Anda di halaman 1dari 13

PRAKTIKUM JARINGAN TELEKOMUNIKASI

LAPORAN PRAKTIKUM PESAWAT TELEPON STANDART SNI

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah


Praktikum Jaringan Telekomunikasi
semester 5

PEMBIMBING :
Martono D A, Ir, MMT

Kelompok 4 JTD 3C
Andika Octavia Pradana

NIM.1241160027

Basuki Rahmat Hakim

NIM.1241160038

Intan Maharani Putri

NIM.1241160070

JARINGAN TELEKOMUNIKASI DIGITAL


TEKNIK ELEKTRO
POLITEKNIK NEGERI MALANG
2014

1. TUJUAN
1) Untuk dapat mengetahui cara pengujian pesawat telepon standar
sesuai persyaratan SNI
2. TEORI DASAR
Standar Nasional Indonesia (SNI) Pesawat telepon analog ini
menjelaskan persyaratan konstruksi, persyaratan operasi, persyaratan
fasilitas, persyaratan bahan baku, persyaratan mutu dan pengujian
untuk pesawat telepon analog. Standar ini menggunakan acuan
rekomendasi yang dipublikasikan oleh international Telecommunication
Union Telecommunication (ITU-T), yang terdiri atas:

ITU-TP 310, Kualitas transmisi telepon saluran pelanggan dan setkarakteristik transmisi telepon digital untuk pita telepon (300 Hz3400 Hz)

CCITT Q. 23, Technical Features of Push Button Telephone Sets.

CCIT Q.552, Transmission Characteristics at 2-wire Analoque


Interfaces of Digital Exchange.

Persyaratan Mutu
1) Resistansi
Dalam keadaan buka masuk (ON HOOK), resistansi diukur dengan
tegangan 100 VDC antara kawat a-b (tip-ring), minimal 1 mega
Ohm.
2) Impedansi
a)

Keadaan buka masuk (ON HOOK)


Impedansi AC untuk frekuensi 25 Hz diukur dengan tegangan 70
VAC, minimal 4000 Ohm.

b)

Keadaan tutup keluar (OFF HOOK)


Impedansi DC diukur dengan tegangan nominal 48 VDC dan/atau
24 VDC serta arus catu 20 mA, maksimal 400 Ohm

3)

Pensinyalan
Dengan catuan tegangan nominal 48 VDC dan/atau 24 VDC serta
arus 20 mA, karateristik pensinyalan sebagai berikut:
a) Pulsa
1) Kecepatan pulsa (frekuensi ) (10 1) PPS.

2) rasio sambung (40 7)%.


3) Waktu

antar

digit:

650

milidetik-1300

milidetik

(untuk

pengiriman digit secara berantai oleh perangkat)


4) Jumlah pulsa sambung: 1 pulsa untuk angka 1, 2 pulsa untuk
angka 2, demikian selanjutnya 10 pulsa untuk angka 0.
b) DTMF
1) Frekuensi

Digit yang dikirim ke PSTN merupakan kombinasi frekuensi


rendah dan frekuensi
Tinggi dengan nilai toleransi 1,8% dari nilai nominal
untuk tiap-tiap frekuensi
(lihat Tabel 1 DTMF).
Tabel 1 . sinyal pada DTMF

3. ALAT
Alat alat yang digunakan pada praktikum ini yakni :
1.
2.
3.
4.
5.
6.

:
1
Pesawat Telpon
Buah
Kabel penghubung konektor :
1
RJ11
Buah
:
1
Rangkaian tegangan Telpon Buah
:
1
Osiloskop
Buah
:
1
Multimeter Digital
Buah
:
1
Kabel BNC to penjepit
Buah

4. SKEMA RANCANGAN

Gambar 3. Diagram percobaan

5. PROSEDUR PERCOBAAN
Pada percobaan ini terbagi menjadi beberapa langkah percobaan. Yakni
:
a. Pengujian impedansi on hook
1. Menghubungkan pesawat telepon dengan rosert (dapat dilihat
pada gambar dibawah ini)

2.

Mengatur keadaan telepon dalam posisi on hook

3. Mengatur keluaran generator tegangan dengan cara menekan


switch (SW1)tidak lebih dari 10 detik ! (perhatikan gagang
telepon tidak boleh diangkat!) yang diseri dengan resistor
sebesar 1,0 k sehingga tegangan dan frekuensi di pesawat
telepon sesuai persyaratan mutu dengan frekuensi

50Hz,

tegangan 70 V serta nilai minimal hambatan 4000.


4. Mengukur

tegangan

pada

resistor

seri

1,0

sehingga

didapatkan nilai arus sebesar pembagian nilai tegangan yang


diukur dibanding dengan hambatan resistor seri 1,0 k.

5. Menghitung pembagian nilai yang ditunjukan oleh volt meter


dengan nilai arus pada prosedur 3.
6.

Membandingkan nilai permbagian dengan syarat SNI


yang berlaku

(minimal 4000).
b. Pengujian impedansi off hook
1. Hubungkan pesawat telepon dengan terminal roset yang
tersedia dan mengatur keadaan telepon pada posisi off hook.

2. Tegangan di pesawat telepon sesuai persyaratan mutu dengan


arus sekitar 20 mA pada keadaan OFF-HOOK, nilai maksimal
hambatan 400 .
3. Untuk mengukur arus agar berstandar SNI, ukur tegangan pada
resistor seri
1,0 k sehingga didapatkan nilai arus sebesar pembagian nilai
tegangan yang diukur dibanding dengan hambatan resistor seri
1,0 k.
4. Menghitung pembagian nilai yang ditunjukkan oleh volt meter
dengan nilai arus pada langkah 3.
5. Bandingkan nilai pembagian nilai dengan syarat SNI yang
berlaku
(maksimal 400 ).
c. Pengujian Pensinyalan DTMF
1. Mengatur tegangan catu sesuai persyaratan uji SNI pada resistor
1,0 k yang telah terseri (48 VDC dan atau 24 VDC)
2. Menghitung arus catu sesuai acuan uji dengan pembagian
tegangan pada resistor 1,0 k seri dibandingkan dengan resistor
1,0 k.
3. Mengatur pesawat telepon dengan tipe tone pada pesawat

telepon dan menghubungkannya pada rosert yang tersedia.


4. Menghubungkan osiloskop dengan rosert (dapat dilihat pada
gambar)

5. Membuat simulasi panggilan dengan menekan semua digit 1, 2,


3 dan seterusnya serta lihat bentuk sinyal yang muncul pada
oscilloscope.
6. Membuat simulasi panggilan dengan menekan tombol redial
7. Mencatat hasil yang terekam oleh alat uji frekuensi modulasi
dwinada yang meliputi frekuensi, level, waktu antardigit (inter
digit time), beda level, nada masuk dan nada keluar.
d. Pengujian Pensinyalan Pulsa
1. Mengatur tegangan catu sesuai persyaratan uji SNI pada resistor
1,0 k yang telah terseri (48 VDC dan atau 24 VDC)
2. Mengitung arus catu sesuai acuan uji dengan pembagian
tegangan pada resistor 1,0 k seri dibandingkan dengan resistor
1,0 k.
3. Mengatur pesawat telepon dengan mode pulse pada pesawat
telepon dan menghubungkannya pada rosert.
4. Menghubung osiloskop pada rosert. (dapat dilihat pada gambar)

5. membuat simulasi panggilan dengan menekan semua digit 1, 2,

3 dan seterusnya.
6. Membuat simulasi panggilan dengan menekan tombol redial.
7. Mencatat hasil yang terekam oleh alat uji pulsa dekadik yang
meliputi frekuensi, rasio sambung, level waktu antar digit.

6. HASIL PERCOBAAN
Tabel 2. Hasil Pengukuran impedansi On Hook dan Off Hook
On Hook
No.

1.

Tegangan Terukur

Arus terukur

(Volt)

(mA)

35 V

0.4 mA

R : V/I

87.5 k

Off Hook

2.

Tegangan Terukur

Arus terukur

(Volt)

(mA)

6V

16 mA

Tabel 3. Hasil Pengujian Sinyal DTMF dan pulsa


MODE DTMF

R : V/I

375

Mode

Mode

DTMF

DTMF

T/Div : 1 ms

T/Div : 1 ms

V/Div : 5 V

V/Div : 5 V

Delay : 10 ms

Delay : 10 ms

Mode

Mode

DTMF

DTMF

T/Div : 1 ms

T/Div : 1 ms

V/Div : 5 V

V/Div : 5 V

Delay : 10 ms

Delay : 10 ms

Mode

Mode

DTMF

DTMF

T/Div : 1 ms

T/Div : 1 ms

V/Div : 5 V

V/Div : 5 V

Delay : 10 ms

Delay : 10 ms

Mode

Mode

DTMF

DTMF

T/Div : 1 ms

T/Div : 1 ms

V/Div : 5 V

V/Div : 5 V

Delay : 10 ms

Delay : 10 ms

Mode

Mode

DTMF

DTMF

T/Div : 1 ms

T/Div : 1 ms

V/Div : 5 V

V/Div : 5 V

Delay : 10 ms

Delay : 10 ms

Mode

Mode

DTMF

DTMF

T/Div : 1 ms

T/Div : 1 ms

V/Div : 5 V

V/Div : 5 V

Delay : 10 ms

Delay : 10 ms
MODE PULSE

MODE

MODE

PULS
E

PULS
E

T/Div : 5 ms

T/Div : 5 ms

V/Div : 20 V

V/Div : 20 V

Delay : 10 ms

Delay : 10 ms

MODE

MODE

PULS
E

PULS
E

T/Div : 5 ms

T/Div : 5 ms

V/Div : 20 V

V/Div : 20 V

Delay : 10 ms

Delay : 10 ms

MODE

MODE

PULS
E

PULS
E

T/Div : 5 ms

T/Div : 5 ms

V/Div : 20 V

V/Div : 20 V

Delay : 10 ms

Delay : 10 ms

MODE

MODE

PULS
E

PULS
E

T/Div : 5 ms

T/Div : 5 ms

V/Div : 20 V

V/Div : 20 V

Delay : 10 ms

Delay : 10 ms

MODE

MODE

PULS
E

PULS
E

T/Div : 5 ms

T/Div : 5 ms

V/Div : 20 V

V/Div : 20 V

Delay : 10 ms

Delay : 10 ms

MODE

MODE

PULS
E

PULS
E

T/Div : 5 ms

T/Div : 5 ms

V/Div : 20 V

V/Div : 20 V

Delay : 10 ms

Delay : 10 ms

7. ANALISA DATA
Pengujian impedansi pada keadaan on hook atau off hook.
Pada keadaan on hook didapatkan tegangan terukurnya adalah 35
V dan pengukuran tegangan pada resistornya yang digunakan untuk
mendapatkan nilai arus didaptkan nilainya adalah 0,44mA. Sehingga
nilai R untuk mencari impedansi dapat dilakukan dengan cara :
R = V/I
= 35 V / 0,4 mA
= 87.5 K
Hasil impedansi tersebut pada keadaan on hook sudah memenuhi
standart SNI yang ada dimana menyebutkan bahwa nilai minimal
impedansi pada keadaan on hook adalah minimal 4 K. Pada keadaan

off hook didapatkan tegangan terukurnya adalah 6 V dan pengukuran


tegangan pada resistornya yang digunakan untuk mendapatkan nilai
arus didaptkan nilainya adalah 16 mA. Sehingga nilai R untuk mencari
impedansi dapat dilakukan dengan cara :
R = V/I
= 6 V / 16 mA
= 375
Hasil impedansi tersebut pada keadaan off hook sudah memenuhi
standart SNI yang ada dimana menyebutkan bahwa nilai maksimal
impedansi pada keadaan off hook adalah 400 .
Pengujian sinyal DTMF dan Pulsa
Pada pengujian sinyal DTMF, dapat dibanding hasil percobaan dengan tabel
1. Mengenai sinyal pada DTMF

1209 Hz

1336 Hz

1477 Hz

687

Hz
Tombol 1

770

852

Tombol 2

Tombol 3

Tombol 4

Tombol 5

Tombol 6

Tombol 7

Tombol 8

Tombol 9

Tombol 0

Tombol *

Tombol #

Hz

Hz

941 Hz

Di sinyal DTMF setiap kali penekanan tombol (dialling number), akan


menghasilkan sinyal 2, tergantung dari tombol yang ditekan. Bila
menekan tombol satu maka sinyal yang dibentuk dari frekuensi 1 =
1209 Hz dan frekuensi 2 = 687 Hz.. hal ini sesuai dengan tabel 1. Pada
sinyal DTMF
Pada pengujian sinyal pulsa, setiap kali penekanan tombol nomor
(dialling number) akan menghasilkan pulsa yang mana tergantung
tombol nomor yang ditekan. Dimisalkan menekan tombol 1, maka
akan menghasilkan satu pulsa. Dan bila menekan tombol 2 akan
menghasilkan dua pulsa. Tabel dibawah ini akan menguraikan
mengenai

tombol

yang

ditekan

dan

jumlah

pulsa

yang

akan

dihasilkan .
Tombol yang ditekan

Pulsa yang dibentuk

1 pulsa

2 pulsa

3 pulsa

4 pulsa

5 pulsa

6 pulsa

7 pulsa

8. KESIMPULAN
Dari percobaan ini didapatkan bahwa nilai impedansi on hook pada
telepon yang diuji didapatkan nilainya sebesar 87.5 K dan impedansi
off hook pada telepon yang diuji didapatkan nilainya sebesar 375 .
Dalam pengujian ini telah sesuai dengan standart SNI yang ada.