elastis dapat mengembang.
Tekanan pleura pada waktu istirahat (resting pressure) dalam posisi tiduran
pada adalah -2 sampai -5 cm H2O; sedikit bertambah negatif di apex sewaktu
posisi berdiri. Sewaktu inspirasi tekanan negatif meningkat menjadi -25 sampai
-35 cm H2O.
Selain fungsi mekanis, rongga pleura steril karena mesothelial bekerja
melakukan fagositosis benda asing dan cairan yang diproduksinya bertindak
sebagai lubrikans. Cairan rongga pleura sangat sedikit, sekitar 0.3 ml/kg,
bersifat hipoonkotik dengan konsentrasi protein 1 g/dl. Gerakan pernapasan
dan gravitasi kemungkinan besar ikut mengatur jumlah produksi dan resorbsi
cairan rongga pleura. Resorbsi terjadi terutama pada pembuluh limfe pleura
parietalis, dengan kecepatan 0.1 sampai 0.15 ml/kg/jam. Bila terjadi gangguan
produksi dan reabsorbsi akan mengakibatkan terjadinya pleural effusion.

2. Pengertian
Efusi pleura adalah suatu keadaan dimana terdapat penumpukan cairan
dari dalam kavum pleura diantara pleura parietalis dan pleura viseralis dapat
berupa cairan transudat atau cairan eksudat ( Pedoman Diagnosis danTerapi /
UPF ilmu penyakit paru, 1994, 111).
Efusi pleura umumnya diklasifikasikan sebagai transudat atau eksudat,
berdasarkan mekanisme pembentukan cairan dan kimia cairan pleura.
Transudat hasil dari ketidakseimbangan dalam tekanan onkotik dan tekanan
7

hidrostatik, sedangkan eksudat adalah hasil dari peradangan pleura atau


penurunan drainase limfatik. Dalam beberapa kasus, cairan pleura mungkin
memiliki kombinasi karakteristik transudat dan eksudatif (Rubins, 2012).
a. Efusi pleura transudat
Efusi pleura transudat yaitu bila ada peningkatan tekanan kapiler,
sirkulasi sistemik atau penurunan tekanan onkotik plasma. Efusi pleura jenis
transudat mengandung protein yang rendah.
b. Efusi pleura eksudat
Efusi pleura eksudat terbentuk kerana bertambahnya permeabilitas
lapisan pleura terhadap protein, sehingga protein masuk ke dalam rongga
pleura 10 gr tiap 24 jam mengakibatkan tekanan onkotik transpleura menurun.
Efusi pleura jenis eksudat mengandung protein lebih besar dibandingkan
transudat.
Untuk membedakan transudat dan eksudat jika memenuhi dua dari tiga
kriteria Light, yaitu: :
a. Ratio kadar protein cairan efusi pleura/ kadar protein serum >0.5.
b. Ratio kadar LDH cairan efusi pleura/ kadar LDH serum <0.6.
c. Kadar LDH cairan efusi pleura <2/3 batas atas nilai normal kadar LDH
serum.
Jika

angka

tersebut

terlampaui,

efusi

pleura

termasuk

jenis

eksudat.ketika efusi pleura telah didiagnosis eksudat melalui kriteria diatas,


namun klinis dianggap transudat, perbedaan konsentrasi albumin antaea serum
dan efusi >1.2 mg/dl dapat menunjukkan cairan efusi bersifat transudat (Sato,
2012).
8

3. Etiologi
Berdasarkan jenis cairan yang terbnetuk, cairan pleura dibagi menjadi
transudat, eksudat dan hemoragis
1. Transudat dapat disebabkan oleh kegagalan jantung kongestif (gagal
jantung kiri), sindroma nefrotik, asites (oleh karena sirosis kepatis),
syndroma vena cava superior, tumor, sindroma meig.
2. Eksudat disebabkan oleh infeksi, TB, preumonia dan sebagainya,

tumor,

ifark paru, radiasi, penyakit kolagen.


3. Effusi hemoragis dapat disebabkan oleh adanya tumor, trauma,

infark

paru, tuberkulosis.
4. Berdasarkan lokasi cairan yang terbentuk, effusi dibagi menjadi unilateral
dan bilateral. Efusi yang unilateral tidak mempunyai kaitan yang spesifik
dengan penyakit penyebabnya akan tetapi effusi yang bilateral ditemukan
pada penyakit-penyakit dibawah ini :Kegagalan jantung kongestif,
sindroma nefrotik, asites, infark paru, lupus eritematosus systemic, tumor
dan tuberkolosis.
Terjadi penumpukan cairan pleura dalam rongga pleura dapat
disebabkan oleh (Temmasonge R. Pakki) :
1. Meningkatnya tekanan hidrostatik dalam sirkulasi mikrovaskuler.
2. Menurunnya tekanan onkotik dalam sikulasi mikrovaskuler.
3. Menurunnya tekanan negatif dalam rongga pleura.
4. Bertambahnya permeabilitas dinding pembuluh darah pleura.
5. Terganggunya penyerapan kembali cairan pleura ke pembuluh getah
9

bening,
6. Perembesan cairan dari rongga peritoneum ke dalam rongga pleura.

4. Manifestasi Klinis
1. Adanya gejala-gejala penyebab seperti demam dan nyeri dada pleuritis
(pneumonia), panas tinggi (kokus), subfebril (tuberkulosisi), banyak
keringat, batuk, banyak sputum.
2. Deviasi trachea menjauhi tempat yang sakit dapat terjadi jika terjadi
penumpukan cairan pleural yang signifikan.
3. Pemeriksaan fisik dalam keadaan berbaring dan duduk akan berlainan,
karena cairan akan berpindah tempat. Bagian yang sakit akan kurang
bergerak dalam pernapasan, fremitus melemah (raba dan vocal), pada
perkusi didapati daerah pekak, dalam keadaan duduk permukaan cairan
membentuk garis melengkung (garis Ellis Damoiseu).
4. Pada auskultasi daerah ini didapati vesikuler melemah dengan ronki.
Gejala tergantung pada jumlah cairan dan penyebab yang mendasari.
Banyak pasien tidak memiliki gejala pada saat efusi pleura ditemukan. Gejala
termasuk nyeri dada pleuritik, dispnea, dan batuk kering(nonproduktif) (Yataco
dan Dweik, 2005). Adanya edema pada kaki atau trombosis vena dapat
mengakibatkan efusi pleura yang berhubungan dengan emboli paru. Riwayat
penyakit serta pemeriksaan fisik sangat penting dalam mendiagnosis efusi
pleura. Beberapa aspek pemeriksaan fisik seperti pemeriksaan dada biasanya
redup pada perkusi, tidak adanya fremitus, dan vesikuler berkurang atau
10

bahkan hilang. Distensi JVP , adanya gallop bunyi jantung atau edema perifer
menunjukkan gagal jantung kongestif, dan ventrikel kanan atau tromboflebitis
menunjukkan

terjadinya

hepatosplenomegali

emboli

menunjukkan

paru.

Adanya

penyakit

limfadenopati

neoplastik,

dan

atau
ascites

menunjukkan adanya kelainan hati. Karena kondisi selain efusi pleura mungkin
menghasilkan gambaran radiologis yang sama, pencitraan alternatif penelitian
sering diperlukan untukadanya efusi pleura. Pemeriksaan penunjang dengan
ultrasonographic atau Foto thoraks lateral dekubitus paling sering digunakan,
namun computed tomografi (CT-scan) dada memungkinkan pencitraan yang
mendasari parenkim paru-paru atau mediastinum (Light, 2012)

5. Patofisiologi
Rongga pleura dalam keadaan normal mengandung cairan dengan kadar
protein rendah (<1,5 g/dl) yang dibentuk oleh pleura viseral dan perietal.
Cairan kemudian diserap oleh pleura perietal melalui pembuluh limfe dan
pleura viseral melalui pembuluh darah mikro. Produksinya sekitar 0,01
ml/kgBB/jam hampir sama dengan kecepatan penyerapan dan dalam rongga
pleura volume cairan pleura lebih kuran 10-20 ml. Mekanisme ini mengikuti
hukum starling yaitu jumlah pembentukan dan pengeluaran seimbang sehingga
volume dalam rongga pleura tetap. Cairan pleura sebagai pelicin agar paru
dapat bergerak dengan leluasa sama bernapas. (Temmasonge R. Pakki).
Dalam keadaan normal hanya terdapat 10-20 ml cairan di dalam rongga
pleura. Jumlah cairan di rongga pleura tetap, karena adanya tekanan hidrostatis
pleura parietalis sebesar 9 cm H2O. Akumulasi cairan pleura dapat terjadi
11

apabila

tekanan

osmotik

koloid

menurun

misalnya

pada

penderita

hipoalbuminemia dan bertambahnya permeabilitas kapiler akibat ada proses


keradangan atau neoplasma, bertambahnya tekanan hidrostatis akibat
kegagalan jantung dan tekanan negatif intra pleura apabila terjadi atelektasis
paru (Alsagaf H, Mukti A, 1995, 145).
Effusi pleura berarti terjadi pengumpulan sejumlah besar cairan bebas
dalam kavum pleura. Kemungkinan penyebab efusi antara lain (1)
penghambatan drainase limfatik dari rongga pleura, (2) gagal jantung yang
menyebabkan tekanan kapiler paru dan tekanan perifer menjadi sangat tinggi
sehingga menimbulkan transudasi cairan yang berlebihan ke dalam rongga
pleura (3) sangat menurunnya tekanan osmotik kolora plasma, jadi juga
memungkinkan transudasi cairan yang berlebihan (4) infeksi atau setiap
penyebab peradangan apapun pada permukaan pleura dari rongga pleura, yang
memecahkan membran kapiler dan memungkinkan pengaliran protein plasma
dan cairan ke dalam rongga secara cepat (Guyton dan Hall , Egc, 1997, 623624).

WOC

12

6. Pemeriksaan Penunjang
1. Foto toraks Cairan yang kurang dari 300 cc, pada fluoroskopi maupun foto
toraks PA tidak tampak. Mungkin kelainan yang tampak hanya berupa
penumpulan sinus kostofrenikus. Pada efusi pleura subpulmonal,
13

meskipun cairan pleura lebih dari 300 cc, sinus kostofrenikus tidak tampak
tumpul tetapi diafragma kelihatan meninggi. Untuk memastikan dapat
dilakukan foto dada lateral dari sisi yang sakit. Foto toraks PA dan posisi
lateral dekubitus pada sisi yang sakit seringkali memberi hasil yang
memuaskan bila cairan pleura sedikit, atau cairan subpulmonal yaitu
tampak garis batas cairan yang sejajar dengan kolumna vertebralis atau
berupa garis horizontal (Alsagaff dan Mukty, 2013).

Gambar 1. Foto thoraks dan computed tomography scan yang


menunjukkan adanya efusi pleura pada sisi kanan (McGrath dan
Anderson 2011)

14

Gambar 2. Efusi pleura masif (Rubins, 2012)

2. Pemeriksaan Mikroskopis dan sitologi


Jika didapatkan sel darah putih sebanyak >1000/mL, hal ini
mengarahkan diagnosis kepada eksudat. Jika sel darah putih > 20.000/mL,
keadaan ini menunjukan empiema. Neutrofil menunjukan kemungkinan adanya
pneumonia, infark paru, tuberkulosis paru fase awal atau pancreatitis. Limfosit
dalam jumlah banyak mengarahkan kepada tuberculosis, limfoma atau
keganasan. Jika pada torakosintesis didapatkan banyak eosinofil, tuberculosis
dapat disingkirkan (Djojodibroto D., 2009).
3. Pemeriksaan biokima
a. Protein > 3 g/dl : eksudat
b. Protein < 3 g/dl : transudat
c. Glukosa < normal rheumatoid pleural effusion kemungkinan lain
karena keganasan atau purulen

4.

Pemeriksaan bakteriologi
Biasanya cairan pleura steril, tapi kadang-kadang dapat mengandung

mikroorsganisme, apalagi bila cairanya purulen (menunjukan empiema). Efusi


yang purulen dapat mengandung kuman-kuman yang aerob atau anaerob. Jenis
15

kuman yang sering ditemukan dalam cairan pleura adalah : Pneumokokokus,


E.coli, klebsiela, pseudomonas, enterobacter (Halim H., 2009).
5. Penatalaksanaan
Penatalaksaan pada pasien dengan efusi pleura bergantung pada
beberapa faktor antara lain yaitu penyakit dasar, jenis sel, luas penyakit,
tampilan (performence status), dan angka harapan hidup.
1. Aspirasi cairan pleura dilakukan untuk mengurangi rasa tidak enak atau
discomfort dan sesak napas. Dianjurkan melakukan aspirasi sedikit demi
sedikit. Cairan yang dikeluarkan antara 500-1000 cc. bila pengambilan
terlalu banyak dan cepat dapat menyebabkan edema paru.
2. Lebih sering dilakukan pleurodesis pada proses keganasan atau pada efusi
pleura yang sering kambuh. Dengan menggunakan 500 mg serbuk
tetrasiklin yang dilarutkan didalam 50 cc garam faali. Penderita digoyanggoyangkan supaya rata, kemudian cairan dikeluarkan setelah diklem
selama 24 jam atau diberi serbuk sodium atau talk. Nyeri yang terjadi
karena pemeberian obat di atas dapat diatasi dengan analgetika.
3. Pemberian steroid ditambahkan dengan OAT dapat menyerap efusi pleura
yang disebabkan oleh TB paru secara cepat dan mengurangi fibrosis
(Mukty et al 1994).

4. Efusi pleura transudat


Cairan tidak begitu banyak. Terapinya yaitu:
a. Bila disebabkan oleh tekanan hidrostatik yang meningkat, pemberian
diuretika dapat menolong.
16

b. Bila disebabkan oleh tekanan osmotik yang menurun sebaiknya


diberikan protein.
c. Bahan sklerosing dapat dipertimbangkan bila ada reakumulasi cairan
berulang dengan tujuan melekatkan pleura viseralis dan parietalis.
5. Efusi pleura eksudat
Efusi yang terjadi setelah keradangan paru (pneumonia). Paling sering
disebabkan oleh pneumonia. Umumnya cairan dapat diresorbsi setelah
pemberian terapi yang adekuat untuk penyakit dasarnya. Bila terjadi empiema,
perlu pemasangan kateter toraks dengan WSD. Bila terjadi fibrosis, tindakan
yang paling mungkin hanya dekortikasi (jaringan fibrotik yang menempel pada
pleura diambil /dikupas).

2.2 KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN


Pemberian Asuhan Keperawatan merupakan proses terapeutik yang
melibatkan hubungan kerjasama dengan klien, keluarga atau masyarakat untuk
mencapai tingkat kesehatan yang optimal (Canpernito, 2000,2).
17

1. Pengkajian
Pengumpulan Data
Data-data yang dikumpulkan atau dikaji meliputi :
a.

Identitas Pasien
Pada tahap ini perawat perlu mengetahui tentang nama, umur, jenis
kelamin, alamat rumah, agama atau kepercayaan, suku bangsa, bahasa
yang dipakai, status pendidikan dan pekerjaan pasien.

b.

Keluhan Utama
Keluhan utama merupakan faktor utama yang mendorong pasien
mencari pertolongan atau berobat ke rumah sakit. Biasanya pada
pasien dengan efusi pleura didapatkan keluhan berupa sesak nafas,
rasa berat pada dada, nyeri pleuritik akibat iritasi pleura yang bersifat
tajam dan terlokasilir terutama pada saat batuk dan bernafas serta
batuk non produktif.

c.

Riwayat Penyakit Sekarang


Pasien dengan effusi pleura biasanya akan diawali dengan adanya
tanda-tanda seperti batuk, sesak nafas, nyeri pleuritik, rasa berat pada
dada, berat badan menurun dan sebagainya. Perlu juga ditanyakan
mulai kapan keluhan itu muncul. Apa tindakan yang telah dilakukan
untuk menurunkan atau menghilangkan keluhan-keluhannya tersebut.

d.

Riwayat Penyakit Dahulu


Perlu ditanyakan apakah pasien pernah menderita penyakit seperti
TBC paru, pneumoni, gagal jantung, trauma, asites dan sebagainya.
Hal ini diperlukan untuk mengetahui kemungkinan adanya faktor
18

predisposisi.
e.

Riwayat Penyakit Keluarga


Perlu ditanyakan apakah ada anggota keluarga yang menderita
penyakit-penyakit yang disinyalir sebagai penyebab effusi pleura
seperti Ca paru, asma, TB paru dan lain sebagainya.

f.

Riwayat Psikososial
Meliputi perasaan pasien terhadap penyakitnya, bagaimana cara
mengatasinya serta bagaimana perilaku pasien terhadap tindakan
yang dilakukan terhadap dirinya.

g.

Pengkajian Pola-Pola Fungsi Kesehatan


1) Pola persepsi dan tata laksana hidup sehat
Adanya tindakan medis dan perawatan di rumah sakit
mempengaruhi perubahan persepsi tentang kesehatan, tapi
kadang juga memunculkan persepsi yang salah terhadap
pemeliharaan kesehatan. Kemungkinan adanya riwayat kebiasaan
merokok, minum alkohol dan penggunaan obat-obatan bisa
menjadi faktor predisposisi timbulnya penyakit.
2) Pola nutrisi dan metabolisme
Dalam pengkajian pola nutrisi dan metabolisme, kita perlu
melakukan pengukuran tinggi badan dan berat badan untuk
mengetahui status nutrisi pasien, selain juga perlu ditanyakan
kebiasaan makan dan minum sebelum dan selama MRS pasien
dengan effusi pleura akan mengalami penurunan nafsu makan
akibat dari sesak nafas dan penekanan pada struktur abdomen.
19

Peningkatan metabolisme akan terjadi akibat proses penyakit.


pasien dengan effusi pleura keadaan umumnya lemah.
3) Pola eliminasi
Dalam

pengkajian

pola

eliminasi

perlu

ditanyakan

mengenai kebiasaan ilusi dan defekasi sebelumdan sesudah MRS.


Karena keadaan umum pasien yang lemah, pasien akan lebih
banyak bed rest sehingga akan menimbulkan konstipasi, selain
akibat

pencernaan

pada

struktur

abdomen

menyebabkan

penurunan peristaltik otot-otot tractus degestivus.


4) Pola aktivitas dan latihan
Akibat sesak nafas, kebutuhan O2 jaringan akan kurang
terpenuhi dan Px akan cepat mengalami kelelahan pada aktivitas
minimal.

Disamping

itu

pasien

juga

akan

mengurangi

aktivitasnya akibat adanya nyeri dada. Dan untuk memenuhi


kebutuhan ADL nya sebagian kebutuhan pasien dibantu oleh
perawat dan keluarganya.
5) Pola tidur dan istirahat
Adanya nyeri dada, sesak nafas dan peningkatan suhu
tubuh akan berpengaruh terhadap pemenuhan kebutuhan tidur
dan istitahat, selain itu akibat perubahan kondisi lingkungan dari
lingkungan rumah yang tenang ke lingkungan rumah sakit,
dimana banyak orang yang mondar-mandir, berisik dan lain
sebagainya.
6) Pola hubungan dan peran
20

Akibat dari sakitnya, secara langsung pasien akan


mengalami perubahan peran, misalkan pasien seorang ibu rumah
tangga, pasien tidak dapat menjalankan fungsinya sebagai
seorang ibu yang harus mengasuh anaknya, mengurus suaminya.
Disamping itu, peran pasien di masyarakatpun juga mengalami
perubahan dan semua itu mempengaruhi hubungan interpersonal
pasien.
7) Pola persepsi dan konsep diri
Persepsi pasien terhadap dirinya akan berubah. Pasien yang
tadinya sehat, tiba-tiba mengalami sakit, sesak nafas, nyeri dada.
Sebagai seorang awam, pasien mungkin akan beranggapan bahwa
penyakitnya adalah penyakit berbahaya dan mematikan. Dalam
hal ini pasien mungkin akan kehilangan gambaran positif
terhadap dirinya.
8) Pola sensori dan kognitif
Fungsi panca indera pasien tidak mengalami perubahan,
demikian juga dengan proses berpikirnya.
9) Pola reproduksi seksual
Kebutuhan seksual pasien dalam hal ini hubungan seks
intercourse akan terganggu untuk sementara waktu karena pasien
berada di rumah sakit dan kondisi fisiknya masih lemah.
10) Pola penanggulangan stress
Bagi pasien yang belum mengetahui proses penyakitnya
akan mengalami stress dan mungkin pasien akan banyak bertanya
21

pada perawat dan dokter yang merawatnya atau orang yang


mungkin dianggap lebih tahu mengenai penyakitnya.
11) Pola tata nilai dan kepercayaan
Sebagai seorang beragama pasien akan lebih mendekatkan
dirinya kepada Tuhan dan menganggap bahwa penyakitnya ini
adalah suatu cobaan dari Tuhan.

h.

pemeriksaan fisik
1) Status Kesehatan Umum
Tingkat

kesadaran

pasien

perlu

dikaji,

bagaimana

penampilan pasien secara umum, ekspresi wajah pasien selama


dilakukan anamnesa, sikap dan perilaku pasien terhadap petugas,
bagaimana mood pasien untuk mengetahui tingkat kecemasan
dan ketegangan pasien. Perlu juga dilakukan pengukuran tinggi
badan berat badan pasien.
2) Sistem Respirasi
Inspeksi pada pasien efusi pleura bentuk hemithorax yang sakit
mencembung, iga mendatar, ruang antar iga melebar, pergerakan
pernafasan

menurun.

Pendorongan

mediastinum

ke

arah

hemithorax kontra lateral yang diketahui dari posisi trakhea dan


ictus kordis. RR cenderung meningkat dan Px biasanya dyspneu.
Fremitus tokal menurun terutama untuk effusi pleura yang jumlah
cairannya > 250 cc. Disamping itu pada palpasi juga ditemukan
pergerakan dinding dada yang tertinggal pada dada yang sakit.
22

Suara perkusi redup sampai peka tegantung jumlah cairannya.


Bila cairannya tidak mengisi penuh rongga pleura, maka akan
terdapat batas atas cairan berupa garis lengkung dengan ujung
lateral atas ke medical penderita dalam posisi duduk. Garis ini
disebut garis Ellis-Damoisseaux. Garis ini paling jelas di bagian
depan dada, kurang jelas di punggung.
Auskultasi Suara nafas menurun sampai menghilang. Pada posisi
duduk cairan makin ke atas makin tipis, dan dibaliknya ada
kompresi atelektasis dari parenkian paru, mungkin saja akan
ditemukan tanda-tanda auskultasi dari atelektasis kompresi di
sekitar batas atas cairan. Ditambah lagi dengan tanda

i e

artinya bila penderita diminta mengucapkan kata-kata i maka


akan terdengar suara e sengau, yang disebut egofoni (Alsagaf H,
Ida Bagus, Widjaya Adjis, Mukty Abdol, 1994,79)
3) Sistem Cardiovasculer
Pada inspeksi perlu diperhatikan letak ictus cordis, normal
berada pada ICS 5 pada linea medio claviculaus kiri selebar 1
cm. Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya
pembesaran jantung. Palpasi untuk menghitung frekuensi jantung
(health rate) dan harus diperhatikan kedalaman dan teratur
tidaknya denyut jantung, perlu juga memeriksa adanya thrill yaitu
getaran ictus cordis. Perkusi untuk menentukan batas jantung
dimana daerah jantung terdengar pekak. Hal ini bertujuan untuk
menentukan adakah pembesaran jantung atau ventrikel kiri.
23

Auskultasi untuk menentukan suara jantung I dan II tunggal atau


gallop dan adakah bunyi jantung III yang merupakan gejala
payah jantung serta adakah murmur yang menunjukkan adanya
peningkatan arus turbulensi darah.
4) Sistem Pencernaan
Pada

inspeksi

perlu

diperhatikan,

apakah

abdomen

membuncit atau datar, tepi perut menonjol atau tidak, umbilicus


menonjol atau tidak, selain itu juga perlu di inspeksi ada tidaknya
benjolan-benjolan atau massa.
Auskultasi untuk mendengarkan suara peristaltik usus dimana
nilai normalnya 5-35 kali permenit. Pada palpasi perlu juga
diperhatikan, adakah nyeri tekan abdomen, adakah massa (tumor,
feces), turgor kulit perut untuk mengetahui derajat hidrasi pasien,
apakah hepar teraba, juga apakah lien teraba. Perkusi abdomen
normal tympanik, adanya massa padat atau cairan akan
menimbulkan suara pekak (hepar, asites, vesika urinarta, tumor).
5) Sistem Neurologis
Pada inspeksi tingkat kesadaran perlu dikaji Disamping
juga diperlukan pemeriksaan GCS. Adakah composmentis atau
somnolen atau comma. refleks patologis, dan bagaimana dengan
refleks fisiologisnya. Selain itu fungsi-fungsi sensoris juga perlu
dikaji seperti pendengaran, penglihatan, penciuman, perabaan dan
pengecapan.
6) Sistem Muskuloskeletal
24

Pada inspeksi perlu diperhatikan adakah edema peritibial,


palpasi pada kedua ekstremetas untuk mengetahui tingkat perfusi
perifer serta dengan pemerikasaan capillary refil time. Dengan
inspeksi dan palpasi dilakukan pemeriksaan kekuatan otot
kemudian dibandingkan antara kiri dan kanan.
7) Sistem Integumen
Inspeksi mengenai keadaan umum kulit higiene, warna ada
tidaknya lesi pada kulit, pada Px dengan effusi biasanya akan
tampak cyanosis akibat adanya kegagalan sistem transport O2.
Pada palpasi perlu diperiksa mengenai kehangatan kulit (dingin,
hangat, demam). Kemudian texture kulit (halus-lunak-kasar) serta
turgor kulit untuk mengetahui derajat hidrasi seseorang.
i.

Pemeriksaan Penunjang
Hasil pemeriksaan medis dan laboratorium
1. Pencitraan
Gambaran perselubungan homogen disertai pendorongan trakea dan
mediastrum kearah kontralateral merupakan gambaran khas efusi.
Pemeriksaan ini dapat mendeteksi cairan dengan volume sekitar 150200 ml atau lebih. Apabila jumlah cairan kurang dari 300 ml, posisi
dikubitus lateral akan membantu memastikan keberadaan cairan.
Ultrasonografi thoraks lebih sensitif daripada foto thoraks karena
mampu mendeteksi cairan dengan volume sedikit (5-50 ml).
Pemeriksaan lain seperti computerized tomography (PET scan) dapat
digunakan untuk menilai efusi pleura, sekaligus mendapat tumor
25

ontrathoraks atau dinding dada.


2. Pemeriksaan Radiologi
Pada fluoroskopi maupun foto thorax PA cairan yang kurang
dari 300 cc tidak bisa terlihat. Mungkin kelainan yang tampak hanya
berupa penumpukkan kostofrenikus. Pada effusi pleura sub
pulmonal, meski cairan pleura lebih dari 300 cc, frenicocostalis
tampak tumpul, diafragma kelihatan meninggi. Untuk memastikan
dilakukan dengan foto thorax lateral dari sisi yang sakit (lateral
dekubitus) ini akan memberikan hasil yang memuaskan bila cairan
pleura sedikit (Hood Alsagaff, 1990, 786-787).
3. Biopsi Pleura
Biopsi ini berguna untuk mengambil specimen jaringan pleura
dengan melalui biopsi jalur percutaneus. Biopsi ini digunakan untuk
mengetahui adanya sel-sel ganas atau kuman-kuman penyakit
(biasanya

kasus

pleurisy

tuberculosa

dan

tumor

pleura)

(Soeparman, 1990, 788).


4. Torakoskopi
Pemeriksaan ini memiliki ketetapan diagnosis kurang lebih 90%
tetapi mempunyai resiko yang besar seperti pneumotoraks,
hematotoraks dan empiema. Saat ini telah berkembang teknik yang
lebih baik dan kurang invasif dengan menggunakan video-assisted
thoracic surgery (VATS) yang memudahkan diagnosis sekaligus
penatalaksanaan.
j.

Pemeriksaan Laboratorium
26

Dalam pemeriksaan cairan pleura terdapat beberapa pemeriksaan


antara lain :
a. Pemeriksaan Biokimia
Secara biokimia effusi pleura terbagi atas transudat dan eksudat
yang perbedaannya dapat dilihat pada tabel berikut :
Transudat

Eksudat

Kadar protein dalam effusi 9/dl

<3

>3

Kadar protein dalam effusi

< 0,5

> 0,5

Kadar LDH dalam effusi (1-U)

< 200

> 200

Kadar LDH dalam effusi

< 0,6

> 0,6

< 1,016

> 1,016

Kadar protein dalam serum

Kadar LDH dalam serum


Berat jenis cairan effusi
Rivalta

Negatif

Positif
Disamping

pemeriksaan

tersebut

diatas,

secara

biokimia

diperiksakan juga cairan pleura :


-

Kadar pH dan glukosa. Biasanya merendah pada penyakitpenyakit infeksi, arthritis reumatoid dan neoplasma

Kadar amilase. Biasanya meningkat pada paulercatilis dan


metastasis adenocarcinona (Soeparman, 1990, 787).

b. Analisa cairan pleura


-

Transudat

: jernih, kekuningan

Eksudat

: kuning, kuning-kehijauan
27

Hilothorax

: putih seperti susu

Empiema

: kental dan keruh

Empiema anaerob

: berbau busuk

Mesotelioma

: sangat kental dan berdarah

c. Perhitungan sel dan sitologi


Leukosit 25.000 (mm3):empiema
Banyak Netrofil

: pneumonia, infark paru, pankreatilis, TB


paru

Banyak Limfosit

: tuberculosis, limfoma, keganasan.

Eosinofil meningkat : emboli paru, poliatritis nodosa, parasit dan


jamur
Eritrosit

: mengalami peningkatan 1000-10000/ mm3


cairan tampak kemorogis, sering dijumpai
pada pankreatitis atau pneumoni. Bila
erytrosit > 100000 (mm3 menunjukkan
infark paru, trauma dada dan keganasan.

Misotel banyak

: Jika terdapat mesotel kecurigaan TB bisa


disingkirkan.

Sitologi

: Hanya 50 - 60 % kasus- kasus keganasan


dapat ditemukan sel ganas. Sisanya kurang
lebih terdeteksi karena akumulasi cairan
pleura

lewat

mekanisme

obstruksi,

preamonitas atau atelektasis (Alsagaff


28

Hood, 1995 : 147,148)


d. Bakteriologis
Jenis kuman yang sering ditemukan dalam cairan pleura
adalah

pneamo

cocclis,

E-coli,

klebsiecla,

pseudomonas,

enterobacter. Pada pleuritis TB kultur cairan terhadap kuman


tahan asam hanya dapat menunjukkan yang positif sampai 20 %
(Soeparman, 1998: 788).
Analisa Data
Setelah semua data dikumpulkan, kemudian dikelompokkan dan
dianalisa sehingga dapat ditemukan adanya masalah yang muncul pada
penderita effusi pleura. Selanjutnya masalah tersebut dirumuskan dalam
diagnosa keperawatan.

2. Diagnosa Keperawatan
Penentuan diagnosa keperawatan harus berdasarkan analisa data sari
hasil pengkajian, maka diagnosa keperawatan yang ditemukan di kelompokkan
menjadi diagnosa aktual, potensial dan kemungkinan. (Budianna Keliat,
1994,1)
Beberapa diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada pasien dengan
effusi pleura antara lain :
1.

Ketidakefektifan pola pernafasan b.d menurunnya ekspansi paru


sekunder terhadap penumpukkan cairan dalam rongga pleura

2.

Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d


peningkatan metabolisme tubuh, pencernaan nafsu makan akibat sesak
29

nafas sekunder terhadap penekanan struktur abdomen.


3.

Gangguan pola tidur dan istirahat b.d batuk yang menetap dan sesak
nafas.

4.

3.

Kurang pengetahuan b.d proses penyakit.

Intervensi Keperawatan
Setelah merumuskan diagnosa keperawatan, dibuat rencana tindakan

untuk mengurangi, menghilangkan dan mencegah masalah klien.(Budianna


Keliat, 1994).
1. Diagnosa Keperawatan I
Ketidakefektifan pola pernafasan b.d menurunnya ekspansi paru sekunder
terhadap penumpukan cairan dalam rongga pleura.
Tujuan : Pasien mampu mempertahankan fungsi paru secara normal
Kriteria hasil :
1.

Irama, frekuensi dan kedalaman pernafasan dalam batas normal.

2.

Pada pemeriksaan sinar X dada tidak ditemukan adanya akumulasi


cairan, bunyi nafas terdengar jelas.

Rencana tindakan :
1. Identifikasi faktor penyebab.
Rasional : Dengan mengidentifikasikan penyebab, kita dapat
menentukan jenis effusi pleura sehingga dapat mengambil tindakan
yang tepat.
2. Kaji kualitas, frekuensi dan kedalaman pernafasan, laporkan setiap
perubahan yang terjadi.
30

Rasional : Dengan mengkaji kualitas, frekuensi dan kedalaman


pernafasan, kita dapat mengetahui sejauh mana perubahan kondisi
pasien.
3. Baringkan pasien dalam posisi yang nyaman, dalam posisi duduk,
dengan kepala tempat tidur ditinggikan 60 90 derajat.
Rasional : Penurunan diafragma memperluas daerah dada sehingga
ekspansi paru bisa maksimal.
4. Observasi tanda-tanda vital (suhu, nadi, tekanan darah, RR dan respon
pasien).
Rasional : Peningkatan RR dan tachcardi merupakan indikasi adanya
penurunan fungsi paru.
5. Lakukan auskultasi suara nafas tiap 2-4 jam.
Rasional : Auskultasi dapat menentukan kelainan suara nafas pada
bagian paru-paru.
6. Bantu dan ajarkan pasien untuk batuk dan nafas dalam yang efektif.
Rasional : Menekan daerah yang nyeri ketika batuk atau nafas dalam.
Penekanan otot-otot dada serta abdomen membuat batuk lebih efektif.
7. Kolaborasi dengan tim medis lain untuk pemberian O2 dan obatobatan serta foto thorax.
Rasional : Pemberian oksigen dapat menurunkan beban pernafasan
dan mencegah terjadinya sianosis akibat hiponia. Dengan foto thorax
dapat dimonitor kemajuan dari berkurangnya cairan dan kembalinya
daya kembang paru.

31

2. Diagnosa Keperawatan II
Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d peningkatan
metabolisme tubuh, penurunan nafsu makan akibat sesak nafas.
Tujuan : Kebutuhan nutrisi terpenuhi
Kriteria hasil :
1.

Konsumsi lebih 40 % jumlah makanan.

2.

berat badan normal dan hasil laboratorium dalam batas normal.

Rencana tindakan :
1. Beri motivasi tentang pentingnya nutrisi.
Rasional : Kebiasaan makan seseorang dipengaruhi oleh kesukaannya,
kebiasaannya,

agama,

ekonomi

dan

pengetahuannya

tentang

pentingnya nutrisi bagi tubuh.


2. Auskultasi suara bising usus.
Rasional : Bising usus yang menurun atau meningkat menunjukkan
adanya gangguan pada fungsi pencernaan.
3. Lakukan oral hygiene setiap hari.
Rasional : Bau mulut yang kurang sedap dapat mengurangi nafsu
makan.
4. Sajikan makanan semenarik mungkin.
Rasional : Penyajian makanan yang menarik dapat meningkatkan
nafsu makan.
5. Beri makanan dalam porsi kecil tapi sering.
Rasional : Makanan dalam porsi kecil tidak membutuhkan energi,
banyak selingan memudahkan reflek.
32

6. Kolaborasi dengan tim gizi dalam pemberian diit TKTP


Rasional : Diit TKTP sangat baik untuk kebutuhan metabolisme dan
pembentukan antibody karena diet TKTP menyediakan kalori dan
semua asam amino esensial.
7. Kolaborasi

dengan

dokter

atau

konsultasi

untuk

melakukan

pemeriksaan laboratorium alabumin dan pemberian vitamin dan


suplemen nutrisi lainnya (zevity, ensure, socal, putmocare) jika intake
diet terus menurun lebih 30 % dari kebutuhan.
Rasional : Peningkatan intake protein, vitamin dan mineral dapat
menambah asam lemak dalam tubuh.

3. Diagnosa Keperawatan III


Gangguan pola tidur dan istirahat b.d batuk yang menetap dan sesak nafas.
Tujuan :Tidak terjadi gangguan pola tidur dan kebutuhan istirahat
terpenuhi.
Kriteria hasil

1. Pasien dapat tidur dengan nyaman tanpa mengalami gangguan,


2. pasien dapat tertidur dengan mudah dalam waktu 30-40 menit dan
pasien beristirahat atau tidur dalam waktu 3-8 jam per hari.
Rencana tindakan :
1. Beri posisi senyaman mungkin bagi pasien.
Rasonal : Posisi semi fowler atau posisi yang menyenangkan akan
memperlancar peredaran O2 dan CO2.
2. Tentukan kebiasaan motivasi sebelum tidur malam sesuai dengan
33

kebiasaan pasien sebelum dirawat.


Rasional : Mengubah pola yang sudah menjadi kebiasaan sebelum
tidur akan mengganggu proses tidur.
3. Anjurkan pasien untuk latihan relaksasi sebelum tidur.
Rasional : Relaksasi dapat membantu mengatasi gangguan tidur.
4. Observasi gejala kardinal dan keadaan umum pasien.
Rasional : Observasi gejala kardinal guna mengetahui perubahan
terhadap kondisi pasien.

5. Diagnosa Keperawatan IV
Kurang pengetahuan b.d proses penyakit.
Tujuan

: Pasien dan keluarga tahu mengenai kondisi dan aturan


pengobatan.

Kriteria hasil :
1.

Px dan keluarga menyatakan pemahaman penyebab masalah.

2.

PX dan keluarga mampu mengidentifikasi tanda dan gejala yang


memerlukan evaluasi medik.

3.

Px

dan

keluarga

mengikuti

program

pengobatan

dan

menunjukkan perubahan pola hidup yang perlu untuk mencegah


terulangnya masalah.
Rencana tindakan :
1. Kaji patologi masalah individu.
Rasional

Informasi

menurunkan

takut

karena

ketidaktahuan.

Memberikan pengetahuan dasar untuk pemahaman kondisi dinamik dan


34

pentingnya intervensi terapeutik.


2. Identifikasi kemungkinan kambuh atau komplikasi jangka panjang.
Rasional : Penyakit paru yang ada seperti PPOM berat, penyakit paru
infeksi dan keganasan dapat meningkatkan insiden kambuh.
3. Kaji ulang tanda atau gejala yang memerlukan evaluasi medik cepat
(contoh, nyeri dada tiba-tiba, dispena, distress pernafasan).
Rasional : Berulangnya effusi pleura memerlukan intervensi medik
untuk mencegah, menurunkan potensial komplikasi.
4. Kaji ulang praktik kesehatan yang baik (contoh, nutrisi baik, istirahat,
latihan).
Rasional

Mempertahankan

kesehatan

umum

meningkatkan

penyembuhan dan dapat mencegah kekambuhan.

4.

Implementasi
Implementasi merupakan pelaksanaan rencana keperawatan oleh
perawat terhadap pasien. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam
pelaksanaan rencana keperawatan diantaranya : Intervensi dilaksanakan sesuai
dengan rencana setelah dilakukan validasi ; ketrampilan interpersonal, teknikal
dan intelektual dilakukan dengan cermat dan efisien pada situasi yang tepat,
keamanan fisik dan psikologis klien dilindungi serta dokumentasi intervensi
dan respon pasien. Pada tahap implementasi ini merupakan aplikasi secara
kongkrit dari rencana intervensi yang telah dibuat untuk mengatasi masalah
kesehatan dan perawatan yang muncul pada pasien.

5.

Evaluasi
35

Evaluasi merupakan langkah terakhir dalam proses keperawatan,


dimana evaluasi adalah kegiatan yang dilakukan secara terus menerus dengan
melibatkan pasien, perawat dan anggota tim kesehatan lainnya.
Tujuan dari evaluasi ini adalah untuk menilai apakah tujuan dalam rencana
keperawatan tercapai dengan baik atau tidak dan untuk melakukan pengkajian
ulang (US. Midar H, dkk, 1989).
Kriteria dalam menentukan tercapainya suatu tujuan, pasien :
a.

Mampu mempertahankan fungsi paru secara normal.

b.

Kebutuhan nutrisi terpenuhi.

c.

Tidak terjadi gangguan pola tidur dan kebutuhan istirahat terpenuhi.

d.

Dapat memenuhi kebutuhan perawatan diri sehari-hari untuk


mengembalikan aktivitas seperti biasanya.

e.

Menunjukkan pengetahuan dan gejala-gejala gangguan pernafasan


seperti sesak nafas, nyeri dada sehingga dapat melaporkan segera ke
dokter atau perawat yang merawatnya.

f.

Mampu menerima keadaan sehingga tidak terjadi kecemasan.

g.

Menunjukkan pengetahuan tentang tindakan pencegahan yang


berhubungan dengan penatalaksanaan kesehatan, meliputi kebiasaan
yang tidak menguntungkan bagi kesehatan seperti merokok, minum
minuman beralkohol dan pasien juga menunjukkan pengetahuan
tentang kondisi penyakitnya.

36

DAFTAR PUSTAKA

Al sagaff H dan Mukti. A, Dasar Dasar Ilmu Penyakit Paru, Airlangga University
Press, Surabaya ; 1995
Carpenito, Lynda Juall, Diagnosa keperawatan Aplikasi pada Praktek Klinik Edisi 6,
Penerbit Buku Kedokteran EGC,;1995
Temmasonge R. Pakki, Diagnosa dan Tatalaksana Kegawatdaruratan Paru,
Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, Jakarta :2008
Jeffrey

Rubins

J.,

2012.

www.emedicine.medscape.com

Pleural

Effusion.

Diakses

dari

pada tanggal 07 januari 2015.

37