Anda di halaman 1dari 9

Kaidah-kaidah Bioetik dalam Kedokteran

Eirene Megahwati Paembonan


Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Alamat Korespondensi : Jalan Arjuna Utara No. 6 Jakarta Barat 11510
eirene.paenbonan@civitas.ukrida.ac.id
Pendahuluan
Bioetik adalah biologi dan ilmu kedokteran yang menyangkut masalah di bidang
kehidupan, tidak hanya memperhatikan masalah-masalah yang terjadi pada masa sekarang,
tetapi juga memperhitungkan kemungkinan timbulnya pada masa yang akan datang. Tujuan
pendidikan etika dalam pendidikan dokter adalah untuk menjadikan calon dokter lebih
manusiawi dengan memiliki kematangan intelektual dan emosinonal.Dengan adanya tuntutan
zaman yang mengharuskan profesi dalam dunia kedokteran yang semakin berkompetensi
maka seorang dokter semakin dituntut untuk mempunyai kemampuan di atas standar
kompetensi.Termasuk salah satunya etika-etika kedokteran,oleh karena itu kita sebagai
seorang calon dokter perlu menguasai dan memahami kaidah-kaidah dasar dalam etika
kedokteran.Maka dalam makalah ini, saya mencoba membahas tentang penerapan kaidahkaidah dasar bioetik.
Pembahasan
Kaidah-kaidah bioetik merupakah sebuah hukum mutlak bagi seorang dokter. Seorang
dokter wajib mengamalkan prinsip-prinsip yang ada dalam kaidah tersebut. Dalam bioetik
kita mengenal 4 kaidah-kaidah dasar kedokteran yaitu :

Beneficence
Dalam kaidah ini, sebagai seorang dokter kita harus melakukan yang terbaik untuk
pasien, sejatinya berbuat baik tanpa memikirkan untung dan rugi yang akan kita
dapat. Berbuat baik tanpa pamrih adalah hal yang paling penting dalam kaidah ini.
Kaidah-kaidah yang terkandung dalam beneficence ini adalah :
o Mengutamakan altruisme (menolong tanpa pamrih, rela berkorban untuk
kepentintingan orang lain)
o Menjamin nilai pokok harkat dan martabat manusia

o Memandang pasien/keluarga/sesuatu tidak hanya sejauh menguntungkan


dokter
o Mengusahakan agar kebaikan/manfaatnya lebih banyak dibandingkan dengan

keburukannya
o Paternalisme bertanggung jawab/berkasih sayang
o Menjamin kehidupan-baik-minimal manusia
o Pembatasan goal based
o Maksimalisasi pemuasan kebahagiaan/preferensi pasien
o Minimalisasi akibat buruk
o Kewajiban menolong pasien gawat darurat
o Menghargai hak-hak pasien secara keseluruhan
o Tidak menarik honorarium diluar kepantasan
o Maksimalisasi kepuasan tertinggi secara keseluruhan
o Mengembangkan profesi secara terus menerus
o Memberikan obat berkhasiat namun murah
o Menerapkan Golden Rule Principle
Non-maleficence
Dalam kaidah ini, posisi seorang dokter adalah dokter tidak memperburuk keadaan,
dikaidah ini pasiennya adalah pasien emergency yang terancam akan kehilangan
bagian tubuhnya jika tidak segera ditangani tetapi dokter disini akan menangani
sehingga memperkecil keburukan kehilangan sesuatu tersebut. Kaidah-kaidah yang
terkandung dalam non-maleficence ini adalah :
o Menolong pasien emergency
o Kondisi untuk menggambarkan kriteria ini adalah
Pasien dalam keadaan amat berbahaya (darurat) atau berisiko

o
o
o
o
o
o
o
o
o
o
o

hilangnya sesuatu yang penting (gawat)


Dokter sanggup mencegah bahaya atau kehilangan tersebut
Tindakan kedokteran tadi terbukti efektif
Manfaat bagi pasien lebih banyak daripada kerugian dokter (hanya

mengalami risiko minimal)


Mengobati pasien yang luka
Tidak membunuh pasien (tidak melakukan euthanasia)
Tidak menghina/mencaci maki/memanfaatkan pasien
Tidak memandang pasien hanya sebagai obyek
Mengobati secara tidak proporsional
Mencegah pasien dari bahaya
Menghindari misrepresentasi dari pasien
Tidak membahayakan kehidupan pasien karena kelalaian
Memberikan semangat hidup
Melindungi pasien dari serangan
Tidak melakukan white collar crime dalam bidang kesehatan/kerumah-sakitan

yang merugikan pihak pasien/keluarganya


Autonomi

Dalam kaidah ini, dokter benar-benar menghargai dan menghormati martabat dan hak
dari pasien. Pasien juga berhak menentukan nasibnya sendiri dan sebagai seorang
dokter kita harus menghargai keputusan pasien tersebut. Dalam kaidah ini terdapat
prinsip :
o Menghargai hak menentukan nasib sendiri, menghargai martabat pasien
o Tidak menginterverensi pasien dalam membuat keputusan (pada kondisi
o
o
o
o
o
o
o
o

elektif)
Berterus terang
Menghargai privasi
Menjaga rahasia pasien
Menghargai rasionalitas pasien
Melaksanakan informed consent
Mebiarkan pasien dewasa dan kompeten mengambil keputusan sendiri
Tidak menginterverensi atau menghalangi autonomi pasien
Mencegah pihak lain menginterverensi pasien dalam membuat keputusan,

termasuk keluarga pasien sendiri


o Sabar menunggu keputusan yang akan diambil pasien pada kasus non-

emergency
o Tidak berbohong kepada pasien meskipun demi kebaikan pasien
o Menjaga hubungan (kontrak)
Justice
Dalam kaidah ini dokter dituntut memperlakukan pasien sama rata, tidak membedabedakan pasien secara ekonomi sosial maupun budaya. Dokter harus adil
memperlakukan semua pasiennya. Justice memiliki kaidah-kaidah diantaranya :
o Memberlakukan segala sesuatu secara universal
o Mengambil porsi terakhir dari proses membagi yang telah ia lakukan
o Mengambil kesempatan yang sama terhadap pribadi dalam posisi yang sama
o Menghargai hak sehat pasien (affordability, equality, accesibility, availability,
o
o
o
o
o
o
o
o

quality)
Menghargai hak hukum pasien
Menghargai hak orang lain
Menjaga kelompok rentan (yang paling merugikan)
Tidak membedakan pelayanan pasien atas dasar SARA, status sosial, dll
Tidak melakukan penyalahgunaan wewenang
Memberikan kontribusi yang relatif sama dengan kebuthuna pasien
Meminta partisipasi pasien sesuai dengan kemampuannya
Kewajiban mendistribusi keuntungan dan kerugian (biaya, beban, sanksi)

secara adil
o Mengembalikan hak kepada pemiliknya pada saat yang tepat dan kompeten
o Tidak memberi beban berat secara tidak merata tanpa alasan sah/tepat
o Menghormati hak populasi yang sama-sama rentan penyakit/gangguan
kesehatan

o Bijak dalam makroalokasi


Dalam kasus dr.Bagus ini banyak kaidah-kaidah yang terdapat didalamnya. Makalah
ini akan membahasnya secara berparagraf. Setiap paragraf memiliki kaidah yang berbedabeda satu sama yang lain. Berikut adalah uraian dari kasus ini :
Paragraf 1
Dokter Bagus telah lama bertugas disuatu desa terpencil yang sangat jauh dari
kota. Sehari harinya ia bertugas disebuah Puskesmas yang hanya ditemani oleh
seorang mantri, hal ini merupakan pekerjaan yang cukup melelahkan karena setiap
harinya banyak warga desa yang datang berobat karena Puskesmas tersebut
merupakan satu satunya sarana kesehatan yang ada. Dokter Bagus bertugas dari pagi
hari sampai sore hari tetapi tidak menutup kemungkinan ia harus mengobati pasien
dimalam hari bila ada warga desa yang membutuhkan pertolongannya.
Dalam paragraf pertama ini terdapat kaidah beneficence karena dr.Bagus
menunjukkan kaidah altruismenya, dengan ia rela berkorban demi kepentingan orang
lain terbukti karena ia menerima ditempatkan didesa terpencil. Ia juga menolong
tanpa pamrih karena ia bekerja dari pagi hingga sore tanpa mengenal lelah, ia bahkan
masih mengobati pasien di saat malam hari jika dibutuhkan oleh warga sekitar.
Paragraf 2
Pada suatu hari, ketika ia datang ke Puskesmas sudah ada 5 orang pasien yang
sedang mengantri. Dokter Bagus memeriksa pasien sesuai nomor urut pendaftaran,
hal ini dilakukannya agar pemeriksaan pasien berjalan tertib teratur. Pasien pertama
adalah seorang ibu, datang dengan keluhan demam 2 hari yang lalu disertai batuk dan
pilek. Setelah memeriksa pasien tersebut dr.Bagus memberikan beberapa macam obat
dan vitamin serta nasehat agar istirahat yang cukup.
Dalam paragraf kedua ini kaidah yang diterapkan adalah kaidah-kaidah
justice, karena dokter memberikan kesempatan yang sama bagi para pasiennya
dengan membuat antrian, dokter juga menghargai hak setiap pasien untuk sehat
karena dokter memberikan beberapa obat dan juga vitamin pada pasiennya.
Paragraf 3
Pasien kedua adalah seorang anak balita tampak lemah digendong oleh
ibunya. Ibunya mengatakan bahwa anak tersebut sudah 2 hari buang air besar. Setelah
memeriksakan anak tersebut, dr.Bagus menyarankan agar anak tersebut dirawat di
rumah sakit yang berada dikota. Namun ibu tersebut menolak karena tidak
mempunyai uang untuk berobat. baiklah kalau begitu saya akan memberi ibu obat
dan ORALIT untuk anak ibu, nanti ibu berikan obat tersebut sesuai dengan aturan dan
usahakan anak ibu minum oralit sesering mungkin, nanti sore setelah selesai tugas

saya akan mampir ke rumah ibu untuk melihat kondisi keadaan anak ibu kata
dr.Bagus. pak mantri tolong bikinkan puyer untuk anak ibu ini dan setelah ini tolong
jelaskan cara membuat air oralit pada ibu ini kata dr.Bagus kepada pak mantri.
Dalam paragraf ketiga ini terdapat dua kaidah, kaidah yang pertama yaitu
kaidah autonomi dimana dokter menghargai hak pasien untuk menentukan nasibnya
sendiri, karena orangtua dari anak tersebut menolak anaknya dirawat di RS yang
berada di kota namun dokter Bagus menghargai hal tersebut. Kaidah yang kedua yaitu
kaidah beneficence dimana dokter memberikan obat yang murah namun berkhasiat
bagi kesembuhan anak ibu tersebut, dokter juga menunjukkan altruismenya dimana
dokter Bagus rela berkorban demi kepentingan orang lain karena dokter akan mampir
ke rumah ibu tersebut untuk melihat kondisi anaknya saat selesai bekerja, dan tanpa
lelah ia melakukannya.
Paragraf 4
Pasien ketiga adalah seorang anak laki-laki. Pasien tersebut menderita
keganasan stadium lanjut. Sebelumnya pasien tersebut pernah dilakukan pembedahan
dirumah sakit. Namun keluarga pasien menghentikan pengobatannya lebih lanjut.
Orangtua pasien bukanlah orang kaya sehingga mereka tak mampu membeli obatobatan kemoterapeutik yang mahal. Tetapi orangtua pasien ingin anaknya mendapat
pengobatan lebih lanjut. Dokter Bagus menjelaskan kepada orangtuanya bahwa
kondisi anaknya tidak dapat ditingkatkan dan sangat sulit bagi mereka untuk obatobatan mahal tersebut. Dokter Bagus ragu apakah ia harus mengatakan pada mereka
untuk tidak usah membeli obat itu. Karena berdasarkan pengetahuannya pada
penyakit ini, beberapa pasien meninggal walaupun telah diterapi dengan kemoterapi
penuh. Pada pemeriksaan fisik pada pasien ini telah timbul asites dan pasien tampak
sesak. Dokter Bagus menjelaskan kepada orang tua pasien bahwa kondisi anaknya
kurang baik dan kemungkinan untuk sembuh sangat kecil walaupun diberikan obatobat kemoterapeutik. Pak, yang hanya saya dapat lakukan adalah memberi obat
obatan penunjang agar anak bapak tidak terlalu menderita kata dr.Bagus sambil
menyerahkan obat kepada orang tua pasien
Dalam paragraf keempat ini terdapat dua kaidah bioetik diantaranya kaidah
beneficence dimana dokter menjamin kehidupan minimal manusia dengan
memberikan obat-obatan penunjung agar dapat meminimalisasi akibat buruk yang
akan di dapati nantinya. Yang kedua yaitu kaidah non-maleficence dimana dokter
menghindari misrepesentai dari pasien dengan cara menjelaskan pada keluarga pasien

kondisi pasien kurang baik dan kemungkinan untuk sembuh itu kecil dan keluarga
pasien pun menerima penjelasan dari dokter.
Paragraf 5
Saat mempersilahkan pasien ke empatnya masuk ke ruang periksa, dr.Bagus
terkejut karena serombongan orang memaksa masuk sambil menggotong seorang
pemuda yang tidak sadarkan diri. Dokter Bagus meminta kesediaan pasien keempat
untuk menunggu diluar karena ia akan terlebih dahulu memberi pertolongan pada
pemuda tersebut. Ketika yang lain sibuk membaringkan pemuda yang tidak sadarkan
diri tersebut, salah satu orang mengatakan bahwa pemuda tersebut telapak tangan
sebelah kanannya masuk kedalam mesin penggilingan padi dan setelah 15 menit
kemudian telapak tangan pemuda tersebut baru dapat dikeluarkan dari mesin
penggilingan padi. Pada pemeriksaan, dr.Bagus mendapatkan telapak tangan pemuda
tersebut tampak bengkak dan pada pemeriksaan lebih lanjut ternyata tulang-tulang
ditelapak tangan tersebut hancur. Dokter Bagus bertanya kepada orang-orang yang
mengantar pemuda tadi apakah diantara mereka ada keluarga dari pemuda tersebut.
Dari serombongan orang tadi keluar seorang perempuan, ia mengatakan bahwa ia
adalah istri dari pemuda tersebut. Dokter Bagus menjelaskan keadaan telapak tangan
kanan suaminya dan tindakan yang harus dilakukan adalah amputasi. Walaupun
dengan berat hati, istri pemuda tersebut menyetujui tindakan yang akan dilakukan
dokter Bagus. Sambil bersimbah peluh, dokter Bagus akhirnya menyelesaikan
tindakan amputasi telapak tangan pemuda yang mengalami kecelakaan tersebut.
Melihat kondisi pasien yang baik dan stabil, akhirnya pasien diperbolehkan pulang
dengan diberi beberapa macam obat dan anjuran agar besok datang kembali untuk
kontrol.
Dalam paragraf kelima ini terdapat kaidah-kaidah non-maleficence dimana
dokter bagus menolong pasien yang emergency, pasiennya juga dalam keadaan
berbahaya dan dapat berisiko kehilangan sesuatu tetapi dokter menunjukkan bahwa ia
dapat mengatasinya dengan cara amputasi agar dapat meminimalisasi rasa sakitnya.
Dokter juga mengobati luka dari pasien serta menghindari misrepresentasi dari pasien
dengan menjelaskan pada istri dari pasien keadaan pasien yang sebenarnya dan apa
tindakan yang harus di ambil segera dan tepat.
Paragraf 6
Pasien keempat adalah seorang bapak berusia 55 tahun diantar oleh anak lakilakinya datang dengan keluhan nyeri pada ulu hati dan terasa berat pada dada serta
punggungnya. Dari hasil pemeriksaan tekanan darah 150/90 dan nadi cepat tidak

teratur. Dokter bagus curiga pasien tersebut menderita penyakit jantung sehingga ia
membuat surat rujukan kerumah sakit yang berada di kota. Setelah menerima
penjelasan tentang kemungkinan penyakit yang dideritanya, pasien pulag dengan
membawa surat rujukan tersebut.
Dalam paragraf keenam ini terdapat kaidah beneficence yaitu dokter
mengusahakan agar manfaat dan kebaikan yang di dapat pasien lebih banyak
dibandingkan dengan keburukannya karena dokter menyarankan pada pasien untuk
memeriksakan diri lebih lanjut karena ingin memastikan apakah dugaan dari dokter
tersebut benar atau tidak. Dokter juga meminimalisai akibat buruk yang akan terjadi
pada pasien.
Paragraf 7
Waktu telah memasuki siang hari, pasien kelima adalah seorang ibu muda
yang sangat cerewet, karena begitu masuk si ibu tadi sudah mengeluh berbagai
macam keluhan. Dokter Bagus tidak menanggapi keluhan si ibu muda tadi dan segera
membuat surat rujukan untuk ibu tersebut ke LAB KLINIK Cepat-cepat
langganannya yang berada dikota, jauh dari puskesmas. Dari Lab Klinik ini dr.Bagus
mendapat sejumlah uang ternyata sejajar jumlahnya dengan pasien yang ia kirim ke
situ. Pernah dua bulan yang lalu dengan 20 pasien yang ia kirim, ia memperoleh Rp.
300.000,Dalam paragraf ini terdapat bahwa dokter melanggar kaidah-kaidah bioetik,
diantaranya yang pertama melanggar kaidah non-maleficence dimana dokter
memandang pasiennya hanya sebagai objek untuk mencari keuntungan hanya karena
jengkel melihat ibu tersebut yang sangat cerewet. Dokter juga melakukan white collar
crime yang merugikan pasien dimana dokter tanpa memeriksa pasien langsung
membuat surat rujukan yang sebenarnya tidak perlu untuk dirujuk dan hal tersebut
merugikan pasien karena harus mengeluarkan uang yang seharusnya tidak digunakan
untuk memeriksakan diri di lab. Yang kedua yaitu dokter Bagus melanggar kaidah
autonomi yaitu tidak menjaga hubungan kontrak karena dengan memberikan surat
rujukan tersebut dokter melepaskan tanggungjawabnya terhadap pasien tersebut.
Paragraf 8
Setelah pasien kelima, dokter Bagus melihat keluar ruangan, tampak antrian
pasien yang masih banyak. pak mantri tolong umumkan ke pasien, saya akan
istirahat makan sejenak kata dr.Bagus. Demikianlah kegiatan sehari hari dr.Bagus
dan tanpa terasa sudah 25 tahun dokter Bagus mengabdi di desa tersebut.

Dalam paragraf yang kedelapan ini dokter melanggar kaidah beneficence


dimana sokter tidak mengutamakan altruisme, karena dokter tidak rela berkorban
demi kepentingan orang lain, dokter tahu bahwa masih banyak pasien yang mengantri
namun demi kepentingannya untuk beristirahat dokter menyuruh pasiennya
menunggu hingga ia selesai beristirahat.
Kesimpulan
Dari pembahasan kasus ini kita dapat menyimpulkan bahwa dokter Bagus telah
bekerja dengan memenuhi kaidah-kaidah bioetik sesuai dengan prinsip-prinsip dari tiap-tiap
kaidah. Dokter Bagus melaksanakan kaidah beneficence dimana dokter Bagus mengabdikan
diri di desa tersebut dan bekerja tanpa mengenal lelah hanya untuk menolong warga desa
yang sakit. Dokter Bagus juga melaksanakan kaidah non-maleficencenya dimana dokter
menolong pasiennya yang emergency dan menanganinya dengan baik tanpa memperburuk
akibat-akibat yang ada. Dokter bagus juga memenuhi kaidah autonominya dengan
menghargai keputusan dari tiap pasiennya untuk menentukan nasib mereka sendiri,
memberikan kesempatan pada pasiennya untuk mempertimbangkan semuanya. Dokter Bagus
juga memberlakukan kaidah justice dalam pekerjaannya dimana dokter menghargai hak sehat
setiap pasien dan memberi kesempatan yang sama terhadap setiap pasiennya dalam porsi
yang sama. Dengan melakukan segala kaidah-kaidah bioetik dalam tugasnya dokter Bagus
dapat menciptakan susana nyaman dan baik dalam puskesmas tersebut.

Daftar Pustaka
1. Triharnoto. The doctor. Jakarta: Pustaka anggrek, 2009.h.13
2. Chang W. Bioetika. Yogyakarta: Kanisius, 2009.h.8
3. Daldiyono. Bagaimana dokter berpikir dan bekerja. Jakarta: Gramedia pustaka utama,
2006.h.403 sampai 6
4. Hanafiah MJ, Etika kedokteran dan hukum kesehatam. Edisi ke-4. Jakarta: EGC,
2009.h.3
5. Brooker C. Ensiklopedia keperawatan. Edisi ke-1. Jakarta: EGC, 2005.h.124