Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Fimosis adalah preputium penis yang tidak dapat diretraksi (ditarik) ke proksimal
sampai ke korona glandis, bisa dikarenakan keadaan sejak lahir atau karena patologi. Pada
usia bayi glans penis dan prepusium terjadi adesi sehingga lengket jika terdapat luka pada
bagian ini maka akan terjadi perlengketan dan terjadi fimosis, biasanya pada bayi itu
adalah hal yang wajar karena keadaan tersebut akan kembali seperti normal dengan
bertambahnya umur dan produksi hormon.
Beberapa penelitian mengatakan kejadian Fimosis saat lahir hanya 4% bayi yang
preputiumnya sudah bisa ditarik mundur sepenuhnya sehingga kepala penis terlihat utuh.
Selanjutnya secara perlahan terjadi deskuamasi sehingga perlekatan itu berkurang. Sampai
umur 1 tahun, masih 50% yang belum bisa ditarik penuh. Berturut-turut 30% pada usia 2
tahun, 10% pada usia 4-5 tahun, 5% pada umur 10 tahun, dan masih ada 1% yang bertahan
hingga umur 16-17 tahun. Dari kelompok terakhir ini ada sebagian kecil yang bertahan
secara persisten sampai dewasa bila tidak ditangani.
Bila Fimosis menghambat kelancaran berkemih seperti pada ballooning maka
sisa-sisa urin mudah terjebak pada bagian dalam preputium dan kandungan glukosa pada
urine menjadi ladang subur bagi pertumbuhan bakteri, maka berakibat terjadi infeksi
saluran kemih (UTI).
Berdasarkan data tahun 1980-an dilaporkan bahwa anak yang tidak disirkumsisi
memiliki resiko menderita UTI 10-20 kali lebih tinggi. Tahun 1993, dituliskan review
bahwa resiko terjadi sebesar 12 kali lipat. Tahun 1999 dalam salah satu bagian dari
pernyataan sirkumsisi disebutkan bahwa dari 100 anak pada usia 1 tahun. Dua laporan
jurnal tahun 2001 dan 2005 mendukung bahwa sirkumsisi dibawah resiko UTI.
I.2.

Rumusan Masalah
1. Apakah pengertian fimosis ?
2. Apakah penyebab terjadinya fimosis ?
3. Bagaimana gambaran klinik dari fimosis ?
4. Bagaimana tatalaksana fimosis ?

I.3.

Tujuan Penulisan
1

I.3.1

Tujuan Umum
Tujuan umum dari pembuatan referat ini adalah untuk memberikan pengetahuan

mengenai fimosis kepada tenaga medis khususnya dokter dan mahasiswa kepaniteraan
klinik bagian bedah.
I.3.2. Tujuan Khusus
1. Mengetahui pengertian fimosis.
2. Mengetahui penyebab terjadinya fimosis.
3. Mengetahui bagaimana gambaran klinik dari fimosis.
4. Mengetahui tatalaksana fimosis.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II.1 Struktur AnatomiOrgan Genitalia Pria

Organ Genital Luar

Gambar 1.Organ Genitalia Pria


Penis

Gambar 2. Anatomi penis


3

Secara anatomis, penis terbagi atas radix, corpus dan glans penis (Gambar 2).
Ketiganya tersusun dari tiga korpus berbentuk silinder yang mengandung jaringan
kavernosa erektil, yakni sepasang corpus cavernosum yang terletak pada bagian dorsal dan
satu corpus spongiosum yang terletak pada bagian ventral. Setiap corpus cavernosum
dilapisi oleh lapisan fibrosa yang disebut tunica albuginea dan kedua corpus cavernosum
dipisahkan oleh septum penis. Di sebelah superfisial tunica albuginea terdapat fascia
profunda penis (fascia Buck), yang merupakan lanjutan dari fascia perineal profunda yang
membentuk lapisan membranosa yang kuat yang menutupi dan melekatkan keduacorpus
cavernosa dengan corpus spongiosum. Kedua corpus cavernosa membentuk crus penis
pada bagian posterior.
Corpus spongiosum yang terletak di bagian bawah (bagian ventral)dan di dalamnya
terdapat uretra pars spongiosa. Pada bagian distal, corpus spongiosum membesar dan
membentuk glans penis. Tepi glans penis merupakan proyeksi ujung corpus cavernosum
yang membentuk corona glandis. Corona glandis memisahkan basis glans dan corpus
penis.Di ujung dari glans penis terdapat bagian uretra anterior berupa celah terbuka yang
disebut orificium urethra externa.
Gambar 3. Penis potongan melintang

Kulit penis tipis dan berwarna lebih gelap dibanding kulit sekitarnya yang
dihubungkan dengan tunica albuginea oleh jaringan ikat longgar. Pada bagian leher glans
penis, kulit dan fascia penis berlanjut sebagai dua lapisan kulit yang disebut prepusium.
Frenulum preputii merupakan lipatan pada bagian tengah yang berasal dari lapisan dalam
preputium ke permukaan uretral dari glans penis.

Gambar 4. Vaskularisasi penis


Vaskularisasi penis
Suplai darah arteri pada penis terutama berasal dari cabang arteri pudendus internus :

Arteri dorsalis penis : berjalan pada setiap sisi vena dorsalis penis pada dorsal
groove di antara corpus cavernosa, yang mensuplai darah menuju ke jaringan
fibrosa di sekitar corpus cavernosa, corpus spongiosum dan uretra spongiosa, dan

kulit penis.
Arteri profunda penis : menembus crura di bagian proksimal dan berjalan di
sebelah distal dekat dengan pusat corpus cavernosa, yang mensuplai jaringan

erektil pada struktur tersebut.


Arteri bulbaris : mensuplai daerah posterior (pars bulbosa) dari corpus spongiosum
dan uretra di dalamnya serta glandula bulbouretralis.
Cabang superfisial dan profunda dari arteri pudendus eksterna mensuplai darah ke

kulit penis, yang saling beranastomis dengan cabang dari arteri pudendus interna.
Darah yang berasal dari ruang cavernosus dialirkan oleh plexus venosus yang
bergabung dengan vena dorsalis penis profunda pada fascia Buck. Vena ini berjalan di
antara lamina dari ligamentum suspensorium, yang memasuki pelvis dimana selanjutnya
mengalir menuju plexus venosus prostatika. Darah yang berasal dari lapisan superfisial
penis mengalir menuju vena dorsalis penis superfisialis, dimana selanjutnya mengalir
menuju vena pudendus eksterna superficial.
Aliran limfa yang berasal dari kulit penis pada awalnya mengalir menuju
limfonodus inguinal superficialis. Sedangkan yang berasal dari glans penis dan uretra
6

spongiosa

bagian

distal

mengalir menuju ln.

inguinal profunda dan ln. iliaca

eksterna,

berasal dari corpus cavernosa

dan uretra spongiosa

bagian

menuju

proksimal

mengalir

dan

yang

ln.

iliaca

yakni

interna.
Penis dipersyarafi oleh 2

jenis

syaraf

syaraf otonom (para simpatis

dan

simpatis)

dan

syaraf somatik (motoris dan sensoris). Syaraf-syaraf simpatis dan parasimpatis berasal
dari hipotalamus menuju ke penis melalui medulla spinalis (sumsum tulang belakang).
Khusus syaraf otonom parasimpatis ke luar dari medulla spinalis (sumsum tulang
belakang) pada kolumna vertebralis di S2-4. Sebaliknya syaraf simpatis ke luar dari
kolumna vertebralis melalui segmen Th 11 sampai L2 dan akhirnya parasimpatis dan
simpatis menyatu menjadi nervus kavernosa. Syaraf ini memasuki penis pada pangkalnya
dan mempersyarafi otot-otot polos. Syaraf somatis terutama yang bersifat sensoris yakni
yang membawa impuls (rangsang) dari penis misalnya bila mendapatkan stimulasi yaitu
rabaan pada badan penis dan kepala penis (glans), membentuk nervus dorsalis penis yang
menyatu dengan syaraf-syaraf lain yang membentuk nervus pudendus.
II.2. FIMOSIS

II.2.1. Definisi
Menurut Ngastiyah (2005), fimosis adalah penyempitan pada prepusium.
Sedangkan menurut Purnomo (2000), fimosis adalah prepusium penis yang tidak dapat di
retraksi (ditarik ke proksimal sampai ke korona glanis).
Fimosis adalah suatu kelainan dimana prepusium penis yang tidak dapat diretraksi
(ditarik) ke proksimal sampai ke korona glandis. Fimosis dialami oleh sebagian besar bayi
baru lahir karena terdapat adhesi alamiah antara prepusium dengan glans penis.

Gambar 5. Fimosis
II.2.2. Etiologi
Fimosis dapat timbul kemudian setelah lahir. Hal ini berkaitan dengan tingkat
higienitas alat kelamin yang buruk, peradangan kronik glans penis dan kulit preputium
(balanoposthitis kronik), (Robbins, 2004) atau penarikan berlebihan kulit preputium
(forceful retraction). Pada fimosis kongenital umumya terjadi akibat terbentuknya jaringan
parut di prepusium yang biasanya muncul karena sebelumnya terdapat balanopostitis.
Apapun penyebabnya, sebagian besar fimosis disertai tanda-tanda peradangan penis distal
(Robbins, 2004).
Sedangkan fimosis pada bayi laki-laki yang baru lahir biasanya terjadi karena ruang
di antara kutup dan penis tidak berkembang dengan baik. Kondisi ini menyebabkan
prepusium menjadi melekat pada glans penis, sehingga sulit ditarik ke arah proximal.
Apabila stenosis atau retraksi tersebut ditarik dengan paksa melewati glans penis, sirkulasi
glans dapat terganggu hingga menyebabkan kongesti, pembengkakan, dan nyeri distal
penis atau biasa disebut parafimosis (Robbins, 2004).
II.2.3. Epidemiologi
Berdasarkan data epidemiologi, fimosis banyak terjadi pada bayi atau anak-anak
hingga mencapai usia 3 atau 4 tahun. Sedangkan sekitar 1-5% kasus terjadi sampai pada
usia 16 tahun .
Normalnya hingga usia 3-4 tahun penis tumbuh dan berkembang, dan debris yang
dihasilkan oleh epitel prepusium (smegma) mengumpul di dalam prepusium dan perlahanlahan memisahkan prepusium dari glan penis. Ereksi penis yang terjadi secara berkala
membuat prepusium menjadi retraktil dan dapat ditarik ke proksimal. Pada saat usia 3
tahun, 90% prepusium sudah dapat diretraksi (Purnomo, 2011).

Konginetal (fimosis fisiologis)


8

Fimosis kongenital (fimosis fisiologis) timbul sejak lahir sebenarnya merupakan


kondisi normal pada anak-anak, bahkan sampai masa remaja. Kulit preputium selalu
melekat erat pada glans penis dan tidak dapat ditarik ke belakang pada saat lahir, namun
seiring bertambahnya usia serta diproduksinya hormon dan faktor pertumbuhan terjadi
proses keratinisasi lapisan epitel dan deskuamasi antara glans penis dan lapis glan dalam
preputium sehingga akhirnya kulit preputium terpisah dari glan penis. Suatu penelitian
mendapatkan bahwa hanya 4% bayi seluruh kulit preputiumnya dapat ditarik ke belakang
penis pada saat lahir, namun mencapai 90% pada saat usia 3 tahun dan hanya 1% laki-laki
berusia 17 tahun yang masih mengalami fimosis kongenital. Walaupun demikian,
penelitian

lain

mendapatkan

hanya

20%

dan

200

anak

laki-laki

berusia

5-13 tahun yang seluruh kulit preputiumnya dapat ditarik ke belakang penis.

Fimosis didapat (fimosis patologik, fimosis yang sebenarnya, True Phimosis)


Hal ini berkaitan dengan kebersihan hygiene alat kelamin yang buruk, peradangan

kronik glans penis dan kulit preputium (balanoposthitis kronik), atau penarikan berlebihan
kulit preputium (forceful retraction) pada fimosis kongenital yang akan menyebabkan
pembentukkan jaringan ikat (fibrosis) dekat bagian kulit preputium yang membuka.
II.2.4. Patogenesis
Normalnya hingga usia 3-4 tahun penis tumbuh dan berkembang, dan debris yang
dihasilkan oleh epitel prepusium (smegma) mengumpul didalam prepusium dan perlahanlahan memisahkan prepusium dari glans penis. Ereksi penis yang terjadi secara berkala
membuat prepusium menjadi retraktil dan dapat ditarik ke proksimal. Pada saat usia 3
tahun, 90% prepusium sudah dapat diretraksi.
Pada kasus fimosis, lubang yang terdapat di prepusium sempit sehingga tidak bisa
ditarik mundur dan glans penis sama sekali tidak bisa dilihat. Kadang hanya tersisa
lubang yang sangat kecil di ujung prepusium. Pada kondisi ini, akan terjadi fenomena
balloning dimana prepusium mengembang saat berkemih karena desakan pancaran
urine yang tidak diimbangi besarnya lubang di ujung prepusium. Bila fimosis menghambat
kelancaran berkemih, seperti pada balloning maka sisa-sisa urin mudah terjebak di dalam
prepusium. Adanya kandungan glukosa pada urine menjadi pusat bagi pertumbuhan
bakteri. Karena itu, komplikasi yang paling sering dialami akibat fimosis adalah infeksi
saluran kemih (ISK). ISK paling sering menjadi indikasi sirkumsisi pada kasus fimosis.

Fimosis juga terjadi jika tingkat higienitas rendah pada waktu BAK yang akan
mengakibatkan terjadinya penumpukan

kotoran-kotoran

pada

glans penis sehingga

memungkinkan terjadinya infeksi pada daerah glans penis dan prepusium (balanitis) yang
meninggalkan jaringan parut sehingga prepusium tidak dapat ditarik kebelakang.
Pada lapisan dalam prepusium terdapat kelenjar sebacea yang memproduksi
smegma. Cairan ini berguna untuk melumasi permukaan prepusium. Letak kelenjar ini di
dekat pertemuan prepusium dan glans penis yang membentuk semacam lembah di
bawah korona glans penis (bagian kepala penis yang berdiameter paling lebar). Di
tempat ini terkumpul keringat, debris/kotoran, sel mati dan bakteri. Bila tidak
terjadi fimosis, kotoran ini mudah dibersihkan. Namun pada kondisi fimosis, pembersihan
tersebut sulit dilakukan karena prepusium tidak bisa ditarik penuh ke belakang. Bila yang
terjadi

adalah

perlekatan

prepusium

dengan

glans penis,

debris

dan

sel

mati yang terkumpul tersebut tidak bisa dibersihkan.


Ada pula kondisi lain akibat infeksi yaitu balanopostitis. Pada infeksi ini terjadi
peradangan pada permukaan preputium dan glans penis. Terjadi pembengkakan kemerahan
dan produksi pus di antara glans penis dan prepusium. Meski jarang, infeksi ini bisa terjadi
pada diabetes.
II.2.5. Manifestasi Klinis
Fimosis menyebabkan gangguan aliran urin berupa sulit kencing, pancaran urine
mengecil, menggelumbungnya ujung prepusium penis pada saat miksi, dan menimbulkan
retensi urine. Higiene lokal yang kurang bersih menyebabkan terjadinya infeksi pada
prepusium (postitis), infeksi pada glans penis (balanitis) atau infeksi pada glans dan
prepusium penis (balanopositis).
Kadangkala pasien dibawa berobat oleh orang tuanya karena ada benjolan lunak di
ujung penis yang tak lain adalah korpus smegma yaitu timbunan smegma di dalam sakus
prepusium penis. Smegma terjadi dari sel-sel mukosa prepusium dan glans penis yang
mengalami deskuamasi oleh bakteri yang ada di dalamnya (Purnomo, 2011).
Adapun tanda dan gejala dari Fimosis, yaitu:
a. Penis membesar dan menggelembung akibat tumpukan urin
b. Kadang-kadang keluhan dapat berupa ujung kemaluan menggembung saat mulai
miksi yang kemudian menghilang setelah berkemih. Hal tersebut disebabkan oleh
karena urin yang keluar terlebih dahulu tertahan dalam ruangan yang dibatasi oleh
kulit pada ujung penis sebelum keluar melalui muaranya yang sempit.
10

c. Biasanya bayi menangis dan mengejan saat BAK karena timbul rasa sakit.
d. Kulit penis tak bias ditarik kea rah pangkal ketika akan dibersihkan
e. Air seni keluar tidak lancar. Kadang-kadang menetes dan kadang-kadang
memancar dengan arah yang tidak dapat diduga
f. Bisa juga disertai demam
g. Iritasi pada penis
II.2.6. Pemeriksaan Penunjang
Pada klien dengan fimosis pemeriksaan yang perlu dilakukan sebagai penunjang dalam
pengumpulan data adalah:
1

Pemeriksaan darah lengkap

USG penis

Pemeriksaan kadar TSH

II.2.7. Penatalaksanaan
Tidak dianjurkan melakukan dilatasi atau retraksi yang dipaksakan pada penderita
fimosis, karena akan menimbulkan luka dan terbentuk sikatriks pada ujung prepusium
sebagai fimosis sekunder. Fimosis yang disertai balanitis xerotika obliterans dapat dicoba
diberikan salep deksametasone 0,1% yang dioleskan 3 atau 4 kali. Diharapkan setelah
pemberian selama 6 minggu, prepusium dapat retraksi spontan. (Purnomo, 2011).
Bila fimosis tidak menimbulkan ketidaknyamanan dapat diberikan penatalaksanaan
non-operatif, misalnya seperti pemberian krim steroid topikal yaitu betamethasone selama
4-6 minggu pada daerah glans penis.
Pada fimosis yang menimbulkan keluhan miksi, menggelembungnya ujung
prepusium pada saat miksi, atau fimosis yang disertai dengan infeksi postitis merupakan
indikasi untuk dilakukan sirkumsisi. Tentunya pada balanitis atau postitis harus diberi
antibiotika dahulu sebelum dilakukan sirkumsisi. (Purnomo, 2011).
Fimosis yang harus ditangani dengan melakukan sirkumsisi bila terdapat obstruksi
dan balanopostitis. Bila ada balanopostitis, sebaiknya dilakukan sayatan dorsal terlebih
dahulu yang disusul dengan sirkumsisi sempurna setelah radang mereda.
Secara singkat teknik operasi sirkumsisi dapat dijelaskan sebagai berikut :
Setelah penderita diberi narkose, penderita di letakkan dalam posisi supine.
Desinfeksi lapangan pembedahan dengan antiseptik kemudian dipersempit dengan linen
steril. Preputium di bersihkan dengan cairan antiseptik pada sekitar glans penis. Preputium
di klem pada 3 tempat. Prepusium di gunting pada sisi dorsal penis sampai batas corona
11

glandis. Dibuat teugel pada ujung insisi. Teugel yang sama dikerjakan pada frenulum
penis. Preputium kemudian di potong melingkar sejajar dengan korona glandis. Kemudian
kulit dan mukosa dijahit dengan plain cut gut 4.0 atraumatik interupted. (Sjamsuhidajat,
2004)
Sumber lain mengatakan demikian:
1.

Tidak dianjurkan melakukan retraksi yang dipaksakan, karena dapat


menimbulkan luka dan terbentuk sikatriks pada ujung prepusium sehingga akan

2.

terbentuk fimosis sekunder.


Fimosis disertai balanitis

xerotica

obliterans

dapat

diberikan

salep

dexamethasone 0,1% yang dioleskan 3/4 kali, dan diharapkan setelah 6 minggu
3.

pemberian prepusium dapat diretraksi spontan.


Fimosis dengan keluhan miksi, menggelembungnya ujung prepusium pada saat
miksi atau infeksi postitis merupakan indikasi untuk dilakukan sirkumsisi,
dimana pada fimosis disertai balanitis/postitis harus diberikan antibiotika
terlebih dahulu.

Prinsip terapi dan perawatan sehari-hari


1.
2.

3.

4.
5.

Perawatan Rutin
Kebersihan penis
Penis harus dibasuh secara seksama dan bayi tidak boleh ditinggalkan berbaring
dengan popok basah untuk waktu yang lama.
Sirkumsisi
Pada pembedahan ini, kelebihan katup diangkat. Digunakan jahitan catgut
untuk mempertemukan kulit dengan mukosa dan mengikat pembuluh darah.
Perawatan Pra Bedah Rutin
Perawatan Pasca Bedah
Pembedahan ini bukan tanpa komplikasi dan Observasi termasuk adanya
perdarahan. Pembalut diangkat jika basah dengan urin dan lap panggul berguna
untuk membersihkan penis dan mendorong terjadinya penyembuhan. Popok
perlu sering diganti.
Komplikasi yang terjadi termasuk ulserasi meatus. Ini terjadi sebagai
akibat amonia yang membakar epithelium glans. Untuk menimbulkan nyeri
pada saat berkemih kadang-kadang adanya perkembangan perdarahan dan
retensi urin. Ulserasi meatus dapat menimbulkan stenosis meatus. Hal ini dapat
diterapi dengan meatotomi dan dilatasi.

6.

Bimbingan bagi orang tua.


12

Instruksi yang jelas harus diberikan pada orang tua jika bayi atau anak
siap untuk pulang kerumah. Ini termasuk hygiene dari daerah dan pengenalan
setiap komplikasi. Mereka juga harus diberikan pedoman untuk pencegahan
dermatitis amonia dan jika hal ini terjadi bagaimana untuk mengobatinya.
II.2.8. Penatalaksanaan Medis
1

Fimosis disertai balanitis xerotica obliterans dapat diberikan salep dexamethasone


0,1% yang dioleskan 3-4 kali sehari dan diharapkan setelah 6 minggu pemberian
prepusium dapat diretraksi spontan.

Dengan tindakan sirkumsisi, apabila fimosis sampai menimbulkan gangguan miksi


pada klien. Dengan bertambahnya usia, fimosis akan hilang dengan sendirinya.

II.2.9. Pencegahan
Untuk mencegah dapat dilakukan dengan melebarkan lubang prepusium dengan
cara mendorong kebelakang kulit prepusium tersebut dan biasanya akan terjadi perlukaan,
untuk menghindari infeksi luka tersebut diberikan salep antibiotic. Tindakan ini mula-mula
dilakukan oleh dokter

(pada orang barat sunat dilakukan pada saat bayi baru lahir,

tindakan ini dilakukan untuk menjaga kebersihan atau mencegah infeksi karena adanya
smegma). Adanya smegma pada ujung prepusium juga menyulitkan bayi berkemih maka
setiap memandikan bayi sebaiknya prepusium didorong kebelakang dan kemudian
dibersihkan dengan kapas yang diolesi air matang atau hangat
II.2.10Komplikasi
Akumulasi sekret dan smegma di bawah preputium yang kemudian terkena infeksi
sekunder akhirnya terbentuk jaringan parut

Pada kasus yang berat dapat menimbulkan retensi urin


Penarikan preputium secara paksa dapat berakibat kontriksi dengan rasa nyeri dan

pembengkakan glans penis yang disebut parafimosis


Pembengkakan atau radang pada ujung kemaluan yang disebut ballonitis
Timbul infeksi pada saluran air seni (ureter) kiri dan kanan, kemudian menimbulkan

kerusakan pada ginjal


Fimosis merupakan salah satu faktor resiko terjadinya kanker penis.

BAB III
PENUTUP
III.1 Kesimpulan
13

Fimosis adalah suatu keadaan dimana prepusium tidak bisa ditarik ke belakang,
bisa dikarenakan keadaan sejak lahir atau karena patologi. Pada usia bayi glan penis dan
prepusium terjadi adesi sehingga lengket jika terdapat luka pada bagian ini maka akan
terjadi perlengketan dan terjadi Fimosis biasanya pada bayi itu adalah hal yang wajar
karena keadaan tersebut akan kembali seperti normal dengan bertambahnya umur dan
produksi hormon.
Fimosis dapat timbul kemudian setelah lahir. Hal ini berkaitan dengan tingkat
higienitas alat kelamin yang buruk, peradangan kronik glans penis dan kulit preputium
(balanoposthitis

kronik),

atau

penarikan

berlebihan

kulit

preputium

(forceful

retraction).Pada fimosis kongenital umumya terjadi akibat terbentuknya jaringan parut di


prepusium yang biasanya muncul karena sebelumnya terdapat balanopostitis. Apapun
penyebabnya, sebagian besar fimosis disertai tanda-tanda peradangan penis distal.
Sedangkan fimosis pada bayi laki-laki yang baru lahir biasanya terjadi karena ruang
di antara kutup dan penis tidak berkembang dengan baik. Kondisi ini menyebabkan
prepusium menjadi melekat pada glans penis, sehingga sulit ditarik ke arah proximal.
Bila fimosis tidak menimbulkan ketidaknyamanan dapat diberikan penatalaksanaan
non-operatif, misalnya seperti pemberian krim steroid topikal yaitu betamethasone selama
4-6 minggu pada daerah glans penis.
Pada fimosis yang menimbulkan keluhan miksi, menggelembungnya ujung
prepusium pada saat miksi, atau fimosis yang disertai dengan infeksi postitis merupakan
indikasi untuk dilakukan sirkumsisi. Tentunya pada balanitis atau postitis harus diberi
antibiotika dahulu sebelum dilakukan sirkumsisi.

14

DAFTAR PUSTAKA
Cooper, S Christopher et all. 2006. Phimosis. In : Poherty, M Gerard. Current Diagnosis
and Treatment Surgery 13rd edition. Mc-Graw Hill Companies. New York. USA.
Hal 961-963.
Dorland, W.A. Newman. 2002. Kamus Kedokteran Dorland. Edisi 29. EGC, Jakarta
Graham, Sam D, Keane Thomas E. 2009. Phimosis. In : Glenns Urologic Surgery.
Lippincott Williams and Wilkins. Hal 397-401.
Mayor, George S et all. 2000. Phimosis in Urologic Surgery. Diagnosis, Technique and
Postoperative Treatment. Georg Theme Publisher. Stuttgart. Germany.Hal 443446.
Price, SW dan Wilson, LM. Patofisiologi. Edisi 6. Volume 1. Jakarta : EGC. 2005
Purnomo, Basuki B. Dasar-Dasar Urologi. Edisi ketiga. Malang : Fakultas Kedokteran
Universitas Brawijaya. 2011 : 14, 236-237
Robbins dkk. Buku Ajar Patologi. Edisi 7. Volume 2. Hariawati Hartono. Jakarta:
EGC.2004
Rudolph. Abraham M. Kelainan Urogenital. A. Samik Wahab, Sugiarto. Buku Ajar
Pediatri Rudolph. Edisi 20. Volume 2. Jakarta : EGC. 2006
Sjamsuhidajat R,dan Jong W.D. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi 2. Jakarta: EGC. 2004
Smith, J Steven, Robert I. White. 2005. Nonsurgical Treatment of Phimosis. Northwestern
University Medical School. USA.
Snell, Richard S. Anatomi Klinik Snell.Ed 6. Jakarta : EGC. 2006
Tanagho EA, McAninch JW. 2008. Phimosis. In :Smith General Urology. McGraw HillCompanies. Ed 17. Chap 44 hal 14, 690-691, 704.

15

Anda mungkin juga menyukai