Anda di halaman 1dari 18

BAB II

DASAR TEORI
II.1.

Desain Jalur Terbang


Dalam pekerjaan fotogrametri dipengaruhi oleh foto yang mempunyai kualitas baik.

Pemotretan udara dengan tujuan tertentu dapat direncanakan, yaitu desain jalur terbang
pemotretan. Proses pengambilan jalur terbang biasanya diambil jarak yang terpanjang untuk
melakukan perekaman, hal ini untuk memperoleh kestabilan pesawat di saat pemotretan.

Gambar 2.1. Desain Jalur Terbang


Hal perlu diperhatikan dalam perencanaan jalur terbang yaitu foto-foto tersebut pada
umumnya dibuat sedemikian sehingga daerah yang digambarkan foto udara yang berurutan di
dalam satu jalur terbang yang disebut pertampalan. Hal-hal yang perlu diperhatikan, antara
lain (Laporan Praktikum Pengantar Fotogrametri Kelompok 4, 2014) :
1. Tampalan ke Depan (Overlap)
Tampalan ke depan ialah tampalan antara foto yang berurutan sepanjang jalur terbang.

Gambar 2.2. Tampalan ke depan (overlap)


Keterangan :
G

= luas liputan

= basis atau jarak antara stasiun pemotretan sebuah pasangan foto stereo.

PE

= pertampalan ke depan (endlap)


4

G B
PE
*100
G
.................................................(2.1)

2. Tampilan ke Samping (SideLap)


Tampalan ke samping ialah tampalan antara jalur terbang yang berhimpitan secara
berurutan.

Gambar 2.3. Tampalan ke samping (sidelap)


Keterangan :
G

= luas liputan

= jarak antara jalur terbang yang berurutan atau jalur-jalur terbang yang
berhimpitan

PS

= pertampalan ke samping (sidelap)


G W
PS
*100
G
.................................................(2.2)

3. Luas Liputan
Setelah memilih skala foto rata-rata dan dimensi format kamera, daerah permukaan
lahan yang terliput dapat langsung dihitung dengan persaman berikut;
G df / Sr ....................................................(2.3)

Dimana:
Sr

= skala rata-rata

Df

= dimensi foto

4. Tinggi Terbang
Berbicara tentang tinggi terbang sangat erat kaitan dengan skala. Untuk itu, setelah
memilih panjang fokus kamera dan skala foto rata-rata yang dikehendaki, tinggi
terbang rata-rata di atas permukaan tanah dapat ditetapkan secara otomatis sesuai
dengan persaman skala;
5

sr

f
H hr

H (sr * f ) hr ..(2.4)
Dimana:
H

= tinggi terbang

hr

= tinggi terbang terhadap tinggi tanah rata-rata

sr

= skala rata-rata

= panjang fokus kamera

5. Jarak antar Strip Jalur Terbang


W (100 PS )% * G ...(2.5)

Dimana:
W

= adalah jarak antara dua jalur penerbangan

PS

= pertampalan ke samping (sidelap)

= luas liputan

6. Jarak Basis Udara


B (100 PE )% * G (2.6)

= adalah jarak antara basis udara

PE

= pertampalan ke depan (endlap)

= luas liputan

7. Jumlah Foto dalam 1 Strip Jalur Terbang

Jumlah foto / strip (nf )


(1 safety factor )

p
11
(100 PE )% * G
.(2.)

Dimana :
P

= panjang daerah

pf

= panjang sisi bingkai foto

= luas liputan
6

8. Jumlah Strip Jalur Terbang

l
1
(100 PS )% G
(1 safety factor )
...(2.)
ns

Dimana :
l

= lebar daerah

pf

= panjang sisi bingkai foto

= luas liputan

9. Untuk foto metric pf = lf = G = 23cm, s = bilangan skala foto


Cara ini hanya dapat digunakan untuk bentuk daerah yang mempunyai bentuk persegi
empat atau kombinasi bentuk persegi empat.

Gambar 2.4. Total foto

R
R

Gambar 2.5. Pola Pemotretan

II.2

Titik Kontrol Tanah (Ground Control Point)


Menurut Wahid dan Taufik (2009), GCP (Ground Control point) atau titik kontrol

tanah adalah proses penandaan lokasi yang berkoordinat berupa sejumlah titik yang
diperlukan untuk kegiatan mengkoreksi data dan memperbaiki keseluruhan citra yang
akhirnya disebut sebagai proses rektifikasi. Tingkat akurasi GCP sangat tergantung pada jenis
GPS yang digunakan dan jumlah sampel GCP terhadap lokasi dan waktu pengambilan.
Lokasi ideal saat pengambilan GCP adalah perempatan jalan, sudut jalan,
perpotongan jalan pedestrian, kawasan yang memiliki warna menyolok, persimpangan rel
dengan jalan dan benda/ monumen/ bangunan yang mudah diidentifikasi atau dikenal. Perlu
dihindari pohon, bangunan, dan tiang listrik selain sulit diidentifikasi, karena kesamaannya
yang tinggi.
Dapat didefinisikan sebagai sebuah titik pada permukaan bumi dari lokasi yang
dikenal (yaitu tetap dalam suatu sistem koordinat yang ditetapkan) yang digunakan untuk
geo-referensi sumber data gambar, seperti gambar penginderaan jauh atau scan peta. Dasar
untuk titik kontrol tanah dan titik cek adalah bahwa mereka harus memiliki kualitas yang tiga
kali lebih baik dari spesifikasi, yaitu 0.8 m RMSE untuk 2,5 juta RMSE spesifikasi. Titik
kontrol tanah (GCP) berfungsi sebagai titik titik sekutu antara sistem koordinat foto dengan
sistem koordinat peta, sedangkan titik ikat merupakan titik sekutu antara foto yang saling
bertampalan. GCP diadakan dengan 2 cara,yaitu secara pre-marking atau post-marking. Premarking adalah mengadakan titik target sebelum pemotretan udara dilaksanakan, sedangkan
post-marking adalah mengidentifikasi obyek yang terdapat pada foto udara baru kemudian
ditentukan koordinat petanya. Untuk TP selalu diadakan dengan cara post-marking, yaitu
mengidentifikasi obyek yang sama yang terpotret pada daerah bertampalan. GCP umumnya
diusahakan menyebar di pinggir foto, sedangkan titik ikat dibuat sebanyak 6 buah per model
dengan distribusi mengikuti aturan Gruber.
Nilai koordinat UTM diperoleh dari pengecekan di peta, penentuan titik ikat
dilakukan secara manual, yaitu dengan cara identifikasi visual obyek-obyek yang tampak
jelas pada daerah pertampalan antar foto.teknik ini menghasilkan akurasi yang cukup baik,
terutama jika di bantu dengan fasilitas zooming dan penampilan secara tiga dimensi. Tetapi
teknik ini memiliki kelemahan yaitu membutuhkan waktu yang lama, apabila jika jumlah foto
yang akan diproses cukup banyak. Ada teknik lain yang dapat dipergunakan untuk
8

mengidentifikasi TP secara otomatis, yaitu dengan menggunakan cara korelasi silang. Pada
prakteknya, teknik ini dapat mengidentifikasi obyek yang tidak terletak di daerah
pertampalan, sehingga masih perlu dilakukan manual editing untuk menjamin ketepatannya.
(Harintaka,dkk. 2006)

Gambar 2.6. Ground Control Point


Dalam pemotretan udara, titik kontrol tanah ini diperlukan untuk triangulasi udara.
Triangulasi udara adalah cara penentuan koordinat titik kontrol minor secara fotogrametris.
Titik kontrol minor adalah titik kontrol tanah perapatan yang mengacu pada titik kontrol
tanah hasil premarking.Titik kontrol minor ini sering disebut dengan postmark, karena
ditentukan setelah pemotretan. Titik kontrol tanah berfungsi sebagai data masukan untuk
proses hitungan titik bantu minor atau ikatan bantu secara fotogrametris. Hasil dari pekerjaan
triangulasi udara ini adalah koordinat titik kontrol minor, baik titik kontrol penuh (X, Y, Z),
titik kontrol planimetris (X,Y) dan tinggi (Z) yang telah diratakan.
Tahapan triangulasi udara ini sangat penting karena titik-titik kontrol minor yang
diperoleh dari proses ini akan memberikan kerapatan titik kontrol tanah. Titik-titik kontrol
tanah inilah yang digunakan untuk rektifikasi. Rektifikasi adalah suatu proses pekerjaan
untuk memproyeksikan citra ke bidang datar dan menjadikan bentuk konform (sebangun)
dengan sistem proyeksi peta yang digunakan, juga digunakan mengorientasikan citra
sehingga mempunyai arah yang benar. Hal yang perlu diperhatikan dalam penentuan atau
pemilihan titik yang akan digunakan untuk rektifikasi ini adalah bahwa titik-titik kontrol
tanah tersebut harus tersebar merata pada area pemotretan, mampu mewakili kondisi medan

yang sesungguhnya, dan jumlahnya makin banyak makin baik. Hal ini berkaitan dengan
ketelitian dari hasil rektifikasi.
Titik kontrol tanah yang terdistribusi merata pada area pemotretan akan memberikan
hasil rektifikasi yang lebih presisi. Selain itu, perlu dilakukan pemasangan titik kontrol tanah
pada daerah-daerah ekstrim, agar diperoleh titik-titik kontrol tanah yang mewakili kondisi
medan yang sesungguhnya. Hal ini berkaitan dengan pergeseran relief. Semakin banyak titik
kontrol tanah yang digunakan untuk rektifikasi, akan semakin banyak kontrol hitungan yang
digunakan, sehingga semakin teliti hasil rektifikasi.
III.3. Mosaik Foto
Mosaik foto ialah serangkaian foto daerah tertentu yang disusun menjadi satu lembar
foto. Ini dimaksudkan untuk menggambarkan daerah penelitian secara utuh. Mosaik dapat
memberikan gambaran yang lebih menyeluruh tentang lokasi yang diamati. (Hanafah, 2012)

Gambar 2.7. Mosaik Foto

Secara detil Wolf (1983) menyatakan mosaik foto udara merupakan gabungan dari
dua atau lebih foto udara yang saling bertampalan sehingga terbentuk paduan citra (image)
yang berkesinambungan dan menampilkan daerah yang lebih luas.
Ditinjau dari teknik pembuatannya, Wolf (1983) menyebutkan ada tiga jenis mosaik,
yaitu mosaik terkontrol, tidak terkontrol, dan semi terkontrol.
Mosaik terkontrol adalah mosaik yang dibuat dari foto yang telah direktifikasi atau
menghilangkan

kesalahan

oleh

kemiringan

sumbu

kamera

(tilt)

dan

rationing

(menyeragamkan skala di seluruh bagian foto) sehingga semua foto telah mempunyai skala
yang sama. Mosaik terkontrol memenuhi spesifikasi tertentu tentang ketelitian peta.
Mosaik tidak terkontrol adalah mosaik yang dibuat dari foto yang belum direktifikasi
serta belum diseragamkan skalanya. Mosaik semi terkontrol adalah mosaik yang disusun

10

dengan menggunakan foto udara yang mempunyai beberapa titik kontrol, tetapi foto tersebut
tidak terektifkasi dan dapat mempunyai skala yang tidak seragam.
Dari ketiga jenis mosaik tersebut. Mosaik terkontrol dan semi terkontrol memiliki
kesamaan, yaitu memerlukan ketersediaan titik kontrol. Keharusan untuk tersedianya titik
kontrol tersebut mempunyai konsekuensi waktu pemrosesan yang lama, yaitu saat identifikasi
titik kontrol pada setiap foto dan biaya yang relatif untuk penyediaan atau pengadaan titik
kontrol setiap foto.
Menurut Nurdinansa (2013), mosaik foto udara secara manual dilakukan dengan
mengurutkan nomor seri foto udara dan disusun secara manual dengan mengandalkan
kemampuan visual mata secara berurutan serta menumpang tindihkan kenampakan yang
sama pada foto-foto yang bertampalan (overlap). Menyusun mozaik secara manual ini
dilakukan sekedar untuk memperoleh gambaran umum wilayah yang dikaji. Dalam
penyusunan foto udara ini setiap foto udara yang disusun maupun ditumpang tindih memiliki
skala foto yang sama, nomor seri yang berurutan dan merupakan daerah pertampalan.

Gambar 2.8. Skema Susunan Mosaik

Dari penyusunan mosaik secara manual ini ditemukan susunan foto udara yang saling
tumpang tindih memiliki susunan tidak lurus atau agak bergeser ke atas atau ke bawah yang
mengindikasikan dalam pemotretan pesawat mengalami gangguan sehingga hasil pemotretan
tidak bisa lurus. Penyimpangan tersebut dikenal dengan Drif dan Crab.
Drif adalah perpindahan atau pergeseran lateral pesawat udara dari garis terbang yang
direncanakan, yang disebabkan oleh gerakan angin, kesalahan navigasi atau penyebabpenyebab yang lain. Hasilnya dapat berupa suatu celah (gab) diantara foto udara yang
berdekatan. Crab merupakan keadaan yang disebabkan kegagalan mengorientasikan kamera
sehubungan dengan garis terbang yang direncanakan. Dalam penyusunan foto udara secara
manual diperlukan kecermatan dan ketelitian, terutama dalam menyusun maupun
menumpang tindihkan foto udara. Seringkali yang tidak diperhatikan adalah pengurutan
nomor seri foto udara. Hal tersebut cukup menghambat dalam proses penyusuan mosaik foto
udara secara manual.
11

III.4. Macam-macam Mosaik


1. Uncontrolled Digital Mosaics
Mosaik-mosaik yang tidak terkontrol dibuat dari kombinasi foto udara tanpa
perubahan skala dan hanya memakai gambar dari fotografi untuk penyesuaian.
Pergeseran relief akan menimbulkan perubahan bentuk (deformasi) pada mosaik dan
bahkan menimbulkan ketidaksinambungan pada beberapa tempat. Walaupun
pergeseran relief dapat dikurangi dengan memakai kamera-kamera yang berjarak
fokus panjang, kita ketahui bahwa hampir untuk semua survei sumber-sumber alam,
kamera-kamera dengan sudut-sudut besar mempunyai keuntungan-keuntungan.
Tinggi terbang yang yang lebih rendah dan rasio tinggi basis yang lebih baik, yang
memungkinkan perbedaan yang lebih tepat dari perbedaan-perbedaan ketinggian,
semuanya merupakan keuntungan-keuntungan yang mengimbangi kesulitan-kesulitan
yang diakibatkan oleh ketidak serasian mosaik-mosaik.
Kamera dengan jarak-jarak fokus yang panjang hanya dipakai dalam hal-hal
tertentu, misalnya pada survei-survei kehutanan skala besar, karena pemandangan
pada permukaan yang terdapat di bawah pohon-pohon. Mosaik-mosaik yang tidak
terkontrol yang kualitas cukup baik, hanya dapat diperoleh dalam keadaan dimana
permukaan hampir selurunya datar, dengan syarat bahwa skala daripada rangkaian
foto adalah sama pada seluruh permukaan daripada mosaik-mosaik tersebut. (Sugiarti,
2012)
2. Semicontrolled Digital Mosaics
Mosaik semi kontrol dilakukan rektifikasi foto yang digabungkan tanpa titik
kontrol, dimana titik kontrol digunakan untuk membatasi foto yang direktifikasi. Ini
berarti bahwa dalam satu dan hal lain posisi relatif dari titik utama dari tiap-tiap foto
udara terhadap foto-foto di sisinya harus diketahui. Dalam hal dimana permukaan
tidak datar, diharapkan beberapa metode triangulasi radial, terutama template slot
(slotted template), bahkan jika tidak ada titik kontrol permukaan yang diketahui.
Hasilnya adalah bahwa dalam sembarang sistem koordinat yang dipakai untuk bagan
template slot dan pada skala foto yang diperkirakan, koordinat-koordinat dari semua
titik utama dan enam titik yang lain pada tiap foto diketahui.
Dengan memakai posisi-posisi ini perpindahan relief akan menghasilkan
ketidak cocokan akan tetapi hal ini lebih baik daripada memakai kecocokan sebagai
petunjuk untuk merangkaikan mosaik tersebut. Dapat menguntungkan bahkan posisi
12

relatif, misal saja penyimpangan-penyimpangan geologis dari suatu sifat yang terbatas
dengan orang spesialis, sementara mencatat ciri-cirinya dapat denagn mudah menilai
dengan jalan memasukkan nilai perkiraan dari pergeseran relief. (Sugiarti, 2012)
3. Controlled Digital Mosaics
Mosaik-mosaik yang terkontrol sepenuhnya. Diperoleh jika mendapat
kemungkinan untuk membuat bagan slotted template normal dengan foto-foto udara
dari permukaan yang datar, bagan mana disesuaikan antara titik-titik dan kontrol
permukaan.
Dalam hal yang demikian akan diperoleh minimal empat titik-titik yang telah
diketahui pada tiap-tiap foto. Setelah menggambarkan koordinat-koordinat dari titiktitik ini pada lembar yang terpisah pada skala yang dibutuhkan untuk mosaik terakhir,
gambar negatif semula dapat ditegakkan. Ini berarti bahwa dengan pemakaian alat
mekanik optik, yang disebut rectified (alat penegak), gambar-gambar dari titik yang
diketahui diberikan tanda pada gambar negatif, dapat dibuat berhimpit dengan titik
pada lembaran yang terdahulu. Dengan menggantikan lembaran tersebut dengan
emulsi foto pada bahan yang tidak menyusut, akan diperoleh sebuah gambar positif
yang merupakan proyeksi vertikal yang murni dari permukaan dengan skala mosaik.
Dengan cara ini pengaruh perbedaan skala antara gambar-gambar negatif dan
pengaruh ujung (tip) dan kemirinagn dari sumbu optik dari kamera fotografik dapat
dihilangkan dnagn positif-positif yang diluruskan ini terbentuklah mosaik tadi. Pada
lembaran dasar koordinat-koordinat yang sama dipetakan, yang mana digunakan
untuk prosedur pelurusan.
Hasilnya ialah bahwa masing-masing foto udara terbentuk tepat dalam
posisinya. Pada foto mosaik yang demikian suatu sistem koordinat grid benar-benar
memenuhi syarat. Dalam hal ini kita memperoleh peta foto (photo map). Grid pada
peta foto ini dengan sendirinya merupakan grid yang sama digunakan untuk
memetakan titik-titik kontrol. Jelas bahwa dengan sistem yang demikian sekalipun,
tidak ada mosaik terkontrol yang baik dengan keserasian yang baik pula antara
gambar-gambarnya, yang dapat dibuat dari foto-foto udara dari permukaan yang
bergunung-gunung atau berbukit-bukit. Perbaikan kecil dapat diperoleh dengan
memakai bagian tengah saja daripada tiap-tiap gambar, dimana untuk permukaan
datar penegakan (pelurusan) hanya dapat diterima untuk foto udara kedua.
Untuk mosaik-mosaik yang terkontrol penuh, menyederhanakan penegakan
(rektifikasi) dalam hal mana mengalami penyusutan untuk mempersamakan skala dari
13

semua foto udara. Untuk permukaan yang berbukit atau bergunung-gunung, satu-satu
metode yang diterima untuk mosaik-mosaik yang tepat yang memenuhi spesifikasi
peta-peta normal pada saat ini adalah pemakaina arthophotoscope yang kompleks itu,
yang mengaruhi pergeseran relief dan kemiringan. Suatu mosaik yang terdiri dari
beberapa orhtophoto dengan memakai grid membentuk sebuah peta (ortho)
foto. (Sugiarti, 2012)

II.5.

Digital Surface Modelling


Digital Surface Model (DSM) adalah sebuah model permukaan pantulan gelombang

pertama yang memuat fitur-fitur elevasi terrain alami sebagai tambahan dari fitur- fitur
vegetasi alami dan buatan, seperti bangunan.Atau secara sederhana, DSM (Digital Surface
Model) dapat diartikan sebagai data ketinggian permukaan objek yang ada di muka bumi
seperti pepohonan dan bangunan. (Aronoff, 1991)

Gambar 2.1 Digital Surface Model


Sumber data DSM meliputi :
1. FU stereo
2. Citra satelit stereo
3. Data pengukuran lapangan: GPS, Theodolith, EDM, Total Station, Echosounder
4. Peta Topografi
5. Linier array image
6. Data hasil DTM atau DEM
7. Pengukuran langsung di lapangan

14

Atau dapat pula bersumber dari :


1. Data bersumber dari Teknologi Pemetaan dengan Airborne IFSAR.
2. Data bersumber dari informasi tematik satu lembar peta dapat diturunkan dari Citra
SAR.
Metode pembuatan DSM pinsipnya hampir sama dengan DTM yaitu sebagai berikut :
1. Airborne laser scanningSebuah sistem laser khas udara mulai beroperasi di band
inframerah dekat dimana panjang gelombang adalah 1040-1060 nm.Biasanya pulsa
pendek, 10 ns (10 kHz) dalam durasi dan menengah untuk daya tinggi.
Penyimpangan balok adalah ca. 1 mrad. Beberapa sistem memungkinkan pencatatan
gema beberapa dari satu pulsa laser, misalnya pertama dan terakhir, atau bahkan
yang tambahan secara berkala. Selain informasi rentang intensitas juga dicatat. Posisi
pesawat diperkirakan dengan GPS dan sikap dari pistol laser dengan INS. Dengan
informasi orientasi gema dapat diberikan koordinat dunia nyata dan mereka
mengkonversi langsung ke geocoded / informasi titik dirujuk. Setiap kesalahan
dalam hasil orientasi dalam kesalahan lokasi untuk poin (misalnya 1999b Baltsavias
p.207-212)
2. Photogrammetric akuisisi data
Elemen sentral dari fotogrametri yang membuatnya berbeda dari ALS adalah: data
yang diperoleh dengan bingkai pasif (hanya bingkai sensor atau kamera udara dan
foto udara metrik diperlakukan sini seterusnya) sensor; transformasi geometris
ditentukan oleh proyeksi pusat dan geometri perspektif; orientasi dalam dari kamera
udara metrik biasanya mapan (bundel stabil sinar) dan gambar kualitas geometrik
dan radiometrik yang tinggi; objek yang terdeteksi pada gambar-gambar ini biasanya
lebih kecil daripada dalam kasus ALS; koordinat 3D diperoleh tidak langsung; dan
teori kesalahan pengukuran 3D - mapan untuk fotogrametri. Metode fotogrametri
analitis dan digital telah menyebabkan peningkatan tingkat otomatisasi fotogrametri.
i) Otomatis fitur pengukuran (titik) fotogrametri, ii) solusi otomatis masalah
korespondensi stereo (pencocokan gambar) dan iii) akurasi data capture seperti
stereoskopis adalah masalah utama dalam DSM, sehingga secara otomatis pembuatan
DSM menggunakan data fotogrametri.

15

II.6.

Layout Peta
Menurut Yunirwan (2013), layout peta ialah menyusun penempatan-penempatan dari

pada peta judul, legenda, skala, sumber data, penerbit , macam-macam proyeksi dan lainlainnya. Semua informasi yang diletakkan pada peta harus diatur secara tepat di atas lembar
peta sehingga dapat menjamin optimal dalam mudahnya dibaca dan kelihatan ekonomis.
Dengan memperhatikan beberapa unsur di dalamnya antara lain :
1. Judul Peta
Judul peta merupakan merupakan komponen yang sangat penting, karena
sebelum memperhatikan isi peta pasti judul yang terlebih dahulu dibacanya. Judul
peta hendaknya memuat informasi yang sesuai dengan isi peta. Selain itu, judul peta
jangan sampai menimbulkan penafsiran ganda pada peta.

2. Skala Peta
Peta merupakan kenampakan permukaan bumi yang digambarkan pada bidang
datar yang jauh lebih kecil dari kenyataannya. Perbandingan antara ukuran/besarnya
kenampakan yang digambar dalam peta dengan kenampakan aslinya disebut skala
peta. Skala peta adalah perbandingan antara jarak yang memisahkan kedua titik di
peta dengan jarak sebenarnya antara dua titik yang sama di permukaan bumi. Atau
skala adalah perbandingan jarak antara dua titik sembarang di peta dengan jarak
sebenarnya di permukaan bumi, dengan satuan ukuran yang sama. Skala ini sangat
erat kaitannya dengan data yang disajikan.

Dengan singkatnya dapat dinyatakan:


Angka perbandingan yang dinyatakan harus menggunakan satuan ukuran yang sama,
misalnya cm, yard, inci, dan sebagainya. Jarak yang dimaksud di peta adalah jarak
horizontal yaitu jarak yang diproyeksikan dari hasil pengukuran di lapangan. Bila
ingin menyajikan data yang rinci, maka digunakan skala besar, misalnya 1 : 5000.
Sebaliknya, apabila ingin ditunjukkan hubungan kenampakan secara keseluruhan,
digunakan skala kecil, misalnya skala 1 : 1.000.000.
Contoh:
Skala 1 : 500.000 artinya 1 bagian di peta sama dengan 500.000 jarak yang
sebenarnya, apabila dipakai satuan cm maka artinya 1 cm jarak di peta sama dengan
500.000 cm (5 km) jarak sebenarnya di permukaan bumi.
16

3. Simbol Peta
Pada peta, ada simbol-simbol, gunanya agar informasi yang disampaikan tidak
membingungkan. Simbol-simbol dalam peta harus memenuhi syarat, sehingga dapat
menginformasikan hal-hal yang digambarkan dengan tepat.
Syarat-syarat peta adalah sebagai berikut:
a. Sederhana
b. Mudah Dimengerti
c. Bersifat Umum

Macam-macam simbol peta:


1) Macam-macam simbol peta berdasarkan bentuknya. Bentuk-bentuk simbol yang
digunakan pada peta berbeda-beda tergantung dari jenis petanya.
a) Simbol titik, digunakan untuk menyajikan tempat atau data posisional, seperti
simbol kota, pertambangan, titik triangulasi (titik tertinggi) tempat dari
permukaan laut dan sebagainya.
b) Simbol garis, digunakan untuk menyajikan data geografis misalnya sungai,
batas wilayah, jalan, dan sebagainya.
c) Simbol luasan (area), digunakan untuk menyajikan kenampakan area misalnya
rawa, hutan, padang pasir, dan sebagainya.
d) Simbol aliran, digunakan untuk menyatakan alur dan gerak.
e) Simbol batang, digunakan untuk menyatakan harga / dibandingkan harga
lainnya / nilai lainnya.
f) Simbol lingkaran, digunakan untuk menyatakan kuantitas (jumlah) dalam
bentuk persentase.
g) Simbol bola, digunakan untuk menyatakan isi (volume), makin besar simbol
bola menunjukkan isi (volume) makin besar dan sebaliknya makin kecil bola
berarti isi (volume) makin kecil.
2) Macam-macam simbol peta berdasarkan sifatnya. Simbol-simbol yang kita lihat
pada peta, ada yang menyatakan jumlah dan ada yang hanya membedakan.
Berdasarkan sifatnya, simbol dibedakan menjadi dua macam yaitu:
a) Simbol yang bersifat kualitatif
Simbol

ini

digunakan

untuk

membedakan

persebaran

benda

yang

digambarkan. Misalnya untuk menggambarkan daerah penyebaran hutan, jenis


tanah, penduduk, dan lainnya.
17

b) Simbol yang bersifat kuantitatif


Simbol ini digunakan untuk membedakan atau menyatakan jumlah.
3) Macam-macam simbol berdasarkan fungsinya
Penggunaan simbol pada peta tergantung pada fungsinya. Untuk menggambarkan
bentuk-bentuk muka bumi di daratan, di perairan, atau bentuk-bentuk budaya
manusia. Berdasarkan fungsinya simbol peta dibedakan menjadi:
a) Simbol daratan digunakan untuk simbol-simbol permukaan bumi di daratan.
Contoh: gunung, pegunungan, gunung api.
b) Simbol perairan digunakan untuk simbol-simbol bentuk perairan.
c) Simbol budaya digunakan untuk simbol-simbol bentuk hasil budaya.

4. Warna
Penggunaan warna pada peta harus sesuai maksud/tujuan di pembuat peta dan
kebiasaan umum.
a) Laut, danau digunakan warna biru.
b) Temperature (suhu) digunkan warna merah atau coklat.
c) Curah hujan digunakan warna biru atau hijau.
d) Dataran rendah (pantai) ketinggian 0 sampai 200 meter dari permukaan laut
digunakan warna hijau.
e) Daerah pegunungan tinggi/dataran tinggi (2000 sampai 3000 meter) digunakan
warna coklat tua.
f) Warna berdasarkan sifatnya, ada dua macam yaitu warna bersifat kualitatif dan
bersifat kuantitatif.

5. Legenda atau Keterangan


Legenda pada peta menerangkan arti dari simbol-simbol yang terdapat pada
peta. Legenda itu harus dipahami oleh pembaca peta, agar tujuan pembuatan peta itu
mencapai sasaran. Legenda biasanya diletakkan di pojok kiri bawah peta. Selain itu
legenda peta dapat juga diletakkan pada bagian lain peta, sepanjang tidak
mengganggu kenampakan peta secara keseluruhan.

6. Sumber dan Tahun Pembuatan Peta


Sumber memberi kepastian kepada pembaca peta, bahwa data dan informasi
yang disajikan dalam peta tersebut benar-benar absah (dipercaya/akurat). Selain
18

sumber, bisa juga memperhatikan tahun pembuatannya. Pembaca peta dapat


mengetahui bahwa peta itu masih cocok atau tidak untuk digunakan pada masa
sekarang atau sudah kadaluarsa karena sudah terlalu lama.

7. Lattering
Para ahli kartografer membuat kesepakatan untuk membuat tulisan (lattering)
pada peta sebagai berikut :
a) Nama geografis ditulis dengan bahasa dan istilah yang digunakan penduduk
setempat.
b) Nama jalan yang ditulis harus sesuai dengan arah jalan tersebut.
c) Nama kota ditulis dengan empat cara, yaitu :
-

Di bawah simbol kota

Di atas simbol peta

Di sebelah kiri simbol peta

Di sebelah kanan simbol peta

8. Proyeksi Peta
Proyeksi peta adalah suatu sistem ayng memberikan antara posisi titik-titik di
Bumi dan di peta. Permasalahan utama dalam proyeksi peta adalah penyajian bidang
lengkung permukaan bumi ke bidang datar. Bidang lengkung tidak dapat
dibentangkan menjadi bidang datar tanpa mengalami perubahan (distorsi). Cara
penggambaran dari bidang lengkung bentk bidang datar dilakukan dengan
menggunakan rumus matematika. Secara umum, proyeksi peta dapat digolongkan
berdasarkan pertimbangan ekstrinsik dan instrinsik.
a) Pertimbangan Ekstrinsik
1) Bidang Proyeksi
Ditinjau dari macam bidang proyeksi yang digunakan, sistem proyeksi peta dapat dibedakan
menjadi:
a) sistem proyeksi azimuthal (azimuthal zenithal projection);
b) sistem proyeksi kerucut (conical projection);
c) sistem proyeksi silinder (mercator projection)
2) Persinggungan
Ditinjau dari persinggungannya, proyeksi peta dapat dibedakan menjadi:
a) tangen,yaitu apabila bola Bumi bersinggungan dengan bidang proyeksi;
19

b) scan, yaitu apabila bola Bumi berpotongan dengan bidang proyeksi;


c) polysuperficial terdiri atas banyak bidang proyeksi.
3) Posisi Sumbu Simetri terhadap Bidang Proyeksi
Ditinjau dari posisi sumbu simetri terhadap bidang proyeksi, proyeksi peta dapat
dibedakan menjadi :
a) proyeksi normal apabila sumbu simetri berimpit dengan sumbu bumi;
b) proyeksi miring apabila sumbu simetri membentuk sudut dengan sumbu
bumi;
c) proyeksi transversal apabila sumbu simetri tegak lurus sumbu bumi atau
terletak pada bidang ekuator.
b) Pertimbangan Intrinsik
1) Sifat-Sifat Asli
Ditinjau dari sifat-sifat asli yang dipertahankan, proyeksi peta dapat dibedakan
menjadi:
a) proyeksi ekuivalen apabila luas daerah dipertahankan sama, artinya luas di
atas peta sama dengan luas di atas muka bumi setelah dikalikan skala;
b) proyeksi konform apabila sudut-sudut dipertahankan sama;
c) proyeksi ekuidistant apabila jarak dipertahankan sama, artinya jarak di atas
peta sama dengan jarak di atas muka bumi setelah dikalikan skala.
2) Generasi
Ditinjau dari generasinya, proyeksi peta dapat dibedakan menjadi:
a) Geometris yaitu proyeksi perspektif atau proyeksi sentral;
b) Matematis tidak dilakukan proyeksi, semuanya diperoleh dengan perhitungan
matematis;
c) semi Geometris sebagian peta diproyeksikan secara geometris dan sebagian titiktitik diperoleh dengan hitungan matematis.

9. Inset peta
Inset adalah peta kecil tambahan dan memberikan kejelasan yang terdapat di dalam peta.
Inset bersifat menjelaskan wilayah pada peta utama.
Berdasarkan fungsinya, inset di bedakan menjadi 3 macam yaitu :
1) Inset yang berfungsi untuk menunjukkan lokasi relatif wilayah yang tergambar pada peta
utama. Inset ini memiliki skala lebih kecil dari petautama, untuk menjelaskan
letak/hubungan antara wilayah pada petautama dengan wilayah lain di sekelilingnya.
20

Misalnya : lokasi relatif Pulau Kalimantan sebagai peta utama terlihat posisinya
dengan pulau-pulau lain di sekitarnya pada inset peta wilayah Indonesia
2) Inset yang berfungsi memperbesar/memperjelas sebagian kecil wilayah pada peta
utama. Inset ini memiliki skala lebih besar dari peta pokok, mempunyai kegunaan
untuk menjelaskan bagian dari peta pokok yang dianggap penting.Misalnya : lokasi permukiman
yang penting pada suatu kota diperbesar sehingga menjadi lebih jelas.
3) Inset yang berfungsi untuk menyambung wilayah pada peta utama.Inset ini memiliki
skala sama besar dengan peta utama dan juga merupakan peta utama yang disambung. Fungsi
menyambung ini bertujuan untuk :
a) Menggambarkan wilayah pada peta utama yang terpotong karena keterbatasan pada media
kertas/halaman.
b) Menggambar wilayah yang terpencar

10. Garis Tepi Peta (Border)


Garis tepi merupakan garis pembatas peta yang mengelilingi peta,berguna untuk membantu
saat menggambar pulau, kota, ataupun wilayah yang dimaksud tepat ditengah-tengahnya

21