Anda di halaman 1dari 6

PENDAHULUAN

Stimulus kontrol adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan perilaku yang
dipicu oleh ada atau tidak nya stimulus tertentu. Stimulus kontrol muncul ketika antecedent
stimulus yang spesifik hadir atau ada dan menghasilkan perilaku yang diinginkan. Oleh
karena itu, tingkah laku akan kembali muncul di masa yang akan datang jika antecedent
stimulus hadir. Antecedent stimulus yang muncul atau hadir saat tingkah laku diperkuat ini
bernama discriminative stimulus (SD). Secara sederhana SD/discriminative stimulus dapat
dipahami sebagai stimulus spesifik yang memicu timbulnya sebuah tingkah laku, dan tingkah
laku tidak muncul kecuali stimulus spesifik ini terjadi. Proses penguatan (reinforcing) tingkah
laku hanya disaat stimulus antesedent spesifik (discriminative stimulus) hadir, disebut dengan
stimulus discrimination training.
Dua langkah yang terdapat pada stimulus discrimination training:
1. Saat discriminative stimulus (SD) muncul atau hadir, tingkah laku diperkuat.
2. Saat antecedent stimulus yang lainnya diberikan (bukan discriminative
stimulus (SD)), tingkah laku tersebut tidak mengalami penguatan (tidak
diperkuat). Selama discrimination training berlangsung, antecedent stimulus
lain yang muncul saat tingkah laku tidak diperkuat disebut S-delta (S).
Sebagai hasil dari discrimination training, tingkah laku cenderung untuk muncul
kembali dimasa mendatang saat SD dimunculkan tetapi akan cenderung untuk tidak muncul
saat S dimunculkan.
PROMPT
Prompt digunakan untuk meningkatkan kemungkinan terjadinya perilaku pada
individu selama proses discrimination training. Prompting adalah stimulus yang diberikan
sebelum atau selama terjadinya perilaku. Fungsi dari prompting adalah membantu terjadinya
perilaku yang diinginkan, sehingga siapapun yang melakukan perilaku tersebut bisa
memperoleh penguatan dari instruktur (terapis, konselor, dan sebagainya). Setelah perilaku
yang diinginkan mendapat penguatan, prompt akan dihilangkan secara bertahap (fading).
Terdapat beberapa bentuk prompt, yaitu:
1. Response prompts
Response prompts adalah perilaku dari individu lain yang dapat mendorong munculnya
perilaku yang diinginkan pada subjek. Macam-macamnya adalah:
a. Verbal prompts, merupakan perilaku verbal dari orang lain yang diharapkan dapat
menghasilkan respon yang benar pada subjek. Misalnya, orang tua yang melatih
anaknya untuk selalu membuang sampah pada tampatnya dengan cara memberi tahu

anak secara verbal atau kata-kata (ayo kita buang sampah pada tempatnya agar
bersih).
b. Gestural prompts, merupakan gerakan fisik atau gesture dari orang lain yang
diharapkan dapat menghasilkan respon yang benar pada subjek. Misalnya, dosen
menunjuk materi pada mahasiswa dengan menggunakan pointer saat menjelaskan.
c. Modeling prompts, merupakan demonstrasi terhadap perilaku yang benar dari orang
lain sehingga dapat menyebabkan subjek mampu melakukan perilaku yang
diharapkan dengan cara menirunya. Misalnya, guru tari yang mengajarkan gerakan
baru pada muridnya, dia harus mencontohkan atau memperagakan terlebih dahulu
gerakan tersebut.
d. Physical prompts, merupakan sentuhan secara fisik dari orang lain kepada subjek
untuk membantunya melakukan perilaku yang diinginkan secara benar. SulzerAzaroff dan Mayer (1991) mengemukakan bahwa physical prompts digunakan ketika
verbal, gestural, dan modeling prompts belum dapat menghasilkan perilaku yang
diinginkan secara tepat. Misalnya, orang tua melatih anaknya berjalan dengan cara
memegang tangannya.
2. Stimulus prompts
Stimulus prompts adalah perubahan dalam beberapa aspek dari SD atau S bisa berupa
penambahan atau pengurangan stimulus yang membuat perilaku yang tepat dapat
dimunculkan oleh subyek.
a. Extra stimulus prompts, merupakan sesuatu yang ditambahkan pada lingkungan untuk
membentuk respon yang diinginkan. Misalnya, ketika seorang guru mengajarkan
perhitungan kepada muridnya. Saat murid diberi soal hitungan, dia tidak mampu
mengerjakan dengan benar dan cepat. Sehingga guru memberi metode perhitungan
dengan menggunakan sempoa, dan ternyata murid dapat mengerjakan dengan benar
dan cepat. Suatu ketika ketika ujian, murid dapat mengerjakan dengan
membayangkan menggunakan sempoa.
b. Within stimulus prompts, merupakan perubahan karakteristik dari stimulus untuk
membuatnya lebih mudah diperhatikan atau dibedakan. Misalnya, pada awal latihan
baseball, pelatih melempar bola pada tingkat mudah terlebih dahulu. Setelah para
pemain mampu memukul bola dengan bagus, pelatih mulai melempar dengan tingkat
kesulitan yang lebih tinggi. Dari sini, terlihat adanya perubahan intensitas pada
stimulus prompts, yaitu perubahan tingkat kemudahan lemparan bola yang dilakukan
oleh pelatih.

FADING

Ketika respon perilaku yang diinginkan telah muncul, maka prompts yang diberikan
harus dihilangkan (fading) supaya perilaku yang muncul berada di bawah kendali stimulus
diskriminatif alami, bukan di bawah kendali prompting. Fading merupakan salah satu upaya
perubahan perilaku yang dilakukan secara bertahap. Untuk melangkah ke tahap berikutnya
diperlukan keberhasilan pada tahap sebelumnya dan setiap keberhasilan akan mendapatkan
reinforcement. Dengan menggunakan proses ini, diharapkan individu mampu merespon
lingkungan yang sebenarnya tanpa memberikan stimulus awal. Perilaku-perilaku yang dapat
diubah dan dibentuk melalui teknik fading antara lain, pengenalan nama-nama benda kepada
anak-anak, mengenal angka-huruf, hingga terapi terhadap anak-anak penderita autis. Teknik
fading ini juga banyak digunakan dalam berbagai situasi pengajaran kehidupan sehari-hari
maupun pembelajaran dalam kelas.
Ada sejumlah cara untuk mentransfer stimulus kontrol, yaitu prompt fading, delay
prompt, dan stimulus fading. Tujuan dari masing-masing metode adalah untuk mengubah
kontrol perilaku yang berasal dari stimulus buatan berupa prompting ke stimulus alami (SD)
yang relevan.
1. Prompt fading adalah menghilangkan response prompt secara bertahap dalam
keseluruhan proses pembelajaran sampai prosedur prompting tidak lagi disediakan.
Misalnya, pada contoh melatih berenang, pelatih memberikan bantuan dengan instruksi
(verbal prompt) dan mencontohkan gerakan berenang (modelling prompt). Ketika anak
didiknya mulai mencontoh gerakan pelatih, pelatih akan berhenti mencontohkan dan
memberi pujian. Namun pelatih akan tetap memberikan instruksi kepada anak didiknya
sampai dia benar-benar menguasainya. Dan pelatih akan benar-benar berhenti memberi
instruksi ketika anak didiknya sudah mampu menguasai gerakan berenang.
2. Prompt delay adalah pemberian prompting yang tidak langsung diberikan pada subjek,
namun perlu waktu tunggu terlebih dahulu apakah subjek sudah memunculkan perilaku
yang tepat atau belum. Yang perlu dilakukan pertama kali adalah menyajikan stimulus
diskriminatif alami, kemudian tunggu beberapa saat. Jika setelah beberapa saat tidak
muncul respon yang tepat, maka perlu diberikan prosedur prompting. Waktu tunggu
antara penyajian stimulus diskriminatif alami dengan prosedur prompting bisa berbeda
antara kasus yang satu dengan kasus lainnya. Misalnya ketika seorang ibu mengajarkan
membaca pada anak dengan menunjukkan kartu yang bertuliskan SAYA, dan anak
tidak merespon setelah 4 detik, baru ibu mengucapkan Saya (verbal prompt). Namun
ketika anak telah mampu membaca kurang dari 4 detik sejak kartu ditunjukkan, maka
tidak diperlukan lagi pemberian prompt.

3. Stimulus fading adalah menghilangkan stimulus prompts secara bertahap setelah perilaku
yang tepat benar-benar muncul sehingga memunculkan peran dari stimulus diskriminatif
alami. Misalnya seperti pada contoh penggunaan sempoa, dalam melatihnya ada saat
dimana anak menggunakan sempoa dan ada saat dimana anak tidak menggunakan
sempoa

(membayangkannya).

Inilah

yang

dinamakan

stimulus

fading,

yaitu

menghilangkan penggunaan sempoa agar anak secara alami menghitung soal perhitungan
dengan kemampuan berpikirnya. Atau contoh lain, saat mengajarkan anak untuk
membedakan huruf V dan F, ibunya menggambarkan huruf F di sebuah kartu yang
lebih besar dari kartu yang bertuliskan huruf V. Secara bertahap, ibu akan mengubah
ukuran kartu huruf F menjadi sama dengan kartu bertuliskan huruf V.

STRATEGI PROMPTING DAN TRANSFER STIMULUS KONTROL


Sebelum melakukan fading, beberapa hal yang harus diperhatikan adalah:
1. Pilih strategi prompting yang paling sesuai untuk dilakukan. Berbagai respon prompts
dan stimulus prompts dipilih salah satu yang paling sesuai dengan subjek dan apa yang
akan dipelajarinya. Jika yang dipelajari adalah perilaku baru, maka menggunakan respon
prompts akan lebih baik. Untuk subjek dengan kemampuan yang terbatas (seperti orang
dengan development disability atau anak-anak), lebih efektif menggunakan prompt
berupa physical prompts. Sedangkan prompt yang paling mudah, seperti verbal prompts
diberikan untuk subjek dengan kemampuan belajar yang baik.
2. Mendapatkan perhatian subjek. Dengan cara meminimalisir dan menghilangkan hal-hal
di luar proses pembelajaran yang dapat mengganggu. Seperti dengan mengucapkan,
Fani, coba lihat bagaimana Ibu menulis.
3. Tampilkan stimulus diskriminatif terlebih dahulu. Stimulus ini merupakan stimulus awal
yang diharapkan nantinya menjadi stimulus natural yang memunculkan perilaku yang
diinginkan walau tanpa sidertai dengan prompt.
4. Berikan prompt agar muncul perilaku yang diinginkan. Jika menggunakan stimulus
prompts, maka akan mengubah situasi stimulus dalam beberapa hal saat memaparkan S D
atau akan mengubah beberapa aspek dari SD. Jika menggunakan respon prompts, akan
menyajikan SD dan kemudian segera memberikan prompt yang sesuai.
5. Beri penguatan (reinforcement) pada perilaku yang tepat. Ketika perilaku yang
diinginkan muncul, segera berikan penguatan. Sehingga perilaku yang diinginkan akan
muncul kembali di masa depan ketika menemui SD.
6. Transfer stimulus kontrol. Dengan melakukan fading, yaitu menghilangkan prompt
secara bertahap, sehingga stimulus kontrol akan berubah dari prompt ke natural SD.

Karena tujuan dari proses pembelajaran ini adalah agar subjek dapat memunculkan
perilaku yang diinginkan tanpa adanya prompt.
7. Lanjutkan memberikan penguatan pada perilaku yang muncul setelah prompting
dihilangkan. Apabila perilaku yang diinginkan tetap muncul setelah SD tanpa prompt,
lanjutkan pemberian penguatan. Selama subjek memunculkan perilaku yang diinginkan,
pemberian penguatan dapat berubah dari yang secara terus-menerus menjadi secara
intermiten atau berantara.

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI EFEKTIFITAS FADING:


1. Memilih stimulus akhir yang diinginkan (stimulus yang kita harap dapat menghasilkan
perilaku pada bagian akhir dari prosedur fading). Kita harus berhati-hati dalam memilih
stimulus ini. Sehingga munculnya respon atas stimulus ini dapat dipertahankan di
lingkungan subjek dalam kesehariannya. Salah satu fading yang salah yaitu ketika fading
tidak memasukkan aspek-aspek situasi yang sering dijumpai oleh pasien di
lingkungannya sehari-hari.
2. Memilih stimulus awal. Penting untuk memilih stimulus awal, yang secara konstan
(reliabel), dapat membangkitkan perilaku yang diinginkan. Sehingga selanjutnya dapat
memilih prompt apa saja yang baik dan cocok untuk diberikan. Memilih beberapa jenis
prompt, secara bersamaan, yang secara konstan menghasilkan respon yang diinginkan
akan meminimalkan kesalahan dan memperbesar keberhasilan program fading.
3. Memilih langkah-langkah fading. Penting untuk mengawasi secara dekat performa
subjek untuk menentukan seberapa lama seharusnya fading dilaksanakan.

KESIMPULAN
Fading salah satu cara untuk mentransfer stimulus kontrol dari prompt ke stimulus
diskriminatif. Fading juga merupakan perubahan perlahan-lahan, pada treatment yang
dilakukan berulang-ulang, dimana stimulus mengontrol respon, sehingga respon yang terjadi
diubah atau menjadi stimulus baru yang lebih lengkap. Sedangkan prompting adalah stimulus
yang diberikan sebelum atau selama terjadinya perilaku. Fungsi dari prompting adalah
membantu terjadinya perilaku yang diinginkan, sehingga siapapun yang melakukan perilaku
tersebut bisa memperoleh penguatan dari instruktur (guru, konselor, dan sebagainya)
sehingga diharapkan perilaku tersebut dapat muncul di masa depan.
Teknik dalam pemberian prompt dapat dengan cara memberikan response prompts,
yaitu perilaku orang lain untuk memperjelas stimulus dengan menggunakan verbal, gestural,

modelling, dan physical prompts. Maupun dengan menggunakan stimulus prompts, yaitu
modifikasi pada stimulus agar stimulus lebih jelas seperti extrastimulus prompts dan whitin
stimulus prompts.
Dalam pelaksanaan teknik fading ini, perlu diperhatikan beberapa hal sebelumnya.
Sehingga proses fading dapat dilakukan secara bertahap dan kemunculan pada kesalahan
dapat diminimalkan. Jika kesalahan terjadi, proses fading harus kembali lagi ke langkah
sebelumnya dan melakukan beberapa kali latihan serta memberikan prompt-prompt
tambahan.