Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PERJALANAN

PRAKTEK LAPANG AGROHIDROLOGI

PENGENALAN BENDUNGAN BISSUA

OLEH :

MANSYUR LOLO TEMBU


G 211 06 026

JURUSAN ILMU TANAH


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2008
I.PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Tanah dan air merupakan sumberdaya yang paling fundamental yang dimiliki

oleh manusia. Tanah merupakan media utama dimana manusia bisa mendapatkan

bahan pangan, sandang, papan, tambang, dan tempat dilaksanakannya berbagai

aktifitas. Penghargaan manusia terhadap tanah sudah berlangsung sejak manusia

menghuni bumi ini, bahkan sampai sekarang kebanyakan penduduk bumi adalah

peladang dan menggunakan alat sederhana untuk memproduksi makanan.

Air merupakan zat kehidupan, dimana tidak satupun makhluk hidup di planet

bumi ini yang tidak membutuhkan air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 65 –

75% dari setiap badan manusia dewasa terdiri dari air. Menurut ilmu kesehatan,

setiap orang memerlukan air memerlukan air sebanyak 2,5 – 3 liter per hari (termasuk

air yang terdapat dalam makanan). Manusia bisa bertahan hidup 2 – 3 minggu tanpa

makan, tetapi hanya 2 – 3 hari tanpa air minum. Secara global kuantitas sumber daya

tanah dan air di bumi relatif tetap, sedangkan kualitasnya mekin hari makin menurun.

Secara kuantitas air di bumi ini melimpah, namun sebagian berupa air asin di

samudera. Di sekitar 1.368jua km3 air yang ada di bumi, sekitar 1.337 juta km 3 atau

97,395 berada di samuder atau lautan, dan hanya sekitar 35 juta km3 (2,53%) berupa

air tawar di daratan, dan sisanya dalam bentuk gas/uap. Jumlah air tawar tersebut

sebagian besar (69%) berupa gumpalan es dan gletsyer yang terperangkap didalam

kutub, sekitar 30% berupa air tanah, dan hanya sekitar 1% terdapat dalam sungai,

danau, dan waduk. Jumlah air lepasan dari semua sungai diperkirakan sebesar 44.500
km3. sebagian besar air tawar digunakan untuk mengairi daerah irigasi yang

diperkirakan seluas 210 juta ha yang tersebar diseluruh dunia. Luas ini akan

bertambah terus-menerus, khususnya benua Asia hingga akan mencapai 450 juta

hektar. Teknologi pertanian belum mampu mengurangi kebutuhan tanaman akan air,

kenyataan bahwa diperlukan 400 – 500 liter air untuk memproduksi 1 kilogram bahan

organik kering, sementara untuk memproduksi 1 kg beras diperlukan 1 – 2 m 3 air.

Selain tanaman, manusia dan binatang juga memerlukan air dengan kualitas yang

baik dan kuantitas yang cukup.

Kebutuhan air rata-rata secara wajar setiap orang adalah sebanyak 60 liter air

bersih per hari untuk segala keperluannya. Pada tahun 2000 dengan jumlah penduduk

dunia sebesar 6.121 milyar memerlukan air bersih sebanyak 367 km 3 pada tahun 2025

memerlukan 492 km3, dan pada tahun 2100 memerlukan 611 km3 air bersih tiap hari.

Dari hal-hal yang telah diuraikan diatas maka tentunya dapat memberikan

gambaran dengan jelas kepada kita betapa pentingnya sumberdaya tanah dan air bagi

kelangsungan hidup umat manusia. Saat ini telah terjadi penurunan kualitas kedua

sumberdaya tersebut sehingga adanya usaha-usaha konservasi yang sungguh-sungguh

akan muncul malapetaka dahsyat yang mengancam kelangsungan hidup manusia.

1.2. Tujuan dan Kegunaan

Tujuan dilakukannya praktik lapang ini adalah sebagai media pembelajaran


buat mahasiswa dalam mengetahui ciri fisik dan pola aliran, serta kecepatan debit air

sungai. Kegunaan dilaksanakannya kegiatan praktik lapang ini agar mahasiswa dapat

mengetahui cara menghitung debit air tanah permukaan pada bendungan.

II. TINJAUAN PUSTAKA

Indonesia merupakan salah satu negara besar dengan luas daratan kurang

lebih 200 juta hektar, 123 juta hektar daratan berupa lahan kering, dan 39 juta hektar
sisanya berupa lahan basah, baik berupa rawa pasang surut ataupun rawa lebak. Jika

lahan mempunyai kemiringan 0 – 15% maka dianggap sebagai lahan potensial untuk

dikembangkan menjadi lahan pertanian, maka untuk jumlah yang telah dikelola

sebagai pertanian rakyat, perkebunan, sawah tadah hujan, dan sebagainya, baru

mencapai 5,8 juta hektar. Dengan demikian potensi lahan yang belum dikembangkan

untuk pertanian masih 28,8 juta hektar, ditambah luasan rawa yang dapat direklamasi

untuk dijadikan lahan pertanian yang produktif (Suripin, 2001).

Pada wilayah yang mempunyai curah hujan rendah atau sifat curah hujan yang

tidak teratur, kebutuhan air akan pertumbuhan tanaman dapat ditambahkan melelui

cara irigasi. Banyak kenyataan bahwa tanah yang tidak produktif dapat

dikembangkan menjadi suatu areal pertanian yang baik jika selalu cukup penyediaan

air irigasi (Pairunan, 1985).

Keadaan air yang terkandung dalam tanah sangat perlu untuk diketahui,

terutama tentang kedalaman dari permukaan air tanah baik secara musiman maupun

bulanan. Tentang kedalaman muka air tanah bisa ditentukan melalui sember-sumber

air setempat. Saluran irigasi (drainase) termasuk sungai besar atau kecil yang ada di

lokasi perlu diketahui debit airnya, kedalamannya, kualitas airnya, aliran airnya,

kemiringan lereng dari saluran air tersebut. Selain itu perlu juga diketahui daya

penghanyutan air pada waktu hujan turun dimana akan sangat membantu teknologi

pembentukan tanah-tanah pertanian itu, sehingga penghanyutan partikel-partikel

tanah dari permukaan yang subur dapat dicegah (Kartasapoetra, 2005).

Tanah secara umum memiliki peranan penting dalam siklus hidrologi. Kondisi
tanah menentukan jumlah air yang masuk kedalam tanah dan mengalir pada

permukaan tanah. Jadi tanah tidak hanya berperan sebagai media tumbuh tanaman

tetapi juga sebagai media pengatur tata air. Air yang masuk dalam tanah sebagian

dimanfaatkan oleh hewan dan sebagian lagi dimanfaatkan tanaman untuk membentuk

bahn organik dalam proses fotosintesa dan sebagian lagi diuapkan melalui proses

transpirasi. Air yang masuk kedalam tanah dapat tertahan sebelum diserap oleh

tanaman, atau bergerak keatas melalui pipa kapiler kemudian menguap dari

permukaan tanah, dapat juga bergerak kebawah sebagai air perkolasi yang tidak dapat

dimanfaatkan tanaman. Sehingga usaha pengelolaan air yang baik umumnya

bertujuan agar air dapat lebih banyak masuk kedalam tanah, maka aliran permukaan

dapat dikurangi dan erosi dapat ditekan. Kondisi iklim, topografi, penutup tanah, dan

sifat tanah merupakan faktor-faktor yang berpengaruh terhadap peresapan air serta air

permukaan dan erosi (Pairunan, 1985)

Terdapat berbagai fenomena alam yang dapat ditimbulkan dari sekian banyak

aktifitas manusia yang kurang menyadari akan pentingnya bioekosistem di bumi ini

seperti halnya air, tanah, dan udara merupakan satu komponen yang tidak dapat

terpisahkan sehingga bilamana komponen yang satu terabaikan maka tentunya

berdampak besar dalam kelangsungan kehidupan bioekosistem di bumi ini. Hal yang

sangat sering terjadi dari ketidak sinergisannya pengelolaan tiga hal diatas adalah

erosi dimana terjadi pengikisan tanah atau bagian tanah yang tarangkut dari suatu

tempat ke tempat lain yang penyebab utamanya adalah adanya pergerakan air

(Rahim, 2003).
III. BAHAN DAN METODE

Tempat dan Waktu

Praktek lapang ini dilaksanakan di daerah Gowa (DAM BISSUA), Kabupaten

Gowa pada hari Sabtu, 20 April 2008, pada pukul 09.30 WITA sampai selesai.
Alat dan Bahan

Alat dan bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah Pelampung

/pemberat, kamera digital, meteran, stopwatch, dan alat tulis-menulis.

Tahapan-Tahapan Kegiatan Berdasarkan Tempat Persinggahan

• Observasi dan Pengenalan Bendungan Bissua

Dilakukan pengamatan pada bendungan Bissua antara lain dengan melihat

keadaan umum lokasi bendungan serta fasilitas yang terdapat didalamnya serta

dilakukan pula dialog-dialog terhadap petugas bendungan yang berkaitan dengan

kelengkapan dan fungsi dari fasilitas penunjang pada bendungan tersebut.

• Fasilitas Bendungan Bissua

Fasilitas yang terdapat pada bendungan Bissua dapat dikategorikan sebagai

fasilitas yang lengkap. Adapun fasilitasnya adalah sebagai berikut :

− Area Irigasi : 10.785 Ha

− Debit Pengambilan : 25 m3/det

− Pintu Pengambilan : B 3,0 m × H 1,9 m × 4 Pintu

− Pintu Penguras : B 2,5 m × H 4,3 m × 4 Pintu

− Ketinggian Air :3m

Adapun ukuran bendungan Bissua adalah sebagai berikut :

− Lebar Bendung : 239, 30 m

− Lebar Mercu : 223,30 m


− Tinggi Mercu : 12,20 m

− Elevasi Mercu : 30,20 m

• Pengukuran Debit Air Di Aliran Sungai Bendungan Bissua

Adapun kegiatan yang dilakukan pada pengukuran debit air pada aliran sungai

adalah dengan menggunakan pelampung berupa potongan kayu, buah yang dapat

mengapung, maupun dedaunan yang permukaannya tidak tenggelam secara

keseluruhan. Setelah itu menentukan jarak lintasan pelampung sebesar 30 m, agar

dari jarak tertentu tersebut dapat ditentukan kecepatan aliran sungai. Langkah

selanjutnya adalah melepaskan pelampung dari tumpuan utama sampai mencapai

tumpuan akhir lalu menghitung waktu yang dibutuhkan pelampung dari tumpuan

utama sampai pada tumpuan akhir dengan menggunakan stopwatch. Pelepasan

pelampung dilakukan sebanyak 3 kali sehingga didapatkan nilai rata-rata dari waktu

tempuh yang dicapai pelampung yang masing-masing berbeda massa jenisnya.

Sehingga dari perlakuan tersebut dapat ditentukan debit airnya dengan mengalikan

koefisien kecepatan dengan koefisien rata-rata waktu yang diperoleh dari 3 sampel

pelampung yang berbeda massa jenisnya dengan satuan debit m3/det.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil

Setelah melakukan pengukuran debit air pada aliran sungai bendungan Bissua

maka diperoleh data sebagai berikut :


Jenis Pemberat Jarak (m) Waktu (s) Kecepatan (m/s)

Daun 30 51,33 0,58


Daun 30 45,23 0,66
Daun 30 52,53 0,57
Kayu 30 51,60 0,58
Rata-rata 30 50,17 0,59
Sumber : Data Setelah Diolah, 2008

60 cm 375 cm 60 cm

52 cm

255 cm

Gambar. 1 Penampang Sungai pada Bendungan Bissua

Pembahasan

Dari hasil yang telah didapatkan pada pengamatan yang telah dilakukan maka

diperoleh hasil pada jenis pemberat pertama yakni daun membutuhkan waktu

sebanyak 51,33 s untuk mencapai jarak 30 m dengan kecepatan yang diperoleh

sebesar 0,58 m/s. Pada pemberat kedua yakni daun membutuhkan waktu sebanyak
45,23 s pada jarak tempuh 30 m dengan kecepatan 0,66 m/s. Pada perlakuan ketiga

dengan menggunakan pemberat daun membutuhkan waktu sebesar 52,53 s pada jarak

tempuh 30 m dengan kecepatan 0,53 m/s. Sedangkan pada pemberat kayu

membutuhkan waktu yang relatif sama yakni 51,60 s dengan jarak tempuh yang sama

yakni 30 m sehingga kecepatan yang diperoleh adalah 0,58 m/s.

Setelah dilakukan pengukuran durasi waktu yang dibutuhkan pada setiap

pemberat yang digunakan maka dari hasil pengamatan dapat dikatakan bahwa pada

jenis pemberat ketiga yakni daun dengan waktu tempuh sebesar 52,53 s dengan

kecepatan 0,57 m/s merupakan pemberat tercepat. Sedangkan pada pemberat daun

dengan jarak tempuh 45,23 s dengan kecepatan 0,66 m/s merupakan pemberat

terlambat karena waktu waktu tempuhnya sangat kecil dibandingkan pemberat-

pemberat yang lainnya.

Setelah dilakukan perhitungan rata-rata maka didapatkan hasil perhitungan

rata-rata pada waktu tempuh untuk keempat sampel yang digunakan adalah 50,17 s,

sedangkan kecepatan rata-ratanya adalah 0,59 m/s.

Dari hasil perhitungan pada debit air bendungan Bissua maka didapatkan hasil

yakni luas penampang bendungan Bissua sebesar 19,5 m2. hasil ini didapatkan

dengan mengetahui besarnya dua sisi sejajar bendungan yang berbentuk trapesium

dan tingginya kemudian mengalikannya. Setelah itu menghitung debit air dengan

mengalikan antara luas penampang bendungan dengan kecepatan rata-rata pemberat

yang digunakan sehinga didapatkan nilai debit air bendungan Bissua sebesar 11,505

m3/s.
V. KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Setelah kami melakukan praktek lapang maka dapat ditarik kesimpulan

sebagai berikut :
− Setelah dilakukan praktek lapang maka diapatkan data luas penampang sungai

pada bendungan Bissua adalah sebesar 22,62 m2. Sedangkan debit air pada

bendungan tersebut setelah dilakukan pengukuran adalah sebesar 13,3458

m3/s.

− Pada pengujian waktu tempuh dengan menggunakan pemberat yang berbeda-

beda maka didapatkan data yakni daun membutuhkan waktu sebanyak 51,33 s

untuk mencapai jarak 30 m dengan kecepatan yang diperoleh sebesar 0,58

m/s. Pada pemberat kedua yakni daun membutuhkan waktu sebanyak 45,23 s

pada jarak tempuh 30 m dengan kecepatan 0,66 m/s. Pada perlakuan ketiga

dengan menggunakan pemberat daun membutuhkan waktu sebesar 52,53 s

pada jarak tempuh 30 m dengan kecepatan 0,53 m/s. Sedangkan pada

pemberat kayu membutuhkan waktu yang relatif sama yakni 51,60 s dengan

jarak tempuh yang sama yakni 30 m sehingga kecepatan yang diperoleh

adalah 0,58 m/s.

− Fasilitas yang terdapat pada bendungan Bissua dapat dikategorikan sebagai

fasilitas yang lengkap. Area Irigasi sebesar 10.785 Ha, Debit Pengambilan

sebesar 25 m3/det, Pintu Pengambilan sebesar B 3,0 m × H 1,9 m × 4 Pintu,

Pintu Penguras sebesar B 2,5 m × H 4,3 m × 4 Pintu, Ketinggian Air

sebesar 3 m

Saran
Sebaiknya setelah mengetahui spesifikasi dari bendungan Bissua maka sedini

mungkin dilakukan penanganan yang tepat dalam hal upaya penyaluran air secara

merata serta kemungkinan ekstrim yang berbahaya seperti bencana banjir.

DAFTAR PUSTAKA

Kartasapoetra. 2005. Teknologi Konservasi Tanah dan Air. Penerbit Rineka Cipta.
Jakarta.

Pairunan, A.K., Nanere, J, L., Arifin., Solo, S.S.R. Samosir, Tangkaisari, R., J. R
Lalapia M, Bachrul I., Hariadji A., 1985. Dasar-Dasar Ilmu Tanah.
Perguruan Tinggi Negeri Indonesia Timur. Makassar.

Rahim, P. 2003. Pengendalian Erosi Tanah. Penerbit Bumi Aksara. Jakarta.

Suripin. 2004. Pelestarian Sumber Daya Tanah dan Air . Penerbit Andi. Yogyakarta.

LAMPIRAN

Dik : Panjang Pemukaan = 375 cm


Panjang Kanan Kiri = 60 cm
Tinggi = 52 cm
Panjang Alas = 375 – (2x60)
= 255 cm

60 cm 375 cm 60 cm

52 cm

255 cm

Gambar. 1 Penampang Sungai pada Bendungan Bissua

Sehingga : Luas Penampang (A) = ½ (2 sisi sejajar) t

= ½ (495 + 255) 52

= ½ (750) 52

= 19.500 cm2 = 19,5 m2

Debit (Q) = v x A

= 0,59 m/s x 19,5 m2

= 11,505 m3/s