Anda di halaman 1dari 14

Laporan Kasus

TINEA KRURIS
Oleh: Made Ayundari Primarani
Pembimbing: dr. Sri Primawati Indraswari, Sp.KK

I.

PENDAHULUAN
Dermatofitosis merupakan infeksi jaringan yang mengandung keratin,

disebabkan oleh jamur dermatofita. Infeksi dermatofitosis dikenal dengan nama


tinea dan diklasifiksikan sesuai lokasi anatomik (tinea kapitis, tinea barbe, tinea
korporis, tinea pedis, tinea kruris, dan tinea unguium). Tinea kruris merupakan
dermatofitosis yang mengenai daerah lipatan paha, termasuk genitalia, daerah
pubis, perineum dan perianal.
Penyakit ini tersebar di seluruh dunia, terutama di negara- negara dengan
iklim tropis dimana kelembaban udaranya cukup tinggi. Angka kejadian
dermatofitosis di RSUD Kardinah Tegal sejak bulan Januari sampai November
2014 sebanyak 224 kasus baru. Tinea kapitis sebanyak 5 kasus, tinea palmaris
sebanyak 7 kasus, tinea pedis sebanyak 20 kasus, tinea korporis sebanyak 95
kasus, tinea facialis sebanyak 13 kasus dan tinea kruris sebanyak 84 kasus.
Sebanyak 44 kasus baru tinea kruris diderita oleh perempuan dan 40 kasus pada
laki- laki. 1 kasus terjadi pada anak usia <1 tahun, 6 kasus pada anak usia 1- 4
tahun, 9 kasus pada anak usia 5-14 tahun, 11 kasus pada kelompok usia 15-24
tahun, 20 kasus pada kelompok usia 25-44 tahun, 30 kasus pada kelompok usia
45-54 tahun dan 7 kasus pada kelompok usia >55 tahun.

Agen penyebab dapat ditularkan melalui kontaminasi pakaian, handuk


maupun secara langsung. Jamur dermatofita dapat menghasilkan keratinase yang
mencerna keratin sehingga dapat memudahkan invasi ke stratum korneum. Infeksi
dimulai dengan kolonisasi hifa atau cabang- cabangnya di dalam jaringan keratin
yang mati. Hifa menghasilkan enzim keratolitik yang berdifusi ke dalam jaringan
epidermis dan menimbulkan reaksi peradangan. Timbulnya kelainan kulit
dipengaruhi oleh faktor virulensi dari dermatofita tersebut, faktor trauma, suhu
dan kelembaban, usia, jenis kelamin dan kebersihan.
Gejala klinis diawali dengan area yang kemerahan (eritematous), bersisik,
atau bervesikel dan berkrusta yang menyebar ke perifer diikuti penyembuhan di
bagian tengahnya, berbatas tegas. Vesikel, pustul atau papul umumnya terdapat di
tepi lesi. Pasien akan mengeluh adanya rasa gatal yang bertambah terutama saat
berkeringat.
Berikut ini dilaporkan sebuah kasus Tinea Kruris pada seorang pasien
perempuan berusia 26 tahun.
II.

KASUS
Seorang perempuan usia 26 tahun, pekerjaan ibu rumah tangga, agama

Islam, pendidikan terakhir SMP, bertempat tinggal di Sumurpanggang RT.07/


RW.02, Kecamatan Margadana, status menikah, suku Jawa, datang ke IGD RSUD
Kardinah Tegal pada 23 Desember 2014 pukul 11.30 WIB dengan keluhan utama
bercak kemerahan yang terasa gatal di bokong dan selangkangan.
ANAMNESIS KHUSUS

Dilakukan autoanamnesis pada tanggal 23 Desember 2014 pukul 12.00


WIB di Poliklinik Kulit & Kelamin RSUD Kardinah Kota Tegal.
Pasien mengeluhkan adanya bercak merah di daerah bokong dan
selangkangannya sejak kurang lebih 1 tahun yang lalu. Bercak tersebut terasa
sangat gatal sehingga pasien sering menggaruknya. Gatal dirasakan semakin
bertambah apabila pasien sedang berkeringat. Bercak di bokong dan selangkangan
muncul bersamaan. Pada di awalnya bercak di selangkangan berukuran sekitar 10
cm x 5 cm namun lama- lama menjadi semakin lebar hinga seluruh selangkangan
(sekitar 25 cm x 10 cm). Bercak di bokong awalnya sekitar 13 cm x 8 cm dan
melebar hingga sekarang berukuran sekitar 20 cm x 17 cm.
Sebelum berobat ke RSUD Kardinah, pasien sudah beberapa kali (sekitar
3 kali) berobat ke puskesmas dan diberi obat salep (pasien lupa nama obatnya)
namun tidak kunjung sembuh. Bercak merah tidak kunjung hilang dan rasa gatal
juga tidak berkurang.
Seminggu yang lalu pasien sudah ke Poliklinik Kulit & Kelamin RSUD
Kardinah dan mendapat salep jamur dan obat minum namun pasien tidak
mengetahui nama obatnya. Setelah beberapa hari dioleskan salep tersebut, gatal
dirasa berkurang namun bercak kemerahan belum berkurang.
Pasien mengaku selama ini sehat- sehat saja, kalaupun sakit hanya flu
biasa. Tidak pernah menerima pengobatan kortikosteroid. Pasien juga mengaku
tidak mengalami haus berlebihan maupun buang air kecil berlebihan. Pasien biasa
makan 3 kali sehari dengan porsi cukup banyak dan sering memakan makanan
ringan.
Pasien mengatakan selalu mandi dua kali sehari dengan sabun antiseptik
(Detol) dan air tanah, namun pasien tidak selalu mengganti pakaian yang
dikenakan. Apabila dirasa masih bersih dan tidak berkeringat sebelumnya maka
terkadang pasien suka memakai kembali pakaian yang sama setelah mandi. Pasien

sering memakai pakaian dari bahan katun. Pasien selalu memakai handuknya
sendiri. Sehari- harinya pasien bekerja sebagai ibu rumah tangga dan mengerjakan
segala pekerjaan rumah tangga sehingga sering berkeringat. Tidak ada hobi
tertentu yang dijalani pasien. Pasien mengaku sebelumnya tidak pernah
mengalami keluhan seperti ini. Pasien tinggal bersama suami dan satu orang
anaknya, dan tidak ada yang menderita penyakit serupa. Di rumah pasien tidak
ada binatang peliharaan.

PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan Umum
-

Kesadaran
Kesan sakit

: Compos mentis
: Tampak sakit ringan

Tanda Vital

Tekanan darah : 130/90 mmHg


Nadi
: 84 x/menit, reguler, isi cukup, denyut kuat, ekual
Laju pernapasan
: 20 x/menit, reguler, tipe abdomino-torakal
0
Suhu
: 36,4 C

Antropometri

Berat badan : 65 kg
Tinggi badan : 160 cm
BMI
: 65... = 25,4
(1,6)2

Status gizi

: overweight

Status Generalis
Kepala

: Normocephali, rambut hitam, ikal, tidak mudah dicabut, distribusi


merata, alopecia (-), deformitas (-).

Mata

: Alis simetris, tidak mudah dicabut, bulu mata tidak rontok,


trichiasis (-), oedem palpebra -/-, konjungtiva pucat -/-, sklera
ikterik -/-, pupil bulat, isokor, diameter 4 mm, refleks cahaya
langsung dan tidak langsung +/+, sekret -/-.

Hidung

: Nafas cuping hidung (-), deformitas (-), septum deviasi (-), tidak
tampak adanya kelainan kulit pada hidung, konka eutrofi, mukosa
hiperemis (-), sekret (-), benjolan (-), nyeri tekan (-).

Telinga

: Normotia , benjolan -/-, nyeri tarik -/-, nyeri tekan -/-, serumen
-/-, liang telinga lapang, membran timpani dan refleks cahaya tidak
dapat dinilai.

Mulut

: Trismus (-), bibir pucat (-), oedem pada bibir (+), sianosis (-),
sariawan (-), mukosa gusi hiperemis (-), gigi karies (-), letak lidah
ditengah (+), normoglossia, tepi lidah hiperemis (-), lidah kotor (-),
faring hiperemis (-), tonsil T1/T1, hiperemis (-), detritus (-), kripta
tidak melebar

Leher

: Otot bantu pernafasan M. Sternocleidomastoideus (-), trakea di


tengah, deviasi trakea (-), kelenjar tiroid tidak teraba membesar,
pembesaran KGB (-).

Thorax

: Retraksi intercostal (-) dan sela iga melebar (-)

Paru

Kanan

Inspeksi

Simetris saat statis dan dinamis

Kiri
Simetris

saat

statis

dan

dinamis
Palpasi

Vocal fremitus sama kuat

Vocal fremitus sama kuat

Gerakan pernapasan simetris

Gerakan pernapasan simetris

Perkusi
Auskultasi

Sonor pada lapang paru

Sonor pada lapang paru

Suara dasar vesikuler (+)

Suara dasar vesikuler (+)

Ronkhi (-)

Ronkhi (-)

Wheezing (-)

Wheezing (-)

Jantung
Inspeksi

: pulsasi iktus cordis tidak tampak

Palpasi

: teraba iktus cordis pada ICS V 1 cm medial linea


midclavicularis sinistra, thrill (-).

Perkusi

: tidak dilakukan

Auskultasi

: Bunyi jantung I-II Reguler, murmur (-), gallop (-).

Abdomen
Inspeksi

: Buncit, gerakan dinding perut saat pernapasan simetris,


tidak tampak gerakan peristaltik usus

Auskultasi

: Bising (+) normal, 3x/ menit

Palpasi

: Supel, nyeri tekan (-), hepar tidak teraba, lien tidak teraba

Perkusi

: Shifting dullness (-)

Inguinal

: Pembesaran KGB (-), massa (-), tampak kulit kemerahan (lihat


status dermatologikus)

Genitalia

: Tampak kulit kemerahan di area pubis (lihat status


dermatologikus), jenis kelamin perempuan, rambut pubis (+),
sekret (-)

Ekstremitas :
Simetris, tidak tampak kelainan bentuk, posisi tangan dan kaki, serta sikap badan,
akral hangat pada keempat ekstremitas

Status Dermatologikus

Distribusi
Ad regio
Lesi

berukuran plakat, datar dengan kulit, kering


Efloresensi : Makula eritema

: Regioner
: Pubis, inguinal dan gluteus dextra
: Multipel, konfluens, bentuk ireguler, berbatas tegas,

Gambar1. Lesi di gluteus

Gambar2. Lesi di inguinal & pubis

PEMERIKSAAN PENUNJANG
-

Pemeriksaan kerokan kulit yang diambil dari bokong +


larutan KOH 10%

Gambar3 & 4. Hasil pemeriksaan kerokan kulit + KOH 10%


Interpretasi : Tampak gambaran hifa panjang, bercabang, berseptal

RESUME
Seorang perempuan usia 26 tahun, pekerjaan ibu rumah tangga, agama
Islam, pendidikan terakhir SMP, bertempat tinggal di Sumurpanggang RT.07/
RW.02, Kecamatan Margadana, status menikah, suku Jawa, datang ke IGD RSUD
Kardinah Tegal pada 23 Desember 2014 pukul 11.30 WIB dengan keluhan utama
bercak kemerahan yang terasa gatal di bokong dan selangkangan.

Pada anamnesis didapatkan keluhan adanya bercak merah di daerah


bokong dan selangkangannya sejak kurang lebih 1 tahun yang lalu. Bercak
tersebut terasa sangat gatal terutama saat berkeringat sehingga pasien sering
menggaruknya. Bercak di bokong dan selangkangan muncul bersamaan.
Sebelumnya bercak tidak seluas ini namun lama- lama menjadi semakin lebar.
Sebelum berobat ke RSUD Kardinah, pasien sudah beberapa kali (sekitar 3 kali)
berobat ke puskesmas dan diberi obat salep (pasien lupa nama obatnya) namun
tidak kunjung sembuh. Seminggu yang lalu pasien sudah berobat ke Poliklinik
Kulit & kelamin RSUD Kardinah dan mendapat obat minum dan salep. Gatal
dirasa berkurang setelah mengkonsumsi obat dari dokter. Pasien biasa makan 3
kali sehari dengan porsi cukup banyak dan sering memakan makanan ringan.
Pasien mengatakan selalu mandi dua kali sehari dengan sabun antiseptik (Detol)
dan air tanah, namun pasien tidak selalu mengganti pakaian yang dikenakan.
Apabila dirasa masih bersih dan tidak berkeringat sebelumnya maka terkadang
pasien suka memakai kembali pakaian yang sama setelah mandi. Pasien sering
memakai pakaian dari bahan katun. Pasien selalu memakai handuknya sendiri.
Sehari- harinya pasien bekerja sebagai ibu rumah tangga dan mengerjakan segala
pekerjaan rumah tangga sehingga sering berkeringat
Pada pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum & tanda vital pasien
tidak ada yang di luar batas normal. Status gizi pasien overweight. Pada
pemeriksaan status dermatologikus didapatkan kelainan yang regioner di pubis,
inguinal dan gluteus dextra dengan lesi multiple, konfluens, bentuk iregular,
berbatas tegas, berukuran plakat, datar dengan kulit dan kering.

Pada pemeriksaan penunjang berupa pemeriksaan kerokan kulit yang


diambil dari bokong ditambah KOH 10% dan didapatkan gambaran hifa panjang
bercabang dan berseptal.
DIAGNOSIS BANDING
- Tinea kruris
- Kandidiasis
- Eritrasma
DIAGNOSIS KERJA
Tinea kruris
USULAN PEMERIKSAAN
Kultur jamur : untuk mengetahui jenis jamurnya
SGOT & SGPT
PENATALAKSANAAN
Sistemik
: ketokonazol tablet 200mg/ hari
Topikal
: ketokonazol 2% 1-2x sehari
Edukasi
: Jangan menggaruk daerah yang terkena jamur
Jaga kebersihan kulit
Jangan biarkan kulit dalam keadaan lembab. Keringkan kulit
dengan baik setelah mandi atau terkena air
Gunakan pakaian dari bahan yang menyerap keringat dan tidak
ketat serta rajin berganti pakaian setiap habis mandi
Jangan bertukar tukar pakaian atau handuk dengan orang lain
PROGNOSIS
Ad vitam
: ad bonam
Ad fungsionam : ad bonam
Ad sanationam : ad bonam
III.

PEMBAHASAN
Diagnosis kerja tinea kruris pada pasien ini ditegakkan berdasarkan

anamnesis dan pemeriksaan fisik. Dimana didapatkan keluhan yang sesuai dengan
gejala- gejala tinea yaitu gatal yang bertambah saat berkeringat, yang bertempat di
daerah pubis, inguinal dan gluteus.

10

Tinea kruris merupakan dermatofitosis pada lipat paha, daerah perineum


dan sekitar anus yang dapat meluas ke daerah sekitar anus, gluteus dan perut
bawah. Penyakit ini dapat bersifat akut atau menahun. Lesi berbatas tegas dengan
peradangan yang lebih nyata di daerah tepi.1
Penyebab utama dari tinea kruris adalah Trichopython rubrum (90%),
Epidermophyton

fluccosum,

Trichophyton

mentagrophytes

(4%)

dan

Trichophyton tonsurans (6%). Dermatofita adalah golongan jamur yang


mempunyai sifat mencerna keratin. Dermatofita termasuk kelas fungi imperfecti,
yang

terbagi

dalam

genus

yakni

Microsporum,

Trichophyton

dan

Epidermophyton. Selain sifat keratolitik, masih banyak sifat yang sama diantara
dermatofita seperti sifat faali, taksonomis, antigenik, kebutuhan makanan untuk
pertumbuhan dan penyebab penyakit.2
Tinea Kruris dapat ditemui diseluruh dunia dan paling banyak terdapat
didaerah yang beriklim tropis. Angka kejadian lebih sering terjadi pada orang
dewasa, terutama banyak mengenai pada gender laki-laki dibandingkan
perempuan. Jamur ini sering terjamgkit pada individu yang kurang menjaga
higienitas atau sering terjadi pada lingkungan sekitar yang kotor dan lembab, serta
faktor predisposisi yang berasal dari tubuh pejamu, antara lain hiperhidrosis,
obesitas, diabetes melitus dan gangguan imunitas. Jumlah pasien tinea kruris baru
Poliklinik Kulit dan Kelamin RSUD Kardinah Tegal sejak Januari sampai
November 2014 sebanyak 84 pasien.
1 Unandar B. Mikosis. Dalam : Djuanda D,et al.(ed). Ilmu Penyakit Kulit dan
Kelamin Edisi Keenam Cetakan Kedua. Jakarta : Balai Penerbit
FKUI.2011;hlm.94.
2 Ibid
11

Beberapa faktor yang berpengaruh terhadap timbulnya kelainan di kulit


adalah:3
a. Faktor virulensi dari dermatofita
Virulensi ini bergantung pada afinitas jamur apakah jamur antropofilik,
zoofilik, geofilik. Selain afinitas ini massing-masing jamur berbeda
pula satu dengan yang lain dalam hal afinitas terhadap manusia maupun
bagian-bagian dari tubuhmisalnya: Trichopyhton rubrum jarang
menyerang

rambut,

Epidermophython

fluccosum

paling

sering

menyerang lipat paha bagian dalam.


b. Faktor trauma
Kulit yang utuh tanpa lesi-lesi kecil lebih susah untuk terserang jamur.
c. Faktor suhu dan kelembapan
Kedua faktor ini jelas sangat berpengaruh terhadap infeksi jamur,
tampak padalokalisasi atau lokal, dimana banyak keringat seperti pada
lipat paha, sela-sela jari paling sering terserang penyakit jamur.
d. Keadaan sosial serta kurangnya kebersihan
Faktor ini memegang peranan penting pada infeksi jamur dimana
terlihat insiden penyakit jamur pada golongan sosial dan ekonomi yang
lebih rendah sering ditemukan daripada golongan ekonomi yang baik

e. Faktor umur dan jenis kelamin


3 Kundu RV, Garg A. Yeast Infecions. In: Goldsmith LA, Katz SI,et al(ed).
Fitzpatricks Dermatology in General Medicine. New York: McGrawHill;2012.p.3280-5.
12

Manifestasi klinis tinea kruris dapat berupa : makula eritematous dengan


sentral healing di lipatan inguinal, distal lipat paha, dan proksimal dari abdomen
bawah dan pubis; bersisik. Pada infeksi akut, bercak-bercak mungkin basah dan
eksudatif . Pada infeksi kronis makula hiperpigmentasi dengan skuama diatasnya
dan disertai likenifikasi. Area sentral biasanya hiperpigmentasi dan terdiri atas
papula eritematus yang tersebar dan sedikit skuama. Penis dan skrotum jarang
atau tidak terkena. Perubahan sekunder dari ekskoriasi, likenifikasi, dan
impetiginasi mungkin muncul karena garukan. Infeksi kronis bisa oleh karena
pemakaian kortikosteroid topikal sehingga tampak kulit eritematus, sedikit
berskuama, dan mungkin terdapat pustula folikuler.4
Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan ialah pemeriksaan sediaan
langsung kerokan kulit menggunakan mikroskop dan KOH 20% yang
memberikan gambaran hifa panjang dan atau artrospora. Dapat juga dilakukan
kultur dengan agar Sabouraud pada suhu 28C selama 1 4 minggu.5
Penyakit ini diobati secara topikal dan sistemik. Pengobatan topikal
dengan krim antifungal seperti terbinafin (1x sehari selama 1- 2 minggu), atau
ketokonazol (1-2x sehari selama 2- 4 minggu). Pengobatan sistemik diberikan bila
lesi luas atau kronik, dengan griseofulvin oral 10- 25 mg/kgBB/hari atau
ketokonazol 200 mg/hari, atau itrakonazol 2 x 100 mg/hari atau, terbinafin 1 x
4 James WD, Berger TG, Elston DM. Disease of the Skin: Clinilac Dermatology.
Canada: Elsevier Inc;2006.p.304.
5 Perdoski. Panduan Pelayanan Medis Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin.
Jakarta;2011.hlm.98
13

250 mg/hari hingga gejala klinis membaik dan hasil pemeriksaan mikrobiologi
negatif.6

6 Ibid.
14